The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by indripuspita88, 2021-10-12 05:36:02

MODUL PERSEDIAAN BARANG DAGANG

PPG DALAM JABATAN 2021

Keywords: MODUL PERSEDIAAN

z

MODUL 1

AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG
KB2-PERSEDIAAN BARANG DAGANG

Indri Puspita, S. Pd

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat-Nya, sehingga Penyusunan Materi Ajar berbasis PBL dengan tema modul
Akuntansi Perusahaan Dagang ini dapat diselesaikan dengan lancar. Penulis menyadari tanpa
bantuan dari berbagai pihak, modul ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu pada kesempatan ini, perkenankan penulis sebagai penyusun modul menyampaikan
ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan sumbangsih tenaga dan
pemikiran sehingga modul ini dapat diselesaikan. Modul Akuntansi Perusahaan Dagang
khususnya KB 2 Persediaan Barang Dagang ini membahas konsep persediaan, sistem
pencatatan serta metode penilaiannya pada perusahaan dagang. Penulis pun menyadari modul
ini masih memiliki kelemahan, oleh karena itu kritik dan saran dari pengguna modul ini
senantiasa penyusun harapkan dan untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih.

Jakarta, September 2021
Penyusun,

Indri Puspita

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
KB 2 Persediaan Barang Dagang ............................................................ 1
PETA KONSEP ....................................................................................... 1
A. Pendahuluan ...................................................................................... 1
B. Inti ....................................................................................................... 2
1. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi ................. 2
2. Tujuan Pembelajaran .......................................................................... 3
3. Pokok-Pokok Materi ............................................................................ 3
4. Uraian Materi ....................................................................................... 3

a. Konsep Persediaan ..................................................................... 4
b. Klasifikasi Persediaan ................................................................. 5
c. Sistem Pencatatan Persediaan ................................................... 6
5. Tugas ................................................................................................... 14
6. Forum Diskusi ...................................................................................... 15
C. PENUTUP............................................................................................ 16
1. Rangkuman ....................................................................................... 16
2. Tes Formatif ..................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 20

ii

PETA KONSEP PERSEDIAAN BARANG DAGANG

Persediaan Konsep PSAK No 14 Tahun
Persediaan 2007

Klasifikasi Jenis Perusahaan
Persediaan

Sistem Pencatatan Sistem Periodik
Persediaan Sistem Perpetual

A. PENDAHULUAN
Perusahaan dagang merupakan perusahaan yang kegiatan utamanya adalah

membeli, menyimpan, dan menjual kembali barang dagang tanpa memberikan nilai
tambah terhadap barang dagang tersebut. Mengapa perusahaan dagang maupun
perusahaan manufaktur harus ada stock barang dagang di gudang?. Dalam siklus
operasional perusahaan salah satunya adalah pembelian persediaan barang
dagangan untuk dijual kembali, sehingga diperlukan pengelolaan persediaan yang
tepat yaitu cara pencatatan dan penghitungan persediaan. Dalam akuntansi
persediaan, ada dua sistem yang biasa digunakan, yaitu: sistem periodik dan sistem
perpetual. Bagi pegawai accounting, sistem persediaan periodik atau perpetual yang
diterapkan di dalam perusahaan menentukan bagaimana pencatatan transaksi
persediaan dilakukan. Sedangkan bagi pengelola keuangan dan pengelola usaha,
sistem persediaan yang diterapkan menentukan seberapa efektif persediaan bisa
dikelola terutama aspek pengawasannya. Oleh karena itu, Kegiatan belajar kedua ini
akan membahas mengenai konsep persediaan, metode pencatatan persediaan
barang dagangan dan metode penerapan persediaan barang dagang.

1

Modul ini memiliki relevansi untuk mendukung media program pembeljaran
dalam memudahkan peserta didik memahami, mengkonsepkan serta menghitung
nilai persediaan barang dagang yang ada di gudang sehingga meningkatkan
kemampuan pengetahuan dan keterampilan khususnya dalam praktik kerja industri
maupun akademisi pada materi persediaan barang dagang. Dengan mempelajari
modul kegiatan belaja ini diaharapkan peserta didik memiliki pemahaman,
penguasaan konsep, dan penerapan konsep mengenai konsep dan klasifikasi
persediaan serta pencatatan persediaan.

Modul 1 Kegiatan Belajar 2 ini dibagi menjadi beberapa materi :
(1) Konsep Persediaan;
(2) Klasifikasi Persediaan;
(3) Sistem Pencatatan Persediaan;

Agar peserta didik berhasil menguasai materi-materi penghitungan persediaan
barang dagang, ikutilah petunjuk belajar berikut:
1. Baca kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi pembelajaran

dengan cermat sebelum membaca materi kegiatan belajar.
2. Baca materi kegiatan belajar dengan cermat.
3. Kerjakan latihan sesuai petunjuk/rambu-rambu yang diberikan.
4. Baca rangkuman, kemudian kerjakan tes formatif secara jujur tanpa terlebih

dahulu melihat materi.

B. INTI

1. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

3.8 Peserta didik menerapkan pencatatan persediaan
Indikator Pencapaian Kompetensi Pengetahuan:
3.8.1 Mengindentifikasi pengertian persediaan
3.8.2 Menguraikan klasifikasi persediaan
3.8.3 Mengonsepkan sistem pencatatan persediaan

4.8 Peserta didik melakukan pencatatan persediaan
Indikator Pencapaian Kompetensi Keterampilan:
4.8.1 Menafsirkan pengertian persediaan

2

4.8.2 Menjeniskan klasifikasi persediaan
4.8.3 Menyusun sistem pencatatan persediaan

2. Tujuan Pembelajaran

a. Peserta didik diharapkan dapat mengidentifikasi pengertian persediaan
dengan baik

b. Peserta didik diharapkan dapat menafsirkan pengertian persediaan
dengan baik

c. Peserta didik diharapkan dapat menguraikan klasifikasi persediaan
dengan baik

d. Peserta didik diharapkan dapat menjeniskan klasifikasi persediaan
dengan baik

e. Peserta didik diharapkan dapat mengonsepkan sistem pencatatan
persediaan dengan benar

f. Peserta didik diharapkan dapat menyusun sistem pencatatan persediaan
dengan benar

3. Pokok-Pokok Materi

a. Definisi dan Konsep Persediaan
b. Klasifikasi Persediaan
c. Sistem Pencatatan Persediaan

4. Uraian Materi

3

a. Konsep Persediaan

Sumber : https://jubelio.com/2021/pentingnya-persediaan-barang-dagang-
untuk-bisnis-dan-efeknya/
Persediaan Barang Dagang Usaha – Apakah Anda pernah dengar enggak
sih ngalamin yang namanya stok barang menipis atau habis? Tapi kamu harus
tetap memenuhi kebutuhan pelanggan kamu. Mungkin bukan kamu aja yang
pernah merasakan itu tapi sebagian pebisnis lainnya pernah merasakan itu.
Karena dengan tidak adanya persediaan barang, maka pengiriman barang
kepada konsumen kamu juga terganggu dan membuat pelanggan kamu
menjadi tidak puas, lebih parahnya kamu bisa kehilangan pelanggan kamu.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut, kamu bisa melakukan
persediaan barang dengan mengelola stok barang dagang secara tepat dan
baik. Lalu, apa itu persediaan barang dagang dan seberapa penting bagi
bisnis?
Barang dagang merupakan barang yang disediakan untuk dijual.
Penyediaan barang dagang dilakukan melalui pembelian, artinya barang yang
dibeli disimpan sementara kemudian dijual tanpa membuat perubahan. Bisa
juga penyediaan barang dagang melalui proses produksi yang dimulai dari

4

pembelian bahan baku, diolah menjadi produk yang siap dijual, ini yang
diproduksi oleh perusahaan maniufaktur.

Maka dari itu, marilah kita simak penjelasan konsep, karakteristik
perusahan dagang ataupun perusahaan manufakrtur dan penerapan
pencatatan di persediaan.

Persediaan merupakan jenis aset produktif yang dimiliki oleh perusahaan,
karena persediaan ini merupakan aset yang mempunyai keterkaitan langsung
dengan pendapatan perusahaan. Jika tingkat perputaran aset persediaan
lambat, maka dapat dipastikan proses perolehan pendapatan perusahaan
lambat pula dan sebaliknya jika perputarannya cepat proses perolehan
pendapatan perusahaan juga cepat.
Persediaan (inventory) didefinisikan sebagai aset, yaitu

1. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
2. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan atau
3. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan

dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa persediaan barang
dagang merupakan barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk
dijual dalam suatu periode waktu tertentu atau persediaan barang-barang yang
masih dalam pengerjaan atau proses produksi, ataupun persediaan bahan baku
yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.

b. Klasifikasi Persediaan
1. Menurut PSAK no. 14 (2007)
Istilah persediaan dalam akuntansi ditujukan untuk menyatakan suatu

jumlah aktiva berwujud yang memenuhi kriteria (PSAK : Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan Indonesia No. 14) yang menyatakan bahwa persediaan
adalah aktiva. Berdasarkan kriteria di atas, persediaan mencakup unsur-unsur
sebagai berikut :

a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
b. Dalam proses produksi dan atau perjalanan atau
c. Dalam bentuk bahan (atau perlengkapan) untuk digunakan dalam

proses produksi

5

2. Menurut Jenis Perusahaan
Persediaan barang diklasifikasikan sesuai dengan jenis usaha perusahaan

tersebut, yaitu
a. Perusahaan perdagangan persediaan barang merupakan aktiva dalam
bentuk siap dijual kembali dan yang paling aktif dalam operasi
usahanya.
b. Perusahaan pabrik atau manufaktur, terdapatnya klasifikasi persediaan
yang berbeda antara perusahaan perdagangan dengan perusahaan
manufaktur karena fungsi dua perusahaan itu memang berbeda. Fungsi
perusahaan perdagangan adalah menjual barang yang diperolehnya
dalam bentuk sudah jadi. Dengan kata lain, tidak ada proses
pengolahan seandainya terjadi pengolahan maka pengolahan tersebut
terbatas pada pembungkusan atau pemberian kemasan agar barang
lebih menarik selera konsumen. Sedangkan fungsi perusahaan
manufaktur adalah mengolah bahan mentah menjadi produk selesai.
Jadi klasifikasi persediaan menurut perusahaan manufaktur, yaitu :
1. Persediaan Bahan Baku (Raw Material Inventory) merupakan
barang atau bahan yang dibeli atau diperoleh dengan cara lain
yang disimpan dan akan diolah melalui proses produksi sehingga
akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai
dengan kegiatan perusahaan.
2. Persediaan Barang Setengah Jadi (Work In Process
Inventory) Merupakan persediaan barang yang keluar dari setiap
bagian atau departemen dalam sebuah perusahaan yang masih
memerlukan proses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi yang
siap untuk dijual. Namun bagi perusahaan lain barang setengah
jadi tersebut merupakan barang jadi karena memang proses
produksinya hanya sampai disitu. Kemungkinan juga barang
tersebut adalah bahan baku bagi perusahaan lain. Sehingga
persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh
lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan sejak saat bahan
baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian
barang jadi.

6

3. Persediaan Barang Jadi (Finished Goods Inventory) Adalah
barang hasil proses produksi dalam bentuk final, yang tidak
memerlukan proses lebih lanjut lagi sehingga dapat segera dijual

c. Sistem Pencatatan Persediaan

Persediaan bertambah dengan adanya pembelian atau telah selesainya

produksi. Pengurangan persediaan terjadi akibat adanya penjualan atau

keluarnya barang. Pada saat penjualan terjadi dua peristiwa sekaligus yaitu

bertambahnya pendapatan berupa penjualan dan bertambahnya biaya berupa

harga pokok penjualan.

Penghitungan fisik (stock

opname) mencakup penghitungan

unit, penimbangan, atau

pengukuran lain atas setiap item

persediaan yang tersisa.

Penghitungan fisik dilakukan pada

saat usaha akan ditutup atau ketika

usaha lesu, atau pada akhir

periode akuntansi. Secara tradisional,

terdapat dua metode pencatatan persediaan yaitu metode fisik (atau metode

periodik) dan metode perpetual (terus-menerus).

Perusahaan harus melakukan penghitungan fisik, terlepas dari metode

pencatatan persediaan mana yang digunakan. Bagi perusahaan yang

menggunakan metode periodik, penghitungan fisik dimaksudkan untuk

menghitung jumlah persediaan yang tersisa pada akhir periode dan

menghitung/menentukan beban pokok atau harga pokok penjualan untuk

periode yang dilaporkan.

Bagi perusahaan yang menggunakan metode perpetual, penghitungan

fisik dimaksudkan untuk mengecek keakuratan catatan persediaan, menghitung

jumlah kerugian atau kehilangan persediaan (sebagai contoh, pemborosan

bahan baku, pencurian oleh pelanggan atau oleh karyawan).

Berikut ini dua metode yang dapat digunakan unuk melakukan pencatatan

atas persediaan, yaitu :

7

1. Sistem Periodik
Menurut sistem ini pencatatan hanya dilkaukan pada waktu terjadinya
pembelian, sedangkan persediaan tidak dicatat. Untuk mengetahui jumlah
penjualan barang dagang dihitung dengan rumus :

Jumlah penjualan = Persediaan awal + Pembelian – Persediaan akhir

Nilai persediaan akhir dapat diketahui dengan menghitung secara fisik
sisa barang dagang periode. sistem pencatatan ini digunakan untuk
perusahaan dagang yang menjual barang yang beragam dan harga satuan tiap
barang relatif murah sehingga secara teknis harga pokok penjualan setiap jenis
barang sulit dihitung.

Prosedur pencatatan dalam sistem ini adalah sebagai berikut :
a. Faktur pembelian dicatat dalam jurnal pembelian dengan mendebit akun

pembelian dan mengkredit akun utang dagang.
b. Memo debit yang dikirimkan kepada suplier sebagai bukti transaksi retur

pembelian dan pengurangan harga dicatat dalam jurnal umum dengan
mendebit akun utang dagang dan mengkredit pembelian.
c. Faktur penjualan dicatat dalam jurnal penjualan dengan mendebit akun
piutang dagang dan mengkredit akun penjualan.
d. Memo kredit yang diterima dari customer sebagau bukti retur penjualan,
dicatat dalam jurnal umum atau jurnal retur penjualan dengan mendebit
akun retur penjualan dan pengurangan harga dan mengkredit akun
piutang dagang.
Jadi dapat disimpulkan perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan
persediaan periodik adalah sebagai berikut:
1. Pembelian barang dagangan akan di Debit pada akun pembelian.
2. Tidak ada pencatatan pada akun persediaan.
3. Beban angkut pembelian akan didebit pada akun Beban Angkut

Pembelian.
4. Retur dan potongan pembelian akan dikredit ke akun Retur dan

Potongan Pembelian
5. Potongan tunai pembelian akun dikredit ke akun Potongan Tunai

Pembelian. Sistem persediaan periodik adalah sistem pencatatan

8

persediaan dimana perusahaan tidak setiap saat mencatat mutasi
persediaan baik kuantitas maupun biayanya pada akun persediaan
6. Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan (Cost of Good
Sold) dihitung pada akhir periode setelah melakukan penghitungan
fisik dan penilaian persedian akhir.

2. Sistem Perpetual
Dalam sistem ini setiap
transaksi, baik pembelian maupun
penjualan barang dagang langsung
dicatat dalam jurnal. Pembelian dan
penjualan juga dicatat dalam kartu
persediaan barang dagang sehingga
setiap saat saldo persediaan yang
masih ada dapat diketahui.
Sistem ini cocok digunakan
oleh perusahaan yang memiliki
persediaan barang dagang yang jenisnya sedikit dan harga satuan relatif
mahal, misalnya dealer mobil atau motor.
Prosedur pencatatan dalam sistem perpetual adalah sebagai berikut :
a. Faktur pembelian dicatat dalam kartu persediaan barang dagang dan
jurnal pembelian dengan mendebit akun persediaan dan mengkredit akun
utang dagang.
b. Memo debit yang dikirimkan kepada Suplier merupakan bukti transaksi
retur pembelian dan dicatat:
1. Mengkredit jurnal umum atau jurnal retur pembelian dengan mendebit

akun utang dagang dan persediaan barang dagang.
2. Kartu persediaan barang dagang sebagai pengeluaran sesuai harga

beli barang yang dikembalikan kepada kreditor.
c. Faktur penjualan :

1. Dicatat dalam jurnal penjualan dengan mendebit akun piutang dagang,
kredit jumlah penjualan.

9

2. Harga pokok barang dijual dicatat debet akun Harga Pokok Penjualan,
kredit akun persediaan barang dagang dan dicatat dalam kartu
persediaan barang dagang yang bersangkutan sebagai pengeluaran.

d. Memo kredit yang diterima dari customer
1. Dicatat dalam jurnal umum atau jurnal retur penjualan dengan
mendebet akun retur penjualan dan pengurangan harga dan
mengkredit akun piutang dagang, kemudian harga pokoknya dicatat
dengan mendebit persediaan barang dagang dan mengkredit harga
pokok penjualan.
2. Banyaknya barang dan harga pokok barang yang diterima kembali
dicatat dalam kartu persediaan sebagai penerimaan/mutasi masuk.
Jadi dapat disimpulkan perlakuan akuntansi untuk sistem pencatatan
persediaan perpetual adalah sebagai berikut:
1. Pembelian barang dagangan akan di debit pada akun persediaan
2. Beban angkut pembelian akan di debit pada akun persediaan
3. Retur pembelian akan di kredit ke akun persediaan
4. Potongan pembelian akan di kredit ke akun persediaan
5. Beban pokok penjualan atau harga pokok penjualan (Cost of Good
Sold) diakui bersamaan dengan pengakuan penjualan dan akun
persediaan akan di kredit
6. Akun persediaan adalah akun pengendali yang didukung dengan buku
besar pembantu untuk setiap jenis/item persediaan.

Tabel 2.1 Perbedaan Sistem Periodik dan Sistem Perpetual

Keterangan Sistem Periodik Sistem Perpetual

Penggunaan Buku Tidak ada, hanya Menggunakan kartu
Pembantu pencatatan persediaan barang dagang

Pencatatan transaksi Hanya pada saat Pada saat pembeliaan dan
pembeliaan barang penjualan barang dagang
Nama akun/ perkiraan
pada saat pembeliaan dagang saja Persediaan Barang
Penyesuaian akhir periode Dagang
Pembeliaan
Tidak melakukan jurnal
Melakukan penyesuaian penyesuaian pada akhir
akhir periode dengan

10

menutup persediaan periode
barang dagang awal dan

mencatat persediaan
barang dagang akhir hasil

perhitungan fisik

Berikut ini contoh Transaksi Pengusaha Kena Pajak. Diketahui transaksi-
transaksi sebagai berikut:
a. dibeli barang dagang X secara kredit dari PD. Prambudi sebanyak 500 unit,
b. dengan harga pokok penjualan Rp 30.000.000,00 ditambah PPN 10% dan

syarat 2/10, n/30,
c. dikembalikan kepada PD. Prambudi sebanyak 15 unit barang X karena

rusak. Harga barang yang dikembalikan sebesar Rp 900.000,00 ditambah
PPN 10%,
d. dijual 100 unit barang X secara kredit kepada Tn. Hilal dengan harga Rp
10.000.000,00 dengan syarat 3/10, n/30 (HPP per unit Rp 60.000,00),
e. dibayar biaya angkut pembelian Rp 400.000,00 dan dipotong PPh Pasal 23
sebesar 2%,
f. dibayar utang kepada PD. Prambudi setelah dikurangi retur dan potongan
2%,
g. Tn. Hilal mengembalikan sebanyak 5 unit barang X yang dibelinya ke
perusahaan seharga Rp 500.000,00.

Diminta :
Buatlah jurnal dari transaksi-transaksi diatas dengan menggunakan :
a. sistem pencatatan persediaan secara periodik,
b. sistem pencatatan persediaan secara perpetual.

Jawab:

a. Physical Inventory System/ Sistem pencatatan persediaan secara Fisik

Tgl. Keterangan Ref Debet Kredit

Pembelian Rp 30.000.000,00 Rp -
a. PPN Masukan Rp 3.000.000,00 33.000.000,00

Utang Dagang -

11

Utang Dagang Rp 990.000,00 -
b. Retur Pembelian - Rp 900.000,00
- Rp 90.000,00
PPN Masukan
Rp 11.000.000,00 -
Piutang Dagang - Rp 10.000.000,00
c. Penjualan - Rp 1.000.000,00

PPN Keluaran Rp 400.000,00 -
Biaya angkut Pembelian
- Rp 392.000,00
d. Kas
Utang PPh Ps.23 (2%) - Rp 8.000,00

Utang dagang Rp 32.010.000,00 -
31.369.800,00
e. Kas - Rp
Potongan Pembelian 582.000,00
PPN Masukan - Rp 58.200,00
- Rp
Retur Penjualan -
f. PPN Keluaran Rp 500.000,00 550.000,00

Piutang Dagang Rp 50.000,00 Rp
-

b. Perpetual Inventory System/Sistem pencatatan persediaan secara Perpetual

Tgl. Keterangan Ref Debet Kredit
Rp 30.000.000,00
Persediaan Rp 3.000.000,00 Rp -
a. PPN Masukan - 33.000.000,00

Utang Dagang Rp 990.000,00 -
Utang Dagang
b. Persediaan - Rp 900.000,00

PPN Masukan - Rp 90.000,00
-
(1) Piutang Dagang Rp 11.000.000,00
Penjualan PPN - Rp 10.000.000,00
- Rp 1.000.000,00
c. Keluaran
Rp 6.000.000,00 -
(2) HPP Rp 6.000.000,00

Persediaan Rp 400.000,00 -
Persediaan
- Rp 392.000,00
d. Kas
Utang PPh (2%) - Rp 8.000,00

Utang dagang Rp 32.010.000,00 -
Kas
- Rp 31.369.800,00
e. Persediaan - Rp 582.000,00
PPN Masukan
- Rp 58.200,00
(1) Retur Penjualan
Rp 500.000,00 -
PPN Keluaran
f. Rp 50.000,00 -
- Rp 550.000,00

12

Piutang Dagang Rp 300.000,00 -
(2) Persediaan
- Rp 300.000,00
HPP

Tabel 2.2 Perbedaan Sistem Pencatatan Persediaan Periodik dan Perpetual

No Sistem Pencatatan Persediaan Sistem Pencatatan Persediaan Perpetual

. Periodik

1 Pembelian barang secara kredit
.
Pembeli bukan Pengusaha Kena Pajak (non PKP)

(Faktur Pembelian)
dicatat dalam jurnal pembelian dengan akun:

Pembelian (D) Persediaan (D)

Utang Dagang (K) Utang Dagang (K)

Pembeli Pengusaha Kena Pajak (PKP)

(Faktur Pembelian)
dicatat dalam jurnal pembelian dengan akun:

Pembelian(D) Persediaan (D)

PPN Masukan (D) PPN Masukan (D)

Utang Dagang (K) Utang Dagang (K)
2. Penjualan barang secara kredit

Penjual bukan Pengusaha Kena Pajak (non PKP)

(Faktur Penjualan)
dicatat dalam jurnal penjualan dengan akun:

Piutang Dagang (D) Persediaan (D)
Penjualan (K)
Utang Dagang (K)
- Harga pokok barang yang dijual
dicatat pada
jurnal umum dengan akun:

Harga Pokok Penjualan (D)
Persediaan (K)

Penjual Pengusaha Kena Pajak (PKP)

(Faktur Penjualan)

dicatat dalam jurnal penjualan dengan akun:

Piutang Dagang (D) Piutang Dagang (D)

Penjualan (K) Penjualan (K)

PPN Keluaran (K) PPN Keluaran (K)
- Harga pokok barang yang dijual dicatat
pada jurnal umum dengan akun:

Harga Pokok Penjualan (D)

Persediaan (K)

3 Terjadi pengembalian barang (retur/nota retur)
.
Pembeli bukan Pengusaha Kena Pajak (non PKP)

Utang Dagang (D) Utang Dagang (D)

13

Retur Pembelian (K) Persediaan (K)

Pembeli Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Utang Dagang (D) Utang Dagang (D)

Retur Pembelian (K) Persediaan (K)

PPN Masukan (K) PPN Masukan (K)

Penjual bukan Pengusaha Kena Pajak (non PKP)

(untuk mencatat harga jual)

Retur Penjualan (D) Retur Penjualan (D)

Piutang Dagang (K) Piutang Dagang (K)

(untuk mencatat harga pokok)

Persediaan (D)

Harga Pokok Penjualan (K)

Penjual Pengusaha Kena Pajak (PKP)

(untuk mencatat harga jual)

Retur Penjualan (D) Retur Penjualan (D)

PPN Keluaran (D) PPN Keluaran (D)

Piutang Dagang (K) Piutang Dagang (K)

(untuk mencatat harga pokok)

Persediaan (D)

Harga Pokok Penjualan (K)

5. Tugas

Bandingkan jurnal transaksi berikut ini dengan metode fisik dan metode
perpetual !

Tanggal Transaksi Sistem Fisik Sistem Perpetual
………………………..
2019 Dibeli 6 unit televisi ………………………..
Jan 20” @ Rp. 2.200.000 ………………………..
dari PT. Perkasa
6 secara kredit.

Dikembalikan ………………………..

kepada PT. Perkasa
7 1 unit TV 20” karena

mutunya tidak

sesuai pesanan.

14

Dijual secara kredit ……………………….. ………………………..
kepada CV. ………………………..
Sejahtera, 3 unit TV
10 20” @ Rp. 2.500.000
(harga pokok
penjualan Rp.
2.200.000).

Diterima kembali ………………………..
dari CV. Sejahtera 1
12 unit TV 20” rusak
sebesar Rp.
2.500.000.

6. Forum Diskusi

Berdasarkan studi kasus dibawah ini, buatlah satu kelompok yang
terdiri dari tiga orang dan diskusikanlah permasalahan serta solusi yang harus
Anda lakukan dengan memposisikan bahwa Anda adalah karyawan dari PT
Indira bagian pengawasan stock barang dagang!

PT Indira baru saja selesai melakukan penghitungan persediaan
barang dagang sebesar Rp 100.000.000,00. PT Indira merupakan salah satu
perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli cat tembok. Salah satu
informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan yaitu informasi mengenai
persediaan barang dagang. Bagian gudang harus mencatat setiap kali terjadi
transaksi yaitu barang yang masuk, barang yang keluar, barang yang ada
digudang atau biasa disebut stok barang. Setelah hampir 1 tahun usahanya
berjalan, ditemukan data bahwa terjadi selisih kurang jumlah persediaan barang
dagang yang dihitung dengan hasil perhitungan fisik (lebih rendah) dengan
jumlah persediaan yang masih ada dalam kartu persediaan barang dagang.

Observasi pun dilakukan oleh pihak manajer bagian gudang khusus
yang menangani penghitungan dan penilaian persediaan barang dagang. Dan
pada akhirnya ditemukan beberapa penyebab, diantaranya ada beberapa
persediaan yang hilang dicuri, maupun ada yang hilang terbuang/rusak tanpa
adanya laporan apapun ke pihak manajemen. Posisikan anda sebagai bagian

15

dari tim manajemen gudang tersebut, solusi apa yang tepat bagi PT Indira agar
kasus tersebut tidak terulang kembali dikemudian hari? Langkah-langkah apa
saja yang sebaiknya dilakukan oleh PT Indira khususnya tim manajemen
bagian Gudang persediaan barang dagang?

C. PENUTUP

1. Rangkuman

Persediaan barang dagang merupakan barang-barang milik perusahaan
dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode waktu tertentu atau
persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi,
ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu
proses produksi.

Menurut PSAK no. 14 (2007). Istilah persediaan dalam akuntansi
ditujukan untuk menyatakan suatu jumlah aktiva berwujud yang memenuhi
kriteria PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia No. 14)
yang menyatakan bahwa persediaan adalah aktiva: a). Tersedia untuk dijual
dalam kegiatan usaha normal; b). Dalam proses produksi dan atau perjalanan
atau; c) Dalam bentuk bahan (atau perlengkapan) untuk digunakan dalam
proses produksi

Pengelolaan barang dagang akan menentukan besarnya laba atau rugi
kotor yang diperoleh perusahaaan, sistem penentuan barang dagang dapat
dilakukan dengan sistem periodik dan sistem perpetual. Sistem periodik dengan
merupakan pengelolaan persediaan barang dagang yang menghitung fisik
persediaan barang dagang pada akhir periode,tidak ada pencatatan rinci
mengenai pembeliandan penjualan barang dagang yang dilakukan selama
periode tersebut. Sedangkan pada sistem perpetual penghitungan persediaan
dilakukan secara terus menerus selama periode tersebut berkaitan dengan
transaksi pembelian dan penjualan barang dagang secara rinci berkaitan
dengan kuantitas serta harga barang dagang tersebut.

16

2. Tes Formatif

1. Dalam metode periodik, pencatatan pada akun persediaan barang dilakukan
setiap ....
a. Akhir periode
b. Terjadi penjualan barang
c. Terjadinya pembelian barang
d. Awal periode akuntansi
e. Terjadi mutasi barang

2. Pencatatan persediaan dengan metode periodik berdasarkan atas ...
a. Nilai stock opname
b. Transaksi yang terjadi
c. Nilai penjualan bersih
d. Nilai pembelian bersih
e. Harga pokok barang yang dijual

3. Dalam metode perpetual, pencatatan pada akun persediaan barang
dilakukan setiap ....
a. Akhir periode
b. Terjadi penjualan barang
c. Terjadinya pembelian barang
d. Awal periode akuntansi
e. Terjadi mutasi barang

4. Barang yang baru dibeli dan disimpan sementara untuk selanjutnya dijual
kembali dengan harapan mendapatkan laba sebesar selisih dari harga jual
dengan harga beli merupakan jenis persediaan …
a. Barang dagang
b. Bahan baku
c. Barang dalam proses
d. Produk jadi
e. Produk pesanan

5. Di bawah ini merupakan penyataan bahwa persediaan adalah aset yang
meliputi:
i. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;

17

ii. Dalam proses produksi dan/atau dalam perjalanan; atau

iii. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan

dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Ruang lingkup persediaan di atas adalah ruang lingkup yang dinyatakan
dengan rujukan berdasarkan …

a. PSAK No.14 (Revisi 2008)

b. PSAK No.11 (Revisi 2007)

c. PSAK No.15 (Revisi 2008)

d. PSAK No.10 (Revisi 2007)

e. PSAK No.12 (Revisi 2007)

6. Jurnal yang digunakan untuk mencatat persediaan ketika terjadi transaksi

pembelian secara kredit, dengan menggunakan sistem pencatatan secara
periodik adalah…

a. Pembeliaan (D) dan Kas (K)

b. Utang usaha (D) dan Persediaan barang dagang (K)

c. Utang usaha (D) dan pembelian (D)

d. Persediaan barang dagang (D) dan utang usaha (K)

e. Pembelian (D) dan Utang Usaha (K)

7. Jurnal yang digunakan untuk mencatat persediaan ketika terjadi transaksi

pembelian secara kredit, dengan menggunakan sistem pencatatan secara
perpetual adalah…

a. Pembelian (D) dan kas (K)

b. Utang usaha (D) dan Persediaan barang dagang (K)

c. Utang usaha (D) dan pembelian (D)

d. Persediaan barang dagang (D) dan utang usaha (K)

e. Pembelian (D) dan Utang Usaha (K)

8. Dalam sebuah perusahaan, terdapat data akun berikut .

Penjualan Rp 10.000.000,00

Pembelian Rp 6.000.000,00

Biaya angkut Rp 1.000.000,00

Biaya gaji Rp 4.000.000,00

Berdasarkan data diatas, metode persediaan yang digunakan perusahaan
tersebut adalah ….

a. Perpetual

18

b. Multiple step

c. Fisik/periodic

d. Average

e. Retail
9. Pada tanggal 5 Oktober 2018, Toko “ MAESTRO BAGANA “ membeli barang

dagangan dari UD BRAFOLIA sebesar Rp. 2.000.000,00 dengan syarat

pembayaran 2/10, n/30. Toko MAESTRO BAGANA mencatat persediaan
barang dengan sistem fisik. Jurnal yang harus dibuat adalah ….

a. Persediaan Barang Dagang Rp 2.000.000,00

Hutang dagang Rp 2.000.000,00

b. Pembelian Rp 2.000.000,00

Kas Rp 2.000.000,00

c. Hutang dagang Rp 2.000.000,00

Pembelian Rp 2.000.000,00

d. Hutang dagang Rp 2.000.000,00

Persediaan barang dagangan Rp 2.000.000,00

e. Pembelian Rp 2.000.000,00

Hutang dagang Rp 2.000.000,00

10. Harga pokok penjualan barang diakui bersamaan dengan pengakuan

penjual. Sistem pencatatan ini menggunakan ...

a. Perpetual Inventory System

b. Physical Inventory System

c. Weight Avarage Method

d. First In First Out

e. Last In First Out

19

DAFTAR PUSTAKA
Anugrah, Ineu, dkk. 2016. Guru Pembelajar Modul Paket Keahlian Akuntansi

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)-Kompetensi Profesional : Pencatatan
Transaksi Perusahaan Dagang. Jakarta
Faidhoh, dkk. 2019. Praktikum Akuntansi Jasa dan Dagang. Jakarta : Direktorat
Pembinaan SMK Kementrian Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia
Harti, D. (2018). Akuntansi Keuangan C3 untuk SMK/MAK. Jakarta: Erlangga.
Hery. 2016. Akuntansi Perusahaan Dagang & Manufaktur untuk SMK dan MAK.
Jakarta : Grasindo.
Kartikahadi, dkk. 2016. Akuntansi Keuangan Berdasarkan SAK Berbasis IFRS Edisi
kedua Buku 1. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia.
https://jubelio.com/2021/pentingnya-persediaan-barang-dagang-untuk-bisnis-dan-
efeknya/
https://www.warsidi.com/2018/05/akuntansi-persediaan-barang-perusahaan-
dagang.html

20


Click to View FlipBook Version