Edisi IX, Oktober 2021
Mukjizat
Novena Rosario
Hari Kesembilan
Apa Beda Bulan
Mei dan Oktober?
Perjalanan Iman
Yang Mendewasakan
Rosario:
Bulir-Bulir Harapan Di Masa Pandemi
Dari Redaksi
Salam Jumpa,
Pembaca terkasih, senang sekali kita dapat
kembali bertemu lewat Majalah Imakulata
ini. Masa pandemi COVID-19 yang panjang
memang mengubah segalanya, termasuk
mengubah Majalah Imakulata yang kini
tampil secara digital. Edisi kesembilan
ini menandai tampilan digital perdana
dari Majalah Imakulata yang kita sayangi
bersama.
Pandemi COVID-19 telah mengubah
keseharian kita, mengubah begitu banyak
tata cara hidup kita, termasuk juga cara
kita sebagai umat Gereja untuk berkumpul
berdoa bersama, bahkan merayakan Misa
Kudus “Online” menjadi pilihan yang mau
tak mau harus kita biasakan untuk masa
sekarang ini. Semoga iman, harapan, dan
kasih kita tidak pernah luntur karena begitu
banyak perubahan yang mewarnai hidup
kita selama pandemi ini masih berlangsung.
Pembaca terkasih, kali ini Majalah
Imakulata mengambil tema “Rosario: Bulir-
Bulir Harapan di Masa Pandemi”, sebuah
tema yang semoga cocok dengan masa
sulit yang sedang kita dan seluruh dunia
hadapi sekarang ini. Dalam doa Rosario,
ada pengharapan, ada keyakinan, ada
kepasrahan, ada penghiburan, bahkan ada
mukjizat. Itulah yang menjadi topik Sajian
Utama kita kali ini. Tak kalah menarik adalah
artikel-artikel yang tersaji dalam rubrik-rubrik
edisi ini.
Semoga kehadiran Majalah Imakulata digital
ini dapat membawa secercah sukacita bagi
kita semua. Semoga pandemi COVID-19
ini dapat segera berakhir. Jangan lupa,
tetap sehat, tetap melaksanakan protokol
kesehatan, tetap selalu bersukacita. Tuhan
Yesus memberkati, Bunda Maria melindungi
senantiasa.
Daftar Isi
Imakulata, Edisi IX, Oktober 2021
- Ketuk judul untuk membaca artikel -
Ruang Batin
Rosario: Untaian Harapan di Masa Pandemi 5
Sajian Utama
Bulir-Bulir Harapan di Masa Pandemi 14
Apa Beda Bulan Mei dan Oktober? 19
Mukjizat Novena Rosario Hari Kesembilan 26
Kesaksian Iman
Perjalanan Iman Yang Mendewasakan 33
Seputar Paroki
Misa Pelantikan DPH & DPP Paroki Kalideres 43
Rosario Bersama Separoki 56
Paroki Kalideres Tetap Eksis Di Tengah Pandemi 58
Seksi/Kategorial
Dari Berdoa Rosario Hingga Ziarah Virtual
Bersama 68
Pojok OMK
Kegiatan OMK St. Don Bosco Pasca Pandemi 80
Ringan Bermakna
Fakta Unik Tentang Rosario 84
Doa Salam Maria Dalam Berbagai Bahasa 91
Redaksi Majalah Imakulata
RUANG BATIN
Rosario:
Untaian Harapan di Masa Pandemi
Rm. Antonius Rajabana, OMI
Sangat menarik bahwa di masa pandemi
ini doa Rosario menjadi yang sangat
sering didoakan. Pada saat genting, secara
naluriah kita memang sering berpaling
kepada Bunda Maria. Menurut saya, hal ini
sangat masuk akal. Ibu kita menjadi pribadi
yang selalu bisa memberi ketenangan.
Pada waktu kecil kita juga selalu lari
kepada Ibu kita ketika kita membutuhkan
5
RUANG BATIN
pertolongan. Kalau menangis pun yang
kita panggil “Mama….. atau Ibu …..”
Berada di dekat Bunda Maria di saat
pandemi sungguh menenangkan. Bunda
Maria sebagai Ibu tidak akan tinggal
diam, membiarkan kita ketakutan dan
kehilangan arah. Maka sangat wajar jika
di masa pandemi ini, doa Rosario menjadi
untaian doa yang memberi ketenangan
dan kedamaian hati.
Saya jadi teringat kisah Pastor Antonio
Bocchi, OMI. Dahulu Beliau bertugas
di Laos. Ketika berganti pemerintahan,
Pastor Tony dipaksa untuk keluar dari
Laos dan kemudian bersama para imam
OMI lainnya melanjutkan karya mereka
di Indonesia, tepatnya Kalimantan Utara
sekarang. Singkat cerita, Pastor Tony
6
RUANG BATIN
mendapat kesempatan untuk berlibur dan
mengunjungi negeri Laos, terutama umat
yang pernah dilayaninya dan terpaksa
ditinggalkan.
Pertemuan mereka sangat mengharukan.
Selama 30 tahun lebih umat di Laos tidak
ada imam. Berarti tidak ada Perayaan
Ekaristi, tidak ada Sakramen Pengakuan
Dosa, tidak ada Sakramen Krisma dan
tidak ada Sakramen Perminyakan untuk
orang sakit. Namun iman mereka ternyata
tidak bisa dilenyapkan oleh larangan
dari pemerintah. Boleh imamnya diusir
dari antara mereka, tetapi iman mereka
tetap bertahan. Pertanyaannya, apa yang
membuat mereka tetap bisa bertahan
dengan iman Katolik mereka?
7
RUANG BATIN
Jawabannya adalah karena Bunda Maria.
Mereka setiap hari berkumpul untuk
berdoa Rosario. Melalui doa Rosario
bersama itu iman mereka dikuatkan.
Mereka tidak berjuang sendiri. Bunda
Maria selalu menemani mereka.
Doa Rosario sendiri merupakan doa yang
menunjukkan kesetiaan kita pada Tuhan
Yesus. Melalui doa Rosario umat diajak
untuk setia mengikuti peristiwa Yesus
mulai dari kelahiranNya, sampai pada
kebangkitan-Nya. Peristiwa-peristiwa
Yesus dalam Rosario itulah yang membuat
umat tetap terhubung dengan Tuhan
Yesus sendiri. Koneksi dengan peristiwa
Yesus membuat iman mereka tetap kuat
dan mendalam.
8
RUANG BATIN
Melalui peristiwa-peristiwa Gembira,
Sedih, Terang dan Mulia, umat selalu
bersama Bunda Maria mengikuti seluruh
kehidupan Yesus yang menyelamatkan
kita. Melalu doa Rosario, kita setia bersama
BundaMaria,mengikutidanmerenungkan
Yesus yang lahir, tumbuh besar, berkarya,
menderita, wafat dan bangkit untuk
kita. Peristiwa-peristiwa Rosario menjadi
cermin sekaligus pedoman tingkah laku
kita. Ketika mengalami peristiwa sedih,
kita bisa bercermin dari peristiwa sedih
yang dialami oleh Tuhan Yesus. Dari situ
kita memperoleh kekuatan sekaligus
jalan bagaimana harus bertindak. Ketika
mengalami kesulitan dalam bekerja,
kita bisa belajar dari Tuhan Yesus yang
setia berkarya untuk meneguhkan,
menguatkan dan menyatakan cintaNya
9
RUANG BATIN
kepada kita. Ketika kita sakit, atau bahkan
mendekati ajal, kita bisa belajar dari Tuhan
yang tetap setia melaksanakan kehendak
Allah, bahkan sampai wafat di salib untuk
keselamatan kita. Dengan cara itulah umat
bisa menyatukan kehidupan mereka, suka
duka mereka dengan perjalanan hidup
Yesus yang sangat menguatkan.
Di masa pandemi ini, kiranya doa Rosario
juga sangat menjawab kebutuhan umat
akan ketenangan, perlindungan sekaligus
juga penyertaan. Dengan berdoa Rosario,
kita merasa tidak sendiri. Kita bersama
Ibu kita yang pasti peduli. Bunda Maria
pasti tidak tinggal diam untuk mengatasi
kesulitanyangsedangkitahadapi. Mukjizat
di Kana merupakan bukti dan pesan
kepada kita bahwa Bunda Maria peduli. Ia
10
RUANG BATIN
tahu ketika pengantin kehabisan anggur.
Ia peduli dan berlari kepada Anaknya,
TuhanYesus, untuk meminta pertolongan.
Tuhan Yesus bertindak mengubah air
menjadi anggur, meskipun dikatakan
waktunya belum tiba. Semua itu karena
iman Maria. Bunda Maria mengenalYesus,
Puteranya yang pasti akan bertindak
menolong. Tidak mungkin Ia berpangku
tangan, tidak peduli terhadap situasi yang
membutuhkan pertolongan.
Dalam masa pandemi ini juga sama.
Bunda Maria pasti meneguhkan,
menemani dan menolong anak-anaknya
yang berseru kepadanya. Saya yakin
jika ada yang diberi kesempatan untuk
bersaksi betapa Bunda Maria sangat
peduli, maka akan ada banyak orang yang
11
RUANG BATIN
dengan senang hati maju untuk memberi
kesaksian.
Bunda Maria memberi harapan kepada
kita semua. Di dalam dia ada pertolongan.
Di dalam dia ada harapan. Di dalam
dia ada hati seorang Ibu yang sangat
mengasihi anak-anaknya. Pengharapan
itu terutama relasinya kepada Tuhan
Yesus sebagai Putera kesayangannya.
Puteranya akan selalu menolong ketika ia
meminta pertolonganNya. Bunda Maria
selalu menghantar anak-anaknya kepada
Yesus, Puteranya. Kita dituntun untuk
bertemu dengan Yesus oleh Bunda Maria.
Perjumpaan dengan Yesus itulah yang
menyelesaikan segala persoalan kita. Dia
adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup.
12
RUANG BATIN
Ketika kita sudah ditolong oleh Bunda
Maria di saat pandemi ini, hendaknya kita
tidak pernah melupakan dia yang adalah
Ibu yang selalu menolong. Ibu yang selalu
membawa anak-anaknya kepada Yesus.
Itulah keselamatan kita. Itulah harapan
kita. Rosario adalah untaian harapan kita
di saat pandemi sekarang ini.
Selamat berdoa Rosario, selamat
menyebut nama Bunda Maria yang manis.
Buahnya adalah harapan, ketenangan dan
keselamatan kita.
Tuhan memberkati.
13
SAJIAN UTAMA
Bulir-Bulir Harapan
di Masa Pandemi
Di bulan Oktober, Gereja Katolik di
seluruh dunia mengajak seluruh umatnya
untuk mendaraskan doa kepada Bunda
Maria melalui rangkaian doa Rosario.
Oktober ditetapkan Gereja sebagai Bulan
Rosario karena pada tanggal 7 Oktober
Gereja Katolik merayakan Pesta Santa
Perawan Maria Ratu Rosario.
14
SAJIAN UTAMA
Selama ini kita merayakan bulan Oktober
sebagai Bulan Rosario, tetapi sudahkah
kita tahu makna dari Rosario? Kata
“rosario/ rosary” artinya adalah mahkota
dari mawar. Bunda Maria menyatakan
kepada sejumlah orang bahwa setiap kali
mereka mendaraskan doa Salam Maria,
mereka memberikan sebuah kuntum
mawar kepadanya, dan bahwa setiap doa
Rosario yang lengkap membuat baginya
sebuah mahkota mawar. Mawar adalah
ratu dari bunga-bunga dan Rosario
adalah ratu bagi semua devosi.
Rosario terkenal sebagai kalung yang
terdiri dari 53 butir. Digunakannya
butir-butir sebagai alat bantu doa juga
merupakan tradisi sejak zaman Gereja
awal, atau bahkan sebelumnya. Pada
abad pertengahan, butir-butir ini dipakai
untuk menghitung doa Bapa Kami dan
15
SAJIAN UTAMA
Salam Maria di biara-biara. Sudah sejak
awal ada tradisi doa dengan bulir-bulir,
entah dengan batu ataupun simpul
tali. Hal ini membantu pendoa untuk
mengingat doa-doa yang didaraskannya,
hitungannya, dan urutannya. Mulanya,
doa-doa yang didaraskan lebih sering
doa Bapa Kami yang diulang-ulang.
Pengulangan merupakan suatu proses
pembatinan, peresapan makna akan
kata-kata yang diucapkan. Bukan
banyaknya kata, tetapi mencecapnya
secara mendalam.
Doa Rosario, meskipun memiliki ciri-
ciri doa penghormatan kepada Bunda
Maria namun pada intinya adalah doa
yang berpusat pada Kristus. Doa ini
mencerminkan pesan Injil, sebagai
ringkasannya. Doa Rosario merupakan
gaung doa Bunda Maria dari Inkarnasi
16
SAJIAN UTAMA
Kristus di dalam rahimnya. Dengan
berdoa Rosario, umat Kristiani duduk
dalam bimbingan Bunda Maria untuk
memandang wajah Kristus dan
mengalami kedalaman kasih-Nya.
Melalui doa Rosario, kita mendapatkan
rahmat berlimpah, seperti menerimanya
dari tangan Bunda Maria yang
melahirkan Kristus Penyelamat kita.
Berdoa Rosario juga mempunyai
kekuatan yang konkret, banyak dari
kita yang tekun berdoa Rosario dan
doa-doanya terwujudkan. Seperti yang
sedang terjadi pada masa pandemi
ini, kita bisa pergunakan bulir-bulir
Rosario untuk mendaraskan doa-doa
dan melambungkan permohonan yang
kita harapkan untuk masa pandemi ini.
Banyak dari kita yang terkena efeknya,
entah itu kehilangan orang yang kita
17
SAJIAN UTAMA
sayangi, ekonomi, ataupun sakit. Di masa
pandemi ini, banyak juga dari kita yang
bertumpu pada doa Rosario, memohon
lewat doa Rosario dan dikabulkan.
Pertolongan dari doa Rosario itu tidak
sedikit, dan semoga pertolongan dari
berdoa Rosario pun selalu menyertai
kita sekalian. Semoga dengan ini kita
semakin bertekun berdoa Rosario
dan terus tetap menekuninya, karena
mukjizat dari berdoa Rosario selalu hadir.
(TM)
18
SAJIAN UTAMA
Apa Beda Bulan Mei
dan Oktober?
Tiffany Maria
Secara tradisi, Gereja Katolik
mendedikasikan bulan-bulan tertentu
untuk devosi tertentu. Seperti yang telah
kita ketahui, terdapat dua bulan yang kita
hayati sebagai bulan yang dikhususkan
untuk menghormati Bunda Maria yaitu
bulan Mei dan Oktober. Dalam kacamata
awam, keduanya sama, keduanya
untuk menghormati Bunda Maria. Tapi
sebenarnya dua bulan tersebut berbeda.
Bulan Mei sering disebut sebagai Bulan
Maria, sementara bulan Oktober sebagai
Bulan Rosario. Mengapa?
Jawabannya ditemukan dari sejarah
penentuan dua bulan tersebut sebagai
bulan yang dikhususkan untuk
menghormati Bunda Maria.
19
SAJIAN UTAMA
Penangkapan Paus Pius VII
Bulan Maria
Bulan Mei kerap kali dianggap sebagai
awal kehidupan, karena pada bulan
Mei di negara-negara empat musim
menyambut musim semi, saatnya
bunga-bunga bermekaran. Maka bulan
ini dihubungkan dengan Bunda Maria,
yang menjadi Hawa Baru. Hawa sendiri
artinya adalah ibu dari semua yang
hidup, “Manusia itu memberi nama Hawa
kepada isterinya, sebab dialah yang
20
SAJIAN UTAMA
menjadi ibu semua yang hidup.” (Kej
3:20) Devosi mengkhususkan bulan Mei
sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak
akhir abad ke-13, namun praktek ini baru
menjadi popular di kalangan para Yesuit
di Roma pada sekitar tahun 1700-an dan
baru kemudian menyebar ke seluruh
Gereja.
Pengalaman iman Paus Pius VII
memperkuat tradisi Bulan Mei
sebagai Bulan Maria ini. Pada tahun
1809, Paus Pius VII ditangkap oleh
serdadu Napoleon dan dipenjara.
Di dalam penjara, Paus memohon
dukungan doa Bunda Maria, agar ia
dapat dibebaskan dari penjara. Paus
berjanji jika ia dibebaskan, maka ia
akan mendedikasikan perayaan untuk
menghormati Bunda Maria. Lima
tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei,
Bapa Paus dibebaskan dan ia dapat
kembali ke Roma. Tahun berikutnya, ia
mengumumkan hari Perayaan Bunda
21
SAJIAN UTAMA
Maria. Demikianlah, devosi kepada
Sang Bunda semakin dikenal oleh
masyarakat. Pada tahun 1854 ketika Paus
Pius IX mengumumkan dogma “Maria
Terkandung Tanpa Noda”, devosi kepada
Bunda Maria semakin dikenal oleh Gereja
Katolik.
Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya,
“The Month of Mary” mengatakan,
“Bulan Mei adalah bulan dimana
devosi umat beriman didedikasikan
kepada Bunda Maria yang terberkati,”
dan bulan Mei adalah kesempatan
untuk “penghormatan iman dan kasih
yang diberikan oleh umat Katolik di
setiap bagian dunia kepada Sang
Ratu Surga. Sepanjang bulan ini, umat
Katolik - baik di gereja maupun secara
pribadi di rumah - mempersembahkan
penghormatan dan doa dengan penuh
kasih kepada Maria dari hati mereka.
Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas
kita … dalam kelimpahan.”
22
SAJIAN UTAMA
Pertempuran Lepanto, 1571
Bulan Rosario
Sementara itu, bulan Oktober sebagai
Bulan Rosario berkaitan dengan
pertempuran yang terjadi di Lepanto
23
SAJIAN UTAMA
pada tahun 1571. Pada pertempuran
itu, Kekaisaran Ottoman yang berasal
dari Turki menyerang umat Kristiani
yang tersebar di Eropa. Jumlah pasukan
Turki ternyata melebih pasukan Kristen
Katolik Spanyol, Venesia, dan Genoa.
Menghadapi ancaman ini, Don Juan
dari Austria, komandan armada Katolik,
berdoa Rosario memohon pertolongan
Bunda Maria. Demikian juga umat Katolik
di seluruh Eropa berdoa Rosario untuk
memohon bantuan Bunda Maria di
dalam keadaan yang mendesak ini. Pada
tanggal 07 Oktober 1571, Paus Pius V
bersama-sama dengan banyak umat
beriman berdoa Rosario di Basilika Santa
Maria Maggiore. Sejak subuh sampai
petang, doa Rosario tidak berhenti
didaraskan di Roma untuk mendoakan
pertempuran di Lepanto. Walaupun
nampaknya mustahil, namun pada
akhirnya pasukan Katolik menang pada
24
SAJIAN UTAMA
tanggal 07 Oktober tersebut. Kemudian
Paus Pius V menetapkan peringatan
Rosario dalam Misa di Vatikan setiap
tanggal 07 Oktober. Penerusnya, Paus
Gregorius XIII, menetapkan tanggal 07
Oktober itu sebagai Pesta Santa Perawan
Maria, Ratu Rosario.
Jadi, apa beda bulan Mei dan bulan
Oktober? Jawabannya sederhana. Bulan
Mei adalah Bulan Maria - “Hawa Baru”
yang melahirkan kehidupan, sementara
bulan Oktober adalah Bulan Rosario yang
merujuk pada Bunda Maria sebagai Ratu
Rosario.
Daftar Pustaka:
https://katolisitas.org/mei-dan-oktober-sebagai-bulan-maria
https://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Pius_VII#/media/File:Pie_
VII_Arrestation_par_le_Général_Radet.png
https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Lepanto#/media/
File:The_Battle_of_Lepanto_by_Paolo_Veronese.jpeg
25
SAJIAN UTAMA
Pak Fermanto dan Keluarga
Mukjizat Novena Rosario
Hari Kesembilan
Disusun berdasarkan wawancara dengan
Bapak F.X. Fermanto Lianto
Smartis
Di masa pandemi COVID-19 ini, apa
yang paling ditakutkan semua orang?
Tentunya, semua orang takut terpapar
COVID-19. Begitu banyak orang yang
telah meninggalkan dunia ini karena
positif COVID-19, meski tak sedikit pula
26
SAJIAN UTAMA
yang berhasil sembuh dari penyakit yang
paling ditakutkan di seantero dunia saat
ini.
Bapak F.X. Fermanto Lianto, salah
seorang Katekis Paroki Kalideres, berbagi
kisah tentang mukjizat yang diterimanya
saat Beliau berjuang melawan COVID-19.
Bermula karena tertular dari anaknya
yang lebih dulu dinyatakan positif
COVID-19, Pak Fermanto tidak mudah
untuk jadi percaya saat test PCR-nya
menunjukkan hasil positif. Bertekad
ingin isolasi mandiri saja di rumah
– karena kala itu memang sedang
tinggi-tingginya angka masyarakat
Jakarta terpapar virus korona yang
menyebabkan seluruh rumah sakit
penuh – Pak Fermanto merasakan
kian hari kian aneh saja rasa tubuhnya.
Makan apa pun terasa asin! Sulitnya
mencari obat-obatan yang diresepkan
dokter membuat Pak Fermanto terlambat
27
SAJIAN UTAMA
untuk mengkonsumsi obat-obat
COVID-19. Saturasi oksigen pun mulai
menurun angkanya. Kembali kepanikan
terjadi karena harus mencari oksigen
yang makin langka keberadaannya
di Jakarta. Akhirnya, Pak Fermanto
memutuskan untuk dirawat di rumah
sakit setelah nafasnya menjadi semakin
sulit dan berat.
Syukur sekali Pak Fermanto
mendapatkan kamar rawat di Rumah
Sakit Royal Taruma. Hasil X-Ray paru-
paru menunjukkan bercak-bercak
putih sebagai pertanda virus korona
yang sudah bersarang di paru-
parunya. Saturasi oksigen turun naik
tak menentu. Hasil laboratorium darah
juga tidak bagus semua. Nafasnya
sesak dan berat. Banyak sekali pihak-
pihak yang mendoakan Pak Fermanto,
salah satu di antaranya adalah umat
Lingkungan St. Filipus – komunitas basis
28
SAJIAN UTAMA
Gereja tempat keluarga Pak Fermanto
tinggal - yang mengadakan Novena
Rosario untuk kesembuhannya. Puncak
kekuatiran terjadi saat dokter yang
merawat mengatakan Pak Fermanto
membutuhkan donor plasma darah
karena dokter melihat hasil tes darah
untuk penanda kadar infeksi yang
sangat tinggi. Dokter ingin mencegah
terjadinya Badai Sitokin, sehingga donor
plasma darah menjadi salah satu cara
terbaik.
Begitu banyak yang bergerak cepat
untuk mencari donor plasma darah:
Lingkungan, Wilayah, para sahabat,
para mahasiswa, keluarga dan pihak-
pihak lainnya, Pak Fermanto yang
pasrah hanya dapat berdoa dari tempat
tidurnya: “Ya, Tuhan, saya pasrah. Saya
tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya
Engkau saja yang mampu menolong
saya.” Mukjizat terjadi. Pendonor plasma
29
SAJIAN UTAMA
darah ditemukan. Pak Fermanto pun
mendapat transfusi plasma darah
tepat di hari ke-9 Novena Rosario
Lingkungan untuk kesembuhannya.
Setelah mendapatkan transfusi plasma
darah, keadaan Pak Fermanto memang
banyak mengalami kemajuan. Kadar
infeksi dalam tubuh turun banyak –
meski tetap masih tinggi – dan Pak
Fermanto merasa lebih segar. Melihat
keadaan demikian, dokter mengatakan
Pak Fermanto membutuhkan transfusi
plasma darah yang ke-2. Kembali Pak
Fermanto dihadapkan pada kepasrahan
karena tidak mengerti mengapa harus
dua kali transfusi plasma darah. Kembali
iman mengalami ujian. Pak Fermanto
tetap pasrah berdoa dan menyerahkan
semuanya ke dalam Penyelenggaraan
Ilahi. Panjat syukur dan terima kasih Pak
Fermanto dan keluarga pada Tuhan Yesus
dan Bunda Maria saat pendonor plasma
darah kedua akhirnya didapatkan. Pak
30
SAJIAN UTAMA
Fermanto diperkenankan keluar dari
rumah sakit dan melanjutkan isolasi
mandiri setelah dokter yang merawatnya
melihat masa-masa kritis Covid-19 telah
berhasil dilalui Pak Fermanto. Meski nafas
masih belum kembali seperti sediakala,
dan hasil X-Ray paru-paru juga masih
memperlihatkan bercak-bercak putih
yang belum hilang, Pak Fermanto pulang
ke rumah.
Mendapat kesempatan kedua hidup
lewat mukjizat Tuhan yang indah pada
waktunya. Begitulah Pak Fermanto
merangkum pengalaman imannya
saat terpapar Covid-19. Kejadian
ini memberikan pembelajaran bagi
keluarganya yang kini menjadi semakin
akrab dan saling mengasihi. Iman
keluarga pun bertambah karena
merasakan sekali kebesaran kasih dan
penyertaan Tuhan Yesus dan Bunda
Maria yang tidak pernah meninggalkan
31
SAJIAN UTAMA
anak-anakNya. Pak Fermanto menitipkan
ucapan syukur dan terima kasih tak
terhingga kepada para Romo dan semua
sahabat di Paroki Santa Maria Imakulata,
Kalideres, sahabat-sahabat pribadi
keluarga, Universitas Tarumanegara,
para dokter dan perawat di RS Royal
Taruma, dan semua pihak yang tak
dapat disebutkannya satu per satu atas
segala doa dan bantuan moril/materil
yang diberikan. Teristimewa terima kasih
Pak Fermanto tujukan kepada kedua
pendonor plasma darah: Bapak M. Yakub
dan Ibu E. Djuwita. “Sungguh luar biasa
kuasa Tuhan! Sungguh besar kuasa doa!
Semoga kita semua senantiasa diberkati
oleh Tuhan Yesus dan dilindungi oleh
Bunda Maria. Amin.”
32
KESAKSIAN IMAN
Bu Lia dan Keluarga
Perjalanan Iman
Yang Mendewasakan
Disusun berdasarkan wawancara dengan
Ibu Anastasia Feliawaty Sethiono
Yulia Susanti
“Setiap kali kita menyerahkan hidup kita kepada
Tuhan, apa pun masalah, bencana, musibah yang
kita alami, Tuhan selalu menjaga kita dengan
tangan-Nya yang penuh kuasa”
– Anastasia Feliawaty Sethiono.
33
KESAKSIAN IMAN
Timotius Eko Sethiono dan Anastasia
Feliawaty Sethiono, pasangan suami
istri yang dikenal dengan panggilan
“Pak Eko” dan “Bu Lia”. Pasutri ini aktif
melayani Paroki Kalideres, Pak Eko
menjabat sebagai anggota Dewan Paroki
Harian periode 2018-2021 dan terpilih
lagi untuk periode 2021-2024. Bu Lia
aktif melayani di Sub-Bidang Pembinaan
ASAK Paroki Kalideres. Sebelumnya, Bu
Lia menjabat sebagai Ketua Lingkungan
selama dua periode. Pasutri ini memiliki
seorang putra bernama Yonathan
Aristidis Sethiono yang saat ini sedang
kuliah di luar negeri.
Selama masa pandemi COVID-19,
pertemuan Lingkungan secara tatap
muka tidak mungkin dilakukan, maka
Pak Eko dan Bu Lia terus memberikan
semangat kepada umat Lingkungan.
Pertemuan Lingkungan, Doa Rosario,
34
KESAKSIAN IMAN
Doa Koronka dan berbagai kegiatan
Gereja lainnya tetap aktif berjalan
meskipun secara online.
Tidak jarang Pak Eko turun tangan
sendiri mengunjungi umat yang
memiliki kesulitan dalam menggunakan
perangkat elektronik, terutama para
lansia yang masih mau produktif
berkarya. Pak Eko mengajarkan cara
penggunaan Microsoft Teams, Bela Rasa
dan juga Peduli Lindungi ke umat yang
masih belum terbiasa dengan teknologi
baru ini.
Pendamping Hidup
Saat kasus COVID 19 menghantam
dengan kerasnya pada pertengahan
tahun 2021, tepatnya bulan Juli 2021, Pak
Eko merasa sakit radang tenggorokan
yang kemudian disertai demam. Setelah
minum antibiotik dan beristirahat
35
KESAKSIAN IMAN
selama 2 malam, kondisi kesehatan Pak
Eko malah semakin menurun. Setelah
diperiksa, Pak Eko ternyata positif terkena
virus korona. Bu Lia dan Yonathan juga
turut diperiksa, dan keduanya negatif
dari virus tersebut.
Keluarga tersebut memutuskan untuk
karantina mandiri di rumah. Selang
beberapa hari, kondisi Pak Eko malah
semakin memburuk dan merasa
kesulitan untuk makan. Dengan saturasi
oksigen yang sudah sangat rendah dan
memerlukan bantuan tabung oksigen
untuk bernafas, akhirnya mereka pun
berinisiatif membawa Pak Eko ke rumah
sakit.
“Tuhan, saat menjelang ulang tahun
perayaan perkawinan kami, apakah
peristiwa ini dari-Mu? Apakah Engkau
sedang menguji imanku? Menunjukkan
36
KESAKSIAN IMAN
padaku makna dari perkawinan kami?
Apakah Engkau sedang bertanya
kepadaku: masihkah kamu memerlukan
pendamping hidup? Tuhan, saya perlu
dia, selama-lamanya. Di mana saya ada
kelebihan, dia ada kelemahan. Di mana
saya ada kelemahan, di situlah kelebihan
dia. Engkau yang memberikan dia
kepadaku; Engkau yang menyatukan
kami dalam Sakramen Perkawinan yang
suci,” demikian doa Bu Lia dalam hati
kecilnya.
Di saat itu, Pak Eko sudah ditolak oleh
banyak rumah sakit. Semuanya penuh
dan banyak pasien dengan berbagai
kondisi yang menunggu antrian di UGD.
Bu Lia dengan terpaksa membawa Pak
Eko kembali ke rumah.
Selalu Tepat Waktunya
Keesokan harinya, mereka ikut Misa
37
KESAKSIAN IMAN
Minggu secara online bersama,
walaupun jasmani mereka sebenarnya
berada di ruang terpisah. Dalam Homili
Misa tersebut, kata-kata Romo yang
memimpin Misa menyadarkan Bu Lia:
“Di saat kamu tidak berdaya sama sekali
dan kamu tidak bisa apa-apa, di situlah
kejayaan-Ku, kemuliaan-Ku, kuasa-Ku
akan dinyatakan atasmu.”
Setelah Misa, Yonathan kembali
pergi berkeliling mencari UGD untuk
ayahnya. Berbagai rumah sakit sudah
dikunjunginya, namun semuanya
menolak karena sudah penuh.
Yonathan tidak putus asa dan terus
mencari, sementara Bu Lia dengan setia
menemani Pak Eko di rumah.
Bu Lia kemudian mendapatkan informasi
mengenai perawatan COVID-19
dari salah seorang teman yang juga
38
KESAKSIAN IMAN
merupakan salah satu Pengurus Gereja
SMI. Setelah dihubungi, ternyata kontak
itu adalah nomor telepon salah seorang
dokter. Setelah berkomunikasi dengan
dokter tersebut, mereka sepakat untuk
mendatangi klinik sang dokter. Pak Eko
menjalani perawatan dan pengobatan
yang sesuai dengan kondisinya.
Perkembangan kesehatan Pak Eko pun
berangsur membaik hingga akhirnya
sembuh dari virus tersebut.
“Tuhan mengarahkan kita tanpa kita
tahu. Tuhan hebat dan selalu tepat
waktuNya!” seru Bu Lia.
Bawa Semuanya Dalam Doa
Peristiwa ini memiliki banyak dampak
bagi Bu Lia dan keluarga. Selain
memperat hubungan keluarga, juga
menumbuhkan rasa bersyukur dan lebih
positif dalam memandang segala hal.
39
KESAKSIAN IMAN
“Saya dijaga dan dirawat Tuhan sehingga
tidak tertular,” kata Bu Lia dengan penuh
rasa syukur.
“Kita harus paham dan berkomunikasi
baik dengan yang sakit serta terus
memantau perkembangan pasien,”
ungkap Bu Lia. “Kita boleh menerima
setiap informasi yang masuk dari teman-
teman. Semuanya perlu kita sortir
tidak dengan emosi. Yang perlu dan
masuk akal boleh kita ambil,” lanjutnya
membagikan pengalamannya. “Kita
harus lebih hati-hati, lebih waspada.
Protokol tetap harus dijaga,” imbuh Pak
Eko.
Bu Lia juga menghimbau bagi mereka
yang memang memiliki sakit seperti
kolesterol tinggi, hipertensi, kekentalan
darah tinggi dan lainnya untuk rutin
minum obat yang sudah dianjurkan
40
KESAKSIAN IMAN
dokter karena jika diserang COVID-19
dan kondisi kesehatan tidak terkontrol,
maka bisa terjadi kerusakan organ yang
lebih parah dibandingkan bila minum
obat secara rutin.
“Bawa semuanya dalam doa dan
serahkan semua keputusan kepada
Tuhan, dengar suara Tuhan. Tuhan tidak
akan menelantarkan kita yang menaruh
harapan dan kepercayaan kepada-Nya.
Setiap kali kita menyerahkan hidup
kita kepada Tuhan, apa pun masalah,
bencana, musibah yang kita alami, Tuhan
selalu menjaga kita dengan tangan-Nya
yang penuh kuasa,” pesan Bu Lia untuk
kita semua. Bagi pasangan ini, peristiwa
ini menjadi salah satu bagian dari
perjalanan iman yang mendewasakan.
Sekarang Paroki Kalideres memiliki Tim
Pusat Penanggulangan COVID-19 Paroki
41
KESAKSIAN IMAN
Kalideres yang berusaha membantu
umat Paroki Kalideres yang terkena
COVID-19. Selain menyediakan layanan
hotline melalui telepon dan chat, Tim
ini juga menyediakan sarana informasi
untuk pencegahan dan penanganan
COVID-19, isoman dan telemedicine,
tabung oksigen, stok obat dan hal
lainnya seputar COVID-19. Semoga
dengan layanan ini umat Paroki Kalideres
dapat terbantu dalam menghadapi
pandemi ini.
42
SEPUTAR PAROKI
Misa Pelantikan
DPH & DPP Paroki Kalideres
Periode 2021-2024
“Akulah Gembala Yang Baik.
Gembala Yang Baik Memberikan Nyawa
Bagi Domba-Dombanya”
Setiap 3 tahun sekali, Paroki Kalideres
mengadakan pemilihan anggota Dewan
Paroki Harian (DPH) dan Dewan Paroki
Pleno (DPP). Setelah melewati proses
seleksi dan pemilihan yang ketat,
43
SEPUTAR PAROKI
dibentuklah DPH dan DPP Periode 2021-
2024. Pada Sabtu, 21 Agustus 2021
diadakan Misa Pelantikan DPH dan DPP
yang baru secara online. Misa tersebut
dipimpin oleh 3 orang Imam, yaitu Romo
Antonius Rajabana, OMI dan Romo Alya
Denny Haloho, OMI serta Romo Samuel
Pangestu, Pr, Vikjen KAJ.
Dalam Homilinya, Romo Vikjen
menyikapi bagaimana COVID-19
mempengaruhi kehidupan kita dalam
masa ini, namun kita tetap bersyukur.
“Kita semakin peka melihat perjalanan
hidup kita. Seperti langit yang biru di
Jakarta, dulu biasanya cloudy, selalu
tidak kelihatan karena polusi. Kita patut
bersyukur untuk itu,” ujar Romo Vikjen.
“Dalam rangka peziarahan rohani kita
di masa pandemi COVID-19 ini, saya
sungguh diteguhkan lewat Perayaan
Ekaristi dan doa Rosario,” lanjutnya.
44
SEPUTAR PAROKI
Dalam Misa yang diikuti oleh lebih dari
180 umat Pengurus Gereja SMI melalui
Microsoft Teams tersebut, Romo Vikjen
menyinggung mengenai tata kebiasaan
baru Gereja yang siap dengan teknologi
dan mau menyesuaikan diri. Menurut
Romo Vikjen, kita harus lincah, lentur dan
tidak kaku serta berprinsip cinta kasih.
“Biarlah melalui Paroki Kalideres ini, umat
Allah merasakan bahwa Allah sungguh
meraja, damai sejahtera ada.”
Beliau juga menyatakan pandangannya
tentang konsekuensi sebagai pelayan
Tuhan: “Kita bukan pelayan umat, kita
adalah pelayan Tuhan, hamba Tuhan.
Hamba tidak menuntut. Kita ingin
membangun keluarga Kerajaan Allah,
keluarga yang sangat menghormati
martabat diri dan orang lain.” Selain
itu, Romo Vikjen juga mengingatkan
kembali tentang perumpamaan gembala
45
SEPUTAR PAROKI
yang baik, yang telah diajarkan Yesus
kepada murid-murid-Nya di akhir homili
tersebut: “Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawa
bagi domba-dombanya.”
Di akhir Misa Pelantikan ini, panitia
menayangkan video spesial dari para
Romo Oblat Maria Imakulata yang
pernah/sedang berkarya di KAJ. Dalam
video tersebut Romo Peter K. Subagyo,
OMI, Romo Antonius Widiatmoko, OMI,
Romo Antonius Andri Atmaka, OMI,
Romo F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI, dan
Romo Tarsisius Eko Saktio, OMI sebagai
Provinsial OMI Indonesia bergantian
memberikan ucapan selamat atas
pelantikan DPH dan DPP Paroki Kalideres
periode yang baru ini. Walaupun
dilakukan secara online, namun Misa
Pelantikan ini tentu saja memberikan
kesan mendalam bagi setiap umat
46
SEPUTAR PAROKI
Pengurus yang mengikutinya.
Selamat berkarya dan melayani Gereja
Tuhan DPH dan DPP Kalideres periode
2021 – 2024 yang baru dilantik. Kami
juga mengucapkan terimakasih atas
pelayanan para pengurus periode 2018 –
2021. Tuhan memberkati. (eys)
Susunan DPH - DPP Paroki Kalideres
Periode 2021-2024
DPH Pastor Antonius Rajabana, OMI
Ketua Umum Pastor Alya Denny Haloho, OMI
Ketua I Andre Eka B. Harsobisono
Wakil Ketua I FX. Hersen
Wakil Ketua II Innocentia Purwaningsih Santoso
Sekretaris I Stefanus Teddy Haryanto
Sekretaris II Felisia Fumiko Pujiati Hadipranoto
Bendahara I Antonius Ryanto Limantara
Bendahara II
47
SEPUTAR PAROKI
Korbid
Peribadatan Maximilianus Sabiden Sinambela
Pewartaan Stephanus Reza Sjarief
Persekutuan Reinard Jonny Wijaya
Pelayanan Elizabeth Engdah Hasjim
Kesaksian Silvester Danny Rusli
P3 Timotius Eko Sethiono
Perencanaan & Evaluasi Fransiscus Dicky Kurniawan
Teritorial dan Kategorial Franendi
Kepala Kekaryawanan Andreas Irwan Hartarto Salim
Seksi
SKK Jeffry Pratama / Susana Kuslim
Panggilan Gunawan Wiranta
PSE Sukianto
Kesehatan dr Hady Syarif
Pendidikan Fisensia Primadhiana
Pekad Rizal Rianto Samarif
Litbang Henry Mihardja
SPE Joanes Justira Gunawan
Kepemudaan Jourdy
Liturgi Eddy Suwita
Komsos Michael Burhan
Katekese Robbyanto Lumenta
KKS Muljanto
HAAK Danny Suherli
SKP Deliano
48
SEPUTAR PAROKI
Bagian
Pendataan Marie Franciscus
RTP NS Linda
PKG Kristian Sumantri
IT Santoso
Keamanan Agustinus Rustanto
ASAK Margaretha Ira
Koordinator Wilayah & Ketua Lingkungan
Wilayah 1 Antonius Budi Prasetyo
Lingkungan:
Sta. Clara Linda Sugianto
St. Damian Antonius Judi Pudjanegara
St. Natanael Yustinus Sartius
Sta. Katarina dari Siena Riana Husen
Sta. Maria Asumpta Richard Sutanto
Sta. Maria Immaculata Paskalis Iman Pratama
Wilayah 2 V. Laurensius David Charles Lee
Lingkungan:
St. Filipus Robby Wongsonegoro
St. Martinus Yasinta Sung
St. Yanuarius Hilarion Wihendro
St. Theodorus Anastasia Agustini Kurniawati
Sta. Regina Ignatius Loyola Darmawan Suarman
Sta. Lidwina Stanislaus Kostka Djunaidi Ruslie
49
SEPUTAR PAROKI
Wilayah 3 Rosalia Insri
Lingkungan:
St. Paskalis Agustinus Iskandar
St. Fidelis Antonius Robin Kartolo
St. Yohanes dari Salib Martinus Tomy
Sta. Teresa dari Kalkuta Thomas Yono Johan
Wilayah 4 Yustina Yani
Lingkungan:
St. Hieronimus F. N. Novento Budhi Hamiprojo
St. Kristoforus Antonius Sie Bu Tjhin
St. Kanisius Elred Tedy Rozita
Sta. Paulina Yustina Yani
Sta. Olga Lukas Halim Wijaya
St. Markus Petrus Wijo Catur Wintoro
Wilayah 5 Andreas Faizal Cokro
Lingkungan:
St. Eusebius Yohanes Hery Susanto
St. Timotius Maria Luciana
St. Yohanes Pembaptis Vincentia Vita N.Halim
St. Gabriel Claudia Juliani Indra
St. Rafael C. Fransiscus Giman Santoso
St. Lambertus Stefanus Sutirtha Astono
Wilayah 6 Theresia Alistini
Lingkungan:
St. Alfonsus Rodrigues Nikolaus Paingan
St. Yohanes Paulus II Widi Hartono
50