Universitas Jember
Sejarah Kerajan
Hindu Buddha:
Kerajaan Kadiri
SEJARAH PEMINATAN SMA KELAS IX
BY
DIKI SETYAWAN
BIOGRAFI PENULIS
Ebook ini ditulis dan disusun oleh Diki
Setyawan, yang merupakan Mahasiswa
Prodi Pendidikan Sejarah Universitas
Jember angkatan 2019. Penulis lahir di
kota Kediri pada 26 Januari 2001.
Halaman 2
DAFTAR ISI
BIografi Penulis
Daftar Isi
Pembahasan
A. Nama dan Lokasi Kerajaan Kadiri
B. Sumber Sejarah
C. Sejarah Berdirinya
D. Kondisi Politik Kerajaan Kadiri
E. Akhir Kerajaan Kadiri
F. Evaluasi
Daftar Pustaka
Halaman 3
A. Nama dan Lokasi Kerajaan Kadiri
Sumber : Travel.Detik.com
Berdasarkan tempat-tempat Kadiri adalah nama kerajaan yang
muncul dalam sumber-sumber tertulis
penemuan Prasasti yang dikeluarkan setelah berakhir masa pemerintahan
Raja Airlangga di dalam prasasti nya
oleh para pejabat Kerajaan Kadiri maupun kitab historiografi tradisional
dikatakan bahwa ketika mengundurkan
secara umum dapat ditentukan bahwa diri dari pemerintahannya Airlangga
membagi kerajaannya menjadi dua
wilayah kekuasaan Kerajaan Kadiri untuk diperintah oleh kedua putranya.
Kedua kerajaan kembar itu adalah
berada di dalam wilayah yang kini kerajaan Kadiri dan Janggala. Tapal
batas nya diduga adalah Kali Brantas.
dikenal sebagai Provinsi Jawa Timur Prasasti abad ke-13 berbahasa
Sansekerta yang memuat pembagian
namun pada waktu ini diketahui ada 2 Kerajaan itu nama kerajaan yang
disebut adalah Panjalu dan Jenggala.
prasasti yang angka tahunnya Dengan demikian Panjalu dapat
diidentifikasikan sebagai kadiri yang
berbeda dalam kisaran masa Kadiri dalam sumber prasasti lain disebutkan
bahwa Kadiri adalah nama satuan
yang ternyata ditemukan di wilayah kewilayahan negara dengan ibukotanya
tempat raja bersemayam yang disebut
Jawa Tengah sekarang. kitab sastra kakawin Bharatayudha
menyebutkan bahwa Raja tegak di
Daha yang tentunya juga mengacu
kepada ibu kota tempat berdirinya
istana raja.
Halaman 4
B. SUMBER SEJARAH
Sumber sejarah Kerajaan Kadiri dapat diketahui melalui peninggalan-
peninggalanya seperti, berikut adalah sumber sejarah kerajaan Kadiri:
Prasasti Sirah Keting
Prasasti ini berisi tentang pemberian penghargaan berupa tanah dari
Jayawarsa kepada rakyat desa sebab telah berjasa.
Prasasti Di Tulungagung dan Kertosono
Kedua prasasti ini berisi tentang masalah keagamaan. Kedua prasasti
ini berasal dari Raja Kameshwara.
Prasasti Ngantang
Prasasti ini berisi tentang pemberian hadiah berupa tanah nan
dibebaskan dari pajak oleh Jayabaya. Prasasti ini ditujukan buat rakyat
Desa Ngantang sebab telah mengabdi buat Kemajuan Kediri.
Prasasti Jaring
Prasasti ini dibuat oleh Raja Gandra. Isinya ialah nama-nama nan
berasal dari nama hewan, seperti Tikus Jinada, Kebo Waruga, dan
sebagainya. Hal ini memunculkan adanya birokrasi kerajaan.
Prasasti Kamulan
Prasasti ini berisi tentang peristiwa dikalahkannya musuh oleh Kediri di
istana Katang-Katang.
Prasasti Padelegan
Prasasti ini dibuat oleh Raja Kameshwara guna mengenang rasa bakti
penduduk Padelegan pada raja.
Prasasti Panumbangan
Prasasti ini berisi tentang pemberian anugerah raja buat penduduk
Panumbangan sebab telah mengabdi kepada rakyat.
Halaman 5
Prasasti Talan
Prasasti ini berisi tentang diberikannya hak istimewa oleh raja kepada
penduduk Desa Talan dengan cara membebaskan rakyat dari pajak.
PrasastiCeker
Prasasti ini berisi tentang anugerah raja nan diberikan kepada
penduduk Desa Ceker sebab telah mengabdi buat kemajuan Kediri.
C. SEJARAH BERDIRINYA
Berdirinya kerajaan Kadiri tidaklah lepas dari kisah pembagian kerajaan
menjadi dua yang dilakukan oleh Raja Airlangga. Sumber pertama yang
menyebut pembagian Kerajaan itu ialah prasasti pada label Arca Buddha
akshobhya yang terkenal dengan nama Arca Joko Dolog atau Prasasti
Wurara tahun 1211 Saka atau 1289 masehi titik di samping itu Kitab
Negarakertagama dan kitab Calonarang juga menyebut pembagian Kerajaan
tersebut. Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah
kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra
yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama
Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang
bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala
yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Panjalu dapat dikuasai Jenggala
dan diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042 – 1052 M) dalam
prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu
Garuda Mukha.
D. Kondisi Politik Kerajaan Kadiri
Kerajaan Kadiri adalah kerajaan pertama di Indonesia yang telah
memperkembangkan Tata administrasi kewilayahan negara yang berjenjang.
Dalam hal ini hierarki kewilayahan atas tiga tingkat diperkenalkan. Mulai dari
struktur paling bawah yakni desa yang disebut thani yang selanjutnya terbagi
pula ke dalam subdivisi yang masing-masing dipimpin oleh seorang dhuwan
kemudian di tingkat lebih tinggi terdapat satuan koordinasi sejumlah desa
yang disebut wisaya dan tingkat paling tinggi terdapat negara atau kerajaan
disebut bhumi. Ibukota tempat raja bersemayam di istananya disebut nagara
atau rajya sedangkan Komplek istana sendiri disebut kadatwah.
Halaman 6
Sumber : PelajaranIps.co.id
Kerajaan Kadiri yang termasyhur pernah diperintah 8 raja dari awal
berdirinya sampai masa keruntuhan kerajaan ini. Dari kedelapan raja
yang pernah memerintah kerajaan ini yang sanggup membawa
Kerajaan Kadiri kepada masa keemasan adalah Prabu Jayabaya, yang
sangat terkenal hingga saat ini. Adapun 8 Raja Kadiri tersebut
sebagai berikut :
1. Sri Jayawarsa
Sejarah tentang raja Sri Jayawarsa ini hanya dapat diketahui dari
prasasti Sirah Keting (1104 M) dengan nama yang tertulis adalah Sri
Jayawarsa Digwijaya Sastraprabu. Pada masa pemerintahannya
Jayawarsa rakyat telah berjasa kepada raja dan kemudian Raja
Jayawarsa memberikan penghargaan kepada rakyatnya sebagai
tanda jasa. Dari prasasti itu diketahui bahwa Raja Jayawarsa sangat
besar perhatiannya terhadap masyarakat dan berupaya
meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
2. Sri Bameswara
Raja Bameswara banyak meninggalkan prasasti seperti yang
ditemukan di daerah Tulung Agung dan Kertosono. Prasasti seperti
yang ditemukan itu lebih banyak memuat masalah-masalah
keagamaan, sehingga sangat baik diketahui keadaan
pemerintahannya. Nama dan gelar Sri Baweswara yang tecantum
dalam prasasti-prasastinya adalah Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri
Bameswara Sakalabuwanatustikarna Sarwwaniwaryyawiryya
Parakrama Digjayottunggadewa.
Halaman 7
3. Prabu Jayabaya
Dalam prasasti-prasastinya Prabu Jayabaya memiliki nama dan gelar
Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara
Madhusudhanawataranindita Suhrtsingha Prakrama
Digjayottunggadewanama. Pada pemerintahan Prabu Jayabaya
Kerajaan Kadiri mengalami masa keemasannya. Strategi
kepemimpinan Prabu Jayabaya dalam memakmurkan rakyatnya
memang sangat mengagumkan. Kerajaan yang beribu kota di
Dahono Puro, bawah kaki Gunung Kelud, ini tanahnya amat subur,
sehingga segala macam tanaman tumbuh menghijau. Hasil pertanian
dan perkebunan berlimpah ruah. Di tengah kota membelah aliran
sungai Brantas. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan,
sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi.
Hasil bumi itu kemudian diangkut ke kota Jenggala, dekat Surabaya,
dengan naik perahu menelusuri sungai. Roda perekonomian berjalan
lancar, sehingga Kerajaan Kadiri benar-benar dapat disebut sebagai
negara yang “Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Karta Raharja”.
Prabu Jayabaya memerintah antara tahun 1130 sampai 1157
Masehi. Dukungan spiritual dan material dari Prabu Jayabaya dalam
hal hukum dan pemerintahan tidak tanggung-tanggung. Sikap
merakyat dan visinya yang jauh ke depan menjadikan Prabu
Jayabaya layak dikenang sepanjang masa.
4. Sri Sarwaswera
Sejarah tentang raja ini didasarkan pada prasasti Padelegan II (1159)
dan prasasti Kahyunan (1161) yang menyebut nama dan gelarnya
sebagai Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardanawatara
Wijayajagrasama Singhanadaniwaryyawiryya Prakrama
Digjayotunggadewawanama. Dalam prasati ini dijelaskan bahwa Sri
Sarweswara sebagai raja yang taat beragama dan berbudaya, Sri
Sarwaswera memegang teguh prinsip “tat wam asi”, yang berarti
“dikaulah itu, dikaulah (semua) itu, semua makhluk adalah engkau”.
Menurut Prabu Sri Sarwaswera, tujuan hidup manusia yang terakhir
adalah moksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma.
Jalan yang benar adalah sesuatu yang menuju arah kesatuan,
sehingga segala sesuatu yang menghalangi kesatuan adalah tidak
benar.
Halaman 8
5. Sri Aryeswara
Berdasarkan prasasti Angin (1171), Sri Aryeswara adalah raja Kadiri
yang memerintah sekitar tahun 1171. Nama gelar abhisekanya ialah
Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara ...
Mukha ... Sakalabuwana ... Niwaryya Prakramotunggadewawanama.
Tidak diketahui dengan pasti kapan Sri Aryeswara naik tahta.
peninggalan sejarahnya berupa prasasti Angin, 23 Maret 1171.
Lambang Kerajaan Kadiri pada saat itu Ganesha. Tidak diketahui pula
kapan pemerintahannya berakhir. Raja Kadiri selanjutnya
berdasarkan prasasti Jaring adalah Sri Gandra.
6. Sri Gandra
Masa pemerintahan Raja Sri Gandra (1181 M) dapat diketahui dari
prasasti Jaring, yaitu tentang penggunaan nama hewan dalam
kepangkatan seperti seperti nama gajah, kebo, dan tikus. Nama-
nama tersebut menunjukkan tinggi rendahnya pangkat seseorang
dalam istana. Raja Sri Gandara sendiri memiliki gelar Sri Maharaja Sri
Koncaryyadipa Handabuwanapalaka Prakramanindita
Digjayotunggadewanama Sri Gandara.
7. Sri Kameswara
Masa pemerintahan Raja Sri Kameswara dapat diketahui dari Prasasti
Ceker (1182) dan Kakawin Smaradhana. Raja Sri Kameswara sendiri
memiliki gelar Paduka Sri Maharaja Sri Kameswara
Atriwikramawataraniwaryyawiryya Prakramanindita
Digjayotunggadewanama. Pada masa pemerintahannya dari tahun
1182 sampai 1185 Masehi, seni sastra mengalami perkembangan
sangat pesat, diantaranya Empu Dharmaja mengarang kitab
Smaradhana. Bahkan pada masa pemerintahannya juga dikeal cerita-
cerita panji seperti cerita Panji Semirang.
8. Sri Kertajaya
Berdasarkan prasasti Galunggung (1194), prasasti Kamulan (1194),
prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205),
Nagarakretagama, dan Pararaton, pemerintahan Sri Kertajaya
berlangsung pada tahun 1190 hingga 1222 Masehi dan memiliki
Halaman 9
gelar Paduka Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikarmawataranindita
Srenggalanchana Digwigyajotunggadewanama. Raja Kertajaya juga
dikenal dengan sebutan “Dandang Gendis”. Selama masa
pemerintahannya, kestabilan kerajaan menurun. Hal ini disebabkan
Kertajaya ingin mengurangi hak-hak kaum Brahmana.
Bagian dari nama-nama raja tersebut mempunyai arti pelindung
dunia atau titisan Wisnu dalam berbagai variasinya seperti
Sakalabhuwana tustikarana. Sehubungan dengan beberapa raja
tersebut dengan daftar di atas perlu dicatat bahwa ada nama-nama
alias tertentu yang disebutkan dalam karya sastra kakawin yang
dibuat pada masa dan Di Bawah Lindungan Raja Kadiri. Dalam
disebutkan misalnya 3 kakawin dari masa itu yakni hariwangsa
Baratayuda, dan kaca sraya yang ketiganya melibatkan pujangga
yang sama yaitu Itu lampu Panuluh. Dalam dua kakawin yang disebut
terdahulu Raja pangayom nya adalah Jayabaya yang juga disebut
Batara Aji Jayabaya. Sedangkan dalam kakawin yang disebutkan
terakhir Raja pengayom nya disebut dengan nama Sri Bhupala
Jayakarta dan mapanji Harsa yang diidentifikasikan dengan nama-
nama Raja Kertajaya dan Srengga.
Di luar daftar raja-raja yang merujuk pada Kerajaan Kadiri atau
Panjalu itu terdapat pula raja-raja lain yang mengeluarkan prasasti
yang mungkin merujuk negara yang satu lagi yaitu Jenggala ketika
Raja itu yaitu Mapanji Garasakan, Mapanji Alanjung ahyes yang
mungkin merebut kekuasaan dari garasakan dan Sri Maharaja
samarotsaha Karnnakesawa Ratnasakha Kirttisingha
Jayantakotunggadewa yang prasastinya menyebut Jenggala
Lanchana.
Halaman 10
E. AKHIR KERAJAAN KADIRI
Kejayaan Kerajaan Kadiri mulai menurun dibawah pemerintahan Raja
Kertajaya. Hal ini disebabkan oleh pengurangan hak-hak brahmana
yang dilakukan oleh Raja Kertajaya. Para brahmana menganggap
Kertajaya telah melanggar agama dan memaksa meyembahnya
sebagai dewa. Kemudian kaum Brahmana meminta perlindungan
Ken Arok , akuwu Tumapel. Perseteruan memuncak menjadi
pertempuran di desa Ganter, pada tahun 1222 M. Dalam
pertempuarn itu Ken Arok dapat mengalahkan Kertajaya, pada masa
itu menandai berakhirnya kerajaan Kediri.
Sumber : .Toriolo.com
Setelah kekalahannya dari Ken Arok, Kerajaan Kediri bangkit kembali
di bawah pemerintahan Jayakatwang. Salah seorang pemimpin
pasukan Singasari, Raden Wijaya, berhasil meloloskan diri ke
Madura. Karena perilakunya yang baik, Jayakatwang
memperbolehkan Raden Wijaya untuk membuka Hutan Tarik
sebagai daerah tempat tinggalnya. Pada tahun 1293, datang tentara
tentara Mongol yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk
membalas dendam terhadap Kertanegara. Keadaan ini dimanfaatkan
Halaman 11
Raden Wijaya untuk menyerang Jayakatwang. Ia bekerjasama
dengan tentara Mongol dan pasukan Madura di bawah pimpinan
Arya Wiraraja untuk menggempur Kediri. Dalam perang tersebut
pasukan Jayakatwang mudah dikalahkan. Setelah itu tidak ada lagi
berita tentang Kerajaan Kediri.
F. EVALUASI
1.Kerajaan Kadiri pada mulanya merupakan satu kerajaan yang
dipecah menjadi dua untuk menghindari perang saudara. salah
satu nama kerajaan yang dipecah adalah Kadiri, darimanakah
nama Kadiri ini diketahui? Jelaskan!
2.Sebuah peristiwa sejarah dapat diketahui dan dituliskan apabila
terdapat sumber-sumber sejarah mengenai peristiwa tersebut.
Sebutkan dan jelaskan mengenai sumber sejarah dari Kerajaan
Kadiri!
3.Jelaskan kronologi terjadinya pembagian Kerajaan oleh Raja
Airlangga!
4.Dari ke delapan raja yang ernah berkuasa di Kadiri, yang paling
dikenal oleh masyarakat sekarang adalah Prabu Jayabaya.
sebutkan bagaimana Parbu Jayabaya memimpin Kerajaan Kadiri
menuju kemakmuran!
5.Kerajaan Kadiri mengalami keruntuhan pada masa Raja Kertajaya,
Apa yang menyebabkan kerajaan Kadiri runtuh pada masa ini?
Halaman 12
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik dan A. B. Lapian (Ed). 2012.
Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid II: Kerajaan Hindu-
Buddha. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve
Poesponegoro, Marwati D., Nugroho Notosusanto.
2008. Sejarah Nasional Indonesia II Kerajaan Hindu-
Buddha. Jakarta: Balai Pustaka
Halaman 13
TENTANG EBOOK
eBOOK INI DITULIS UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA
KULIAH MEDIA PEMBELAJARAN BIDANG STUDI YANG
DISUSUN OLEH DIKI SETYAWAN (190210302043). eBOOK
INI MEMBAHAS MENGENAI KERAJAAN KADIRI YANG
BERCORAK HINDU BUDDHA. KERAJAAN KADIRI
MERUPAKAN SEBUAH KERAJAAN YANG BERADA DI
WILAYAH JAWA TIMUR, KERAJAAN INI TERBENTUK
AKIBAT KEPUTUSAN PRABU AIRLANGGA UNTUK
MEMBAGI KERAJAANYA MENJADI DUA YAITU
PANJALU DAN JENGGALA, KEDUA KERAJAAN INI
DIPISAHKAN OLEH ALIRAN SUNGAI. PEMBAGIAN
KERASJAAN INI TERTULIS DI ARCA JOKO DOLOK DAN
PRASATI WURARA YANG BERANGKA TAHUN 1211 SAKA.