2.1.a.2. Pendahuluan
Surat dari Instruktur
Selamat Datang di Modul Pembelajaran Berdiferensiasi Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak (CGP).
Selamat! Karena Anda telah bersedia menginvestasikan waktu untuk terlibat dalam sebuah
perjalanan belajar yang memiliki tujuan mulia di akhirnya. Tujuan itu adalah menciptakan
lingkungan belajar yang memanusiakan setiap murid di kelas Anda serta memberikan mereka
dukungan dan kesempatan sebaik-baiknya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kami yakin, kita semua mempercayai bahwa anak lahir dengan keunikannya masing-masing.
Sebagai pendidik, kita memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan
kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Lewat
praktek pembelajaran berdiferensiasi, murid tidak hanya akan dapat memaksimalkan potensi
mereka, tapi mereka juga akan dapat belajar tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting.
Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri,
kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai penting lainnya yang akan
berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih holistik/utuh. Oleh karena itu,
penting untuk para pendidik mengetahui bagaimana proses pembelajaran berdiferensiasi ini dapat
dilakukan, dengan cara-cara yang memungkinkan guru untuk dapat mengelolanya secara efektif.
Modul ini merupakan bagian dari paket modul 2 dan juga merupakan bagian dari serangkaian
kegiatan pelatihan daring yang akan mencakup kegiatan belajar mandiri, sesi diskusi, tanya jawab
dan konsultasi secara daring dengan para fasilitator yang telah ditunjuk oleh Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan. Oleh karenanya, modul ini sebaiknya digunakan secara simultan
dengan kegiatan-kegiatan tersebut.
Kami juga ingin mengingatkan bahwa karena belajar sifatnya adalah personal, maka proses ini
hanya akan bermakna jika Anda dapat membuat koneksi dan menerapkannya dalam berbagai
konteks pemecahan masalah yang Anda hadapi sehari-hari. Kami telah berusaha untuk
memastikan bahwa berbagai strategi yang kami sarankan dalam modul ini dapat diterapkan dalam
berbagai konteks, namun demikian, kreativitas dan pemahaman akan kebutuhan masing-masing
kondisi kelas yang berbeda tetap dituntut dari Anda.
Semoga setiap menit yang dihabiskan dalam perjalanan belajar ini akan membantu Anda menjadi
versi diri Anda yang lebih baik dari hari ke hari, terutama dalam peranan Anda sebagai pendidik.
Sekali lagi, selamat belajar dan mengeksplorasi materi yang diberikan dalam modul ini. Semoga
Anda mendapatkan banyak momen AHA di sepanjang prosesnya dan menjadi Guru Penggerak
yang dapat membawa pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik.
Salam,
Instruktur Modul 2.1
2.1.a.3. Mulai dari Diri - Modul 2.1
Mulai dari Diri
Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait Pembelajaran Berdiferensiasi yang tersedia
di platform pembelajaran Daring yang disiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pertanyaan reflektif terkait Pembelajaran Berdiferensiasi:
Question #1
1
Response is required
Ceritakan pengalaman Anda yang paling berkesan pada saat Anda melakukan proses
pembelajaran di dalam kelas dengan murid yang beragam!
saya mengajar ditingkat SMP. salah satu pengalaman yang berkesan saat proses pembelajaran
didalam kelas adalah : saat pembelajaran PJOK materi pembelajaran basket. Peserta didik
kelas 7 ada yang sudah kenal dengan permainan tersebut sejak SD ada juga yang belum.
sehingga beberapa anak yang sudah bisa merasa paling hebat dan membuat anak-anak yang
baru kenal basket dan belum bisa menjadi minder dan tidak percaya diri. Sehingga untuk
memperbaiki kondisi tersebut saya berinisiatif membagi peserta didik tersebut menjadi
beberapa kelompok yang diketuai oleh peserta didik yang lebih dahulu bisa main basket dan
peserta didik yang sudah bisa main basket saya beri tugas untuk mengajari teman-temannya
yang belum bisa sehingga proses tutor sebaya terjadi dan akhirnya peserta didik yang belum
bisa menjadi percaya diri dan mau belajar dari temannya yang sudah bisa.
Question #2
2
Response is required
Apa yang telah Anda ketahui tentang pembelajaran berdiferensiasi?
Sebuah usaha pembelajaran dikelas yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan belajar
individu setiap murid.
Question #3
3
Response is required
Perhatikan Video Berikut ini :
Setelah menyaksikan video di atas, menurut Anda bagaimana seharusnya pembelajaran itu
dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi? (terutama untuk memenuhi kebutuhan belajar
murid).
Menurut saya pembelajaran itu dirancang harus sesuai kodrat anak dan sesuai kebutuhan anak
masing-masing individu. Guru tidak boleh menyama ratakan kebutuhan setiap anak dan guru
harus sadar bahwa setiap anak punya bakatnya masing-masing. Jangan rusak bakat anak
hanya karena guru paksakan apa yang guru anggap benar.
Question #4
4
Response is required
Apa yang ingin Anda ketahui lebih lanjut tentang pembelajaran berdiferensiasi?
Yang ingin saya ketahui adalah bagaimana cara penerapan pembelajaran berdiferensiasi di
kelas, apa sajakah jenis-jenis pembelajaran berdiferensiasi dan apa kelebihan pembelajaran
difrensiasi.
2.1.a.4. Eksplorasi Konsep - Modul 2.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Pengantar
semoga setelah pembelajaran ini, kita benar-benar bisa menerapkan pembelajaran berdiferensiasi agar setiap
peserta didik kita dapat terlayani dengan baik. Tetap semangat untuk belajar!
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi
memang benar sekali, mengenali karakter masing-masing murid secara detail dapat membantu memastikan
mereka semua sukses dalam proses membelajaran dan itu adalah PR bagi saya !
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Sebuah Ilustrasi
Trategi ibu Renjana menurut saya kurang tepat. karena jika diterapkan maka 3 anak tersebut akan merasa
dibedakan oleh gurunya dan suatu saat mereka tidak akan menyelesaikan tugas yang lain dalam waktu yang
cepat. menurut saya murid tersebut justru diberi kepercayaan untuk membantu teman-temannya yang merasa
kesulitan disitu mereka akan mendapatkan pembelajaran lebih.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Miskonsepsi tentang Pembelajaran Berdiferensiasi
menurut saya, pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan
masing-masing murid. Hanya disini saya perlu belajar banyak tentang penerapannya. Semangat untuk belajar!
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Pengertian Pembelajaran Berdiferensiasi
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh
guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang
terkait dengan: Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, Bagaimana
guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, Bagaimana mereka menciptakan lingkungan
belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi,
Manajemen kelas yang efektif, Penilaian berkelanjutan.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Mengidentifikasi atau Memetakan Kebutuhan Belajar
Murid
kebutuhan belajar murid dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat
murid, dan Profil belajar murid
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on 1. KESIAPAN BELAJAR (READINESS)
memetakan bebutuhan belajar berdasarkan kesiapan belajar perlu dilakukan agar setiap murid terpenuhi
kebutuhan belajarnya.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Kesiapan Belajar
Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang
mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun
dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi
baru tersebut. Jadi kesiapan belajar siswa juga perlu dipetakan agar guru bisa membuat siswa nyaman dengan
kondisi lingkungan belajar yang sudah dibuat.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Kesiapan Belajar
6 perspektif kontinum dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid dan tujuan melakukan
identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk
memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan
belajarnya
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Contoh Mengidentifikasi atau Memetakan Kebutuhan
Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar
Akan saya coba terapkan dikelas.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on 2. MINAT MURID
Minat sebenarnya dapat kita lihat dalam 2 perspektif. Yang pertama sebagai minat situasional dan minat juga
dapat dilihat sebagai sebuah kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama dengan objek
atau topik tertentu. Memahami kedua perspektif tentang minat tersebut akan membantu guru untuk dapat
mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau menarik minat murid-muridnya dalam belajar.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Pentingnya Mempertimbangkan Minat Murid
Minat setiap murid tentunya akan berbeda-beda. Sepanjang tahun, murid yang berbeda akan menunjukkan
minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan"
murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Sehingga guru harus jeli melihat minat murid dalam
pembelajaran agar hasilnya maksimal.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Contoh Mengidentifikasi atau Memetakan kebutuhan
belajar berdasarkan minat
Dengan cara memetakan minat murid. maka tujuan pembelajaran dapat dicapai, walaupun dengan topik yang
mungkin bisa berbeda.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on 3. PROFIL BELAJAR MURID
kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru
dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Contoh Mengidentifikasi atau Memetakan Kebutuhan
Belajar Berdasarkan Profil Belajar murid
Pendapat saya memetakan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Profil Belajar murid akan membantu murid
memahami materi pembelajaran yang kita berikan.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Contoh cara-cara yang dapat dilakukan guru untuk
mengidentifikasi kebutuhan belajar murid
banyak contoh cara-cara yang dapat dilakukan untuk memetakan kebutuhan belajar murid yang sudah
diberikan pada eksplorasi konsep ini. Saya akan mencobanya dikelas saya.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Refleksi
1. Pembelajaran berdifrensiasi adalah sebuah pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan belajar murid. 2.
Karena dengan mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar murid maka murid akan mudah menerima materi
pembelajaran yang akan kita berikan. 3. Guru harus bisa memetakan kebutuhan murid, setidaknya harus
berdasarkan pada 3 aspek yaitu kesiapan belajar murid, minat murid dan profil belajar murid.
2.1.a.5 Ruang Kolaborasi 1 - Modul 2.
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/url/view.php?id=418290
2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1
Refleksi Terbimbing 2.1.a.6
by PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA - Tuesday, 15 February 2022, 2:38 PM
Salam sejahtera bagi kita semua. Berikut saya sampaikan link tugas Refleksi Terbimbing 2.1.a.6
milik saya. Terima kasih.
https://drive.google.com/file/d/1MLaTTpLmcW3uxcVcTlG2zcjFpzt_ZktK/view?usp=sharing
2.1.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Modul 2.1
RENCANA PELAKSANAAN
PEMBELAJARANBERDIFERENSIASI
DARING
Sekolah : SMP Charitas 01 Belitang
Mata Pelajaran :Pendidikan Jasmani Olahraga dan
KesehatanKelas/Semester : VII (Delapan)/Genap
Alokasi Waktu : 2x40 menit
A. Tujuan Pembelajaran
Selama dan setelah mengikuti pembelajaran ini peserta didik dapat memahami gerakan
merodasenam lantai.
B. Bahan Ajar
- Aplikasi google meet dan WA
- Buku paket PJOK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2018
- Modul/Bahan Ajar
- Gambar (Info Grafis)
- Video toutorial langkah-langkah gerakan meroda
C. Kegiatan
Pembelajaran
Pendahuluan
- Guru menyapa siswa dan membagikan link pertemuan virtual melalui aplikasi
google meetdi grup WA kelas.
- Guru memulai pembelajaran, menyapa peserta didik dan melakukan presensi.
- Guru mengajak peserta didik melakukan ice breaking.
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
- Guru membuat kesepakatan kelas bersama.
Kegiatan Inti
- Siswa mengamati gambar (Info grafis) dan video tentang gerakan meroda pada
senamlantai.
- Peserta bersama guru melakukan Tanya jawab tentang gambar dan video yang
telahdiamati.
- Guru memberikan penguatan terhadap hasil Tanya jawab siswa.
- Siswa membuat produk tentang langkah-langkah gerakan meroda melalui
berbagai minatpeserta didik (boleh dalam bentuk info grafis, poster, diagram frayer,
video tutorial, dll). (Guru melakukan diferensiasi produk berdasarkan minat siswa).
- Siswa mengirimkan hasil karya mereka melalui grup WA Kelas.
Penutup
- Guru memberikan umpan balik kepada siswa terkait pembelajaran hari ini.
- Guru memberikan evaluasi dengan memberikan soal-soal latihan dalam bentuk
LKdigital (Goggle Form).
- Guru menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa.
D. Penilaian
Sikap : Penilaian terhadap sikap tanggungjawab siswa dalam ketepatan
pengumpulantugas sesuai waktu yang sudah disepakati.
Pengetahuan : Menunjukkan kemampuan untuk menjelaskan langkah-langkah
gerakanmeroda pada senam lantai.
Keterampilan : Mampu membuat produk tentang langkah-langkah gerakan meroda
padasenam lantai.
Strategi dan alat penilaian :
- Penilaian Sikap
Nama siswa Tanggal/ Tanggal/ Tanggal/ Tanggal/
catatan sikap catatan sikap catatan sikap catatan sikap
- Penilaian Tercapai Berkembang Baru Terlihat Keterangan
Pengetahuan
Strategi : Ujuk
kerja Alat :
Cek list
Pengetahuan
Menunjukkan
kemampuan untuk
menjelaskan
langkah-langkah
gerakan meroda
pada senam lantai
- Penilaian
Keterampilan Tercapai Berkembang Baru Terlihat Keterangan
Strategi : Ujuk
kerja Alat :
Cek list
Pengetahuan
Kreativitas
Kesesuaian isi
Mengetahui Belitang, Februari 2022
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran
‘ Febry Irawan, S.Si Pius S Bima Chandra Hermawan, S.Pd
2.1.a.8. Elaborasi Pemahaman - Modul 2.1 (Pertanyaan)
Your response
Respondent: - Anonymous -
Tugas Refleksi Terbimbing
Question #1
1
Silahkan tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang masih Anda miliki terkait dengan memenuhi
kebutuhan belajar murid melalui pembelajaran berdiferensiasi pada kolom dibawah ini!
Bagaimana bentuk pembelajaran berdiferensiasi jika disuatu kelas ada peserta didik yang
berkebutuhan kusus?
2.1.a.8.1. Elaborasi Pemahaman - Modul 2.1
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/url/view.php?id=419148
2.1.a.9. Koneksi Antar Materi - Modul 2.
Salam sejahtera bagi kita semua. Berikut saya sampaikan link video koneksi antar materi 2.1.a.9
milik saya :
https://drive.google.com/file/d/1zOSQTfjv4rrn5B_0c_eCYc18iudefK55/view?usp=sharing
2.1.a.10. Aksi Nyata - Modul 2.
Rencana Aksi
Nyata
Pembelajaran Berdiferensiasi
Latar Belakang :
Anak lahir dengan keunikannya masing-masing,
mereka mempunyai perbedaan yang berkaitan dengan
kekuatan diri dan disekolah mereka harus memperoleh
kesempatan belajar yang sama sesuai kebutuhan dan
kondisinya
1 . Tujuan 1. Memaksimalkan potensi
murid.
2. Memberi kesempatan murid
untuk mempelajari berbagai
nilai kehidupan yang penting.
3. Membentuk Pembelajaran
yang berpusat pada murid.
Berkembangnya 2 . Tolak
potensi murid sesuai ukur
minat, profil dan
kesiapan belajar serta
pembelajaran berpusat
pada murid 1. Memetakan siswa.
2. Menyusun RPP
3.
berdiferensiasi.
Deksripsi 3. Proses pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran sesuai rancangan
Berferensiasi diferensiasi.
4. Evaluasi
4.1. Kepala sekolah Dukungan yang
dibutuftkan
2. Rekan sejawat.
3. Peserta didik
Aksi Nyata Pembelajaran
Berdiferensiasi Ini Tidak Akan Berjalan
Baik Tanpa Dukungan Berbagai Pihak.
Pius S Bima Chandra Hermawan
CGP angkatan 4
Kab. OKU Timur
2.1.a.11. Surat Penutup - Modul 2.1
Selamat!
Anda telah menyelesaikan rangkaian sesi pembelajaran untuk Modul “Pembelajaran
Berdiferensiasi”. Kami berharap Anda mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan untuk mulai menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas Anda dan
mendapatkan kepercayaan diri serta keyakinan bahwa Anda mampu melakukannya.
Seperti yang sebelumnya telah berkali-kali kami sampaikan, belajar hanya akan bermakna jika
Anda dapat menerapkannya dalam konteks pemecahan masalah yang Anda hadapi sehari-hari.
Oleh karena itu, langkah awal yang Anda ambil akan menjadi sangat penting. Mulailah dengan
langkah kecil, sedikit demi sedikit. Bersiaplah untuk kesalahan dan ketidaknyamanan yang
mungkin terjadi, namun bertahanlah dan segera lakukanlah refleksi. Kesalahan yang Anda buat
seharusnya dapat meningkatkan keterampilan Anda dalam memecahkan masalah. Riset
membuktikan bahwa belajar dari kesalahan memiliki potensi untuk meningkatkan keterampilan
metakognisi Anda dan efikasi diri Anda, karena Anda akan merasa memiliki kemampuan untuk
memecahkan masalah dan menyelesaikan pekerjaan Anda dengan baik. Jadi, tetaplah semangat!
Kami juga berharap, Anda tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan selama sesi
pembelajaran modul ini. Interaksi Anda dengan fasilitator dan para calon guru penggerak lainnya
saat berdiskusi dan bekerja kelompok semoga juga memberikan Anda kesempatan untuk
memperluas jejaring kolegial Anda. Kami berharap jejaring ini nantinya dapat menjadi sistem
pendukung untuk Anda dalam perjalanan Anda sebagai guru penggerak nantinya.
Atas nama penulis modul dan para fasilitator, kami mohon maaf jika Anda kesalahan yang secara
tidak sengaja kami lakukan, baik dalam proses penulisan maupun saat proses pembelajaran modul
ini.
Salam!
2.2.a.2. Pendahuluan Modul 2.2 - Pembelajaran Sosial dan
Emosional
Surat dari Instruktur
Bapak/Ibu CGP yang kami banggakan,
Selamat datang dalam pembelajaran sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan
emosional ini diawali dengan kesadaran penuh bahwa tidaklah cukup apabila murid hanya
mengembangkan kemampuan kognitifnya saja. Murid juga perlu mengembangkan aspek sosial
dan emosionalnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi sosial-emosional
berperan penting dalam keberhasilan akademik maupun kehidupan seseorang. Sebagai pendidik
yang berinteraksi dengan murid dan orang dewasa di lingkungan sekolah, Anda tentu sepakat
dengan pernyataan tersebut.
Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara dalam bukunya “Bagian Pertama :
Pendidikan (2011) mengatakan bahwa pendidikan merupakan daya dan upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual) dan tubuh anak agar
dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan anak yang sesuai dengan dunianya.
Selaras dengan pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara, Pembelajaran Sosial dan Emosional
berbasis kesadaran penuh adalah upaya untuk menciptakan ekosistem sekolah yang
mendorong bertumbuhnya budi pekerti, selain aspek intelektual. Lewat Pembelajaran Sosial dan
Emosional, murid diajak untuk menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan,
mengalami berbagai pengalaman belajar yang dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan
dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.
Agar guru dapat mengembangkan kompetensi sosial dan emosional murid secara optimal melalui
suasana belajar dan proses pembelajaran yang sistematik, menyeluruh, dan seimbang, guru perlu
menyadari, mengelola, dan menerapkan pembelajaran sosial dan emosional dalam dirinya.
Melalui fase MERRDEKA, kami mengajak Anda untuk terlibat dalam pengalaman belajar yang
dilandasi kasih sayang, perhatian yang berkualitas, keterbukaan, rasa ingin tahu, sikap
apresiatif dan semangat bertumbuh, yang dilakukan secara mandiri maupun bergotong-royong.
Kami berharap Anda juga bersedia untuk berbagi pengalaman sehingga pembelajaran Bapak/Ibu
semakin kaya, bermakna dan bermanfaat bagi murid. Harapan kami, modul pembelajaran sosial
dan emosional ini dapat membantu Anda untuk melaksanakan proses pembelajaran secara yang
lebih sistematik, menyeluruh dan seimbang, baik di kelas, lingkungan sekolah dan komunitas
sekolah.
Selamat belajar, berbagi, dan bertumbuh!
Salam hangat,
Instruktur Modul 2.2
2.2.a.3. Mulai dari Diri - Pembelajaran Sosial dan Emosiona
Your response
Respondent: PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA Submitted on: Friday, 25 February 2022,
10:40 AM
Mulai dari Diri
Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional
Question #1
1
Response is required
Sebagai pendidik, Anda tentu pernah berada dalam suatu peristiwa yang membuat Anda
merasakan emosi-emosi positif, misalnya optimis, senang, cinta, bahagia, atau takjub, dan
sebagainya. Refleksikan:
a. Apa kejadiannya? (Kapan, di mana, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, apa yang
membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut?)
b. Apa peran Anda saat itu? Apa yang Anda lakukan untuk merespon dan mengelola emosi
tersebut?
c. Bagaimana peristiwa tersebut berdampak pada diri Anda sebagai pendidik?
Peristiwa yang membuat saya merasakan emosi positif adalah saat pengumuman kelulusan
dan pelepasan kelas 9 tahun lalu. karena dilaksanakan secara daring maka saya dan peserta
didik tidak dapat bertemu langsung. Setelah pengumuman kelulusan ada seorang peserta
didik telpon saya dan mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian lebih yang pernah
saya berikan sehingga dia dapat lulus sekolah. Memang selama dikelas 9 peserta didik
tersebut sudah beberapa kali akan putus sekolah dikarenakan keadaan ekonomi keluarga,
masalah broken home dll. sehingga tidak satupun ada motivasi dari anak tersebut untuk
sekolah. Tetapi saya rajin menemui peserta didik tersebut, selalu memotivasi, selalu
melakukan kunjungan jika peserta didik tersebut tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas.
Disitu saya berperan sebagai guru, orangtua dan sahabat. Saya sangat senang akan hasil yang
saya peroleh tersebut. Saya merasa puas karena dengan usaha saya tersebut saya bisa
menghantarkan peserta didik tersebut sampai lulus dari tingkat SMP dan setidaknya sudah
memberikan setitik harapan kepada peserta didik tersebut untuk meraih cita-citanya.
Question #2
2
Response is required
Saat menjadi pendidik, Anda tentu juga pernah berada dalam suatu peristiwa yang
memicu emosi-emosi negatif misalnya marah, sedih, kecewa, menyesal, khawatir, dan
sebagainya. Refleksikan:
a. Apa kejadiannya? (Kapan, di mana, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, apa yang
membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut?)
b. Apa peran Anda saat itu? Apa yang Anda lakukan untuk merespon dan mengelola emosi
tersebut?
c. Bagaimana peristiwa tersebut berdampak pada diri Anda sebagai pendidik?
Ada sebuah kejadian 2 tahun lalu dimana kejadian tersebut sangat memicu emosi negatif dari
diri saya. Saat itu ada beberapa anak yang jajan dikantin saat jam pelajaran berlangsung.
kebetulan saat itu saya sedang piket dan mengetahui hal tersebut. Setelah itu anak-anak
tersebut saya panggil, saya nasehati dan saya beri tugas khusus. Ternyata disela-sela saya
memberikan tugas khusus tersebut. Anak-anak tersebut mengerjakannya tidak dengan serius
dan bercanda. Secara reflek saya marah dan saya pukul meja keras-keras sampai mereka
ketakutan. Setelah emosi saya reda. Saya mulai sadar bahwa yang saya lakukan tidaklah
benar. Saya harusnya tahu bahwa apapun yang mereka lakukan. Mereka tetaplah anak-anak
yang harus diarahkan dan diberitahu dengan cara yang benar tanpa emosi.
Question #3
3
Response is required
Di bawah ini ada beragam kegiatan belajar dan mengajar di kelas maupun lingkup sekolah.
Berilah tanda cek (✓) pada kegiatan yang sudah pernah Anda lakukan dan jawablah
pertanyaan di bawahnya.
Memulai kegiatan setiap hari dengan kesadaran akan tujuan yang jelas.
Memberikan kesempatan pada murid untuk menikmati buku pilihannya dalam suasana yang
kondusif.
Memberikan kesempatan pada murid untuk merefleksi proses pembelajaran yang sudah diikuti
(apa yang disukai/mudah/menantang/ingin dipelajari lebih lanjut sebelum melanjutkan
pembelajaran berikutnya).
Mengisi waktu luang dengan melakukan kegiatan penyegaran/relaksasi yang sehat dan positif.
Memberikan fleksibilitas pada murid untuk mengerjakan tugas yang disukainya terlebih dahulu.
Memberikan kesempatan pada murid untuk mengadakan acara sekolah (literasi, seni dan
olahraga, dll).
Mendengarkan penjelasan murid yang dilaporkan terlibat dalam perilaku indisipliner dengan
sikap empati dan hormat.
Mengajak murid menonton film dan membedah perasaan dan motivasi tokoh dalam film
tersebut.
Mengajak murid berdiskusi dan beropini tentang masalah yang terjadi dalam masyarakat /
sekolah.
Mengungkapkan sikap tidak setuju pada rekan guru lain dengan sikap hormat dan empati.
Memfasilitasi murid untuk duduk berdialog dalam menyelesaikan konflik.
Melaksanakan program pendidikan seksualitas bagi murid.
Berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atas inisiatif sendiri.
Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas agar kelas aman dan nyaman.
Mengadakan dialog interaktif tentang bagaimana membangun tanggung jawab/etika dalam
penggunaan internet.
Question #4
4
Response is required
Berdasarkan jawaban yang Anda berikan tadi,
Tulislah 1-3 kegiatan yang telah Anda pilih di atas yang paling sering Anda lakukan! Kemudian,
jelaskan motivasi/tujuan Anda dalam melakukan kegiatan tersebut!
Yang paling sering saya lakukan adalah memfasilitasi murid untuk duduk berdialog dalam
menyelesaikan konflik. Tujuan saya melakukan kegiatan tersebut adalah agar saya dapat
memastikan seluruh murid saya senang saat datang kesekolah, senang saat belajar disekolah
dan senang saat pulang sekolah. Karena rasa senang adalah gerbang utama seorang siswa
dapat menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan guru. Dan jika ada konflik saya selesaikan
secara dialog karena dengan dialog saya tahu apa penyebab konflik tersebut dan dapat
memutuskan bagaimana menyelesaikannya. Hal baik dan buruk yang dilakukan murid saya.
Pasti ada alasannya.
Question #5
5
Response is required
Berdasarkan jawaban yang Anda berikan tadi,
Sejauh ini, apakah Anda sudah dapat melakukan kegiatan tersebut secara konsisten? Jika “Ya”,
apakah faktor pendukungnya? Jika “Tidak”, apakah tantangan yang Anda hadapi? Apakah ada yang
Anda lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut? Bagaimana hasilnya?
Ya saya konsisten. Faktror pendukungnya salah satunya karena saya adalah Waka bagian
kesiswaan. Tantangannya adalah jika ada konflik yang harus melibatkkan kehadiran
orangtua disekolah. Untuk mengatasi tantangan tersebut ya memang harus dihadapi agar
konflik dapat diselesaikan. Hasilnya sangat baik. Oranngtua jadi paham bahwa anak-anaknya
benar-benar diperhatikan dilingkungan sekolah.
Harapan dan Ekspektasi
Question #6
6
Response is required
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apakah Bapak/Ibu sudah mendapatkan
gambaran tentang apa yang akan dipelajari dalam modul pembelajaran sosial dan emosional
ini? Apa hal yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?
Silahkan kemukakan Harapan dan Ekspektasi bagi diri sendiri ?
Saya sedikit memperoleh gambaran. Pada modul ini saya akan diajari untuk mengendalikan
cara bersosial dan emosional dalam mengelola kelas saya.
Question #7
7
Response is required
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apakah Bapak/Ibu sudah mendapatkan
gambaran tentang apa yang akan dipelajari dalam modul pembelajaran sosial dan emosional
ini? Apa hal yang ingin Anda pelajari lebih lanjut?
Silahkan kemukakan Harapan dan Ekspektasi bagi murid-murid Anda ?
Harapan dan ekspetasi bagi murid-murid saya adalah semoga setelah pembelajaran modul ini
murid saya lebih semnagat lagi menjalani pembelajaran bersama saya.
2.2.a.4. Eksplorasi Konsep - Pembelajaran
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Pengantar
Semoga setelah saya memperoleh Pembelajaran Sosial Emosional saya dapat memahami serta menerapkan
aspek sosial dan emosional yang baik dalam diri dan dapat menerapkannya juga kepada murid secara lebih
sistematik dan komprehensif
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Pendidikan Budi Pekerti
Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan
pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan
olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Pembelajaran
budi pekerti adalah pembelajaran jiwa manusia secara holistik. Hasil dari pembelajaran budi pekerti adalah
bersatunya budi (gerak pikiran, perasaan, kemauan) sehingga menimbulkan tenaga (pekerti)
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on A. Pembelajaran Sosial dan Emosional
PSE mencoba untuk memberikan keseimbangan pada individu dan mengembangkan kompetensi personal
yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses. Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu
semua dalam pembelajaran sehingga anak-anak dapat belajar menempatkan diri secara efektif dalam konteks
lingkungan dan dunia
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a1. (1)
Melalui pembelajaran sosial emosional. Kita dapat membentuk karakter yang baik pada peserta didik
sehingga mereka melaksanakan pembelajaran dengan hati yang terbuka, senang dan bahagia
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a1. (2)
Agar guru paham bagaimana memenuhi kebutuhan belajar siswa disekolah, tentang pengalaman dan apa yang
dipelajari serta membimbing siswa untuk menyelesaikan masalahnya
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a1. (3)
Semua hal yang dapat dilakukan guru agar siswa mempunyai karakter yang baik
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a1. (4)
PSE adalah mengenai bagaimana kita menjalankan sekolah. Pembelajaran sosial-emosional adalah tentang
pengalaman apa yang akan dialami siswa, apa yang dipelajari siswa dan bagaimana guru mengajar
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a1. (5)
Cara-cara menerapkan pembelajaran sosial emosional yang benar-benar bisa saya terapkan disekolah saya.
Terutama pembelajaran sosial emosional pada tingkat SMP
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on B. Kesadaran Penuh (Mindfulness)
Mindfulness menyediakan cara bagi setiap orang untuk menikmati setiap momen dan memberikan rasa
ketenangan
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a2. (1)
Mindfulness mengajarkan saya untuk hadir sepenuhnya dan menyadari keadaan terkini saya serta
memberikan respons yang paling tepat dalam keadaan apapun, saya telah belajar untuk mengurangi kebiasaan
menuntut dan untuk lebih bersyukur akan segala sesuatu.
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a2. (2)
Latihan kesadaran penuh (mindfulness) dapat membuat kita merasa lebih rileks, mampu berpikir obyektif dan
dapat menjalani keseharian dengan baik
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a2. (3)
Dengan latihan berkesadaran penuh kita sebagai guru akan mampu mengatur kondisi dan ketenangan diri saat
dihadapkan pada banyaknya tugas dan pekerjaan. Serta saat didalam kelas dapat membantu kita menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif
PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN noted on Tugas 2a2. (4)
Latihan berkesadaran penuh sangat penting bagi kita yang menjalankan peran sebagai seorang pendidik.
Dengan Latihan berkesadaran penuh dapat membantu kita mengambil keputusan yang tepat. Contoh latihan
berkesadaran penuh yang selama ini ternyata selalu kita terapkan kepada siswa adalah berdoa sebelum dan
sesudah belajar, melakukan kegiatan sesuai minat dan bakat, menerapkan senyum, sapa, salam, sopan, santun
dan sebagainya.
NUR ROHMAD SAFARUDIN noted on C. PSE berbasis Kesadaran Penuh (Mindfulness) dalam
mewujudkan Kesejahteraan Hidup (Well-Being)
Well-being (kesejahteraan hidup) adalah sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap
diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi
kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan
membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya. Relasi
yang terbangun antara guru dan murid akan mendorong guru untuk membuat keputusan yang lebih
responsif.Di sisi lain, lingkungan belajar dan suasana belajar yang kondusif akan membantu tumbuhnya
kesadaran diri murid tentang perasaan, kekuatan, kelemahan, nilai-nilai yang dimiliki dengan lebih baik.
Tumbuhnya kesadaran sosial yang lebih baik yang didasarkan pada perhatian yang bertujuan juga akan
membantu murid dalam memproses informasi secara lebih baik. Jika murid dapat mengikuti proses
pembelajaran secara lebih baik, maka secara perlahan tumbuh optimisme dan tingkat efikasi dalam dirinya
2.2.a.4.1. Eksplorasi Konsep – Forum Diskusi
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/forum/view.php?id=291651
2.2.a.5. Ruang Kolaborasi - Pembelajaran Sosial dan
Emosiona
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/url/view.php?id=420155
2.2.a.5.2. Ruang Kolaborasi (Unggah Hasil) - Pembelajaran
Sosial dan Emosiona
2.2.a.6. Refleksi Terbimbing - Pembelajaran
Sosial dan Emosiona
Your response
Respondent: PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA Submitted on: Wednesday, 9
March 2022, 1:45 PM
Tugas Refleksi Terbimbing
Question #1
1
Response is required
Sebutkan 3 hal menarik yang telah Anda pelajari! Kemukakan dengan alasan atau contoh
berupa gambar/foto untuk memperjelas jawaban Anda.
https://drive.google.com/file/d/1xPi7VcNGuA4XHwkRJuxEXNoEOanbrhHi/view?usp=shari
ng
Question #2
2
Response is required
Sebutkan 2 hal penting yang Anda pelajari! Kemukakan dengan alasan atau contoh berupa
gambar/foto untuk memperjelas jawaban Anda.
https://drive.google.com/file/d/1RMo4w4Pg058eItfgCJ003MOjsvevmGPe/view?usp=sharing
Question #3
3
Response is required
Sebutkan 1 hal yang Anda ingin coba dan terapkan dalam kelas! Jelaskan alasan Anda!
https://drive.google.com/file/d/1NRdsXHUwenrCSarjkTI2GFSvzJayGVZq/view?usp=sharin
g
2.2.a.7. Demonstrasi Konstektual - Pembelajaran Sosial dan
Emosional
https://lms21-
gp.simpkb.id/pluginfile.php/360369/assignsubmission_file/submission_files/48
0804/Demostrasi%20Kontestual%202.2.mp4?forcedownload=1
2.2.a.8. Elaborasi Pemahaman - Pembelajaran Sosial dan
Emosional (Pertanyaan
our response
Respondent: - Anonymous -
Tugas Refleksi Terbimbing
Question #1
1
Silahkan tuliskan pertanyaan-pertanyaan yang masih Anda miliki terkait dengan praktik
pembelajaran sosial dan emosional pada kolom dibawah ini!
Tolong berikan contoh cara menerapkan teknik Mindfullness pada peserta didik
berkebutuhan kusus ?
2.2.a.8.1. Elaborasi Pemahaman - Pembelajaran Sosial dan
Emosional
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/url/view.php?id=420460
2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan
Emosional
https://lms21-
gp.simpkb.id/pluginfile.php/360372/assignsubmission_file/submission_files/49
3347/Koneksi%20Antar%20Materi%20MODUL%202.2.mp4?forcedownload=
1
2.2.a.10. Aksi Nyata - Pembelajaran Sosial dan Emosiona
Salam sejahtera bagi kita semua berikut saya lampirkan tugas RPP aksi nyata 2.2
: https://drive.google.com/file/d/1df05rY6Jsu_XvcJZUYvW8bRShfJ7QYq7/view?usp=sharing
dan
link video aksi nyata 2.2
: https://drive.google.com/file/d/1FGdlYPny2UT5e7pQHPsCq0n6cU6dbj8o/view?usp=shari
2.2.a.11. Penutup - Pembelajaran Sosial dan Emosional
Surat Penutup
Bapak/ Ibu Calon Guru Penggerak yang kami banggakan, pertama-tama kami ucapkan selamat
Anda telah menyelesaikan Modul Pembelajaran Sosial dan Emosional. Terima kasih untuk kerja
keras Anda dalam mengikuti setiap proses dalam sesi pembelajaran yang ada. Kami berharap
perubahan yang telah Anda raih dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti sampai di
sini. Sebagai penutup, kami ingin mengajak Bapak Ibu untuk membaca kembali tulisan Bapak
Ki Hajar Dewantara mungkin sudah pernah Anda baca.
“Kalau sebutir jagung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya, dan
mendapat sinar matahari yang cukup, maka pemeliharaan dari bapak tani tentu akan menambah
baiknya keadaan tanaman. Kalau tidak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak
baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak mendapat sinar matahari atau kekurangan air,
maka biji jagung itu (walaupun dasarnya baik), tidak akan dapat tumbuh baik karena pengaruh
keadaan. Sebaliknya kalau sebutir jagung tidak baik dasarnya, akan tetapi ditanam dengan
pemeliharaan yang sebaik-baiknya oleh bapak tani, maka biji itu akan dapat tumbuh lebih baik
daripada biji lainnya yang juga tidak baik dasarnya.”
Bapak/Ibu CGP, kata-kata Bapak Ki Hajar Dewantara di atas mengingatkan kita bahwa peran kita
sebagai pendidik adalah tugas mulia sekaligus membutuhkan keuletan dan kesabara. Mari terus
belajar, berefleksi, bertumbuh, berbagi, berkolaborasi untuk menjadi lebih baik bagi murid-murid
kita. Terakhir, kami ingin mengutip kata-kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak
Nadiem Makarim: “Besok, di manapun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda.
Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama
Indonesia ini pasti akan bergerak.“
Next
.3.a.2. Pendahuluan
Surat dari Instruktur
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
Selamat datang di modul Coaching. Terima kasih Anda sudah berkomitmen belajar untuk
menjadi guru penggerak yang hebat.
Kita semua memahami jika murid kita bukanlah kertas kosong. Mereka datang dengan berbagai
latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas Anda adalah menjadikan latar belakang mereka
sebagai pondasi kuat bagi Anda dalam memimpin pembelajaran. Selain itu, Anda juga bertugas
meningkatkan kemampuan dan melejitkan potensi mereka. Oleh karena itu, Anda diharapkan
memiliki keterampilan yang dapat mengarahkan anak didik untuk menemukan jati diri dan
melejitkan potensi mereka.
Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching sebagai bentuk
pendekatan komunikasi sebagai seorang pendidik. Mengapa
keterampilan coaching? Pendekatan Coaching dalam komunikasi diperlukan karena kita melihat
para murid kita sebagai sosok merdeka. Sosok yang dapat menentukan arah dan tujuan
pembelajarannya, serta meningkatkan potensinya sendiri. Mereka hanya memerlukan dorongan
dan tuntunan dari Anda sebagai pemimpin pembelajaran untuk melejitkan potensi mereka.
Tentunya ini bukan hal yang mudah karena sebagai pemimpin pembelajaran terkadang kita
tergoda untuk berupaya membantu permasalahan murid secara langsung dengan memberikan
solusi dan nasehat. Dengan keterampilan coaching dalam berkomunikasi, harapannya anak didik
kita menjadi lebih terarah dan dapat menemukan solusinya secara mandiri yang pada akhirnya
dapat meningkatkan potensi mereka.
Semoga modul ini dapat membantu Anda dalam memerankan diri Anda sebagai coach bagi
murid Anda agar mereka menjadi lebih merdeka, baik merdeka dalam belajar maupun merdeka
dalam menentukan arah hidupnya di masa mendatang. Selamat belajar, selamat bereksplorasi
tentang coaching.
2.3.a.3. Mulai dari Diri - Seberapa Jauh Saya Memahami
Konsep Coaching di sekolah?
1
Response is required
Lama Mengajar
9 Tahun
Question #2
2
Response is required
Anda menemui seorang murid berprestasi yang mengeluhkan tentang susah konsentrasi dan
penurunan motivasi belajar yang mengakibatkan ketidakpuasan orangtuanya. Apa yang
menjadi respon Anda terhadap situasi yang disampaikan
Saya akan mencoba mencari waktu yang baik untuk mengajak berdialog murid tersebut
tentang masalah yang sedang dia hadapi terkait sulitnya konsentrasi dan penurunan motivasi
belajar murid. apakah masalah itu berasal dari diri sendiri, keluarga, atau sekolah. Dalam
dialog tersebut saya akan menggali kekuatan apa yang ada pada murid tersebut yang bisa
digunakan uintuk menjadi solusi masalah tersebut dan memotivasinya agar mampu
menyelesaikan masalahnya.
Question #3
3
Response is required
Seorang murid bertemu dengan Anda di taman sekolah dan menceritakan bahwa ia diminta
oleh teman-temannya untuk menjadi ketua panitia acara pertandingan olahraga di SMP
Penggerak. Terlihat murid tersebut ragu dan tidak berminat. Bagaimana Anda memberikan
respon sebagai seorang guru yang mengetahui bahwa murid tersebut memiliki potensi
sebagai seorang pemimpin?
Saya akan memotivasi murid tersebut dengan cara menyampaikan kekuatan atau kelebihan
yang dimiliki murid tersebut sehingga teman-temannya meminta dia menjadi ketua panitia.
Saya akan mengatakan bahwa dia mempunyai potensi menjadi seorang pemimpin dan tidak
semua orang punya kesempatan seperti dia. Sehingga dia harus menghilangkan keraguannya
dan mau mencobanya.
Question #4
4
Response is required
Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah
mempelajari modul ini
Harapan saya :
1. Terjadi perubahan dari cara berpikir saya dalam menghadapi suatu permasalahan
2. Meningkatnya kemampuan berkomunikasi dalam diri saya.
3. Mampu memberikan perubahan positif pada peserta didik dan rekan guru.
Question #5
5
Response is required
Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada murid-murid Anda setelah mempelajari modul
ini?
1. Mata pelajaran yang saya ajarkan menjadi mata pelajaran yang dirindukan oleh peserta
didik.
2. Murid dapat mengatasi masalah dalam belajar dari solusi yang saya beri.
3. Murid mempunyai kesadaran diri dan dapat mengelola diri dengan baik.
4. Terciptanya pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik.
Question #6
6
Response is required
Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?
1. Ada aktivitas yang dapat membantu CGP dalam menerapkan praktek Coaching yang baik
dan benar.
2. Ada simulasi contoh coaching yang dapat menjadi panduan praktek coaching.
3. Secara terperinci dapat menggambarkan praktek coaching yang mudah dipahami.
4. Ada materi yang dapat dengan mudah dibagikan kepada rekan sejawat disekolah.
2.3.a.4. Eksplorasi Konsep - Coaching
2.3.a.4.1. Eksplorasi Konsep - Konsep Coaching Dalam
Konteks Pendidikan
Your response
Respondent: PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA Submitted on: Friday, 18
March 2022, 12:18 PM
Eksplorasi Konsep - Konsep Coaching Dalam Konteks Pendidikan
A. Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan
Pengertian Coaching
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
Untuk mengawali proses memahami konsep coaching ini, mari kita simak ilustrasi berikut:
Pak Amir adalah seorang pengemudi kendaraan di Kota Tangerang. Saat ini, ia
mengantarkan Pak Handoko ke tempat tujuannya. Ternyata jalanan macet dan Pak Handoko
tampak panik mengingat acaranya yang akan segera dimulai. Pak Amir mengajak Pak
Handoko berdiskusi dan berdialog untuk menentukan alternatif jalan yang pernah ditempuh
sebelumnya. Pak Amir bertanya mengenai pengalaman yang dimiliki Pak Handoko terhadap
pilihan2 jalan alternatif tersebut. Kemudian Pak Amir membantu Pak Handoko untuk
melakukan analisis dari setiap jalan alternatif yang memungkinkan diambil agar bisa lebih
cepat sampai ke tujuan. Dengan berbagai pertimbangan, Pak Handoko akhirnya
memutuskan untuk memilih satu jalan yang ia yakini lebih cepat dan lancar. Ternyata
keputusan yang diambil Pak Handoko tepat. Jalanan lancar, dan Pak Handoko sampai di
tempat tujuan tepat waktu..
Ilustrasi tersebut memperlihatkan bahwa untuk sampai ke tujuan dibutuhkan tindakan
(action), dan terjadi perubahan (change) tempat. Ketika dikaitkan dengan aktivitas kehidupan
sehari-hari, jika Pak Amir adalah seorang coach dan Pak Handoko adalah coachee, maka Pak
Amir menolong dengan cara-cara tertentu, supaya Pak Handoko sampai ke sasaran yang dia
inginkan. Dalam konteks ini, coaching adalah salah satu alat untuk menolong Pak
Handoko. Pak Amir yang memerankan diri sebagai coach tidak serta merta mengajukan satu
solusi yang harus diikuti coachee, melainkan menawarkan beberapa alternatif dan kemudian
pak Handoko memutuskan sendiri sesuai dengan kondisinya. Selanjutnya, Pak Handoko lah
yang membuat keputusan dengan cara yang diyakini dapat mencapai tujuannya.
Berangkat dari ilustrasi di atas, mari kita simak beberapa pengertian mengenai coaching. Para
ahli mendefinisikan coaching sebagai:
sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999)
kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih
kepada membantu seseorang untuk belajar daripada mengajarinya (Whitmore, 2003)
Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan diatas pasti Anda dapat melihat ada elemen-
elemen penting yang menjadikan sebuah proses itu disebut sebagai coaching. Untuk itu,
jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Question #1
1
Response is required
Tuliskan prinsip-prinsip coaching yang dapat Anda ambil dari beberapa
pengertian coaching yang telah disajikan!
Sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee
Question #2
2
Response is required
Sebagai guru, pernahkah Anda menerapkan prinsip-prinsip coaching tersebut di sekolah
Anda? Jika jawaban Anda "ya", berilah contoh dan penjelasannya!
Ya. Ada seorang murid berprestasi yang akan mengikuti FLS2N. Guru pendamping Solo
Vocal memberi tawaran untuk mengikuti lomba solo vocal karena dinilai suaranya bagus.
Begitu pula dengan guru pendamping Gitar Duet yang juga menawari untuk ikut lomba gitar
duet karena cara bermain gitarnya diatas rata-rata siswa lain. Murid tersebut mendatangi saya
(Koordinator FLS2N disekolah) karena merasa bingung untuk ikut memilih salah satu lomba
tersebut. Kemudian saya bertanya pada murid tersebut. Tentang pengalamannya selama
ini lebih banyak lomba solo vocal atau gitar duet dan banyaknya juara yang pernah diraih
masing-masing lomba yang pernah diikuti. Kemudian murid tersebut bercerita saat SD
dahulu pernah juara solo vocal ditingkat kabupaten dan dari pengalaman tersebut murid
tersebut memutuskan untuk memilih mengikuti lomba FLS2N cabang lomba solo vocal.
Selain definisi-definisi yang diungkapkan oleh para ahli yang telah disebutkan di
atas, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai:
“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan
profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi
pemikiran dan proses kreatif.”
Dari definisi ini, Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna yaitu:
1. Kemitraan. Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yang setara. Untuk
membantu coachee mencapai tujuannya, seorang coach mendukung secara maksimal tanpa
memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee.
2. Memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proses lainnya. Dalam
hal ini, dengan sesi coaching yang ditekankan pada bertanya reflektif dan mendalam,
seorang coach dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran
atau ide-ide baru.
3. Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akan berupaya memastikan
jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga
potensi coachee berkembang.
Menyelami makna-makna yang terkandung dalam definisi coaching membawa kita pada pertanyaan,
“Apakah dengan demikian coaching ini bisa diterapkan di dunia pendidikan sehingga bisa
mengoptimalkan sumber daya yang ada, baik guru maupun murid?” Apakah guru dapat berperan
sebagai coach? Mari kita sama-sama membahas bagaimana coaching ini diterapkan dalam konteks
sekolah dan bagaimanakah peran guru guru dalam menerapkan keterampilan
coaching sebagai coach.
B. Coaching dalam Konteks Sekolah
Tentunya, sebagai guru, Anda sudah memiliki keterampilan-keterampilan berkomunikasi
yang menjadi dasar dari keterampilan coaching. Mari kita lakukan refleksi mengenai hal
tersebut dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Question #3
3
Response is required
Keterampilan berkomunikasi yang bagaimanakah yang sudah Anda kuasai?
Keterampilan berkomunikasi secara langsung
Question #4
4
Response is required
Keterampilan manakah yang perlu Anda asah agar dapat menjalankan coaching dengan baik?
Keterampilan berkomunikasi untuk mempengaruhi orang lain
Sampai disini, apakah konsep coaching sudah dapat dipahami?
Mari kita pertajam pemahaman tentang konsep coaching dengan menyimak video pada
tautan ini dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai video tersebut.
Simaklah video animasi mengenai konsep coaching berikut dan jawablah pertanyaan-
pertanyaan di bawah ini:
Question #5
5
Response is required
Bagaimana cara burung hantu membantu sang kancil menyeberang sungai?
Burung hantu menanyakan usaha apa saja yang sudah dilakukan kancil dan burung hantu
membimbing kancil agar mau mengenali diri sendiri dan untuk menjadi diri sendiri untuk
menggali potensi dalam diri untuk menyelesaikan masalahnya.
Question #6
6
Response is required
Bagaimana cara burung hantu menanggapi pernyataan sang kancil tentang ketidak mampuannya?
Menanyakan usaha apa saja yang sudah dilakukan kancil dan memandu kancil untuk
mengenali potensi dalam dirinya
Question #7
7
Response is required
Pertanyaan-pertanyaan seperti apakah yang diajukan oleh burung hantu untuk membantu sang
kancil?
1. Apa yang sudah kamu lakukan ?
2. Binatang seperti apakah kancil itu?
Question #8
8
Response is required
Jika Anda menjadi sang kancil, apa yang Anda rasakan ketika dibantu dengan cara demikian?
Senang dan bangga karena sudah mengenali potensi yang ada dalam diri
Question #9
9
Response is required
Jika Anda adalah sang burung hantu dan kancil adalah murid Anda, apakah Anda cukup sabar?
Mengapa?
Ya, karena murid saya perlu dipandu agar memahami setiap potensi yang ada pada dirinya
agar dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik dan benar.
Terima kasih telah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disajikan. Setelah menyimak video
tersebut, mari kita mendalami ARTI sebagai paradigma pendampingan sistem among.
Paradigma Pendampingan Coaching Sistem Among - ARTI
C. Coaching, Konseling, dan Mentoring
Sebagai guru, Anda diharapkan menjadi pemimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin
pembelajaran, Anda tentunya harus memainkan banyak peran. Terkadang, untuk menghadapi
murid, Anda harus menjadi seorang konselor. Suatu saat Anda juga diharapkan menjadi
mentor. Selain itu, terkadang Anda juga harus menjadi seorang coach.
Tentunya, sebagai guru, Anda selalu menjadi mentor bagi murid Anda dengan
menyampaikan pengalaman yang Anda miliki. Anda juga melakukan konseling dengan
murid Anda ketika mereka datang dengan permasalahan mereka. Nah, ketika Anda harus
menghadapi murid dengan berbagai potensinya dan Anda berupaya untuk memaksimalkan
potensi tersebut, Anda seyogyanya berperan sebagai seorang coach. Mengapa Anda harus
berperan sebagai coach? Mari kita lihat ketiga metode pengembangan diri tersebut?
Untuk memahami perbedaan peran antara konselor, mentor, dan coach tersebut, mari kita
simak video berikut ini, dan jawablah pertanyaan-pertanyaan mengenai video tersebut.
Play Video
Question #10
10
Response is required
Apa yang seorang konselor lakukan untuk membantu seseorang yang bermasalah dalam mengemudi
mobil?
Konselor akan menanyakan masalah dan akan membantu menyelesaikan masalahya.
Question #11
11
Response is required
Apa yang seorang mentor lakukan untuk membantu seseorang yang bermasalah dalam mengemudi
mobil?
Mentor akan memberi tips penyelesaian masalah berdasarkan pengalaman yang pernah
dialami.
Question #12
12
Response is required
Apa yang seorang coach lakukan untuk membantu seseorang yang bermasalah dalam mengemudi
mobil?
Coach akan mendorong dan memandu seseorang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Perbedaan Coaching, Mentoring, dan Konseling
Sekarang, tentunya Anda sudah memahami bagaimana peran Anda sebagai seorang coach di
sekolah. Sebagai seorang coach, mari berupaya menguasai keterampilan dasar
seorang coach, salah satunya dengan menguasai keterampilan berkomunikasi yang
memberdayakan sebagaimana akan dijelaskan pada bagian berikut.
2.3.a.4.2. Eksplorasi Konsep - Komunikasi Yang
Memberdayakan
1
Response is required
Apakah gaya komunikasi Anda? Mengapa Anda berpikir demikian?
Komunikasi Submisif karena saya sering diam dan menerima segala keputusan yang diambil.
Question #2
2
Response is required
Langkah-langkah yang perlu dipelajari untuk menjadi komunikator yang asertif.
Jadi pendengar yang baik, berani menyampaikan perbedaan pendapat, selalu menghargai
orang lain, hindari merasa bersalah, tetap tenang saat bicara dan tidak menggunakan kalimat
yang agresif.
Question #3
3
Response is required
Apakah yang menjadi tantangan Anda dan apa yang perlu diusahakan dari diri Anda agar dapat
melakukan komunikasi asertif?
Tantangan yang perlu saya usahakan adalah berusaha bersikap tenang jika mengalami
perbedaan pendapat.
Berkomunikasi secara asertif akan membangun kualitas hubungan kita dengan orang lain
menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam pemahaman dari
kedua belah pihak. Kualitas hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada
pemikiran dan perasaan orang lain.
Ketika melakukan kegiatan coaching, sebagai
seorang coach kita biasanya menghendaki adanya hasil yang dicapai, namun ada
kalanya coachee kita (murid) merasa tidak suka atau merasa ragu serta tertekan dengan
komunikasi yang hendak dibangun. Karenanya, sebuah pemahaman komunikasi asertif perlu
dibangun agar timbul rasa percaya dan aman. Ketika rasa aman itu hadir dalam sebuah
hubungan coach and coachee, maka coachee akan lebih terbuka dan menerima ajakan kita
untuk berkomunikasi. Keselarasan pada tujuan mulai terbangun.
Dalam usaha membangun keselarasan berkomunikasi, coach juga perlu belajar menyamakan
posisi diri pada saat coaching berlangsung. Beberapa tips singkat yang dapat
seorang coach lakukan:
1. Menyamakan kata kunci
Memperhatikan kata kunci dalam pembicaraan memberikan kesan penerimaan
hubungan coach dan coachee. Disini awal keberhasilan coaching sebab coach dan
coachee mampu menyesuaikan diri dan membangun relasi.
Kata-kata kunci biasanya merupakan kata-kata yang diulang-ulang atau ditekankan oleh
coachee dan ini biasanya terkait dengan nilai kehidupan. Coach dapat menggunakan kata-
kata kunci ini untuk membimbing coachee untuk mencapai tujuannya.
Sebagai contoh, jika murid menggunakan bahasa dan istilah kekinian dalam bercerita, kita
dapat juga menggunakan istilah yang dipakai ketika kita bertanya untuk mengklarifikasi
pernyataannya.
Percakapan 1
Murid : “Bu, aku tuh kalau uda masuk kelas Pak Mato, pikiran tuh langsung ambyar..byar
byar Bu.”
Guru : “Oh demikian? Bisa kamu ceritakan ambyar yang bagaimana sehingga kamu sulit
konsentrasi belajar di kelas?”
Percakapan 2
Murid : “Pak, Timun selalu gitu deh. Lebay banget kalau uda ngomong. Saya makin lama
uda gak nyaman mau main sama dia.”
Guru : “Seberapa kecewanya kamu dengan lebaynya teman yang kamu ceritakan barusan?
2. Menyamakan bahasa tubuh
Bahasa tubuh memainkan peran penting dalam komunikasi sebab hal ini dalam menentukan
bagaimana rekan bicara kita akan menanggapi dan berhubungan selanjutnya dengan kita.
Bahasa tubuh disini meliputi mimik wajah, suara, postur tubuh, ataupun gerakan tubuh
lainnya.
Coach dapat memberikan tanda setuju secara tidak langsung pada apa yang
disampaikan coachee dengan senyum atau dengan anggukan. Jika coachee kita sedang
bersandar ke lengan kursi misalnya, coach juga dapat mengikuti gerakannya.
Ketika coachee sedang bersemangat bercerita dan mencondongkan tubuhnya ke depan, kita
juga usahakan mengikutinya. Kegiatan penyamaan ini perlu dilakukan dengan halus dan
tidak kentara agar coachee tidak merasa ditiru.
3. Menyelaraskan emosi
Setelah kata dan bahasa tubuh yang kita selaraskan, emosi pun perlu kita usahakan untuk
diselaraskan, terutama ketika coachee mengucapkan hal-hal yang emosional. Hal ini akan
membuat coachee merasa coach-nya ada pada pihaknya dan mengerti perasaannya.
Contoh:
Murid : “Saya sudah gak bisa kerja sama Toni lagi Bu. Dia tidak pernah menerima ide yang
saya berikan.”
Guru : “Ya, Ibu dapat memahami perasaan kamu. Tidak semua orang dapat dengan mudah
menerima pendapat orang lain.”
Komunikasi asertif membangun relasi. Relasi baik dan positif yang terbentuk akan menjadi modal
utama dalam process coaching.
Question #4
4
Response is required
Setelah mempelajari bagian ini apa pemahaman Anda mengenai makna dari membangun sebuah
komunikasi asertif dengan murid?
menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh dan menyelaraskan emosi sangat
dibutuhkan dalam membangun komunikasi yang asertif dengan murid.
Question #5
5
Response is required
Apa dampak yang bisa Anda rasakan?
1. Komunikasi menjadi nyaman.
2. Tujuan tercapai.
3. Relasi berjalan dengan baik.
B. Pendengar aktif
Bacalah kutipan berikut ini. Tuliskan pemahaman Anda
I know that you believe you understand what you think I said but I am not sure you realise
that what you think you heard and it is not what I meant
~ Alan Greenspan
(Saya tahu bahwa anda percaya diri bahwa anda memahami apa yang anda pikir saya
katakan, namun saya tidak yakin bahwa anda menyadari bahwa apa yang anda pikir sudah
didengar, dan ini bukanlah yang saya maksudkan)
Question #6
6
Response is required
Apa yang Anda tangkap dari kutipan ini? Ceritakan pemahaman Anda dengan bahasa Anda
sendiri.
Mendengarkan lawan bicara adalah salah satu aspek yang harus dikuasai dalam coaching.
mendengarkan tidak hanya sekedar mendengar tetapi juga harus berkonsentrasi dengan apa
yang disampaikan agar lawan bicara merasa dihargai dan relasi berjalan dengana baik.
Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengar.
Seorang coach yang baik akan mendengar lebih banyak dan kurang berbicara. Dalam
sesi coaching kita perlu fokus bahwa pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni murid
kita. Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa
yang ada dipikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.
Terdengar mudah ya untuk dilakukan? Kita hanya perlu untuk duduk berhadapan dengan mereka
dan mendengar apa yang mereka sampaikan. Namun apakah sungguh semudah itu? Dapatkah kita
dengan sungguh mendengar mereka dan tidak mendengarkan apa yang ada dipikiran kita sendiri?
Mari kita belajar lebih lanjut tentang kata kerja “mendengar” melalui tautan video berikut ini.
Play Video
Question #7
7
Response is required
Setelah menonton video Mendengarkan aktif, apa yang Anda tangkap mengenai arti kata
Mendengarkan (listening)?
Mendengarkan tidak hanya sekedar mendengar tetapi harus perhatian dan konsentrasi dengan
apa yang disampaikan.
Question #8
8
Response is required
Apa hambatan dari diri yang dapat membuat Anda tidak mendengarkan secara aktif?
Hambatan, kurangnya kepedulian dan konsentrasi
Question #9
9
Response is required
Apa yang akan Anda lakukan untuk menghilangkan hambatan ini?
Berusaha memahami dan lebih fokus
Ketika kita mendengarkan lawan bicara kita, hal-hal yang kita dengar dari mereka antara lain:
Pesan yang disampaikan, baik yang terungkap langsung ataupun yang tersirat
Emosi dan perasaannya
Pikirannya
Bahasa tubuh dan mimik wajah
Nila-nilai yang menghidupi diri mereka
Usaha dan hasil yang dicapai
Materi lainnya yang disampaikan
Tantangan kita ketika mendengarkan ada pada kemampuan kita menangkap pesan yang
disampaikan lewat ragam gaya komunikasi mereka. Karenanya, kita juga perlu mengerti beberapa
teknik mendengarkan aktif, sehingga kita mampu menangkap pesan-pesan yang disampaikan.
5 Teknik mendengarkan aktif
1. Memberikan perhatian penuh pada lawan bicara kita dalam menyampaikan pesan.
Pesan yang disampaikan bisa terkomunikasikan secara verbal maupun non-verbal.
Karenanya, sebagai coach kita perlu fokus dan komitmen diri pada awal sesi untuk hadir
sepenuhnya selama coaching berlangsung.
2. Tunjukkan bahwa kita mendengarkan.
Bahasa tubuh dan respon kita dapat secara efektif menyampaikan pesan kepada lawan bicara kita
bahwa kita memperhatikan setiap pesan yang disampaikan.
Contoh bahasa tubuh dan respon kecil yang menunjukkan bahwa seseorang mendengarkan secara
aktif:
Respon singkat – ‘oh’ , ‘iya’, ‘hm…”
Anggukan kecil – tanda mengerti apa yang disampaikan
Raut wajah positif – senyum
Kontak mata – jaga kontak mata
Postur tubuh – condong ke arah rekan bicara kita dan hindari melipat tangan di depan dada
Gerakan tubuh – hindari menggoyangkan jari atau kaki
3. Menanggapi perasaan dengan tepat
Nada positif dan berikan afirmasi kepada apa yang disampaikan oleh rekan bicara kita. Fokus
kepada masalah atau topik yang disampaikan.
Contoh: “Saya merasakan apa yang kamu alami saat ini.”, “Sepertinya kamu telah
menangani masalahmu dengan cukup baik.”, “Saya kagum dengan usahamu.”
4. Parafrase
Ini digunakan ketika kita hendak menegaskan kembali makna pesan yang disampaikan
dengan menggunakan kalimat kita sendiri.
Contoh:
Murid: “Saya kecewa orang tua saya tidak pernah mau mengurusi sekolah saya.”
Anda: “Jadi kamu merasa kecewa sama Bapak Ibumu karena mereka tidak acuh dan tidak
mengurusi sekolah mu ya?”
5. Bertanya
Pendengar aktif akan mengajukan pertanyaan untuk mendorong lawan bicaranya menguraikan lebih
lagi keyakinan atau perasaannya. Pada saat inilah diperlukan keterampilan bertanya sehingga
mampu menggali lebih dalam potensi yang dimiliki oleh rekan bicara kita. Bagian ini akan kita bahas
pada aspek komunikasi yang memberdayakan berikutnya.
Gambar 5. Menjadi Pendengar Aktif
C. Bertanya Efektif
Apa sulitnya ya bertanya? Tiap hari kita mengajukan pertanyaan, baik kepada orang lain di
sekeliling kita dan kepada diri kita sendiri. Coba kita pikirkan bersama, mengapa
keterampilan bertanya perlu untuk dipelajari?
Dalam melaksanakan coaching ketrampilan kunci yang diperlukan adalah mengajukan
pertanyaan dengan tujuan tertentu. Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan
menggugah orang yang coach tidak sekedar berupa respon pendek atau respon ya dan tidak.
Pertanyaan seorang coach diharapkan ‘ dapat menstimulasi pemikiran coachee,
memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi
atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi
pengembangan potensi diri.
Gambar 6. Pertanyaan
Mari kita simak video pada tautan berikut,
Play Video
Selanjutnya, buatlah 2 contoh dari masing-masing jenis pertanyaan efektif berikut.
Question #10
10
Response is required
Selanjutnya, buatlah 2 contoh Pertanyaan terbuka
1. Coba jelaskan apa yang kamu rasakan dan inginkan saat ini ?
2. Mengapa kamu mengambil keputusan demikian ?
Question #11
11
Response is required
Buatlah 2 contoh Pertanyaan yang berfokus pada tujuan
1. Apa hal yang kamu inginkan saat ini ?
2. Bagaimana cara untuk memperoleh hal tersebut ?
Question #12
12
Response is required
Buatlah 2 contoh Pertanyaan refleksi
1. Dari hasil usahamu selama ini, seberapa besarkan tingkat keberhasilannya ?
2. Coba ceritakan hambatan apa yang selama ini terjadi dan bagaimana caramu mengatasinya
?
Question #13
13
Response is required
Buatlah 2 contoh Pertanyaan eksplorasi
1. Apakah ada yang belum kamu sampaikan ?
2. Apakah ada rencana lain jika rencanamu ini tidak berhasil ?
Question #14
14
Response is required
Buatlah 2 contoh Pertanyaan mengukur pemahaman
1. Sejauh mana kamu memahami hal ini ? 2. Jelaskan lagi urutan rencanamu agar lebih efektif ?
Question #15
15
Response is required
Buatlah 2 contoh Pertanyaan Aksi
1. Siapa saja yang akan membantumu dalam melaksanakan program ini ?
2. Dukungan dari siapa saja yang kamu perlukan agar program ini berhasil ?
Setelah Anda memahami dan mempraktekan cara membuat pertanyaan yang efektif, kita juga
perlu tahu beberapa bentuk pertanyaan yang sebaiknya kita hindari dalam proses coaching
karena bentuk pertanyaan tersebut dapat menghambat keberhasilan coachee dalam
proses coaching.
1. Pertanyaan tertutup
Jenis pertanyaan ini hanya akan membuat coachee menjawab dengan Ya dan Tidak, atau
hanya berespon dengan 1 kata. Jika pertanyaan Coach seperti demikian maka
pikiran coachee akan kurang atau bahkan tidak terstimulasi. Coachee akan mendapatkan
hambatan dalam mengeksplorasi pilihan dan potensi mereka untuk bergerak maju dan
membuat aksi.
JIka kita bertanya: “Apa kamu akan melanjutkan pendidikan ke universitas negeri?”, Murid
kita akan cenderung menjawab ”Ya” atau hanya mengangguk.
Namun jika kita bertanya, “Apa yang sudah kamu rencanakan untuk studimu setelah lulus
SMA?”, murid kita akan terstimulasi untuk memberikan jawaban yang terelaborasi.
2. Pertanyaan yang mengarahkan
Pertanyaan ini seperti menyiratkan jawaban yang kita harapkan keluar dari respon coachee.
Kecenderungan seorang guru dalam bertanya adalah dengan memberikan arahan sehingga
murid kita mampu menjawab sesuai yg diharapkan. Dalam menerapkan pendampingan
dengan pendekatan coaching di sekolah, peran yang sedemikian harus kita tanggalkan.
Ingat bahwa dalam coaching, tugas coach adalah memfasilitasi coachee untuk mencapai
tujuan yang dia inginkan, bukan yang coach inginkan.
Contoh pertanyaan mengarahkan: “Sepertinya kita perlu mendiskusikan jadwal pelaksanaan
kegiatan sosial yang kamu rancang.”
Pertanyaan alternatif: “Dari kegiatan-kegiatan yang akan kita diskusikan saat ini, mana yang
perlu kita bahas terlebih dahulu?”
Contoh lainnya: “Kamu tidak jadi mengambil kursus memasak kan?”
Pertanyaan alternatif: “Apa manfaat yang akan kamu dapat jika kamu mulai kursus
memasak?”
D. Umpan Balik Positif
Umpan balik dalam coaching bertujuan untuk membangun potensi yang ada
pada coachee dan menginspirasi mereka untuk berkarya. Coachee memaknai umpan balik
yang disampaikan sebagai refleksi dan pengembangan diri. Secara khusus diberikan
pada coachee ketika dalam process coaching, ada hal-hal yang tidak terduga muncul atau
hasil dari coaching ini berbeda dari yang coachee pikirkan.
Dorongan positif diperlukan agar coachee meneruskan hasil coaching ini sampai pada tahap
aksi. Bentuk umpan balik dapat disampaikan dalam beberapa cara dengan aspek-aspek
berikut (Pramudianto, 2015):
1. Langsung diberikan saat komunikasi.
Contoh: “Wah bagus ucapanmu yang baru saja kamu sampaikan.”
2. Spesifik – fokus pada apa yang dikatakan
Contoh: “Hal ini sepertinya belum diungkapkan sebelumnya. Ayo kita coba bicarakan hal ini
lebih lagi. Ini dapat menjadi alternatif lain untukmu.”
3. Faktor emosi – mengikutsertakan emosi yang dirasakan
Contoh: “Ah.. saya ikut gembira mendengar pencapaian mu dalam kerja kelompok
kemarin.” “Situasimu terdengar sulit. Mari perlahan kita bicarakan agar kamu bisa
mendapatkan alternatif dari situasi ini.”
4. Apresiasi – menyertakan motivasi positif
Contoh: “Kamu bisa Nak. Kamu pasti bisa menjalankan komitmenmu. Kamu sudah berjalan
sejauh ini, dengan perencanaan yang lebih baik, kamu dapat menyelesaikan tantangan ini.”
Coaching adalah sebuah kegiatan komunikasi pemberdayaan (empowerment) yang bertujuan
membantu para coachee dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya dalam mencari
solusi dari permasalahan yang dihadapi agar hidupnya menjadi lebih efektif. Kemampuan
berkomunikasi menjadi kunci dari proses coaching sebab pendekatan dan teknik yang
dilakukan dalam coaching merupakan proses mendorong dari belakang
sehingga coachee dapat menemukan jawaban dari apa yang dia temukan sendiri
(Pramudianto, 2015), bukan dengan diarahkan atau digurui. Inilah yang menjadi
keunikan coaching.
2.3.a.4.3. Eksplorasi Konsep - TIRTA Sebagai Model
Coaching
Your response
Respondent: PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA Submitted on: Tuesday, 22
March 2022, 12:47 PM
Eksplorasi Konsep - Pembelajaran 1
TIRTA Sebagai Model Coaching
Setelah memahami langkah-langkah proses coaching dalam model TIRTA, mari berefleksi
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
Question #1
1
Response is required
Dari semua langkah dalam model TIRTA, langkah manakah yang menurut Anda paling menantang?
Mengapa?
Bagi saya yang paling menantang adalah menentukan rencana aksi karena harus
menentukan Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat agar
efektif dan tepat sasaran.
Question #2
2
Response is required
Kendala apakah yang mungkin akan Anda hadapi ketika Anda menggunakan langkah-langkah dalam
model TIRTA ketika berupaya melakukan sesi coaching dengan murid Anda di sekolah?
Kendala yang mungkin akan saya hadapi adalah membantu mengarahkan murid saya untuk
menentukan rencana aksi yang efektif sesuai dengan kebutuhannya.
2.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching
.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching
Settings
◄ 2.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching
2.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep-Coaching ►
Display Display replies in nested form
mode
.3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching
by PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA - Wednesday, 23 March 2022, 12:00 PM
Number of replies: 2
1. Apa yang dilakukan coach dalam membantu coachee mengenali
situasi (permasalahan atau tantangan) yang dihadapi coachee?
Jawab :
· coach membantu coachee dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi dengan
mengenali tujuan yang dicapai coachee dalam proses coaching.
· Coach mampu menampilkan komunikasi dengan baik, cermat dan fokus dalam
menggali pertanyaan.
· Coach dapat berkomunikasi secara Asertif sehingga coachee merasa nyaman
2. Bagaimana cara coach memberi respons terhadap situasi yang dihadapi coachee?
(perhatikan secara cermat sikap dan perilaku coach)
Jawab :
· Cara coach member respon adalah dengan memberikan rasa empati, menjalin komunikasi
yang
baik dan member rasa nyaman dan akrab.
· Coach berkomunikasi dengan memotivasi, bersifat mendorong dan mendukung. Dalam
berkomunikasi harus tegas sehingga coachee focus pada yang disampaikan oleh coach.
3. Apakah praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan
konteks lokal kelas dan sekolah Anda? apa tantangan utama Anda dalam
melakukan praktek coaching model TIRTA?
Jawab :
· Praktek coaching model TIRTA dapat dipraktekkan dalam situasi dan konteks lokal kelas
dan sekolah saya karena model TIRTA adalah model yang bersifat merdeka dalam arti bisa
diterapkan dalam situasi dan kondisi kelas dan sekolah apapun. Model tirta menuntut guru untuk
dapat memiliki keterampilan coaching yang harus diterapkan dilingkungan kelas dan sekolah agar
tujuan pembelajaran dapat terwujud dengan baik.
· Tantangan utama saya saat menerapkan model TIRTA adalah pada tahap rencana aksi.
Tahap ini menantang karena harus menentukan rencana yang tepat agar proses coach dapat
berjalan dengan baik dan akhirnya dapat membantu coachee menyelesaikan masalahnya.
4. Siapakah yang dapat membantu Anda melatih praktek coaching model TIRTA di
kelas dan sekolah Anda? Bagaimana Anda melibatkan mereka?
· Kepala sekolah dan rekan guru dapat membantu saya melatih praktek coaching model
TIRTA dikelas dan sekolah. Praktek coaching dapat difokuskan pada wali kelas dan guru mata
pelajaran. Saya melibatkan mereka tentunya diawali dengan permasalahan murid kemudian saya
bisa mengkomunikasikannya pada wali kelas dan guru mata pelajaran untuk membantu
melaksanakan coaching.
300 words
PermalinkReply
In reply to PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA
Re: .3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching
by TRI ZUMARLAINI - Wednesday, 23 March 2022, 4:14 PM
Selain dengan wali kelas dan guru mapel menurut saya Proses coaching enaknya dilakukan
bersama guru Agama, guru PKn, guru BP.
20 words
PermalinkShow parentReply
In reply to PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA
Re: .3.a.4.3. Forum Diskusi Eksplorasi Konsep - Coaching
by TUTUS ERNAWATI ernawati - Thursday, 31 March 2022, 9:45 PM
Dengan mempelajari modul 2.3 kita akan lebih paham tentang keterampilan berkomunikasi
coaching model TIRTA di dunia pendidikan.
2.3.a.5. Ruang Kolaborasi - Pembentukan Komunitas Praktisi
Untuk Melakukan Praktik Coaching
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/url/view.php?id=421026
2.3.a.5.3. Ruang Kolaborasi (Unggah Hasil Rekaman)
https://lms21-
gp.simpkb.id/pluginfile.php/360399/assignsubmission_file/submission_files/52
3431/Pius%20S%20Bima%20Chandra%20Hermawan-Angkatan%204-
SMP%20Charitas%2001%20Belitang.mp4?forcedownload=1
2.3.a.6. Refleksi Terbimbing - Memahami Lebih Dalam
Teknik Coaching Yang Efektif Dalam Optimalisasi
Pengembangan Kompetensi Pendidik dan Murid
Your response
Respondent: PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA Submitted on: Monday, 28
March 2022, 10:18 AM
Refleksi Terbimbing
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
Anda telah sampai pada fase refleksi terbimbing. Inilah saatnya Anda merenung, mengingat
kembali, dan melakukan refleksi mendalam mengenai hal-hal yang telah Anda pelajari pada
modul coaching ini. Silakan jawab pertanyaan berikut ini:
Tugas 5
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk melakukan refleksi:
1. Sebelum mempelajari modul ini,
saya pikir bahwa coaching
Sebelum mempelajari modul ini saya pikir bahwa coaching adalah seseorang yang membantu
menyelesaikan masalah orang lain menggunakan tips-tips atau cara-cara berdasarkan
pengalaman coach itu sendiri.
saya merasa bahwa coaching
Saya merasa bahwa coaching adalah cara untuk membantu menyelesaikan masalah klien
menggunakan metode yang diberikan oleh coach itu sendiri.
2. Setelah mempelajari modul ini,
Response is required
saya pikir bahwa coaching
Saya pikir bahwa coaching adalah cara membantu coachee dengan mendorong coachee untuk
dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
Response is required
saya merasa bahwa coaching
Saya merasa bahwa coaching sangat membantu saya ketika harus menuntun murid agar tidak
kehilangan arah dan membahayakan dirinya serta membantu murid untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri dengan baik dan benar.
Response is required
3. Dari teknik keterampilan coaching yang saya pelajari, teknik yang perlu saya kembangkan
dan latih adalah
Membuat pertanyaan yang dapat menuntun coachee untuk menumbuhkan rasa
tanggungjawab.
Response is required
karena
Semua rencana dan ide yang sudah disampaikan dan dibuat oleh coachee dapat berlajan dan
berhasil karena adanya rasa tanggung jawab. Saya perlu belajar lebih agar mampu menuntun
coachee agar benar-benar menjalankan rencana aksinya dengan penuh tanggungjawab.
Response is required
4. Kendala yang saya hadapi ketika melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching
dalam Komunitas Praktisi adalah
Ketika bertemu seseorang yang sulit untuk menyampaikan perasaannya.
Response is required
5. Upaya yang saya lakukan dalam menghadapi kendala tersebut adalah
Yang saya lakukan mencoba mendekati secara personal dan melihat mood orang tersebut.
2.3.a.7. Demonstrasi Kontekstual - Pendampingan Murid
dengan Pendekatan Coaching dalam Komunitas Sekolah Saya
Salam sejahtera bagi kita semua. Berikut saya sampaikan link demonstrasi kontekstual 2.3 :
https://drive.google.com/file/d/14Xqcj1H84zoiXG9RPJSA9nw0ikhJV5Gj/view?usp=sharing
2.3.a.8. Elaborasi Pemahaman - Coaching
https://lms21-gp.simpkb.id/mod/url/view.php?id=422027
2.3.a.10. Aksi Nyata - Coaching
.3.a.10. Aksi Nyata - Coaching
by PIUS S BIMA CHANDRA HERMAWAN BIMA - Tuesday, 5 April 2022, 8:53 AM
Saat Aksi Nyata Coaching nanti saya akan mengajak satu rekan sejawat di sekolah, beliau adalah
coachee pada tahap Demonstrasi Kontekstual. Pada saat kunjungan Pendampingan Individu ke-4
saya akan mempraktekkan coaching di depan Pengajar Praktik bersama satu rekan sejawat
tersebut di sekolah yang menjadi coachee. Setelah itu, dipandu oleh Pengajar Praktik saya dan
satu rekan sejawat tersebut akan melakukan refleksi bersama baik secara tertulis ataupun lisan.