The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tales of Whimsy
Cerita Fabel Berkarakter
merupakan kumpulan cerita fabel dengan penidikan karakter didalamnya. disertai tips pembuatan fabel yang menarik.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by sam wulan, 2024-05-30 22:12:59

Tales of Whimsy Cerita Fabel Berkarakter

Tales of Whimsy
Cerita Fabel Berkarakter
merupakan kumpulan cerita fabel dengan penidikan karakter didalamnya. disertai tips pembuatan fabel yang menarik.

Keywords: fabel,pendidikan karakter,fabel berkarakter

Suatu sore yang cerah, ada pendaftaran lomba lari di kalangan kelinci. Kiki, kelinci berbulu putih dan berbadan gemuk, tidak ketinggalan ingin mendaftar. Dia yakin dirinya akan memenangkan perlombaan. Sebagai persiapan lomba, Kiki menghabiskan lima gelas susu dalam sehari, berpuluh-puluh wortel, dan tidur berjam-jam setiap hari. Kiki sengaja melakukan itu untuk menghimpun tenaga. Pada suatu hari, ia bertemu dengan Kiko, si kelinci coklat. Kiki dan Kiko sedang membicarakan tentang persiapan mereka untuk menghadapi perlombaan yang sedianya akan dilaksanakan besok pagi. “Kiki, ayo kita berlatih lari untuk persiapan lomba besok!” ajak Kiko. “Ah, aku tidak mau. Latihan hanya membuatku capek,” Kiki menggelengkan kepala. “Kenapa tidak mau? Rajin berlatih membuat tubuh jadi enteng. Lihatlah Ki, badanku lebih ramping daripada kamu. Nih, lihat aku bisa melompat dengan enteng!” ujar Kiko memperlihatkan lompatannya. “Latihan itu hanya menghabiskan waktu dan tenaga saja. Yang benar itu adalah makan dan tidur yang banyak, biar tenaga kita terkumpul,” jelas Kiki “Huh, terserah dirimu sajalah Ki, aku bosan menasehatimu. Badanmu sudah terlalu gemuk, mana mungkin kau besok bisa memenangkan lomba,” ucap Kiko seraya berjalan meninggalkan Kiki. Kikipun pulang kerumahnya dan kembali makan sebanyak-banyaknya. Perutnya yang sudah besar membuatnya semakin buncit. Dan akhirnya ia pun tertidur pulas. Keesokan harinya, lomba pun diadakan. Ada Kancil yang bertindak sebagai juri. Beberapa kelinci telah bersiap-siap untuk mengikuti lomba. Dan tibalah lomba dimulai. “Priitt…” Kancil meniup peliut tanda lomba dimulai. Kiki, Kiko, dan kelinci lainnya dengan semangat mulai berlari. Namun, belum ada setengah perjalanan Kiki sudah megap-megap. Nafasnya terengah-engah. BALAP LARI KELINCI


Dia sangat susah untuk berlari, badannya terasa sangat berat, seperti ada batu besar yang menahannya di belakang. Sementara itu Kiko dan teman-temannya sudah melesat jauh meninggalkannya. “Aduh, tolong…kakiku sakit sekali,” teriak Kiki kesakitan. Kiki terjatuh karena kakinya kram. Ia pun tidak dapat lagi melanjutkan perlombaan. Teman-temannya semua berhasil mencapai finish. Hanya Kiki yang berhenti ditengah perjalanan. Dan yang menjadi juaranya adalah Kiko. Kini, Kiki menyadari bahwa ucapan Kiko benar. Latihan sebelum perlombaan itu penting dilakukan supaya badan siap dan tidak kaku. Kiki jadi malu sendiri. Pesan Moral : Membiasakan diri untuk berlatih sebelum perlombaan itu sangat penting. Makan dan istirahatlah yang cukup dan tidak perlu berlebihan.


Siang itu, Pipit terlihat sangat sedih. Ia tengah meratapi nasibnya. Sarangnya baru saja rusak terkena serangan angin kencang yang melanda daerah itu. Padahal sarang itu sudah ia siapkan untuk calon anak-anaknya. Dalam waktu dekat ia akan bertelur. Melihat Pipit yang sedih, Camar pun menghampirinya. “Pit, mengapa kamu sedih?” tanya Camar. Pipit menceritakan apa yang terjadi. Camar dengan sabar mendengarkan kesedihan yang sedang Pipit alami. Ia pun bermaksud akan membantunya. “Tenanglah Pit, aku akan membantumu. Kamu tunggu disini aku akan segera mencari ranting dan rumput kering untuk membuat sarang baru. Jangan kemana-mana kamu disini saja,” ucap Camar. “Baik Camar, aku akan menunggumu,” jawab Pipit sedikit lega. Camar tidak membutuhkan waktu lama untu kembali dan membawa ranting dan rumput kering. Dengan cepat, ia membuatkan sarang yang baru untuk pipit. Pipit sangat bahagia dan berterima kasih kepada Camar. Keesokan harinya, Camar berjumpa dengan Bangau. Saat itu Bangau terlihat sangat pucat dan lemas. Camar pun menanyakan keadaannya. “Bangau, apakah kamu sakit? Kamu terlihat pucat sekali,” tanya Camar. “Kakiku sedang sakit Camar, sudah dua hari ini aku tidak bisa mencari makanan,” jawab Bangau. “Oh begitu, jangan khawatir Bangau sebentar lagi aku akan membawakan makanan untukmu,” ucap Camar. Beberapa saat kemudian, Camar datang membawa makanan kesukaan Bangau. Dan cepat saja Bangau menghabiskan makanan itu karena ia sangat lapar. “Camar, terima kasih kau sudah menolongku. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kamu tadi tidak membawakan makanan untukku,” ucap Bangau. “Iya sama-sama, Bangau,” ucap Camar yang sangat senang hari itu bisa membantu Bangau. CAMAR PENEBAR KEBAIKAN


Segeralah Camar melanjutkan perjalanannya, ia terbang menuju sungai. Disana ia melihat Angsa yang sedang murung. Angsa bercerita kepada Camar bahwa ia baru saja kehilangan kalung kesayangannya. Kalung itu hilang terbawa arus sungai dan tak mungkin bisa ditemukan. Camar berpikir saat itu hal yang mustahil ia bisa menemukan kalung Angsa. Namun dengan kepandaiannya dalam melawak ia ingin menghibur Angsa. Camar sangat lihai dalam melawak hingga membuat Angsa tertawa terbahak-bahak. Tanpa disadari Angsa lupa akan kesedihannya. Camar menasehati Angsa agar tidak sedih lagi. Begitulah Camar, hampir setiap hari ia selalu menolong dan menghibur teman-temannya yang kesusahan. Hal itu ia lakukan dengan ikhlas. Camar merasa sangat bahagia jika bisa berbuat kebaikan. Temantemannya pun sangat menyayanginya. Bahkan jika Camar tidak terlihat terbang lalu lalang mereka pasti akan mencarinya. Pesan Moral : Terbarlah kebaikan dimanapun kita berada.


Seperti biasanya Kancil selalu datang untuk bertemu teman baiknya yaitu Kerbau. Mereka selalu menghabiskan waktu mereka di ladang yang penuh rerumputan hijau. Sudah lama ladang itu hanya ditumbuhi oleh rumput dan sepertinya ladang itu tidak dirawat oleh pemiliknya. Kancil yang cerdik mempunyai ide cemerlang, ia mengajak Kerbau untuk menanam jagung di ladang itu. Kerbau pun menyetujui hal itu. “Kerbau, aku punya ide agar kita mempunyai persediaan makan yang banyak, bagaimana kalau ladang ini kita tanami jagung?” ajak Kancil. “Wah, ide bagus itu, Cil! Aku setuju. Kita akan mendapatkan jagung yang banyak saat panen nanti,” jawab Kerbau mengiyakan ajakan Kancil. Setelah terjadi kesepakatan, tiba saatnya Kerbau dan Kancil mulai mengolah ladang itu untuk ditanami jagung. Dengan semangat berapi-api, mereka bekerja sama membuat lubang lalu menanam biji-biji jagung. Tidak menunggu lama akhirnya tunas-tunas jagung itu mulai bermunculan. Begitu senangnya Kerbau dan Kancil melihatnya. Hari berganti hari, berganti minggu, dan berganti bulan. Pohon-pohnon jagung itu mulai tumbuh besar dan subur. Kerbau dan Kancil tak lupa menyiraminya setiap hari. Pohon-pohon jagung yang awalnya berbunga, sekarang sudah banyak yang bermunculan buahnya. Mereka sangat tidak sabar ingin segera memanen jagungnya. Melihat pohon jagung yang sebentar lagi dapat dipanen, muncul pikiran licik Kancil. Ia tidak ingin berbagi dengan Kerbau. Kancil ingin menikmati sendiri hasil panennya nanti. Ia pun berencana ingin membohongi Kerbau. “Kerbau, aku tadi aku mendengar bahwa saudaramu yang berada di Desa Makmur sedang sakit. Apakah kamu tidak berniat ingin menjenguknya?” ucap Kancil. AKIBAT DARI KESERAKAHAN


“Hah, yang benar saja kamu, Cil? Baiklah aku akan segera kesana untuk menjenguk saudaraku. Aku minta tolong agar kamu menjaga jagung-jagung ini ya, Cil. Aku akan pergi agak lama, karena rumah saudaraku cukup jauh,” pesan Kerbau. “Baik Kerbau, aku akan menjaga jagung-jagung ini. Nanti jika panen tiba aku akan menyisakan jatahmu,” kata Kancil. Kerbau sangat mempercayai Kancil. Ia pergi dengan hati yang tenang. Beberapa hari kemudian, akhirnya jagung-jagung diladang sudah siap dipanen. Kancil sangat bahagia karena hari ini ia akan memanen jagung yang selama ini sudah ia nantikan. Satu persatu jagung di ladang itu ia makan dengan lahap, bahkan daun-daun jagung itu pun sekaligus ia habiskan. Melihat banyaknya jagung yang ada di ladang itu, kancil berniat akan menghabiskan jagung itu keesokan harinya. Ia tidak khawatir Kerbau akan datang karena jarak rumah saudaranya itu sangat jauh. Hari berikutnya Kancil pun berusaha untuk menghabiskan jagung-jagung itu, sebetulnya ia sudah kenyang namun ia tetap saja makan. Perutnya sudah sangat penuh dengan biji dan daun jagung. Hingga akhirnya ia merasakan perutnya sakit akibat kekenyangan. Ia pun terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi. “Aduh, bagaimana ini perutku sakit sekali. Tolong….,” teriak Kancil kesakitan. Beberapa saat kemudian, datanglah kerbau yang sangat jengkel dengan Kancil. Ia baru mengetahui jika Kancil sudah membohonginya. Saudaranya tidaklah sakit. Saat sampai di ladang, Kerbau sangat kaget bahwa pohon jagung itu sudah habis dan hanya tersisa batangnya saja. Ia tersadar bahwa Kancil menyuruhnya pergi itu hanyalah rencana licik Kancil untuk menguasai hasil panen jagung milik mereka. “Hei, Cil, ternyata kamu sudah membohongiku. Dan akibat dari keserakahanmu sekarang kamu kesakitan dan tidak berdaya,” ucap Kerbau. Kerbau pun segera meninggalkan Kancil, ia sangat sedih karena teman baiknya selama ini ternyata berbuat jahat kepadanya. Kancil pun masih saja meronta-ronta kesakitan dan tak ada yang menolongnya. Pesan Moral: Kebohongan dan keserakahan adalah sifat yang tercela. Maka jauhilah sifat itu, karena setiap perbuatan yang kita lakukan pasti akan ada balasannya.


Deri dan Dori merupakan dua burung dara yang sudah lama bersahabat. Mereka selalu bersama. Pagi itu, Deri dan Dori terbang berkejaran menuju kebun tempat mereka sering mendapatkan makanan. Mereka terbang beriringan sembari menikmati udara yang segar di pagi hari. “Dori, ayo kejar aku! Kita lomba siapa yang sampai duluan di ujung jalan itu, dialah pemenangnya,” ucap Deri. “Baiklah Der, ayo siapa takut!” jawab Dori bersemangat. Mereka terbang dengan cepat sembari beratraksi, berbelok ke kanan dan ke kiri, naik dan turun. Tanpa disadari saat terbang melintasi jalan desa, “Gubraakk!” Dori tertabrak sebuah mobil yang sedang melintas. Dori terjatuh dan mengalami luka di bagian sayap kanannya. “Tolong…Deri tolong aku!” teriak Dori kesakitan. Deri yang yang sudah terbang terlebih dahulu menengok ke belakang, ia tidak melihat Dori. Ia pun bertengger di sebuah dahan pohon sambil melihat keadaan di sekitarnya. Ternyata, di seberang jalan ia melihat Dori yang sedang tegeletak di pinggir jalan. Ia pun segera menghampirinya. “Dori, ada apa denganmu?” tanya Deri panik. “Aku tadi tertabrak mobil. Sekarang sayap kananku sakit sekali. Aku tak bisa menggerakkannya. Bagaimana ini Deri, aku tidak bisa terbang lagi sepertimu?” ratap Dori sembari merasakan sakit. “Ayo Dori kita berteduh di bawah pohon beringin itu!” ucap Deri. Dori berusaha berjalan sambil menahan rasa sakit menuju pohon beringin. Sesampainya disana Dori menunggu Deri yang sedang mencarikan makanan untuknya. Beberapa saat kemudian Deri datang membawakan makanan, ia membawa beberapa butir jagung yang ia simpan dalam mulutnya. “Dori, makanlah jagung ini! Walaupun hanya beberapa butir saja yang penting kamu tidak kelaparan,” ucap Deri. “Terimakasih Deri, aku sangat senang mempunyai sahabat sepertimu. Kau berikan aku makanan disaat aku tidak bisa terbang.” PERSAHABATAN DERI DAN DORI


Setelah kejadian itu, setiap hari Deri selalu membawakan makanan untuk Dori. Ia merasa tidak keberatan dan sangat ikhlas melakukannya. Hingga suatu hari Dori sudah tidak merasakan sakit lagi pada sayapnya. Ia kemudian mencoba menggerakkan sayap dan belajar untuk terbang. Dan akhirnya, ia bisa terbang kembali. “Deri, lihatlah aku! Aku sekarang sudah bisa terbang lagi. Terimakasih ini semua berkat bantuanmu,” kata Dori riang. “Syukurlah kalau begitu, sekarang kita bisa terbang bersama lagi. Ayo, Dori kita bertengger di atas rumah itu sembari mencari makanan!” ajak Deri. Mereka pun terbang dengan riang, kemudian bertengger di atap sebuah rumah. Namun, tanpa sepengetahuan mereka pada saat itu ada seorang pemburu yang membawa sebuah senapan. Pemburu itu sudah berencana akan menembakkan senapan ke salah satu dari mereka. Dori yang saat itu sedang bertengger ternyata melihat pemburu itu. Ia melihat pemburu itu sudah mengarahkan senapan itu ke arah tubuh Deri. Dalam hitungan detik saja ia segera mengajak Deri untuk terbang. “Awas Deri ayo kita pergi ada bahaya yang akan mengenai kita, cepat!” ajak Dori segera terbang dengan cepat. Alhasil, tembakan senapan tadi meleset dan tidak mengenai tubuh Deri. Mereka berdua merasa lega karena bisa selamat dan terhindar dari bahaya. “Terima kasih, Dori. Jika kamu tadi tidak melihat pemburu tadi, pastilah aku tidak selamat,” ucap Deri. “Sama-sama Deri, inilah arti persahabatan kita. Kemarin kau telah menolongku dan hari ini aku bisa menyelamatkanmu,” jawab Dori sembari memeluk Deri. Setelah kejadian itu persahabatan mereka semakin kuat dan kompak. Setiap hari mereka saling membantu baik suka maupun duka. Dori dan Deri hidup rukun selamanya. Pesan Moral: Persahabatan yang tulus membuat hati kita bahagia dan damai.


Malam itu hujan turun sangat lebat. Hujan itu disertai angin kencang dan suara kilat yang menyambar-nyambar. Moli seekor kucing peliharaan Kak Ros, segera masuk ke rumahnya. Ia takut badannya basah jika berada di luar rumah. Ia pun duduk di atas kursi sambil melihat derasnya hujan. “Tolong…tolong!” Sebuah suara nyaris tidak terdengar karena kalah oleh suara hujan. Moli menajamkan pendengarannya, suara itu semakin terdengar. Ternyata di teras rumah ia melihat Pino. Pino adalah temannya bermain. Ia pun segera membukakan pintu. Terlihat Pino basah kuyup, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil kedinginan. “Maukah kau menolongku untuk berteduh, Moli? Rumahku saat ini sedang terendam banjir. Bolehkah untuk sementara waktu aku menumpang di rumahmu?” bujuk Pino. Mendengar hal itu Moli segera menolongnya. Dia menyuguhkan makanan dan susu hangat, kemudian ia menyuruhnya untuk beristirahat. Tidak lupa Moli memberikan selimut tebal supaya tubuh Pino kembali hangat. Keesokan harinya, hujan sudah mulai reda, tetapi Pino tidak mau beranjak. Dia ingin tetap tinggal bersama Moli. Pino tidak ingin kembali ke rumahnya yang dulu. Ia sudah merasa nyaman tinggal di rumah Moli. Sudah berhari-hari Pino tinggal di rumah Moli, Pino merasa sangat betah. Di rumah Moli sangat banyak makanan dan susu yang tersedia. Tak perlu bersusah payah mencari makanan di luar, makanan yang disediakan Kak Ros selalu ada untuknya dan Moli. “Moli, pasti kau sangat senang ya dari dulu sudah tinggal di rumah ini. Semua sudah tersedia di rumah ini. Tidak sepertiku dulu, tuanku tidak pernah memberiku makan, sehingga setiap hari aku harus mencari makanan di luar rumah,” ucap Pino. “Iya, Kak Ros sangat menyayangiku, karena aku sangat menurut kepadanya. Aku tak pernah mencuri makanan di meja makan, aku hanya makan makanan yang sudah disediakan untukku, jadi kalau kamu mau tetap tinggal disini jangan sekali-kali kamu mencuri makanan di meja makan itu ya!” pesan Moli. “Baiklah Moli, aku berjanji akan menuruti perintahmu,” jawab Pino. PINO DAN MOLI


Suatu hari, Kak Ros sangat sibuk memasak di dapur. Ia menyiapkan banyak makanan karena hari itu akan ada teman-temannya yang datang berkunjung. Bau ikan dan ayam goreng yang sangat sedap sudah disiapkan Kak Ros di meja makan. “Wah, bau apa ini kelihatannya sangat lezat sekali,” ucap Pino sambil berjalan mengedus-endus dan mencari dimana makanan itu berada. Ternyata ia melihat Kak Ros sedang menyiapkan banyak makanan. Setelah semua siap Kak Ros segera mandi dan berdandan karena sebentar lagi teman-temannya akan datang. Pino pun sudah lupa akan pesan dari Moli. Perutnya menjadi lapar setelah mencium bau makanan yang lezat tadi. Dengan sekejap ia melompat ke atas meja makan, segeralah ia melahap satu persatu ikan dan ayam goreng dengan cepat. Beberapa menit setelah Kak Ros selesai mandi, ia keluar dari kamarnya. Betapa kagetnya, ia mengetahui makanan yang telah ia siapkan hampir habis dilahap oleh Pino. Hanya tersisa secuil ayam goreng yang masih ada di piring. Pino yang saat itu masih berada di atas meja makan segera turun dan menundukkan kepala. Kak Ros sangat marah kepada Pino, ia pun mengusirnya. Dengan langkah yang berat Pino pun keluar dari rumah itu. Di teras ia bertemu Moli. “Moli, aku sudah di usir oleh Kak Ros. Aku tadi mengambil banyak makanan yang ada di meja makan tanpa sepengetahuan Kak Ros. Aku menyesal, tolong aku bujuklah Kak Ros supaya bisa menerimaku kembali di rumah ini,” suara Pino pelan membujuk Moli. “Apa yang sudah kau lakukan, Pino? Bukankah aku sudah memberikan pesan agar tidak mencuri di rumah ini. Namun, hari ini kamu sudah mengingkari janjimu. Maaf Pino saat ini aku tidak bisa menolongmu lagi, pergilah dari sini!” tegas Moli. Pino pun segera pergi, ia sangat menyesal sudah melakukan hal yang tidak pantas. Seharusnya ia menuruti pesan Moli dan berbuat baik di rumah itu. Pesan Moral : Berterima kasihlah kepada orang yang telah menolong kita. Balaslah kebaikan itu dengan perbuatan yang baik pula.


Tales of Whimsy Cerita Fabel Berkarakter Tales of Whimsy Cerita Fabel Berkarakter adalah buku yang menyajikan 14 cerita fabel yang disajikan memberi pengalaman dan kesan menarik bagi pembacanya. Cerita ditulis dengan penuh pesan moral disertai dengan ilustrasi gambar disetiap judul ceritanya .Penulis menyuguhkan cerita yang mampu membangun karakter baik anak-anak. Nilai-nilai karakter yang ditampilkan seperti kasih sayang, kejujuran, keberanian, kepedulian dan kerja sama. Penulis berharap buku ini dapat menjadi bacaan yang baik bagi anak-anak, serta menggugah semangat untuk meningkatkan literasi Indonesia. Selamat berpetualang dengan para tokoh binatang dalam fabel ini!


PROFIL PENULIS Sam Wulan Septi adalah seorang kelahiran Sleman, 4 Juli 1988. Saat ini sedang menempuh studi Magister Pendidikan Dasar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Sekaligus aktif sebagai guru di SD Negeri Caturtunggal 6 Depok, Sleman, Yogyakarta. Penulis dapat disapa melalui e-mail [email protected] dan FB: Sam Wulan Septi. dan dapat juga disapa melalui IG : syamwulan


PROFIL PENULIS Erwinda Fitriana adalah seorang kelahiran Bantul, 14 Maret 1989. Saat ini sedang menempuh studi MagisterPendidikan Dasar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Saat ini aktif mengajar di SD Negeri Purwobinangun, Kalasan, Sleman, DIY. Penulis dapat disapa melalui e-mail [email protected] dan FB Erwinda Fitriana.


Click to View FlipBook Version