IK HLAS BERAM AL
BAHAN AJAR
MATERI SUBSTANSI AGAMA
(AL-QUR’AN DAN HADITS)
Disampaikan pada:
DTS Penyuluh Agama Islam Non PNS Angkatan IX
Banda Aceh, 5 s/d 6 Agustus 2020
Oleh:
Nurul Fajriah, MA
Widyaiswara Ahli Pertama
19830219 200912 2 007
KEMENTERIAN AGAMA RI
BALAI DIKLAT KEAGAMAAN PROVINSI ACEH
TAHUN 2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyuluh Agama Islam Non PNS harus memiliki kompetensi
pengetahuan dan wawasan tentang sumber utama ajaran agama
Islam tersebut yakni al-Qur’an dan hadis, apalagi jika merujuk
kesenjangan kompetensi dan latar belakang yang heterogen dari
para Penyuluh Agama Islam Non PNS tersebut, maka aspek ini
terasa semakin urgen untuk diberikan melalui kegiatan Pendidikan
dan Pelatihan (diklat).
Secara kongkrit, satu usaha untuk meningkatkan pengetahuan
dan wawasan Penyuluh Agama Islam Non PNS tersebut adalah
dengan menyampaikan materi dalam mata diklat “Materi Substansi
Agama (al-Qur’an dan Hadis)”, yang dikemas dalam sebuah bahan
ajar yang diharapkan dapat menjadi referensi awal/minimal bagi para
pengajar/widyaiswara, sehingga kompetensi Penyuluh Agama Islam
Non PNS tentang hal ini diharapkan semakin meningkat.
Menurut M. Quraish Shihab, Alquran secara harfiyah
berarti bacaan yang sempurna. Ia merupakan suatu nama pilihan
Allah yang tepat, karena tiada suatu bacaanpun sejak manusia
mengenal tulis baca lima ribu tahun yang lalu yang dapat
menandingi Alquran, bacaan sempurna lagi mulia.
Alquran juga mempunyai arti mengumpulkan dan
menghimpun qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-
kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang
tersusun rapih. Quran pada mulanya seperti qira’ah, yaitu mashdar
dari kata qara’a, qira’atan, qur’anan
Hadits yang dipahami sebagai pernyataan, perbuatan,
persetujuan dan hal yang berhubungan dengan Nabi Muhammad
saw. Dalam tradisi Islam, hadits diyakini sebagai sumber ajaran
agama kedua setelah al-Quran. Disamping itu hadits juga memiliki
fungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana
dijelaskan dalam QS: an-Nahl ayat 44. Hadits tersebut merupakan
teks kedua, sabda-sabda nabi dalam perannya sebagai
pembimbing bagi masyarakat yang beriman. Akan tetapi,
pengambilan hadits sebagai dasar bukanlah hal yang mudah.
Mengingat banyaknya persoalan yang terdapat dalam hadits itu
sendiri. Sehingga dalam berhujjah dengan hadits tidaklah serta
merta asal mengambil suatu hadits sebagai sumber ajaran
Adanya rentang waktu yang panjang antara Nabi dengan
masa pembukuan hadits adalah salah satu problem. Perjalanan
yang panjang dapat memberikan peluang adanya penambahan
atau pengurangan terhadap materi hadits. Selain itu, rantai perawi
yang banyak juga turut memberikan kontribusi permasalahan dalam
meneliti hadits sebelum akhirnya digunakan sebagai sumber ajaran
agama. Mengingat banyaknya permasalahan, maka kajian-kajian
hadits semakin meningkat, sehingga upaya terhadap penjagaan
hadits itu sendiri secara historis telah dimulai sejak masa sahabat
yang dilakukan secara selektif.
Para muhaddisin, dalam menentukan dapat diterimanya suatu
hadits tidak mencukupkan diri hanya pada terpenuhinya syarat-
syarat diterimanya rawi yang bersangkutan. Hal ini disebabkan
karena mata rantai rawi yang teruntai dalam sanad-sanadnya
sangatlah panjang. Oleh karena itu, haruslah terpenuhinya syarat-
syarat lain yang memastikan kebenaran perpindahan hadits di sela-
sela mata rantai sanad tersebut.
BAB II
WAWASAN AL-QUR’AN
A. Pengertian al-Qur’an
1. Pengertian al-Qur’an menurut bahasa
Secara bahasa (etimologi), al-Quran berasal dari bahasa arab
yaitu qur’an, dimana kata “qur’an” sendiri merupakan akar kata dari
قرأ- قرأ ة – يقرأ. Kata قرآناsecara bahasa berarti bacaan karena
seluruh isi dalam al-Quran adalah ayat-ayat firman allah dalam
bentuk bacaan yang berbahasa arab.
Menurut bahasa, kata القرآنadalah akar kata (mashdar) dari
kata kerja ( قرأfi‘il mâdhi) yang berarti membaca. Bentuk masdar dari
قرأada dua yaitu قراءةdan ;قرآناkeduanya berarti bacaan (Ibrahim Anis,
1392 : 722). Kata قرآنyang berarti “bacaan” ini terdapat dalam firman
Allah SWT sebagai berikut:
)81-81 : فَإِ َذا َق َرأْ َناهُ َفاتَّ ِب ْع قُ ْر َءا َنهُ (القيامة.ُإِ َّن َع َل ْينَا َج ْم َعهُ َوقُ ْر َءانَه
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di
dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah
selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Q.S. al-
Qiyâmah, 17-18”
Kata قرآنadalah bentuk masdar dengan timbangan فعلان.
Pengertian dalam bentuk masdar ini dijadikan nama bagi wahyu atau
kalâmullâh, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak
kurang dari 68 kali (M. Fuad Abdul Baqi, 1407 : 539), kata قرآنyang
berarti wahyu atau kalâmullâh, diulang dalam Al-Qurân.
2. Pengertian al-Qur’an menurut Istilah
Menurut bahasa, definisi al-Qur’an paling sederhana dikemukakan
oleh Mannâ‘ Al-Qattân (1973 : 20). Ia mengatakan bahwa
pengertian Al-Qurân adalah :
.كلام الله المنزل على محمد صلى الله عليه وسلم المتعبد بتلاوته
“Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.,
membacanya merupakan ibadah”.
a. Menurut Dr. Subhi as-Salih
Menurut Dr. Subhi as-Salih, Al Qur’an adalah kalam
Allah SWT yang merupakan sebuah mukjizat yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, di tulis dalam
mushaf dan diriwayatkan secara mutawatir, serta
membacanya adalah termasuk ibadah.
b. Menurut Muhammad Ali ash-Shabumi
Menurut Muhammad Ali ash-Shabumi, Al Qur’an ialah
firman Allah SWT yang tidak ada tandingannya, diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW penutup oara nabi dan rasul
dengan perantara malaikat Jibril as, ditulis kepada mushaf-
mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita dengan
cara mutawatir Membaca dan mempelajari Al Qur’an adalah
ibadah dan Al Qur’an dimulai dari surat Al Fatihah serta
ditutup dengan surat An Nas.
c. Menurut Syekh Muhammad Khudari Beik
Menurut Syekh Muhammad Khudari Beik, Al Qur’an
merupakan firman Allah SWT yang bernahasa Arab,
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dipahami
isinya, disampaikan kepada kita dengan cara mutawatir,
ditulis dalam mushaf yang dimulai dari surat Al Fatihah dan
diakhiri dengan surat An Nas.
Berdasarkan definisi di atas, maka al-Qurân adalah
wahyu atau kalâmullâh. Selain kalâmullâh, tidak dapat
dinamakan Al-Qurân, sekalipun isi atau maksudnya dari
Allah SWT. Al-Qurân itu diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW, berarti wahyu yang diturunkan kepada
selain Nabi Muhammad, tidak dapat dinamakan Al-Qurân.
Al-Qurân itu disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui
Malaikat Jibril AS.
B. Fungsi Alquran
Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang
memiliki banyak manfaat bagi umat manusia. Alquran
diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia melalui
malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai Rosul
yang dipercaya menerima mukjizat Alquran, Nabi
Muhammad SAW menjadi penyampai, pengamal, serta
penafsir pertama dalam Alquran. Fungsi Alquran antara lain:
1. Al-Huda (Petunjuk)
Di dalam Alquran ada tiga posisi Alquran yang fungsinya
sebagai petunjuk. Alquran menjadi petunjuk bagi
manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang
bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman.
Jadi Alquran tidak hanya menjadi petunjuk bagi umat
Islam saja tapi bagi manusia secara umum
2. Asy-Syifa
Di dalam Alquran disebutkan bahwa Alquran merupakan
obat bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia.
Penyakit dalam tubuh manusia memang tak hanya
berupa penyakit fisik saja tapi bisa juga penyakit hati
Perasaan manusia tidak selalu tenang, kadang merasa
marah, iri, dengki, cemas, dan lain- lain.Seseorang yang
membaca Alquran dan mengamalkannya dapat terhindar
dari berbagai penyakit hati tersebut. Alquran memang
hanya berupa tulisan saja tapi dapat memberikan
pencerahan bagi setiap orang yang beriman.
Saat hati seseorang terbuka dengan Alquran maka ia
dapat mengobati dirinya sendiri sehingga perasaannya
menjadi lebih tenang dan bahagia dengan berada di
jalan Allah. Kemudian syifa (obat) yang saya bahas
dalam penelitian ini melalu living quran pada praktik
pengobatan Ustadz Sanwani.
3. Al-Furqon (pemisah)
Nama lain Alquran adalah Al-Furqon atau pemisah. Ini
berkaitan dengan fungsi Alquran lainnya yang dapat
menjadi pemisah antara yang hak dan yang batil,
atau antara yang benar dan yang salah. Di dalam
Alquran dijelaskan berbagai macam hal yang termasuk
kategori salah dan benar atau hak dan yang batil.
Jadi jika sudah belajar Alquran dengan benar maka
seseorang seharusnya dapat membedakan antara
yang benar dan yang salah. Misalnya saja saat mencari
keuntungan dengan berdagang, dijelaskan bahwa tidak
benar jika melakukan penipuan dengan mengurangi
berat sebuah barang dagangan. Begitu juga dengan
berbagai permasalahan lainnya yang bisa diambil
contohnya dari ayat-ayat Alquran.
4. Al-Mu’izah (nasihat)
Alquran juga berfungsi sebagai pembawa nasihat bagi
orang- orang yang bertakwa. Di dalam Alquran terdapat
banyak pengajaran, nasihat-nasihat, peringatan tentang
kehidupan bagi orang-orang yang bertakwa, yang
berjalan di jalan Allah. Nasihat yang terdapat di dalam
Alquran biasanya berkaitan dengan sebuah peristiwa
atau kejadian, yang bisa dijadikan pelajaran bagi orang-
orang di masa sekarang atau masa setelahnya.
Nasihat dan peringatan tersebut penting karena
sebagai manusia kita sering menghadapi berbagai
masalah dan cara penyelesaiannya sebaiknya diambi
bdari ajaran agama. Bagaimana cara kita menghadapi
tetangga, suami, orang tua, dan bahkan musuh kita
telah diajarkan dalam alQur’an
C. Identifikasi ayat-ayat Pilihan Tentang Kepenyuluhan
1. Q. S. an-Nahl ayat 125
Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tu-hanmu dengan
hikmah) dan penga-jaran yang baik, dan berdebatlah
de-ngan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang
sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih me-ngetahui
siapa yang mendapat petunjuk. (Q.S. an-Nahl : 125)
2. Q. S. Ali Imran ayat 104
Artinya : Dan hendaklah di antara kamu ada se-golongan orang
yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat)
yang makruf, dan mencegah dari yang mung-kar.) Dan
mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali
Imran : 104)
3. Q. S. Ali Imran ayat 110
Artinya : Kamu (umat Islam) adalah umat ter-baik yang
dilahirkan untuk manusia, (karena kamu)
menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah
dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentu-lah itu lebih baik
bagi mereka. Di an-tara mereka ada yang beriman,
namun kebanyakan mereka adalah orang-orang
fasik. (Q. S. Ali Imran : 110)
BAB III
WAWASAN HADITS
A. Pengertian Hadis
1. Pengertian hadis secara bahasa
Secara etimologi/bahasa, kata hadits berasal dari bahasa Arab yaitu al-
hadits dengan bentuk jamaknya adalah ahâdîts yang berarti cerita, berita, atau
riwayat dari Nabi SAW (Mahmud Yunus, 1990 : 98). juga bisa berarti al-
khabr“,yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “berita” atau “perkataan dari
seseorang yang disampaikan kepada orang lain” (Ahmad Warson Munawwir, 1884
: 344) . Dan hadis dengan arti “al-jadîd”, yakni sesuatu yang baru atau modern
sebagai lawan dari kata al-qadîm, yakni sesuatu yang telah lama. terakhir hadis
dengan arti al-qarîb, yakni sesuatu yang dekat atau yang belum lama terjadi.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat ditegaskan bahwa hadis
menurut bahasa adalah sebuah berita yang dipindahkan dari seseorang kepada
orang lain.
2. Pengertian hadits secara istilah
Pengertian hadits secara istilah, terdapat sedikit perbedaan ulama, antara
ulama hadits (muhadditsîn) dengan ulama ushul (ushuliyyin). Menurut ulama
hadits (muhadditsîn), secara istilah hadis sama dengan pengertian sunnah, yaitu :
كل ما أثر عن الرسول صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير او صفة خلقية أو خلقية أو سيرة سواء
.أكان قبل البعثة أم بعدها
“ Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasul Saw, apakah berupa perkataan,
perbuatan, dan ketetapannya, atau sifat fisik, akhlak, atau sejarah hidupnya, baik
itu terjadi sebelum kenabian atau sesudahnya”.
Sementara menurut ulama ahli ushul (ushuliyyîn) hadits adalah :
كل ما صدر عن النبي صلى الله عليه وسلم غير القرآن الكريم من قول او فعل او تقرير مما يصلح أن يكون
.دليلا لحكم شرعي
1
“Segala sesuatu yang berasal dari Nabi Saw, baik berupa perkataan, perbuatan
dan ketetapannya yang dapat atau pantas dijadikan dalil untuk menetapkan hukum
syara’.
Pengertian yang dijelaskan oleh ulama ushul di atas bermakna bahwa yang
dimaksud dengan hadits hanyalah segala perkataan, perbuatan dan ketetapan
Rasul Saw yang ada hubungannya dengan hukum dan mengandung misi
kerasulan beliau yang berkonsekwensi hukum.
3. Fungsi hadis
a. Hadis atau sunnah menjelaskan hal yang mujmal atau global dalam Al-
Qur’an menyangkut ibadah dan hukum. Misalnya Allah mewajibkan shalat atas
orang-orang mukmin tanpa menjelaskan waktu, rukun-rukun dan jumlah
raka’atnya. Maka hadis atau sunnah menjelaskan melalui praktik shalat
Rasulullah berikut dengan metode pengajarannya kepada kaum muslimin
tentang tata cara shalat itu sendiri. Hal tersebut termaktub dalam hadis.
b. Fungsi Hadis atau sunnah Rasul SAW terhadap Al-Qur’an adalah
mentaqyid (memberikan batasan) terhadap lafal mutlak (kata yang tidak disertai
batasan), seperti tergambar dalam firman-Nya surat al-Nisa` ayat 12. Ayat
tersebut bersifat mutlaq, tidak ada batasan berapa batasan kebolehan
berwasiat. Apakah seluruh harta boleh diwasiatkan atau sebagiannya. Maka
dalam percakapan antara Rasulullah SAW dengan Sa’ad bin Abi Waqqash,
beliau memberi batasan dengan sabdanya.
c. Fungsi Hadis atau sunnah berfungsi menegaskan (mutsbitah) dan
menguatkan (muakkidah) terhadap informasi yang dikemukakan dalam Al-
Qur’an atau menjelaskan prinsip yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.
Jadi tidak terbantahkan lagi, bahwa hadis atau sunnah merupakan sumber
hukum kedua setelah Al-Quran yang berfungsi sangat strategis, keberadaan dan
otoritas hadis atau sunnah ini sebagai sebuah sumber hukum dalam Islam wajib
diperpegangi.
2
B. Klasifikasi Hadits Dari Segi Kualitas Dan Kuantitas
A. Pembagian Hadits Berdasarkan Kuantitas
Hadits berdasarkan kuantitas (banyaknya jumlah perawi) atau orang yang
meriwayatkan suatu hadits dapat dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan
hadits ahad.
a. Hadits mutawatir
Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan
atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Hadits mutawatir ialah suatu
(hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka
bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga
akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.”
Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang
diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan
tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala
berita yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk
bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.
Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan
haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadits itu langsung
dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang
yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang
kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara
perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar,
ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan
lafaz diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau
sedikitnya orang yang periwayatkan hadits itu.Apabila jumlah yang meriwayatkan
demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi
itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, maka penyampaian ituadalah secara
mutawatir.
3
b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
1. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus
berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa
berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran
semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang
semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera
(tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat
disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai
jumlah yang banyak.
2. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat
mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda
pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan
bersepakat dusta.
a. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut
diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
b. Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan
dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
c. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal
tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang
orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-
orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).
d. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40
orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:“Wahai nabi
cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi
penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).
3. Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan)
pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi
syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban
dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin
4
terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu
Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya
hanya sedikit.
Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas
tidak benar. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang
menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat
memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana
dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa
kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-
Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam As-
Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan
Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).
c. Faedah Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk
menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia
membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi
Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti
yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi
hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena
kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk
tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan
mengamalkan semua hadits mutawatir. Umat Islam telah sepakat tentang faedah
hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil
ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri
yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera).
d. Macam–Macam Hadits Mutawatir
Mutawatir lafzhi, yaitu yang sesuai lafal para perawinnya, baik dengan
menggunakan satu lafal atau lafal lain yang satu makna dan menunjukkan kepada
makna yang dimaksud secara tegas.
5
Mutawatir ma’nawi, yaitu sesuatu yang mutawatir maksud makna hadits
secara konklusif, bukan makna dari lafalnya, makna lafal boleh berbeda antara
beberapa periwaytaan perawi, tetapi maksud kesimpulannya sama.
Mutawatir ‘amali, yaitu perbuatan dan pengalaman syari’ah silamiyah yang
dilakukan nabi secara praktis dan terbuka kemudian disaksikan dan diikuti oleh
para sahabat.
2. Hadits Ahad
Menurut Istilah ahli hadits, tarif hadits ahad antara lain adalah :
“Suatu hadits (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah
pemberita hadits mutawatir; baik pemberita itu seorang. dua orang, tiga orang,
empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi
pengertian bahwa hadits tersebut masuk ke dalam hadits mutawatir.
’Ajjaj al-Khathib, yang membagi hadis berdasarkan jumlah perawinya kepada
tiga, bahwa ia mengatakan defenisi Hadis Ahad sebagai berikut:
“Hadis Ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, dua atau
lebih, selama tidak memenuhi syarat-syarat Hadis Masyhur atau Hadis Mutawatir”.
Dari definisi ‘Ajjaj al-Khathib di atas dapat dipahami bahwa Hadis Ahad adalah
hadis yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang terdapat pada Hadis
Mutawatir . Di dalam pembahasan berikut, yang menjadi pedoman penulis adalah
defenisi yang dikemukakan oleh Jumhur Ulama Hadis, yang mengelompokkan
Hadis Masyhur ke dalam kelompok Hadis Ahad.
a. Macam–Macam Hadits Ahad
1. Hadis Masyhur.
Secara bahasa, kata masyhur adalah isim maf’ul dari Syahara, yang berarti
“al-zhuhur”, yaitu nyata. Sedangkan pengertian Hadis Masyhur menurur istilah Ilmu
Hadis adalah:
“Hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih, pada setiap
tingkatan sanad, selama tidak sampai kepada tingkat Mutawatir”. Dengan
demikian, Hadis Masyhur dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu:
6
(1). Hadis Masyhur di kalangan ahli hadis, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh
tiga orang perawi atau lebih.
Contohnya hadis yang berasal dari Anas r.a., dia berkata:Bahwasanya
Rasulullah SAW berkunut selama satu buan setelah ruku’ mendo’akan
hukuman atas (tindakan kejahatan) penduduk Ri’lin dan Dzakwan. (HR
Bukhari dan Muslim).
(2).Hadis Masyhur di kalangan Fugaha, seperti hadis:
“Perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah talak. (HR Abu Daud
dan Ibn Majjah”.
(3). Hadis Masyhur di kalangan Ulama Fiqih, contohnya:
“Diangkatkan (dosa/hukuman) dari umatku karena tersalah(tidak
disengaja), lupa, dan perbuatan yang dilakukan kerena terpaksa.(HR Ibn
Majjah).
(4). Hadis Masyhur di kalangan Ulama Hadis, Fugaha, Ulama Ushul Figh dan
kalangan awam, seperti:
“ Muslim yang sebenarnya itu adalah orang yang selamat menyelamatkan
muslim-muslim lainnya dari akibat lidah dan tangannya, dan orang yang
berjihad itu adalh orang yang pindah(meninggalkan segala perbuatan yang
diharamkan Allah”. (HR Bukhari dan Muslim).
(5).Hadis Masyhur di kalangan ahli Nahwu, seperti:
“Sebaik-baik hamba adalah Shuhaib”
(6).Hadis Masyhur di kalangan awam, seperti:
“Tergesa-gesa itu adalah dari (perbuatan) setan. (HR Tirmidzi).
2. Hadis ‘Aziz
‘Aziz menurut bahasa adalah shifah musyabbahat dari kata ‘azza – ya ’izzu
yang berarti qalla dan nadara, yaitu “sedikit” dan “jarang”; atau berasal dari kata
’azza – ya ’azzu yang berarti qawiya dan isytadda, yaitu “kuat” dan “sangat”.
Menurut istilah Ilmu Hadis, ’Aziz berarti:“Bahwa tidak kurang perawinya dari dua
orang pada seluruh tingkatan sanad”.Definisi di atas menjelaskan bahwa Hadis
’Aziz adalah Hadis yang perawinya tidak boleh kurang dari dua orang pada setiap
7
tingkatan sanad-nya, namun boleh lebih dari dua orang, seperti tiga, empat atau
lebih, dengan syarat bahwa salah satu tingkatan sanad harus ada yang perawinya
terdiri atas dua orang. Hal ini adalah untuk membedakan dari Hadis Masyhur.
3. Hadis Gharib
Menurut bahasa, kata gharib adalah shifah musyabbahat yang berarti al-
munfarid atau al- ba’id ‘an aqaribihi,6 yaitu “yang menyendiri” atau jauh dari
kerabatnya”.Gharib menurut istilah Ilmu Hadis:“Yaitu: Hadis yang menyendiri
seorang perawi dalam periwayatannya”Dari definisi di atas dapat disimpulkan,
bahwa setiap hadis yang diriwayatkan oleh seorang perawi, baik pada setiap
tingkatan sanad atau pada sebagian tingkatan sanad dan bahkan mungin hanya
pada satu tingkatan sanad, maka hadis tersebut dinamakan Hadis Gharib.
Menurut Ulama Hadis, Hadis Gharib terbagi dua, yaitu: Gharib Muthlaq dan
Gharib Nisbi.
a. Gharib Muthlaq,
yaitu: “Hadis yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya pada
ashal sanad.” Contoh Hadis Gharib Muthlaq, mengenai niat: “Sesungguhnya
seluruh amal itu bergantung pada niat”. Hadis niat tersebut hanya diriwayatkan
oleh ’Umar ibn al- Khattab sendiri di tingkat sahabat.
b. Gharib Nisbi,
yaitu: “Hadis yang terjadi Gharib di pertengahan sanad-nya”.
Hadis Gharib Nisbi ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh lebih dari seorang
perawi pada asal sanad (perawi pada tingkat sahabat), namun dipertengahan
sanadnya terdapat tingkat yang perawinya hanya sendiri (satu orang ).
Contoh Hadis Gharib Nisbi, yaitu: “Hadis yang diriwayatkan oleh Malik dar i al-
Zuhri dari anas r.a., bahwasanya Nabi SAW memasuki kota Mekkah dan di atas
kepalanya terdapat al-mighfar (alat penutup kepala). (HR Bukhari dan Muslim).
c. Faedah hadits ahad
Para ulama sependapat bahwa hadits ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadits
mutawatir. Hadits ahad hanya memfaedahkan zan, oleh karena itu masih perlu
8
diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan
kalau temyata telah diketahui bahwa, hadits tersebut tidak tertolak, dalam arti
maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadits tersebut wajib untuk diamalkan
sebagaimana hadits mutawatir. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam
berhujjah dengan suatu hadits, ialah memeriksa “Apakah hadits tersebut maqbul
atau mardud”. Kalau maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita
tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya. Kemudian
apabila telah nyata bahwa hadits itu (sahih, atau hasan), hendaklah kita periksa
apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. Jika terlepas dari
perlawanan maka hadits itu kita sebut muhkam. Jika ada, kita kumpulkan antara
keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi
maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan, tapi diketahui mana yang
terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh, yang
terkemudian kita ambil, kita pandang nasikh. Jika kita tidak mengetahui
sejarahnya, kita usahakan menarjihkan salah satunya. Kita ambil yang rajih, kita
tinggalkan yang marjuh. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya, bertawaqquflah
kita dahulu. Walhasil, barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadits,
sesudah nyata sahih atau hasannya, baik ia muhkam, atau mukhtakif adalah jika
dia tidak marjuh dan tidak mansukh.
B. Pembagian Hadits Berdasakan Kualitas
Berdasarkan kualitas hadits dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Hadits Sahih.
Hadits sahih menurut bahasa berarti hadits yng bersih dari cacat, hadits
yng benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadits sahih, yang
diberikan oleh ulama, antara lain :“Hadits sahih adalah hadits yng susunan
lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hadis
mutawatir, atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit.”
9
Syarat hadits Sahih adalah:
a. Diriwayatkan oleh perawi yang adil Maksudnya adalah tiap-tiap perawi itu
seorang Muslim, bersetatus Mukallaf (baligh), bukan fasiq dan tidak pula
jelek prilakunya.
b. Kedhabitan perawinya sempurna maksudnya Periwayat itu harus memahami
dengan baik makna dan pengertian riwayat yang telah didengarnya
(diterimanya),Periwayat itu memiliki hafalan dengan baik terhadap riwayat
yang telah didengarnya itu dengan tanpa terdapat kesalahan atau
kekeliruan pengutipan redaksi kata-katanya, Periwayat itu mampu
menyampaikan riwayat yang telah didengarnya dan dihafalnya dengan baik
kapan saja dia menghendakinya.
c. Sanadnya bersambung Maksudnya adalah tiap-tiap perawi dari perawi
lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang
ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya.
d. Tidak ada cacat atau illat Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya,
dalam arti adanya sebab yang menutup tersembunyi yang dapat menciderai
pada ke-shahih-an hadis, sementara dhahirnya selamat dari cacat.
‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad mapun pada matan atau pada keduanya
secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi
adalah pada sanad, seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang
munqati’ atau mursal.
e. Matannya tidak syaz atau janggal Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak
syadz, dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan
lainnya.
C. Pembagian Hadits Shahih
a. Hadis Shahih li dzati
Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti
adanya,bukan dia itu terputus tetapi shahih dalam hakikat masalahnya, karena
bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan.
b. Hadis Shahih Li Ghairihi
10
Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis shahih
tersebut baik keseluruhan atau sebagian. Bukan berarti sama sekali dusta,
mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah.
Hadis shahih li-ghoirih, adalah hadis hasan li-dzatihi apabila diriwayatkan melamui
jalan yang lain oleh perowi yang sama kualitasnya atau yang lebih kuat dari
padanya.
2. Hadits Hasan.
Syarat hadits hasan adalah:
a. Para perawinya adil.
b. Kedhabitan perawinya dibawah perawi hadits sahih.
c. Sanadnya bersambung.
d. Tidak mengandung kejanggalan pada matannya.
e. Tidak ada cacat atau illat.
b. Pengertian hadits hasan
Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi
hadits hasan adalah : “yang kami sebut hadits hasan dalam kitab kami adalah
hadits yng sannadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadits yang diriwayatkan
melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan
haditsnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat.
Hadits yang demikian kami sebut hadits hasan.”
C. Pembagian Hadits Hasan
a. Hasan Li-Dzatih
Hadis hasan li-dzatih adalah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis
hasan yang telah ditentukan. pengertian hadis hasan li-dzatih sebagaimana
telah diuraikan sebelumnya.
b. Hasan Li-Ghairih
Hadis hasan yang tidak memenuhi persyaratan secara sempurna. dengan
kata lain, hadis tersebut pada dasarnya adalah hadis dha’if, akan tetapi
11
karena adanya sanad atau matan lain yang menguatkannya (syahid atau
muttabi’), maka kedudukan hadis dha’if tersebut naik derajatnya menjadi
hadis hasan li-ghairih.
3. Hadits Daif
a. Pengertian Hadits Daif
Hadits daif menurut bahasa berarti hadits yang lemah, yakni para ulama
memiliki dugaan yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadits itu
berasal dari Rasulullah SAW.Para ulama memberi batasan bagi hadits daif :
Artinya :“Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih,
dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”
Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih,
melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu
terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan
hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
b. Pembagian hadits dhaif
Hadist dhaif dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : hadits dhaif
karena gugurnya rawi dalam sanadnya, dan hadits dhaif karena adanya cacat
pada rawi atau matan.
a. Hadits dhaif karena gugurnya rawi
Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau
beberapa rawi, yang seharusnya ada dalam suatu sanad, baik pada permulaan
sanad, maupun pada pertengahan atau akhirnya. Ada beberapa nama bagi hadits
dhaif yang disebabkan karena gugurnya rawi, antara lain yaitu :
1) Hadits Mursal
Hadits mursal menurut bahasa, berarti hadits yang terlepas. Para ulama
memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di
akhir sanad. Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan
sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah
SAW. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang
terdekat dengan imam yang membukukan hadits, seperti Bukhari, sampai kepada
12
rawi yang terdekat dengan Rasulullah). Jadi, hadits mursal adalah hadits yang
dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya
menerima langsung dari Rasulullah.
Contoh hadits mursal : Rasulullah bersabda, “ Antara kita dan kaum munafik
munafik (ada batas), yaitu menghadiri jama’ah isya dan subuh; mereka tidak
sanggup menghadirinya”.
2) Hadits Munqathi’
Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Para ulama
memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua
orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya. Bila rawi di akhir sanad
adalah sahabat Nabi, maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. Jadi, pada
hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur
seorang tabi’in. Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak
beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in.
contoh hadits munqathi’ :
Artinya :Rasulullah SAW. bila masuk ke dalam mesjid, membaca “dengan
nama Allah, dan sejahtera atas Rasulullah; Ya Allah, ampunilah dosaku dan
bukakanlah bagiku segala pintu rahmatMu”.
3) Hadits Mu’dhal
Menurut bahasa, hadits mu’dhal adalah hadits yang sulit dipahami. Batasan
yang diberikan para ulama bahwa hadits mu’dhal adalah hadits yang gugur dua
orang rawinya, atau lebih, secara beriringan dalam sanadnya.
Contohnya adalah hadits Imam Malik mengenai hak hamba, dalam kitabnya “Al-
Muwatha” yang berbunyi : Imam Malik berkata : Telah sampai kepadaku, dari Abu
Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :Budak itu harus diberi makanan dan pakaian dengan baik.
4) Hadits mu’allaq
Menurut bahasa, hadits mu’allaq berarti hadits yang tergantung. Batasan
para ulama tentang hadits ini ialah hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal
sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan (tidakdisebutkan).
13
Contoh : Bukhari berkata :Kata Malik, dari Zuhri, dan Abu Salamah dari Abu
Huraira, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : Janganlah kamu melebihkan sebagian nabi dengan sebagian yang lain.
B. Hadits Dhaif Karena Cacat Pada Matan Atau Rawi
Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti
pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat
menghilangkan sifat adil pada rawi. Sering keliru, banyak waham, hafalan yang
buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang
dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada
matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau
diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz
yang sebenarnya.
Contoh-contoh hadits dhaif karena cacat pada matan atau rawi :
1) Hadits Maudhu’
Menurut bahasa, hadits ini memiliki pengertian hadits palsu atau dibuat-
buat. Para ulama memberikan batasan bahwa hadis maudhu’ ialah hadits yang
bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya.
Golongan-golongan pembuat hadits palsu yakni musuh-musuh Islam dan tersebar
pada abad-abad permulaan sejarah umat Islam, yakni kaum yahudi dan nashrani,
orang-orang munafik, zindiq, atau sangat fanatic terhadap golongan politiknya,
mazhabnya, atau kebangsaannya .
Hadits maudhu’ merupakan seburuk-buruk hadits dhaif. Peringatan Rasulullah
SAW terhadap orang yang berdusta dengan hadits dhaif serta menjadikan Rasul
SAW sebagai sandarannya.
“Barangsiapa yang sengaja berdusta terhadap diriku, maka hendaklah ia
menduduki tempat duduknya dalam neraka”.
2) Hadits matruk atau hadits mathruh
Hadits ini, menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. Para
ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan
oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits
14
ataupun mengenai urusan lain ), atau pernah melakukan maksiat, lalai, atau
banyak wahamnya.
Contoh hadits matruk : “Rasulullah Saw bersabda, sekiranya tidak ada
wanita, tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ya’qub bin Sufyan bin ‘Ashim dengan sanad
yang terdiri dari serentetan rawi-rawi, seperti : Muhammad bin ‘Imran, ‘Isa bin
Ziyad, ‘Abdur Rahim bin Zaid dan ayahnya, Said bin mutstayyab, dan Umar bin
Khaththab. Diantara nama-nama dalam sanad tersebut, ternyata Abdur Rahim dan
ayahnya pernah tertuduh berdusta. Oleh karena itu, hadits tersebut ditinggalkan /
dibuang.
3) Hadits Munkar
Hadist munkar, secara bahasa berarti hadits yang diingkari atau tidak
dikenal. Batasan yang diberikan para ‘ulama bahwa hadits munkar ialah hadits
yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat, contoh :
Artinya: “Barangsiapa yang mendirikan shalat, membayarkan zakat, mengerjakan
haji, dan menghormati tamu, niscaya masuk surga. ( H.R Riwayat Abu Hatim )”
Hadits di atas memiliki rawi-rawi yang lemah dan matannya pun berlainan dengan
matan-matan hadits yang lebih kuat.
4.) Hadits Mu’allal
Menurut bahasa, hadits mu’allal berarti hadits yang terkena illat . Para
ulama memberi batasan bahwa hadits ini adalah hadits yang mengandung sebab-
sebab tersembunyi , dan illat yang menjatuhkan itu bisa terdapat pada sanad,
matan, ataupun keduanya.
Contoh : Rasulullah bersabda, “penjual dan pembeli boleh berkhiyar, selama
mereka belum berpisah”.
5) Hadits mudraj
Hadist ini memiliki pengertian hadits yang dimasuki sisipan, yang
sebenarnya bukan bagian dari hadits itu.
Contoh : Rasulullah bersabda : “Saya adalah za’im ( dan za’im itu adah
penanggung jawab ) bagi orang yang beriman kepadaku, dan berhijrah; dengan
tempat tinggal di taman surga”.
15
Kalimat akhir dari hadits tersebut adalah sisipan ( dengan tempat tinggal di taman
surga), karena tidak termasuk sabda Rasulullah SAW.
6) Hadits Maqlub
Menurut bahasa, berarti hadits yang diputarbalikkan. Para ulama
menerangkan bahwa terjadi pemutarbalikkan pada matannya atau pada nama rawi
dalam sanadnya atau penukaran suatu sanad untuk matan yang lain.
Contoh : Rasulullah SAW bersabda : Apabila aku menyuruh kamu mengerjakan
sesuatu, maka kerjakanlah dia; apabila aku melarang kamu dari sesuatu, maka
jauhilah ia sesuai kesanggupan kamu. (Riwayat Ath-Tabrani)
7) Hadits Syadz
Secara bahasa, hadits ini berarti hadits yang ganjil. Batasan yang diberikan
para ulama, hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang
dipercaya, tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh
sejumlah rawi yang juga dipercaya. Haditsnya mengandung keganjilan
dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Keganjilan itu bisa pada sanad,
pada matan, ataupun keduanya.
Contoh : “Rasulullah bersabda : “Hari arafah dan hari-hari tasyriq adalah
hari-hari makan dan minum.”
C.Pembagian Hadits Berdasarkan Bentuk dan Penisbahan Matan
a. Dari segi bentuk atau wujud matannya, hadits dapat dibagi lima macam;
1. Qauli :Hadits yang matannya berupa perkataan yang pernah diucapkan
2. Fi’li :Hadits yang matannya berupa perbuatan sebagai penjelasan praktis
terhadap peraturan syariat
3.Taqriri :Hadits yang matannya berupa tarir, sikap atau keadaan mendiamkan,
tidak mengadakan tanggapan atau menyetujui apa yang telah dilakukan
4. Qawni :Hadits yang matannya berupa keadaan hal ihlwal dan sifat tertentu
5. Hammi :Hadits yang matannya berupa rencana atau cita-cita yang belum
dikerjakan, sebetulnya berupa ucapan
16
B. Dari Penyandaran Terhadap Matan, Hadits Dapat Dibagi Pada;
1. Marfu’: Hadits yang matannya dinisbahkan pada Nabi Muhammad, baik b
berupa perkataan, perbuatan, atau taqrir Nabi Muhammad
2. Mauquf : Hadits yang matannya dinisbahkan pada sahabat, baik berupa
perkataan, perbuatan, atau taqrir
3. Maqtu’:Hadits yang matannya dinisbahkan kepada tabiin, baik berupa
perkataan, perbuatan atau taqrir
4. Qudsi: Hadits yang matannya dinisbahkan pada nabi Muhammad dalam
lafad pada Allah dalam makna
5. Maudu’i:Hadits yang matannya dinisbahkan pada selain Allah, Nabi
Muhammad, sahabat dan tabiin. Ini bisa disebut fatwa
D. Pembagian Hadits Berdasarkan Persambungan dan Keadaan Sanad
Pembagian hadits berdasarkan sanad, yang ditinjau dari segi
persambungan sanad, dan dari segi sifat-sifat yang ada pada sanad dan
secara periwayatannya, dapat dikemukan di bawah ini. Hadits ditinjau dari segi
persambungan sanad terbagi pada jenis-jenis.
a. Hadits Muttasil; Hadits yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi
Muhammad SAW
b. Hadits Munfasil: Bila sanadnya tidak bersambung terdapat inqitaha’ (gugur
rawi) dalam sanad, dan terbagi lagi kepada
1. Muallaq: Hadits yang gugur rawinya seorang atau lebih dari awal sanad
(mudawin)
2. Mursal: Hadits yang gugur rawi pertama atau ahir sanadnya
3. Munqathi’:Hadits yang gugur rawi di satu tabaqat atau gugur dua orang
pada dua ttabaqat dalam keadaan tidak berturut-turut
4. Mu’dhal: Hadits yang gugur rawi-rawinya dua orang atau lebih secara
berturut-turut dalam tabaqat sanad, baik sahabat bersama tabiin, tabiin
bersama tabin tabiin, namun dua orang sebelum sahabat dan tabiin
5. Mudallas: Hadits yang gugur guru seorang rawi karena untuk menutup
noda.
17
E. Identifikasi Hadits-hadits Pilihan
1. Hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar
عن أبي سعيد الخدرى َس ِم ْع ُت َر ُسو َل ال ّلَ ِه َص َلّى اللَّهُ َع َل ْي ِه َو َسلَّ َم يَقُو ُل َم ْن َرأَى ِم ْن ُك ْم ُم ْن َك ًرا فَ ْليُ َغيِ ْرهُ ِبيَ ِد ِه َفإِ ْن لَ ْم
يَ ْستَ ِط ْع فَ ِب ِل َسا ِن ِه َفإِ ْن لَ ْم يَ ْستَ ِط ْع فَ ِبقَ ْلبِ ِه َو َذ ِل َك أَ ْض َع ُف ا ْْ ِلي َما ِن
Artinya : Dari Abu Sa’id al-Khudriy, aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda ; siapapun di antara kamu yang melihat kemungkaran
hendaklah mengubahnya dengan tangan dan kekuasaannya.
Apabila tidak mampu dengan cara ini, hendaklah menggunakan
lisannya (nasehatnya). Apabila dengan cara ini tidak mampu,
hendaklah dengan hatinya. Dan demikian itu adalah termasuk
selemah-lemahnya iman ” (H.R. Muslim)
2. Hadits tentang kewajiban dakwah dan pahala menyeru kepada
kebaikan
َم ْن َد َعا ِإ َلى ُه ًدى َكا َن َلهُ ِم ْن ا ْلَ ْج ِر ِمثْ ُل أُ ُجو ِر: قال َر ُسو َل اللَّ ِه َص َّلى ال َّلهُ َع َل ْي ِه َو َسلَّ َم: ع ْن أَبِي ُه َر ْي َرةَ قال
َم ْن تَ ِبعَهُ ََل َينْقُ ُص ذَ ِل َك ِم ْن أُ ُجو ِر ِه ْم َش ْيئًا َو َم ْن َد َعا ِإ َلى َض َلالَ ٍة َكا َن َعلَيْ ِه ِم ْن اْْ ِلثْ ِم ِمثْ ُل آثَا ِم َم ْن تَبِعَهُ ََل يَ ْنقُ ُص
ذَ ِل َك ِم ْن آثَا ِم ِه ْم َشيْئًا
Artinya ; Hadis dari Abu Hurairah, ia berkata; Bersabda Rasulullah Saw
barang siapa mengajak orang kepada petunjuk, maka dia
memperoleh pahalanya sama dengan pahala orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka masing-masing
sedikitpun, dan siapa yang mengajak kepada kejahatan, maka dia
akan mendapat dosanya sama dengan dosa orang-orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka masing-masing. (H.
R. Abu Daud).
3. Hadits tentang pahala bagi pelopor kebajikan
َم ْن َس َّن ِفي ا ْْ ِل ْس َلا ِم ُسنَّةً َح َسنَةً فَلَهُ أَ ْج ُر َها َوأَ ْج ُر َم ْن َع ِم َل ِب َها بَ ْع َدهُ ِم ْن َغ ْي ِر أَ ْن يَ ْنقُ َص ِم ْن أُ ُجو ِر ِه ْم َش ْي ٌء َو َم ْن
َس َّن فِي ا ْْ ِل ْس َلا ِم سُنَّةً َسيِئَةً َكا َن َعلَ ْي ِه ِو ْز ُر َها َو ِو ْز ُر َم ْن َع ِم َل ِب َها ِم ْن َب ْع ِد ِه ِم ْن َغ ْي ِر أَ ْن َينْقُ َص ِم ْن أَ ْو َزا ِر ِه ْم
َش ْي ٌء
Artinya : "Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam
Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang
yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka
sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk,
maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang
mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun."
( H.R. Muslim)
18
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hadits diyakini sebagai sumber ajaran agama kedua setelah al-Quran.
Disamping itu hadits juga memiliki fungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-
Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam QS: an-Nahl ayat 44. Hadits tersebut
merupakan teks kedua, sabda-sabda nabi dalam perannya sebagai pembimbing
bagi masyarakat yang beriman.
Berdasarkan kuantitas (banyaknya jumlah perawi) atau orang yang
meriwayatkan suatu hadits dapat dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan
hadis ahad
Berdasarkan kualitas hadits dibagi menjadi tiga yaitu: Hadits sahih, Hadits
hasan, hadits dhoif
Berdasarkan bentuk dan penisbahan matan :
a. Dari segi bentuk atau wujud matannya : Qauli, Fi”li, Taqriri, Qawni, Hammi
b. Dari segi penyandaran terhadap matan : Marfu, Mauquf, Maqtu, Qudsi,
Maudhu
B. Berdasarkan persambungan sanad : Muttasil, Munfasil, Muallaq, Mursal,
Munqathi, Mu’dal, Mudallas
C. Saran-saran
1. Para Penyuluh Agama Islam Non PNS diharapkan selalu berusaha
meningkatkan penguasaan tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik
dan benar serta berusaha meningkatkan pemahaman dan wawasan Al
Qur’an dan Hadits.
2. Para Penyuluh Agama Islam Non PNS hendaknya selalu meningkatkan
wawasan Al Qur’an dan Hadits dalam kontek kekinian. Karena diera IT saat
ini seorang Penyuluh Agama Islam Non PNS harus bisa mengikuti
perkembangan zaman.
Demikianlah bahan dibuat agar kiranya bisa menjadi salah satu
referensi dalam proses belajar mengajar kususnya para Peserta Diklat
19
Subtantif Penyuluh Agama Islam Non PNS. Disamping itu juga semoga
bahan ajar ini bisa menambah khazanah keilmuan khususnya Al Qur’an
dan Hadits.
20
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim
Anis, Ibrâhîm, Al-Mu‘jam al-Wasîth, Mesir: Dâr al-Ma‘ârif, 1392 H, Cet. II
Al-Baqi, Muhammad Fûad ‘Abd, Al-Mu‘jam al-Mufahras lî Alfâzh Al-Qurân, Beirut:
Dâr al-Fikr, 1407 H/1987 M
Al-Qattan, Manna‘ Khalil, Mabahis fî ‘Ulum Al-Qur’an, Beirut: al-Syirkah al-
Muttahidah li al-Tauzi’, 1973 M
Endang Soetari AD, Ilmu Hadits, Bandung: Amal Bakti Press 1997
Muhassin.”Memahami Hukum Tajwid dan Kaedahnya”. Jakarta : Bintang
Indonesia, 2012
Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta : Hidakarya, 1990
Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, terj: Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushulul Hadits:
Pokok-Pokok Ilmu Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama ,1998
————-, Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-‘Ilmu li al-
Malayin 1977
————-, Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, Beirut: Dar al-Fikr 1981
Munawwir, Ahmad Warson, Al-Munawwir Qamus ‘Arabiy Indonesiy, Yogyakarta :
Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiyah Keagamaan Pondok Pesantren al-
Munawwir, 1984
Keputusan Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam No. DJ. III/432 tahun 2016 tentang
Petunjuk Teknis Pengangkatan Penyuluh Agama Islam Non PNS
http//m.arysandi.abatasa.co.id/ayat-ayat ghoribah.htm, diakses tanggal 2 Februari
2017
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2245635-pembagian-hadits-
berdasarkan-banyaknya-perawi/#ixzz2NHwsAixK
http://ronyramadhanputra.blogspot.com/2009/04/hadits-dhaif.html
iii