Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 0 MODUL EPISTEMOLOGI DAN LOGIKA PENDIDIKAN Wasmana, S.Pd., M.Pd. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN SILIWIANGI
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 1 PENDAHULUAN Mengapa manusia itu berfilsafat? Ini pertanyaan mendasar yang melandasi manusia memikirkan filsafat. Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu rasa kagum, skeptis dan kesadaran akan keterbatasan diri. Bila pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, dan kepastian dimulai dari rasa ragu maka filsafat dimulai dari keduanya. Sehingga manusia mulai memberdayakan akalnya untuk memenuhi rasa ingin tahu dan mendapatkan manfaat dari kehidupannya. Pemberdayaan akal tersebut dilakukan dengan cara melakukan perenungan reflektif-intuitif yang rasional. Perkembangan ini terus bergerak ke penalaran rasional ilmiah yang memunculkan pemahaman science is power. Lalu apa, bagaimana dan untuk apa ilmu pengetahuan ada didalam kehidupan umat manusia? Modul mata kuliah Epistemologi dan Logika Pendidikan di tulis dari hasil kajian buku dari buku dengan judul “Filsafat Antropologi” dengan penulis Prof. Dr. Sikun Pribadi. Buku ini diterbitkan di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Bandung pada tahun 1983. Buku ini terdiri dari lima bab, pada setiap bab terdapat beberapa sub bab yang menjadikan patokan pembahasan pada judul bab agar lebih rinci, mudah mencari informasi yang diperlukan, dan mudah dipahami. Sehingga perincian sub bab pada setiap bab itu sangat membatu pembaca untuk mencari informasi yang diperlukan dengan cepat. Pada buku ini menjelaskan mengenai filsafat khususnya filsafat manusia. Dijelaskan pula pengertian filsafat baik secara etimologis dan istilahnya. Setelah penjelasan pengertian filsafat kemudian dijelaskan tentang berbagai jenis aliran dalam filsafat, kemudian hakikat manusia menurut pandangan filsafat, dan serta makna hidup manusia menurut pandangan ilmu filsafat. Dalam buku ini dijelaskan pula bahwa filsafat ini sebagai dasar dalam berfikir, baik berfikir suatu hal yang baru atau menyelesaikan masalah yang ada. i
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 2 Selain itu dikembangkan juga dari buku Buku ini berjudul “Filsafat dan Ideologi Pancasila” karangan Drs. Slamet Sutrisno, M.Si. dan kata pengantarnya oleh Prof. Dr. Sofian Effendi. Buku ini diterbitkan oleh Andi. Dalam buku ini ke dalam beberapa pembahasan yang dikembangkan perbab. Pada Bab I pendahuluan, Bab II Filsafat dan Ideologi, Bab III Eksistensi Budaya Tradisi dalam Era Globalisasi, Bab IV Pemikiran Filsafat Pancasila, Bab V Pancasila Sebagai Orientasi Pengembangan Ilmu, dan Bab VI Trilogi Pancasila. Juga dikembangkan dari buku Surajiyo, Astanto, & Andiani, terbitan tahun 2005. Hasil kajian-kajian buku di atas ditulis kembali secara ringkas untuk kebutuhan sumber belajar dalam perkuliahan. Tulisan ini digunakan untuk sumber perkuliahan Epistemologi dan Logika Pendidikan. ii
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 3 DAFTAR ISI PENGANTAR..............................................................................................................i DAFTAR ISI ...............................................................................................................iii BAB I KONSEP DASAR FILSAFAT........................................................................ 1 A. Pengertian Filsafat................................................................................................................1 B. Aliran-aliran Filsafat............................................................................................................2 C. Konsep Dasar Epistemologi..............................................................................................3 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN MAKNA POSITIF SEMANGAT RENAISSANCE .................................................... 13 A. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan..............................................................13 B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Setelah Abad ke-17.....................................13 C. Aspek-Aspek Positif Semangat Renaissance ...........................................................14 D. David Hume dan Science Is Power...............................................................................14 E. Relevansinya Dengan Ilmu Antropologi....................................................................15 BAB III OBJEK STUDI FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN.................... 16 A. Objek dan Sudut Pandang Filsafat................................................................................16 B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan...............................................................................16 BAB IV FILSAFAT, ILMU DAN FILSAFAT ILMU.............................................. 19 A. Landasan Penelaahan Ilmu : Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi...........19 B. Struktur Ilmu Pengetahuan.............................................................................................21 C. Teori Kebenaran Ilmu ........................................................................................................21 BAB V LOGIKA ILMU DAN METODE BERPIKIR ILMIAH ............................. 24 A. Hakikat Berpikir ...................................................................................................................24 B. Bahasa Keilmuwan ..............................................................................................................25 C. Kriteria dan Model Berpikir Ilmiah .............................................................................26 D. Kelemahan dan Kelebihan Metode Berpikir Ilmiah ............................................27 BAB VI LOGIKA: POLA PENALARAN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG ................................................................................... 28 A. Logika Penalaran Langsung ............................................................................................28 B. Logika Tidak Penalaran Langsung ...............................................................................30 C. Macam-macam Penyimpulan..........................................................................................31 D. Konservasi dan Observasi................................................................................................33 E. Kaidah-kaidah Silogisme Kategoris .............................................................................36 F. Silogisme Tidak Beraturan...............................................................................................37 G. Pola Penalaran Induksi......................................................................................................37 BAB VII KESESATAN DALAM BERPIKIR ILMIAH.......................................... 39 A. Kesesatan Berpikir ..............................................................................................................39 B. Etika Ilmu.................................................................................................................................40 C. Moralitas Ilmu Pengetahuan...........................................................................................41 DAFTAR PUSTKA ................................................................................................... 42 iii
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 4 BAB I KONSEP DASAR FILSAFAT Sebelum membahas lebih jauh mengenai filsafat kita harus paham dulu inti dari kegiatan berfilsafat. Pada intinya kegiatan berfilsafat itu merupakan kegiatan merenung atau kegiatan merefleksi secara mendalam. Kemampuan berfilsafat itu perlu dilatih secara terus menerus, agar kemampuan berfikir kita semakin mendalam. Semakin sering berfikir dengan keras dan mendalam sampai pada dasar-dasarya semakin dalam juga pemikiran kita. Hasil pemikiran kita bukan hanya mendalam tapi harus menyeluruh, semakin terus berpikir makan kita semakin menemukan inti-inti dari kajian atau ilmu tersebut serta menemukan jawaban-jawaban yang benar dari semua permasalahan yang dipikirkan. Kita selaku umat manusia yang berpikir tidak lepas dari kegiatan berfilsafat supaya pemikiran-pemikiran kita benar. Ketika kita memikirkan kebernaran dalam hidup tidak boleh memandang kebenaran dari satu sudut pandang satu keilmuan, satu kepercayaan saja melainkan harus dari multi sudut pandang, ilmu, dan kepercayaan serta ilmu-ilmu lain yang mendukungnya. Karena kebenaran dalam kehidupan ini tidak mutlak hanya satu kebenaran. Dengan demikian manusia perlu mencari kebenarankebenaran yang lain. A. Pengertian Filsafat Kata filsafat dapat dilihat dari berbagai bahasa, mulai dari bahasa Latin yaitu (philosophia), Inggris (philosophy), Jerman, Belanda, Prancis (philosophic), dan Arab (falsafah). Semua istilah-istilah tersebut bersumber dari bahasa Yunani philosophia. Secara etimologis kata filsafat berarti cinta kebijaksanaan, yang diambil dari kata philos berarti mencintai, dan shopos artinya bijaksana. Jadi filsafat adalalah kegiatan berkir dalam berfikir untuk mencari keutamaan mental. Secara ringkasnya berfilsafat itu berpikir. Sehubungan dengan itu tidak semua kegiatan berpikir disebut berpilsafat, karena ciri dari kegiatan berfilsafat adalah kegiatan berfikir yang sangat 1
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 5 mendalam dan menyeluruh. Dengan demikian filisuf adalah seseorang yang memikirkan hakikat sesuatu dengan sungguh-sungguh, mendalam, dan menyeluruh serta harus bijaksana. B. Aliran-aliran Filsafat Manusia itu merupakan makhluk yang berpikir namun pemikiran manusia itu sangat terbatas. Walaupun demikian manusia harus terus berpikir untuk keberlangsungan hidupnya. Pada hakikatnya antara pikiran manusia dan jasadnya itu tidak bisa dipisahkan satu sama lain saling keterkaitan dan berkesinambungan. Terkait dengan terbatasnya pemikiran manusia, sehingga melahirkan aliran-aliran filsafat. 1. Aliaran Materialisme Aliran materialisme adalah paham filsafat yang mempunyai keyakinan bahwa inti dari dunia atau manusia itu hanya bersifat material atau fisik saja. Sehingga memiliki ciri yaitu menempati ruang, menempati waktu, dapat diukur, sehingga cenderung lebih objektif. 2. Aliran Idealisme Aliaran idealisme ini merupakan kebalikan dari aliran materialisme. Paham pemikiran idealisme meyakini bahwa pada hakekatnya dunia ini hanya spritual dan tidak meyakini pengaruh material atau fisik. Bahwa dibalik semua kajadian fisik atau material itu merupakan aktualisasi dari spritual yang ada. 3. Aliran realisme Aliran realisme adalah aliran yang menyakini dan berasumsi bahwa pada hakikatnya dunia ini merupakan rohani dan materi. Menurut aliran ini antara fisik atau material dan rohaninya tidak bisa dipisahkan menjadi satu kesatuan yang utuh. 4. Aliran Pragmatisme Aliran pragmatisme adalah yang menganggap bahwa kebenaran dunia ini hanya asumsi saja dari sebuah pemikiran. Aliran ini tidak menyakini apakah yang benar itu material, roh, materi dan roh. 2
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 6 5. Aliran Rasionalisme Aliran rasionalisme adalah keyakinan akan kenaran yang hanya dapat diperoleh melalui kegiatan berpikir saja. Jadi suatu hal yang muncul bukan melalui proses berpikir bukan disebut kebenaran. Sehingga sesuatu bisa dianggap benar sudah melalui proses berpikir yang benar dan sistematis. 6. Aliran Materialisme Aliran materialisme adalah kebenaran hanya dapat diperoleh dengan menggunakan panca indra. Segala seuatu yang menurut panca indra benar maka disebut kebenaran. 7. Aliran Mystisisme Aliran mystisisme adalah aliran yang menyakini kebenaran itu sumbernya dari hati atau kalbu. 8. Aliran Existensialisme Aliran existensialisme adalah aliran filsafat yang membahas manusia secara kongkrit dan tidak membahas manusia secara abstrak. Memahami tentang hakekat manusia sangat penting sebelum berfilsafat, untuk mengetahui hakekat manusia dan atau mengetahui tentang dirinya melalui renungan. Kita harus paham pada hakekatnya manusia itu sebagai makhluk yang memerlukan sebuah negara, makhluk biologis yang bijaksana, suka bermain, suka menciptakan sesuatu, serta mempunyai rasio dan akal. Pada hakikatnya juga manusia itu memiliki bahasa simbolis yang dapat digunakan dengan sesamanya dan dapat dimengerti satu sama lain. Sehubungan dengan hal itu manusia terus maju dan berkembang. Kemajuan manusia juga tidak diperoleh dengan akal dan pikiran manusia saja juga mempunyai hati yang mengenalkan pada norma-norma dan aturan yang berlaku. C. Konsep Dasar Epistemologi Secara etimologi, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan; logos biasanya dipakai untk menunjuk pengetahuan sistmatik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi adalah pengetahuan sistematik tentang pengetahuan. 3
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 7 Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat, yakni epistemology dan ontology (on=being, wujud, apa + logos = teori), ontology (teori tenang apa). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tidak ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa, sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya, sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Jujun S. Suriasumantri (1985, hlm. 34-35), Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitan dengan ilmu, landasan epistemologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Secara singkat dapat dikatakan bahwa epitemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan mengenai masalah hakikat pengetahuan. Dengan kata lain, epistemology meruakan disiplin filsafat yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang pengetahuan. Sedangkan pengetahuan yang tidak ilmiah adalah masih tergolong prailmiah. Dalam hal ini, berupa pengetahuan hasil sarana inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah ada maupun baru didapat. Disamping itu, sesuatu yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran, seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi). Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi 5
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 8 atau diuji kebenaran (validitas) ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang prailmiiah, sesungguhnya dieroleh secara sadar dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian, pengetahuan pra-ilmiah karena tidak diperoleh secara sistematis-metodologis ada yang cenderung menyebutnya sebagai pengetahuan “naluriah”. Dalam sejarah perkembangannya, di zaman dahulu yang lazim disebut tahap-mistik, tidak terdapat perbedaandiantara pengetahuan-pengetahuan yang berlaku juga untuk obyek-obyeknya, pada tahap mistik ini, sikap manusia seperti dikepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, sehingga semua obyek tampil dalam kemestaan dalam artian satu sama lain berdifusi menjadi tidak jelas batas-batasnya. Tiadanya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu mempunyai implikasi sosial terhadap kedudukan seseorang yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan untuk dipandang sebagai pemimpin yang mengetahui segalagalanya.Fenomena tersebut sejalan dengan singkat kebudayaan primitif yang belum mengenal berbagai organisasi kemasyarakatan, sebagai implikasi belum adanya diverifikasi pekerjaan. Seorang pemimpin dipersepsikan dapat merangkap fungsi apa saja, anatara lain sebagai seagi kepala pemerintahan, akim, guru, panglima perang, penjabat, pernikaan dan sebagainya. Ini berarti pula bahwa emimpin itu mampu menyelesaikan segala masalah, sesuai dengan keanekaragaman fungsional yang dicanangkan kepadanya. Epistemologi juga disebut sebagai cabang filsafat yang berelevansi dengan sifat dasar dan ruang lingkup pengetahuan, pra-anggapan-praanggapan, dan dasar-dasarnya, serta rehabilitas umum dari tuntutan akan pengetahuan. Epistemologi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mengkaji awal mula, struktur, metode, dan validity pengetahuan. Berdasarkan berbagai definisi itu dapat diartikan, bahwa epistemologi yang berkaitan dengan masalah-masalah yang meliputi: a. Filsafat, yaitu sebagai filsafat yang berusaa mencari hakikat dan kebenaran pengetahuan; b. Metode, sebagai metode bertujuan mengatur manusia untuk memperoleh pengetahuan. 6
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 9 c. Sistem, sebagai suatu sistem bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri. 1. Ruang Lingkup Epistemologi M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok ; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk 7
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 10 mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan, dalam (http://barabbasayin. blogspot.com/2013/07/ pengertian-dan-ruang -lingkup.html). 2. Aliran-Aliran Epistemologi a. Empirisme Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang berasal dari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya. John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teoritabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lamalama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu besar. 8
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 11 b. Rasionalisme Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596- 1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir, maka saya ada). Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan . c. Positivisme Tokoh aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan 9
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 12 . Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. d. Intuisionisme Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi, (dalam Tafsiri, 2009). e. Kritisme Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime). Jadi, metode berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.[5] f. Idealisme Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah 10
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 13 idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern. Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktifdapat diperoleh dari manusia denganakalnya, (dalam Hakim & Saebani, 2008). 3. Justifikasi Epistemologi Justifikasi Epistemologi yang diuraikan dalam modul ini merupakan pengembangan dari pandangan Susanto (2011), sebagai berikut. a. Evidensi Evidensi adalah cara bagaimana kenyataan itu dapat hadir atau “perwujudan dari yang ada bagi akal”. Konsenkuensi dari pengertian itu adalah, bahwa evidensi sangatlah bervariasi. Akibat lebih lanjut adalah persetujuan yang dijamin oleh kehadiran ada yang bervariasi ini juga akan bervariasi. Seorang positivis mungkin menyatakan pengandaian bahwa masa depan adala mirip dengan masa lampau. Namun evidensi yang menjamin kepastiannya bukanlah kepastian yang sedemikian rupa seingga kejadian sebalknya tidak terbayangkan.Evidensi dari perilaku manusia tentuberbeda dengan hal yang semata-mata bersifat fisik, sebab kepastian manusiawi adalah bersifat hipotesis. Misalnya saya yakin secara moral bahwa apabila supir bus itu normal maka ia tidak akan menabrak mobilnya ke pohon. Kesaksian adalah salah satu sumber dari keyakinan moral kepastiannya agak diremehkan. Namun banyak orang yang lebih yakin pada pernyataanpernyataan yang bersumber dari kesaksian daripada tentang hukum gravitasi. b. Kepastian Kepastian dalam hal ini memuat kebenaran dasar atau yang disebut sebagai kebenaran-kebenaran primer. Prinsip pertama adalah suatu 11
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 14 “kepastian dasar yang mengungkapkan eksistensi subjek”. Subjek yang mengetahui tidak mesti identik dengan kegiatannya, ada perbedaan subjek dan aktivitasnya. Adanya kesadaran akan mandirinya subjek dan manunggalnya dengan aktivitasnya adalah penting, sebab ada beberapa aliran yang mengatakan bahwa pakarti adalah bundle of actions, aliran ini memposisikan pakartimerupakan aksidensi dan bukan substansi.Kepastian dasar ini tidak saja merupakan jawaban yang mendasar terhadap berbagai macam sikap dan ajaran seperti skeptisisme dan relativisme, tetapi karena keastian dasar merupakan dasarnya segala kepastian. c. Keraguan Ada dua bentuk aliran yang mempertanyakan kepaastian mengenai adanya kebenaran. Keduanya dapat dianggap sebagai aliran yang mempermasalahkan, meragukan, dan mempertanyakan kebenaran dan adanya kebenaran. Pertama, aliran Skeptisisme-Doktriner berkeyakinan bahwa pengetahuan dan kebenaran itu tidak ada, yang kurang ekstrem mengatakan sesungguhnya tidak ada cara untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan. Misalnya, ajaran ini menganjurkan agar orang tidak melibatkan diri dalam kegiatan intelektual tertentu karena mempunyai pendapat tentang sesuatu, maka hal itu mengandung kontradiksi, sebab ajaran untuk tidak melibatkan diri secara intelektual, adalah sudah merupakan kegiatan inelektual.Kedua, aliran Skepetisisme-Metodik menyatakan bahwa pengetahuan dan kebenaran ada, tetapi tidak sebagai doktrin, melainkan sebagai metoda untuk menemukan kebenaran dan kepastian. Aliran ini merupakan jalan untuk menemukan kepastian kebenaran. 4. Pengaruh Epistemologi Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu suatu 12
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 15 kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya, dalam (http://ebookcollage.blogspot.com/2013/06/pengaruh-epistemologi.html). 13
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 16 BAB II SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN MAKNA POSITIF SEMANGAT RENAISSANCE A. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Sejarah filsafat dan ilmu pengetahuan dapat dibagi dalam tiga periode yakni (i) filsafat Yunani; (ii) Kelahiran Nabi Isa dan ;(iii) Periode kebangkitan Islam. Periode pertama adalah periode filsafat Yunani (Abad 6 SM-0 M). Tokoh pada periode awal ini adalah Thales yang dalam pengembaraan intelektualnya masih menggunakan pola berfikir deduktif. Periode kedua yaitu periode kelahiran nabi Isa (abad 0-6M). Pada masa ini, filsafat mengalami kemunduran karena adanya pembatasan berpikir oleh para raja yang pro gereja dimana kebenaran hanya menjadi otoriras para raja dan gereja. Periode ketiga adalah periode kabangkitan Islam (abad 6-13M) atau periode abad pertengahan. Ketika dunia Kristen Eropa mengalami kegelapan, justru pada periode ini dunia ilmu pengetahuan Islam mengalami kejayaan. Ini ditandai dengan munculnya banyak ilmuwan muslim diberbagai bidang seperti, Al-Farabi ahli astronomi dan matematika, Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Ibnu Khaldun dalam bidang sosiologi, filsafat sejarah, politik dan ekonomi dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya. Periode keempat adalah periode kebangkitan Eropa (14-20 M) dimana pemikiran empirisme dan rasionalisme mendominasi pemikiran filsafat pada periode ini. Tokoh-tokoh pada periode ini antara lain Gerard Van Cramona yang menyalin buku Ibnu Sina The Canon of Medicine. Francis Bacon dengan pemikiran empiris dan realismenya, Jhon Locke yang menghembuskan perlawanan terhadap gereja dan lain-lain. B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Setelah Abad ke-17 Dunia ilmu pengetahuan pada abad ke 17 ini diwarnai oleh metode induksi yang diperkenalkan oleh David Hume seorang filsuf Skotlandia. Hume berpendapat bahwa data representatif seberapapun persentasenya 14
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 17 tidak dapat secara logis dipakai untuk mengambil kesimpulan terhadap seluruh populasi. C. Aspek-Aspek Positif Semangat Renaissance Periode Renaisans yang berarti kelahiran kembali merupakan sebuah gerakan kebudayaan yang menentang kakunya pemikiran serta tradisi abad pertengahan. Para pemikir Renaisans ini ingin menemukan kembali cerahnya peradaban Yunani dan Romawi. Gerakan ini mencakup kebangkitan pengetahuan berdasarkan sumbersumber klasik, tumbuhnya panutan pada Sri Paus, perkembangan gaya perspektif dalam bidang seni lukis dan kemajuan ilmu pengetahuan. Pada zaman ini kebudayaan klasik dihidupkan kembali. Kesusasteraan, seni dan filsafat mencari inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi. Mulai zaman renaisans, manusialah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Pada zaman renaisans manusia dipandang sebagai pusat sejarah, pusat pemikiran, pusat kehendak, kebebasan dan dunia. Zamn Renaisans juga berpengaruh dalam seni dan berbagai ilmu yang lainnya dimana manusia menjadi objeknya. Begitupun dalam ekonomi, sosiologi, psikologi, psikoanalisis dan sebagainya. D. David Hume dan Science Is Power Salah seorang tokoh Renaisans adalah David Hume seorang skeptis tulen dari Inggris yang berpandangan bahwa di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak, meski diperoleh dari metode deduksi sekalipun. Hukumhukum alam yang diperoleh dari sains juga tidak dapat dianggap memiliki kebenran kekal. Kita melihat bagaimana hukum Newton tidak dapat dipakai pada skala makrokosmos (digantikan oleh teori relativitas Einstein) dan pada skala mikrokosmos (digantikan oleh teori mekanika kuantum). Teori geosentris yang sempat dianut selama ribuan tahun terbukti salah dan digantikan oleh teori heliocentris berkat jasa Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei. 15
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 18 Tokoh lain dari periode Renaisans adalah Berkeley yang berpandangan bahwa ilmu yang akan mengubah dan mengontrol alam dan kehidupan manusia. Keyakinan dia bahwa science is a power lebih kuat dibandingkan dengan kepercayaan terhadap agama. Bagi Berkeley, agama dianggap tidak mampu melakukan perubahan-perubahan besar kehidupan manusia, terutama yang bersifat fisik seperti pembangunan dan perubahan berdasarkan teknologi. E. Relevansinya Dengan Ilmu Antropologi Ilmu pengetahuan yang telah berkembang sampai saat ini adalah suatu proses pembelajaran bagi manusia agar berpikir tetap rasional, karena bukan tidak mungkin pemikiran yang rasional tersebut akan melahirkan ilmu pengetahuan yang baru. Sebagai contoh, ilmu antropologi lahir karena perkembangan penemuan ilmu pengetahuan yang tersebar dalam berbagai bidang terutama ilmu filsafat, psikologi, budaya dan sosial. 16
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 19 BAB IV OBJEK STUDI FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN A. Objek dan Sudut Pandang Filsafat Filsafat mempunyai 2 objek, yaitu objek formal (lapangannya) dan objek material (sudut pandang). Menurut D.C. Mulder, objek material filsafat adalah segala persoalan pokok yang dihadapi manusia saat dia berpikir tentang dirinya dan tempatnya di dunia. Sementara menurut Louis Kattsoff (1992) objek material filsafat adalah segala pengetahuan manusia serta apa yang ingin diketahui manusia. 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Ilmu pengetahuan adalah suatu pengetahuan tentang objek tertentu yang disusun secara sistematis sebagai hasil penelitian dengan menggunakan metode tertentu. 2. Objek dan Sudut Pandang Ilmu Pengetahuan Objek penelitian dalam ilmu pengetahuan lebih spesifik dibandingkan dengan ilmu filsafat. Misalnya khusus tentang alam dan manusia. Kedua objek tersebut disebut objek formal. B. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Kehidupan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncuk dalam kehidupan. Seiring dengan berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada perbedaan, mulailah terdapat perbedaan yang jelas antara berbagai pengetahuan yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan. 17
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 20 Setiap jenis ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa ( ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Pengetahuan bisa berasal dari enam sumber yaitu (i) pengalaman indra yang merupakan alat untuk menyerap segala objek yang ada diluar diri manusia; (ii) nalar- adalah corak berpikir untuk menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapatkan pengetahuan baru; (iii) otoritas, yaitu kekuasaan yang dimiliki seseorang yang menjadi sumber pengetahuan bagi orang lain; (iv) intuisi; yaitu kemampuan yang dimiliki manusia yang dapat melahirkan pernyataan-pernyataan berupa pengetahuan;(v) wahyu, merupakan salah satu sumber pengetahuan karena kita mengenal atau tahu sesuatu misalnya akhirat, surga dan neraka, malalui ajaran wahyu Tuhan dan; (vi) keyakinan, yaitu kemampuan yang ada dalam diri manusia yang diperoleh melalui pengetahuan. 1. Corak-Corak Pemikiran Filsafat Zaman Yunani Kuno Periode Yunani kuno disebut periode filsafat alam, karena pada periode ini ditandai dengan munculnya ahli pikir alam dimana arah dan perhatian pemikirannya pada alam sekitarnya. Pernyataan-pernyataan yang dibuat bersifat filsafati (berdasar akal pikir) dan tidak berdasar pada mitos. Ahli pikir alam antara lain, Thales, Aristoteles, , dan Phythagoras. Thales ( 625-547 SM) Berpendapat bahwa dunia dikelilingi oleh air dan berasal dari air. Ide ini mungkin berasal dari Kosmogoni purba Yunani dan kebudayaankebudayaan lainnya. Aristoteles (384-322 SM) Berpandangan bahwa dunia sebagai suatu keseluruhan, kosmos, pada dasarnya hidup dan bersifat bersifat illahi. Aristoteles bergerak diantara tiga klaim animis yaitu ; (i) segala sesuatu hidup (bahkan batuan, binatang, dan air); (ii) segala yang hidup terkait hukum sebab akibat (kausalitas); dan (iii) kosmos sebagai keseluruhan adalah hidup. 18
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 21 Phythagoras (581-507) Phythagoras mengemukakan berbagai teori tentang hakikat alam semesta dan mempunyai keyakinan eksotis tentang hakikat roh dan mengemukakan cara terbaik menjalani kehidupan. Selain itu, dia juga membuat teori mengenai perimbangan untuk menjelaskan hakikat musik dan gerakan bintang-bintang. 2. Karakteristik Pemikiran Zaman Patristik Pada masa patristik ini, para filsuf beragam pemikirannya: ada yang menolak filsafat Yunani dan ada juga yang menerimanya. Yang menolak adalah karena mereka sudah mempunyai seumber kebenaran yaitu firman Tuhan dan tidak dibenarkan mencari kebenaran lain seperti filsafat Yunani. Sedangkan yang menerima beranggapan bahwa walau telah ada sumber kebenaran, tetapi tidak ada salahnya menggunakan filsafat Yunani, yang diambil tata cara berpikirnya, ahli pikir Patristik antara lain: Justinus Martir, Klemens, Tertullianus, dan Augustinus. 3. Sumbangan Pemikiran Filsafat Islam pada Abad Pertengahan Sumbangan pemikiran filsafat Islam terhadap Filsafat Eropa adalah pola pikir empiris yang kemudian terkenal didunia Barat lewat tulisan Francis Bacon (1561-1626) dalam bukunya Nouum Organum yang terbit tahun 1620. Filsuf muslim yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran filsuf Barat antara lain Al-Kindi (809-873), Al-Farabi (881-961), ibnu Sina (980-1037) dan Ibnu Rusyd (1126-1198). 4. Perbedaan Pemikiran Zaman Modern dan Kontemporer Pemikiran zaman modern ditandai dengan penggunaan metode Induktif-Deduktif yakni menghubungkan antara pengamatan dengan hipotesis kemudian secara deduktif hipotesis ini dihubungkan dengan pengetahuan yang ada untuk melihat kecocokan dan implikasinya. Setelah lewat berbagai perubahan yang dirasa perlu maka hipotesis ini kemudian 19
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 22 diuji melalui serangkaian data yang dikumpulkan untuk mengetahui sah atau tidaknya hipotesis tersebut secara empiris. Pendekatan Induktif-Deduktif ini perlu karena meskipun seorang ilmuwan ingin suatu kesimpulan yang bersifat umum, namun dalam penyelidikannya dia tidak mungkin untuk mengamati secara keseluruhan. Hal ini mengharuskan dia untuk mengamati hanya jumlah yang terbatas dari sini dia mengambil kesimpulan yang bersifat umum. 5. Hubungan Antropologi dengan Filsafat Ilmu dan Ilmu Pengetahuan Ilmu antropologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan metafisika yang merupakan bagian dari filsafat tentang keseluruhan kenyataan yang merupakan cabang-cabang dari filsafat ilmu yang menjelaskan tentang kisikisi manusia secara umum dan luas. 20
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 23 BAB IV FILSAFAT, ILMU DAN FILSAFAT ILMU Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengenai segala esuatu dengan memandang sebab-sebab terdalam, tercapai dengan budi murni. Fisafat bermanfaat untuk manusia agar dapat menjawab pertanyaanpertanyaan mendasar manusia mengenai makna realitas dan ruang lingkupnya yang dipelajari secara sistematis dan historis. Filsafat terdiri dari cabang epistemologi, metafisika, logika, etika dan estetika.Objek dari fisafat tersebut adalah sesuatu atau realita. Berpikir filsafat berarti berpfikir bebas, rasinal dan kritis, esensial, abstrak, kontinu, inquiry, questioning, analisis dan diskontruksi, spekulatif, inventif, serta pemikiran yang sistematik. Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis, konsisten dan teruji kebenarannya secara empiris. Cabang ilmu berkembang dari dua cabang yakni filsafat alam yang kemudian berkembang menjadi cabang-cabang ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang menjadi cabang-cabang ilmu sosial. Filsafat ilmu merupakan pemikiran reflektif terhdap persoalanpersoalan mengenai landasan ilmu pengetahuan dan hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Filsafat, imu dan filsafat ilmu memiliki hubungan dengan antropologi dan ilmu politik. A. Landasan Penelaahan Ilmu : Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Landasan ilmu terdiri dari landasan ontologi, epistemologi, aksiologi, dan logika ilmu. Ontologi membahas mengenai objek yang ditelaah. Epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji sehingga diperolehnya ilmu. Aksiologi berhubungan dengan manfaat ilmu tersebut dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan, logika ilmu merupakan keberteriman ilmu tersebut oleh penalaran manusia (logis), rasional, atau masuk akal.andasan peneaahan tersebut memiliki relevansi dengan ilmu politik dan antropologi yaitu sama-sama mempelajari mengenai hakikat manusia. 21
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 24 B. Struktur Ilmu Pengetahuan Ilmu merupakan tubuh pengetahuan yang tersusun dan terorganisasikan dengan baik. Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang sudah ada. Metode keilmuan merupakan teori pengetahuan yang digunakan manusia untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan tertentu dengan memperhatikan urutan prosedur secara sistematis guna memperoleh pengetahuan. Metode keilmuan tidak secara mutlak mencapai kebenaran akhir yang tidak akan berubah. C. Teori Kebenaran Ilmu Sejumlah teori yang dikemukan oleh para filusuf dengan senyatanya membuka mata kita anatara lain yang dikemukakan oleh, 1) Plato yang berpusat pada “ide”, 2) teori rasionalisme Rene Descartes yang berpusat pada rasio dan kebenaran, 3) teori Imanuel Kant yang berpusat pada akal rasio yang murni, 4) teori-teori wahyu/ revalasi dari kalangan teolog, 5)teori coherence yang menyatakan bahwa kebenaran itu suatu nilai inter subjektif, ada nilai yang disepakati bersama antara subjek dengan subjek yang lain. Bahkan kebenaran yang bermakna humanistik, 6) chorrespondesi teory yang menyatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu sesuai hukum alam, 7) teori pragmatisme yang menyatakan bahwa kebenaran adalah suatu yang berguna dan bermanfaat bagi manusia di dunia ini, 8) teori esensialisme yang menyatakan bahwa kebenaran itu sesuatu yang abstrak dan yang bermakna sebagai hal yang esensial atau yang terdalam dalam pikiran manusia, 9) teori eksistensialisme yang menyatakan bahwa kebenaran itu sesuatu yang konstektual sesai dengan ruang dan waktu, 10) teori metafisycology yang menyatakan bahwa kebenaran itu sesuatu yang ontologis, 11) teori ilmu pengetahuan ilmiah yang menyatakan bahwa kebenaran itu sesuai dengan asas-asas yang ada dalam ilmu pengetahuan, 12) terori perenialisme yang menyatakan bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang muncul dari hati nurani manusia yang sifatnya abstrak, 13) teori penomenologi yang 22
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 25 menyatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang tetap dan abstrak bernama “neumenon” jauh dibalik penomonen, 14) teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa kebenaran itu suatu hasil konstruksi pikiran manusia yang bebas, dan selalu berubah, dan sangat subjektif, 15) teori post modernisme yang menyatakan bahwa kebenaran itu bukan sesuatu hal yang tetap, selalu berubah, dan akal manusia menciptakan secara bebas dan tidak pernah sama dengan yang lalu, tetapi kecenderungan kebenaran tidak bisa diungkapkan dengan bahasa, 16) teori progresivisme yang menyatakan bahwa kebenaran itu tidak pernah statis, melainkan selalu berubah, 17) teori kritik yang menyatakan bahwa kebenaran itu suatu hasil pemikiran manusia yang terbuka dan kritis sepanjang zaman, kebenaran itu lahir dari dialog, diskusi, dan duskursus yang kontinu, 18) teori nihilsm yang menyatakan bahwa susungguhnya tidak pernah ada kebenaran didunia ini. Menurut Jujun S ilmu merupakan suatu pengetahuan yang menjelaskan rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi merupakan misteri. Secara efistimologis ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam yakni pikiran dan indra. Ilmu merupakan kenaran yang menyandarkan dirinya pada kriteria atau pada teori kebenaran antara lain. a. Koherensi Koherensi merupakan teori kebenaran yang menegaskan suatu proposisi akan diakui sahih / dianggap benar apabila memiliki hubungan dengan gagasan-gagasan dan proposisi sebelumnya yang juga sahing dan yang dapat dibuktikan kebenarannya. b. Korespondensi Korespondensi merupakan teori kebenaran yang mengatakan bahwa pengetahuan itu sahih apabila proporsi bersesuaian dengan realialitas yang menjadi objek pengetahuan itu. c. Positivistik Positivistik merupakan cara pandang memahami dunia dengan berdasarkan sains. 23
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 26 d. Pragmatisme Pragmatisme merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri pada kriteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. e. Esensialisme Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. f. Konstruktivisme, dan Konstruktivisme merupakan pembelajaran yang sifatnya generatif yaitu tindakan menciptakan suatu makna dari apa yang dipelajari. g. Religiusisme Religiusisme memaparkan bahwa manusia bukan semata-mata makhluk jasmaniah, tetapi juga makhluk rohaniah. Memahami filsafat ilmu berarti memahami seluk- beluk ilmu pengetahuan sehingga sendi-sendi dan segi-segi yang paling mendasar untuk dipahami dalam perspektif ilmu yang terhubung dengan cabang-cabang ilmu lain. 24
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 27 BAB V LOGIKA ILMU DAN METODE BERPIKIR ILMIAH A. Hakikat Berpikir Berpikir merupakan suatu aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan kita. Berpikir juga dapat dikatakan suatu hal yang alamiah (fitrah atau natural) bagi setiap manusia yang sehat atau tidak gila adanya”unsurunsur” ciptaan yang telah diciptakan olh Allah SWT. Dalam proses berpikir sejatinya melibatkan unsur-unsur yakni: 1. Otak yang sehat 2. Pancaindra 3. Informasi sebelumnya, dan 4. Adanya fakta Berdasarkan unsur di atas dapat kita rangkai sebuah definis berpikir yaitu pemindahan pengindraan terhadap fakta melalui pancaindra ke dalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang digunakan untuk menapsirkan fakta tersebut. 1. Pengertian metode berpikir ilmiah Pemikiran ilmiah bukan pemikiran biasa. Pemikiran ilmiah adalah pemikiran yang sungguh-sungguh. Pemikiran yang sungguh-sungguh artinya suatu cara berdisiplin dimana seseorang yang tidak akan membiarkan ide dan konsep yang sedang dipikirkannya ke dalam tanpa arah, namun kesemuanya diarahkan pada suatu tujuan tertentu. Berpikir ilmiah atau berpikir keilmuaan adalah cara berpikir yang diarahkan dan disiplinkan kepada pengetahuan. Dalam kamus besar bahasa indonesia metod adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Peter R. Senn mengatakan, metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Metodelogi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Berdasarkan dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metod adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai dan mengetahui maksud 25
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 28 atau tujuan yang telah ditentukan secara efektif, efesien, dan optimal. Metode berfpikir ilmiah menurut Taqiyuddin an-Nabhani, metode berpikir ilmiah merupakan rangkaian cara dan langkah dalam dunia keilmuwan. Dictionary of behavioral science metod ilmiah merupakan teknik-teknik dan prosdurprosdur pengamatan dan percobaan yang menyelidiki alam yang dipergunakan oleh ilmuwan-ilmuwan untuk mengolah fakta-fakta, data, dan penafsirannya ssuai dengan asas-asas dan aturan-aturan tertentu. Arturo Rosenblueth mengatakan, metode ilmiah adalah suatu prosdur dan ukuran yang dipakai ilmuwan-ilmuwan dalam penyusunan dan pengembangan cabang pengetahuan khusus mereka. James B. Conant memberikan rumusan metode ilmiah menjadai delapan langkah yakni sebagau berikut. a. Kenali bahwa situasi yang tidak menentu ada b. Nyatakan masalah itu dalam istilah spesifik c. Rumuskan suatu hipotesis kerja d. Rancang suatu metode penyelidikan yang terkendalikan e. Kumpulkan dan catat data pembuktian atau data kasar f. Olah data kasar menjadi suatu pernyaraan yang mempunyai makna g. Tibalah pada suatu penegasan yang dapat dipertanggung jawabkan h. Satu padukan penegasan yang dapate dipertanggung jawabkan itu. Menurut pierce (dalam Kerlinger, 1973) terdapat empat metode untuk memahami sesuatu yaitu a. The method of tenacity (wahyu) b. The method of authory (otoritas) c. The a priory method ( intuisi) d. The method of secince (metode ilmiah) B. Bahasa keilmuwan Bahasa kilmuwan adalah suatu sarana yang digunakan dalam komunikasi keilmuwan. Terdapat beberapa unsur yang terlibat dalam komunikasi keilmuwan seperti: 26
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 29 a. Lambang (termasuk kata-kata dan tanda-tanda) b. Definisi c. Pernyataan dan logika Tujuh ciri ragam bahasa keilmuwan adalalah a. Cendikia Cendikia maksudnya mampu memberi prnyataan yang tepat dan seksama, sehingga gagasan penulis dapat diterima oleh pembaca. b. Lugas Paparan bahasa lugas dapat menghindari kesalahpahaman dan kesalah penapsiran isi kalimat. c. Jelas Mudah dipahami apabila bahasa yang dituangkan secara jelas dan hubungan anatara gagasan yang satu dengan yang lainnya. d. Formal Bahasa yang digunakan bersifat bahasa formal. e. Objektif Tidak hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak, tetapi diwujudkan dalam penggunaan kata. f. Konsisten Unsur bahsa, tanda baca, dan istilah digunakan dengan orientasi gagasan. g. Bertolak dari gagasan Bahasa keilmuwan digunakan dengan orintasi gagasan. h. Ringkas dan padat Merujuk pada kandungan gagasan yang diungkapkan dengan unsur-unsur bahasa. C. Kriteria dan model berpikir ilmiah Kriteria metode berpikir ilmiah antara lain: 1. Berdasarkan fakta 2. Bebas dari prasangka 3. Menggunakan prinsip-prinsip analisis 4. Menggunakan hipotsis 27
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 30 5. Menggunakan ukuran objektif 6. Dan menggunakan teknik kualifikasi D. Kelemahan dan Kelebihan Metode Berpikir Ilmiah Kelemahan pada metode berpikir ilmiah yaitu dapat dilihat dari segi : 1. Cakupan dan jangkauan dari kajiannya 2. Asumsi yang melandasinya 3. Kesimpulan yang bersifat relatif Metode rasional adalah metod tertentu dalam pengkajian yang ditempuh untuk mengetahui realitas susuatu yang dikaji, dengan jalan memindahkan pengindraan terhadap fakta melalui pancaindra ke dalam otak , disertai dengan adanya sejumlah informasi terdahulu yang digunakan untuk menafsirkan fakta-fakta tersebut. Dalam menggunakan metode berpikir rasional ada beberapa hal yang patut untuk diperhatikan yakni dalam pendfinisian mtode rasional dan melakukan penyimpulan. 28
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 31 BAB VI LOGIKA: POLA PENALARAN LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG A. Logika Penalaran Langsung Logika berasal dari bahasa Yunani kuno (logos) yang berarti hasil prtimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu ligika disebut dengan logik episteme merupakan ilmu yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Logika merupakan ilmu pengetahuan dimana objek materialnya adalah berpikir dan objek formal logika adalah berpikir atau penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya. Logika lahir bersama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Logika dapat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Logika dipakai untuk menarik kesimpulan dari suatu proses berpikir dan disini merupakan suatu penalaran untuk menghasilkan suatu pengetahuan. Logika scara garis besar dapat dipindahkan dalam dua bagian yaitu induksi dan deduksi. Induksi merupakan suatu cara berpikir dimana menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Deduksi adalah suatu cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Logika dipilahkan kedalam dua jenis yaitu logika alamiah dan logika ilmiah. Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-kinginan dan kecenderungan-kecndrungan yang subjktif. Kemampuan logika alamiah manusia ada mulai dari sejak lahir. Sedangkan logika ilmiah memperhalus, mempertajam pikiran serta akal budi. Logika ilmiah menjadi khsus yang meneruskan asas-asas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih lama. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau paling tidak mengurangi kesesatan. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang berbentuk infernsi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional 29
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 32 logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga dianggap sebagai cabang matematika. Adapun kegunaan logika secara terperinci sebagai berikut. 1. Membantu setiap orang yang memplajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis, dan koheren. 2. Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif 3. Menambah kecrdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri 4. Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas yang sistematis 5. Meningkatkan cinta kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir 6. Mampu melakukan suatu analisis terhadap suatu kejadian. Penalaran langsung merupakan penalaran yang premisnya hanya sebuah proposisi dan langsung disusul dengan proposisi lain sebagai kesimpulan. Penalaran tidak langsung dapat diuraikan perbedaannya dengan penaralaran langsung. Dalam penalaran tidak langsung penarikan kongklusi atas lebih dari satu proposisi. Apabila kongklusinya ditarik dari dua proposisi yang diletakan sekaligus, maka bentuknya disebut silogisme. Oleh karna itu silogisme merupakan penarikan kesimpulan atau kongklusi secara tidak langsung, kongklusinya diambil dari dua premis. Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat dianatar dua term. Suatu proposisi mempunyai tiga bagian yaitu subjek, prdikat, dan suatu bagian lagi yang merupakan suatu tanda yang menyatakan hubungan diantara subjek dan predikat yang disebut kopula. Penarikan konklusi adalah proses mendapatkan suatu proposisi yang ditarik lebih dari satu proposisi. Dalam propoisis ketgorik standar kopula itu lambangnya dalam bahasa berupa kata-kata adalah itu, ialah, sama dengan, dan sebagainya. Penalaran langsung dapat dilakukan dengan: 1. Conversi Conversi adalah sejenis penarikan kongklusi secara langsung dalam nama terjadi transposisi antara subjek dan predikat proposisi itu. 30
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 33 2. Observasi Observasi adalah sejenis penarikan konklusi secara langsung dalam mana terjadi prubahan kualitas proposisi, sedangkan artinya sedangkan artinya tetap sama. Prinsip-prinsip observasi yaitu subjek obverted, predikat obverse, kualitas obverse, dan kuantitas obverse. 3. Kontraposisi Kontraposisi adalah sejenis penarikan konklusi secara langsung dalam mana kita menarik konklusi dari suatu proposisi dengan subjek yang kontradiktoris dari prdikat yang diberikan. Konklusi dalam kontraposisi disebut kontrapositif, sedangkan untuk proposisi yang diberikan tidak ada nama yang tertentu. Proposisi yang berlaku dalam menarik kongklusi dngan kontraposisi adalah sebagai berikut. 1) Subjek konklusi adalah kontradiktori predikat yang diberikan. 2) Predikat konklusi adalah subjek proposisi yang diberikan. 3) Kualitas berubah 4) Tidak ada term yang tersbar dalam konklusi jika tidak tersbar pula dalam premis. 4. Inversi Inversi adalah sejenis penarikan konklusi secara langsung dimana subjek pada konklusi kontradiktiori dari subjek proposisi yang diberikan. Proposisi yang diberikan disebut inverted dan konklusi disebut inverse. Ada dua jenis inversi yaitu inversi penuh dan inversi sebagian. Inversi penuh adalah inversi yang prdikat invrsinya adalah kontradiktiori dari prdikagt proposisi yang dibrikan. Inversi sebagian adalah inversi yang prdikat inversnya sama dengan prdikat invrtednya. B. Logika Tidak Penalaran Langsung Penalaran tidak langsung adalah penalaran yang didasarkan atas dua proposisi atau lebih sebagai premis kemudian disimpulkan, (dalam Surajiyo, Astanto, & Andiani, 2005). Penyimpulan adalah suatu kegiatan manusia tertentu. Dalam dan dengan kegiatan penyimpulan itu, seseorang bergerak 31
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 34 menuju ke pengetahuan yang baru, dari pengetahuan yang dimiliki dan berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya itu. 1. Disebut ‘kegiatan manuia’, karena mencakup seluruh diri manusia, meskipun akalbudinya yang memegang kendali pimpinan; 2. Kata ‘bergerak’ ingin dinyatakan perkembangan pikiran manusia; 3. Dinyatakan ‘ke pengetahuan yang baru’, menunjukkan tujuan yang ingin dicapai dalam pemikiran. Pengetahuan yang baru itu juga disebut kesimpulan atau consequens. Hal ini juga menyatakan adanya suatu kemajuan. Kemajuan itu terletak dalam hal ini: pengetahuan yang baru sudah terkandung dalam pengetahuan yang lama, tetapi belum dimengerti dengan jelas. Dalam pengetahuan yang baru ini barulah dimengerti dengan baik dasar serta sebabnya suatu kesimpulan ditarik atau diambil; 4. Dinyatakan ‘dari pengetahuan yang telah dimiliki’ menunjukkan titik pangkal serta dorongan untuk maju. Dalam logika, hal ini disebut antecedens (yang mendahului) atau praemissae (premis, titik pangkal); C. Dinyatakan ‘berdasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya itu’ menunjukkan bahwa antara pengetahuan yang baru dan pengetahuan yang lama ada hubungan yang bukan kebetulan. Hubungan ini disebut consequentia (konsekuensi) atau hubungan penyimpulan. Baik antecedens maupun consequentia selalu terdiri atas keputusan. Keputusan pada gilirannya terdiri atas term-term. Baik keputusan-keputusan maupun term-term merupakan materi penyimpulan. Sedangkan hubungan penyimpulan (konsekuensi) merupakan forma penyimpulan itu D. Macam-macam Penyimpulan a. Dari sudut bagaimana terjadinya (Surajiyo, Astanto, & Andiani, 2005) menyatakan sebagai berikut. 1) Penyimpulan yang langsung (secara intuitif). Dalam penyimpulan ini tidak diperlukan pembuktian-pembuktian. Secara langsung disimpulkan bahwa subyek (S) = predikat (P). Misalnya, ‘ini hijau’, ‘itu Pak Hasan’. 32
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 35 2) Penyimpulan yang tidak langsung. Penyimpulan ini diperoleh dengan menggunakan term-antara (M). Dengan term-antara diberikan alasan mengapa subyek (S) = predikat (P) atau subyek (S) ≠ predikat (P). Misalnya ‘semua manusia (M) akan mati (P)’, Pak Hasan (S) adalah manusia (M)’, kesmimpulannya ‘Pak Hasan (S) akan mati (P). b. Dari sudut isi (benar) dan bentuk (lurusnya). Kesimpulan pasti benar: 1) Apabila premisnya benar dan tepat. Hal ini adalah sudut material penyimpulan. Misalnya ‘Semua manusia akan mati’, dan ‘Pak Hasan adalah manusia’. 2) Apabila jalan pikirannya lurus; artinya, hubungan hubungan antara ‘premis dan kesimpulannya haruslah lurus. Inilah sudut formal suatu penyimpulan. Misalnya ‘Semua manusia akan mati’, dan ‘Pak Hasan adalah manusia’; kesimpulannya ‘Pak Hasan akan mati’. Hukum-hukum yang berlaku untuk segala macam penyimpulan a. Jika premis-premis benar, maka kesimpulan juga benar; b. Jika premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, tetapi dapat juga kebetulan benar; c. Jika kesimpulan salah, maka premis-premis dapat benar; d. Jika kesimpulan benar, maka premis-premis dapat benar, tetapi dapat juga salah. Dengan ini mau dikatakan bahwa: a. Jika premis-premis benar, tetapi kesimpulan salah, maka jalan pikirannya (bentuknya) tidak lurus; b. Jika jalan pikirannya (bentuknya) memang lurus, tetapi kesimpulannya tidak benar, maka premis-premis salah. Dari salahnya kesimpulan dapat dibuktikan salahnya premis-premis. Pada saat membicarakan ‘perlawanan subaltern’, kata ‘induksi’ dan ‘deduksi’ sudah disinggung. Lebih lanjut akan diuraikan: a. Induksi adalah suatu proses yang tertentu. Dalam proses ini akal budi menyimpulkan pengetahuan yang ‘umum’ atau ‘universal’ dari pengetahuan yang ‘khusus’ atau ‘partikular’. Dengan induksi berarti 33
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 36 mengangkat barang atau hal yang individual yang tertentu, ke tingkat yang universal. Dengan induksi diperoleh pengertian yang umum tentang barang, hal, kejadian yang kongkrit serta individual. Halini terjadi dengan ‘abstraksi’, yaitu dengan melepaskan sifat-sifat kongkrit dan menentukan sifat ini atau hakekat sesuatu. Misalnya pernyataan: ‘Pak Abu Bakar, Pak Umar, Pak Usman, Pak Ali, dst., disukai orang, mereka adalah para dermawan, ’, dapat disimpulkan bahwa ‘Para dermawan banyak disukai orang’. b. Deduksi, sebaliknya, juga merupakan suatu proses tertentu. Dalam proses ini, akal budi menyimpulkan pengetahuan yang lebih ‘khusus’ dari pengetahuan yang lebih ‘umum’. Hal yang lebih ‘khusus’ ini sudah termuat secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum. Misalnya pernyataan: ‘Para dermawan banyak disukai orang’, dalam kenyataannya ‘Pak Abu Bakar, Pak Umar, Pak Usman, Pak Ali, dst., disukai orang, karena mereka adalah para dermawan’. c. Induksi dan deduksi selalau berdampingan. Keduanya selalu bersamasama dan saling memuat. Induksi tidak dapat ada tanpa desuksi. Deduksi selalu dijiwai induksi. Dalam proses memperoleh ilmu pengetahuan, induksi biasanya mendahului deduksi. Sedangkan dalam logika biasanya deduksilah yang terutama dibicarakan lebih dahulu. Deduksi dipandang lebih penting untuk latihan dan perkembangan pikiran. E. Konservasi dan Observasi Surajiyo, Astanto, & Andiani, (2005) menyatakan bahwa konversi adalah suatu bentuk penyimpulan langsung yang didalamnya term subjek dan term predikat dari suatu proposisi yang ada diubah urutannya tanpa mengubah kualitas dan kebenaran proposisiitu. Proses perubahan proposisi itu membuat subjek proposisi asal menjadi predikat proposisi yang baru., dan predikat proposisi asal menjadi subjek proposisi yang baru. Proposisi yang baru, yang merupakan kesimpulan dari proposisi asal itu disebut konversi. 34
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 37 Misalnya, konversi dari “Semua kuda adalah hewan” adalah “Beberapa hewan adalah kuda” . Konversi dari “Tidak ada anjing adalah kucing” adalah “Tidak ada kucing adalah anjing” . Konversi dari “Beberapa ular adalah binatang berbisa” adalah “Beberapa binatang berbisa adalah ular”. Surajiyo, Astanto, & Andiani, (2005) menyatakan jenis-jenis konversi sebagai berikut. 1. Konversi Simple (Konversi Seluruhnya) adalah kualitas term subjek dan term predikat yang diubah posisinya tidak berubah. Hanya proposisi E dan I yang dapat dikonversikan secara simple. 2. Konversi Aksidental (Konversi Sebagian) adalah term subjek dan term predikat yang dikonversikan mengalami perubahan kuantitas ini terjadi ketika A dikonversikan menjadi I dan E di konversikan menjadi O. Agar konklusi benar, ketentuan berikut harus diperhatikan: (*) Jika proposisi A dikonversikan, hasilnya ialah proposisi I. (*) Jika proposisi E dikonversikan, hasilnya ialah proposisi E. (*) Jika proposisi I dikonversikan, hasilnya ialah proposisi I. (*) Proposisi O Tidak dapat dikonversikan. Contoh : 1. Konversi Proposisi A Premis : Semua filsuf adalah manusia (A) Konklusi : Sebagian manusia adalah filsuf (I) 2. Konversi Proposisi E Premis : Tak seorangpun filsuf adalah kera (E) Konklusi : Tak satupun kera adalah filsuf (E) 3. Konversi Proposisi I Premis : Beberapa anggota ABRI adalah sarjana Konklusi : Beberapa sarjana adalah anggota ABRI 4. Konversi O tidak dapat dikonversikan. Obversi merupakan sejenis penarikan konklusi secara langsung yang menyebabkan terjadinya perubahan kualitas sedangkan artinya tetap sama. Dengan perkataan lain, obversi memberikan persamaan dalam bentuk negatif bagi proposisi afirmatif atau persamaan dalam bentuk afirmatif bagi proposisi negatif. 35
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 38 Contoh: Semua mahasiswa adalah orang-orang intelek. (premis) Kesimpulan : Tak ada mahasiswa adalah orang-orang yang tak intelek. Tak ada yang tak intelek adalah mahasiswa. Surajiyo, Astanto, & Andiani, (2005) menyatakan bahwa silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Macam-macam Silogisme : Silogisme Kategorial Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). Contoh: Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor) Akasia adalah tumbuhan (premis minor). Akasia membutuhkan air (Konklusi) Silogisme Hipotetik Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik: Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent. Contoh: Jika hujan saya naik becak.(mayor)] Sekarang hujan.(minor) Saya naik becak (konklusi). Silogisme Alternatif. Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain. 36
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 39 Contoh: Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor Nenek Sumi berada di Bandung. Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor. Silogisme Disjungtif Silogisme disjungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disjungtif sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang semestinya. Silogisme ini ada dua macam yaitu: Silogisme disjungtif dalam arti sempit Silogisme disjungtif dalam arti sempit berarti mayornya mempunyai alternatif kontradiktif. Contoh: Heri jujur atau berbohong.(premis1) Ternyata Heri berbohong.(premis2) Ia tidak jujur (konklusi). Silogisme disjungtif dalam arti luas silogisme disyungtif dalam arti luas berarti premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif. Contoh: Hasan di rumah atau di pasar.(premis1) Ternyata tidak di rumah.(premis2) Hasan di pasar (konklusi). F. Kaidah-kaidah Silogisme Kategoris 1. Term a. Silogisme tidak boleh mengandung kurang dari 3 term (minor, mayor, menengah) b. Term antara (pembandingan) tidak boleh masuk ke dalam kesimpulan. c. Term subjek dan predikat dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas dari term premis. d. Term antara (pembanding) harus sekurang-kurangnya satu kali muncul sebagai term/ pengertian universal. 2. Proposisi a. Apabila kedua premis positi maka kesimpulan harus positif. 37
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 40 b. Kedua premis tidak boleh negatif, premis keduanya negatif tidak dapat melahirkan kesimpulan. c. Kedua premis tidak boleh partikular, setidak-tidaknya satu universal. d. Kesimpulan harus mengikuti premis yang paling lemah. G. Silogisme Tidak Beraturan Surajiyo, Astanto, & Andiani, (2005) menyatakan bahwa Silogisme tidak beraturan bisa dibagi dua jenis yaitu silogisme dihilangkan (Entimema) dan silogisme yang digabungkan (Epikeirema, Sorites, dan Polisilogisme). H. Pola Penalaran Induksi Induksi merupakan pola penalaran untuk melakukan penyimpulan dalam logika dari kasus-kasus individual atau particular menuju kepada kasus-kasus umum/universal. Menurut John Stuart Mill (1806-1873), induksi sebagai kegiatan budi, dimana kita menyimpulkan bahwa apa yang kita ketahui benar untuk semua kasus-kasus khusus, juga akan benar untuk semua kasus yang serupa dengan yang tersebut tadi dalam hal-hal tertentu. Dalam penelitian melalui metode tertentu dilengkapi dengan sejumlah bukti maka pernyataan umum itu dsebut dengan tesis dan teori, dan akan menjadi sebuah hukum (law) jika kebenarannya tidak terbantah lagi. PernyataanDalam pola penalaran induksi juga terdapat analogi induksi dimana kesimpulannya bukan berupa pernyataan umum, namun berupa pernyataanpernyataan yang pembuktiannya berdasarkan pada unsure-unsur yang sama dengan mengabaikan perbedaan. Pola penalaran seperti ini disebut dengan pola penalaran induksi. Prinsip dasar dalam penyimpulan dalam penalaran induksi adalah objek empiris, tidak perlu mencapai kebenaran yang mutlak atau permanen, cukup dengan memiliki peluang untuk benar atau tepat. Tingkat-tingkat kebenaran dalam pola penalaran induksi ditentukan oleh sejumlah factor probabilitas yang terdiri dari sejumlah fakta, jumlah factor dis analogi dan luas sempitnya kesimpulan. 38
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 41 BAB VII KESESATAN DALAM BERPIKIR ILMIAH A. Kesesatan Berpikir Kesesatan adalah kesalahan yang terjadi dalam aktivitas berpikir dikarenakan penyalahgunaan bahasa dan atau penyalahan relevansi. Kesesatan merupakan bagian dari logika, dikenal juga sebagai fallacial/fallacy, dimana beberapa jenis kesesatan penalaran dipelajari dari argumentasi logis. Kesesatan terjadi karena dua hal yakni: 1. Ketidaktepatan bahasa : pemilihan terminology yang salah 2. Ketidaktepatan relevansi: pemilihan premis yang tidak tepat Menurut John Locke, psikolog dan juga ahli filsafat kesesatan berpikir pada akhirnya akan termanifestasi pada perilaku yang juga sesat. Pertama, kesesatan yang terjadi karena subyek sesungguhnya jarang berpikir sendiri dan berpikir atau bertindak sesuai dengan apa yang dipkirkan dan dilakukan orang lain. Kedua, kesesatan dimana subyek bertindak seakan sangat menghargai rasio, tetapi kenyataannya tidak menggunakan rasionya dengan baik.Ketiga, kesesatan yang terjadi akibat subjek tidak terbuka untuk melihat persoalan secara komprehensif; terpaku pada pendapat atau pendekatan tertentu, orang tertentu atau sumbertertentu. Mengingat cara bagaimana penalaran manusia mengalami kesesatan sangat bervarasi, namun secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material. Macam-macam atau klasifikasi kesesatan yang disebabkan oleh bahasa adalah : 1. Kesesasatan aksentuasi 2. Kesesatan ekuivokasi 3. Kesesatan amfiboli 4. Kesesatan metaforis Sedangkan klasifikasi yang disebabkan oleh relevansi adalah 1. Argumentum ad Hominem 1 39
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 42 2. Argumentum ad hominem 2 3. Argumentum ad baculum 4. Argumentum ad misericordiam 5. Argumentum ad populum 6. Argumentum auctoritatis 7. Argumentum ad verecundiam 8. Ignaratio elenchi 9. Argumentum ad ignoratiam 10. Petition princippii 11. Kesesatan non causa pro causa 12. Kesesatan aksidensi 13. Kesesatan komposisi dan divisi 14. Kesesatan pertanyaan yang kompleks B. Etika Ilmu Suatu ilmu dan etika adalah sumberpengetahuan yang diharapkan dapat meminimalisasikan dan menghetikan perilaku menyimpang di kalangan masyarakat. Etika dalam bahasa Inggris disebut ethic (singular) yang berarti a system moral principles or rules of behavior , atau suatu sistem, prinsip moral, aturan cara berperilaku. Akan tetapi apabila ethic tersebut mendapat tambahan huruf (s) dibelakangnya menjadi ethics berarti the branch of philosophy that deals with moral principles, suatu cabang filsafat yang memberikan batasan prinsip-prinsip moral. Dalam bahasa Yunani etika berarti ethikos mengandyng arti penggunaan karakter, kebiasaan, kecenderungan dan sikap yang mengandung analisis konsep-konsep harus, mesti, moralitas,benar-salah, serta mengandung pencarian kehidupan yang bai secara moral. Etika secara lebih detail merupakan ilmu yang membahas tentang moralitas atau tentang manusia sejauh berkaitan dengan moralitas. Penyelidikan tingkah laku moral dapat diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu; (i) etika deskriptif yang mendeskripsikan tingkah laku moral dalam arti luas, (ii) etika normative dikatakan sebagai participation approach 40
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 43 karena yang bersangkutan telah melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia., (iii) metaetika bergerak seolah-olah ke taraf yang lebih tinggi daripada perilaku etis. Terdapat hubungan antara etika dan moral, maka akan diulas sekilas tentang moral. Moral berasal dari bahasa Latin yang berarti moralis, yang berarti adat istiadat, kebiasaan, cara dan tingkahlaku. Moral berarti sesuatu yang menyangkut prinsip benar dan salah dari suatu perilaku dan menjadi standar perilaku manusia. Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam penilaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai. Adapun etika dapat dipakai untuk pengkajian sistem moral yang ada. Etika memberikan semacam batasan maupun standar yang mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya. Etika kemudian diturunkan dalam aturan tertulis yang sistematis dibuat berdasarkan prinsip moral yang ada. Ilmu sebagai asas moral atau etika mempunyai kegunaan khusus yakni kegunaan universal bagi umat manusia dalam maningkatkan martabat manusia. Dengan ilmu maka diharapkan dapat membangun masyarakat ilmiah , berbudaya ilmu pengetahuan. C. Moralitas Ilmu Pengetahuan Proses pencarian dan penemuan kebenaran ilmiah yang dilandasi etika,merupakan kategori moral yang menjadi dasar sikap etis seorang ilmuwan. Ilmuwan bukan saja berfungsi sebagai penganalisis materi kebenaran, tetapi juga harus menjadi prototipe moral yang baik. Pengingkaran atau perlawanan etika dalam ilmu pengetahuan adalah pelanggaran terhadap prinsip-prinsip etika keilmuan. 41
Epistemologi dan Logika Pendidikan Page 44 DAFTAR PUSTKA Adib, Mohammad. (2010). Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi Dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Achmadi, Asmoro. (2012). Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Ihsan, A. Fuad. (2010). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rineka Cipta Tafsir, Ahmad. (2009). Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pribadi, Sikun. (1983). Filsafat Antropologi. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP. Surajiyo., Astanto, Sugeng., & Andiani, Sri. (2005). Dasar-dasar Logika. Jakarta: Bumi Aksara. Susanto, A.(2011). FilsafatIlmu. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hakim, & Ahmad Saebani. (2008). Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia. http://ebookcollage.blogspot.com/2013/06/pengaruh-epistemologi.html http://darul-ulum.blogspot.com/2008/05/dasar-dasar-pengetahuan.html http://barabbasayin.blogspot.com/2013/07/pengertian-dan-ruanglingkup.html http://darul-ulum.blogspot.com/2008/05/dasar-dasar-pengetahuan.html 42