SAYA SEBAGAI ANAK TUNGGAL
Nama saya Agisna Aisyah Rani saya adalah anak tunggal yang sejak usia 2 tahun hidup bersama Ayah dan Nenek saya. Sejak saya masih kecil saya lebih dekat dengan Nenek dari pada Ayah saya sendiri. Lahir sebagai anak tunggal membuat saya menjadi seorang yang mandiri, terlebih saya seorang anak perempuan yang jauh dari Ibunya. Selama mengalami pertumbuhan segala persoalan mengenai wanita saya pahami sendiri. Saya termasuk anak tunggal yang tertutup, memiliki ego yang tinggi, dan juga sensitif. Saya juga termasuk anak yang sulit untuk menunjukkan rasa kasih sayang saya kepada orang tua. Banyak orang mengira bahwa anak tunggal itu manja karena perhatian orang tua terpusat kepadanya. Nyatanya tidak seperti itu, saya dituntut agar menjadi anak yang tidak bergantung kepada orang tua dan dapat bertanggungjawab untuk diri saya sendiri. Hidup menjadi anak tunggal adakalah menjadi suatu kebahagiaan dan menjadi suatu kesedihan bagi saya. Fakta mengenai diri saya
Saya merasa bersyukur karena menjadi anak tunggal membuat saya lebih mandiri dan dewasa dalam menyikapi segala persoalan. Contohnya seperti sekarang saya bangga karena saya dapat menghasilkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keingian saya yang belum terpenuhi dari hasil kerja sampingan tanpa harus meminta kepada orang tua. Saat saya memiliki pertanyaan atau masalah mengenai persoalan anak remaja, saya selalu merasa bingung kepada siapa saya harus bercerita. Saya pikir sulit untuk bercerita kepada Ayah karena saya tertutup kepada Ayah saya, dan untuk bercerita kepada Nenek karena selisih usia yang cukup jauh saya pikir beliau tidak akan paham mengenai situasi dan perasaan yang saya rasakan pada saat itu. Ada perasaan takut dalam diri saya jika suatu saat Ayah dan Nenek sudah tidak ada. Ketakutan tersebut membuat saya berpikir akan hidup seperti apa jika tidak ada orang tua, saya takut suatu saat saya masih butuh perhatian dari orang tua saya. Perasaan yang saya rasakan selama saya menjadi anak tunggal, yaitu:
Saya merasa sedih ketika harus menghadapi suatu kondisi yang rumit, saya merasa membutuhkan seseorang yang paham mengenai diri saya dan dapat dijadikan tempat untuk bercerita. Pada kondisi tersebut terkadang saya ingin memiliki saudara kandung yang memiliki ikatan emosional yang positif. Seringkali saya merasa kesepian ketika saya bosan. Terkadang saya pikir akan senang jika memiliki saudara kandung yang dapat diajak bermain bersama dan mengisi waktu luang di rumah. Perasaan yang saya rasakan selama saya menjadi anak tunggal, yaitu:
Sebagai anak tunggal, seluruh perhatian dan kasih sayang orang tua hanya tertuju kepada diri saya sendiri. Termasuk perihal pendidikan, orang tua saya hanya fokus memperhatikan pendidikan saya. Saya mampu bertanggungjawab kepada diri sendiri dan keluarga, saya membantu orang tua untuk tugas-tugas rumah tangga dan saya bertanggungjawab kepada diri saya dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan sendiri. Menjadi anak tunggal itu mandiri karena saya tidak memiliki saudara yang dapat diandalkan. Sehingga segala sesuatu kita belajar sendiri. Karena hal tersebut saya jadi merasa lebih berani ketika harus melakukan suatu hal baru di lingkungan sosial. Terlahir sebagai anak tunggal hal positif yang saya dapatkan, yaitu:
Merasa kesepian karena tidak memiliki saudara kandung untuk diajak bermain atau berbagi pengalaman sehari-hari. Menjadi beban ekspektasi orang tua, karena anak satusatunya maka orang tua sya menaruh harapan yang berlebih hanya kepada saya. Sulit beradaptasi dengan orang lain, karena terbiasa sendiri saya menjadi canggung dan sulit untuk bergaul dengan orang baru. Menjadi seorang yang tertutup dan memendam perasaan. Segala permasalahan yang dihadapi tidak dapat disalurkan kepada orang yang menurut saya tepat, sehingga hal tersebut sering kali saya pendam. Merasa memiliki beban yang berat, karena selalu berpikir segala sesuatu harus bisa saya lakukan sendiri dan hanya saya satu-satunya yang harus bertanggungjawab kepada keluarga kelak dimasa depan. Memikirkan bagaimana cara agar tidak mengecewakan orang tua dan dapat membanggakan orang tua. Kendala yang saya hadapi sebagai anak tunggal, yaitu:
Ketika merasa bosan dan kesepian, saya memilih untuk melakukan hal-hal yang saya sukai seperti menggambar, memasak, menonton film ataupun mengajak hewan peliharaan saya untuk bermain. Ketika saya dihadapi masalah dan bingung untuk bercerita, saya memilih untuk menuangkan segala isi perasaan saya ke dalam aplikasi note di ponsel saya. Pada saat menghadapi kondisi seperti itu saya lebih senang untuk membaca beberapa tulisan yang positif yang dapat menenangkan diri saya ataupun videovideo yang dapat menghibur perasaan saya. Ketika memiliki banyak pikiran saya selalu berusaha berpikir positif dan mencoba untuk lebih sering mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika saya merasa jarang berbicara dengan Ayah, saya selalu mencoba untuk menurunkan ego saya dan berani untuk memulai obrolan. Solusi yang harus saya lakukan dalam menghadapi kendala, yaitu:
Saya akan lebih bersyukur dan menghargai diri saya sendiri karena saya mengetahui bagaimana sulitnya menjadi anak tunggal. Saya menjadi lebih mengerti dan paham bahwa mendekatkan diri kepada keluarga itu penting, karena kelak saya sendiri yang memiliki tanggung jawab untuk mengurus orang tua saya ketika mereka sudah tua dan tugas saya untuk membanggakan mereka. Saya mengerti bahwa setiap didikan orang tua itu untuk kebaikan anaknya sendiri. Dan saya paham setiap orang tua itu memiliki caranya sendiri untuk mendidik anaknya. Saya paham bahwa menunjukan rasa kasih sayang kepada orang tua itu sangat penting karena hal tersebut menjadi salah satu alasan orang tua bahagia. Maka dari itu saya akan selalu berusaha untuk lebih mendekatkan diri dan terbuka kepada orang tua saya. Melalui refleksi diri, saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa:
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA