Diagram 1
Simbol-Simbol yang sering digunakan dalam Pantun
SIMBOL ALAM
SIMBOL DI SIMBOL
DALAM PANTUN TUMBUHAN
SIMBOL HEWAN
Sumber: Eizah Mat Hussain, 2019
Kebanyakan kiasan di dalam pantun menggunakan unsur alam terutama simbol tumbuhan dan
hewan yang mempengaruhi pemikiran masyarakat Melayu dan menghasilkan pantun. Masyarakat
Melayu mempelajari alam dalam kehidupan yang saling bergantungan kepada alam dan perlakuan
alam dalam kehidupan yang saling bergantungan kepada alam dalam meneruskan kelangsungan
hidup. Perlakuan alam hewan dipelajari melalui proses mencari rezeki seperti memburu,
menangkap ikan di luat dan sungai yang memberikan pengetahuan mengenai alam hewan.
Sementara dari alam tumbuhan masyarakat Melayu belajar mengenai berkebun, bertani, mencari
hasil hutan, dan lain-lain yang mendedahkan masyarakat Melayu untuk membaca dan menafsirkan
perlakuan tumbuhan tersebut (Hussain, 2019).
Perlakuan alam tumbuhan dan hewan dibaca dan ditafsifrkan oleh masyarakat Melayu untuk
memahami sesuatu yang akan berlaku atau sesuatu yang telah berlaku. Perlakuan alam seperti
mengetahui perasaan manusia dan menjadi tanda, memberi peringatan dan merayakan sesuatu
kejadian atau peristiwa tertentu. Dalam hal ini kebijaksanaan masyarakat Melayu dipamerkan
dengan penggunaan simbol alam hasil perenungan terhadap alam. Hasil perenungan terhadap alam
itu, telah dipindahkan ke dalam pantun yang dijadikan simbol untuk menyampaikan sesuatu tujuan
atau maksud yang hendak disampaikan.
Komunikasi simbolik yang disampaikan pantun dapat dilihat dari citra yang tergambarkan
melalui Pembayang atau Sampiran pantun atau bahkan hubungan antara pembayang dan isi
pantun. Salah seorang pengkaji pantun bernama Philip L. Thomas dalam sebuah makalahnya yang
berjudul Phonology and Semantic Suppression in Malay Pantun (1985) menjelaskan bahwa di
dalam pantun terdiri dari empat baris yang tersusun secara berpasangan. Pasangan pada baris
pertama disebut dengan “Pembayang Maksud”, dalam istilah lain yang ditulis oleh Philip L.
251
Thomas disebut dengan “Pendahulu Niat” atau foreshadower of intention yang mendeskripsikan
tentang alam. Kemudian Philip L. Thomas (1985) melanjutkan penjelasannya, di dalam pasangan
baris kedua disebut dengan “Maksud” atau Niat. Philip L. Thomas (1985) kemudian menjelaskan
bahwa pasangan ini memiliki persajakan atau rima dengan notasi ABAB. “Pembayang Maksud”
atau lebih sering dikenal dengan Sampiran memang merupakan bagian dari sebuah pantun yang
biasanya tertulis pada baris pertama dan kedua dalam sebuah pantun yang terdiri dari empat baris,
sementara baris ketiga dan keempat itulah “Maksud” atau lebih sering dikenal dengan isi pantun.
Namun apa sebenarnya hubungan antara “Pembayang Maksud” dengan “Maksud” dalam
sebuah pantun. Seorang pengkaji pantun, Muhammad Haji Salleh pernah mengutip pendapat Za’ba
dan kemudian ditulis oleh Eizah Mat Hussain (2019) di dalam sebuah bukunya berjudul “Simbol
dan Makna dalam Pantun Melayu”, yang menjelaskan bahwa,
“…jika pantun yang cukup elok boleh dilihat pembayangnya mengandungi maksud pantun
itu dengan cara kias dan bayangan disambilkan kepada gambaran-gambaran alam dan
sebagainya. Tujuan yang dimaksud itu telah ada terbayang disitu, tetapi nada terang
seolah-olah sengaja ditudung…” (Za’ba, 1965; Salleh, 2006; Hussain, 2019).
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa “Pembayang Maksud” juga
merupakan bagian yang menentukan apakah sebuah pantun itu baik dan indah. Pendapat di atas
telah jelas mengatakan bahwa pantun yang elok itu adalah ketika di dalam “Pembayang Maksud”
telah dapat merepresentasikan “Maksud” pantun itu, itulah yang menurut pendapat di atas, sebuah
nada yang sudah terang namun sengaja ditudung atau disembunyikan.
Hal itu juga yang menyebabkan bagian “Pembayang Maksud” disebut dengan “Pembayang”
yang membayangi “Maksud” atau meminjam istilah lain Philip L. Thomas sebagai “Pendahulu
Niat”, di mana penulis pantun “mendahulukan niat” atau isi pantun yang ingin disampaikan pada
bagian “Pembayang Maksud” dalam sebuah pantun yang disampaikan. “Maksud” yang
sebenarnya terkandung di dalam pantun tersebut sudah akan terlihat di dalam “Pembayangnya”
tapi sengaja ditudung, dan akan diterang seterang-terangnya di dalam “Maksud” pada sebuah
pantun. “Pembayang Maksud” juga sering dituangkan dalam metafora atau kiasan alam dan
sebagainya yang dapat mewakili makna “Maksud” pantun tersebut. Mari perhatikan pantun
berikut.
Berpada-pada menanam padi
Jangan pula ditebas orang
Berpada-pada menanam budi
Karena mata di anak orang
(Sumber: Kerongsang-500 Pantun Warisan, 2021)
Pantun di atas, memiliki “Pembayang Maksud” yang berbunyi “berpada-pada menanam
padi/jangan pula ditebas orang”. Arti dari “Berpada-pada” adalah melakukan sesuatu yang tidak
252
berlebihan (KBBI, 2021). Sementara kata “Padi” pada “Pembayang Maksud” diambil menjadi
simbol alam yang akan menggambarkan “maksud” pantun itu nantinya. Padi bagi orang Melayu
bukan saja sebagai bahan makanan utama, malah telah menjadi sebagian daripada kehidupan yang
merupakan ciri nyata dalam kebudayaan masyarakat Melayu. Kata “Padi” ialah perkataan asli
dalam bahasa Melayu yang dapat ditemukan dalam pepatah seperti “ada padi semua kerja boleh
jadi, ada beras semua kerja menjadi deras, kalau tiada padi semua kerja tak jadi dan bukan tanah
menjadi padi” (Azis, 2010; Hussain, 2019). Dengan demikian, begitu pentingnya padi bagi
kehidupan masyarakat Melayu. Dikarenakan begitu pentingnya padi, kita harus menanamnya pada
tempat yang tepat dan tidak berlebih-lebihan, misalnya untuk menanamnya mengambil lahan atau
tanah orang lain yang bisa saja padi yang begitu penting akan dirusak orang, diambil orang ataupun
ditebas orang.
“Pembayang Maksud” di dalam pantun ini mencoba menjadi “Pendahulu Niat” yang akan
tertuang dalam “Maksud” pantun dengan menampakkan suatu makna peringatan dari penutur
pantun kepada khalayak ramai yang mendengarkan atau membaca pantunnya. Sehingga “Maksud”
pantun juga memiliki makna yang serupa dengan “Pembayang Maksud” yaitu berbunyi “Berpada-
pada menanam budi/karena mata di anak orang”. Bunyi persajakan “Padi” dan “Budi” menjadi
persamaan rima pada baris pertama dan ketiga yang memiliki makna yang hampir serupa. Budi
merupakan sikap yang dapat diartikan berbuat baik kepada orang lain. Budi juga salah satu
daripada norma hidup yang begitu dipentingkan dalam budaya masyarakat Melayu. Masyarakat
Melayu melihat rupa dan paras jiwa itu berbentuk budi, yaitu suatu pribadi yang mengandung akal
dan rasa (Zainal King, 1995; Hussain; 2019). Budi juga dipandang sebagai sikap rendah hati
seseorang kepada orang lain (Hussain, 2019). Dengan demikian, budi sama pentingnya dengan
padi, sehingga di dalam pantun ini, pada “Pembayang Maksud” dan “Maksud” menggunakan
metafora Padi yang menjadi pembayang makna atau pendahulu niat untuk menyampaikan sesuatu
yang berguna dan penting seperti budi. Kata yang tertuang di dalam “Maksud” pantun di atas juga
menggunakan kata “Berpada-pada” yang mengandung makna bahwa dalam menebar budi atau
kebaikan ataupun kerendahan hati harus dilakukan juga tidak dengan berlebih-lebihan, ibarat
dalam sebuah pepatah Melayu “jangan dilebih nasi dari sudu” karena sesuatu yang berlebihan akan
menimbulkan suatu perkara yang tidak baik, sehingga di dalam pantun di atas berbunyi “karena
mata di anak orang”, makna salah satu baris pada “Maksud” pantun ini yaitu apa yang kita lakukan
harus sewajarnya atau berpada-pada karena bisa jadi penilaian orang lain akan bermacam-macam,
ada yang menilai baik atas perbuatan baik kita, atau akan ada orang lain yang akan menilai
sebaliknya atas kebaikan kita tersebut. Oleh karena itu, lakukan kebaikan dengan “berpada-pada”
yaitu tidak berlebih-lebihan.
Itulah salah satu pantun yang “Pembayang Maksud” benar-benar menjadi “Pendahulu Niat”
atas niat yang akan tertuang dalam “Maksud” pantun sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Di situlah salah satu letak keelokan dan keindahan pantun di mana “Pembayang Maksud”
mengandungi “Maksud” pantun itu dengan nada yang seolah terang namun sengaja ditudung.
Bahkan di dalam pantun antara “Pembayang Maksud” dan “Maksud” terdapat yang keduanya
253
memiliki persamaan makna dan keduanya sama-sama dikiaskan dengan bukan makna sebenarnya.
Perhatikan pantun berikut.
Kutimang timang si anak kucing
Rupanya mencakar ketika besar
Kusayang sayang bunga disunting
Rupanya pagar memakan akar
(Sumber: Kerongsang-500 Pantun Warisan, 2021)
Pada pantun di atas, “Pembayang Maksud” mengunakan metafora “anak kucing” yang dapat
diartikan sebagai sesuatu yang comel atau lucu dan diminati banyak orang, begitu juga pada
“Maksud” pantun menggunakan metafora “bunga” yang dapat dimaknai dengan sesuatu yang
cenderung indah dan harum serta diminati banyak orang khususnya kaum hawa. “Pembayang
Maksud” mengandung makna bahwa penutur pantun melakukan perbuatan yang sangat baik yaitu
“menimang-nimang” tetapi balasan yang diperoleh tidak setimpal. Begitu juga makna dalam
“Maksud” pantun yang juga mengandung makna telah melakukan perbuatan “menyayangi” bunga
tetapi pada akhirnya hasilnya juga tidak setimpal, di mana bunga akarnya rusak terkena pagar.
Pada “Pembayang Maksud” memang menjadi pembayang makna pada “Maksud” yang sama-sama
bermakna yaitu suatu perbuatan baik yang sudah lama dan susah payah dilakukan tapi pada
akhirnya mendapatkan balasan yang tidak setimpal. Metafora di dalam pantun ini senada dengan
apa yang disampaikan Za’ba (Ahmad, 2017) bahwa metafora di dalam bangsa Melayu selalu
dikiaskan kepada perkara lain yang memiliki makna yang bukan makna sebenarnya, disitulah letak
keelokan sebuah pantun.
Terlepas dari hubungan yang menarik antara pembayang atau sampiran dengan isi pantun, dua
pantun di atas menggunakan simbol tumbuhan berupa Padi, simbol hewan seperti kucing dan juga bunga
sebagai simbol tumbuhan. Memperlihatkan bahwa sifat komunikasi yang disampaikan melalui kedua
pantun di atas adalah hight context communication atau komunikasi tingkat tinggi, di mana makna yang
disampaikan adalah bersifat implisit dan bukan terus terang. Ketidakterusterangan pola komunikasi yang
dibangun oleh masyarakat Melayu adalah suatu media agar ketika menyampaikan sesuatu tidak
menimbulkan efek buruk atau istilahnya “mencubut tanpa rasa sakit”.
SIMPULAN
Pantun bukan saja sebagai sebuah karya sastra, melainkan juga sebagai tradisi lisan yang
menyimpan suatu pola komunikasi tingkat tinggi. Orang Melayu sangat gemar menggunakan
pengandaian dan metafora yang diperoleh dari alam. Metafora alam termasuk penggunakan metafora
tumbuhan dan hewan atau kejadian-kejadian alam diambil dari pengalaman masyarakat Melayu belajar
dari alam dan kemudian menafsirkannya menjadi bagian dari hidup mereka. Masyarakat Melayu belajar
dari angin, laut, bukit, awan, atau dari semak belukar, pohon tinggi menjulang, atau belajar dari ganasnya
hewan, dan liarnya alam sekitar. Kesemua itu bukan saja diperhatikan tapi juga ditafsirkan ke dalam
254
hidup sehari-hari yang kemudian menjadi kiasan dan simbol dalam pantun yang mereka ciptakan. Hal
itulah yang menyebabkan pantun sebagai salah satu puisi lama mengandung metafora yang khas dan
unik termasuk hubungan yang indah dari pembayang dan isi pantun dan kemudian keindahan metafora
yang membangun sebuah pantun. Oleh karena itu, pantun dijadikan salah satu instrumen komunikasi
yang digunakan untuk memberikan petuah, nasihat, jenaka, dan juga sindiran kepada orang lain yang di
dalamnya terkandung nilai-nilai yang khas dan indah.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, M. T. (2015). Kurik kundi merah saga: kumpulan pantun lisan Melayu. Dewan Bahasa
dan Pustaka.
Ahmad, Zainal Abidin. (1965). Ilmu Mengarang Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala
Lumpur Malaysua
Ahmad. A. (2003). Metafora Melayu. Akademi Kajian Kematadunan. Selangor. Malaysia
Andriani, Tuti. (2012). “Pantun Dalam Kehidupan Melayu (Pendekatan Historis dan
Antropologis). Jurnal Sosial Budaya. Vol. 9 No.2. Hal. 195-211
Bakar, Absha Atiah Abu. (2020). Pantun Pengasah Minda, Pengasuh Jiwa Panduan untuk
Pertandingan. Absha Jaya Trending. Pahang Malaysia
Dahlan, Ahmad. (2014). Sejarah Melayu. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta
Effendy, Tenas. (2004). Tunjuk Ajar dalam Pantun. Balai Kajian dan Pengembangan Budaya
Melayu bekerjasama dengan Penerbit Adicita Karya Nusa. Yogyakarta
Effendy, T. (2002). Pantun sebagai media dakwah dan tunjuk ajar Melayu. Pemerintah Daerah
Tingkat I Propinsi Riau, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah
Riau.
Eizah, M.H. (2019). Simbol dan Makna dalam Pantun Melayu. ITBM. Kuala Lumpur
Hamilton. A.W. (1941). Malay Pantuns. Australian Publishing. Sydney
Ibrahim. A.K. (2013). Tanah Air Bahasa Indonesia. Komodo Books. Depok
Kamus Bahasa Melayu Nusantara. (2003). Bandar Seri Begawan, Brunei Darusalam. Dewan
Bahasa dan Pustaka Brunei dan Kementerian Kebudayaan, Belia dan Suka
Liliweri, A. (2003). Makna budaya dalam komunikasi antarbudaya. PT LKiS Pelangi Aksara.
Milner. A. (2008). The Malays. Wiley-Blackwell. United Kingdom
Mu’jizah. (2019). Tradisi, Transformasi dan Revitalisasi Pantun Nusantara. Makalah. Festival
Sastra Internasional Gunung Bintan Tahun 2019. Yayasan Jembia Emas. Tanjungpinang
Salleh, Muhammad Haji. (2006). Puitika Sastera Melayu (Edisi Khas Sasterawan Negara). Dewan
Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur Malaysia
Salleh, Muhammad Haji. (2018). Ghairah Dunia Dalam Empat Baris Sihir Pantun dan
Estetikanya. Institut Terjemah dan Buku Malaysia. Kuala Lumpur
Salleh. M.H. (2009). Sulalatus Salatin. Dewan Bahasa dan Pustaka dan Yayasan Karyawan. Kuala
Lumpur. Malaysia
Sayekti. (2012). “Pantun Modern: Kreativitas yang Hilang Batas ?”. Jurnal Universitas Katolik
Widya Mandala
255
Setyadiharja, Rendra (2020). Khazanah Negeri Pantun. Penerbit Deepublish. Yogyakarta
Setyadiharja, Rendra. (2018). Pantun Mengenal Pantun, Teknik Cepat Menyusun Pantun,
Kreativitas Pantun sebagai Seni Pertunjukan. Textium. Yogyakarta
Setyadiharja. R, Nugraha. Y.S, Alaika. B. (2021). Kerongsang (500 Pantun Warisan). Jejak
Publisher. Yogyakarta
Suseno, Tusiran. (2006). Mari Berpantun.Yayasan Panggung Melayu. Jakarta
Venus, A. (2015). Filsafat Komunikasi Orang Melayu. Simbiosa Rekatama Media.
Yunos, Alias. (1966). Pantun Melayu Sastra Ra’yat. Federal Berhad. Singapura
Yunus, Hasan. (2002). Karena Emas di Bunga Lautan. UNRI Press. Pekanbaru
Zed, M. (2004). Metode penelitian kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.
256
Sundanese, Arabic, and European in the Gadis Garut Novel (1928) by Abdullah Ahmad Assegaf:
Reflection on the Multiculturalism of the Archipelago from the Alawiyyin Perspective
Reza Sukma Nugrahaa,*
a Universitas Sebelas Maret (UNS)
Jalan Ir. Sutami No. 36-A, Surakarta, Indonesia
*Pos-el: [email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi ragam bentuk relasi sosial dalam novel
Gadis Garut dengan pembacaan multikulturalisme. Konflik dalam novel tersebut
merepresentasikan relasi antarkelompok kultural yang ada pada masa Hindia-Belanda, yaitu Sunda
sebagai pribumi, Arab sebagai Vreemde Oosterlingen, dan Eropa sebagai kelompok sosial kelas
pertama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis isi yang berfokus
pada penafsiran data-data yang relevan dengan menggunakan pendekatan teori multikulturalisme.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi Sunda, Arab, dan Eropa merefleksikan kondisi
multikulturalisme Nusantara. Interaksi antarkelompok kultural ditunjukkan dengan menciptakan
stereotip kepada setiap kelompok kultural lain. Dalam konteks multikulturalisme, interaksi di
antara ketiga kelompok menunjukkan model berbeda, yaitu model otonomis dan akomodatif di
antara Arab dan Sunda, serta model isolasionis di antara Eropa dengan Arab dan Sunda. Bentuk
interaksi Arab-Sunda tersebut menjadi sebuah perlawanan terhadap Eropa sebagai kelompok
kultural dominan (penguasa).
Kata Kunci: alawiyyin, multikulturalisme, relasi kuasa, relasi sosial
Abstract: This study aimed to explore the various forms of social relations in the Gadis Garut
(Garut Girl) novel with the reading of multiculturalism. The conflict in the novel represented the
relationship between cultural groups that existed during the Dutch East Indies period, namely
Sundanese as natives, Arabs as Vreemde Oosterlingen, and Europeans as the first-class social
group. This research was qualitative research with a content analysis method that focuses on the
interpretation of relevant data using a multiculturalism theory approach. The results of the study
showed that the relations between Sundanese, Arabic, and Europeans reflect the condition of the
257
multiculturalism of the archipelago. Interaction between cultural groups was shown by creating
stereotypes for each other cultural group. In the context of multiculturalism, the interaction
between the three groups showed different models, namely the autonomous and accommodative
model between Arabs and Sundanese, and the isolationist model between Europe and Arabs and
Sundanese. This form of Arab-Sundanese interaction became a resistance to Europe as the
dominant cultural group.
Keywords: alawiyyin, multiculturalism, power relations, social relations
PENDAHULUAN
Pada masa kolonialisme, penduduk Hindia-Belanda dibagi menjadi tiga golongan. Golongan
pertama adalah kelompok Eropa yang terdiri atas orang Belanda, orang Eropa non-Belanda, orang
Jepang, dan anak keturunan orang Eropa. Golongan kedua meliputi orang-orang Asia yang disebut
dengan golongan Timur Asing yang terdiri atas kelompok Tionghoa dan non-Tionghoa, seperti Arab dan
India. Adapun golongan ketiga adalah kelompok Bumiputera yang merupakan penduduk asli Hindia-
Belanda atau kelompok lain yang meleburkan diri menjadi kelompok Bumiputera dengan cara meniru
kehidupan sehari-hari atau melalui perkawinan. Golongan ketiga sering kali disebut dengan penduduk
pribumi, yaitu kelompok masyarakat yang lahir dan secara turun-temurun tinggal sejak lama di tanah
Hindia-Belanda yang juga dikenal dengan Nusantara.
Pengelompokkan tersebut merujuk pada Indische Staatsregeking (IS), undang-undang tata negara
dan pemerintahan Hindia-Belanda yang berlaku sejak 1 Januari 1926. Pemberlakuan golongan sosial
tersebut terkait dengan hukum positif dan hak-hak sipil masyarakat yang menempatkan Eropa sebagai
golongan pertama dan Bumiputera sebagai golongan paling akhir. Hal tersebut berpengaruh pada relasi
sosial antargolongan dengan menempatkan kalangan Eropa, khususnya Belanda, memiliki hak istimewa
dalam berbagai aspek kehidupan. Lain halnya dengan kalangan pribumi yang dianggap sebagai kelas
ketiga sehingga menimbulkan diskriminasi sosial, khususnya pemisahan (segregasi) antarras.
Di antara dua golongan tersebut, terdapat golongan Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang
dianggap Belanda sebagai sekelompok Asia yang memiliki hak-hak lebih tinggi daripada golongan
pribumi. Golongan tersebut terdiri atas orang-orang Tionghoa sebagai mayoritas, kemudian orang-orang
Arab dan orang-orang Asia lainnya selain Jepang. Pemisahan lingkungan sosial menjadikan relasi
antarras tersebut sering kali memunculkan problematika, seperti kecurigaan antar-ras, gesekan, hingga
konflik.
Namun demikian, orang-orang Arab yang termasuk golongan Timur Asing memiliki hubungan
yang harmonis dengan kalangan pribumi. Di Hindia-Belanda, orang-orang Arab didominasi oleh orang-
orang yang datang dari Hadramaut (Yaman). Kelompok tersebut secara historis telah menjalin kerja
sama, khususnya perdagangan, dengan Nusantara mulai abad ke-16 Masehi. Di antara orang-orang Arab
Hadramaut tersebut, golongan sayid termasuk golongan paling dominan. Golongan sayid merupakan
orang-orang Arab yang dipercaya merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw.. Golongan sayid disebut
juga dengan golongan Alawiyiin atau Ba’ Alawi karena masih memiliki nasab yang tertaut secara
258
langsung ke Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin
Ali al-Uraidhi bin Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain putra Ali
bin Abi Thalib dan Siti Fatimah binti Muhammad.
Kelompok Alawiyyin telah berkontribusi terhadap berbagai aspek kehidupan di Nusantara. Suparto,
Halid, dan Mamat (2019) menyebutkan bahwa kelompok Alawiyyin berdiaspora di berbagai belahan
dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia, dan memiliki peran signifikan dalam pengembangan
ajaran agama Islam dengan misi perdamaian (rahmatan lil ‘aalamiin). Hal tersebut menjadikan
kelompok Alawiyyin memiliki kedekatan secara emosional dengan penduduk pribumi yang merespons
baik cara dakwah yang dilakukan. Hal tersebut secara spesifik juga ditunjukkan dengan banyaknya jejak-
jejak dakwah kelompok Alawiyyin di berbagai kota di Indonesia saat ini yang bermula sejak masa
kolonialisme. Peran tersebut tampak dalam berbagai aspek kehidupan seperti agama, pendidikan, dan
budaya (Hamid, 2017; Muchtar & Firdaus, 2017; Noupal, 2021).
Di antara relasi harmonis kelompok Arab dan pribumi di antaranya ditampilkan oleh Abdullah
Ahmad Assegaf (1882—1950), seorang pengarang kelahiran Hadramaut yang tinggal di Nusantara sejak
1908. Assegaf juga dikenal sebagai salah seorang perintis organisasi Rabithah Alawiyah yang
merupakan organisasi persatuan kelompok Alawiyyin (Nugraha, Farhah, & Jazuli, 2020). Dalam
novelnya, Gadis Garut (berjudul asli Fatat Qarut), Assegaf menceritakan pengalaman hidup seorang
tokoh bernama Abdullah yang tinggal di Kota Garut. Perjalanan hidup Abdullah berubah setelah dia
bertemu dengan Neng, gadis asli Garut, yang berkonflik dengan orang tuanya dan seorang Belanda
bernama van Ridijk. Alur cerita pun didominasi oleh konflik antara Abdullah, Neng, dan van Ridijk.
Konflik ketiga tokoh tersebut merepresentasikan relasi tiga golongan sosial yang terjadi pada saat
itu. Abdullah sebagai Arab, Neng sebagai pribumi, dan Van Ridj sebagai perwakilan Belanda yang
memiliki relasi kuasa paling dominan di antara ketiganya. Di dalam novelnya tersebut, Assegaf
menyisipkan berbagai kondisi relasi antargolongan yang diwakili oleh setiap tokoh, baik Arab-Pribumi,
Arab-Belanda, maupun Pribumi-Belanda. Dengan demikian, multikulturalitas Nusantara saat itu
ditampilkan dalam bentuk-bentuk hubungan sosial yang beragam. Ragam bentuk hubungan sosial
tersebut yang menjadi fokus penelitian ini.
Di antara beberapa penelitian lain terkait multikulturalisme dalam sastra, Lestari (2019)
membincangkan representasi wujud budaya dalam novel Burung-burung Rantau. Sesuai dengan tajuk
tersebut, penelitian menjelaskan wujud budaya multikultural yang terdapat dalam teks. Adapun Farida
& Dienaputra (2021) menelusuri sikap-sikap multikultural tokoh-tokoh dalam novel Pulang yang
menunjukkan adanya sikap memegang teguh budaya asal meskipun para tokoh berada di negara lain.
Selain itu, Windiyarti (2014) dalam penelitiannya, mengungkapkan berbagai permasalahan
multikulturalisme yang terdapat dalam novel Bumi Manusia. Permasalahan tersebut menyangkut
ketidaksetaraan antara pribumi dan Eropa, serta adanya sikap perendahan terhadap pribumi. Dari ketiga
penelitian tersebut, penelitian ini berfokus pada relasi-relasi sosial yang terbentuk antara ketiga kelompok
kultural yang berbeda sehingga diperoleh respons dari setiap kelompok kultural tersebut.
Merujuk pada permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi ragam bentuk
hubungan sosial yang ditampilkan Assegaf di dalam novel Gadis Garut di tengah kondisi Nusantara
yang multikultural. Ragam bentuk hubungan tersebut direpresentasikan oleh struktur naratif teks yang
259
meliputi tokoh, penokohan, dan alur cerita. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan bermanfaat secara
teoretis sebagai potret multikulturalisme Nusantara dalam perspektif Assegaf sebagai seorang
Alawiyyin.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menekankan pada data-data kualitatif berupa
kutipan yang ditafsirkan secara argumentatif dengan teori multikulturalisme sebagai pendekatan.
Multikultiralisme, menurut Parekh (2002), adalah cara pandang kehidupan manusia terhadap perbedaan
kebudayaan yang terjadi sebagai suatu asas kehidupan itu sendiri. Multikulturalisme dilihat sebagai
kebijakan multikultural, yaitu politik pengelolaan ragam kebudayaan manusia sebagai warga suatu
negara. Oleh karena itu, multikulturalisme menjadi suatu kesadaran setiap manusia terhadap kenyataan
bahwa kehidupan terdiri atas keragaman budaya.
Sumber data penelitian ini adalah novel Gadis Garut yang diterbitkan Penerbit Lentera pada 2008.
Versi asli novel tersebut berjudul Fatat Qarut yang dipublikasikan di Solo dan Jakarta pada 1929.
Adapun data-data penelitian berupa kutipan-kutipan beserta konteksnya yang merefleksikan masalah
penelitian, yaitu relasi sosial dan cerminan multikulturalisme Nusantara di dalamnya. Adapun teknik
penelitian yang digunakan adalah teknik kepustakaan, yaitu dengan menelusuri berbagai literatur ilmiah
untuk menguatkan argumentasi atas tafsiran yang dilakukan sebagai bagian dari analisis. Analisis data
menggunakan metode analisis isi yang memberi perhatian mendalam pada seluruh aspek cerita, baik
narasi, dialog, hingga komponen-komponen pembentuk novel lainnya (Weber, 1990).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Novel Gadis Garut menceritakan seorang tokoh bernama Abdullah yang melakukan perjalanan dari
Surabaya menuju Garut dengan menggunakan kereta api. Setibanya di Garut, Abdullah bertemu dengan
Neng, seorang gadis Sunda yang belakangan diketahui keturunan Arab. Pertemuan tersebut menjadikan
keduanya saling menyukai, tetapi dipenuhi dengan berbagai konflik, terutama menyangkut keinginan
orang tua angkat Neng yang ingin Neng menjadi istri dari seorang Belanda bernama van Ridijk.
Pengalaman tokoh-tokoh tersebut dilalui dengan berbagai konflik yang di antaranya
menggambarkan bagaimana relasi orang-orang Sunda, Arab, dan Eropa menunjukkan stereotip tertentu
dan menghasilkan berbagai pola relasi sosial. Relasi tersebut terjadi dalam konteks multikulturalisme,
yaitu sebagai respons setiap tokoh atas kemajemukan rasial yang ditampilkan di dalam novel. Respons
tersebut ditunjukkan dengan cara yang beragam, seperti sikap pro dan kontra terhadap setiap ras yang
direpresentasikan, yaitu Arab, Sunda, dan Eropa
Relasi Sunda, Arab, dan Eropa dalam Konteks Multikulturalisme
Refleksi multikulturalisme yang ditampilkan Assegaf di dalam Gadis Garut berawal dari
deskripsinya mengenai Garut, kota kecil di Jawa Barat yang menjadi latar utama terjadinya cerita.
Assegaf yang menciptakan narator orang pertama (aku/anaa dalam bahasa Arab) menjadikan teks
berjarak dekat dengan pengarang, yakni narator tampil seolah sebagai suara pengarang. Hal tersebut
260
dilengkapi dengan nama tokoh utama Abdullah yang sama dengan nama Assegaf itu sendiri sebagai
orang Arab.
Dalam berbagai kutipan, narator mendeskripsikan Garut sebagai kota dengan keragaman budaya.
Hal tersebut sebagaimana tampak pada kutipan berikut.
Garut bukanlah daerah perdagangan, melainkan daerah yang banyak tempat rekreasinya. Karena itu
di sana banyak dibangun tempat-tempat penginapan yang besar dan rumah-rumah makan yang
teratur rapi dan menyediakan semua yang dapat menyenangkan para wisatawan dan dapat
memenuhi cita rasa mereka. Kebanyakan orang Eropa yang menetap di Garut adalah para
wisatawan dan orang-orang yang ingin menikmati udaranya yang sejuk (Assegaf, 2008:17).
Dalam kutipan lain, narator juga mendeskripsikan orang-orang “asli” Garut, yaitu suku Sunda yang
ditampilkan dengan karakter lembut dan halus. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut.
Bila berkeliling kota, Anda akan saksikan rumah-rumah yang indah dan jalan-jalan yang bersih.
Orang-orang dari berbagai bangsa merasa bahagia. Terlihat tanda-tanda kegembiraan di wajah
mereka. Sedangkan para penduduk asli, baik laki-laki maupun perempuan merupakan gambaran
dari perasaan yang lembut dan halus (Assegaf, 2008:17).
Dalam dua kutipan tersebut, tampak bahwa Gadis Garut menampilkan Kota Garut sebagai kota
multikultural. Di dalamnya, terdapat orang-orang Eropa yang lebih banyak berkunjung sebagai
wisatawan, orang-orang Arab yang diwakili oleh narator, dan tentu orang-orang Sunda sebagai pribumi
yang digambarkan secara positif oleh narator sebagai orang-orang halus dan lembut. Gambaran ini
menjadi refleksi multikulturalisme yang digambarkan teks.
Dalam penggambaran latar tersebut, teks menampilkan pribumi sebagai orang-orang dengan
karakter yang positif. Hal tersebut menjadi citra yang dibangun teks terkait posisi orang-orang pribumi
dengan stereotipnya yang halus dan lembut, khususnya orang-orang Sunda sebagai salah satu suku yang
ada di Nusantara saat itu. Dalam berbagai kutipan yang lain, narator menggambarkan citra positif lain
terhadap orang-orang Sunda, terutama saat bertemu dengan Neng, perempuan yang ditemui Abdullah di
perjalanan menuju kota. Abdullah menyebut kecantikan Neng tidak ada yang menyamainya di mana pun
(Assegaf, 2008:21).
Citra positif lain yang dibangun mengenai orang Sunda adalah kemampuan orang Sunda dalam
beradaptasi dalam pergaulan, termasuk dengan orang-orang “asing”. Hal tersebut sebagaimana
disebutkan Abdullah dalam narasi berikut.
Karena pergaulannya dengan suaminya yang pertama dulu, Rosidah mengerti tentang akhlak-
akhlak orang-orang Arab, dapat berperangai seperti perangai mereka, dan mengetahui cita rasa
mereka. Ia pun mengenal beberapa kata dalam bahasa Arab. Pada umumnya, orang-orang Sunda
memang mempunyai kemampuan untuk mengikuti kebiasaan orang-orang yang berhubungan dan
bergaul dengan mereka (Assegaf, 2008:30).
261
Abdulllah juga menyebut kebiasaan orang Sunda adalah menyapa setiap orang, termasuk orang
asing. Selain itu, orang Sunda juga digambarkan hormat kepada tamu dan senantiasa menjamu tamu
dengan pelayanan terbaik. Gambaran tersebut secara spesifik melekat pada tokoh Rosidah, pemilik
warung tempat Abdullah berlangganan makan dan minum (Assegaf, 2008:29). Hal tersebut melengkapi
beberapa citra positif lain yang disebutkan secara eksplisit oleh Abdullah di dalam narasi teks.
Citra positif yang ditampilkan tersebut menjadi stereotip yang diciptakan Abdullah terkait orang
Sunda. Hal tersebut menunjukkan bahwa orang Arab sebagai golongan Timur Asing pada masa Hindia-
Belanda tersebut melihat bahwa golongan pribumi yang diwakili orang Sunda sebagai masyarakat
dengan citra yang baik. Stereotip yang melekat tersebut mengindikasikan bahwa orang-orang Arab pada
saat itu memiliki relasi sosial yang baik dengan orang-orang pribumi.
Relasi sosial yang positif di antara dua kelompok berbeda budaya dan ras tersebut merupakan
refleksi multikulturalisme etnis yang ditampilkan teks. Relasi Arab dan pribumi dikonstruksi sebagai
relasi antargolongan yang menampilkan kesadaran akan keinginan untuk menjadi setara (equality).
Menurut Parekh (2002), bentuk demikian dinamakan dengan multikulturalisme otonomis yang ditandai
dengan keinginan kelompok-kelompok kultural untuk menjadi setara. Kelompok kultural demikian
mempertahankan cara hidup masing-masing, tanpa ada keinginan untuk saling memengaruhi satu sama
lain.
Hal yang berbeda ditampilkan oleh orang-orang pribumi yang bersifat akomodatif terhadap
kelompok kultural berbeda, yaitu Arab. Orang-orang pribumi yang direpresentasikan orang Sunda
menyesuaikan diri dengan kelompok kultural minoritas (Arab) sehingga relasi yang ditampilkan bersifat
akomodatif. Dalam konteks multikulturalisme, pola demikian dikatakan sebagai multikulturalisme
model akomodatif (Parekh, 2002).
Pola-pola relasi yang menunjukkan adanya kesadaran multikulturalisme di antara orang Arab dan
pribumi juga ditunjukkan dengan adanya pernikahan di antara kedua kelompok tersebut. Hal tersebut
ditunjukkan oleh pernikahan tokoh Rosidah, ibu Neng, serta pernikahan Neng dan Abdullah di akhir
cerita. Hal tersebut menunjukkan bahwa pernikahan sebagai bagian dari upaya meleburkan batas-batas
rasial yang dalam hukum positif Hindia-Belanda saat itu terpisah secara tegas. Pernikahan juga menjadi
contoh penerapan model multikulturalisme otonomis yang ditampilkan teks, yaitu antara golongan
pribumi dengan Timur Asing untuk menjadi satu kelompok kultural yang sejajar.
Meskipun demikian, pernikahan dalam teks juga menciptakan stereotip yang negatif bagi orang
Arab, yaitu adanya kebiasaan laki-laki Arab meninggalkan istri mereka. Hal tersebut sebagaimana
ditampilkan dalam kisah pernikahan Rosidah dan ibu Neng yang sama-sama menikah dengan lelaki
Arab, tetapi berujung pada perpisahan sepihak karena para perempuan tersebut ditinggalkan. Hal tersebut
tampak pada kutipan berikut.
Rosidah masih memiliki rasa senang dan penghormatan terhadap orang Arab walaupun ia telah
mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari suaminya yang orang Arab itu. Karena itu,
Rosidah senang berbincang-bincang dengan Abdullah dan menghormatinya sejak ia mengenalnya
(Assegaf, 2008:31).
262
Kutipan tersebut menunjukkan dua stereotip yang melekat pada orang Arab dan Sunda. Pertama,
laki-laki Arab yang memiliki kebiasaan meninggalkan istri mereka (diperkuat dengan cerita ibu Neng
yang ditinggalkan juga oleh suaminya). Kedua, perempuan Sunda yang berhati lembut dan ramah karena
senantiasa menghormati tamu meskipun memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan etnis yang
sama dengan tamu tersebut. Namun demikian, narasi tersebut menunjukkan bahwa teks menghendaki
bahwa citra orang Arab tersebut tetap menjadi positif di tengah pengalaman hidup tidak menyenangkan
yang dilakukan oleh laki-laki Arab.
Stereotip lain yang dilekatkan pada orang Arab juga muncul dari dialog van Ridijk dengan Rusna
dan Minah. Saat mengetahui bahwa Rusna dan Minah akan meminta bantuan kepada orang Arab terkait
sulitnya berkomunikasi dengan Neng terkait pernikahan, van Ridijk meledeknya dengan menilai orang
Arab secara stereotipikal. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut:
“Apa kamu bilang? Minta tolong orang Arab? Kamu sungguh dungu dan bodoh. Apakah kamu
akan minta pendapat dan minta tolong orang Arab dalam urusan seperti ini? Kamu tidak tahu bahwa
orang Arab tidak suka bila kamu atau anakmu senang dan bahagia. Jika kamu minta pendapat orang
Arab terkait masalah ini, ia akan membalikkan masalahnya dan akan menakut-nakutimu dengan
neraka dan siksa bila memberikan kepada orang Barat” (Assegaf, 2008:78).
Dalam kutipan tersebut, van Ridijk membentuk citra orang Arab sebagai orang yang menggunakan
agama sebagai tameng untuk kebutuhan hidupnya. Dalam dialog lainnya, van Ridijk juga menyebut
orang Arab dengan mudah melamar perempuan, melampiaskan nafsunya, dan meninggalkannya setelah
puas. Hal tersebut mengafirmasi stereotip sebelumnya bahwa laki-laki Arab memiliki pengalaman yang
buruk terkait pernikahan dengan perempuan pribumi.
Selain stereotip Sunda dan Arab, teks juga menampilkan stereotip orang Eropa yang diwakili oleh
tokoh van Ridijk, seorang pengusaha Belanda yang memiliki beberapa bisnis di Hindia-Belanda.
Stereotip tersebut muncul dalam dialog antara Neng dan van Ridijk saat keduanya bertemu di sekolah
putri, tempat Neng bersekolah. Van Ridijk digambarkan sebagai orang yang senang memamerkan harta
dan senantiasa mengusahakan keinginanannya dengan iming-iming harta kepada siapa pun. Hal tersebut
tampak pada kutipan berikut.
“Saya sudah beberapa hari menginap di hotel ini dengan menyewa sebuah kamar. Setiap hari
biayanya 15 rupiah. Untuk keperluan lain, setiap hari saya menghabiskan uang 100 rupiah atau lebih
... Di Betawi, saya juga memiliki beberapa pabrik, tempat ribuan orang bekerja. Seandainya kamu
melihat rumah saya yang di Betawi, pasti kamu akan menganggap kemegahan hotel ini dan isinya
tidak ada apa-apanya,” demikian van Ridijk menjelaskan (Assegaf, 2008:65).
Kutipan tersebut merupakan satu di antara beberapa kutipan lain yang menunjukkan bahwa van
Ridijk merupakan seseorang yang kaya dan gemar memamerkan harta bendanya. Tujuannya adalah agar
orang yang berbicara dengannya menjadi terkagum dan bersedia menuruti permintaannya. Di antara
263
orang-orang yang ingin dibuat terkagum olehnya adalah Neng dan orang tua angkatnya, Rusna dan
Minah. Hanya saja, Neng secara kritis mempertimbangkan maksud buruk di balik perangai van Ridijk,
sedangkan Rusna dan Minah bersifat oportunis, memanfaatkan kondisi demikian untuk menyerahkan
Neng demi imbalan harta.
Karakter-karakter van Ridijk yang digambarkan menjadi stereotip karena dalam beberapa kutipan,
narator menyebutkan bahwa karakter demikian merupakan sifat yang biasa muncul pada orang-orang
Eropa, yaitu sifat percaya diri secara berlebihan. Hal tersebut juga ditampilkan pada karakter Moln, orang
Belanda lain yang merupakan teman van Ridijk. Keduanya memiliki karakter yang sama.
Meskipun demikian, dalam teks juga digambarkan beberapa karakter yang menciptakan stereotip
lain bagi orang Eropa. Dalam salah satu narasi, digambarkan bahwa Abdullah sebagai narator memuji
orang Eropa dengan beberapa karakter. Hal tersebut sebagai tampak pada kutipan berikut.
Tuan, Anda adalah orang Eropa. Yang saya tahu, orang Eropa pada umumnya mementingkan
pendidikan anak-anak mereka dan membekali otak mereka dengan berbagai pengetahuan di
sekolah-sekolah tinggi walaupun hal tersebut membebani mereka. Akhlak dan keramahan Tuan
yang saya lihat membuat saya tidak ragu bahwa Tuan telah terdidik dengan pendidikan tinggi
(Assegaf, 2008:83).
Narasi tersebut muncul dalam konteks perbincangan van Ridijk dan Neng tentang keinginan van
Ridijk untuk mendekati Neng. van Ridijk banyak menggunakan capaian materialnya sebagai bentuk
kesuksesan dan memandang rendah orang-orang, termasuk orang Arab. Di tengah dialog tersebut,
narator muncul dengan menggambarkan karakter orang Eropa sebagaimana tampak pada kutipan
sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pujian yang diberikan kepada orang Eropa yang secara
stereotipikal adalah orang terdidik merupakan bentuk satir.
Hal tersebut didukung oleh pernyataan-pernyataan Neng berikutnya yang banyak mengontraskan
perilaku van Ridijk dengan orang-orang Arab dan orang Islam sebagai representasi dirinya sebagai orang
Sunda (pribumi). Dalam dialognya, Neng menyebut bahwa orang-orang Arab telah berjasa dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan industri, serta menjadi guru bagi banyak ilmuwan Barat (Assegaf,
2008:85―86). Selain itu, disebutkan pula bahwa orang-orang Islam seperti Neng lebih mementingkan
kebahagiaan akhirat yang kontradiktif dengan kebahagiaan material yang ditawarkan van Ridijk. Neng
juga menyatakan kekecewaannya atas hinaan van Ridijk kepada orang Arab (Assegaf, 2008:87—89).
Pembelaan Neng atas orang-orang Arab pada banyak dialognya dengan van Ridijk merupakan
bentuk kontranarasi yang ditunjukkan teks untuk mengangkat kembali citra orang-orang Arab yang pada
narasi-narasi lain ditampilkan berstereotip buruk (senang mempermainkan perempuan). Dalam kondisi
demikian, teks menghendaki bahwa orang-orang Arab dicitrakan sebagai kelompok kultural yang baik
tanpa ada tendensi menyombongkan diri karena dicitrakan oleh tokoh Neng, bukan Abdullah.
Penjelasan mengenai relasi Eropa dengan Sunda dan Arab tersebut menunjukkan bahwa
kecenderungan model multikulturalisme yang ditampilkan orang-orang Eropa adalah multikulturalisme
isolasionis yang menghendaki kelompok kultural di dalamnya bertindak secara otonom, tidak terikat atau
terkait dengan kelompok kultural lain (Parekh, 2002). Interaksi sosial yang terjadi dalam
264
multikulturalisme tersebut terjadi hanya dalam lingkup kecil dan untuk kepentingan-kepentingan tertentu
yang tetap menjaga jarak di antara kelompok kultural di dalamnya. Hal tersebut yang ditampilkan oleh
tokoh-tokoh Eropa di dalamnya sehingga keberadaannya melegitimasi posisi Eropa sebagai golongan
kelas pertama dalam relasi yang terjadi saat itu di Nusantara.
Dengan demikian, dalam relasi Arab-Sunda-Eropa dalam Gadis Garut, ketiga kelompok kultural
tersebut menunjukkan model-model multikulturalisme yang berbeda dalam berinteraksi antarkelompok
kultural. Hal tersebut ditampilkan dalam bentuk stereotip yang dikonstruksi oleh setiap kelompok
kultural terhadap kelompok kultural lain. Hanya saja, relasi Arab-Sunda bersifat otonomis dan
akomodatif, yaitu ada kecenderungan keduanya untuk melihat satu sama lain sebagai kelompok kultural
yang setara dan saling beradaptasi.
Adapun relasi Eropa-Sunda-Arab menunjukkan adanya sikap isolasionis yang ditampilkan
kelompok Eropa karena merasa bahwa kelompoknya adalah golongan kelas pertama yang perlu
mengambil jarak tegas dengan kelompok kultural lain. Jarak tersebut antara lain dengan mengonstruksi
stereotip terhadap orang Arab dan menunjukkan adanya keinginan berkuasa atas orang Sunda sebagai
pribumi.
Perempuan dan Pribumi: Representasi Perlawanan Minoritas
Novel Gadis Garut menampilkan Kota Garut sebagai kota multikultural, yaitu tempat bagi
kelompok-kelompok kultural hidup dan tinggal. Di antara kelompok kultural tersebut, interaksi Arab-
Sunda-Eropa ditampilkan dalam model multikulturalisme yang berbeda. Di antara ketiga kelompok
tersebut, golongan pribumi yang direpresentasikan tokoh Neng menampilkan sebuah perlawanan
terhadap kuasa kelompok kolonialisme yang direpresentasikan oleh van Ridijk.
Perlawanan tersebut ditunjukkan oleh Neng sebagai pribumi, kelompok kelas terakhir dalam
struktur sosial Hindia-Belanda. Selain itu, Neng sebagai perempuan juga mematahkan strereotip yang
ditampilkan oleh teks mengenai perempuan Sunda pada umumnya yang lemah lembut dan mudah
teperdaya oleh materi, sebagaimana ditampilkan Minah, ibu angkat Neng. Dengan narasi dan dialog yang
ditampilkan, tokoh Neng memiliki karakter tangguh dan cerdas.
Dalam salah satu kutipan, ditunjukkan bahwa Neng pintar menyusun strategi untuk mengelabui
orang tua angkatnya, Rusna dan Minah. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.
Satu atau dua hari sebelum mereka berjumpa dengan Abdullah di jalan, Neng berpikir untuk
membuat suatu siasat agar ia dapat terbebas dari kehidupan di rumah Rusna dan istrinya walaupun
untuk sementara waktu. Maka ia meminta kepada tetangganya, Haji Mukhti yang dapat berbicara
dalam bahasa Arab dengan baik untuk menyampaikan keinginannya kepada ayahnya untuk masuk
Sekolah Puteri di Garut untuk mempelajari bahasa Sunda. Tujuan sebenarnya bukan itu, karena ia
telah menguasai bahasa itu dengan baik (Assegaf, 2008:62).
Dalam kutipan tersebut, Neng memikirkan cara agar terbebas dari jerat perjodohan yang dilakukan
oleh orang tua angkatnya. Strategi tersebut dipikirkannya dengan pertimbangan bahwa dia akan memiliki
banyak waktu luang di rumah dan meminta bantuan agar dirinya dapat terselematkan dari kejahatan
265
Rusna dan Minah. Bahkan, dari awal Neng berbohong bahwa dia tidak dapat berbahasa Sunda dengan
tujuan untuk menghindari berbagai kemungkinan kejahatan dilakukan oleh orang tua angkatnya. Oleh
karena itu, tokoh Neng ditampilkan sebagai perempuan yang cerdas dalam merespons berbagai ancaman
yang dihadapkan kepadanya.
Kecerdasan Neng juga ditunjukkan dengan dialognya bersama van Ridijk yang berusaha untuk
meyakinkan Neng untuk menerimanya. Dalam dialog tersebut, van Ridijk menyinggung bahwa orang-
orang Arab tidak dapat diandalkan dan membahayakan jika Neng bergantung kepadanya. Menanggapi
hal tersebut, Neng membalasnya dengan mengungkapkan berbagai bukti ilmiah yang menunjukkan
akhlak orang-orang Arab baik dan orang Arab berkontribusi kepada kemajuan pengetahuan (Assegaf,
2008:85—86).
Karakter Neng tersebut menunjukkan bahwa teks berusaha melawan relasi kuasa yang dihadirkan
van Ridijk sebagai representasi kolonial. Tokoh Neng sebagai pribumi dikontruksikan sebagai tokoh
yang kuat sehingga mampu melawan van Ridijk hingga akhirnya menyerah. Selain itu, Neng juga
berhasil keluar dari jerat kejahatan yang direncanakan Rusna dan Minah dengan berbagai upaya
melawan beragam tantangan yang dihadapinya.
Dalam konteks multikulturalisme, tokoh Neng menjadi representasi dari suara minoritas untuk
mendapatkan pengakuan (the need of recognition) bahwa dirinya adalah setara dengan kelompok
kultural yang lain. Perlawanan yang dilakukannya adalah ekspresi yang menyatakan pribumi sebagai
kelas sosial terakhir saat itu memerlukan legitimasi bahwa pribumi berada dalam posisi sederajat,
terutama dari kelompok Eropa sebagai penentu legitimasi tersebut.
Keinginan tersebut adalah bentuk dari penyadaran akan nilai-nilai multikulturalisme. Azra (2007)
menekankan bahwa multikulturalisme merupakan kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan
terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.
Dalam relasi Eropa-pribumi sebagai penjajah-terjajah, prinsip penerimaan tersebut tentu sulit terwujud,
tetapi menjadi suatu impian yang diharapkan oleh kelompok-kelompok terjajah atau minoritas
sebagaimana direpresentasikan oleh Neng.
Kesadaran multikultural tersebut yang dibangun oleh teks bahwa pada masa pemerintahan Hindia-
Belanda, Arab dan pribumi menghadirkan relasi sosial yang saling mendukung. Hal berbeda ditunjukkan
oleh Belanda yang mengambil jarak secara tegas dari kelompok kultural lain, terutama dengan pribumi.
Dalam konteks multikulturalisme, Belanda merespons keberagamaan sebagai suatu kondisi yang
menjadikan pihak sebagai penentu sikap kelompok kultural lain yang berbeda dengannya. Hal tersebut
menunjukkan bahwa relasi kuasa dapat hadir dalam interaksi multikultural dan kelompok penguasa
mengendalikan berbagai kebijakan bagi kelompok kultural lain, baik menguntungkan maupun
sebaliknya.
SIMPULAN
Novel Gadis Garut (Fatat Qarut, 1929) yang ditulis Abdullah Ahmad Assegaf mendeskripsikan
kehidupan masyarakat Nusantara pada masa Hindia-Belanda. Gambaran yang ditunjukkan meliputi
keragaman budaya, etnis, dan ras yang saling berinteraksi dalam berbagai pola relasi. Novel
266
merepresentasikan kehidupan kelompok Eropa, Arab, dan pribumi yang masing-masing merespons
multikulturalisme dengan model yang berbeda.
Respons tersebut ditunjukkan dengan munculnya stereotip-stereotip yang dikonstruksi oleh masing-
masing kelompok kultural terhadap kelompok kultural lain. Stereotip Arab diafirmasi, stereotip Sunda
dilawan, sedangkan stereotip Eropa dikukuhkan sebagai bentuk perlawanan dan satir yang disampaikan
oleh teks. Stereotip tersebut muncul sebagai bentuk adanya interaksi multikultur meskipun relasi sosial
yang ditampilkan hadir dalam bentuk-bentuk berbeda. Arab-Sunda berada dalam posisi yang saling
mendukung, mengakomodasi kepentingan kelompoknya, dan mematahkan strereotipe yang negatif
tentang masing-masing kelompok. Adapun relasi Eropa-Arab-Sunda ditampilkan dalam relasi
menguasai-dikuasai, yang menunjukkan adanya keinginan untuk menguasai kelompok minoritas, tetapi
dilawan dengan bentuk kerja sama antar kelompok kultural yang dikuasai (Arab-Sunda).
Sebagai novel yang ditulis oleh seorang Alawiyin—kelompok sosial kedua pada masa Hindia-
Belanda—teks merefleksikan kondisi masyarakat Nusantara, interaksi antarkultur di dalamnya, serta
relasi antarkelompok kultural tersebut dalam kerangka multikulturalisme. Assegaf menghadirkan Gadis
Garut sebagai bentuk refleksi bagi kehidupan multikultural Nusantara dengan gagasan berupa
perlawanan terhadap adanya relasi kuasa dari kelompok dominan (Eropa).
DAFTAR PUSTAKA
Assegaf, A. A. (2008). Gadis Garut. Jakarta: Lentera.
Azra, A. (2007). Identitas dan Krisis Budaya Membangun Multikulturalisme Indonesia. Retrieved
from https://www.lpmpbanten.net
Bhiku Parekh. (2002). Rethinking Multiculturalism. Cambridge: Harvard University Press.
Farida, P. D., & Dienaputra, R. D. (2021). Multikulturalisme dalam Novel Pulang Karya Leila S.
Chudori. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 21(1), 137–146.
Hamid, W. (2017). Peran Orang Arab Dalam Pendidikan Keagamaan di Kabupaten Maros.
Pusaka, 5(2), 257–268. https://doi.org/10.31969/pusaka.v5i2.183
Lestari, E. (2019). Representasi Wujud Budaya Di Masyarakat Multikultural Dalam Novel
Burung-Burung Rantau Karya Y.B Mangunwijaya. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa,
Sastra, Dan Pengajarannya (e-Journal), 3(2), 196–209. Retrieved from
http://ejournal.umm.ac.id/index.php/
Muchtar, A., & Firdaus, A. (2017). Perkembangan Ortodoksi Islam di Palembang Hingga Awal
Abad XX. Jurnal Ilmu Agama, 18(2), 20–38.
Noupal, M. (2021). Zikir Ratib Haddad: Studi Penyebaran Tarekat Haddadiyah di Kota
Palembang. Intizar, 24(1), 103–114. https://doi.org/10.19109/intizar.v24i1.2185
Nugraha, R. S., Farhah, E., & Jazuli, A. (2020). Construction of the identity of Arabs in the novel
Fatat Qarut by Sayid Abdullah Ahmad Assegaf. Proceedings of the Third International
Seminar on Recent Language, Literature, and Local Culture Studies, BASA, 20-21 September
2019, Surakarta, Central Java, Indonesia. https://doi.org/10.4108/eai.20-9-2019.2296759
Suparto, Halid, & Bin Mamat, S. A. (2019). Bani ‘Alawiyyin in Indonesia and the Malay world
267
network, development and the role of institution in transmitting the peaceful mission of islam.
Journal of Indonesian Islam, 13(2), 267–296. https://doi.org/10.15642/JIIS.2019.13.2.267-
296
Weber, R. P. (1990). Basic Content Analysis. Newbury Park: Sage Publications.
Windiyarti, D. (2014). Multikulturalisme Dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta
Toer. Bahasa Dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, Dan Pengajaran, 42 (1), 9.
268
Robiansyah, M.Pd.
Abstrak: Bahasa daerah adalah aset terbesar bagi kebudayaan nasional sekaligus kebudayaan
daerah. Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Dengan Bahasa, manusia dapat
mengutarakan ide, gagasan, dan pendapatnya sehingga terjalin sebuah komunikasi yang baik
antarmanusia satu dengan lainnya. Tabu memegang peran penting dalam bahasa. Bahasa tabu atau
bahasa malek merupakan satu di antara ragam bahasa yang memiliki kedudukan tinggi dalam
kelompok masyarakat tertentu seperti halnya pada masyarakat Melayu Ngabang. Tujuan penelitian
ini untuk mendeskripsikan jenis referensi eufemisme kata tabu dalam bahasa Melayu dialek
Ngabang. Metode dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah
sosiolinguistik. Teknik pengumpulan data yaitu teknik simak libat cakap, simak bebas libat cakap,
catat, dan rekam. Alat pengumpul data yaitu kertas pencatat, daftar pertanyaan, alat tulis, dan alat
perekam. Referensi eufemisme dapat digolongkan berdasarkan keadaan, binatang, benda-benda,
bagian tubuh, kekerabatan, makhluk halus, aktivitas, profesi, dan penyakit. Hasil penelitian ini
diharapkan (1) dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya; (2) sebagai pedoman
dalam berkomunikasi sehari khususnya masyarakat penutur bahasa Melayu dialek Ngabang; (3)
dokumentasi bentuk lisan menjadi bentuk tulisan; dan (4) pengembalian marwah bahasa sebagai jati
diri bangsa.
Kata Kunci: referensi, eufemisme, tabu, Ngabang.
Abstract: Regional languages are the biggest asset for national culture as well as regional culture.
Language has an important role in human life. With language, humans can express their ideas, thoughts,
and opinions so that good communication can be established between humans with another. Taboo
plays an important role in language. Taboo language or “malek” language is one of the various
languages that have a high position in certain community groups such as the Ngabang Malay
community. The purpose of this study was to describe the types of euphemism references to taboo words
in the Ngabang Malay dialect. The method in this research was descriptive qualitative. The approach
used was sociolinguistics. The data collection techniques were the technique of listening to engaging in
conversation, listening to being free to engaging in conversation, taking notes, and recording. Data
collection tools included note-taking paper, list of questions, writing instruments, and recording devices.
Euphemism references could be classified based on circumstances, animals, objects, body parts, kinship,
spirits, activities, professions, and diseases. The results of this study were expected (1) to be used as a
reference for further research; (2) as a guide in daily communication, especially the people of Ngabang
Malay dialect speakers; (3) documentation from oral to written form; and (4) the restoration of the
dignity of the language as a national identity.
Keywords: reference, euphemism, taboo, Ngabang
PENDAHULUAN
269
Bahasa adalah media untuk berkomunikasi antarmanusia satu dengan manusia lainnya dalam
mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan yang mengganjal di dalam hati seseorang
manusia. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang
dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi (Bloomfield
[dalam Sumarsono], 2013:18). Bahasa yang bersistem tentunya memiliki aturan-aturan yang
terstruktur serta mengandung nilai-nilai dan norma bagi masyarakat penuturnya.
Wijana dan Rohmadi (2013:7) mengemukakan sosiolinguistik sebagai ilmu yang bersifat
interdisipliner yang mengharap masalah-masalah kebahasaan dalam hubungannya dengan faktor-
faktor sosial, situasional, dan kulturalnya. Sosiolinguistik sebagai cabang linguistik memandang
atau menempatkan kedudukan bahasa dalam hubungannya dengan pemakaian bahasa di dalam
masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak lagi sebagai individu, akan
tetapi sebagai masyarakat sosial.
Menurut Sutarman, (2013:55) referensi merupakan bentuk pengacuan bahasa pada benda atau
peristiwa yang ditunjukannya. Kata atau istilah yang mengacu pada referen tertentu jika diucapkan
secara langsung di depan umum kadang dinilai tidak sopan dan tidak nyaman didengar. Eufemisme
atau eufemismus berasal dari bahasa Yunani eufhemizein yang memiliki arti yang baik atau dengan
tujuan yang baik. Keraf (dalam Sutarman, 2013:47) menyatakan bahwa eufemisme adalah acuan
berupa ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan kata-kata yang dianggap menghina,
menyinggung perasaan, atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Menurut Wijana dan Rohmadi (2013:119) referensi eufemisme dapat digolongkan menjadi
keadaan, binatang, benda-benda, bagian tubuh, kekerabatan, makhluk halus, aktivitas, profesi, dan
penyakit.
Tabu atau pantangan adalah suatu larangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan,
atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat.
Pelanggaran tabu biasanya tidak dapat diterima dan dapat dianggap menyerang. Tabu dapat juga
membuat malu, aib, dan perlakuan kasar dari masyarakat sekitar. Akmajin (dalam Manopo,
2014:2) menyatakan tabu adalah kata-kata yang tidak pantas kita ucapkan di dalam masyarakat
dan penggunaan kata tabu sebaiknya kita hindari atau paling tidak kita gunakan di dalam pergaulan
di masyarakat.
Tabu bahasa adalah larangan untuk menggunakan kata-kata tertentu karena dianggap dapat
mendatangkan malapetaka, melanggar etika sopan santun, mencemarkan nama, mendapat amarah
dari Tuhan, maupun—diyakini sebagian orang—mengganggu makhluk halus yang ada pada
tempat-tempat tertentu. Pada masyarakat dewasa saat ini, baik di desa maupun di kota, banyak
ditemukan ungkapan yang ditabukan khususnya yang menyangkut tentang seksual. Sutarman
(2013:18) menyatakan tabu bahasa atau verbal adalah semua ungkapan yang berwujud leksem,
frasa, atau kalimat yang tidak boleh dituturkan secara langsung, baik secara lisan maupun tertulis.
Jika dilanggar, larangan itu diyakini dapat mendatangkan malapetaka, amarah, permusuhan,
ataupun kebencian orang lain. Masyarakat penutur bahasa Melayu dialek Ngabang (BMDN) masih
memegang teguh adat istiadat dari para leluhurnya yang mana satu di antaranya adalah ungkapan
kata-kata tabu.
270
METODE
Metode yang digunakan peneliti dalam memecahkan masalah penelitian ini adalah metode
penelitian deskriptif. Moleong (2012:11) menyatakan bahwa dengan metode deskriptif data-data
yang berupa fakta-fakta, gambaran, dan bukan angka-angka sehingga laporan penelitian akan
berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut.
Bentuk penelitian yang digunakan dalam peneliti adalah bentuk kualitatif. Menurut Mahsun
(2014:257), analisis kualitatif fokusnya pada penunjukan makna, deskripsi, penjernihan, dan
penempatan data pada konteksnya masing-masing dan sering kali melukiskannya dalam bentuk
kata-kata dari pada dalam angka-angka. Lebih lanjutnya Mahsun menjelaskan bahwa penelitian
kualitatif data yang dianalisis itu bukan data berupa angka-angka (data kuantitatif) tetapi data
berupa kata-kata.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sosiolinguistik. Nababan (Sumarsono,
2013:4) menyatakan sosiolinguistik adalah kajian atau pembahasan bahasa sehubungan dengan
penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat.
Data dalam penelitian ini adalah kata-kata tabu dalam BMDN sebagai bentuk komunikasi
lisan yang ada di Kecamatan Ngabang desa Raja dan desa Mungguk. Menurut Lofland dan Lofland
(Moleong, 2012:157), sumber data utama penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan,
selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data penelitian ini adalah
tuturan lisan masyarakat Melayu Ngabang yang kemudian ditranskripsikan menjadi bahasa tulis.
Persyaratan-persyaratan yang dimaksud sebagai berikut.
“(1) Berjenis kelamin pria atau wanita Berusia antara 25—65 tahun (tidak pikun), (2)
Orang tua, istri, atau suami informan lahir dan dibesarkan di desa itu serta jarang atau
tidak pernah meninggalkan desanya, (3) Berpendidikan maksimal tamat pendidikan
dasar (SD-SLTP), (4) Berstatus sosial menengah (tidak rendah dan tidak tinggi) dengan
harapan tidak terlalu tinggi mobilitasnya, (5) Pekerjaan bertani atau buruh Memiliki
kebanggaan terhadap isolek, (6) Dapat berbahasa indonesia; (7) dan Sehat jasmani dan
rohani.”
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi langsung dan wawancara.
Peneliti juga menggunakan komunikasi tidak langsung berupa daftar pertanyaan yang dijawab oleh
informan. Berdasarkan pendapat Rosidin (2010:73—74), angket sangat membantu dalam
penelitian.
PEMBAHASAN
Manusia hidup pada umumnya membutuhkan interaksi baik yang bersifat langsung maupun
tidak langsung. Dalam interaksi tersebut tentu adanya sebuah hubungan yang dibina antarsesama,
agar terciptanya kerukunan sosial dalam bersosialisasi. Membentuk, mengembangkan, membina
kerukunan seringkali manusia berselisih paham atau berbeda pendapat dengan yang lainnya.
Secara sederhana pembagian data ini, bedasarkan ada tidaknya acuan (referen), kata-kata tabu
271
dalam BMDN. Dilihat referensi eufemismenya jenis kata-kata tabu dalam BMDN digolongkan
bermacam-macam, yakni benda dan binatang, bagian tubuh, profesi, penyakit, aktivitas, peristiwa,
dan sifat atau keadaan. Referensi eufemisme tersebut akan peneliti paparkan satu persatu di bawah
ini.
a. Referensi Eufemisme Berdasarkan Keadaan
Referensi kata-kata tabu yang merujuk pada keadaan dan frekuensinya sering digunakan
masyarakat. Kata-kata tabu yang digunakan berupa bahasa daerah yaitu BMDN dan kata-kata
tabu tersebut merujuk pada akronim.
NoKoding data Tabel 3.1
1K.T32.I4 Referensi Eufemisme Berdasarkan Keadaan
2K.T33.I4. Kata-Kata Tabu Koding Data Referensi Eufemisme
3K.T36.I4 RE2.KT32.I4
RE3.KT32.I4
RE5.KT36.I4
1. RE2.KT32.I4.
dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi eufemisme dari
kata memiliki arti yaitu suatu keadaan di mana seseorang kurang pandai
atau kurang cerdas. Keadaan-keadaan yang seperti itu dalam masyarakat penutur
BMDN diberilah referensi eufemismenya supaya tidak terjadi kesalahpahaman
antar-mitra tutur. referensi eufemisme tersebut digunakan dengan tujuan untuk
mencipta suatu hubungan yang harmonis dalam masyarakat.
2. RE3.KT33.I4.
Katamerupakan kata yang ditabukan dalam masyarakat BMDN. dalam
istilah lain yaitu bertukar akal atau tidak waras. Namun, dalam masyarakat penutur
BMDN memiliki referensi eufemisme yaitu atau. Kata-
kata tersebut digunakan oleh masyarakat penutur BMDN untuk menghindari
sebuah pertikaian atau menjaga perasaan seseorang dengan tujuan terciptanya
hubungan komunikasi sosial yang baik antarmasyarakat.
3. RE5.KT36.I4.
Kata ataudigunakan oleh masyarakat BMDN sebagai referensi
eufemisme dari kata Kedua kata tersebut digunakan oleh masyarakat penutur
BMDN karena dianggap lebih halus dan sopan pengucapannya. Selain itu,
penggunaan kata danbertujuan untuk menjaga agar tidak terjadi
kesalahpahaman antarpenutur dan mitra tutur dengan begitu tercipta situasi
komunikasi yang baik dalam masyarakat.
272
b. Referensi Eufemisme Berdasarkan Binatang
Di lingkungan masyarakat tradisional, khususnya masyarakat penutur BMDN, ada nama-
nama binatang tertentu yang dianggap tabu jika diucapkan secara langsung. Hal ini berkaitan
dengan kepercayaan supranatural terhadap ‘tulah’ yang akan diterima jika binatang tersebut
disebut secara terang-terangan. Binatang-binatang tersebut dalam masyarakat BMDN memiliki
referensi eufemisme pengucapannya. Berikut referensi eufemismenya.
Tabel 3.2
Referensi Eufemisme Berdasarkan Binatang
No Koding Data Kata-kata Tabu Koding Data Referensi eufemisme
1 K.T2.I1 RE2.KT2.I1
2 K.T3.I1 RE3.KT3.I1
3 K.T5.I1 RE4.KT5.I1
1. RE2.KT2.I1.
Kata digunakan oleh masyarakat penutur BMDN sebagai referensi
eufemisme dari kata . Kata bagi masyarakat Melayu Ngabang memiliki
arti sama dengan Namun kata sering digunakan oleh masyarakat BMDN
untuk manusia. Sementara itu, bagi masyarakat BMDN manusia sering dianggap
memiliki sifat yang baik. Kata sama artinya dengan hutan. Referensi eufemisme
ini digunakan oleh masyarakat penutur BMDN dengan tujuan agar tidak mengundang
binatang seperti untuk datang menggangu tanaman mereka.
2. RE3.KT3.I1.
dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi eufemisme
dari kata Kata memiliki arti yang sama dengan yaitu sebagai
binatang pengerat yang merupakan hama yang mendatangkan kerugian, baik di rumah
maupun di sawah, berbulu, dan berekor panjang. Namun, dalam masyarakat penutur
BMDN kata merupakan kata yang sopan pengucapannya ketika berada di
sawah ataupun di kebun. Jika kata diucapkan di sawah ataupun di kebun
maka dipercayai kata-kata itu tidak mengundang hama untuk datang.
3. RE4.KT5.I1.
dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata . dalam masyarakat penutur BMDN memiliki
arti yaitu penjaga seluruh kehidupan yang ada di air. Bagi masyarakat penutur BMDN
penyebutan kata menjadi wajib apabila berada di air. Hal itu dilakukan
dengan tujuan agar terhindar dari marabahaya dan mendapat perlindungan dari
penjaga air.
273
c. Referensi Eufemisme Berdasarkan Makhluk Halus
Makhluk halus merupakan roh gaib atau sesuatu yang gaib (tidak tampak mata) mereka hidup
dan saling membaur satu sama lain di tengah-tengah masyarakat, walaupun keberadaannya
tidak dapat dilihat secara kasat mata. Bagi masyarakat penutur BMDN keberadaan makhluk
halus sangatlah ditakuti pengucapannya secara langsung atau terang-terangan. Maka dari itu,
ada umpatan atau referensi eufemisme yang digunakan oleh masyarakat penutur BMDN dalam
pengucapannya. Berikut pemaparan referensi eufemisme makhluk halus berdasarkan data yang
terkumpul.
Tabel 3.3
Referensi Eufemisme Berdasarkan Makhluk Halus
KoNdoing Data Kata-kata Tabu Koding Data Referensi Eufemisme
1 K.T7.I1 RE1.KT7.I1
2 K.T10.I2 RE2.KT10.I2
3 K.T11.I2 RE3.KT11.I2
1. RE1.KT7.I1.
digunakan oleh masyarakat penutur BMDN sebagai referensi eufemisme
dari kata. merupakan sejenis binatang air mirip dengan jenglot. Menurut
keyakinan masyarakat penutur BMDN apabila kita mengucapkan kata
pada saat berada di air maka, dipercayai dapat menghindari malapetaka
atau gangguan dari mahkluk halus seperti
2. RE2.KT10.I2.
atau dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai
referensi eufemisme dari kata . Kata atau
diucapkan pada saat berada di hutan. Kata atau
dianggap sopan pengucapannya ketika berada di hutan hal itu diyakini dapat
menghindari gangguan makhluk halus dan malapetaka yang akan mengancam.
3. RE3.KT11.I2.
atau dalam masyarakat penutur BMDN diggunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata Kata atau sering digunakan oleh
masyarakat penutur BMDN sebagai referensi eufemisme ketika berada di rumah saat
malam hari. Hal ini, oleh masyarakat penutur BMDN dipercayai agar tidak
mengundang makhluk halus datang di rumah.
d. Referensi Eufemisme Berdasarkan Benda
Selain itu, ada benda-benda tertentu yang dikeluarkan oleh organ tubuh manusia sering yang
dianggap menjijikkan oleh kalangan masyarakat tertentu seperti halnya pada masyarakat
274
Melayu Ngabang. Benda-benda tersebut ketika diucapkan di depan umum dianggap tidak
sopan. Oleh kerena itu, perlu penghalusan dalam menyebut benda-benda tersebut. Berikut
referensi eufemisme berdasarkan benda-benda tertentu.
Tabel 3.4
Referensi Eufemisme Berdasarkan Benda
No Koding DKaattaa-kata Tabu Koding Data Referensi Eufemisme
1 K.T9.I2 RE1.KT9.I2
2 K.T18.2 RE2.KT18.I2
3 K.T40.I4 RE3.KT40.I4
1. RE1.KT9.I2
atau dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata . Menurut masyarakat penutur BMDN apabila kata
diganti dengen referensi eufemisme dengan kata atau maka
dipercayai dapat menghindari kesialan dalam bekerja mencari intan.
2. RE2.KT18.I2
Kata dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi eufemisme
dari kata Menurut kepercayaan penutur BMDN pengucapan kata
dilarang keras dalam situasi kondisi apapun. Hal ini dianggap dapat membawa
kesialan dalam bekerja mencari rezeki. Oleh karena itu, untuk menghindari kesialan
tersebut, diberilah referensi eufemisme dengan kata
3. RE3.KT40.I4
atau dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme. Menurut masyarakat penutur BMDN apabila kata diganti dengan
referensi eufemisme dengan kata atau maka dipercayai dapat
menghindari kesialan dalam proses bekerja mencari emas.
e. Berdasarkan Bagian Tubuh
Bagian-bagian tubuh tertentu yang fungsinya menyangkut aktivitas seksual sering dianggap
tabu ketika diucapkan secara terang-terangan oleh masyarakat Melayu Ngabang sehingga perlu
diganti dengan ungkapan yang lebih halus. Pada rubrik medis atau ilmu kedokteran, penyebutan
bagian-bagian tubuh menggunakan ungkapan yang lebih halus pula agar klien tidak merasa
tersinggung akan hal itu. Berikut pemaparan dan referensi kata-kata tabu dalam BMDN pada
bagian tubuh.
275
Tabel 3.5
Referensi Eufemisme Berdasarkan Bagian Tubuh
No Koding DatKa ata-kata tabu Koding Data Referensi Eufemisme
1K.T12.I2 RE1.KT12.I2
2K.T23.I3 RE4.KT23.I3
3K.T24.I3 RE5.KT24.I3
1. RE1.KT12.I2
Katadalam masyarakat penutur bahasa Melayu Ngabang digunakan sebagai
referensi eufemisme dari kata . Kata memiliki arti yang cukup baik dalam
lingkungan komunikasi masyarakat Melayu Ngabang. Karena kata biasanya
digunakan oleh orang tua kepada anaknya.
2. RE4.KT23.I3
Kata dalam masyarakat penutur bahasa Melayu Ngabang digunakan sebagai
referensi eufemisme dari kata . merupakan isi atau bagian daging yang
tumbuh di luar tubuh, baik itu tubuh manusia maupun hewan. Selain itu, ini
juga tidak memiliki tulang sedikitpun. Melihat banyaknya persamaan dengan
(bagian atau daging yang kecil dari vagina wanita) maka dari itu oleh masyarakat
Melayu Ngabang digunakanlah kata sebagai penggantinya agar tidak
menimbulkan kesan cabul dalam berkomunikasi bagi si pendengarnya.
3. RE5.KT.24.I3
Kata dalam masyarakat penutur bahasa Melayu Ngabang digunakan sebagai
referensi eufemisme dari kata merupakan jenis makanan yang
berbentuk segi tiga dengan rasa yang manis dan kembang. Oleh karena itu, oleh
masyarakat Melayu Ngabang dijadikan sebagai acuan untung penghalus kata
f. Referensi Eufemisme Berdasarkan Kekerabatan
Sejumlah kata-kata kekerabatan mengacu pada individu-individu yang dihormati atau
orang yang lebih tua. Selain itu, kekerabatan ini biasanya untuk seseorang atau individu yang
mengajarkan dalam hal kebaikan sehingga menjadi contoh untuk generasi muda. Sebagai orang
yang dihormati, nama atau kata ketika berbicara dengannya juga harus sopan tidak
sembarangan sebut saja. Masyarakat penutur BMDN dalam hal ini memiliki kata, istilah atau
referensi eufemisme yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau orang
yang dihormati.
276
Tabel 3.6
Referensi Eufemisme Berdasarkan Kekerabatan
NoKoding Data Kata-kata tabu Koding Data Referensi Eufemisme
1K.T13.I2
2K.T14.I2 RE1.KT13.I2
3K.T50.I5 RE2.KT14.I2
RE4.KT50.I5
1. RE1.KT13.I2
Kata dalam masyarakat penutur bahasa Melayu Ngabang digunakan
sebagai referensi eufemisme . Kata merupakan yang tidak lazim
digunakan. Kata merupakan kata makian untuk mengungkapkan
kemarahan atau rasa tidak senang kepada orang tua. Maka dari itu, oleh
masyarakat BMDN diganti dengan kata yang lebih sopan dan halus dalam
penyebutannya, yaitu kata .
2. RE2.KT14.I2
Kata dalam masyarakat penutur bahasa Melayu Ngabang digunakan
sebagai referensi eufemisme . Kata mengacu pada manusia,
sedangkan kata mengacu pada hewan atau binatang. Oleh karena itu,
kata dalam masyarakat BMDN lebih sopan pengucapannya.
3. RE4.KT50.I5
Kata dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata . Kata digunakan pada saat berbicara dengan lawan
bicara yang lebih tua dari kita. Kata dalam masyarakat penutur BMDN
merupakan kata pengganti orang pertama tunggal, yang mana kedudukannya
sangat tinggi. Dalam masyarakat penutur BMDN, apabila seseorang berbicara
dengan menggunakan kata maka ia akan dianggap tidak sopan atau tidak
memiliki tata krama yang baik. Beda halnya apabila seseorang menggunakan
kata dalam komunikasinya sehari-hari, orang tersebut dianggap memiliki
tata krama, sopan santun yang baik dalam berkomunikasi.
g. Referensi Eufemisme Berdasarkan Aktivitas
Berbagai aktivitas organ tubuh ataupun perbuatan manusia juga mendapatkan referensi di
dalam masyarakat penutur BMDN. Aktivitas tersebut tidak hanya menyangkut pada aktivitas
seksual saja akan tetapi juga menyangkut pada aktivitas organ lainnya. Hal ini didasarkan pada
etika berbahasa dan kesantunan berbahasa yang dilakukan dalam berkomunikasi antarmitra
tutur. Di bawah ini diuraikan dan dipaparkan referensi kata-kata tabu dalam BMDN.
277
Tabel 3.7
Referensi Eufemisme Berdasarkan Aktivitas
NKo oding Data Kata-kata tabuKoding Data Referensi Eufemisme
5K.T30.I3
RE5.KT29.I3
6K.T31.I3
RE6.KT31.I3
8K.T49.I5
RE8.KT49.I5
1. RE5.KT29.I3
dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata dalam masyarakat penutur BMDN memiliki
arti ‘kegiatan menunggangi’. Sehingga kata dalam masyarakat BMDN
sering diganti dengan kata bekuda karena melihat proses atau kegiatan ketika
melakukan hubungan intim seperti menunggangi kuda.
2. RE6.KT31.I3
Kata dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata Kata dalam masyarakat penutur BMDN
memiliki tingkat atau kedudukan yang tinggi yaitu sebagai bahasa yang halus atau
sopan digunakan. Selain itu, kata digunakan sebagai referensi eufemisme
oleh masyarakat penutur BMDN dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan
komunikasi yang baik antarsesama anggota masyarakat.
3. RE8.KT49.I5
Kata dalam masyarakat penutur bahasa Melayu Ngabang digunakan
sebagai referensi eufemisme dari kata Kata memiliki persamaan
atau sinonim dengan kata Namun, kata dalam masyarakat Melayu
Ngabang memiliki makna yang lebih halus dan sopan dalam pengucapannya.
h. Berdasarkan Profesi
Dalam lingkupan masyarakat umum dan masyarakat melayu Ngabang khususnya, banyak
profesi yang dianggap rendah dan kurang terhormat keberadaannya. Profesi-profesi tersebut
dinilai rendah karena bertentangan dengan nilai-nilai agama dan haram untuk dikerjakan.
Walaupun demikian, ada orang yang menjalankan profesi tersebut yang merasa tersinggung
jika profesi yang ia jalankan disebut secara langsung kepada khalayak ramai. Profesi-profesi
tersebut akan dijelaskan di bawah ini.
NoKoding Data Tabel 3.8
1K.T23.I3 Referensi Eufemisme Berdasarkan Profesi
2K.T22.I3 Kata-kata tabu Koding Data Referensi Eufemisme
RE1.KT23.I3
RE2.KT22.I3
278
1. RE1.KT23.I3
dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata merupakan seorang perempuan yang
bekerja menjual diri kepada laki-laki hidung belang. Selain itu, kata juga
memiliki arti sebagai perempuan simpanan seseorang. Dalam masyarakat penutur
BMDN, pengucapan kata di depan umum dianggap kasar dan bisa
menimbulkan pertikaian antara lawan bicara. Namun, apabila kata diganti
dengan kata akan kedengaran lebih sopan. Penggantian atau
penghalusan kata seperti ini bertujuan agar terciptanya suatu hubungan
masyarakat yang harmonis, selain itu juga dapat menciptakan sebuah komunikasi
yang baik dalam masyarakat.
2. RE2.KT22.I3
dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata dalam masyarakat penutur BMDN memiliki
arti seorang perempuan yang bekerja sebagai wanita penghibur, penjaja cinta, PSK,
atau kupu-kupu malam, yang mana mereka bekerja sebagai pelampiasan hawa nafsu
laki-laki si hidung belang. Apabila kata diucapkan di depan umum akan
kedengaran tidak sopan. Selain itu, pengucapan kata di depan umum juga dapat
membawa pertikaian bagi mintra tutur yang mendengarnya. Namun, apabila kata
diganti dengan kata akan kedengaran lebih sopan dan halus.
Penghalusan atau yang biasa disebut dengan referensi eufemisme seperti ini dalam
masyarakat penutur BMDN memiliki tujuan agar terciptanya suatu hubungan yang
harmonis serta menciptakan sebuah komunikasi yang baik dalam masyarakat.
i. Berdasarkan Penyakit
Penyakit seringkali menjadi sesuatu hal yang menakutkan. Dalam masyarakat penutur bahasa
Melayu Ngabang khususnya ada penyakit-penyakit yang dianggap tabu dan tidak boleh
disebutkan karena apabila disebutkan akan membawa dampak buruk bagi penuturnya.
Penyakit-penyakit tersebut memiliki sifat menjijikkan, berbahaya, dan menimbulkan rasa malu
bagi penderita maupun keluarganya. Oleh karena itu, dalam masyarakat Melayu Ngabang,
penyakit yang dianggap tabu dan bisa membawa keburukan memiliki istilah lain atau yang
disebut dengan referensi eufemisme. Beberapa penyakit yang sering diperhalus penyebutannya
sebagai berikut.
279
NKo oding Data Tabel 3.9
1K.T45.I5 Referensi Eufemisme Berdasarkan Penyakit
Kata-kata tabu Koding Data Referensi Eufemisme
2K.T46.I5
RE1.KT45.I5
3K.T35.I4
RE2.KT46.I5
RE3.KT35.I4
1. RE1.KT45.I5/
Kata dalam masyarakat penutur BMDN sangat tabu untuk diucapkan di depan
umum. merupakan jenis penyakit yang terdapat pada bagian luar kulit seperti
benjolan. Benjolan tersebut memiliki nanah yang menjijikkan. Selain menjijikkan,
penyakit ini juga dianggap dapat menular. Oleh karena itu, untuk menghindari
pengucapan kata tersebut masyarakat penutur BMDN memberikan referensi
eufemismenya yaitu merupakan buah yang memiliki ukuran besar,
berkulit bening, dan memiliki daging yang menyerupai nanah.
2. RE2.KT46.I5
Kata dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi
eufemisme dari kata dalam masyarakat penutur BMDN memiliki arti
sesuatu yang menempel pada suatu benda dengan ukuran yang kecil. Biasanya
ini menempel pada buah dan pohon-pohon.
3. RE3.KT35.I4
Kata dalam masyarakat penutur BMDN digunakan sebagai referensi eufemisme
dari kata . Kata memiliki arti yang sama dengan kata yaitu cairan
kental keluar dari lobang telinga dengan bau yang tidak sedap. Namun, kata
dalam masyarakat BMDN memiliki kedudukan yang lebih tinggi sebagai bahasa
yang halus dan sopan.
SIMPULAN
Penelitian terhadap referensi eufemisme kata tabu dalam BMDN dilakukan di Kabupaten
Landak Kecamatan Ngabang tepatnya di Desa Raja dan Desa Mungguk. Penelitian ini melibatkan
5 orang informan yaitu 2 dari Desa Raja dan 3 dari Desa Mungguk. Data referensi eufemisme kata
tabu dalam BMDN berhasil peneliti kumpulkan sebanyak 50. Data tersebut peneliti dapatkan
dengan melakukan kegiatan wawancara dan perekaman di lokasi penelitian.
Analisis referensi eufemisme kata tabu dalam BMDN dilakukan berdasarkan penggolongan teori
Wijana yaitu keadaan, binatang, makhluk halus, benda-benda, bagian tubuh, kekerabatan,
aktivitas, profesi, dan penyakit.
280
DAFTAR PUSTAKA
Mahsun. (2005). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Moleong, Lexsy J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Monopo, Regina Jesika. (2014). Kata-Kata Tabu Dalam Film Bad Teacher Karya Lee Eisenberg
Dan Gene Stupnitsky (Suatu Analisis Sosiolinguistik). Jurnal Universitas Sam Ratalangi
Fakultas Ilmu Budaya Manado
Rosidin, Odin. (2010). Kajian Bentuk, Kategori, dan Sumber Makian, serta Alasan Penggunaan
Makian oleh Mahasiswa. Tesis Magister Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas
Indonesia. Jakarta.
Sumarsono. (2013). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutarman. (2013). Tabu Bahasa dan Eufemisme. Surakarta: Yuma Pustaka.
Wijana, I Dewa Putu, dan Muhammad Rohmadi. (2013). Sosiolingustik Kajian Teori dan
Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
281
The Multicultural Literacy of the Indramayu District Community
Roni Nugraha Syafroni a,*
a Universitas Singaperbangsa Karawang
Jl. H. S. Ronggowaluyo, Telukjambe Timur, Karawang, Indonesia
*Pos-el: [email protected]
Abstrak: Negara Indonesia dianugerahi oleh Tuhan YME beragam budaya. Hal ini yang membuat
Indonesia menjelma menjadi sebuah negara yang mempunyai nilai positif dan negatif dalam
berkehidupan berbangsa masyarakatnya. Dampak positifnya adalah beragam budaya tersebut
sangat dapat memperkaya khazanah Indonesia, saling belajar menghormati, tenggang rasa, dan
tidak egois. Namun, ada juga nilai negatifnya, antara lain mudah saling bergesekan, tidak punya
rasa besar hati, dan memaksakan kehendaknya agar yang berbeda itu menjadi sama. Lokasi
penelitian adalah di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Alasannya adalah terjadi multikultural
yang sangat harmonis, antara kultur Jawa dan Sunda. Bahkan beberapa kultur dari suku lain, tetapi
peneliti terfokus terhadap kultur Jawa dan Sunda. Teori yang peneliti gunakan adalah teori
pendidikan literasi dan pendidikan multikultural. Pengambilan data oleh peneliti diusahakan
secara langsung ke lapangan melalui wawancara kepada masyarakat yang dituakan, perangkat
pemerintah, kemudian dokumentasi dari lapangan, serta hasil baca dari beberapa literatur yang
sesuai dengan kebutuhan penelitian ini. Metode dalam penelitian ini adalah deksriptif kualitatif.
Hasil dan pembahasan penelitian ini antara lain merinci hasil peranan pendidikan literasi dari
perpustakaan mini yang dibuat peneliti, hasil wawancara, mendaftarkan kemudahan dan kesulitan
yang dialami masyarakat di lapangan, serta memberikan solusi yang membangun terhadap
masyarakat.
Kata Kunci: indramayu, kabupaten, keliterasian, multikultural
Abstract: The country of Indonesia is blessed by God with various cultures. This is what makes
Indonesia transformed into a country that has positive and negative values in the life of its people.
The positive value is that these diverse cultures can greatly enrich the treasures of Indonesia, learn
to respect each other, be tolerant, not selfish in congregation. However, there are also negative
values, such as being easy to rub against each other, not having a big heart, forcing their will to be
the same. The research location is in Indramayu Regency, West Java. The reason is because in this
district, there is a very harmonious multiculturalism, between Javanese and Sundanese cultures.
Even some cultures from other tribes, but researchers focused on Javanese and Sundanese culture.
The theory that the researcher uses is the theory of literacy education and multicultural education.
282
Data collection by researchers is attempted directly to the field through interviews with the elderly,
government officials, then documentation from the field, as well as reading results from several
literatures that are in accordance with the needs of this research. The method in this research is
descriptive qualitative. The results and discussion of this study, among others, detail the results of
the role of literacy education from the mini library made by researchers, from the results of
interviews, registering the ease and difficulties experienced by the community in the field, as well
as providing constructive solutions to the community.
Keywords: district, Indramayu, literacy, multicultural
PENDAHULUAN
Latar belakang penelitian ini adalah rasa ingin tahu peneliti terhadap budaya yang ada di Kabupaten
Indramayu, khususnya yang ada di Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Di daerah
ini masyaraktnya memiliki ragam budaya atau multikultural. Budaya yang peneliti fokuskan dalam
penelitian ini adalah ragam budaya daerah, yaitu bahasa Sunda dan Jawa. Hal ini terjadi, karena desa ini
berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Sumedang dan dahulu desa ini masuk ke dalam daerah
administratif Kabupaten Sumedang. Maka tak heran, di desa Cikawung terjadi yang dinamakan
multikultural. Masuknya Desa Cikawung ke dalam wilayah administratif Indramayu karena yang
dinamakan Perjanjian Batu Bubut yang terjadi di Blok Ciwado, Desa Cikawung.
Penelitian yang berkaitan dengan tema multikultural di daerah Jawa Barat atau Indramayu pernah
ditulis oleh Ramdhani (2018) yang meneliti multikultural di daerah Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten
Indramayu. Penelitian Ramdhani berfokus kepada kultur antar suku yang mendiami derah Haurgeulis.
Kemudian, penelitian yang berhubungan dengan multikultural bahasa adalah penelitian dari Dewi dan
Dinie (2021). Penelitian mereka berlokasi di Desa Patuanan, Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten
Majalengka. Penelitian mereka berfokus terhadap masyarakt Desa Patuanan yang lebih banyak
berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa daripada Sunda. Uniknya, hanya Desa Patuanan yang
berkomunikasi sehari-hari dengan bahasa Jawa. Selanjutnya, adalah penelitian yang dilakukan oleh
peneliti. Penelitian ini lebih terfokus terhadap keadaan multikultural bahasa di Desa Cikawung yang
didominasi oleh bahasa Sunda sehari-hari. Permasalahan pada penelitian ini adalah cara yang dilakukan
oleh masyarakat Desa Cikawung untuk mewujudkan keharmonisan dengan masyarakat dari daerah lain
yang bertutur bahasa Jawa.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fenomena kebahasaaan alih kode dan campur kode
bahasa daerah oleh masyarakat Desa Cikawung. Manfaat penelitian ini adalah mengetahui fenomena
kebahasaan alih kode dan campur kode oleh masyarakat Desa Cikawung. Teori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teori sosiolinguistik dari Chaer dan Agustina (2014).
283
METODE
Metode penelitian yang sesuai untuk penelitian ini adalah metode kualitatif. Hal ini sesuai
dengan apa yang dikemukan Creswell (16: 2012), penelitian kualitatif bertujuan mengkaji suatu
masalah dan mengembangkan pemahaman mendalam terhadap suatu fenomena. Sumber data
dalam penelitian ini, peneliti melakukan studi pustaka dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data
yang peneliti lakukan bersumber dari teknik studi pustaka, maka penelitian ini selain data berbasis
daring, juga data berbasis luring yang mengambil dari berbagai literature yang berkaitan. Data
yang telah didapat akan disusun berdasarkan kebutuhan yang kemudian akan dianalisis melalui
tahapan reduksi data, data display dan verifikasi data (Cresswell: 2012).
PEMBAHASAN
Bagian ini, peneliti akan menguraikan cara yang dilakukan oleh masyarakat Desa Ckawung untuk
mewujudkan keharmonisan dengan masyarakat dari daerah lain yang bertutur bahasa Jawa. Selanjutnya,
pada bagian ini juga, peneliti akan menguraikan tujuan penelitian ini, yaitu untuk menganalisis fenomena
kebahasaaan alih kode dan campur kode bahasa daerah oleh masyarakat Desa Cikawung.
Hasil
Di bawah terdapat tabel yang lebih menjelaskan hal yang dimaksud.
Tabel 1: Data Alih Kode
No. Alih Kode
1. Kumaha damang Pa? Kenalkeun,
abdi Roni ti Karawang. Badé
wawancara sakedap.
2. Yo apik tenan. Monggo Cah dilanjut
wawancarane.
3. Punten, Pa, abdi teu tiasa basa Jawa.
Kumaha mun make basa Sunda waé?
4. O kitu. Nya sok atuh jang. Deuk
nanya naon?
5. Perkawis sajarah désa ieu Pa. Tah
kumaha cikan Pa.
Tabel 2: Data Campur Kode
No. Campur Kode
1. Punten, kenalake jenengku Ridho. Aku
duwe idin kanggo wawancara karo
Bapak. Teu sawios Pa?
284
2. Ono sing bisa Aku bantu, Jang? Kadieu,
diuk heula.
3. Matur nuwun Pak. Kieu, Kulo arep
takon naha di dieu mah bisa dua basa?
4. O, dawa pisan mun dicaritakeun mah.
amarga wiwitane desa iki kalebu
wilayah Kabupaten Sumedang. wiwit
kesepakatan Batu Bubut, desa iki
dadi bagean saka kabupaten
Indramayu. Kitu Jang! Sok, aya deui
euwewuh sing liyane pengin ditakon?
5. O kitu Pak caritana. Atos Pak. Teu aya
deui patarosan. Matur nuwun sanget
Pak! Aku pengen muter-muter dhisik
Pembahasan
Penelitian ini telah mengungkap bahwasanya masyarakat di Desa Cikawung memang benar-benar
bermultikultural dalam hal dapat bertutur dua bahasa daerah sekaligus. Ditambah bertutur bahasa
Indonesia. Tuturan tersebut terlihat dalam konteks alih kode dan campur kode. Hal ini disebabkan karena
untuk saling menghormati masyarakat yang berasal dari luar desa mereka.
SIMPULAN
Simpulan dari penelitian ini adalah bahwasanya masyarakat yang tinggal di Desa Cikawung, dalam
sehari-harinya bertutur dan berkomunikasi dalam dua bahasa, yaitu bahasa Sunda dan Jawa. Hal ini
terlihat dari hasil penelitian ini yang meneliti fenomena bahasa alih kode dan campur kode pada
masyarakat tersebut. Masyarakat Desa Cikawung selalu terbuka dengan masyarakat dari daerah lain
yang bertutur bahasa Jawa. Hal ini dilakukan karena masyarakat Desa Cikawung sudah melakukan
asimilasi kebahasaan untuk menjaga keharmonisan.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul, dan Leonie Agustina. (2014). Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka
Cipta.
Creswell, J. W. (2012). Educational Research: Planning, Conducting and Evaluating Quantitative
and Qualitative. Boston: Pearson.
Dewi, Syva Lestiyani, dan Dinie Anggraeni Dewi. (2021). Kajian Sosiolinguistik pada Fenomena Sila
Ketiga Pancasila dalam Penggunaan Bahasa Jawa di Tengah Masyarakat Berbahasa Sunda.
Antropocene: Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora, 1(3), 1-7.
285
Ramdhani, Suciyadi. (2018). Konstruksi Nilai Multikulturalisme pada Masyarakat Haurgeulis
Kabupaten Indramayu. Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, 10(1), 1-16.
286
Shafwan Hadi Umry
Abstrak: Tradisi lisan merupakan kekayaan yang tidak terhingga dalam kehidupan bangsa
Indonesia. Tradisi lisan milik suku-suku asli Sumatra Utara masih dituturkan oleh
masyarakatnya. Penuturan cerita rakyat lebih banyak dilakukan oleh orang yang berusia
lanjut (nenek dan kakek). Hal itupun terbatas pada daerah pedesaan serta kota-kota kecil,
sedangkan di kota-kota besar jarang lagi ditemukan tradisi mendongeng secara alamiah.
Penulisan ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan sastra rakyat (folklor) bercorak cerita
jenaka dalam multikulturalisme budaya lokal yang ada di Sumatra Utara. Pengembangan sastra
rakyat bercorak cerita jenaka ini sejalan dengan semangat abad ke-21 yang ditandai dengan abad
globalisasi informasi yang menimbulkan dampak perubahan baik dalam pilihan selera yang
berubah, maupun model-model kehidupan kota besar, yang membuat masyarakat secara otomatis
masuk dalam jejaring informasi yang memiliki nilai-nilai viral dalam gerakan generasi milenial.
Hal ini membangkitkan kesadaran bagi masyarakat kekinian termasuk generasi muda yakni
"bagaimana memutakhirkan diri" termasuk memutakhirkan wawasan kultural lokal di Sumatra
Utara agar sejajar paling tidak dengan suku-suku yang ada di Indonesia pada umumnya bahkan
bisa merebut pasar literasi khususnya di Asia Tenggara. Kekayaan sastra lokal yang ada di Sumatra
Utara khususnya bercorak cerita jenaka masih ditemukan di daerah Batak Toba (Si Mamora na
Oto, Si Jonaha), Si Cupak dan Si Gantang (Deli Serdang), Si Kelambai (Melayu Langkat).
Khazanah sastra lisan berbentuk cerita rakyat ini begitu populer di hati publik karena masih
disampaikan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi, dari wilayah ke wilayah, dan dari
suku, serta puak yang hidup bertentangga di Sumatra Utara. Penulisan ini menggunakan kajian
pustaka dengan memakai teori estetika paradoks (Sumarjo, 2006) sistem populasi dan data yang
diambil dari sejumlah folklor bercorak cerita jenaka (humor) di tiga kabupaten yakni Deli Serdang,
Langkat, dan Samosir. Metode yang digunakan adalah observasi serta penelaahan sejumlah buku
yang ada di perpustakaan daerah tersebut. Hasil yang diharapkan adalah di tengah keberagaman
dan multikultaralisme sastra lokal diharapkan dapat membangun daya rekat persatuan dan
kesatuan bangsa.
Kata Kunci: folklor, multikulturalisme, estetika paradoks
Abstract: Oral tradition is an infinite wealth in the life of the Indonesian people. Oral traditions
belonging to the indigenous tribes of North Sumatra are still spoken by the people. Folklore is
mostly told by elderly people (grandmothers and grandfathers). Even then it is limited to rural
areas and small towns, while in big cities it is rare to find a natural storytelling tradition. This
287
writing aims to foster and develop folk literature (folklore) with humorous patterns in the
multiculturalism of local culture in North Sumatra. The development of folk literature with
humorous patterns is in line with the spirit of the 21st century, which is marked by the age of
information and globalization that has the impact of changes in both changing tastes and models
of big city life, which makes people automatically enter information networks that have a wide
range of information, viral values in the millennial generation movement. This raises awareness
for the contemporary community, including the younger generation, namely "how to update
themselves" including updating local cultural insights in North Sumatra so that they are at least
equal to the tribes in Indonesia in general and can even seize the literacy market, especially in
Southeast Asia. The wealth of local literature that exists in North Sumatra, especially in the form
of witty stories, is still found in the Toba Batak (Si Mamora na Oto, Si Jonaha), Si Cupak and Si
Gantang (Deli Serdang), Si Kelambai (Langkat Malay). This treasure of oral literature in the form
of folklore is very popular with the public because it is still conveyed continuously from generation
to generation, from region to region, and from tribes and clans who live as neighbors in North
Sumatra. This writing uses a literature review using paradoxical aesthetic theory (Sumarjo, 2006)
population system and data taken from a number of humorous folklore in three districts namely
Deli Serdang, Langkat, and Samosir. The method used is observation and review of a number of
books in the regional library. The expected result is that in the midst of diversity and
multiculturalism, local literature is expected to be able to build the adhesive power of national
unity and integrity.
Keywords: folklore, multiculturalism, paradoxical aesthetics
PENDAHULUAN
Orang Melayu tidak memberi nama yang khusus bagi cerita yang disebut sebagai mitos. Mitos
disebut sebagai cerita atau kisah saja. Cerita dongeng merupakan istilah yang dipengaruhi oleh
sikap kita terhadap cerita-cerita atau kisah-kisah yang kita percaya isinya dan kita anggap takhyul
atau dongeng. Kebanyakan istilah atau perkataan timbul karena adanya kesadaran (consciousness)
terhadap benda atau konsep itu. Orang Melayu pada lahirnya tidak membedakan dari segi istilah
cerita yang dikatakan mitos itu dengan cerita pelipur lara. Istilah pelipur lara itu sekurang-kurangnya
istilah Melayu, sama seperti pantun, syair, teka-teki, bidal, peribahasa, teromba, kaba, dan Iain-lain.
Istilah seperti cerita rakyat dan legenda adalah istilah baru yang dicipta sejak kita menyadari adanya
fenomena ini dalam masyarakat kita. Dengan menggunakan ukuran ciri-ciri yang dikemukakan
oleh Bascom (2013), ada cerita Melayu yang dapat digolongkan pada acuan itu. Walaupun ukuran
yang akan digunakan ialah dari budaya Melayu sendiri.
Cerita masa lampau yang bercorak jenaka banyak terdapat di Sumatra Utara Cerita itu bukan saja
ada di suku Melayu akan tetapi terdapat juga di Simalungun, Toba, Karo, dan sebagainya. Mereka
yang tergolong suku non Melayu memiliki cerita yang boleh dianggap 'mitos' dan berbeda daripada
cerita pelipur lara atau legenda. Pada masa kejadian di masa lampau itu selalu berkaitan dengan
tema yang penting, sebagai dasar kepada perlakuan, institusi atau lembaga masyarakat, kejadian-
kejadian atau sejarah, tokoh-tokoh, terutama mereka yang mengawali sesuatu sebagai pahlawan
288
(culture heroes) dan Iain-lain. Cerita-cerita pelipur lara, maupun legenda tidak mencapai
keistimewaan dari segi masa lampau yang menyelubungi jalan cerita jikalau dibandingkan
dengan mitos. Sebenarnya kalau direnungkan, masa itu jadi penting oleh karena hubungannya
dengan apa yang diceritakan itu seperti juga asal usul pawang dan dukun, cikal bakal sebuah negeri
pengangkatan seorang raja, dan masuknya agama Islam. Sikap “keramat” yang terdapat pada mitos
juga harus diukur pada aspek budaya karena “kekeramatan” sesuatu itu hendaklah dipandang dari
kaca mata yang berlainan. Bagi orang Melayu, cerita-cerita itu lebih bertujuan sebagai hiburan.
Sejarah yang dilalui oleh orang di Sumatra Utara bertalian dengan khazanah cerita jenaka
lebih memperkaya lagi pada peringkat kelas sosial (social-class) atau sub-kultur tertentu.
Tokoh-tokoh cerita jenaka bercorak humor ini pada umumnya diperankan atau dilakukan
oleh rakyat biasa yang bukan dari kalangan bangsawan atau raja. Dalam konteks zaman
dahulu, kita dapat mempersoalkan isi kandungan cerita jenaka mengandungi unsur-unsur yang
diistilahkan folkloistic yakni unsur-unsur yang merupakan warisan lisan zaman animistik zaman
Hindu dan juga unsur-unsur peradaban dan ajaran Islam, yaitu mewakili corak pemikiran pre-
critical, critical, dan scientific. Dalam hal ini kita sebenarnya mempersoalkan bagaimana ketiga
corak pemikiran ini dapat hidup harmonis dan tidak menunjukkan persaingan. Dalam konteks zaman
sekarang juga, kita kononnya mempunyai corak pemikiran “scientific” juga paling tidak
mempercayai hal-hal yang bercorak mythic seperti mitos kebodohan, kepandiran, dan
kecerdikan watak para tokoh cerita humor tersebut.
PERMASALAHAN
Merawat kebinekaan untuk masa depan tidaklah mudah. Pengalaman sejarah sejak
kemerdekaan tahun 1945 menunjukkan betapa tidak mudahnya merawat kebinekaan. Meskipun
negara Indonesia secara konstitusional memiliki pinsip bhinneka tunggal ika yang artinya
beragam tetapi satu juga, selalu ada upaya lebih menekankan keikaan atau ketunggalan daripada
kebinekaan dan kemajemukan seperti pernah dialami Indonesia pada masa Orde Baru.
Ketika situasi sosial-politik berubah cepat dan berdampak luas serta panjang dalam masa
setelah Orde Baru, ketika masyarakat mengalami dislokasi dan disorientasi (kehilangan
pedoman) pada waktu itu pula muncul kelompok masyarakat yang kembali ingin menekankan
ketunggalan, keseragaman, dan uniformitas, khususnya dalam kehidupan beragama dan
budaya.
Kebinekaan Indonesia sangat menonjol di dunia. Menurut Furnivall (1944) masyarakat
plural atau masyarakat bineka adalah masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih unsur atau
tatanan sosial yang hidup berdampingan, tetapi tidak bercampur dan menyatu dalam satu unit
politik tunggal. Teori Furnivall merupakan kontra teori realitas sosial politik Eropa yang relatif
homogen dan sangat chauvinism etnis, rasial, agama, dan gender. Berdasarkan kerangka sosial-
kultural, politik dan pengalaman Eropa, Furnivall memandang masyarakat plural Indonesia
khususnya, dapat terjerumus ke dalam anarki jika gagal menemukan formula 'federasi' pluralis
yang memadai.
Berdasarkan bentuk masyarakat kebinekaan atau multikulturalisme di Sumatra Utara
289
menampilkan permasalahan bagaimana merekat persatuan dan kesatuan melalui khazanah
sastra lisan yang masing-masing memiliki persamaan dalam tematik dan amanat sebagai cerita
pelipur lara yang bercorak jenaka dan hiburan bagi masyarakat tersebut.
Objek yang akan dibahas dalam adalah cerita rakyat Sumatra Utara dalam tiga wilayah
pengkajian yakni cerita bercorak Jenaka, yakni “Si Cupak dan Si Gantang ” (Deli Serdang), “Si
Jonaha” (Simalungun), dan “Si Kelambai” (Langkat).
LANDASAN TEORI
Estetika Paradoks
Tulisan ini menggunakan pendekatan estetika paradoks untuk mengkaji tema,
perwatakan, dan amanat ketiga cerita jenaka di atas. Estetika adalah filsafat ilmu tentang
keindahan, sedangkan paradoks dideskripsikan sebagai pernyataan yang paradoks atau
kontradiksi atau pasangan kembar oposisioner yang saling melengkapi (Simaya, 2006:25).
Estetika paradoks berisi tentang konteks berpikir kolektif pada masyarakat modern.
Manusia bukan bagian terpisah dalam posisi menghadapi apa saja yang berada di luar dirinya
sebagai subjek. Pemikiran pramodem adalah pemikiran holistik (totalitas) yang menyamakan
subjek dengan objek.
Pendekatan paradoks berasal dari estetika Timur yang statis dan dogmatis,
berkembang mulai zaman primitif secara lamban. Estetika paradoks masuk ke dalam estetika
Barat pada masa postmodernisme ketika pakar masa itu, menggali konsep kuno yang
dinamakan shock of the old untuk tujuan melawan kaum modernisme. Mereka menggali jati
diri lama melalui latar budaya atau tradisi-tradisi etnik, religius, atau nilai spiritual yang
berlawanan dengan nilai rasional modernisme.
Estetika paradoks tidak membedakan adanya dualisme, tetapi
menggabungkan pasangan yang saling bertentangan dan saling berseberangan. Menurut
Sumardjo (2006, 2015) estetika paradoks di zaman pramodern Indonesia tidak memisahkan
adanya dualisme objek-subjek dalam proses menghadapi apa saja yang berada dalam dirinya
sebagai subjek. Pikiran pramodern adalah cara berpikir monoistik yakni segalanya adalah
tunggal atau pemikiran tertulis yang menyamakan subjek dengan objeknya.
Pola pikir masyarakat primordial Indonesia dibagi atas estetika pola dua, pola tiga, pola
empat, dan pola lima. Adapun pola-polanya sebagai berikut.
Estetika pola dua dinyatakan hidup manusia dalam eksistensi dualisasi. Dalam estetika
ini, pola dua disebut golongan masyarakai pemburu. Ciri-ciri paradoks manusia ini adalah
jiwa + badan, yang bermakna cara hidup selalu diliputi ketakutan, kecurigaan. Estetika pola
tiga terfokus pada simbol-simbol paradoks berupa "dunia tengah" yang mengharmoniskan
semua hal yang dianalistik-antagonistik mengutamakan paradoks duniawi daripada
paradoks surgawi. Estetika pola empat dikenal dalam masyarakat pesisir kepulauan yang hidup
bergantung pada kesuburan tanah dan kekayaan lain, masyarakat (estetika pola empat) ditandai
pada wilayah dan ruang spasial (a) tanah perbukitan, (b) langit (hujan), (c) laut, dan (d) manusia
Alam pikir pola empat merupakan gabungan dari alam pikir pola dua dan pola tiga. Unsur dominasi
290
yang diambil dari pola dua adalah semangat persaingan mengetahui pasangan dualismenya.
Masyarakat kelautan adalah masyarakat penuh persaingan, kalah-menang, kematian-kehidupan.
Masyarakat seperti masyarakat pola dua, hanya melakukan perburuan di lautan. Berbeda dengan
budaya masyarakat pola empat yang bersifat konsumtif, mereka mengambil, memburu, dan
mengumpulkan kekayaan yang tersedia dalam daerah pesisir perladangan dan persawahan
menggabungkan diri kegiatan pelayaran dan perdagangan seperti di Sumatera (Melayu, Jawa, Aceh).
Estetika pola lima adalah mereka yang mengandalkan hidup bersawah.
Masyarakat petani sawah berbeda dengan masyarakat petani ladang. Di Indonesia, masyarakat
peladang dan pesawah menggantungkan sumber hidupnya dari bertani dengan menanam padi. Kalau
peladang bertani padi di daerah perbukitan, pesawah bertani padi di dataran rendah sehingga terdapat
perbedaan di antara keduanya (Sumardjo, dalam Shafwan, 2015). Dalan masyarakat pola lima
dikenal hubungan vertikal yakni relasi Ketuhanan (Transender) dengan kemanusiaan (immanen),
hamba dengan Maha Pencipta, tunggal dengan jamak.
PEMBAHASAN
Cerita Jenaka
Cerita Jenaka adalah cerita yang jenaka. Jenaka diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Depdiknas, 2008) sebagai "membangkitkan tawa, kocak, lucu; menggelikan." Akan
tetapi R. J. Wilkinson di dalam kamusnya A Malay-English Dictionary menerangkan bahwa jenaka
juga berarti "wily, full of stratagem" (cerdik, berakal, dan tahu ilmu siasat). Ringkasnya cerita
jenaka adalah cerita tentang tokoh yang lucu, menggelikan, atau licik dan licin.
Cerita jenaka ini lahir karena kecenderungan manusia yang suka berlebih-lebihan; misalnya
untuk menceritakan kebodohan manusia terciptalah tokoh yang bodoh sekali seperti Mamora na
Oto, Pak Kadok; untuk menceritakan kemujuran manusia, muncullah pula tokoh yang mujur
sekali, yaitu Pak Belalang, Si Jonaha. Seterusnya masih ada tokoh yang licik sekali seperti Si
Cupak dan Si Gantang, Si Luncai dan bernasib malang sekali seperti Lebai Malang, dan yang
lucu sekali seperti Puak Labu Abu Nawas, dan sebagainya
Sinopsis Cerita Jenaka
(1) Si Jonaha ( Cerita Jenaka Simalungun)
Kisah seorang manusia yang bernama Si Jonaha yang hidup bersama ibunya.Mereka
dikisahkan sebagai orang yang terbuang dari pergaulan masyarakatnya karena ayah si Jonaha tidak
jelas. Namun, Ketika Si Jonaha menjadi pemuda ia banyak mempunyai teman dan memiliki
kecerdasan “mangulok” (menipu) orang di kampungnya.
Dia pergi berburu ke hutan membawa sumpitan yang bernama “ultop”. Sementara itu ibunya
beternak ayam dan bebek. Ketika pulang berburu, Si Jonaha tidak membawa hasil buruannya,
sedangkan ibu memasak ‘hasil buruannya’ di dapur. Mereka berdua menikmati hidangan hasil
buruan itu.
Sebagian orang di kampung heran melihat peristiwa itu.Bahkan mereka kagum dengan
sumpitan “Ultop” alat pemanah burung milik Si Johana. Singkat cerita, seorang temannya diajak
291
berburu menembak burung di hutan. Cara si Jonaha cukup mengarahkan sasaran ke burung, lalu
ia berseru, “kena kau burung!” Dia lalu mengajak temannya ke rumah karena burung itu sudah
“mati” dan kini sedang disiang untuk dimasak ibunya. Temannya heran dan mengakui memang
benar-benar ibu Si Jonaha menyiangi burung di dapur lalu memasaknya untuk dimakan bersama.
Padahal ini siasat Si Jonaha yang bersepakat dengan ibunya. Apabila ia menembak burung dengan
“panah Ultop” di hutan, ibunya disuruh memotong ayam piaran di rumah dan dikuliti seperti
daging burung. Itulah kejenakaan dan kecerdikan Si Jonaha.
(2) Si Cupak dan Si Gantang (Cerita Jenaka Deli Serdang)
Cerita jenaka ini mengisahkan dua orang abang-adik, yang satu bernama Si Gantang dan
adiknya bernama Si Cupak. Singkat cerita mereka berdua mengikuti sayembara mencari putri raja
yang dilarikan Jin Percut ke hutan rimba. Raja memberi syarat apabila putrinya dibawa dengan
selamat kembali, maka bila perempuan akan menjadi anak angkatnya. Kemudian apabila lelaki
akan menjadi menantu sang raja.
Singkat cerita kedua abang beradik ini bertemu dengan Jin Percut di hutan dekat sebuah perigi
tua yang dalamnya tak terukur. Mereka bertempur dengan sang Jin untuk membebaskan putri raja
yang ditawannya di dalam perigi. Akhirnya jin itu dapat mereka bunuh. Kemudian Si Cupak
disuruh abangnya untuk terjun ke perigi yang gelap gulita mengangkat sang putri raja yang
disembunyikan Jin Percut. Setelah Si Cupak berhasil membawa sang putri dari dalam perigi, lalu
diserahkannya kepada Si gantang untuk diangkat ke atas dan diamankan. Peristiwa itu berlangsung
sukses. Namun, Si Gantang bersifat licik. Tali yang dipegang Si Cupak untuk keluar dari dalam
sumur tua itu diputuskan Si Gantang. Kemudian ia menyerahkan putri kepada raja yang berjanji
mengawinkannya kepada putri raja. Si Cupak berusaha keluar menyelamatkan diri dari lubang
sumur dan akhirnya ia berhasil dan terus menunjuk ke hadapan raja. Sang raja murka, karena Si
gantang membohongi dirinya. Lalu ia menghukum Si Gantang, dan menghadiahkan Si Cupak
putri raja sebagai istrinya.
(3) Si Kelambai (Cerita Jenaka Langkat)
Di masyarakat Langkat Sumatra Utara terkenal cerita lisan bercorak jenaka Si Kelambai. Ia
seorang lelaki yang dilahirkan oleh ibunya bertubuh besar dan perkasa. Tubuhnya makin hari
makin besar dan tinggi menjulang. Namun, ia tidak mengganggu orang sekampungnya dan
perangainya sering tertawa dan membuat orang menjadi ikut tertawa. Si Kelambai hanya mampu
tertawa-tawa dan suaranya menggelegar bila ia tertawa. Orang di kampung banyak yang senang
dengan lagak dan tingkah Si Kelambai karena ia pandai berbuat lucu dan menggemaskan.
Kegemarannya makan kerang mentah, hanya dengan beberapa langkah ia mampu meraup kerang
di tepi pantai dan sungai berpaluh dengan tangannya yang panjang.
Bu Barai, ibu Si Kelambai telah ditinggal mati oleh suaminya yang dibunuh oleh jembalang
hutan. Ibunya dendam kepada para jembalang hutan dan bersumpah melakukan pembalasan
dengan membakar sarang tempat jembalang. Bu Barai bersama Jembalang keduanya lenyap
dihanyutkan hujan dan banjir deras di hutan. Si Kelambai yang tidur di luar rumahnya karena
292
tubuhnya setinggi rumah dan kepalanya direbahkan di atap rumahnya terbangun dan ikut mencari
ibunya yang hilang. Semua pohon di hutan itu dicabut Si Kelambai dan dibantingnya ke tanah
untuk mencari-cari ibunya. Si Kelambai hanya mendengar suara ibunya agar menjaga diri setelah
ia tak ada lagi di dunia ini. Di lokasi Paya Rengas, sebuah kampung di Langkat, masih ditemukan
timbunan kulit kerrang yang diduga sampah makanan Si Kelambai.
Di bawah ini diuraikan tokoh dan amanat cerita beserta perwatakannya.
Tabel (1) Tokoh dan Amanat
Judul Tema Setting/budaya Perwatakan tokoh Amanat Cerita
cerita
Si Jonaha Kecerdasan Masyarakat lisan Kemiskinan dapat Berpikir taktis
Manusia Batak diatasi dengan dan untung
Si Cupak keyakinan hidup
dan Si Kejahatan tak Masyarakat lisan Pertarungan benar- Kelicikan pasti
Gantang pernah menang Melayu Deli salah; khianat-jujur kalah
Si Serdang
Kelambai Kisah Manusia Masyarakat Sikap perlawanan Kemanusiaan
Disabilitas Melayu Langkat orang tua dan Keadilan
melindungi anaknya
Kemanusiaan Keakuran menghadapi takdir/ Keadilan ibu
masyarakat lisan nasib “mother of
Kasih sayang ibu justice”
Kasih sayang Budaya sepajang jalan Setiakawanan
ibu gotongroyang sosial
Nasib dan takdir
Allah
Tabel (2) Pendekatan Estetika Paradoks
Cerita Isi cerita Estetika paradoks
Jenaka
Si Jonaha Kisah Si Jonaha manusia miskin yang sukses karena Estetika paradoks pola
kecerdasan dan kekompakan bersama dukungan dua.
ibunya/keluarga -masyarakat
peramu/pemburu
Mengutamakan
ketakutan dan keraguan
293
Si Cupak Kisah yang berisi tingkah laku Pertarungan jin- Estetika pola
dan Si manusia yang mengutamakan manusia empat
gantang keuntungan dengan cara khianat Pertarungan antarpelaku -mengutamakan
dan tidak memiliki kejujuran dan cerita persaingan
Si kesetiaan Keberuntungan dan -kalah –menang
Kelambai kesialan kematian-
Kisah kesederhanaan dan ke kehidupan
kejujuran, dan kemalangan Pertentangan manusia- Estetika pola
nasib manusia Jin empat
Persaudaraan -mengutamakan
masyarakat jiwa-badan
lisan/kebersamaan dan laut-sungai-
keadilan hujan -manusia
SIMPULAN
Penulisan cerita lisan masyarakat Sumatra Utara bercorak jenaka memiliki nilai strategis
dalam kaitannya dengan mengeratkan persatuan dan kesatuan bangsa di tengah kebinekaan suku,
agama, dan adat yang masing-masing dianut dan didukung para masyarakatnya.
Ada dua kesimpulan yang perlu disampaikan dalam penelaahan cerita ini.
1. Mendayagunakan asas kebinekaan suku yang ada di Sumatra Utara sebagai perekat
persatuan bangsa.
2. Membangun multikulturalisme yang mengedepankan kebersamaan dan solidaritas
berbangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Bill Kovach & Tom Rosenstiel. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta: Pantau.
Endraswara, Endraswara dkk. (2013). Folklor dan Folklife Kesatuan dan Keberagaman.
Jogyakarta: Ombak.
Fang, Liaw Yock (editor Riris K.T/Sarumpaet. (2011). Sejarah Kesusastraan Klasik. Jakarta:
Pustaka Obor.
Pudentia MPPS. (2008). Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Penerbit ATL.
Silvana Sinar & Muhammad Takari. (2015). Teori dan Metode untuk Kajian Tradisi Lisan. Medan:
Mitra.
Umry, Shafwan Hadi. (2015). Tradisi Berahoi Masyarakat Melayu. Medan: Mitra.
…………. (2012) Cerita Rakyat Melayu Klasik Sumatera Utara. Medan: BPAD Provinsi Sumatera
Utara.
………….. (2017). Tradisi Lisan dalam Cerita Rakyat Sumatera Utara. Medan: Mitra.
294
THE UNIQUENESS OF LANGUAGE SPOKEN BY MONZA SAMBU MERCHANTS IN
MEDAN: Dialect Variations in Buying and Selling Activities as a Familiarity System
Sisi Rosida
Universitas Pembangunan Panca Budi
Jalan Gatot Subroto, Medan, Indonesia
*Pos-el: [email protected]
Abstrak : Orang Medan menyebutnya “Pajak Sambu” sebagai tempat destinasi berbelanja pakaian
bekas impor yang disebut dengan monza. Menariknya pengunjung selalu merasakan suasana unik
dari pedagang yang mempromosikan dagangan mereka dengan kalimat-kalimat lucu. Tujuan
penelitian ini untuk menganalisis berbagai variasi bahasa pedagang monza di Pasar Sambu, Kota
Medan. Masalah penelitian mengkaji bentuk dan fungsi variasi bahasa pedagang untuk menarik
perhatian pembelinya. Penelitian ini menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Data diperoleh dari pedagang monza, Pasar Sambu, Medan, dengan teknik simak-rekam-catat, dan
wawancara. Analisis data dilakukan dengan pengelompokan data, penyusunan, pendeskripsian,
dan penarikan simpulan. Hasil penelitian diperoleh dari segitiga varietas bahasa yang saling
berkaitan, yaitu dari segi penutur, pemakai, dan keformalan. Variasi bahasa penutur diperoleh dari
interaksi sosial berdasarkan tempat dan kelompok, yaitu dialek dan sosiolek. Selain itu, pemakaian
bahasa perdagangan berfungsi sebagai alat perniagaan yang membangun ikatan solidaritas. Hal ini
membentuk formalitas bahasa menjadi ragam yang santai (casual) dan akrab (intimate).
Keanekaragaman bahasa pedagang monza memberi ciri tersendiri sebagai eksistensi jual beli guna
menarik perhatian dan membangun keakraban di Pasar Sambu.
Kata Kunci : variasi bahasa, dialek, pedagang monza sambu, medan, keakraban
Abstract : People of Medan call a destination for shopping for imported used clothes (locally
known as monza) as “Tajak Sambu”. Interestingly, visitors in this place always feel the unique
atmosphere from the merchants who promote what they sell with funny sentences. The purpose of
this study was to analyze the various language variations used by monza merchants in Sambu
Market, Medan. In this study, the researcher examined the form and function of merchant language
variants to attract the attention of buyers. The type of this study was qualitative research with a
descriptive approach. Besides, data were collected from monza merchants in Sambu Market
Medan, using the listen-record-note technique and interviews. After that, the collected data were
295
analyzed by grouping data, compiling, describing, and drawing conclusions. Results indicated a
triangle of interrelated language varieties, namely from the sides of speakers, users, and
formalities. Furthermore, from social interaction based on place and group, the researcher
obtained the variation of the speakers’ language, namely dialect and sociolect. Moreover, the
language used by the merchants served as a commercial tool that builds bonds of solidarity. This
then transformed the formal language into a more casual and intimate language. The diversity of
language spoken by monza merchants gave unique characteristics, indicating the existence of
buying and selling activities in which this language served to attract attention and build familiarity
in Sambu Market, Medan.
Keywords : language variation, dialect, monza sambu merchants, Medan, familiarity
PENDAHULUAN
Bahasa mempunyai peran penting yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan hidup
kita. Manusia sebagai makhluk yang saling membutuhkan interaksi antara satu dengan lainnya.
Hal inilah yang memerlukan adanya bahasa sebagai media. Manusia memakai bahasa digunakan
sebagai alat untuk menyampaikan pesan, pikiran, ide, dan lain sebagainya (Agustina et al., 2021).
Suatu interaksi akan terjalin ketika manusia berkomunikasi melalui bahasa yang dapat “saling”
dimengerti, sehingga terjadilah proses interaksi pada lawan bicara (Fauziyyah, 2017).
Pedagang sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pembeli untuk melakukan proses jual-
beli. Hal ini mengungkapkan bahasa sebagai alat untuk menuangkan gagasan dan perasaan kepada
orang lain atau lawan bicara. Pedagang yang baik harus memahami betul mengenai seni menjual
yang tepat. Berdasarkan hal ini akan lahir sebuah variasi bahasa di kalangan pedagang monza. Hal
ini bertujuan untuk menarik pelanggan, menambah rasa solidaritas, dan memberikan kebahagiaan
di hati pelanggannya.
Berbagai latar belakang sosial, daerah, suku, maupun produk akan mempengaruhi aktivitas
berbahasa saat menjajakan barang dagangan mereka kepada pembeli. Oleh sebab itu, untuk hal ini
harus dikaji melalui ilmu sosiolinguistik. Di dalam ruang sosiolinguistik, aktivitas bahasa bukan
sebagai alat komunikasi, melainkan sebuah tingkah laku sosial (social behavior), umumnya
dipakai dalam konteks komunikasi sehingga menimbulkan variasi bahasa (Fauziyyah, 2017).
Variasi bahasa merupakan bentuk bagian-bagian dari varian dalam bahasa yang masing-
masing memiliki suatu pola menyerupai pola umum bahasa induknya. Keragaman bahasa ini
muncul akibat banyaknya bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam berinteraksi dalam satu
lingkungan yang berpengaruh dalam kegiatan dan perkembangan keragaman bahasa (Chair, 2010)
Variasi bahasa sendiri memiliki ciri khusus yang membedakan antarkelompok pemakainya,
mengakibatkan penutur bahasa tidak dapat menggantikan kedudukan variasi lain. Keberagaman
bahasa merupakan lingkup dari segala aspek yang berkaitan dengan masyarakat tutur dan
bagaimana hubungan si penutur dalam melakukan tuturan. Maka, tidak menutup kemungkinan
variasi bahasa terdapat dalam masyarakat luas, golongan kecil, atau bahkan terdapat di dalam
pemakaian bahasa perorangan (Maulud et al., 2018).
296
Keterkaitan bahasa dan pedagang monza, peneliti mengkaji variasi bahasa pedagang monza
Pasar Sambu yang mempunyai ciri tersendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji variasi
bahasa pedagang monza di Pasar Sambu sebagai sebuah keunikan. Di mana keunikan sebagai cara
tersendiri untuk merangkul rasa solidaritas dan menarik perhatian pembeli.
Lokasi penelitian yang menjadi sasaran penelitian ini adalah Pasar Sambu. Alasan pemilihan
lokasi tersebut karena Pasar Sambu memiliki keunikan tersendiri di mata masyarakat Kota Medan.
Sumber data penelitian ini diperoleh dari para pedagang barang impor. Berdasarkan observasi,
keunikan bahasa pedagang-pedagang tersebut telah viral sampai ke sosial media, seperti youtube
dan instagram.
Pasar Sambu Kota Medan merupakan salah satu pasar teramai di Kota Medan. Pasar ini
menyediakan pakaian monza mulai dari jaket, sepatu, kaos, celana, tas, dan lain sebagainya yang
dijajakan oleh para pedagang. Penutur bahasa dan pengunjung di pasar yang terkenal ini tentu
menjadi primadona oleh masyarakat. Pembeli tidak hanya berasal dari Kota Medan melainkan juga
terdapat dari luar Kota Medan seperti pembeli yang berasal dari Rantau, Tebing, Tanjung Balai,
dan Aceh. Ada pula yang berasal dari dari luar Sumut, seperti Jakarta dan Bandung.
Pasar Sambu memiliki penutur dengan latar belakang dan status sosial yang berbeda-beda.
Saat melakukan proses jual beli di pasar, penutur bahasa menggunakan bahasa sebagai alat
komunikasi untuk menyampaikan gagasan maupun ide melalui kesepakatan bahasa hingga terjadi
jual beli. Sehingga dalam komunikasi antara pedagang dan pembeli dapat mengakibatkan
terjadinya keberagaman bahasa sebagai fungsi bahasa pedagang.
Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Sosiolinguistik, variasi penutur
tutur dan variasi keformalan bahasa. (Fitriana, 2019) variasi bahasa merupakan ragam bahasa
penutur yang disesuaikan dengan fungsi serta konteks bahasa. Keberagaman bahasa ditinjau dari
penutur terdiri dari idiolek, dialek, dan sosiolek. Jika ditinjau dari variasi bahasa menurut segi
keformalan terbagi atas ragam beku, ragam resmi, ragam usaha, ragam santai, dan ragam akrab
(Chair, 2010).
Penelitian mengenai variasi bahasa pedagang telah dilakukan oleh (Agustina et
al., 2021) dengan judul Variasi Bahasa Pedagang di Pasar Penanggalan Kota
Subulussalam, Provinsi Aceh. Objek penelitian diambil dari tuturan pedagang di mana di
dalamnya terdapat variasi bahasa. Hasil penelitian menemukan tiga segi variasi bahasa,
hal ini untuk mempermudah interakasi antar pedagang dan pembelinya agar terjadi
kesepakatan.
Penelitian serupa juga (Fauziyyah, 2017) mengenai Ragam Bahasa Penawaran Pedagang
Asongan di Pantai Pangandaran. Pada penelitian ini ragam bahasa yang berhubungan dengan
variasi bahasa penjaja barang di pantai Pangandaran, mengungkapkan adanya kesepakatan jual
beli di sana dilakukan pedagang. Hal inilah yang menjadi titik pelestarian menuntut pemahaman
tentang orang lain.
297
Keberbedaan bahasa sendiri timbul karena adanya proses interaksi sosial penutur bahasa yang
beragam. Hal inilah yang membentuk variasi bahasa. Adapun variasi bahasa tersebut, yaitu variasi
bahasa dari segi penutur, terdiri dari dialek dan sosiolek. Di mana berfungsi sebagai alat perniagaan
yang membangun ikatan solidaritas. Variasi bahasa dari segi pemakai, terdiri dari ragam santai
(casual) dan ragam intim (intimate) yang memberi ciri tersendiri sebagai eksistensi jual beli guna
menarik perhatian pelanggan dan membagun keakraban di Pasar Sambu.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diambil dari percakapan pedagang
monza yang memiliki bahasa yang unik untuk menjajakan dagangannya. Berdasarkan hal tersebut
peneliti mengkaji tuturan yang dihasilkan oleh pedagang. Menurut (Sugiyono, 2008) penelitian
kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, yang mana peneliti sebagai instrumen
kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat
induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif, di mana menggambarkan variasi
bahasa berupa data tertulis dari tuturan pedagang monza. Hal ini bersifat natural, berdasarkan
keadaan di lapangan. Penelitian deskriptif merupakan salah satu jenis penelitian yang bertujuan
untuk menggambarkan atau menjelaskan informasi terhadap suatu objek tertentu baik objek alam
maupun sosial, menggambarkan atau melukiskan fakta dan gejala-gejala yang tersusun.
Mahsun (2007:92) mengatakan bahwa metode pengumpulan data ada tiga, yaitu metode
simak, cakap, dan introspeksi. Dalam penelitian ini peneliti mengambil metode simak sebagai
teknik untuk pengumpulan data karena metode ini merupakan metode yang cocok untuk penelitian
ini. Metode ini diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data
dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Cara pengumpulan data dengan cara menyimak
penggunaan bahasa lisan pedagang monza, Sambu.
PEMBAHASAN
Variasi bahasa merupakan wujud bagian atau varian dalam bahasa yang memiliki bentuk
menyerupai pola bahasa induknya. Penggunaan bahasa yang berbeda beda di Pasar Sambu Kota
Medan menuai variasi bahasa yang unik dan beragam. Terdapat variasi bahasa Medan yang
digunakan pedagang di pasar. Penelitian ini diambil dari hasil data lisan terkait variasi bahasa
diperoleh dari tuturan pedagang monza, Pasar Sambu, Medan. Adapun variasi bahasa tersebut,
yaitu: variasi bahasa dari segi penutur, terdiri dari dialek dan sosiolek. Variasi bahasa dari segi
pemakai, terdiri dari ragam santai (casual) dan ragam intim (intimate).
Variasi Bahasa dari Segi Penutur
Pandangan sosiolinguistik mengkaji bahasa tidak terbatas sebagai gejala individual, tetapi
juga merupakan gejala sosial. Pemakaian bahasa bukan penentu dari faktor-faktor linguistik,
298
bahasa juga dipengaruhi faktor nonlinguistik, seperti sosial, pendidikan, umur, tingkat ekonomi,
jenis kelamin, dan sebagainya. Variasi bahasa adalah jenis atau ragam bahasa yang pemakaiannya
disesuaikan dengan fungsi dan situasinya (Fitriani et al., 2007).
Pedagang sebagai makhluk sosial selalu dituntut untuk berinteraksi dengan pembeli. Proses
interaksi pedagang monza membutuhkan alat bantu untuk berkomunikasi dengan pembeli,
sehingga terjadi proses jual beli. Keberadaan bahasa sendiri timbul karena adanya proses interaksi
sosial penutur bahasa yang beragam. Hal inilah yang membentuk variasi bahasa. Variasi bahasa
yang digunakan pedagang monza dapat ditinjai dari segi dialek dan sosiolek.
Dialek, merupakan variasi bahasa yang ditandai sekelompok penutur berjumlah relatif yang
berdomisili di tempat tertentu (Chaer et al., 2015). Variasi bahasa pedagang monza membentuk
dialek yang didasarkan oleh daerah asal Medan (dialek areal). Pedagang Kota Medan mempunyai
keunikan masing-masing, baik itu kesaman ciri ditandai bahwa mereka berada pada satu dialek
yang khas suku Batak. Pedagang monza Sambu mempunyai idioleknya masing-masing yang
memiliki kesamaan ciri sebagai tanda bahwa mereka berada pada satu dialek yang memiliki
perbedaan dengan kelompok pedagang monza lainnya.
Pedagang berkualitas akan memahami betul mengenai seni menjual yang tepat. Hal ini
melahirkan variasi bahasa di kalangan pedagang monza yang bertujuan untuk menghibur,
memengaruhi, merangkul, dan memberikan pertimbangan pada pembeli agar terjadi jual-beli
(Fauziyyah, 2017).
Tabel 1.
Dialek Pedagang Monza dalam Menarik Perhatian Pembeli
Dialek Pedagang Monza Dialek Medan
dikorek-korek = dibongkar-
Selamat datang di monja collection, dikorek- bongkar
korek dapat yang fashion. belik= beli
Kaosku bang. Lima ribu- lima ribu! Yang belik
masuk surga, Yok..yok..!. barangku = daganganku
Jangan ditengok aku, ditengok barangku! kelen= kalian
Yang lewat cantik-cantik kali, tapi tak ada tak usah= tidak perlu
duitnya ya! Pulang kelen…pulang tak usah beli
monza! barangku = daganganku
BH= bra (pakaian dalam)
Hallo, Dek! Pegang-pegang dulu barangku ini!
Ada BH beremot, berduri, berkawat pun ada! BH= bra (pakaian dalam)
Mari…mari...mari...!
Hei Butet…ganti dulu BH kau itu! Sini pilih dua cak = coba
lima belas!
Boxer-nya pilih cak sini bang! Boxer
berlampu…boxer berenda pun ada bang!
299
Lima ribu…lima ribu! Kaos…kaos…! Jangan tanyak= tanya
naek kreta=mengendarai sepeda
ditanyak kenapa murah ya! motor
Celana pendeknya mari… mari…! baru bongkar pelakor= wanita idaman lain
ini…baru bongkar! Model Lisa Blackpink naek namboru= bibi
goceng= lima ribu
kreta. tengok la= lihatlah
Rajut-rajut, cardigan pelakor, baru bukak ball tengok la= lihatlah
kita! Mari…mari…! Wakwaw! Pilih yok!
kali= banget
Dua puluh… dua puluh… baru bongkar kutengok= kulihat
namboru… yang gak belik bisa pulang ya.
Goceng…lima ribu bajuku ya…
Jaket… sweater… parasut… murah ini kakak
baru bongkar aku kakak. Tengokla…
tengokla….
Cantik murah jaketku…. Anak-anak… cewek..
cowok… banci kaleng kosong ya! Tak tau aku
kenapa ini bisa terjadi… tengokla…
tengoklaa…
Woi…ganti dulu BH kelen ya! Dah buruk kali
kutengok!
Ayok pilih kakak. Jangan jadi rojali nengok-nengok= melihat-lihat
(Rombongan Jarang Beli) ya! kalok= kalau
Kok ada pulak ini yang BNN (Bagian Nengok-
Nengok). carik= cari
Kalok kelen Tukadis (Tukang Nawar Sadis)
udahlah, pulang kampung nanti aku…. Ayolah
belik… Woy… gak belik kelen?
Apa carik kak? Motif bunga-bunga? Ada!
Carik jodoh? Sama abang yok!
Cantik murah ini ledging Lady Gaga! Agak
bergaya dulu kita ya!
Ragam bahasa yang terdapat pada bahasa penawaran pedagang monza merupakan peristiwa
tutur yang di dalamnya terdapat unsur kata yang dominan berasal dari bahasa Indonesia dan bahasa
Medan. Akan tetapi, dalam berkomunikasi untuk menjajakan dagangan sering kali dalam bahasa
penawaran terjadi alih kode dan campur kode. Penggunaan dialek para pedagang khususnya yang
bersuku Batak. Dialek Batak pelafalannya sering kali digoyangkan nada yang keras dan tinggi.
Begitu pula dialek khas Medan yang dikenal kasar dan lucu, sangat terlihat jelas saat kelompok-
kelompok pedagang menggunakan ujaran-ujaran yang unik untuk menarik pembeli untuk membeli
dagangannya.
300