Universitas Pendidikan Indonesia
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
2022
Menumbuhkan
Akhlak Mulia
Melalui Novel
Modul Bahasa Indonesia SMA Kelas XII
Muhammad Dilham Algifari
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan dan
menyusun modul pembelajaran novel yang berjudul
Menumbuhkan Akhlak Mulia Melalui Novel. Tak lupa salawat serta
salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada sahabatnya dan
sampai kepada kita selaku umatnya yang mudah-mudahan
selalu taat pada ajaran-Nya, amin.
Nilai sufisme merupakan suatu usaha sungguh-sungguh
dalam upaya membersihkan hati disertai menerapkan akhlak
mulia dengan tujuan akhir untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Nilai sufisme pada praktiknya dapat ditemukan di berbagai
bidang, salah satunya bidang sastra melalui novel. Hadirnya
nilai sufisme dalam sastra merupakan salah satu bentuk
manifestasi dari konsep dulce et utile yang berarti sastra harus
mendidik dan menyenangkan.
Modul ini mengajak Anda untuk memahami bentuk-bentuk
dari sikap atau akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari
melalui novel yang mengandung nilai sufisme. Dalam modul ini
siswa akan mempelajari hal-hal sebagai berikut: (1) Hakikat
novel, (2) unsur-unsur pembangun novel, dan (3) nilai sufisme
yang terkandung dalam novel. Setelah mempelajari modul ini,
siswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep dari
hakikat novel, unsur-unsur pembangun dari novel, nilai
kehidupan atau nilai sufisme yang terkandung dalam novel.
Diharapkan melalui pembelajaran novel tersebut siswa mampu
menumbuhkan sikap baik atau akhlak mulia dalam kehidupan
sehari-harinya.
i
Atas segala doa dan usaha, penulis dapat menyajikan modul
teks ini yang disusun berdasarkan hasil dari penelitian skripsi
yang berjudul “Nilai Sufisme dalam Novel Merasa Pintar Bodoh
Saja Tak Punya Karya Rusdi Mathari dan Pemanfaatannya
sebagai Bahan Ajar Pembelajaran Novel di SMA”. Semoga modul
ini dapat menjadi hal yang bermanfaat bagi pembacanya,
terkhusus bagi peserta didik dan guru. Tak hanya itu, modul ini
juga diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas, terutama kelas XII
SMA/SMK sederajat.
Penulis menyadari bahwa modul ini jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari
berbagai pihak sangat diperlukan demi modul yang lebih baik
lagi di masa mendatang. Semoga modul ini bermanfaat bagi
pembaca dan penulis.
Bandung, Agustus 2022
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................................................... iii
PETA KONSEP.............................................................................................................................. iv
MENUMBUHKAN AKHLAK MULIA MELALUI NOVEL.................................................... v
PENDAHULUAN........................................................................................................................... vi
Bahan Ajar Daring.................................................................................................................vii
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 : Hakikat dan Unsur Pembangun Novel..... 1
A. Uraian Materi....................................................................................................................... 2
B. Latihan.................................................................................................................................. 17
C. Rangkuman...................................................................................................................... 23
D. Tes Formatif...................................................................................................................... 24
E. Kunci Jawaban.............................................................................................................. 29
F. Tindak Lanjut.................................................................................................................... 29
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 : Nilai Sufisme dalam Novel.......................... 30
A. Uraian Materi.................................................................................................................... 31
B. Latihan................................................................................................................................. 39
C. Rangkuman..................................................................................................................... 47
D. Tes Formatif...................................................................................................................... 48
E. Penugasan Mandiri...................................................................................................... 51
F. Kunci Jawaban............................................................................................................... 52
F. Tindak Lanjut.................................................................................................................... 52
JENDELA SASTRA.................................................................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................... 55
BIOGRAFI PENULIS.................................................................................................................. 56
iii
PETA KONSEP
Hakikat dan Unsur Alur
Pembangun Novel
Tokoh dan
Nilai Sufsisme Penokohan
iv
Latar
Novel Tema
Sudut Tobat
pandang
Cemas
Gaya dan harap
bahasa
Zuhud
Takhalli
Fakir
Tahalli Sabar
Rida
Tajalli
Muraqabah
MENUMBUHKAN AKHLAK MULIA MELALUI NOVEL
1. Kompetensi Dasar
3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan novel
4.9 Merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi
dan kebahasaan baik secara lisan maupun tulis
2. Tujuan Pembelajaran
Siswa mampu mengetahui hakikat novel, mampu
mengidentifikasi unsur-unsur pembangun novel, mampu
mengidentifikasi nilai sufisme dari novel yang telah dibaca,
serta mampu mengidentifikasi nilai sufisme yang terkandung
dalam novel untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
3. Petunjuk Penggunaan Modul
Sebelum mempelajari modul ini, sebaiknya siswa memahami
petunjuk umum modul berikut ini.
1) Modul ini digunakan sebagai bahan belajar mandiri siswa
untuk memahami materi pembelajaran mengenai novel dan
nilai-nilai yang terkandung dalam novel.
2) Apabila siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari
modul, maka siswa disarankan untuk menghubungi guru.
3) Pada setiap akhir kegiatan siswa diwajibkan untuk
mengerjakan latihan dan tes formatif, setelah itu hasil
pekerjaan dikumpulkan kepada guru.
4) Semangat dan selamat mengerjakan! Terima kasih.
v
PENDAHULUAN
Tahukah kalian apa itu novel? Pernahkah kalian membaca novel
dari perpustakaan sekolah atau sumber apapun itu? Apakah novel
memiliki manfaat untuk kehidupan sehari-hari? Baik, seperti yang
kita ketahui novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa
fiksi yang mampu menghadirkan perkembangan satu karakter,
situasi sosial yang rumit, hubungan yang dapat menyertakan
banyak atau sedikit karakter, serta bermacam peristiwa rumit yang
terjadi beberapa tahun silam secara lebih rinci. Apabila kalian
membaca novel dan memahami ceritanya dengan baik, maka
kalian tentu akan mendapatkan banyak manfaat pengetahuan
dari novel tersebut, seperti pengalaman, kebudayaan,
permasalahan sosial, bahkan nilai kehidupan yang terkandung
dalam novel yang tentunya dapat kalian terapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Pada modul ini kalian akan dituntun untuk
memahami novel secara detail. Pemahaman novel ini mencakup
hakikat novel, unsur-unsur pembangun novel, dan nilai-nilai apa
saja yang terkandung di dalam novel agar kalian dapat
memahami novel secara utuh.
Pada modul ini, kalian diharapkan mampu memahami hakikat
novel, mengidentifikasi unsur-unsur pembangun novel, dan
mampu memahami nilai sufisme yang terkandung dalam novel.
Adapun tujuan pembelajaran modul ini adalah sebagai berikut;
1.Mengetahui hakikat novel;
2.Mengetahui dan mengidentifikasi unsur-unsur pembangun novel;
3.Mengidentifikasi nilai sufisme yang terkandung dalam novel.
Pada dasarnya modul ini dibagi ke dalam tiga kegiatan belajar
selaras dengan tujuan pembelajaran modul. Dalam praktiknya
untuk memahami modul secara tuntas, kalian diharuskan untuk
mengikuti langkah-langkah yang terdapat dalam modul ini.
Dengan adanya modul ini, diharapkan kalian mampu memahami
materi dan contoh analisis tiap materi pembelajaran agar target
keberhasilan memahami modul ini terpenuhi.
vi
Silahkan pindai QR code di bawah
ini ya!
Tahukah kamu bahan
ajar ini bisa diakses
secara daring loh!
vii
Sukses bukanlah final, kegagalan
tidaklah fatal: Keberanian untuk
melanjutkan yang diperhitungkan.
- Winston Churchill
PM Britania Raya 1940-1955
Kegagalan tidak memberimu
alasan untuk menyerah, selama
kau percaya pada dirimu sendiri.
- Masashi Kishimoto
Author Naruto
Selamat belajar dan tetap semangat!
viii
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Hakikat dan Unsur Pembangun Novel
Pernahkah kalian mendengar atau membaca novel? Novel
apa saja yang pernah kalian baca selama ini? Tentunya kalian
pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah novel, bukan? Ya,
novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa fiksi yang
mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi
sosial yang rumit, hubungan yang dapat menyertakan banyak
atau sedikit karakter, serta bermacam peristiwa rumit yang
terjadi beberapa tahun silam secara lebih rinci. Selain itu novel
memiliki unsur-unsur pembangun cerita di dalamnya. Oleh
karena itu agar kalian lebih memahami novel, maka kalian perlu
mengetahui unsur-unsur pembangun novel. Maka dari itu
tunggu apa lagi, mari kita pelajari materi novel di bawah ini!
A.Uraian Materi
1.Hakikat Novel
Menurut Nurgiyantoro (2009, hlm. 9-10) novel
merupakan sebuah karya sastra yang
sekaligus disebut fiksi. Dalam
perkembangannya novel dianggap
bersinonim dengan fiksi. Sebutan ‘novel’
dalam bahasa Inggris dan sebutan itulah
yang kemudian masuk ke Indonesia.
Adapun kata novel berasal dari bahasa Italia novella (dalam
bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah definisi novella
merupakan ‘sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian
didefinisikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa’
(Abrams dalam Nurgiyantoro 2009, hlm 10). Adapun menurut
Stanton (2012, hlm. 90) menjelaskan bahwa novel merupakan
karya sastra yang mampu menghadirkan perkembangan satu
karakter, situasi sosial yang rumit, hubungan yang dapat
menyertakan banyak atau sedikit karakter, serta bermacam
peristiwa rumit yang terjadi beberapa tahun silam secara lebih
rinci.
2
Selain itu menurut Stanton (2012, hlm. 90) menjelaskan bahwa
novel merupakan karya sastra yang mampu menghadirkan
perkembangan satu karakter, situasi sosial yang rumit,
hubungan yang dapat menyertakan banyak atau sedikit
karakter, serta bermacam peristiwa rumit yang terjadi beberapa
tahun silam secara lebih rinci. Senada dengan itu Wicaksono
(dalam Astuti, J. 2020) memaparkan bahwa novel adalah suatu
jenis karya sastra berbentuk prosa fiksi dalam ukuran yang
panjang (setidaknya 40.000 kata dan lebih kompleks dari
cerpen) dan luas yang di dalamnya berisi cerita konflik-konflik
kehidupan manusia yang dapat mengubah nasib tokohnya.
Dalam novel konflik serta rangkaian peristiwa termasuk latar
kehidupan para tokoh diceritakan secara lebih halus dan
mendalam, sehingga ukuran novel lebih panjang dari prosa
yang lain seperti cerpen.
2. Unsur-unsur Pembangun Novel
Pada dasarnya novel sebagai karya fiksi mempunyai unsur-
unsur pembangun di dalamnya, seperti unsur intrinsik dan
ekstrinsik yang mencakup unsur peristiwa, alur, tema, tokoh dan
penokohan, latar, sudut pandang dan gaya bahasa. Hal tersebut
selaras dengan pendapat Nurgiyantoro (2009, hlm. 23) yang
mengemukakan bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang
membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah novel
adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta
membangun cerita. Perpaduan antara unsur intrinsik inilah yang
membuat sebuah novel berwujud.
Agar kalian lebih memahami unsur-unsur pembangun novel,
bacalah penggalan novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya di
bawah ini!
3
Penggalan Novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi
Mathari.
Menghitung Berak dan Kencing
Entah sebab lain atau karena Cak Dlahom
sering menyebut nama Romlah, Mat Piti
mengutus anak gadisnya itu untuk
mengantarkan buka puasa ke rumah Cak
Dlahom pada suatu sore. Romlah membawa
rantang-rantang berisi bubur kacang ijo,
nasi, rawon lengkap dengan telur asin dan
kerupuk udang, selain teh manis hangat
yang dimasukkan dalam botol plastik. Mat
Piti tahu, rawon adalah menu kesukaan Cak
Dlahom.
“Terima kasih, Romlah. Salamku pada bapakmu. Tolong
sampaikan: ‘Kalau bersedekah harus ikhlas.’”
Romlah tak berani menatap Cak Dlahom kecuali mengiyakan.
Dan di rumahnya, dia menyampaikan pesan Cak Dlahom pada
bapaknya. Mat Piti keheranan. Dia merasa membagi buka puasa
dengan ikhlas, tapi Cak Dlahom malah menganjurkan dia harus
ikhlas.
Keheranannya terbawa sampai selesai Tarawih. Dia karena itu
mendatangi rumah Cak Dlahom: ingin bertanya maksud Cak
Dlahom dengan menganjurkannya agar ikhlas. Dia tak mau rasa
penasarannya terbawa hingga sahur apalagi sampai Subuh.
Tiba di rumah Cak Dlahom, yang punya rumah terlihat sedang
menyantap rawon. Bersila mantap di lincak menghadap ke
barat. Mulutnya menyeruput kuah berwarna hitam langsung dari
bibir piring. Sruuut....
“Assalamualaikum, Cak.”
“Alaikumsalam. Eh, Mat... enak betul rawonmu ini.”
4
“Romlah yang masak, Cak.”
“Gadis itu memang pintar masak, Mat. Kamu pandai
membesarkan anak.”
“Iya, Cak, saya tahu, tapi saya mau tanya, maksud sampean
bilang saya harus ikhlas itu apa ya?”
“Tadi kamu ngasih apa aja ya, Mat?”
“Bubur kacang ijo, rawon serantang lengkap dengan nasi, telur
asin, kerupuk udang, sambal taoge. Ada teh hangat juga.”
“Wuih, ingat banget kamu, Mat.”
“Saya melihat sendiri Romlah memasukannya ke rantang, jadi
saya ingat, Cak.”
“Terima kasih ya, Mat. Seminggu lalau kalau tak salah kamu
juga ngasih aku... apa ya?”
“Oh yang itu, beras dua kilo, Cak. Dua minggu sebelumnya,
saya ngasih sampean sarung. Sebulan yang lalu saya ngasih
sampean peci.”
“Iya ya.... Tapi, kamu pasti ikhlas kan, Mat?”
“Ya ikhlaslah, Cak. Masak ndak. Maka itu saya mau tanya,
maksud sampean soal ikhlas itu apa?”
“Ikhlas kok ditanya, Mat.”
“Saya hanya ingin tahu....”
“Lah menurutmu ikhlas itu apa?”
“Berbuat atau melakukan sesuatu karena Allah, dengan Allah,
hanya untuk Allah, Cak.”
“Iya betul, tapi ‘Karena Allah, dengan Allah, dan hanya untuk
Allah’ itu apa?”
“Ya, semua hanya untuk Allah, Cak”
“Semua untuk Allah itu apa?”
“Ya kalau begini terus sampean saja deh yang ngasih tahu:
ikhlas itu apa?”
“Sebelum ke sini, kamu kencing dulu ndak, Mat?”
5
“Loh sampean kok malah nanya soal kencing, Cak?”
“Kan kita sama, cuma nanya.”
“Iya, tapi apa hubungannya kencing dengan ikhlas, Cak?”
“Aku tanya kamu nanya. Kamu jawab saja. Kalau ndak mau, ya
ndak apa-apa juga.”
“Sebelum ke rumah sampean, saya tidak kencing. Sudah? Itu
saja?”
“Kalau hari ini, kamu kencing dan berak berapa kali, Mat?”
“Sehari ini saya belum berak, Cak. Kencing mungkin tuga atau
empat kali.”
“Kemarin?”
“Berak sekali. Kencing...? Ya... kira-kira samalah, Cak, dengan
hari ini, tiga atau empat kali....”
“Seminggu yang lalu?”
“Ya ndak ingat, Cak....”
“Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Sejak mulai kamu lahir
kamu ingat, berapa kali kamu berak dan kencing?”
“Sampean juga ndak ingat toh, Cak?”
“Seperti itulah ikhlas.”
“Maksudnya?”
“Amal perbuatanmu yang tidak pernah diingat-ingat.”
“Kencing dan berak itu amal toh, Cak?”
“Kan saya yang tanya, kenapa ditanya?”
“Kencing dan berak itu amalmu, Mat. Kamu mengeluarkan
sesuatu dari badanmu dengan tidak menahan-nahannya dan
segera melupakannya. Tidak mengingat-ingat bau, warna, dan
bentuknya seperti apa. Kamu menganggap kencing dan berak
itu tidak penting, meskipun mengeluarkan sesuatu yang sangat
penting bagi lambung atau ginjalmu. Buat peredaran darahmu.
Untuk kesehatanmu”
“Jadi kalau masih ingat, berarti ndak ikhlas, Cak?”
“Hanya Allah yang tahu.”
6
“Astagfirullah... maafkan saya, Cak....”
“Kenapa minta maaf ke aku, Mat?”
“Saya mau pamit dulu....”
“Kok buru-buru?”
“Sudah kebelet, Cak...”
Mat Piti tidak menunggu jawaban Cak Dlahom. Dia segera
bergegas pulang. Berjalan tergesa-gesa sambil menjinjing
sebagian ujung bawah sarungnya. Terdengar suara brat, bret,
bret....
Cak Dlahom sempat menoleh, tapi selanjutnya tak peduli. Dia
meneruskan makan rawonnya. Terus menuangkan teh hangat
dan menyeruputnya, lalu kebat-kebut dengan kreteknya.
(Mathari, 2018, hlm. 39-44)
Setelah membaca penggalan novel di atas, mari kita pelajari
lebih lanjut unsur-unsur pembangun novel di bawah ini!
a) Tema
Menurut Hartoko dan Rahmanto dalam Nurgiyantoro (2009,
hlm. 68) tema merupakan gagasan dasar umum yang
menopang sebuah karya sastra yang terkandung di dalam
teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut
persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan.
Senada dengan itu Stanton (2012, hlm 36) menjelaskan
bahwa tema merupakan aspek cerita yang selaras dengan
‘makna’ dalam pengalaman manusia; sesuatu yang
menjadikan suatu pengalaman begitu diingat. Pada
dasarnya tema merupakan sebuah pokok atau subjek
masalah yang digambarkan secara tersurat maupun tersirat.
Dalam tema tersebut biasanya menggambarkan sikap
pengarang terhadap pokok cerita
Berdasarkan kedua penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa tema merupakan gagasan dasar umum atau pokok
pikiran yang dibawa oleh pengarang untuk disampaikan
kepada pembacanya, baik secara tersurat maupun tersirat.
7
Untuk memahami tema dari suatu novel, coba perhatikan
contoh di bawah ini!
Tema Cerita : Sikap dan pandangan kritis tokoh Cak
Dlahom dalam menanggapi konsep
ikhlas.
Gambaran persitiwa : Penggalan novel tersebut bercerita
tentang keheranan Mat Piti setelah
mendengar pesan Cak Dlahom bahwa
dia harus ikhlas. Setelah didatangi ke
rumah Cak Dlahom, Mat Piti mendapat
penjelasan bahwa konsep ikhlas tidak
mengingat-ngingat apa yang sudah
diberikan. Hal tersebut dijelaskan Cak
Dlahom dengan mengasosiasikannya
kencing dan berak.
b) Alur (Plot)
Stanton dalam Nurgiyantoro (2009, hlm. 113) mengemukakan
bahwa alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan
kejadian, namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan
secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau
menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Kenny dalam
Nurgiyantoro (2009, hlm 113) mengemukakan plot sebagai
peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak
bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwa-
peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
alur adalah urutan peristiwa yang ditampilkan pengarang
dalam cerita dengan menghubungkan sebab-akibat di
dalamnya. Secara sederhana alur merupakan suatu
rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir cerita.
8
Berdasarkan kriteria urutan waktunya, alur dibagi menjadi tiga,
yaitu: (1) Alur maju, artinya alur peristiwa atau kejadian dalam
cerita yang bergerak secara urut dari awal hingga akhir dan
memiliki jalan cerita yang rapih; (2) Alur mundur, artinya alur
peristiwa-perisitiwa atau kejadian dalam cerita yang bergerak
secara terbalik atau dari yang sudah berlalu; (3) Alur campuran,
perpaduan antara alur maju dengan alur mundur, tetapi
terkadang jalannya secara acak dan tidak rapi.
Agar lebih memahami secara jelas mengenai alur, perhatikan
contoh di bawah ini!
Alur Cerita : Peristiwa dalam penggalan novel ini
diawali dengan pesan Cak Dlahom
kepada Mat Piti yang dititipkan
melalui Romlah. Mat Piti yang merasa
heran dengan pesan Cak Dlahom
langsung mendatangi Cak Dlahom di
rumahnya. Setelah datang ke rumah
Cak Dlahom, Mat Piti bertanya apa
maksud dari pesan Cak Dlahom untuk
menyuruhnya ikhlas. Cak Dlahom
menjelaskan konsep ikhlas dengan
mengasosiasikannya dengan kencing
dan berak. Peristiwa tersebut diakhiri
dengan pamitnya Mat Piti untuk
pulang karena sudah kebelet.
9
C) Tokoh dan Penokohan
Pada dasarnya Stanton (2012, hlm. 33) memaparkan bahwa
tema ‘karakter’ biasanya digunakan dalam dua konteks.
Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu
(tokoh) yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter,
merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan,
keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu
tersebut seperti tampak implisit (penokohan).
Selain itu menurut Nurgiyantoro (2009, hlm. 176-181) terdapat
beberapa jenis pembeda tokoh, di antaranya meliputi: (1)
berdasarkan peranannya, terdapat tokoh utama cerita
(central character) dan tokoh tambahan atau tokoh
peripheral (peripheral character); (2) berdasarkan segi peran
tokoh, terdapat tokoh protagonis dan tokoh antagonis; (3)
berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan
tokoh, terdapat tokoh statis dan tokoh berkembang.
Tahukah kamu ternyata
tokoh dan penokohan
itu berbeda loh!
10
Dalam praktiknya untuk memahami tokoh dan penokohan
dalam penggalan novel ini lebih jelas, perhatikanlah contoh
di bawah ini!
Nama Tokoh : Cak Dlahom
Jenis Tokoh : Tokoh utama
Gambaran persitiwa : Cak Dlahom terlihat menjadi faktor
bergeraknya cerita dalam penggalan
novel di atas dengan ditandai dirinya
yang menitip pesan pada Mat Piti
melalui Romlah.
d) Latar
Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas
tumpu, merujuk pada pengertian tempat (latar tempat),
hubungan waktu (latar waktu), dan lingkungan sosial
tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan
(latar sosial) (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2009). Senada
dengan itu Stanton (2012, hlm. 35) menjelaskan bahwa latar
adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam
cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-
peristiwa yang sedang berlangsung. Latar juga dapat
berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, dan tahun),
cuaca, atau satu periode sejarah.
11
Dalam praktiknya untuk lebih memahami latar dalam
penggalan novel di atas, perhatikanlah contoh di bawah ini!
Latar Tempat : Cak Dlahom
Latar Waktu : Tokoh utama
Latar Sosial : Terlihat adanya budaya adat desa
saat bulan ramadan dengan
memberikan makanan kepada
tetangga sekitar.
Foto: https://thr.kompasiana.com/image/ndfly99/5b003d29f1334419fb3035c2/waktu-
pas-buka-puasa-bersama-kerabat
12
e) Sudut Pandang
Pada dasarnya sudut pandang merupakan teknik yang
dipergunakan pengarang untuk menemukan dan
menyampaikan makna karya artistiknya, untuk dapat
sampai dan berhubungan dengan pembaca (Booth dalam
Stevick, dalam Nurgiyantoro, 2009, hlm. 249). Senada
dengan itu Stanton (2012, hlm 53) menjelaskan bahwa sudut
pandang adalah pusat kesadaran tempat kita dapat
memahami setiap peristiwa dalam cerita.
Dari sisi tujuan, sudut pandang terbagi menjadi empat tipe
utama sebagai berikut.
a) Pada orang pertama-utama sang karakter utama
bercerita dengan kata-katanya sendiri.
b) Pada orang pertama-sampingan, cerita dituturkan oleh
satu karakter bukan utama (sampingan).
c) Pada orang ketiga-terbatas, pengarang mengacu pada
semua karakter dan memosisikannya sebagai orang ketiga
tetapi hanya menggambarkan apa yang dilihat, didengar,
dan dipikirkan oleh satu orang karakter saja.
d) Pada orang ketiga-tidak terbatas, pengarang mengacu
pada setiap karakter dan memosisikannya sebagai orang
ketiga. Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter
melihat, mendengar, atau berpikir atau saat ketika tidak ada
satu karakter pun hadir.
13
Pada praktiknya untuk lebih memahami sudut pandang
dalam novel lebih jelas, perhatikanlah contoh di bawah ini!
Jenis Sudut Pandang : Orang ketiga-tidak terbatas
Gambaran Peristiwa : Dalam novel ini, pengarang
memposisikan diri menjadi seorang
pengamat, artinya pengarang
berada di luar cerita. Hal tersebut
dapat terlihat dari pengarang yang
menggunakan nama tokohnya
dalam menjelaskan kejadian,
pikiran, perasaan dalam cerita.
Selain itu hal yang dapat terlihat
adalah kata ganti orang yang
digunakan pengarang pada novel
ini adalah kata ganti orang “dia”.
Sudut Pandang Contoh
orang pertama-utama
Aku sedang mengamati lemari jam yang
orang pertama-sampingan berdiri kaku di pojok ruangan.
orang ketiga-terbatas
Brak!!! Sekali lagi aku dibuat kaget suara pintu
orang ketiga-tidak terbatas dari samping kamarku. Erika pergi terburu-
buru sambil lari tunggang langgang.
Hammerk, polisi muda yang baru bertugas
memandang Prayodya dari kejauhan. Baginya
gerak-gerik Prayodya terlihat mencurigakan.
Sudah 6 bulan Naomi terjun pada dunia tarik
suara. Ayah dan ibunya tidak ada yang
merestui jalur karier yang ia geluti. Ia sampai
beradu argumen dengan sang ayah yang
memang memiliki watak keras.
14
f) Gaya Bahasa
Dalam novel ini, pengarang memposisikan diri menjadi
seorang pengamat, artinya pengarang berada di luar cerita.
Hal tersebut dapat terlihat dari pengarang yang
menggunakan nama tokohnya dalam menjelaskan kejadian,
pikiran, perasaan dalam cerita. Selain itu hal yang dapat
terlihat adalah kata ganti orang yang digunakan pengarang
pada novel ini adalah kata ganti orang “dia”.
Adapun untuk lebih memahami gaya bahasa dalam
penggalan novel ini, perhatikanlah contoh di bawah ini!
Gaya Bahasa : Penggunaan majas asosiasi
Gambaran Peristiwa : Dalam penggalan novel ini, pengarang
menggunakan majas asosiasi dalam
menggambarkan konsep ikhlas yang
dimaksud Cak Dlahom. Cak Dlahom
mengasosiasikan ikhlas dengan kencing
dan berak, maksudnya adalah ikhlas itu
tidak perlu diingat-ingat dan tidak perlu
ditahan-tahan.
15
1. Kerja Individu
a. Bacalah dengan saksama dan pahamilah isi dari penggalan
novel Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdi Mathari di
atas.
b. Analisislah penggalan novel tersebut untuk mengetahui alur,
tokoh dan penokohan, latar, tema, sudut pandang, dan gaya
bahasa yang terkandung di dalamnya.
c. Kerjakanlah pada lembar kerja yang telah disediakan.
Perhatikan intruksi kerja
individu di atas ya!
16
B. Latihan
Petunjuk mengerjakan latihan!
2. Perhatikan penggalan novel di bawah ini
Masalah Manusia Sama: Sekepalan Tangan
Romlah sedang dirundung masalah. Anak
perawan itu merasa bapaknya mulai ikut-ikutan
orang-orang di kampung dengan pertanyaan-
pertanyaan yang sama hampir setiap hari:
kapan menikah? Romlah tahu, usianya memang
tidak muda. Sudah 29 tahun. Tapi, orang-orang
itu, termasuk Mat Piti bapaknya, mesti juga tahu,
urusan jodoh, seperti halnya soal kelahiran,
kematian, dan rezeki adalah otoritas dari Yang
Menciptakan. Bukan kemauannya. Lagi pula ia
sebenarnya ingin juga menikah dan punya
anak.
Maka, sehabis Tarawih dia mendatangi rumah Cak Dlahom. Ini
kunjungan yang tidak biasa untuk tak menyebut sebagai
pertemuan nonsyariah, karena tak ada yang tahu, tidak ada
muhrim lain, tapi Romlah tak peduli. Dia menyerahkan semua
urusan hanya kepada yang membuat peraturan, karena dia
berniat baik. Lalu ketika tiba di depan pintu rumah Cak Dlahom
yang selalu terbuka karena memang tidak ada daun pintunya,
dia segera mengucapkan salam. Pelan. Suaranya malah
terdengar seperti suatu kode. “Sssttt....”
Cak Dlahom yang kebetulan sedan leyah-leyeh di lincak sambil
tertawa sendiri kaget. Di depannya kini ada Romlah. Dia segera
membetulkan sarungnya.
“Romlah?”
“Iya, Cak. Saya Romlah.”
“Romlah....”
17
Suara Cak Dlahom menjadi berbeda. Terdengar seperti bukan
suara yang biasanya. Wajahnya juga terlihat lebih terang meski
tetap butek. Kedatangan Romlah (apalagi sendirian),
tampaknya telah mengubah detak jantung dan kerja otak Cak
Dlahom. Setidaknya untuk malam itu.
“Duduk, Romlah, duduk....”
“Iya, Cak.”
“Ada apa malam-malam kamu datang ke sini? Apa bapakmu
tahu?”
“Bapak tidak tahu, Cak....”
“Baguslah. Kadang-kadang bapakmu tak harus selalu tahu.”
“Saya ke sini mau tanya soal jodoh....”
“Jodoh? Kenapa tanya ke aku?”
“Anu, Cak, barangkali sampean bisa mencarikan jalan keluar.”
“Jalan keluar yang bagaimana?”
“Usia saya sudah 29 tahun, Cak, tapi belum ada satu pun laki-
laki yang mantap di hati saya.”
“Romlah, usiamu masih muda. Masih punya banyak
kesempatan.”
“Bapak selalu bertanya, Cak, kapan saya menikah....”
“Bapakmu itu kayak ndak pernah muda saja....”
“Pikiran saya kalut, Cak. Tidur tak nyenyak. Malu-malu ketemu
ibu-ibu pengajian....”
Mendengar Romlah mengeluh seperti itu, Cak Dlahom ingin
gila beneran. Dia tak berani memandang ke arah anak Mat Piti
itu. Romlah pun hanya menunduk. Dari kandang kambing milik
Pak Lurah terdengar suara mengembik.
“Saya tahu dari Bapak, sampean orang tulus. Tak pernah neka-
neka dan berprasangka. Kata Bapak, doa dari orang-orang
seperti sampean yang cepat diijabah.”
“Aku gila. Kamu salah orang.”
“Kata Bapak, sampean tidak gila.”
18
“Kamu sama dengan bapakmu.”
“Namanya juga anaknya, Cak.”
“Baiklah Romlah, aku kira tidak enak kita berlama-lama berdua
di sini.”
“Cak Dlahom mengusir saya?”
“Oh ndak. Justru aku mau mengajakmu ke telaga.”
“Telaga di dekat kuburan itu, Cak?”
“Iya. Malam purnama seperti ini, bulan terlihat terang
mengapung di telaga.”
“Beneran, Cak? Saya belum pernah melihatnya....”
“Iya benar, makanya aku ajak kamu ke sana.”
“Iya, Cak.”
“Tapi, sebelumnya bolehkah aku minta tolong?”
“Minta tolong apa, Cak?”
“Tolong ambilkan di dapur segelas dan garam segenggam.”
“Baiklah, Cak....”
Romlah masuk ke dalam rumah Cak Dlahom. Menuju dapur
yang keadaannya berantakan. Kembali ke Cak Dlahom, tangan
kanannya sudah memegang segelas air dan tangan kirinya
menggenggam garam.
“Mau diapakan garam dan air ini, Cak?”
“Sini, kemarikan gelas itu....”
“Terus?”
“Masukkan jari telunjukmu ke genggaman tangan kirimu, lalu
celupkan ke air ini.”
“Sudah, Cak.”
“Aduk hingga rata, jangan sampai ada garam yang tersisa di
jarimu”
“Sudah, Cak.”
“Sekarang minum air ini.”
Cak Dlahom menyodorkan kembali gelas yang dipegang,
Romlah mengambilnya lalu meminum airnya.
“Bagaimana rasanya, Romlah”
19
“Asin, Cak.”
“Genggam terus garam di tangan kirimi itu. Sekarang kita ke
telaga.”
Dua manusia itu runtang-runtung berjalan menuju telaga.
Melewati pinggiran kali dan sawah. Bulan sedang bersinar
terang. Sesekali, karena hampir terpeleset, Romlah memegang
baju Cak Dlahom sambil bersuara, “Cak....”
Di saat-saat seperti itulah Cak Dlahom kadang menyesal
menerima saja disebut orang gila. Dia ingin menuntun tangan
Romlah tapi tak berani. Sekuat tenaga menyadarkan diri bahwa
dia adalah orang gila, dan orang gila tentu tak boleh
memegang tangan perempuan.
Setelah menembus pekuburan yang penuh pohon-pohon
besar, tibalah mereka di tepi telaga. Mereka duduk-duduk di
pematang. Bulan benar terlihat mengapung di telaga.
Warnanya gading. Dada Cak Dlahom dan Romlah terlihat naik
turun. Napasnya ngos-ngosan.
“Haus, Romlah?”
“Iya, Cak....”
“Sayang tadi kita tak bawa air dari rumah, tapi air di telaga ini
juga bisa diminum. Kamu mau?”
“Iya, Cak. Mau.”
“Sebelum minum, tolong lemparkan garam di tanganmu ke
telaga.”
“Semuanya, Cak?”
“Iya, semua. Lalu basuh tanganmu hingga bersih. Jangan ada
garam yang tersisa.”
Romlah melempar garam di tangannya ke telaga dan segera
mencuci tangannya. Cak Dlahom melihat bulan yang berenang
di pinggir telaga digantikan wajah Romlah.
“Romlah, ambil dengan tanganmu air itu. Minumlah....”
Romlah agak ragu, tapi dia ingat bapaknya pernah bilang ke
orang agar mengikuti saja yang dikatakan Cak Dlahom.
20
Dia merapatkan dua tangannya, lalu mengambil air di telaga
dan meminumnya.
“Bagaimana rasanya Romlah?”
“Segar, Cak. Segar. Tidak ada asin.”
“Padahal kamu tadi melempar garam segenggam ke telaga?”
“Iya, segenggam....”
Romlah kembali duduk di pematang di samping Cak Dlahom.
Cak Dlaho kini berani memegang tangan Romlah.
“Romlah, masalah dan persoalan manusia pada hakikatnya
sama: hanya sekepalan tangan. Persis seperti garam yang tadi
kamu genggam. Hidup bisa menjadi asin (berat) atau
menyegarkan (ringan) tergantung manusia dalam
menempatkan hatinya. Menjadi hanya sebatas air di gelas atau
seluas air di telaga.”
“Cak....”
“Ada apa, Romlah?”
“Jangan terlalu keras memegang tanganku, Cak....”
Di bibir telaga, disaksikan bulan yang terang, malam itu Romlah
tidak ingat lagi urusan jodohnya. Cak Dlahom apalagi. Jantung
manusia memang hanya sekepalan tangannya. (Mathari, 2018,
hlm. 45-50).
21
3. Panduan Lembar Kerja
Kerjakanlah sesuai dengan panduan berikut!
Nama Siswa :
Judul Novel :
Nama Pengarang :
1) Analisis Tema
Tema Cerita :
Gambaran Cerita :
Kutipan yang mendukung :
2) Analisis Tokoh dan Penokohan
Nama Tokoh :
Jenis Tokoh :
Penokohan :
Kutipan yang mendukung :
3) Analisis Latar :
Jenis Latar :
Gambaran Cerita :
Kutipan yang mendukung
4) Analisis Sudut Pandang :
Jenis Sudut Pandang :
Gambaran Cerita :
Kutipan yang mendukung
5) Analisis Gaya Bahasa :
Jenis Gaya Bahasa :
Gambaran cerita :
Kutipan yang mendukung
22
C. Rangkuman
Novel merupakan salah satu prosa fiksi yang membahas
konflik-konflik kehidupan manusia secara lebih kompleks serta
mendalam, sehingga mampu menampilkan perkembangan
karakter, situasi sosial, dan bermacam peristiwa di dalamnya.
Pada dasarnya novel sebagai karya fiksi mempunyai unsur-
unsur pembangun di dalamnya, seperti unsur intrinsik dan
ekstrinsik yang mencakup unsur peristiwa, alur, tema, tokoh dan
penokohan, latar, sudut pandang dan gaya bahasa. Hal tersebut
selaras dengan pendapat Nurgiyantoro (2009, hlm. 23) yang
mengemukakan bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang
membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik sebuah novel
adalah unsur-unsur yang (secara langsung) turut serta
membangun cerita. Berikut ini pengertian unsur-unsur intrinsik
novel secara singkat.
1. Tema adalah gagasan dasar umum atau pokok pikiran yang
dibawa oleh pengarang untuk disampaikan kepada
pembacanya, baik secara tersurat maupun tersirat.
2. Alur adalah urutan peristiwa dari awal hingga akhir yang
ditampilkan pengarang dalam cerita dengan menghubungkan
sebab-akibat di dalamnya.
3. Tokoh adalah karakter merujuk pada individu-individu (tokoh)
yang muncul dalam cerita, sedangkan penokohan adalah
percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan
prinsip moral dari individu-individu tersebut seperti tampak
implisit.
4. Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa
dalam cerita merujuk pada pengertian tempat (latar tempat),
hubungan waktu (latar waktu), dan lingkungan sosial tempat
terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (latar sosial).
5. Sudut pandang adalah teknik pengarang dalam
menyampaikan ceritanya.
6. Gaya bahasa adalah cara pengarang dalam menggunakan
bahasa.
23
D. Tes Formatif
Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D, atau E pada
jawaban yang paling tepat!
Bacalah penggalan novel di bawah ini untuk menjawab soal
nomor 1-3!
Namun, baru saja melangkah di dekat kandang kambing milik
Pak Lurah di ujung jalan, dia seperti mendengar suara Cak
Dlahom bercakap-cakap dengan seseorang. Gus Mut berusaha
mendekat, tapi tidak terlalu dekat. Dia hanya mengintip dan
benar dia melihat Cak Dlahom.
Dia mengelus kepala Sarkum, anak mendiang Bunali yang
Ibunya mati gantung diri tempo hari. Sarkum, anak lelaki yang
mestinya sudah masuk SMP, terdengar terisak. Menundukkan
kepala. Gus Mut mencoba mencuri dengar percakapan mereka.
“Tak usah menangis, Sarkum. Ini hari raya...”
“Jangan sentuh saya, Pak Dlahom. Biarkan saya sendiri. Hari ini
sama saja dengan hari-hari lainnya.”
“Iya. Maafkan aku, Sarkum. Maafkan aku...”
“Tinggalkan saja saya, Pak. Saya sedang berdoa. Mendoakan
bapak dan ibu saya.”
“Iya, teruslah berdoa, Sarkum. Aku akan menemanimu.”
“Ini hari raya paling menyedihkan bagi saya. Saya tak punya
siapa-siapa. Rumah tak punya. Perut saya melilit kelaparan.
Pakaian saya hanya melekat di badan. Mau meminta-minta
saya malu. Mau bekerja, siapa yang mau mempekerjakan saya.
Saya lunglai dan merintih. Tapi, tak ada yang tahu. Tak ada yang
mendengar. Saya ingat bapak dan ibu saya. Andai mereka
masih ada. Saya berdoa untuk mereka.”
Gus Mut melihat mata Cak Dlahom berkaca-kaca. Sebagian air
mata sudah jatuh membasahi kedua pipinya. Cak Dlahom
hanya menunduk.
“Sarkum, maafkan aku...”
“Pak Dlahom tidak pernah punya salah...”
24
“Aku salah, Sarkum. Aku yang salah. Kalau boleh dan kamu mau,
bisakah aku jadi bapakmu? Romlah jadi ibumu? Nody jadi
kakakmu? Mat Piti jadi Pamanmu? Gus Mut jadi saudaramu?”
Sarkum seketika menengadah. Dia memandang wajah Cak
Dlahom. Mulut Gus Mut tercekat.
“Pak Dlahom, bagaimana mungkin saya tidak mau. Hanya Pak
Dlahom yang selama ini penuh perhatian pada saya dan ibu.
Saya berterima kasih kalau benar Pak Dlahom mau menjadikan
saya sebagai anak. Saya mau sekolah.”
“Iya, Sarkum. Nanti kamu bersekolah. Biar Ibu Romlah dan Nody
yang mendaftarkanmu (Mathari, 2018, hlm. 211-213)
1. Siapakah yang menjadi tokoh utama dalam penggalan novel di
atas?
A. Gus Mut
B. Cak Dlahom
C. Mat Piti
D. Romlah
E. Nody
2. Bagaimanakah karakter tokoh Cak Dlahom dalam penggalan
novel di atas?
A. apatis
B. egois
C. peduli
D. dermawan
E. taat
3. Di manakah latar tempat tokoh Cak Dlahom dan tokoh Sarkum
berbincang?
A. rumah Pak Lurah
B. masjid
C. telaga
D. rumah Sarkum
E. kandang kambing Pak Lurah
25
Bacalah penggalan novel di bawah ini untuk menjawab soal
nomor 4 dan 5!
“Terus kenapa sampean tersinggung hanya karena merasa
orang-orang membicarakan keburukan sampean?”
“Nama baik dan harga diri saya dan keluarga saya jadi rusak!
Hancur. Dan itu karena tingkah sampean...”
“Lalu sampean kepanasan?”
“Karena semua omongan tentang saya dan keluarga saya tidak
benar. Fitnah! Tingkah sampean tidak benar....”
“Di bagian apanya dari sampean yang panas, Pak Lurah?”
Tiba-tiba Pak Lurah berdiri. Dia mencekak pinggang. Cak
Dlahom tetap duduk dan tetap cekikikan.
“Kalau mau tahu di bagian mana dari saya yang panas, saya
jawab di sini! Di sini yang terbakar! Di sini...! Paham sampean?!
Pak Lurah menunjuk-nunjuk dadanya. Matanya semakin
melotot. Suasana tegang tak terhindarkan. Orang-orang tidak
ada yang berani menengadah. Cak Dlahom juga sudah tidak
cekikikan. Dari mulutnya terdengar suara seperti orang sedang
berkidung. (Mathari, 2018, hlm. 157)
4. Bagaimanakah suasana yang terdapat dalam penggalan novel
di atas?
A. menegangkan
B. mengecewakan
C. menyedihkan
D. mengharukan
E. menyenangkan
5. Sudut pandang yang digunakan dalam penggalan novel di atas
adalah
A. orang pertama-utama
B. orang pertama-sampingan
C. orang ketiga-terbatas
D. orang ketiga-tidak terbatas
E. campuran
26
Bacalah penggalan novel di bawah untuk menjawab soal nomor
6!
Di kampungnya, Mat Piti sebetulnya orang yang biasa-biasa
saja. Tidak melarat dan tidak kaya, tapi orang-orang
mengenalnya sebagai dermawan. Suka menyantuni anak yatim,
membantu orang yang kesusahan, membayari utang orang-
orang yang terjerat utang, mendatangi tetangga yang sakit dan
mendoakan, dan sebagainya.
Di bulan Ramadan, setiap hari dia mengirim takjil ke masjid, di
rumahnya yang juga biasa-biasa saja, siapa saja boleh datang
untuk menikmati buka puasa bersama-sama. (Mathari, 2018,
hlm. 9)
6. Bagaimanakah watak seorang tokoh Mat Piti dari penggalan
novel di atas?
A. baik
B. dermawan
C. ramah
D. saleh
E. bijaksana
Bacalah penggalan novel di bawah untuk menjawab soal nomor
7!
Cak Dlahom tak menjawab tudingan Dullah. Dia hanya menatap
tajam Dullah yang segera tertunduk. Sorot mata Cak Dlahom
rupanya telah menguliti Dullah. (Mathari, 2018, hlm 89)
7. Kalimat yang digarisbawahi tersebut, termasuk ke dalam majas?
A. metafora
B. personifikasi
C. sarkasme
D. asosiasi
E. hiperbola
27
Bacalah penggalan novel di bawah ini untuk menjawab soal
nomor 8!
Sehari menjelang puasa, Mat Piti dan beberapa orang di
kampungnya terlihat sibuk bersih-bersih di masjid. Karpet-karpet
dijemur, lampu-lampu diganti baru, halaman disapu, pagar
tembok dilabur, dan sebagainya. Itu kebiasaan baik yang sudah
berlangsung bertahun-tahun di kampungnya. Kaum ibu juga
bergotong-royong, menyediakan pisang dan tape goreng
lengkap dengan kopi dan teh manis hangat. Anak-anak
membantu membersihkan mushaf-mushaf Al-Quran yang
berdebu lalu menyusunnya kembali di rak-rak. (Mathari, 2018,
hlm 3)
8. Kutipan di atas merupakan bagian dari tahapan alur...
A. pengenalan cerita
B. klimaks konflik
C. penyelesaian konflik
D. pertengahan cerita
E. koda
9. Dari bahasa negara manakah istilah novel berasal?
A. Inggris
B. Amerika
C. Italia
D. Jepang
E. Rusia
10. Berdasarkan beberapa jenis pembeda tokoh, manakah di bawah
ini yang merupakan jenis tokoh berdasarkan peran?
A. tokoh protagonis
B. tokoh berkembang
C. tokoh tambahan
D. tokoh statis
E. tokoh utama
28
E. Kunci Jawaban
Silahkan pindai QR code di bawah
ini ya!
F.Tindak Lanjut
Pada dasarnya untuk mengukur penguasaan materi, kamu sangat
disarankan untuk tidak melihat kunci jawaban ketika mengerjakan tes
formatif. Setelah selesai mengerjakan latihan soal tes formatif, langkah
selanjutnya cobalah untuk mencocokkan jawaban yang telah kamu
pilih dengan kunci jawaban yang ada. Jangan melanjutkan ke kegiatan
berikutnya apabila masih merasa kesulitan dalam materi ini, silahkan
segera untuk menghubungi guru. Selanjutnya lakukan pengukuran
kemampuanmu untuk mengetahui tingkat penguasaan materi kamu
dalam kegiatan belajar ini, dengan menggunakan rumus penghitungan
yang telah disediakan di bawah ini.
Tingkat penguasaan= jawaban benar X 100%
10
Hasil perhitungan di atas jika menunjukkan hasil:
a. 0% - 65% maka kurang
b. 66% - 75% maka cukup
c. 76% - 85% maka baik
d. 86% - 100% maka sangat baik
Apabila kamu sudah mencapai tingkat penguasaan materi sebesar
76% atau lebih, maka kamu dapat melanjutkan belajar pada kegiatan
selanjutnya. Namun, jika tingkat penguasaan materi kamu di bawah
76%, maka sebaiknya kamu mengulangi materi pada pembelajaran
tersebut.
29
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
Nilai Sufisme yang Terkandung dalam Novel
A.Uraian Materi
1.Pengertian Nilai Sufisme
Rivay Siregar (2002, hlm. 31-32) memaparkan tasawuf sebagai
salah satu tipe mistisme, dalam bahasa Inggris disebut sufisme
(sufism). Kata tasawuf mulai dikenal sebagai suatu istilah pada
sekitar akhir abad dua hijriah yang dikaitkan dengan salah satu
jenis bahan pakaian yang disebut shuff atau wool kasar. Bahan
tersebut sangat disenangi oleh para zahid sehingga menjadi
simbol dari kesederhanaan pada masa itu. Sementara itu Anwar
dan solihin (2004, hlm. 14) menjelaskan bahwa ilmu tasawuf atau
sufisme adalah ilmu yang mempelajari usaha membersihkan
diri, berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian
dengan ma’rifat menuju keabadian, saling mengingatkan antara
sesama insan, serta berpegang teguh pada janji Allah dan
mengikuti syari’at Rasulullah dalam mendekatkan diri dan
mencapai keridaan-Nya.
Senada dengan Anwar dan Solihin, H. M. Amin Syukur (dalam
Amin, 2012, hlm. 8-9) mengatakan bahwa tasawuf adalah sistem
latihan dengan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk
membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam aspek
kerohanian dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah
sehingga segala perhatian hanya tertuju kepada-Nya. Adapun
menurut Amin (2012, hlm. 9) yang dimaksud tasawuf ialah usaha
melatih jiwa dengan kesungguhan yang dapat membebaskan
manusia dari pengaruh kehidupan duniawi untuk lebih
mendekatkan diri kepada tuhan sehingga dalam kehidupannya
dapat tercipta jiwa yang bersih, akhlak yang mulia, dan juga
menemukan kebahagiaan spiritualitas.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas dapat
disimpulkan bahwa tasawuf atau nilai sufisme adalah suatu
usaha sungguh-sungguh dalam upaya membersihkan hati
disertai menerapkan akhlak mulia dengan tujuan akhir untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
31
Dewasa ini, kajian terhadap bidang tasawuf semakin banyak
diminati banyak orang. Hal tersebut dapat terlihat dari semakin
banyaknya buku non fiksi dan juga fiksi mencakup novel, cerpen,
puisi yang membahas tasawuf di sejumlah perpustakaan, baik
perpustakaan di negara-negara yang berpenduduk muslim atau
di negara-negara barat yang notabene mayoritas
masyarakatnya non muslim (Anwar dan Solihin, 2004, hlm. 14).
Senada dengan pernyataan di atas Mangunwijaya (dalam
Nurgiyantoro, 2009, hlm. 326) menyatakan bahwa kehadiran
unsur religius dan keagamaan khususnya dalam sastra yang
termuat dalam buku fiksi maupun non fiksi adalah setua
keberadaan sastra itu sendiri. Bahkan, sastra tumbuh dari
sesuatu yang bersifat batiniyah yang sangat berkaitan dengan
nilai religius. Berdasar hal tersebut manusia membutuhkan nilai
religius sebagai upaya untuk menyempurnakan hakikatnya.
Hanya saja, bentuk ketertarikan masyarakat tersebut tidak
dapat diklaim sebagai sebuah penerimaan bulat-bulat terhadap
tasawuf. Apabila menilik lebih dalam, ketertarikan mereka dalam
tasawuf terbagi ke dalam dua kecenderungan: pertama, karena
kecenderungan terhadap fitrah atau naluriah, dan kedua, karena
kecenderungan pada persoalan akademis (Anwar dan Solihin,
2004, hlm. 14).
Kecenderungan pertama berorientasi bahwa manusia pada
hakikatnya memerlukan sentuhan-sentuhan spiritual atau
rohani. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memenuhi salah
satu kebutuhan dalam bentuk rasa sejuk dan kedamaian dalam
diri. Adapun kecenderungan kedua mengisyaratkan bahwa
tasawuf memang menarik untuk dikaji secara akademis-
keilmuan. Boleh jadi, dengan kecenderungan yang kedua ini
kajian tasawuf hanya berfungsi sebagai pengayaan keilmuan di
tengah bidang keilmuan lain yang berkembang di dunia.
Secara umum orientasi tujuan mempelajari ilmu tasawuf
adalah untuk berada sedekat mungkin dengan Allah.
32
Adapun apabila diperhatikan karakteristik tasawuf secara umum,
terlihat adanya tiga tujuan dari tasawuf, yaitu; pertama tasawuf
yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral, kedua tasawuf
yang bertujuan untuk ma’rifatullah atau upaya manusia
mengenal Allah melalui penyingkapan langsung, ketiga tasawuf
yang bertujuan untuk membahas bagaimana sistem pengenalan
dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis,
pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan makhluk,
terutama hubungan manusia dengan Tuhan dan apa arti dekat
dengan tuhan (Rivay Siregar, 2002, hlm. 57).
2. Jenis-jenis Nilai Sufisme
Menurut Anwar dan Solihin (2004, hlm. 49) dalam sejarah
perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua,
yaitu tasawuf yang bertendensi pada teori-teori perilaku disebut
dengan tasawuf akhlaqi dan tasawuf yang bertendensi pada
teori-teori yang rumit serta membutuhkan pemahaman
mendalam disebut sebagai tasawuf falsafi.
Pembagian dua jenis tasawuf di atas didasarkan atas
kecenderungan ajaran yang dikembangkan, yakni
kecenderungan pada perilaku atau moral keagamaan dan
kecenderungan pada pemikiran. Dalam perjalanannya kedua
kecenderungan tersebut berkembang hingga mempunyai
jalannya masing-masing (Anwar dan Solihin, 2004, hlm. 49)
Walaupun begitu dalam praktiknya menerapkan tasawuf
akhlaqi memang memerlukan pendidikan serta latihan mental
yang panjang. Menurut pandangan kaum sufi kenikmatan hidup
duniawi bukanlah tujuan, tetapi hanya sekadar jembatan. Oleh
karena itu, dalam upaya pendidikan mental, yang pertama dan
utama ialah menguasai sumber penyebab utamanya yaitu
hawa nafsu (Anwar dan Solihin, 2004, hlm. 56).
33
Menurut Al-Ghazali dalam Anwar dan Solihin memaparkan
bahwa tak terkendalinya hawa nafsu yang ingin mengecap
kenikmatan hidup duniawi adalah sumber utama dari kerusakan
akhlak. Seandainya bukan karena rasa ketergantungan manusia
pada kenikmatan dan kemewahan dalam mengejar atribut-
atribut kebesaran dunia, tentu tidak akan ada tindakan-tindakan
seperti manipulasi, korupsi, fitnah, riya, sombong, takabur, dan
sikap mental lain yang sejalan dengan itu.
Bagi sufi keunggulan seseorang bukan diukur dari banyaknya
harta yang dimiliki, bukan pula dilihat dari pangkat yang
dijabatnya, serta bukan pula dari otoritas yang dimilikinya. Nilai
seseorang tidak dilihat dari fisik yang dimilikinya, tetapi terletak
pada akhlak pribadi yang diterapkannya (Anwar dan Solihin, 2004,
hlm. 56).
Para sufi berpandangan bahwa untuk merehabilitasi sikap
mental yang tidak baik dibutuhkan terapi yang tidak hanya dari
aspek lahiriah. Dengan demikian, pada tahap-tahap awal
memasuki kehidupan tasawuf seseorang diharuskan melakukan
amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat dalam bentuk
menguasai nafsu. Untuk itu, dalam tasawuf akhlaqi, sistem
pembinaan akhlak disusun sebagai berikut.
1. Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus dijalankan
seorang sufi. Takhalli adalah upaya untuk mengosongkan diri dari
perilaku atau akhlak tercela. Salah satu akhlak tercela yang paling
banyak menyebabkan timbulnya akhlak jelek lainnya adalah
ketergantungan pada kenikmatan duniawi.
34
2. Tahalli
Tahalli merupakan upaya mengisi atau membiasakan diri
dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli
dilakukan oleh kaum sufi setelah mengosongkan jiwa dari akhlak-
akhlak yang tidak baik. Dengan demikian, tahap tahalli
merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan. Hal
tersebut penting untuk dilakukan karena apabila satu kebiasaan
telah ditinggalkan, tetapi tidak segera ada penggantinya, maka
kekosongan itu dapat menimbulkan frustasi. Oleh karena itu,
ketika kebiasaan lama sudah dilepaskan, maka harus segera diisi
dengan satu kebiasaan baru yang baik.
Adapun sikap serta perilaku baik yang sangat penting untuk
diisikan ke dalam jiwa manusia sebagai upaya pembiasaan
dalam rangka pembentukan manusia paripurna, antara lain
berikut ini:
a. Tobat
Menurut Al-Ghazali dalam Anwar dan Solihin mengklasifikasikan
tibat itu menjadi tiga tingkatan:
1. Meninggalkan segala bentuk kejahatan dan beralih pada
kebaikan karena takut pada hukuman Allah.
2. Beralih dari satu situasi dan kondisi yang sudah baik menuju
situasi dan kondisi yang lebih baik lagi.
3. Rasa penyesalan yang dilakukan semata-mata karena
ketaatan serta kecintaan kepada Allah.
b. Cemas dan harap (khauf dan raja’)
Menurut Al-Bashri dalam Anwar dan Solihin menjelaskan bahwa
yang dimaksud dengan cemas atau takut adalah suatu
perasaan yang muncul karena telah banyak berbuat kesalahan
dan sering lalai kepada Allah. Berangkat dari kesadaran manusia
atas kurang sempurnanya dalam mengabdi kepada Allah, maka
muncul rasa takut serta khawatir apabila Allah akan murka
kepadanya.
35
Selain itu harap/raja’ merupakan suatu rasa lapang hati dalam
menantikan hal yang diharapkan pada masa yang akan datang
yang mungkin terjadi. Harap/raja’ juga dapat diartikan sebagai
sikap hidup yang selalu mendorong orang untuk lebih banyak
berbuat dan beramal shaleh.
C. Zuhud
Zuhud dapat diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri
dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan
mengutamakan kehidupan akhirat. Hal tersebut senada dengan
pendapat para sufi yang menjelaskan bahwa hawa nafsu
duniawi lah yang menjadi sumber dari kerusakan moral
manusia.
d. Fakir
Fakir bermakna suatu sikap atau perilaku tidak menuntut lebih
banyak dari apa yang telah dimiliki dan merasa puas dengan
apa yang sudah dipunyai sehingga tidak menuntut sesuatu
yang lain.
e. Sabar
Sabar diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil,
dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan;
pendiriannya tidak goyah bagaimanapun berat tantangan yang
dihadapi; pantang mundur dan tak kenal menyerah. Secara
umum sikap sabar dilandasi oleh anggapan bahwa sesuatu
yang terjadi merupakan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, sabar
erat hubungannya dengan pengendalian diri, sikap, dan emosi.
Apabila seseorang telah mampu mengendalikan nafsunya,
maka sifat sabar akan tercipta.
f. Rida
Rida merupakan suatu sikap menerima dengan lapang dada
dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah, baik
dalam menerima dan melaksanakan ketentuan-ketentuan
agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib dirinya.
36
g. Muraqabah
Pada dasarnya muraqabah adalah siap dan siaga setiap saat
untuk meneliti keadaan diri sendiri. Siap dan siaga tersebut
dalam arti menyadari bahwa seluruh aktivitas hidupnya tidak
pernah lepas dari pengawasan Allah. Kata ini mempunyai arti
yang mirip dengan introspeksi atau self correection.
3. Tajalli
Dalam rangka pemantapan serta pendalaman materi yang
sudah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan
akhlak selanjutnya adalah fase tajalli. Kata tajalli mempunyai arti
terungkapnya nur ghaib. Terungkapnya nur ghaib merupakan
buah dari upaya untuk mencapai tingkat kesempurnaan
kesucian jiwa yang dapat dilakukan dengan cinta kepada Allah.
37
Pada praktiknya untuk lebih memahami nilai sufisme yang
terkandung dalam novel, simaklah contoh di bawah ini!
Nilai sufisme yang terkandung : Sabar
Gambaran Cerita : Dalam novel Merasa Pintar Bodoh
Kutipan dalam novel Saja Tak Punya terdapat nilai
sufisme dalam bentuk sabar. Hal
tersebut dapat terlihat dari nasihat
Cak Dlahom untuk Romlah yang
sedang dirundung masalah
perjodohannya. Cak Dlahom
menasihati Romlah dengan
memberinya pilihan apakah
masalah tersebut akan diibaratkan
seperti garam dalam segelas air
atau garam dalam luasnya telaga.
: Romlah, masalah dan persoalan
manusia pada hakikatnya sama:
hanya sekepalan tangan. Persis
seperti garam yang tadi kamu
genggam. Hidup bisa menjadi asin
(berat) atau menyegarkan (ringan)
tergantung manusia dalam
menempatkan hatinya. Menjadi
hanya sebatas air di gelas atau
seluas air di telaga.” (Mathari, 2018,
hlm. 50)
38
A.Latihan
Petunjuk mengerjakan latihan!
1. Perhatikan penggalan novel di bawah ini!
Dia Sakit dan Kamu Sibuk Membangun Masjid
Sekian hari tinggal di rumah Mat Piti dan ngobrol
sama Cak Dlahom, Gus Mut mulai mengerti Cak
Dlahom memang beda. Disebut sinting, tidak.
Disebut pintar, kok ya bodoh. Disebut tahu ilmu
agama, Cak Dlahom tak pernah berceramah. Tak
punya santri, tak punya murid, tidak punya
jemaah.
Maka suatu hari, dia mengusulkan pada Mat Piti
agar Cak Dlahom dibuatkan pesantren. Minimal
dibuatkan pengajian di masjid. Dan tentu saja
usul itu ditolak oleh Mat Piti
“Gus Mut, sampean belum tahu Cak Dlahom”
“Iya, Pak Mat, saya belum tahu. Baru beberapa hari
mengenalnya....”
“Kalau agak lama tinggal di sini, nanti sampean akan tahu.”
Mat Piti lalu bercerita tentang sepak terjang Cak Dlahom. Intinya
Cak Dlahom bukan seperti dibayangkan oleh Gus Mut. Sampai
sekarang Cak Dlahom yang masih menolak pembangunan masjid
di kampung. Dia menentang ide memperluas bangunan masjid
yang sumber pendanaannya dilakukan dengan cara meminta-
minta sumbangan pada orang-orang yang dianggap mampu
atau kaya, meminta-minta sumbangan pada orang yang lewat di
depan masjid dengan menutup separuh jalan. Membangun masjid
kok minta-minta. Padahal belum tentu yang dimintai sumbangan
berniat betul untuk menyumbang. Malah mungkin justru ingin
pamer jumlah sumbangan, meskipun di kertas sumbangan si
penyumbang menulis “Dari Hamba Allah”. Dan orang-orang yang
lewat di jalan depan masjid, mereka mungkin terpaksa
menyumbang karena tak enak melihat orang-orang menjulurkan
kotak sumbangan.
39
Gus Mut manggut-manggut mendengar cerita yang disampaikan
Mat Piti, tapi dia tetap penasaran. Dia ingin bertanya langsung
pada Cak Dlahom. Dan suatu malam sehabis Tarawih dia
mendatangi Cak Dlahom yang duduk duduk di teras belakang
rumah Mat Piti. Mat Piti juga ad di sana. Sunody dan Romlah sudah
kelonan di kamar.
“Ini loh, Cak, Gus Mut usul agar sampean punya pesantren.
Minimal membuka pengajian.”
“Iya, Cak, tapi saya penasaran kenapa sampean menolak
pembangunan masjid?”
Cak Dlahom tak segera menjawab. Tidak juga cekikikan seperti
biasanya. Mat Piti dan Gus Mut saling berpandangan.
“Gus, masjid itu ada dua macam. Satu roh, lainnya badan. Satu di
atas tanah berdiri, lainnya bersemayam di hati.”
“Maksudnya, Cak?”
“Membangun masjid itu mudah, Gus. Mudah sekali.”
“Terus kenapa sampean keberatan?”
“Aku tidak keberatan, Gus, dan andaipun keberatan. orang-orang
mestinya mengabaikannya. Aku bukan siapa siapa dan tak mau
jadi siapa-siapa.”
“Terus, Cak?”
“Kamu pernah melihat masjid yang besar, masjid yang megah,
Gus?”
“Pernah, Cak. Sering. Banyak masjid semacam itu.”
“Lalu apa hasilnya? Apa dampaknya?”
“Orang-orang bisa salat, bisa mengaji, Cak. Bertamu ke Rumah
Allah....”
“Lalu ketemu sama yang punya rumah?”
“Maksudnya, Cak?”
“Apa maksudmu Rumah Allah?”
“Ya milik Allah....”
“Lalu kalau kamu salat di masjid, di Rumah Allah itu, kamu ketemu
sama yang punya rumah?”
“Ya ndak, Cak....”
40
“Lalu ketemu siapa kamu? Lalu mau apa orang-orang itu bertamu
ke masjid kalau tidak bertemu dengan tuan rumahnya, kalau tak
ada tuan rumahnya?”
“Allah kan menyuruh kita berdoa, Cak....”
“Berdoalah sebanyak mungkin, Gus.”
“Terus masalahnya apa, Cak?”
“Tak ada masalah, Gus, tapi berdoa mestinya tak hanya di
masjid. Berdoa bisa di mana saja karena seluruh bumi adalah
masjid. Suci dan bersih, kata Rasulullah.”
Gus Mut bingung. Mat Piti menepuk-nepuk punggung Gus Mut.
Cak Dlahom cekikikan. Beberapa saat kemudian dari pintu depan
terdengar ada yang mengetuk.
“Pak Mat... Pak Mat... Mas Nody....”
Itu suara Warkono, penjaga masjid. Mat Piti segera menyongsong
ke ruang tamu. Sunody keluar dari kamar Romlah ikut menyusul.
Ketika Mat Piti membuka pintu, terlihat muka Warkono penuh
keringat. Dia terengah-engah bernapas. Mat Piti melirik ke arlojinya.
Menjelang pukul 12.
“Ada apa, War?”
“Istri Bunali, Pak Mat....”
“Kenapa?”
“Meninggal, Pak Mat. Gantung diri....”
“Innalillahi rajiun.... Pak RT sudah diberi tahu?”
“Sudah, Pak. Sudah di rumah Bunali....”
Malam itu orang-orang kampung segera menguburkan istri
Bunali. Mereka baru selesai menunaikan fardu kifayah itu dan
pulang dari pemakaman menjelang sahur. Besoknya, selepas Asar,
Cak Dlahom mengajak Gus Mut mendatangi makam istri Bunali.
Dan berbeda dengan malam sebelumnya ketika Cak Dlahom
hanya komat-kamit di pinggir makam, kali ini Gus Mut melihat Cak
Dlahom meraung-raung di dekat makam istri Bunali. Menangis
sejadi-jadinya. “Ya Allah... ampuni diriku... ampuni orang-orang
kampung ini....”
41