The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

MODUL EBK XI Nita Rohyani (2)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nitarohyani5, 2021-09-08 22:30:44

Modul EBK XI

MODUL EBK XI Nita Rohyani (2)

MODUL

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI

Kompetensi Keahlian Desain Pemodelan dan
Informasi Bangunan

(C3)

KELAS
XI

SMK/MAK

SEMESTER GANJIL

Penyusun:
Nita Rohyani

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia dan
nikmat-Nya sehingga penyusunan modul ini dapat terselesaikan secara cepat di
tengah pandemi Covid-19. Tersusunnya buku Estimasi Biaya Konstruksi Kelas XI ini
bertujuan agar dapat digunakan sebagai buku teks peserta didik Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) Program Keahlian Teknik Konstruksi dan Properti khususnya
Kompetensi Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan.

Ketersediaan bahan bacaan tertulis yang sesuai dengan silabus dalam bentuk
buku, modul atau media elektronik lainnya merupakan factor pendukung terhadap
keberhasilan implementasi kurikulum. Bagi peserta didik, modul Estimasi Biaya
Konstruksi Kelas XI ini dapat digunakan sebagai sumber informasi. Informasi-
informasi tersebut sangat penting, karena media yang digunakan untuk bekerja bagi
siswa lulusan Program Keahlian Teknik Konstruksi dan Properti khususnya
Kompetensi Keahlian Desain Pemodelan dan Informasi Bangunan. Bagi guru mata
pelajaran Estimasi Biaya Konstruksi, modul ini dapat digunakan sebagai bahan acuan
dalam proses kegiatan belajar mengajar, karena modul ini tersusun secara urut
kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan silabus pada mata pelajaran
Estimasi Biaya Konstruksi.

Modul pembelajaran hibrida adalah suatu modul yang mongkombinasikan
antara instruktur dan pembelajaran elektronik yang fleksibel dan berkualitas
sehingga dapat memberikan pengalaman belajar yang optimal bagi siswa. Ada
beberapa kelebihan dari penggunaan modul hibrida, yaitu pembelajaran sesuai
dengan target dan dapat disampaikan dalam jumlah besar hanya dalam beberapa
waktu, guru dapat menggunakan variasi antara pembelajaran online dengan tatap
muka serta dapat mengembangkan pembelajaran dan interaksi secara mandiri
dengan siswa secara online. Selain itu kelebihan modul hybrid ini disajikan

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI ii

menggunakan 4 prinsip yakni, 1) transmisi antara daring, luring dan lingkungan
sumber belajar, 2) interkoneksi media dan sumber belajar, 3) integrasi strategi
pembeajaran, dan 4) menjembatani tumbuhnya nilai-nilai baik dalam kehidupan
sehari-hari dimasa belajar di rumah.

Akhir kata, penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang terlibat dan memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penyusunan
modul ini dan akan terus menyempurnakan modul ini sehingga sangat diperlukan
saran dan kritik dari para pengguna dan praktisi serta ahli pendidikan.

Sleman, 03 Maret 2021
Penyusun

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI iii

DAFTAR ISI
ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI iv

Perbaikan Tugas dan UjianPeta Modul

Pendahuluan
Kegiatan Belajar 1
Kegiatan Belajar 2
Kegiatan Belajar 3
Kegiatan Belajar 4
Kegiatan Belajar 5
Kegiatan Belajar 6
Kegiatan Belajar 7
Pengumpulan Tugas dan Ujian

Lulus
Siswa Selesai Mempelajari
Mata Pelajaran Estimasi Biaya Konstruksi

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI ii

BAB 1

Jenis-Jenis Pekerjaan
Konstruksi Gedung,
Jalan dan Jembatan

3.1 Memahami jenis-jenis pekerjaan konstruksi gedung, jalan dan jembatan.
4.1 Menyajikan unsur-unsur dan fungsi pengelola pekerjaan konstruksi

gedung, jalan dan jembatan.

Setelah para siswa menggunakan modul ini, siswa dapat:
1. Menjelaskan jenis-jenis pekerjaan konstruksi gedung.
2. Menjelaskan jenis-jenis pekerjaan konstruksi jalan.
3. Menjelaskan jenis-jenis pekerjaan konstruksi jembatan.
4. Menyajikan unsur-unsur dan fungsi pengelola pekerjaan konstruksi

gedung.
5. Menjelaskan jenis-jenis pekerjaan konstruksi jalan.
6. Menjelaskan jenis-jenis pekerjaan konstruksi jembatan.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 1

A. Jenis-Jenis Pekerjaan Konstruksi Gedung, Jalan dan Jembatan

Konstruksi adalah salah satu kegiatan membangun sarana maupun prasarana
baik itu di dalam sebuah bidang arsitektur maupun teknik sipil. Sebuah konstruksi
ini sendiri biasanya juga dikenal sebagai bangunan ataupun satuan infrastruktur yang
terdapat pada suatu area maupun beberapa area.

Secara singkat, kontruksi didefinisikan sebagai objek keseluruhan dari bangunan
yang terdiri dari beberapa bagian struktur. Kontruksi ini juga masih dibedakan
menjadi beberapa jenis. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut :
1. Konstruksi jalan dan jembatan

Kontruksi ini merupakan suatu proyek yang meliputi penggalian, pengerasan
jalan, pengurukan hingga konstruksi jembatan serta adanya struktur drainase.
Jenis konstruksi yang satu ini biasanya juga direncanakan oleh para departemen
pekerjaan umum.

Hal ini jelas berbeda dengan konstruksi bangunan dimana dari segi aktivitas
antara pemilik, perencana serta kontraktor yang berbeda.
2. Konstruksi gedung

Kontruksi ini terjadi di semua kawasan baik itu di perkotaan maupun kota
kecil. Mulai dari adanya konstruksi fasilitas pribadi, fasilitas umum berupa
bangunan institusional, tempat rekreasi hingga pendidikan.

Sebuah konstruksi gedung ini sendiri biasanya direncanakan oleh para arsitek
maupun insinyur sipil. Sedangkan untuk material yang dibutuhkan biasanya juga
lebih ditekankan pada aspek aspek arsitektural
3. Konstruksi berat

Yang termasuk ke dalam jenis konstruksi berat merupakan proyek proyek
utilitas di suatu negara seperti bendungan, jalur transportasi selain jalan raya,
pemasangan pipa, transportasi air hingga udara. Jenis konstruksi yang satu ini

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 2

biasanya akan dibiayai oleh pemerintah dan kerjasama yang terjadi antara
pemerintah dan pihak swasta.

4. Konstruksi industry
Konstruksi industri ini sendiri biasanya merupakan proyek industri yang

membutuhkan spesifikasi maupun persyaratan khusus seperti kilang minyak,
nuklir, pertambangan dan masih banyak lagi. Untuk perencanaan maupun
pelaksanaan nya biasanya akan membutuhkan ketelitian maupun keahlian yang
cukup bagus serta adanya teknologi yang cukup spesifik

B. Unsur-Unsur dan Fungsi Pengelola Pekerjaan Konstruksi Gedung, Jalan
dan Jembatan

1. Principal (Owner / Bouwheer)
Adalah pihak yang berada dalam posisi pemberi tugas, pihak inilah yang

nantinya memiliki/mengguanakan bangunan tersebut. Berbentuk perorangan,
instansi, atau organisasi
a) Syarat:

(1) Memiliki tanah,
(2) Memiliki dana/modal,
(3) Memiliki surat keputusan otorisasi sebagai owner
b) Kewajiban:
(1) Membayar ongkos bangunan
(2) Honorium perencana
(3) Honorium direksi
(4) Harga bangunan ditambah keuntungan pemborong
(5) Biaya pengurusan izin bangunan
(6) Mengurus izin bangunan
(7) Menunjukkan/menentukan perencana, direksi, dan pemborong
(8) Menandatangani kontrak

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 3

(9) Melakukan pengawasan dalam pelaksanaan

c) Hak:
(1) Mendapatkan izin bangunan
(2) Mendapatkan desain bangunan
(3) Mendapatkan fisik bangunan
(4) Mendapatkan bangunan pengawas

2. Perencana (Konsultan / Penasehat)
Adalah pihak yang berada pada posisi penerima tugas perencanaan dari

principal, oleh karena itu pihak ini harus ahli dalam hal perencanaan bangunan.
Biasanya dipimpin oleh arsitek atau insinyur
a) Syarat:

(1) Berbentuk perorangan atau badan hokum
(2) Ahli bangunan sehingga bisa mewujudkan keinginan principal
b) Kewajiban
(1) Perencanaan berkewajiban untuk mewujudkan keinginan/ide principal

kedalam bentuk perencanaan (desain) baik dari segi konstruktif,
arsitektoris, ekonomis dan fungsional.
(2) Perencanaan berkewajiban mengumpulkan data dan syarat-syarat yang
ada kaitannya dengan tugas tersebut.
(3) Perencanaan berkewajiban mendampingi principal dalam seleksi
pemborong dan pengawas.
c) Hak:
Perencanaan berhak mendapatkan honorium sesuai dengan ketentuan
atau perjanjian.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 4

3. Pengawas (Direksi)
Adalah suatu pihak yang bertanggung jawab mengawasi jalannya

pembangunan yang dilaksanakan oleh pemborong/pelaksana.
a) Syarat:

(1) Berbentuk perseorangan atau badan hokum
(2) Ahli dalam bidang masing-masing
(3) Diangkat sekaligus merupakan orang kepercayaan principal
b) Kewajiban:

Konsultan pengawas berkewajiban mengawasi jalannya pekerjaan yang
dilakukan pemborong, sesuai dengan ketentuan yang terdapat didalam
bestek dan gambar bestek.
c) Hak:

Konsultan pengawas berhak mendapatkan honorium sesuai dengan
ketentuan dan perjanjian.

4. Kontraktor (Pemborong / Annemer)
Adalah pihak yang juga sebagai penerima tugas dari principal tapi dalam hal

mewujudkan fisik bangunan lapangan. Dalam pelaksanaannya kontraktor
memiliki bagian-perbagian pekerjaan yang di kerjakan sub kontraktor yang
berbeda-beda tergantung kemampuan sub kontraktor.
a) Syarat:

(1) Memiliki modal
(2) Memiliki tenaga ahli
(3) Memiliki peralatan
(4) Bersifat perorangan/badan hukum
b) Kewajiban:
(1) Mewujudkan fisik bangunan sesuai dengan bestek/gambar bestek dalam
(2) Selang waktu yang sudah ditetapkan.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 5

(3) Tunduk dari direksi sepanjang tidak bertentangan dengan pelaksanaan
bestek.

(4) Membuat laporan tentang perkembangan pekerjaan pada direksi.
(5) Menjaga keselamatan dan kesehatan kerja.
c) Hak:

Pemborong berhak menerima kembali biaya bangunan ditambah dengan
keuntungan tepat pada waktunya sesuai dengan ketentuan atau perjanjian.
5. Pelaksana (Sub Kontraktor / Uitveoder)
Adalah pihak yang berada dibawah Kontraktor atau pemborong sebagai
penerima tugas dalam hal mewujudkan fisik bangunan di lapangan. Bisa berupa
seorang ahli professional atau organisasi yang memiliki tugas dengan spesifikasi
khusus / spesialis tertentu.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 6

Uji Kompetensi

A. Latihan
Dalam pengerjaan tugas ini, kerjakanlah tugas secara mandiri (tidak

berkelompok). Lakukanlah survei ke lokasi di sekitar Anda untuk mencari
jenis-jenis bangunan gedung, jalan, dan jembatan. Kemudian dokumentasikan
dalam bentuk foto disertai keterangan-keterangan untuk melengkapinya,
seperti:
a. nama (misal: Jalan Kaliurang, Gedung Rumah Sakit).
b. jenis bangunan (misal: termasuk jenis bangunan gedung, jalan, atau

jembatan).

B. Soal Essai
Kerjakan soal-soal latihan di bawah ini dengan cermat.
1. Jenis pekerjaan konstruksi dibagi menjadi 3, sebutkan! (Skor 15)
2. Konstruksi gedung dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, sebutkan!
(Skor 15)
3. Sebutkan 4 jenis komponen konstruksi bangunan gedung bagian atas!
(Skor 15)
4. Uraikan perbedaan pondasi dalam dan dangkal! (Skor 20)
5. Konstruksi jalan berdasarkan perkerasan jalan, secara umum dibedakan
menjadi 4 jenis, sebutkan dan jelaskan! (Skor 35)

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 7

BAB 2

Tahapan-Tahapan Pekerjaan
Konstruksi Gedung, Jalan dan

Jembatan

3.2 Memahami tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi gedung, jalan dan
jembatan.

4.2 Menyajikan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi gedung, jalan dan
jembatan.

Setelah para siswa menggunakan modul ini, siswa dapat:
1. Menjelaskan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi gedung.
2. Menjelaskan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi jalan.
3. Menjelaskan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi jembatan.
4. Menyajikan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi gedung.
5. Menyajikan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi jalan.
6. Menyajikan tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi jembatan.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 8

A. Tahapan-Tahapan Pekerjaan Konstruksi Gedung, Jalan, dan Jembatan

Konstruksi merupakan objek dari seluruh bangunan yang terdiri dari bagian-bagian atau
struktur tertentu. Hal tersebut mencakup perencanaan objek-objek serta material yang akan
digunakan untuk keseluruhan bangunan, dimulai dari bagian pondasi. Oleh karena itu,
semua yang berbentuk struktur bangunan termasuk kesatuan struktur lainnya juga termasuk
dalam kategori konstruksi. Contoh bangunan yang termasuk yakni konstruksi gedung, jalan
dan jembatan.
1. Tahapan Konstruksi Gedung

Konstruksi gedung dapat dikatakan jenis konstruksi yang paling dekat
dengan kita, karena mencakup bangunan yang kita gunakan sehari-hari. Mulai
dari kota besar dengan pembangunan gedung yang tinggi, sampai ke daerah-
daerah dimana pembangunan tempat ibadah maupun perumahan kecil kerap
dijumpai.

Ilustrasi konstruksi bangunan

Pada awal prosesnya, pembangunan konstruksi ini digambar dan
direncanakan oleh seorang arsitek atau insinyur sipil. Dalam pembangunannya,
material yang dibutuhkan akan mendukung aspek arsitektural gedung. Selain itu,
di kota-kota besar jenis konstruksi gedung sering pula digunakan untuk
membangun bangunan institusional, seperti sekolah, universitas, lembaga
pemerintah, dan lainnya.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 9

Secara garis besar, terdapat 7 tahapan dalam sebuah proyek konstruksi,
yaitu sebagai berikut.
a. Tahap Perencanaan (Planning)

Semua proyek konsruksi biasanya dimulai dari gagasan atau rencana dan
dibangun berdasarkan kebutuhan. Pihak yang terlibat adalah pemilik.
Pemilik bias perorangan, perusahaan, organisasi, baik swasta maupun
pemerintahan
b. Tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study)

Pada tahap ini adalah untuk meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek
konstruksi yang diusulkan layak untuk dilaksanakan.
Kegiatan yang dilaksanakan :
1) Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya
2) Menganalisis manfaat yang akan diperoleh
3) Menyusun analisis kelayakan proyek
4) Menganalisis dampak lingkungan yang akan terjadi

Pihak yang terlibat adalah konsultan studi kelayakan atau konsultan
manajemen konstruksi (MK)
c. Tahap Penjelasan (Briefing)

Pada tahap ini pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang
diijinkan/pagu anggaran, sehingga konsultan perencana dapat dengan tepat
merencanakan proyek sesuai keinginan pemilik.
Kegiatan yang dilaksanakan :

1) Menyusun rencana kerja dan menunjuk para perencana dan tenaga ahli
2) Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi dan lapangan,

merencanakan rancangan, taksiran biaya, persyaratan mutu.
3) Menyiapkan ruang lingkup kerja, jadwal, serta rencana pelaksanaan
4) Membuat sketsa dengan skala tertentu sehingga dapat menggambarkan

denah dan batas-batas proyek.
Pihak yang terlibat adalah pemilik, Konsultan MK, dan Konsultan
Perencana.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 10

d. Tahap Perancangan (Design)
Pada tahap ini adalah melakukan perancangan (design) yang lebih

mendetail sesuai dengan keinginan dari pemilik disebut dengan DED (Detail
Engginering Design). Seperti membuat Gambar rencana, spesifikasi, rencana
anggaran biaya (RAB), metoda pelaksanaan, dan sebagainya.
Kegiatan yang dilaksanakan :
1) Mengembangkan ikthisiar proyek menjadi penyelesaian akhir
2) Memeriksa masalah teknis.
3) Meminta persetujuan akhir dari pemilik proyek
Mempersiapkan :
1) Rancangan terinci
2) Gambar kerja, spesifikasi dan jadwal
3) Daftar kuantitas
4) Taksiran biaya akhir

Pihak yang terlibat adalah konsultan perencana, konsultan MK,
konsultan rekayasa nilai dan atau konsultan quantitiy surveyor.
e. Tahap Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)

Pada tahap ini bertujuan untuk mendapatkan kontraktor yang akan
mengerjakan proyek konstruksi tersebut, atau bahkan mencari sub
kontraktornya.
Kegiatan yang dilaksanakan :
1) Prakulaifikasi
2) Penjelasan Pekerjaan/Anwisjing
3) Lelang
4) Dokumen Kontrak

Pihak yang terlibat adalah pemilik, pelaksana jasa konstruksi
(kontraktor), konsultan MK.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 11

f. Tahap Pelaksanaan (Construction)
Tujuan pada tahap ini adalah mewujudkan bangunan yang dibutuhkan

oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam
batasan biaya, waktu yang sudah disepakati, serta dengan mutu yang telah
disyaratkan.

Kegiatan yang dilaksanakan adalah merencanakan, mengkoordinasikan,
mengendalikan semua oprasional di lapangan :
1) Kegiatan perencanaan dan pengendalian adalah:

a) Perencanaan dan pengendalian
b) Organisasi lapangan
c) Tenaga kerja
d) Peralatan dan material
2) Kegiatan Koordinasi
a) Mengkoordinasikan seruh kegiatan pembangunan
b) Mengkoordinasi para sub kontraktor
Pihak yang terlibat adalah Konsultan Pengawas dan atau Konsultan MK,
kontraktor, Sub Kontraktor, suplier dan instansi terkait
g. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (Maintenance & Start Up)
Tujuan pada tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah
sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana
mestinya. Kegiatan yang dilakukan adalah :
1) Mempersiapkan data-data pelaksanaan, baik berupa data-data selama
pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as build drawing)
2) Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan-
kerusakan
3) Mempersiapkan petunjuk oprasional/pelaksanaan serta pedoman
pemeliharaan.
4) Melatih staff untuk melaksanakan pemeliharaan
Pihak yang terlibat adalah Konsultan Pengawas/ MK, pemakai, pemilik.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 12

B. Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan dijadikan dasar setiap pembangunan suatu proyek
agar hasil atau bangunan yang dihasilkan ramah terhadap lingkungan.
1. Pengertian pembangunan berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang
memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi
pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan,
kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi
masa depan (UU RI NO 32 Tahun 2009)
2. Konsep pembangunan berkelanjutan

Kosep Pembangunan berkelanjutan (Emil Salim,1990) bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan dan
aspirasi manusia. Pembangunan yang berkelanjutan pada hekekatnya ditujukan
untuk mencari pemerataan pembangunan antar generasi pada masa kini
maupun masa mendatang.

Menurut Kementrian Lingkungan Hidup (1990) pembangunan (yang pada
dasarnya lebih berorientasi ekonomi) dapat diukur keberlanjutannya
berdasarkan tiga kriteria yaitu :
a. Tidak ada pemborosan penggunaan sumber daya alam atau depletion of

natural resources)
b. Tidak ada polusi dan dampak lingkungan lainnya;
c. Kegiatannya harus dapat meningkatkan useable resources ataupun replaceable

resource

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 13

Uji Kompetensi

A. Latihan
Seperti yang telah kita ketahui, pembangunan konstruksi pastinya

membutuhkan perencanaan yang benar-benar matang. Setiap konstruksi pasti
diawali dengan tahap perencanaan yang dibuat dan dilakukan oleh pihak-
pihak yang terlibat dan dana yang telah disediakan, barulah teknik
pelaksanaan pembangunan dapat dimulai. Sajikanlah masing-masing dari
tahapan-tahapan pekerjaan konstruksi gedung, jalan dan jembatan tersebut.

B. Soal Essai
Kerjakan soal-soal latihan di bawah ini dengan cermat.
1. Sebutkan 7 tahapan pekerjaan konstruksi gedung, jalan, dan jembatan!
(Skor 20)
2. Pada tahapan apa gambar kerja dan rencana kerja dan syarat dihasilkan?
(Skor 20)
3. Pada tahapan apa saja Konsultan Manajeman Konstruksi bertugas? (Skor
20)
4. Mengapa pembangunan berkelanjutan sangat penting untuk diterapkan?
(Skor 20)
5. Sebutkan 3 kriteria pembangunan berkelanjutan! (Skor 20)

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 14

BAB 3

Dokumen Kontrak

3.3 Memahami dokumen kontrak.
4.3 Menyajikan dokumen kontrak.
Setelah para siswa menggunakan modul ini, siswa dapat:
1. Menjelaskan dokumen kontrak.
2. Menyajikan dokumen kontrak.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 15

A. Dokumen Kontrak

Dokumen kontrak adalah dokumen perikatan antara pengguna barang/jasa
dengan penyedia barang/jasa dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa. Dalam
dokumen kontrak berisikan pasal-pasal mengenai perjanjian yang di lakukan antara
pengguna barang atau jasa dengan penyedia barang atau jasa.

Kontrak Kontruksi adalah suatu perjanjian antara pemborong sebagai orang
yang bertanggung jawab dalam mewujudkan fisik bangunan di lapangan dengan
Pemberi tugas sebagai pihak yang membiayai pelaksanaan pembangunan. Saat ini
ada 3 jenis kontrak :

1. Kontrak harga tetap
Kontrak dengan syarat utuh dengan biaya tetap (fixed) tanpa berubah, harga

disepakati diawal antara owner dengan pemborong dan owner tidak memikul
resiko yang terjadi, resiko diambil sepenuhnya oleh pemborong.
2. Kontrak satuan unit

Sistem kontrak dimana masing-masing item pekerjaan ditawarkan kepada
pemborong yang diacu dari daftar kuantitas pekerjaan (bill of quantitas).
3. Kontrak Regie (Regi/regiewerken)/biaya tambah

Kontrak dimana pemborong dibayar sebesar biaya dasar yang dikeluarkan
pemborong ditambah biaya pengawasan, keuntungan pemborong dan biaya
kantor pusat (fee) yang besarnya 10% - 20%.

Dapat diambil kesimpulan bahwa kontrak ini berbeda daripada kontrak biasa,
pengawasan harus betul-betul rapi dan hati-hati agar tidak terjadi pertikaian antara
pemilik dengan pemborong.
- Cost - plus Porcentage ( sesuai harga dasar + prosentasi biaya dasar)
- Cost - plus fixed fee (sesuai harga dasar yang dikeluarkan + fee yang ditetapkan)
- Cost - plus fixed fee fluktuatif (sesuai harga dasar yang dikeluarkan + fee yang

dihitung dengan skala meluncur).

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 16

1. Surat Kontrak
Surat kontrak ada 2 macam:
a. Surat Kontrak Yang Digadaikan Bank
1) Sistem Termijn
Sistem dimana pemborong memakai uang sendiri untuk
melakukan pekerjaan per tahap yang selanjutnya baru akan dibayar
termijn pertama setelah tahap itu selesai, begitu seterusnya sampai
proyek selesai.
2) Sistem Voor Financieren
Sistem yang dipakai untuk pekerjaan kepentingan umum yang
harus secepatnya dikerjakan, artinya siapapun pemborong/kontraktor
yang berminat akan mengerjakan dan membiayai pekerjaan itu sampai
selesai, baru setelah selesai biaya pelaksanaannya akan dibayar total
diakhir. Dalam hal ini pemborong harus memiliki modal yang cukup
untuk pekerjaan itu, atau bila tidak punya uang pemborong bisa
berusaha mendapat pinjaman uang dari bank dengan perjanjian dan
jaminan yang harus siap dengan segala resiko karena berhubungan
dengan Bank.

b. Surat Kontrak Yang Dititipkan Di Bank ( IN CESSI)
Adakalanya si pemborong berhasil menandatangani suatu kontrak

pekerjaan atau ditunjuk untuk melaksanakan suatu pekerjaan, ternyata
pemborong itu mengalami kesulitan dalam bidang keuangan. Sedangkan
pekerjaan itu harus dikerjakan. Untuk itu dibuatkan suatu persetujuan
dengan Bouwheer (owner), persetujuan mana yang memungkinkan
pemborong tersebut menitipkan harga borongan itu kepada Bank.
Penagihan dilakukan oleh Bank kepada Bouwheer (owner).

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 17

2. Perbedaan Antara Menitipkan Dan Menggadaikan
a. Menitipkan harga borongan kepada Bank
1) Bank mempunyai hak sebagai pemborong
2) Bank dapat langsung menagih pada Bouwheer
b. Menggadaikan borongan kepada Bank
1) Yang menggadaikan kepada bank adalah harga Borongan
2) Bank tidak mempunyai hak untuk menagih uang kepada Bouwheer
3) Hak tagihan tetap berada kepada si pemborong adakalanya
pemborong meminta ke Bank untuk menegih pada Bouwheer.

Kontrak kerja setidaknya berisi ketentuan-ketentuan berikut ini:
1. Adanya para pihak yang menandatangani kontrak (nama, jabatan, dan alamat).
2. Adanya pokok pekerjaan yang diperjanjikan (uraian mengenai jenis dan jumlah
barang/jasa yang diperjanjikan).
3. Adanya hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam perjanjian.
4. Nilai atau harga kontrak pekerjaan sesuai syarat-syarat pembayaran.
5. Adanya persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terperinci.
6. Penjelasan mengenai lokasi dari pekerjaan yang akan dilaksanakan.
7. Jangka waktu penyelesaian/penyerahan pekerjaan dengan disertai jadwal
waktu penyelesaian/penyerahan yang pasti (time schedule).
8. Syarat-syarat umum dan syarat-syarat khusus kontrak.
9. Spesifikasi umum dan spesifikasi khusus pekerjaan.
10. Jaminan-jaminan.
11. Ketentuan khusus.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 18

Uji Kompetensi

A. Latihan
Dalam pengerjaan tugas ini, kerjakanlah tugas secara berkelompok yang

masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang (maksimal). Carilah contoh surat
perjanjian atau kontrak kerja suatu pekerjaan konstruksi. Tunjukkanah
ketentuan-ketentuan dalam kontrak kerja tersebut (misal: pihak yang terkait,
hak dan kewajiban pihak terkait, lokasi pekerjaan konstruksi, dll).
B. Soal Essai
Kerjakan soal-soal latihan di bawah ini dengan cermat.
1. Jelaskan pengertian dokumen kontrak! (Skor 30)
2. Jelaskan perbedaan antara kontrak harga tetap dengan kontrak satuan unit!

(Skor 35)
3. Dalam sistem Voor Financieren, pemborong/kontraktor akan mengerjakan

dan membiayai pekerjaan itu sampai selesai, baru setelah selesai biaya
pelaksanaannya akan dibayar total diakhir. Apa yang harus dilakukan
apabila di tengah proses konstruksi pemborong/kontraktor tidak memiliki
cukup dana? Jelaskan! (Skor 35)

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 19

BAB 4

Rencana Kerja dan
Syarat-Syarat

3.4 Memahami rencana kerja dan syarat-syarat.
4.4 Menyajikan rencana kerja dan syarat-syarat.

Setelah para siswa menggunakan modul ini, siswa dapat:
1. Menjelaskan rencana kerja dan syarat-syarat.
2. Menyajikan rencana kerja dan syarat-syarat.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 20

A. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat

Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) merupakan sebuah buku yang berisi
tentang syarat-syarat administrasi berupa instruksi kepada penyedia jasa dengan
ketentuan sebagai berikut :
1. Instruksi ini berisi informasi yang diperlukan oleh pelaksana - kontraktor untuk

menyiapkan penawarannya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan
olehpengguna jasa. Informasi tersebut berkaitan dengan penyusunan,
penyampaian,pembukaan, evaluasi penawaran dan penunjukan penyedia jasa.
2. Hal-hal berkaitan dengan pelaksanaan kontrak oleh penyedia jasa, termasuk hak,
kewajiban, dan resiko dimuat dalam syarat-syarat umum kontrak. Apabila terjadi
perbedaan penafsiran / pengaturan pada dokumen lelang, penyedia jasaharus
mempelajari dengan seksama untuk menghindari pertentanganpengertian.
3. Data proyek memuat ketentuan, informasi tambahan, atau perubahan atas
instruksi kepada pelaksana - kontraktor sesuai dengan kebutuhan paket
pekerjaan yang akan dikerjakan.

RKS sebagai kelengkapan gambar kerja yang didalamnya memuat uraian tentang :
1. Syarat-syarat umum

Berisi keterangan mengenai pekerjaan, pemberi tugas dan pengawas bangunan.
2. Syarat-syarat administrasi

a. Jangka waktu pelaksanaan.
b. Tanggal penyerahan pekerjaan.
c. Syarat-syarat pembayaran.
d. Denda keterlambatan.
e. Besarnya jaminan penawaran.
f. Besarnya jaminan pelaksanaan.
3. Syarat-syarat teknis
a. Jenis dan uraian pekerjaan yang harus dilaksanakan.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 21

b. Jenis dan mutu bahan yang digunakan.
Setelah selesai, kemudian disahkan oleh DPU Cipta Karya untuk proyek
pemerintah dan Direksi bersama pemberi tugas untuk proyek swasta. Dalam sebuah
RKS ada beberapa hal yang dibahas di dalamnya, antara lain:
1. BAB Umum
Pada Bab ini biasanya berisi tentang hal-hal sebagai berikut :
a. Mengenai Pemberi Tugas / Pemilik Proyek.
b. Mengenai Perencanaan / Disain.
c. Mengenai Syarat Peserta Lelang.
d. Mengenai Bentuk Surat Penawaran dan Cara Penyampaiannya.
2. BAB Administrasi
Pada Bab ini biasanya berisi tentang hal-hal sebagai berikut :
a. Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan.
b. Tanggal Waktu Penyerahan.
c. Syarat Pembayaran.
d. Denda Atas Keterlambatan.
e. Besar Jaminan Penawaran.
f. Besar Jaminan Pelaksanaan.
3. BAB Teknis
Pada Bab ini biasanya berisi tentang hal-hal sebagai berikut :
a. Jenis dan Uraian Pekerjaan.
b. Jenis dan Mutu Bahan.
c. Cara Pelaksanaan Pekerjaan.
d. Merk Material / Bahan

Contoh Rencana Kerja dan Syarat-syarat dalam sebuah proyek pembangunan dapat
dilihat pada link di bawah ini.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 22

Uji Kompetensi

A. Soal Essai
Kerjakan soal-soal latihan di bawah ini dengan cermat.
1. Jelaskan pengertian RKS! (Skor 15)
2. Jelaskan ketentuan-ketentuan yang harus ada dalam RKS! (Skor 25)
3. Sebutkan perbedaan antara syarat umum, syarat administrasi, dan syarat
teknis dalam RKS! (Skor 25)
4. Sebutkan dan jelaskan apa saja yang masuk dalam pekerjaan persiapan!
(Skor 35)

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 23

BAB 5

Spesifikasi Teknis Pekerjaan

3.5 Memahami spesifikasi teknis pekerjaan.
4.5 Menyajikan spesifikasi teknis pekerjaan.
Setelah para siswa menggunakan modul ini, siswa dapat:
1. Menjelaskan spesifikasi teknis pekerjaan.
2. Menyajikan spesifikasi teknis pekerjaan.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 24

A. Pemahaman Umum Spesifikasi Teknis

Spesifikasi secara umum dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yakni
spesifikasi umum (general specifications) dan spesifikasi khusus (special specifications).
Spesifikasi umum mencakup semua persyaratan teknis yang berlaku umum untuk
seluruh paket pekerjaan konstruksi yang ada, sedangkan spesifikasi khusus
mencakup persyaratan-persyaratan teknis yang berlaku hanya untuk paket-paket
proyek atau jenis-jenis pekerjaan tertentu saja.

Dokumen spesifikasi teknis ini mempunyai peranan selama pelaksanaan
pekerjaan konstruksi sebagai berikut.
1. Pedoman untuk peserta pelelangan (tender) dalam mengajukan penawaran.
2. Pedoman untuk pelaksana/kontraktor dalam melaksanankan pekerjaan.
3. Pedoman bagi pengawas dalam mengawasi pelaksanaan pekerjaan oleh penyedia

jasa/kontraktor.
4. Pedoman bagi pimpinan proyek sebagai wakil dari pemilik proyek dalam

mempertanggungjawabkan secara keseluruhan pekerjaan proyek. Spesifikasi
mencakup beberapa persyaratan teknis untuk komponen-komponen berikut, di
antaranya

a. persyaratan bahan baku;
b. persyaratan bahan olahan;
c. cara pelaksanaan pekerjaan, termasuk persyaratan teknis peralatan yang

digunakan; dan
d. persyaratan teknis produk akhir yang harus dicapai.

1. Spesifikasi Teknis Pekerjaan Konstruksi Gedung
Spesifikasi teknis pekerjaan berisi acuan-acuan yang harus dipenuhi yang

berisi pengelompokan jenis-jenis pekerjaan beserta rincian dan persyaratan
teknisnya yang diklasifikasikan sesuai komponen-komponen yang ada di dalam
konstruksi bangunan. Berikut disajikan sebuah contoh penyusunan spesifikasi

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 25

teknis pekerjaan konstruksi gedung secara umum. Perincian pekerjaan dan
penjelasan masih dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik pekerjaan
yang sedang dihadapi.

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN GEDUNG
1. Pekerjaan Persiapan

a. Pembersihan lokasi
Penyedia jasa (kontraktor) harus membersihkan lokasi pekerjaan dan
segala sesuatu yang inungkin akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan
dan membuang bongkaran yang tidak terpakai sesuai petunjuk pemilik
proyek/ konsultan pengawas.

b. Bouwplank
Pekerjaan uitzet/bouwplank dilakukan sebelum memulai pekerjaan.
Penyedia jasa (kontraktor) harus melakukan pengukuran lapangan untuk
dapat menentukan patok utama bagi pelaksanaan pekerjaan.

c. Kantor kerja direksi
Penyedia jasa (kontraktor) menyediakan sebuah kantor direksi dengan
ukuran sesuai dengan kebutuhan dan peralatan yang cukup.

d. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan terhadap kondisi lokasi sebelum dibangunan
(0%), selama masa pelaksanaan pekerjaan (50%), dan selesai
pembangunan (100%). Pendokumentasian ini merupakan perekaman
bangunan tersebut secara piktoral (gambar dan foto) dan verbal (uraian
tertulis).Tujuannya untuk mengetahui kondisi lokasi sebelum dibangun,
masa pelaksanaan, dan hasil akhir pembangunan.

e. Membuat papan nama proyek
Penyedia jasa (kontraktor) diwajibkan memasang papan nama proyek di
tempat lokasi pekerjaan dan dipancangkan di tempat yang mudah
terlihat oleh umum pada saat dimulainya pelaksanaan pekerjaan. Papan
nama proyek berukuran dipasang setinggi 2 m dari muka tanah.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 26

Permukaan papan nama dicetak atau dicat warna putih dan tulisan
menggunakan warna hitam. Materi tulisan akan ditentukan kemudian
oleh pemberi tugas kemudian.

2. Pekerjaan Tanah
a. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan yang tercakup dalam subbab ini, meliputi kelengkapan
peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material,
perlengkapan, dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan
galian sesuai dengan gambar rencana.
b. Galian tanah fondasi
Semua kedalaman tanah galian harus sesuai gambar rencana.
Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan baik serta tidak
mengganggu lingkungan sekitar. Semua galian saluran harus selalu
dalam keadaan kering, tidak boleh tergenang air. Galian tanah setelah
mencapai kedalaman yang ditentukan, kemudian dipadatkan dan
disiram dengan air.Tanah hasil galian yang harus disingkirkan dengan
lokasi penempatan,sesuai petunjuk dari konsultan pengawas/direksi
teknis.
c. Urugan tanah Kembali
Urugan tanah kembali dilaksanakanipada lubang bekas galian dengan
dipadatkan secara manual maupun mekanisdengan alat stamper.
Semua urugan harus mencapai kerataan atas dengan disisakan
ketinggian yang cukup untuk mengembalikan kondisi permukaan
semula.
d. Urugan peninggian peil
Pekerjaan urugan dan pemadatan untuk peninggian .peil bangunan
harus disesuaikan dengan peil-peil (level) dan lokasi yang telah
ditentukan di dalam gambar dan mendapat persetujuan pengawas.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 27

e. Urugan pasir Pasir pekerjaan urugan pasir, meliputi urugan pasir di
bawah fondasi, urugan pasir di bawah saluran, serta urugan pasir di
bawah paving. Semua urugan pasir dilaksanakan setelah pekerjaan
sebelumnya telah mendapatkan persetujuan dari direksi/pengawas
lapangan dan dilaksanakan dengan ketebalan/ketinggian sesuai
dengan gambar rencana.

3. Pekerjaan Pasangan dan Plesteran
a. Lingkup pekerjaan
Pekerjaan yang tercakup dalam subbab ini, meliputi kelengkapan
peralatan konstruksi, tenaga kerja, alat-alat, bahan material,
perlengkapan, dan penyelenggaraan yang berkaitan dengan pekerjaan
pasangan dan plesteran.
b. Pasangan fondasi
Bahan batu adalah sejenis batu yang keras, liat, dan mempunyai muka
iebih dari 3 muka. Pasangan fondasi batu kali dengan perekat 1 Pc :4
ps dilaksanakan sesuai gambar rencana. Celah-celah yang besar di
antara batu-batu diisi dengan batu belah yang sesuai, batu-batu tidak
boleh saling menyinggung dan selalu ada perekat di antaranya dan
batu tidak boleh gundul (mempunyai minimal 3 sisi). Batu yang
digunakan adalah batu belah, tidak boleh berupa batu gundul,
dantidak boleh dipukul/dipecah dengan bodem di dekat alur fondasi.
Sebelum dipasang batu-batu harus dibersihkan dari kotoran/tanah.
Finishing pekerjaan pasangan batu kali memakai siar. Pemasangan
batu tidak boleh dijatuhkan langsung dari atas dan harus diatur
dengan baik agar tidak berongga.
c. Pasangan dinding bata

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 28

1) Pasangan batu bata 1 Pc:4 ps bermutu, matang, keras, ukuran-
ukuran sama rata dan saling tegak lurus, tidak retak-retak, tidak
mengandung batu, serta tidak berlubang-lubang.

2) Ukuran 22 x 1 1 x 5 cm atau sesuai ukuran yang ada di pasaran
dengan catatan sejenis ukurannya/sama.

3) Memenuhi persyaratan tenis bahan bangunan. Kontraktor harus
menyerahkan sampel bata yang akan dipakai untuk mendapatkan
persetujuan dari pengawas. Batu bata yang ternyata tidak
memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari site.

4) Proporsi adukan
a) Pasangan biasa 1 Pc:4 ps
b) Pasangan waterproof (kedap air) 1 Pc:3 ps

5) Bata merah sebelum dipasang harus direndam atau disiram air
sampai buihnya habis.

6) Setelah permukaan fondasi dan sloof disiapkan dengan baik, batu
bata dipasang dengan adukan setebal antara 1,5-2,5 cm.

7) Bata tidak boleh dipasang pada waktu hujan lama atau hujan besar.
Adukan yang hanyut karena hujan harus segera disingkirkan.

8) Bata harus dipasang dengan baiktrata, horizontal, dikerjakan
dengan alat-alat pengukur datar ataupun tegak (“lot”, dan
sebagainya), sambungan sama rata, sudut persegi pada tegak tidak
segaris (silang), permukaan baik dan rata, serta "bergigi" (tiap
sambungan saling menutup).

9) Setelah pekerjaan pemasangan ternyata ada bata yang menonjol
atau tidak rata maka bagian-bagian ini harus dibongkar, kemudian
diperbaiki kembali atas biaya kontraktor, kecuali jika pengawas
mengizinkan penambalan-penambalan.

10) Pasangan dinding harus secara kontinu dibasahi dengan air.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 29

d. Plesteran
1) Pekerjaan plesteran dan acian campuran 1 Pc : 3 ps dan 1 Pc F5 ps.
2) Bahan plesteran harus bersih dan tidak boleh tercampur dengan
kotoran-kotoran atau bahan lain yang dapat mengurangi
kerekatan.
3) Semua bidang yang akan diplester harus dibersihkan dari kotoran
yang melekat dan disiram dengan air. Sebelumnya dibuat kepala
plesteran (klabangan) dengan tebal yang sama dengan ketebalan
plesteran yang direncanakan. Plesteran yang baru saja selesai tidak
boleh langsung di-finishing/diselesaikan. Penyelesaian plesteran
menggunakan pasta semen yang sejenis.
4) Plesteran harus menggunakan jalur-jalur kepala vertikal selebar ±
15 cm dengan jarak antara paling besar 100 cm satu sama iain, jalur
kepala ini harus benar-benar vertikal dan datar. Jalur kepala ini
merupakan patokan/ pedoman untuk plesteran selanjutnya.
5) Selama proses plesteran harus disiram dengan air agar tidak terjadi
retak-retak rambut akibat penyusutan yang diakibatkan oleh
pengeringan yang terialu cepat dan tidak merata. Pengadukan
harus di atas alas atau papan atau bahan kedap air yang lain.
6) Sebelum beton diplester harus dibersihkan terlebih dahulu
permukaannya, kemudian dikasarkan dengan kaprotan 1 PC : 2
Psr.
7) Pengacian dilakukan dengan PC setipis mungkin, rata dan rapi,
serta pengacian dilakukan dengan raskam kayu sehingga seluruh
permukaan rata dan halus.
8) Acian yang sudah jadi harus dirawat atau dijaga proses
pengeringannya supaya tidak mendadak kering dengan cara
menyiram air sedikit demi sedikit.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 30

4. Pekerjaan Beton dan Beton bertulang
a. Cetakan beton
1) Begesting harus cukup kuat dan menggunakan kayu kelas III atau
kayu tahun lokal yang baik serta tidak bocor (kedap air).
2) Acuan untuk cor beton disyaratkan menggunakan multiplek tebal
minimum 9 mm dengan rangka pengaku dari rusuk-rusuk kayu
sedemikian rupa sehingga dapat dipakai berkali-kali untuk setiap
lantai.
3) Ukuran tebal multiplek dan rusuk pengaku tersebut harus
mendapat persetujuan pengawas dan harus cukup kuat menahan
gaya tekan beton cor dan tidak boleh berubahletaknya selama
proses pengecoran berlangsung.
4) Pemasangan begesting dan steger harus benar dan kokoh sehingga
dimensi dan peil sesuai dengan dimaksud.
b. Pekerjaan besi beton
1) Pekerjaan besi beton harus dilaksanakan sesuai ketentuan gambar
bestek dan peraturan yang berlaku.
2) Pembengkokan tulangan harus dilaksanakan pada kondisi dingin
dengan panjang kait dan panjang penyaluran tegangan sesuai
ketentuan.
3) Hubungan antara besi beton satu dengan harus dipergunakan
kawat beton, diikat dengan teguh, tidak menggeser selama
pengecoran beton dan besi beton, serta bebas dari tanah atau tidak
melekat dengan papan acuan.
c. Perancah dan begisting
1) Perancah harus memakai bahan kayu yang bermutu baik.
2) Jarak steger/perancah maksimal 40 cm dan diberi kayu pengaku
antarperancah.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 31

3) Ketinggian perancah/steger sesuai dengan konstruksi gambar
rencana.

4) Pekerjaan begesting memakai kayu yang kuat, rapi, dan kaku
sehingga setelah dibongkar memberikan bidang yang rata dan
hanya memerlukan sedikit penghalus.

5) Untuk pekerjaan kolom, balok, dan pelat papan begesting dilapisi
dengan multiplek agar produk beton menjadi beton expose.

6) Sebelum pengecoran, sisi dalam dari begesting harus disiram
dengan air dan bebas dari kotoran atau benda-benda yang tidak
diperlukan.

d. Pengecoran beton
1) Sebelum pengecoran, kebersihan cetakan beton dan kebenaran
serta ketepatan pemasangan besi beton harus diperhatikan sebaik-
baiknya.
2) Celah-celah antara papan harus cukup rapat sehingga pada waktu
pengecoran tidak ada air adukan yang keluar.
3) Tinggi jatuh penuangan harus kurang dari 1,5 m. Penggumpalan
yang tebal dihindari agar tidak terjadi hidrasi pada cuaca panas.
4) Semua bahan beton hendaknya dicampur secara mekanis dengan
takaran komposisi menggunakan ukuran berat.
5) Kekentalan campuran beton harus diuji dengan slump test.
6) Pada pengecoran baru (sambungan antara beton lama dan beton
baru) maka permukaan beton lama terlebih dahulu harus
dibersihkan dan dikasarkan dengan menyikat menggunakan sikat
kawat baja sampai agregat kasar tampak, kemudian disiram
dengan calbon dan selanjutnya seperti yang telah dijalankan
sebelumnya.

e. Pemadatan beton
1) Setelah campuran beton dituangkan dalam acuan (begesting) harus
diikuti dengan pemadatan dengan memakai alat getar (vibrator).

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 32

2) Vibrator dicelupkan dalam campuran beton yang dituangkan pada
acuan. Vibrator dilarang mengenai secara langsung penulangan
dan pada tempat-tempat beton yang telah mengeras. Pada setiap
titik (bagian pemadatan beton), kerja vibrator tidak diperkenankan
lebih dari 20 detik.

f. Perawatan beton
1) Penyedia jasa (kontraktor) harus memahami bahwa tahapan curing
merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan
ketahanan/keawetan beton di lingkungan agresif.
2) Pemeliharaan beton dilakukan setelah pengecoran, dalam
pengeringannya harus dibasahi air atau goni basah.
3) Mempersiapkan perlindungan dari pengaruh sinar matahari
sehingga tidak terjadi penguapan/pengeringan yang terlaiu cepat.
4) Mempersiapkan perlindungan beton yang baru dicor dari
kemungkinan datangnya hujan.

5. Pekerjaan Kusen dan Daun Pintu Jendela
Pekerjaan kusen dan daun pintu/jendela merupakan bagian

bangunan yang dipasang bersama-sama atau paralel dengan pemasangan
dinding, namun karena sifatnya yang peka terhadap goresan dan air maka
dalam pemasangannya memerlukan alat-alat bantu dan alat-alat
pelindung. Pada saat pekerjaan fondasi dimulai, sebaiknya kusen pintu
dan jendela sudah mulai dipesan atau diproduksi. Dengan demikian,
pada saat dinding mulai dikerjakan, kusen, pintu, dan jendela sudah siap
untuk dipasang.

Kusen, daun pintu, dan jendela yang menggunakan bahan kayu kelas
II kering (diawetkan) mutu A (berserat halus, lurus, tidak banyak
memiliki cacat kayu, seperti mata kayu, retak, dan sebagainya) sehingga
tidak mudah berubah bentuk yang dapat mengakibatkan menurunnya
kualitas pekerjaan. Semua pekerjaan kayu yang dicat, harus dimeni dan

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 33

diplamir terlebih dahulu. Pengecatan dilakukan dengan pelapisan lebih
dari satu kali sehingga diperoleh hasil yang baik, rapi, halus, dan rata.

6. Pekerjaan Atap dan Penutup Atap
a. Pekerjaan penutup atap genteng
1) Pekerjaan penutup atap dipakai atau setara (sesuai gambar
rencana).
2) Pemasangan harus rapat, lurus dalam segala arah kaitan, saling
menutup, dan tidak terdapat kebocoran.
3) Material bubungan yang dipakai sesuai dengan tipe atap (sesuai
gambar rencana) atau setara yang dipakai sebagai penutup atap
yang dipasang dengan baik dan rapat.

b. Pekerjaan lisplank
Material lisplank menggunakan papan kayu dengan ukuran kelas
kualitas baik dan pemasangannya harus lurus dan rapi.

c. Pekerjaan rangka atap
1) Pekerjaan rangka atap berupa kuda-kuda dipakai dengan struktur
kuda-kuda serta dimensi sesuai dengan gambar kerja.
2) Rangka atap berupa gording dipakai dengan ukuran sesuai dengan
gambar rencana.
3) Pekerjaan reng/usuk menggunakan bahan dipasang sesuai ukuran
atap yang ada.
4) Rangka atap dilengkapi pula papan reuter 3/20 dan papan
kompres
5) Pada seluruh permukaan rangka atap yang menggunakan kayu
dilapis cat meni.

7. Pekerjaan Rangka dan Penutup Plafon
a. Rangka plafon

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 34

1) Material rangka plafon dipakai kualitas baik ukuran dengan jarak
dan struktur disesuaikan dengan gambar.

2) Dilaksanakan pada seluruh konstruksi.penggantung plafon dalam
dan luar ruangan, pemasangan, dan perletakan sesuai gambar.

3) Pelaksanaan sesuai prosedur yang baik dan benar, sambungan
rapat, serta kuat.

b. Penutup plafon dan list plafon
1) Material penutup plafon dilaksanakan pada seluruh rangka langit-
langit baru dengan teknis pemasangan dan perletakan sesuai
gambar.
2) Penutup plafon dipasang rapat rangka plafon, rata air (levels),
lurus dan siku, digunakan paku yang sesuai dengan jarak 15 cm.
3) Pemasangan penutup plafon dilengkapi dengan /ist plafon
dilaksanakan pada pertemuan antara plafon dan dinding sesuai
gambar, dipasang rapat dan lurus setiap sudut harus dipasang
siku-siku dipaku dengan baik dan rapat.

8. Pekerjaan Penutup Lantai
a. Lantai pada umumnya berupa permukaan tanah yang dilapisi
penutup lantai, baik beton rabat (beton tanpa tulangan), plester semen
PC, tegel abu-abu, keramik, dan papan kayu atau bahan lainnya.
b. Dipasang pada tempat dan batasan-batasan sesuai yang terlihat dalam
gambar rencana.
c. Sebelum dipasang, keramik harus direndam dengan air hingga jenuh.
d. Memakai perekat 1 Pc:3 Ps, jarak celah (nat) 2 mm diisi semen
cair/pasta semen sewarna dengan keramik sedemikian rupa datar,
nat-nya lurus, dan siku.
e. Beberapa catatan penting dalam urutan pelaksanaan pakerjaan lantai,
antara lain pekerjaan lantai dilaksanakan setelah pekerjaan atap,
plafon, plesteran, dan acian dinding selesai.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 35

9. Pekerjaan Penggantung dan Pengunci
Pekerjaan penggantung berupa engsel-engsel pintu dan jendela,

sedangkan pengunci adalah grendel, pengunci untuk pintu, dan hak
angin untuk jendefa. Semua bahan yang digunakan minimal harus
memenuhi syarat kekuatan dan awet sehingga dapat menahan beban dan
berfungsi dalam waktu cukup lama. Setiap daun pintu/jendela minimal
dipasang dua buah engsel dan untuk daun pintu dipasang 3 buah engsel.

Pada daun pintu dipasang pengunci lengkap dengan pegangannya,
sedangkan pada daun jendela dipasang grendel dan hak angin. Semua
pekerjaan harus dilakukan dengan rapi sehingga pintu dan jendela dapat
berfungsi dengan sempurna.
10. Pekerjaan Listrik
a. Pemasangan lampu menempel di plafon atau perletakan sesuai

gambar, lampu dipasang dalam keadaan menyala/berfungsi, dan
pada waktu serah terima pekerjaan dites terlebih dahulu.
b. Pemasangan sakelar, stopkontak, instalasi penerangan/titik lampu,
dan pemasangan instalasi stopkontak. Seluruh material yang dipakai
harus telah mendapatkan standar salah satunya dari S II, LMK, SPLN,
JIS, DIN, VDE, TEC, CEBEL, KEMA, OVE, material harus baru, tidak
cacat, dan dapat berfungsi dengan baik.
c. Stopkontak dan saklar rata dinding, pemasangan harus rapi, rata, tidak
miring, dan memakai bahan kualitas I dengan ketinggian/letak
pernasangan sesuai dengan yang diisyaratkan PLN/sesuai gambar
rencana.
d. lnstalasi kabel yang dipergunakan adalah sesuai dengan yang
dipersyaratkan PLN dan kabel dipasang di atas penggantung plafon,
serta tarikan harus kencang. Pada bagian yang masuk ke tembok, kabel
dimasukkan ke dalam conduit pipa PVC dengan ukuran sesuai jumlah

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 36

kabel yang masuk (5/8"-3/4") ujung atas pipa PVC harus diberi elbow
dengan ukuran yang sesuai.
e. Sambungan antarkabel harus dilindungi las dop keramik/PVC,
sedangkan pada bagian yang masuk tembok jika terdapat sambungan
herus dilindungi junction box (kotak sambungan), PVC, dan instalasi
kabel ini setelah terhubung seluruhnya harus bebas induksi yang
dibuktikan dengan tes mager.

c. Spesifikasi Teknis Pekerjaan Konstruksi Jalan
Spesifikasi teknis pekerjaan jalan merupakan panduan atau pedoman yang

bersifat :eknis, berisi uraian-uraian (ketentuan) untuk pekerjaan-pekerjaan yang
terkait dengan Dengerjaan konstruksi jalan. Spesifikasi teknis ini sangatlah
penting karena memuat segala Ketentuan teknik terkait pekerjaan yang harus
dilaksanakan sesuai dengan perjanjian di ialam dokumen kontrak.

Berikut disajikan sebuah contoh spesifikasi teknis pekerjaan konstruksi jalan
dalam skala umum yang masih dapat dikembangkan/disesuaikan dengan
karakteristik pekerjaan konstruksi jalan yang sedang dihadapi.

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN JALAN
1. Pekerjaan Persiapan

a. Setiap area pekerjaan harus dipersiapkan dan dibersihkan sebelum
pekerjaan dimulai, mulai dari kotoran, akar-akar pepohonan, perataan atau
pengeprasan tanah, pembabatan semak, rumput, penutupan/penimbunan
Iubang, dan lain-lain.

b. Membuat papan nama pekerjaan dan ditempatkan pada tempat yang
dianggap tepat dan dapat dilihat dari jalan yang dapat dikonsultasikan
dengan pengawas/ pimpinan proyek. Dimensi, warna, bentuk, tulisan, dan
ketentuan-ketentuan yang lain dapat dilihat pada lampiran dan atau
gambar kerja.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 37

c. Membuat dan memasang rambu-rambu pengaman yang memadai sesuai
kebutuhan untuk keselamatan pemakai jalan dan pekerja proyek. Setiap
terjadi kecelakaan yang ditimbulkan oleh kelalaian rekanan/kontraktor
baik karena menyangkut rambu-rambu dan peringatan maupun peletakan
alat-alat dan bahan bangunan yang tidak teratur menjadi tanggung jawab
rekanan/ kontraktor.

d. Membuat dan memasang papan duga (bouwplank) pada lokasi-lokasi setiap
pekerjaan sesuai kebutuhan. Semua bouwplank harus dipasang kuat supaya
tidak mudah berubah kedudukannya dan tidak boleh hilang atau rusak.

e. Pengukuran ulang lokasi-lokasi pekerjaan sesuai yang dibutuhkan.

2. Lapis Fondasi Bawah
Bahan-bahan yang yang dipilih dan djgunakan untuk pembangunan lapis

fondasi bawah, terdiri dari bahan -bahan berbutir.dipecah dan kerikil atau
kerikil pasir alami dan memenuht persyaratan untuk lapis fondasi bawah kelas
A, kelas B, dan kelas C, seperti yang diuraikan pada gambar atau yang
diperintahkan pihak direksi.

Bahan untuk pekerjaan lapis fondasi bawah bebas dari debu, zat organik,
serta bahan-bahan lain yang mempunyai kualitas apabila bahan tersebut telah
ditempatkan akan siap saling mengikat membentuk satu permukaan yang
stabil dan mantap.

Jika perlu, sesuai dengan perintah pihak direksi, bahan-bahan dari
berbagai sumber atau pemasokan dapat disatukan dalam perbandingan yang
diminta oleh pihak direksi atau seperti yang ditunjuk dengan pengujian-
pengujian untuk dapat memenuhi persyaratan spesifikasi bahan lapis fondasi
bawah.

3. Pekerjaan Konstruksi Beton

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 38

a. Standar
Semua ketentuan baik mengenai maupun metode pemasangan dan juga
pelaksanaan pekerjaan beton mengikuti semua ketentuan dalam Peraturan
Beton Bertulang Indonesia 1971 (P.B.1. 1971-N.1.8), terkecuali apabila
dinyatakan atau diinstruksikan lain oleh pengawas.

b. Semen
1) Semen yang digunakan adalah semen Tipe 1 sesuai ASTM C 150 dan
segala sesuatunya mengikuti ketentuan dalam P.B.I. 71.
2) Menyediakan tempat/gudang penyimpanan semen pada tempat-
tempat yang baik sehingga semen-semen tersebut senantiasa terlindung
dari kelembaban atau keadaan cuaca lain yang merusak, terutama Iantai
tempat penyimpanan tadi kuat dan berjarak minimal 30 cm dari
permukaan tanah.

c. Air untuk adukan
Air yang digunakan untuk bahan adukan beton, adukan pasangan,
grouting, bahan pencuci agregat, dan untuk curing beton adalah air tawar
yang bersih dari bahan-bahan yang berbahaya dari penggunaannya seperti
minyak, alkali, sulfat, bahan organis, garam, dan slit (lanau).

d. Agregat halus (pasir)
1) Pasir untuk beton, adukan, dan grouting merupakan pasir alam, pasir
pemecahan batu, juga dapat pula digunakan untuk mencampur agar
mendapat gradasi pasir yang baik. Pasir yang dipakai mempunyai
kadar air yang merata dan stabil, serta terdiri dari butiran yang keras,
padat tidak terselaput oleh material lain.
2) Pasir bersih dan bebas dari gumpalan-gumpalan tanah liat, alkalis
bahan-bahan organik, dan kotoran-kotoran lainnya.

e. Agregat kasar (split)
Agregat kasar untuk beton dapat berupa split dari alam, batu pecah, atau
campuran,dari keduanya. Split yang dipakai mempunyai kadar air yang
merata dan stabil. Demikian juga pada pasir, split keras, padat, tidak

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 39

porous, dan tidak berselaput materiakain. Dalam penggunaannya split
dicuci terlebih dahulu dan diayak supaya didapat gradasi sesuai yang
dikehendaki, material yang halus, yaitu yang lebih kecil dan 5 mm
disingkirkan.
f. Baja tulangan
1) Baja tulangan harus mernenuhi ketentuan dalam P.B.I. 71 dengan mutu

U-32 (tegangan leleh karakteristik= 3200 kg/cm2) untuk diameter lebih
besar dari 12 mm, sedangkan untuk diameter yang lebih kecii
digunakan U-24 (tegangan Ieleh karakteristik= 2400 kg/cm2). Berat besi
dapat diperhitungkan dengan menggunakan nominal diameter.
2) Semua baja tulangan yang digunakan memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut.
a) Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan lemak/minyak, karat tidak cacat

seperti retak, dan lain-lain.
b) Untuk mutu U-32 digunakan profil baja tulangan derformed

(deformed bar).
g. Pengecoran

1) Sebelum adukan beton dituangkan pada acuannya, kondisi permukaan
dalam dari bekisting atau tempat beton dicorkan benar-benar bersih
dari segata macam kotoran.

2) Pengecoran dapat dimulai setelah kondisi beton yang berbatasan
dengan daerah yang akan dicor dan juga keadaan pembesian selesai
diperiksa serta disetujui oleh pengawas.

3) Beton yang baru selesai dicor akan dilindungi terhadap rusak atau
terganggu akibat sinar matahari ataupun hujan. Selain itu, air yang
mungkin mengganggu beton yang sudah dicor ditanggulangi hingga
suatu batas waktu yang disetuji konsultan (pengawas).

h. Bekisting (acuan beton)
1) Material untuk bekisting dan perancah dibuat dari kayu, besi, atau
material lain yang disetujui pengawas. Semua tipe material tadi apabila

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 40

digunakan tetap memenuhi kebutuhan untuk bentuk, ukuran, kualitas,
dan kekuatan sehingga didapat hasil beton yang halus, rata, dan sesuai
dengan dimensi yang direncanakan.
2) Bekisting harus benar-benar menjamin agar air yang terkandung dalam
adukan beton tidak hilang atau berku rang. Pengerjaan bekisting
sedemikian rupa sehingga hubungan papan bekisting terjamin rapat
dan tidak akan menimbulkan kebocoran (segregasi/bleeding).
3) Jika mempergunakan bekisting multiplek, permukaan dibuat cukup
rata dan tebal multiplek yang dipakai minimal adalah 12 mm dengan
perkuatan balok kayu 5/7 cm dengan jarak maksimal 40 cm dan
pemakaiannya maksimum 3 kali. Kayu yang dipakai adalah kayu kelas
II yang sesuai dengan PPKI 1970 atau kayu lokal yang setaraf. Semua
pekerjaan sudut-sudut beton apabila tidak dinyatakan lain dalam
gambar harus ditakik 25 mm.

4. Bahu Jalan
a. Bahan
Sumber bahan dipilih atas dasar diperolehnya persediaan dengan
memperhitungkan lokasi, kualitas, dan volume sumber bahan. Untuk
pembangunan kembali bahu jalan yang ada, bahan yang digunakan bahan
urugan yang dipilih terdiri dari lempung berpasiran atau lempung kerikii
yang memenuhi persyaratan spesifikasi, tetapi dengan satu ukuran partikel
maksimum 37,5 mm dan dengan satu indeks plastisitas tidak lebih dari
10%, terkecuali diperintahkan oleh pihak direksi.
Apabila urugan berbutir yang cocok tidak dapat diperoleh serta
tergantung kepada ketentuan-ketentuan kontrak dan instruksi pihak
direksi, bahu jalan dapat dibangun dengan menggunakan urugan tanggul
biasa bergradasi padat yang cocok dengan satu ukuran partikel maksimun
37,5 mm dan dengan kandungan lempung lumpur plastisitas rendah yang

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 41

mampu menghambat pertumbuhan tumbuh-tumbuhan dan memberikan
satu bahu jalan yang stabil.
b. Persyaratan teknis
1) Tanah Padas

a) Tanah padas yang digunakan adalah tanah padas dengan kualitas
baik.

b) Tanah padas dengan keadaan bersih tidak mengandung lumpur dan
zat-zat yang berbahaya.

c) Tanah padas yang sudah dipasang/diratakan/dipadatan dengan
mesin gilas tiga roda 8-10 ton.

d) Dalam pemadatan mesin gilas diberi air agar pemadatan dapat
memadat dengan sempurna.

2) Batu pecah/agregat kasar
a) Agregat kasar berupa batu pecah yang diperoleh dari batu. Yang
dimaksud dengan agregat kasar, umumnya adalah agregat dengan
besar butir lebih dari 5 mm.
b) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak
berpori. Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak
pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan
hujan.
c) Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur, apabila
mengandung kadar iumpur maka agregat kasar harus dicuci.

3) Split
a) Split adalah batu pecah yang harus didapat melalui ayakan
berlubang persegi 25 mm dan tertinggal di atas ayakan berlubang
persegi 2 mm.
b) Split untuk beton harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
dalam PBI1971-N1.2 (Peraturan Beton Bertulang Indonesia), di

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 42

antaranya harus terdiri dari butir-butir yang keras, tidak berpori,
tidak pecah/hancur oleh pengaruh cuaca.
c) Split untuk pembuatan jalan harus memenuhi syarat-syarat yang
disetujui oleh direksi.
d) Split untuk maksud-maksud lain daripada tersebut dalam ayat (2)
bergantung pada peruntukkannya, harus cukup keras dan bersih.
4) Agregat halus (butiran pasir)
a) Agregat halus keras, bebas lumpur, bersih dari atau tidak boleh
tercampur dengan tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, akar-akaran, dan
zat organik/nonorganik lainnya yang nantinya akan memengaruhi
kekuatannya.
b) Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran, dan beton harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
(1) Butiran pasir halus tajam dan keras serta tidak dapat

dihancurkan dengan jari.
(2) Kadar lumpur tidak boleh lebih dari 5%.
(3) Untuk adukan plesteran dan adukan pasangan, butiran-

butirannya harus dapat melalui ayakan ukuran 3 mm.
c) Pasir untuk pengurugan, peninggian, dan tujuan lain harus bersih

dan keras. Pasir laut untuk maksud-maksud tersebut dapat
dipergunakan asal dicuci terlebih dahulu dan seizin tertulis dari
direksi pekerjaan.
5) Air
a) Air yang digunakan tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali,
garam, bahan-bahan organik, atau bahan-bahan Iain yang dapat
merusak struktur. Dalam hal ini, sebaiknya dipakai air bersih yang
dapat diminum.
b) Apabila terdapat keraguan mengenai air, rekanan/kontraktor
diharuskan untuk mengirimkan contoh air ke lembaga pemeriksaan
bahan-bahan yang diakui untuk diselidiki sampai seberapa banyak

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 43

air itu mengandung zat-zat yang dapat merusak. Dengan demikian,
pekerjaan harus dihentikan sampai mendapat keputusan yang pasti
mengenai air yang dapat dipakai untuk konstruksi dan penghentian
pekerjaan ini tidak membebaskan rekanan dari waktu pelaksanaan
seluruh pekerjaan yang telah ditetapkan.
c) Apabila pemeriksaan, misal air seperti disebut dalam ayat (b) itu
tidak dapat dilakukan maka dalam hal adanya keraguan mengenal
air, harus dengan memakai air itu pada umur 7 dan 28 hari.
d) JumIah air yang dipakai untuk membuat adukan beton ditentukan
dengan ukuran isi atau ukuran berat setepat-tepatnya.
6) Semen Portland
a) Semen adalah bahan ikat hidrolis yang digunakan dalam pekerjaan
struktur beton dan pasangan supaya daya ikat semen tidak
mengalami penurunan maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut.
b) Semen harus terlindung dari hujan dan udara lembab.
c) Penumpukan sak semen diusahakan minimum 25 cm dari dinding
gudang dan disusun di atas balok-balok kayu minimum 20 cm di
atas lantai.
d) Tumpukan semen dibatasi maksimum 12 sak. HaI ini dimaksudkan
untuk menghindari pengerasan semen akibat berat di atas
tumpukan semen tersebut.
e) Penumpukan diatur berurutan sesuai urutan datangnya.
Pemeriksaan terhadap kualitas semen di lapangan dilakukan
dengan cara meremas butiran semen memakai tangan. Jika semen
telah menggumpal atau mengeras tidak boleh dipakai.
7) Plastik kedap air
a) Plastik yang digunakan adalah plastik yang baik tidak mudah sobek.
b) Plastikyang akan dipasang dalam keadaan bersih.
8) Besi beton

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 44

a) Besi beton yangdigunakan sesuai standar SNI.
b) Besi yang dipasang,sesuai dengan gambar kerja.
c) Ukuran diameter besi sesuai dengan gambar kerja dan dipasangkan

sepengetahuan pengawas.
9) Begesting

a) Begesting menggunakan kayu atau pelat baja yang kuat, rata, dan
tidak mudah patah atau rusak.

b) Begesting yang akan dipasang ditata ciengan rapi dan lurus.
10) Dowel U.24

a) Diamater dowel U.24 sesuai dengan gambar kerja.
b) Dowel U.24 diberi selang atau pralon setengah/separuh panjang

satu buah dowel U.24.

11) Tanah Padas
a) Tanah padas yang digunakan dengan mutu baik.
b) Tanah padas dalam keadaan baik tidak mengandung lumpur/kotor.
c) Padas dipasang atau dikerjakan untuk bahu jalan yang sudah
dibeton atau dicor.

12) Aspal
Aspal yang digunakan adalah aspal curah yang dipanaskan untuk
menutup celah-celah pembatas antara cor per segmen.

13) Lain-lain
a) Komposisi campuran setiap pekerjaan harus sesuai dengan syarat-
syarat dan petunjuk pengawas/direksi lapangan.
b) Mutu semua bahan yang digunakan harus sesuai dengan syarat-
syarat bahan dan mendapat persetujuan pengawas/direksi
lapangan.
c) Semua bahan yang tidak mendapat izin atau persetujuan dari direksi
maka pemborong harus menyingkirkan dari lokasi pekerjaan
maksimum 1 x24 jam.

ESTIMASI BIAYA KONSTRUKSI 45


Click to View FlipBook Version