The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by waroengdakwah, 2022-01-19 23:18:11

Ensiklopedi managemen hati jilid 3

Ensiklopedi Manajemen Hati 3

638 Ensiklopedi Manajemen Hati 3

‫ﰏﰐﰑ‬

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur`an dalam bahasa Arab,
dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari
ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar (Al-Qur`an) itu memberi
pengajaran bagi mereka.” (QS. Thaha: 113)

Allah Ta’ala menyebutkan tentang ancaman di dalam kitab-Nya
dengan bermacam-macam cara:

Terkadang dengan menyebutkan Nama-nama-Nya, yang menun­
jukkan keadilan dan kekuatan-Nya, seperti Al-Aziiz (Mahaperkasa), Al-
Jabbaar (Mahakuasa), Al-Qawiyyu (Mahakuat), dan Al-Qahhar (Maha
Penguasa).

Terkadang dengan menyebutkan hukuman dan adzab yang telah Dia
timpakan kepada umat-umat terdahulu, dan Dia memerintahkan kita
agar mengambil pelajaran dan ibrah darinya.

Terkadang dengan menyebutkan pengaruh dan dampak buruk dari
dosa, seperti aib dan keburukan.

Terkadang dengan menyebutkan huru-hara hari Kiamat dan segala
sesuatu yang terjadi padanya, seperti kekacauan, penyesalan, dan kese­
dihan.

Terkadang dengan menyebutkan neraka Jahanam, segala macam
hukuman, dan segala jenis siksaan yang ada di dalamnya.

Itu semua merupakan wujud rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala
terhadap para hamba, agar mereka bertakwa kepada-Nya lalu melak­
sanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya,
mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, dan bersyukur kepada-Nya
dan tidak mengkufuri-Nya.

Taubat itu ada tiga macam:

• Pertama, taubat yang benar. Yaitu seorang hamba melakukan suatu
dosa, lalu ia bertaubat darinya dengan sebenarnya di saat itu juga.

• Kedua, taubat yang sesungguhnya. Yaitu taubat nashuha. Tanda
taubat nashuha adalah, seorang hamba membenci dan mengang­
gap buruk maksiat yang dia lakukan, sehingga maksiat tersebut tidak
lagi terbesit pada benaknya, dan tidak lagi tersirat di alam pikirnya
sama sekali. Taubat nashuha ini termasuk dari amalan-amalan hati,
dan tujuan akhirnya adalah menyucikan hati dari dosa.

Bab keenam: Fikih Ketaatan dan Kemaksiatan 639

• Ketiga, taubat yang batil. Yaitu taubat dengan lisan saja, sambil
membayangkan nikmatnya kemaksiatan di alam pikirannya.

Ada juga taubat inabah, yaitu kita merasa takut kepada Allah Ta’ala
lantaran kekuasaan-Nya atas diri kita.

Ada juga taubat istijabah, yaitu kita merasa malu terhadap Allah
Ta’ala lantaran kedekatan-Nya dari kita.

Barangsiapa yang bertaubat dengan taubat yang umum, maka tau­
bat tersebut akan dapat menghapus seluruh dosanya, meskipun dia tidak
menyebutkan dosa-dosa tersebut satu-persatu.

Ketika bertaubat, kebanyakan orang tidak menyebutkan kecuali se­
ba­g­ ian maksiat yang berkaitan dengan kekejian, atau hal-hal yang meng­
an­tarkan kepadanya, atau sebagian kezhaliman dengan lisan atau ta­ngan.
Padahal bisa jadi meninggalkan perintah yang wajib dia laksanakan se­
cara zhahir dan batin, yang termasuk bagian dari cabang-cabang keima­
nan dan hakikat-hakikatnya, lebih berbahaya baginya daripada sebagian
perbuatan keji yang dia lakukan. Karena hakikat-hakikat keimanan yang
diperintahkan oleh Allah Ta’ala, yang dapat membentuk seorang hamba
menjadi mukmin yang sejati, seperti mencintai Allah Ta’ala dan Rasul-
Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, menga­ jarkan syariatnya, dan berdak­
wah kepada-Nya, lebih besar manfaat daripada meninggalkan sebagian
dosa yang nampak. Karena hal itu semua merupakan amal kebaikan
yang paling agung; dan seringk­ ali manusia tidak bertaubat dengan tau­
bat yang umum, meskipun me­reka membutuhkannya.

Taubat hukumnya wajib atas semua muslim di setiap keadaan. Ka­
rena dia akan selalu melihat kekurangan dan kejahatan dirinya ketika
dia meninggalkan perintah, atau mengerjakan perkara yang dilarang.
Se­hingga dia wajib selalu bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala sangat suka jika hamba-hamba-Nya bertaubat kepada-
Nya. Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa Dia ingin menerima taubat
setiap orang yang bertaubat kepada-Nya. Sebagaimana dalam firman-
Nya,

‫ﭑﭒﭓﭔﭕﭖﭗﭘ ﭙ‬
‫ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣﭤ ﭥ ﭦ‬

‫ﭧﭨ‬

640 Ensiklopedi Manajemen Hati 3

“Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang
mengikuti keinginannya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-
jauhnya (dari kebenaran). Allah hendak memberikan keringanan ke­
padamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS. An-Nisa`:
27-28)

Allah Ta’ala Maha Pengasih terhadap para hamba dan Mahaluas rah­�
mat-Nya. Allah Ta’ala Maha Menerima taubat dari para hamba-Nya yang
bertaubat dari dosa apa pun. Bahkan Allah Ta’ala merasa sa­ngat gembira
dengan taubat seorang hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya. Ba­
rangsiapa yang bertaubat kepada Allah Ta’ala, niscaya Dia akan mene­
rima taubatnya, meskipun kemaksiatannya itu terjadi berulang-ulang
kali. Karena Allah Ta’ala Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.

Oleh karena itu, hendaknya para pelaku maksiat mengetahui hal
tersebut agar mereka segera menghadap kepada Allah Ta’ala dan kem­
bali bertaubat kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

‫ﮭﮮ ﮯﮰﮱﯓﯔ ﯕﯖﯗﯘﯙ ﯚ‬

‫ﯛﯜﯝﯞ‬

“Tidakkah mereka mengetahui, bahwa Allah menerima taubat hamba-
hamba-Nya dan menerima zakat(nya), dan bahwa Allah Maha Peneri-
ma taubat, Maha Penyayang?” (QS. At-Taubah: 104)

Allah Ta’ala akan menerima taubat para hamba-Nya. Allah Ta’ala te­
lah mengajak para hamba-Nya agar kembali dan bertaubat kepada-Nya,
dari kelalaian yang telah mereka lakukan. Akan tetapi mereka terbagi
menjadi dua:

[1]. Orang-orang yang menyambut ajakan Allah Ta’ala, dan mereka pun
termasuk di antara orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Apabila mereka menyambut ajakan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala
akan mensyukuri mereka.

[2]. Adapun orang-orang yang tidak menyambut ajakan Allah Ta’ala, ya­
itu orang-orang yang menentang, yang kafir terhadap-Nya dan ter­
hadap para Rasul-Nya, maka mereka akan mendapatkan siksaan yang
pedih di dunia dan akhirat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

‫ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑﮒﮓﮔﮕﮖ‬

‫ﮗﮘﮙﮚﮛﮜﮝﮞﮟ‬

Bab keenam: Fikih Ketaatan dan Kemaksiatan 641

‫ﮠﮡ ﮢﮣﮤﮥﮦ‬

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan
memaafkan kesalahan-kesalahan  dan mengetahui apa yang  kamu
kerjakan, dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang ber­
iman dan mengerjakan kebajikan serta menambah (pahala) kepada
mereka dari karunia-Nya. Orang-orang yang ingkar akan mendapat
adzab yang sangat keras.” (QS. Asy-Syura: 25-26)

Taubat merupakan hakikat agama Islam dan tujuan dalam hidup se�­
tiap mukmin. Taubat adalah tujuan yang karenanya para makhluk dicip­
takan, sedangkan perintah dan tauhid adalah bagian dari taubat, bahkan
bagian yang paling besar yang di atasnya dia terbangun. Oleh karena itu,
Allah Ta’ala memerintahkan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi
wa Sallam agar bertaubat, sebagaimana firman-Nya,

‫ﭱﭲﭳﭴﭵﭶﭷﭸﭹﭺﭻ‬

‫ﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄ ﮅﮆﮇ‬

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. maka bertas­
bihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya.
Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Para nabi Alaihimussalam juga mengajak umatnya agar ber­taubat,
sebagaimana Nabi Hud Alaihissalam melakukannya. Allah Ta’ala berfir­
man,

‫ﯱﯲﯳﯴﯵﯶﯷﯸ ﯹﯺ‬

‫ﯻﯼﯽ ﯾﯿ ﰀ ﰁﰂ‬

“Dan (Hud berkata), “Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tu­
hanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan
yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatan­
mu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” (QS.
Hud: 52)

Nabi Shalih Alaihissalam juga mengajak kaumnya agar bertaubat.
Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

‫ﯬ ﯭ ﯮ ﯯﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹﯺ ﯻ‬

642 Ensiklopedi Manajemen Hati 3

‫ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄﰅ ﰆ ﰇ ﰈ‬

‫ﰉﰊ‬

“Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shaleh. Dia
berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu se­
lain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikan­
mu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemu­
dian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat
(rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud: 61)

Nabi Syu’aib Alaihissalam juga mengajak kaumnya agar bertaubat.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

‫ﭩﭪﭫﭬﭭﭮﭯ ﭰ ﭱﭲﭳ‬

“Dan mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah ke­
pada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pengasih.” (QS.
Hud: 90)

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

‫ أَ ْخ َر َج ُه‬.‫َوالل ِه ِإ يِّْن أَ َل ْستَ ْغ ِف ُر الل َه َوأَتُ ْو ُب ِإ يَلْ ِه يِف ا يْ َل ْو ِم أَ ْك َر َث ِم ْن َسبْ ِع نْ َي َم َّر ًة‬
.‫ال ُب َخا ِر ُّي‬

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar (memohon am­
punan) kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, dalam sehari le­
bih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari)97 Beliau Shallallahu Alaihi
wa Sallam juga bersabda,

‫ أَ ْخ َر َج ُه‬.‫ َوإِ يِّْن َأ َل ْستَ ْغ ِف ُر الل َه ِيف ا ْيلَ ْو ِم ِمائَ َة َم َّر ٍة‬،‫ِإنَّ ُه يَ ُل َغا ُن لَىَع قَلْ يِْب‬
.‫ُم ْس ِل ٌم‬

“Sungguh hatiku benar-benar tertutupi selaput tipis, dan sungguh aku be­
nar-benar beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah Ta’ala dalam
sehari seratus kali.” (HR. Muslim)98

Taubat seorang hamba dari amal perbuatannya dibagi menjadi
dua:

97 HR. Al-Bukhari nomor. 6307.
98 HR. Muslim nomor. 2702.

Bab keenam: Fikih Ketaatan dan Kemaksiatan 643

Taubat seorang hamba dari kebaikan-kebaikannya, dan itu ada tiga
macam:

Dia bertaubat dan beristighfar (memohon ampunan) dari kelalaian
yang terjadi di dalamnya.

Dia bertaubat dari hal-hal yang dia anggap sebagai amal kebaikan
padahal bukan, seperti keadaan para pelaku bid’ah.

Dia bertaubat dari sikap ujub yang muncul disebabkan amal perbua­
tannya, dan anggapan bahwa amalan itu dia kerjakan dengan kekuatan
dirinya.

Taubat seorang hamba dari keburukan-keburukannya, dan itu ada
dua macam:

Dia bertaubat karena meninggalkan perintah.

Dia bertaubat karena mengerjakan larangan.

Taubat harus dilakukan oleh seluruh makhluk. Taubat adalah suatu
keadaan yang harus selalu dipegangi oleh seorang hamba sejak dia ber­
akal (akil balig) sampai akhir hayatnya.

Taubat yang sebenar-benarnya (taubat nashuha) dihimpun oleh em­
pat perkara:

• Pertama, beristighfar (memohon ampunan kepada Allah Ta’ala) de­
ngan lisan.

• Kedua, menyesali perbuatan maksiat dengan hati.

• Ketiga, meninggalkan perbuatan maksiat dengan anggota tubuh.

• Keempat, menanamkan tekad untuk tidak kembali melakukannya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu menutup setiap ama­
lan shalih dengan istighfar (memohon ampunan kepada Allah Ta’ala)
seperti shalat, puasa, haji, dan jihad. Beliau juga menutup majelis-ma­
jelisnya dengan istighfar (memohon ampunan kepada Allah Ta’ala).

Allah Ta’ala juga memerintahkan beliau agar beristighfar (memohon
ampunan kepada Allah Ta’ala) di akhir kehidupannya, padahal beliau
benar-benar telah menyampaikan risalah, menunaikan amanat, mem­
beri nasehat yang tulus kepada umat, dan berjihad di jalan Allah Ta’ala
dengan sebenar-benarnya.

Setelah Allah Ta’ala menyempurnakan tingkatan-tingkatan keham­
baannya, baik secara zhahir maupun batin, Allah Ta’ala memerintah­
kan beliau agar bertasbih (mengucapkan Subhanallah) dan beristighfar

644 Ensiklopedi Manajemen Hati 3

(memohon ampunan kepada Allah Ta’ala). Sebagaimana yang disebut­
kan dalam firman-Nya,

‫ﭱﭲﭳﭴﭵﭶﭷﭸﭹﭺﭻ‬
‫ﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄ ﮅﮆﮇ‬

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka ber­
tasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-
Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki
dosa. Barangsiapa yang bertaubat dari dosa sebelum terkena huku­
man, maka gugurlah hak-hak Allah Ta’ala darinya, dan Allah Ta’ala akan
mengampuninya dengan taubatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfir­
man,

‫ﭻﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄﮅ‬
‫ﮆﮇﮈﮉﮊﮋﮌﮍﮎﮏ‬
‫ﮐ ﮑ ﮒﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘﮙ ﮚ ﮛ ﮜ‬
‫ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ‬

‫ﮪﮫﮬﮭﮮ‬

“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya
dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau
dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari
tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di du­
nia, dan di akhirat mereka mendapat adzab yang besar. Kecuali orang-
orang yang bertaubat sebelum kamu dapat menguasai mereka; maka
ketahuilah, bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-
Ma`idah: 33-34)

Ada seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal-
lam, lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah terkena
had, maka tegakkanlah ketetapan Allah Ta’ala pada diriku.” Lalu beliau
bersabda, “Bukankah kamu tadi melaksanakan shalat bersama kami?”

Bab keenam: Fikih Ketaatan dan Kemaksiatan 645

Dia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah
mengampuni dosamu atau hadmu.” (Muttafaq Alaih)99

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Bah­
wa ada seorang lelaki yang mencium seorang wanita (yang tidak halal
baginya), lalu dia pun datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam, dia mengabarkannya kepada beliau tentang hal itu, maka Allah
Ta’ala pun menurunkan ayat,

‫ﮩﮪﮫﮬﮭﮮﮯﮰﮱ ﯓﯔﯕﯖ‬

“Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang)
dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu
menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud: 114) Maka lelaki itu ber­
kata, “Wahai Rasulullah, apakah itu hanya berlaku untukku saja?” Beliau
menjawab, “Bahkan untuk seluruh umatku.” (Muttafaq Alaih)100

Oleh karena itu, bertaubat kepada Allah Ta’ala dari dosa dan kela­
laian, termasuk di antara kedudukan yang paling utama bagi orang-orang
yang beriman; dan taubat tidak akan ditinggalkan oleh seorang ham­
ba selama-lamanya, dan dia akan terus berada di dalam lingkup taubat
sampai kematiannya, karena setiap anak Adam adalah pelaku dosa dan
kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa dan kesalahan ada­
lah orang-orang yang selalu bertaubat.

Bentuk taubat dari Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya ada dua
macam:

• Pertama, Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada seorang hamba
untuk bertaubat.

• Kedua, Allah Ta’ala menerima taubat tersebut dari seorang hamba
apabila dia telah bertaubat kepada-Nya.

Taubat yang pasti diterima oleh Allah Ta’ala adalah sebuah hak yang
telah Dia wajibkan atas diri-Nya, hal itu sebagai bentuk kedermaan dari-
Nya bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan karena tidak me­
ngetahui akibatnya, atau tidak tahu bahwa kemaksiatan itu dapat men­
datangkan kemurkaan dan hukuman Allah Ta’ala, atau tidak tahu bahwa
Allah Ta’ala selalu melihat dan mengawasinya, atau tidak tahu bahwa ke­
maksiatan itu akan mengurangi atau bahkan menghilangkan rezekinya.

99 HR. Al-Bukhari nomor. 6823. Muslim nomor. 2764. Lafazh tersebut milik Al-
Bukhari.

100 HR. Al-Bukhari nomor. 526. Muslim nomor. 2763. Lafazh tersebut milik Al-
Bukhari.

646 Ensiklopedi Manajemen Hati 3

Orang seperti itu, apabila bertaubat dalam waktu dekat sebelum ia
melihat kematian atau siksaan, maka sungguh Allah Ta’ala akan mene­
rima taubatnya, apabila dia benar-benar bertaubat sebelum melihat ke­
matian atau adzab. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

‫ﭺﭻﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄﮅ‬

‫ﮆﮇﮈﮉﮊﮋ ﮌﮍﮎﮏ‬

“Sesungguhnya bertaubat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka
yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera ber­
taubat. Taubat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Menge­
tahui, Mahabijaksana.” (QS. An-Nisa`: 17)

Adapun setelah datangnya saat-saat kematian, maka tidak ada lagi
taubat yang diterima dari orang-orang kafir dan para pelaku maksiat.
Itu karena taubat dalam keadaan tersebut adalah taubat terpaksa, yang
tidak bermanfaat bagi pelakunya. Sebagaimana yang disebutkan dalam
firman-Nya,

‫ﮐﮑﮒ ﮓﮔﮕﮖﮗﮘ‬

‫ﮙ ﮚﮛﮜﮝﮞﮟﮠﮡﮢﮣ ﮤ‬

‫ﮥﮦﮧﮨﮩ‬

“Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan
kejahatan, hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara me­
reka, (barulah) dia mengatakan, “Saya benar-benar bertaubat sekarang.”
Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang-orang yang meninggal se­
dang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami se­
diakan adzab yang pedih.” (QS. An-Nisa`: 18)

Sedangkan waktu untuk bertaubat terbuka lebar bagi para hamba

sampai matahari terbit dari barat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu

Alaihi wa Sallam bersabda,

‫َو َيبْ ُس ُط‬ ،‫ح ّىَ يِتَلتُ َتْو ْ َطبلُ َعُم اِيل َّشس ُْءم اُل َّنس َه ِام ِرْن‬،َ ‫يْ ِل‬،َ‫جتُ َّْول َيَببْ ُمُس ِي ُطسيَُء َدا ُهل ّلَبِيْالِلّل‬.َ ‫إِأَيَ ََّدْنخ ُه َارلبِ َجال َلهُه َّن َُهمَعا َّْزِرس ِل َيِو ٌلَم‬
.‫َم ْغ ِربِ َها‬

Bab keenam: Fikih Ketaatan dan Kemaksiatan 647

“Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu membentangkan tangan-Nya pada
malam hari, agar pelaku keburukan di siang hari bertaubat. Dan Dia
selalu membentangkan tangan-Nya pada siang hari, agar pelaku ke­
burukan di malam hari bertaubat, (akan tetap seperti itu) sampai ma­
tahari terbit dari barat.” (HR. Muslim)101 Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam bersabda,

‫ أَ ْخ َر َج ُه‬.‫ تَا َب الل ُه َعلَيْ ِه‬،‫َم ْن تَا َب َقبْ َل أ ْن َت ْطلُ َع ال َّش ْم ُس ِم ْن َم ْغ ِربِ َها‬
.‫ُم ْس ِل ٌم‬

“Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya
Allah Ta’ala akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim)102

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan
kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian
kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran:
147)

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru
kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami
pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapus­
kanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-
orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang mema­

suki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki

dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang

yang zhalim itu selain kehancuran.” (QS. Nuh: 28)
‫غ ِف ْر‬.ْ ‫َعلََفيْا ِه‬،‫ ِإلُمَّا َّتأََفنْ ٌق َت‬.‫نْ َوَلت َاالَْي َغْغ ُفِف ْوُر ُراالل ُّذ َّرنُ ِْوحيَْبُم‬،‫ِإ َنكَّ ِب َْركًياأ‬
‫َظلَ ْم ُت َن ْف يِْس ُظلْ ًما‬ ‫ال َّل ُه َّم ِإ يِّْن‬
،‫ِم ْن ِعنْ ِد َك َوا ْر مَحْ يِْن‬ ‫يِْل َم ْغ ِف َر ًة‬

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri sebesar-
besarnya, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali
Engkau. Maka beriah ampunan untukku dari sisi-Mu dan rahmatilah
aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Muttafaq Alaih)103

101 HR. Muslim nomor. 2759.
102 HR. Muslim nomor. 2703.
103 HR. Al-Bukhari nomor. 834. Muslim nomor. 2705 dan lafazh tersebut miliknya.

648 Ensiklopedi Manajemen Hati 3

Allah Ta’ala telah mensyariatkan taubat dan istighfar (memohon
ampunan) kepada-Nya di beberapa penghujung amal shalih:

Allah Ta’ala mensyariatkannya di akhir manasik haji, di akhir shalat
malam pada waktu sahur, setelah salam selesai shalat lima waktu, dan
setelah selesai wudhu. Jadi taubat itu disyariatkan setelah kita selesai
mengerjakan amal shalih.

Dan Allah Ta’ala telah memerintahkan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi
wa Sallam, agar beristighfar (memohon ampunan) setelah menyampai­
kan risalah dan berjihad di jalan-Nya, sampai manusia masuk dalam
agama Allah Ta’ala berbondong-bondong. Sehingga seakan-akan me­
nyampaikan agama Allah Ta’ala adalah suatu ibadah yang telah beliau
sempurnakan dan beliau tunaikan, maka beliau pun diperintahkan un­
tuk beristighfar (memohon ampunan kepada Allah Ta’ala) setelahnya.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

‫ﭱﭲﭳﭴﭵﭶﭷﭸﭹﭺﭻ‬
‫ﭼﭽﭾﭿﮀﮁﮂﮃﮄ ﮅﮆﮇ‬

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah. Maka ber­
tasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-
Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Setiap anak cucu Adam adalah pelaku dosa dan kesalahan, dan
sebaik-baik pelaku dosa dan kesalahan adalah orang-orang yang selalu
bertaubat.

Barangsiapa yang melakukan suatu dosa dengan sembunyi-sem­
bunyi, maka hendaknya dia bertaubat secara sembunyi-sembunyi. Se­
seorang tidak dibenarkan menampakkan dosanya dan menyingkap se­
gala sesuatu yang telah ditutupi oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana Rasu­
lullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

‫ْباَلل ُامَّر َِّتر َُفجَح ٌُ َةلق‬.‫ اْن َلعل َِميِهلْْع ََمعُتَنْلُاه‬،‫مِشيَ َُاجا ُففَهل َرَِاسِة ْرُن َتأ‬:ُ ‫ ُ َحفِميَيََُقنواَْلكْل‬،‫ُهَواُي َولإِْل ُصهَّنِب‬،‫نَت‬،َ‫قَ ًىُْثدف َّمبَ ِإايُل ََّاْتصاِبي َلْ َ ُْحمس ُر ََوجُتقَاُه ِْده َر ِرُّبَيْسُه َر‬،‫ ُمل ََوًعاا‬،‫ََّومل َكيََِْتعذاَم‬.ِ‫بِلََُاكعُّلكلََذَّليْايْأُِه‬

Bab keenam: Fikih Ketaatan dan Kemaksiatan 649

“Semua umatku akan diselamatkan, kecuali orang-orang yang terang-
terangan melakukan dosa. Sesungguhnya di antara sikap terang-terangan
melakukan dosa adalah, seseorang mengerjakan suatu amalan di malam
hari, lalu pada pagi harinya dia mengatakan, ‘Wahai fulan, tadi malam
aku melakukan dosa ini dan dosa itu,’ padahal Allah Ta’ala telah menu­
tupinya. Dia bermalam dengan aib yang ditutupi oleh Rabbnya, dan pada
pagi harinya dia menyingkap penutup Allah Ta’ala darinya.” (Muttafaq
Alaih)104

Barangsiapa yang melakukan suatu dosa dengan terang-terangan,
maka hendaknya dia bertaubat secara terang-terangan pula. Barangsia­
pa yang menampakkan suatu bid’ah atau suatu kejahatan, maka dia ha­
rus menampakkan taubatnya. Supaya orang mukmin yang jujur merasa
gembira dengan taubatnya, dan orang-orang yang memiliki bid’ah dan
kejahatan yang sama dengannya dapat meneladaninya.

104 HR. Al-Bukhari nomor. 6069. Muslim nomor. 2990. Lafazh tersebut milik Al-
Bukhari.




Click to View FlipBook Version