The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Berupa kumpulan materi yang bisa menjadi panduan bagi Penyuluh Agama Kristen

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Pandan Bercerita, 2024-03-13 03:35:26

Materi Pembinaan bagi Penyuluh Agama Kristen

Berupa kumpulan materi yang bisa menjadi panduan bagi Penyuluh Agama Kristen

Keywords: penyuluh,renungan,kristen,materi,pembinaan,khotbah,belajar

MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 1 : KEKUATAN DARI TUHAN Nats : Mazmur 28:6-7 Kita percaya dan mengakui bahwa kita bisa berhasil, sukses, bebas dari masalah, bisa melewati berbagai kesengsaraan itu semua karena kekuatan dari Tuhan. Seperti nyanyian: Engkaulah kekuatan tempat pelindunganku dan disaat badai menerpang aku tak akan goyang sebab Engkau besertaku. Benar saudara bahwa Tuhan itu adalah kekuatan dan perlindungan bagi kita. Disaat kita lemah, disaat kita sendirian, tak berdaya jangalah takut karena Tuhan bersama dengan engkau yang selalu memberikan anda kekuatan. Oleh sebab itu seperti apakah yang dimaksud kekuatan dari Tuhan di dalam Kitab Mazmur 28:6-7? Adapun kebenaran firman Tuhan yang kita peroleh mengenai kekuatan dari Tuhan dalam Kitab Mazmur 28:6-7 yaitu sebagai berikut ini: Ia memberikan perlindungan. Hal yang paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari mengenai perlindungan. Misalkan perlindungan seorang ayah kepada anaknya, tentu seorang ayah mengusahakan untuk menjaga dan merawat anaknya dengan baik. Namun karena orang tua kita adalah manusia biasa, pasti memiliki keterbatasan untuk menjaga kita setiap waktu atau setiap saat. Namun perlindungan dari Tuhan itu tidak terbatas, dimanapun saudara berada misalkan anda berada di Papua, Kalimatan, Nias, Toraja, Sulawesi dan di Medan. Tuhan mampu untuk menjangkau saudara sebab Tuhan kita tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Perlindungan Tuhan dalam teks ini digambarkan seperti perisai, di mana pemazmur mengatakan Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku, dalam bahasa Ibrani YHWH uzzim umaginni. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan selalu melindungi dirinya. Yang melatarbelakangi raja Daud sampai-sampai ia mengatakan Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku karena Tuhan telah mendengarkan permohonannya (Ay. 6). Tentu kita bertanya-tanya dalam hati, apa saja permohonan raja Daud kepada Tuhan? Yang menjadi permohonan raja Daud kepada Tuhan dalam teks ini yaitu supaya ia tidak diseret bersama-sama dengan orang fasik, orang jahat dan orang-orang yang berpurapura baik (memakai topeng) ayat 3. Namun karena kasih Tuhan dalam kehidupannya, Tuhan salalu melindungi raja Daud dari orang-orang fasik atau musuh-musuhnya. Karena Tuhan adalah kekuatan baginya sehingga ia terlindungi dari serangan orang-orang jahat yang ingin mencelakakan dirinya. Sebab Tuhan selalu melindungi, menjaga, menyertai kehidupan raja Daud. Demikian juga dengan kehidupan kita saat ini, kita bisa ada saat ini karena anugrah dari Tuhan karena Tuhan selalu melindungi diri kita. Tetapi bagaimana disaat Tuhan menginjikan suatu masalah dalam kehidupan kita, misalkan orang yang kita kasihi meninggalkan kita, tidak mendapat pekerjaan, dipecat dari pekerjaan, pengaguran atau Tuhan menginjikan kita mengalami penyakit yang parah. Apakah kita tetap mengatakan Tuhan itu adalah perisaiku yang selalu melindungi saya? Atau sebaliknya kita mengatakan, Tuhan itu tidak sayang kepada saya, Tuhan itu jahat. Jika saudara berpikir seperti itu hai kamu orangorang yang kurang percaya!!! Mengapa kita hanya bersyukur kepada Tuhan disaat kita berhasil, diberkati, bebas dari marabahaya. Kalau kita percaya Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku, kita juga harus percaya akan kehendak-Nya, kedaulatan-Nya dan rencanan-Nya dalam hidupku. Apapun rencana Tuhan dalam hidup anda ingat bahwa semuanya indah pada waktunya.


Ia memberikan pertolongan. Di saat kita belajar dari kehidupan Daud begitu banyak hal yang kita temukan pertolongan Tuhan dalam kehidupannya. Misalkan disaat Saul ingin membunuh dirinya. Namun pertolongan Tuhan tidak pernah terlabat bagi raja Daud. Ketika kita kembali memperhatikan teks ini, "kekuatan" yang dimaksud dalam teks ini bukan seperti kekuatan supernatural, kekuatan sihir, bisa terbang, bisa menghilang dan sebagainya. Namun kekuatan yang dimaksud dalam teks ini adalah membicarakan pribadi Allah sebagai kekuatannya. Ia mampu menghadapi musuh-musuhnya karena Tuhan bersamasama dengan dirinya. Karena Tuhan selalu bersama-sama dengan dirinya dan Tuhan itu dipihaknya, maka disaat ia lemah dan tak kuat, Tuhan selalu ada baginya sehingga ia tertolong. Raja Daud percaya bahwa hanya Tuhan satu-satunya penolong dalam hidupnya. Ia percaya bahwa Tuhan adalah jawaban dalam hidupnya. Ia percaya bahwa Tuhan mampu memberikan solusi bagi dirinya. Sehingga hatinya hanya tertuju kepada Tuhan, hatinya hanya selalu berharap kepada Tuhan. Disaat ia mengalami ujian iman ia hanya datang kepada Tuhan. Demikian juga dengan kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bukan datang kepada yang lain melainkan hanya kepada Tuhan sebagai satu-satunya penolong dalam hidup kita. Sebab hanya Tuhan yang mampu menolong saudara. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 2 : ALLAH YANG MAHAHADIR Nats : Mazmur 139:7-13 Kalau kita melihat berita di media sosial saat ini sangat begitu cepat tersampaikan suatu informasi. Misalkan kasus pembunuhan 10 orang, maka informasi itu telah diketahui oleh semua orang melalui TV, Hp, Koran dan lain-lain. Namun jangkau informasi itu hanya diketahui oleh orang-orang yang memiliki TV, HP, dan yang ada kouta internet. Bagi orangorang tidak memilikinya tidak akan dapat mengetahuinya. Apalagi jika disuatu tempat atau daerah itu kondisi internetnya tidak bagus maka informasi itu tidak akan tersampaikan. Tetapi keberadaan Tuhan disegalah tempat tidak akan terbatas. Dimana pun kita berada Ia mampu menjangkau kita semua dengan sekaligus sesuai dengan kehendak-Nya, sebab Ia tidak terikat oleh keadaan apapun karena Dia adalah Allah yang Mahahadir. Dengan demikian seperti apakah Allah yang Mahahadir yang disampaikan dalam Kitab Mazmur 139:7-13? Adapun kebenaran firman Tuhan yang menjelaskan Allah Mahahadir dalam Kitab Mazmur ini yaitu sebagai berikut ini: Ia ada dalam segala tempat. Raja Daud mengenal Tuhan dalam hidup-Nya karena Tuhan telah menyatakan diriNya kepada raja Daud. Pengenalan raja Daud akan Tuhan itu semua karena kasih karunia Tuhan dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa Allah itu Mahahadir karena penyataan Allah kepada-nya. Ia berkata: "kemanakah aku dapat menjauhi Roh Mu". Ia tidak bisa lari dihadapan Tuhan atau meninggal Tuhan sebab Tuhan ada disegala tempat yang Dia kehendaki. Walaupun raja Daud pergi kelangit Tuhan mampu menjangkau diri-nya, walaupun ia berada di dunia orang mati (Bahasa Ibrani: Sheol) Tuhan juga ada disana. Bagi Tuhan tidak ada satu pun yang bisa mengatasi diri-Nya, bahkan yang membuat Ia terikat. Sebab Ia adalah pribadi yang ada sendiri-Nya tanpa pengaruh apapun.


Melalui firman Tuhan ini kita bisa mengetahui bahwa Allah itu sempurna. Kesempurnaan-Nya bukan karena pengaruh tertentu, namun karena Ia benar-benar sempurna. Sehingga dimana pun raja Daud berada Tuhan juga ada disitu. Bukan berarti Tuhan hanya mampu menjangkau raja Daud, namun semua orang Tuhan mampu hadir dengan segaligus walaupun tempatnya berbeda-beda. Ada satu kisah yang lucu dalam Alkitab yang ingin melarikan diri dihadapan Tuhah. Tentu saudara tahu itu yaitu Yunus. Kemanapun Yunus pergi untuk menjauhi Tuhan dan tidak mau mendengarkan panggilannya, Tuhan mempunyai berbagai cara untuk membuat Yunus taat kepada-Nya. Tindakan Tuhan terhadap Yunus untuk membuat ia sadar yaitu Tuhan mengizinkan ia berada diperut ikan. Demikian juga dengan kehidupan kita saat ini, disaat kita nakal dan tidak mau taat kepada Tuhan. Suka melakukan keinginan sendiri misalkan kita berkata: suka-suka guelah, mau saya sendirilah. Saya utamakan dulu pekerjaan saya baru Tuhan, saya sukses dulu baru melayani Tuhan. Ah..panggilah Tuhan itu tidak akan pergi kok, nanti kalau umur saya sudah agak dewasa baru mau bersaksi dan melayani Tuhan. Namun raja Duad berbeda, Ia menggunakan waktu yang ada untuk mengenal Tuhan dalam hidupnya. Ia menggunakan waktu yang ada untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Walaupun kekuasaan yang ia miliki adalah salah satu kebanggaan, tetapi ia menyadari itu semua karena anungrah Tuhan dalam hidupnya. Hidupnya selalu tertuju dan bergantu akan kehendak Tuhan dalam hidupnya. Ia tidak dibatasi oleh waktu. Melalui kebenaran firman Tuhan ini kita mengetahui bagaimana itu Allah yang Mahahadir yaitu tidak dibatasi oleh waktu. Raja Daud berkata: "kemanakah aku dapat menjauhi Roh Mu". Karena Tuhan itu ada disegala tempat. Tuhan bisa berada disegala tempat karena Tuhan itu tidak dibatasi oleh ruang waktu. Sebab Tuhan itu tidak terbatas yang artinya bahwa Allah itu tidak terikat dan tak terbatas. Ia tidak mungkin dibatasi oleh alam semesta atau batas-batas ruang waktu. Tetapi itu tidak berarti Ia entah bagaimana terpencarpencar melalui alam semesta, sebagian di sini dan sebagian disana. Ketidakterbatasan Allah harus dipahami sebagai intensif bukan ekstensif. Bila kita merenungkan lebih lagi perkataan raja Daud kemanakah aku dapat menjauhi Roh Mu. Ini sesuatu hal yang begitu menarik mengenai Roh Allah yang berada di dalam dirinya. Ini sudah begitu jelas bahwa orang yang telah dikuasi oleh Roh Allah, maka Roh itu yang akan berkuasa dalam hidupnya dan ia tidak akan bisa menjauhi Roh itu. Namun jika kita melihat dari sudut pandang Perjanjian Baru, Roh Allah itu berdiam dalam diri orang percaya. Yang artinya Roh Kudus itu tetap berada di dalam diri orang percaya (1 Kor. 3:16; 6:19). Berbeda dari sudut pandang PL yaitu tidak menetap seperti kisah Saul. Namun hal yang ingin saya sampaikan kepada anda yaitu terkadang kita kurang ajar di hadapan Tuhan, kita menyadari bahwa Tuhan itu Mahahadir dan Roh Tuhan itu adalah dalam diri kita. Namun rasa hormat dari kita tidak ada sama sekali. Kita sering melakukan dosa, padahal Tuhan ada disitu, kita sering lebih mengutamakan keinginan daging kita, padahal Roh Kudus telah berdiam di dalam diri kita. Namun firman Tuhan berkata janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah yang telah memeteraikan kamu (Ef. 4:30). MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 3 : MAKNA KEBANGKITAN KRISTUS Nats : 1 Korintus 15:14 Peristiwa kebangkitan Kristus telah menjadi fakta sejarah yang diakui dan dirayakan secara internasional. Bagi kita yang merayakan Paskah untuk kesekian kalinya, izinkan saya


bertanya, “Sejauh mana kita sudah mengalami makna dan nilai kebangkitan Kristus?” “Seberapa besar pengaruh kebangkitan Kristus dalam kehidupan kita sehari-hari?” Kemenangan atas dosa dan maut (1 Korintus 15: 54b-57). Upah dosa adalah maut yang mengerikan dan membinasakan. Namun kebangkitan Kristus telah mengalahkan dosa dan maut. Apakah kita masih dibelenggu dan ditaklukkan oleh kuasa dosa yang mengikat dan membinasakan? Apakah saudara takut menghadapi kematian? Bangkitlah bersama Kristus dan engkau akan sanggup berkata “TIDAK” kepada dosa dan engkau siap menghadapi kematian dengan penuh keberanian. Membangkitkan semangat dan harapan baru (Kisah Para Rasul 1:8). Kematian Kristus membuat murid-murid menjadi lesu, takut dan putus asa. Namun hal ini tidak berlangsung lama. Setelah Kristus bangkit, murid-murid diubahkan menjadi penuh semangat dan harapan baru. Apakah hidup dan pelayanan kita kini lesu, lelah, tak bergairah, putus asa? Bangkitlah kembali bersama Kristus dan temukan kembali semangat dan harapan yang baru. Jaminan hidup kekal (Yohanes 3:16). Sepanjang kitab injil kita melihat “benang merah” berita tentang kehidupan kekal yang dijanjikan kepada manusia yang mau bertobat dan percaya kepada-Nya. Dan kebangkitan Kristus adalah garansinya. Apakah iman kita goyah dan pekabaran injil tentang hidup kekal yang kita lakukan penuh keraguan? Bangkitlah kembali dari keraguanmu. Kebangkitan Kristus seharusnya tidak dirayakan setahun sekali, melainkan setiap minggu. Ketika beribadah bersama sesungguhnya kita memproklamirkan kebangkitan Kristus. Bahkan setiap hari ketika kita masih diberikan napas hidup untuk memulai suatu hari yang baru, kita dipanggil untuk menyaksikan kebangkitan Kristus kepada mereka yang masih hidup dalam kematian. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 4 : PENYANGKALAN PETRUS Nats : Matius 26:69-75 Setiap kita rentan dan tidak kebal terhadap goncangan iman yang dapat membuat kita sampai menyangkal Tuhan. “Mengalami kebaikan dan keajaiban Tuhan, tidak menjamin kita kebal untuk menyangkal Dia dalam hidup kita sehari-hari.” Kita sama lemahnya dengan Petrus. Kita tidak lebih baik dari siapa pun. Satu-satunya alasan kita dapat menjadi lebih baik adalah karena anugerah Tuhan yang besar. Dia telah menyatakan pemeliharaan-Nya dan anugerah-Nya yang membuat kita menjadi seperti adanya kita sekarang. (1 Korintus 15:10) Betapa mudahnya kita mengalami naik turun dalam iman, kerohanian dan semangat. Karena itu, kalau kita sedang dalam kondisi puncak jangan lalu merasa aman dan menjadi gegabah. Melainkan tetap berjaga-jaga dan berdoa. (Matius 26:41) Petrus merasa sudah berpengalaman. Penyangkalan Petrus terjadi karena hal-hal kecil, bukan hal-hal yang besar. “Manusia bisa tidak jatuh, hanya karena kasih karunia Allah. Begitu Allah tidak menopang, maka serangan kecil pun akan menjatuhkan.” — (John Calvin) Mengapa Petrus menyangkal Tuhan? Petrus terlalu percaya diri, sehingga ia menilai dirinya sangat hebat dan sanggup menghadapi situasi yang timbul dengan kekuatannya sendiri. (Matius 26:33-35; Lukas 22:33; Yohanes 13:37) Merasa dirinya sudah


berpengalaman, sudah tahu dan sudah kuat, Petrus lupa bahwa tanpa Tuhan, tidak ada yang dapat mampu menopang kita dan kejatuhan kita di dalam dosa. Petrus menjaga jarak dengan Tuhan. Petrus mengikut Tuhan dari jauh (ayat 58, 69), artinya ia menjaga jarak dengan Tuhan, karena perasaan takut dan malu meliputi hatinya. Tahu akan jatuh, tapi tidak mendekatkan diri dengan Tuhan. Petrus lebih memilih untuk menjadi penonton bukan pemain dalam penderitaan Kristus. Hal ini seringkali juga terjadi dalam kehidupan kita orang Kristen. Kita hanya mau mengalami kesenangan saja dalam mengikuti Tuhan, namun segera menjauh dan meninggalkan Tuhan ketika persoalan hidup datang. Petrus lupa atau mengabaikan peringatan Tuhan (ayat 75), Kristus berkali-kali mengingatkan Petrus, tetapi ia mengabaikannya. (Matius 26:31,34; Lukas 22:31-34; Yohanes 13:38) Petrus menyesal dan berubah. Setelah mendengar ayam berkokok, sekarang Petrus tahu betapa besar anugerah Tuhan. Dia sadar bahwa dirinya tidak layak dikasihi Tuhan. Tetapi belas kasihan Tuhan membuat Petrus dapat dipulihkan kembali. Petrus menangis dengan sedihnya sebagai wujud penyesalan dan pertobatannya. Ia sedih karena sadar akan dosanya dan kesedihannya sangat dalam dan lama. “Tradisi mengatakan bahwa setelah peristiwa ini Petrus tidak pernah bisa mendengar kokok ayam tanpa bertelut dan menangis.” Bagaimana dengan kita hari ini? Kita pasti sering mengalami jatuh bangun dalam mengikut Tuhan, pertanyaannya apakah ada penyesalan dan sebuah usaha untuk berubah? Bukan hanya kulit luarnya saja, namun perubahan penuh yang datang dari hati. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 5 : KEBAHAGIAAN MENDENGAR FIRMAN Nats : Lukas 11:27-28 Seorang perempuan di antara orang banyak yang sedang mendengar pengajaran Yesus memberikan pujian kepada Yesus dengan berseru “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Ungkapan ini merupakan suatu respon kekagumannya pada pengajaran Yesus yang mungkin sebelumnya belum pernah didengarnya. Apa yang dikatakan perempuan ini memang benar, sebagaimana juga tertulis di Lukas 1: 48 yaitu dalam nyanyian pujian Maria “mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia”. Selanjutnya Yesus memberi jawab atas seruan perempuan itu, Yesus tidak menyangkal maupun menolak rasa hormat perempuan itu, tetapi Tuhan Yesus justru makai respon perempuan itu menjadi suatu pengajaran kepada mereka yang mendengarNya dengan mengatakan “yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya”. Memang benar Maria ibu Yesus menjadi perempuan yang berbahagia, tetapi kebahagiaan itu bukan hanya bagi perempuan yang melahirkan Yesus saja, tetapi kebahagiaan itu dapat dimiliki setiap orang yang menerima firmanNya dalam hidupnya. Firman Tuhan melebihi hikmat lainnya. Wajar jika orang tua bahagia ketika anak-anaknya berhasil dalam hidupnya. Tentu pemahaman seperti ini juga yang dimiliki oleh perempuan yang memuji Tuhan Yesus. Perempuan itu dapat merasakan bagaimana ibu yang melahirkannya akan sangat berbahagia melihat anaknya memiliki hikmat yang sungguh mengagumkan. Kekaguman dan pujian yang


disampaikan oleh perempuan itu memperlihatkan kepada kita bahwa orang banyak yang sedang mendengar pengajaran Yesus saat itu dapat merasakan bahwa apa yang sedang diajarkan Yesus bukanlah suatu pengajaran yang biasa mereka dengar, tetapi telah menggerakkan hati dan perasaan mereka untuk mengagumi pribadi Yesus yang sungguh luar biasa. Maka di sini kita dapat melihat bahwa firman Tuhan tidak bisa kita samakan dengan hikmat apa pun yang ada dalam dunia ini. Jika perempuan itu menganggap ibu Yesus adalah orang yang berbahagia adalah karena menganggap ibu Yesus sungguh sangat berbahagia memiliki anak seperti Yesus. Maka demikian halnya dengan kita, bahwa bukan hanya ibu Yesus yang berbahagia tetapi kita juga adalah orang yang berbahagia karena memiliki Yesus dalam hidup kita, kita memiliki firmanNya dalam hidup kita. Firman Tuhan melebihi pemeliharaan dunia. Dari jawaban Yesus yang mengatakan bahwa “yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” hendak mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang sungguh-sungguh berbahagia itu bukan hanya sekedar memiliki Yesus dalam hidupnya, tetapi ketika seseorang itu mau untuk mendengarkan dan memelihara firman Tuhan itu dalam hidupnya. Tidak hanya mendengar tetapi juga memeliharanya, artinya dari pendengaran berlanjut kepada perbuatan dan tindakan dari firman yang didengarkan. Kebahagiaan itu akan menjadi bagian dari kehidupan kita ketika firman Tuhan itu menyatu dalam hati, pikiran dan tindakan kita. sebab firman Tuhan adalah hikmat Allah yang akan menuntun kita pada kebahagiaan yang sejati. Firman Tuhan melebihi kebahagiaan apa pun. Tidak ada dalam dunia ini yang benar-benar membuat kita berbahagia selain dari firman Allah. Harta kekayaan, kehormatan, jabatan, keturunan bukanlah hal yang menjamin kita berbahagia, sebab justru bisa saja semuanya itu justru membuat kita susah, gelisah dan menyita kebahagiaan yang sesungguhnya. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 6 : LAHIR UNTUK PEDULI Nats : Matius 20:27-28 Perjuangan untuk menjadi Keluarga Kerajaan Allah bersinergi dengan hidup yang disempurnakan sama seperti Yesus. Kehidupan Yesus harus menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam menjalani kehidupannya. “Terlahir untuk peduli” (born to care) atau dilahirkan untuk peduli. Tentu secara historis, kalimat ini ditujukan bagi Tuhan Yesus yang lahir untuk peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa. Oleh kepedulian-Nya, manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali dengan Sang Khalik untuk mewarisi kerajaan-Nya. Kalau kita konsekuen sebagai anak Allah, kita tidak hanya menjadikan kalimat di atas sekedar pajangan, tetapi menjadi tema kehidupan kita. Seperti yang Tuhan Yesus kemukakan: Seperti anak Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani (Mat 20:27- 28). Bukan untuk dipedulikan tetapi memedulikan. Untuk menjadikan kalimat ini sebagai tema kehidupan kita, ada pertaruhan yang sangat mahal. Pertaruhannya adalah segenap hidup kita. Namun, sebelum lebih jauh memahami harga kepedulian yang harus menjadi hiasan hidup ini, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu kepedulian dan bagaimana memulainya? Kepedulian terhadap sesama harus dimiliki dengan “rasa atau naluri”, yang lahir dari kerelaan memberi diri. Dalam hal ini, hanya kita sendiri yang dapat menciptakannya, bukan Tuhan.


Kepedulian lahir dari kesadaran yang murni dan tulus Tuhan memberi kehendak bebas kepada masing-masing kita. Dalam Lukas 10:30-37, terdapat kisah mengenai orang Samaria yang baik hati. Di dalamnya, Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita siapa sesama manusia kita itu. Di dalam fragmen tersebut, juga disiratkan mengenai “kepedulian” yang lahir dari kesadaran yang murni dan tulus. Kepedulian tanpa pamrih yang sangat menakjubkan. Tentu imam dan Lewi yang dikisahkan dalam fragmen ini, secara teori sudah tahu bagaimana mengasihi sesama, mereka bukan tidak mengerti bagaimana memperhatikan atau memedulikan orang lain. Hal mengasihi sesama atau memedulikan orang lain adalah pokok-pokok pengajaran yang menghiasi bibir mereka. Tetapi, masalahnya adalah mereka tidak memiliki hati yang peduli kepada orang lain atau heart for the people. Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Kepedulian ini merupakan kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Kepedulian adalah buah dari karya keselamatan yang dikerjakan Yesus Selama ini, kita jumpai tidak sedikit orang Kristen yang “tidak tahu diri”. Sudah memiliki keselamatan oleh korban-Nya yang berharga, masih saja menuntut banyak hal kepada Tuhan. Kalau kita sudah boleh lepas dari api kekal, maka itu sudah cukup bagi kita. Hendaknya, kita menghayati betapa mahal keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Berangkat dari ini, maka muncul kerinduan untuk membalas kebaikan Tuhan. Orang Kristen yang mencari keuntungan duniawi atau Kristen oportunis tidak akan mengerti kepedulian ini. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, maka praktik menjual nama Yesus sangat mudah terjadi atau dilakukan. Naluri peduli terhadap orang lain akan menyala kuat, tatkala kita menghayati nilai keselamatan yang telah Tuhan berikan. Naluriah untuk memedulikan orang lain akan mengalir terus seiring dengan waktu dari hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kerinduan membalas kasih kepada Tuhan akan menggerakkan kita menyerahkan apa pun yang kita miliki demi kepentingan-Nya. Kalau meminjam kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus, orangorang seperti ini adalah mereka yang tidak menyelamatkan nyawanya sendiri. Dengan demikian, ia akan menjadi hamba Tuhan yang peduli terhadap kepentingan kerajaan Allah. Untuk ini, pertaruhannya adalah segenap hidup. Orang-orang yang rela mengorbankan diri seperti ini adalah orang-orang yang tidak mengasihi nyawanya sendiri. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, maka praktik menjual nama Yesus tidak akan pernah dilakukan. Kepedulian selalu menurut standar Tuhan Kepedulian yang kita selenggarakan harus mengacu kepada kepedulian Tuhan atau mencontoh kepedulian-Nya, sebab kepedulian Tuhan Yesus pasti sempurna. Dasar kepedulian adalah kasih bukan upah. Hal ini telah dimiliki Paulus atau diperagakan olehnya ketika ia berkata: Ini upahku kalau aku boleh melayani tanpa upah (1Kor. 9:18). Kalau dasarnya upah, itu bukanlah kepedulian. Mari kita memeriksa diri, sejauh mana kita telah memiliki kepedulian bagi orang lain dengan dasar ini. Kepedulian juga harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus atau untuk kerajaan Bapa. Bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Inilah yang dimaksud Firman Tuhan: Membawa perawan suci di hadapan Tuhan (2 Kor. 11:2). Bukan sekedar membuat setiap jemaat menjadi anggota gereja yang setia datang ke gereja, tetapi benar-benar mengubah mereka menjadi mempelai Tuhan yang tidak bercela di hadapan Tuhan.


MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 7 : HUBUNGAN DENGAN ALLAH Nats : Yakobus 2:17-18 Banyak orang yang memiliki keyakinan agama sejak kecil karena pengaruh keluarga dan lingkungannya. Mereka belum memahami bahkan tidak tahu sama sekali apa yang dipercayainya tersebut. Hal ini terjadi pula dalam lingkungan komunitas Kristen. Oleh karena orang tua dan lingkungan mengatakan demikian, maka ia mengikut saja. Iman seperti ini belumlah iman yang menyelamatkan. Iman adalah suatu tindakan. Jadi, kalau seseorang mengaku beriman, tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong (Yak. 2:17-18). Banyak orang Kristen berpindah agama sebab mereka tidak mengenal kebenaran Alkitab. Mereka merasa telah memiliki iman, tetapi tidak mengenal apa dan siapa yang diimaninya. Ini berarti iman yang palsu. Persetujuan pikiran memang merupakan langkah awal seseorang belajar mengenal Tuhan yang benar. Tanpa persetujuan pikiran, seseorang tidak dapat melangkah untuk belajar mengenal Tuhan. Tetapi kalau tidak ada tindakan nyata untuk belajar Firman Kristus, maka tidak pernah ada iman yang benar dalam hidup seseorang. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang puas hanya sampai di persetujuan pikiran ini dan tidak ada usaha untuk terus bertumbuh secara benar. Ini terjadi atas orang Kristen “KTP”. Adapun jenis iman yang paling unggul sesungguhnya adalah iman yang menyelamatkan. Iman jenis ini adalah iman yang bertalian dengan keselamatan. Iman di sini bukan sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi berupa tindakan konkret. Inilah iman yang menyelamatkan itu. Iman bicara memikirkan pikiran Allah Dalam memahami kata iman dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek keyakinan terhadap kuasa Allah dan kepercayaan secara pikiran atau persetujuan pikiran yang disebut pula sebagai keyakinan akali atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Umat sebagai subyek yang percaya dan Allah sebagai objek kepercayaannya. Jadi, iman sangat bertalian dengan kualitas hubungan antara umat yang percaya dan Allah yang dipercayai. Kalau iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap. Beriman atau percaya kepada Tuhan juga bukan hanya mengakui status-Nya bahwa Dia Pencipta alam semesta, Allah yang layak dipuji dan disembah dan lain sebagainya. Tetapi juga penyerahan total kepada kehendak-Nya. Penyerahan kepada kehendak-Nya ini akan terekspresi dalam tindakan nyata. Inilah pilar utama iman yang sejati. Iman bicara penurutan akan Kehendak Allah Orang yang memahami kebenaran di atas ini, tidak akan berdoa untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan demikian, ia tidak akan mudah mengklaim kuasa Allah untuk mengalami atau memperoleh mukjizat. Ia memiliki sikap hormat kepada Allah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi atau pemegang kedaulatan satu-satunya, di mana orang percaya harus menundukkan diri sepenuhnya. Hubungan dengan Tuhan tidak akan terbangun harmonis, jika orang percaya merasa memiliki hak untuk mengklaim kuasa Tuhan agar terjadi mukjizat. Orang-orang Kristen yang merasa berhak mengklaim kuasa Allah tanpa mengerti kehendak-Nya dengan tepat adalah orang-orang yang belum dewasa rohani. Sebagai orang Kristen, kita perlu benar-benar memahami kehendak Allah untuk menjalani kehidupan, sehingga setiap langkah yang kita jalani tidak menyimpang dari rencana Allah.


Iman bicara penyerahan diri kepada Allah Beriman kepada Tuhan Yesus berarti menuruti kehendak-Nya. Iman merupakan penyerahan diri sepenuh kepada seluruh kehendak Tuhan secara mutlak. Oleh sebab itu seseorang tidak akan dapat meningkatkan kualitas imannya kepada Tuhan kecuali bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan, yaitu mengenal hakikat-Nya, hikmat-Nya, kebijaksanaanNya, dan rencana-Nya. Sehingga memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah guna dilakukan. Jadi, pertumbuhan yang harus berlangsung atau terjadi dalam kehidupan kita bukanlah pertumbuhan pengenalan akan kuasa-Nya yang bisa melahirkan mukjizat, melainkan pengenalan akan Pribadi Tuhan. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 8 : IMAN YANG SEJATI Nats : Matius 26:39-44 Iman yang sejati adalah iman yang bertumpu pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dan dialami, dan yang Tuhan kerjakan adalah yang terbaik. Ini berarti seorang yang memiliki iman yang sejati tidak akan bersungut-sungut di dalam segala keadaan. Orang percaya yang memahami kebenaran ini, tidak akan memaksakan kehendaknya kepada Tuhan. Ia akan tetap memercayai Pribadi Allah walaupun keadaannya tidak memuaskan hatinya. Ia tetap memercayai Tuhan sekalipun doanya tidak dikabulkan Tuhan. Harus kita sadari bahwa ambisi mengadakan atau mengalami mukjizat adalah godaan besar yang membuat kita cenderung memaksakan kehendak diri sendiri, bukan kehendak Allah. Iman yang sejati ditunjukkan Tuhan Yesus melalui pergumulan-Nya di taman Getsemani dengan pengakuan: Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu lah yang jadi (Mat. 26:39-44). Ketaatan memuaskan hati Bapa Di sini Tuhan Yesus menunjukkan ketaatan-Nya sebagai seorang Anak. Tuhan Yesus dapat memuaskan hati Bapa oleh ketaatan-Nya tersebut. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Ia yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Kehidupan seperti inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita agar iman kita menuju kesempurnaan (Ibr. 12:1-3). Beriman kepada Tuhan tidaklah berdasarkan atas apa yang telah Allah kerjakan menurut selera atau kesukaan kita, tetapi menyerah kepada apa pun yang Tuhan kehendaki harus kita lakukan. Jadi, percaya berarti menyerah kepada Pribadi-Nya. Hal ini ditandai dengan mengerti apa yang diinginkan oleh Allah dalam hidup kita secara pribadi dan melakukannya. Ketaatan terjadi bukan karena sebuah paksaan Ketika orang percaya berbicara mengenai iman, hendaknya tidak terjebak pada kecenderungan menghubungkan iman dengan hal-hal yang spektakuler, yaitu mencabut pohon dengan akar-akarnya dan memindahkan gunung ke laut secara harafiah (Luk. 17:6; Mat. 17:20). Memang tidak tertutup kemungkinan pernyataan Tuhan ini juga dapat berarti secara harafiah, yaitu memindahkan gunung atau mencabut pohon seakar-akarnya dalam arti fisik. Sebab bagi Tuhan tidak ada yang sulit. Tetapi akan lebih memiliki nilai bagi keselamatan jiwa, kalau ayat ini lebih dipahami sebagai kiasan. Kenyataannya, Tuhan Yesus tidak pernah benar-benar mencabut pohon atau memindahkan gunung secara fisik, juga tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Baru maupun dalam sejarah gereja. Lagipula untuk apa pohon tercabut atau gunung dipindahkan? Kalau


hanya untuk demonstrasi kuasa Allah, maka yang juga diuntungkan adalah manusia yang memiliki iman memindahkan gunung (secara fisik) tersebut. Allah yang asli (benar) bukanlah Allah yang perlu bersikap gagah-gagahan supaya dipuji. Ketataan mengajarkan untuk merelakan hidup di tangan Tuhan Dalam ucapan Tuhan mengenai mencabut pohon seakar-akarnya di Lukas 17:6, tidak ada sama sekali unsur kepentingan manusia itu sendiri. Demikian pula dengan tindakan Tuhan Yesus di Matius 21:18-22, yaitu ketika Tuhan mengutuk pohon ara dan berbicara mengenai iman yang dapat memindahkan gunung, hal ini harus dimengerti dengan benar. Tindakan Tuhan membuat pohon ara menjadi kering bertujuan memberi pelajaran kepada murid-murid-Nya, bahwa menjadi pohon harus berbuah, sebab Tuhan menghendaki orang percaya berbuah bagi Dia (Yoh. 15:1-7; Gal. 5:22-23). Buah kehidupan itu pada dasarnya adalah ketaatan kepada Bapa. Oleh sebab itu, pelajaran rohani dari hal pohon ara yang daunnya dibuat kering oleh Tuhan, memindahkan gunung dan mencabut pohon seakar-akarnya, tidak boleh diartikan salah. Hendaknya kita tidak berpikir, bahwa kita diperkenan oleh Tuhan untuk meyakini dalam doa bahwa sesuatu akan terjadi atau kita diperoleh, karena kita meyakini sesuatu itu dapat terjadi. Kita harus terlebih dahulu mengerti kehendak Tuhan atas sesuatu, barulah kita meyakini akan memperoleh sesuatu tersebut. Jika tidak demikian, seakan-akan Tuhan bisa diatur atau dipengaruhi oleh keyakinan dalam pikiran seseorang. Pemikiran keliru ini ada pada banyak orang Kristen sekarang ini yang memiliki definisi iman yang salah. Hal ini sangat berbahaya, sebab dapat mengakibatkan orang-orang Kristen tidak terfokus kepada iman sejati yang menyelamatkan. Tetapi mereka terfokus pada kekuatan pikiran untuk dapat mengatur Tuhan dan memperoleh apa yang diingini. Biasanya yang diingini adalah pemenuhan kebutuhan jasmani atau ambisi pribadi. Sebaliknya, orang yang mengerti kehendak Allah pasti memfokuskan diri pada kesucian hidup dan kekekalan Kerajaan-Nya. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 9 : ROLE MODEL YANG DIBUTUHKAN Nats : Kejadian 1:26 Berbicara tentang kesederhanaan pada bagian sebelumnya, setiap orang percaya sejujurnya membutuhkan sebuah teladan atau role model yang harus dicontoh. Tanpa role model, manusia akan merasakan kebimbangan, karena banyak hal di dunia ini yang sifatnya relatif. Seperti berbicara tentang seorang wanita sebagai istri, ia harus bertanggung jawab kepada suaminya, namun harus tetap berada pada koridor kepantasan. Demikian juga ia sebagai ibu, ada kalanya harus menjadi ibu yang penuh kasih, namun di sisi lain juga harus menjadi ibu yang mampu mendidik dengan keras jika diperlukan. Oleh karena itu, manusia memerlukan role model untuk menjadi pertimbangan dalam memutuskan setiap tindakan yang akan diambilnya. Perihal ini telah terjadi sebagai bagian dari manusia yang diciptakan menurut role model yang sejati, Allah sendiri. Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Harus dipahami, bahwa menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan dari Allah Tritunggal. Kata-kata yang digunakan untuk gambar dan rupa di dalam teks asli Alkitab dalam bahasa Ibrani adalah tselem demuth (ד ְומּת צ ֶל ֶם .(Dua kata ini digabung tanpa kata


penghubung, tetapi kalau secara terpisah tselem sering diartikan sebagai gambar. Kata tselem hendak menunjuk gambar dalam arti bahwa komponen-komponen yang dimiliki Allah yang juga dimiliki manusia yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan, hal ini menunjuk kualitas. Kemudian dalam Kejadian 1:27 tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Di ayat ini Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tidak ada kata keserupaan (demuth). Adapun demuth adalah keserupaan yang menunjuk kepada kualitas atas komponenkomponennya (pikiran, perasan dan kehendak). Kata demuth lebih menunjuk kepada kemiripan (Ing. fashion, like, similitude). Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia ini bukan sesuatu yang sifatnya statis, tetapi progresif. Dan manusia pertama, Adam harus mengembangkan sendiri keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Kemiripan ini (demuth) mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah segambarannya (demuth) saja, yaitu manusia memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth) menjadi tanggung jawab manusia. Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Sampai kapanpun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu tidak hilang yaitu pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Hal ini sama artinya, bahwa Adam belum menemukan gambar diri yang benar atau ideal menurut Tuhan. Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dikehendaki Allah, berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti. Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut. Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum, tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah. Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepada-nya. Kata rupa dan gambar dalam teks aslinya (Kej. 5:3) adalah tselem dan demuth. Set memiliki rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Hal ini hendak menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh Adam segambar dengan “diri Adam” sendiri, sama kualitasnya dengan Adam yang sudah jatuh dalam dosa. Dengan demikian, keturunan Adam tidak pernah melihat atau menemukan sebuah contoh dari gambar diri manusia yang benar atau ideal, karena Adam yang diharapkan menjadi teladan gagal menemukan gambar diri yang sesuai kehendak dan rancangan Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan satu sosok yang dapat menjadi role model gambar diri yang benar. Yesuslah jawabannya.


MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 10 : PERJUANGAN HIDUP MENURUT ROH Nats : Yohanes 16:13 Inti baptisan Roh Kudus adalah kehidupan orang percaya yang diubahkan terus menerus oleh pekerjaan Roh Kudus guna memenuhi rencana Allah Bapa. Rencana Allah Bapa adalah membinasakan pekerjaan Iblis dengan mengubah manusia menjadi sempurna seperti diri Allah Bapa, yang mana telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Ini visi utama Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dan Anak, yaitu agar membawa orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Roh Kudus akan membuka pikiran orang percaya untuk mengenal kebenaran. Kebenaran inilah yang memperbaharui seseorang sehingga tidak serupa dengan dunia (Rm. 12:2). Kebenaran itu juga yang memerdekakan. Roh Kudus menolong orang percaya untuk memiliki kehidupan yang sempurna, seperti tuntutan bagi anak-anak Allah yang harus seperti Bapa (Mat. 5:48). Dipimpin Roh Kudus adalah tindakan Allah mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada orang percaya, baik di dalam batinnya melalui pengajaran Firman (Logos), maupun rhema melalui pengalaman hidup. Dari hal ini nyata fungsi Roh Kudus, yaitu menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Kebenaran itu yang memperbaharui pikiran. Pikiran yang dibaharui membangun mindset atau cara berpikir yang baru pula. Kalau cara berpikir diubah, maka seseorang akan dapat menangkap roh yang baru, yang sesuai pikiran dan perasaan Allah. Dengan penjelasan lain: Hasil dari dipimpin oleh Roh Kudus membuat seseorang dapat menemukan roh (hasrat atau gairah), yang jika hidup menurut roh itu seseorang mengalami perubahan yang sangat radikal, yaitu mengenakan kodrat Ilahi; sebuah cara hidup yang baru sama sekali. Perubahan ini merupakan perubahan permanen, bukan perubahan sementara atau perubahan semu. Kalau ditinjau dari teks aslinya “dipimpin,” menggunakan kata ago (ἄγω). Kata ago memiliki pengertian to lead, take with one, to guide (memimpin, membawa seseorang, menuntun). Sedangkan “menurut roh,” kata menurut adalah kata (κατὰ). Kata kata (κατὰ) sebenarnya adalah sebuah preposisi, tetapi memiliki pengertian “mengikuti, menuruti, sesuai dengan atau melalui.” Memimpin artinya mengarahkan, dalam hal ini Roh Kudus mengarahkan orang percaya. Sedangkan terkait dengan hidup menurut roh, kata “menurut” artinya menyesuaikan. Dalam hal ini orang percaya harus menyesuaikan diri dengan kehendak roh. Roh di sini bukan Roh Kudus, tetapi hasrat atau gairah yang dihasilkan setelah mengalami proses dipimpin Roh Kudus. Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, tetapi hidup menurut hasrat atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hasrat atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah orang percaya secara permanen melalui pimpinan Roh-Nya, sehingga orang percaya memiliki roh Kristus, artinya kualitas karakter seperti Yesus. Sampai pada level ini seseorang secara otomatis selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa dan Tuhan Yesus. Orang percaya yang benar pasti mengalami proses ini. Bagi mereka yang menerima pimpinan Roh Kudus akan memperoleh roh yang seirama dengan roh itu, tetapi mereka yang tidak merespon penggarapan Tuhan melalui pimpinan Roh-Nya, tidak akan mengenal keselamatan yang membawa mereka kepada rancangan Allah semula. Mereka tidak akan pernah mengenal hidup menurut Roh. Tidak pernah mengenal mengenakan kodrat Ilahi. Dan tidak pernah mampu memenuhi apa yang menjadi prinsip


hidup pengikut Tuhan Yesus: “Makananku melakukan kehendak Bapa dan menyeleseaikan pekerjaan-Nya.” Allah yang berdaulat menghendaki agar orang percaya hidup menurut roh. Hal ini mutlak harus dipatuhi. Kemutlakan ini dapat dilihat dalam Roma 8:7-8, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Dari penjelasan ini nampak betapa beratnya menjadi pengikut Yesus atau menjadi orang percaya. Dengan demikian keselamatan sesungguhnya bukan sesuatu yang mudah, bukan murahan. Tetapi perjuangan yang menyita seluruh hidup, agar seseorang mengalami perubahan dari hidup menurut daging menjadi seseorang yang hidup menurut roh. Tentu saja, untuk mengalami perubahan ini respon seseorang sangat menentukan. Jadi, sangatlah keliru kalau kepastian keselamatan ditentukan secara sepihak oleh Allah berdasarkan pilihan-Nya. Sejatinya, Allah memilih dan manusia yang dipilih harus berjuang untuk menjadi orang yang benar-benar terpilih, artinya berjuang untuk mencapai maksud keselamatan diberikan; yaitu hidup menurut roh bukan menurut daging agar menjadi serupa dengan Yesus. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 11 : RELASI DENGAN TUHAN DAN SESAMA Nats : Matius 5:22-24 Dalam Matius 5:22-24, Tuhan Yesus mengatakan: Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Hukum seperti ini sangatlah luar biasa. Kemarahan yang tidak patut dan sikap menuduh yang tidak berdasar, merupakan sikap hati, belum menjadi tindakan yang melanggar moral menurut pengertian umum, tetapi menurut Tuhan bagi anak-anak Allah sudah merupakan tindakan yang membuat seseorang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Dalam hal ini suatu perbuatan dinyatakan sebagai kesalahan bukan hanya tindakan lahiriah yang nyata, tetapi sikap hati yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Tuhan menghendaki agar umat-Nya sebelum berurusan dengan Tuhan harus dalam keadaan hati yang bersih terhadap sesama. Jika tidak, maka segala bentuk ibadahnya menjadi sia-sia. Dalam hal ini ibadah di gereja tidak dapat dipisahkan dari langkah-langkah kehidupan setiap hari. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak berpikir bahwa yang penting adalah ke gereja dan melakukan seremoni, tetapi sesungguhnya sikap hati terhadap sesama memainkan peranan penting dalam relasi dengan Allah. Tuhan menghendaki perdamaian dengan semua orang, artinya hidup tanpa musuh dengan siapa pun. Terkait hal relasi dengan sesama, Tuhan Yesus juga berkata: Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari


padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat. 5:38-44). Pernyataan Tuhan ini sangat luar biasa. Sikap mengalah, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan adalah keistimewaan dalam Kekristenan yang tidak terdapat dalam agama lain. Dalam hal ini jelas orang Kristen tidak akan menjadi teroris terhadap orang lain dan tidak memaksakan agamanya terhadap orang lain. Tuhan Yesus juga menegaskan hal ini dalam Matius 5:46-47, apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Dari pernyataan ini sangat jelas sekali bahwa orang percaya harus memiliki keadaan yang unggul dan luar biasa dalam berkelakuan melebihi semua manusia di sekitarnya, bahkan melebihi tokoh-tokoh agama manapun. Dari hal ini, sangatlah jelas bahwa orang percaya harus berjuang untuk bertumbuh menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah atau menjadi berkenan kepada-Nya. Perjuangan memiliki keadaan yang unggul atau luar biasa ini adalah respon terhadap anugerah Allah, bukan usaha untuk mencapai keselamatan. Setelah selamat, maka seseorang harus masuk proses menjadi manusia unggul atau luar biasa ini. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 12 : MENGASIHI TUHAN Nats : 1 Petrus 1:17-18 Sejatinya, ketika seseorang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka ia akan berhenti dari segala pencarian dan pengembaraan hidup. Tidak ada lagi yang menarik dalam hidup ini yang menjadi keinginannya, selain berusaha menyenangkan hati Tuhan. Tuhan seperti magnet yang sangat kuat menarik hidup dan segala kegiatannya. Segala sesuatu yang dilakukan pasti ditujukan bagi Dia. Hal ini tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan lengkap dan tidak akan pernah bisa dimengerti sampai seseorang benarbenar mengalaminya sendiri. Dengan mengalami hal ini berarti seseorang sudah menemukan kekayaan hidup atau menemukan hidup itu sendiri. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa seseorang bisa memiliki kehidupan tanpa mengasihi Tuhan dengan benar, sebab ia akan menjadi sampah abadi dan binasa dalam api kekal. Hal ini sama dengan di-“terminate,” to put an end (diakhiri, dihentikan) atau dirusak untuk ditiadakan. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak merasa sudah memiliki anugerah hanya karena merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Ingatlah, keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula, dalam hal ini rancangan semula-Nya adalah menjadikan manusia menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dengan segenap hidup. Jika belum mencapai hal ini berarti anugerah belum dimiliki. Tuhan menebus kita supaya kita keluar dari cara hidup yang sia-sia (1 Ptr. 1:17-18), dengan berusaha menjadi manusia seperti yang dikehendaki-Nya. Menjadi manusia seperti yang dikehendaki Allah adalah bersekutu dengan Dia; bukan untuk bisa memanfaatkan Tuhan dalam menjalani hidup dengan caranya sendiri, tetapi menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi sehingga melakukan segala sesuatu demi kepentingan Tuhan semata-mata. Jadi, orang yang tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, berarti ia tidak mengasihi dirinya sendiri. Hal ini sama artinya dengan membinasakan dirinya


sendiri. Banyak orang mengasihi diri sendiri secara salah, yaitu menghiasi diri dengan berbagai perhiasan, memenuhi diri dengan segala fasilitas, dan berusaha menarik orang untuk menghormati dirinya. Sikap seperti ini justru mencelakakan dirinya sendiri. Orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri adalah orang yang tidak akan dapat mengasihi sesama manusia, sebab untuk mengasihi orang lain dasar atau pijakannya adalah dengan mengasihi diri sendiri. Itulah sebabnya hukum kedua yang dikatakan “sama dengan itu” (mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi) adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Mat. 22:37-40). Tidak mengasihi sesama berarti “pembunuh.” Seorang pembunuh tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga, dan dengan cara inilah seseorang tidak mengasihi diri sendiri. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi tidak cukup diwujudkan hanya dengan memeluk suatu agama dan membela agama tersebut. Seakan-akan Allah membutuhkan seseorang untuk berpihak kepada-Nya dan berjuang demi agamanya supaya ditegakkan, serta mencari sebanyak mungkin pengikut. Biasanya kelompok ini rela melakukan kekerasan demi kepentingan agamanya, seakan-akan Allah merestui tindakan kekerasan demi kepentingan-Nya. Kalau dalam Kekristenan terdapat orang-orang yang mengupayakan sebanyak mungkin orang beragama lain menjadi orang Kristen, hal itu karena mereka berkeyakinan bahwa dengan mengaku percaya secara akali kepada Tuhan Yesus maka diselamatkan terhindar dari neraka. Selain itu selama hidup di dunia akan diberkati dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan perlindungan-Nya. Dalam pengertian ini seakan-akan Tuhan sudah cukup merasa puas dengan banyaknya orang menjadi Kristen, tidak pergi ke dukun dan terlibat dengan praktik okultisme. Sebenarnya ini adalah pikiran yang salah. Kita harus memformat ulang Kekristenan dan pelayanan gereja yang salah ini. Kekristenan harus fokus pada penyempurnaan pribadi terlebih dahulu. Sebenarnya yang terpenting adalah orang percaya dipanggil terlebih dahulu untuk mengasihi Tuhan dengan tidak menghargai dunia lebih dari sekadar “mengkristenkan” orang beragama lain. Kita harus sungguh-sungguh menyadari bahwa dunia dengan segala keindahan-Nya adalah semu belaka. Harta dunia adalah mamon yang tidak jujur dan tidak bisa dipercayai, artinya untuk sementara saja harta tersebut bisa menopang. Untuk itu suasana jiwa kita harus mulai diubah, bahwa yang dapat membahagiakan hati bukanlah fasilitas, tetapi pengharapan suatu hari nanti akan bertemu dengan Tuhan (1Ptr. 1:3-5). Selanjutnya berusaha untuk mulai mengaktifkan nuraninya, untuk mengetahui apakah yang dilakukan benar-benar menyenangkan hati Tuhan atau sebenarnya untuk menyenangkan diri sendiri. Bukan tidak mungkin ketika seseorang melakukan pelayanan gereja seperti melakukan penginjilan, sebenarnya ia sedang mencari keuntungan pribadi. Hal ini sudah terbukti, tidak sedikit kegiatan pelayanan adalah usaha mencari nafkah. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 13 : MENEMUKAN HATI BAPA Nats : Yohanes 14:9 Pada dasarnya, mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah sama dengan menemukan hati Bapa. Menemukan hati Bapa sama dengan menjadi anak kesayangan dan anak kesukaan Allah karena melakukan kehendak dan rencana-Nya. Menemukan hati Bapa artinya bisa menikmati Allah Bapa dan dinikmati oleh Dia. Menemukan hati Bapa adalah relasi berkualitas antara Bapa dan anak-anak Allah sebagaimana mestinya yang diinginkan oleh Bapa. Relasi yang diinginkan Bapa bisa terjadi


dalam hidup setiap orang percaya, yaitu kalau orang percaya tidak lagi merasa memiliki sesuatu yang dapat membahagiakan hidup kecuali kehadiran Bapa dalam hidupnya. Mestinya tidak ada lagi yang orang percaya perjuangkan untuk dimiliki selain mengerti kehendak Bapa dan melakukan kehendak Bapa. Hal ini satu-satunya yang bisa menyenangkan hati Bapa. Bapa menghendaki agar orang percaya sebagai anak-anak-Nya menemukan hati Bapa, karena memang orang percaya adalah anak-anak-Nya. Sesungguhnya, ini adalah hal yang lebih luar biasa dari segala hal. Sesungguhnya, Bapa yang sering disebut-sebut dalam doa dan nyanyian-nyanyian adalah Pribadi yang hidup dan mestinya sangat nyata, sehingga orang percaya dapat merasakan dan mengalami-Nya secara berlimpah. Banyak orang Kristen menyebut nama Bapa hanya sebuah fantasi dalam pikiran mereka. Bahkan mereka bisa berbicara banyak mengenai Bapa dan mendiskusikan-Nya, tetapi Bapa hanya menjadi wacana di nalar mereka semata-mata. Sejatinya, mereka tidak mengalami dan tidak bersentuhan dengan Bapa sama sekali. Pengetahuan teologi mengenai Bapa sekadar wacana yang tidak pernah dialami dalam kehidupan konkret; hanya tersimpan secara literal. Orang percaya yang berusaha mengalami realita Bapa—sama dengan berusaha mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah— dapat menemukan hati Bapa. Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki hubungan yang berkualitas baik dengan Bapa, padahal hubungan mereka belum berkualitas sama sekali atau belum proporsional atau belum dewasa. Hubungan mereka dengan Bapa hanya sama seperti hubungan anak balita dengan ibunya. Mestinya, orang percaya bertumbuh sampai mengerti kehendak Bapa, sehingga yang dipersoalkan dalam berurusan dengan Bapa bukan lagi kebutuhan-kebutuhan dan berbagai masalah pribadi, tetapi bagaimana menemukan kehendak Bapa untuk dilakukan dan kehadiran Roh-Nya untuk dinikmati sejak hidup di bumi sampai menutup mata nanti. Orang yang menemukan hati Bapa, tidak lagi merasa bahwa dunia ini rumahnya. Orang percaya seperti ini memiliki kerinduan yang sangat kuat pulang ke rumah Bapa. Selain merindukan kehadiran Bapa di rumah-Nya, juga bisa bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus. Ketika hati seseorang tertarik kepada sesuatu yang membuatnya tidak memedulikan perasaan Bapa, sesungguhnya dirinya memiliki bapa yang lain. Mereka mengikatkan hatinya kepada banyak hal yang dijadikan berhala, tetapi mereka merasa hal itu sebagai kewajaran, karena semua orang juga melakukan hal tersebut. Mereka merasa berhak memiliki kesukaan tanpa mempersoalkan apakah Bapa menyukai hal tersebut atau tidak. Dengan cara hidup seperti itu, mereka tidak membangun sikap hati atau kecerdasan untuk menemukan hati Bapa. Orang tersebut menyakiti hati Bapa, seperti yang telah dilakukan banyak orang Kristen yang tidak setia. Kalau orang tersebut tidak bertobat, maka suatu saat Tuhan akan menghukum dan mencampakkan mereka ke dalam kegelapan, terpisah dari hadirat Bapa selamanya. Kalau malaikat-malaikat yang memberontak kepada Allah saja tidak disayangkan, mereka dicampakkan dari hadapan Tuhan, maka orang-orang yang tidak setia juga akan diperlakukan sama. Orang-orang Kristen seperti itu tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dan tidak hidup dalam pemerintahan-Nya. Banyak orang Kristen tidak menyadari betapa istimewa menjadi anak-anak Allah yang berpotensi menemukan hati Bapa. Allah Bapa memberikan Roh-Nya agar orang percaya belajar bagaimana menemukan hati Bapa; menjadi bagian dari anggota keluarga Kerajaan Allah. Orang percaya harus menghargai anugerah yang diberikan ini. Kalau orang percaya mengerti betapa mulia penunjukkan diri mereka sebagai umat pilihan, maka keindahan dunia ini menjadi tidak ada artinya sama sekali. Mereka akan bersedia meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Orang yang menemukan hati Bapa, melakukan segala sesuatu hanya untuk kemuliaan Bapa.


Kalau orang percaya melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah, di mana semua yang dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Bapa, maka orang percaya akan menerima kemuliaan bersama Tuhan Yesus. Ini adalah janji yang Bapa berikan kepada Yesus, Putra Tunggal-Nya, juga kepada orang percaya yang menderita bersama-sama dengan Yesus. Jika hati orang percaya fokus pada rencana Bapa tersebut, maka secara tidak langsung ia mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dan menemukan hati Bapa. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 14 : MELALUI PROSES Nats : Matius 19:22 Pada umumnya orang meyakini dan memahami cara Allah mengeraskan hati atau melembutkan hati seseorang,yaitu dengan cara berintervensi ke dalam jiwa manusia, dan mengeraskan hati atau melembutkannya. Fenomena seperti ini dapat disebut fenomena spektakuler atau bisa juga bersifat mistis. Dengan demikian, menurut mereka, banyak tindakan Tuhan yang tidak bisa dimengerti, karena tindakan-tindakan-Nya di luar kemampuan manusia memahaminya. Jika hal ini benar, berarti keadaan jiwa manusia adalah sesuatu yang dapat diubah dalam sekejap tanpa mekanisme, tatanan, dan aturan yang jelas. Pada kenyataannya (fakta empiris), dalam kehidupan ini, perubahan yang berkaitan dengan karakter atau watak selalu melalui proses; sangat tidak mungkin orang bisa menjadi baik secara mendadak atau menjadi jahat secara mendadak pula. Bila ada yang bisa menjadi keras hati secara mendadak, ini yang disebut sebagai mistis. Hal-hal yang bersifat mistis dan transenden ini adalah hal-hal yang sudah terbiasa menghiasi kehidupan orang beragama. Tidak heran kalau ada doa yang berbunyi: “Ubah hatiku Tuhan”. Mereka berharap secara mistis ajaib hatinya bisa berubah oleh kuasa Tuhan. Jika ini bisa terjadi, maka Tuhan tidak perlu memberi Amanat Agung-Nya kepada orang percaya untuk memuridkan orang percaya, tidak perlu adanya pembaharuan pikiran dan proses pendewasaan. Tuhan tidak bekerja secara demikian dalam mengubah karakter atau watak seseorang. Tuhan mengubah melalui respons Tuhan mengubah manusia selalu melalui proses, demikian pula dengan iman yang bisa timbul di hati seseorang. Tidak timbul secara mistis, tetapi ada pemberitaan Firman yang harus didengar, dan masing-masing individu harus meresponinya secara benar. Dalam perubahan karakter dan kehidupan iman, respon seseorang terhadap anugerah Allah harus dimainkan secara benar, artinya intensif dan berkesinambungan. Tidak seperti sebuah titik, tetapi seperti sebuah garis panjang. Dalam hal ini ketekunan seseorang sangat berperan. Perjumpaan Nikodemus dengan Tuhan Yesus tidak menghasilkan iman di hati pemimpin agama ini. Jarang Tuhan memberi waktu dan kesempatan yang berharga untuk seorang tokoh agama Yahudi seperti kepada Nikodemus ini (Yoh. 3). Walaupun Tuhan Yesus sudah melakukan percakapan langsung dengan Nikodemus, dan mengajak atau menghimbau Nikodemus untuk mengalami kelahiran baru, tetapi Nikodemus menolaknya (Yoh. 3:7). Ini bukan karena Tuhan tidak menggerakkan hati Nikodemus untuk percaya dengan benar. Dalam hal ini, kelahiran baru bukan sesuatu yang dikerjakan Tuhan secara sepihak, harus ada respon individu. Respon negatif seperti Nikodemus juga ditunjukkan oleh orang kaya dalam Matius 19, sehingga tidak menghasilkan kelahiran baru yang menyelamatkan. Tuhan sudah memberi kesempatan mengadakan percakapan, tetapi orang kaya itu tidak memberi ruang hidupnya bagi Tuhan. Orang kaya ini menolak menjual segala miliknya, membagikan kepada orang miskin dan mengikut Tuhan Yesus. Ia menolak bukan karena hatinya dikeraskan, tetapi


karena ia tidak bersedia melepaskan hartanya (Mat. 19:22). Ia pergi dengan sedih karena tidak beroleh hidup kekal, ia lebih memilih hartanya. Berbeda dengan perjumpaan Saulus (Paulus) dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke kota Damsyik -ketika Paulus memburu orang Kristen untuk dianiaya- menghasilkan iman dan pertobatan yang benar (Kis. 9). Tentu hal ini tidak disebabkan oleh adanya faktor-faktor di luar diri Saulus, seperti misalnya Tuhan berintervensi ke dalam jiwa Saulus. Firman Tuhan tidak menulis bahwa Tuhan yang menggerakkan hati Saulus (Paulus) untuk bertobat dan meresponi Tuhan Yesus dengan respon yang benar. Paulus sendiri yang meresponi tindakan Tuhan dengan respon positif, tentu dari dalam dirinya sendiri. Inilah kehendak bebas tersebut. Tuhan mengubah melalui pengalaman Latar belakang seseorang juga menentukan responnya terhadap Tuhan dan tindakannya. Saulus seorang pecinta Yudaisme yang fanatik. Ia berusaha membela Allah (Elohim Yahweh) dengan segenap hati. Tidak segan-segan melakukan pembantaian dan pembunuhan terhadap sekte-sekte yang dianggap menciderai Elohim Yahweh. Pengikut Yesus dianggap sebagai komunitas yang menciderai Yahweh. Itulah sebabnya ia berusaha memunahkannya. Ia dengan tulus membela Allah (Yahweh) yang diyakini sebagai satusatunya Allah yang benar yang disembah nenek moyangnya. Saulus tidak munafik. Saulus memiliki integritas yang baik, tetapi dalam ketidaktahuan terhadap kebenaran. Ia tidak tahu bahwa yang dilawan adalah Yahweh sendiri. Itulah sebabnya Allah memberikan tindakan khusus kepadanya. Selanjutnya, ketika Paulus mengikut jalan Tuhan, ia tidak takut menghadapi pengucilan, aniaya bahkan kematian. Hal ini menunjukkan integritasnya yang sangat baik. Berbeda dengan Nikodemus yang satu sisi masih mau memiliki kehormatan sebagai pemimpin agama (Yudaism), tetapi di pihak lain ia juga mengakui kebenaran Rabi dari Nazareth yang dicap oleh para pemimpin agama Yahudi sebagai sesat. Ia bermuka dua. Tidak bersedia menerima Yesus sebagai utusan Allah secara konsekuen, tetapi juga tidak menolakNya. Ini sikap berkhianat terhadap komunitasnya sendiri. Nikodemus sosok orang yang tidak memiliki integritas. Ia mendengar langsung apa yang diajarkan Tuhan Yesus, tetapi ia tidak memercayai dengan sikap percaya yang benar. Hal ini menunjukkan dengan jelas, bahwa keadaan individu yang melahirkan keputusan, yang menentukan nasib atau keadaan seseorang. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 15 : BERJUANG MEMAHAMI KEHENDAK TUHAN Nats : Efesus 1:11 Dalam kasus Nikodemus dan Paulus dapatlah diambil kesimpulan bahwa seseorang meresponi anugerah Tuhan tidak lepas dari latar belakangnya. Tentu latar belakang seseorang juga tidak lepas dari respon-responnya terhadap setiap peristiwa yang dialami, segala sesuatu yang didengar dan dilihatnya. Tentu saja Tuhan yang adil tidak akan berniat menggiring seseorang kepada kebinasaan dan yang lain kepada keselamatan kekal. Dalam hal di atas tersebut, jelaslah bahwa Tuhan tidak berintervensi ke dalam jiwa manusia secara mutlak dan mengendalikan secara penuh sehingga pilihan dan keputusan seseorang berdasarkan skenario Tuhan. Tetapi masing-masing individu bertanggungjawab dalam mengambil keputusan dari kehendak bebasnya. Jadi, sangatlah keliru kalau seseorang berpendapat bahwa Tuhan memilih Paulus, tetapi tidak memilih Nikodemus. Tuhan memaksa Saulus bertobat, tetapi tidak memaksa Nikodemus bertobat. Dalam keadilan Tuhan, Ia bertindak sesuai dengan porsi dan keadaan masing-masing individu.


Tuhan memberikan kehendak bebas Fakta yang dapat dilihat, banyak orang-orang beragama meyakini bahwa Allah secara mistis atau ajaib mengubah jiwa seseorang secara mendadak (instant). Kisah-kisah seperti ini ada dalam banyak legenda dan mitos. Hal ini bisa dimengerti sebab dalam hampir semua agama terdapat keajaiban-keajaiban yang diyakini dilakukan oleh allah atau dewa yang disembah. Tidak ada agama yang menyembah Allah yang transenden tanpa hal-hal yang bersifat keajaiban dan mistis. Pemikiran mengenai pribadi ilah atau dewa yang disembah yang bersifat misteri sudah mengakar dalam pikiran banyak orang. Seakan-akan dalam kedaulatan tingkat tertentu atau tidak terbatas dari ilah atau dewa mereka, dewa-dewa atau ilah mereka bisa bertindak semaunya tanpa dimengerti oleh umat. Umat hanya menerima saja tanpa harus mengerti dan mempersoalkan alasannya. Mereka pun pada umumnya menerima saja hal tersebut, sebab bagi mereka yang penting illah atau dewa mereka memberi kontribusi yang umat ingini dalam kehidupan di dunia ini. Illah atau dewa mereka biasanya juga dipandang tidak terlalu mempersoalkan bagaimana gaya hidup umat. Hal ini berbeda dengan keadaan umat Tuhan, Tuhan sangat mempersoalkan gaya hidup mereka, sebab umat di bumi hanya dipersiapkan untuk memasuki Kerajaan Surga, sebagai anggota keluarga Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus menjadi seperti diri Tuhan sendiri. Tuhan memang transenden, tetapi tindakan-tindakan-Nya pasti memuat kebenaran atau hikmah yang dapat dimengerti dan dapat menuntun umat Tuhan kepada kehendak dan jalan-Nya, sebab Tuhan yang transenden berurusan dengan manusia yang imanen (berada dalam jangkauan kesadaran dan akal manusia yang terbatas). Itulah sebabnya, Allah turun menjadi manusia agar dapat memberi petunjuk dengan jelas bagaimana manusia menyelenggarakan hidupnya. Tuhan memberikan pengenalan akan diri-Nya Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak seorang pun mengenal Bapa, selain Anak, dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat. 11:27). Pengetahuan mengenai Bapa dan Anak maksudnya adalah bagaimana umat menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan di tempat yang pantas dalam hidup ini. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan tidak bermain teka-teki yang rumit dan tak terpahami dalam berurusan dengan umat. Hendaknya jangan karena Tuhan adalah Tuhan yang transenden, maka dalam memahami tindakan Tuhan yang berkenaan dengan manusia juga serba transenden. Tindakan Tuhan menyangkut keadaan manusia di bumi ini -apalagi keadaan di kekekalan nanti- harus dimengerti bukan sebagai sesuatu yang misteri. Tuhan pasti menyatakan kebenaran dari kehendak-Nya, dan umat harus berjuang untuk memahaminya dengan benar. Sebab kalau tindakan Tuhan yang berkenaan dengan kehidupan umat-Nya seperti teka-teki yang tidak bisa dipahami, maka umat berjalan dalam gelap. Tuhan memberikan kesempatan untuk mengerti kehendak-Nya Umat tidak tahu dengan tepat bagaimana harus bersikap terhadap Tuhan. Hal ini sangat mengerikan. Tuhan yang Maha Bijaksana tidaklah demikian. Walaupun Ia transenden, tetapi tindakan-tindakan-Nya pasti dipahami oleh umat yang juga adalah anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, sebagai umat dan anak-anak-Nya, kita harus mengerti apa, bagaimana dan mengapa Allah melakukan suatu tindakan, sebab umat harus sempurna seperti Bapa. Kekristenan adalah jalan hidup yang luar biasa. Alkitab yang menjadi “the way of life” umat pilihan, menyajikan Allah yang transenden tetapi dalam berurusan dengan manusia yang imanen, tindakan-Nya pasti memuat kebenaran yang memberi pelajaran, agar manusia


yang hidup kemudian hari setelah zaman Alkitab ditulis dapat menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan, dan memperlakukan Tuhan secara benar. Pengenalan tersebut sangat menentukan kualitas hidup dan relasinya dengan Tuhan serta respon-responnya terhadap Tuhan dan tindakan-Nya. Hal ini sangat menentukan kualitas dari iman dan proses perubahan karakter yang dialami seseorang. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 16 : BERBUAH SEPERTI YESUS Nats : Lukas 16:11 Tuhan Yesus mengatakan agar manusia takut akan Allah yang berkuasa bukan saja membunuh tubuh, tetapi juga yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Takut akan Allah pasti diwujudkan secara konkret dalam kehidupan ini dengan melakukan kehendak-Nya. Kenyataan yang kita temukan dalam kehidupan orang Kristen, jangankan melakukan kehendak-Nya, mengerti kehendak-Nya saja tidak. Bagaimana bisa mengerti kehendak-Nya kalau tidak memiliki kecerdasan roh atau kepekaan? Bagaimana memiliki kepekaan kalau tidak belajar Injil dengan benar? Belajar Injil dengan benar artinya tekun dan sungguhsungguh berani mengorbankan yang lain, lebih dari mengasihi dunia ini. Orang yang mengasihi dunia pikirannya menjadi gelap, ia tidak akan bisa mengerti kebenaran (Luk. 16:11). Dengan pikiran gelap, maka gaya hidupnya pun tidak sesuai dengan standar Allah. Orang-orang yang berada di bawah standar Allah ini, tidak akan bisa berjalan dengan Tuhan (hubungannya dengan Allah tidak harmonis). Mereka belum bisa bersekutu dengan Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan belum berdamai dengan Allah. Mengikut Yesus membutuhkan respons yang benar Dalam hal ini perdamaian dengan Allah bukan saja pengakuan atau status, tetapi sebuah keberadaan konkret di mana seseorang bersekutu dengan Tuhan secara harmoni. Itulah sebabnya kalimat “diperdamaikan dengan Allah” menuntut respons dari kedua belah pihak. Allah menyediakan fasilitas pendamaian, dan manusia merespons dengan tanggung jawab. Persoalan paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan ada buah yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku, dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya,” memiliki natur melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk seseorang bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah. Mengikut Yesus menghasilkan buah yang benar Dalam perumpamaan mengenai penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama, adalah orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Kuasa antikris -yaitu ajaran atau agama yang menolak Yesus adalah Tuhan- telah mengunci pikiran mereka atau membutakan pengertian mereka sehingga mereka tidak pernah bisa menerima Tuhan Yesus Kristus.


Kelompok kedua, adalah mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya karena telah terikat dengan percintaan dunia, sehingga tidak berani mengalami aniaya. Perlu dipahami bahwa pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih memilih untuk menyelamatkan nyawanya daripada kehilangan nyawanya. Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah, tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata “matang” dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσυορέω), yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Ini adalah kelompok orang-orang Kristen yang masih membagi hatinya terhadap dunia ini, sehingga kebenaran Firman Tuhan tidak bisa sepenuhnya bertumbuh. Kelompok keempat, adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah, seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotongnya, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Inilah orang-orang yang rela meninggalkan segala sesuatu untuk mengiring Yesus, orang-orang yang tidak memperhitungkan dunia dengan segala hiburannya dapat membahagiakan dirinya. Dalam Lukas 13:6-7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikeratnya saja. Dalam perumpamaan ini Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya. Sesungguhnya inilah damai sejahtera yang sesungguhnya. Bukan berapa banyak harta dan kekayaan serta jabatan, tetapi apakah kita dalam kehidupan setiap saat menyukakan hati Bapa dengan berbuah seperti kehidupan Yesus. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 17 : DIPIMPIN OLEH TUHAN Nats : 2 Korintus 6:17-18 Firman Tuhan mengatakan bahwa kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Theos) oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus (Rm. 5:1). Dibenarkan di sini artinya dianggap tidak memiliki halangan untuk menjumpai Allah. Orang yang dibenarkan berpotensi memiliki hubungan dengan Dia. Orang yang dibenarkan adalah orang yang dianggap layak untuk bersekutu dengan Bapa. Bersekutu di sini artinya setiap saat seseorang bisa memanggil Bapa dalam doa dan bergaul dengan Allah melalui Roh Kudus. Hal ini hanya bisa terjadi pada umat Perjanjian Baru. Kalau umat Perjanjian Lama, mereka tidak memiliki anugerah atau kasih karunia ini. Di zaman sebelum zaman anugerah, hanya imam besar yang dapat menjumpai Elohim Yahweh. Itupun hanya satu kali dalam setahun. Dipimpin oleh Tuhan memberikan damai sejahtera Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah di atas maksudnya adalah hidup dalam persekutuan atau kebersamaan dengan Allah secara harmoni. Keharmonisan tersebut tentu


dalam satu syarat atau kondisi bahwa dua pihak merasa nyaman atau damai. Dua pihak tersebut adalah pihak kita manusia dan pihak Allah. Selama ini banyak orang Kristen yang merasa telah memiliki damai sejahtera dengan Allah (Theos atau Bapa), bisa menyampaikan doa dan permintaan dan memuji serta menyembah nama-Nya. Tetapi mereka tidak mempertimbangkan apakah Allah merasa nyaman dalam persekutuan tersebut atau tidak. Ini adalah orang-orang Kristen yang tidak dewasa, yang masih egois dan oportunis. Mereka tidak mengerti dan tidak menjaga perasaan Allah. Memang untuk orang Kristen baru, Allah tidak menuntut keadaan orang tersebut sempurna dan dapat menyukakan hati-Nya, tetapi setelah dalam kurun waktu tertentu menjadi umat pilihan, seharusnya seseorang sudah memiliki keberadaan yang bisa mengimbangi kekudusan Allah. Jika tidak, maka tidak dapat berjalan seiring dengan Allah dan hal itu akan selalu mendukakan hati-Nya. Dipimpin oleh Tuhan menentang dosa Mempelajari hal tersebut di atas, maka bisa dimengerti mengapa dalam 1 Petrus 1:14- 16, Firman Tuhan mengatakan: Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Di bagian lain dalam Alkitab, rasul Paulus menulis: Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” (2 Kor. 6:17-18) Dipimpin oleh Tuhan menyelaraskan pikiran kita dengan pikiran-Nya Hidup dalam damai sejahtera dengan Allah sama dengan hidup berdamai atau perdamaian atau keharmonisan dengan Allah. Dalam perdamaian tersebut ada proses penyesuaian antara dua pribadi. Pribadi Bapa dan pribadi kita. Tentu bukan Bapa yang menyesuaikan diri terhadap kita, tetapi kita yang harus menyesuaikan diri terhadap Bapa. Hal ini sejajar dengan pernyataan bahwa hanya orang-orang yang dipimpin oleh Roh yang disebut anak-anak Allah (Rm. 8:14). Kata dipimpin di sini dalam teks aslinya adalah ago (ἄγω), yang sama artinya dengan menuntun. Bukan kita yang menuntun Bapa, tetapi Bapa melalui Roh Kudus yang menuntun kita. Kalau seseorang tidak hidup dalam tuntunan Allah, maka berarti ia tidak menyesuaikan diri terhadap Bapa. Ini sama artinya dengan menolak kasih karunia, sebab tidak bersedia membangun hubungan yang harmoni dengan Bapa. Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah, seperti gaya hidup Abraham. Iman bukan hanya mengakui dan memercayai dalam pikiran bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 18 : KETENANGAN SEJATI Nats : Yakobus 4:13-17 Semua manusia pasti mencari apa yang disebut sebagai ketenangan, artinya sebuah keadaan tanpa masalah yang menyakitkan. Ternyata pencarian itu tidak pernah berakhir, sebab ketenangan itu tidak pernah diperoleh. Sebab mereka melakukan kesalahan seperti orang kaya yang tertulis dalam Lukas 12:16-20. Kesalahan itu disebabkan dua prinsip hidup,


pertama adanya filosofi “aku ingin” atau “aku mau.” Kedua, “bersenang-senanglah, hai jiwaku.” Pencarian ketenangan semakin jauh bahkan tidak akan memeroleh, kalau hasrat “aku ingin atau aku mau” semakin kuat dan harapan untuk memperoleh ketenangan jiwa berlandaskan fasilitas tersebut tidak pudar. Dengan cara inilah manusia tertipu oleh dunia dan kuasa kegelapan. Untuk mendapatkan perhentian, prinsip hidupnya harus diubah, dari “aku ingin” diganti dengan “apa yang Tuhan kehendaki.” “Bersenang-senanglah, hai jiwaku” menjadi “senangkan hati-Mu ya, Tuhan.” Di singkatnya hidup ini, yang harus diutamakan adalah apa yang Tuhan kehendaki, ini sama dengan “jika Tuhan menghendaki.” Semua yang dilakukan harus sesuai dengan keinginan Tuhan (Yak. 4:13-17). Dalam hidup ini tidak ada yang baik selain “membuat hati Tuhan senang.” Sebab memang manusia diciptakan untuk kesenanganNya. Ketenangan sejati dimulai dari menyerahkan hidup pada Tuhan Zaman anugerah adalah zaman di mana Tuhan membuka tangan-Nya untuk menyambut manusia untuk masuk menjadi anggota keluarga-Nya. Hendaknya tidak salah dimengerti, seakan-akan zaman anugerah adalah zaman di mana surga mudah dicapai tanpa usaha untuk berkenan di hadapan Tuhan. Hendaknya orang percaya tidak berpikir dangkal seakan-akan dengan percaya dalam pikiran, otomatis dapat dibenarkan. Pembenaran hanyalah oleh iman (Rm. 3:24,28, 5:1,9; dan lain-lain). Sebenarnya, iman artinya penyerahan diri kepada obyek yang dipercayai. Obyek itu adalah Tuhan Yesus. Pembenaran bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena mengikut Tuhan Yesus. Bagi jemaat Roma yang mengalami aniaya hebat, mereka tidak memiliki Taurat dan korban penghapus dosa dengan darah domba, tetapi mereka memiliki Tuhan Yesus yang menebus dosa dan mengikut jejak-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa. Mereka rela menderita seperti yang Tuhan Yesus alami dan mengenakan gaya hidup menyukakan hati Bapa seperti Tuhan Yesus. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa orang yang dibenarkan memiliki ciri: prinsip dan gaya hidup hidup seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mengikut Dia harus melepaskan diri dari segala miliknya. Segala milik ini dapat diwakili oleh satu kata: “keinginan.” Sekilas hal ini mustahil, tetapi kalau Tuhan memberikan perintah, maka Tuhan akan memampukan untuk melakukannya. Untuk ini, tidak ada yang dapat melatih dan menolong orang percaya untuk dapat melakukannya selain Tuhan Yesus, oleh karenanya Tuhan berkata: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:28-29). Ketenangan sejati ketika setiap aspek hidup kita hanya demi kemuliaan-Nya Kelegaan di sini adalah perhentian (Yun. anapauso; ἀναπαύσω), yang artinya tidak memiliki keinginan apa-apa lagi, kecuali hidup seperti yang Tuhan Yesus peragakan. Untuk itu Tuhan Yesus berkata: “Belajarlah pada-Ku.” Belajar apa? Kalau hanya menjadi orang baik tidak perlu belajar dari Tuhan Yesus, Taurat bisa membantu dan memandu. Tuhan Yesus mengajarkan gaya hidup-Nya. Ketika seseorang mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus, maka ia menjadikan Tuhan Yesus sebagai perhentiannya. Jadi, perhentian orang percaya bukan hari atau sesuatu yang lain, tetapi Tuhan Yesus sendiri. Banyak orang menawarkan kelegaan yang keliru. Mereka mengajarkan bahwa kelegaan tersebut sekadar terlepas dari masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Merasa lega sudah sembuh dari sakit, lega sudah memiliki rumah pribadi, lega sudah mendapat penghasilan yang baik, lega sudah mendapat jodoh, lega karena masalah berat


sudah selesai, dan lain sebagainya. Kelegaan seperti ini bukanlah kelegaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus. Kelegaan semacam itu adalah kelegaan yang dicari oleh anak-anak dunia. Orang percaya diajar merasakan kelegaan di tengah-tengah suasana sulit bagaimanapun juga. Justru di sini orang percaya bisa membuktikan bahwa damai sejahtera Tuhan adalah damai sejahtera yang melampaui segala akal. Jika seseorang sudah merasakan damai sejahtera Allah yang sejati yang melampaui segala akal tersebut, maka ia tidak akan mengingini yang lain. Tujuan hidupnya adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Tentu saja untuk mencapai level ini seseorang harus terus menerus mengalami pembaharuan pikiran dan pergaulan pribadi dengan Tuhan. Orang percaya yang menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai tujuan, akan berusaha untuk mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus guna menyukakan hati Bapa. Tidak mungkin seseorang yang menikmati damai sejatera Tuhan tidak memiliki kerinduan untuk serupa dengan Tuhan Yesus. Damai sejahtera itu tidak dapat dinikmati tanpa karakter seperti Tuhan Yesus. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 19 : MEMBANGUN PENGERTIAN YANG BENAR Nats : Efesus 5:15-17 Dalam Efesus 5:15-17 Firman Tuhan mengatakan: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Ketika Firman Tuhan menasihati orang percaya untuk tidak bodoh, konteksnya mengenai penggunaan waktu. Seperti yang diketahui bahwa seseorang menjadi cakap atau pandai bukan dalam hitungan hari, tetapi melalui sebuah proses yang membutuhkan waktu panjang. Demikianlah, seseorang tetap berkeadaan bodoh atau bijaksana tergantung masing-masing individu, yaitu bagaimana seseorang menggunakan waktu secara efisien. Dalam hal ini harus ditegaskan, bahwa untuk menjadi orang yang bijaksana -artinya mengerti kehendak Tuhan-, tidak bisa secara mendadak (instant), semua harus melalui perjalanan waktu dimana proses menjadi bijaksana dapat terjadi atau berlangsung. Setiap orang memiliki porsi waktu yang sama Di dalam kehidupan ini, masing-masing orang memperoleh porsi waktu yang sama. Tuhan memberikan masing masing orang porsi waktu yang sama, yaitu setiap orang mendapat setiap hari memuat 24 jam, satu jam memuat 60 menit. Adapun nilai waktu yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung bagaimana setiap individu mengefisiensikan waktu tersebut, atau mengoptimalkan waktu yang tersedia untuk menemukan Tuhan dan mengubah karakternya. Dalam hal ini, nyatalah bahwa apakah waktu yang dimiliki seseorang menjadi berharga atau tidak, tergantung sikap seseorang terhadap waktu itu sendiri. Seseorang bisa menjadikan waktu hidupnya berharga, tetapi juga bisa membuat waktu hidupnya tidak berharga. Orang membuat waktu hidupnya menjadi tidak berharga karena menyianyiakannya, membawa diri kepada kebinasaan. Waktu adalah anugerah, orang yang tidak menghargai waktu berarti tidak menghargai anugerah. Keselamatan yang dimiliki seseorang diperagakan oleh sikapnya terhadap waktu. Setiap orang memiliki waktu yang terbatas Banyak orang yang membuat waktu hidupnya sia-sia untuk hal-hal yang tidak berdaya guna bagi kekekalannya. Mereka berjam-jam bisa terpaku oleh film-film seri yang tidak mendidik atau tidak memberi pelajaran rohani yang baik, berjam-jam hanyut dengan


internet untuk hal-hal yang tidak membangun iman, atau media sosial, belum lagi terpaku dengan konten-konten internet, dan lain sebagainya. Hal ini sudah menjadi gaya hidup hampir semua orang, baik di kota maupun di daerah-daerah pinggiran sampai ke desa-desa. Bahayanya adalah apa yang mereka dengar dan saksikan melalui gadget tersebut tidak memberi manfaat untuk kehidupan rohani mereka, tetapi malah merusak pola berpikir. Memang Tuhan dapat menggunakan media ini untuk mengajarkan kebenaran, orang percaya harus menggunakan media ini untuk mendapat dan menyampaikan Firman Tuhan. Tetapi faktanya, kuasa kegelapan juga telah menggunakan media ini untuk membinasakan banyak manusia. Kalau seseorang sibuk dengan hobi tertentu, maka waktunya akan tersita oleh hobi tersebut. Banyak orang lebih menginvestasikan waktunya untuk kesenangan-kesenangan duniawi dan dagingnya, tetapi tidak digunakan untuk belajar kebenaran Firman Tuhan. Sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah membuang waktu dengan sia-sia. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun pengertian mengenai kebenaran dan mengadakan perjumpaan dengan Tuhan dalam doa, telah dijadikan Iblis sebagai sarana membangun kebodohan, yaitu membangun pola pikir yang melawan kebenaran. Sehingga wajah batin banyak orang -di dalamnya termasuk orang Kristen- lebih mengarah kepada wajah dunia, daripada wajah yang Tuhan kehendaki tergambar dalam kehidupan orang percaya. Dunia dengan segala pengaruhnya membentuk wajah batin seseorang. Setiap orang dituntut menghasilkan rupa seperti Yesus Wajah batin yang dikehendaki oleh Tuhan tergambar dalam kehidupan orang percaya adalah wajah Tuhan Yesus, artinya bahwa orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Hal ini bisa terealisir dalam kehidupan orang percaya kalau orang percaya membangun pengertian yang benar. Pengertian yang benar membangun kecerdasan rohani yang membuat seseorang memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah bukan hanya berarti mengerti moral atau etika yang baik dan melakukan tatanan moral atau etika tersebut. Kehendak Allah adalah segala sesuatu yang Allah kehendaki untuk dilakukan orang percaya. Segala sesuatu di sini bukan hanya menyangkut hal-hal yang kelihatan, tetapi juga sikap hati dan gerak perasaan orang percaya. Justru pada dasarnya Tuhan lebih memperhatikan apa yang tidak kelihatan atau yang tidak dipandang oleh manusia. Tuhan menguji batin setiap orang. Mencermati penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bagaimana wajah batin seseorang tergantung kepada masing-masing individu membangunnya. Tuhan menyediakan fasilitasnya, di dalamnya termasuk waktu yang ada, tetapi bagaimana sikap seseorang terhadap waktu menentukan bagaimana wajah yang tergambar di dalam kehidupannya. Dalam hal ini bukan Tuhan yang menentukan secara sepihak, tetapi tanggung jawab masingmasing individu yang berperan atau menentukan. Itulah sebabnya sangat keliru kalau seseorang berpendirian bahwa Tuhan menentukan secara sepihak orang-orang tertentu untuk selamat, dan di lain pihak Tuhan membiarkan orang-orang tertentu tidak pernah mengalami keselamatan.


MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 20 : BEKERJA MELATIH DIRI Nats : Kejadian 2:15 Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki keberadaan seperti Allah sendiri, segambar dengan Allah (Imago Dei). Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah bahwa Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya dan bekerja. Demikianlah sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia adalah manusia yang bekerja. Kerja merupakan unsur hakikat manusia yang dijadikan menurut gambar Allah (The nature of man is a worker). Pandangan ini mempunyai arti yang sangat penting bagi etika kerja dan bagi etos kerja. Berangkat dari pandangan ini dibangunnyalah konsep etos kerja menurut kacamata Kristen dan dapatlah kita memiliki pijakan untuk menolak segala bentuk konsep etos kerja dan etika kerja menurut agama-agama dan filsafat pada umumnya. Oleh karena kerja adalah suatu unsur hakikat manusia, maka kerja itu juga merupakan perintah Allah. Allah dapat memerintahkan manusia untuk bekerja sebab manusia memiliki potensi dan kodrat demikian. Manusia adalah pekerja, maka bumi ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang “harus masih diteruskan”. Manusia menerima mandat dari Tuhan untuk mengelola bumi ini (Kej. 2:15). Ini bukan berarti Allah tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan pekerjaan-Nya. Di sini Allah melibatkan manusia sebagai pekerja untuk bekerja mengelola hasil karya-Nya. Bila tidak demikian, yaitu diadakannya peluang untuk bekerja, maka berarti Allah membunuh hakikat manusia itu sendiri. Oleh karena manusia yang diciptakan Allah adalah seorang pekerja, maka kerja tentu mempunyai tempat di dalam rencana Allah yang agung. Dunia ini diciptakan dalam keadaan yang belum dikerjakan, memerlukan tangan manusia yang harus mengelolanya (Kej. 1:27-28; 2:5). Oleh sebab itu hendaknya kita tidak boleh berpikir dan membayangkan bahwa ketika Adam dan Hawa di Eden mereka hanya makan minum tanpa kerja. Ketika manusia memberi nama binatang, yaitu tatkala Allah membawa semua binatang untuk dinamai oleh manusia, Alkitab membuktikan bahwa di Eden pun manusia sudah mulai bekerja (Kej. 2:19-20). Perintah kepada manusia di dalam Kejadian 2:15 untuk mengelola bumi merupakan bukti nyata bahwa manusia sudah berkarya sejak di dalam Eden. Inilah yang membedakan manusia dari hewan atau makhluk lain. Hewan atau makhluk lain bergerak hidup hanya sekadar memenuhi siklus kehidupan sesuai dengan habitatnya. Tetapi manusia bekerja dengan kerelaan, kesadaran, dan kesengajaan sebagai pengabdian kepada Tuhan, sebagai kawan sekerja Allah yang sehakikat dengan-Nya dalam kerja. Sekalipun manusia sudah jatuh di dalam dosa, tetapi perintah untuk kerja ini tidak pernah dibatalkan Tuhan. Hukum yang ke-8 yang berbunyi: “Jangan mencuri”, adalah salah satu signal yang jelas bahwa manusia bukan saja dipanggil untuk menghargai milik orang lain, tetapi ia juga harus bekerja mencari “milik” dan nafkah dari keringat dan tenaganya sendiri. Oleh sebab itu barangsiapa tidak mau bekerja padahal ia mampu bekerja, maka ia telah melanggar perintah-Nya dan berbuat dosa kepada Tuhan serta menyangkali hakikatnya sendiri. Seorang yang menolak bekerja berarti tidak menerima dirinya sebagai manusia dengan kebesarannya sebagai manusia yang berhakikat seperti Tuhan, yaitu “oknum yang bekerja”. Dalam hal ini kita dapat memperoleh kesimpulan lain bahwa kemalasan adalah suatu dosa. Oleh karenanya dalam Amsal, Salomo menasihatkan agar kita belajar dari semut.


Semut yang rajin dan giat bekerja rupanya dapat menjadi ilustrasi untuk menunjukkan bahwa manusia harus rajin dan giat bekerja (Ams. 6:6; 30:25). Dalam hal ini kita patut belajar ketekunan dan kerajinan bekerja dari semut. Semut dalam konteks ini dapat menjadi lambang pekerja yang tekun dan giat. Jadi bagi manusia, kemalasan adalah suatu kejahatan besar dalam masyarakat. Sebab seorang pemalas mengingkari perintah kerja dan melanggar hak atas kerja yang dikaruniakan kepadanya. Untuk hal ini, pendidikan bertanggung jawab membentuk manusia agar gemar dan mampu bekerja sesuai dengan bidang masing-masing. Dengan ketekunan yang tinggi, maka kita akan semakin ahli atau cakap di bidang kita bekerja. Dewasa ini ada gereja-gereja menganjurkan untuk mengklaim janji Tuhan untuk berkat-berkat rohani, doa pemulihan ekonomi, pemutusan kutuk-kutuk kemiskinan, yang semuanya itu sebagai usaha untuk mengalami pemulihan ekonomi. Sebenarnya ini sebuah pendangkalan kebenaran. Mereka seperti sebuah pekerja jual jasa. Hukum tabur tuai tidak bisa dibatalkan dengan doa. Allah tidak mungkin mengkhianati Alkitab-Nya. Doa tidak bisa membatalkan hukum yang digariskan-Nya, yaitu hukum tabur tuai. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 21 : MOTIVASI HIDUP YANG BENAR Nats : Yohanes 4:34 Selama ini kita sering menyebut-nyebut kata “motivasi”. Biasanya, kata “motivasi” dalam lingkungan gereja dikaitkan dengan pelayanan atau pengiringan kepada Tuhan Yesus. Kita harus membahas hal kemurnian motivasi pelayanan, sebab hal ini sangat terkait dengan hal menjual nama Yesus. Motivasi berasal dari kata dalam bahasa latin “movere” yang artinya bergerak. Kata “movere” memberikan kesan yang jelas atau menunjuk sesuatu yang aktif, dinamis, dan juga bisa menunjukkan sesuatu yang berkembang atau progresif. Secara etimologis (asal usul kata); kata ”motivasi” berasal dari kata motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah dorongan-dorongan (forces) yang membangkitkan dan menggerakkan kelakuan individu. Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang kompleks dan tidak dapat diamati secara langsung. Akan tetapi, motivasi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Itulah sebabnya, kita dapat melihat motivasi seseorang berdasarkan tingkah lakunya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dideskripsikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Deskripsi ini memiliki kesamaan dengan pengertian motivasi di atas bila ditinjau dari etimologinya, yaitu movere. Dengan penjelasan di atas ini dapatlah ditarik konklusi bahwa motivasi menunjuk kepada sikap hati yang menghasilkan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu secara konkret. Itulah sebabnya, bisa dikatakan bahwa motivasi menentukan kuat-lemahnya tingkah laku atau gerakan untuk mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya, motivasi timbul karena dilandaskan pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Seorang penulis buku mengenai motivasi mengatakan mengenai motivasi sebagai berikut: Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga, dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka mencapai tujuan. Sejajar dengan ungkapan pernyataan di atas, penulis lain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku


untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motif yang dimaksud ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dalam ungkapannya tersebut hendak menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang menggerakkan sebuah kegiatan atau proyek, demi tercapainya sebuah tujuan tertentu dengan melahirkan atau menciptakan motif-motif lain sebagai pendukungnya. Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam motivasi, seorang penulis buku lain mengenai motivasi dari Barat mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan tanggapan terhadap adanya tujuan. Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa motivasi sangat berkorelasi dengan tujuan. Jika tidak ada motivasi, maka tujuannya pun menjadi tidak jelas. Di sini, nyatalah bahwa motivasi adalah daya penggerak seseorang mencapai tujuan. Fenomena ini ditegaskan oleh pendapat tokoh pemikir yang bernama Callahan dan Clark bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Jadi berbicara mengenai kemurnian motivasi, maka hendak dijabarkan mengenai motivasi yang seharusnya dimiliki seorang anak Tuhan dan pelayan Tuhan dalam gereja Tuhan. Tidak ada motivasi lain dalam hidup kita kecuali mengenal Dia untuk mengabdi kepada-Nya secara tak terbatas. Di luar hal ini berarti pemberontakan dan menuju kebinasaan dalam api kekal. Untuk memiliki motivasi yang benar seseorang harus memiliki gambaran yang utuh dan lengkap mengenai kebenaran Tuhan. Gambaran yang lengkap dan utuh tersebut membangun cara berpikirnya. Cara berpikir inilah yang menjadi penentu isi motivasi hidup seseorang. Tidak ada motivasi yang benar dalam kehidupan ini selain menyembah Tuhan dan hanya kepada Dia saja kita berbakti (Luk. 4:5-8). Definisi ini juga sejajar dengan pernyataan Tuhan Yesus yang lain dalam Yoh. 4:34: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 22 : TERIKAT DENGAN TUHAN Nats : Kolose 3:23 Hidup beriman dalam Tuhan Yesus artinya hidup dalam persekutuan yang berkesinambungan. Persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan yang tidak terhenti, artinya tidak boleh ada jeda sama sekali. Roh Kudus dimateraikan di dalam diri kita, mengindikasikan bahwa persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan terus menerus yang berlangsung di sepanjang waktu, di segala tempat, dan dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun. Kesadaran ini harus mencengkeram jiwa kita, agar kita bisa menghayati kehadiran Tuhan setiap saat, di segala tempat dan dalam segala keadaan. Inilah yang dimaksud hidup di hadirat Tuhan. Hal ini menjadikan kesukaan dan kebahagiaan hidup yang tiada tara. Semua orang percaya memiliki kesempatan dan anugerah untuk mengalaminya. Dalam hal ini, kita dapat membuktikan pemenuhan janji Tuhan Yesus, bahwa ia menyertai kita sampai kesudahan zaman. Keterikatan dengan Tuhan dalam persekutuan yang indah bukan hanya ketika ada dalam ruangan kebaktian. Keterikatan dengan Tuhan berkonsekuensi, yaitu kita tidak boleh terikat dengan dunia. Terikat dengan dunia artinya memiliki suasana hati yang kebahagiaan dan kesenangannya ditentukan atau hanya dipengaruhi oleh fasilitas dunia, dari kekayaan sampai keadaan nyaman. Orang-orang seperti ini pasti bertuankan mamon. Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas, bahwa orang percaya tidak boleh memiliki dua tuan. Hanya boleh satu saja. Ini berarti keterikatan orang percaya harus dengan Tuhan atau tidak sama sekali. Dalam hal ini Tuhan tidak mau berbagi atau dibagi dengan yang lain.


Takhta hati kita dalam keterikatannya dengan obyek tertentu harus hanya diperuntukkan bagi Tuhan. Keterikatan dengan Tuhan harus keterikatan setiap saat dan dei setiap tempat, bukan hanya pada waktu ada di dalam ruangan gereja. Ketidakterikatan dengan dunia -bukan karena kita tidak ada di dalam gereja- harus berlaku di segala tempat dan di sepanjang waktu hidup kita. Walaupun seseorang memiliki kesempatan untuk terikat dengan sesuatu, tetapi ia harus menolaknya, maka berarti ia serius untuk tidak terikat dengan ikatan lain selain dengan Tuhan. Sebagaimana kita tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja, demikian pula kita tidak boleh tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Ketidakterikatan dengan dunia bukan karena kita tidak menjadi pengusaha, kemudian menjadi full timer gereja atau seorang pendeta. Harus dicatat, bahwa seorang pendeta belum tentu tidak terikat dengan dunia. Yudas selalu bersama-sama dengan Yesus, tetapi ternyata hidupnya terikat dengan dunia, dalam hal ini terikat dengan uang. Sehingga ia tidak jujur, bahkan mengkhianati Tuhan dan gurunya. Ada orang-orang yang mau terus dalam persekutuan dengan Tuhan, dan hendak memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan, maka ia melakukannya dengan cara meninggalkan pekerjaan sekuler rajin datang kebaktian, supaya lebih sempurna lagi ia menjadi pendeta. Ini konsep yang salah. Konsep agama-agama kafir. Untuk menjadi orang suci dan tidak terikat dengan dunia, seseorang harus meninggalkan kesibukan dunia, menyepi ketempat-tempat tertentu, untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Demikianlah konsep banyak agama, di mana mereka yang meninggalkan kesibukan hidup dianggap lebih suci dari orang-orang yang sibuk dalam pekerjaan. Mau menyatu dengan Tuhan harus menyingkir ke tempat sunyi adalah konsep yang salah. Bagaimana seseorang dapat dikatakan perenang hebat, kalau hanya berenang di bak kamar mandi? Bagaimana Anda dapat terbukti sebagai suami yang setia, kalau tidak pernah bertemu dengan wanita cantik dan berbagai godaan untuk selingkuh? Bagaimana seseorang dapat membuktikan sebagai orang yang mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, jika kita tidak pernah berkesempatan meraih kenikmatan dunia, gelar, kekuasaan, nama besar, nama baik yang dapat kita raih? Tuhan memberi peluang untuk kita dapat terhindar dari segala keterikatan, tetapi apakah kita mau mengusahakannya? Apakah kita berani seperti Lot yang tidak menoleh ke belakang, sekalipun ia kehilangan semua hartanya di Sodom? Apakah kita mau barter seperti perumpamaan dalam Matius 13:44-46, menjual segala milik untuk membeli sebidang tanah atau mutiara yang berharga? Ini masalah hati, atau batin. Bukan masalah fisik atau apa yang kelihatan di mata manusia. Bagaimana dapat dikatakan puasa, kalau anda ada di sebuah gurun pasir yang memang tidak ada makanan dan minuman? Kekristenan memuaskan hati Tuhan jika orang percaya dapat menjadi satu Roh dalam keterikatan yang eksklusif dengan Dia. Ini sebuah harta yang lebih dari segala kekayaan dan harta yang dapat kita miliki. Ini lebih dari pangkat awam atau pendeta. Itulah sebabnya Kekristenan tidak hanya bagian dari hidup kita, tetapi seluruh kehidupan kita. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 23 : TAAT TANPA PAMRIH Nats : Filipi 2:5-7 Dalam ketaatan yang dilakukan Tuhan Yesus, nampaklah ketaatan yang sangat tinggi mutunya, sebab dilakukan tanpa pamrih. Tanpa pamrih di sini maksudnya melakukan sesuatu tanpa niat tersembunyi maupun terang-terangan untuk memperoleh imbalan balik, baik berupa barang maupun sekadar ucapan terima kasih.


Bagi pelayan Tuhan yang mempunyai ketaatan tanpa pamrih, menaati Firman Tuhan dan memenuhi rencana-Nya adalah kesukaan. Ketaatan tanpa pamrih tersebut telah ditunjukkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Flp. 2:5-7). Ketaatan orang percaya adalah ketaatan yang tidak berasal dari sikap oportunis, konformisme dan hipokrisi. Oportunis berarti ketaatan yang berlatar belakang motif keuntungan. Ketaatan yang dilakukan agar hidupnya diberkati Tuhan, dilindungi dari malapetaka. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang nilainya sangat rendah. Ia tidak menempatkan diri sebagai hamba di hadapan Majikan Agung, tetapi sebagai “pedagang” yang hendak mengeruk keuntungan bagi kesenangan pribadi. Konformisme adalah ketaatan yang tidak teguh atau tangguh kuat. Sebab di dalam ketaatan konformisme, masih terbuka peluang untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Hal ini menciptakan etika situasi yang sangat kasuistik. Konformisme akan melahirkan orang-orang yang tidak memiliki integritas sebagai anak-anak Allah yang dengan militan melakukan kehendak-Nya. Bukan sebuah ketaatan mutlak. Dalam ketaatan yang bersifat konformisme terdapat unsur permisif. Kalau merasa tidak sanggup atau kurang mampu, maka mereka masih membuka peluang kompromi dengan ukuran yang lebih rendah. Hipokrisi adalah ketaatan legalistik, artinya menaati hukum Tuhan hanya berdasarkan bunyinya. Melakukan hanya berdasarkan bunyinya. Menaati secara hurufiah dan mengabaikan inti dari hukum atau peraturan tersebut. Sudah barang tentu ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang hanya membenahi atau membereskan “luar”, tetapi tidak memperhatikan apa yang ada di dalam. Ketaatan yang Tuhan kehendaki adalah ketaatan dari dalam, artinya seseorang dapat melakukan kehendak Tuhan, bukan karena faktor tekanan dari luar (baik dalam bentuk berkat positif maupun ancaman yang menakutkan), tetapi dari hati yang mengasihi Tuhan. Selanjutnya ketaatan seseorang kepada Tuhan harus didasarkan pada kenyataan bahwa Tuhan memberi hukum-Nya untuk kebaikan. Perintah Tuhan bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menyembuhkan jiwa orang yang rusak, yaitu karakter dan watak atau kepribadian yang sudah rusak. Perintah diberikan untuk membentuk manusia yang berkualitas. Perintah adalah cermin dari kehendak Tuhan yang kudus dan agung (Mzm. 119:98, 176), agar manusia dapat hidup sebagai manusia dengan segala keagungannya. Dengan pengertian ini maka akan menggiring seseorang menaati Tuhan dengan rela, sebab ketaatan tersebut akhirnya juga untuk kebaikan manusia itu sendiri. Ketaatan kepada Tuhan harus didasarkan pada realita Tuhan memberi hukum-Nya untuk kebaikan, menertibkan kehidupan agar hubungan dengan Tuhan menjadi harmonis dan dengan sesama menjadi harmonis pula. Ini adalah persiapan untuk masuk Kerajaan-Nya. Ketaatan bukan hanya untuk meraih berkat hari ini, tetapi meraih berkat kekal di dalam Kerajaan-Nya nanti. Bukan untuk investasi dengan Tuhan hari ini, tetapi persiapan hari esok. Dalam hal ini, Firman Tuhan berfungsi sebagai pelita kehidupan (Mzm.119:105, 19; 19:9). Dengan pengertian ini maka seseorang akan rela melakukan Firman Tuhan dengan sukacita, seperti Pemazmur menyaksikan bahwa Firman Tuhan adalah kesukaannya (Mzm. 1). Kalau manusia mengakui Allah adalah Penguasanya dan Tuannya yang dijunjung tinggi dengan segala kehormatan, maka ia dengan rela dan sukacita melakukan segala kehendak-Nya. Seperti seorang punggawa yang berusaha untuk melakukan kehendak tuannya. Baginya, melakukan kehendak tuannya adalah kebahagiaan. Demikian juga sebagai umat Tuhan, melakukan kehendak Tuhan adalah sebuah kebahagiaan. Dengan demikian melakukan kehendak Tuhan tidak lagi menjadi beban atau kewajiban yang menyakitkan, tetapi sebagai kebutuhan yang menyukakan.


Menuruti kehendak-Nya dengan setia secara berkesinambungan adalah ibadah yang sejati dan yang dikehendaki Allah (Ams. 5:24; Rm. 12:1-2). Ketidaktaatan kepada Tuhanlah yang menyebabkan tercemar, dan kecemaran ini akan memisahkan diri seseorang dari Tuhan. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 24 : STOP SERAKAH Nats : 2 Timotius 3:1-5 Sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Alkitab, bahwa pada akhir zaman manusia menjadi serakah atau tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Kalau manusia sudah menjadi hamba uang, egois, dan lebih menuruti hawa nafsunya, maka manusia pasti menjadi serakah (2 Tim. 3:1-5). Mereka tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Semua yang dianggap sebagai kebutuhan adalah segala sesuatu yang diingininya. Padahal keinginan manusia tidak pernah dapat dipuaskan oleh apa pun juga, sebab di dalam rongga jiwa manusia ada ruangan kosong yang tidak dapat diisi oleh apa pun, selain oleh Tuhan sendiri. Dengan keadaan demikian manusia akan selalu mencari segala sesuatu yang dapat memuaskan dirinya. Keadaan manusia seperti di atas ini juga ada pada kehidupan banyak orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan menjadi serakah. Ia makin haus akan kekayaan dunia dan segala kesenangan-kesenangan dunia. Dengan demikian ia akan menjadi kejam dan sewenangwenang terhadap sesamanya. Ia tidak akan dapat mempermuliakan Allah, sebab yang ia muliakan adalah harta. Ia tidak memiliki damai sejahtera yang sesungguhnya. Ia pun kehilangan sukacita hidup. Sekalipun hartanya berlimpah, kedudukannya dan jabatannya tinggi, ia tidak memiliki sukacita hidup (Luk. 12:15). Ia tidak akan dapat melayani Tuhan. Sebab ia akan melayani dirinya sendiri dan menggunakan segala kesempatan, serta tenaga orang lain untuk keuntungannya sendiri. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus mengajarkan suatu prinsip hidup yang dikalimatkan sebagai berikut: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Prinsip hidup ini dimaksudkan agar kita tidak menjadi serakah. Tuhan Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, menunjukkan bahwa Diri-Nya tidak memiliki apa-apa. Inilah ekspresi dari “pengosongan diri” yang Yesus lakukan, yang juga harus kita lakukan sebagai pengikut-Nya. Pengosongan diri ini sama dengan kerelaan melepaskan hak. Senada dengan hal ini, Paulus dalam suratnya mengatakan: Sebab kita tidak membawa sesuatu apa pun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. (1Tim. 6:7-8). Kalau Firman Tuhan mengajarkan orang percaya agar merasa cukup, yaitu asal ada makanan dan pakaian, ini tidak dimaksudkan agar orang percaya menjadi orang miskin. Tetapi agar orang percaya tidak terbelenggu oleh berbagai keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki atau yang dunia sediakan. Dengan demikian, orang percaya harus merasa cukup dan puas berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi selalu merasa belum puas berkenaan dengan keberkenanannya di hadapan Tuhan. Ini adalah cara yang tepat untuk menanggulangi nafsu serakah yang bisa menguasai hidup ini. Dalam kemiskinan secara materi, Tuhan Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Gaya hidup seperti ini harus dikenakan oleh setiap orang yang mengaku mengikut Tuhan Yesus Kristus. Dengan gaya hidup tersebut, seseorang tidak akan dapat diperbudak oleh dunia ini.


Jika tidak bersedia mengenakan gaya hidup tersebut, berarti seorang Kristen menolak menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan. Orang yang tidak bersedia menundukkan diri kepada Tuhan guna mengikuti jejak-Nya, berarti menjadikan dirinya sendiri sebagai tuhan. Bila seseorang masih selalu merasa belum cukup dengan jumlah uang atau harta yang dimilikinya, berarti ia belum sungguh-sungguh menemukan perhentian yang benar atau belum berlabuh pada Tuhan. Ini juga berarti tidak akan pernah mengalami proses dikembalikan ke rancangan semula Allah. Dari gaya hidup di atas ini, akan membangun gaya hidup konsumerisme. Gaya hidup konsumerisme seperti ini sudah menjadi gaya hidup yang wajar dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini, khususnya di kalangan masyarakat yang tinggal di kota. Menjelang dunia berakhir, gaya hidup konsumerisme semakin kuat memengaruhi kehidupan banyak orang, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Inilah yang digambarkan oleh kitab Wahyu 18, Babel kota besar. Alkitab menunjukkan bahwa itulah percabulan rohani, di mana banyak manusia, termasuk sebagian orang Kristen, telah terperdaya oleh kecantikan dunia sehingga mereka menyembah Iblis dan tidak mengingini Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Sebagai umat pilihan yang dicelikkan oleh kebenaran, kita harus berani membiasakan diri mengenakan pola hidup merasa “cukup”. Dengan demikian kita tidak dapat diperbudak oleh dunia ini dan dengan cara demikian kita menantang zaman. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 25 : BERKAT DARI PENDERITAAN Nats : Yakobus 1:12 Umumnya manusia berusaha untuk menjauhkan diri dari problema apalagi problema itu menyakitkan dan mengakibatkan banyak penderitaan, karena memang tidak satu pun manusia yang mau menderita. Siapakah dari antara kita yang mau menderita? Siapakah dari antara kita yang suka ditimpa kesusahan? Tentu saja tidak ada! Siapakah dari antara kita yang tidak pernah mengalami penderitaan dan kesusahan? Siapakah dari antara kita yang pernah mengalami penderitaan? Setiap manusia pernah mengalami kesusahan dan penderitaan. Malah, sebenarnya Alkitab mengatakan agar kita mengharapkan adanya kesusahan. Tak terkecuali bahkan orang Kristen yang baik sekalipun harus menderita. Orang Kristen akan mengalami kesusahan, penyakit, penderitaan kerugian. Singkatnya, masalah, kesusahan dan penderitaan akan datang. Mari kita membuka Alkitab kita dalam Mazmur 34:19 ”Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orangorang yang remuk jiwanya.” Apakah ada alasannya mengapa Allah mengizinkan penderitaan itu terjadi kepada orangorang Kristen? Apakah ada maksud tersembunyi dari penderitaan yang kita alami? Apakah penderitaan itu bernilai? Apakah ada hal yang baik, pada saat saudara punya masalah yang sangat rumit? Penderitaan Berguna Bagi Keselamatan Kita Penderitaan merupakan berkat! Bahkan tidak terkecuali Yesus sendiri pun menderita. Ia lebih dulu menderita daripada kita. Yesus Kristus menderita untuk menyelamatkan kita. Yesus harus lebih dulu mati agar kita beroleh keselamatan. Yesus mengalami begitu banyak penderitaan demi kita. Sebagaimana Yesus sudah menderita, maka kita juga harus menderita. Di dalam Injil Lukas 9:23 kita membaca: “Kata-Nya kepada mereka semua, “Setiap orang


yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Yesus punya salib untuk dipikul. Sama seperti Yesus memiliki salib untuk dipikul, kita juga punya salib untuk dipikul, yakni salib penderitaan. Rasa Sakit Membuat Surga Lebih Berharga Rasa sakit membuat surga menjadi lebih berharga. Orang yang menderita akan merasakan bahwa surga itu lebih berharga. Dalam 1 Tawarikh 4:10. Yabes berdoa agar dirinya dilepaskan dari malapetaka dan penyakit. Nampaknya Yabes sangat menderita dan Yabes akan menikmati surga di mana tidak akan ada lagi penyakit. Wahyu 21:4 berkata ”Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau duka cita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” Saudara pembaca, kita akan menikmati suasana surga. Penderitaan dan kesusahan kita sewaktu di dunia ini akan terlupakan, dan lenyap ditengah-tengah kemuliaan dunia baru. Penderitaan Membuat Kita Menjadi Lebih Baik Dalam Yakobus 1:2-4 kita membaca: “Saudara-saudara, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh kedalam berbagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu, menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Percayalah, bahwa sebenarnya ada begitu banyak berkat-berkat dan kegunaan dari penderitaan. Dunia kita ini dipenuhi oleh orang-orang yang telah berhasil melalui penderitaan yang mereka alami. Rasul Paulus, barangkali dialah yang terbesar diantara para rasul, dia menulis lebih ½ dari buku Perjanjian Baru, dia menulis paling banyak bila dibandingkan dengan seluruh rasul-rasul. Dia adalah seorang besar, tetapi saat yang sama dia pulalah yang paling menderita dari antara rasulrasul. Pada saat saat yang paling sulit, bahkan dia berhasil menulis surat yang besar. Penderitaan Mengajarkan Penurutan Beginilah caranya kita belajar untuk menurut, yaitu bahwa kita akan menurut jika kita sudah mengalami penderitaan. Alkitab berkata tentang Yesus dalam Ibrani 5:8 ”Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.” Kalau Yesus saja belajar mengenai penurutan dari penderitaan, maka kita juga tidak terkecuali. Beberapa penderitaan adalah merupakan tanda bahaya yang menyatakan bahwa kita telah melanggar hukum. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 26 : MURID YANG SEJATI Nats : Yohanes 15:8 Amanat Agung yang diperintahkan Kristus untuk dilakukan oleh para rasul dan setiap orang Kristen dalam Matius 28:19 adalah untuk “menjadikan murid,” bukan hanya sekadar untuk “membaptiskan” seseorang menjadi anggota gereja dari denominasi Kristen tertentu. Baptisan adalah merupakan salah satu proses dalam rangka untuk menjadikan seseorang menjadi murid. Baptisan bukanlah merupakan akhir dari perintah Kristus dalam Matius 28:29. Baptisan bukanlah merupakan “jaminan” bahwa seseorang sudah menjadi murid yang sesungguhnya. Sebab ternyata ada banyak anggota gereja yang sudah menerima baptisan, bahkan sudah puluhan tahun menjadi anggota gereja tetapi ternyata belum menjadi murid


yang sebenarnya, oleh karena mereka belum menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab. Untuk dapat mengetahui apakah saudara merupakan seorang murid yang sesungguhnya atau tidak, di bawah ini saya akan menguraikan 6 (enam) kualitas dari seseorang yang benar-benar merupakan seorang murid. Memiliki kasih yang sangat besar kepada Kristus Injil Lukas 14:26 mencatat mengenai kualitas pertama dari seorang murid yang sesungguhnya ini dengan mengatakan: “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudarasaudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Sepintas ayat di atas bukan hanya tidak masuk akal, tetapi nampaknya ayat itu bertentangan dengan semua ajaran-ajaran Kristus yang lainnya. Tapi sebenarnya ayat ini jika kita teliti, sebenarnya hanyalah untuk menekankan bahwa untuk menjadi seorang murid Kristus, maka tingkat dan kualitas kasih kita kepada Kristus haruslah lebih besar dari tingkat dan kualitas kasih kita kepada hubungan kita kepada orang lain, apakah itu orang tua, istri, suami, abang, kakak bahkan terhadap diri sendiri. Sebenarnya kasih kita yang sangat besar kepada Kristus tidak akan meniadakan kasih kita kepada orang lain. Malah sebaliknya, jika kita memiliki kasih yang begitu dalam kepada Kristus maka secara otomatis kasih sayang kepada yang lainnya akan semakin dalam pula, sebagaimana Kristus mengasihi saya. Sering sekali kita berkata, “Saya sangat mengasihi Kristus.” Tapi tunggu dulu, “Apakah saya benar-benar sangat mengasihi-Nya?” Dalam cara apakah saya tunjukkan kasih saya ini? Berapa lama saya menyediakan waktu untuk bersama-sama dengan Dia? Kapan terakhir kali saya gunakan waktu saya sehari penuh bersama-sama dengan Dia? Apakah Kristus mendapat tempat yang utama dalam hidup saya? Dalam bank account saya? Dalam rekreasi saya? Apakah kita menyadari bahwa kasih yang besar kepada Kristus memerlukan banyak waktu untuk bersama dengan Dia, merenungkan Dia, melayani Dia, dan bekerja untuk Dia. Apakah Kristus mendapat tempat yang pertama dalam hidup kita? Apakah kita sering mengadakan pergaulan yang intim dengan Dia? Total Komitmen Kualitas kedua dari seorang murid yang sesungguhnya dicatat dalam Injil Lukas 14:27 “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, Ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Salib adalah merupakan lambang kematian. Yesus dengan sukarela telah memberikan hidup-Nya untuk kita. Untuk menjadi murid Kristus, masing-masing kita harus mati untuk semua kepentingan diri kita dan kita harus hidup untuk Dia. Mengikuti seseorang adalah merupakan lambang dari penyerahan diri. Sebagai seorang murid masing-masing kita harus menyerahkan kemauan kita, sikap kita, keinginan kita, impian kita, tujuan kita, hidup kita dan segala sesuatunya untuk Kristus. Semuanya ini memerlukan komitmen total dari masing-masing kita kepada Kristus Rasul Paulus adalah merupakan murid yang memiliki kualitas ini dia berkata: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:19,20) Apakah masih ada suatu daerah di dalam hidup kita ini yang belum kita serahkan secara total kepada Kristus? Apakah kita sudah mematikan kepentingan diri kita dan menyerahkan diri kita secara total kepada Kristus? Pengorbanan yang Lengkap (Komplit) Kualitas ketiga dari seorang murid yang sesungguhnya dicatat dalam Injil Lukas 14:33 “Demikian pulalah tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Untuk menjadi murid Kristus memerlukan pengorbanan yang komplit. Dalam bukunya Pilgrim’s Progress yang ditulisnya di penjara


Bedford itu, John Bunyan menulis: “Orang Kristen, orang Kristen, dapatkah engkau mendengarkan saya orang Kristen? Sudahkah engkau menghitung harganya? Dengarkanlah saya orang Kristen." Apakah kita sudah menghitung harganya? Apakah masih ada lagi yang belum kita serahkan kepada Kristus? MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 27 : GEMBALA YANG BENAR Nats : Yehezkiel 34:31 Berulang kali Alkitab menegaskan bahwa yang menjadi gembala kita adalah Yesus. Alkitab mencatat bahwa satu-satunya Gembala yang baik adalah Yesus. Injil Yohanes 10:11 berbunyi: “Akulah Gembala Yang Baik." Meskipun hari-hari ini kita mudah menemukan orang-orang yang mengaku sebagai gembala, namun pada kenyataannya tidak menampilkan diri sebagai gembala yang benar. Gembala-gembala upahan ini tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap domba-domba sehingga hanya merasa tugas dan tanggung jawabnya sebatas memberikan makanan apa adanya tanpa memerhatikan gizi domba-dombanya. Yesus dengan jelas memberikan teladan hidup sebagai gembala yang benar, dan ini dapat menjadi standar atau tolak ukur bagi jemaat untuk memahami apakah hari ini kita sedang digembalakan oleh gembala yang benar ataukah oleh gembala upahan yang tidak benar-benar merasa kita adalah domba milik kepunyaan Bapa. Adapun ciri-ciri gembala yang benar adalah sebagai berikut : Mengenal Bapa Istilah mengenal dalam ayat ini bukan hanya sekadar mengetahui secara luar saja, melainkan secara luar dan dalam. Ini berarti, mengetahui sifat dan tabiat Allah dan memiliki sifat seperti sifat Allah. Salah satu sarana yang dapat membantu kita untuk lebih mengenal Allah adalah dengan belajar Alkitab. Yesus adalah seorang pelajar Alkitab yang rajin, tidak heran Dia dapat mengenal Allah secara sempurna dan lengkap. Lukas 4:16 menyatakan bahwa adalah merupakan kebiasaan Yesus untuk membaca Alkitab. Jadi masuk akal jika Yesus dapat mengalahkan cobaan setan dengan mengatakan “ada tertulis," sebab Dia sudah biasa mempelajarinya, bagaimana mungkin Yesus dapat berkata “ada tertulis” jika Dia tidak pernah membacanya. Cara yang lainnya agar kita dapat mengenal Bapa adalah melalui “doa,” yang adalah merupakan “nafas jiwa” dan “rahasia kuasa rohani." Mengenal Domba Pengenalan kepada domba tidak didapat hanya dengan memberikan salaman kepada anggota jemaat setelah pendeta selesai berkhotbah. Agar kita dapat mengenal domba-domba maka kita harus pergi mengunjungi mereka, bergaul dengan mereka. Yesus, gembala yang baik itu telah melakukannya. Dia pergi kepada orang-orang yang memerlukan pertolonganNya, pelayanan-Nya tidak pernah dibentengi oleh kelompok, suku, ras, bangsa, dan warna kulit. Dia menerobos bahkan menghancurkan dinding pemisah itu. Untuk dapat mengenal domba, gembala harus bergaul dengan mereka, memelihara mereka, membimbing mereka dan memberi makan mereka, mengunjungi mereka di tempat mereka berada. Memerhatikan Kualitas dan Kuantitas Dombanya Yesus sebagai gembala yang baik selalu memperhatikan kebutuhan dombaNya, Dia selalu memberikan makanan yang bergizi kepada domba-Nya. (Mazmur 23) Dia juga selalu


memelihara domba-Nya dan memberikannya perlindungan yang aman. Segala keperluannya dipenuhi serta membimbing dan memberikan pengarahan kepada domba-Nya. Dalam cerita mengenai perumpamaan domba yang hilang dalam Lukas 15:1-7, disebutkan bahwa gembala yang baik itu pergi untuk mencari dombanya yang hilang, meskipun hanya seekor saja yang hilang. Gembala yang baik sangat concern terhadap jumlah dombanya. Sebenarnya dari segi jumlah apalah artinya, tetapi baginya seekor domba sangat berharga. Bagi gembala yang ingin menjadi gembala jemaat yang baik, ikutilah teladan Yesus yaitu The Real Shepherd. Perhatikanlah kelak kualitas dan kuantitas domba-dombamu, beri mereka makanan yang segar, bukan khotbah yang gersang, isi mereka dengan Firman Allah yang selalu baru tiap hari. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 28 : PENOLONG SEJATI Nats : Roma 5:6 Siapa di antara kita hari ini yang tidak mengalami permasalahan dalam hidup? Tentu tidak ada. Setiap orang pasti mengalami masalah. Bangun tidur, mau sarapan dulu atau olahraga dulu, atau mungkin main hp dulu, mana yang akan kita pilih juga berdampak pada hidup kita selanjutnya hingga menyebabkan permasalahannya tersendiri. Tingkat permasalahan ini pun semakin lama semakin rumit ketika diperhadapkan dengan semakin luasnya jangkauan hidup seseorang. Permasalahan anak kecil tentu berbeda dengan orang dewasa. Permasalahan seorang murid pun tentu berbeda dengan permasalahan gurunya. Pertanyaannya sekarang, mampukah kita menyelesaikan masalah yang ada? Beberapa mulai menjawab dalam hati, bisa! Beberapa lagi mulai ragu. Tak semua permasalahan bisa kita selesaikan. Kita manusia yang terbatas, oleh karena itu kita membutuhkan pertolongan. Umumnya pertolongan bisa datang dari orang dekat, keluarga, teman, sahabat, pasangan, orang tua, namun ketika mereka tidak lagi mampu menolong, bagaimana? Sebenarnya kita tak pernah sendirian. Kita selalu punya penolong yang sejati, Tuhan. Hari ini kita akan belajar mengapa kita perlu Sang Penolong yang sejati dalam hidup ini. Kita tidak dapat menolong diri sendiri Saudara dan saya sebenarnya sedang berada dalam kondisi seperti kondisi orang yang timpang itu. Roma 5:6 ”Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orangorang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.” Saudara, Kristus mati untuk orang berdosa. Yesus tidak menunggu agar kita menjadi baik, sempurna dan tanpa dosa baru dia datang kepada kita. Dia datang dan mati untuk orangorang berdosa. Dia datang untuk menolong orang-orang yang tidak dapat menolong dirinya sendiri. Saudara, kita bagaikan orang lumpuh di kolam Betesda yang tidak dapat menolong dirinya sendiri. Kita tidak dapat mengatasi masalah kita, kita tidak mampu bangkit dan keluar dari masalah-masalah kehidupan ini. Tetapi Yesus sanggup melakukannya untuk kita. Baik orang lumpuh yang ada di Betesda itu maupun masing-masing kita adalah orang-orang yang tidak mampu untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kita jika ada dari antara kita yang memiliki kelemahan, dapatkah kita mengalahkannya tanpa Yesus? Saudara jawabnya sudah pasti tidak, tetapi dengan Yesus, kita akan dapat mengalahkan segala kelemahan kita . Saudaraku, kita tidak mampu untuk menyembuhkan penyakit kita. Dunia ini menderita penyakit, pemerintah tidak akan dapat mengobatinya, program-program yang


dibuat untuk masyarakat umum tidak juga dapat mengatasinya. Hanya Allahlah yang dapat mengatasi segala masalahmasalah dunia ini dan masalah-masalah yang kita hadapi. Saudara pernahkah kita bertanya, mengapa Yesus memilih untuk menyembuhkan orang lumpuh itu? Mengapa bukan orang yang lain? Saudara, saya pikir Yesus memilih untuk menyembuhkan dia ialah oleh karena dari antara begitu banyak orang yang menderita penyakit di tempat itu, dialah yang paling ”membutuhkan bantuan” Yesus ingin melakukan hal yang tidak mungkin, saudara apakah saudara merupakan orang yang paling memerlukan bantuan di tempat ini saat ini? Yesus sangat ingin menolong orang-orang yang sangat memerlukan pertolongan dan orang-orang yang sudah hampir putus harapan. Jangan menyerah Saudara orang yang cacad itu tidak pernah menyerah!! Dia masih tetap bertahan di tepi kolam itu. Saudara, saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan untuk saudara, ”Jika sekiranya orang timpang itu berada di rumahnya pada saat itu apakah dia akan disembuhkan?" Jika saudara tidak datang ke dalam acara kebaktian, apakah saudara akan mendapatkan berkat? Tentu saja tidak!! Orang timpang itu tidak akan disembuhkan sekiranya dia berada di rumah pada saat itu. Saudara, itulah sebabnya jangan pernah menjauhi acara kebaktian. Jangan pernah menyerah!! Jangan pernah tinggalkan kehadiran Yesus. Tetaplah ada pada kehadiran Kristus. Tanpa Yesus kita akan kehilangan pengharapan. Sebagaimana orang timpang itu selalu setia berada di dekat air kolam Betesda itu, kita juga harus tetap setia berada didekat Yesus, yang adalah air hidup itu. Saudaraku, saya sangat yakin bahwa orang timpang itu sangat merindukan kesembuhan dan dia sangat mengharapkan untuk dapat berjalan. Tetapi setiap kali dia bangun pagi, dia tetap belum dapat menikmati kerinduannya tersebut. Tetapi saudara, impian dan cita-citanya tidak pernah pudar. Saudara, kita harus tetap memiliki cita-cita dan impian! Apabila saudara berhenti untuk memiliki impian pada saat itu saudara berarti mati. Tetaplah berharap! Menunggu Yesus datang Alkitab mencatat bahwa Yesus datang kepada orang timpang itu. Tibatiba saja Yesus yang adalah Dokter Ilahi dan pencipta dunia ini datang menghampiri orang timpang itu dan berkata: ”Maukah engkau sembuh”? Saudara, saat ini Yesus masih mananyakan pertanyaan yang sama kepada saudara dan saya. Yesus memberikan hidup yang berkelimpahan bukan hidup yang penuh kesusahan dan penderitaan. Yesus masih menawarkan hal yang sama kepada saudara dan saya: Yohannes 10:10, ”Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Yesus menawarkan kesembuhan kepada orang timpang itu dengan kasih. Yesus datang untuk menolong orang yang nyaris kehilangan pengharapan. Yesus selalu rindu untuk menyelamatkan, Lukas 4:18,19 mengatakan ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin: dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, utnuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”


MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi 29 : MENGENDALIKAN ATAU DIKENDALIKAN Nats : Imamat 19:4 Siapa di sini yang bisa makan sendiri tanpa disuapin? Ya, tentunya kita sekarang makan gak harus disuapin lagi kan? Padahal waktu kecil, kita mana bisa makan sendiri. Itu namanya pertumbuhan. Kita semakin dewasa dan semakin mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita. Demikian pula dengan penemuan-penemuan di sekitar kita hari ini. Teknologi semakin berkembang. Dulu kalau mau telepon, harus ke wartel, itu pun biayanya gak murah. Sekarang semua orang tinggal pencet karena handphone sudah jadi kebutuhan utama. Dulu kalau lapar, kita harus cari tempat makan yang jualan, sekarang tinggal pencet handphone, langsung datang abang gojek bawa makanan. Ya, perkembangan jaman memudahkan manusia dalam menjalani hidup. Namun di sisi lain, teknologi ini pun membuat kita kehilangan banyak hal. Misalnya rasa sosial. Berapa banyak anak sekarang gak lepas dari game di handphonenya. Disuruh makan pun bisa 2 jam lagi baru datang. Atau ketika kumpul sama keluarga, sama teman2, eh masing2 malah sibuk main handphone. Sejarah mencatat, bangsa Israel adalah bangsa yang selalu jatuh bangun dalam hubungannya dengan Tuhan. Waktu mereka mengalami penderitaan, mereka dekat dengan Tuhan, sebaliknya ketika mereka mulai kuat, mulai merasa mampu, mereka beralih kepada penyembahan berhala. Alkitab dengan jelas mencatat kejadian-kejadian naik turunnya pengiringan Israel terhadap Tuhan. Bangsa Israel masa itu sebenarnya menggambarkan juga keberadaan kita hari ini. Kita merasa sudah mampu dengan semua teknologi yang ada hari-hari ini. Bukan tidak boleh kita mengenal teknologi, justru kita harus mengikuti perkembangan teknologi supaya tidak tertinggal. Tapi seringkali kita kebablasan. Bukan kita yang memanfaatkan teknologi, justru teknologi yang mengendalikan kita. Kita seperti tak bisa hidup tanpa kuota internet. Ini yang terjadi juga pada orang Israel. Mereka tahu kalau Allah adalah Tuhan yang hidup yang menolong mereka, namun di tengah kehebatan mereka, mereka justru membuat allah sendiri. Mereka menciptakan berhala. Mereka menciptakan patung dengan kekuatan mereka dan sujud menyembah kepada patung itu. Ada istilah umum yang sering diungkapkan orang ketika menyebut mereka yang terlalu pintar, “Terlalu pintar sampai-sampai hal sepele pun dia lupa.” Istilah ini menggambarkan bagaimana orang-orang yang sudah terlalu tinggi dalam berpikir hingga pelajaran anak SD justru ia lupakan. Inilah yang terjadi dengan bangsa Israel kala itu. Ketika mereka mulai berada di atas kemenangan, entah mengapa mereka justru melupakan Tuhan yang membawa mereka menang dan menciptakan Tuhan sendiri yang bisa mereka kendalikan sesuka hati. Semoga kita belajar dari kisah ini dan tidak membiarkan diri kita mendukakan hati Tuhan seperti yang dilakukan umat pilihan pada masa lampau. Kita mungkin tidak lagi menciptakan patung-patung untuk disembah seperti Israel, namun pertanyaannya hari ini, apakah hidup kita dikendalikan oleh benda ciptaan manusia? Seharusnya sebagai Orang Percaya, hidup kita harus sepenuhnya dalam kendali Tuhan. Alat2 canggih dan perkembangan teknologi hari ini pun harus kita manfaatkan untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan. Handphone, media sosial, semua sekarang bisa kita manfaatkan untuk menyampaikan Kebenaran Tuhan sampai ke ujung dunia. Sebagai penutup, hidup kita dalam kendali Tuhan atau bukan? Dan teknologi dalam kendali kita atau justru mengendalikan kita? Jadikan ini perenungan bersama. Tuhan Yesus memberkati.


MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : JANGAN PUTUS ASA MESKIPUN PUTUS SENDAL Nats : Keluaran 4:10 Siapa yang pernah mengalami putus asa? Ada? Wah, hampir semua, atau memang semua? Tentu kita pasti pernah mengalami putus asa. Namanya juga manusia, punya kemampuan yang terbatas. Ada orang yang putus asa karena masalah hidup, misalnya belum tanggal 1, eh uang gajinya sudah habis. Bingung deh besoknya mau makan apa. Yang punya uang pun pasti pernah merasa putus asa, ketika mungkin anak-anaknya gak bisa diatur, anak-anaknya yang punya uang banyak ternyata jatuh ke pergaulan yang buruk, atau mungkin pekerjaannya mengalami goncangan selama pandemi ini. Gak sedikit usaha-usaha harus tutup karena penghasilan turun. Bagi seorang hamba Tuhan pun, putus asa pasti pernah dialami. Misalnya jemaat mengalami kesulitan keuangan, sementara gembalanya pun gak punya uang lebih untuk membantu. Atau ada jemaat yang berantem, padahal sudah tiap Minggu belajar tentang firman Tuhan. Salahkah kalau kita putus asa? Putus asa jelas salah. Normal? Putus asa pun normal dalam diri manusia. Saya ajak kita baca Alkitab dari KELUARAN 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Ayat ini merupakan bagian dari kisah ketika Allah mengutus Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Kalau kita coba gali tentang Musa, ia bukan orang bodoh. Ia menerima pendidikan selama dibesarkan di Mesir. Namun ketika Tuhan mengutusnya, ia merasa tidak mampu. Ada penolakan dalam dirinya bahwa ia tidak akan bisa melakukan perintah itu. Perasaan ini yang umum dialami oleh kita juga. Seringkali kita merasa tak mampu menghadapi hari esok. Perasaan yang tidak mampu ini akan bertumbuh hingga mencapai titik putus asa, tidak tahu harus melakukan apa. Kenapa sih putus asa itu salah tapi tetap disebut normal? Putus asa adalah bagian yang menunjukkan diri kita manusia. Manusia itu terbatas, jadi ada saja situasi yang gak bisa kita hadapi, dan itu membuat putus asa. Lalu kenapa salah? Karena kita punya Tuhan yang akan memberikan kita kekuatan untuk menghadapi semua tantangan dalam hidup. Alkitab bilang jangan kamu khawatir akan hidupmu. Kalau Tuhan memberikan kita kesempatan untuk hidup hari ini dengan semua latar belakang kita, tentunya Tuhan tahu kita mampu mengerjakan setiap tanggungjawab yang diberikan-Nya. 1 Korintus 10:13 menuliskan bahwa Tuhan tidak akan mengizinkan kita mengalami pencobaan yang melebihi kekuatan kita Seperti Musa, Tuhan memerintahkannya tentu dengan sebuah persiapan. Ada solusi lain yang Tuhan tawarkan, yaitu Harun sebagai perwakilannya berbicara (tentunya Musa sebagai penyampai suara dari Tuhan). Demikian pula kita, mari bersama dengan Tuhan menjalani hari-hari dengan penuh pengharapan. Mari bangun hubungan dengan Tuhan, sehingga kita tak lagi putus asa, karena kita memahami apa Kehendak Tuhan dalam setiap proses hidup yang kita alami. Putus asa itu memang normal, tapi ketika kita punya pengharapan di dalam Tuhan, kita belajar untuk bertumbuh di tengah tantangan. Baik masalah hidup, ataupun mungkin masalah-masalah di tempat ini. Mari, biarkan Roh Kudus Sang Penghibur memberikan kita kekuatan untuk terus maju dan menjadi terang bagi lingkungan kita. Ingat pesan saya, jangan putus asa, meskipun putus sendal, karena kita masih punya kaki untuk menapaki perjalanan hidup bersama Tuhan.


MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : BERSYUKUR SELALU Nats : Mazmur 3:6 Siapa yang tidak tahu apa arti bersyukur? Bersyukur tentunya menjadi istilah yang sudah sering kita dengar apalagi kalau sedang tertimpa masalah. Ada yang gak punya masalah di sini? Banyak orang sekarang sangat hebat bicara mengenai bersyukur. Ketika teman-temannya mengalami pencobaan, kita mudah mengatakan "Bersyukurlah!" Pada kenyataannya, ketika persoalan datang, kita diperhadapkan pada pilihan, sanggupkah kita bersyukur? Saya mengajak kita membuka Alkitab dalam Mazmur 3:6. Tidur. Hal paling sederhana dan mendasar bahkan sering dipandang remeh, tapi sebenarnya menjadi sesuatu yang harus sangat disyukuri. Seringkali kita mengeluh akan kehidupan dan persoalan kita hingga malas makan, bahkan jadi sulit tidur. Pertanyaannya, apakah permasalahan kita berakhir? Tentu tidak. Malah kita jadi sakit dan semakin sulit menghadapi permasalahan yang ada. Inilah yang berhasil dikalahkan oleh Daud. Di tengah permasalahannya menghadapi musuh, ia masih bisa tidur karena percaya Tuhan akan melindunginya. Ya, bersyukur sebenarnya ditunjukkan bukan dari kalimat yg keluar dari mulut saja, tapi juga tindakan nyata. Mereka yang tahu bersyukur, mampu mengelola sikap hati dan pikiran mereka untuk tetap mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan 3 makna bersyukur bagi kita semua. Bersyukur menandakan penyerahan diri kepada Tuhan Mereka yang bersyukur berarti memercayai penyertaan Tuhan atas hidupnya. Bahkan dalam permasalahan hidup, mereka percaya bahwa Tuhan punya rancangan yang terbaik dalam hidupnya. Meskipun persoalan datang menyerang bertubi-tubi, bahkan istilahnya sampai babak belur, mereka yang bersyukur menandakan penyerahan diri bahwa Tuhanlah yang ambil kendali. Setiap persoalan dalam hidup dipercaya sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk mendidik umat-Nya agar semakin mampu memahami Kehendak-Nya. Permasalahan pun seringkali digunakan Tuhan untuk menegur orang-orang yang dikasihiNya untuk tidak menyimpang terlalu jauh. Bersyukur menandakan pikiran yang sehat Kok pikiran yang sehat? Tentu saja. Orang yang mampu bersyukur dalam segala keadaan, punya pikiran yang lebih sehat dalam mengelola keadaannya. Ia mampu menahan diri di tengah gejolak, merasakan kesedihan tapi terkendali, dan menikmati kebahagiaan dengan tidak berlebihan karena ia sadar segala sesuatu tidak abadi, ada waktunya untuk bahagia, sedih, maupun marah. Banyak orang sulit berpikir sehat di tengah tekanan. Istilahnya “asli setiap orang akan terlihat ketika ditimpa persoalan”. Ini adalah wujud pikiran sehat ketika dalam tekanan pun seorang mampu bersyukur dan menyerahkan diri ke hadapan Tuhan, memercayakan pembentukan Tuhan atas hidupnya. Bersyukur menandakan kebijaksanaan Masih sama seperti sebelumnya. Orang yg mampu bersyukur berarti memiliki pengenalan akan karya Tuhan dalam hidupnya. Dengan pikiran yang sehat tentunya akan melatih kecerdasan pikiran mengelola segala situasi. Pengalaman2 yang dilalui dengan pikiran yang sehat tentunya akan memberikan pengetahuan hingga kebijaksanaan dalam diri seseorang. Mereka yg mengerti bersyukur akan memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dan kemampuan pengelolaan keadaan yang lebih baik.


Bersyukur adalah sesuatu yang penting. Bersyukur berarti menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan dan percaya setiap keadaan memberi kita didikan semakin disempurnakan serupa dengan Kristus. Jadi, kalau ada masalah yang sedang kita alami apakah masih malas makan? Masih susah tidur? Duh, rugi sekali. Sudah sakit karena masalah, makin sakit karena cari masalah. Firman Tuhan tidak saya panjangkan, semoga kita tetap jadi pribadi yg bisa bersyukur dan semangat menjalani hari-hari demi kemuliaan Tuhan. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : IBADAH KEPADA TUHAN Nats : Yosua 24:14-15 Kata ibadah kepada TUHAN disini saya terjemahkan sebagai “melayani, berbakti,dan mengabdi kepada Tuhan”. Ibadah dalam konsep Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai arti “pelayanan”. Kata Ibrani untuk ibadah adalah “avoda” sedangkan kata Yunani yang dipakai adalah “latreia”. Kata “avoda” dan “latreia” pada mulanya menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan. Dan dalam rangka mempersembahkan “ibadat” ini kepada Allah, maka para hamba-Nya harus meniarap (Ibrani “hisytakhawa”, atau Yunani “proskuneo”) dan dengan demikian mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuhpuja. Konteks Yosua pasal 24 ini adalah pidato perpisahan Yosua kepada orang Israel sebelum ia purna tugas sebagai pemimpin Israel. Yosua memberikan nasihat-nasihat dan peringatan kepada orang Israel agar setia kepada Tuhan, tidak berpaling kepada berhala atau ilah lainnya. Nasihat-nasihatini penting mengingat orang Israel yang telah berhasil memasuki tanah Kanaan pernah melupakan Tuhan yang telah memberi keberhasilan kepada mereka. Dalam prakteknya, Israel terjatuh dalam godaan untuk menyembah kepada “allah orang Mesir” yang pernah disembah nenek moyang mereka atau kepada “allah orang Amori” yang disembah oleh masyarakat lokal. Dalam persimpangan iman itulah Yosua mengingatkan mereka untuk kembali beribadah kepada TUHAN. Yosua juga memberikan tantangan agar orang Israel mengambil keputusan tegas (komitmen) untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Ini bukan sekedar tantangan kepada orang Israel, tetapi juga kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Yosua memberi teladan dan memutuskan bahwa iadan seisi rumahnya telah membuat keputusan untuk tetap setia beribadah kepadaTuhan Allah Israel. Itu berarti istri, anak-anaknya, bahkan semua kaum keluarganya beribadah hanya kepada Tuhan. Berdasarkan dua ayat dalam Yosua 24:14,15, saya akan membagi empat hal kebenaran penting tentang ibadah bagi orang percaya, khususnya arti pentingnya bagi keluarga Kristen saat ini. Ibadah Harus Didasarkan Pada Takut Akan Tuhan. Kebenarannya Orang yang beribadah belum tentu takut akanTuhan, tetapi orang yang takut akan Tuhan pasti beribadah, bagaimanapun situasi dan kondisinya. Contoh : Daniel, sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah orang yang takut akan Tuhan dan tetap ibadah kepada Tuhan walaupun bahaya menantidan rintangan menghadang mereka. Takut akan Tuhan ini selalu ditempatkan padaurutan pertama dalam Alkitab. Sebetulnya, ada lebih dari 300 contoh penggunaankata takut akan Tuhan ini dalam Alkitab. Berikut ini dua diantaranya : 1 Samuel 12:14; Mazmur 34:10. Takut akan Tuhan ini berasal dari kataIbrani Yira dan Pakhat; serta kata Yunani fabos mengandung pengertian yaitu : hormat, gentar, kagum pada Allah, dan kasih yang dalam pada Allah yang membawa pada ketaatan dan pengabdian kepadaNya. Dalam Mazmur pasal 112 dan 128 kita


menemukan kata ”berbahagialah” yang dalam bahasa asli Alkitab dan bahasa Inggris adalah ”diberkatilah”. Di dalam kedua pasal tersebut ada berkat yang luar biasa bagi seorang yang takut akan Tuhan, dan berkat itu akan diwariskan juga kepada anak dan cucu mereka. Ibadah Kepada Allah / Tuhan Harus Berasal Dari Hati Yang Tulus Iklas Kata tulus iklas dapat diartikan sebagai : rela, sungguhsungguh,dan penuh penyerahan. Ketulusan kita berbakti kepada Tuhan terlihat dari sikap dan tindakan-tindakan kita. Saya mengartikan ibadah dengan setia ini dalam tiga pengertian, yaitu : Ibadah dengan komitmen, ibadah dengan tekun atau terus menerus, dan ibadah yang menjadi gaya hidup kita. Kesetiaan diawali dari sebuah komitmen (keputusan) yang kuat. Komitmen adalah sebuah penyerahan yang total. Komitmen yang setengah-setengah tidak dapat disebut komitmen, contoh raja Saul. Komitmen dimulai dari sikap hati. Selanjutnya komitmen itu harus dilakukan, sebab sebuah komitmen tidak dapat disebut komitmen jika tidak dilakukan. Dan ibadah ini akhirnya harus menjadi gaya hidup yang dilaksanakan tanpa paksaan tetapi dengan sukacita dan karena kasih kepada Tuhan. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : IBADAH KEPADA TUHAN Nats : Yosua 24:14-15 Daud penulis Mazmur 37 membandingkan keberhasilan orang fasik dengan orang benar yang takut akan Tuhan. Tanpa mengandalkan Tuhan,bisa saja orang fasikmengumpulka kekayaan dengan ketekunan dan kerajinan atau dengan kelicikan dan kejahatannya. “ Orangorang fasik menghunus pedang dan melentur busur mereka untuk merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur; (Mazmur 37:14) Hidup orang fasik bisa saja sepertinya secara materi diberkati,namun tidak mungkin menjadi berkat secara rohani.Bahkan diri orang fasik sendiripun akan berkahir dalam kebinasaan “….Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik;… ” (Mazmur 37:10) “..Sesungguhnya, orang-orang fasik akan binasa;..” (Mazmur 37:20) Tentunya kita ingin memiliki kehidupan rumah tangga atau keluarga yang diberkati dan pada gilirannya menjadi berkat. Bagaimanana agar keluarga kita dapat menjadi keluarga yang diberkati dan menjadi berkat? Mari kita memperhatikan tuntunan firman Tuhan yang terdapat dalam Mazmur 37:35-36 Milikilah kehidupan yang benar Orang benar tidak didefinisikan sebagai orang yang tidak pernah berbuat dosa atau kesalahan.Orang benar adalah orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan dibenarkan oleh kuasa darah-Nya “ Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 18:19) Dalam menjalankan kehidupannya “ orang benar ” takut akan Tuhan “ Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintahNya.” (Mazmur 112:1) Keluarga yang menjalankan roda kehidupannya dengan benar,pasti akan harmonis,diberkati dan menjadi berkat bagi orang-orang disekitarnya. Masing-masing anggota keluarga,baik suami-istri, dan anak-anak bertanggung jawab menjalankan


peranannya. Bukan karena takut kepada manusia tetapi “ takut kepada Tuhan”. Takut akan Tuhan mencakup : - Kehidupan yang senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan - Menjauhkan diri dan membenci dosa - Melakukan kebenaran firman Tuhan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Mari kita doakan suami kita,Istri kita atau anak-anak kita supaya senantiasa hidup takut akan Tuhan. Demikian juga mari kita mulai dari diri kita pribadi lepas pribadi senantias berusaha menjadi orang yang takut akan Tuhan dan rendah hati. “ Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” (Amsal 22:4) Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.” (Amsal 14:27) Orang benar dijanjikan tidak akan ditinggalkan sampai anak-cucunya meminta-minta,tetapi sebaliknya dijanjikan berkat ada diatas kepala orang benar “ Berkat ada di atas kepala orang benar, tetapi mulut orang fasik menyembunyikan kelaliman.” (Amsal 10:6). Praktekkanlah kehidupan yang penuh dengan kemurahan dan belas kasihan. Jika keluarga kita tidak mempraktekkan kehidupan yang murah hati dan penuh dengan belas kasihan,jangan harap kita akan diberi kemurahan. “ Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7) “ Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:10) Orang yang kaya secara materi,belum tentu otomatis kaya dalam kemurahan. Tidak jarang kita melihat orang yang semakin kaya,semakin kikir dan tidak mau peduli dengan orang lain Kemurahan hati adalah buah Roh Kudus “ Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,..” (Galatia 5:22) Jemaat Makedonia adalah teladan dalam kemurahan hati “ Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Korintus 8:2) Kasih adalah dasar hubungan antara suamiistri “ Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya ” (Efesus 5:25) Kekayaan dan kehormatan bukanlah segala-galanya. Kejarlah yang utama yaitu hidup takut akan Tuhan dan dalam kemurahan hati,maka kekayaan dan kehormtan akan menjadi bonus dalam kelauarga atau rumah tangga kita. Dengan demikian keluarga yang diberkati dan menjadi bekat bukan sekedar impian tetapi akan menjadi kenyataan.Bersama Tuhan kita mampu mewujudkannya. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : HARMONI NATAL Nats : Lukas 10:25-37 Secara umum kita memahami arti kasih, tapi pertanyaannya apakah kita sudah menerapkan kasih di dalam kehidupan kita? Teori itu mudah, pada praktiknya ya susah-susah gampang.. banyakan susahnya sih. Tema kali ini adalah Harmony of Christmas. Keselarasan, keharmonisan natal. Natal adalah peringatan akan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat manusia. Kelahiran Kristus ke dunia adalah wujud kasih Allah. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, wah jadi khotbah paskah nih. Memang kalau berbicara tentang kasih Allah tidak dapat dipisahkan dari seluruh karya keselamatan yang dikerjakan Allah, mulai dari penciptaan, pemilihan atas Nuh, Abraham, kelahiran Yesus, kematian dan kebangkitan-Nya, bahkan sampai janji tentang akhir zaman.


Kita hari ini merayakan salah satu dari penggenapan janji Allah akan karya keselamatan. Kelahiran Dia Sang Juruselamat yang akhirnya harus disalibkan demi menebus dosa manusia. Ini adalah wujud nyata dari Kasih, bukan sekedar teori. Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita dituntut untuk menerapkan kasih itu kepada sesama. Merayakan Natal berarti kita mengakui bahwa Yesus lahir ke dunia sebagai bagian dari kasih Allah. Efesus 5:2 Paulus menasihati jemaat untuk hidup di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus mengasihi mereka dan menyerahkan diri-Nya sebagai penebus dosa. Jadi, untuk mencapai Harmony of Christmas itu, kita dituntut untuk hidup dalam kasih. Mari kita lihat pembukaan perikop ini tadi. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada Injil Matius bahkan digunakan kalimat dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa kita dituntut untuk mengasihi sesama kita. Bagaimana mungkin kita berkata mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, sedangkan kita tidak peduli dengan sesama yang jelas2 kelihatan? Ada banyak cara orang menunjukkan kasihnya. Misalnya dia orangnya lembut, “Sayang, aku mengasihimu!” Ada juga yang agak keras, biasanya Ibu kita kalau anaknya pulang main terus flu, pasti langsung dibilang, “Es teroooos!” yah ini wujud rasa kasihnya. Kali ini saya mau sampaikan kasih yang seperti apa yang kita pelajari dari perikop ini sebagai bagian dari karya keselamatan Kristus. Kasih tidak memilih Perikop ini menceritakan bagaimana seorang Samaria menolong orang yang terluka. Bahkan Yesus sendiri menambahkan tokoh-tokoh lain sebagai pembanding. Samaria adalah suku yang dianggap tidak lagi keturunan Yahudi murni. Orang-orang Samaria telah melakukan kawin campur dengan bangsa-bangsa lain, sehingga dianggap tidak lagi layak menerima janji Allah. Pada cerita ini dengan jelas kita melihat Yesus mencontohkan bagaimana seorang Imam yang menghindari orang yang sedang membutuhkan pertolongan ini. Imam jelas-jelas adalah seorang pemimpin orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang dipercayakan untuk menjadi penghubung antara umat dengan Tuhan. Hal ini juga dilanjutkan dengan mencontohkan penggunaan tokoh Lewi yang notabene adalah pelayan Kasih tidak pura-pura Seorang yang tidak dikenal sedang dalam kondisi terluka parah, lalu ia membawanya untuk diobati, bahkan rela kehilangan waktu, tenaga, juga uang. Tentunya hal ini bukanlah sebuah kepura-puraan. Tidak ada kebanggaan atau balasan yang diharapkan oleh orang Samaria ini. Dia tidak mengenal siapa yang ditolongnya, tidak seperti beberapa acara reality show di televisi, karena sudah melihat kamera, orang jadi rebutan untuk menolong demi mendapatkan hadiah berkali lipat. Kasih harusnya tidak pura-pura. Yesus mati di kayu salib bukan sebuah peristiwa pura-pura. Ia mengasihi manusia hingga rela mengalami penderitaan yang begitu mengerikan. Alkitab mencatat ketakutan Yesus di malam sebelum penyaliban, hingga peluhnya mengeluarkan darah. Oleh karena itu, ketika kita bicara kasih, sudah pasti jangan sampai ada motivasi lain di belakangnya. Mari terapkan kasih yang tulus datang dari hati. Kasih menyatakan Allah Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:7-21). Ketika bicara Allah adalah kasih, berarti standar dari kasih itu adalah Allah sendiri. Menyatakan kasih berarti menyatakan kehadiran


Allah atas dunia, maka kasih tentu harus punya tingkatan seperti menyatakan keberadaan Allah. Hari ini kita menyederhanakan kasih hanya sebatas sebuah pemberian fisik maupun perhatian, hingga kita lupa bahwa yang jauh lebih penting dari bicara kasih adalah menyatakan Allah itu sendiri sehingga melalui hidup kita, Allah dimuliakan. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : HIDUP KEKAL Nats : Yohanes 10:28-30 Siapa yang tidak mau panjang umur? Banyak orang berusaha untuk mempertahankan hidupnya, baik susah maupun tidak, baik miskin maupun kaya, mereka berusaha sedemikian rupa untuk bertahan hidup. Bahkan hari-hari ini para pemilik modal besar sedang berusaha menemukan cara supaya hidup mereka dapat abadi dan bertahan hingga dunia ini berakhir. Ini adalah kodrat manusia untuk mempertahankan hidup, namun sebagai makhluk terbatas, setiap orang tak dapat menghindari kematian. Semua akan menghadap ujung pada akhirnya, hanya menunggu giliran saja. Namun, tidak cuma sampai di situ. Kehidupan di dunia hanya sementara, namun setelah ini akan ada kehidupan kekal yang abadi dan sangat ditentukan dari bagaimana kita hidup. Kehidupan kekal ini yang banyak dikejar orang-orang dengan berbagai cara juga. Hari ini kita akan coba bahas mengenai hidup kekal. Hidup Kekal Adalah Pemberian Allah Karena Hidup kekal itu adalah pemberian Allah maka ada kepastian. Sebab Allah adalah pemilik kerajaan surga dan yang berhak masuk surganya adalah haknya Tuhan. Hidup kekal itu bukan usaha manusia melainkan pemberian Allah. Kata Aku dalam tesk ini adalah Yesus sendiri. Siapa itu Yesus adalah Allah sendiri. Dari mana kita tahu Yesus adalah Tuhan, berdasarkan kitab Injil Yohanes yaitu pasal 1:1 dimana dikatakan pada mulanya adalah firman; Fiirman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ayat 14 - firman itu telah menjadi manusia yaitu Yesus. Apakah ada bukti lain yang menjawab Yesus adalah Allah. Pasal 20 menjawab Yesus adalah Allah melalui kebangkitan-Nya. Berdasarkan teks yang kita ini juga menjawab Yesus adalah Allah yaitu ayat 30 "Aku dan Bapa adalah satu". Dimana Allah Bapa dan Yesus Kristus adalah setara, sebab Mereka itu adalah satu. Dia berkata Aku memberikan hidup kekal kepada mereka. Kata "memberikan" dalam bahasa Yunani δίδωμι (didomi). Kata didomi ini adalah kata kerja, indikatif (waktu sekarang), present (hadia, pemberian), aktif, pribadi, tunggal. Maksudnya begini kata memberikan ini adalah kata kerja. Tuhan Yesus yang sendiri yang inisiatif untuk memberikan hidup kekal. Ia sendiri yang mengerjakannya bagi kita tanpa campur tangan manusia. Hasilnya, Ia memberikannya kepada kita secara cuma-cuma. Misalkan begini, saya berkerja dengan sekuat tenaga untuk membeli sepede motor, tetapi karena saya kasihan dengan sahabat saya, sehingga saya memberikannya secara cumacuma kepadanya tanpa usahanya. Demikian juga dengan hidup kekal, Yesus sendiri yang mengerjakannya melalui kematiaan-Nya di kayub salib dan hasilnya Ia memberikan secara cuma-cuma kepada kita hidup kekal. Tanpa pengorbanan Kristus di kayub salib dan kebangkitan Kristus maka saudara tidak akan mendapatkan hidup kekal. Sebab setiap dosa dilakukan harus yang dikorbankan, karena dosa itu abadi maka darah binatang tidak akan bisa sebab tidak abadi. Karena darah Yesus adalah abadi maka hanya darah-Nya yang sempurna untuk menghapus segalah dosa manusia yaitu selama-lamanya. Sehingga hasilnya adalah mereka tidak binasa selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku.Inilah jaminan keselamatan bagi domba-domba-Nya Tuhan adalah pasti karena Kristus telah membayarnya lunas dan tuntas.


Bahkan kalau kita bandingkan dalam surat Roma 8:32-34 sangat jelas bahwa setiap orang yang telah dipilih Allah hidupnya pasti. Tidak seorang pun yang memisahkan diri-Nya Allah maupun untuk menghukum dirinya. Sebab Kristus telah mati diatas kayub salib untuk menggantikan pelanggaran dosa-dosa kita. Kalau kita yakin bahwa kita ini adalah dombadomba-Nya Tuhan atau umat-umat pilihah Tuhan maka Tuhan yang menjadi pembela bagi kita. Kematian bukan hal yang kita takuti, kematian bukan akhir segalahnya. Disaat kita dipanggil Tuhan ada jaminan kebahagian. Hidup abadi bersama-Nya dan sukacita itu selalu ada. Mungkin saat ini saudara kuatir, takut nasip akhir hidup saudara. Jika saudara yakin termasuk domba-dombanya Tuhan dan berada di dalam Tuhan. Maka Tuhan menjadi pembelamu, siapakan yang berani memisahkan kita dari-Nya, siapakah yang akan menghukum kita, tidak ada. Sebab Kristus telah mati untuk saudara. Kristus telah menanggu segala dosa saudara. Jika saudara menyadari begitu besar pengorbanan Kristus dalam hidup kita. Maka motivasi kita untuk melayani Dia, memuji Dia, beribadah kepada-Nya bukan hanya sebatas ritual, kebiasaan, aturan gereja. Namun saudara melakukan semuanya itu sebagai terimakasih kita kepada-Nya, sebagai ucapan syukur kita kepada-Nya karena Ia telah memberikan hidupNya untuk kita dimana Ia di salibkan menanggu segala dosa-dosa kita agar kita tidak binasa melainkan memperoleh hidup kekal. Ada Jaminan Yang Pasti Terkadang apa yang dijanjikan oleh manusia terkadang tidak pasti dan tidak akan terjadi. Namun apa yang di janjikan oleh Allah selalu pasti. Mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganku. Hidup kekal yang Tuhan berikan kepada domba-domba-Nya ada jaminan yang pasti yaitu mereka tidak akan binasa selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganku. Inilah jaminan hidup kekal bagi domba-domba-Nya di mana Tuhan sendiri yang menjamin kehidupan domba-domba-Nya. Yang menarik dalam teks ini adalah seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku. Jika saudara yakin dan percaya saudara dombadomba-Nya Tuhan siapa pun itu tidak akan ada yang bisa mengambil, merampas, merebut dari tangan-Nya Tuhan karena saudara adalah miliknya Tuhan. Jika kita yakin bahwa kita ini adalah dombanya Tuhan. Hidup kekal yang Tuhan berikan kepada kita tetap menjadi milik kita. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah saudara yakin domba-Nya Tuhan? Jika saudara yakin bertindaklah seperti dombanya Tuhan. Apa yang saudara percayai juga nyata dalam kehidupan saudara. Iman dan perbuatan adalah satu kesatuan. Jika saudara percaya domba Tuhan buktikan melalui kehidupanmu, perbuatanmu kalau kamu dombanya Tuhan. MATERI BIMBINGAN PENYULUHAN Materi : TUHAN DI TENGAH KELUARGA Nats : Amsal 3:5-10 Dr. James Dobson melalui hasil survey yang dilakukan terhadap pasangan suami-istri yang telah berhasil menjalin hubungan suami-istri yang langgeng dan bahagia. Ada lebih dari 600 orang yang memberikan pendapat. Ia menyimpulkan bahwa salah satu rahasianya untuk menjaga kekokohan sebuah kekuarga Kristen adalah “Berpusatkan Kepada Kristus“. Melalui Amsal 3:5-10 kita akan belajar memahami lebih dalam lagi tentang arti pentingnya kehadiran Tuhan sebagai pusat keluarga .


Secara khusus bagian ini berbicara tentang perbedaan antara orang yang diberkati Tuhan dan yang tidak diberkati Tuhan. Orang yang diberkati Tuhan adalah orang yang hidupnya berpusatkan kepada Allah, sedangkan yang tidak diberkati adalah orang yang hidup menurut jalannya sendiri. Melalui bagian ini kita akan belajar tentang 3 kebenaran mengenai arti menghadirkan Tuhan di tengah keluarga. Hidup Bergantung Kepada Tuhan ( ayat 5) Keluarga yang berpusatkan kepada Allah adalah keluarga yang setiap anggotanya adalah orang yang hidupnya berserah kepada Tuhan . Kata “percayalah “berarti “penuh keyakinan“ yang diterjemahkan dalam bahasa inggris “trust”. Ditambah dengan pararelisme yang bebentuk antithesis “jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri”, maka hal ini menunjukkan bahwa orang yang sungguh berpusatkan kepada Tuhan adalah orang yang menaruh pengharapannya hanya kepada Tuhan (Yahweh). Menjadi keluarga yang menghadirkan Tuhan berarti seluruh anggota keluarga selalu bersandar dan berharap hanya kepada Tuhan dalam segala aspek hidupnya. Hidup Sesuai Dengan Kehendak Tuhan ( ayat 6, 7, 8) Selain bersandar dan berharap kepada Tuhan keluarga yang berpusatkan kepada Tuhan adalah keluarga yang hidup dalam kehendak TUhan. Istilah “Akuilah“ berasal dari kata “Yada“ dalam bentuk imperative yang berarti “mengenal Tuhan melalui pengalaman“ . Ditambah dengan kata “Derek” yang berarti “jalan hidup atau tingkah laku”, sehingga dapat diterjemahkan “Akuilah TUHAN dalam segala lakumu “yang mengandung arti“ mengenal Tuhan dengan mengakui ketuhanan-Nya dalam seluruh langkah hidup kita” atau “hidup hidup sesuai dengan jalan dan kehendak Tuhan“ . Ditambah dengan ayat 7 yang menegaskan bahwa orang yang mengakui TUHAN dalam segala jalan hidupnya adalah juga orang yang “Takut akan Tuhan“. Istilah “Takut“ berarti “hormat dan mengakui kedaulatan serta kemuliaan Tuhan“ yang tidak berkompromi dengan “kejahatan” (ayat 7b) . Keluarga yang berpusatkan kepada Tuhan adalah keluarga yang mau taat kepada Tuhan. Hidup Melayani Tuhan (Ayat 9-10) Penulis Amsal juga mengingatkan kepada pembacanya bahwa untuk hidup dalam berkat Tuhan mereka juga harus belajar mengembalikan apa yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Dalam hal ini mempersembahkan hasil pertamanya. istilah “re’syit” yang diterjemahkan “buah pertama” dapat diartikan “yang terbaik”. (bd. I Sam 2:19; Amos 6:1; Mz.78:51). Dengan kata lain keluarga yang ingin hidup berpusat kepada Tuhan harus ditunjukkan dengan hati yang mau memberikan yang terbaik kepada Tuhan . Dalam hal ini sebagai orang yang percaya kepada Kristus maka memberi yang terbaik itu berarti memberikan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Keluarga yang hidupnya mau melayani dan memberikan terbaik kepada Tuhan juga akan menerima dan mengalami janji berkat Tuhan (ayat 10).


Click to View FlipBook Version