The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Widwi Ast, 2021-07-28 13:15:41

PRASANGKA YANG SALAH

cerpen

PRASANGKA YANG SALAH

Tung Widut

“Rin, Yula hilang,” tulisan dari seberang sana.
Dari Suprih kakak sepupu Nerina. Suprih kakak dari Yul. Yulaikah nama
panjangnya. Dia bekerja di luar negeri menjadi TKI karena himpitan ekonomi. Dua
tahun lalu suaminya meninggal karena tumor ganas yang diidapnya. Sebelum
meninggal usaha pengobatan sudah dilakukan kesana-kemari. Biaya yang di

digunakan cukup besar. Dua kali operasi dan berpuluh kali pengobatan alternatif.
Tentunya biaya sangat tinggi. Untuk biaya Suprih harus mengutang kepada saudara-
saudaranya. Toh Tuhan berkehendak lain. Suami Suprih menghadap kepada Tuhan
terlebih dahulu. Meninggalkan dua anak. Perempuan dan laki-laki yang kini sudah
mulai sekolah. Anak pertamanya sekarang kelas dua SMK. Sedang adinya kelas 1 SD.

Yula seorang single parent. Nasibnya tak jauh berbeda dengan kakaknya. Saat
muda Dia sudah pergi ke luar negeri. Penghasilan yang didapat lumayan banyak. Bisa
membuatkan rumah bagi orang tuanya. Sepeda motor baru dan juga kebutuhan
sehari-hari.

Kisah sedih juga menghinggapi diri Yula. Semua berawal ketika Yula jatuh
cinta dengan sesama tenaga kerja asing dari India. Berjanji akan menikahi dan
bersedia pulang ke Indonesia.

“Dik, aku akan menikah dengan orang India,” kata Yula saat itu melalui
telepon.

“Orang India?” tanya Nerina.

“ Iya, setelah menikah nanti mau diajak pulang ke Indonesia,” jawab Yula.

“Sudah kamu pikirkan Mbak? Nggak semudah itu menikah dengan orang luar
negeri. Berkacalah pada para artis. Mereka yang kaya raya kebanyakan pisah,
sedangkan keluarga kita keluar negeri itu untuk bekerja. Uang saja masih
mikir,” kata Nerina.

“Sudah. Sudah saya pikirkan matang-matang. Semuanya sudah saya rundingkan
sama dia. Nanti setelah menikah kita balik ke Indonesia. Mau ngurus jadi
penduduk Indonesia. Kamu tidak usah memikirkan aku. Doakan saja biar
lancar,” kata Yula dengan yakin.

Perdebatan pun tak sesederhana itu. Sampai melibatkan keluarga besar. Antara
keluarga Nerina dengan keluarga Yula. Keluarga Yula yang sangat bangga akan
mendapat menatu orang India. Mereka mendukung keputusan Yola. Sedangkan
Nerina bersikukuh semua itu akan memerlukan biaya yang banyak, daripada untuk
menikah dengan orang luar negeri lebih baik mencari suami yang satu negara saja.

Kekuatan cinta akhirnya mengalahkan segalnya. Dua insan ini akhirnya
memadu kasih dengan nikah di bawah tangan di negeri orang. Rasa bahagia tak
berlangsung lama. Paduan kasih putihnya cinta dari Yura mulai berbuah. Dia mulai
mengandung. Dengan segala pertimbangan dia pulang ke Indonesia dengan janji
suaminya akan menyusulnya. Hari mulai berlalu. Perutnya yang mulai membesar tak
ada kabar dari suaminya. Terpaksa dia melahirkan sendiri dalam kasih sayang orang
tuanya. Selepas melahirkan dia tinggalkan anak bayinya untuk kembali ke luar negeri.
Menyusul suaminya dengan harapan akan di ajaknya pulang ke Indonesia seperti
janjinya semula. Dia ingin sekali menunjukkan kepada orangtuanya, kalau dia benar-
benar menikah. Punya suami di sana. Akan menunjukkan kepada semua tetangga dan
sanak sandarannya bawa omongannya selama ini bukan omong kosong.

“Lah susunlah aku kemari. Aku tak bisa masuk kalau tak bersama orang Indo,”
suara telepon yang terdengar. Suara itu diperdengarkan di hadapan keluarga
besarnya. Suara yang meyakinkan itulah akhirnya Yula berangkat kembali ke luar
negeri.

Sesampai di luar negeri dia bisa bekerja pada tempatnya terdahulu. Kerjanya
baik. Gajinya semakin naik. Inilah yang sedikit membagakan bagi keluarga. Dia belikan
ibunya sebuah sepeda motor untuk antar jemput anaknya yang mulai PAUD.
Kakaknya saat itu suaminya sedang sakit, hidupnya pun dicukupi.

Suatu malam yang sangat sepi. Malam tanpa bintang dan tanpa bulan. Angin
dingin membuat suasana makin senyap. Mendung tebal semakin membuat malam
semakin gelap. Jalnan mengkilap bekas huja yang reda belum lama.

“Tok, tok,tok,” suara pintu rumah bu Rauna di ketuk.

Semakin lama ketukan pintu semakin keras.

“Siapa?” tanya Bu Rauna ketika akan membukakan pintu.

“Saya mak,” jawab Yula.

“ Saya siapa?” tanya bu Rauna lagi.

“Yula mak. Yula mak,” jawab Yula.

Bu Rauna tak semudah itu percaya. Tak ada kabar sebelumnya kalau Yula akan
pulang. Tangan kanannya mulai meraih kunci jendela. Di bukannya perlahan daun
jendela yang paling dekat dengan pintu. Benar terlihat Yula berdiri di depan pintu.
Baru setelah percaya membukakan pintu untuk Yula.

“Assalamualaikum,” kata Yula sambil berjabat tangan dengan sang emak.

Emaknya masih diam. Tercengang dengan keadaan Yula yang dia lihat. Tak
tak seperti kepulangan sebelumnya. Yula anak perempuannya yang sudah
memperbaiki rumahnya. Membelikan sepeda motor. Setiap bulan mengirim uang
untuk mencukupi hidupnya. Kini keadaannya sangat memprihatinkan. Kulitnya
kelihatan sangat gelap. Badannya kurus kering. Rambutnya acak-acakan. Hanya
memakai sebuah celana jeans kaos dan jaket yang sudah lusuh. Barang bawaannya
pun tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya membawa sebuah tas kecil dan
sebuah kantong kresek hitam, yang berisikan separuh roti Roma Kelapa.

“ Mak, masak apa?” tanya Yula.

Bu Rauna semakin terperanjat dengan pertanyaan anaknya itu. Tengah malam
menanyakan masakan. Anaknya sekarang sangat lapar. Untung semalam ada tetangga
yang selamatan. Nasi berkat yang belum tersentuh. Disodorkan dihadapan Yula.
Tanpa cuci tangan, tanpa cuci muka, tanpa pula ganti baju. Dia makan dengan
lahapnya sendok demi sendok . Dengan penuh tanda tanya berampun menghibah,
meneteskan air mata. Melihat anaknya kelihatan kela[aran. Tapi tak kuasa bibir bu
Rauna bertanya.

“Enak mak, sudah lama nggak makan berdekat,” kata Yula.

“ Oh iya ya memang yu Tun masakannya enak,” jawab bu Rauna terbata.

Dia berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menyembunyikan rasa iba nya

dan air matanya.

“Kalau sudah, kamu tidur dulu saja. Biar besok segera bertemu dengan
anakmu!” perintah Bu Rauna

Sejak kedatangan yang terakhir keadaannya semakin lama semakin
memburuk. Sedikit demi sedikit tabunganya diambil. Satu per satu barang berharga
yang ia dapatkan kulu dia jual. Termasuk sepetak tanah. Uang yang dipinjamkan
saudaranya pun ditagih, tapi ada beberapa saudara yang belum mampu
membayarnya. Yula merasa orang yang dahulu dia tolong saat ini mengabaikannya.
Saat dia kekurangan, saat anaknya butuh uang sekolah mereka tak peduli.

Emosinya semakin tidak terkendali. Kadang dia marah-marah tanpa sebab.
Kadang bermain HP dan senyum-senyum sendiri. Padahal HP yang dipegang tak ada
pulsanya. Keadaannya semakin hari semakin parah. Saat bu Rauna sakit dan sampai
meninggal dia sudah tidak ingat untuk merawat. Sampai suatu ketika semua
barangnya habis, dia berjalan meninggalkan rumah.

Suprih, saudara kandung satu-satunya meminta para saudara dekatnya
termasuk Nerina untuk mencarinya. Saat matahari terik di atas ubun-ubun. Sinarnya
membakar penghuni bumi membuat tenggorokan sejam kering. Malam pun terasa
sangat dingin. Posisi matahari jauh dari bumi ini. Ini hari yang kedua. Yula ditemukan.
Dia berada di sebuah taman kota dua puluh kilometer dari jarak dari rumah. Dengan
jalan kaki.

Setelah diajak pulang pengobatan pun dirundingkan. Diantara sekian keluarga
memang tak ada yang mampu menanggung. Termasuk Suprih kakaknya. Dia seorang
single parent yang harus menyekolahkan dua anaknya. Tak mampu untuk biaya
pengobatan yang baik. Apalagi sakit yang diderita Yula memerlukan pendampingan
yang lama.

BPJS. Ya, BPJS yang terlintas di pikiran Nerina. BPJS akan membantu beban
yang dihadapi. Nerina mulai mencari berita di internet tentang BPJS. untuk orang sakit
jiwa. Berapa laman dibukanya. Syukur alhamdulillah, Nerina membaca bahwa sakit
jiwa bisa menggunakan JKN Kis tanpa harus membayar.

“Peserta BPJS Kesehatan bisa mendapatkan pengobatan dan terapi
gangguan kesehatan mental secara gratis. Prosedurnya, yakni peserta harus
mendatangi f asilitas kesehatan (Faskes) tingkat pertama yakni
Puskesmas atau klinik setempat,” berita dari Tribunnews.com

Berita ini membuat Nerina semakin sadar sadar akan kejadian 10 tahun lalu.
Saat gajinya dipotong untuk membayar BPJS. Gaji suaminya juga dipotong yang sama
dari BPJS. Dia merasa sangat tidak ikhlas karena gajinya dua kali dipotong. Saat itu
sempat Nerina mengajak teman-temannya untuk lapor ke kantor BPJS. Teman-
temannya tidak mau dengan alasan membayar merupakan sumbangan gotong
royong untuk orang lain. Hati kecilnya sangat mengganjal. Merasa tak iklas.

Kisah sedih yang dialami Yula sepupunya, membuat Nerina semakin sadar
akan kebijakan BPJS. Kebijakan yang sangat tepat. Kebijakan bergotong-royong untuk
mengobati orang yang benar-benar membutuhkan. Dia menjadi menyesal dengan
prasangkanya dahulu. Perasaan yang sebenarnya sudah terkubur lama, tapi baru
menyadarinya sekarang.

Biodata

Widwi Astuti. Lahir di Blitar 1972. Mengajar di SMKN 2 Tulungagung. Tinggal
di Rt 05, Rw 01 Desa Kaliboto, Kecamatan Wonodadti, Kabupaten Blitar.
[email protected], Fb Widut, IG widwiastuti5,
http://widwiastutipdae.blogspot.com


Click to View FlipBook Version