Resepsi sastra adalah suatu aliran yang memeriksa teks sastra dengan berfokus pada reaksi pembaca terhadap teks yang mereka baca. Dalam konteks ini, pembaca berperan sebagai pemberi makna, dan reaksi mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ruang, waktu, dan latar belakang sosial-budaya. Penting untuk diingat bahwa karya sastra tidak selalu diinterpretasikan, dipahami, atau dinilai dengan cara yang sama oleh semua pembaca, tergantung pada konteks dan pengalaman masing-masing individu. Menurut Junus (Liana, R. M., Hanum, I. S., & Wahyuni, I. 2022: 1517) resepsi sastra yaitu bagaimana pembaca memberikan makna terhadap teks sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadap teks sastra. Hakikat Resepsi Sastra
Horizon harapan adalah faktor penting yang mempengaruhi bagaimana pembaca atau penonton memahami, menafsirkan, dan merespons karya sastra. Istilah ini merujuk pada kumpulan harapan, asumsi, pengetahuan, dan pengalaman pribadi yang membentuk kerangka interpretatif seseorang terhadap teks tersebut. Setiap pembaca pasti memiliki tanggapan yang berbeda-beda. Perbedaan tanggapan ini oleh Hans-Robert Jauss disebut sebagai horizon of expectation (horizon harapan) dari pembaca tersebut. Pradopo (2007) menjelaskan bahwa horizon harapan adalah ekspektasi pembaca sebelum membaca suatu karya sastra. Horizon harapan seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengalaman, pengetahuan,dankemampuandalam memahami sebuahkarya sastra. Menurut Segers (Kholifah, D. N., Dahlan, D., & Yusriansyah, E. 2023: 1316) terdapat perbedaan dalam tanggapan para pembaca terhadap karya sastra. Perbedaan ini disebabkan oleh apa yang disebut sebagai “horizon harapan” atau “cakrawala harapan.” Setiap pembaca memiliki konsep tertentu tentang karya sastra berdasarkan pengalaman, pendidikan sastra, bacaan-bacaan sebelumnya, serta kemampuan pemahamannya terhadap norma-norma sastra dan pemahaman kehidupan1. Dengan kata lain, setiap individu membaca dan menafsirkan karya sastra dengan sudut pandang yang berbeda-beda, tergantung pada latar belakang danpengalamanpribadi mereka. Horizon Harapan
Menurut Segers konsep horison menjadi dasar teori Jauss. Ia ditentukan oleh tiga kriteria: (1) norma-norma umum yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; (2) pengetahuan dan pengalaman pembaca atau semua teks yang telah dibaca sebelumnya; (3) pertentangan antara fiksi dan kenyataan, misalnya, kemampuan pembaca memahami teks baru, baik dalam horison sempit dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon luas dari pengetahuan tentang kehidupan. Jaus mengemukakan bahwa harapan pembaca ini adalah hasil dari interaksi aktif antara karya sastra dan pembacanya. Di satu sisi, terdapat harapan yang diciptakan oleh karya sastra itu sendiri, sementara di sisi lain, ada sistem interpretasi yang berkembang dalam masyarakat pembaca. sedangkan, menurut Teewuw harapan terhadap karya sastra yang memungkinkan pembaca memberi makna pada karya tersebut sebenarnya telah dituntun oleh penyair melalui penggunaan sistem konvensi sastra dalam karyanya.
Estetika resepsi atau estetika tanggapan merupakan ilmu yang mempelajari keindahan berdasarkan tanggapan atau resepsi pembaca terhadap karya sastra (Pradopo, 2012: 206). Estetika resepsi melibatkan reaksi pembaca yang memberikan makna terhadap karya sastra yang dibaca, sehingga memungkinkan pembaca memberikan penilaian atau tanggapan terhadap karya tersebut. Dalam kaitannya dengan teori Hans Robert Jauss, terdapat tujuh tesis yang digunakan untuk menganalisis karya sastra yaitu sebagai berikut: Resepsi Sastra Hans Robert Jaus Tesis 1 Pengalaman Pembaca Pembaruan sejarah sastra menuntut penghapusan prasangka objektivisme historis serta landasan estetika tradisional dalam produksi dan representasi, dan menggantinya dengan estetika penerimaan dan pengaruh. Historisitas sastra tidak didasarkan pada pengorganisasian "fakta sastra " yang dibentuk setelah kejadian, tetapi lebih pada pengalaman sebelumnya dari karya sastra oleh para pembacanya.
Karya "Cakrawala Harapan " memungkinkan seseorang untuk menentukan karakter artistiknya berdasarkan jenis dan tingkat pengaruhnya terhadap audiens yang diharapkan. Jika seseorang menggambarkan jarak estetika, yaitu kesenjangan antara cakrawala harapan yang diberikan dan penampilan sebuah karya baru, penerimaannya dapat menghasilkan pencarian cakrawala melalui pengingkaran pengalaman yang akrab atau dengan meningkatkan pengalaman baru yang diartikulasikan ke tingkat kesadaran. Jarak estetika ini dapat diobjektifikasi secara historis di sepanjang spektrum reaksi audiens dan penilaian kritikus, seperti kesuksesan spontan, penolakan atau ketidakpedulian, persetujuan luas, serta pemahaman bertahap atau terlambat. Tesis 2 Horizon Harapan Analisis pengalaman sastra pembaca bertujuan untuk menghindari jebakan psikologis yang dapat muncul ketika mencoba menggambarkan penerimaan dan pengaruh suatu karya dalam sistem ekspektasi yang obyektif. Ekspektasi ini meningkat setiap kali sebuah karya muncul dalam konteks historisnya. Untuk memahami genre, pembaca perlu mempertimbangkan bentuk dan tema karya yang sudah mereka kenal, serta perbedaan antara puisi dan bahasa sehari-hari yang praktis. Tesis 3 Jarak Estetik
Tesis 4 Semangat Zaman Rekonstruksi cakrawala ekspektasi, yaitu mengkaji bagaimana suatu karya diciptakan dan diterima pada masa lalu, memungkinkan kita untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh teks tersebut. Dengan demikian, kita bisa membedakan bagaimana pembaca di masa lalu mungkin telah memandang dan memahami karya tersebut. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi norma-norma yang tak disadari dalam penafsiran klasik atau modern terhadap seni, dan menghindaripandanganyang terlaluumum tentang " semangat zaman." Tesis 5 Rangkaian Sastra Teori estetika penerimaan tidak hanya memungkinkan seseorang untuk memahami makna dan bentuk karya sastra dalam sejarah pemahamannya, tetapi juga menuntut seseorang untuk memasukkan karya individu ke dalam " seri sastra " untuk mengenali posisi historis dan signifikansinya dalam konteks pengalaman sastra. Dalam peralihan dari sejarah penerimaan karya ke sejarah sastra yang penting, yang terakhir ini muncul sebagai suatu proses di mana penerimaan pasif terjadi di pihak penulis. Dengan kata lain, karya yang datang kemudian dapat menyelesaikan masalah formal dan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnyadan menghadirkan masalahbarusecarabergantian.
Pencapaian dalam linguistik melalui analisis diakronik dan sinkronik telah membuka peluang untuk melampaui perspektif diakronik dalam sejarah seni, yang sebelumnya dominan. Jika sejarah penerimaan selalu mempertemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya baru dan pentingnya karya lama saat perubahan estetika dipertimbangkan, maka seharusnya juga memungkinkan untuk menganalisis momen perkembangan secara sinkronik. Ini berarti mengatur keragaman karya kontemporer yang heterogen dalam struktur hierarkis yang saling berlawanan, serta menemukan sistem hubungan yang menyeluruh dalam literatur dari momen bersejarah tersebut. Dengan demikian, prinsip representasi sejarah sastra yang baru dapat dikembangkan dengan menggabungkan perubahan struktural sastra secara diakronik pada saat-saat pembuatannya. Tesis 6 Perspektif Diakronik dan Sinkronik
Tugas sejarah seni tidak selesai hanya dengan merepresentasikan produksi seni secara sinkronik dan diakronik dalam sistemnya, tetapi juga dengan melihatnya sebagai " sejarah khusus " yang memiliki hubungan unik dengan " sejarah umum ". Hubungan ini tidak hanya ditunjukkan oleh adanya gambaran eksistensi sosial yang tipikal, ideal, satir, atau utopis dalam seni sepanjang masa. Fungsi sosial seni terwujud dalam bentuk yang sebenarnya hanya ketika pengalaman seni pembaca memengaruhi harapannya dalam praktik hidup, memahami dunia, dan dengan demikian mempengaruhi perilaku sosialnya. Tesis 7 Sejarah Sastra Umum