The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ishak Majid, 2024-05-21 02:49:52

Teori Resepsi Sastra Hans Robert Jaus

Kajian Puisi

Resepsi Sastra Hans Robert Jaus Merlin Hiola Ishak Y. Majid Dosen Pengampu: Dr. Herson Kadir,S.Pd., M.Pd Mata Kuliah Kajian Puisi Jurusan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya Univeritas Negeri Gorontalo


Hakikat Resepsi Sastra Horizon Harapan Resepsi Sastra Hans Robert Jaus Contoh Analisis Puisi Menggunakan Teori Resepsi Sastra Hans Robert Jaus DAFTARISI


Resepsi sastra adalah suatu aliran yang memeriksa teks sastra dengan berfokus pada reaksi pembaca terhadap teks yang mereka baca. Dalam konteks ini, pembaca berperan sebagai pemberi makna, dan reaksi mereka dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ruang, waktu, dan latar belakang sosial-budaya. Penting untuk diingat bahwa karya sastra tidak selalu diinterpretasikan, dipahami, atau dinilai dengan cara yang sama oleh semua pembaca, tergantung pada konteks dan pengalaman masing-masing individu. Menurut Junus (Liana, R. M., Hanum, I. S., & Wahyuni, I. 2022: 1517) resepsi sastra yaitu bagaimana pembaca memberikan makna terhadap teks sastra yang dibacanya, sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadap teks sastra. Hakikat Resepsi Sastra


Teori resepsi sastra memberikan perhatian kepada pembaca secara penuh, teori ini melihat cara-cara teks sastra mempengaruhi pembaca secara intelektual (retorik/gudang bacaan) dan secara aktif atau perasaan. Secara spesifiknya teori ini menganalisis peran pembaca dalam memberikan interpretasi terhadap karya teks sastra. Berbeda dengan teori formalistik, teori resepsi sastra memandang teks sendiri tidak bermakna sampai ia dibaca oleh pembaca. Pembacalah yang memasukan makna dan menciptakan makna terhadap teks karya sastra.Teori ini dapat mempertimbangkan strategi-strategi yang dipakai pengarang dalam memunculkan respons tertentu dari pembaca. Dalam teori resepsi sastra, lebih ditekankan pada respons pembaca yang menilai atas karya dari penulis


Horizon harapan adalah faktor penting yang mempengaruhi bagaimana pembaca atau penonton memahami, menafsirkan, dan merespons karya sastra. Istilah ini merujuk pada kumpulan harapan, asumsi, pengetahuan, dan pengalaman pribadi yang membentuk kerangka interpretatif seseorang terhadap teks tersebut. Setiap pembaca pasti memiliki tanggapan yang berbeda-beda. Perbedaan tanggapan ini oleh Hans-Robert Jauss disebut sebagai horizon of expectation (horizon harapan) dari pembaca tersebut. Pradopo (2007) menjelaskan bahwa horizon harapan adalah ekspektasi pembaca sebelum membaca suatu karya sastra. Horizon harapan seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengalaman, pengetahuan,dankemampuandalam memahami sebuahkarya sastra. Menurut Segers (Kholifah, D. N., Dahlan, D., & Yusriansyah, E. 2023: 1316) terdapat perbedaan dalam tanggapan para pembaca terhadap karya sastra. Perbedaan ini disebabkan oleh apa yang disebut sebagai “horizon harapan” atau “cakrawala harapan.” Setiap pembaca memiliki konsep tertentu tentang karya sastra berdasarkan pengalaman, pendidikan sastra, bacaan-bacaan sebelumnya, serta kemampuan pemahamannya terhadap norma-norma sastra dan pemahaman kehidupan1. Dengan kata lain, setiap individu membaca dan menafsirkan karya sastra dengan sudut pandang yang berbeda-beda, tergantung pada latar belakang danpengalamanpribadi mereka. Horizon Harapan


Menurut Segers konsep horison menjadi dasar teori Jauss. Ia ditentukan oleh tiga kriteria: (1) norma-norma umum yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; (2) pengetahuan dan pengalaman pembaca atau semua teks yang telah dibaca sebelumnya; (3) pertentangan antara fiksi dan kenyataan, misalnya, kemampuan pembaca memahami teks baru, baik dalam horison sempit dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon luas dari pengetahuan tentang kehidupan (Muhid, A. 2019: 130). Jaus mengemukakan bahwa harapan pembaca ini adalah hasil dari interaksi aktif antara karya sastra dan pembacanya. Di satu sisi, terdapat harapan yang diciptakan oleh karya sastra itu sendiri, sementara di sisi lain, ada sistem interpretasi yang berkembang dalam masyarakat pembaca. sedangkan, menurut Teeuw harapan terhadap karya sastra yang memungkinkan pembaca memberi makna pada karya tersebut sebenarnya telah dituntun oleh penyair melalui penggunaan sistem konvensi sastra dalam karyanya (Muhid, A. 2019: 130).


Estetika resepsi atau estetika tanggapan merupakan ilmu yang mempelajari keindahan berdasarkan tanggapan atau resepsi pembaca terhadap karya sastra (Pradopo, 2012: 206). Estetika resepsi melibatkan reaksi pembaca yang memberikan makna terhadap karya sastra yang dibaca, sehingga memungkinkan pembaca memberikan penilaian atau tanggapan terhadap karya tersebut. Dalam kaitannya dengan teori Hans Robert Jaus (1983: 20-39) terdapat tujuh tesis yang digunakan untuk menganalisis karya sastra yaitu sebagai berikut: Resepsi Sastra Hans Robert Jaus Tesis 1 Pengalaman Pembaca Pembaruan sejarah sastra menuntut penghapusan prasangka objektivisme historis serta landasan estetika tradisional dalam produksi dan representasi, dan menggantinya dengan estetika penerimaan dan pengaruh. Historisitas sastra tidak didasarkan pada pengorganisasian "fakta sastra " yang dibentuk setelah kejadian, tetapi lebih pada pengalaman sebelumnya dari karya sastra oleh para pembacanya


Tesis 1 merupakan fondasi penting dalam teori resepsi sastra Hans Robert Jaus. Tesis ini menjelaskan bagaimana makna dan nilai estetika sebuah karya sastra terbentuk melalui interaksi antara teks dan pembacanya. Menurut Jauss, pembaca memiliki horizon harapan yang tercipta dari pengalaman dan pengetahuan mereka sebelumnya. Harapan ini memengaruhi cara mereka menafsirkan teks. Karya sastra yang sesuai dengan horizon harapan pembaca akan mudah dipahami dan dinikmati. Sebaliknya, karya yang menyimpang dari harapan pembaca akan memicu rasa terkejut dan menantang mereka untuk menafsirkan teks dengan cara baru. Resepsi Sastra Hans Robert Jaus


Tesis 3 merupakan salah satu tesis penting dalam teori resepsi sastra Hans Robert Jauss. Tesis ini menjelaskan bagaimana nilai estetika sebuah karya sastra dapat muncul dari pengalaman kekecewaan pembaca terhadap horison harapan mereka. Menurut Jauss, ketika pembaca menjumpai karya sastra yang menyimpang dari horison harapan mereka, mereka akan mengalami kekecewaan. Kekecewaan ini dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan memotivasi mereka Tesis 3 merupakan salah satu tesis penting dalam teori resepsi sastra Hans Robert Jauss. Tesis ini menjelaskan bagaimana nilai estetika sebuah karya sastra dapat muncul dari pengalaman kekecewaan pembaca terhadap horison harapan mereka. Tesis 2 Horizon Harapan Analisis pengalaman sastra pembaca bertujuan untuk menghindari jebakan psikologis yang dapat muncul ketika mencoba menggambarkan penerimaan dan pengaruh suatu karya dalam sistem ekspektasi yang obyektif. Ekspektasi ini meningkat setiap kali sebuah karya muncul dalam konteks historisnya. Untuk memahami genre, pembaca perlu mempertimbangkan bentuk dan tema karya yang sudah mereka kenal, serta perbedaan antara puisi dan bahasa sehari-hari yang praktis. Tesis 3 Jarak Estetik


Karya "Cakrawala Harapan " memungkinkan seseorang untuk menentukan karakter artistiknya berdasarkan jenis dan tingkat pengaruhnya terhadap audiens yang diharapkan. Jika seseorang menggambarkan jarak estetika, yaitu kesenjangan antara cakrawala harapan yang diberikan dan penampilan sebuah karya baru, penerimaannya dapat menghasilkan pencarian cakrawala melalui pengingkaran pengalaman yang akrab atau dengan meningkatkan pengalaman baru yang diartikulasikan ke tingkat kesadaran. Jarak estetika ini dapat diobjektifikasi secara historis di sepanjang spektrum reaksi audiens dan penilaian kritikus, seperti kesuksesan spontan, penolakan atau ketidakpedulian, persetujuan luas, serta pemahaman bertahap atau terlambat.


Tesis 4 Semangat Zaman Menurut Jauss, semangat zaman adalah seperangkat ide, nilai, dan kepercayaan yang berlaku pada suatu periode waktu tertentu. Semangat zaman ini dibentuk oleh berbagai faktor, seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Semangat zaman mempengaruhi horison harapan pembaca dengan menyediakan mereka dengan kerangka acuan untuk menafsirkan karya sastra. Karya sastra yang sesuai dengan semangat zaman akan mudah dipahami dan dinikmati oleh pembaca. Sebaliknya, karya yang menyimpang dari semangat zaman akan memicu rasa terkejut dan menantang mereka untuk menafsirkanteksdengancarabaru. Rekonstruksi cakrawala ekspektasi, yaitu mengkaji bagaimana suatu karya diciptakan dan diterima pada masa lalu, memungkinkan kita untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh teks tersebut. Dengan demikian, kita bisa membedakan bagaimana pembaca di masa lalu mungkin telah memandang dan memahami karya tersebut. Pendekatan ini membantu mengidentifikasi norma-norma yang tak disadari dalam penafsiran klasik atau modern terhadap seni, dan menghindari pandangan yang terlalu umum tentang " semangat zaman." Tesis ini menjelaskan bagaimana semangat zaman (Zeitgeist) berperan dalam membentuk horison harapanpembacadan mempengaruhi resepsikarya sastra.


Tesis ini menjelaskan bagaimana karya sastra tidak berdiri sendiri, melainkan berhubungan dengan karya sastra lain dalam suatu " rangkaian sastra ". Menurut Jauss, rangkaian sastra adalah sekelompok karya sastra yang saling terkait karena memiliki kesamaan dalam tema, gaya, atau motif. Rangkaian sastra ini berkembang seiring waktu dengan munculnya karya-karya baru yang berdialog dengan karya-karya sebelumnya. Teori estetika penerimaan tidak hanya memungkinkan seseorang untuk memahami makna dan bentuk karya sastra dalam sejarah pemahamannya, tetapi juga menuntut seseorang untuk memasukkan karya individu ke dalam " seri sastra " untuk mengenali posisi historis dan signifikansinya dalam konteks pengalaman sastra. Dalam peralihan dari sejarah penerimaan karya ke sejarah sastra yang penting, yang terakhir ini muncul sebagai suatu proses di mana penerimaan pasif terjadi di pihak penulis. Dengan kata lain, karya yang datang kemudian dapat menyelesaikan masalah formal dan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnyadan menghadirkan masalahbarusecarabergantian. Tesis 5 Rangkaian Sastra


Tesis ini menekankan pentingnya memadukan perspektif diakronik dan sinkronik dalam memahami sejarah sastra. Perspektif diakronik berfokus pada perubahan dan perkembangan karya sastra sepanjang waktu. Perspektif ini menganalisis bagaimana karya sastra berubah dan berkembang dalam kaitannya dengan konteks sejarah dan budaya. Perspektif sinkronik, di sisi lain, berfokus pada pendekatan struktural terhadap karya sastra. Perspektif ini menganalisis bagaimana karya sastra berfungsi dan maknanya tercipta dalam suatu titik waktu tertentu. Tesis 6 Perspektif Diakronik dan Sinkronik


Pencapaian dalam linguistik melalui analisis diakronik dan sinkronik telah membuka peluang untuk melampaui perspektif diakronik dalam sejarah seni, yang sebelumnya dominan. Jika sejarah penerimaan selalu mempertemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya baru dan pentingnya karya lama saat perubahan estetika dipertimbangkan, maka seharusnya juga memungkinkan untuk menganalisis momen perkembangan secara sinkronik. Ini berarti mengatur keragaman karya kontemporer yang heterogen dalam struktur hierarkis yang saling berlawanan, serta menemukan sistem hubungan yang menyeluruh dalam literatur dari momen bersejarah tersebut. Dengan demikian, prinsip representasi sejarah sastra yang baru dapat dikembangkan dengan menggabungkan perubahan struktural sastra secara diakronik pada saat-saat pembuatannya.


Sejarah sastra umum menelusuri perkembangan karya sastra dari berbagai periode waktu dan budaya di seluruh dunia. Cakupannya luas, mulai dari sastra lisan kuno hingga karya sastra modern yang kompleks. Memahami sejarah sastra membantu kita untuk memahami nilai-nilai, ide-ide, dan pengalaman manusia yang tertuang dalam karya sastra. Sastra umum adalah bidang studi yang menarik dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin memahami nilai-nilai, ide-ide, dan pengalaman manusia melalui karya sastra. Mempelajari sastra umum dapat membantu kita untuk menjadi individu yang lebih kritis, kreatif, dan berwawasan luas. Tesis 7 Sejarah Sastra Umum


Sejarah seni tidak selesai hanya dengan merepresentasikan produksi seni secara sinkronik dan diakronik dalam sistemnya, tetapi juga dengan melihatnya sebagai " sejarah khusus " yang memiliki hubungan unik dengan " sejarah umum ". Hubungan ini tidak hanya ditunjukkan oleh adanya gambaran eksistensi sosial yang tipikal, ideal, satir, atau utopis dalam seni sepanjang masa. Fungsi sosial seni terwujud dalam bentuk yang sebenarnya hanya ketika pengalaman seni pembaca memengaruhi harapannya dalam praktik hidup, memahami dunia, dan dengan demikian mempengaruhi perilaku sosialnya.


Penelitian yang dilakukan oleh Eka Mega Margawati ini berjudul "Respon Pembaca Abad 21 Terhadap Puisi Sensation Karya Arthur Rimbaud". Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan menggunakan teori respon pembaca yang dikemukakan oleh Hans Robert Jauss yang lebih menekankan pada tanggapan atau respon dari pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para responden menangkap tema yang berbeda-beda yaitu cinta, kebebasan, dan kesejukan pikiran terhadap puisi “Sensation ”. Tema tersebut muncul karena pengalaman membaca dan pengalaman pribadi yang berbedabeda. Tema cinta diberikan oleh responden ke-3, ke-4, dan ke-5. Ketiga responden tersebut menangkap tema tersebut karena mereka memiliki pengalaman membaca karya-karya sastra sebelumnya yaitu cinta, alam, fantasi. Meskipun demikian, mereka memberikan interpretasi yang berbeda-beda terhadap puisi “Sensation ”. Hal ini disebabkan oleh harapan mereka ketika membaca judul puisi dan isi puisi yang juga berbeda. Perbedaan harapan tersebut muncul karena pengalaman pribadi mereka yang berbeda-beda. Contoh Analisis Puisi Menggunakan Teori Resepsi Sastra Hans Robert Jaus


Tema kebebasan diberikan oleh responden ke-1. Dia menangkap tema tersebut karena pengalaman pribadinya yang menginginkan kebebasan dalam menjalani hidupnya. Selain pengalaman pribadi, dia juga memiliki pengalaman membaca karya-karya sastra dengan tema sosial. Tema kesejukan pikiran diberikan oleh responden ke-2. Tema tersebut muncul karena dia memiliki pengalaman menulis puisi dengan tema lingkungan. Selain itu, dia menyukai alam dan memiliki pengalaman pribadi duduk di tepi danau untuk menyejukkan pikirannya. Meskipun demikian, frekuensi membaca responden ke-2 kurang banyak sehingga mempengaruhi kemampuan kebahasaannya.


Jauss, H. (1983). Toward An Aesthetic Of Reception. Djoko Pradopo, R. (2012). Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik Dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Muhid, A. (2019). Antara Kemiskinan Dan Kedermawanan Dalam Kisah Pak Doblang Serta Keteguhan Dan Perjuangan Dalam Puisi Paman Doblang: Pendekatan Reader Response Kholifah, D. N., Dahlan, D., & Yusriansyah, E. (2023). Respons Pembaca Terhadap Cerpen “Makam ” Karya Herman Rn Kajian: Resepsi Sastra. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 7(4), 1313-1320.Top of Form Pradopo, Rachmat Djoko.2007. Pengkajian Puisi. Yogjakarta: Gadjah Mada University Press. DAFTAR PUSTAKA


Click to View FlipBook Version