Refleksi Terbimbing
BUDAYA POSITIF
MODUL 1.4.a.6.1
Yenni Kawarti
CGP Angkatan 4
Kabupaten Padang Pariaman
Fasilitator : Mochamad Mudjiono
Pengajar Praktek : Yenimar
Pemahaman saya tentang konsep-konsep inti yang sudah saya pelajari yaitu displin
positif adalah disiplin seringkali dihubungkan dengan tatatertib, aturan dan kepatuhan pada
peraturan, juga dihubungkan dengan hukuman. Namun konsep disiplin positif dimaknai
sebagai sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan dan
kenyamanan tanpa disertai hukuman. Sesuai apa yang disampaikan Bapak Pendidikan kita,
Ki Hajar Dewantara yaitu “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat.
Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita
dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self
discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah
harus ada di dalam suasana yang merdeka.
Sedangkan Posisi kontrol guru merupakan hal yang diterapkan seorang guru dalam
melakukan kontrol. Posisi kontrol guru yaitu penghukum, pembuat rasa bersalah,
teman,pemantau dan manager. Sebagai penghukum biasanya seorang guru bertindak
menghardik, menunjuk-nunjuk, menyakiti dan menyindir. Perilaku pembuat rasa bersalah
pada murid guru berceramah, menunjukkan kekecewaan mendalam. Perilaku sebagai teman
guru membuat alasan-alasan untuk muridnya, guru pemantau akan menggunakan
penghitungan catatan dan data sebagai bukti atas perilaku seseorang. Sedangkan sebagai
manager maka guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan membimbing murid agar
dapat ,mengatur dirinya. Di posisi ini murid dapat menjadi pribadi yang mandiri, merdeka,
dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, yang pada akhirnya dapat
menciptakan lingkungan yang positif, nyaman, dan aman.
Mengenai konsep kebutuhan dasar manusia yang sudah dipelajari adalah :
1. Kebutuhan yang bersifat fisiologis yaitu Kebutuhan untuk bertahan hidup seperti
kesehatan, rumah, dan makanan dan seks
2. Kebutuhan yang bersifat psikologis yaitu Cinta dan kasih sayang (Kebutuhan
untuk Diterima), kebutuhan ini akan terpenuhi jika terjalinnya suatu hubungan yang
harmonis, keluarga, pasangan hidup, pertemanan atau terjalinnya koneksi sosial.
3. Kebutuhan dasar yang ketiga dan bersifat psikologis berikutnya Penguasaan
(Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan, Kebutuhan ini berhubungan dengan
kekuatan untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, diakui atas
prestasi dan keterampilan kita, didengarkan dan memiliki rasa harga diri. Kebutuhan
ini meliputi keinginan untuk dianggap berharga, bisa membuat perbedaan, bisa
membuat pencapaian, kompeten, diakui, dihormati. Ini meliputi self esteem, dan
keinginan untuk meninggalkan pengaruh.
4. Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan), kebutuhan akan kemandirian, otonomi,
memiliki pilihan dan mampu mengendalikan arah hidup seseorang. Anak-anak
dengan kebutuhan kebebasan yang tinggi menginginkan pilihan, mereka perlu banyak
bergerak, suka mencoba-coba, tidak terlalu terpengaruh orang lain dan senang
mencoba hal baru dan menarik.
5. Kesenangan (Kebutuhan untuk merasa senang), kebutuhan untuk mencari
kesenangan, bermain, dan tertawa. Anak-anak dengan kebutuhan dasar kesenangan
yang tinggi biasanya Ingin menikmati apa yang dilakukan. Mereka juga konsentrasi
tinggi saat mengerjakan hal yang disenangi. Mereka suka permainan dan suka
mengoleksi barang, suka bergurau, suka melucu dan juga menggemaskan, bahkan
saat bertingkah laku buruk.
Dalam mempelajari keyakinan kelas di modul Budaya Positif merupakan hal bersifat
lebih ‘abstrak’ daripada peraturan, yang lebih rinci dan konkrit, berupa pernyataan-
pernyataan universal dan senantiasa dibuat dalam bentuk positif, tidak terlalu banyak,
sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
Keyakinan kelas sebaiknya merupakan sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut
dimana semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas
lewat kegiatan curah pendapat dan bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke
waktu.
Selanjutnya mengenai segitiga restitusi. Sebelum melanjutkan pada segitiga restitusi
maka terlebih dahulu memahami apa itu restitusi. Restitusi merupakan proses menciptakan
kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali
pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat, Restitusi membantu murid menjadi
lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah, dengan
kata lain restitusi merupakan salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai
bagian dari budaya positif di sekolah.
Tahapan untuk memudahkan para guru dalam melakukan proses untuk menyiapkan
murid untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitusi. Proses ini meliputi tiga tahap dan
setiap tahapnya berdasarkan pada prinsip penting dari Teori Kontrol, yaitu Menstabilkan
Identitas, mengubah identitas murid dari yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi
orang yang sukses. Kalimat yang biasa diucapkan guru adalah “setiap orang pasti pernah
melakukan kesalahan, atau kamu bukan satu-satunya yang pernah melakukan ini” Teori
kontrol disini adalah kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan.
Tahapan yang kedua adalah Validasi tindakan yang salah, dengan mengucapkan
kalimat “ kamu tentu punya alasan mengapa melakukan itu atau “ adakah cara yang efektif
untuk mendapatkan apa yang kamu butuhkan”. Untuk tahapan kedua ini teori kontrol yang
digunakan adalah semua perilaku mempunyai alasan.
Kemudian tahapan ketiga dari segitiga restitusi adalah Menanyakan keyakinan,
biasanya diiringi dengan kalimat “keyakinan kelas apa yang sudah kita sepakati? atau “kamu
ingin menjadi orang seperti apa?”. Teori kontrol tahapan ketiga ini kita semua memiliki
motivasi internal.
Pengalaman yang pernah saya alami dalam menggunakan konsep-konsep inti yang
sudah saya jelaskan diatas dalam menciptakan budaya positif baik di lingkup kelas maupun
sekolah adalah ketika saya menemukan murid saya melakukan kecurangan dalam melengkapi
tugas-tugasnya saat akan mengikuti ujian. Murid saya memberikan tugas kepada guru bukan
hasil kerjanya melainkan hasil kerja temannya yang sudah diperiksa, dinilai dan diparaf oleh
guru. Kemudian sebut saja nama murid tersebut adalah Andi. Andi mendatangi guru A dan
memberikan tugas berupa kertas karton yang berisi tugas berupa gambar mengenai peta
konsep materi lengkap dengan keterangannya. Namun ada hal yang mencurigakan guru
ketika diperhatikan ada hal yang ganjil dari tugas tersebut. Ada bagian yang ditutupi dengan
tip ex dan yang di coret. Guru meyakini jika itu adalah nilai dan paraf guru. Ketika ditanya,
Andi berkilah dan mengatakan tugas itu dia yang membuat. Saya yang saat itu menyaksikan
langsung kejadian dan dengan ijin guru yang berurusan dengan Andi, maka mencoba
bertindak dan menanya Andi baik-baik. Menyampaikan bahwa jika seandainya Andi tidak
jujur dengan dirinya maka akan merugikan dirinya sendiri. Akhirnya Andi mengakui
perbuatannya jika tugas tersebut bukan miliknya dan didapatkannya dalam laci temannya dari
kelas lain. Saya menyampaikan kepada Andi, hal ini juga pernah dilakukan temannya sebut
saja Budi. Apa yang saya sampaikan dengan mengatakan ada temannya yang juga pernah
berbuat salah maka dalam hal ini saya bertindak menstabilitaskan identitas. Selanjutnya saya
mengajukan pertanyaan mengapa hal itu dilakukannya? (dalam hal ini saya menggunakan
tahapan restitusi Validasi Tindakan yang salah). Andi pun menyampaikan jika dia terdesak
harus menyelesaikan tugasnya maka menurutnya itu cara yang paling baik untuk
dilakukannya. Terakhir saya menanyakan keyakinan apa yang sudah disepakati oleh guru
dengan Andi dan teman-temannya. Dari apa yang saya lakukan terhadap Andi saya mencoba
menciptakan Budaya Positif dengan restitusi membantu Andi menjadi lebih memiliki tujuan,
disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah.
Sebelum mempelajari modul ini saya mempunyai pengalaman yang sudah saya
ceritakan. Dimana saat sebelumnya ada murid yang melakukan kecurangan waktu
melengkapi tugas ke guru. Ada peristiwa murid meminjam catatan temannya. Sebut saja Budi
dan Anisa teman sekelas. Budi meminjam catatan Anisa dan merobek bagian yang berisi nilai
dan paraf guru kemudian mengganti sampul buku Anisa. Hal ini saya ketahui dan saya
memarahi Budi, mengeluarkan kalimat “ Ada apa gerangan hingga Anisa meminjamkan buku
kepadamu, berteman apa “berteman?”. Jawaban Budi teman buk,. Saya belum merasa puas
dengan jawabannya maka meminta Budi memanggil Anisa dan saya menunggu lama. Apa
yang terjadi? Kiranya Anisa mengetahui ada masalah dengan Budi yang membawa namanya.
Anisa rupanya marah dan mereka berdua terlibat perang mulut di halaman sekolah. Saya
memanggil keduanya dan bersama-sama beberapa orang guru memproses kedua murid ini.
Posisi saya saat itu adalah “penghukum”. Karena saya menganggap Budi sudah melakukan
kesalahan yang sangat besar dan berkaitan dengan nilai sikapnya yaitu tidak jujur. Anisa pun
sama saya perlakukan dengan Budi. Saya menganngap Anisa membiarkan temannya berbuat
tidak jujur. Mereka berdua saya adukan ke guru PPKN dan walikelasnya. Saat itu saya benar-
benar sebagai penghukum untuk kedua murid saya. Karena saya berprinsip sikap adalah hal
yang tidak bisa ditawar nilainya, dan mereka sudah melanggarnya.
untuk menciptakan budaya positif tanpa harus ada hukuman dan ketidaknyamanan.
Perubahan yang terjadi pada cara berpikir saya menciptakan budaya positif di kelas dan di
sekolah. Saya mencoba mengaitkan posisi kontrol guru dengan kebutuhan dasar yang
dibutuhkan muird. Murid berbuat sesuatu yang melanggar keyakinan kelas ataupun
keyakinan sekolah maka saya cari tahu terlebih dahulu apa alasan murid melakukan hal
tersebut. dari jawabannya maka saya menghubungkan dengan kebutuhan yang ingin
dipenuhinya, kemudian saya menggunakan posisi kontrol yang positif dan mencoba
mempraktekan segitiga resitusi. Saya jadi tergerak, mencoba bergerak dan InshaAllah
menggerakkan teman guru lainnya untuk menciptakan Budaya Piositif dikelas dan sekolah
saya sehingga murid merasa nyaman dan merdeka dalam belajar tanpa ada tekanan dan
paksaan.
Bagi saya sangat penting mempelajari modul ini karena menambah nilai dan peran saya
sebagai guru. Jika saya tidak mengikuti pembelajaran di modul ini maka apa yang saya
lakukan terhadap murid saya selama ini akan terus berlanjut. Saya akan terus berada di posisi
kontrol guru yang negatif, sebagai penghukum dan sebagai pembuat rasa bersalah. Saya tidak
akan dapat mewujudkan susasana yang nyaman untuk murid saya baik di kelas dan di sekolah.
Sebagai pemimpin pembelajaran peran saya tidak akan maksimal karena murid saya berada
dalam keterpaksaan dan tekanan mematuhi aturan yang dibuat bukan atas dasar kebersamaan
dengan murid.
Yang bisa saya lakukan agar terjadi perubahan dilingkungan saya adalah saya mencoba
memberikan contoh bagaimana menyelesaikan persoalan murid dengan tetap membuat
kenyamanan pada murid dan menghindari hukuman. Mencoba menyampaikan konsep
Restitui sebagai upaya menciptakan Budaya Positif kepada teman-teman guru. Berkolaborasi
membuat program yang mewujudkan Budaya positif seperti misalnya membuat kantin
kejujuran untuk menumbuhkan kejujuran pada murid dan program literasi untuk
menumbuhkan karakter kritis pada murid.
Selain konsep-konsep yang sudah dipelajari pada modul ini ada hal penting lainnya yang
harus dipelajari dalam proses menciptakan Budaya Positif dilingkungan kelas maupun di
lingkungan sekolah. Menurut saya hal penting tersebut adalah mempelajari urgensi budaya
positif disekolah dan mempelajari panduan tentang pelaksanaan program pendidikan karakter
disekolah. Walaupun pernah membaca panduan dan urgensi budaya positif serta pendidikan
karakter, tidak ada salahnya untuk kembali mengingatkan dan mempelajarinya agar konsep-
konsep proses menciptakan budaya positif di kelas dan sekolah semakin mantap.
Sebagai langkah awal yang akan saya lakukan jika kembali ke kelas atau ke sekolah
setelah saya mengikuti sesi ini adalah Pembentukan Keyakinan Kelas dengan prosedur
sebagai berikut :
1. Mempersilakan murid-murid di kelas untuk bercurah pendapat tentang peraturan yang
perlu disepakati di kelas.
2. Mencatat semua masukan-masukan para murid di papan tulis atau di kertas besar (kertas
ukuran poster), di mana semua anggota kelas bisa melihat hasil curah pendapat.
3. Susunlah keyakinan kelas sesuai prosedur ‘Pembentukan Keyakinan Kelas’. Mengganti
kalimat-kalimat dalam bentuk negatif menjadi positif.
4. Tinjau kembali daftar curah pendapat yang sudah dicatat. Anda mungkin akan mendapati
bahwa pernyataan yang tertulis di sana masih banyak yang berupa peraturan-peraturan.
Selanjutnya, ajak murid-murid untuk menemukan nilai kebajikan atau keyakinan yang
menjadi inti dari peraturan tersebut. Contoh: Berjalan di kelas, Dengarkan Guru,
Datanglah tepat waktu bisa disarikan menjadi 1 Keyakinan, yaitu keyakinan untuk Saling
Menghormati atau nilai kebajikan Hormat. Keyakinan inilah yang dijadikan daftar untuk
disepakati. Kegiatan ini juga merupakan peralihan dari bentuk peraturan ke keyakinan
kelas.
5. Tinjau ulang Keyakinan Kelas secara bersama-sama. Seharusnya setelah beberapa
peraturan telah disatukan menjadi beberapa keyakinan maka jumlah butir pernyataan
keyakinan akan berkurang. Sebaiknya keyakinan kelas tidak terlalu banyak, bisa berkisar
antara 3-7 prinsip/keyakinan. Bilamana terlalu banyak, maka warga kelas akan sulit
mengingatnya.
6. Setelah keyakinan kelas selesai dibuat, maka semua warga kelas dipersilakan meninjau
ulang, dan menyetujuinya dengan menandatangani keyakinan kelas tersebut, termasuk
guru dan semua murid.
7. Keyakinan Kelas selanjutnya bisa dilekatkan di dinding kelas di tempat yang mudah
dilihat semua warga kelas.
Selanjutnya agar semua warga kelas dapat memahami setiap pernyataan yang telah
tercantum dalam keyakinan kelas, maka selama seminggu di awal tahun ajaran baru dapat
didedikasikan untuk pendalaman setiap keyakinan dengan berbagai kegiatan. Seperti kegiatan
yang tampak dan tidak tampak juga kegiatan pendalaman keyakinan kelas berdiskusi tentang
hak dan kewajiban warga kelas seperti mana yang merupakan tugas guru dan bukan guru atau
tugas murid dan yang bukan tugas murid. Demikain langkah awal yang akan saya lakukan.