Demonstrasi Kontekstual
Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Berbasis
Nilai-nilai Kebajikan
sebagai Pemimpin
Oleh: Ela _ CGP Angkatan 5 DKI Jakarta
Hasil analisis dari wawancara tiga kepala sekolah
Yani, S.Ag,
Kepala SDIT Al Muttaqiin
Yati, S.Pd,
Kepala Sekolah TK. Cahaya Mata
Hirziah, M.Pd,
Kepala SMAN 56 Jakarta
Panduan Pertanyaan Wawancara (Guiding Questions for the Interview)
Nara sumber : Ibu Hirziah , M.Pd
Jabatan : Kepala SMAN 56 Jakarta
Analisis Jawaban
1. Selama ini bagaimana Ibu dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema
etika atau bujukan moral?
Jawaban :
Saya akan terlebih dahulu menganalisis dan menentukan kasus-kasus tersebut, termasuk dilema
etika atau bujukan moral. Biasanya kalau bujukan moral saya langsung dapat memutuskan
karena sudah jelas benar atau salahnya. Adapun, untuk dilema etika biasanya saya akan
mengajak manajemen untuk berdiskusi sebelum memutuskannya..
2. Selama ini, bagaimana Ibu menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Ibu, terutama
untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama
mengandung nilai kebajikan?
Jawaban :
Saya mengedepankan nilai-nilai yang mengandung kebajikan agar tidak banyak pihak yang
dirugikan. Dalam hal ini adalah murid. Hal ini disebabkan saya selalu mementingkan atau
mengutamakan kepentingan murid yang bertujuan baik. Saya juga memikirkan dampak yang
akan terjadi terhadap keputusan yang saya ambil.
3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Ibu lakukan selama ini?
Jawaban :
Langkah-langkah atau prosedur, yaitu mengidentifikasi masalah, mengumpulkan fakta-fakta,
mengonfirmasi kemudian memvalidasi data-data dan menentukan siapa saja yang terlibat dalam
mengambil keputusan agar keputusan tersebut berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman.
4. Hal-hal apa saja yang selama ini Bapak/Ibu anggap efektif dalam pengambilan keputusan
pada kasus-kasus dilema etika?
Jawaban :
Hal-hal yang saya anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus dilema etika adalah
berkolaborasi dengan manajemen, di antara, para wakil, wali kelas, BK, Kasubag dan para guru
serta orang tua .
5. Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan
pada kasus-kasus dilema etika?
Jawaban :
Tantangan dalam mengambil suatu keputusan dilema etika adalah bagaimana saya dapat
meyakinkan pihak lain bahwa keputusan yang saya ambil sudah berdasarkan langkah-langkah
yang tepat, sehingga keputusan ini bisa diterima semua pihak. Menyosialisasikan hasil keputusan
kepada pihak lain agar lebih jelas dan transparan. Namun memang keputusan apapun pasti saja
akan ada yang kontra atau tidak melaksanakan keputusan yang saya putuskan. Kepada orang
seperti ini saya harus sabar dan berjiwa besar mencoba memanggil dan berdiskusi dari hati ke
hati agar orang tersebut dapat memahaminya dengan baik, karena kasus dilema etika merupakan
kasus yang sifatnya relatif kebenarannya.
6. Apakah Ibu memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian
kasus dilema etika, apakah Ibu langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah
jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Bapak/Ibu
jalankan?
Jawaban :
Saya memiliki target waktu dalam menyelesaikan sebuah keputusan dilema etika tergantung
kasusnya ringan, sedang atau berat. Untuk kasus ringan/ urgent langsung diselesaikan saat itu
juga, untuk kasus sedang saya punya target waktu penyelesaian dalam waktu 1-2 hari, untuk
kasus berat karena butuh data, fakta yang lengkap dan berhati-hati dalam mengambil keputusan
maka saya punya target waktu 3-5 hari untuk menyelesaikan dan memutuskan kasus tersebut.
Namun saya pasti akan mengambil keputusan dengan berkolaborasi dan melibatkan semua
pihak yang berkompeten, seperti Guru, BK, Walas, Staff , para wakil dan KaSubag serta orang
tua jika diperlukan
7. Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu
Ibu dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?
Jawaban :
Tentu ada orang-orang yang selama ini membantu saya dalam mengambil keutusan yaitu
KasuBag, para Wakil dan Staff, Wali Kelas, Guru dan orang tua dan tentunya juga saya selalu
berkoordinasi dengan atasan saya langsung seperti ke pengawas atau ke sudin bagian terkait.
8. Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Ibu petik dari
pengalaman Ibu mengambil keputusan dilema etika?
Jawaban :
Pembelajaran yang dapat saya ambil banyak sekali. Saya dalam mengambil keputusan harus
menempatkan diri kita pada berbagai posisi. Harus memiliki empati tinggi, selalu berpikir jernih,
sabar dan penuh dengan tanggung jawab karena hal ini menyangkut orang lain yang nantinya
akan berdampak dari keputusan yang telah saya putuskan. Saya pun senantiasa akan berkordinasi
dan berkolaborasi agar keputusan yang dihasilkan dapat memuaskan banyak pihak karena
diputuskan dengan transparan. Tambahan lagi, saya juga selalu mengedepankan musyawarah,
lebih banyak mendengar dan mengambil kesimpulan dengan analisa yang obyektif yang
terpenting adalah tidak ada peraturan yang dilanggar dalam pengambilan keputusan tersebut.
Panduan Pertanyaan Wawancara (Guiding Questions for the Interview) dengan kepala
sekolah TK. Cahaya Mata
1. Selama ini, bagaimana Ibu dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema
etika atau bujukan moral?
Jawab :
Pertama kali saya mengidentifikasi kasus yang terjadi pada anak mengenali masalah yang
terjadi, mengumpulkan bukti-bukti dilapangan, lalu menganalisis masalah tersebut, kondisi
seperti apa, mengapa itu bisa terjadi setelah semua data terkumpul maka kita dapat
mengambil kesimpulan. Untuk menyelesaikan masalah tidak mungkin menyenangkan satu
pihak Apalagi sebagai seorang pemimpin tidak bisa seenaknya dalam mengambil keputusan,
tidak boleh pilih kasih dan membela salah satu pihak saja. Apabila itu terjadi maka akan
terjadi kesenjangan.
2. Selama ini, bagaimana Ibu menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Ibu, terutama
untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama
mengandung nilai kebajikan?
Jawab
Berusaha seobjektif mungkin dalam mengambil keputusan. Karena apa yang kita putuskan
belum tentu baik untuk semua orang dan menyenangkan semua orang. maka mengumpulkan
terlebih dahulu siapa yang terlibat. Berkomunikasi dengan bijak dan berkoordinasi dengan
orangtua murid. Seperti ada kasus anak belum bisa baca tapi orangtua mengharapkan anak
nya bisa baca karena apabila masuk sd harus sudah bisa baca karena apabila belum bisa baca
akan menjadi masalah. Itulah yang menjadi salah satu dilema etika yang ada di sekolah. Maka
jalan keluarnya adalah berkoordinasi dengan orangtua murid dan memberikan penjelasan
tentang kemampuan anak yang berbeda-beda antar anak. Sekolah harus bisa mengkondisikan
bagaimana pembelajaran sesuai dengan kurikulum akan tetapi tetap mengakomodir keinginan
orangtua agar anaknya bisa membaca. Dengan menggunakan berbagai metode dan cara yang
menyenangkan.
3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Ibu lakukan selama ini?
Jawab :
1. Melihat kasus seperti apa, 2. Siapa yang bermasalah 3. Latar belakang masalah 4. Analisa
5. Mengkondisikan 6. Mengumpulkan siapa saya yang bermasalah lalu membicarakan
permasalahan tersebut kepada pihak-pihak yang terkait. Maka solusinya akan menyenangkan
semua pihak. Jangan karena kepala sekolah bisa otoriter dan anak merasa di asingkan.
4. Hal-hal apa saja yang selama ini Ibu anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada
kasus-kasus dilema etika?
Jawab
Komunikasi adalah hal yang paling efektif dalam mengambil keputusan sehingga
masalah dapat terpecahkan. Berkomunikasi dengan semua pihak.
5. Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan
pada kasus-kasus dilema etika?
Jawab :
Tantangan pasti ada. Dengan adanya tantangan kita harus terus belajar bagaiman lebih
baiknya. Maka kita harus terus belajar. terutama anak tingkat pendidikan usia dini
1. Pihak yang susah diatur seperti, anak didik, orangtua murid maupun komite.
6. Apakah Ibu memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian
kasus dilema etika, apakah Ibu langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah
jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Ibu jalankan?
Jawab
Biasanya saya punya dua. Kalo urgen masalahnya harus di selesaikan hari itu juga. Misal
kalo ada kasus dalam belajar maka harus diselesaikan pada hari itu. Untuk mencari
solusi, orangtua harus memahami apa yang terjadi di sekolah. Untuk kasus yang bisa di
tunda maka akan di atur waktu khusus untuk menyelesaikan dengan mengumpulkan
pihak-pihak yang bermasalah dan menyelesaikannya.
7. Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu
Ibu dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?
Jawaban
Iya ada faktor-faktor pendukung dari luar seperti guru-guru, anak didik dan orangtua
murid. Saya dapat mengumpulkan informasi dari para guru, para siswa dan informasi dari
orangtua
8. Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Ibu petik dari
pengalaman Ibu mengambil keputusan dilema etika?
Jawaban
1. Menjalin komunikasi dengan baik antara kepala sekolah dengan guru, dengan anak didik
dan orangtua .
2. Menjadikan orangtua sebagai partner dalam pendidikan anak. Perlu kerjasama dengan
baik
3. Menjadi pendidik yang sabar menghadapi anak didik. Karena tidak semua anak memiliki
kemampuan yang sama.
Nara sumber : Sri Andayani
Unit Kerja : SDIT AL MUTTAQIN
Panduan Pertanyaan Wawancara (Guiding Questions for the Interview)
1. Selama ini, bagaimana Ibu dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika
atau bujukan moral?
Jawaban :
Dalam mengidentifikasi kasus yang terjadi disekolah, saya bersama wakil kepala sekolah
bidang kurikulum dan bidang kesiswaan berdiskusi , duduk bersama . Sehingga
identifikasi masalah kitab isa petakan, mana yang merupakan dilema etika atau bujukan
moral.
2. Selama ini, bagaimana Ibu menjalankan pengambilan keputusan di sekolah Ibu, terutama
untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama
mengandung nilai kebajikan?
Jawaban :
Dalam pengambilan keputusan pun kami selalu berdiskusi . Ketika ada dua kepentingan yang
sama benar ataupun sama – sama mengandung kebajikan maka kami akan melihat seberapa
besar manfaatnya untuk sekolah dalam setiap kasus yang kami hadapi.
3. Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Ibu lakukan selama ini?
Jawaban:
Langkah – Langkah dalam pengambilan keputusan
a. Mengadakan diskusi dengan wakil kepala bidang kurikulum dan wakil kepala bidang
kesiswaan.
b. Mengeidentifikasi masalah yang ada disekolah
c. Menentukan solusi Tindakan yang akan dilaksanakan
d. Melaksanakan Tindakan pemecahan masalah
e. Memonitoring dan mengevaluasi pencapaian dan perbaikan yang sudah dilaksanakan.
4. Hal-hal apa saja yang selama ini Ibu anggap efektif dalam pengambilan keputusan pada
kasus-kasus dilema etika?
Jawaban:
Dalam pengambilan keputusan pada kasus – kasus dilemma etika sangat efektif Ketika kita
mendiskusikan dengan seluruh pihak yang terkait, contohnya kita melibatkan wakil kepala
bidang kurikulum, wakil kepala bidang kesiswaaa, guru senior dan guru kelas.
5. Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada
kasus-kasus dilema etika?
Jawab:
Yang menjadi tantangan adalah Ketika kita berhadapan pada kasus yang terjadi pada siswa.
Kita harus memperhatikan factor psikologis anak sebagai pertimbangan utama.
Perkembangan akademik dan non akademik
6. Apakah Ibu memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus
dilema etika, apakah Ibu langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal
untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Ibu jalankan?
Jawab:
Tatakala dalam menyelesaikan kasus dilema etika dibuat sesuai dengan kasus yang ada. Ada
kalanya diseelesaikan ditempat dalam satu waktu, ada juga yang diselesaikan dalam kurun
waktu tertentu.
Prosedur yang dijalankan saat menangani kasus siswa
1.Pendekatan kepada siswa yang mengalami masalah
2.Mengidentifikasi masalah yang dihadapi siswa
3.Melakukan penanganan dengan melibatkan orang tua siswa
4.Memantau progres yang dihasilkan.
7. Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu
Ibu dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?
Jawab ;
Faktor – factor yang mempermudah atau memebantu dalam pengambilan keputusan dalam
kasus dilemma etika adalah kerja team yang kompak antara kepala sekolah, wakil kepala
bidang kurikulum,wakil kepala bidang kesiswaan, guru senior dan juga guru kelas.
8. Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Ibu petik dari
pengalaman Ibu mengambil keputusan dilema etika?
Jawab: Pembelajaran yang dapat dipetik dalam mengambil keputusan dilemma etika adalah :
a. Libatkan Allah dalam segala urusan kita, mohon petunjuk atas segala masalah yang
dihadapi,
b. Mengambil keputusan dengan kondisi emosi yang stabil, tenang hati dan pikirannya
c. Pengambilan keputusan dilakukan dengan mengajak diskusi pihak – pihak yang
berwenang.
Analisis dan Refleksi Pengambilan Keputusan
Di antara pengetahuan tentang 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengujian
pengambilan keputusan secara umum hasil diilema etika sudah merujuk pada pengambilan
keputusan dilema etika.
Hal hal menarik yang muncul pada saat wawancara yaitu pada narasumber yang pertama
yaitu ibu Hirziah, kepala SMAN 56 Jakarta adalah bahwa dalam mengambil keputusan
dilema etika yaitu berkomunikasi dan berkoordinasi dengan puhak manajemen dalam
mengambil kepurtusan. mengedepankan nilai-nilai yang mengandung kebajikan agar tidak
banyak pihak yang dirugikan. Dalam hal ini adalah murid. Hal ini disebabkan karena selalu
mementingkan atau mengutamakan kepentingan murid yang bertujuan baik.
Hal menarik pada narsum yang kedua yaitu Bu Yati, Kepsek TK.Cahaya Mata beliau
menyampaikan pentingnya berkomunikasi, berkolaboradi dan berkoordniasi dengan pihak
guru, siswa dan orangtua murid dalam menyelesaikan masalah.Sehingga maslah yang terjadi
segera dapat terselesaikan dengan baik dan memberikan kebahagiaan pada semua pihak.
Hal menarik pada narsum yang ketiga Bu Yani kepsek SDIT Al Muttaqiin adalah
melibatkan Allah dalam mengambil keputusan. Dalam mengambil keputusan harus dengan
hati yang tenang dan tidak terpengaruh oleh siapapun.
Pertanyaan yang masih mengganjal saat wawancara adalah sudah tergambar 4 paradigma, 3
prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Untuk konsep dilema etika sudah terlihat
walaupun baru berapa persen. Bagaimana hasil keputusan tersebut dapat di sosialisasikan
dan diterima oleh semua pihak.
Yang saya dapatkan dari ketiga hasil wawancara 3 kepala sekolah intinya adalah dalam
mengambil keputusan kita harus melihat terlebih dahulu maslaahnya lalu berusaha untuk
berkomunikasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam membuat keputusan, agar
keputusan tersebut dapat menjadi keputusan yang berpihak kepada murid.
2. Dari hasil wawancara terhadap ketiga kepala sekolah tersebut ada persamaannya yaitu
Dalam penyelesaian kasus tersebut yang terpenting adalah berpihak pada murid.
Dalam membuat keputusan yang mengandung nilai-nilai kebajikan kita harus
berkomumikasi, berkolaborasi dengan berbagai pihak agar keputusan yang diambil dapat
memberikan jalan keluar kepada berbagai pihak tersebut.
Langkah-langkah atau prosedur dalam pengambilan keputusan yaitu mengidentifikasi
masalah, mengumpulkan fakta-fakta, mengkonfirmasi kemudian memvalidasi data-data
dan menentukan siapa saja yang terlibat dalam mengambil keputusan.
Dalam penanganan kasus yang urgen dan ringan dapat di selesaikan pada hari itu juga
sedangkan untuk kasus yang berat diselesaikan berdasarkan waktu yang telah disepakati
oleh pihak yang terlibat.
Yang menonjol dari ketiga pimpinan tersebut adalah Ibu Kepala SMAN 56 Jakarta,
Dikarenakan banyak kasus dilema etika yang terjadi di sekolah jenjang yang lebih tinggi
dan penanganannya pun menuntut perhatian lebih.Karena kasusnya sudah semakin rumit.
3. Rencana ke depan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung
unsur dilema etika adalah bagaimana saya dapat meyakinkan pihak lain bahwa keputusan
yang saya ambil sudah berdasarkan langkah-langkah yang tepat, sehingga keputusan ini bisa
diterima semua pihak. Menyosialisasikan hasil keputusan kepada pihak lain agar lebih jelas
dan transparan. Namun memang keputusan apapun pasti saja akan ada yang kontra atau tidak
melaksanakan keputusan yang saya putuskan. Kepada orang seperti ini harus sabar dan
berjiwa besar mencoba memanggil dan berdiskusi dari hati ke hati agar orang tersebut dapat
memahaminya dengan baik, karena kasus dilema etika merupakan kasus yang sifatnya relatif
kebenarannya. Selain itu rencana kedepannya melakukan preventif dan kolaboratifterjadinya
kasus dilemma etika. Para pimpinanan sekolah mengukur efektivitas pengambilan keputusan
mereka dengan cara berkolaborasi dan berkomunikasi dengan para guru, para siswa, wali
murid, dan masyarakat dan dalam mengambil keputusan harus berpihak pada murid.
4. Saya dalam menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan adalah saya
akan mengamati permaslaahan yang ada kejadiannya apakah termasuk dilema etika atau
bukan. lalu saya akan mengidentifikasi nilai nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa
yang terlibat, saya akan mengumpulkan data dan fakta yang berhubungan dengan ,masalah
tersebut. Lalu saya akan melakukan ujicoba dengan menerapkan uji legal, uji regulasi, uji
intuisi, uji publikasi, uji panutan, pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip
resolusi, investigasi opsi terilema yaitu mencarai opsi alternative, terakhir lihat lagi keputusan
dan refleksikan hasil keputusan. Saya akan menerapkan langkah-langkah pengujian
pengambilan keputusan tersebut saat saya sedang mengalami dilema etika .
---ooOOOoo--