The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Rangkuman Materi Kunci per sub modul CGP

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Hersel Mario Saroinsong, 2023-06-26 09:35:56

Rangkuman Materi Kunci per sub modul CGP

Rangkuman Materi Kunci per sub modul CGP

Rangkuman Materi Kunci Per Sub Modul Rangkuman Materi Kunci Per Sub Modul Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Minahasa Selatan Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Minahasa Selatan Hersel M. Saroinsong, S.Pd CGP Fasilitator Jufri, S.Pd Pengajar Praktik Jurieke D. Ratu, S.Pd


PROFIL CGP [email protected] Hersel Saroinsongd 085240523062 Hersel Saroinsongd


Salam dan Bahagia Nama saya Hersel M. Saroinsong, S.Pd. Saya berasal dari SMP Negeri 3 Amurang Timur dan saya merupakan Calon Guru Penggerak Angkatan 7 Kabupaten Minahasa Selatan. Motivasi saya mengikuti guru penggerak adalah saya ingin menambah pengalaman dan ingin mengembangkan kompetensi saya karena peningkatan kompetensi harus terus diupayakan agar dapat menghadirkan pembelajaran yang semakin bermutu dan berkualitas. Program guru penggerak merupakan kesempatan yang baik untuk seorang guru meningkatkan kompetensinya, terlebih di era perkembangan teknologi yang semakin maju pesat sekarang ini guru dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Tidak dipungkiri bahwa masih banyak guru yang belum mampu menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Oleh sebab itu guru harus banyak belajar dan mengikuti pelatihanpelatihan yang ada. Dalam mewujudkan motivasi saya menjadi guru penggerak, saya meminta dukungan dari kepala sekolah dan keluarga saya untuk mengijinkan dan mendukung saya untuk mengikuti seleksi Calon Guru Penggerak, karena tanpa ijin dari kepala sekolah dan keluarga saya tidak bisa mengikuti seleksi calon guru penggerak.


Rangkaian Kegiatan Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Rangkaian Kegiatan Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Dimulai dengan mengikuti Rapat Koordinasi Teknis dan Orientasi Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7 Propinsi Sulawesi Utara yang dilaksankan di Swiss Belhotel Maleosan Manado dari tanggal 19 s/d 21 Oktober 2022


PAKET MODUL 1 PARADIKMA DAN VISI GURU PENGGERAK PAKET MODUL 1 PARADIKMA DAN VISI GURU PENGGERAK Terdiri atas: Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - KHD Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Modul 1.4 Budaya Positif 1. 2. 3. 4.


Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - KHD Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai Kompetensi Lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak memahami peran dan alasan menjadi pemimpin pembelajaran. 2. Guru Penggerak, melalui refleksi diri yang terdokumentasi, mampu secara reguler mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi dan kematangan diri demi mendukung pembelajaran murid. Capaian Umum Modul 1.1 Secara umum, capaian modul ini adalah: 1. Guru Penggerak mampu memahami pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan melakukan refleksikritis atas korelasi pemikiran-pemikiran tersebut dengan konteks pendidikan lokal dan nasional pada saat ini. 2. Guru Penggerak, mampu mengambil pembelajaran dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara untuk diterapkan sebagai pemimpin pembelajaran yang mengupayakan terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. Capaian Khusus Modul 1.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu memiliki: 1. Pengetahuan tentang dasar-dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD), 2. Keterampilan mengelola pembelajaran yang berpihak pada murid pada konteks lokal kelas dan sekolah agar terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan karakter, 3. Sikap reflektif-kritis dalam menerapkan pembelajaran yang merefleksikan dasar dasar Pendidikan KHD dalam menuntun murid mencapai kekuatan kodratnya Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai Kompetensi Lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak memahami peran dan alasan menjadi pemimpin pembelajaran. 2. Guru Penggerak, melalui refleksi diri yang terdokumentasi, mampu secara reguler mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi dan kematangan diri demi mendukung pembelajaran murid. Capaian Umum Modul 1.1 Secara umum, capaian modul ini adalah: 1. Guru Penggerak mampu memahami pemikiran filosofis pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan melakukan refleksikritis atas korelasi pemikiran-pemikiran tersebut dengan konteks pendidikan lokal dan nasional pada saat ini. 2. Guru Penggerak, mampu mengambil pembelajaran dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara untuk diterapkan sebagai pemimpin pembelajaran yang mengupayakan terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan karakter. Capaian Khusus Modul 1.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu memiliki: 1. Pengetahuan tentang dasar-dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara (KHD), 2. Keterampilan mengelola pembelajaran yang berpihak pada murid pada konteks lokal kelas dan sekolah agar terwujudnya sekolah sebagai pusat pengembangan karakter, 3. Sikap reflektif-kritis dalam menerapkan pembelajaran yang merefleksikan dasar dasar Pendidikan KHD dalam menuntun murid mencapai kekuatan kodratnya


Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - KHD KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak. Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal


Aksi Nyata Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - KHD Aksi Nyata Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - KHD Diskusi dengan Kepala sekolah dan teman sejawat Membuat perangkat pembelajaran Berdoa sebelum memulai pembelajaran Murid berkolaborasi dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas dengan penuh semangat Murid mempresentasikan hasil diskusi dengan penuh rasa percaya diri dan penuh tanggungjawab Guru memberikan penguatan agar murid tidak salah arah dan tujuan


Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak memahami peran dan alasan menjadi pemimpin pembelajaran. 2. Guru Penggerak, melalui refleksi diri yang terdokumentasi, mampu secara reguler mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi dan kematangan diri demi mendukung pembelajaran murid. 3. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. Capaian Umum Modul 1.2 Secara umum, profil kompetensi yang ingin dicapai dari modul ini adalah Calon Guru Penggerak mampu: 1. menumbuhkembangkan Profil Pelajar Pancasila, nilai-nilai dan peran Guru Penggerak (GP) dalam dirinya sehingga mampu menumbuh-kembangkan Profil Pelajar Pancasila dalam diri murid-murid. Capaian Khusus Modul 1.2 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: 1. memahami bahwa manusia memiliki daya untuk memilih (choice theory) 2. memahami pentingnya menumbuhkan motivasi intrinsik 3. memahami bagaimana otak triune, kebutuhan dasar manusia, dan perkembangan psikososial mempengaruhi bagaimana nilai-nilai tumbuh dalam diri seseorang 4. memahami bagaimana nilai-nilai Guru Penggerak dapat menguatkan peran Guru Penggerak dalam membawakan perubahan pada ekosistem sekolah 5. mengadopsi kebiasaan reflektif sebagai Guru Penggerak Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak memahami peran dan alasan menjadi pemimpin pembelajaran. 2. Guru Penggerak, melalui refleksi diri yang terdokumentasi, mampu secara reguler mengidentifikasi kebutuhan peningkatan kompetensi dan kematangan diri demi mendukung pembelajaran murid. 3. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. Capaian Umum Modul 1.2 Secara umum, profil kompetensi yang ingin dicapai dari modul ini adalah Calon Guru Penggerak mampu: 1. menumbuhkembangkan Profil Pelajar Pancasila, nilai-nilai dan peran Guru Penggerak (GP) dalam dirinya sehingga mampu menumbuh-kembangkan Profil Pelajar Pancasila dalam diri murid-murid. Capaian Khusus Modul 1.2 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: 1. memahami bahwa manusia memiliki daya untuk memilih (choice theory) 2. memahami pentingnya menumbuhkan motivasi intrinsik 3. memahami bagaimana otak triune, kebutuhan dasar manusia, dan perkembangan psikososial mempengaruhi bagaimana nilai-nilai tumbuh dalam diri seseorang 4. memahami bagaimana nilai-nilai Guru Penggerak dapat menguatkan peran Guru Penggerak dalam membawakan perubahan pada ekosistem sekolah 5. mengadopsi kebiasaan reflektif sebagai Guru Penggerak


Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian mempengaruhi dirinya untuk bergerak. Rokeach (dalam Abdul H., 2015), menyatakan bahwa nilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau ituasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam diri seseorang akan membantu mereka mengambil osisi ketika berhadapan dengan situasi atau masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai guru penggerak yaitu: (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, serta (5) inovatif Di masa mendatang, Guru Penggerak diharapkan dapat memainkan peran-peran memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya masing-masing. Kepemimpinan seorang Guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Terdapat 5 peran Guru Penggerak yaitu 1. Menjadi Pemimpin Pembelajaran, 2. Menjadi Coach Bagi Guru Lain, 3. Mendorong kolaborasi, 4. Mewujudkan Kepemimpinan Murid (Student Agency), 5. Menggerakkan Komunitas Praktisi Guru adalah manusia yang senantiasa berusaha untuk menggerakkan manusia lainnya. Oleh karena itu, guru harus lebih dulu sadar bagaimana dirinya tergerak, kemudian mempengaruhi dirinya untuk bergerak. Rokeach (dalam Abdul H., 2015), menyatakan bahwa nilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau ituasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam diri seseorang akan membantu mereka mengambil osisi ketika berhadapan dengan situasi atau masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai guru penggerak yaitu: (1) berpihak pada murid, (2) reflektif, (3) mandiri, (4) kolaboratif, serta (5) inovatif Di masa mendatang, Guru Penggerak diharapkan dapat memainkan peran-peran memimpin perubahan dalam ekosistem pendidikannya masing-masing. Kepemimpinan seorang Guru tentunya akan lebih maksimal jika memiliki keterampilan ataupun kompetensi yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Terdapat 5 peran Guru Penggerak yaitu 1. Menjadi Pemimpin Pembelajaran, 2. Menjadi Coach Bagi Guru Lain, 3. Mendorong kolaborasi, 4. Mewujudkan Kepemimpinan Murid (Student Agency), 5. Menggerakkan Komunitas Praktisi Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak


Aksi Nyata Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Aksi Nyata Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Menumbuhkan karakter religius berupa berdoa sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran Berkolaborasi antar siswa dalam kegiatan belajar kelompok Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi Aktif mengikuti kegiatan workshop, webinar, MGMP, IHT


Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. 2. Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersamasama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Capaian Umum Modul 1.3 Secara umum, capaian modul ini adalah: 1. Calon Guru Penggerak dapat merumuskan visi yang menggerakkan hati dan kolaborasi dalam menumbuhkembangkan Profil Pelajar Pancasila pada murid-murid. 2. Calon Guru Penggerak mengupayakan pencapaian visi melalui prakarsa perubahan yang positif dan apresiatif. Capaian Khusus Modul 1.3 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk: ● mengartikulasikan Profil Pelajar Pancasila dalam kalimat visi, ● merumuskan kalimat visi yang menggerakkan hati dan kolaborasi, ● menentukan prakarsa perubahan yang menantang, bermakna, kontekstual, dan relevan, ● memahami bahwa prakarsa perubahan adalah bagian dari upaya untuk mencapai visi yang telah dirumuskan, Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. 2. Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersamasama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Capaian Umum Modul 1.3 Secara umum, capaian modul ini adalah: 1. Calon Guru Penggerak dapat merumuskan visi yang menggerakkan hati dan kolaborasi dalam menumbuhkembangkan Profil Pelajar Pancasila pada murid-murid. 2. Calon Guru Penggerak mengupayakan pencapaian visi melalui prakarsa perubahan yang positif dan apresiatif. Capaian Khusus Modul 1.3 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk: ● mengartikulasikan Profil Pelajar Pancasila dalam kalimat visi, ● merumuskan kalimat visi yang menggerakkan hati dan kolaborasi, ● menentukan prakarsa perubahan yang menantang, bermakna, kontekstual, dan relevan, ● memahami bahwa prakarsa perubahan adalah bagian dari upaya untuk mencapai visi yang telah dirumuskan,


Sebagai seorang guru, terlebih guru penggerak tentu memiliki visi. Visi dari guru penggerak adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila. Untuk mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam dirinya. Di samping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, mampu menggerakkan kelompok-kelompok praktisi, mampu menjadi coach atau pelatih bagi guru-guru lain, mampu mendorong kerja sama antar guru, dan mendorong kepemimpinan yang berorientasi pada murid. Dengan peran dan nilai tersebut. Maka diharapkan guru mampu mewujudkan siswa yang merdeka belajar. Guru yang mampu mewujudkan siswa yang berprofil pelajar Pancasila. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah impian dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish” , maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA) dengan menggunakan tahapan BAGJA. IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Sebagai seorang guru, terlebih guru penggerak tentu memiliki visi. Visi dari guru penggerak adalah mewujudkan anak-anak Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila. Untuk mencapai visi tersebut, tentunya guru harus memiliki nilai yang melekat dalam dirinya. Di samping nilai-nilai tersebut, seorang guru penggerak juga harus memainkan perannya dalam dunia pendidikan yaitu menjadi pemimpin pembelajaran, mampu menggerakkan kelompok-kelompok praktisi, mampu menjadi coach atau pelatih bagi guru-guru lain, mampu mendorong kerja sama antar guru, dan mendorong kepemimpinan yang berorientasi pada murid. Dengan peran dan nilai tersebut. Maka diharapkan guru mampu mewujudkan siswa yang merdeka belajar. Guru yang mampu mewujudkan siswa yang berprofil pelajar Pancasila. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah impian dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish” , maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Dalam modul ini, kita akan mengeksplorasi paradigma yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA) dengan menggunakan tahapan BAGJA. IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak


Aksi Nyata Modul 1.3 Visi Guru Penggerak 1. Persiapan Pada tahap persiapan, saya melaksanakan perencanaan strategi penerapan aksi nyata dengan melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan kepala sekolah dan rekan sejawat. Hal-hal yang saya koordinasi berkaitan dengan kegiatan pengajaran dan pembiasaan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa. Kemudian mencari informasi terkait upaya meningkatkan kreativitas dan motivasi belajar murid 2. Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan, saya mengimplementasikan prakarsa perubahan diri yang telah saya rencanakan dengan tahapan BAGJA yaitu Meningkatkan kreativitas dan motivasi belajar murid melalui pemanfaatan teknologi digital 3. Refleksi Pada tahap refleksi, saya menuliskan pada jurnal refleksi mengenai pengalaman, perasaan dan pembelajaran apa yang saya dapatkan selama proses aksi nyata. Saya juga membuat rencana tindak lanjut mengenai apa yang akan saya perbaiki dan saya tingkatkan dari aksi nyata yang telah saya laksanakan. Kritik, saran dan masukan dari rekan sejawat serta siswa akan saya tampung demi perbaikan diri di masa depan


Modul 1.4 Budaya Positif Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: ● Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman. ● Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Capaian Umum Modul 1.4 Secara umum, capaian modul ini adalah: ● Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid. ● Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan murid dengan profil pelajar Pancasila. ● Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid. Capaian Khusus Modul 1.4 Capaian Khusus Modul 1.4 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: ● Menjelaskan konsep budaya positif yang berdasarkan pada konsep perubahan paradigma stimulus respons ke teori kontrol serta nilai-nilai kebajikan universal yang dijabarkan penerapannya pada modul ini. ● Menjelaskan konsep makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan 5 posisi kontrol guru serta segitiga restitusi dan menerapkannya dalam ekosistem sekolah yang aman, dan berpihak pada murid. ● Menyusun strategi-strategi aksi nyata yang efektif dengan mewujudkan kolaborasi beserta seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya positif yang dapat mengembangkan karakter murid. ● Menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dan mengembangkannya sesuai kebutuhan sosial dan murid. Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: ● Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman. ● Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Capaian Umum Modul 1.4 Secara umum, capaian modul ini adalah: ● Memahami konsep pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep budaya dan lingkungan positif di sekolah yang berpihak pada murid. ● Melakukan evaluasi dan refleksi tentang praktik disiplin dalam pendidikan Indonesia secara umum untuk mendapatkan pemahaman baru mengenai konsep disiplin positif untuk menciptakan murid dengan profil pelajar Pancasila. ● Memahami peran sebagai guru untuk membangun budaya positif dengan menerapkan konsep disiplin positif dalam berinteraksi dengan murid. Capaian Khusus Modul 1.4 Capaian Khusus Modul 1.4 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu: ● Menjelaskan konsep budaya positif yang berdasarkan pada konsep perubahan paradigma stimulus respons ke teori kontrol serta nilai-nilai kebajikan universal yang dijabarkan penerapannya pada modul ini. ● Menjelaskan konsep makna disiplin, keyakinan kelas, hukuman dan penghargaan, 5 kebutuhan dasar manusia, Restitusi dengan 5 posisi kontrol guru serta segitiga restitusi dan menerapkannya dalam ekosistem sekolah yang aman, dan berpihak pada murid. ● Menyusun strategi-strategi aksi nyata yang efektif dengan mewujudkan kolaborasi beserta seluruh pemangku kepentingan sekolah agar tercipta budaya positif yang dapat mengembangkan karakter murid. ● Menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif di sekolah dan mengembangkannya sesuai kebutuhan sosial dan murid.


Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Dalam modul ini diperkenalkan program disiplin positif yang dinamakan Restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Melalui pendekatan restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan mengajak murid berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Dalam modul ini diperkenalkan program disiplin positif yang dinamakan Restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Restitusi membantu murid menjadi lebih memiliki tujuan, disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah. Penekanannya bukanlah pada bagaimana berperilaku untuk menyenangkan orang lain atau menghindari ketidaknyamanan, namun tujuannya adalah menjadi orang yang menghargai nilai-nilai kebajikan yang mereka percayai. Melalui pendekatan restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan mengajak murid berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Pendekatan restitusi tidak hanya menguntungkan korban, tetapi juga menguntungkan orang yang telah berbuat salah. Modul 1.4 Budaya Positif


Sosialisasi tentang pentingnya Budaya Positif dan Keyakinan Kelas kepada peserta didik Berkoordinasi dengan rekan guru dengan memberikan sosialisasi tentang pentingnya Budaya Positif, Keyakinan Kelas dan pentingnya segitiga restitusi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada Penerapan segitiga restitusi Pembentukkan kesepakatan kelas Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif Melakukan konsultasi dengan kepala sekolah, menjelaskan pentingnya penanaman Budaya Positif dan Keyakinan Kelas di sekolah


PAKET MODUL 2 PRAKTIK PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID PAKET MODUL 2 PRAKTIK PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK PADA MURID Terdiri atas: Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik


Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman. 2. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam merancang alur dan tujuan pembelajaran yang berorientasi pada masa depan. 3. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam mengevaluasi pembelajaran berdasarkan data dan tingkat pencapaian murid. Capaian Umum Modul 2.1 Secara umum, capaian modul ini adalah peserta mampu: 1. mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda; 2. menjadi teladan dalam melakukan praktik-praktik reflektif dalam pembelajaran bagi komunitas pendidik di lingkungan sekitarnya. Capaian Khusus Modul 2.1 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi Guru Penggerak yang mampu: 1. menunjukkan pemahaman tentang konsep pembelajaran untuk semua murid; 2. mendemonstrasikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan alasan mengapa pembelajaran berdiferensiasi diperlukan; 3. menjelaskan pentingnya mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan belajar murid; 4. menganalisis penerapan diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk; 5. mengimplementasikan Rencana Pembelajaran Berdiferensiasi dalam konteks pembelajaran di sekolah atau kelas mereka sendiri; 6. menunjukkan sikap kreatif, percaya diri, mau mencoba, dan berani mengambil risiko dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman. 2. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam merancang alur dan tujuan pembelajaran yang berorientasi pada masa depan. 3. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam mengevaluasi pembelajaran berdasarkan data dan tingkat pencapaian murid. Capaian Umum Modul 2.1 Secara umum, capaian modul ini adalah peserta mampu: 1. mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda; 2. menjadi teladan dalam melakukan praktik-praktik reflektif dalam pembelajaran bagi komunitas pendidik di lingkungan sekitarnya. Capaian Khusus Modul 2.1 Setelah menyelesaikan modul ini, peserta diharapkan dapat menjadi Guru Penggerak yang mampu: 1. menunjukkan pemahaman tentang konsep pembelajaran untuk semua murid; 2. mendemonstrasikan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan alasan mengapa pembelajaran berdiferensiasi diperlukan; 3. menjelaskan pentingnya mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan belajar murid; 4. menganalisis penerapan diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk; 5. mengimplementasikan Rencana Pembelajaran Berdiferensiasi dalam konteks pembelajaran di sekolah atau kelas mereka sendiri; 6. menunjukkan sikap kreatif, percaya diri, mau mencoba, dan berani mengambil risiko dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.


sebelum menentukan strategi pembelajaran diferensiasi kita harus memahami 3 aspek pemetaan kebutuhan murid sebagai dasar guru dalam melaksanakan praktik pembelajaran diferensiasi di kelas. 3 Aspek pemetaan kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut : 1)Kesiapan belajar (readiness) murid; 2)Minat belajar murid; 3)Profil belajar murid. Dengan memahami 3 aspek pemetaan kebutuhan menentukan startegi pembelajaran diferensiasi. 3 strategi pembelajaran diferensiasi yaitu : 1) Diferensiasi Konten, 2) diferensiasi proses, 3) diferensiasi produk. Kesulitan yang sering ditemui adalah bagaimana memahami tingkat kesiapan murid, minat belajar, serta profil belajar yang berbeda-beda. Sehingga perlunya usaha sungguh-sungguh untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi, menetapkan dalam hati dengan penuh keyakinan kita pasti bisa menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran diferensiasi. Tentunya untuk menciptakan pembelajaran yang diferensiasi perlunya kolaborasi baik dengan murid bahkan dengan orang tua serta Kepala Sekolah, dan Rekan Guru lainnya. sebelum menentukan strategi pembelajaran diferensiasi kita harus memahami 3 aspek pemetaan kebutuhan murid sebagai dasar guru dalam melaksanakan praktik pembelajaran diferensiasi di kelas. 3 Aspek pemetaan kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut : 1)Kesiapan belajar (readiness) murid; 2)Minat belajar murid; 3)Profil belajar murid. Dengan memahami 3 aspek pemetaan kebutuhan menentukan startegi pembelajaran diferensiasi. 3 strategi pembelajaran diferensiasi yaitu : 1) Diferensiasi Konten, 2) diferensiasi proses, 3) diferensiasi produk. Kesulitan yang sering ditemui adalah bagaimana memahami tingkat kesiapan murid, minat belajar, serta profil belajar yang berbeda-beda. Sehingga perlunya usaha sungguh-sungguh untuk menerapkan pembelajaran diferensiasi, menetapkan dalam hati dengan penuh keyakinan kita pasti bisa menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran diferensiasi. Tentunya untuk menciptakan pembelajaran yang diferensiasi perlunya kolaborasi baik dengan murid bahkan dengan orang tua serta Kepala Sekolah, dan Rekan Guru lainnya. Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid


Aksi Nyata Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Aksi Nyata Modul 2.1 Pembelajaran Untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melakukan kolaborasi dengan wali kelas untuk melakukan pemetaan awal tentang kemampuan murid Memetakan kesiapan, minat dan profil belajar murid berdasarkan pengamatan yang dilakukan dan hasil kolaborasi dengan wali kelas


Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya 2. Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman 3. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam merancang alur dan tujuan pembelajaran yang berorientasi pada masa depan. Capaian Umum Modul 2.2 Secara umum, profil kompetensi yang ingin dicapai dari modul ini adalah: 1. Guru Penggerak mampu secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan psikologis (well-being) 2. Guru Penggerak paham dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sehingga seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal Capaian Khusus Modul 2.2 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: 1. Menjelaskan pentingnya Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. 2. Menjelaskan bagaimana penerapan konsep pembelajaran sosial dan emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 3. Mempraktikkan konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE). 4. Mengimplementasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness) melalui pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) di sekolah. Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya 2. Guru Penggerak memahami pentingnya mengetahui kebutuhan belajar dan lingkungan yang memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensinya secara aman dan nyaman 3. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam merancang alur dan tujuan pembelajaran yang berorientasi pada masa depan. Capaian Umum Modul 2.2 Secara umum, profil kompetensi yang ingin dicapai dari modul ini adalah: 1. Guru Penggerak mampu secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan psikologis (well-being) 2. Guru Penggerak paham dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman sehingga seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal Capaian Khusus Modul 2.2 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: 1. Menjelaskan pentingnya Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. 2. Menjelaskan bagaimana penerapan konsep pembelajaran sosial dan emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. 3. Mempraktikkan konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE). 4. Mengimplementasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness) melalui pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) di sekolah.


Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit Mengintegrasikan KSE ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid Memengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain, dan lingkungan. Pembelajaran Sosial dan Emosional ialah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh semua komunitas sekolah, sehingga memungkinkan anak serta orang dewasa memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif tentang aspek sosial dan emosional. Tujuan pembelajaran sosial dan emosional: 1) memberi pemahaman, penghayatan dan kemampuan mengelola emosi (kesadaran diri), 2) menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), 3) merasakan dan menunjukkan empati pada orang lain (kesadaran sosial), 4) membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi), 5) membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab). Implementasi/ Penerapan PSE bisa dilakukan dengan 4 cara: 1. 2. 3. 4. Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit Mengintegrasikan KSE ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid Memengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain, dan lingkungan. Pembelajaran Sosial dan Emosional ialah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh semua komunitas sekolah, sehingga memungkinkan anak serta orang dewasa memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif tentang aspek sosial dan emosional. Tujuan pembelajaran sosial dan emosional: 1) memberi pemahaman, penghayatan dan kemampuan mengelola emosi (kesadaran diri), 2) menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri), 3) merasakan dan menunjukkan empati pada orang lain (kesadaran sosial), 4) membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi), 5) membuat keputusan yang bertanggung jawab (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab). Implementasi/ Penerapan PSE bisa dilakukan dengan 4 cara: 1. 2. 3. 4. Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional


Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Aksi Nyata Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional Berbagi praktik baik dengan rekan sejawat tentang pembelajaran sosial dan emosional Menyusun RPP berdiferensiasi yang diiegrasikan dengan PSE


Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. 2. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam mengevaluasi pembelajaran berdasarkan data dan tingkat pencapaian murid. 3. Guru Penggerak terampil menerapkan pendekatan coaching untuk pengembangan diri, guru dan rekan sejawat. Capaian Umum Modul 2.3 Secara umum, capaian modul ini adalah peserta mampu: 1. memiliki paradigma berpikir coaching dalam berkomunikasi dalam rangka mengembangkan kompetensi rekan sejawat; 2. menerapkan praktik komunikasi memberdayakan dengan menggunakan paradigma berpikir dan prinsip coaching; 3. melakukan percakapan berbasis coaching dalam komunitas sekolahnya untuk mengembangkan kompetensi rekan sejawat. Capaian Khusus Modul 2.3 Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan menjadi guru penggerak yang mampu: 1. menjelaskan konsep coaching secara umum; 2. membedakan coaching dengan pengembangan diri lainnya, yaitu mentoring, konseling, fasilitasi, dan training; 3. menjelaskan konsep coaching dalam dunia pendidikan sebagai pendekatan pengembangan kompetensi diri dan orang lain (rekan sejawat); 4. menjelaskan paradigma berpikir coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi; 5. menjelaskan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi; 6. mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik; 7. membedakan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat; 8. melakukan percakapan coaching dengan alur TIRTA; 9. mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching: coaching presence, mendengar aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching; 10. menjelaskan jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi; 11. memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip dan coaching; 12. mempraktikan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. 2. Guru Penggerak memfasilitasi guru lain dalam mengevaluasi pembelajaran berdasarkan data dan tingkat pencapaian murid. 3. Guru Penggerak terampil menerapkan pendekatan coaching untuk pengembangan diri, guru dan rekan sejawat. Capaian Umum Modul 2.3 Secara umum, capaian modul ini adalah peserta mampu: 1. memiliki paradigma berpikir coaching dalam berkomunikasi dalam rangka mengembangkan kompetensi rekan sejawat; 2. menerapkan praktik komunikasi memberdayakan dengan menggunakan paradigma berpikir dan prinsip coaching; 3. melakukan percakapan berbasis coaching dalam komunitas sekolahnya untuk mengembangkan kompetensi rekan sejawat. Capaian Khusus Modul 2.3 Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan menjadi guru penggerak yang mampu: 1. menjelaskan konsep coaching secara umum; 2. membedakan coaching dengan pengembangan diri lainnya, yaitu mentoring, konseling, fasilitasi, dan training; 3. menjelaskan konsep coaching dalam dunia pendidikan sebagai pendekatan pengembangan kompetensi diri dan orang lain (rekan sejawat); 4. menjelaskan paradigma berpikir coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi; 5. menjelaskan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi; 6. mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik; 7. membedakan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat; 8. melakukan percakapan coaching dengan alur TIRTA; 9. mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching: coaching presence, mendengar aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching; 10. menjelaskan jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi; 11. memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip dan coaching; 12. mempraktikan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching


Pengertian Coaching Coaching adalah proses kolaborasi sistematis dengan fokus pada solusi masalah, berorientasi pada hasil untuk membantu seseorang belajar secara madiri bukan mengajarinya. Guru perlu memiliki keterampilan coaching untuk menuntun potensi siswa supaya mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai individu dan anggota masyarakat. Siswa diberikan kebebasan di dalam prosesnya, guru bertindak sebagai Pamong yang menuntun dan memberdayakan potensinya supaya murid tidak kehilangan arah dan membahayakan diri. Tut Wuri Handayani ialah kekuatan pendekatan Coaching. Guru harus memahami dan menghayati cara berpikir (Mindset) Ki Hajar Dewantara dalam mendampingi dengan pendekatan Coaching. Siswa sebagai manusia bebas juga butuh cinta kasih. Guru mengikuti, mendampingi dan mendorong kekuatan kodrat siswa secara holistik berdasar cinta kasih dan persaudaraan tanpa pamrih, bukan menguasai dan memaksa. Proses coaching membuka ruang emansipatif guru dan siswa. Siswa punya peluang menemukan kekuatan kodrat, potensi diri dan kekuatan yang dimilikinya. Pengertian Coaching Coaching adalah proses kolaborasi sistematis dengan fokus pada solusi masalah, berorientasi pada hasil untuk membantu seseorang belajar secara madiri bukan mengajarinya. Guru perlu memiliki keterampilan coaching untuk menuntun potensi siswa supaya mencapai keselamatan dan kebahagian sebagai individu dan anggota masyarakat. Siswa diberikan kebebasan di dalam prosesnya, guru bertindak sebagai Pamong yang menuntun dan memberdayakan potensinya supaya murid tidak kehilangan arah dan membahayakan diri. Tut Wuri Handayani ialah kekuatan pendekatan Coaching. Guru harus memahami dan menghayati cara berpikir (Mindset) Ki Hajar Dewantara dalam mendampingi dengan pendekatan Coaching. Siswa sebagai manusia bebas juga butuh cinta kasih. Guru mengikuti, mendampingi dan mendorong kekuatan kodrat siswa secara holistik berdasar cinta kasih dan persaudaraan tanpa pamrih, bukan menguasai dan memaksa. Proses coaching membuka ruang emansipatif guru dan siswa. Siswa punya peluang menemukan kekuatan kodrat, potensi diri dan kekuatan yang dimilikinya. Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik


Aksi Nyata Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Aksi Nyata Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik Praktik coaching dengan rekan sejawat Praktik coaching dengan rekan CGP


PAKET MODUL 3 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH PAKET MODUL 3 PEMIMPIN PEMBELAJARAN DALAM PENGEMBANGAN SEKOLAH Terdiri atas: Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid


Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: ● Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. ● Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Capaian Umum Modul 3.1 Secara umum, capaian dari modul ini adalah: ● mampu melakukan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan, mampu memahami dan menerapkan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan ● mampu menerapkan strategi pengambilan keputusan untuk menghindari adanya isu kode etik kepemimpinan sekolah dan konflik kepentingan Capaian Khusus Modul 3.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: ● CGP dapat menjelaskan tentang konsep sekolah sebagai institusi pembentukan karakter dan nilai-nilai kebajikan sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan berbasis etika sebagai seorang pemimpin pembelajaran. ● CGP dapat melakukan praktik pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. CGP dapat mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang dihadapi oleh dirinya sendiri maupun orang lain; CGP menunjukkan sikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut. ● CGP dapat memilih 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema etika. ● CGP dapat menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika; CGP bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut. Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: ● Guru Penggerak secara aktif menetapkan tujuan, membuat rencana, dan menentukan cara untuk mencapainya dalam meningkatkan kompetensi dan kematangan dirinya. ● Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. Capaian Umum Modul 3.1 Secara umum, capaian dari modul ini adalah: ● mampu melakukan pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan, mampu memahami dan menerapkan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan ● mampu menerapkan strategi pengambilan keputusan untuk menghindari adanya isu kode etik kepemimpinan sekolah dan konflik kepentingan Capaian Khusus Modul 3.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: ● CGP dapat menjelaskan tentang konsep sekolah sebagai institusi pembentukan karakter dan nilai-nilai kebajikan sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan berbasis etika sebagai seorang pemimpin pembelajaran. ● CGP dapat melakukan praktik pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. CGP dapat mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang dihadapi oleh dirinya sendiri maupun orang lain; CGP menunjukkan sikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut. ● CGP dapat memilih 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema etika. ● CGP dapat menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema etika; CGP bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.


Sebagai guru atau pemimpin pembelajaran, kita sering dihadapkan pada situasi dilema, yang menuntut kita sebagai guru bijak dalam mengambil keputusan. Sebuah dilema dimana terjadi pertentangan antara dua pilihan yang secara moral benar tetapi bertentangan yang disebut dilema etika dan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah yang disebut bujukan moral. Pada situasi dilema etika, diperlukan paradigma atau nilai-nilai kebajikan universal, rasa tanggungjawab dan juga keberpihakan pada murid sehingga seorang pemimpin pembelajaran bisa mengambil keputusan yang beretika. Pada dasarnya ada 4 paradigma berfikir yang penting dalam pengambilan keputusan yang beretika yaitu : 1) Individu lawan masyarakat (individual vs community), 2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), 3) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), 4) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Kita juga harus memahami tentang prinsip pengambilan keputusan yang terdiri atas 3 prinsip yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), 2) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), 3) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) Sebagai guru atau pemimpin pembelajaran, kita sering dihadapkan pada situasi dilema, yang menuntut kita sebagai guru bijak dalam mengambil keputusan. Sebuah dilema dimana terjadi pertentangan antara dua pilihan yang secara moral benar tetapi bertentangan yang disebut dilema etika dan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah yang disebut bujukan moral. Pada situasi dilema etika, diperlukan paradigma atau nilai-nilai kebajikan universal, rasa tanggungjawab dan juga keberpihakan pada murid sehingga seorang pemimpin pembelajaran bisa mengambil keputusan yang beretika. Pada dasarnya ada 4 paradigma berfikir yang penting dalam pengambilan keputusan yang beretika yaitu : 1) Individu lawan masyarakat (individual vs community), 2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), 3) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), 4) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Kita juga harus memahami tentang prinsip pengambilan keputusan yang terdiri atas 3 prinsip yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), 2) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), 3) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


9. Terdapat sembilan langkah untuk menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang terkadang menggiring kita ke dalam situasi dan nilai yang bertentangan. Kesembilan langkah tersebut adalah: 1.Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. 2.Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. 3.Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 4.Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola. 5.Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. 6.Melakukan Prinsip Resolusi. 7.Investigasi Opsi Trilema. 8.Buat Keputusan. 9.Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan 9. Terdapat sembilan langkah untuk menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang terkadang menggiring kita ke dalam situasi dan nilai yang bertentangan. Kesembilan langkah tersebut adalah: 1.Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. 2.Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. 3.Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 4.Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola. 5.Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. 6.Melakukan Prinsip Resolusi. 7.Investigasi Opsi Trilema. 8.Buat Keputusan. 9.Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


Aksi Nyata Modul 3.1 Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Aksi Nyata Modul 3.1 Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin Wawancara dengan Kepala SMP N. 3 Amurang Timur, kepala SMP N. 1 Amurang Timur dan kepala SMP Kristen Tangkunei tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan


Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak melakukan pendampingan kepada seluruh komunitas sekolah untuk dapat menggunakan pendekatan reflektif dan iteratif dalam mengelola program dan sumber daya sekolah. 2. Guru Penggerak merencanakan, menginisiasi dan mengorganisasi kerangka program pengembangan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid berbasis data dan bukti. 3. Guru Penggerak memfasilitasi pelibatan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah untuk peningkatan kualitas belajar murid. Capaian Umum Modul 3.1 Secara umum, profil kompetensi Guru Penggerak yang ingin dicapai dari modul ini adalah CGP mampu: 1. mengidentifikasi dan mendapatkan sumber daya dari berbagai sumber yang sah untuk menjalankan program sekolah 2. menggunakan sumber daya sekolah secara efektif untuk meningkatkan kualitas belajar Capaian Khusus Modul 3.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: a. menganalisis aset dan kekuatan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dan efisien. b. merancang pemetaan potensi yang dimiliki sekolahnya menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset-Based Community Development). c. menunjukkan sikap aktif, terbuka, kritis dan kreatif dalam upaya pengelolaan sumber daya. Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: 1. Guru Penggerak melakukan pendampingan kepada seluruh komunitas sekolah untuk dapat menggunakan pendekatan reflektif dan iteratif dalam mengelola program dan sumber daya sekolah. 2. Guru Penggerak merencanakan, menginisiasi dan mengorganisasi kerangka program pengembangan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid berbasis data dan bukti. 3. Guru Penggerak memfasilitasi pelibatan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah untuk peningkatan kualitas belajar murid. Capaian Umum Modul 3.1 Secara umum, profil kompetensi Guru Penggerak yang ingin dicapai dari modul ini adalah CGP mampu: 1. mengidentifikasi dan mendapatkan sumber daya dari berbagai sumber yang sah untuk menjalankan program sekolah 2. menggunakan sumber daya sekolah secara efektif untuk meningkatkan kualitas belajar Capaian Khusus Modul 3.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: a. menganalisis aset dan kekuatan dalam pengelolaan sumber daya yang efektif dan efisien. b. merancang pemetaan potensi yang dimiliki sekolahnya menggunakan pendekatan Pengembangan Komunitas berbasis Aset (Asset-Based Community Development). c. menunjukkan sikap aktif, terbuka, kritis dan kreatif dalam upaya pengelolaan sumber daya.


Sekolah wajib membangun ekosistem yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan murid demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat tergantung pada cara pandang sekolah melihat ekosistemnya: apakah sebagai kekuatan atau sebagai kekurangan. Sekolah yang memandang semua sumber daya yang dimiliki sebagai suatu kekuatan dan aset, maka sekolah ini tidak akan berfokus pada kekurangan tapi berupaya pada pemanfaatan kekuatan dan aset yang dimiliki. Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis Pendekatan berbasis kekurangan berfokus pada yang mengganggu atau yang kurang atau yang tidak berfungsi. Semuanya dilihat dari sudut pandang negatif. Pendekatan ini berfokus pada masalah utama, berbasis pada hambatan/ kekurangan, selalu bertanya apa yang kurang, fokus mencari sponsor atau institusi lain, mengatur kelompok untuk menyelesaikan masalah, merancang projek untuk menyelesaikan masalah. Sekolah wajib membangun ekosistem yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan murid demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila. Keberhasilan sebuah proses pembelajaran sangat tergantung pada cara pandang sekolah melihat ekosistemnya: apakah sebagai kekuatan atau sebagai kekurangan. Sekolah yang memandang semua sumber daya yang dimiliki sebagai suatu kekuatan dan aset, maka sekolah ini tidak akan berfokus pada kekurangan tapi berupaya pada pemanfaatan kekuatan dan aset yang dimiliki. Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan satu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis Pendekatan berbasis kekurangan berfokus pada yang mengganggu atau yang kurang atau yang tidak berfungsi. Semuanya dilihat dari sudut pandang negatif. Pendekatan ini berfokus pada masalah utama, berbasis pada hambatan/ kekurangan, selalu bertanya apa yang kurang, fokus mencari sponsor atau institusi lain, mengatur kelompok untuk menyelesaikan masalah, merancang projek untuk menyelesaikan masalah. Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya


Pendekatan berbasis aset/kekuatanPendekatan berbasis aset ini juga digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). Pendekatan berbasis aset fokus pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk menggapai kesuksesan tersebut. Pendekatan ini mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan). Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset. Ada 7 (tujuh ) aset/modal utama sebuah komunitas, terdiri dari: 1. Modal Manusia (Pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan) 2. Modal Sosial (Norma dan aturan, kepercayaan, dan jaringan) 3. Modal fisik (bangunan dan sarana prasarana) 4. Modal lingkungan/alam 5. Modal finansial 6. Modal politik 7. Modal agama dan budaya Pendekatan berbasis aset/kekuatanPendekatan berbasis aset ini juga digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif (IA). Pendekatan berbasis aset fokus pada aset dan kekuatan, membayangkan masa depan, berpikir tentang kesuksesan yang telah diraih dan kekuatan untuk menggapai kesuksesan tersebut. Pendekatan ini mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan). Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset. Ada 7 (tujuh ) aset/modal utama sebuah komunitas, terdiri dari: 1. Modal Manusia (Pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan) 2. Modal Sosial (Norma dan aturan, kepercayaan, dan jaringan) 3. Modal fisik (bangunan dan sarana prasarana) 4. Modal lingkungan/alam 5. Modal finansial 6. Modal politik 7. Modal agama dan budaya Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya


Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya Kegiatan diskusi dengan kepala sekolah tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi dengan kepala sekolah tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi dengan rekan sejawat tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi dengan rekan sejawat tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi dengan murid tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi dengan murid tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi tokoh setempat dan orang tua murid tentang 7 aset sekolah Kegiatan diskusi tokoh setempat dan orang tua murid tentang 7 aset sekolah


Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: ● Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. ● Guru Penggerak melakukan pendampingan kepada seluruh komunitas sekolah untuk dapat menggunakan pendekatan reflektif dan iteratif dalam mengelola program dan sumber daya sekolah. ● Guru Penggerak merencanakan, menginisiasi dan mengorganisasi kerangka program pengembangan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid berbasis data dan bukti. ● Guru Penggerak memfasilitasi pelibatan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah untuk peningkatan kualitas belajar murid. Capaian Umum Modul 3.1 Secara umum, capaian dari modul ini adalah: ● CGP menyadari murid sebagai mitra bagi guru dalam pembelajaran. ● CGP mengupayakan terwujudnya lingkungan sekolah yang mendukung tumbuhnya murid-murid yang mampu menjadi pemimpin dalam proses pembelajarannya sendiri. ● CGP menerapkan konsep kepemimpinan murid pada program atau kegiatan sekolah. Capaian Khusus Modul 3.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: 1. menunjukkan pemahaman tentang konsep kepemimpinan murid dan kaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila. 2. menunjukkan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid. 3. menganalisis sejauh mana suara, pilihan dan kepemilikan murid dipertimbangkan dalam program intrakurikuler/kokurikuler/ekstrakurikuler sekolah untuk mewujudkan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. 4. mengidentifikasi strategi pelibatan komunitas dalam program sekolah untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. 5. merancang sebuah prakarsa perubahan di sekolah dalam bentuk sebuah program/kegiatan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid dengan menggunakan model prakarsa perubahan yang di sebut dengan BAGJA. Capaian yang Diharapkan Kompetensi Lulusan yang dituju Modul ini diharapkan berkontribusi untuk mencapai kompetensi lulusan sebagai berikut: ● Guru Penggerak mampu menggerakkan komunitas sekolah untuk bersama-sama mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berpihak pada murid dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan universal. ● Guru Penggerak melakukan pendampingan kepada seluruh komunitas sekolah untuk dapat menggunakan pendekatan reflektif dan iteratif dalam mengelola program dan sumber daya sekolah. ● Guru Penggerak merencanakan, menginisiasi dan mengorganisasi kerangka program pengembangan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid berbasis data dan bukti. ● Guru Penggerak memfasilitasi pelibatan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah untuk peningkatan kualitas belajar murid. Capaian Umum Modul 3.1 Secara umum, capaian dari modul ini adalah: ● CGP menyadari murid sebagai mitra bagi guru dalam pembelajaran. ● CGP mengupayakan terwujudnya lingkungan sekolah yang mendukung tumbuhnya murid-murid yang mampu menjadi pemimpin dalam proses pembelajarannya sendiri. ● CGP menerapkan konsep kepemimpinan murid pada program atau kegiatan sekolah. Capaian Khusus Modul 3.1 Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu: 1. menunjukkan pemahaman tentang konsep kepemimpinan murid dan kaitannya dengan Profil Pelajar Pancasila. 2. menunjukkan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan suara, pilihan, dan kepemilikan murid. 3. menganalisis sejauh mana suara, pilihan dan kepemilikan murid dipertimbangkan dalam program intrakurikuler/kokurikuler/ekstrakurikuler sekolah untuk mewujudkan lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid. 4. mengidentifikasi strategi pelibatan komunitas dalam program sekolah untuk mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. 5. merancang sebuah prakarsa perubahan di sekolah dalam bentuk sebuah program/kegiatan sekolah yang mendorong kepemimpinan murid dengan menggunakan model prakarsa perubahan yang di sebut dengan BAGJA.


Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya. Mengurangi kontrol kita terhadap mereka Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah: 1. 2. Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya. Mengurangi kontrol kita terhadap mereka Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita adalah: 1. 2. Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid


Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Diskusi prakarsa perubahan tentang program Aneka Produk Olahan Kelapa tahap B-uat pertanyaan bersama kepala sekolah, rekan guru dan murid Diskusi prakarsa perubahan tentang program Aneka Produk Olahan Kelapa tahap B-uat pertanyaan bersama kepala sekolah, rekan guru dan murid


Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid Implementasi prakarsa perubahan tentang program Aneka Produk Olahan Kelapa tahap A-mbil pelajaran bersama kepala sekolah, rekan guru dan murid Implementasi prakarsa perubahan tentang program Aneka Produk Olahan Kelapa tahap A-mbil pelajaran bersama kepala sekolah, rekan guru dan murid


Demikian rangkaian kegiatan saya selama mengikuti PP saya setelah mempelajari modul 3. 2 ini, Semoga bermanfaat, Terima kasih. Demikian rangkaian kegiatan saya selama mengikuti PP saya setelah mempelajari modul 3. 2 ini, Semoga bermanfaat, Terima kasih. Demikianlah rangkuman materi per sub modul saya selama mengikuti Program Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 7 Kab. Minahasa selatanl, Semoga bermanfaat, Terima kasih. Demikianlah rangkuman materi per sub modul saya selama mengikuti Program Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 7 Kab. Minahasa selatanl, Semoga bermanfaat, Terima kasih.


Click to View FlipBook Version