MODUL PEMBELAJARAN
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa yang mana atas rahmat Nya
hingga saat ini masih dapat memberikan kesehatan dan keselamatan kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Modul Pembelajaran dengan baik
dan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Terima kasih penulis ucapkan kepada bapak Dr. I Wayan Sukrawarpala,
M.Sc selaku dosen pengampu pada mata kuliah Desain Pembelajaran Teori dan
Terapan, yang telah memberikan tugas yang sifatnya sangat membangun dan
mampu mengembangkan pengetahuan penulis. Semoga modul pembelajaran ini
yang dibuat oleh penulis dalam memenuhi tugas mata kuliah ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca.
Penulis mengharapkan saran-saran dan kritik yang sifatnya membangun
dari para pembaca guna peningkatan kualitas makalah ini dan makalah-makalah
lainnya pada waktu mendatang.
Singaraja, 5 Mei 2020
I Ketut Andika Pradyana
MODUL PEMBELAJARAN
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
MODUL 1 ..................................................................................................... 1
Landasan Ilmiah ................................................................................. 4
Landasan Falsafah.............................................................................. 7
Landasan Berpikir ............................................................................ 10
Teoritik Desain Pembelajaran .......................................................... 15
Pengertian Desain Pembelajaran...................................................... 15
Konsep Dasar Pembelajaran ............................................................ 16
Landasan Konsep Pembelajaran ...................................................... 18
Proses Pembelajaran......................................................................... 19
Perkembangan Konsep Pembelajaran .............................................. 19
Karakteristik Desain Pembelajaran .................................................. 21
Komponen Utama Desain Pemebelajaran........................................ 22
Latihan.............................................................................................. 22
Rangkuman ...................................................................................... 23
MODUL 2 ................................................................................................... 24
Karakteristik Pembelajar.................................................................. 27
Karakteristik Bidang Studi............................................................... 28
Latihan.............................................................................................. 30
Rangkuman ...................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA
MODUL PEMBELAJARAN
iii
MODUL 1
LANDASAN ILMIAH DAN
TEORITIK DESAIN PEMBELAJARAN
MODUL PEMBELAJARAN
1
LANDASAN ILMIAH DAN TEORITIK DESAIN PEMBELAJARAN
Pendahuluan
Perkembangan teknologi berpengaruh juga terhadap perkembangan
pendidikan, sehingga lahir beberapa hal baru dalam dunia pendidikan. Hal baru
tersebut pada awalnya hanya menfokuskan diri pada bidang media, sehingga dapat
memberikan nilai tambah dalam proses, produk dan struktur atau system. Ketiga
hal tersebut di kenal sebagai teknologi pendidikan (education tecnologi). Lahirnya
ilmu baru menuntuk adanya bidang kajian atau bidang kajian penelitian dengan
segala perangkatnya. Hal ini menjadi pemikiran para ahli bidang teknologi
pendidikan yang dapat digunakan untuk panduan dan pedoman. Terdapatnya
beberapa landasan ilmiah yang ada membuat para perkembangan tekonologi
pendidikan semakin cepat dengan didiukung dengan landasan filosofi dan
landasan berfikir. Keadaan tersebut menjadi hal yang penting dalam penggarapan
bidang teknologi pendidikan yang telah mengalami perubahan pengertian menjadi
teknologi pembelajaran sebagai suatu bidang ilmu melalui penelitian dan
pengembangan teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran.
Menurut Creswell, Denzin & Lincoln Miaso: di katakan bahwa ada 2
pembagian penelitian dalam teknologi pendidikan yaitu positivistik dan
pascapostivistik atau fenomenologik. Pendekatan positivistic dilakukan dalam
pendekatan ilmu-ilmu eksakta dengan menggunakan pola statistic, yang
didalamnya terdapat variable yang dikontrol, pengacakan sample, pengujian
validitas dan realiabelitas instrument, dan ditujukan pada genaralisasi sample ke
dalam populasi. Sedangkan pendekatan atau penelitian
pascapositivistik/fenomenologi berakar pada penelitian social seperti bidang
etnografi, studi kasus, studi naturalistic, sejarah, biografi, dan teori membumi
(grounded theory) dan studi deskriptif. (Miarso, 2007:209)
MODUL PEMBELAJARAN
2
Penelitian dalam bidang apapun akan sangat dipengaruhi oleh paradigma
yang digunakan tentang substansi yang diteliti. Dalam bidang teknologi
pendidikan banyak pengertian yang mencakup keseluruhan aspek instruksional,
mulai dari perencanaan, pengembangan pemanfaatan, pengelolaan, dan
penilain.Hal tersebut adalah cakupan penelitian dan pendekatan serta jenis
penelitian, untuk itu pembahasan dalam makalah ini dimulai batasan tentang
Landasan ilmiah teknologi pendidikan dan penelitiantentang teknologi
pendidikan dalam konteks pradigma pendidikan yang baru.
Kompetensi Dasar
➢ Standar kompetensi : 1. Memahami Landasan Ilmiah dan Desain
Pembelajaran
➢ Kompetensi Dasar : 1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Landasan Ilmiah
dan Desain Pembelajaran
➢ Indikator :
• Menjelaskan Landasan Ilmiah
• Menjelaskan Kebenaran Ilmiah dalam pembelajaran
• Menjalaskan Desain dan konsep pembelajaran
• Menjelaskan karakteristik desain pembelajaran
• Menjelaskan komponen desain pembelajaran
MODUL PEMBELAJARAN
3
1KEGIATAN BELAJAR
LANDASAN ILMIAH DAN TEORITIK
DESAIN PEMBELAJARAN
A. LANDASAN ILMIAH
Ilmu pengetahuan teknologi merupakan satu hasil dari usaha manusia untuk
mencapai kehidupan yang lebih baik yang telah dimulai pada permulaan
kehidupan manusia. Pada zaman dulu manusia purba senantiasa menghadapi
kekuasaan alam yang mendominasi kehidupan. Adanya perkembangan iptek
hubungan kekuasaan antar manusia dan alam itu dapat dikatakan terbalik Alam
kini di bawah kekuasaan manusia seperti telah di kemukakan pengembangan dan
pemanfaatan iptek di tempuh melalui rangkaian kegiatan, penelitian dasar,
penelitian penerapan, pengembangan teknologi, penerapan teknologi, serta
biasanya diikuti dengan evaluasi ethis politis religious. Langkah terakhir itu di
perlukan untuk menentukan apakah hasil iptek itu dapat di terima oleh masyarakat
dan apakah dampaknya tidak bertentangan dengan nilai nilai luhur dari
masyarakat. Karena kecepatan perkembangan iptek, banyak pihak yang
memandang bahwa evaluasi akhir itu tidak memadai lagi dan seringkali di
laksanakan terlambat . Oleh karena itu diharapkan agar dilakukan pengarahan
awal secara moral – ethis yang dilanjutkan dengan pemantauan – pengecekan
sementara rangkaian kegiatan berlangsung dan akhirnya dilakukan evaluasi akhir.
(Filasafat Ilmu, 1981:166-169).
Teknologi pendidikan merupakan cabang ilmu yang memiliki obyek forma
“belajar” manusia baik secara pribadi maupun secara kelompok yang memiliki
pola pendekatan isomeristik, sistematik dan sistemik.
a) Isomeristik: yaitu pendekatan yang menggabungkan berbagai unsure
yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang lebih
bermakna
b) Sistematik: yaitu dilakukan secara teratur dan menggunakan pola
tertentu dan runtut.
c) Sistemik: dilakukan secara menyeluruh, holistic atau komprehensif.
MODUL PEMBELAJARAN
4
Landasan ilmiah yang menunjang keberadaan teknologi pendidikan beserta
bidang penelitiannya ada beberapa paham seperti berikut ini (Miarso, 2009: 199)
a) A.A Lumsidaine (1964) teknologi pendidikan merupakan aplikasi dari
ilmu dan saint dasar, yaitu:
1. Ilmu Fisika
2. Rekayasa Mekanik, Optic, Electro Dan Elektronik
3. Teknologi Komunikasi & Telekomunikasi
4. Ilmu Perilaku
5. Ilmu Komunikasi
6. Ilmu Ekonomi
b) Robert Morgan (1978) berpendapat ada 3 disiplin utama yang menjadi
fondasi teknologi pendidikan
1. Ilmu Perilaku
2. Ilmu Komunikasi
3. Ilmu Manajemen
c) Donald P. Eli (1983) teknologi pendidikan meramu sejumlah disiplin dasar
dan bidang terapannya menjadi suatu prinsip, prosedurdan keterampilan.
Disiplin yang memberikan kontribusi adalah :
1. Basic Contributing Discipline: komunikasi, psikologi, evaluasi dan
menajemen
2. Related Contributing Field : psikologi persepsi, prikologi kognisi,
psikologi sosial, media, sistem dan penilaian kebutuhan.
d) Barbara B. Seels & Rita C. Richey (1994): akar intelektual teknologi
pembelajaran berasal dari disiplin lain meliputi:
1. Psikologi
2. Rekayasa
3. Komunikasi
4. Ilmu Computer
5. Bisnis
6. Pendidikan
Eichelberger (dalam Miarso, 2009: 211) membedakan tiga paradigma
filsafat yang melandasi metodologi pengetahuan, yakni positivistik, fenomenologik
MODUL PEMBELAJARAN
5
dan hermeunetik. Penganut filsafat positivistik berpendapat bahwa keberadaan
sesuatu merupakan besaran yang dapat diukur. Filsafat fenomenologik berupaya
untuk memahami makna yang sesungguhnya atas suatu pengalaman dan
menekankan pada kesadaran yang disengaja (intentionallity of consciousness) atas
pengalaman, karena pengalaman mengandung penampilan keluar dan kesadaran
di dalam, yang berbasis pada ingatan, gambaran dan makna. Sedangkan filsafat
hermeunetik berusaha mencari kebenaran dengan menafsirkan makna atas gejala
yang ada.
Berikut perbandingan tiga landasan epistimologik penelitian:
POSITIVISTIK FENOMENOLOGIK HERMEUNETIK
Analitik Holistik Sintetik
Nomotetik Ideografik Interpretatik
Deduktif Induktif Sinkretik
Laboratorik Empirik Empatik
Pembuktian dengan Pengukuhan Penafsiran tidak memihak
logika pengalaman
Kebenaran universal Kebenaran bersifat unik Kebenaran yang diterima
Bebas nilai Tidak bebas nilai Tidak bebas nilai
Menurut Creswell, Denzin & Lincoln (Miarso, 2009) di katakan bahwa ada
2 pembagian penelitian dalam teknologi pendidikan yaitu positivistik dan
pascapostivistik atau fenomenologik. Pendekatan positivistic dilakukan dalam
pendekatan ilmu-ilmu eksakta dengan menggunakan pola statistik, yang
didalamnya terdapat variable yang dikontrol, pengacakan sampel, pengujian
validitas dan realiabelitas instrument, dan ditujukan pada genaralisasi sample ke
dalam populasi. Sedangkan pendekatan atau penelitian
pascapositivistik/fenomenologi berakar pada penelitian sosial seperti bidang
etnografi, studi kasus, studi naturalistik, sejarah, biografi, dan teori membumi
(grounded theory) dan studi deskriptif. (Miarso, 2009:209)
Landasan falsafah Penelitian teknologi pendidikan, terdiri atas 3 komponen
seperti yang diungkapkan oleh Suriasumantri dalam Miarso. Ada 3 jenis
MODUL PEMBELAJARAN
6
komponen dalam teknologi pendidikan yaitu: ontology (apa), epistemology
(bagaimana) dan aksiologi (untuk apa).
• Ontologi : merupakan bidang kajian ilmu itu apa, jika teknologi
pendidikan sebagai ilmu maka bidang kajiannya itu apa
• Estimologi : Pendekatan yang digunakan dalam suatu ilmu
• Aksiologi : Menelaah tentang nilai guna, baik secara umum maunpun
secara khusus, baik secara kasad mata maupun secara abstrak.
Pengkajian ilmiah dalam teknologi pendidikan tidak hanya mempersoalkan
unsur-unsur yang terkandung dalam objek formal, yaitu belajar, melainkan juga
dalam pendekatannya yaitu teknik intelektual atau tata cara ilmiah yang
digunakan dalam mencari pembenaran atas objek yang dipermasalahkan. Menurut
Miarso (2009) penelitian yang berkaitan dengan media sendiri telah berlangsung
dalam lima fase, dan dalam lima fase tersebut mempermasalahkan tentang:
a) Apakah pengajaran dengan media ada hasilnya
b) Seberapa besar hasil pengajaran dengan media
c) Dalam kondisi bagaimana dapat diperoleh hasil yang terbaik dari media
d) Siapa saja yang akan memperoleh manfaat dari media
Karakteristik pembelajar (learner) seperti apa, dalam kondisi dan situasi
bagaimana dapat diperoleh manfaat maksimal dari media.
1. Landasan Falsafah
Landasan Falsafah Penelitian teknologi pendidikan, terdiri atas 3
komponen seperti yang diungkapkan oleh Suriasumantri dalam Miarso. Ada 3
jenis komponen dalam teknologi pendidikan yaitu: ontology (apa), epistemology
(bagaimana) dan aksiologi (untuk apa).
➢ Ontologi : merupakan bidang kajian ilmu itu apa, jika teknologi
pendidikan sebagai ilmu maka bidang kajiannya itu apa
➢ Estimologi : Pendekatan yang digunakan dalam suatu ilmu
➢ Aksiologi : Menelaah tentang nilai guna, baik secara umum maunpun
secara khusus, baik secara kasad mata maupun secara abstrak.
MODUL PEMBELAJARAN
7
Yang menjadi kajian dalam penelitian teknologi pendidikan menjadikan
beberapa perkembangan dalam bidang pendidikan seperti yang diungkapkan oleh
Ashby yaitu adanya revolusi dalam bidang pendidikan
➢ Revolusi I: Pada saat orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan
anak-anaknya kepada oran lain. Orang lain tersebut diserahi untuk
melaksanakan pendidikan anak-anaknya. Sebelumnya orang-orang
melaksanakan pendidikan anak-anaknya sendiri-sendiri atau mengajar
anak-anak sendiri tidak memberikan kepada orang lain, hampir semua
keluarga mendidik anak-anaknya dalam keluarga sendiri. Pendidikan yang
dilakukan secara individual.
➢ Revoluasi II : Ada suatu lembaga guru, jadi pada tahapan ini ada lembaga
pendidikan formal. Tidak seperti sebelumnya belum ada lembaga resmi
yang ada sehingga pendidikan dilaksakan orang per orang. Dalam lembaga
ada aturan-aturan yang diberlakukan, contohnya untuk masuk SR usianya
6 tahun dan lain-lain. Dalam revoluasi ini guru dianggap sangat penting
segala sesuatu dianggap diketahui oleh guru, dan guru dipandang memiliki
pengetahuan yang lebih dari orang lain. Sehingga lembaga ini memiliki
kedudukan yang tinggi di masyarakat.
➢ Revolusi III : Disebabkan oleh ditemukannya mesin cetak, cetak secara
manual dilakukan oleh Cina, dan cetak dengan menggunakan mesin cetak
dilakukan oleh Eropa (Prancis). Dengan mesin cetak maka pengetahuan
tidak hanya diperoleh dari guru tetapi dapat diperoleh dari hasil cetakan
seperti: buku, majalah, koran dan lain-lain. Pada revolusi ke-3 ini peran
guru sudah mengalami pengurangan. Revolusi ke-3 sampai dengan saat ini
masih terjadi
➢ Revolusi IV : Disebabkan oleh berkembangnya bidang elektronik sepeti
telpon, tv, komputer, internet dimana guru tidak dapat lagi untuk
mengontrolnya. Atau minimal peran guru berkurang, dan guru tidak dapat
mengklaim dirinya sebagai.
MODUL PEMBELAJARAN
8
Sudut pandang yang baru mengenai teknologi pendidikan menggunakan
beberapa pendekatan dengan ciri-ciri:
a) Keseluruhan masalah belajar dan upaya pemecahannya ditelaah secara
simultan. Semua situasi diperhatikan dan dikaji saling kaitannya, dan
bukannya dikaji secara terpisah-pisah
b) Unsur-unsur yang berkempentingan diintegrasikan dalam suatu proses
komplek secara sistemik, yaitu dirancang, dikembangkan, dinilai dan
dikelola sebagai satu kesatuan, dan ditujukan untuk memecahkan masalah
c) Penggabungan ke dalam proses yang komplek dan perhatian agar gejala
secara menyeluruh, harus mengandung daya lipat atau sinergisme, berbeda
dengan hal dimana masing-masing fungsi berjalan sendiri-sendiri.
(Miarso, 2007, h.108)
Ada 6 hal kegunaan yang potensial dalam teknologi pendidikan yaitu:
1) Meningkatkan peroduktivitas pendidikan dengan jalan
• memperlaju penahanan belajar
• membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik
• mengurangi beban guru dalam penyajian informasi, sehingga guru
dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar
anak.
2) Memberikan kemungkinanan penddikan yang sifatnya lebih individual
dengan jalan
• mengurangi kontrol guru yang kaku dan sederhana
• memberikan kesempatan anak sesuai kemampuannya
3) Memberikan dasar pengajaran yang lebih ilmiah dengan halan
• perencanaan program pengajaran yang lebih sistematik
• pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang
prilaku
4) Lebih menerapkan pelajaran, dengan jalan
• meningkatkan kapasitas manusia dengan berbagai media komunikasi
• penyajian informasi dan data secara lebih konkrit
MODUL PEMBELAJARAN
9
5) Memungkinkan belajar lebih akrab
• mengurangi jurang pemisah antara pelajaran didalam dan diluar
sekolah
• memberikan pengetahuan tangan pertama
6) Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas dan merata, terutama
dengan jalan
• pemanfaatan bersama tenaga atau kejadian yang langka
• penyajian informasi menembus batas geografi
2. Landasan berfikir
Tujuan dari setiap penelitian pada hakikatnya untuk mengungkapkan
kebenaran, baik itu kebenaran baru maupun untuk memperbaiki sesuatu yang
sudah beredar di masyarakat. Dengan tujuan tersebut maka penelitian terus
mengalami perkembangan dan mengalami kemajuan untuk menjawab tantang
yang ada yang bermuara pada kebutuhan dan kesejahteraan manusia.
Kebenaran yang ada dan berkembang di masyarakat ada beberapa hal
yaitu:
➢ kebenaran lapis dasar / kebenaran inderawi
➢ kebenaran lapis 2 / kebenaran ilmiah
➢ kebenaran lapis 3 / kebenaran falsafi
➢ kebenaran lapis 4 / kebenaran religi
a) Tingkat Kebenaran
• Kebenaran lapis dasar atau kebenaran inderawi adalah kebenaran yang
diperoleh dari kebenaran inderawi, seperti kebenara yang dilihat oleh
mata, kebenaran yang dirasakan oleh tangan atau di dengar oleh
telingan dan lain-lain. Kebenaran seperti ini dapat dilakukan dan dapat
dirasakan oleh siapa saja, sebagai contoh panasnya sinar matahari yang
dirasakan oleh setiap orang, maka kebenaran ini dapat dirasakan dan
dapat diterima oleh setiap orang.
• Kebenaran lapis kedua atau kebenaran ilmiah kebenaran yang
diperoleh secara sistematik, logik oleh orang yang terpelajara.
MODUL PEMBELAJARAN
10
• Kebenaran lapis ketiga yaitu kebenaran falsafah adalah kebenaran yang
diperoleh dari pemikiran yang mendalam atau falsafi, biasanya hal ini
dapat dilakukan oleh orang terpelajar hasilnya dapat diterima dan biasa
dijadikan rujukan oleh orang lain dan masyarakat luas.
• Kebenaran lapis keempat atau kebenaran religi adalah kebenaran yang
hakiki, kebenaran ini berasal dari Tuhan Yang Maha Esa melalui
wahyu para nabi. Jenis kebenaran ini adalah mutlak bagi yang
menganutnya dan tidak dapat dibantah maka seseorang harus memilih
satu di antara dua yaitu take it or leave it, kita mengambilnya dan
mematuhinya semua ajaran baik perintah dan larangannya atau
meninggalkannya yaitu tidak menyakini dan mencari kebenaran
menurut keyakinan masing-masing.
b) Kebenaran positivistic
Perkembangan akan falsafi atau penalaran akan sehat dapat menyakini
suatu keyakinan yang berasalah dari Tuhan (kebenaran mutlak) menjadikan
perkembangan dan memberikan penafsiran yang berbeda. Demikian juga dalam
kebenaran ilmih tentu akan lebih banyak lagi timbul pertanyaan dari akal sehat
(common sense) yang diperoleh secara ilmiah (scientific). Tidak selamanya
kebenaran yang diperoleh melalui penelitian ilmiah mendapat sambutan benar dari
masyarakat seperti yang diungkapkan oleh Yusufhadi: “Meskipun hampir semua
penelitian ilmiah apakah itu ekseperimen, koresional, studi kasus, evaluasi,
histori, biografi, riset tindakan, riset kebijakan dan lain-lain merupakan usaha
investigativ untuk menentukan kebenaran tentang dunia, namun ada perbedaan
tentang dunia tersebut. (Miarso, 2007: 210)
Ada beberapa penafsiran tentang dunia seperti plato dengan paham idealis
yang memandang pengideraan manusia di anggap reliable untuk suatu
pengukuran. Sedangkan muridnya Aristoteles memili pandangan realis,
memandang dunia merupakan hukum alam yang tetap yang dapat diperoleh
melalui obeservasi dan pemikiran.
Pada kubu lain yang mempunyai pemahaman kebalikan dari kedua orang
di atas adalah Francis Bacon dan John Locke yang menganut paham empiris,
manusia merupakan kunci untuk mentransfomasikan data mentah menjadi
MODUL PEMBELAJARAN
11
pengetahuan, sedangkan data yang diperoleh melalui penginderaan dibangun
melalui proses induktif dan pengalaman. Pendapat lain yang diungkapan paham
rasionalis, Emanuel Khan dalam bukunya Critique of Pure Reason mengatakan
bahwa pengetahuan dapat dibangun melalui pendekatan deduktif dan didasarkan
pada logica formal dan metematik harus diuji dan dibuktikan secara empiric, yang
diungkapkan oleh Eichelberger (Miarso, 2007: 211).
Pemikiran yang diungkapkan oleh eichelberger memberikan 3 landasan
yang didapat digunakan dalam landasan penelitian baru, yaitu positivistic,
fenomelogik dan hermeneutic.
➢ Positivistic: landasan ini memberikan gagasan keberadaan besaran yang
dapat diukur, dan penulis hanya sebagai pengamat yang obyektif. Pokok
dari paham ini adalah “jika sesuatu itu ada maka, sesuatu itu dapat
diukur”. Penelitian ini misalkan di lakukan secara laboratorik dan
berulang. Dari penelitian ini melahirkan pengajaran terprogram “mesin
pengajaran” (teaching machine). Fakta-fakta yang didapat dalam
penelitian ini diuji secara empiric. Misalkan kita akan melakukan
pengukuran tentang motivasi belajar maka dapat dijabarkan ke dalam
indicator variable seperti motivasi belajar, cara belajar, usaha yang
dilakukan, persaingan dan lain-lain. Data-data yang diperoleh harus diubah
ke dalam bentuk angka-angka yang dapat dihitung secara statistic. Paham
positivistic saat ini sangat dominan dalam penelitian khususnya dalam
penelitian bidang IPA.
➢ Fenomenologik, dikembangkan oleh matemtikawan Jerman Edmund
Husserl (1850 – 1938) paham ini mengutamakan pada pengalaman dan
kesadaran yang disengaja. Jadi pengalaman bukan saja pada interaksi
dengan lingkungan belajar tetapi melainkan pelajaran yang diperoleh
dalam rentang waktu tertentu. Untuk mendapatkan pengalaman diperlukan
pemikiran, perasaan, tanggapan, dan berbagai ungkapan, tanggapan dan
berbagai ungkapan psikologis atau mental.
➢ Paradigma fenomenologik adalah akal sehat (common sense) yang oleh
para penganut positivistic dianggap sebagai sesuatu yang kurang ilmiah.
Fenomelogik tidak semata-mata berpangku pada data dan informasi yang
MODUL PEMBELAJARAN
12
ada tetapi mengadopsi pengalaman khusus menjadi umum, konkrit
menjadi abstrak yang mempunyai sifat holistic. Semua diungkapkan secara
naratif dengan memberikan uraian yang rinci dan mengenai hakikat suatu
obyek atau konsep kebenaran ini syarat dengan nilai.
➢ Hermeneutic dikembangkan oleh filosof Jerman Wilhelm Dithey yang
memberikan ciri bahwa pencarian kebenaran dengan menafsirkan atas
gejala yang ada. Sejarawan menafsirkan legenda, artefak, naskah kuno
dengan menggunakan kondisi yang ada saat ini. Demikian juga para ahli
tafsir kitab suci menafsirakan ayat-ayat yang ada dengan keadaan yang
tren saat ini. Ahli hukum juga memberikan tafsiran pada sehingga secara
umum pada paham ini memiliki bebas nilai yang sesuai dengan keadaan
baik yang terlihat maupun sesuatu yang tidak terlihat.
c) Kebenaran Pascapositivistik
Kebenaran pascapositivistik akhir-akhir ini mengalami perkembangan
yang sangat pesat dan sedemikian rupa. Dan keadaan ini akan terus mengalami
perkembangan sehingga menemukan hal-hal yang baru yang lebih bersifat
inovatif. Pascapositivistik meliputi paradigma pascamodernis (postmodernism),
paradigma kritis (critical paradigm), pendekatan feminis (feminis approaches) dan
perkembangan lainya. Dalam dunia pendidikan kebenaran pascapositivistik yang
terbaru dan terus mengalami perkembangan adalah masalah model-model
pembelajaran seperti model pembelajaran berkelompok, model pembelajaran
langsung dan model pembelajaran kontruktivis. Perkembangan ini akan terus
bertambah seperti quantum learning dan quantum teaching yang merupakan
produk-produk inovatif dalam penelitian teknologi pendidikan.
d) Contektual Teaching And Learning
Pendekatakan kontektual, pembelajaran kebermaknaan (meaning full)
yang dikembangkan oleh Bruner (Nur, 2000) merupakan hasil pembelajaran yang
menekankan agar keaktifan siswa. Tujuan dari pembelajaran ini adalah untuk
menekankan pada materi yang sulit untuk diserap dengan mengerjakan secara
mandiri dengan penyelaman “dunia nyata” yang secara umum menggunakan
umpan balik, refleksi, evaluasi, dan penyelaman kembali. Ada 7 hal yang menjadi
pendekatan kontekstual (kontekstul teaching and learning) yaitu:
MODUL PEMBELAJARAN
13
1) Inquiri
Kegiatan inkuiri dilakukan dengan proses induktif yang diawali dengan
pengamatan dalam rangka memahami suatu konsep. Dalam praktik, proses ini
melewati siklus kegiatan mengamati, bertanya, menganalisis, dan merumuskan
teori baik secara induvidul maupun secara bersama-sama. Penemuan ini bertujuan
untuk mengembangkan dan sekaligus menggunakan keterampilan berfikir
pemelajar.
2) Questioning
Pertanyaan merupakan hal penting agar proses pembelajaran menjadi
meningkat, dan berkembang sehingga guru dapat melakukan dorongan,
bimbingan dan menilai kemampuan berfikir siswa. Pertanyaan dapat dijadikan
pemelajar untuk melakukan penemuan.
3) Contructivism
Pemelajar dapat melakukan pemahaman dan membangun pengetahuannya
sendiri dari pengalaman-pengalaman yang baru berdasarkan pengalaman awal
Pengalaman awal selalu menjadi tumpuan dalam pemahaman baru
4) Learning society
Salah satu yang membedakan antara cirri dari teknologi pembelajaran
modern dan pembelajaran tradisional adalah adalah learning society, masyarakat
belajar. Masyarakat belajar diharapkan saling mengisi saling memberi, dan tidak
terjadi persaingan secara individu sehingga tidak mengembangkan sikap egoistis.
5) Autentic assessment
Assessment yang merupakan salah satu kawasan teknologi pendidikan,
menjadi ciri lain dari pembelajaran modern, penilaian yang dilakukan tidak hanya
dilakukan pada akhir saja tetapi dilakukan juga pada saat proses. Penilaian ini juga
memprasyaratkan penerapan pengetahuan dan keterampilan.
6) Reflection
Refleksi adalah merupakan pola dari teknologi dalam belajar, dimana
pemejar diharapkan dapat memberikan revisi, merespon kejadian, melakukan
aktivitas, dan pengalaman mereka setelah proses terjadi. Bentuk aktivitas refleksi
adalah diskui, jurnal, karya seni dan lain-lain.
MODUL PEMBELAJARAN
14
7) Modelling
Kecerungan dari pemelajar untuk meniru apa-apa yang dilihatkan dan
dilakukan oleh dirinya menjadikan modeling mendapatkan perhatian cukup serius
dalam penelitian teknologi pembelajaran. Dengan modeling diharapkan adanya
peningkatan aktivitas, partisipasi dan keingintahuan pemelajar tentang sesuatu hal.
B. TEORITIK DESAIN PEMBELAJARAN
1. Pengertian Desain Pembelajaran
Walaupun kajian desain pembelajaran merupakan disiplin tertua dalam studi
teknologi pembelajaran, istilah desain masih menimbulkan banyak penafsiran.
Banyak defenisi diberikan secara berbeda antara satu ilmuwan dengan yang
lainnya. Seels dan Richey (1994:30) memberikan defenisi tentang design is
process of specifying conditions for learning (desain adalah proses untuk
menentukan kondisi belajar). Defenisi ini menekankan pada proses di samping
kondisi belajar, sehingga ruang lingkupnya mencakup sumber belajar atau
komponen sistem, lingkungan, dan berbagai aktivitas yang membentuk proses
pembelajaran. Disamping itu, desain juga dapat dipahami dari hasil suatu proses
desain, seperti pernyataan berikut; the design component of the instructional
systems design process resuts in a plan or blueprint for guiding the development
of intruction (Gagne, dkk, 26). Maksudnya adalah komponen desain dari suatu
proses desain sistem pembelajaran menghasilkan suatu rencana atau blueprint
untuk mengarahkan pengembangan pembelajaran.
Jika defenisi desain ditekankan pada proses dan kondisi belajar, maka
komponen desain menghasilkan cetak biru (blueprint) atau disebut dengan
prototipe (prototype). Prototipe adalah suatu versi fungsional dari satuan
pembelajaran, biasanya masih dalam bentuk yang belum selesai, di mana
efektivitas dan efesiensinya masih perlu diuji. Prototipe yang telah diuji
efektivitas dan efisiensinya itulah yang kemudian disebut dengan produk berupa
model yang merupakan hasil dari suatu pengembangan. Menurut Eraut desain
pembelajaran biasanya merujuk pada desain materi pembelajaran yang disusun
oleh sebuah tim yang dapat melibatkan guru atau tidak perlu melibatkan guru
MODUL PEMBELAJARAN
15
yang akan melaksanakan pembelajaran tersebut. Memang, sejumlah ahli
mengatakan bahwa desain pembelajaran dibuat oleh guru yang akan
melaksanakan pembelajaran namun bukanlah suatu keharusan desain
pembelajaran dibuat hanya oleh guru yang bersangkutan. Artinya, bahwa
pengembangan desain pembelajaran dapat menjadi tugas para pakar pembelajaran
yang diharapkan akan membantu para guru dalam mengembangkan dan
melaksanakan proses pembelajaran.
2. Konsep Dsar Pembelajaran
Dalam memaknai konsep maka akan berhubungan dengan teori,
sedangkan teori akan berkaitan dengan sesuatu hal yang dipandang secara ilmiah.
Jika teori berhubungan dengan konsep maka dalam uraian tentang konsep dasar
pembelajaran akan tertuju pada landasan ilmiah pembelajaran. Melalui landasan
ilmiah yang disebut dengan konsep dasar inilah maka semua pihak akan
memahami apa itu pembelajaran.
Pada uraian ini akan dibahas beberapa tema yang berkaitan dengan
pembekalan terhadap pemahaman tentang pembelajaran. Diantaranya juga akan
berhubungan dengan landasan-landasan filsafat, psikologis, sosiologis, dan
komunikasi yang selalu banyak ditemukan dalam sebuah pembelajaran. Sebelum
beranjak pada pembahasan tentang konsep dasar dan landasan-landasan ilmiah
dari pembelajaran, maka penulis merasa perlu untuk memberikan tambahan
pemahaman dasar terhadap pembelajaran ini.
a. Hakikat Belajar
Belajar, pada hakekatnya, adalah proses interaksi terhadap semua situasi
yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang
diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar
juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu (Sudjana,
1989:28). Sedangkan Witherington (1952) menyebutkan bahwa “Belajar
merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai suatu
pola-pola respon yang berupa keterampilan, sikap, kebiasaan, kecakapan atau
pemahaman”.
Dari beberapa kutipan di atas dapat disimpulkan beberapa hal yang
menyangkut pengertian belajar sebagai berikut:
MODUL PEMBELAJARAN
16
• Belajar merupakan suatu proses, yaitu kegiatan yang
berkesinambungan yang dimulai sejak lahir dan terus berlangsung seumur
hidup.
• Dalam belajar terjadi adanya perubahan tingkah laku yang bersifat relatif
permanen.
• Hasil belajar ditujukan dengan aktivitas-aktivitas tingkah laku secara
keseluruhan.
• Adanya peranan kepribadian dalam proses belajar antara lain aspek
motivasi, emosional, sikap dan sebagainya.
Terjadinya proses belajar dapat dipandang dari sisi kognitif, sebagaimana
dikemukakan Bigge (1982) yaitu berhubungan dengan perubahan-perubahan
tentang kekuatan variabel-variabel hipotesis, kekuatan-kekuatan, asosiasi,
hubungan-hubungan dan kebisaaan, atau kecenderungan prilaku. (Willis,
1986:20).
Belajar merupakan suatu proses interaksi antara berbagai unsur yang
berkaitan. Unsur utama dalam, belajar adalah individu sebagai peserta belajar,
kebutuhan sebagai sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan
kemungkinan terjadinya kegiatan belajar. Dengan demikian maka manifestasi
belajar atau perbuatan belajar dinyatakan dalam bentuk perubahan tingkah laku.
Mengenai jenis perubahan tingkah laku dalam proses belajar ini, Gagne dan
Briggs, (1988:105), menyatakan bahwa perbuatan hasil belajar menghasilkan
perubahan dalam bentuk tingkah laku dalam aspek :
a) kemampuan membedakan;
b) konsep kongkrit;
c) konsep terdefinisi;
d) nilai;
e) nilai/aturan tingkat tinggi;
f) strategi kognitif;
g) informasi verbal;
h) sikap ; dan
i) keterampilan motorik.
MODUL PEMBELAJARAN
17
3. Landasan Konsep Pembelajaran
a. Filsafat
Secara filosofis belajar berarti mengingatkan kembali pada manusia
mengenai makna hidup yang bisa dilalui melalui proses meniru, memahami,
mengamati, marasakan, mengkaji, melakukan, dan meyakini akan segala sesuatu
kebenaran sehingga semuanya memberikan kemudahan dalam mencapai segala
yang dicita-citakan manusia. Belajar diperlukan oleh individu manusia akan tetapi
belajar juga harus dipahami sebagai sesuatu kegiatan dalam mencari dan
membuktikan kebenaran. Dengan demikian filsafat apapun yang telah menjadi
hasil pikir manusia maka kaitannya dengan belajar ibarat siklus bahwa dengan
filsafat manusia bisa mempelajarai (belajar) tentang segala sesuatu, dan
sebaliknya dengan aktivitas belajar maka pemikiran-pemikiran tentang belajar
terus berkembang dan banyak ditemukan sehingga membawa pada warna inovasi
ide dan pemikiran manusia sepanjang zaman.
b. Psikologis
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari gejala kejiwaan yang akhirnya
mempelajari produk dari gejala kejiwaaan ini dalam bentuk perilaku-perilaku
yang nampak dan sangat dibutuhkan dalam proses belajar. Diantara psikologi
yang banyak dan memang masih bertahan menjadi landasan pokok dalam dunia
pendidikan dan pembelajaran yaitu psikologi kognitif dan behavioristik.
c. Sosiologis
Jika dalam belajar tanpa arah tujuan pada makna hidup manusia sebagai
mahluk sosial, maka belajar akan dijadikan cara untuk saling menguasai,
memusnahkan, karena segala sesuatu yang dipelajari, diketahui dipahami melalui
belajar tidak digunakan dalam menciptakan kondisi Landasan sosilogis ini sangat
penting dalam mengiringi perkembangan inovasi pembelajaran yang banyak
terimbas oleh perubahan zaman yang semakin hedonistik. Maka Pemahaman akan
belajar yang ditinjau dari aspek sosiologis inilah yang sangat dibutuhkan dewasa
ini.
d. Komunikasi
Pendidikan dan komunikasi ibarat setali tiga uang, yang satu memberikan
pemaknaan terhadap yang lainnya. Dalam prakteknya proses belajar atau
MODUL PEMBELAJARAN
18
pembelajaran akan menghasilkan suatu kondisi di mana individu dalam hal ini
siswa dan guru, siswa dnegan siswa atau interaksi yang kompleks sekalipun pasti
akan ditemukan suatu proses komunikasi. Landasan komunikasi ini akan banyak
memberikan warna dalam bentuk pendekatan, model, metode dan strategi
pembelajaran,serta pola-pola inovasi pembelajaran.
4. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran hanya menerapkan kemampuan dan menggunakan
sarana serta mengikuti mekanisme yang telah diatur dengan baik dalam SAP.
Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Selain menerapkan proses pembelajar telah ditata dengan
baik, juga harus selalu meminta feed back dan melakukan kajian untuk terus
membenahi proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat melalui tatap muka
didalam ruang kelas dan dapat melalui media elektronik sesuai dengan pengaturan
di dalam SAP.
Proses pembelajaran yang telah direncanakan dengan baik akan mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Selain menerapkan proses pembelajar telah ditata
dengan baik, juga harus selalu meminta feed back dan melakukan kajian untuk
terus membenahi proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat melalui tatap
muka didalam ruang kelas dan dapat melalui media elektronik sesuai dengan
pengaturan di dalam SAP. Proses pembelajaran melalui internet mendorong
mahasiswa lebih aktif dalam pembelajaran karena harus berkomunikasi secara
maya dengan para dosen, dan mahasiswa lain di samping mengembara didalam
dunia pengetahuan lain.
5. Perkembangan Konsep Dasar Pembelajaran
Pembelajaran (Instruction)) merupakan akumulasi dari konsep mengajar
(teaching) dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan
antara keduanya, yakni kepada penumbuha aktivitas subjek didik. Konsep tersebut
dapat dipandang sebagi suatu sistem. sehingga dalam sistem belajar ini terdapat
komponen-komponen siswa atau peserta didik, tujuan, materi untuk mencapai
tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau media yang harus dipersiapkan.
MODUL PEMBELAJARAN
19
Demikian halnya juga dengan teaching system, di mana komponen
perencanaan mengajar, bahan ajar, tujuan, materi dan metode, serta penilaian dan
langkah mengajar akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai
tujuan. Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian,
pengelolaan dan transformasi informasi oleh dan dari guru kepada siswa. Ketiga
katagori kegiatan dalam proses pembelajaran ini berkait erat dengan aplikasi dan
konsep sistem informasi manajemen.
Meier (2002: 103 ) mengemukakan bahwa semua pembelajaran manusia
pada hakekatnya mempunyai empat unsur, yakni persiapan (preparation),
penyampaian (presentation), pelatihan (Practice), penampilan hasil (performance).
a) Persiapan (Preparation)
Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk
belajar. Persiapan pembelajaran itu seperti mempersiapkan tanah untuk
ditanami benih. Jika dilakukan dengan benar, niscaya menciptakan kondisi
yang baik untuk pertumbuhan yang sehat.
b) Penyampaian (Presentation)
Tahap penyampaian dalam siklus pembelajaran dimaksudkan untuk
memepertemukan peserta belajar dengan materi belajar yang mengawali
proses belajar secara positif dan menarik. Belajar adalah menciptakan
pengetahuan, bukan menelan informasi, maka presentasi dilakukan
semata-mata untuk mengawali proses belajar dan bukan untuk dijadikan
fokus utama.
c) Latihan (Practice)
Tahap latihan ini dalam siklus pembelajaran berpengarruh terhadap 70%
atau lebih pengalaman belajar keseluruhan. Dalam tahap inilah
pembelajaran yang sebenarnya berlangsung. Bagaimanapun, apa yang
dipikirkan dan dikatakan serta dilakukan pembelajaran yang menciptakan
pembelajaran dan bukan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan
oleh instruktur atau pendidik.
d) Penampilan Hasil (Performance)
Belajar adalah proses mengubah pengalaman menjadi pengetahuan,
pengetahuan menjadi pemahaman, pemahaman menjadi kearifan dan
MODUL PEMBELAJARAN
20
kearifan menjadi tindakan. Tujuan tahap penampilan hasil ini adalah
untuk memastikan bahwa pembelajaran tetap melekat dan berhasil
diterapkan. Setelah mengalami tiga tahap pertama dalam siklus
pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa orang melaksanakan
pengetahuan dan keterampilan baru mereka pada pekerjaan mereka, nilai-
nilai nyata bagi diri mereka sendiri, organisasi dan klien organisasi.
6. Karakteristik Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran memiliki karakteristik yang harus diperhatikan, agar
dalam pembelajaran mudah dimengerti secara optimal. Karakteristik dalam
pembelajaran meliputi:
1) Berorientasi pada Pesera Didik
Desain pembelajaran memang mengacu pada peserta didik. Setiap individu
peserta didik dipertimbangkan memiliki kekhasan masing-masing. Menurut
Smaldino, et al. Setiap peserta didik berbeda satu sama lain karena:
a. Karakteristik umum
Sifat internal peserta didik yang mempengaruhi penyampaian materi eperti
kemampuan membaca, jenjang pendidikan, usia, atau latar belakang sosial,
b. Kemampuan awal atau prasyarat
Kemampuan dasar yang harus dimiliki sebelum peserta didik akan
mempelajari kemampuan baru. Jika kurang, kemampuan awal ini
sebenarnya yang menjadi mata rantai penguasaan isi atau materi dan
menjadi penghambat bagi proses belajar.
c. Gaya belajar
Merupakan berbagai aspek psikologis yang berdampak terhadap
penguasaan kemamuan atu kompetensi. Cara mempersepsikan sesuatu hal,
motivasi, kepercayaan diri, tipe belajar (verbal, visual, kombinasi, dan
sebagainya) termauk gaya belajar.
2) Alur Berpikir Sistem atau Sistematik
Konsep sistem dan pendekatan sistem diterapkan secara optimal dalam
desain pembelajaran sebagai kerangka berpikir. Sistem sebagai rangkaian
komponen dengan masing-masing fungsi yang berbeda, bekerja sama dan
MODUL PEMBELAJARAN
21
berkoordinasi dalam melaksanakan suatu tujuan yang telah dirumuskan. Rumusan
ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar jika diuaraikan terjadi seperti
sebagai suatu sistem keberhasilan atau kegagalan dalam pelaksanaannya dapat
disebabkan oleh salah satu komponen saja. Jadi, jika ada perbaikan maka seluruh
komponen perlu ditinjau kembali.
3) Empiris dan Berulang
Setiap model desain pembelajaran bersifat empiris. Model apa pun yang
diajukan oleh pakar telah melalui hasil kajian teori serta serangkain ujicoba yang
mereka lakukan sendiri.
7. Komponen Utama Desain Pembelajaran
Komponen utama dari desain pembelajaran adalah:
a) Tujuan pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi
yang akan dikuasai oleh pembelajar.
b) Pembelajar (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi,
karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat.
c) Analisis pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi
yang akan dipelajari.
d) Strategi pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu
tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar,
adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar.
e) Penilaian belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang
sudah dikuasai atau belum
LATIHAN
1. Sebutkan dan Jelaskan pendekatan landasan ilmiah !
2. Sebutkan dan jelaskan 3 landasan yang didapat digunakan dalam landasan
penelitian!
3. Jelaskan karakteristik desain pembelajaran!
4. Sebutkan dan Jelaskan landasan konsep pembelajaran !
MODUL PEMBELAJARAN
22
RANGKUMAN
Dari materi di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa mengajar adalah
proses menciptakan kondisi agar siswa/mahasiswa mengalami proses belajar,
maka guru/dosen harus mampu mengajar secara efektif. Hal itu berarti mengajar
secara efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar siswa/mahasiswa
yang efektif, dan dapat menghasilkan perubahan tingkah laku setelah proses
pembelajaran tersebut. Dan proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan
yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki
oleh siswa atau peserta didik.
Salah satu peran yang dimiliki oleh seorang guru untuk melalui tahap-
tahap ini adalah sebagai fasilitator. Untuk menjadi fasilitator yang baik guru harus
berupaya dengan optimal mempersiapkan rancangan pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik anak didik, demi mencapai tujuan pembelajaran. Untuk
mampu melakukan proses pembelajaran ini guru harus mampu menyiapkan
proses pembelajarannya. Proses pembelajaran yang akan disiapkan oleh seorang
guru hendaknya terlebih dahulu harus memperhatikan teori-teori yang
melandasinya, dan bagaimana implikasinya dalam proses pembelajaran.
MODUL PEMBELAJARAN
23
MODUL 2
KARAKTERISTIK PEMBELAJAR DAN
ISI BIDANG STUDI
MODUL PEMBELAJARAN
24
KARAKTERISTIK PEMBELAJAR DAN ISI BIDANG STUDI
Pendahuluan
Pendidikan dapat dipandang sebagai suatu proses pemberdayaan dan
pembudayaan individu agar mampu memenuhi kebutuhan perkembangan dan
memenuhi tuntutan sosial, kultural, serta religius dalam lingkungan
kehidupannya. Pengertian pendidikan seperti ini mengimplikasikan bahwa upaya
apapun yang dilakukan dalam konteks pendidikan seyogyanya terfokus pada
upaya memfasilitasi proses perkembangan individu sesuai dengan nilai agama dan
kehidupan yang dianut.
Banyak faktor penyebab rendahnya kualitas pendidikan di antaranya
adalah kegiatan pembelajaran yang kurang tanggap terhadap kemajemukan
individu dan lingkungan dimana siswa berada. Pembelajaran demikian kurang ada
manfaatnya bagi siswa. Agar pembelajaran bermakna, perlu dirancang dan
dikembangkan berdasarkan pada kondisi siswa sebagai subjek belajar dan
komunitas budaya di mana siswa berada, kondisi pembelajaran Sehingga di
perlukan suatu formula ( rumusan) langkah-langkah perencanaan pembelajaran.
Langkah-langkah tersebut adalah: analisis tujuan dan karakteristik bidang studi,
sumber belajar (kendala), analisis karakteristik siswa.
Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri atas
komponen tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru. Sebagai suatu
sistem, komponen-komponen tersebut berkaitan erat, saling mempengaruhi. Oleh
karena itu guru dituntut untuk memiliki kemampuan khusus yaitu dapat
mengetahui karateristik pembelajaran. Seperti yang telah diketahui bahwa tujuan
pembelajaran menyangkut tiga kelompok perilaku, yakni pengetahuan,
keterampilan, dan sikap. Pengelompokan tujuan pembelajaran yang sudah sering
kita dengar adalah taksonomi tujuan yang dikemukakan oleh Bloom, yang
MODUL PEMBELAJARAN
25
mengelompokkan tujuan pembelajaran dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
Pembelajaran adalah adalah usaha sadar guru untuk membantu siswa atau
anak didik, agar mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya.
Dimana karakteristik dari pembelajaran adalah Adanya interaksi antara guru dan
siswa sebagai salah satu sumber belajar, dimana kegiatan belajar dilakukan untuk
mencapai tujuan pembelajaran sehingga pembelajaran dipusatkan pada bagaimana
membelajarkan siswa dan bukan pada apa yang dipelajari siswa. Sebagai guru kita
dapat merencanakan berbagai program pembelajaran, seperti program individual
didalam kelas, agar setiap anak belajar sendiri-sendiri dalam jangka waktu tertentu
dan dengan model-model pembelajaran yang dapat membantu guru dalam rangka
mencapai tujuan pembelajaran, yaitu belajar kolaboratif, belajar kuantum, dan
belajar kooperatif (kerja sama). Aspek-aspek psikologi lain, setiap siswa memiliki
karakteristik yang berbeda. Perbedaan individu baik secara fisik maupun secara
psikis akan mempengaruhi cara belajar siswa tersebut, sehingga guru perlu
memperhatikan cara pembelajaran yang diberikan kepada siswa tersebut misalnya,
mengatur tempat duduk, mengatur jadwal pelajaran dan lain sebagainya.
Kompetensi Dasar
➢ Standar kompetensi : 1. Memahami Landasan Ilmiah dan Desain
Pembelajaran
➢ Kompetensi Dasar : 1.1 Mengidentifikasi ruang lingkup Landasan Ilmiah
dan Desain Pembelajaran
Indikator :
➢ Menjelaskan Landasan Ilmiah
➢ Menjelaskan Kebenaran Ilmiah dalam pembelajaran
➢ Menjalaskan Desain dan konsep pembelajaran
➢ Menjelaskan karakteristik desain pembelajaran
➢ Menjelaskan komponen desain pembelajaran
MODUL PEMBELAJARAN
26
2KEGIATAN BELAJAR
KARAKTERISTIK PEMBELAJAR DAN ISI
BIDANG STUDI
A. Karakteristik Pembelajar
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, karakteristik adalah ciri-ciri khusus
atau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Sedangkan
pembelajar atau peserta didik adalah setiap manusia yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan
baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal serta informal, pada
jenjang pendidikan dan jenis pendidikan tertentu. Karakteristik peserta didik yaitu
aspek latar belakang pengalaman peserta didik yang berpengaruh terhadap
efektivitas proses belajarnya. Karaketeristik peserta didik mencakup keadaan
sosio-psiko-fisik peserta didik. Secara psikologis, yang perlu mendapat perhatian
dari karakteristik peserta didik yaitu berkaitan dengan kemampuan (ability), baik
yang bersifat potensial maupun kecakapan nyata dan kepribadiannya, seperti,
sikap, emosi, motivasi serta aspek-aspek kepribadian lainnya. Oleh karena itu
untuk karakteristik peserta didik erat kaitannya dengan pendidikan karakter.
Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan
yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan
sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-cintanya. Dengan
demikian, penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau
disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik pembelajar (peserta didik) itu
sendiri. Ada tiga hal hal yang perlu diperhatikan dalam karakteristik pembelajar
(peserta didik) yaitu:
a. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau
prerequisite skills, seperti misalnya kemampuan intelektual, kemampuan
berfikir,mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor
dan lainnya.
MODUL PEMBELAJARAN
27
b. Karakteristik yang berhungan dengan latar belakang dan status sosial
(socioculture).
c. Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian
seperti sikap, perasaan, minat dan lain-lain.
Faktor yang mempengaruhi suatu proses belajar mengajar dalam diri peserta
didik antara lain : Kondidi fisik, latar belakang pengetahuan dan taraf
pengetahuan, gaya belajar, usia, tingkat kematangan, ruang lingkup minat dan
bakat, lingkungan sosial ekonomi dan budaya, faktor emosional, faktor
komunikasi, intelegensia, keselaran dan attitude, prestasi belajar, motivasi dan
lain-lain. Motivasi belajar siswa juga merupakan hal yang amat penting bagi
pencapaian kinerja atau prestasi belajar siswa. Dalam hal ini, tentu saja menjadi
tugas dan kewajiban guru untuk senantiasa dapat memelihara dan meningkatkan
motivasi belajar siswanya.
B. Karakteristik Isi Bidang Studi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Bidang Studi adalah
pengelompokan sejumlah mata pelajaran yg sejenis atau memiliki ciri yg sama
(mata pelajaran yg telah berkorelasi satu dng yg lain). Karekteristik bidang studi
adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang dapat memberikan landasan yang
berguna sekali dalam mendeskripsikan strategi pembelajaran.
Menurut Degeng (1989: 50-59).Karakteristik bidang studi ini dapat
diacukan pada dua hal:
1) Struktur Bidang Studi
Struktur Bidang Studi mengacu kepada hubungan-hubungan di antara bagian-
bagian bidang studi tersebut. Struktur ini penting sekali bagi pemilihan dan
pengembangan strategi pengorganisa-sian pembelajaran yang optimal, yaitu yang
berkaitan dengan pemilihan, penataan urutan, pembuatan rangkuman, dan sintesis
bagian-bagian bidang studi yang terkait. Struktur bidang studi dapat
diklasifikasikan menjadi tiga:
a) struktur orientasi;
Struktur orientasi adalah suatu struktur yang amat inklusif, yang di
dalamnya tercakup semua atau sebagian besar dari isi bidang studi yang
MODUL PEMBELAJARAN
28
akan diajarkan. Fungsinya adalah memperkenalkan semua bagian bidang
studi yang penting, yang nantinya dapat dijadikan kerangka untuk
mengaitkan bagian-bagian isi yang lebih rinci. Struktur ini sejalan dengan
tujuan umum orientasi
b) struktur pendukung/pelengkap
Struktur pendukung adalah suatu struktur yang tidak inklusif jika
dibandingkan dengan struktur orientasi. Struktur ini dapat berisi fakta,
konsep, prosedur atau prinsip yang dimasukkan dalam struktur orientasi.
c) struktur ganda.
struktur ganda adalah suatu struktur yang menunjukkan kaitan di antara
struktur-struktur suau bidang studi. Struktur ini akan melibatkan struktur
orientasi dan struktur pendukung. Oleh karena itu, struktur ini akan
memasukkan hampir semua isi bidang studi yang penting mulai dari fakta,
konsep, prosedur, sampai prinsip.
2) Tipe Isi Bidang Studi
Reigeluth dan Merril (1979) menganalisis isi bidang studi menjadi empat
tipe, yang disebutnya sebagai konstruk isi bidang studi, yaitu: fakta, konsep,
prinsip, dan prosedur.
a) Fakta adalah asosiasi satu-ke-satu antara objek, peristiwa atau simbol yang
ada, atau mungkin ada, di dalam lingkungan riel atau imajinasi. (segala hal
yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek,
peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang, nama bagian atau
komponen suatu benda, dan sebagainya). Misalnya, Jakarta ibukota
Indonesia;
b) Konsep adalah sekelom-pok objek, peristiwa atau simbol yang memiliki
karakteristik umum yang sama dan yang diidentifikasi dengan nama yang
sama, (segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul
sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat,
inti /isi dan sebagainya ) umpamanya konsep hewan; konsep tumbuhan
dll.
MODUL PEMBELAJARAN
29
c) Prinsip adalah hubungan sebab-akibat antara konsep-konsep. Umpamanya
prinsip penawaran dan permintaan dalam ekonomi (berupa hal-hal utama,
pokok, dan memiliki posisi terpenting, meliputi dalil, rumus, adagium,
postulat, paradigma, teorema, serta hubungan antar konsep yang
menggambarkan implikasi sebab akibat.
d) Prosedur adalah urutan langkah untuk mencapai suatu tujuan,
memecahkan masalah tertentu atau membuat sesuatu. Misalnya prosedur
penelitian.( merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam
mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. merupakan
langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam mengerjakan suatu
aktivitas dan kronologi suatu sistem.)
LATIHAN
1. Jelaskan 3 hal yang harus diperhatikan dalam karakteristik pembelajar!
2. Sebutkan dan jelaskan Struktur bidang studi!
3. Jelaskan konsep dalam tipe bidang studi!
RANGKUMAN
Karakteristik peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan
yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan
sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-cintanya. Dengan
demikian, penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau
disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik pembelajar (peserta didik) itu
sendiri. Karekteristik bidang studi adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang
dapat memberikan landasan yang berguna sekali dalam mendeskripsikan strategi
pembelajaran
MODUL PEMBELAJARAN
30
Daftar Pustaka
Depdiknas, 2003. Model-Model Pembelajaran, Materi Pembekalan Instruktur
KBK 2004. Jakarta: Depdiknas.
DePORTER, Bobby, dkk., 2001. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar: Rineka Cipta; 1999
Eichelberger, Tony R, 1989. Disciplined inquiri: Understanding and Doing
Educational Research. New York: Longman Inc
Miarso, Yusufhadi, 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta:
Kencana.
Mulyati, Andi Psikologi Belajar: Jakarta.2008
Nur, Mohammad, 2000. Strategi-strategi Belajar. Surabaya: University Press
UNESA
Sadiman. Arief S., M.Sc ,Seri Pustaka Teknologi Pendidikan Nomor. 6 Media
Pendidikan “Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya”, PT.
RajaGrafindo Persada, Jakarta,2007.
Seels, Barbara. B., Teknologi Pembelajaran Definisi dan Kawasannya. Jakarta:
Unit Penerbitan Universitas Negeri Jakarta.
Sudarwanto. profesionalisme Guru. Artikel: Yogyakarta. 2005
MODUL PEMBELAJARAN
31