The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook ini menjelaskan tentang sejarah indonesia kelas XI SMA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Garin Berliana, 2020-12-16 00:48:00

Ebook Ringkasan Sejarah Indonesia XI

Ebook ini menjelaskan tentang sejarah indonesia kelas XI SMA

Keywords: Sejarah Indonesia

DAFTAR ISI

BAB I Proses Masuk dan Perkembangan Kolonialisme dan Imperalisme
1.1 Latar Belakang Perburuan "Mutiara dari Timur" ........................................................
1.2 Kongsi Dagang VOC Belanda.......................................................................................
1.3 Penjajahan Pemerintah Belanda ..................................................................................
BAB II Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme dan Imperialisme
2.1 Perang melawan Hegemoni dan Keserakahan VOC.....................................................
2.2 Perlawanan Rakyat terhadap penjajahan Belanda.......................................................
BAB III Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme
3.1 Dampak dalam bidang politik, Pemerintahan dan Ekonomi.......................................
3.2 Dampak dalam bidang Sosial Budaya dan Pendidikan................................................
BAB IV Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan
4.1 Latar Belakang Sumpah Pemuda .................................................................................
4.2 Sumpah Pemuda sebagai Tonggak persatuan dan Kesatuan ......................................
4.3 penguatan Jati Diri Keindonesiaan .............................................................................

BAB I

Proses Masuk dan Perkembangan Kolonialisme dan Imperalisme

1.1 Latar Belakang Perburuan "Mutiara dari Timur"

 Runtuhnya Kekaisaran Romawi
Di bawah kepemimpinan Kaisar Oktavianus Augustus, kekaisaran Romawi

mengalami kejayaan dengan wilayah kekuasaan meliputi seluruh Eropa, Arfika
Utara dan Afrika Barat. Tetapi pada 476 M, peradaban ini mengalami
kehancuran akibat kondisi ekonomi dan stagnasi bidang ilmu pengetahuan.
Agama mendominasi kepentingan masyarakat. Ilmu pengetahuan sering
diangap sebagai sihir dan akibatnya mereka tidak memiliki visi yang jelas
membangun peradaban. Bisa dikatakan, ini adalah zaman kemunduran sehingga
disebut dengan istilah zaman kegelapan (dark ages). Pada masa itu tatanan
hidup masyarakat menjadi kacau
 Melanjutkan Perang Salib

Meski melibatkan dua bangsa dan agama besar yakni Eropa Kristen dan
Dinasti Turki Seljuk, perang ini juga didorong oleh factor politik, social dan
ekonomi di masing-masing kubu. Salah satu penyebabnya adalah
memperebutkan kota suci Yerussalem. Bangsa Eropa gagal membawa kembali
Yerussalem dalam kekuasaannya.
 Jatuhnya Kota Konstantinopel ke Turki Ottoman

Konstantinopel menjadi inti nadi peradaban Eropa sejak dibangun pada
sekitar 306 Masehi. Letaknya sangat strategis karena menghubungkan Eropa
dan Asia lewat jalur darat. Setelah dikuasai oleh bangsa Romawi selama 14 abad,
Konstantinopel jatuh dalam penguasaan Turki Ottoman yang menandai akhir
perang salib yang panjang.
 Semangat Gold, Glory dan Gospel

Penjelajahan bangsa Eropa juga didasari oleh tujuan mencari kekayaan
(gold), memperoleh kejayaan (glory) serta menyebarkan keyakinan mereka
(gospel)

1.2 Kongsi Dagang VOC Belanda

VOC adalah kongsi dagang asal Belanda yang memonopoli aktivitas
perdagangan di Asia dan menyatukan perdagangan rempah-rempah dari
wilayah timur. Latar belakang secara singkat :
 Keinginan untuk memonopoli perdagangan.
 Menghilangkan persaingan antar pedagang Belanda dan Eropa

Adapun tujuan lainnya yaitu :

 Membantu dana pemerintahan Belanda.
 Menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
 Menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Indonesia.
 Menghindari persaingan curang yang akan merugikan para

pedagang Belanda.
 Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai

perang melawan Spanyol.
 Memperkuat kedudukan Belanda agar tidak tersaingi Portugis dan

bangsa Eropa lainnya.
 Agar dapat memonopoli perdagangan di Nusantara terutama

memonopoli rempah-rempah.

Istilah Penting dalam VOC :
 Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII) : Parlemen yang memimpin
VOC pertama kali, yang beranggotakan 17 orang dan
berkedudukan di Amsterdam, Belanda.
 Pelayaran hongi : Pelayaran dengan menggunakan kapal kora-
kora yang dipersenjatai guna mengawasi pelaksanaan monopoli
perdagangan rempah-rempah di Maluku.
 Devide at Impera : Suatu politik yang dilakukan VOC untuk
mengadu domba kerajaan di Nusantara agar terpecah-belah
sehingga mempermudah memonopoli perdagangan.
 Gubernur Jenderal : Jabatan tertinggi yang mengurus dan
mengendalikan kekuasaan jajahan VOC.
 Dewan Hindia (Raad van Indie): Jabatan yang berperan sebagai
penasehat Gubernur Jenderal dan mengawasi kepemimpinannya.
 Dividen : Pembayaran keuntungan oleh pemilik saham.
 Gulden : Mata uang Belanda saat itu.
 Hak Octroi : Hak istimewa yang dimiliki VOC dan bersifat mutlak
untuk diakui dan dilaksanakan layaknya bertindak sebagai suatu
negara di dalam negara.

1.3 Penjajahan Pemerintah Belanda

Indonesia dijajah dimulai dari Portugis saat pertama tiba di Malaka
pada tahun 1509. Di saat itu Portugis berhasil menguasai malaka pada
10 Agustus 1511 dalam pimpinan Alfonso de Alburquerque. Setelah
menguasai Malaka penjelajahan Portugis yang ingin menguasai
Indonesia ke Ternate dan Madura. Untuk itu bangsa Indonesia
melakukan berbagai perlawanan terhadap Portugis. Salah satu
perlawanan yang menonjol adalah dari Fatahillah yang berasal dari
Demak beliau berhasil merebut Sunda Kelapa dari Portugis. Sebelum
Indonesia merdeka secara singkatnya pada saat masa penjajahan
portugis beakhir pada tahun 1602 setelah Indonesia di masuki oleh
Belanda. Belanda masuk ke Indonesia pertama kali yaitu di Banten
dalam pimpinan Cornelis de Houtman. Pada saat itu Belanda
berkeinginan membentuk VOC yang menguasai rempah-rempahan
Indonesia pada tahun 1602. Karena pasar dikuasai oleh tionghoa dan
inggris kantor VOC berpindah ke Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan
sendiri VOC mendapat perlawanan dari Sultan Hasanudin. Berbagai
perjanjian dibuat salah satunya adalah perjanjian Bongaya. Akan tetapi
Sultan Hasanudin pun melanggar perjanjiannya dengan Belanda.
Setelah itu mereka berpindah-pindah tempat sampai ke Yogyakarta. Di
Yogyakarta, VOC menandatangai Perjanjian Giyanti yang isinya
“Belanda mengakui mengkubumi sebagai Sultan Hamengku Buwono
yang pertama”. Perjanjian ini nembuat pecah kerajaan Mataram yang
sampai sekarang menjadi Kasultanan Surakarta dan Kasultanan
Yogyakarta. Maka dari itu VOC di bubarkan pada 1 Januari 1800 setelah
Belanda kalah dari Perancis. Pada masa itu, usai VOC dibubarkan,
penjajahan Belanda tidak berhenti sampai situ saja. Belanda sendiri
menunjuk Herman William Daendels sebagai gubernur jendral Hindia-
Belanda. Pada masanya, masyarakat Indonesia di paksa untuk bekerja
membuat jalan dari Anyer-Panarukan. Masa pemerintahan ia juga tidak
lama, ia digantikan oleh Johannes van den Bosch. Ia menerapkan sistem
tanam paksa, tiap desa diharuskan menyisihkan sebagian tanahnya
untuk ditanami komoditas ekspor khususnya tebu, nila dan kopi. Hasil
nya akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah
di pastikan sebelumnya sebanyak 20% dan hasil panen di serahkan
kepada pemerintah kolonial.

BAB II

Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme dan Imperialisme

1.1 Perang melawan Hegemoni dan Keserakahan VOC
 Aceh Versus Portugis dan VOC
Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511,

justru membawahikmah bagi Aceh. Banyak para pedagang Islam yang
menyingkir dariMalaka menuju ke Aceh. Perkembangan Aceh yang
begitu pesat ini dipandang olehPortugis sebagai ancaman, oleh karena
itu, Portugis berkehendak untukmenghancurkan Aceh. Pada tahun
1523 Portugis melancarkan serangan keAceh di bawah pimpinan
Henrigues, dan menyusul pada tahun 1524 dipimpinoleh de
Sauza.Misalnya, pada saat kapal-kapal dagang Aceh sedang berlayar di
Laut Merah pada tahun 1524/1525 diburu oleh kapal-kapal Portugis
untuk ditangkap.Sebagai persiapan Aceh melakukan langkah-langkah
antara lain:
1. Melengkapi kapal-kapal dagang Aceh dengan persenjataan, meriam
dan prajurit
2. Mendatangkan bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan
beberapa ahli dari Turki pada tahun 1567.
3. Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.

Sebagai tindakan balasan pada tahun 1569 Portugis balik
menyerang Aceh, tetapi serangan Portugis di Aceh ini juga dapat
digagalkan oleh pasukan Aceh.Rakyat Aceh dan para pemimpinnya
selalu ingin memerangi kekuatan dan dominasi asing, oleh karena itu,
jiwa dan semangat juang untuk mengusir Portugis dari Malaka tidak
pernah padam. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-
1639), semangat juang mempertahankan tanah air dan mengusir
penjajahan asing semakin meningkat. pada tahun 1629 Iskandar Muda
melancarkan serangan ke Malaka.

 Maluku Angkat Senjata
Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun

1521. Mereka memusatkan aktivitasnya di Ternate. Pada tahun 1529
terjadi perang antara Tidore melawan Portugis. Penyebab perang ini
karena kapal-kapal Portugis menembaki jung-jung dari Banda yang
akan membeli cengkih ke Tidore. Dalam perang ini Portugis
mendapatdukungan dari Ternate dan Bacan. Upaya monopoli terus
dilakukan.Maka, wajar jika sering terjadi letupan-letupan perlawanan
rakyat.Sementara itu untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis
dan Spanyoldilaksanakan perjanjian damai, yakni Perjanjian Saragosa
pada tahun 1534. Dengan adanya Perjanjian Saragosa kedudukan
Portugis di Maluku semakin kuat. Portugi semakin berkuasa untuk
memaksakan kehendaknya melakukan monopoli perdagangan rempah-
rempah di Maluku.

Pada tahun 1565 muncul perlawanan rakyat Ternate di bawah
pimpinan Sultan Khaerun/Hairun. Portugis mulai kewalahan dan
menawarkan perundingan kepada Sultan Khaerun. Dengan
pertimbangan kemanusiaan, Sultan Khaerun menerima ajakan
Portugis Perundingan dilaksanakan pada tahun 1570 bertempat di
Benteng Sao Paolo. Ternyata semua ini hanyalah tipu muslihat
Portugis. Akhirnya Portugis dapat didesak dan pada tahun 1575
berhasil diusir dari Ternate. Orang-orang Portugis kemudian
melarikan diri dan menetap di Ambon sampai tahun 1605. Tahun itu
Portugis dapat diusir oleh VOC dari Ambon dan kemudian menetap di
Timor Timur.

 Sultan Agung Versus J.P. Coen
Sultan Agung adalah raja yang paling terkenal dari Kerajaan
Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai
zaman keemasan.Cita-cita Sultan Agung antara lain:
(1) mempersatukan seluruh tanah Jawa, Dan
(2) mengusir kekuasaan asing dari bumi Nusantara.
Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia. Ada beberapa
alasan mengapa Sultan Agung merencanakan serangan ke Batavia,
yakni:
1. tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
2. VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram

yang akan berdagang ke Malaka,
3. VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
4. keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius

bagi masa depan Pulau Jawa.
Pada tahun 1628 telah dipersiapkan pasukan dengan segenap
persenjataandan perbekalan. Pada waktu itu yang menjadi gubernur
jenderal VOC adalahJ.P. Coen. Sebagai pimpinan pasukan Mataram
adalah Tumenggung Baureksa.Tepat pada tanggal 22 Agustus 1628,
pasukan Mataram di bawah pimpinanTumenggung Baureksa
menyerang Batavia. Tumenggung Baureksa sendiri gugur dalam
pertempuran itu. Dengan demikian serangan tentara Sultan Agung
pada tahun 1628 itu belum berhasil.

Tahun 1629 pasukan Mataram diberangkatkan menuju Batavia.
Sebagai pimpinan pasukan Mataram dipercayakan kepada
Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan Dipati Purbaya.
ernyata informasi persiapan pasukan Mataram diketahui oleh VOC.
Dengan segera VOC mengirim kapal-kapal perang untuk
menghancurkan lumbung-lumbung yang dipersiapkan pasukan
Mataram. Di Tegal tentara VOC berhasil menghancurkan 200 kapal
Mataram, 400 rumah penduduk dan sebuah lumbung beras.
Berikutnya pasukan Mataram mengepung Benteng Bommel, tetapi
gagal menghancurkan benteng tersebut.

 Perlawanan Banten
Banten memiliki posisi yang strategis sebagai bandar perdagangan
internasional. Oleh karena itu sejak semula Belanda ingin menguasai
Banten, tetapi tidak pernah berhasil. Akhirnya VOC membangun
Bandar di Batavia pada tahun 1619. Tahun 1651, Pangeran Surya naik
tahta di Kesultanan Banten. Ia adalah cucu Sultan Abdul Mufakhir
Mahmud Abdul Karim, anak dari Sultan Abu alMa’ali Ahmad yang
wafat pada 1650. Pangeran Surya bergelar Sultan Abu al-Fath
Abulfatah. Sultan Abu al-Fath Abdulfatah ini lebih dikenal dengan
nama Sultan Ageng Tirtayasa. pada tahun 1671 Sultan Ageng
Tirtayasa mengangkat putra mahkota Abdulnazar Abdulkahar sebagai
raja pembantu yang lebih dikenal dengan nama Sultan Haji. Sebagai
raja pembantu Sultan Haji bertanggung jawab urusan dalam negeri,
dan Sultan Ageng Tirtayasa bertanggung jawab urusan luar negeri
dibantu puteranya yang lain, yakni Pangeran Arya Purbaya.
Pemisahan urusan pemerintahan di Banten ini tercium oleh
perwakilan VOC di Banten W. Caeff.

Dalam persekongkolan tersebut VOC sanggup membantu Sultan
Haji untuk merebut Kesultanan Banten tetapi dengan empat syarat.
(1) Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC,
(2) monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC dan harus
menyingkirkan para pedagang Persia, India, dan Cina,
(3) Banten harus membayar 600.000 ringgit apabila ingkar janji, dan
(4) pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman
Priangan segera ditarik kembali. Isi perjanjian ini disetujui oleh
Sultan Haji. Pada tahun 1681 VOC atas nama Sultan Haji berhasil
merebut Kesultanan Banten. Istana Surosowan berhasil dikuasai. Pada
tahun 1682 pasukan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengepung
istana Surosowan. Baru setelah melalui tipu muslihat pada tahun 1683
Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan ditawan di Batavia
sampai meninggalnya pada tahun 1692.

 Perlawanan Goa
Kerajaan Goa merupakan salah satu kerajaan yang sangat terkenal

di Nusantara. Pusat pemerintahannya berada di Somba Opu yang
sekaligus menjadi pelabuhan Kerajaan Goa. pada tahun 1634, VOC
melakukan blokade terhadap Pelabuhan Somba Opu, tetapi gagal
karena perahu-perahu Makasar yang berukuran kecil lebih lincah dan
mudah bergerak di antara pulau-pulau, yang ada. Kemudian kapal-
kapal VOC merusak dan menangkap kapal-kapal pribumi maupun
kapal-kapal asing lainnya. Tanggal 7 Juli 1667, meletus Perang Goa.
Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman, diperkuat oleh
pengikut Aru Palaka dan ditambah orangorang Ambon di bawah
pimpinan Jonker van Manipa. Kekuatan VOC ini menyerang pasukan
Goa dari berbagai penjuru. Hasanuddin kemudian dipaksa untuk
menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667,
yang isinya antara lain sebagai berikut.
1. Goa harus mengakui hak monopoli VOC
2. Semua orang Barat, kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah
Goa
3. Goa harus membayar biaya perang

Sultan Hasanuddin tidak ingin melaksanakan isi perjanjian itu,
karena isi perjanjian itu bertentangan dengan hati nurani dan
semboyan masyarakat Goa atau Makasar. Pada tahun 1668 Sultan
Hasanuddin mencoba menggerakkan kekuatan rakyat untuk kembali
melawan kesewenang-wenangan VOC itu.

 Rakyat Riau Angkat Senjata
Perlawanan di riau adalah perlawanan yang di lancarkan oleh

kerajaan siak sri indrapura. Raja Siak Sultan Abdul jalil Rahmat syah
memimpin rakyatnya untuk melawan VOC. Dalam suasana konfrontasi
dengan VOC itu, Sultan Abdul jalil Rahmat Syah wafat. Sebagai
gantinyya diangkatlah putranyayang bernama Muhammad abdul jalil
muzafar syah . pada tahun 1751 berkobar perang melawan VOC. Dengan
cara membuat benteng pertahanan di sepanjang jalur yang
menghubungkan sungai Indragiri, Kampar sampai pulau guntung yang
berada di muara sungai siak. Oleh karena itu segera dipersiapkan
kekuatan yang lebih besar untuk menyerang VOC. Raja indra dan
panglima besar tengku muhammad ali. Dalam serangan ini di perkuat
dengan kapal perang “Harimau Buas” yang dilengkapi dengan lancang
serta perlengkapan perang secukupnya. Dengan demikian pasukan siak
sulit menembus benteng pertahaanan itu. Namun banyak pula jatuh
korban dari VOC , sehingga nendatangkan bantuan kekuatan termasuk
juga orang-orang cina. Pertemuran `hamper berlangsung satu bulan.
Melihat situasi yang demikian itu kedua panglima perang siak
menyerukan pasukannya untuk mundur kembali ke siak.

 Orang-orang Cina Berontak
Sejak abad ke-5 orang-orang Cina sudah mengadakan

hubungan dagang ke Jawa dan jumlahnya pun semakin banyak. Untuk
membatasi kedatangan orang–orang Cina ke Batavia, VOC
mengeluarkan ketentuan bahwa setiap orang Cina yang tinggal di
Batavia harus memiliki surat izin bermukim yang disebut
permissiebriefjesatau masyarakat sering menyebut dengan “surat pas”.
Apabila tidak memiliki surat izin, maka akan ditangkap dan dibuang
ke Sailon (Sri Langka) untuk dipekerjakan di kebun-kebun pala milik
VOC atau akan dikembalikan ke Cina. Mereka diberi waktu enam bulan
untuk mendapatkan surat izin tersebut. Biaya untuk mendapatkan
surat izin itu yang resmi dua ringgit (Rds.2,-) per orang. Pada suatu
ketika tahun 1740 terjadi kebakaran di Batavia. Pada tahun 1741
benteng VOC di Kartasura dapat diserang sehingga jatuh banyak
korban.

 Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said
Perlawan terhadap VOC kembali terjadi di Jawa, kali ini

dipimpin oleh bangsawan kerajaan yakni Pangeran Mangkubumi dan
Raden Mas Said. Perlawanan berlangsung sekitar 20 tahun. Raden
Mas Said bergerak di bagian timur, daerah Surakarta ke selatan terus
ke Madiun, Ponorogo dengan pusatnya Sukowati. Sedangkan
Mangkubumi konsentrasi di bagian barat Surakarta terus ke barat
dengan pusat di Hutan Beringin dan Desa Pacetokan, dekat Pleret
(termasuk daerah Yogyakarta sekarang). Diberitakan pada saat itu
Pangeran Mangkubumi membawahi sejumlah 13.000 prajurit,
termasuk 2.500 prajurit kavaleri. Karena perjanjian itu berisi pasal-
pasal antara lain:
(1). Susuhunan Pakubuwana II menyerahkan Kerajaan Mataram baik
secara de factomaupun de jurekepada VOC.
(2). Hanya keturunan Pakubuwana II yang berhak naik tahta, dan
akan dinobatkan oleh VOC menjadi raja Mataram dengan tanah
Mataram sebagai pinjaman dari VOC.
(3). Putera mahkota akan segera dinobatkan. Sembilan hari setelah
penandatanganan perjanjian itu Pakubuwana II wafat. Tanggal 15
Desember 1749 Baron van Hohendorff mengumumkan pengangkatan
putera mahkota sebagai Susuhunan Pakubuwana III.

Perlawanan Pangeran Mangkubumi berakhir setelah tercapai
Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755. Isi pokok perjanjian
itu adalah bahwa Mataram dibagi dua. Wilayah bagian barat (daerah
Yogyakarta) diberikan kepada Pangeran Mangkubumi dan berkuasa
sebagai sultan dengan sebutan Sri Sultan Hamengkubuwana I, sedang
bagian timur (daerah Surakarta) tetap diperintah oleh Pakubuwana III.
Sementara perlawanan Mas Said berakhir setelah tercapai Perjanjian
Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 yang isinya Mas Said diangkat
sebagai penguasa di sebagian wilayah Surakarta dengan gelar
Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I

2.2 Perlawanan Rakyat terhadap penjajahan Belanda

 Perlawanan Rakyat terhadap Portugis
Kedatangan bangsa Portugis ke Semenanjung Malaka dan Kepulauan Maluku
merupakan perintah dari negaranya untuk berdagang.
a. Perlawanan Rakyat Malaka terhadap Portugis

Pada tahun 1511, armada Portugis yang dipimpin oleh Albuqauerque menyerang
Kerajaan Malaka. Untuk menyerang colonial Portugis di Malaka yang terjadi pada
tahun 1513 mengalami kegagalan karena kekuatan dan persenjataan Portugis lebih
kuat. Pada tahun 1527, armada Demak di bawah pimpinan Falatehan dapat
menguasai Banten,Suda Kelapa, dan Cirebon. Armada Portugis dapat dihancurkan
oleh Falatehan dan ia kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta
(Jakarta)
b. Perlawanan rakyat Aceh terhadap Portugis
Mulai tahun 1554 hingga tahun 1555, upaya Portugis tersebut gagal karena
Portugis mendapat perlawanan keras dari rakyat Aceh. Pada saat Sultan Iskandar
Muda berkuasa, Kerajaan Aceh pernah menyerang Portugis di Malaka pada tahun
1629.
c. Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis
Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk
mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh
Sultan Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis,
namun dapat diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam
Benteng Duurstede. Selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574.
Portugis diusir yang kemudian bermukim di Pulau Timor

 Perlawanan Rakyat terhadap Belanda (VOC)
Persekutuan dagang Hindia Timur milik pemerintah Belanda di Indonesia adalah
Vereenigde oost Indische Compagnie (VOC) yang berdiri tahun 1602.
a. Perlawanan Rakyat Mataram

 Perlawanan Rakyat Mataram Pertama
 Perlawanan Rakyat Mataram Ke dua
 Perlawanan Trunojoyo
 Perlawanan Untung Suropati
 Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said
b. Perlawanan Rakyat Banten
Perlawanan rakyat Banten dibangkitkan oleh Abdul Fatah (Sultan Ageng
Tirtayasa) dan putranya Pangeran Purbaya. Tahun 1659, perlawanan rakyat
Banten mengalami kegagalan. 1683, VOC menerapkan politik domba (devide et
impera) antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya yang bernama Sulatan
Haji. Sultan Haji yang dibantu oleh VOC dapat mengalahkan Sultan Ageng
Tirtayasa menghasilkan kompensasi. 1750, terjadi perlawanan rakyat banten
terhadap Sultan Haji.

c. Perlawanan Rakyat Makassar
Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda dilakukan oleh Kerajaan Gowa dan
Tallo, yang kemudian bergabung menjadi Kerajaan Makassar. Kerajaan Makassar,
mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintah Sultan Hasanuddin tahun
1654-1669. Abad ke-17 Makassar menjadi pesaing berat bagi Kompeni VOC
pelayaran dan perdagangan di wilayah Indonesia Timur. Setelah mendapatkan
berdagang, VOC mulai menunjukkan perilaku dan niat utamanya, yaitu mulai
mengajukan tuntutan kepada Sultan Hasanuddin. Pertempuran antara rakyat
Makassar dengan VOC terjadi. Pertempuran pertama terjadi pada tahun 1633.
Pada tahun 1654 diawali dengan perilaku VOC yang berusaha menghalang-
halangi pedagang yang akan masuk maupun keluar Pelabuhan Makassar
mengalami kegagalan. Pertempuran ketiga terjadi tahun 1666-1667, pasukan
kompeni dibantu olehpasukan Raja Bone (Aru Palaka) dan pasukan Kapten Yonker
dari Ambon. Angakatan laut VOC, yang dipimpin oleh Spleeman. Pasukan Aru
Palaka mendarat din Bonthain dan berhasil mendorog suku Bugis agar melakukan
pemberontakan terhadap Sultan Hasanudin. Penyerbuan ke Makassar
dipertahankan oleh Sultan Hasanudin. Sultan Hasanudin terdesak dan dipaksa
untuk menandatangani perjanjian perdamaian di Desa Bongaya pada tahun 1667

d. Perlawanan rakyat Maluku
Terjadi di Tidore
1) Perlawanan di Ternate
Pertama pada tahun 1635 yang dipimpin oleh Kakiali. 1646 kembali terjadi
perlawanan rakyat Ternate terhadap VOC, yang dipimpin oleh Telukabesi. Pada
tahun 1650, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Saidi mengalami kegagalan.
2) Perlawanan di Tidore
Tidore dipimpin oleh Kaicil Nuku atau Sultan Nuku. Perlawanan fisik dan
perundingan berhasil mengusir Belanda, mengusir Kolonial Inggris dari
Tidore.
3) Perlawanan oleh Patimura
Bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin
oleh Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Benteng kompeni Duurstede
di Saparua diserbu dan direbut rakyat Maluku. Meluas hingga ke Ambon dan ke
pulau–pulau sekitarnya, dikuasai oleh Kapitan Pattimura, Anthony Rybok,
Paulus-paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah
dan Thomas Pattiwael, kewalahan perlawanan rakyat Pattimura pada tahun
1817 mendantangkan pasukan Kompeni dari Ambon yang dipimpin oleh kapten
Lisnet. Oktober 1817, menyerang rakyat Maluku secara besar-besaran,
menangkap Kapitan Pattimura (tahun 1817) dihukum mati pada tanggal 16
Desember 1817.

BAB III

Dampak Perkembangan Kolonialisme dan Imperialisme

3.1 Dampak dalam bidang politik, Pemerintahan dan Ekonomi

1. Bidang Politik-Baik Daendels maupun Raffles telah meletak dasar
pemerintahan modern. Para Bupati dijadikan pegawai negeri dan
diberi gaji, padahal menurut adat, kedudukan bupati adalah turun
temurun dan mendapat upeti dari rakyat. Bupati menjadi alat
kekuasaan pemerintah kolonial. Pamong praja yang dulu
berdasarkan garis keturunan diubah menjadi sistem
kepegawaian. Hal ini berlaku hingga sekarang
- Aktivitas pemerintahan berpusat di wilayah Jawa
- Belanda dan Inggris melakukan intervensi terhadap persoalan
kerajaan, misalnya pergantian tahta kerajaan. Hal ini berdampak
pada penguasaan politik di Indonesia oleh pihak imperialis.
Akibatnya peranan elite kerajaan berkurang dalam bidang politik,
bahkan kekuasaan kerajaan lokal mulai runtuh.

2. Dampak kolonialisme dan imperialisme di bidang pemerintahan
Pembaruan bidang politik dan administrasi pemerintahan
Awalnya bangsa kita banyak berkembang sistem kerajaan, namun
pada masa Gubernur Jenderal Daendels dilakukan pembaruan
bidang politik dan administrasi pemerintahan. Pemerintah
Kolonial Belanda membagi Hindia Belanda di Jawa menjadi
sembilan prefektur dan 30 regentschap (kabupaten). Setiap
prefektur diangkat pejabat kepala pemerintahan yang disebut
dengan prefek. pejabat ini diambil dari orang Eropa. Sementara
setiap regentschap (kabupaten) dikepalai oleh seorang regent
(bupati) yang berasal dari kaum pribumi. Status bupati sampai
cama (priayi) sepenuhnya menjadi pegawai negeri baru terwujud
setelah diterapkannya Tanam Paksa pada pertengahan 1850-an,
mereka juga digaji namun hak jabatan yang diwariskan secara
turun temurun tidak berlaku lagi. Dalam struktur pemerintahan
juga terdapat pemerintahan tertinggi seperti pemerintah pusat,
posisi tertinggi ini dijabat oleh seorang gubernur jendral. Pada
tingkat pusat ini ada yang disebut dengan “Raad van Indie” yang
merupakan lembaga yang berperan sebagai dewan penasihat.
Selain adanya dewan penasihat, juga sudah terdapat departemen-
departemen untuk mengatur pemerintahan secara umum.
Beberapa departemen itu antara lain Departemen Dalam Negeri,
Departemen Pendidikan Agama, Departemen Keuangan,
Departemen Urusan Perang dan lain sebagainya.

3. Bidang Ekonomi
Bangsa Indonesia mulai mengenal industri pertambangan dengan
dibukanya kilang minyak bumi di Tarakan Kaltim oleh Belanda-
Belanda membangun rel kereta api untuk memperlancar arus
perdagangan- Liberialisme ekonomi - Eksploitasi ekonomi,
monopoli dagang VOC menyebabkan mundurnya perdagangan
nusantara di panggung perdagangan internasional. Peranan
syahbandar digantikan oleh para pejabat Belanda- Kebijakan
tanam paksa sampai sistem ekonomi liberal menjadikan Indonesia
sebagai penghasil bahan mentah. Eksportirnya dilakukan oleh
bangsa Belanda, pedagang perantara dipegang oleh orang timur
asing terutama bangsa Cina dan bangsa Indonesia hanya menjadi
pengecer, sehingga tidak memiliki jiwa wiraswasta jenis tanaman
baru serta cara memeliharanya.- Dengan dilaksanakannya politik
pintu terbuka, maka pengusaha pribumi yang modalnya kecil
kalah bersaing sehingga gulung tikar.- Perkebunan di Jawa
berkembang sedangkan di Sumatra kesulitan tenaga kerja
sehingga dilakukan program transmigrasi.- Untuk mendukung
program penanaman modal Barat di Indonesia pemerintah
Belanda membangun : Irigasi, waduk, jalan raya, jalan kereta api
dan pelabuhan. Untuk pembangunan tersebut digunakan tenaga
secara paksa dengan sistem rodi (kerja paksa)- Dengan
memperkenalkan sistem sewa tanah, terjadi pergeseran dari
sistem ekonomi barang ke sistem ekonomi uang yang juga
menyebar di kalangan petani.

3.2 Dampak dalam bidang Sosial Budaya dan Pendidikan

1. Bidang Sosial

 Terciptanya kasta dalam masyarakat, dengan bangsa Eropa
dianggap sebagai yang tertinggi, disusul oleh Asia, Timur
Jauh, serta pribumi

 Terjadinya penindasan dan pemerasan secara kejam. Tradisi
yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, seperti upacara dan tata
cara yang berlaku dalam lingkungan istana menjadi sangat
sederhana, bahkan cenderung dihilangkan. Tradisi tersebut
secara perlahan-lahan digantikan oleh tradisi pemerintah
belanda.

 Daerah Indonesia saat itu masih banyak bergantung pada
aktivitas di tepi laut sehingga perubahan aktivitas
perdagangan berdampak pada kehidupan di pedalaman.
Kemunduran perdagangan di laut secara tak langsung
menimbulkan budaya feodalisme di pedalaman. Di bawah
prinsip feodalisme, rakyat pribumi dipaksa untuk
tunduk/patuh pada tuan tanah Barat/Timur Asing.

 Masuknya agama Katolik dan Protestan

2. Bidang budaya

 Tindakan pemerintah Belanda untuk menghapus kedudukan
menurut adat penguasa pribumi dan menjadikan mereka
pegawai pemerintah, meruntuhkan kewibawaan tradisional
penguasa pribumi.

 Upacara dan tata cara yang berlaku di istana kerajaan juga
disederhanakan dengan demikian ikatan tradisi dalam
kehidupan pribumi menjadi lemah.

 Dengan merosotnya peranan politik maka para elite politik
baik raja maupun bangsawan mengalihkan perhatiannya ke
bidang seni budaya.

 Birokrat menggunakan bahasa belanda sebagai simbol status
mereka

3. Bidang pendidikan

dalam buku Sejarah Indonesia Modern (2008) karya MC
Ricklefs, dampak pada pendidikan dapat dilihat dari adanya sekolah-
sekolah Kristen yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Minahasa
dan Jawa. Dampak lain adalah munculnya beberapa orang pribumi
yang mengenyam pendidikan sampai gelar doktor di Belanda, salah
satunya yakni Hoesein Djajadiningrat. Perkembangan pendidikan
ini juga didukung dengan dibukanya sekolah tinggi tingkat
universitas tanpa memandang ras di Indonesia yaitu:

 Technische Hogeschool atau “sekolah tinggi teknik” di
Bandung

 Rechtshoogeschool atau “sekolah tinggi hukum”
 Geneeskundige Hogeschool atau “sekolah tinggi kedokteran”.
Keberadaan sekolah Dikutip dari buku Sejarah Pendidikan di
Indonesia Zaman Penjajahan (1993) oleh Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan RI, menjelaskan dampak kolonialisme dan
imperialisme dalam bidang pendidikan tampak dengan adanya
gagasan untuk menyelenggarakan pendidikan modern untuk
golongan pribumi atau bumiputera dan Eropa. Beberapa sekolah
yang didirikan adalah:

 Sekolah Rendah Eropa atau Europeesche Lagere School (ELS)
 Sekolah Bumiputera atau Hollandsch inlandsche School (HIS)
 Sekolah Desa atau Volkschool atau disebut juga dengan

Sekolah Rakyat
 Sekolah Lanjutan atau Vervolgschool Sekolah Peralihan atau

Schakelschool

BAB IV

Sumpah Pemuda dan Jati Diri Keindonesiaan

4.1 Latar Belakang Sumpah Pemuda

LATAR BELAKANG SUMPAH PEMUDA Lahirnya sumpah
pemuda adalah dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan
antarorganisasi kepemudaan yang sudah ada , maka dimulai lah
pertemuan antar organisasi sejak 1920. Namun pada saat itu mereka
belum menemukan solusi yang tepat karna berbeda landasan
pemikiran . Pada tanggal 15 november 1925 di adakan kongres
pemuda untuk membahas panitia pelaksanaan kesepakatan bersama.
Dan pada tanggal 30 april 1926 organisasi pemuda berkumpul dan
melaksanakan rapat kongres Pemuda I. Kongres ini berhasil
merumuskan dasar-dasar pemikiran bersama yaitu:

1. Kemerdekaan indonesia merupakan Cita-cita bersama
seluruh pemuda indonesia.

2. Seluruh Organisasi kepemudaan bertujuan untuk
menggalang persatuan para pemuda kemudian
menyelenggarakan Kongres Pemuda II pada tanggal 26
sampai 28 oktober. Sayangnya pada kongres ini sempat
terjadi insiden dimana pemimpin rapat tidal
diperkenankan menyebut tentang kemerdekaan
Indonesia . Mereka merasa dipersulit dan banyak dari
mereka merasa dipersulit dan banyak dari mereka yang
dipenjara dan diasingkan dan ke daerah terpencil . Pada
28 oktober 1928 yaitu hari terakhir kongres pemuda II
akhirnya sumpah pemuda lahir. Mohmmad Yamin
membuat inti sari seluruh isi kongres. Dari inti sari
itulah lahir perumusan sumpah pemuda yang di setujui
seluruh peserta kongres pemuda II . Sumpah pemuda
1928 Berbunyi :
 Pertama Kami putera dan puteri indonesia
mengaku bertumpah darah yang satu,tanah
indonesia
 Kedua kami putera dan puteri indonesia mengaku
berbangsa yang satu bangsa indonesia
 Ketiga kami putera dan puteri indonesia
menjunjung bahasa persatuan , bahasa indonesia.

4.2 Sumpah Pemuda sebagai Tonggak persatuan dan Kesatuan

28 Oktober 1928 adalah tanggal yang istimewa segenap bagi
bangsa Indonesia dimana pada saat itu para pemuda bersatu dan
mengucapkan ikrar janji setia yang kemudian dikenal sebagai
sumpah pemuda. Sumpah pemuda menjadi pondasi terbentuknya
semangat persatuan bangsa Indonesia yang pada kala itu masih
dikuasai oleh penjajah sehingga perlu adanya suatu formulasi
mengenai persatuan bangsa dan menumbuhkan rasa nasionalisme
cinta indonesia yang kuat untuk meraih kebebasan dari belenggu
kolonialisme. semangat para pemuda pada masa itulah yang
akhirnya membawa bangsa Indonesia meraih kemerdekaannya.
Karena keberadaan Sumpah Pemuda merupakan batu pijakan bagi
bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Ada beberapa hikmah
yang bisa kita petik dari sumpah pemuda antara lain:

 Persatuan, bahwa persatuan merupakan elemen penting
dalam suatu kelompok atau bahkan di dalam tataran
yang lenih luas lagi yaitu Negara. Ketika persatuan itu
berdiri kokoh dalam Negara maka akan menjadikan
kekuatan yang besar. Masih ingatkah dengan kalimat
"jika satu batang lidi maka akan dengan mudah untuk
dipatahkan akan tetapi jika banyak batang lidi kemudian
disatukan maka akan sulit untuk dipatahkan".

 Semangat Generasi Muda, jika melihat tindak tanduk
para pemuda maka ada sesuatu yang khas dalam diri
mereka yakni "semangat". Iyaaa, semangatlah yang
terkadang menjadi dorongan para pemuda untuk
melakukan sesuatu yang luar biasa. Tentunya generasi
mudalah kelak yang akan mewarisi dan melanjutkan
perjuangan untuk mewujudkan cita-cita suatu bangsa.

 Komitmen dan konsistensi, sumpah pemuda merupakan
tonggak awal komitmen para pemuda pada masa itu
untuk mencapai tujuan yakni kemerdekaan bagi
Indonesia sehingga terciptalah ikrar sumpah pemuda
dan konsistensi dari para pemuda terhadap janji mereka
dalam sumpah pemuda telah membawa bangsa Indonesia
mendapatkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945.

4.3 penguatan Jati Diri Keindonesiaan

Persamaan nasib dan penanggungan yang dialami pada masa
kolonialisme bangsa Barat menjadi faktor yang tidak bisa
terpisahkan dari kelahiran jati diri kebangsaan Indonesia. Konsep
revolusi dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Uni Soviet dan
Perancis juga turut memberikan pengaruh dalam kelahiran
kebangsaan Indonesia. Revolusi-revolusi tersebut menyadarkan
kaum bumiputra Indonesia akan pentingnya organisasi dan politik
untuk mencapai kemerdekaan.

 Pemuda Indonesia berpolitik Dilansir dari Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, titik puncak
penguatan jati diri kebangsaan Indonesia terjadi pada awal
abad ke-20 Masehi melalui gerakan-gerakan kebangsaan yang
dicetuskan oleh kaum pemuda dan golongan terpelajar. Kaum
pemuda pada sekitar tahun 1931 mendirikan organisasi
bernama Indonesia Muda. Organisasi ini merupakan
gabungan dari organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong
Sumatranen Bond dan Pemuda Indonesia. Baca juga: Peran
Pers dalam Perjuangan Pergerakan Nasional Pada awalnya,
organisasi Indonesia Muda dilarang terlibat dalam politik. Hal
tersebut mendorong anggota Indonesia Muda untuk
mendirikan perkumpulan lain yang menginduk pada
organisasi politik yang ada di Indonesia masa itu seperti
Suluh Pemuda, Pemuda Muhammadiyah, Anshor NU, PERPRI
dan lainnya. Dengan bergabungnya pemuda ke dalam
organisasi politik, para pemuda mampu melakukan kegiatan
politik dan menumbuhkan semangat nasionalisme sesuai
dengan dinamika partai induknya.

 Gerakan politik perempuan Indonesia Dalam buku Perempuan
Indonesia: Gerakan dan Pencapaian (2008) karya Cora
Vreede-de Stuers, disebutkan bahwa organisasi perempuan
turut meramaikan penguatan jati diri kebangsaan Indonesia.
Pada 1912, terbentuklah organisasi Putri Mardika yang
merupakan organisasi perempuan pertama di Indonesia.
Organisasi perempuan di Indonesia memiliki tujuan untuk
memperjuangkan hak-hak perempuan bumiputra dalam hal
kesejahteraan ekonomi dan pendidikan. Aktivitas utama dari
organisasi ini adalah memberikan beasiswa serta pengajaran
melalui majalah wanita Putri Mardika. Pasca 1912,
perkembangan gerakan politik perempuan Indonesia semakin
berkembang. Perkembangan tersebut ditandai dengan
berdirinya organisasi perempuan di berbagai daerah, seperti
Aisyiyah, organisasi wanita Taman Siswa dan Kartini Fonds.


Click to View FlipBook Version