SEJARAH PERKEMBANGAN
KEBUDAYAAN HINDU
DI DUNIA
PENDIDIKAN
AGAMA HINDU
DAN BUDI PEKERTI
SMA/SMK
KELAS XII
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
BAB II
SEJARAH PERKEMBANGAN
KEBUDAYAAN HINDU DI DUNIA
Yathemàm vàcaý kalyànim àvadàni
janebhyaá, brahma-ràjanyàbhyàý
úùdràya càryàya ca,
svàya càraóàya ca.
Terjemahan:
”Hendaknya engkau menyebarkan ajaran Weda yang suci ini
kepada para brahmana, ksatriya, para vaisya, para sudra, orang-
orang kami dan orang-orang asing dengan cara yang sama
(Yajurveda, XXVI.2).
Peradaban Hindu dinyatakan berkembang dari
daerah asalnya ‘Lembah Sindhu – India’ ke
seluruh
Dunia, mengapa praktik ajarannya didaerah kita
berbeda dengan daerah asalnya? Renungkanlah!
Sumber: http://unikahidha.ub.ac.id 15-07-2013.
Gambar 2.1 Peta penyebaran peradaban Hindu
Apakah kebudayaan itu?, Bagaimana prasejarah, dan sejarah kebudayaan agama Hindu itu
terjadi? Carilah artikel yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan agama Hindu,
selanjutnya diskusikanlah!
A. Kebudayaan Prasejarah dan Sejarah AgamaHindu di
Dunia
Zaman pra-sejarah adalah zaman dimana belum dikenalnya tulisan. Zaman prasejarah
berlangsung sejak adanya manusia, sekitar ± (dua) juta tahunyang lalu, hingga manusia
mengenal tulisan. Untuk mengetahui kehidupan prasejarah, para ahli mempelajari fosil, tentang
bagian tubuh binatang,tumbuhan, dan atau manusia yang membatu. Kondisi lingkungan alam
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
2
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
pada zaman pra-sejarah sangatlah berbeda dengan lingkungan yang ada sekarang. Hal ini
disebabkan karena ketika itu banyak terjadi peristiwa alam, sepertipengangkatan daratan, naik-
turunya air laut, dan kegiatan gunung berapi.Binatang dan tumbuh-tumbuhan yang berukuran
besar sangat banyakragamnya. Binatang dan tumbuhan itu kini sudah banyak yang punah.
Manusia purba yang hidup pada zaman pra-sejarah dapat di kelompokkanmenjadi sebagai
berikut ;
1. Meganthropus palaeojavanicus: manusia yang paling purba;
2. Homo erectus atau Pithecanthropus: manusia yang sudah berjalan tegak;
3. Homo sapiens: manusia purba yang sudah mirip manusia sekarang.
Sumber: Sejarah KebudayaanIndonesia, R. Soekmono
Gambar 2.2 Pithecanthropus erectus
Ketiga kelompok manusia purba ini memiliki masa perkembangan dan migrasi untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya. Berdasarkan temuan- temuan fosil manusia purba di
berbagai penjurudunia, kini para ahli paleoantropologi dapat menyusun sejarah makhluk manusia.
Sejarah yangdisusun itu menyangkut proses perkembanganjasmani manusia maupun proses migrasi
manusia untuk menghuni seluruh permukaan bumi yang ada ini. Proses penyusunan dan
perkembangan tentang telah di temukan saat ini, mahkluk yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal
manusia adalah mahluk Australopithecus. Jika diamati dari bentuk fosil yangada, tampak ada 4
(empat) perubahan jasmani dalam makhluk pra-manusia yang sangat menentukan proses evolusi
menuju manusia sejati. Melalui proses evolusi inilah manusia kemudian mampu mengembangkan
kehidupannya dengan lebih baik dari sebelumnya.
Menurut temuan fosil pra-manusia yang telah ditemukan hingga saat ini, makhluk yang dapat
dikatakan sebagai cikal bakal manusia adalah mahkluk Australopithecus (kera dari selatan). Makhluk
ini berkembang dengan pola migrasi. Dinyatakan ada 4 (empat) jenis mahkluk Australopithecus
yang ditemukan di Afrika, seperti; Australopithecus afarensis, Australopithecus africanus,
Australopithecus robustus, dan Australopithecus boisei (Soekmono, 1958: 10).
Menurut pandangan Hindu, manu adalah manusia yang pertama diciptakan oleh Brahman /Ida Sang
Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa pada masa srstiatau penciptaan. Ciptaan Brahman setelah alam
semesta adalah tumbuh-tumbuhan, kemudian binatang, dan baru kemudian manusia. Manu yang
disebut manusia adalah makhluk yang tersempurna dengan bayu, sabda, dan idep yang dimilikinya.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
3
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Bayu adalah tenaga yang mengantarkan manusiamemiliki kekuatan atau tenaga. Sabda adalah unsur
suara yang menyebabkanmanusia dapat berbicara atau bertutur kata yang baik dan sopan. Sedangkan
idep adalah pikiran, hati, dan rasa yang menyebabkan manusia dapat berlogika. Ketiga unsur utama
inilah yang menyebabkan manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, benar
dan salah, boleh dan tidak boleh. Kitab Bhagawadgita menyebutkan sebagai berikut;
”Prakrtim purusa chai ‘wa widdhy anadi ubhav api, vikarams cha gunamschai ‘wa, viddhi
prakrti sambhavan ” (Bhagawan Gita, XIII.19).
Terjemahannya:
Ketahuilah bahwa Prakrti dan Purusa kedua-duanya adalah tanpa permulaan,dan ketahuilah
juga bahwa segala bentuk dan ketiga guna lahir dari Prakrti.
”Tapo wācam ratim caiwa kāmam ca wiwerkatham dharman wyawecayat, srstim sasarja
caiwemām srastumicchannimah prajāh (MenawaDharmasastra I.25)
Terjemahannya:
Ketawaqalan, ucapan, kesenangan, nafsu dan kemarahan serta segala isialam, Tuhan ciptakan
karena Ia ingin menciptakan segala mahkluk ini.
”Mangkana pwa Bhatara Siwa, irikang tattwa kabeh, ri wekasan lina ring sira mwah, nihan
drstopamanya kadyangganing wereh makweh mijilnyatunggal ya sakeng way” (Bhuwana Kosa. lp.
22b).
Terjemahannya:
Demikian halnya Bhatara Siwa (Tuhan), keberadaan-Nya pada segala makhluk, pada akhirnya akan
kembali pula kepada-Nya, demikian umpamanya, bagaikan buih banyak timbulnya, tunggallah itu
asalnya dari air.
Berdasarkan uraian dan penjelasan pustaka suci tersebut di atas, sangat jelas menyatakan bahwa
menurut pandangan Hindu, manusia diciptakan oleh Brahman/Sang Hyang Widhi wasa/Tuhan Yang
Maha Esa pada masa srsti. Selanjutnya hidup dan berkembang sesuai dengan budaya dan lingkungan
alam sekitarnya.
Pada zaman migrasi disebutkan ada dua tingkatan masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan
makanan tingkat sederhana dan tingkat lanjut. Masaberburu dan mengumpulkan makanan tingkat
sederhana sering disebut zaman Paleolitik. Masa ini berlangsung sejak (2 juta tahun yang lalu hingga
10.000 tahun sebelum Masehi), yaitu ketika manusia masih hidup berpindah-pindah (nomaden). Pada
zaman ini alat yang digunakan adalah kapak batu dan alat serpih.
Oleh manusia purba, masa migrasi dilanjutkan dengan masa berburu dan mengumpulkan makanan
tingkat lanjut. Zaman ini juga disebut sebagai zaman maesolitik yang berlangsung sejak (10.000–
4000 tahun sebelum masehi). Di zaman maesolitik manusia sudah hidup di gua-gua atau di tepi pantai
agak menetap. Pada zaman ini manusia purba sudah menggunakan peralatan kapak pendek, kapak
Sumatralit, mata panah, dan alat-alat tulang.
Setelah masa maesolitik kehidupan manusia purba menuju ke masa bercocok tanam. Zaman ini
disebut juga zaman Neolitik dan berlangsung sejak (4000- 2000 tahun sebelum masehi). Di zaman
Neolitik, manusia sudah dapat menanam berbagai jenis tumbuhan dan menernakkan hewan. Mereka
sudah hidup menetap dan menggunakan alat-alat batu yang sudah diasah halus, seperti kapak persegi
dan kapak lonjong. Pada masa inilah manusia tidaklagi menjadi pengumpul makanan (food-
gatherer), tetapi juga penghasil makanan (food-producer). Perubahan ini disebut Revolusi neolitik.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
4
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Mereka percaya pada roh nenek moyang dan mulai mendirikan bangunan megalitik. Di Indonesia,
cara bercocok tanam di bawa oleh orang-orang Nusantara yangberbahasa Austronesia dari Taiwan
dan Filipina Utara.
Zaman Perundagian disebut juga zaman Logam Awal atau kehidupan masa perundagian yang
berlangsung sejak (2000 tahun sebelum masehi sampai dengan abad IV masehi). Sejak zaman Logam
Awal manusia mulai mengenal pembuatan alat-alat dari logam seperti nekara, kapak perunggu, bejana
gepeng, dan perhiasan. Budaya ini disebut budaya Dongson. Mereka hidup di perkampungan tetap.
Ada kelompok pengrajin benda tertentu dan perdagangan mulai maju. Di masa ini mulai terbentuk
golongan masyarakat sebagai pemimpin, pendeta, orang awam, dan budak. Hasil kebudayaan yang
ditemukan pada masa ini adalah;
1. Kapak Genggam: berfungsi untuk menggali umbi, memotong danmenguliti binatang.
2. Kapak Perimbas: berfungsi untuk merimbas kayu, memecahkan tulang, dan sebagai senjata
yang banyak ditemukan di Pacitan. Maka Ralph Von Koeningswald menyebutkan
kebudayaan Pacitan, dan pendukung kebudayaan Pacitan adalah jenis Phitecantropus.
3. Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang: berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek dan
tombak. Benda-benda ini banyak ditemukan di ngandong, dan sebagai pendukung
kebudayaan ini adalah Homo Wajakensis, dan Homo Soloensis. Alat-alat yang dimanfaatkan
untuk hidup adalah;
a. Serpih (flakes) – terbuat dari batu bentuknya kecil, ada juga yang terbuat dari batu induk
(kalsedon): berfungsi untuk mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan.
Pendukung kebudayaan ini adalah Homo soloensis dan Homo wajakensis.
b. Kapak Sumatra (Pebble): Sejenis kapak genggam yang sudah digosok,tetapi belum sampai
halus. Terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah.
c. Kjokenmoddinger: Dari bahasa denmark yang artinya sampah dapur.
d. Abris Sous Roche: Adalah tempat tinggal yang berwujud goa-goa danceruk-ceruk di dalam
batu karang untuk berlindung.
e. Batu Pipisan: Terdiri dari batu penggiling dan landasannya. Berfungsi untuk menggiling
makanan, menghaluskan bahan makanan.
f. Kapak Persegi: Adalah kapak yang penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau
trapesium. Ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan
Kalimantan. Sebutan kapak persegi diberikan oleh Von Heine Geldern.
g. Kapak Lonjong: Adalah kapak yang penampangnya berbentuk lonjong memanjang.
Ditemukan di Irian, seram, Gorong, Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak.
h. Kapak Bahu: Adalah kapak persegi namun pada tangkai diberi leher sehingga menyerupai
botol persegi. Kapak bahu hanya ditemukan di Minahasa, Sulawesi Utara.
i. Menhir: tugu batu yang didirikan sebagai pemujaan roh nenek moyangmemperingati arwah
nenek moyang dan lain-lain.
Pembagian zaman pada masa pra-sejarah diberi sebutan menurut benda-benda atau peralatan yang
menjadi ciri utama dari masing-masing periode waktu itu. Adapun pembagian kebudayaan zaman
pra-sejarah tersebut adalah:
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
5
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
1. Zaman Batu Tua (Palaelitikum); Ni Made Kerti, S.Ag
Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.3 Kehidupan manusia pra-sejarah
Berdasarkan tempat penemuannya, maka kebudayaan tertua ini lebih dikenal dengan sebutan
kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong. Pada tahun 1935 di daerah Pacitan ditemukan
sejumlah alat-alat daribatu, yang kemudian dinamakan kapak genggam, karena bentuknya seperti
kapak yang tidak bertangkai. Dalam ilmu pra-sejarah alat-alat ataukapak Pacitan ini disebut chopper
(alat penetak).
Soekmono; mengemukakan bahwa asal kebudayaan Pacitan adalah dari lapisan Trinil, yaitu berasal
dari lapisan pleistosen tengah, yang merupakan lapisan ditemukannya fosil Pithecantropus Erectus.
Sehingga kebudayaan Palaelitikum itu pendukungnya adalah Pithecanthropus Erectus, yaitu manusia
pertama dan manusia tertua yang menjadi penghuni Indonesia (Kebudayaan Pacitan).
Di sekitar daerah Ngandong dan Sidorejo dekat Ngawi, Madiun, ditemukan alat-alat dari tulang
bersama kapak genggam. Alat-alat yang ditemukan dekat Sangiran juga termasuk jenis kebudayaan
Ngandong. Alat-alat tersebut berupa alat-alat kecil yang disebut flakes. Selain di Sangiran flakes juga
ditemukan di Sulawesi Selatan. Berdasarkan penelitian, alat-alat tersebut berasal dari lapisan
pleistosen atas, yangmenunjukkan bahwa alat-alat tersebut merupakan hasil kebudayaan Homo
Soloensis dan Homo Wajakensis (Soekmono, 1958: 30).
Dengan demikian kehidupan manusia Palaelitikum masih dalam tingkatan food gathering, yang
diperkirakan telah mengenal sistem penguburan untuk anggota kelompoknya yang meninggal.
2. Zaman Batu Madya (Mesolitikum);
Peninggalan atau bekas kebudayaan Indonesi zaman Mesolitikum, banyak ditemukan di Sumatra,
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores.Kehidupannya masih dari berburu dan menangkap ikan.
Tetapi sebagian besar mereka sudah menetap, sehingga diperkirakan sudah mengenal bercocok
tanam, walaupun masih sangat sederhana. Bekas-bekas tempattinggal manusia zaman Mesolitikum
ditemukan di goa-goa dan di pinggir pantai yang biasa disebut Kyokkenmoddinger (di tepi pantai)
dan Abris Sous Roche (di goa-goa). Secara garis besar kebudayaan zaman Mesolitikum terdiri dari:
alat-alat pebble yang ditemukan di Kyokkenmoddinger, alat-alat tulang, dan alat-alat flakes, yang
ditemukan di Abris Sous Roche.
Kebudayaan zaman Mesolitikum di Indonesia diperkirakan berasal dari daerah Tonkin di Hindia
Belakang, yaitu di pegunungan Bacson dan Hoabinh yang merupakan pusat kebudayaan prasejarah
Asia Tenggara. Adapun pendukung dari kebudayaan Mesolitikum adalah Papua Melanesia.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
6
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
3. Zaman Batu Baru (Neolitikum);
Zaman Neolitikum merupakan zaman yang menunjukkan bahwa manusia pada umumnya sudah
mulai maju dan telah mengalami revolusi kebudayaan. Dengan kehidupan yang telah menetap,
memungkinkan masyarakatnya mengembangkan aspek-aspek kehidupan lainnya. Sehingga dalam
zaman Neolitikum ini terdapat dasar-dasar kehidupan. Berdasarkan alat-alat yang ditemukan dari
peninggalan zaman Neolitikum yang bercorak khusus, dapat dibagi kedalam dua golongan, yaitu;
Kapak persegi, didasarkan kepada penampang dari alat-alat yangditemukannya berbentuk persegi
panjang atau trapesium (von Heine Geldern). Semua bentuk alatnya sama, yaitu agak melengkung
dan diberi tangkai pada tempat yang melengkung tersebut. Jenis alat yang termasuk kapak persegi
adalah kapak bahu yang pada bagian tangkainya diberi leher, sehingga menyerupai bentuk botol yang
persegi.
Kapak lonjong, karena bentuk penampangnya berbentuk lonjong, danbentuk kapaknya sendiri
bulat telur. Ujungnya yang agak lancipdigunakan untuk tangkai dan ujung lainnya yang bulat diasah,
sehingga tajam. Kebudayaan kapak lonjong disebut Neolitikum Papua, karena banyak ditemukan di
Irian.
Kapak pacul, beliung, tembikar atau periuk belanga, alat pemukul kulitkayu, dan berbagai benda
perhiasan dan yang lainnya adalah termasuk benda-benda pada zaman Neolitikum. Adapun yang
menjadi pendukungnya adalah bangsa Austronesia untuk kapak persegi, bangsa Austro-Asia untuk
kapak bahu, dan bangsa Papua Melanesia untuk kapak lonjong.
4. Zaman Logam;
Zaman logam dalam prasejarah terdiri dari zaman tembaga, perunggu,dan besi. Di Asia Tenggara
termasuk Indonesia tidak dikenal adanya zaman tembaga, sehingga setelah zaman Neolitikum,
langsung ke zaman perunggu. Adapun kebudayaan Indonesia pada zaman Logam terdiri dari;kapak
Corong yang disebut juga kapak sepatu, karena bagian atasnya berbentuk corong dengan sembirnya
belah, dan kedalam corong itulah dimasukkan tangkai kayunya. Nekara, yaitu barang semacam
berumbung yang bagian tengah badannya berpinggang dan di bagian sisi atasnya tertutup, yang
terbuat dari perunggu. Selain itu, benda lainnya adalah benda perhiasan seperti kalung, anting, gelang,
cincin, dan binggel, juga manik-manik yang terbuat dari kaca serta seni menuang patung.
Dongson adalah sebuah tempat di daerah Tonkin Tiongkok yang dianggap sebagai pusat kebudayaan
perunggu Asia Tenggara, oleh sebab itu disebut juga kebudayaan Dongson. Sebagaimana zaman
tembaga, di Indonesia juga tidak terdapat zaman besi, sehingga zaman logam di Indonesia adalah
zaman perunggu.
5. Zaman Batu Besar (Megalitikum).
Zaman Megalitikum berkembang pada zaman logam, namun akarnya terdapat pada zaman
Neolitikum. Disebut zaman Megalitikum karenakebudayaannya menghasilkan bangunan-bangunan
batu atau barang- barang batu yang besar. Bentuk peninggalannya adalah:
a. Menhir, yaitu tiang atau tugu yang didirikan sebagai tanda peringatanterhadap arwah nenek
moyang.
b. Dolmen, berbentuk meja batu yang dipergunakan sebagai tempatmeletakkan sesajen yang
dipersembahkan untuk nenek moyang.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
7
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
c. Sarcopagus, berupa kubur batu yang bentuknya seperti keranda ataulesung dan mempunyai
tutup.
d. Kubur batu, merupakan peti mayat yang terbuat dari batu.
e. Punden berundak-undak, berupa bangunan pemujaan dari batu yang tersusun bertingkat-
tingkat, sehingga menyerupai tangga.
f. Arca-arca, yaitu patung-patung dari batu yang merupakan arca nenekmoyang.
Demikian era pra-sejarah di Indonesia dengan kebudayaan Megalitikumnya, mempunyai latar
belakang kepercayaan dan alam pikiran yang berlandaskan pemujaan terhadap arwah nenek moyang.
Bagaimana dengan sejarah agama Hindu?
Sejarah Agama Hindu di Dunia;
Untuk pertama kalinya agama Hindu mulai Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
berkembang dilembah Sungai Shindu di India. Di
lembah sungai ini paraRsi menerima wahyu dari Gambar 2.4 Wilayah Kedudukan Hindu
”Sang Hyang Widhi” (Tuhan) dan diabadikan ke
dalambentuk Kitab Suci Weda. Agama Hindu
sering disebut dengan sebutan SanātanaDharma
(Bahasa Sanskerta) berarti ”Kebenaran Abadi”,
dan Vaidika-Dharma”Pengetahuan Kebenaran”.
Agama Hindumerupakan sebuah agama yang
berasaldari anak benua India. Agama ini
merupakan lanjutan dari agama Weda
(Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan
bangsa Indo-Iran (Arya).
Agama Hindu diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama
tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia
setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa
Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). Dalam kitab Rg Weda, bangsa Arya
menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak
benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Kata sapta sindhu berdekatan
dengan kata Hapta-Henduyang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18)-sastra suci dari
kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah
sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya
baru terbentuk setelah masehi ketika beberapa kitab dari Weda dilengkapi oleh para brahmana.
Zaman munculnya agama Buddha, nama agama Hindu lebih dikenal dengan sebutan sebagai ajaran
Weda.
Agama Hindu sebagaimana istilah yang dikenal sekarang ini, pada awalnya tidak disebut demikian,
bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada waktu itu ia merupakan agama satu-satunya
yang ada di muka bumi. Sanatana Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Kata
”Sanatana dharma” bermakna ”kebenaran yang kekal abadi” dan jauh belakangan setelah ada agama-
agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu dengan yang lainnya. Sanatana
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
8
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
dharma pada zamandahulu dianut oleh masyarakat di sekitar lembah sungai Shindu, penganut Weda
ini disebut oleh orang-orang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lama-
kelamaan istilah indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut sanatana dharma
disebut Hindu.
Agama Hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci yang disebut Weda. Weda
diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas
Tuhan bersamaan dengan terciptanya dunia ini. Karena sifat ajarannya yang kekal abadi tanpa awal
tanpa akhir maka disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus
mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah Negara yang penuh
dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya berbangsa-bangsa dan berkasta-kasta, malah ada
masyarakat dalam masyarakat, serta sungguh banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna kulit
pun bermacam-macam.
Pembicaraan mengenai India berarti adalah pembicaraan yang bercabang- cabang. Dipandang dari
sudut etnologi, India adalah tanah yang beraneka penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat
kebudayaan yang beraneka pula. Semuanya ini tercermin dalam agamanya. Oleh karena itu barang
siapa mulai mempelajari agama Hindu yang bersangkutan segera merasa terlibat dalam sejumlah
ajaran-ajaran, sehingga hampir tidak dapat menemukan jalan untuk mengadakan penyelidikan.
Sepanjang orang dapat menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan India mulai pada zaman
perkembangan kebudayaan- kebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan
2000 tahun sebelum Masehi, di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang
peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan Tigris. Berbagai
cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda- tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang,
menceritakan kepada kita bahwapada zaman itu di sepanjang pantai dari Laut Tengah sampai ke
Teluk Benggala terdapat jenis peradaban yang sejenis dan sudah meningkat pada perkembangan yang
tinggi. Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat Kota Harappa di Punjab dan di
sebelah utara Karachi. Bahkan disitudiketemukan sisa-sisa sebuah Kota, Mohenjodaro namanya,
dimana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga.
Penduduk India pada zaman itu terkenal dengan sebutan bangsa Dravida. Mula-mula mereka tinggal
tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah
negerinya sendiri, karena mereka di sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada
bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung
pipih, berperawakan kecil dan berambut keriting. NamaIndia diambil dari sungai Indus. Perkataan
Indus dan Hindu keduanya berartibumi yang terletak di belakang Sungai Indus, dan penduduknya
dinamakan orang-orang India atau orang-orang Hindu. Mengenai penamaan Negara India, Gustav Le
Bon menyatakan: ”Orang-orang Barat berpendapat bahwa sebutan Sungai Indus telah dipinjamkan
kepada negara yang mengandung berbagai rahasia yang terletak di sebelah belakangnya. Alasan ini
tidak diterimanya bulat-bulat sebab sebutan India itu harus diambil dari sebutan Tuhan Indra.”
Peradaban India telah berlangsung lama. Negara India telah menghasilkan beberapa Filosof agung
sebelum Socrates dilahirkan. Di Negara India ini sudah tersebar tanda-tanda ilmu pengetahuan dan
bangunan-bangunan yang megah pada masa dahulu ketika Kepulauan Inggris masih dalam keadaan
terbelakang. India adalah negara yang penuh dengan keajaiban. India adalah salah satu pusat
peradaban kuno di dunia. Dalam hal ini, India menandingi Mesir, Cina, Assyria, dan Babilonia.
Peradaban India sebelum zaman Arya dapat diketahui dan ditemukan dengan pengungkapan-
pengungkapan pada tingkat kemajuan yang pernah dicapai oleh India dalam bidang arsitektur,
pertanian, dan kemasyarakatan sejakmasa 300 tahun SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan
bangsa Arya.
Antara 2000 dan 1000 tahun SM masuklah kaum Arya ke India dari sebelah utara. Bangsa Arya
memisahkan diri dari bangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di
pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani dan Romawi
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
9
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
dan bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan Asia. Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-
bangsa Indo-German. Hinduisme dapat disamakan dengan rimba-raya yang penuh dengan pohon-
pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dankembang-kembangan. Hinduisme memperlihatkan
berbagai bentuk dan bermacam-macam gejala agama. Gambaran yang diberikan Hinduisme dalam
keseluruhannya memang beraneka warna. Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam
Hinduisme boleh dikatakan terhimpun seluruh sejarah agama dengan segala ragam dan bentuknya.
Hinduisme ialah agama dari jutaanpenduduk India.
Renungkanlah:
”Yo bhùtaý ca bhavyaý ca sarvaý
yaúcàdhiûþhati, svaryasya ca kevalam tasmai
jyeûthàya brahmane namaá.
Terjemahanya:
‘Kami memuja Tuhan Yang Maha Ada, yang menjadikan segalanya yang ada dimasa lalu,
kini dan yang akan datang, yang merupakan satu- satunya intisari kebahagiaan’,
(Atharvaveda, X.8.1).
Diskusikanlah sloka suci ini dengan kelompokmu, deskripsikanlah di depan kelas dengan
tuntunan Bapak/Ibu Guru yang mengajar!
Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata yang singkat, apakah sebenarnya Hinduisme
itu. Lebih tepat rasanya jika Hinduisme kita namakan sebagai suatu sistem sosial yang diperkuat oleh
cita-cita keagamaan dan dengan demikian lalu mempunyai tendensi keagamaan. Tak ada seorang pun
yang dapatmenjadi seorang Hindu dengan jalan menganut suatu agama tertentu. Menjadi seorang
Hindu adalah berkat kelahirannya. Keadaan ini meletakkan kewajiban untuk megikuti peraturan-
peraturan upacara-upacara tertentu, pada umumnya peraturan-peraturan yang berhubungan dengan
pembagian Varna dan khsusunyapemberian korban dan upacara-upacara keagamaan yang timbul dari
pada pembagian Varna tadi. Ikatan-ikatan batin pada upacara yang turun temurun ini sangat kuat. Hal
ini nyata sekali pada diri Gandi yang jelas bersimpati terhadap agama lain, tetapi tetap tinggal di
Hindu karena pertanian, bangsa dan hubunganbatinnya dengan kebudayaan agama sukunya. Bangsa
Arya turun ke lembah Indus kira-kira 1500 tahun SM dan memberi corak pada kebudayaan India.
Bangsa Arya satu suku dengan bangsa Iran.
Menurut pendapat para peneliti bahwa bangsa Arya berasal dari Asia, dahulunya mereka hidup di
Asia Tengah dari negeri Turkistan yang berdekatan dengan Sungai Jihun, kemudian berpindah dalam
kelompok-kelompok yangbesar menuju ke India melalui Parsi, dan mereka juga menuju Eropa.
Nyatalah bahwa kedatangan bangsa Arya ke India terjadi pada abad ke-15 SM. Bangsa Arya ini telah
memerangi kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh bangsa berkulit kuning di India dan berhasil
mengalahkan sebagaian besar dari mereka serta menjadikan kawasan-kawasan yang dikalahkannya
itu sebagai wilayah yang tunduk di bawah pengaruh mereka. Bangsa Arya tidak bercampur dengan
penduduk India dengan jalan perkawinan. Mereka menjaga dengan sungguh-sungguh keturunan
mereka yang berkulit putih itu.Bangsa Arya menggiring penduduk asli Negara India ke hutan-hutan
atau ke gunung-gunung dan menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan yang dalam sastra lama
Bangsa Arya dinamakan sebagai Bangsa Hamba Sahaya. Bangsa Arya ini telah meminta pertolongan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
10
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
dari Tuhan mereka ”Indra”untuk mengalahkan penduduk India. Di antara bacaan do’a mereka adalah
”wahai Indra Tuhan kami! Suku-suku kaum Dasa (budak) telah mengepung kami dari segenap
penjuru dan mereka tidak memberikan korban apa-apa, mereka bukan manusia dan tidak
berkepercayaan. Wahai Penghancur musuh! Binasakanlah mereka dari keturunannya.”
Tentang sejauh mana pengaruh bangsa-bangsa berkulit kuning (Bangsa Turan) dan berkulit putih
(Bangsa Arya) di India telah diterangkan oleh Gustav Le Bon: ”Bangsa Turan adalah bangsa
penyerang yang kuat. Bangsa Arya meninggalkan kesan yang mendalam terhadap bangsa India dari
segi budaya. Dari bangsa Turan, penduduk India mengambil ciri ukuran tubuh dan raut muka. Dari
bangsa Arya mereka mengambil ciri bahasa, agama, undang-undang, dan adat-istiadat.” Pertemuan
bangsa Arya dan bangsa Turan dengan penduduk asli telah menimbulkan kelas-kelas masyarakat di
India, dan merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam sejarah negara ini. Dari bangsa Arya
terbentuk golongan ahli-ahli agama (Brahmana) dan golongan prajurit (Ksatria).
Dari bangsa Turan terbentuk pula golongan saudagar dan ahli-ahli tukang (Waisya). Pada mulanya
orang-orang Hindu yang bergaul dengan bangsa Turan tidak termasuk dalam pembagian ini. Tetapi
dalam beberapa zaman kemudian peradaban Arya meresap ke dalam sebagian diri mereka.
Selanjutnya bangsa Arya pun terbentuk dari kalangan orang-orang Hindu golongan keempat, yaitu
golongan pesuruh dan hamba sahaya (Sudra). Penduduk-penduduk asli yang tidak tersentuh dengan
peradaban Arya adalah disebabkan karena mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa pendatang
itu. Maka, tinggallah mereka jauh dari pembagian ini dan terus menjadi orang-orang yang tersingkir
atau terhalau dari masyarakat (out-casts). Bangsa Arya ketika masuk ke India kemungkinan kurang
beradab dari pada bangsa Dravida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul dalam ilmu
peperangan daripada bangsa Dravida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India, mereka itu masih
merupakan bangsa setengah nomaden (pengembara), yang baginya peternakan lebih besar artinya
daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat
dihargai, sehingga binatang-binatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Dravida yang
tinggal di kota- kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan disepanjang
pantai, maka bangsa Arya itu bolehlah dikatakan primitive.
Dahulu orang belum tahu dengan tepat dan selalu memandang kebudayaan yang ada di India dibawa
oleh bangsa Arya. Sesudah adanya penggalian- penggalian di India, pandangan orang berubah dan
makin banyak diketahui bahwa bermacam-macam unsur di dalam kebudayaan India berasal dari
kebudayaan Dravida yang tua itu. Bangsa Arya belum mempunyai patung- patung Dewa, bangsa
Dravida sudah. Sebuah gejala yang khas di dalam agama Hindu ialah pengakuan adanya Dewa-Dewi
induk, itupun suatu gejalapra-Arya. Banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak
berasal dari agama bangsa Arya, melainkan berasal dari bangsa Dravida. Dengan demikian dapat
dinyatakan bahwa agama Hindu sebagai agamatumbuh dari dua sumber yang berlainan, tumbuh dari
perasaan dan fikiran keagamaan dua bangsa yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat
berlainan, tetapi kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hindu tua, unsur-unsur Arya-
lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak mengherankan karena tulisan-tulisan itu berasal dari
zaman bangsa Arya memasuki India dengan kemenangan-kemenanganya. Pengaruh bangsaDravida
tentunya belum begitu besar. Agama bangsa Arya dapat kita ketahuidari kitab-kitab Weda (Weda
artinya tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama Hindu disebut masa Weda. Maulana
Mohamed Abdul Salam al- Ramburi juga berkata: ”Umat India mudah menerima apa saja pemikiran
dankepercayaan yang ditemuinya.
Agama Hindu adalah yang tertua di antara agama-agama yang ada. Penyebarannya meliputi
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
11
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
kebanyakan atau semua orang India. Buku Hinduism telah menerangkan sebab-sebab terjadinya hal
demikian dengan menuliskan; amat sulit untuk dikatakan, bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama
dalam pengertiannya yang sangat luas. Ini merupakan kehidupan India dengan caranyatersendiri yang
dianggap sebagai satu dari semua masalah suci dan masalah hinakarena di dalam pemikiran Hindu
tidak ada batas yang memisahkan keduanya. Agama Hindu adalah suatu agama yang berevolusi dan
merupakan kumpulan adat-istiadat yang tumbuh dan berkembang pada daerah yang dilaluinya.
Kedudukan bangsa Arya sebagai penakluk negeri, yang lebih tinggi daripada penduduk asli telah
melahirkan adat-istiadat Hindu. Kiranya dapat dikatakan bahwa asas agama Hindu adalah
kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami perubahan sebagai hasil dari percampuran mereka
dengan bangsa-bangsa lain, terutama sekali adalah bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa
perjalanan mereka menuju India. Agama Hindu lebih merupakan suatu tatanan hidup dari pada
merupakan kumpulan kepercayaan. Sejarah menerangkan mengenai isi kandungannya yang meliputi
berbagai kepercayaan, hal-hal yang harus dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama Hindu tidak
mempunyai kepercayaan yang membawanya turun hingga kepada penyembahan batu dan pohon-
pohon, dan membawanya naik pula kepada masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus.
Seandainya Agama Hindu tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula halnya dengan
Weda. Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan, adat-istiadat, dan hukum-hukum
juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para penganut agamaHindu mempercayai bahwa Weda
adalah suatu kitab yang ada sejak dahulu yang tidak mempunyai tanggal permulaan. Kitab Weda
diwahyukan sejak awal kehidupan, setara dengan awal yang diwahyukannnya.
Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di sekitar sungai itu
terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjodaro dan Harappa. Mereka sudah menetap disana
dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah
di sekitarnya. Menurut teori kehidupan bangsa Dravidamulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena
adanya pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan berkulit
putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India dan membentuk
Kebudayaan Dravida, sebagian lagi ada yang bercampur antara bangsa Arya dan Dravida yang
kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu.
Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.5 Peninggalan Mohenjodaro
Letak Geografis Sungai Indus, di sebelah utara berbatasan dengan China yang dibatasi Gunung
Himalaya, selatanberbatasan dengan Srilanka yang dibatasi oleh Samudra Hindia, barat berbatasan
dengan Pakistan, timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh. Peradaban sungai Indus
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
12
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
berkembang disekitar (2500 SM). Kebudayaan kuno India ditemukan di Kota tertua India yaitu
daerah Mohenjodaro dan Harappa. Penduduk Mohenjodaro & Harappa adalah bangsa Dravida.
Terdapat hubungan dagang antara Mohenjodaro dan Harappa dengan Sumeria. Mohenjodaro dan
Harappa ditata dengan perencanaan yang sudah maju, rumah-rumah terbuat dari batu-bata, saluran
air bagus, jalan raya lurus dan lebar. Mohenjodaro dan Harappa sebagai Kota tua yang dibangun
berdasarkan penataan dan peradaban yang maju. Peradaban Lembah Sungai Indus diketahui melalui
penemuan-penemuan arkeologi. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibu Kota daerah Lembah
Sungai Indus bagian selatan dan Kota Harappa sebagai ibu Kota Lembah Sungai Indus bagianutara.
Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat peradaban bangsa India padamasa lampau. Di Kota
Mohenjodaro dan terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan yang dibangun secara
teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan itu sudah terbuat dari
batu bata lumpur. Wilayah Kota dibagi atas beberapa bagian atau lokasi yang dilengkapi dengan jalan
yang ada aliran airnya.
Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi mata pencaharian
utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telah berhasil menyalurkan air
yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerah pedalaman. Pembuatan saluran
irigasi dan pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkan bahwa masyarakat Lembah Sungai
Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasil pertanian yang utama adalah padi, gandum,
gula/tebu, kapas, teh,dan lain-lain. Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan
sanitasi (kesehatan) lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah
memperhatikan faktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah
dilengkapi denga jendela. Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan
teknologi. Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan- peninggalan budaya yang
ditemukan, seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan
emas, perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alat
peperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah. Demikian sekilas tentang kebudayaan
prasejarah di India sebagai tempat tumbuh danberkembangnya agama Hindu yang sampai saat ini
kita yakini kebenarannya sebagai pedoman dan penuntun dalam hidup dan kehidupan ini.
Seiring dengan perkembangan zaman, sebagaimana negeri lainnya yang diperintah oleh masing-
masing rajanya dalam sebuah kerajaan, negeri India jugademikian adanya. Raja-raja yang pernah
memerintah di Kerajaan Maurya antaralain: Candragupta Maurya. Setelah berhasil menguasai Persia,
pasukan IskandarZulkarnaen melanjutkan ekspansi dan menduduki India pada tahun 327 SM melalui
Celah Kaibar di Pegunungan Himalaya. Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar
Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab. Pada tahun 324 SM muncul gerakan di bawah
Candragupta. Setelah IskandarZulkarnaen meninggal tahun 322 SM, pasukannya berhasil diusir dari
daerah Punjab dan selanjutnya berdirilah Kerajaan Maurya dengan ibu Kota di Pattaliputra.
Candragupta Maurya Menjadi raja pertama Kerajaan Maurya. Pada masa pemerintahannya, daerah
kekuasaan Kerajaan Maurya diperluas ke arah timur, sehingga sebagian besar daerah India bagian
utara menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktu singkat, wilayah Kerajaan Maurya sudah
mencapai daerah yang sangat luas, yaitu daerah Kashmir di sebelah barat dan Lembah Sungai Gangga
di sebelah timur.
Ashoka memerintah Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan cucu dari
Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya mengalami masa yang
gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun, setelah yang bersangkutan
menyaksikan korban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga, timbul penyesalan dan tidak
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
13
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
lagi melakukan peperangan. Mula-mula Ashoka beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut
agama Buddha. Sejak saat itu Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara.
Setelah Ashoka meninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan sering terjadi
dan baru pada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil mempersatukan kerajaan yang terpecah
belah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta dengan Candragupta I sebagai rajanya.
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak Dewa.
Dewa-Dewa tersebut misalnya Dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu). Masyarakat Lembah
Sungai Indus juga menghormati binatang-binatang seperti buaya dan gajah, pohon seperti pohon
pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terimakasih terhadap kehidupan yang
dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Interaksi bangsa Dravida dan bangsa Arya
menghasilkan Agama Hindu. Bagaimana dengan perkembangan agama Hindu di Dunia?
Sejarah perkembangan agama Hindu di Dunia dapat diketahui dari berbagaijenis kitab suci Hindu
seperti; weda sruti, weda smrti, brahmana, upanisad dan yang lainnya. Pertumbuhan filsafat
keagamaan dan perkembangan pelaksanaan kehidupan beragama tidak dapat terlepaskan dari
sumber-sumber tersebut. Dengan demikian perkembangan agama Hindu senantiasa bersifat religius.
Agama Hindu merupakan sumber kekuatan bathin, yang mampu menjiwai seluruh aktivitas
kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Kehadiran agama- agama yang ada di dunia ini pada
umumnya di dasarkan atas wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa yang diterima
oleh para Maharsi ”orang suci” agama yang bersangkutan. Agama-agama itudiwahyukan dengan
tujuan untuk mempermulia kehidupan manusia baiklahir maupun batin. Pada umumnya sebutan atau
penamaan dari suatu agamabiasanya memiliki keterkaitan dengan para pendirinya. Sebagai contoh
agama Buddha memiliki hubungan dengan penamaan Sidharta Gauthama yang disebut-sebut menjadi
pendirinya, agama Kristen memiliki keterkaitan dengan Yesus Kristus sebagai nabi dan pendirinya.
Berbeda dengan nama agama-agama tersebut di atas, agama Hindu tidak dikaitkan dengan nama salah
seorang Maha Rsi penerima wahyu sebagai pendirinya, karena agama Hindu diyakini sebagai wahyu
Tuhan Yang Maha Esa dan diterima oleh banyak Maha Rsi. Para tokoh menyatakan sebutan Hindu
itu berasal dari kata Shindu, yaitu sebutan sebuah sungai yang terdapat di wilayah India bagian Barat
Daya yang sekarang dikenal dengan nama punjab. Punjab artinya daerah aliran 5 (Lima) anak sungai.
Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.6 Khyber-pass
Peninggalan di Mohenjadaro,diperkirakan ± tahun 6000 SM datanglah bangsa Arya dari daratan
Eropa bagian timur ”kemungkinan dari wilayah Hungaria dan Bosnia atau Cekoslovakia” memasuki
daerah India secara bertahap. Bangsa Arya memasuki India melalui celah Kaiber ”Khyber Pass” yang
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
14
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
terletak diantara pegunungan Himalaya dan Hindu Kush. Bangsa Arya tergolong ras bangsa
indojerman yang memiliki kegemaran mengembara. Setelah memasuki wilayah India, mereka
kemudian menetap di lembah sungai Sindhu yang kondisi alamnya sangat menarik dan subur.
Sebelum bangsa Arya memasuki India, daerah ini telah diuni oleh bangsa Dravida. Bangsa Dravida
disebut-sebut sebagai bangsa yang telah memiliki peradaban sangat tinggi. Para ahli berhasil
menemukan bekas-bekas peninggalan bangsa Dravida di Harappa dan Mohenjodaro. Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan di wilayah Mohenjodaro dan Harappa, ditemukan beberapa
peninggalan yang menunjukkan mengandung nilai-nilai ajaran agama Hindu.Diantara penemuan
yang dimaksud adalah;
1. Arca manusia berkepala tiga, bertangan empat, berdiri dengan kaki kanandan kaki kirinya
terangkat ke depan. Arca ini terbuat dari dari batu kapur yang dibakar. Postur arca ini
memberikan inspirasi kepada kita tentang adanya arca Siwanatharaja. Arca Siwanatharaja
adalah merupakan perwujudan dari adanya pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang
Widhi/Tuhan Yang Maha Esa sebagai raja dari alam semesta. Sangat memungkinkan
perkembangan selanjutnya sampai di Indonesia khususnya ”Bali” yang mana hal ini
mengingatkan kita pada fungsi arca Shang Hyang Acintya.
2. Materai yang berisi hiasan burung elang yang sedang mengembangkan sayapnya, kepalanya
menghadap ke kiri-atas, di atas kepalanya terdapat hiasan ular. Diperkirakan konsep inilah
yang memberi inspirasi pada hiasan burung Garuda bersama para naga yang terdapat dalam
kitab Itihasa.
3. Materai yang bergambarkan orang yang duduk bersila, bermuka tiga bertanduk dua, hiasan
kepalanya meruncing ke atas, dan dikelilingi oleh para binatang seperti; gajah, lembu,
harimau, dan Badak. Konsep inilah kemudian diperkirakan memberikan inspirasi kepada kita
tentang pemujaan kepada Dewa Siwa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati.
Selain itu juga ditemukan materai yang berisi lukisan pohon yang berdekatan dengan seorang
Dewa. Konsep ini kemudian dapat dihubungkan dengan keberadaan pohon Kalpataru atau
pohon Surgawi. Pohon Kalpataru diyakini oleh umat dapat mengabulkan semua keinginaan
manusia seperti yang terdapat dalam kitab Ithihasa.
4. Bangunan rumah yang sudah memiliki tata ruang dan tata letak yang sangat baik. Hal ini dapat
dibuktikan dari letak bangunan dan adanya kamar- kamar yang memiliki fungsi berbeda-
beda. Di samping itu juga diketemukanada jalan-jalan yang lebar dan lurus serta di samping
kiri-kanan dari jalan tersebut sudah dilengkapi dengan parit yang berukuran sangat dalam
sebagai pembuangan air limbah dan air hujan.
Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.7 Bangunanrumah di Mohenjodaro
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
15
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
5. Arca orang tua yang berjanggut danmempergunakan jubah, serta arcaseorang wanita yang
bentuk badannya agak gemuk. Kedua arca tersebut dikenal dengan sebutan arca Terracota,
yang bahannya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Diperkirakan arca orang tua yang
berjanggut itu adalah sebagai arca tokoh spiritual, sedangkan arca seorang perempuan itu di
duga sebagai arca dewi kesuburan.
6. Permainan anak-anak yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Dan disamping itu juga
diketemukan kolam ”Latra” lengkap dengan pancurannya yang dimungkinkan sebagai tempat
permandian umum atau sebagai tempat yang disucikan untuk memandikan arca-arca dewa.
7. Sandal yang terbuat dari bahan kaca. Penemuan ini memberikan bukti kepada kita bahwa
peradaban lembah sungai Sindhu memiliki nilai kemajuan yang sangat tinggi.
Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.8 Wilayah Kedudukan Hindu
Kehadiran bangsa Arya ke India ”Punjab” dinyatakan menimbulkan peperangan dengan penduduk
asli India. Bangsa Dravida sebagai penduduk asli India berhasil dikalahkannya dan terdesak ke
Selatan. Semula bangsa Arya bermaksudmempertahankan kemurnian darah ”ras” mereka, tetapi
kemudian secara perlahanmulai terjadi percampuran darah dan kebudayaan dengan bangsa Dravida.
Pencampuran darah dan Kebudayaan ini menghasilkan kebudayaan baru di lembah sungai Sindhu.
Pada masa itu diantara mereka telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Yunani dan Persia.
Bangsa Persia yang datang ke lembah sungai Sindhu menyebutkan kata Sindhu dengan kata Hindu,
rupanya bangsa Persia itu tidak memiliki lafal ”S” dalam bahasa mereka, sedangkan bangsa Yunani
menyebut Sindhu dengan sebutan Indo.Pada beberapa abad kemudian, bangsa- bangsa barat lainnya
mengenal daerah ini dan menyebutnya dengan nama India. Dari data-data tersebut dapat
dikemukakan bahwa nama Hindu berasal dari kata Sindhu, yaitu sebuah nama sungai yang berada di
wilayah India bagian Barat Daya. Lembah sungai Sindhu yang amat subur itu memiliki lima aliran
sungai pada hulunya dan kelima aliran tersebut dinamakan Pancanadi. Perkembangan selanjutnya
”India” disebut dengan nama Arya Wartha yang berarti daerah yang didiami oleh bangsa Arya,
Bhatara Warsa yang artinya daerah yang penuh Hujan, Jambudwipa yang artinya pulau yang
berbentuk buah jambu. Hal ini sangat memungkinkan karena anak benua India ini ada kemiripan atau
menyerupai buah jambu bila kita perhatikan sebagai mana dilihat dalam peta dunia.
Adanya pembauran budaya dan kepercayaan diantara bangsa arya dengan bangsa Dravida dalam
perkembangan berikutnya rupanya mengalamikemajuan yang sangat pesat sampai pada munculnya
agama Hindu di lembah sungai Sindhu. Semua bentuk budaya dan kepercayaan yang ada pada masa
itu, dirangkul dan mengalami penyempurnaan senafas dengan keberadaan agama Hindu. Hal ini
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
16
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
dimungkinkan karena agama Hindu bersifat universal dan fleksibel.
Perkembangan Agama Hindu di India.
Terhitung sejak ribuan tahun yang lalu, India telah dikenal oleh berbagai macambangsa-bangsa di
dunia. Disekitar tahun 4000 SM negeri India sudah banyak didiami oleh berbagai macam suku
bangsa, yang kemudian membentuk system pemerintahan Kota yang berpisah-pisah. Mohenjodara
dan Harappa adalah Kotayang paling maju, dan didiami oleh bangsa Dravida. Disekitar (3000 – 1500)
SM. Kebudayaan Mohenjodaro dan Harappa sedang suburnya, datanglah bangsa Arya (bangsa kulit
putih) menyerang India dan menghancurkan hasil- hasil kebudayaannya. Dalam kondisi seperti itu
terjadilah percampuran kebudayaan (kebudayaan asli bangsa Dravida – India dengan bangsa Arya –
Kaspia) dan akhirnya munculah kebudayaan Weda.
Menurut catatan yang ada menyatakan bahwa sejarah perkembangan agama Hindu di India,
berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang yakni berabad-abad lamanya hingga sampai
sekarang. Rentang waktu yang sangat panjang itu memungkinkan bila sejarah perkembangannya, kita
kelompokkan menjadi beberapa fase sebagaimana pola pemikiran yang disampaikan oleh”Govinda
Das Hiduism Madras”. Pengelompokan yang dimaksud adalah sebagai berikut; Zaman Weda, Zaman
Brahmana, dan Zaman Upanisad.
1. Zaman Weda.
Zaman Weda diperkirakan berlangsung lebih kurang dari tahun 1500 SM sampai dengan tahun 600
SM. Pada zaman ini muncullah kitab suci weda yang isinya merupakan kumpulan dari wahyu Tuhan
Yang Maha Esa, yang diterima oleh para Maha Rsi. Penjelasan ini dapat dijumpai dalam kitab
Nirukta, yaitu kitab yang memuat penafsiran autentik mengenai kata-kata yang ada dalam kitab suci
weda yang disebut ”Bhumikabhasya” yang ditulis oleh Maha Rsi Sayana. Kitab Nirukta juga
menjelaskan bahwa sabda suci ituditurunkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan diterima oleh para Maha
Rsi.
Maha Rsi penerima wahyu disebut Mantra Drstah iti Rsih. Dari penjelasan itu dapat disimpulkan
bahwa Maha Rsi penerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa itu adalah orang-orang suci, yang
dapatberhubungan langsung dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam
sastra agama Hindu disebutkan bahwa ada banyak nama para Maha Rsi penerima wahyu, beberapa
diantaranya dikenal dengan sebutan sapta Rsi penerima Wahyu, yaitu Maha Rsi Grtsamada,
Wiswamitra, Wamadewa, Arti, Baradwaja, Wasitwa dan Kanwa. Selain Sapta Rsi penerima wahyu
Tuhan, juga ada disebutkan dua puluh tiga Maha Rsi lainnya yang dikenal dengan nama
”Nawawimsatikrtyasca Vedavyastha Maharsibhih” diantaranya adalah Maharsi; Daksa, Usana,
Swayambhu, Wrhaspati, Aditya, Mrtyu, Indra, Wasistha, Saraswata, Tridhatu, Tridrta, Sandhyaya,
Akasa, Dharma, Tryguna, Dananjaya, Krtyaya, Ranajaya, Bharadwaja, Gotama, Uttama, Parasara,
dan Wyasa.
Menurut tradisi Hindu, Maha Rsi yang terpopuler dan sangat besar jasanya dalam menghimpun serta
mengkodefikasikan weda adalah Maha Rsi Wyasa. Beliau juga dikenal dengan sebutan Kresna
Dwaipayana Wyasa. Maha Rsi Wyasa mengkodefikasi kitab-kitab weda menjadi catur weda samhita,
dibantu oleh empat Maha Rsi lainnya yang disebut-sebut sebagai siswanya, yaitu:
a. Maha Rsi Paila, yang juga disebut Maharsi Puhala, beliau sebagai penyusun kitab suci Rg.
Weda Samhita.
b. Maha Rsi Waisampayana, sebagai penyusun kitab suci Yayur Weda Samhita.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
17
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
c. Maha Rsi Jaimini, sebagai penyusun kitab suci Sama Weda Samhita.
d. Maha Rsi Sumantu, sebagai penyusun kitab Atharwa Weda Samhita.
Selain sebagai penghimpun kitab catur Weda samhita, Maha Rsi Wyasa juga berjasa menyusun kitab
Purana, Mahabharata, Bhagawadgita, dan kitab Brahmasutra. Dalam kesusatraan Hindu, Maha Rsi
wyasa juga memilikisebutan lain seperti Bagawan Byasa, Kresnadwaipayana, dan Wyasa Dewa.
Diantara jenis-jenis weda itu, untuk yang pertama kali ditulis adalah Rg. Weda. Setelah itu dilanjutkan
dengan kitab-kitab weda yang lainnya. Tatanan hidup beragama pada zaman itu sepenuhnya
didasarkan atas ajaran- ajaran yang tercantum pada weda samhita. Pembelajaran agama kepada umat
lebih menekankan pada pembacaan dan merafalkan ayat-ayat suci weda, dengan menyanyikan serta
mendengarkan secara berkelompok.
Pada zaman weda pemujaan terhadap para dewa yang dipandang sebagai suatu kekuatan yang nyata
dan berpribadi sangat mendominasi. Para Dewa dipuja dengan nyanyian yang sangat indah, disertai
dengan menghaturkansajian yang dipersembahkan kepada-Nya. Persembahan sesajen dan pemujaan
kepada para dewa dilakukan setiap hari, selain itu ada juga yang dilakukan secara periodik dengan
tujuan untuk memohon anugerah agar kehidupan seseorang menjadi selamat dan sejahtera baik lahir
maupun batin. Keberadaan hukum alam yang disebut ”Rta” sangat dipercaya pada zaman Weda,
karena hukum itulah yang mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, seperti; geraknya
matahari, bintang-bintang, dan planet-planet lain yang ada di alam semesta. Semua yang ada di alam
semesta ini harus tunduk pada ”Rta” tanpa terkecuali. Barang siapa yang mencoba menentangnya
pasti binasa. Manusia dan para dewa seolah-olah memiliki hubungan kekeluargaan yang amat erat.
Para dewa dipandang sebagai bapak atau ibu sebagai tempat memohon berkah dan perlindungan
dalam hidup ini. Pandangan manusia terhadap susunan alam pada masa itu sudah cukup luas.
Disebutkan bahwa alam semesta itu terdiri dari; matahari, bumi, langit, dan surga yang masing-
masing dari wilayah itu ada Dewanya. Bumi yang ditempati oleh manusia itu dipandang sebagai
sesuatu yang nyata, bukan merupakan hal yang semu. Hal itu dapat dibuktikan dari doa-doa yang
dipanjatkan kepada para dewa, banyak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat keduniawian,
misalnya seperti; memohon kekayaan, kesejahteraan, keselamatan, banyak anak, kesuburan,
kesehatan, dan lain sebagainya.
Pada zaman weda dewa-dewa yang dipandang populer dalam kitab suci weda ditampilkan melalui
cerita mengenai mitologi para dewa. Dengan adanya uraian-uraian mengenai mitologi dewa-dewa
itu, diharapkan dapatmemperjelas tentang ajaran Ketuhanan dalam agama Hindu. Dewa-dewa yang
dipandang populer pada zaman weda adalah Dewa; Agni, Indra, Rudra, dan Waruna. Adapun
mitologinya dapat dikisahkan secara singkat sebagai berikut:
a. Dewa Agni
Pemujaan terhadap Dewa Agni sangat banyak dijumpai dalam kitab suci weda terutama dalam kitab
suci Rg weda. Keberadaan Dewa Agni selalu dihubungkan dengan upacara persembahan api. Wujud
Dewa Agni digambarkan berambut nyala api, berjenggot pirang, berdagu tajam, bergigi emas dengan
kepalanya selalu bersinar. Sinar Dewa Agni seperti sinar matahari pagi. Beliau disebut sebagai putra
Dewa Dyanus yaitu dewa langit. Dewa Agni sering disebut sebagai putra dewa langit dan bumi.
Disebutkan pula bahwa Dewa Agni adalah keturunan air, yang namanya sering dihubungkan dengan
Dewa Indra. Dewa Agni Dipandang sebagai dewa pemimpin upacara, dan orang-orang melakukan
persembahan pertama kali di dunia ini hanya pada DewaAgni. Selanjutnya matahari dipandang
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
18
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
sebagai perwujudan Dewa Agni, yang di pandang sebagai cahaya sorga pada waktu langit cerah.
Dewa Agni juga disebut Grhapati yang artinya tuan-nya rumah tangga, dandewa yang selalu
mengunjungi orang-orang dirumahnya. Dewa Agni sering dipanggil sebagai ayah, sebagai saudara,
sebagai seorang putra daripemujanya. Dewa Agni menghantarkan persembahan seseorang atau orang
banyak kepada para dewa, mengajak para dewa untuk hadir pada waktu upacara keagamaan. Dewa
Agni dipandang sebagai duta dari para dewa dan para pemujanya untuk menghantar suatu
persembahan kepadanya. Dalam pelaksanaan upacara keagamaan, Dewa Agni dipandang sebagai
pendamping para pendeta, oleh sebab itu beliau sering dipanggil dengan sebutan Vipra, Purohita,
Hotri, Adwaryu dan Brahman. Semua sebutan itu mengandung pengertian pendeta. Kependetaan
adalah karakter yang paling menonjol dari Dewa Agni, oleh karena itu beliau dipandang sebagai
pendeta yang besar, yang mengetahui semua rincian upacara, maha bijaksana dan mengetahui
segalanya. Oleh karena itulah beliau selalu dipanggil dengan sebutan Yatadewa yang artinya
mengetahui semua yang lahir.
Dewa Agni dipandang sebagai dewa yang amat dermawan oleh parapemuja-Nya. Beliau memberkahi
mereka bermacam-macam karunia, baik berupa kebahagian dalam rumah tangga, maupun yang
lainnya. Kitab Mahabrata mengisah bahwa Dewa Agni dipandang sebagai dewa yang membakar
hutan Kandhawa. Sedangkan kitab Ramayana menyebutnya sebagai penjelmaan Nila. Dalam kitab
suci Purana, disebutkan DewaAgni mengawini Dewi Svaha dengan tiga orang putranya, yaitu
Pavaka, Pavamana, dan Suchi. Dalam seni arca India, Dewa Agni dipuja diberbagai candi-candi yang
ada. Beliau digambarkan sebagai orang tua berbadan merah, bermata enam, bertangan tujuh,
memegang sendok kecildan sendok besar sebagai pelaksana upacara Agnihotra, mempunyai tujuh
lidah, empat tanduk, tiga kaki, rambutnya dikepang, perutnya besar, dan berbusana merah. Pada kaki
kiri dan kaki kanannya terdapat arca Svaha dan Svadha, mengendarai biri-biri jantan. Nama lain dari
Dewa Agni adalah Vahni artinya membakar, Vitihotra artinya memberi pahala kepada penyembah,
Dananjaya artinya mengalahkan musuh, Dhumaketu artinya bermahkota Asap, Chagartha artinya
mengendarai kambing betina, dan Sapta Jihwa yang artinya berlidah tujuh. Berikut ini adalah mantra
yang termuat dalam kitab suci weda, sering diucapkan untukmemuliakan Dewa Agni, antara lain;
”Agnih purvebhri rsibhirrijyo nutairita, sa devam eha vaksati”.
Terjemahannya:
Demikianlah Agni menjadi sasaran pemujaan para resi pada zaman dahulu dan zaman
sekarang. Ia mengundang para dewa dari semua arah untuk datang pada upacara korban ini.
”Agnina rayimasnavat posameva dive-dive, yasam viravattamam”.
Terjemahannya:
Atas karunia Agni setiap hari, dunia kini mendapatkan kemakmuran,yang menyebabkan
adanya kekuatan, jasa dan kepahlawanan yang mulia.
b. Dewa Indra
Keberadaan Dewa Indra sangat dominan dalam kitab suci Weda. Disebutkan ada 200 mantra yang
mengagungkan Dewa Indra dalam Weda. Kata Indra berasal dari kata Ind dan dri yang artinya
memberi makan. Menurut Niruktha kata Ind berarti penuh dengan tenaga. Indra pada mulanya adalah
Dewa hujan yang bersenjatakan bajra atau petir mengalahkan raksasa Vrtra. Dewa Indra lebih dikenal
sebagai Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng musuh, karena itu Dewa Indra disebut Tri
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
19
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Puramdhara (Tri Puramtaka). Dalam kitab Purana dikisahkan bahwa, beliau disebut-sebut sebagai
Dewa Khayangan (sorga). Beliau merupakan saksi agung setiap perbuatan manusia, karena memiliki
seribu mata (Sahasraaksa). Kendaraan Dewa Indra adalah seekor gajah Airavata dan istrinya bernama
Sanchi atau Indriani. Keberadaannya banyak dikisahkan dalam kitab Itihasa dan Purana. Nama lain
dari Dewa Indra adalah; Sakra (yang mulia), Divapati (Raja dari para dewa), Bajri (yang bersenjata
Bajra), Meghavahana (yang berkendaraan awan), Mahendra (dewa yang agung), Svargapati (Raja
Khayangan), Mahakasa (Ia yang bermatahebat), Sahasraksa (Ia yang bermata seribu). Berikut ini
adalah mantrayang terdapat dalam kitab suci weda yang memuliakan Dewa Indra;
”Dyava cid asmai prtivi namate, susmac cid asya parvata bhayante,yah somapa nicito
vajravahur, vajrahasta sa janasah Indrah”.
Terjemahannya:
Bahkan surga dan dunia tunduk kepadaNya. Bahkan gunung-gunung pun takut di depan
kehebatannya. Dia-lah yang dikenal sebagai peminum soma, memegang vajra dengan
lengannya, yang memegang vajra ditangannya. Dia-lah Indra, oh orang-orang laki.
”Yah sasvato mahi eno dadhanan, amanymanah charna jaghana. Yahsadhate
nanudadati srdhyam, yo darso hanta sa janasa Indrah”.
Terjemahannya;
Dia yang membunuh dengan panahnya, mereka yang berbuat dosa besar yang tidak disenangi.
Ia tidak mengampuni orang-orang yang congkak dengan kecongkakannya. Dia-lah yang
membunuh Dasyu. Dia-lah Indra, oh orang-orang laki.
c. Dewa Rudra
Dewa Rudra diidentikan dengan Dewa Siwa (Siwarudra). Beliau digambarkan sebagai laki-laki
bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan punggungnya berwarna merah. Kepala berwarna biru,
lehernya berwarna putih, dan kulitnya berwarna merah kecoklat-coklatan. Rambutnya panjang
terurai, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keemasan, tangannya memegang busur dan panah
yang bercahaya.Karakternya nampak angker dan menakutkan, namun hatinya lembut dan maha
mengasihi. Beliau tinggal di pegunungan dan dipandang sebagai Dewa pengasih kepada semua
makhluk, bagaikan seorang ayah yang mengasihi anaknya. Beliau adalah dukunnya para dukun yang
memiliki berjenis-jenis pengobatan, dengan julukan JalasaBhesaya (pemilik obat yang sejuk). Hujan
yang disertai dengan angin ribut dan geledek yang memberikan kesuburan adalah tenaga
pengobatannya. Dewa Rudra juga disebut dengan Tryambaka, Kapardin dan delapan aspek dari
Rudra adalah Siwa, Bhawa, Isana, Pasupati, Bhima, Ugra, Mahadewa, dan Rudra.
Berikut ini adalah mantra untuk memuliakan Dewa Rudra, yangtermuat dalam
kitab suci weda;
”Tvadattebhi Rudra samtamebhe, satam hima asiya bhesa jebhih, Viasmad
dveso vitaram vyambho, vi amivas catayasva visucih”.
Terjemahannya;
Dengan obat-obatan yang amat menyegarkan, engkau berikan, oh Rudra, semoga hamba
mencapai hidup seratus musim dingin. Usirlah jauh-jauh kebencian, kesedihan, dan penyakit
dari kami dalam semua arah.
”Srestho jatasya Rudra sriyasi tavatamas tavatam vajrabaho, Parsinah
param ambasah suasti, visva abhiti rapaso yuyodhi”.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
20
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Terjemahannya;
Engkau adalah yang terbaik dari yang lahir, dalam hal kemuliaan, oh Rudra dalam kemuliaan,
paling kuasa dalam hal kekuasaan, oh pemegang vajra.
d. Dewa Waruna
Dewa Waruna disebut juga Baruna. Beliau selalu dihubungkan dengandewa laut. Kata waruna berasal
dari kata Var (menutup atau membentang) yang berarti melindungi dari segala penjuru. Dari kata ini
kemudian dihubungkan dengan laut. Dewa Waruna mengamatisemua mahkluk dari tempatnya yang
tinggi, dimana matahari diyakini sebagai istana-Nya. Beliau digambarkan sebagai laki-laki yang
tampan berkulit putih mengendarai monster laut yang disebut Makara (Gajahmina) berupa binatang
laut yang pada bagian depannyaberwujud seekor kijang, sedangkan bagian belakangnya berwujud
seekor ikan. Istri Waruna bernama Waruni yang tinggal di istanamutiara. Dewa Waruna adalah
penguasa hukum alam yang disebutRta. Nama lain dari Dewa Waruna adalah Pracheta (yang
bijaksana), Jalapati (raja air), Yadapati (raja binatang laut), Ambhuraja (raja air), Pasi (yang
membawa jaring). Berikut ini adalah mantra yang termuat dalam kitab suci weda untuk memuliakan
Dewa Waruna;
”Agam su tubhayam varuna svadhavo, hdri stoma upasritas cid astu, sam nah
kseme sam u yoge no astu, yuyam pata svastibhih sada nah”.
Terjemahannya;
Semoga pujaan ini berkenan pada hatimu. Oh Waruna yang bebas. Semoga kami selamat
dalam istirahat, selamat dari kerja. Lindungilah kami selalu dengan berkahmu.
”Prece tad eno varuna didrksu po emi cikituse viprccham, Samanam in me
kanvayas cid ahur, ayam ha tubhyam varuno hrnite”.
Terjemahannya;
Kami bertanya tentang dosa itu dengan maksud ingin mengetahuinya. Kami mendekati dia
yang arif untuk bertanya. Sang Pendeta mengatakan satu dan hal yang sejenis kepada kami.
Waruna ini marah kepadamu.
Pada zaman weda ajaran agama Hindu lebih menonjolkan pembacaan ayat-ayat mantra yang tertulis
dalam berbagai kitab suci weda. Para Dewa dipuja dengan khusyuknya. Pemujaan terhadap para dewa
pada masa ini ditujukan kehadapan Dewa; Agni, Indra, Rudra dan Waruna. Demikianlah sejarah
perkembangan agama Hindu pada zaman weda, sebagaimana tersurat dan tersirat dalam kitab suci
weda.
2. Zaman Brahmana.
Kata Brahmana berarti penjelasan atau ekspresi dari seorang pendeta yang cerdas dan bijaksana dalam
hal ilmu upacara. Brahmana dapat diartikan kumpulan pertanyaan-pertanyaan dan diskusi-diskusi
mengenai ilmu upacara. Munculnya zaman Brahmana ditandai dengan terbitnya kitab Brahmana.
Kitab brahmana banyak memuat tentang upacara dan tata cara melaksanakan upacara keagamaan.
Materi pokok yang dibicarakan dalam kitab brahmana adalah tentang upacara yadnya yang meliputi;
arti yadnya, persyaratan yadnya, dan kekuatan gaib yang ada dalam upacara itu. Pada zaman
brahmana pelaksanaan upacara yadnya dipandang sebagai sesuatu yang amat penting, sehingga
kehidupan keagamaan pada waktu itu sangat didominasi oleh pelakasanaan upacara. Setiap
pelaksanaan upacara keagamaan wajib mengikuti aturan-aturan yang telah ada dan setiap
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
21
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
penyimpangan dari peraturan itu berarti batalnya upacara itu. Ni Made Kerti, S.Ag
Sumber: http://4.bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.9 Sulinggih pemimpin upacara
Unsur-unsur upacara yang ada dalam kitab weda dikembangkan secara luas di dalam kitab
Brahmana. Bila di zamanweda pelaksanaan upacara keagamaanmemiliki arti untuk memohon
waranugraha dari para dewata,sedangkan pada zaman brahmana paradewata dipandang memiliki
kedudukanyang sangat penting terutama dalam sistem upacara. Menurut para ahli, menyatakan
bahwa kitab-kitab brahmana juga berisi mitologi tentang; kejadian alam atau kosmologi, legenda-
legenda atau dongeng-dongeng, namun tema-temanya tetap utuh mengenai upacara yang merupakan
titik awal dari setiap diskusi dan pemecahannya.
Adanya kehidupan bermasyarakat yang bersifat ritualistis pada zaman brahmana itu, merupakan dasar
untuk menuju pada tingkat kehidupan spiritual berikutnya yaitu ajaran karma dan jnana. Dengan
demikian maka pelaksanaan upacara, karma, dan jnana dapat berjalan sebagaimana mestinya pada
zaman itu. Untuk memudahkan pelaksanaan upacara yadnya, maka dibuatlah kitab-kitab penuntun
yang disebut Kalpasutra. Kitab kalpasutra bersumber pada kitab brahmana, dan dimaksudkan dapat
dipergunakan sebagai pedoman bagi setiap orang yang telah berumah tangga dan bermasyarakat.
Menurut isinya, kitab kalpasutra dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis antara lain:
a. Srautasutra.
Kitab ini memuat tentang penjelasan tata cara persembahyangan agnihotra dan tata cara
persembahyangan dasa purnamas, yaitu persembahyangan yang dilakukan pada hari purnama dan
tilem atau bulan mati. Selain itu juga ada kitab penuntun upacara-upacara besar dalam lingkungan
keluarga raja dan negara, misalnya upacara Rajasuya dan Aswaweda. Rajasuya adalah upacara
penobatan seseorang untuk menjadi raja, sedangkan Aswaweda upacara pelepasan kuda yang
diikuti oleh sepasukan tentara untuk menentukan wilayah suatu kerajaan.
b. Grhyasutra.
Kitab ini memuat tentang pokok-pokok ajaran tata upacara penyucianatau sangaskara yang
wajib dilakukan oleh mereka yang telah berumah tangga, mulai dari upacara garbhasadhana
samskara (Upacara bayi dalam kandungan) sampai dengan upacara Antyesti samskara (upacara
kematian). Sesungguhnya kitab Grhyasutra merupakan kitab penuntun melaksanakan upacara
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
22
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
yadnya yang kanista dalam lingkungan keluarga, dan dapat dilakukan setiap hari atau berkala.
Upacara yang dilaksanakan setiap hari seperti; persembahyangan Tri Sandhya, mengaturkan
canang, mesegeh untuk para mahkluk halus dan sebagainya (disesuaikan dengan tempat).
Sedangkan upacara yadnya dilakukan secara berkala, misalnya upacara ulang otonan, potong gigi,
perkawinan, piodalan di Merajan, upacara pitra yadnya, dan lain sebagainya.
c. Dharmasastra.
Kitab ini memuat tentang pokok-pokok ajaran agama Hindu yangberhubungan dengan; hukum,
adat kebiasaan, hak dan kewajiban, sosial-politik, ekonomi, dan upacara agama lainnya dengan
penekananpada pelaksanaannya.
d. Sulwasutra.
Kitab ini memuat penjelasan tentang pokok-pokok aturan tata bangunan. Disamping itu juga
memuat tentang ukuran membuat altar yang ada kaitannya dengan kebutuhan upacara
sebagaimana termuat dalam kitab Srautasutra.
Dari beberapa penjelaskan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan agama Hindu
pada zaman brahmana telah sampai ke Indiabagian tengah, yaitu di dataran tinggi Dekan disekitar
lembah sungai Yamuna. Ditempat inilah ditulis peraturan-peraturan mengenai tuntunan upacara dan
tata susila. Dasar penyusunannya adalah berdasarkan pada kitab weda, dengan demikian kebenaran
isinya tidak perlu diragukan lagi.
Pelaksanaan upacara yadnya pada zaman Brahmana selalu disertai dengan mantra-mantra catur weda
sruti yang dirapalkan oleh para pendeta. Pendeta yang khusus bertugas merafalkan Rg.Weda disebut
dengan nama Hotri, untuk Sama Weda disebut dengan Udgatri, untuk Yajur Weda disebut dengan
Adwaryu, sedangkan pendeta yang merapalkan kitab Atharwa Weda disebut dengan nama Brahmana.
Mengingat betapa pentingnya upacara yadnya yang dilakukan pada waktuitu, maka rapalan-rapalan
mantra weda sruti pun harus menyertai dan diucapkan dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, ke
empat bagian dari weda sruti harus dipelajari secara baik oleh para pendeta yang membacanya pada
waktu upacara berlangsung.
Sedangkan kehidupan masyarakat pada zaman brahmana terbagi menjadi empat kelompok yang
disebut dengan istilah Catur Asrama yaitu (Brahmacari, Grhasta, Wanaprasta, Samyasin). Keempat
system inilah yang dipergunakan sebagai penuntun umat untuk mencapaikesempurnaan hidup di
dunia dan di akhirat. Sesungguhnya pemikiran yang ada pada zaman brahmana merupakan
pendahuluan dari pemikiran yang bersifat metafisik. Pemikiran semacam ini pada dasarnya sudah ada
di zaman weda, hanya saja pada zaman Brahmana pemikiran itu diperluasdengan bentuk yang abstrak
dan sistematis.
Konsep ketuhanan pada zaman brahmana bersifat satu kesatuan dalam arti bahwa keberadaan para
dewa yang banyak itu pada hakekatnya berasal dari dewa yang dipandang sebagai asal mula semua
yang ada. Semua yang ada di alam semesta ini dipandang sebagai perwujudan dari dewa yang satu,
yang disebut Brahman atau Prajapati. Beliau adalah maha kuasa, adi kodrati, kekal, dan yang
dipandang sebagai Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta beserta dengan isinya.
Manusia pada zaman Brahmana dipandang sebagai mahkluk yang paling utama di Bumi, yang terdiri
dari dua bagian, yaitu ”nama” dan ”rupa”. Yang dimaksud dengan ”Nama” adalah unsur-unsur rohani
yang menentukan proses hidup, terdiri dari; citta, budhi, ahamkara, manas,indriya-indriya, dan atman.
Diantara semua unsur-unsur rohani ini atman dipandang paling menentukan hidup manusia di dunia
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
23
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
ini.
Sedangkan yang dimaksud dengan ”Rupa” adalah bagian yang bersifat fisik, yaitu daging, tulang,
sumsum, rambut kulit dan sebagainya. Jika seorang meninggal dunia, maka unsur-unsur rohani itu
meninggalkan unsur-unsur fisik, dan kemudian unsur-unsur fisik itu kembali ke asalnya, yaitu alam
Panca Maha Bhuta. Mengenai hubungan manusia dengan alam semesta pada zaman brahmana
dinyatakan sebagai sesuatu yang bersifat pararel atau sejajar, dengan demikian terjadi hubungan yang
harmonis dalam kehidupan ini. Dalam kenyataan hidup ini dikemukakan dengan beberapa contoh
sebagai berikut; wajah disamakan dengan bumi, suara disamakan dengan aapi, mata disamakan
dengan matahari, telinga disamakan dengan penjuru alam, nafas disamakan dengan bulan. Sebagai
asas alam disamakan dengan angin, dan akal disamakan dengan bulan. Alam semesta dipandang
sebagai Brahman/Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan yang dipandang sebagai asas manusia adalah
Atman. Kedua azas yang ada pada zaman Brahmana ini, kemudian disatukan pada zaman Upanisad.
Kehidupan alam akhirat pada zaman Brahmana dikatakan ada dua macam, yaitu alam nenek moyang
atau alam pitara dan alam para dewa yang disebut dengan surga. Bagi mereka yang berbuat baik dan
melakukan yadnya sesuai dengan kitab suci setelah mereka meninggal dunia mencapai surga.
Sedangkan mereka yang perbuatan baik dan perbuatan buruknya seimbang dilahirkan kembali ke
dunia ini. Kelahiran kembali ke dunia sebagai manusia dipandang sebagai suatu anugrah dari
Brahman. Sehubungan dengan itu, maka nasib manusia di dunia sangat dipengaruhi oleh karma
wasana masing-masing.
Demikianlah ajaran keyakinan mengenai adanya Brahman, atman, karma,punarbhawa, dan moksa,
sesungguhnya telah ada pada zaman Brahmana dan kemudian mendapat penyempurnaan pada zaman
berikutnya, yaitu pada zaman Upanisad.
3. Zaman Upanisad
Sejalan berkembangnya zaman, agama Hindu pun terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman
yang dilaluinya. Pada zaman upanisad perkembangan agama kita dimulai dari daratan tinggi Dekan
di lembah sungai Yamuna terus meluas sampai ke lembah sungai Gangga yangpenduduknya bermata
pencahariaan sebagai pedagang. Sehubungandengan itu maka kehidupan mereka beragama lebih
menekankan pada hal-hal yang bersifat filosofis dari pada pelaksanaan upacara. Dengan demikian
munculah diskusi-diskusi keagamaan antara para Maha Rsisebagai guru dengan para siswanya. Dari
para siswanya yang selalu aktif mendalami agama dengan metode diskusi akhirnya menimbulkan
perkembangan filsafat Hindu yang lebih menekankan pada aspek jnana.
Dalam diskusi para siswa duduk dibawah dekat kaki guru kerohanian ataupara Maha Rsi. Para Maha
Rsi memberikan jawaban dari permasalahan yang disampaikan oleh para siswanya dengan tetap
berpedoman pada ajaran kitab suci Weda. Dengan demikian kebenaran yang didapat oleh para siswa
kerohanian itu tidak perlu diragukan. Cara pendalaman ajaran agama dengan berdiskusi seperti itu
disebut Upanisad. Periode ini dikatakan berkembang ± tahun 800 – 300 SM (Team Penyusun ”Buku
Pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi” Anuman Sakti, 1996). Fase perkembangan
fisafat Hindu pada masa itu disebut dengan zaman Upanisad. Pada masa ini pulalah bermunculan
berbagai macam kitab-kitab upanisad.
Kitab Upanisad merupakan bagian Jnana kanda dari kitab weda sruti, yang isinya bersifat ilmiah,
spekulatif, tetapi tetap pada ruang lingkup keagamaan.Pada umumnya kitab-kitab upanisad berisi
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
24
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
pembahasan tentang hakekat Brahman, atman, hubungan Brahman dengan atman, hakikat maya,
hakikat widya, serta mengenai moksa atau kelepasan. Pandangan yang menonjol dalam ajaran
upanisad adalah mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini dialirkan dari satu
azas, satu realitias tertinggi yang tidak dapat dilihat, tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat ditangkap
oleh akal manusia, tetapi melingkupi segala yang ada di alam semesta ini. Itulah yang disebut dengan
Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Brahman itulah yang dipandang sebagai pusat, awal, dan
berakhirnya segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, serta bersifat transenden dan imanen.
Transenden berarti Brahman ada di luar batas alam pikir manusia, sedangkan imanen berarti Brahman
ada di dalam batas pikir manusia. Dalam kitab Brhad Aranyaka Upanisad disebutkan Brahman itu
bersifat Neti-neti, artinya bukan kasar, bukan pendek, bukan panjang, bukan bayangan, bukan
kegelapan, bukan hawa, tanpa ukuran, tanpa lahir, tanpabhatin, dan sejenisnya. Dari pernyataan ini
dapatlah dikemukakan bahwa Brahman bukanlah suatu substansi dan bukan tidak memiliki sifat-sifat.
Brahman memiliki sifat Sat Cit Ananda, yang artinya keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan.
Dari ungkapan ini memberikan petunjukkepada kita bahwa Brahman adalah satu-satunya realitas
yang bersifat mutlak yang meliputi segala yang ada, yang sadar, dan bersifat rohani. Dengan demikian
Brahman dipandang sebagai sumber alam semesta,sumber semua mahkluk, dan penguasa segala yang
ada.
Pada zaman Upanisad keberadaan atman disebutkan meliputi segala sesuatu yang ada ini. Dan Atman
berada dalam lubuk hati manusia.Atman yang ada dalam tubuh manusia dilapisi oleh lapisan
zat yangdisebut Panca Maya Kosa. Adapun unsur-unsur dari adalah;
a. Anamaya kosa = lapisan badan jasmani yang berasal dari makanan.
b. Pranamaya kosa = lapisan badan yang berasal dari prana atau energi.
c. Manomaya kosa = lapisan yang berasal dari alam rasa dan pikiran.
d. Wijnanamaya kosa = lapisan badan yang berasal dari alam kesadaran.
e. Anandamaya kosa = lapisan badan yang berasal dari kesadaran yangmembahagiakan.
Semua lapisan itu dapat berubah-ubah, sedangkan atman adalah subyek yang tetap ada diantara semua
yang berubah-ubah itu. Atman bebas dari dosa-dosa, umur, tua, maut, rasa lapar, dahaga, dan
kesusahan. Atman berada dalam keadaan yang bermacam-macam. Misalnya seperti dalam keadaan
terjaga atau jagrapada, dalam mimpi atau svapnapada, dalam tidur nyenyak atau susuptipada, dalam
keadaan turya, yakni atman beradadalam kesadaran yang intuitif, dimana tidak ada lagi pengetahuan
akan obyek-obyek baik yang ada diluar maupun yang di dalam.
Disinilah atman dinyatakan berada dalam alam yang sejati, yang penuhdengan kebahagiaan dan
kedamaian. Dalam zaman Upanisad selanjutnya dinyatakan bahwa atman itu sesungguhnya adalah
Brahman yang dibatasi oleh sarana tambahan, berupa tubuh. Orang yang mengetahui atman
mengetahui pula Brahman yang merupakan inti segala yang ada dan yang mesti ada di alam semesta
ini. Mengenai ajaran Karma pada zaman Upanisaddinyatakan sebagai suatu perbuatan yang selalu
diikuti oleh pahala atauakibatnya. Sesungguhnya ajaran karma berakar pada ajaran Rta yang ada pada
zaman weda. Rta adalah hukum alam semesta. Pada zaman brahmana, Rta disamakan artinya dengan
yadnya. Setiap upacara yadnya yangdilakukan oleh umat pada zaman itu mendapat pahala yang baik.
Demikian pula sebaliknya, siapa saja yang berani berbuat buruk pasti menerima pahala yang buruk
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
25
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
juga. Ajaran karma bukan saja berlaku pada kehidupan sekarang tetapi juga berlaku pada masa
kehidupan yang datang.
Sehubungan dengan itu, maka timbulah ajaran tentang kelahiran kembali ”punarbhawa”, yang sudah
dikenal pada zaman weda dan zaman brahmana.
Ajaran tentang kelahiran kembali atau punarbhawa pada zaman brahmanadipandang sebagai karunia
dari Tuhan Yang Maha Esa. Pada zamanUpanisad sudah muncul suatu persoalan dan pertanyaan,
seperti; mengapa kehidupan seseorang berbeda satu dengan yang lainnya. Ada orang yang dilahirkan
sebagai orang yang miskin, ada orang yang dilahirkan sebagai orang yang kaya, orang cacat, ada yang
cantik, ada yang tampan, namun ada pula orang yang dilahirkan sebagai penjahat. Semua permasalah
dan persoalan itu dalam zaman Upanisad dijelaskan karena ada karma sebagai suatu mata rantai
kehidupan yang amat panjang. Karma bukan saja menguasai kehidupan yang datang, juga kehidupan
yang telah lalu serta kehidupan pada masa sekarang. Kehidupan pada masa sekarang ditentukan oleh
kehidupan masa lalu, kehidupan masa sekarang menentukan kehidupan masa yang datang.
Demikianlah manusia dilahirkan secara berulang-ulang, dalam ajaran AgamaHindu yang disebut
Punarbhawa. Bila seorang meninggal dunia, badan halusnya terpisah dengan badan kasarnya, semua
karma wesana yang ada di badannya melekat pada badan halusnya. Badan halus hidup bersama atman
yang kemudian menjelma mengambil badan baru. Proses punarbhawa ini sangat sulit diketahui oleh
orang biasa, kecuali oleh para maharsi karena semua itu kehendak dari Brahman itu sendiri. Tujuan
hidup tertinggi umat Hindu adalah dapat mencapai moksa atau kelepasan yakni bersatunya atman
dengan Brahman. Pada zaman Upanisad, jalan untuk mencapai moksa dapat dilalui dengan jalan
berbuat baik, bakti, tapa, brata, dan yoga, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab-kitab
upanisad.
Pemikiran yang ada dalam kitab Upanisad sangat berpengaruh dalam tata pikir ajaran agama Hindu
yang sangat toleran terhadap berbagai macam perbedaan yang ada. Oleh karena itu terjemahan kitab
upanisad sebagai satu kesatuan pemikiran untuk mendapatkan pandangan dan pegangan yang lebih
luas dan sempurna tentang weda sangat diperlukan. Secara historis dapat diakui bahwa proses
perkembangan agama Hindu padahakekatnya dimulai dari penafsiran otentik. Cara-cara itu telah
dituliskan dalam kitab Upanisad dan dalam kitab-kitab Brahmana. Tanpa memahami dasar-dasar
pengertian yang ada dalam kitab Upanisad, sulitlah memahami kedalaman ajaran agama Hindu secara
lebih baik.
Secara tradisi dalam kitab Muktika Upanisad disebutkan jumlah kitab Upanisad itu ada seratus
delapan (108) buah buku. Dari seratus delapan buah buku itu dapat dikelompokan menurut weda
sruti, sebagai berikut;
a. Upanisad yang tergolong kelompok Rg. weda, berjumlah 10 buah buku terdiri dari; Aitarya,
Kausitaki, Nada-Bindu, Nirwana, Atmaprabodha,Mudgala, Aksamalika, Tripura, Sambhagya, dan
Bahwrca Upanisad.
b. Upanisad yang tergolong kelompok Samaweda, berjumlah 16 buah buku, terdiri dari; Kena,
Chandogya, Aruni, Maitrayani, Maitreyi, Wajrasucika, Yogacudamani, Wasudewa, Mahat,
Sanyasa, Awyakta, Kandika, Sawitri, Rudaksa-Jabala, Darsana, dan Jabali Upanisad.
c. Upanisad yang tergolong kelompok Yajurweda, terdiri dari dua bagianbesar, yaitu:
1) Upanisad yang tergolong dalam kelompok Yajurweda Hitam, berjumlah 32 buah buku antara
lain; Kathawali, Taittiriyaka, Brahma, Kaiwalya, Swetaswatara, Gharba, Narayana,
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
26
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Amrtabhindu, Asartanada, Katagnirudra, Kansikasi, Sarwasara, Sukharahasya, Tejobhindu,
Dhyanabhindu, Brahmawidya, Yogatattwa, Daksinamurti, Skanda, Sariraka, Yogasikha,
Ekaksara, Aksi, Awadhuta, Katha, Rudrahrdaya, Yogakundalini, Pancabrahma,
Paramagnihotra, Waraha, Kalisandarana, dan Saraswatirahasya Upanisad.
2) Upanisad yang tergolong Yajurweda Putih, terdiri dari 19 buah buku yaitu; Isawasya,
Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Paraahamsa,Subaia, Mantraika, Niralamba, Trisihibrahmana,
Mandalabrahma, Adwanyataraka, Pingalu-bhiksu, Turiyatika, Adhyatma, Tarasara,
Yajnyawalkya, Satyayani, dan Muktita Upanisad.
d. Upanisad yang tergolong kelompok Atharwaweda, terdiri dari 31 buahbuku Upanisad, antara lain;
Prasna, Munduka, Mandukya, Atharwasira, Atharwasikha, Brhadjabala, Narasimhatapini,
Naradapariwrajaka, Sita, Mahanarayana, Ramarahasya, Ramatapini, Sandilya, Parahamsapari,
Warajaka, Annapurna, Surya, Atma, Pasupata, Parabrahmana, Tripura tapini, Dewi, Bhawana,
Brahma, Ganapati, Mahawakya, Gopalatapini, Kresna, Hayagriwa, Dattatreya, dan Garuda
Upanisad. Di antara semua kitab Upanisad itu, menurut Maharsi Sankaracharya ada 11 kitab
Upanisad yang dipandang utama, yaitu: Isa, Kena, Katha, Prasna, Mudaka, Mandukya, Taittriya,
Aitareya, Candhogya, Brhadaranyaka, dan Swetaswatara Upanisad.
Materi pokok-pokok yang dibicarakan pada kitab-kitab Upanisad secara umum adalah mengenai
hakekat metafisika tanpa mengadakan penekananpada aspek ritualnya. Demikian pula mengenai
tata kemasyarakatan yang menyangkut sistem warna hampir tidak dibicarakan. Sehubungan
dengan itu, maka isi pokok Upanisad lebih banyak merupakan ajaran filsafat dengan penekanan
pada aspek kerohaniaan yang meliputi Brahman, Atman, Maya, Widya-Awidya, Etika, Karma,
Samsara, dan Moksa. Pada zaman Upanisad sistem hidup kerohanian masyarakat tumbuh dan
berkembang dengan subur, hal ini dibuktikan dengan berkembangnya berbagai macam aliran
filsafat keagamaan. Seluruh aliran filsafat itu dikelompokkan menjadi 9 yang disebut ”Nawa
Darsana” terdiri dari; Astika atau Sad Darsana, yang meliputi; Nyaya, Waesiseka, Mimamsa,
Samkhya, Yoga, dan Wedanta. Sedangkan Nastika, meliputi; Budha, Carwaka, dan Jaina.
Demikian uraian singkat sejarah perkembangan agama Hindu di India yang dihubungkan dengan
adanya zaman weda, brahmana, dan zaman upanisad. Pada hakikatnya satu dengan yang lainnya
tidak dapat dipisahkan, karena semuanya menjadi fondasi dari sejarah perkembangan agama
Hindu selanjutnya.
Bagaimana Perkembangan agama Hindu di Dunia? Simaklah uraian berikut ini!
Beragama ”meyakini ajaran Tuhan” adalah instingtif bagi manusia, karena titik tolak kehidupan
manusia dimulai dari suatu kepercayaan. Untuk dapat menyelami keagungan Tuhan sebagai jiwa
agama kita harus meng-aproach agama dengan seluruh kemampuan kita. Bila kita mau memandang
agama dari sejarah maka dapat kita katakan bahwa agama itu muncul bersamaan dengan lahirnya
peradaban manusia. India adalah sebuah negara yang disebut-sebut sebagai negara yang bangsanya
memiliki peradaban sangattinggi. India juga diyakini sebagai pusat pewahyuan ajaran Hindu ”weda”
sebelum menyebar keseluruh jagat raya ini. Sejarah menuliskan bahwa pada awalnya agama Hindu
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
27
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
berkembang di India. Berbagai fakta sejarah yang adadapat kita pergunakan sebagai reprensi untuk
menyatakan agama Hinduadalah agama yang besar. Hindu disebut-sebut sebagai agama yang pernah
memiliki pengaruh di seluruh dunia. Pengaruh yang besar itu karena kurang terkoordinasi maka lama-
kelamaan menjadi potongan-potongan kepercayaan yang lupa induknya. Walaupun demikian
pengaruh Hindu yang luas itumasih dapat dirasakan nafasnya sampai sekarang. Hal itu dapat kita
ketahui dari adanya beberapa bukti peninggalah sejarah dan kepercayaan masyarakatyang masih
terpelihara sampai saat ini.
Beberapa bukti peninggalan sejarah dan kepercayaan masyarakat dunia dapat kita pergunakan
sebagai dasar untuk menyatakan dan mempelajari bahwa agama Hindu pernah berkembang di negara-
negara lain selain India, adapun negara-negara yang dimaksud adalah sebagai berikut;
1. Mesir (Afrika).
Sebuah prasasti dalam bentuk inkripsi yang berhasil digali di Mesir berangkatahun 1280 S.M.
Isinya memuat tentang perjanjian antara raja Ramases II dengan bangsa Hittite. Dalam perjanjian
yang dilaksanakan oleh Raja Ramases II dengan bangsa Hittite tersebut, Maitravaruna sebagai
dewa kembar dalam weda telah dinyatakan sebagai saksi (H.R. Hall ”AncientHistory of the New
East”, hal 364). Maitravaruna adalah sebutan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam konsep ketuhanan
agama Hindu. Raja-raja Mesir dijaman purbakala mempergunakan nama-nama seperti; Ramesee
I, RamesesII, Rameses III dan seterusanya. Tentang kata Rameses, mengingatkan kita kepada
Rama yang terdapat dalam kitab Ramayana. Rama, oleh umat Hindu diyakini sebagai penjelmaan
atau awatara Vishnu, yaitu manifestasi dari Tuhan sebagai pemelihara. Vishnu-lah yang
menyelamatkan dunia ini dari ancaman keangkara-murkaan.
2. Madagaskar.
Madagaskar adalah sebuah pulau yang terletak agak jauh dari pantai timur Afrika selatan.
Dinyatakan kebanyakan nama-nama tempat yang ada disana mempergunakan kata yang memiliki
hubungan dengan sebutan Rama.
3. Afrika utara.
Mengenai istilah gurun Sahara, para ahli geologi mengemukakan suatu teori yang menyatakan
bahwa gurun itu adalah sebuah samudra yang mengering. Samudra dalam bahasa sanskerta disebut
Sagara. Ada kemungkinan bahwa kata Sahara yang ada sekarang merupakan salah ucapan dari
kata Sagara dalam bahasa sanskerta. Dikatakan juga bahwa ketika Sahara masih ada di bawah air,
masyarakat yang hidup disekelilingnya kebanyakan diantara mereka mempergunakan nama-nama
yang ada hubungannya dengan bahasa sanskerta. Beberapa diantara mereka dinyatakan
mempunyai hubungan keluarga dengan negeri Kosala (Ensiklopedia Brittannica Jilid XXIII, di
bawah kata Sahara).
4. Mesiko.
Mesiko terbilang negeri yang sangat jauh dari India. Masyarakat negeri ini dikatakan telah terbiasa
merayakan sebuah hari raya pesta-ria yang disebut dengan hari Rama-Sita. Waktu hari pesta-ria
ini memiliki hubungan erat dengan waktu hari suci Dussara atau Navaratri dalam agama Hindu
”India” (T.W.F. Gann ”The Maya Indians of Southerm Yucatan, North and British Honduras”
halaman 56). Penggalian-penggalian peninggalan bersejarah yang dilakukan di negeri Mesiko
telah menghasilkan penemuan beberapa patung Ganesa (Baron Humbolt dan Harlas Sanda ”Hindu
Superiority” halaman 151).
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
28
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Penduduk zaman purbakala yang ada di daerah-daerah ”Mesiko” adalah orang-orang Astika yaitu
orang-orang yang percaya dengan keberadaan weda-weda. Kata Astika adalah sebuah istilah yang
sampai saat ini masih terdengar oleh kita dipergunakan oleh masyarakat disana, sebagai salah
ucapan dari kata Aztec.
Festival Rama-Sita yang dirayakan oleh masyarakat Mesiko dapat disamakan dengan perayaan
hari Dussara atau Navaratri. Penemuan patung Ganesa kita hubungkan dengan arca Ganesa
sebagai putra Dewa Siwa dalam mithologi Hindu. Masyarakat Astika adalah suku bangsaAztec
itu sendiri yang kebanyakan diantara mereka memiliki kepercayaanmemuja Dewa Siwa.
5. Peru.
Disebelah barat-daya Amerika Latin terdapat negeri yang disebut dengan Peru. Penduduknya
melakukan pemujaan terhadap Dewa Matahari. Hari- hari raya tahunan masyarakat ini jatuh pada
hari-hari Soltis. Masyarakat negeri Peru dikenal dengan bangsa Inca. Kata Inca berasal dari kata
Ina yang berarti matahari (Asiatic Researches, Jilid I halaman 426).
Soltis jatuh pada tanggal 21 Juni dan 22 Desember, yaitu pada hari-hari dimana matahari telah
sampai pada titik deklanasinya di sebelah selatan dan di sebelah utara untuk kembali lagi pada
peredarannya. Sebagaimana biasa mulai tanggal 21 Juni matahari ada dititik bumi belahan utara
”Utarayana”, waktu yang dipandang baik untuk melaksanakan upacara yang berkaitan dengan
Dewa Yajna. Sedangkan tanggal 22 Desember matahari berada di titik bumi belahan selatan
”Daksinayana” dimana waktu ini dipandang baik untuk melaksanakan upacara yang berhubungan
dengan Bhuta Yajna. Dewa Matahari menurut keyakinan umat Hindu Indonesia ”Bali” menyebut
Siwa Raditya = Surya = Matahari. Pemujaan kehadapan Dewa Matahari ”Surya Raditya” terbiasa
dilakukan oleh umat Hindu kita, sebagaimana juga dilaksanakan oleh bangsa Inca sebagai
penduduk negeri Peru.
6. Kota California.
California adalah sebuah Kota yang terdapat di Amerika. Nama Kota ini diperkirakan memiliki
hubungan dengan kata Kapila Aranya. Di Kota California terdapat Cagar Alam Taman Gunung
Abu ”Ash MountainPark” dan sebuah Pulau Kuda ”Horse Island” di Alaska–Amerika Utara.
Kita mengenal kisah dalam kitab Purana tentang keberadaan Raja Sagara dan enam puluh ribu
(60.000) putra-putranya yang dibakar habis hingga menjadi abu oleh Maha Rsi Kapila. Raja
Sagara memerintahkan kepada putra-putranya untuk menggali bumi menuju ke Patala-loka dalam
rangkakepergian mereka mencari kuda untuk persembahan. Oleh putra-putra Raja Sagara, kuda
yang dicari itu diketemukan di lokasi Maha Rsi Kapila mengadakan tapabrata. Oleh karena
kedatangan mereka ”putra araja sagara” mengganggu proses tapabrata beliau, akhirnya Maha Rsi
Kapila memandang putra-putra raja itu dengan pandangan amarah sampai mereka musnah
menjadi abu.
Kata Patala-loka memiliki arti negeri dibalik India, yaitu benua Amerika. Kata California memiliki
kedekatan dengan kata Kapila Aranya. Kondisi ini memungkinkan sekali karena secara nyata
dapat kita ketahui bahwa di Amerika terdapat cagar alam Taman Gunung Abu yang kemungkinan
sekali berasal dari abunya putra-putra raja Sagara yang berjumlah enampuluh ribu dan nama pulau
kuda yang diambil dari nama kudapersembahan raja sagara.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
29
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
7. Australia.
Penduduk negeri Kangguru ini memiliki jenis tarian tradisional yangdisebut dengan ”Siwa Dance”
atau ”Tari Siwa”. Siwa Dance adalah semacam tarian yang umum berlaku diantara penduduk
asli Australia (Spencer dan Gillen ”The Native Tribes of Central Australia” halaman 621.
Macmillan, 1899). Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa para penari ”Siwa Dance” menghiasi
dahinya dengan hiasan mata yang ke tiga. Hal ini merupakan suatu bukti yang dapat dijadikan
sumber memberikan informasi kepada kita bahwa penduduk asli negeri Kangguru”Australia” ini
telah mengenal atau mendengar dongeng-dongeng weda dan nama-nama Dewa dalam kitab suci
weda.
Sejak kapan dan bagaimana ajaran agama Hindu masuk ke Indonesia? Carilah artikel
yang menguraikan tentang proses masuknya agama Hindu ke Indonesia! Selanjutnya
diskusikanlah!
8. Agama Hindu di Indonesia.
Di Indonesia, banyak ditemukan berbagai bentuk peninggalan sejarahbercorak Hindu. Agama
Hindu disebut-sebut sebagai agama yang tertua dalam sejarah peradaban manusia. Agama Hindu
pertama kali tumbuh dan berkembang dengan subur di negara India. Disana agama Hindu
berkembang pesat. Setelah di India, barulah agama Hindu merambah ke negara-negara lainnya.
Peninggalan sejarah agama Hindu pun sangat banyak dan beragam serta tersebar di berbagai
negara. Perkembangan ajaran agama Hindu berawal sekitar tahun 1500 sebelum Masehi (SM).
Sumber: http://indo91.files.wordpress.com
Gambar 2.10 Wilayah PenyebaranHindu di Nusantara
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
30
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Ditandai dengan datangnya bangsa Yunani. Mereka memasuki wilayahNusantara dengan perahu
layar. Kelompok ini datang dari Kampuchea (Kamboja). Mereka mendirikan rumah dan hidup
secaraberkelompok dalam masyarakatdesa dan menetap di Nusantara. Kebudayaan mereka
sudah cukupmaju. Mereka sudah mengenal bercocok tanam. Mereka juga berdagang dan
membuat peralatan dari tanah liat serta logam. Kepercayaan yang mereka anut adalah animisme
dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan yang memuja roh nenek moyang atau roh halus.
Dinamisme adalah pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Misalnya keris, tombak, batu akik, dan patung.
Ajaran Hindu masuk ke Indonesia sejak permulaan masehi. Agama Hindu dikenal oleh penduduk
Indonesia melalui hubungan dagang dengan India. Kitab suci agama Hindu yaitu Weda. Ajaran Hindu
merupakan ajaran yang memuja banyak Dewa. Dewa-Dewa yang dianggap menempati posisi paling
tinggi yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Ketiga Dewa itu disebut Trimurti (tiga
Dewa yang bersatu). Trimurti diwujudkan dalam bentuk patung. Tentang tata kemasyarakatan dalam
ajaran agama Hindumengenal adanya varna. Varna adalah susunan kelompok masyarakat Hindu
sesuai dengan tingkat keahlian atau profesi yang dimiliki oleh individu umat bersangkutan, yang
terdiri dari varna; brahmana, ksatriya, wesya, dan sudra. Siapakah yang menyebarkan pengaruh
Hindu ke Indonesia?
Dalam beberapa prasasti yang terdapat di pulau Jawa dan lontar-lontar yang terdapat di pulau Bali
menjelaskan bahwa ”Maha Rsi Agastya” yangmenyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia.
Menurut data peninggalan sejarah yang ada dinyatakan bahwa Maha Rsi Agastya menyebarkan
agama Hindu dari India ke Indonesia melalui Sungai Gangga, Yamuna, India Selatan dan India
Belakang. Karena begitu besar jasa-jasa beliau dalam penyebaran ajaran Agama Hindu, maka
namanya disucikan di dalam prasasti ‘Dinaya’. Prasasti ‘Dinaya’ diketemukan di Jawa Timur yang
ditulis dengan berangka tahun Saka 682 (760 M),menjelaskan bahwa seorang raja yang bernama Gaja
Yana membuatkan pura suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud untuk memohon kekuatan suci dari
Rsi Agastya (Shastri, N.D. Pandit, 1963:21). Prasasti Porong yang ditemukan di Jawa Tengah
berangka tahun Saka 785 (863 M) juga menyebutkan keagungan serta kemuliaan jasa-jasa Maha Rsi
Agastya. Mengingat kemuliaan Maha Rsi Agastya, maka beliau diberi julukan‘Agastya Yatra’ artinya
perjalanan suci Rsi Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Oleh
karena itu beliau jugadiberi julukan ‘Pita Segara’, artinya ”Bapak dari Lautan” karena beliau yang
mengarungi lautan luas demi untuk Dharma.
Diperkirakan pada abad ke-4 Masehi (di Kutai-Kalimantan Timur), agama Hindu di Indonesia sudah
berkembang dengan subur. Disinyalir agama Hindu dibawa dari India ke Indonesia dengan perantara
para pedagang. Sebelum masuknya agama Hindu, Indonesia masih dalam masa pra-sejarah atau masa
di mana masih belum mengenal tulisan. Dengan masuknya agama Hindu perubahan besar pun terjadi
di Indonesia. Zaman prasejarah berganti dengan zaman sejarah di mana tulisan mulai diperkenalkan
melalui ukiran- ukiran yang terdapat pada yupa. Kehidupan politik kerajaan-kerajaan Hindu- Buddha
membawa perubahan baru dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur
sosial dari masa Kutai hingga Majapahitmengalami perkembangan yang ber-evolusi namun progresif.
Dunia perekonomian pun mengalami perkembangan: dari yang semula sistem barter hingga sistem
nilai tukar uang. Agama Hindu masuk ke Indonesia dinyatakan terjadi pada awal tahun Masehi, hal
ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis dari benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi
yakni diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
31
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
buah Yupa itu didapatkan keterangan tentang kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan
bahwa:
”Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Raja Mulawarman”. Pada
keterangan yang lain menyatakan bahwa Raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat
suci untuk memuja Dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan ”Vaprakeswara”.
Dari berbagai peninggalan yang ditemukan, diketahui bahwa kehidupan masyarakat Kutai sudah
cukup teratur. Walau tidak secara jelas diungkapkan, diperkirakan masyarakat Kutai sudah terbagi
dalam beberapa penggolongan meskipun tidak secara tegas dinyatakan. Daripenggunaan bahasa
Sanskerta dan pemberian hadiah sapi, dapat disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat
golongan brahmana,golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli penyebaran dan
upacara keagamaan. Di samping golongan brahmana,terdapat pula kaum ksatria. Golongan ini
terdiri dari kerabat dekat raja.Di luar kedua golongan ini, sebagian besar masyarakat Kutai masih
menjalankan adat-istiadat dan kepercayaan asli mereka. Walaupun Hindu telah menjadi agama resmi
kerajaan, namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk menjalankan kepercayaan aslinya.
Diperkirakan bahwa lahan pertanian, baik di sawah maupun di ladang adalah merupakan mata
pencarian utama masyarakat Kutai. Melihat letaknya di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur
transportasi laut, mengantarkan perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi pedagang
luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka harus memberikan ‘hadiah’ kepada raja agar diizinkan
berdagang. Pemberian ‘hadiah’ ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal harganya;
dan pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan. Melalui hubungan
dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan transportasi darat, berkembanglah
hubungan agama dan kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitarnya. Banyak pendeta yang
diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang Kutai yang berkunjung ke daerah asal para pendeta
tersebut.
Selanjutnya, agama Hindu berkembang pesat di Indonesia melalui kerajaan-kerajaan yang berdiri
pada waktu itu, baik di Jawa maupun luar Jawa. Kehadiran agama Hindu di Indonesia, menimbulkan
pembaharuan yang besar, seperti berakhirnya zaman pra-sejarah Indonesia. Perubahan dari religi
kuno ke dalam kehidupan beragama dengan memuja Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan kitab Suci
Weda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah.
Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad
ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir
Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sanskerta dan memakai
huruf Pallawa. Bersumberkan prasasti-prasasti itu didapatkan keterangan yang menyebutkkan bahwa
”Raja Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara menganut agama Hindu. Beliau adalah raja yang
gagah berani yang dilukiskan dengan tapak kakinya yang disamakandengan tapak kaki Dewa Wisnu”.
Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan
atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa kerajaan Tarumanegara. Berdasarkan data
tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri
Murti sebagai manifestasidari Tuhan Yang Maha Esa.
Kehidupan masyarakat Tarumanegara tak jauh beda dengan Kutai. Menurut sebuah prasastinya,
kehidupan social masyarakatnya telah berkembang baik, terlihat dari penggalian kanal (sungai yang
digali) Gomati dan Candrabhaga secara gotong-royong. Tenaga kerja yang diperintah menggali kanal
tersebut biasanya dari golongan budak dan kaum sudra. Pembangunan kanal Gomati dan Candrabaga
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
32
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
begitu bermakna bagi perekonomian Tarumanegara. Selain sebagai sarana pencegah banjir, juga
dapat dipergunakan sebagai sarana transportasi (lalu lintas) air dan perdagangan antara pedagang
Tarumanegara dengan pedagang daerah lain. Hasil bumi merupakan komoditas utama. Melalui
perdagangan, masyarakat Tarumanegara dapat memperoleh barang yang tidak dihasilkan di
kerajaannya. Kehidupan ekonomi Tarumanegara bertumpu pada hasil ladang dan kebun. Barang yang
ditawarkan adalah beras dan kayu jati. Mayoritas rakyat Tarumanegara adalah peladang. Karena
masyarakat peladang selalu berpindah-pindah tempat. Ini berbeda dengan masyarakat petani yang
selalu menetap di satu tempat, misalnya seperti di Jawa Tengah dan Timur.
Kehidupan sosial-ekonomi Kendan-Galuh tidak jauh beda denganTarumanegara. Masyarakatnya
berprofesi sebagai peladang. Agama yang dianut bangsawan adalah Hindu-Wisnu, sedangkan
rakyatnya mayoritas menganut animisme dan dinamisme. Sementara itu, sistem transportasi pada
masa Kendan dan Galuh diperkirakan dilakukan melalui Sungai Cimanukdan pelabuhan tua di
pesisir pantai utara, contohnya di sekitar Indramayudan Cirebon. Sementara itu mengenai masalah
tenaga kerja, baik pegawai istana maupun tentara, biasanya berasal dari golongan bangsawan kerabat
raja. Mengenai sistem perpajakan biasanya pedagang mengirim hadiah berupa benda-benda langka
dan mahal. Sedangkan bagi wilayah yang berada di bawah kerajaan mereka harus mengirim upeti
berupa emas atau benda-benda berharga lain, sebagai tanda kesetiaannya terhadap atasan.
Kehidupan sosial masyarakat Sunda dan Pakwan Pajajaran secara garis besardapat digolongkan ke
dalam golongan seniman, peladang (pecocok tanam), pedagang. Dari bukti-bukti sejarah diketahui,
umumnya masyarakat Pajajaran hidup dari hasil perladangan. Seperti masyarakat Tarumanegara
dan Galuh, mereka umumnya selalu berpindah pindah. Hal ini berpengaruh pada bentuk rumah
tempat tinggal mereka yang sederhana. Dalam hal tenagakerja, yang menjadi anggota militer diambil
dari rakyat jelata dan sebagian anak bangsawan. Mereka dibiayai oleh negara. Dalam bidang
ekonomi, Kerajaan Sunda dan Pajajaran telah lebih maju dari masa Tarumanegara. Kerajaan Sunda-
Pajajaran memiliki setidaknya enam pelabuhan penting: Banten, Pontang, Cigede, Tarumanegara,
Sunda Kelapa, dan Cimanuk. Setiap pelabuhan ini dikepalai oleh seorang syahbandar yang
bertanggung jawab kepada raja. Para syahbandar ini bertindak sebagai wakil raja di pelabuhan-
pelabuhan yang dikuasainya, sekaligus menarik pajak dari para pedagang yang ingin berjualan di
daerah ini, pajak tersebut berupa kiriman upeti berwujud barang dagangan yang mahal atau uang.
Dalam hal transportasi air, selain melalui laut, dilakukan pula melalui sungai-sungai besar seperi
Citarum dan Cimanuk, sebagai jalur perairan dalam negeri. Melalui pelabuhan ini, Pajajaran
melakukan aktivitas perdagangan dengan negara lain. Dalam berbagai peninggalan sejarah diketahui,
masyarakat Pajajaran telah berlayar hingga ke Malaka bahkan ke Kepulauan MalaDeva yang kecil di
sebelah selatan India. Barang barang dagangan mereka umumnya bahan makanan dan lada. Di
samping itu, ada jenis bahan pakaian yang didatangkan dari Kamboja (India). Sementara mata uang
yang dipakai sebagai alat tukar adalah mata uang Cina.
Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti
Tukmas yang ditemukan di lereng gunung Merbabu. Prasasti ini berbahasa sanskerta memakai huruf
Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Dalam prasasti inilah dituliskan atribut
Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal
dari tahun 650 Masehi. Keyakinan memuja Tri Murti juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang
berbahasa sanskerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya
pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: ”Sruti indriya rasa”, Isinya
memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
33
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di datarantinggi Dieng dekat Wonosobo dari
abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada
tahun856 Masehi, merupakan bukti bahwa adanya perkembangan Agama Hindu yang sangat pesat
terjadi di Jawa Tengah.
Sumber-sumber berita Cina mengungkapkan keadaan masyarakat Mataram dari abad ke-7 sampai ke-
10. Kegiatan perdagangan baik di dalam maupun luar negeri berlangsung ramai. Hal ini terbukti dari
ditemukannya barang-barang keramik dari Vietnam dan Cina. Kenyataan ini dikuatkan lagi dengan
berita dari Dinasi Tang yang menceritakan kebesaran sebuah kerajaan dari Jawa, dalam hal ini
Mataram. Dari Prasasti Warudu Kidul diperoleh informasi adanya sekumpulan orangasing yang
berdiam di Mataram. Mereka mempunyai status yang berbeda dengan penduduk pribumi. Mereka
membayar pajak yang berbeda yang tentunya lebih mahal daripada rakyat pribumi Mataram.
Kemungkinan besar mereka itu adalah para saudagar dari luar negeri. Namun, sumber sumber lokal
tidak memperinci lebih lanjut tentang orang-orang asing ini.Kemungkinan besar mereka adalah kaum
migran dari Cina.
Dari berita Cina diketahui bahwa di ibu kota kerajaan terdapat istana raja yang dikelilingi dinding
dari batu bata dan batang kayu. Di dalam istana, berdiam rajabeserta keluarganya dan para abdi. Di
luar istana (masih di dalam lingkungan dinding kota) terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan
termasuk putra mahkota beserta keluarganya. Mereka tinggal dalam perkampungan khusus di mana
para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal sekitarnya.Sisa-sisa peninggalan
pemukiman khusus ini sampai sekarang masih bisa kita temukan di Yogyakarta dan Surakarta. Di
luar tembok kota berdiam rakyat yang merupakan kelompok terbesar. Kehidupan masyarakat
Mataram umumnya bersifat agraris karena pusat Mataram terletak di pedalaman, bukan di pesisir
pantai. Pertanian merupakan sumber kehidupan kebanyakan rakyat Mataram. Di samping itu,
penduduk di desa (disebut wanua) memelihara ternak seperti kambing, kerbau, sapi, ayam, babi, dan
itik. Sebagai tenaga kerja, mereka juga berdagang dan menjadi pengrajin. Dari Prasasti Purworejo
(900 M) diperoleh informasi tentang kegiatan perdagangan. Kegiatan di pasar ini tidak diadakan
setiap hari melainkan bergilir, berdasarkan pada hari pasaran menurut kalender Jawa Kuno. Pada hari
Kliwon, pasar diadakan di pusat kota. Pada hari Manis atau Legi, pasar diadakan di desa bagian timur.
Pada hari Paking (Pahing), pasar diadakan di desa sebelah selatan. Pada hari Pon, pasar diadakan di
desa sebelah barat. Pada hari Wage, pasar diadakan di desa sebelah utara.
Pada hari pasaran ini, desa-desa yang menjadi pusat perdagangan, ramai didatangi pembeli dan
penjual dari desa-desa lain. Mereka datang dengan berbagai cara, melalui transportasi darat maupun
sungai sambil membawa barang dagangannya seperti beras, buah-buahan, dan ternak untuk dibarter
dengan kebutuhan yang lain. Selain pertanian, industri rumah tangga juga sudah berkembang.
Beberapa hasil industri ini antara lain anyaman seperti keranjang, perkakas dari besi, emas, tembaga,
perunggu, pakaian, gula kelapa, arang, dan kapur sirih. Hasil produksi industri ini dapat diperoleh di
pasar-pasar yang ada. Sementara itu, bila seseorang berjasa (biasanya pejabatmiliter atau kerabat
istana) kepada Kerajaan, maka orang bersangkutan akan diberi hak memiliki tanah untuk dikelola.
Biasanya tempat itu adalah hutan yang kemudian dibuka menjadi pemukiman baru. Orang yang diberi
tanah baru itu diangkat menjadi penguasa tempat yang baru dihadiahkan kepadanya. Ia bisa saja
menjadi akuwu (kepala desa), senopati, atau adipati atau menteri. Bisa pula sebuah wilayah
dihadiahkan kepada kaum brahmana untuk dijadikan asrama sebagai tempat tinggal mereka, dan di
sekitar asramatersebut biasanya didirikan candi atau wihara.
Setelah di Jawa Tengah, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, hal ini dapat dibuktikan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
34
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang. Prasasti ‘Dinaya’ berbahasa
sanskerta dan ditulis memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar
yang diadakan oleh Raja Dewa Simha pada tahun 760 Masehi yang dilaksanakan oleh para ahli Weda,
para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dewa Simha adalah salah satu raja dari
kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai
peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur.
Kemudian pada tahun 929-947 muncullah Empu Sendok dari dinastiIsana Wamsa dan bergelar Sri
IsanottunggaDeva, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa. Sebagai
pengganti Empu Sendok adalah Dharma Wangsa. Selanjutnya munculah Airlangga (yang
memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.
Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai
pengembang agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya
Kitab Smaradahana, Bharatayudha, Lubdhaka,Wrtasancaya dan kitab Kresnayana.
Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292). Pada zaman kerajaan Singosari ini
didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai peninggalan keHinduan pada zaman
kerajaan Singosari. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan
Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara. Keemasan masa Majapahit merupakan
masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu. Hal ini dapat dibuktikan dengan
berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga
munculnya buku Negarakertagama.
Di Jawa Timur berkembang aliran Tantrayana seperti yang dilakukan Kertanegara dari Singasari yang
dipandang merupakan penjelmaaan Siwa. Kepercayaan terhadap roh leluhur masih terwujud dalam
upacara kematian dengan mengadakan kenduri 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun dan
1000 hari, serta masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Menurut berita Cina, Kediri terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang damai, masyarakat
Kediri hidup berkecukupan. Penduduk wanitanya memakai kain sarung sampai bawah lutut dan
rambutnya terurai. Rumah mereka bersih dan rapi, lantainya dari ubin berwarna hijau dan kuning.
Dalam upacara perkawinan mereka memakai maskawin dari emas dan perak.Masyarakatnya sering
mengadakan pesta air (sungai atau laut) maupun pesta gunung sebagai ungkapan terima kasih kepada
para Dewa dan leluhur mereka. Kehidupan perekonomian Kediri berpusat pada bidang pertanian
dan perdagangan. Hasil pertanian masyarakat Kediri umumnya beras. Sementara barang-barang yang
diperdagangkan antara lain emas, kayu cendana, dan pinang. Walaupun terletak di pedalaman, jalur
perdagangan dan pelayaran maju pesat melalui Sungai Brantas yang dapat dilayari sampai ke
pedalaman wilayah Kediri dan bermuara di Laut Selatan (Samudra Indonesia). Masyarakat Kediri
juga sudah mempunyai kesadaran tinggi dalam membayar pajak. Mereka membayar pajak dalam
bentuk natura yang diambil dari sebagian hasil bumi mereka.
Sementara itu, kehidupan sosial Singasari dapat diketahui dari Negarakretagama dan Pararaton serta
kronik Cina. Disebutkan, masyarakat Singasari terbagi dalam kelas atas, yaitu keluarga raja dan kaum
bangsawan, dan kelas bawah yang terdiri dari rakyat umum. Selain itu, ada kelompok agama, pendeta
Hindu maupun Buddha. Namun pembagian atas golonganini tidak seketat pengkastaan seperti di
India. Ini membuktikan, sekali lagi, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pribumi. Dari
Negarakretagama dan Pararaton diperoleh gambaran tentang kehidupan perekonomian di Jawa pada
masa Singasari. Di desa pada umumnya penduduk hidup dari bertani, berdagang, dan kerajinan
tangan. Tidak sedikit pula yang bekerja sebagai buruh atau pelayanan. Kegiatan berdagang dilakukan
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
35
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
dalam 5 (Lima) hari pasaran pada tempat yang berbeda (Legi, Pahing, Pon, Wage,Kliwon). Oleh
karena itu, sarana transportasi darat memegang peranan penting. Beberapa prasasti melukiskan
bagaimana para pedagang, pengrajin, dan petani membawa barang dagangannya. Mereka
digambarkan melakukan perjalanan sambil memikul barang dagangannyaatau mengendarai pedati-
kuda. Ada pula yang melakukan perjalanan melalui sungai dengan menggunakan perahu.
Dengan disebutnya alat angkut pedati dan perahu, dapatlah disimpulkan bahwa perdagangan antar
desa cukup ramai. Apalagi di wilayah Singasariterdapat dua sungai besar, Bengawan Solo dan Kali
Brantas yang dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian dan lalu lintas perdagangan air.
Perdagangan mulai mendapatkan perhatian cukup besar semasa Kertanegara memerintah.
Kertanegara mengirimkan ekspedisi militer ke Melayu (Pamalayu) untuk merebut kendali
perdagangan di sekitar Selat Malaka. Pada masa ini memang Selat Malaka merupakan jalur sutera
yang dilalui oleh para pedagang asing.
Dalam hal kepemilikan tanah, transportasi, perpajakan, dan tenaga kerja; kehidupan rakyat Medang
Kamulan menyerupai Mataram, karena Medang Kamulan tak lain adalah kelanjutan Mataram. Yang
berbeda adalah hanya nama dinastinya dan perpindahan wilayah kekuasaan dari barat ke timur. Masa
pemerintahan Empu Sendok yang bergelar Sri Isana Tunggawijaya, merupakan masa yang damai.
Namun, sejak pemerintahan Dharmawangsa Teguh, politik Kerajaan cenderung mengarah ke luar
negeri. Tujuannya adalah untuk merebut dominasi perdagangan di perairan Jawa, Sumatera,dan
Kalimantan, yang ketika itu dikuasai Sriwijaya. Untuk keperluan itu, Dharmawangsa Teguh
membangun armada militer yang tangguh. Dengan kekuatan militernya, Medang Kamulan
menaklukkan Bali, lalu mendirikan semacam koloni di Kalimantan Barat. Medang Kamulan
kemudian menyerang Sriwijaya, walaupun tidak menang. Dharmawangsa pun mengembangkan
pelabuhan Hujung Galuh di selatan Surabaya dan Kembang Putih (Tuban) sebagai tempat para
pedagang bertemu. Ketika Airlangga berkuasa, kerajaan menjaga hubungan damai dengan kerajaan-
kerajaan tetangga demi kesejahteraan rakyat. Ini diperlihatkan dengan mengadakan perjanjian damai
dengan Sriwijaya. Kerajaan pun memperlakukan umat Hindu dan Buddha sederajat.
Dari peninggalan sejarah diketahui bahwa masyarakat Majapahit relatif hidup rukun, aman, dan
tenteram. Majapahit menjalin hubungan baik dan bersahabat dengan Negara tetangga, di antaranya
dengan Syangka (Muangthai), Dharma Negara, Kalingga (Raja Putera), Singhanagari (Singapura),
Campa dan Annam (Vietnam), serta Kamboja. Negara-negara sahabat ini disebut dengan Mitreka
Satata. Disebutkan bahwa pada masa Hayam Wuruk, penganut agama Hindu Siwa dan Buddha dapat
bekerjasama.Hal ini diungkapkan oleh Empu Tantular dalam Sutasoma atau Purusadashanta yang
berbunyi ”bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrawa” yang artinya: ”di antara pusparagam
agama adalah kesatuanpada agama yang mendua.” Rakyat Majapahit terbagi dalam kelompok
masyarakat berdasarkan pekerjaan. Pada umumnya, rakyat Majapahit adalah petani, sisanya
pedagang dan pengrajin. Selain pertanian, Majapahit juga mengembangkan perdagangan dan
pelayaran. Hal ini dapat simpulkan dari wilayah kekuasaan Majapahit yang meliputi Nusantara
bahkan Asia Tenggara. Barang utama yang diperdagangkan antara lain rempah-rempah, beras,
gading, timah, besi, intan, dan kayu cendana. Sejumlah pelabuhan terpenting pada masa itu adalah
Hujung Galuh, Tuban, dan Gresik. Majapahit memegang dua peranan penting dalam dunia
perdagangan. Pertama, Majapahit adalah sebagai kerajaan produsen yang menghasilkan barang-
barang yang laku di pasaran. Hal ini bisa dilihat dari wilayah Majapahit yang demikian luas dan
meliputi daerah-daerah yang subur. Kedua, peranan Majapahit adalah sebagai perantara dalam
membawa hasil bumi dari daerah satu ke daerah yang lain. Perkembangan perdagangan Majapahit
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
36
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
didukung pula oleh hubungan baik yang dibangun penguasa Majapahit dengan kerajaan-kerajaan
tetangga. Barang-barang dari luar negeri dapat dipasarkan di pelabuhan-pelabuhan Majapahit. Dan
sebaliknya, barang-barang Majapahit dapat diperdagangkan di negara-negara tetangga. Hubungan
sedemikian tentu sangat menguntungkan perekonomian Majapahit. Dalam hal kepemilikan tanah di
Majapahit memiliki kesamaan dengan yang berlaku di kerajaan-kerajaan sebelumnya. Begitu pula
mengenai perpajakan dan tenaga kerja. Para petani selalu bergotong royong dalam hal bercocok
tanam dan mengairi sawahnya.
Selanjutnya agama Hindu berkembang di Bali. Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada
abad ke-8. Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, Arca Siwa yang bertipe sama dengan
Arca Siwa diDieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8. Menurut uraian lontar- lontar di Bali,
bahwa Empu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali. Pengaruh Empu Kuturan di Bali
cukup besar. Adanya sekte-sekte yang hidup pada zaman sebelumnya dapat disatukan dengan
pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan
sebagaimana termuat dalam Usana Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri
Murti di Pura Khayangan Tiga. Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih
Menjangan Salwang. Beliau Moksa di Pura Silayukti.
Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai
akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa
Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai zaman keemasan dengan datangnya
Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16. Jasa beliau sangat besar dibidang sastra,
agama, arsitektur. Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi,Peti
Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).
Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan
keagamaan sempat mengalami kemunduran. Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul
dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya
kanta tahun1925 di Singaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa DurghaGama Hindu Bali tahun 1926 di
Klungkung, Paruman Para Pinandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di
Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959
terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 November tahun 1961 umat
Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang
menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal danlandasan pembinaan umat Hindu.
Pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan
Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma
Indonesia. Perkembangan dan kemajuan selanjutnya tentu terjadi, seirama dengan perkembangan
atau kemajuan Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan dunia pada umumnya.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
37
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Uji Kompetensi
1. Setelah anda membaca teks kebudayaan prasejarah dan sejarah agama Hindu, apakah
yang anda ketahui tentang agama Hindu? Jelaskan dan tuliskanlah!
2. Buatlah ringkasan yang berhubungan dengan materi penerapan kebudayaan prasejarah
dan sejarah agama Hindu, guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama
Hindu, dariberbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui!Tuliskan
dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari bapak/ ibu guru yang mengajar di
kelasmu!
3. Apakah yang anda ketahui tentang kebudayaan prasejarah dansejarah agama Hindu?
Jelaskanlah!
4. Bagaimana cara kita untuk mengendalikan diri baik itu dari unsur jasmani maupun
rohani menurut petunjuk kitab suci yang pernah anda baca? Jelaskan dan tuliskanlah
pengalamannya!
5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari usaha dan upaya untuk
mewujudkan kebudayaan prasejarah dan sejarah agama Hindu”? Tuliskanlah
pengalaman anda!
6. Amatilah lingkungan sekitar anda terkait dengan penerapan kebudayaan prasejarah dan
sejarah agama Hindu guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan agama Hindu,
buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah dengan orang tuanya! Apakah yang
terjadi? Buatlah narasinya 1–3 halaman diketik dengan huruf Times New Roman – 12,
spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto; 4-3-3-4!
B. Teori-Teori Masuknya Agama Hindu ke Indonesia.
Perenungan.
”Prajàpate na tvad etàny anyo viúvà
jàtàni pari tà babhùva, yatkàmàs te
juhumas tan no astu vayam syàma
patayo rayinàm.
Terjemahan:
‘Om Hyang Prajapati, pencipta alam semesta, tidak ada yang lain yang maha
kuasa, mengendalikan seluruh ciptaan-Mu, kami persembahkan segala cita- cita
kami, kepada-Mu, anugrahkanlah karunia berupa segala kebajikan kepada kami’
(Ågveda X.121.10).
Kita semua patut bersyukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kehadiran agama
Hindu bangsa Indonesia mengenal sejarahnya. Bagaimana ajaran agama Hindu masuk ke
Indonesia? Diskusikanlah, sesuai dengan petunjuk Bapak/Ibu Guru yang mengajar di kelas-mu!
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
38
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Dari lembah Sungai Sindhu, ajaran Agama Hindu menyebar ke seluruhpelosok dunia, seperti ke
India Belakang, Asia Tengah, Tiongkok, Jepang dan akhirnya sampai ke Indonesia. Di Indonesia
banyak ditemukan berbagai bentuk peninggalan sejarah bercorak ke-‘Hindu’-an.
Kehadiran budaya Hindu di Indonesia menyebabkan terjadinya akulturasi dan perubahan tatanan
sosial sistem religius dari bangsa Indonesia. Akulturasi merupakan perpaduan beberapa budaya,
dimana unsur-unsur kebudayaan itu menyatu dan hidup berdampingan saling mengisi serta tidak
menghilangkan unsur-unsur asli dari kebudayaan aslinya. Kebudayaan Hindu masuk ke Indonesia
diterima dengan tidak begitu saja melainkan dengan melalui proses pengolahan dan penyesuaian
kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan
karena;
1. Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukuptinggi sehingga
masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambahperbendaharaan kebudayaan aslinya.
2. Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau lokal genius merupakan kecakapan
suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur
tersebut sesuai dengan kepribadian bangsanya.
3. Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di
Indonesia. Perpaduan budaya Hindu melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai
sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing
”India” sesuai dengan kebudayaan Indonesia.
Dengan masuknya agama Hindu ke Indonesia, terjadi perubahan dalam tatanan sosial
masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dengan dikenalnya pembagianmasyarakat atas Varna
”profesi” atau yang lebih dikenal dengan sebutan wangsa. Perubahan yang terjadi tidak begitu
berpengaruh besar terhadap ekonomi masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena
masyarakat Indonesia telah mengenal sistem pelayaran dan perdagangan tersendiri jauh sebelum
masuknya pengaruh tersebut. Sebelum masuknya pengaruh Hindu di Indonesia, sistem
pemerintahan dipimpin oleh kepala suku yang dipilih karena yang bersangkutan dipandang
memiliki kelebihan tertentu jika dibandingkan anggota masyarakat/kelompok lainnya. Setelah
pengaruh Hindu masuk makaberdirilah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang berkuasa
secara turun-temurun. Raja dianggap sebagai keturuanan dari Dewa yang memiliki kekuatan,
dihormati, dan dipuja, sehingga memperkuat kedudukannya untuk memerintah wilayah kerajaan
secara turun temurun serta meninggalkan sistem pemerintahan kepala suku.
Agama Hindu dinyatakan masuk ke Indonesia pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui
dengan adanya bukti tertulis dari benda-benda purbakala pada zaman abad ke 4 Masehi dengan
diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh
buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenaikehidupan keagamaan pada waktu itu yang
menyatakan bahwa: Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yajña oleh Raja
Mulawarman”. Sang Mulawarman adalah raja yang berperadaban tinggi, kuat, dan berkuasa
merupakan putra dari Sang Aúwawarman, dan sebagai cucu dari Sang Maharaja
Kundungga. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa RajaMulawarman melakukan yajña
(Kenduri) pada suatu tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan
”Vaprakeswara”.
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
39
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Sumber: http://unikahidha.ub.ac.id15-07-2013.
Gambar 2.11 Yupa (Kutai)
Kehadiran agama Hindu di Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, seperti berakhirnya
zaman prasejarah Indonesia. Perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama dengan
memuja Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan kitab Suci Weda dan juga munculnya kerajaan yang
mengatur kehidupan suatu wilayah. Mengenai masuknya agama Hindu ke Indonesia, ada beberapa
teori yang menjelaskan hal tersebut. Teori-teori yang dimaksudantara lain:
1. Teori Brahmana;
Dikemukakan oleh J.C. Van Leur,berisi bahwa kebudayaan Hindu dibawa oleh para
brahmana yangdiundang oleh para kepala suku agarmereka dapat mensahkan / melegitimasi
(investitur) kekuasaan mereka sebagai kepala suku diIndonesia sehingga setaraf denganraja-raja di
India. Teori ini pun dapatdisanggah karena raja di Indonesiaakan sangat sulit mempelajari kitab
Weda dan ada pula aturan bahwakaum Brahmana tidak diperbolehkanmenyebrangi lautan, apalagi
meninggalkan tanah kelahirannya.
Sumber: http://4. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.12 Brahmana
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
40
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
2. Teori Ksatriya;
Dikemukakan oleh F.D.K Bosch dan C.C. Berg, berisi bahwa agama Hindu dibawa oleh kaum kasta
Ksatria (raja, pangeran) yang melarikan diri ke Indonesia karena kalah perang/ kekacauan politik di
India. Di Indonesia sendiri, mereka mendirikan kerajaan sendiri dengan bantuan masyarakat sekitar
dan karena kedudukannya sebagai raja, maka penduduk pun akan pula menganut agama Hindu.
Teori ini pun juga memiliki kelemahan yaitu;
a. Kalangan ksatria tidak mengerti agama danhanya mengurusi pemerintahan.
b. Adanya ketidak-mungkinan seorang pelarian mendapat kepercayaan dan kedudukan mulia
sebagai raja.
Bukti arkeologis menunjukkan bahwa raja di Indonesia adalah raja asli
Indonesia, bukan orang India.
Sumber: http://3. bp.blogspot. com 15-07-2013.
Gambar 2.13 Ksatriya
3. Teori Wesya;
Dikemukakan oleh N. J. Kroom, berisi bahwa agama Hindu dibawa oleh para pedagang India yang
singgah dan menetap di Indonesia ataupun bahkan menikah dengan wanita Indonesia. Merekalah
yang mengajarkan kepada masyarakatdimana mereka singgah. Teori ini pun dapat dibantah dimana
hanyalah Varna Brahmana yang mampu danbebas mengetahui isi dari kitab suci agama Hindu, Weda.
Ini disebabkan bahasa yang dipakai adalah bahasakitab, Sanskerta, bukan bahasa sehari-hari, Pali.
Sumber: http://4. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.14 Wesya
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
41
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
4. Teori Sudra;
Dikemukakan oleh Van Faber berisi bahwa agama Hindu dibawa oleh para orang buangan berkasta
Sudra (tawanan perang) yang dibuang dari India ke Nusantara. Teori ini lemah karena pada dasarnya
kebudayaan Hindu bukanlah milik dan cakupan varna mereka sebab kebudayaan Hindu dianggap
terlalu tinggi untuk mereka.
5. Teori Arus balik
Teori ini berisi dua cara bagaimana Agama Hindu masuk ke Indonesia, antara lain
a. Para Brahmana diundang kepala suku diIndonesia untuk memberikan ajaran Hindu dan juga
melakukan upacara Vratyastoma, yaitu upacara khusus untuk meng-Hindu- kan seseorang.
b. Para raja di indonesia pergi ke India untuk mempelajari agama Hindu. Setelah menguasai
agama Hindu, mereka kembali ke Indonesia, memiliki kasta Brahmana, lalu mengajarkan
agama Hindu kepada masyarakat.
Sumber: http://1.
bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.15 Arus-balik
Dari seluruh teori yang telah disebutkan di atas, teori Brahmana adalahteori yang paling dapat
diterima karena yaitu.
Agama Hindu dalam kehidupan di masyarakat segala upacara keagamaan cenderung
dimonopoli oleh kaum Brahmana sehingga hanyalah Brahmana yang mungkin menyebarkan
agama Hindu.
Prasasti yang ditemukan di Indonesia berbahasa Sanskerta yang merupakan bahasa kitab suci
dan upacara keagamaan, bukan bahasa sehari-hari sehingga hanya dimengerti oleh Kaum
Brahmana.
Diantara pendapat dan teori yang dikemukakan oleh para ilmuwan tersebutdi atas yang paling
mendukung terkait dengan masuk dan diterimanya pengaruh Hindu oleh bangsa Indonesia adalah
teori Brahmana. Hal ini dilandasi dengan asumsi dan pemikiran bahwa, yang paling banyak tahu
tentang urusan agama adalah golongan ”warna” brahmana. Warna brahmanadalam tata kehidupan
masyarakat Hindu disebut-sebut sebagai kelompokmasyarakat yang ahli agama.
Sedangkan teori-teori yang lainnya masing-masing memiliki kelemahan tertentu dan kurang sesuai
dengan situasi dan kondisi daerah yang ditujuserta sifat-sifat Hindu itu sendiri. Demikianlah
beberapa teori yangdikemukan oleh para ahli tentang bagaimana pengaruh Hindu masuk ke
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
42
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Indonesia pada zamannya. Ni Made Kerti, S.Ag
Uji Kompetensi
1. Setelah anda membaca tentang teks teori-teori masuknya agama Hindu ke Indonesia,
apakah yang sudah anda ketahui terkaitdengan keberadaan agama Hindu di tanah air?
Jelaskan dan tuliskanlah!
2. Buatlah ringkasan materi yang berhubungan dengan penerapan teori-teori masuknya
agama Hindu ke Indonesia, guna mewujudkan tujuan hidup manusia dan tujuan
agama Hindu, dariberbagai sumber media pendidikan dan sosial yang anda ketahui!
Tuliskan dan laksanakanlah sesuai dengan petunjuk dari bapak/ ibu guru yang
mengajar di kelasmu!
3. Apakah yang anda ketahui tentang teori-teori masuknya agama Hindu ke Indonesia?
Jelaskanlah!
4. Bagaimana cara-mu untuk mengetahui teori-teori masuknya agama Hindu ke
Indonesia? Jelaskan dan tuliskanlah pengalamannya!
5. Manfaat apakah yang dapat dirasakan secara langsung dari mengetahui teori-teori masuknya
agama Hindu ke Indonesia? Tuliskanlah pengalaman anda!
6. Amatilah lingkungan sekitar anda terkait dengan teori-teori masuknya agama Hindu
ke sekitar wilayah lingkungan-mu, buatlah catatan seperlunya dan diskusikanlah
dengan orang tuanya! Apakah yang terjadi? Buatlah narasinya 1–3 halaman diketik
dengan huruf Times New Roman – 12, spasi 1,5 cm, ukuran kertas kwarto; 4-3-3-4!
C. Bukti-Bukti Menumental Peninggalan Prasejarah dan Sejarah
Perkembangan Agama Hindu di Dunia
Perenungan.
”Etadàkhyànamàyuûyaý
paþhan ràmàyaóaý naraá,
saputrapautraá sagaóaá
pretya svage mahiyate.
Terjemahan:
‘Seseorang yang membaca cerita Ràmàyaóa ini akan memperoleh umurpanjang dan setelah
meninggal akan memperoleh kebahagiaan di sorga bersama putra-putranya, cucu-cucunya,
dan pengikutnya (Úrimadvàlmikiya Ràmàyaóa I.1).
Zaman Prasejarah tidak meninggalkan bukti-bukti berupa tulisan. Zaman prasejarah hanya
meninggalkan benda-benda atau alat-alat hasil kebudayaan manusia. Peninggalan seperti itu
disebut dengan artefak. Artefak dari zaman prasejarah terbuat dari batu (zaman batu atau
teknologi zaman batu) tanah liat dan perunggu. Berikut ini peninggalan zaman prasejarah di
Indonesia;
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
43
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
1. Kapak genggam
Kapak gemgam juga disebut dengan nama kapakperimbas. Alat ini berupa batu yang dibentuk
menjadi semacam kapak. Teknik pembuatannya masih kasar, bagian tajam hanya pada satu sisi.
Alat tersebut belum bertangkai, dan digunakan dengan cara digenggam. Daerah atau tempat
ditemukannya benda prasejarah ini adalah di wilayah Indonesia, antara lain di; Lahat Sumsel,
Kalianda Lampung, Awangbangkal Kalsel,Cabbenge Sulsel dan Trunyan Bali. Gambar: 2.16 ini
adalah hasil temuannya.
Sumber: http://4. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.16 Kapak genggam
2. Alat serpih.
Alat serpih adalah merupakan batu pecahansisa dari pembuatan kapak genggam yang dibentuk
menjadi tajam. Alat tersebut berfungsi sebagai serut, gurdi, penusuk dan pisau. Daerah atau
tempat ditemukannya benda-benda pra-sejarah ini adalah; di daerah Punung, Sangiran, dan
Ngandong (lembah Sungai Bengawan Solo); Gombong Jateng; lahat; Cabbenge; dan Mengeruda
Flores NTT. Gambar: 2.17 ini adalah hasil temuannya.
Sumber: http://2. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.17 Alat serpih
3. Sumatralith.
Sumatralith nama lainnya adalah Kapak genggam Sumatera. Teknik atau cara pembuatannya
adalah lebih halus dari kapak perimbas. Bagian tajam sudah ada pada di kedua sisi. Cara
menggunakannya masih digenggam. Daerah tempat ditemukannyabenda prasejarah ini adalah
bertempat di daerah Lhokseumawe Aceh dan Binjai Sumut. Gambar: 2.18 ini adalah hasil
temuannya;
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
44
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Sumber: http://1. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.18 Kapakgenggam Sumatra
4. Beliung persegi
Beliung persegi adalah merupakan alat alat-alat penemuan zaman prasejarah dengan permukaan
memanjang dan berbentuk persegi empat. Seluruh permukaan alat tersebut telah digosok halus.
Sisi pangkal diikat pada tangkai, sisi depan diasah sampai tajam. Beliung persegi berukuran besar
berfungsi sebagai cangkul. Sedangkan yang berukuran kecil berfungsi sebagai alat pengukir
rumah atau pahat. Daerah tempat ditemukan benda prasejarah ini adalah di beberapa daerah
Indonesia, seperti; Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Sulawesi. Gambar: 2.19ini adalah hasil
temuannya;
Sumber: http://4. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.19 Beliung Persegi
5. Kapak Lonjong
Kapak Lonjong adalah merupakan alat penemuan zaman prasejarah yang berbentuk lonjong.
Seluruh permukaan alat tersebut telahdigosok halus. Sisi pangkal agak runcing dan diikat pada
tangkai. Sisi depan lebih melebar dan diasah sampai tajam. Alat ini dapat digunakan untuk
memotong kayu dan berburu. Daerah ditemukan benda ini adalahdi wilayah Negara Kesatuan
Republi Indonesia (NKRI) seperti di; Sulawesi, Flores,Tanimbar, Maluku dan Papua. Gambar:
2.20 ini adalah hasil temuannya;
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
45
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Sumber: http://1. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.20 Kapak Lonjong
6. Mata panah
Mata panah adalah merupakan bendan prasejarah berupa alat berburu yang sangat urgent. Sealin
untuk berburu, mata panah digunakan untukmenangkap ikan, mata panah dibuat bergerigi.Selain
terbuat dari batu, mata panah juga terbuat dari tulang. Daerah ditemukan benda prasejarah
adalah di; Gua Lawa, Gua Gede,Gua Petpuruh (Jatim), Gua Cakondo, Gua Tomatoa Kacicang,
Guan Saripa (Sulsel). Gambar: 2.21 ini adalah hasil temuannya;
Sumber: http://2. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.21 Mata Panah
7. Alat dari tanah liat
Alat dari tanah liat adalah peralatan zamanprasejarah yang dibuat dari tanah liat. Benda-benda
tersebut antara lain; Gerabah, alat inidibuat secara sederhana, tapi pada masa perundagian alat
tersebut dibuat dengan teknikyang lebih maju. Gambar: 2.22 ini adalah hasiltemuannya;
Sumber: http://4. bp.blogspot.com 15-07-2013.
Gambar 2.22 Alat Tanah Liat
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
46
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
8. Bangunan megalitik
Bangunan megalitik adalah bangunan-bangunan yang terbuat dari batu besar didirikan untuk
keperluan kepercayaan. Bentuk bangunan ini biasanya tidak terlalu halus, hanya diratakan secara
sederhana untuk dapat dipergunakan seperlunya. Adapun hasil-hasil terpenting dari kebudayaan
megalitik antara lain: Menhir, Dolmen, Sarkopagus (kranda), Batu kubur, dan Funden berundak-
undak. Gambar: 2.23 ini adalah hasil temuannya berupa kubur batu ;
Indonesia, R. Soekmono.
Gambar 2.23 Bangunan Megalitik
9. Nekara dari perunggu
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang berpinggang di bagian tengahnya dan sisi
atasnya tertutup. Diantara nekara-nekara yang ditemukan di negeri kita, sangat sedikit yang masih
utuh, kebanyakan diantaranya sudah rusak dan yang tertinggal hanya berupa pecahan- pecahan
sangat kecil. Adapun tempat ditemukannya Nekara perunggu di negara kitaantara lain seperti di;
Sumatra, Jawa, Bali, Pulau Sangean dekat Sumbawa, Rote, Leti, Selayar danKepulauan Kei. Di
Alor juga terdapat Nekara, namun bentuknya lebih kecil dan ramping, dibandingkan dengan
nekara yang terdapat di daerah lainnya. Gambar: 2.24 ini adalah hasil temuannya.
Sumber: Sejarah Kebudayaan Indonesia, R. Soekmono.
Gambar 2.24 Nekara dari
P. Selayar
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
47
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
Peninggalan Sejarah Hindu di Indonesia.
Sejarah menyatakan bahwa ”Maha Rsi Agastya” yang menyebarkan agama Hindu dari India ke
Indonesia. Data ini ditemukan sebagai bukti yang terdapat pada beberapa prasasti di pulau Jawa dan
lontar-lontar di pulau Bali. Menurut data peninggalan sejarah tersebut dinyatakan bahwa Rsi Agastya
menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia melalui Sungai Gangga, Yamuna, India Selatan
dan India Belakang. Karena begitu besar jasa-jasa Rsi Agastya dalam penyebaran ajaran Agama
Hindu, maka namanya disucikan di dalam prasasti, antara lain; Prasasti Dinoyo yang berada di Jawa
Timurdan bertahun Saka 682, dimana seorang patih raja yang bernama Gaja Yana membuatkan pura
suci untuk Rsi Agastya, dengan maksud untuk memohon kekuatan suci dari beliau (Rsi Agastya).
Dan Prasasti Porong di Jawa Tengah bertahun Saka 785, juga menyebutkan keagungan serta
kemuliaan jasa- jasa Rsi Agastya. Mengingat kemuliaan Rsi Agastya, maka terdapat istilah atau
julukan yang diberikanuntuk beliau, diantaranya Agastya Yatra yang artinya perjalanan suci Rsi
Agastya yang tidak mengenal kembali dalam pengabdiannya untuk Dharma. Dan julukan Pita Segara,
yang artinya ”Bapak dari Lautan” karena beliau yang mengarungi lautan luas demi untuk Dharma.
Sumber: Sejarah Bali
Gambar 2.25 Arca MahaRsi Agastya
Sebelum pengaruh Hindu masuk dan diterima oleh bangsa Indonesia, berdasarkan hasil penelitian
yang diadakan oleh J. Brandes menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal sepuluh (10)
macam unsur kebudayaan asli. Kesepuluh jenis kebudayaan asli itu meliputi; sistem berlayar, sistem
perbintangan, sistem mata uang, sistem gerabah, seni membatik, seni wayang, sistem berburu, pola
menetap, sistem bertani, dan sistem relegi. Dari sistemyang dikenal itu mereka meninggalkan
berbagai macam peninggalan kebudayaan seperti; yang berasal dari zaman megalith dan prunggu
terdapat peninggalan berupa; menhir, dolmen, sarkopagus, kuburan batu ”pandhusa”, funden
berundak-undak, arca perwujudan nenek moyang, dan berbagai jenis nekara. Bangsa Indonesia telah
mengenal dan menganut sistem kepercayaan terhadap roh nenek moyang-nya. Pemujaan kepada roh
nenek moyang mempergunakan arca perwujudan. Arca perwujudan itu diletakkan pada tempat
”tanah” yang lebih tinggi dalam bentuk punden berundak-undak. Dengan teknis seperti itulah
pemujaan kepada arwah leluhurnya.
Bersamaan dengan berkembangnya pengaruh Hindu keseluruh dunia termasuk Indonesia, maka
terjadilah akulturasi antara kebudayaan asli Indonesia dengan kebudayaan India yang dijiwai oleh
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
48
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
agama Hindu. Selanjutnya secara berangsur-angsur peradaban Hindu mempengaruhi dan menjiwai
peradaban asli Indonesia sesuai dengan sifat-sifatnya. Untuk semuanya itu terkait tentang bukti-bukti
peninggalan sejarah Hindu, dapat diuraikan sebagai berikut;
1. Kutai
Kutai terletak di Pulau Kalimantan bagian Timur.Pada abad ke empat (4) Masehi berkembanglah
disana sebuah kerajaan yang bernama Kutai,dipimpin oleh Aswawarman yang disebut-sebut
sebagai putra dari Kundungga. Di Kutaidiketemukan 7 buah Prasasti yang berbentuk Yupa.
Yupa adalah tiang batu/tugu peringatan untuk melaksanakan upacara kurban. Yupa sebagai
prasasti bertuliskan huruf Pallawa, berbahasa sanskerta dan tersusun dalam bentuk syair. Salah
satu diantara batu bertulis tersebut ada yangmenuliskan ”Sang Maha Raja Kundungga yang
amat mulia, mempunyai putra yang masyur, Sang Açwawarman namanya, seperti Ançuman
(Dewa Matahari), menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Açwawarman mempunyai tiga
putra, seperti api yang suci ketiganya. Yang terkemuka dari ketiganya itu ialah Sang Mulawarman
raja yang bijaksana, kuat, dan berkuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan yajna dengan
mempersembahkan emas yang banyak”. Pada bagian lain disebutkan pula bahwa ”Sang
Mulawarman raja mulia dan terkemuka, telah mempersembahkan yajna berupa dua puluh ribu
(20.000) ekor sapi kepada para brahmana bertempat di lapangan suci waprakeswara.
Waprakeswara adalah lapangan suci sebagai tempat untuk memuja Çiwa.
Sumber: Sejarah Kebudayaan Indonesia, R. Soekmono.
Gambar 2.26 Yupa (Kutai)
R. Soekmono menyatakan bahwa, Kundungga adalah bukan kata sanskerta. Kundungga adalah
seorang kepala suku penduduk asli Indonesia yang belumbanyak kena pengaruh kebudayaan India.
Purbatjaraka mengatakan, bahwa Kundungga bukan sosok yang terkenal di India. Mungkin beliau
adalahorang Indonesia asli yang sudah menerima pengaruh kebudayaan India. Sehingga nama-
nama keturunannya disesuaikan dengan budaya Indiaselatan. Sebagaimana kita ketahui melalui
penuturan sejarah bahwa budaya orang-orang India selatan sering mempergunakan akhiran
”warman” (pelindung) dalam memberikan nama-nama keturunannya. Sedangkan, Krom
menyatakan bahwa, Kundungga adalah tipe India Selatan, karena disana diketemukan istilah
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
49
[E-BOOK SEJARAH PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN DI DUNIA] I Kadek Arta Jaya, S.Ag.,M.Pd.H
Ni Made Kerti, S.Ag
tempat yang disebut Kundukura. Dari berbagai pendapatyang dikemukakan oleh para ilmuwan
tersebut di atas tentang asal sebutan Kundungga, yang utama patut kita ketahui dan diingat adalah
apa saja peninggalan agama Hindu yang terdapat di Kutai pada masa lalu sampai sekarang.
Berdasarkan penemuan peninggalan sejarah berupa batu bertulis (Yupa) dapat diketahui bahwa
agama Hindu telah berkembang dengan subur di Kutai. Hindu sebagai agama telah diterima oleh
masyarakatKutai dan pada abad ke empat (4) Masei sudah berkembang dengansuburnya di Kutai.
Adapun pengaruh agama Hindu yang diterima oleh masyarakat Kutai adalah Hindu ajaran çiwa.
2. Jawa Barat.
Jawa Barat merupakan bagian dari pulau Jawa. Pada zaman raja-raja di nusantara ini, Jawa Barat
merupakan salah satu daerah pusat berkembangnya agama Hindu. Disekitar tahun 400-500 Masehi
Jawa Barat diperintah oleh seorang raja yang bernama ”Purnawarman” dengan kerajaannya
bernama Taruma Negara. Kerajaan Taruma Negara meninggalkan banyak prasasti, diantaranya
adalah prasasti; Ciaruteun, Kebon Kopi, Tugu, dan prasasti Canggal. Prasasti-prasasti itu
kebanyakan ditulis dengan mempergunakan hurup Pallawa dan berbahasasanskerta yang digubah
dalam bentuk syair (Soekmono, ”Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia II” Kanisius, 1973).
Penemuan sebuah prasasti yang mengungkapkan tentang kehidupanmanusia memiliki nilai
tersendiri dalam membicarakan perkembanganagama Hindu di nusantara ini. Dalam prasasti
Ciaruteun terdapat lukisandua telapak kaki Sang Purnawarman yang disamakan dengan tapak
kakiDewa Wisnu. Ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa rajaPurnawarman penganut
ajaran Hindu. Dewa Wisnu dalam konsepKetuhanan ajaran Hindu merupakan manifestasi dari
Sang Hyang Widhisebagai Dewa kemakmuran. Gambar telapak kaki gajah dari Sang Rajakita
dapat temukan didalam prasasti Kebon Kopi, ini dapat dihubungkandengan telapak kaki gajah
Airawata (gajah Indra). Prasasti Tugu yang terdapat di Jakarta menuliskan bahwa, raja
Purnawarman dalam tahun pemerintahannya yang ke 22 telah berhasil menggali sebuah sungai
yangdisebut sungai gomati. Sungai ini memiliki panjang 6122 busur ± 12 Kmdalam waktu 21
hari. Setelah selesai diakan upacara korban serta sedekahberupa 1000 ekor lembu kepada para
brahmana. Dalam prasasti Canggalyang mempergunakan angka tahun candra sengkala ”Sruti
Indra rasa”berarti tahun 654 çaka (tahun 732 masehi) menyebutkan bahwa, RajaSanjaya
mendirikan sebuah Lingga sebagai simbul memuja Sang HyangWidhi dalam manifestasinya
sebagai Çiwa. Dalam prasasti ini jugamemuat kata-kata pujian kepada Dewa Brahma, Wisnu,
dan Çiwa. Hal inidapat dihubungkan dengan konsepsi Tri Murti.
Seluruh penemuan tersebut dapat dipergunakan sebagai referensi bahwa pada masa pemerintahan
raja Purnawarman di Jawa barat agama Hindu dapat berkembang dengan sangat baik dan beliau
adalah penganut Hindu idialis. Berikut ini adalah catatan peninggalan sejarah berupa Prasasti di
Indonesia, antara lain
No. Nama Prasasti Lokasi Penemuan Pembuatan Peninggalan
1 Yupa Kutai, Kaltim Abad ke-4 M Kutai
2 Ciaruteun Bogor, Jabar Abad ke-5 M Tarumanegara
3 Tugu Cilincing, Jakut Abad ke-5 M Tarumanegara
4 Jambu Bogor, Jabar Abad ke-5 M Tarumanegara
5 Kebon Kopi Bogor, Jabar Abad ke-5 M Tarumanegara
6 Cidanghiang Pandeglang Abad ke-5 M Tarumanegara
7 Pasir Awi Leuwiliang, Jabar Abad ke-5 M Tarumanegara
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti Kelas XII SMA/SMK
50