The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by jasminannss17, 2021-05-25 14:58:47

project Telaah Kurikulum

kumpulan beberapa mini riset

Keywords: telaah kurikulum

zattunggal dan campuran selama daring melalui google meet/zoom
4. Guru tidak menggunakan metode mengajar yang menyenangkan pada saat belajar

daringterkait materi Zat tunggal dan campuran

Hal ini membuat Pembelajaran daring terkait tema 9 sub tema 1 zat tunggal dan campuran
yang dilakukan via daring ini tidak dapat berjalan baik dalam menambah pemahaman siswa
dan melatih kemandirian siswa dalam belajar. Dalam tahap pelaksanaan kurikulum 2013
secara daring pun di masing-masing sekolah responden, kegiatan pembelajaran tidak
mendukung kreatifitasan siswa, hal ini terbukti dari 10 jawaban responden mengatakan bahwa:

1. Dalam mempelajari sub-tema 1 pada saat daring, guru tidak membentuk siswa dalam
pembelajaran berkelompok. (70% siswa menjawab tidak)

2. Saat guru menjelaskan materi sub tema 1 tersebut via google meet/zoom, guru tidak
mengajak siswa untuk mengamati benda-benda disekitar terlebih dahulu. (60% siswa
menjawab tidak)

3. Guru tidak menunjukkan benda-benda yang termasuk zat tunggal dan zat campuran
dalam pembelajaran melalui google meet/zoom. (60% siswa menjawab tidak)

4. Guru jarang dan hampir tidak pernah mengajak diskusi dan mempersentasekan hasil
diskusi pembelajaran terkait zat tunggal dan campuran melalui google
meet/zoom.(60% siswa menjawab tidak)

Berdasarkan data tersebut diatas dapat dikatakan bahwa pengimplementasian kurikulum
2013 via daring dalam rangka kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh beberapa sekolah
responden tidak menggunakan dan tidak mencerminkan pengimplementasian K.13 dengan
baik, karena kegiatan pembelajaran tidak dilakukan dengan menggunakan pendekatan saintifik
(mengamati, bertanya, mencoba dan menalar, mencipta dan mengkomunikasikan) sehingga
siswa menjadi kurang aktif dan kurang kreatif dalam pembelajaran Tema 9 sub-tema 1 via
daringini. 80% guru tidak menjelaskan materi terkait zat tunggal dancampuran selama belajar
daring ini.

Namun disamping kurangnya pengimplementasian kurikulum 2013 dari segi pengadaan
bukudan proses pembelajaran di beberapa SD yang telah kami teliti diatas, dari hasil analisis
kami dapat dikatakan bahwa masih terdapat kelebihan tersendiri dalam pengimplementasian
kurikulum K13 selama pandemi dan daring ini di beberapa sekolah responden yaitu terkait

45

penilaian pembelajaran yang dilakukan :
1. Dari 10 siswa atau responden yang kami teliti melalui penyebaran angket di google
form,100 % siswa menjawab dan mengatakan bahwa mereka menyukai pembelajaran
yang ada di buku tematik karena lebih terpadu, menyenangkan dan fleksibel.
2. Tugas-tugas yang diberikan guru kepada siswa selalu dinilai dengan baik terbukti
dari 10 responden yang menjawab bahwa gurunya telah menilai tugas-tugas mereka
secara baik sehingga mereka merasa lebih dihargai.
3. Penerapan kurikulum K.13 mendorong 10 responden untuk aktif mengerjakan tugas-
tugas dalam pembelajaran via daring ataupun mandiri dirumah
4. 80% jawaban siswa mengatakan bahwa Gurunya selalu memberikan remedial kepada
siswa yang tidak tuntas dalam mengerjakan tugas terkait zat campuran dan zat tunggal
dalam pembelajaran daring ini.

Berdasarkan data tersebut dapat kami simpulkan bahwasanya meskipun
pengimplementasian K13 dari segi pengadaan buku dan proses pembelajaran via daring ini di
beberapa sekolah responden belum sepenuhnya optimal, akan tetapi implementasi K13 ini
mempunyai point lebih tersendiri dari segi proses penilaian. Proses penilaian yang dilakukan
Guru-guru di beberapa sekolah responden mendapat point lebih karena tetap melakukan
penilaian dengan baik dan selalu melakukan refleksi atau remedial dan pemberian kesempatan
bagi siswa yang belum tuntas dalam memahami pelajaran terkait tema 9 sub tema 1 ini. Namun
daripada itu menurut pendapat 10 responden, mereka sangat setuju dan lebih menyukai
penerapan pembelajaran pada saat offline karena siswa dapat berinteraksi langsung dan bebas
aktif dalam pembelajaran daripada saat daring melalui google meet/zoom/wa ini.

D. Kesimpulan

Berdasarkan Mini riset yang telah kami lakukan terkait tentang Analisis Implementasi
kurikulum K.13 terkait materi siswa SD tema 9 sub-tema 1 benda tunggal dan campuran dalam
pembelajaran daring di masa pandemi covid-19 ini dapat kami simpulkan bahwa dari 4 orang
siswaSDN 106813 amplas, 1 siswa SD 060825 medan area, 2 orang siswa Sd swasta kartini
dan 3 orang siswa SD Negeri Halat yang jika dijumlahkan terdapat 10 responden yang berasal

46

dari SD masing-masing tersebut, Penerapan atau implementasi kurikulum 2013 terkait materi
siswa SD tema 9 sub-tema 1 benda tunggal dan campuran dalam pembelajaran daring di masa
pandemicovid-19 ini belum sepenuhnya efektif di terapkan. Hal ini terbukti bahwa masih
terdapat banyakkekurangan dan kelebihan pada saat pengimplementasian kurikulum K.13 saat
daring ini dan masih ada beberapa pihak sekolah dan guru yang masih belum melaksanakan 4
perubahan besar dalam kurikulum 2013 terkait konsep kurikulum, buku yang dipakai, proses
pembelajaran sampai kepada penilaian selama masa daring.

Kekurangan Pengimplementasian kurikulum K13 pada saat daring di beberapa SD yang di
teliti yaitu : (1) Pengadaan buku yang dipakai belum berjalan dengan optimal tebukti dari
jawaban responden yang berasal dari beberapa sekolah yang kami teliti, sekitar (60%) atau ada
6 siswa yang tidak mendapat buku Tematik khususnya tema 9 : Benda-Benda di Sekitarku dari
10 responden, 60% siswa tidak memahami materi yang disampaikan oleh guru terkait materi
tema 9 sub tema 1 : zat tunggal dan campuran. (2) Kurangnya kegiatan pembelajaran yang
mendukung kreatifitasan siswa selama daring, pengimplementasian kurikulum 2013 via daring
dalam rangka kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh beberapa sekolah responden tidak
menggunakan dan tidak mencerminkan pengimplementasian K.13 dengan baik, karena
kegiatan pembelajaran tidak dilakukan dengan menggunakan pendekatan saintifik
(mengamati, bertanya, mencoba dan menalar, mencipta dan mengkomunikasikan) sehingga
siswa menjadi kurang aktif dan kurang kreatif dalam pembelajaran Tema 9 sub-tema 1 via
daring ini. 80% guru tidak menjelaskan materi selama pembelajaran daring. Sedangkan untuk
kelebihan Pengimplementasi K13 pada saat daring di beberapa SD yang di teliti ini mempunyai
point lebih tersendiri dari segi proses penilaian. Proses penilaian yang dilakukan Guru-guru di
beberapa sekolah responden mendapat point lebih karena tetap melakukan penilaian dengan
baik dan selalu melakukan refleksi atau remedial dan pemberian kesempatan bagi siswa yang
belum tuntas dalam memahami pelajaran terkait tema 9 sub tema 1 ini. Namun daripada itu
menurut pendapat 10 responden, mereka sangat setuju dan lebih menyukai penerapan
pembelajaran pada saat offline karena siswa dapat berinteraksi langsung dan bebas aktif dalam
pembelajaran daripada saat daring melalui google meet/zoom/wa ini

47

BAB VII
ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN KERANGKA
KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA (KKNI) PADA MAHASISWA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN SELAMA PEMBELAJARAN DARING

A. Landasan Teori

1. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ( KKNI)
KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) merupakan acuan penjenjangan

kualifikasi kompetensi untuk pengakuan kerja. KKNI telah dirumuskan oleh pemerintah melalui
kementerian pendidikan pada tahun 2010 yang berfungsi sebagai acuan dalam pengembangan
kurikulum. KKNI kemudian diundangkan melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012
tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Kehadiran KKNI merupakan acuan umum
bagaimana kualifikasi seseorang mendapat pengakuan di dunia kerja (Solikhah, 2015). Menurut
(Mendikbud, 2010) dalam pengembangannya KKNI mengggunakan tiga strategi, yaitu: Pertama,
KKNI menganut strategi kesetaraan kualifikasi seseorang yang diperoleh dari dunia pendidikan
formal, nonformal, informal dan pengalaman bekerja. Kedua, KKNI mengakui kualifikasi
pemegang ijazah yang akan bekerja maupun melanjutkan pendidikan di luar negeri, pertukaran
pakar dan mahasiswa lintas negara atau pemegang ijazah dar luar negeri yang bekerja di Indonesia.
Ketiga, KKNI mengakui kesetaraan kualifikasi capaian pembelajaran berbagai bidang keilmuan
pada tingkat pendidikan tinggi, baik yang berada pada jalur pendidikan akademik, vokasi , profesi
,serta melalui pengembangan karir yang terjadi di strata kerja, industri atau asosiasi profesi. KKNI
terdiri dari 9 jenjang kualifikasi.

Deskripsi jenjang kualifikasi KKNI menurut Perpres No. 8 Tahun 2012 diuraikan sebagai
berikut:

1) Jenjang 1 sampai 3 dikelompokkan dalam jabatan operator diduduki lulusan SD, SMP
dan SMA.

2) Jenjang 4 sampai 6 dikelompokkan dalam jabatan teknisi atau analis, diduduki oleh
lulusan D1, D2, D3, D4 dan Sarjana.

3) Jenjang 7 dikelompokkan dalam jabatan ahli, diduduki oleh lulusan pendidikan profesi.
4) Jenjang 8 dikelompokkan dalam jabatan ahli diduduki oleh lulusan magister atau

spesialis 1.
5) Jenjang 9 dikelompokkan dalam jabatan ahli diduduki oleh lulusan doktor atau spesialis 2

48

2. Pengembangan Kurikulum menuju Kurikulum KKNI
Bertitik tolak dari tujuan pendidikan Nasional sebagaimana dinyatakan dalam Undang-

Undang No.20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas Pasal 3 yaitu Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Dari kutipan ini dapat dipahami bahwa generasi bangsa ini perlu diciptakan
sebagai insan yang cerdas, bertanggungjawab dan mandiri serta memiliki jiwa demokratis
sehingga potensi yang dimiliki betul-betul handal di era globalisasi ini, sehingga bangsa ini
memiliki peradaban, cerdas dan bermartabat di antara bangsa-bangsa yang ada di permukaan bumi
ini, artinya tidak memalukan, fair dalam berdaya saing, karena memilki tata nilai yang tidak
bertentangan dengan nilai-nilai religius dan hak-hak asasi manusia. Itulah sebabnya kurikulum
pendidikan di Indonesia sangat dinamis berkembang. Konteks ini pula pemicu lahir KKNI setelah
diberlakukannya KBK, dan KTSP.

Dengan demikian dalam UU sisdikinas ini lebih lanjut diperkuat bahwa fungsi pendidikan
nasional mengisyaratkan tiga ranah tujuan sebagai tujuan utuh pendidikan yang harus
dicapai.Yaitu:

(1) Ranah pertama: pengembangan watak dan peradaban bangsa sebagai tujuan eksistensial,

(2) Ranah kedua: pencerdasan kehidupan bangsa sebagai tujuan kolektif,

(3) Ranah ketiga: pengembangan potensi peserta didik sebagai tujuan individual.

Tujuan eksistensial dan tujuan kolektif pendidikan bukanlah sebuah agregasi tujuan
individual, melainkan sebuah keutuhan yang mengandung perekat kultural yang harus
dikembangkan, diperkuat, diubah dan diperbaiki pada diri setiap peserta didik melalui upaya
pendidikan.

3. UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
Universitas Negeri Medan yang bermotto The Character Building University berdiri pada

23 Juni 1963. Unimed berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri dengan akreditasi peringkat B.
Cikal bakal Unimed berawal dari Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) di Medan yang
kemudian lebur menjadi salah satu fakultas di Universitas Sumatera Utara (USU), yaitu Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). FKIP USU berkembang dan berganti menjadi IKIP Jakarta
cabang Medan, dan selanjutnya menyandang status universitas menjadi Universitas Negeri Medan
(1999). Unimed kini memiliki tujuh fakultas dan dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan digital
(digilab) yang megah. Universitas Negeri Medan memiliki peran yang sangat penting lahirnya
kurikulum berbasis KKNI yang dipelopori oleh ketua senat universitas negeri medan dan mantan
rektor universitas negeri medan yaitu bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. KKNI diterapkan di
Universitas Negeri Medan sudah lama sejak diterapkannya di kampus tersebut, Dalam
pelaksanaannya KKNI ini lebih menekankan pada analisis, berikut ini tugas berbasis KKNI yang
diterapkan di Universitas Negeri Medan, yaitu sebagai berikut :

49

1) Tugas Rutin, Tugas yang harus dikerjakan sekali dalam 1 pertemuan ini biasanya
menganalisis masalah, menulis, dsb,

2) Critical Book Review, mengkaji dan mengkritik buku,
3) Critical Journal Review, mengkaji dan mengkritik jurnal,
4) Rekayasa Ide, memberikan gagasan ide dalam memecahkan masalah untuk dapat

dianalisis,
5) Mini Riset, Kegiatan penelitian yang bersumber dari gagasan ide yang ditemukan,
6) Projek, Hasil dari gagasan ide dan penelitian yang dilakukan berupa video atau laporan.

B. Metode Penelitian

1. Jenis Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskriptif analisis yang merupakan

metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan penelitian
yang bersifat deskripsi yang cenderung menggunakan analisis dan lebih menonjolkan proses
makna. Tujuan dari metode ini adalah pemahaman secara luas dan mendalam dari permasalahan
yang ditemukan dalam sebuah pelaksanaan research atau penelitian. Adapun metode penelitian
kuantitatif yang saya lakukan adalah dengan menggunakan kuesioner yang berisikan 11
pertanyaan yang berhubungan dengan analisis pelaksanaan kurikulum berbasis KKNI . Dan kami
mendapatkan data sebanyak 33 sampel yang berasal dari pengisian kuesioner tersebut melalui link
google form yang disebarkan dengan menggunakan aplikasi whatsapp kepada mahasiswa
universitas negeri medan dari semester 2 hingga semester 6. Data observasi di deskripsikan secara
kualitatif, dan kegiatan penelitian di analisis melalui data yang disikan oleh sampel.

2. Langkah dan Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada hari jumat tanggal 8 mei 2021 sampai 10 mei 2021 yang

dilakukan secara online karena alasan pada masa pandemic ini masih banyak mahasiswa
universitas negeri medan yang melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di rumah dan untuk
memudahkannya dalam mencari sebuah data kami membuat kuesioner yang berisikan 8 dari 11
pertanyaan terkait pelaksanaan dan pemahaman pembelajaran berbasis kkni di universitas negeri
medan dengan option pilihan Ya, Tidak, dan Selalu dan 3 dari 11 pertanyaan berisikan jejak
pendapat mengenai pelaksanaan kurikulum berbasis KKNI di universitas negeri medan . Dan
teknik penelitian yang kami gunakan yaitu dengan menyebarkan kuesioner google form dengan
menyebarkannya melalui social media seperti whatsaap, facebook, dan Instagram agar dapat
memudahkan peneliti dalam mencari data yang real mengenai analisis pelaksanaan kurikulum

50

bebasis KKNI di Universitas Negeri Medan selama daring dan penilitian ini dilaksanakan selama
3 hari.

3. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian kami adalah mahasiswa universitas negeri medan yang

aktif dalam menggunakan social media dan sampel yang saya dapatkan selama pelaksanaan
penelitian ini sebanyak 33 orang mahasiswa yang terdiri dari sebanyak 24 orang mahasiswa
berjenis kelamin perempuan dan 9 orang mahasiswa berjenis kelamin laki-laki, serta rata-rata
mahasiswa semester 4 yang mengisi kuesioner online sebanyak 60,6 % dari 33 mahasiswa atau 19
mahasiswa semester 4, 9 orang mahasiswa atau 27,3 % mahasiswa semester 2 dan 12,1% atau 5
orang mahasiswa semester 6 yang mengisikan kuesioner yang kami bagikan. Dan tempat
pelaksanaan kegiatan untuk mengumpulkan subjek penelitian ini adalah sosial media seperti media
whatsapp, facebook, dan instagram.

C. Hasil Penelitian

1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama 3 hari mulai dari hari sabtu, 8 mei 2021 hingga

senin, 11 mei 2021 yang dilaksanakan secara online, saya menyiapkan berupa kuesioner online
melalui google form yang telah saya susun berisikan 11 pertanyaan yang berkaitan tentang
“Analisis pelaksanaan Pembelajaran Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ( KKNI) Pada
Mahasiswa Universitas Negeri Medan Selama Pembelajaran Daring”. Subyek dari penelitian ini
adalah mahasiswa universitas negeri medan sebanyak 33 mahasiswa yang terdiri dari 24 orang
mahasiswa berjenis kelamin perempuan dan 9 orang mahasiswa berjenis kelamin laki-laki, serta
rata-rata mahasiswa semester 4 yang mengisi kuesioner online sebanyak 60,6 % dari 33 mahasiswa
atau 19 mahasiswa semester 4. Dan tempat pelaksanaan kegiatan untuk mengumpulkan subjek
penelitian ini adalah sosial media seperti media whatsapp, facebook, dan instagram.

2. Rekapitulasi Kuesioner dan Analisis Pembahasan Penelitian

I. Rekapitulasi Kuesioner dan Pembahasan
Seperti yang baru saya sampaikan saya menggunakan alat bantu dalam menyebarkan

kuesioner online tersebut dengan menggunakan whatsapp, Instagram, dan facebook dengan
mengirimkan link kuesioner yang ingin diisi oleh para sampel tersebut mengenai “ Analisis

pelaksanaan Pembelajaran Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ( KKNI) Pada Mahasiswa
Universitas Negeri Medan Selama Pembelajaran Daring”. Adapun tabel kuesioner hasil

penelitian yang saya lakukan selama 3 hari berlangsungnya penelitian tersebut dengan
menggunakan 33 sampel, yakni sebagai berikut :

No Pertanyaan Ya Tidak Selalu

1 Apakah anda mengenal dan memahami tentang KKNI ? 87,9 % 0% 12,1%
( 29 orang) ( 0 orang ) (4 orang)

51

2 Apakah pembelajaran daring dalam pengimplementasian selama 21,2 % 51,5 % 27,3 %

daring menyenangkan atau tidak ? (7 orang) ( 17 orang ) (9 orang)

3 Apakah anda mengalami kendala dalam pelaksanaan 78,8 % 9,1 % 12,1%
pembelajaran daring ? ( 26 orang) ( 3 orang) ( 4 orang)

4 Apakah anda merasa senang pelaksanaan KKNI selama daring ? 9,1% 51,5% 39,4

( 3 orang) ( 17 orang) ( 13 orang )

5 Apakah tenaga pengajar memberikan pengajaran yang 21,2 % 27,3 % 51,5%
menyenangkan dalam pengimplementasian KKNI? ( 7 orang) ( 9 orang ) ( 17 orang )

6 Apakah anda mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas- 57,6 % 12,1 % 30,3%
tugas KKNI ? ( 19 orang) ( 4 orang ) ( 10 orang)

7 Apakah pembelajaran daring mengasyikkan ? 9,1 % 51,5% 39,4 %

( 3 orang ) ( 17 orang ) ( 13 orang)

8 Apakah anda mengalami masalah jaringan dalam pelaksanaan 69,7% 9,1 % 21,2 %
pembelajaran daring? ( 7 orang )
( 23 orang ) ( 3 orang )

II. Hasil Dari Jejak Pendapat Mengenai Implementasi Kurikulum KKNI
1) Berikan Pendapat anda mengenai kurikulum KKNI yang diterapkan di Universitas
Negeri Medan ?
Jawaban beberapa responden dari 33 sampel
- Ribet
- Mengapa tugas KKNI sangat banyak ditambah lagi setiap matkul pasti memilikinya,
walaupun memang KKNI ini ada di beberapa universitas di Indonesia. Saya memohon
kepada panitia untuk memberi solusinya karena tugas KKNI juga tidak menjamin
kelulusan bahkan untuk mendapat kelulusan tersebut digunakan skripsi.
- Kita tahu bahwa KKNI ini melatih kita dalam membuat karya ilmiah maupun skripsi
tapi alangkah baiknya untuk mengurangi penugasannya. Terima kasih
- Menurut tanggapan saya, kurikulum KKNI sudah sangat baik, karena 6 tugas pokok
ini kita dilatih agar, dalam pengerjaan tugas akhir nanti atau skripsi tidak terlalu
menyulitkan.
- Sudah bagus, melatih keterampilan mahasiswa, namun bisa lebih dikurangi. Supaya
mahasiswa tidak terlalu terbebani
- Baik
- Kurikulum KKNI yang diterapkan Universitas Negeri Medan menurut saya bagus dan
sangat baik karena secara tidak langsung tugas KKNI membantu siswa berpikir kritis
terhadap sesuatu hal dan menambah kreatifitas dan inovasi mahasiswa/i

52

- Penerapan Kurikulum KKNI mendorong mahasiswa untuk lebih banyak membaca
buku dan mencari informasi secara mandiri.

- Menurut saya sangat memberatkan mahasiswa dalam pengerjaan nya, belum dengan
tugas rutin di setiap selesai presentasi.

- KKNI merupakan wujud dari proses perkuliahan mahasiswa yang diarahkan agar
dapat mengubah pola pikir, pola belajar, gaya hidup, dan karakter dalam bersikap.

- Sangat mengekang mahasiswa
- Menurut pendapat saya, kurikulum KKNI di unimed sudah baik
2) Coba anda tuliskan kendala yang anda alami dalam pelaksanaan pembelajaran
berbasis KKNI
Jawaban beberap responden dari 33 sampel
- Terlalu banyak tuntutan tugas
- Kendala yang saya hadapi yaitu membuat sistem kerja saya menjadi sistem buru-buru

karena ada beberapa matkul yang deadline dan penugasannya sama.
- Dalam tugas CBR, sulitnya untuk mendapat buku digital, jika membeli buku jauh dari

kampung saya.
- Sulit untuk mengatur waktu
- Tidak ada
- Buku sulit didapatkan untuk dalam pembuatan CBR
- Pembuatan mini riset penelitian sulit dilakukan selama daring
- Minimnya referensi dalam pengerjaan tugas KKNI, karena di kota saya belum ada

perpustakaan atau toko buku.
- Mahasiswa hanya dapat membaca buku elektronik, jika pembelajaran offline

mahasiswa dpt lgsg mencari bukunya di ghilib dan perpustakaan lainnya. Sebagian
dosen memberikan tugas yg menyulitkan di saat pandemi. Semisal pada masa pande
anak-anak sulit diberi keleluasaan untuk bermain di luar namun dosen menginginkan
para mahasiswa PGSD untuk melakukan riset kepada anak-anak. Lalu tidak tepat
waktunya paket kemendikbud sampai kepada mahasiswa oleh karena itu mahasiswa
harus morogeh kantong cukup dalam untuk pembelian paket biasa. Keadaan ekonomi
orang tua juga menjadikan kendala pada pembelajaran KKNI dimana mahasiswa yg
tidak memiliki wifi, harus menyalurkan hotspot ke lepotp yg menguras beberapa MB
paket data di hp.
- Dalam pengerjaan KKNI kendala yang sering terjadi ialah adanya beberapadosen yang
kurang kreatif dalam pembelajaran dan hanya memberikan format laporan yang harus
dikerjakansehingga laporan tersebut dikerjakan begitu saja, bahkan tanpa feed backdari
dosen. Dan hal itu tentunya membuat mahasiswa bingung dalam proses pengerjaan
tugas KKNI.
- Paket kuota yang mahal dan jaringan yang tidak normal
- Kendala yg saya alami itu, saya sering terkendala jaringan pada saat melakukan
pembelajaran, kuota internet saya cepat habis dan saya juga tidak mendapat bantuan
kuota dari kemendikbud. Dlm pematerian, ada yg saya paham namun lebih bnyk yg
tidak paham nya

53

3) Berikan tanggapan apa saja kekurangan dan kelebihan kerangka kualifikasi nasional
indonesia
Jawaban dari sebagian jumlah 33 sampel
- Kekurangan: terlalu menuntut mahasiswa dalam pengerjaan tugas, Kelebihan: untuk
menambah wawasan dengan banyak membaca referensi
- Kekurangan dari kurikulum yang saat ini namun disini saya sebenarnya membuat
kekurangan dari sistem daring yang berasalkan dari kurikulum pada saat inibyakni:
1. Karena semua sistem daring atau online maka membutuhkan kuota dan kuota dari
Kemendikbud tidak secara merata tersebar kepada pelajar
2. Jaringan yang sangat sering lemot dan bahkan tidak ada apalagi saat musim
penghujan ditambah lagi suasana petir yang mana hal ini sangat berlawanan dengan
penggunaan data atau jaringan.
3. Pengiriman tugas harus melalui apk ini itu, yang mana banyak dari siswa bahkan
memiliki hp namun penyimpanan tidak cukup dalam mengakses atau mendownload
apk tersebut.
- Kelebihan kurikulum saat ini
1. Sangat cocok dengan kondisi pandemic saat ini.
2. Memudahkan siswa dan pihak sekolah dalam menjalani sistem pembelajaran
walaupun kendalanya sangat banyak.
- Kelebihan: Melatih mahasiswa/i dalam pengerjaan 6 tugas pokok yang akan membantu
dalam pengerjaan skipsi yang akan datang, terlebih dalam tugas MR, RI, Projek,
Kekurangan: Kadang, dosen kurang baik dalam menjelaskan 6 tugas pokok, sehingga
ada mahasiswa yang masih kurnag paham.
- Tidak efisien dalam pelaksanaannya. Mungkin bisa mencontoh negara negara yg
pendidikan nya sudah maju
- Baik dan Menarik
- Kalo untuk kekurangan saya kurang tau karena saya belum mengenal sepenuhnya
KKNI baik dilaksakan secara during masih daring dan selama daring menurut saya
tidak ada kekurangan
- Untuk kelebihan sendiri mampu membuat mahasiswa berpikir kritis dan semakin
kreatif

III. Tingkat Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Kurikulum KKNI Pada Mahasiswa
Universitas Negeri Medan

Dari hasil analisis tersebut pertanyaan nomor atau poin pertama mengenai apakah anda
mengenal dan memahami tentang kkni 29 orang menjawab mereka memahami dan mengenal serta
4 orang menjawab mungkin yang kita tidak tahu mungkin iya atau tidak tetapi dalam pertanyaan
pertama banyak responden menjawab memahami dan mengenal kkni, Selanjutnya apakah
pembelajaran daring dalam pengimplementasian selama daring menyenangkan atau tidak 17 orang
menjawab tidak dan hanya 7 orang yang menjawab menurutnya bahwa pembelajaran daring itu
menyenangkan dan sisanya 10 mahasiswa menjawab mungkin, dalam permasalahan dipoin kedua
ini adalah pembelajaran kkni yang diimplementasikan melalui daring kurang menyenangkan bagi
mahasiswa universitas negeri medan, selanjutnya poin ketiga Apakah anda mengalami kendala

54

dalam pelaksanaan pembelajaran daring responden menjawab sebanyak 26 orang mahasiswa yang
menjawab iya, 3 orang tidak dan 4 orang menjawab mungkin, kembali dipoin kedua bahwa
mahasiswa merasa pembelajaran daring dalam pengimplementasian kkni disebabkan adanya
kendala yang dialami baik kendala jaringan, kendala dalam pengerjaan tugas, dsb sehingga
menurut responden atau mahasiswa unimed pengimplementasiannya kurang menarik, selanjutnya
Apakah anda merasa senang pelaksanaan KKNI selama daring? Pertanyaan ini hampir sama
dengan poin kedua dan responden menjawab 17 orang menjawab tidak, 13 orang menjawab
mungkin, dan 3 orang menjawab bahwa kkni berbasis daring menyenangkan dan ini terjadi mereka
memilih bahwa pembelajaran daring kurang menyenangkan mereka sangat rindu dan ingin sekali
melakukan kegiatan perkuliahan dengan tatap muka karena alasan secara umum ingin bertemu
dengan teman-teman, selanjutnya Apakah tenaga pengajar memberikan pengajaran yang
menyenangkan dalam pengimplementasian KKNI? Banyak yang jawab mungkin dalam ranah
mungkin iya atau tidak dan ini secara logika sebagian tenaga pengajar dalam menerapkan kkni di
universitas negeri medan dengan menggunakan kreativitas yang bagus dan ada juga tenaga
pengajar yang menerapkannya biasa aja, selanjutnya pertanyaan keenam Apakah anda mengalami
kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas KKNI ini hampir sama dengan poin-poin selanjutnya
dan 19 orang mahasiswa memilih mereka mengalami kesulitan dalam pengerjaan tugas-tugas kkni,
kesulitan ini bisa juga seperti pengerjaan tugas yang kurang dimengerti, buku yang susah
ditemukan, dan masih banyak yang malas dalam pengerjaan tugas kkni, selanjutnya poin 7 sama
dengan poin yang menyenangkan dan hasilnya sama mahasiswa menjawab 17 orang menjawab
tidak , 13 orang menjawab mungkin, dan 3 orang menjawab ya, serta pertanyaan di poin 8 Apakah
anda mengalami masalah jaringan dalam pelaksanaan pembelajaran daring 23 orang menjawab
mereka mengalami kendala jaringan, 3 mahasiswa menjawab tidak, dan 7 mahasiswa menjawab
mungkin iya, mungkin tidak ini disebabkan karena masih ada mahasiswa yang tinggal didaerah
pegunungan yang notabenenya masalah jaringan sudah menjadi kebiasaan karena susahnya
mengakses internet.

IV. Kelebihan dan Kekurangan Pengimplementasian Kurikulum Berbasis KKNI
Adapun kelebihan dan kekurangan pengimplementasian kurikulum KKNI adalah sebagai

berikut :

1. Kekurangan: terlalu menuntut mahasiswa dalam pengerjaan tugas,
Kelebihan: untuk menambah wawasan dengan banyak membaca referensi

2. Kekurangan dari kurikulum yang saat ini namun disini saya sebenarnya membuat
kekurangan dari sistem daring yang berasalkan dari kurikulum pada saat ini yakni:
Karena semua sistem daring atau online maka membutuhkan kuota dan kuota dari
Kemendikbud tidak secara merata tersebar kepada pelajar

3. Jaringan yang sangat sering lemot dan bahkan tidak ada apalagi saat musim penghujan
ditambah lagi suasana petir yang mana hal ini sangat berlawanan dengan penggunaan data
atau jaringan.

4. Pengiriman tugas harus melalui apk ini itu, yang mana banyak dari siswa bahkan memiliki
hp namun penyimpanan tidak cukup dalam mengakses atau mendownload apk tersebut.

5. Kelebihan kurikulum saat ini
1. Sangat cocok dengan kondisi pandemic saat ini.

55

2. Memudahkan siswa dan pihak sekolah dalam menjalani sistem pembelajaran
walaupun kendalanya sangat banyak.

6. Kelebihan: Melatih mahasiswa/i dalam pengerjaan 6 tugas pokok yang akan membantu
dalam pengerjaan skipsi yang akan datang, terlebih dalam tugas MR, RI, Projek,
Kekurangan: Kadang, dosen kurang baik dalam menjelaskan 6 tugas pokok, sehingga ada
mahasiswa yang masih kurnag paham.

7. Tidak efisien dalam pelaksanaannya. Mungkin bisa mencontoh negara negara yg
pendidikan nya sudah maju

8. Baik dan Menarik
9. Kalo untuk kekurangan saya kurang tau karena saya belum mengenal sepenuhnya KKNI

baik dilaksakan secara during masih daring dan selama daring menurut saya tidak ada
kekurangan
10. Untuk kelebihan sendiri mampu membuat mahasiswa berpikir kritis dan semakin kreatif

V. Kekuatan dan Kelemahan Penelitian
Kekuatan dalam penelitian ini yaitu saya melakukan kegiatan penelitian ini menggunakan

observasi dengan menganalisisnya melalui penyebaran angket menggunakan google form yang
disebarkan menggunakan media social whatsapp, instagram, dan facebook. Dan dalam observasi
ini kami mengobservasi pendapat mahasiswa unimed untuk mengisikan kuesioner mengenai “
Analisis pelaksanaan Pembelajaran Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ( KKNI) Pada
Mahasiswa Universitas Negeri Medan Selama Pembelajaran Daring”. Dan untuk kelemahannya
kami tidak bisa langsung menjumpai para mahasiswa untuk mengisikan kuesioner karena
disebabkan oleh pandemi covid-19 sehingga pembelajaran harus dilaksanakan secara daring
dengan memanfaatkan sosial media.

D. Kesimpulan

KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) merupakan acuan penjenjangan
kualifikasi kompetensi untuk pengakuan kerja. KKNI telah dirumuskan oleh pemerintah melalui
kementerian pendidikan pada tahun 2010 yang berfungsi sebagai acuan dalam pengembangan
kurikulum. KKNI kemudian diundangkan melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2012
tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. Kehadiran KKNI merupakan acuan umum
bagaimana kualifikasi seseorang mendapat pengakuan di dunia kerja (Solikhah, 2015). Dari hasil
analisis tersebut pertanyaan nomor atau poin pertama mengenai apakah anda mengenal dan
memahami tentang kkni 29 orang menjawab mereka memahami dan mengenal serta 4 orang
menjawab mungkin yang kita tidak tahu mungkin iya atau tidak tetapi dalam pertanyaan pertama
banyak responden menjawab memahami dan mengenal kkni, Selanjutnya apakah pembelajaran
daring dalam pengimplementasian selama daring menyenangkan atau tidak 17 orang menjawab
tidak dan hanya 7 orang yang menjawab menurutnya bahwa pembelajaran daring itu
menyenangkan dan sisanya 10 mahasiswa menjawab mungkin, dalam permasalahan dipoin kedua
ini adalah pembelajaran kkni yang diimplementasikan melalui daring kurang menyenangkan bagi
mahasiswa universitas negeri medan, selanjutnya poin ketiga Apakah anda mengalami kendala

56

dalam pelaksanaan pembelajaran daring responden menjawab sebanyak 26 orang mahasiswa yang
menjawab iya, 3 orang tidak dan 4 orang menjawab mungkin, kembali dipoin kedua bahwa
mahasiswa merasa pembelajaran daring dalam pengimplementasian kkni disebabkan adanya
kendala yang dialami baik kendala jaringan, kendala dalam pengerjaan tugas, dsb sehingga
menurut responden atau mahasiswa unimed pengimplementasiannya kurang menarik, selanjutnya
Apakah anda merasa senang pelaksanaan KKNI selama daring? Pertanyaan ini hampir sama
dengan poin kedua dan responden menjawab 17 orang menjawab tidak, 13 orang menjawab
mungkin, dan 3 orang menjawab bahwa kkni berbasis daring menyenangkan dan ini terjadi mereka
memilih bahwa pembelajaran daring kurang menyenangkan mereka sangat rindu dan ingin sekali
melakukan kegiatan perkuliahan dengan tatap muka karena alasan secara umum ingin bertemu
dengan teman-teman, selanjutnya Apakah tenaga pengajar memberikan pengajaran yang
menyenangkan dalam pengimplementasian KKNI? Banyak yang jawab mungkin dalam ranah
mungkin iya atau tidak dan ini secara logika sebagian tenaga pengajar dalam menerapkan kkni di
universitas negeri medan dengan menggunakan kreativitas yang bagus dan ada juga tenaga
pengajar yang menerapkannya biasa aja, selanjutnya pertanyaan keenam Apakah anda mengalami
kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas KKNI ini hampir sama dengan poin-poin selanjutnya
dan 19 orang mahasiswa memilih mereka mengalami kesulitan dalam pengerjaan tugas-tugas kkni,
kesulitan ini bisa juga seperti pengerjaan tugas yang kurang dimengerti, buku yang susah
ditemukan, dan masih banyak yang malas dalam pengerjaan tugas kkni, selanjutnya poin 7 sama
dengan poin yang menyenangkan dan hasilnya sama mahasiswa menjawab 17 orang menjawab
tidak , 13 orang menjawab mungkin, dan 3 orang menjawab ya, serta pertanyaan di poin 8 Apakah
anda mengalami masalah jaringan dalam pelaksanaan pembelajaran daring 23 orang menjawab
mereka mengalami kendala jaringan, 3 mahasiswa menjawab tidak, dan 7 mahasiswa menjawab
mungkin iya, mungkin tidak ini disebabkan karena masih ada mahasiswa yang tinggal didaerah
pegunungan yang notabenenya masalah jaringan sudah menjadi kebiasaan karena susahnya
mengakses internet.

BAB VIII
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DARING DENGAN KURIKULUM

2013

A. Landasan Teori

1. Pengertian Kurikulum 2013
Menurut Mulyasa (2014, h. 6) kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menekankan

pada pendidikan karakter, terutama pada tingkat dasar yang akan menjadi fondasi pada
tingkat berikutnya. melalui pengembangan kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan
berbasis kompetensi kita berharap bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki nilai jual yang
bisa ditawarkan kepada bangsa lain didunia.

57

Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 1 butir 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum 2013 merupakan sebuah kurikulum yang mengutamakan pemahaman, skill,
dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk paham atas materi, aktif dalam berdiskusi
dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi. Kurikulum ini
menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterapkan sejak 2006 lalu.
Dalam Kurikulum 2013 mata pelajaran wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di satu
satuan pendidikan pada setiap satuan atau jenjang pendidikan.

2. Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013
Seperti yang dikemukakan di berbagai media massa, bahwa melalui pengembangan

Kurikulum 2013 kita akan menghasilkan insan Indonesia yang: produktif, kreatif, inovatif,
afektif; melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam
hal ini, pengembangan kurikulum difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter
peserta didik, berupa paduan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat
didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang
dipelajarinya secara kontekstual. Kurikulum 2013 memungkinkan para guru menilai hasil
belajar peserta didik dalam proses pencapaian sasaran belajar, yang mencerminkan
penguasaan dan pemahaman terhadap apa yang dipelajari. Oleh karena itu, peserta didik
perlu mengetahui kriteria penguasaan kompetensi dan karakter yang akan dijadikan
sebagai standar penilaian hasil belajar, sehingga para peserta didik dapat mempersiapkan
dirinya melalui penguasaan terhadap sejumlah kompetensi dan karakter tertentu, sebagai
prasyarat untuk melanjutkan ke tingkat penguasaan kompetensi dan karakter berikutnya.
Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum dikatakan, bahwa:
“Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini meliputi: ....., 2.
pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, ....” dan pada penjelasan
Pasal 35, bahwa “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah
disepakati.” Maka diadakan perubahan kurikulum dengan tujuan untuk “Melanjutkan
Pengembangan Kurikulum Berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004
dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.”

3. Karakteristik Kurikulum 2013
Dalam kurikulum 2013 memiliki karakteristik diantaranya: (1). Isi atau konten

kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) satuan
pendidikan dan kelas, dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
(2). Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi
dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus
dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. (3).
Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu
tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA,

58

SMK/MAK. (4). Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dijenjang pendidikan menengah
diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah berimbang
antara sikap dan kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). (5). Kompetensi Inti
menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan
proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
(6). Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif saling
memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang
pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal) diikat oleh kompetensi inti. (7). Silabus
dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD). Dalam silabus tercantum
seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. (8). Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang untuk mata pelajaran dan kelas tersebut.
4. Proses Pembelajaran Kurikulum 2013

Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler dan
pembelajaran ekstra-kurikuler. Pembelajaran intra kurikuler adalah proses pembelajaran
yang berkenaan dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas,
sekolah, dan masyarakat. Pembelajaran didasarkan pada prinsip berikut :

1) Proses pembelajaran intra-kurikuler Proses pembelajaran di SD/MI

berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS, SMA/MA, dan SMK/MAK berdasarkan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru.

2) Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk

menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang memuaskan

(excepted).

Pembelajaran ekstra-kurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas yang
dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara rutin setiap
minggu. Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan pilihan. Pramuka adalah
kegiatan ekstra-kurikuler wajib. Kegiatan ekstra-kurikuler adalah bagian yang tak
terpisahkan dalam kurikulum. Kegiatan ekstrakurikulum berfungsi untuk: mengembangkan
minat peserta didik terhadap kegiatan tertentu yang tidak dapat dilaksanakan melalui
pembelajaran kelas biasa. mengembangkan kemampuan yang terutama berfokus pada
kepemimpinan, hubungan sosial dan kemanusiaan, serta berbagai ketrampilan hidup.
Kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan di lingkungan sekolah, masyarakat, dan alam.
Kegiatan ekstra-kurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur pendukung
kegiatan intra-kurikuler.

5 Kelebihan dan Kelemahan Kurikulum 2013
1) Kelebihan Kurikulum 2013

59

a) Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah (kontekstual)
karena berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai
kompetensi sesuai dengan kompetensinya masingmasing. Dalam hal ini peserta didik
merupakan subjek belajar dan proses belajar berlangsung secara alamiah dalam bentuk
bekerja dan mengalami berdasarkan kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan.

b) Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi mendasari
pengembangan kemampuan-kemampuan lain. Penguasaan pengetahuan dan keahlian
tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan
sehari-hari, serta pengembangan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal
berdasarkan standar kompetensi tertentu.

c) Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam
pengembangannya lebih cepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama yang
berkaitan dengan keterampilan.

d) Lebih menekankan pada pendidikan karakter. Selain kreatif dan inovatif,
pendidikan karakter juga penting yang nantinya terintegrasi menjadi satu. Misalnya,
pendidikan budi pekerti luhur dan karakter harus diintegrasikan kesemua program studi.

e) Asumsi dari kurikulum 2013 adalah tidak ada perbedaan antara anak desa atau kota.
Seringkali anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi
mereka.

f) Kesiapan terletak pada guru. Guru juga harus terus dipacu kemampuannya melalui
pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru untuk meningkatkan kecakapan
profesionalisme secara terus menerus.

2) Kelemahan Kurikulum 2013

a) Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama
dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses
pengembangan kurikulum 2013.

60

b) Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam

kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih

diberlakukan.

c) Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa

Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu

pelajaranpelajaran tersebut berbeda.

2.6 Assesment Data
Data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah studi pustaka dari beberapa hasil

penelitian artikel yang sesuai dengan judul penelitian yang kami lakukan. Adapun artikel
yang kami ambil berjumlah 3 penelitian.

B. Metode Penelitian

1. Metode Pelaksanaan
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode

penelitian kualitatif yaitu sebuah cara/upaya lebih untuk menekunkan pada aspek pemahaman
secara mendalam pada suatu permasalahan. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat
deskripsi, cenderung menggunakan analisis dan lebih menonjolkan proses makna. Tujuan dari
metode ini adalah pemahaman secara luas dan mendalam terhadap suatu permasalahan secara
mendalam pada suatu permasalahan yang sedang dikaji atau akan dikaji.

Penelitian ini merupakan kegiatan penelitian yang teratur yang disandarkan pada suatu
pengetahuan yang memungkinkan untuk sampai kepadanya. Penelitian ini juga dia artikan cara
untuk studi, yang mana dengan cara tersebut memungkinkan untuk sampai pada kepada hal-hal
yang rumit, penelitian di lakukan dengan cara general dan menyeluruh untuk mengumpulkan
data-data yang akan di tinjau atau di teliti.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengevaluasi dari internet atau lingkungan sekitar

mengenai pelaksanaan kurikulum 2013 pada pembelajaran dimasa pandemi, namun
dikarenakan masih adanya Virus COVID-19 ini sehingga penulis tidak dapat melakukan
penelitian langsung ke sekolah maupun ke lembaga pendidikan.

3. Populasi dan Sampel
Yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah keterlibatan guru dalam pelaksanaan

pembelajaran kurikulum 2013 selama pembelajaran di masa pandemi Covid-19 di beberapa
sekolah dan mengamati tentang pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 di masa pandemi
Covid-19 ini berlangsung. Kemudian untuk populasinya tidak ada, karena penulis tidak
melakukan penelitian secara langsung ke sekolah. Penelitian ini dilakukan dengan
mengevaluasi hasil penelitian yang telah dilakukan oleh seorang peneliti sebelumnya. Adapun

61

artikel yang kami jadikan literatur yaitu analisis implementasi kurikulum 2013 PAUD di masa
pandemi Covid-19 di Indonesia, penerapan kurikulum 2013 pada masa pandemi Covid-19 di
SMP IT Ad-Durrah Medan, dan Implementasi Pramuka Sebagai Ekstrakurikuler Wajib
Kurikulum 2013 Sekolah Dasar.

4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang kami lakukan adalah dengan cara melakukan penelitian

lewat media sosial mengenai pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 pada masa pandemi
Covid-19, kemudian kami melakukan penelaahan mengenai pelaksanaan pembelajaran
kurikulum 2013 pada masa pandemi Covid-19.

C. Hasil Penelitian

1 Analisa Pembahasan dan Hasil Observasi
1. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan cara menganalisis hasil penelitian yang telah dilakukan
seorang peneliti terdahulu/sebelumnya. Dimana dalam laporan makalah mini riset ini kami
memilih artikel yang berjudul:

• Analisis Implementasi Kurikulum 2013 PAUD di Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia

• Penerapan Kurikulum 2013 Pada Masa Pandemi COVID-19 di SMP IT Ad Durrah

Medan

• Implementasi Pramuka Sebagai Ekstrakurikuler Wajib Kurikulum 2013 Sekolah Dasar

Dari ketiga artikel ini kami mengkaji bagaimana kegiatan pelaksanaan kurikulum selama
pandemic virus covid-19 ini berlangsung. Dari ketiga artikel yang sudah disebutkan diatas
yang menjadi focus pembahasan kami yaitu pada artikel “Analisis Implementasi Kurikulum
2013 PAUD di Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia”. Namun artikel yang lain tetap kami
jadikan bahan pertimbangan sebagai penguat hasil dari mini riset yang kami lakukan.

Pada penelitian yang ada pada artikel ini dilakukan di seluruh Taman Kanak-kanak
Kecamatan Sungai Beremas Kabupaten Pasaman Barat yang terdiri dari 14 lembaga Taman
Kanak-kanak. Dimana implementasi kurikulum pada 14 lembaga taman kanakkanak ini
peneliti telah memperoleh hasil bahwa kegiatan pembelajaran kurikulum 2013 selama masa
pandemic ini berjalan dengan baik.

Dari hasil yang telah diperoleh oleh peneliti kegiatan pelaksanaan daring selama pandemic
ini cukup baik, yang mana setiap lembaga dan guru mengedepankan visi, dan misi sekolah
untuk mencapai tujuan pendidikan baik itu dilaksanakan secara daring maupun tatap muka
secara langsung. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh 14 lembaga taman kanak-kanak
ini dilakukan secara sederhana.

Yang mana pada kegiatan pembelajaran normal pembelajaran dilakukan selama 15 jam,
namun karena pandemic pelaksanaan pembelajaran dilakukan 2 kali tatap muka dalam
seminggu. Kemudian untuk selebihnya kegiatan pembelajaran dilakukan secara mandiri oleh
siswa dirumah dan didampingi oleh orang tua.

62

4.2 Kekuatan Penelitian
Kekuatan dari penelitian ini ialah bahwa kami mendapatkan referensi 3 artikel yang

memang sudah diterbitkan di dalam google scholar dan sudah terbukti penelitian yang
dilakukan oleh peneliti. Kemudian kami tidak memerlukan banyak waktu untuk
mengerjakannya.
4.3 Kelemahan Penelitian

Dari hasil penelitian kami ini, penelitian ini memiliki kelemahan karena kami
melaksanakan penelitian melalui media sosial dan tidak melaksanakannya secara langsung.
Sehingga untuk mencapai rasa puas dalam melaksankan penelitian itu masih kurang.

D. Kesimpulan
Artikel yang diambil sebagai bahan referensi untuk penelitian mini riset ini ialah :
• Analisis Implementasi Kurikulum 2013 PAUD di Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia
• Penerapan Kurikulum 2013 Pada Masa Pandemi COVID-19 di SMP IT AdDurrah
Medan
• Implementasi Pramuka Sebagai Ekstrakurikuler Wajib Kurikulum 2013 Sekolah Dasar
Hasil yang diperoleh dari menganalisis 3 artikel diatas, menyatakan bahwa kegiatan

pelaksanaan daring selama pandemic ini cukup baik, yang mana setiap lembaga dan guru
mengedepankan visi, dan misi sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan baik itu dilaksanakan
secara daring maupun tatap muka secara langsung.

63

BAB IX
ANALISIS KURIKULUM CARA BELAJAR SISWA AKTIF (CBSA)

DALAM SISTEM PEDIDIKAN DI INDONESIA

A. Landasan Teori

1. Pengertian CBSA
Pada umumnya metode lebih cenderung disebut sebuah pendekatan. Dalam bahasa Inggris

dikenal dengan kata “approach” yang dimaksudnya juga “pendekatan”. Di dalam kata pendekatan
ada unsur psikhis seperti halnya yang ada pada proses belajar mengajar. Semua guru profesional
dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut
memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami
materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami
apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget
memandang anakakalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju
dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus.

Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap
bahan yang dipelajari. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada
siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa
memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun
psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-
proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui
proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip. Konsep CBSA yang
dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar
meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum
terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-
tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas
secara bersama-sama.

2. Pembelajaran Aktif (CBSA)
Pengajaran Aktif: Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Activities Learning (SAL)

bukan merupakan disiplin ilmu atau teori, melainkan cara, teknik atau dengan kata lain disebut
teknologi. Atau bisa dikatakan cara atau usaha mempertinggi atau mengoptimalkan kegiatan

64

belajar anak didik dalam proses interaksi edukatif. Lester D.Crow & Alice Crow, mengemukakan
penertian belajar seperti dikutip oleh Roestiyah N.K. yaitu: belajar adalah perubahan individu
dalam kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Dalam pengajaran modern, guru bukanlah orang yang
aktif, tetapi sebagai fasilitator dari subyek belajar. Guru bertugas sebagai pembimbing dan
pengarah dalam rangka pencapaian tujuan belajar anak didik. Jadi, yang aktif adalah anak didik,
bukan guru. Inilah yang disebut Cara Belajar Siswa Aktif.

Soetomo dalam buku dasar-dasar interaksi belajar mengajar, bahwa CBSA hendaknya guru
membimbing kegiatan-kegiatan siswa dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar, misalnya
dengan buku-buku, radio, koran dan sumber-sumber belajar lainnya. Yamamoto meninjau ke-
CBSA-an ini dari segi interaksi kedua belah pihak yang terlibat dalam proses belajar-mengajar,
yaitu siswa dan pengajar. Tidak perlu ditekankan lagi bahwa dalam setting sekolah, proses belajar
mengajar yang optimal merupakan proses dua arah antara siswa dan guru12 dalam bentuk sebagai
berikut : hakekat subyek didik, hakekat belajar dan pebelajaran, learn how to learn, percakapa
iptek, pengalaman intelektual, emosional, fisik dan meggunakan sikap dan nilai.

Sedangkan McKeachie, menyebutkan tujuh dimensi dalam Proses Belajar Mengajar (PBM)
yang didalamnya terdapat variasi CBSA antara lain : partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan
kegiatan belajar-mengajar, tekanan pada aspek afektif pengaran, partisipasi siswa dalam KBM dan
penerimaan guru terhadap perbuatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan,
kekohensifan kelas sebagai kelompok, kebebasan siswa mengambil keputusan siswa dan jumlah
waktu yang dipergunakan untuk menggulangi masalah pribadi siswa.

B. Metode Penelitian

1. Metode Pelaksanaan
Penelitian dilaksanakan di rumah masing-masing anggota kelompok dengan mencari sumber

bacaan yang berkaitan dengan kurikulum CBSA. Waktu penelitian adalah tanggal 15 Mei 2021
jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.

2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di rumah masing-masing anggota kelompok dengan mencari sumber

bacaan dari jurnal atau buku-buku bacaan, waktu penelitian adalah tanggal 15 Mei 2021.

65

3. Populasi dan Sampel
Yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah kurikulum. Alas an penelitian memilih

subjek tersebut adalah agar dapat mengetahui bagaimana sistem kurikulum CBSA pada Sistem
Pendidikan di Indonesia.

4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis jurnal ataupun

ebook dan bahan bacaan yang berkaitan dengan judul mini riset kami.

C. Hasil Penelitian
1. Analisa Hasil Pembahasan dan Observasi

Jika dilhat dari perkembangan kurikulum dari dahulu hingga sekarang, terdapat dua
karakteristik utama yang dapat menandai perubahan setiap kurikulum yang terjadi yaitu dari desain
model sentralisti /terpusat atau sering disebut dengan desain model Administrative menuju
desentralistik atau sering disebut derngan desain model Grass Root dan dari pendekatan belajar
teacher centerd (berpusat pada guru) menuju student centered (berpusat pada siswa/pembelajaran
aktif). Jika dilihat dari struktur maupun desain kurikulum 68 dan 75, terdapat beberapa kelemahan
dan keunggulan dari kurikulum ini. Kelemahan yang mendasar dari kurikulum ini adalah (1)
Peserta didik tidak mempunyai kebebasan berekspresi maupun berkreasi karena theacer centered,
(2) dikatrenakan desain model pengembangannya terpusat (administrative model), maka akan
membunuh kreativitas guru dalam pembelajaran karena guru hanyalah pelaksana terhadap
ketetapan dalam kurikulum tanpa tahu pengembangan kurikulumnya (3) pemahaman siswa
terhadap mata pelajaran akan terpisah-pisah karena setiap mata pelajaran berdiri sendiri-sendiri,
(4) karena penekanan proses pembelajarannya pada segi tujuan kognitif maka segi tujuan afektif
dan psikomotornya kurang dapat dicapai secara optimal, dan (5) dikarenakan proses pembelajaran
lebih dioptimalkan dengan penggunaan stimulus dan respon, maka secara teoritis tidak akan
mampu mengakomodir perbedaan kondisi dan kemampuan peserta didik. Sedangkan keunggulan
dari kedua kurikulum ini adalah (1) memudahkan guru dalam organisasi dan implementasi
kurikulum karena sudah ada aturan pelaksanaan, materi maupun langkah-langkah yang ditempuh
guru dalam melaksanakannnya, dan (2) Memudahkan guru melakukan proses evaluasi karena
kurikulumnya berbasis subject matter dan lebih menekankan segi kognitif.

66

Kurikulumm CBSA dibuat guna untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Kurikulum CBSA in menuntut para peserta didik untuk dapat berpikir kritis dan juga aktif. Hal ini
tentu akan membuat sistem pendidikan di Indonesia berubah, mengapa? Karena sistem kurikulum
yang awalnya guru bersumber sebagi pemberi ilmu berubah menjadi guru hanya sebagai pengarah
dan pembimbing peserta didik agar peserta didik dapat belajar sesuai dengan keinginananya yang
tetap di pantau oleh guru.

Kurikulum CBSA ini termasuk kedalam kurikulum 2013 dimana pada kurikulum 2013 ini
didalamnya mencakup kurikulum CBSA. Seperti yang kita ketahui kurikulum 2013 juga menuntut
untuk siswanya aktif serta berpikir kritis sehingga kurikulum CBSA ini sering digunakan pada
kurikulum-kurikulum lain di sistem pendidikan di Indonesia. Kurikulum CBSA ini sangat
berperan penting dalam sistem pendidikan Indonesia, karena dengan kurikulum ini baik siswa dan
guru mendapatkan keuntungannya masing-masing. Kurikulum ini juga di pandang sangat efesien
menurut para guru sekolah karena mampu membuat peserta didik selalu aktif ketika belajar.

2. Kekuatan Penelitian
Penelitian ini memiliki kekuatan penelitian dimana dari dalam penelitian ini mendapatkan data

yang relevan serta pembahasan materi yang cukup. Dalam penelitian ini juga kita para pembaca
dapat mengetahui bagaimana sebenarnya tanggapan guru yang mengajar dengan menggunakan
kurikulum CBSA.
3. Kekurangan Penelitian

Kelemahan dalam penelitian ini ialah tidak adanya dokumentasi sebagai sumber bukti yang
nyata telah melakukan penelitian dikarenakan situasi pandemi seperti ini tidak dapat bertemu
langsung dan orang-orang.

D. Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan oleh kelompok, kami menarik kesimpulan bahwa

Kurikulumm CBSA dibuat guna untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Kurikulum
CBSA in menuntut para peserta didik untuk dapat berpikir kritis dan juga aktif. Kurikulum CBSA
ini termasuk kedalam kurikulum 2013 dimana pada kurikulum 2013 ini didalamnya mencakup
kurikulum CBSA. Kurikulum CBSA ini sangat berperan penting dalam sistem pendidikan
Indonesia, karena dengan kurikulum ini baik siswa dan guru mendapatkan keuntungannya masing-

67

masing. Kurikulum ini juga di pandang sangat efesien menurut para guru sekolah karena mampu
membuat peserta didik selalu aktif ketika belajar.

BAB X
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 TERHADAP PROSES

PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI

A. Landasan Teori
1. Pengertian Kurikulum

Pengertian Implementasi Kurikulum 2013 Implementasi adalah suatu proses penerapan, ide,
konsep, kebijakan atau inovasi dalam suatu tindakan praktis seingga memberikan dampak, baik
berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap. Implementasi kurikulum
dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis dalam bentuk pembelajaran.

Implementasi Kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah
dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan
pengelolaan, sambil senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik
peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional serta fisiknya.

Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang pernah
diujicobakan pada tahun 2004. KBK dijadikan acuan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan,
keterampilan dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur
pendidikan sekolah.

Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik atau siswa memiliki
kemampuan yang lebih baik dalam melakukan:

a. Observasi
b. Bertanya (wawancara),
c. Bernalar, dan
d. Mengkomunikasikan (mepresentasikan) apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah

menerima materi pembelajaran.

Adapun obyek pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah: fenomena alam, sosial, seni, dan
budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan,
dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif dan lebih produktif, sehingga

68

nantinya mereka bisa sukses dalam mengadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya,
memasuki masa depan yang lebih baik

2. Karaktertistik Kurikulum 2013
Karakteristik Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 adalah pembaharuan dari kurikulum

sebelumnya dan dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:

a. Mengembangkan keseimbangan antara sikap spiritual dan sosial, pengetahuan, dan
keterampilan, serta menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat

b. Menempatkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar
agar peserta didik mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan
memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar

c. Memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap, pengetahuan, dan
keterampilan

d. Mengembangkan kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti kelas yang
dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran

e. Mengembangkan Kompetensi Inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements)
Kompetensi Dasar. Semua Kompetensi Dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk
mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam Kompetensi Inti

f. Mengembangkan Kompetensi Dasar berdasar pada prinsip akumulatif, saling memperkuat
(reinforced) dan memperkaya (enriched) antar-mata pelajaran dan jenjang pendidikan
(organisasi horizontal dan vertikal).

3. Landasan Kurikulum 2013

A. Landasan Yuridis

Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, Undang-
undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah
Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.Lebih lanjut, pengembangan
Kurikulum 2013 diamanatkan oleh Rencana Pendidikan Pendidikan Menengah Nasional

69

(RJPMN). Landasan yuridis pengembangan Kurikulum 2013 lainnya adalah Instruksi Presiden
Republik Indonesia tahun 2010 tentang Pendidikan Karakter, Pembelajaran Aktif dan
Pendidikan Kewirausahaan.

B. Landasan Filosofis

Secara singkat kurikulum adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan
datang bangsa, yang dikembangkan dari warisan nilai dan prestasi bangsa di masa lalu, serta
kemudian diwariskan serta dikembangkan untuk kehidupan masa depan. Ketiga dimensi
kehidupan bangsa, masa lalu-masa sekarang-masa yang akan datang, menjadi landasan
filosofis pengembangan kurikulum. Pewarisan nilai dan pretasi bangsa di masa lampau
memberikan dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat, modal
yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu
yang diperlukan bagi kehidupan masa kini, dan keberlanjutan kehidupan bangsa dan warga
negara di masa mendatang. Dengan tiga dimensi kehidupan tersebut, kurikulum selalu
menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial-budayanya, mengembangkan kehidupan
individu peserta didik sebagai warga negara yang tidak kehilangan kepribadian dan kualitas
untuk kehidupan masa kini yang lebih baik, dan membangun kehidupan masa depan yang lebih
baik lagi

C. Landasan Emprisi

Sebagai negara bangsa yang besar dari segi geografis, suku bangsa, potensi ekonomi, dan
beragamnya kemajuan pembangunan dari satu daerah ke daerah lain, sekecil apapun ancaman
disintegrasi bangsa masih tetap ada.Maka, kurikulum harus mampu membentuk manusia
Indonesia yang mampu menyeimbangkan kebutuhan individu dan masyarakat untuk
memajukan jatidiri sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan kebutuhan untuk berintegrasi
sebagai satu entitas bangsa Indonesia.

Berbagai elemen masyarakat telah memberikan kritikan, komentar, dan saran berkaitan
dengan beban belajar siswa, khususnya siswa sekolah dasar.Beban belajar ini bahkan secara
kasatmata terwujud pada beratnya beban buku yang harus dibawa ke sekolah.Beban belajar ini
salah satunya berhulu dari banyaknya matapelajaran yang ada di tingkat sekolah dasar. Maka,

70

kurikulum pada tingkat sekolah dasar perlu diarahkan kepada peningkatan 3 (tiga) kemampuan
dasar, yakni baca, tulis, dan hitung, dan pembentukan karakter.

D. Landasan Teoritik

Kurikulum 2013 dikembangkan atas dasar teori “pendidikan berdasarkan standar”
(standard-based education), dan teori kurikulum berbasis kompetensi.

Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional
sebagai kualitas minimal warga negara untuk suatu jenjang pendidikan. Standar bukan
kurikulum dan kurikulum dikembangkan agar peserta didik mampu mencapai kualitas standar
nasional atau di atasnya. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi
Lulusan.Standar Kompetensi Lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.Standar Kompetensi Lulusan dikembangkan menjadi Standar Kompetensi
Lulusan Satuan Pendidikan yaitu SKL SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK

B. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dalam mini riset dengan menggunakan metode desktriptif
kualitatif. Metode penelitian deskriptif kualitatif adalah prosedur penelitian yang
mendeskriptifkan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat
penjelasan.
2. Waktu Penelitian

Dilakukan dengan penyebaran angket yang dilaksanakan pada tanggal 30 April 2021.
3. Subject Survey

Subjet pada penelitian ini adalah Peserta didik yang berada pada kelas 4 SDN 091416 Bah
Birung Ulu yang berjumlah 10 orang siswi. Alasan peneliti memilih subjek tersebut adalah
agar dapat mengetahui Implemnetasi Kurikulum 2013 terhadap proses pembelajaran dimasa
Pandemi.

71

4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada Penelitian ini adalah melalui penyebaran

angket, yang akan di isi oleh Peserta Didik

5. Instrumen Survey
Instrumen survey yang digunakan dalam penelitian ini adalah penyebaaran angket. Dimana

peneyebaran angket bertujuan untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah
dan responden tanpa merasa khawatir bila responden memberi jawaban yang tidaak sesuai
dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan.

C. Hasil Penelitian
1. Gambaran Hasil Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan dilaksanakan dengan mendatangi rumah siswa yang berada disatu SD dan berada
dikelas yang sama serta di daerah yang sama, mengingat pada masa pandemi ini semua sekolah
dasar mengadakan pembelajaran daring jadi kegiatan penelitian tidak dapat dilaksanakan
disekolah. Untuk itu, pelaksanakan Mini Riset ini kami laksanakan dengan mendatangi rumah
siswa. Kemudian menghimbau siswa untuk mengisi angket tersebut sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya.

2. Hasil Pembahasan
Angket Penelitian

No Pernyataan Jawaban
1. Guru membuka pembelajaran melalui Group Wa Ya Tidak
28

2. Guru memberikan apresiasi kepada murid yang telah 3 7
hadir/merespon melalui group wa

3. Guru memberikan motivasi di awal pembelajaran 28

4. Guru memberikan tugas kepada siswa dengan 2 8
menerapkan pendekatan sicientific (mengamati,
menanya, menalar,mengkomunikasikan)

72

5. Guru memberikan kesimpulan diakhir pembelajaran - 10
10
6. Guru memberikan penguatan diakhir pembelajaran - 9
daring 2
3
7. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan - -
semangat melalui group wa
10
8. Guru menggunakan buku Tematik ketika memberikan 8
tugas 2
4
9. Guru memberikan kesempatan untuk siswa bertanya 7 8
diakhir pembelajaran 10
10
10 Tugas-tugas yang diberikan guru dimasa pandemic ini

hanya mengerjakan soal saja 10

11. Tugas-tugas yang diberikan guru dimasa pandemic ini -
membuat suatu project dari materi yang sedang
dipelajari

12. Soal-soal yang diberikan guru berhubungan dengan 8
materi yang sedang dipelajari

13. Guru hanya sebatas memberikan tugas saja melalui WA, 6
tanpa ada menjelaskan

14. Guru membimbing siswa yang mengalami
ketertinggalan belajar
2

15. Ketika melaksanakan pembelajaran homevisit guru -
menjelaskan

16. Ketika melaksanakan pembelajaran homevisit guru -
membuka pembelajaran dengan memberikan motivasi

73

dan penguatan

17 Ketika melaksanakan pembelajaran homevisit guru - 10
mereview pembelajaran yang sudah berlalu 10
5
18 Ketika melaksanakan pembelajaran homevisit guru - 3
membentuk kelompok belajar siswa

19. Pembelajaran dimasa pandemic sangat membosankan 5

20. Pembelajaran dimasa pandemic membuat saya kesulitan 7
dalam memahami materi pelajaran

Di masa pandemi ini ada dua hal yang dilakukan pemerintah terkait kebijakan pendidikan,
yang pertama perluasan pembelajaran tatap muka di wilayah yang berzona kuning dan
menerapkan Kurikulum Darurat pendidikan dalam kondisi khusus. Kurikulum Darurat
pendidikan di masa pandemi ini merupakan penyerderhanaan kompetensi dasar yang mengacu
pada Kurikulum Nasional yaitu Kurikulum 2013. Penyerderhanaan kompetensi dasar untuk
setiap mata pelajaran berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk
kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya. Kurikulum Darurat ini bisa diterapkan mulai
dari PAUD sampai dengan SMK/SMA, Kurikulum Darurat COVID-19 ini diterapkan untuk
meringankan beban guru dalam pemenuhan Kurikulum Nasional serta bagi siswa dalam
keterkaitannya dengan penentuan kenaikan kelas dan kelulusan (Harususilo, 2020). Modul
pembelajaran khusus disiapan untuk PAUD sampai dengan SD, dimana jarak jauh dinilai
sangat sulit dilakukan. Modul ini berisi panduan untuk guru, pendamping (orang tua/wali) dan
siswa. Satuan pendidikan tidak harus menggunakan Kurikulum Darurat tapi dapat memmilih
dari tiga opsi:

1. Tetap menggunakan Kurikulum Nasional 2013;
2. Menggunakan Kurikulum Darurat (dalam keadaan khusus);
3. Melakukan penyederhanaan secara mandiri;

Akibat dengan terdapatnya Kurikulum Darurat ini ialah tersedianya kurikulum yang simpel
yang bisa mengurangi beban mengajar sehingga guru bisa berfokus pada pendidikan yang

74

esensial serta konstektual. Pada siswa diharapkan tidak terbebani tuntutan kurikulum sekolah
yang wajib terpenuhi. Tidak hanya itu terdapatnya Kurikulum Darurat ini diharapkan dapat
memudahkan pendampingan pendidikan yang dicoba orang tua/ wali. Diharapkan pula
kurikulum pendididkan ini bisa tingkatkan kesejahteraan psikososial guru, siswa, serta orang
tua/ wali.

Berdasarkan angket penelitian yang telah kami buat dan kami yang tujukan kepada siswa
sekolah dasar tentang Analisis Implemnetasi Kurikulum 2013 terhadap Proses Pembelajaran
dimasa Pandemi. Kami mendapatkan mendapatkan hasil bahwa Pembelajaran yang dilaksakan
di masa pandemic covid 19 tidak efektif dengan semestinya. Berdasarkan hasil angket di atas
menunjukan bahwa guru tidak melakukan pembukaan pembelajaran dalam grup WA. Hal ini
dapat membuat mental siswa tidak siap dalam menerima pelajaran dan perhatian siswa belum
terpusat pada apa yang akan dipelajari. Akibatnya adalah siswa akan merasa bahwa pelajaran
yang diterimanya membosankan, tidak bermakna baginya, sukar dipahami, dan mereka akan
tidak berusaha keras untuk memahaminya.

Dan dari angket yang telah di isi siswa menunjukkan bahwa guru selama pembelajaran
daring hanya memberikan tugas-tugas saja dari buku tematik yang digunakan. Jika guru terus
menerus melakukan hal tersebut tanpa memberi penjelasan mengenai materi yang
berhubungan dengan tugas tersebut maka akan membuat siswa merasa kesulitan dalam
memahami atau mengerjakan tugas yang telah diberikan guru tersebut. Dengan begitu ini akan
mempengaruhi hasil belajar peserta didik dan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan
maksimal.

Hasil angket juga menunjukkan bahwa tidak terdapat home visit pada siswa. Ini akan
membuat dampak yang sangat buruk. Adanya wabah Covid-19 memaksa para murid harus
menggunakan teknologi, sehingga suka tidak suka dan mau tidak mau harus belajar melalui
berbasis online. Dimana masih banyak ditemukan juga siswa yang memiliki kendala baik itu
paket internet ataupun tidak memiliki Handphone. Hal ini akan membuat penurunan capaian
pembelajar bukan hanya dari kendala yang dimikili siswa namun siswa juga akan kesulitan
dalam belajar.

Menurut Lewis (2015) Seiring meningkatnya peluang pembelajaran online dalam
masyarakat saat ini, pustakawan perlu mempertimbangkan cara-cara tambahan untuk

75

merancang instruksi online secara efektif. Mengembangkan strategi yang diperlukan untuk
mengajar dan belajar secara online dengan sukses membutuhkan pemahaman tentang gaya
belajar dan bagaimana meraka dapat ditangani dengan baik di lingkungan online. Pengajaran
dan pembelajaran yang sukses tergantung pada semua peserta yang memiliki sikap yang
diperlukan untuk keberhasilan di lingkungan online.

D. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian terhadap penerapan Kurikulum 2013 di masa
pandemi COVID-19 di Sekolah Dasar tidak maksimal hanya berjalan 50 persen. Hal ini
disebabkan oleh situasi pandemi COVID-19 yang tengah melanda dunia termasuk Indonesia,
yang mana hal itu merusak seluruh sektor termasuk pendidikan. Penerapan Kurikulum 2013 di
masa pandemi COVID-19 ini sangat sulit untuk diterapkan, selain karena susahnya belajar
melalui komunikasi jarak jauh juga tidak semua siswa dapat mengikutinya dikarenakan
masalah waktu, tempat, dan biaya bagi orang tua. Hal ini berdampak besar bagi perkembangan
kemampuan siswa di Sekolah Dasar. Guru tidak bisa secara maksimal melihat perkembangan
siswa, akibatnya siswa tidak dapat mencapai target kurikulum nasional dan kurikulum sekolah.
Oleh karena itu peneliti mengharapkan agar penerapan Kurikulum 2013 di masa pandemi
COVID-19 ini melakukan model pembelajaran yang dapat direalisasikan selama siswa
melakukan pembelajan dirumah yaitu suatu keterampilan. Bisa dengan cara membuat audio
dan membuat kamus bahasa arab atau bahasa inggris membuat sebuah percakapan untuk
mengisi kekosongan saat berada dirumah. Jadi anak-anak tidak berkeliaran diluar rumah
selama masa pandemi COVID-19. Seperti yang kita lihat banyaknya anak-anak yang
mengabaikan protokol dari pemerintah. Untuk itu tugas seorang guru membimbing mereka
pada pembuatan suatu karya apa saja yang tidak memberatkan siswa dan orang tua siswa itu
sendiri.

76

DAFTAR PUSTAKA

 Meryansumayeka, dkk. 2013. Pendesainan Pembelajaran Menggunakan Pendekatan
Analisis Nilai Pada Mata Kuliah Telaah Kurikulum. Jurnal Pendidikan Matematika 1-10,
Volume 7. No. 1.

 Derajat, Anna Z. 2017. “Penerapan Kurikulum Berbasis KKNI di Perguruan Tinggi”.
 Siagian, B & Siregar, G. 2018. “Analisis Penerapan Kurikulum Berbasis KKNI di

Universitas Negeri Medan”. Jurnal Suluh Pendidikan FKIP-UHN. Vol. 5, Edisi 2
September 2018, Hal. 21-35.
 https://www.unimed.ac.id/2017/10/09/perkuat-mutu-unimed-wajibkan-6-tugas-dan-
perberat-sanksi-plagiat/
 DJAELANI, Aunu Rofiq; PRATIKTO, Hawik Henry; SETIAWAN, Toni.
Implementasi Kurikulum 2013 dan Permasalahannya (Studi Kasus Di Smk
Ganesa Kabupaten Demak).
 Herliandry, Luh Devi dkk. 2020. Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal
Teknologi Pendidikan,22(1). Hlm. 65-70.
 Istaryatiningtias dkk. 2021. Implementasi Demokratisasi Kurikulum Pada Masa Pandemi
Covid-19. Jurnal Syntax Transformation,2(1). Hlm. 93-104.
 Wahyudi dkk. 2020. Quizizz: Alternatif Penilaian di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal
Ilmiah Edukasi Matematika, 8(2). Hlm. 95-108.
 Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol. 17 No. 2. Juli-Desember 2020
 Jurnal Teknologi Pendidikan Vol. 22, No. 1, April 2020
 Modul Perkuliahan, Pandemic Covid-19, Partisipatoris, Pembelajaran Daring, Pemimpin
Digital
 Jurnal ilmu pendidikan vol 3. No 2. Tahun 2020

 Arjani, L. M., Subagia, I. W., & Sarini, P. (2020). Implementasi Kurikulum 2013 Dan
Faktor- Faktor Yang Memengaruhi Pada Pembelajaran Ipa Kelas Vii Di Smp Negeri 4
Kubutambahan Tahun Ajaran 2018/2019. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran SAINS

77

Indonesia.

 Kurniaman, O. (2017). Penerapan Kurikulum 2013 Dalam Meningkatkan
Keterampilan,Sikap Dan Pengetahuan. Jurnal Primary Program Studi Pendidikan guru
sekolah dasar Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Riau.

 https://gretha.my.id/audiobuku/sd5-tema-9-benda-tunggal-dan-campuran/

https://www.kompas.com/skola/read/2020/05/23/170000869/zat-tunggal--unsur-dan-

senyawa

https://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/dokumen/Paparan/Paparan%20Wamendik

.pdf

 Beslina Siagian, G. S. (2014). ANALISIS PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS
KKNI DI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN. Jurnal Ilmu Pendidikan, 327-342.

 Eko Wahyu, I. M. (2018). ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS
KKNI DI FAKULTAS EKONOMI UNIMED. Niaga Wan, 8-13.

 https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://kompaspedia.kompas.
id/baca/profil/lembaga/universitas-negeri-
medan&ved=2ahUKEwiErcequcDwAhUFX30KHdeBCKIQFjAiegQILhAC&usg=AOv
Vaw3_Q8rgFaHTpPGBzOXNSXec

 https://docs.google.com/forms/d/1Z_BU_AFuNjvXV8axG85ksR1WzEYAnb3igt8Ut4F4
o4Y/edit?usp=drivesdk

 Asrivi, Q. E. (2020). Implementasi Pramuka Sebagai Ekstrakulikuler Wajib Kurikulum
2013 Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar , 255-268.

 Monica, M. A., & Yaswinda. (2021). Analisis Implementasi Kurikulum 2013 PAUD di
Masa Pandemi Covid-19 di Indonesia . Jurnal Basicedu , 643 - 653 .

 Yasir, S., Hamidah, & Anggia, P. D. (2020). Penerapan Kurikulum 2013 Pada Masa
Pandemi COVID-19 di SMP IT AdDurrah Medan . Jurnal Pendidikan Islam , 233-247.

 Asri, M. 2017. Jurnal Program Studi PGMI. Dinamika Kurikulum Di Indonesia. Vol. 4,
No. 2. Hlm : 192-202

 Junaidi, M. 2018. Jurnal Pendidikan Islam. Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) (Pengajaran Aktif (Good & Grow); CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), Matery

78

Teaching (Hunter), dan Explicit Instruction (Rosenshine & Stevens). Vol. 1, No. 1. Hlm :
42-55
 Nurhalim, M. 2011. INSANIA. Analisis Perkembangan Kurikulum Di Indonesia. Vol. 16,
No. 3. Hlm : 339-356
 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 2007, hlm. 211.
 Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2007), hlm. 238. 14
 Mulyasa E, Pengembangan Implementasi. hlm. 66.
 TIM. 2014. Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata Pelajaran
Matematika SMP/MTs: Jakarta: Pusat Pengembangan Profesi Pendidik Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Dan Kebudayaandan Penjaminan Mutu
Pendidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
 Yasir Saddan.Hammidah.Anggia Dewi Putri. ”Penerapan Kurikulum 2013 Pada Masa
Pandeu Covid-19.Vol 2.No 1 Maret.

79


Click to View FlipBook Version