PERSEDIAAN A. Pendahuluan Persediaan merupakan komponen penting dari modal kerja. Laba kotor, yang berasal dari penjualan persediaan, sering kali dipandang sebagai hal yang paling penting dalam mengukur keberhasilan perusahaan. Investor memerlukan informasi tentang persediaan ketika mengevaluasi laporan keuangan perusahaan. Untuk melakukannya, investor perlu mengetahui metode yang digunakan perusahaan (FIFO, LIFO, biaya rata-rata, atau metode kombinasi) dan kemudian membandingkan kinerja perusahaan dengan metode umum. Selain itu, investor juga seringkali menghitung informasi yang relevan tentang perusahaan seperti perputaran persediaan, jumlah hari penjualan persediaan, tingkat laba kotor, dan ukuran likuiditas. Pada umumnya, persediaan merupakan aset perusahaan yang lebih besar dibanding aset lancar lainnya. Persediaan juga merupakan elemen yang paling banyak menggunakan sumber keuangan perusahaan. Peranan persediaan dalam operasional perusahaan sangat penting sehingga perlu ditentukan metode penilaian persediaan yang tepat untuk memperoleh hasil usaha yang sesuai dengan periode pembukuan. Setiap perusahaan harus mengoptimalkan pengadaan persediaan karena apabila tidak diadakan secara optimal, perusahaan akan dihadapkan pada risiko sewaktuwaktu tidak dapat memenuhi keinginan konsumen yang memerlukan produk tersebut atau mengganggu proses produksi perusahaan. Artinya, perusahaan akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan atau mengalami kendala dalam proses produksi dan menghambat kelancaran usaha. B. Pengertian Persediaan Persediaan adalah barang yang diperoleh atau dibeli guna dijual kembali, dipergunakan untuk membantu kelancaran proses produksi atau diolah lebih lanjut menjadi barang jadi yang siap dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan Menurut PSAK No. 14, persediaan merupakan aset: 1. tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal (barang dagang/jadi);
2. dalam proses produksi untuk diselesaikan, kemudian dijual (barang dalam proses /pengolahan); dalam perjalanan 3. dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa Klasifikasi barang yang dianggap sebagai persediaan akan bervariasi tergantung pada jenis aktivitas perusahaan 1. Perusahaan Jasa Dalam perusahaan jasa, biasanya hanya terdapat satu jenis persediaan saja, yang diberi nama Persediaan Bahan Pembantu/Persediaan Bahan Habis Pakai/Inventory of Supplies. Persediaan ini dapat terdiri atas barang-barang seperti kertas, karbon, pita mesin tulis, kertas formulir, prangko, meterai, dan alat-alat tulis yang lain. Sebagai rekening, biaya dari pemakaian bahan pembantu ini dapat diberi nama dengan salah satu nama, seperti Pemakaian Bahan Pembantu, Biaya Bahan Pembantu, Pemakaian Bahan Habis Pakai, dan sebagainya. Pada umumnya, saat pembelian bahan habis pakai akan dicatat sebagai elemen biaya, kemudian pada akhir periode ditentukan berapa jumlah bahan baku yang masih ada yang harus dilaporkan dalam neraca. Pencatatan persediaan ini dilakukan melalui jurnal penyesuaian setiap akhir periode. 2. Perusahaan Dagang Dalam perusahaan dagang biasanya akan terdapat dua jenis persediaan, yaitu berikut ini. a. Persediaan Barang Habis Pakai (perlengkapan), yang terdiri atas alat-alat tulis seperti kertas tik, karbon dan pita mesin tik yang digunakan untuk menjalankan kegiatan administrasi; dan bahan pembantu toko yang terdiri dari bahan-bahan pembungkus, seperti karton, kantong/tas plastik dan tali rafia. Dengan demikian, biaya pemakaian bahan habis pakai ini akan dialokasikan ke dalam biaya administrasi dan biaya penjualan. Biasanya banyak perusahaan yang mencatat persediaan bahan habis pakai ini dalam kelompok rekening persekot biaya. b. Persediaan Barang Dagangan adalah rekening khusus yang digunakan untuk mencatat barang dagangan yang belum terjual sampai dengan tanggal neraca.
Yang dimaksud dengan barang dagangan adalah barangbarang yang dibeli perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali. Jenis barang dagangan ini tentu saja akan bervariasi antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Untuk dealer mobil, barang dagangannya akan berupa aneka macam mobil, untuk adi pasar (supermarket) barang dagangannya akan bervariasi dari barangbarang kebutuhan dapur sampai dengan barang-barang kosmetika dan elektronik. Rekening pasangan dari Persediaan Barang Dagangan ini adalah rekening Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold). 3. Perusahaan Industri/Manufaktur Dalam perusahaan jenis ini akan memiliki berbagai jenis persediaan, seperti persediaan bahan habis pakai, persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. a. Persediaan Bahan Pembantu/Bahan Habis Pakai Rekening persediaan bahan pembantu dalam perusahaan manufaktur sebenarnya sama dengan yang digunakan dalam perusahaan jasa ataupun perusahaan dagang. Hanya saja dalam perusahaan manufaktur persediaan bahan pembantu dapat dirinci lagi menjadi persediaan bahan pembantu kantor, bahan pembantu penjualan, dan bahan penolong (bahan tak langsung). 1) Persediaan bahan habis pakai kantor Persediaan ini dapat berupa kertas surat, karbon, pita mesin tik, dan sebagainya. 2) Persediaan bahan habis pakai penjualan Persediaan bahan pembantu penjualan dapat berupa kantong atau tas pembungkus, tali rafia, karton pembungkus, dan bahan habis pakai lain yang digunakan di toko. 3) Persediaan bahan habis pakai pabrik Persediaan bahan habis pakai pabrik dapat berupa oli, bahan bakar minyak, bahan pembersih pabrik dan bahan habis pakai lain yang digunakan dalam di pabrik b. Persediaan Bahan Baku Bahan baku adalah barang (bahan baku) yang diperoleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi. Beberapa jenis bahan baku ada yang langsung diambil dari sumber alam. Namun, dalam kenyataan banyak bahan baku yang diperoleh dari perusahaan lain yang merupakan produk akhir dari
perusahaan pemasok (supplier). Sebagai contoh, kertas koran adalah merupakan produk akhir dari perusahaan kertas, tetapi merupakan bahan baku dari perusahaan percetakan surat kabar yang membelinya. Biarpun istilah bahan baku atau bahan mentah dapat digunakan dalam arti luas, yaitu seluruh bahan yang digunakan dalam proses produksi, namun istilah bahan baku atau bahan mentah ini dibatasi pada bahan yang secara fisik membentuk bagian pokok dari produk jadi. Sedangkan bahan yang secara tidak langsung digunakan dalam proses produksi biasanya dikelompokkan sebagai persediaan bahan penolong (factory supplies)/bahan pembantu pabrik. Rekening pasangan dari rekening persediaan bahan baku adalah rekening Pemakaian Bahan Baku atau rekening Barang Dalam Proses. Persediaan bahan pembantu pabrik adalah bahan habis pakai yang digunakan dalam pabrik. Bahan penolong ini ikut membantu kelancaran jalannya proses produksi, namun karena tidak membentuk bagian pokok dari produk jadi maka sering disebut dengan istilah bahan tidak langsung, dan bahan dipisahkan dalam rekening tersendiri. Contoh bahan pembantu pabrik ini antara lain adalah paku, semir dan lem pada industri sepatu; ragi, mentega dan gula pada industri roti. c. Persediaan barang dalam proses Barang dalam proses (good/work in process) terdiri atas bahan baku yang baru diproses sebagian saja sehingga masih memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk dapat dikelompokkan sebagai produk jadi. Harga pokok barang dalam proses terdiri atas tiga elemen biaya sebagai berikut. 1) Biaya bahan baku. 2) Biaya tenaga kerja langsung. 3) Biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung secara langsung dapat diidentifikasikan pada persediaan barang dalam proses. Sedangkan biaya overhead pabrik sulit untuk diidentifikasikan dengan barang dalam proses yang bersangkutan. Overhead pabrik terdiri atas seluruh biaya produksi selain biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Overhead pabrik ini akan terdiri atas pemakaian bahan pembantu pabrik dan tenaga kerja tidak langsung yang secara spesifik tidak dapat diidentifikasikan pada produk atau barang dalam proses. Overhead pabrik juga mencakup biaya umum pabrik, seperti biaya depresiasi, pemeliharaan,
reparasi, pajak kekayaan, asuransi, listrik, air, dan gaji manager pabrik. Biaya overhead pabrik dapat dibedakan menjadi biaya overhead tetap (fixed), biaya overhead variabel dan biaya overhead semi variabel. Biaya overhead tetap adalah biaya overhead yang jumlahnya konstan tidak tergantung pada volume aktivitas produksi. Contoh biaya overhead tetap ini antara lain, depresiasi, asuransi, dan sewa. Sedangkan biaya overhead variabel adalah biaya overhead yang jumlahnya bervariasi secara proporsional dengan volume produksi. Contoh biaya overhead variabel antara lain (tidak selalu) adalah bahan bakar, bahan pembantu pabrik, dan pemakaian listrik. Selain itu, ada biaya overhead pabrik yang jumlahnya berubah-ubah, namun perubahannya tidak sebanding dengan perubahan volume produksi. Biaya overhead seperti ini akan dikelompokkan sebagai biaya overhead pabrik semi variabel. Contoh biaya overhead semi variabel antara lain adalah biaya pemeliharaan mesin dan biaya listrik. d. Barang (produk) jadi Barang jadi atau produk jadi adalah produk akhir dari suatu perusahaan yang menanti untuk dijual. Harga pokok dari produk jadi ini merupakan akumulasi dari harga pokok persediaan barang dalam proses. Pada saat proses produksi selesai dikerjakan maka jumlah dalam rekening barang dalam proses akan dipindahkan ke rekening Persediaan Barang Jadi. Diagram berikut menggambarkan aliran harga pokok yang melalui rekening persediaan dalam perusahaan industri C. Kontrol Internal Terhadap Persediaan Ketepatan dalam menentukan jumlah persediaan merupakan hal yang amat penting karena kesalahan dalam menentukan jumlah dan nilai persediaan akan berpengaruh terhadap neraca maupun laporan laba rugi. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pada umumnya, persediaan merupakan aset perusahaan yang lebih besar dibanding aset lancar lainnya. Persediaan juga merupakan elemen yang paling banyak menggunakan sumber keuangan perusahaan. Oleh karena itu, kontrol internal terhadap perusahaan sangat penting, karena alasan berikut: 1. Persediaan merupakan pusat aktivitas utama dari perusahaan dagang dan manufaktur. Apabila persediaan tidak dikontrol dengan baik maka akan mengganggu kelancaran operasional perusahaan.
2. Kesalahan dalam menentukan biaya persediaan bisa menimbulkan kesalahan pada laporan keuangan. Pengaruh kesalahan persediaan awal dan persediaan akhir dapat diikhtisarkan sebagai berikut. a. Apabila persediaan akhir lebih rendah dari seharusnya maka laba untuk periode yang bersangkutan akan menjadi terlalu rendah. b. Apabila persediaan akhir lebih tinggi dari seharusnya maka laba untuk periode yang bersangkutan akan menjadi terlalu tinggi. c. Apabila persediaan awal lebih rendah dari seharusnya maka laba untuk periode yang bersangkutan akan menjadi terlalu tinggi. d. Apabila persediaan awal lebih tinggi dari seharusnya maka laba untuk periode yang bersangkutan akan menjadi terlalu rendah. 3. Persediaan adalah aset yang signifikan dan untuk kebanyakan perusahaan merupakan aset yang terbesar. Persediaan memiliki risiko eksternal (seperti kebakaran, fluktuasi harga karena inflasi) dan risiko internal seperti kecurangan yang dilakukan oleh pegawai. Oleh karena itu, untuk menjaga aset perusahaan, dibutuhkan kontrol internal. D. Sistem Pencatatan Persediaan Di dalam menyelenggarakan catatan persediaan perusahaan dapat menggunakan salah satu dari dua cara atas dasar berikut ini. 1. Sistem Periodik (Fisik) Dalam sistem pencatatan persediaan periodik memerlukan penghitungan fisik persediaan, dengan cara menghitung, menimbang atau mengukur persediaan yang ada pada setiap akhir periode akuntansi guna menentukan jumlah (kuantitas) persediaan yang ada. Setelah diadakan penghitungan, barulah ditetapkan nilainya untuk kuantitas yang ada. Jumlah inilah yang dilaporkan dalam neraca. Apabila digunakan sistem periodik, setiap pembelian barang akan dicatat dalam rekening Pembelian, sedangkan rekening Persediaan Awal jumlahnya tetap tidak berubah selama periode akuntansi. Pada akhir periode akuntansi, rekening Persediaan harus disesuaikan dengan menutup persediaan awal dan mencatat jumlah persediaan akhir. Harga pokok penjualan ditentukan dengan menambah
persediaan awal dengan pembelian neto dan menguranginya dengan persediaan akhir. 2. Sistem Perpetual Dalam sistem pencatatan perpetual, pembelian dan penjualan (pemakaian) dicatat langsung ke dalam rekening Persediaan pada saat pembelian atau pemakaian (penjualan) tersebut terjadi. Dengan demikian, tidak digunakan rekening Pembelian. Selain itu akan digunakan rekening Harga Pokok Penjualan untuk mengumpulkan pengeluaran barang dari persediaan. Saldo rekening Persediaan merupakan jumlah persediaan akhir pada saat itu. Dengan demikian, apabila perusahaan menggunakan sistem perpetual maka setiap saat dapat diketahui jumlah persediaan yang ada. Contoh Berikut adalah transaksi dari PT. KATRACO selama satu bulan sebagai berikut. Penjualan 6.000 unit @ Rp12.000,00 = Rp72.000.000,00 Persediaan awal 1.000 unit @ Rp 6.000,00 = Rp 6.000.000,00 Pembelian 9.000 unit @ Rp 6.000,00 = Rp54.000.000,00 Persediaan akhir 4.000 unit @ Rp 6.000,00 = Rp24.000.000,00 Jurnal Apabila Perusahaan Menggunakan Sistem Perpetual Pencatatan Pembelian: Persediaan Rp54.000.000,00 Utang Usaha Rp54.000.000,00 Pencatatan Penjualan: Piutang Usaha Rp72.000.000,00 Penjualan Rp72.000.000,00 Harga Pokok Penjualan Rp36.000.000,00 Persediaan Rp36.000.000,00 Jurnal Penyesuaian: Tidak diperlukan Jurnal Apabila Perusahaan Menggunakan Sistem Periodik (Fisik) Pencatatan Pembelian: Pembelian Rp54.000.000,00
Utang Usaha Rp54.000.000,00 Pencatatan Penjualan: Piutang Usaha Rp72.000.000,00 Penjualan Rp72.000.000,00 Jurnal Penyesuaian: Harga Pokok Penjualan Rp 6.000.000,00 Persediaan awal Rp 6.000.000,00 Persediaan (akhir) Rp24.000.000,00 Harga Pokok Penjualan Rp24.000.000,00 Harga Pokok Penjualan Rp54.000.000,00 Pembelian Rp54.000.000,00 Alternatif lain untuk mencatat penyesuaian sebagai berikut Ikhtisar Rugi/Laba Rp 6.000.000,00 Persediaan (awal) Rp 6.000.000,00 Persediaan (akhir) Rp24.000.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp24.000.000,00 Ikhtisar Rugi/Laba Rp54.000.000,00 Pembelian Rp54.000.000,00 E. Asumsi Arus Biaya Asumsi arus biaya ini diperlukan terutama ketika perusahaan melakukan beberapa kali pembelian dalam satu periode dengan harga perolehan yang berbeda-beda sehingga muncul kesulitan untuk menentukan nilai Harga Pokok Persediaan, baik harga pokok persediaan yang terjual (pada metode perpetual) maupun untuk menentukan harga pokok persediaan akhir (pada metode periodik). Asumsi arus biaya yang biasa digunakan adalah identifikasi khusus, FIFO (First In First Out), LIFO (Last in First Out) dan Average. Namun untuk saat ini IFRS dan SAK sudah melarang penggunaan LIFO untuk menentukan harga pokok persediaan. a. Identifikasi Khusus Identifikasi khusus digunakan dengan cara mengidentifikasi setiap barang yang dijual dan setiap barang dalam akun persediaan. Seluruh biaya barang yang telah terjual dimasukkan ke dalam harga pokok penjualan, sedangkan biaya barang
khusus yang masih berada di tangan dimasukkan ke dalam persediaan. Metode ini diterapkan untuk perdagangan atau produksi barang dagang yang khusus atau unik dan umumnya bernilai tinggi. b. Masuk pertama keluar pertama (MPKM)/ First In First Out (FIFO) Metode MPKP/FIFO mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali dibeli adalah barang pertama yang digunakan dalam perusahaan manufaktur ata dijual dalam perusahaan dagang. Oleh karena itu, persediaan yang tersisa merupakan barang yang dibeli terakhir kali. Contoh c. Rata-rata (Average) pada metode rata-rata, perusahaan akan menghitung biaya rata-rata per unit dengan cara membagi total biaya abrang tersedia untuk dijual dengan total unit tersedia untuk dijual. Biaya rata-rata per unit hanya akan dihitung pada akhir periode saja apabila perusahaan menggunakan sistem pencatatan periodik, sedangkan apabila perusahaan mencaat menggunakan sistem perpetual, biaya rata-rata per unit akan Tanggal Keterangan Unit Harga/Unit total biaya 1-Apr Persediaan Awal 2,000 400 800,000 15-Apr Pembelian 6,000 440 2,640,000 30-Apr Pembelian 2,000 475 950,000 10,000 4,390,000 4,000 6,000 Total barang tersedia untuk dijual Barang terjual Persediaan akhir Nilai persediaan akhir (sistem periodik) 2.000 unit @ Rp. 475 = 950,000 4.000 unit @ Rp. 440 = 1,760,000 2,710,000 Unit Harga Total Unit Harga Total Unit Harga Total 1-Apr 2,000 400 800,000 15-Apr 6,000 440 2,640,000 2,000 400 800,000 6,000 440 2,640,000 8,000 3,440,000 19-Apr 2,000 400 800,000 4,000 440 1,760,000 30-Apr 2,000 475 950,000 4,000 440 1,760,000 2,000 475 950,000 6,000 2,710,000 Saldo Tanggal Persediaan Masuk/Dibeli HPP
dihitung setiap terjadi transaksi terkait pembelian. Contoh Biaya per unit = Rp. 4.390.000 = Rp. 439 per unit 10.000 Nilai persediaan akhir (sistem periodik) = 6.000 unit x Rp. 439 = Rp. 2.634.000 Nilai persediaan akhir (sistem perpetual) Tanggal Keterangan Unit Harga/Unit 1-Apr Persediaan Awal 2,000 400 15-Apr Pembelian 6,000 440 19-Apr Penjualan 4,000 30-Apr Pembelian 2,000 475 Tanggal Keterangan Unit Harga/Unit total biaya 1-Apr Persediaan Awal 2,000 400 800,000 15-Apr Pembelian 6,000 440 2,640,000 30-Apr Pembelian 2,000 475 950,000 10,000 4,390,000 (4,000) 6,000 Total barang tersedia untuk dijual Barang terjual Persediaan akhir Unit Harga Total Unit Harga Total Unit Harga Total 1-Apr 2,000 400 800,000 15-Apr 6,000 440 2,640,000 8,000 430 3,440,000 19-Apr 4,000 430 1,720,000 4,000 430 1,720,000 30-Apr 2,000 475 950,000 6,000 445 2,670,000 Nilai persediaan akhir (sistem perpetual) Saldo Tanggal Persediaan Masuk/Dibeli HPP
Referensi Kieso, Donald E., Jerry Weygandt & Terry Warfield. (2019). Intermediate Accounting, 17th Edition. Wiley. John Wiley & Sons. Ikatan Akuntansi Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2015, Salemba Empat, 2020 http://iaiglobal.or.id/v03/standar-akuntansi-keuangan/sak Ikatan Akuntan Indonesia. 2019. Modul Level Dasar (CAFB) Akuntansi Keuangan. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia Kementrian Keuangan. 2022. Asumsi Arus Biaya Pada Penghitungan Harga Pokok https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/asumsi-arus-biaya-padapenghitungan-harga-pokok-persediaan-51b5fa50/detail/