“Demokrasi adalah ruang bagi rakyat bersuara,” begitu katanya. Tetapi apakah suara itu benar-benar didengar, atau justru dibungkam dengan pentungan dan gas air mata?
Majalah Persepsi kali ini mencoba mengupas paradoks demokrasi di Indonesia—ketika aparat yang seharusnya melindungi, justru menjadi ancaman bagi kebebasan berekspresi. Melalui narasi kritis, kami hadir untuk membongkar bagaimana polisi telah menjadi bayang kelam dalam gelanggang demokrasi.
Tidak hanya itu, ada pula sajian perspektif lain yang membuka cakrawala berpikir.