The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by setiawanediwibowo, 2021-11-05 18:53:25

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SD

MODUL

D

PENGEMBANGAN
PEMBELAJARAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA SD

Dr. Setiawan Edi Wibowo, M.Pd.
MODUL

Semester 5

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah. Puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat-
Nya, shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad Saw. atas
terselesaikannya penulisan Modul ini.

Modul ini merupakan sari dari beberapa referensi dan pemikiran dari penulis. Karya
tulis ini mengandung maksud agar memudahkan para mahasiswa memahami materi
perkuliahan. Ide penulisan buku ini didasari atas perlunya sebuah buku yang representatif
untuk dijadikan pegangan dan panduan mahasiswa untuk menjalani Mata Kuliah
Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD. Di lihat dari sisi substansial dan
tampilan, buku ini jelas masih banyak kekurangan yang memerlukan sebuah pembenahan.
Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya masukan dan saran dari pembaca yang bijak.
Adapun, rasa hormat dan terima kasih penulis haturkan kepada pihak-pihak yang berkenan
terlibat dalam proses pembuatan modul ini. Tiada balasan yang bisa penulis haturkan selain
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Sebagai penutup, penulis berharap dengan hadirnya modul ini dapat menambah
wawasan ihwal pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dan memudahkan para pembaca—
khususnya mahasiwa tingkat awal—dalam belajar pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.

Yogyakarta, 5 Oktober 2021
Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .................................................................................................. i
KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................. iii
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Berorientasi Kurikulum 2013
dan Merdeka Belajar.................................................................................................. 1
1
Kurikulum sebagai Sebuah Konsep .....................................................................
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis Kurikulum 2013 3
dan Merdeka Belajar ........................................................................................... 4
Realita Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Berorientasikan Kurikulum 2013 .... 6
Language Competence and Language Use .............................................................. 6
Language Competence and Language Use ......................................................... 15
Kesantunan Berbahasa ........................................................................................ 20
Whole Language ....................................................................................................... 20
Whole Language................................................................................................... 21
Komponen Whole Language ............................................................................... 22
Karakter Pembelajaran Whole Language ............................................................ 25
Technological, Pedagogical, and Content, Knowledge (TPACK) ..............................

PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA BERORIENTASI
KURIKULUM 2013 DAN MERDEKA BELAJAR

Sebuah rekonstruksi dalam ilmu pengetahuan disebabkan manakala
mengalami apa yang disebut anomali atau penyimpangan, serta tidak

lagi dapat memecahkan persoalan yang ada.

Kurikulum sebagai Sebuah Konsep

Kurikulum dapat dipahami sebagai sebuah kumpulan rencana dan pengaturan
yang disusun secara ilmiah ihwal tujuan, isi, bahan pelajaran, dan
pendekatan/metode/trategi yang digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum dapat berubah disebabkan adanya ketidaksesuaiannya dengan kondisi
masyarakat saat itu. Artinya, kurikulum yang digunakan sudah tidak lagi mampu
memfasilitasi kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu adanya perubahan
kurikulum yang secara fungsional dapat bermanfaat bagi masyarakat. Perubahan yang
terjadi—baik dari sisi fisiologis (perubahan kebijakan pemerintah), sosiologis (aspek
inovatif yang dibutuhkan masyarakat), psikologis (keinginan konsep pembelajaran yang
efektif dan efisien)—di masyarakat karena faktor perkembangan teknologi, sosial-budaya,
industri, paradigma yang berkembang di masyarakat, dsb.—menjadi dasar dalam
pengadaptasian kurikulum pendidikan.

Alasan pengembangan kurikulum > kompetensi masa depan:
- Kemampuan berkomunikasi
- Kemampuan berpikir jernih dan kritis
- Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan
- Kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab
- Kemampuan mencoba mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda
- Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal
- Memiliki minat luas dalam kehidupan
- Memiliki kesiapan untuk bekerja
- Memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 1

- Memiliki rasa bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kegiatan pengembangan yang mengacu pada upaya dalam menyempurnakan

kurikulum yang ada dengan tujuan untuk memperoleh hasil maksimal dalam proses
pengimplementasiannya, hendaknya didasarkan pada asas-asas objektivitas,
keterpaduan, manfaat, efisiensi dan efektivitas, kesesuaian, keseimbangan, kemudahan,
berkesinambungan, pembakuan, dan mutu.

Kurikulum Lama Kurikulum 2013
Materi yang diajarkan ditekankan Materi yang diajarkan ditekankan pada kompetensi
pada tata bahasa/struktur bahasa berbahasa sebagai alat komunikasi untuk
menyampaikan gagasan dan pengetahuan
Siswa tidak dibiasakan membaca Siswa dibiasakan membaca dan memahami makna
dan memahami makna teks yang teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan
disajikan bahasa sendiri
Siswa tidak dibiasakan menyusun Siswa dibiasakan menyusun teks yang sistematis,
teks yang sistematis, logis, dan logis, dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan
efektif teks
Siswa tidak dikenalkan tentang Siswa dikenalkan dengan aturan-aturan teks yang
aturan-aturan teks yang sesuai sesuai sehingga tidak rancu dalam proses
dengan kebutuhan penyusunan teks (sesuai dengan situasi dan kondisi:
siapa, apa, dimana)
Kurang menekankan pada Siswa dibiasakan untuk dapat mengekspresikan
pentingnya ekspresi dan dirinya dan pengetahuannya dengan bahasa yang
spontanitas dalam berbahasa meyakinkan secara spontan

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis Kurikulum 2013 dan Merdeka
Belajar

Paradigma pembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 diorientasikan
pada pembelajaran berbasis teks. Dalam konsep merdeka belajar, dalam pembelajaran
bahasa Indonesia, siswa dimungkinkan untuk belajar secara menyeluruh, secara holistik,

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 2

satu sama lain saling mengisi serta dibutuhkan suasana belajar yang di mana peserta didik
berhak berinovasi dari sisi manapun. Peserta didik sebagai pribadi dan subjek belajar
utama, guru mengarahkan tujuan dengan kondisi anak. Guru menggunakan aneka macam
metode dan pendekatan yang cocok dengan pribadi peserta didik. Merdeka belajar tidak
menyusahkan guru, peserta didik, dan orang tua.

Jenis teks yang diajarkan pada pendidikan dasar sampai pendidikan menengah
adalah teks langsung (kontinu) atau teks-teks tunggal atau genre mikro, sedangkan jenis
teks yang diajarkan pada perguruan tinggi adalah jenis teks tidak langsung (diskontinu)
atau teks-teks majemuk/genre makro.

Perancangan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks adalah memberi ruang
pada peserta didik untuk mengembangkan berbagai jenis struktur berpikir, karena setiap
teks memiliki struktur berpikir yang berbeda satu sama lain. Semakin banyak jenis teks
yang dikuasai, maka semakin banyak struktur berpikir yang dikuasai peserta didik
(Mahsun, 2014:95).

pemberian Peserta didik Prinsip peserta didik akan
konteks tentang perlu mendapat collaborative mendapatkan
skemata tentang pengalaman
penggunaan model teks yang learning
teks otentik akan dipelajari. interpersonal dan
personal dalam
bahasa Agar peserta rangka penyusunan
Indonesia didik
teks
Teks deskripsi, mendapatkan
eksposisi, gambaran nyata
narasi, tentang bentuk
dan struktur dari
argumentasi,
negosiasi, atau teks tersebut

transaksi

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 3

Pembelajaran teks dalam frame bahasa Indonesia bergaris lurus dengan
pendekatan ilmiah yang mengedepankan sisi kesistematisan, terkontrol, empiris, dan
kritis. Representasi dari hal itu, tereksplisitkan pada genre teks yang dibelajarkan terdiri
atas teks tunggal (mikro) dan teks majemuk (makro). Hal baik yang dapat diperoleh dari
pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks ini adalah siswa akhirnya dapat berlatih
untuk berpikir metodologis, sebagai suatu kemampuan berpikir yang dibutuhkan pada
masa yang akan datang, siswa mampu mengembangkan kemampuan membaca
pemahaman, serta kemampuan menulis juga semakin berkembang dengan baik.

Realita Pembelajaran Bahasa Indonesia SD Berorientasikan Kurikulum 2013

- KTSP dan Kurikulum 2013 > Paradigma lama > Pendekatan struktural
- Kurikulum 2013 dan KTSP, khusus untuk pembelajaran bahasa Indonesia, meskipun

memiliki kesamaan, yaitu sama-sama bersifat tematik, keduanya memiliki perbedaan
yang mendasar. Sifat tematik pada Kurikulum 2013 diwujudkan secara terintegratif,
sedangkan pada KTSP belum bersifat terintegratif. KD-KD pada Kurikulum 2013 untuk
jenjang sekolah dasar dan MI diikat oleh tema, sehingga yang ada bukan buku per
mata pelajaran, tetapi buku per tema.
- Bahasa hanya sebagai sarana komunikasi
- Fase pragmatic suatu bahasa – sebagai sarana ekspresi individu dan penyampaian
maksud sebuah tuturan belum tersampaikan.
- Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis genre/teks memberikan dampak mudur
untuk sebuah perealisasian pembelajaran bahasa Indonesia era saat ini.
a. pembekalan siswa melalui pengetahuan berbagai jenis teks pada Kurikulum 2013

dipandang tidak ubahnya pembelajaran yang menekankan pada butir-butir tata
bahasa seperti Kurikulum 1975;
b. Siswa lebih dituntut pada penghafalan materi, dengan tugas guru yang utama
adalah memberi penjelasan. Pandangan yang kedua ini diperkuatnya dengan
mengutip salah satu KD, yang terkait dengan kompetensi Inti (KI) 3 pada kelas IX:
Memahami teks eksemplum, tanggapan kritis, tantangan/debat, dan rekaman

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 4

percobaan baik melalui lisan maupun tulisan; membedakan, mengklasifikasikan,
dan mengidentifikasikan teks.

KD bukan bahan untuk dijelaskan, melainkan untuk diterjemahkan
oleh guru ke dalam sejumlah kegiatan berbahasa di kelas

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 5

LANGUAGE COMPETENCE AND LANGUAGE USE

Memahami diri dan individu lain sebagai makhluk berbahasa akan
menjadikan bahasa itu lebih bermakna

Language Competence and Language Use

Secara kebahasaan, kompetensi berarti kemampuan menguasai gramatika suatu
bahasa secara abstrak dan batiniah. Kompetensi dapat digambarkan sebagai kemampuan
untuk melaksanakan suatu tugas, peran atau tugas, kemampuan mengintegrasikan
pengetahuan, keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan
kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan pada
pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan (Robert A. Roe 2001:73). Beberapa istilah
yang secara kolokasi berkaitan dengan kompetensi kebahasaan kompetensi linguistik,
kompetensi komunikatif, dan kompetensi interaksional.

Kompetensi komunikasi dapat dipahami sebagai kumpulan keterampilan
seseorang untuk menyampaikan informasi sehingga dapat diterima dan dimengerti.
Selain itu, kompetensi komunikatif berkenaan dengan pengetahuan sosial dan
kebudayaan yang dimiliki penutur untuk membantu mereka menggunakan dan
menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Devito (1995) mendefinisikan komunikasi
interpersonal sebagai komunikasi yang diadik, terjadi antara dua orang yang telah
menjalin suatu hubungan. Kedua orang ini dalam satu dan lain hal, terhubung. Contoh
komunikasi interpersonal bisa dilihat pada komunikasi antara anak dan bapak, bos dengan
karyawan, guru dan murid, antara seseorang dan pacarnya (Maharani, 2013).

Kompetensi bahasa adalah penguasaan bahasa yang secara keseluruhan,
terutama tata bahasa dan kosa kata, termasuk berbagai arti dan nuansa serta ejaan dan
tanda–tanda baca dan pengelompokan kata. (Tampubolon dalam Padri et al., 2020).
Secara fungsional, kompetensi bahasa dapat dijelaskan sebagai kemampuan seseorang
dalam menguasai keterampilan bahasa untuk berkomunikasi.

Salah satu fungsi bahasa adalah sebagai peranti untuk mengidentifikasi diri
ataupun individu lain. Dalam konteks pembelajaran, pembelajaran bahasa diharapkan

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 6

dapat membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain,
mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam msyarakat yang
menggunakan bahasa tersebut,dan menemukan serta menggunakan kemampuan enalitis
dan emajinatif yang ada dalam dirinya. Sehubungan dengan adanya pengelompokan atas
kompetensi berbahasa, kelompok yang mampu berbahasa Indonesia itu pun
sesungguhnya dapat dibedakan lagi atas dua golongan. Kedua golongan yang dimaksud
adalah (a) kelompok yang mampu berbahasa Indonesia secara praktis dan (b) kelompok
yang mampu berbahasa Indonesia secara lingusitis. Golongan yang mampu berbahasa
Indonesia secara praktis berarti yang bersangkutan mampu berkomunikasi dengan
bahasa Indonesia. Akan tetapi, bahasa yang digunakan tidak banyak dipengaruhi oleh
gramatika bahasa Indonesia. Jadi, kelompok ini hanya menitikberatkan pada masalah
komunikasi. Sebaliknya, masyarakat yang mampu berbahasa Indonesia secara linguistis
tidak semata-mata bertitik tolak kepada terjadinya komunikasi, tetapi sangat perlu
memperhatikan faktor gramatika. Bahkan, gramatika memegang peranan sangat penting
dalam kelompok ini.

Kompetensi sesungguhnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
pengajaran bahasa kedua, pembelajaran, penelitian, dan praktik (Thornbury 2006; Young,
2011). Ada beberapa kompetensi berbahasa yang harus dimiliki oleh anak, antara lain
sebagai berikut.
1. Kompetensi Linguistik

Teori kompetensi linguistik dikemukakan oleh Noam Chomsky, salah satu ahli
bahasa paling terkemuka abad ke-20, dan teorinya merevolusi arena teori linguistik
(Barman 2014). Dalam bentuknya yang paling sederhana, kompetensi linguistik
didefinisikan sebagai kemampuan penutur asli untuk merumuskan "kalimat yang
dibentuk dengan baik" (Thornbury, 2006). Kompetensi linguistik berhubungan dengan
bagaimana seorang individu mengejawantahkan kemampuan kebahasaannya. Hal
mendasar yang harus dikuasai berkenaan dengan aspek gramatikal (tata bahasa)
suatu bahasa. Kemampuan dalam menguasai dan menggunakan unsur- unsur mikro
bahasa mulai dari level fonologi dan fonetik (Fon ‘bunyi’), morfologi (kata), sintaksis
(frasa, klausa, kalimat), dan semantik (makna) menjadi prasayarat utama dalam hal
komunikasi.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 7

2. Kompetensi Sosiolinguistik
Kompetensi yang kedua adalah berkaitan dengan kemampuan mengenali

norma-norma sosial yang terkandung dimasyarakat pemakai bahasa. Di dalam
linguistik (ilmu bahasa) kemampuan tersebut dipelajari dalam sub rumpun ilmu
linguistik yang dikenal dengan sosiolinguistik. Secara definitif, sosilinguistik
merupakan cabang linguistic yang mempelajari, menganalisis, mengkaji hubungan
antara bahasa dan masyarakat. Kompetensi ini dianggap perlu untuk dikuasai karena
berhubungan dengan pemahaman akan faktor-faktor sosial yang berperan dalam
penggunaan bahasa dan pergaulan sosial. Oleh sebab itu, representasi seseorang
dapat tampak melalui wujud kebahasaannya.

3. Tindak Tutur (Speech Act)
Secara entitas, tindak tutur merupakan objek kajian pragmatik—cabang ilmu

bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek penggunannya. Leech (1983) menyatakan
bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan);
menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan
mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana,
bagaimana, dan sebagainya. Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di
dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini,
seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama, dan
prinsip kesantunan.

Tindak tutur (speech act) merupakan seluruh komponen bahasa dan
nonbahasa yang melingkupi perbuatan bahasa yang utuh, berkaitan dengan peserta
percakapan, bentuk penyampaian amanat, topik, dan konteks amanat itu
(Kushartanti, 2005:109). Yule (2006:118) mendefinisikan tindak tutur as the action
perfomedby a speaker with an utterance. Dengan kata lain, tindak tutur dapat
dideskripsikan sebagai suatu tindakan untuk meminta, memerintahkan,
mempertanyakan, atau menginfomasikan.

Austin menyatakan bahwa beberapa kalimat pernyataan dalam bahasa tidak
harus digunakan dengan maksud untuk membuat pernyaatan benar atau salah.
Namun, kalimat-kalimat pernyataan itu dapat digunakan untuk “mengatakan”

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 8

sesuatu. Dalam hal ini, Austin memaparkan kalimat-kalimat pernyataan pun dapat
digunakan untuk melakukan sesuatu secara aktif yang kemudian disebut sebagai
performatif (performatives).

Searle (1977) mengklasifikasikan tindak tutur menjadi lima jenis.
a. Representatif

Tindak tutur ini adalah pernyataan tentang keadaan di dunia (maka
mereka juga disebut 'asertif; Leech, 1983:128), dan dengan demikian membawa
nilai-nilai ‘benar' atau 'salah'. Ini adalah 'titik' mereka; untuk ‘sesuai', tentu saja
mereka harus sesuai dengan dunia dalam rangka untuk menjadi kenyataan.
Pernyataan sering, bahkan mungkin selalu, merupakan keadaan subjektif dari
pikiran: sebuah aset pembicara preposisi sebagai benar melakukannya dalam
kekuatan keyakinannya. Kepercayaan mungkin memiliki derajat yang berbeda
'memaksa': itu membuat perbedaan dalil apa saja atau hanya ukuran hipotesis;
namun, titik dari tindak tutur tetap sama. Dengan demikian, tampaknya ada
banyak pernyataan 'menegaskan' yang kriteria 'benar/salah' tidak berlaku. Apakah
keluhan benar atau salah? Kita mengatakan bahwa keluhan dibenarkan jika isi
pengaduan tersebut adalah benar mewakili dunia dalam cara yang benar; tapi itu
tidak sama dengan mengatakan bahwa keluhan itu benar.
b. Direktif

Tindak tutur ini mewujudkan upaya dari pembicara untuk mendapatkan
mitra tutur untuk melakukan sesuatu untuk 'langsung' dia menuju suatu tujuan
(dari pembicara, kebanyakan). Ini adalah titik ilokusi mereka; pada akhir yang
ekstrim dari kategori ini, kita memiliki keharusan klasik. Adapun, 'sesuai' bahwa
tindak tutur ini mewakili, ada juga 'arah' jelas dalam pengertian teknis istilah ini,
yaitu dari kata ke kata-kata, dunia disesuaikan dengan kata-kata yang diucapkan.
Dengan demikian, keharusan (setidaknya dalam niat) mengubah kata (mudah-
mudahan) membuat sesuatu terjadi sesuai dengan keinginan penutur. Arahan
berbeda dalam kekuatan: dari keinginan untuk ditaati.
c. Komisif

Kelas ini ternyata kurang lebih sama dengan pandangan Austin dengan
nama yang sama; Searle menyebutnya 'unexceptinable' (1997:35). Seperti arahan,

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 9

komisif berhubungan dengan perubahan kata dengan cara menciptakan
kewajiban, Namun, kewajiban ini dibuat oleh penutur, bukan mitra tutur, seperti
dalam kasus arahan. Sebagai contoh, membandingkan perbedaan antara
pemintaan dan janji: pertama sebagai direktif, kedua sebagai komisif. Adapun
‘sesuai arah’ mereka, mereka adalah identik (kata disesuaikan dengan kata-kata).
Namun, 'lokusi' dari kewajiban dibuat berbeda: bahwa janji menciptakan
kewajiban pembuat janji, pemintaan melakukannya di 'requiree' .
d. Ekspresif

Tindak tutur ini seperti kata-kata yang mengungkapkan keadaan batin
pembicara; ekspresi dasarnya subjektif dan memberitahu kita apa-apa tentang
dunia. Mengatakan 'maaf' saat menginjak orang lain (untuk menggunakan contoh
Searle) tidak ada hubungan kausal dalam hal konsekuensi, dengan tindakan
melangkah seperti: kata-kata 'saya minta maaf' tidak mengubah apa pun di sini.
Orang mungkin bertanya mengapa orang di dunia akan repot-repot untuk
mengucapkan ungkapan ‘minta maaf’ ketika melakukan kejanggalan sosial dan
lainnya, ketika kejahatan dilakukan tetap dan tidak dapat diubah terutama dalam
kasus di mana niat jahat tampaknya mengambil alih. Orang-orang biasanya tidak
menginjak kaki orang lain untuk bersenang-senang, atau dengan direncanakan
terlebih dahulu; dan jika mereka memang harus begitu, mereka pasti akan
meminta maaf (kecuali tujuannya untuk bersenang-senang, atau dalam
kemunafikan). Hal ini tentunya merupakan titik untuk mempertimbangkan ketika
membahas tindak tutur ekspresif. Hal ini dikarenakan karakter yang subjektif,
tindak tutur ini juga tunduk pada pembatasan dan perubahan sesuai dengan
konseptualisasi yang berbeda dari perilaku sosial.
e. Deklaratif

Dalam Searle (melalui Mey, 2001:122) kata-kata: "Deklarasi membawa
beberapa pergantian di status atau kondisi sebagaimana dimaksud menjadi objek
atau benda semata-mata berdasarkan fakta bahwa deklarasi tersebut telah
berhasil dilakukan". Austin menggunakan perbedaan ini untuk menetapkan apa
yang dia lihat sebagai pembagi utama dalam teori tindak tutur: perbedaan antara
tindak 'lokusi' dan 'ilokusi'.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 10

4. Konteks

Hymes (1974:53-62) mendeskripsikan sebuah teori yang di dalamnya

terkadung unsur-unsur konteks tindak tutur. Unsur-unsur tersebut diakronimkan

dengan SPEAKING. Penjabaran ihwal S.P.E.A.K.I.N.G. adalah sebagai berikut.

a. Setting (Latar)

Latar berkaitan dengan waktu dan tempat dari tindak tutur yang terjadi. Misalnya

percakapan yang terjadi di rumah, seorang ibu yang berusaha membangunkan

anaknya untuk sholat subuh. Tindak tutur yang dihasilkan sebagai berikut.

Ibu : “Ayo, bangun nak, sudah pagi”
Anak : “emmhhh..”
Ibu : “Sholat subuh”
Anak : “Iya bu.”

b. Participants (Peserta)

Participants dapat dijelaskan sebagai peserta dalam percakapan yang terdiri dari

penutur dan mitra tutur. Tentu saja lazimnya percakapan dapat terealisasikan jika

participants minimal terdiri dari dua orang. Misalnya percakapan antara Arif dan

Awan berikut ini.

Arif : “Om, ada kabarkah soal perpanjangan beasiswa?”.
Awan : “Hahaha.. hurung tho”.
Arif : “Kapan ngampus?”
Awan : “Sesok insyaAllah”

c. Ends (Maksud dan Tujuan)

Ends merupakan tujuan dari sebuah percakapan. Ends biasanya mewakili tujuan

dari peserta tutur. Seperti memberi ucapan selamat, mengundang, komunikasi

kerja atau perdagangan, dan lain sebagainya. Misalnya dalam percakapan berikut

antara Bayu dan Istofa yang terjadi di kampus.

Bayu : “Awakmu wis mangan rung Jon?”.
Istofa : “Uwis, piye?”.
Bayu : “Melu aku yoh”.
Istofa : “Nang ngendi?”
Bayu : “Samsat”.
Pada percakapan di atas merupakan sebuah ajakan. Hal tersebut tampak dari

“Melu aku yoh” ‘ikut aku’. Maksud dan tujuannya adalah Bayu ingin ditemani

Istofa ke samsat untuk pajak kendaraan.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 11

d. Act Sequence
Act Sequence atau alur pesan seperti dari mana pesan itu berasal, siapa yang
bertutur, struktur atau tata bahasanya, dan isinya bagaimana. Kode antar dialek,
atau penggunaan kata yang berbeda untuk menyatakan hal yang sama.

e. Key (Kunci)
Key berkaitan dengan emosi penutur dan dapat dikatakan pula sebagai isyarat
yang menentukan ‘nada, cara atau jiwa’ tindak tutur tersebut. Dengan ‘key’ kita
dapat menentukan isi atau pesan yang disampaikan baik secara guyonan,
bersemangat, serius, mengejek, dan lain sebagainya.

f. Instrumentalities (Sarana)
Bentuk dan gaya berbicara seperti lisan atau tulis, baku atau tidak baku. Selain itu,
juga mengacu pada ragam bahasa yang digunakan, misalnya semaphore dalam
pramuka.

g. Norms (Norma)
Norma dalam berinteraksi merupakan titik penting yang harus kita pahami dan
kita perhatikan. Hal ini dikarenakan berkaitan dengan kaidah sosial yang berlaku
untuk mengatur percakapan, kapan, bagaimana, dan seberapa sering berbicara,
sedikit bicara, banyak bicara atau kontak fisik, misalnya dalam konteks keraton
seorang abdi dalem tidak diperkenankan berbicara dengan Sri Sultan dengan
menggunakan bahasa ngoko dan posisi duduknya pun harus diperhatikan.

h. Genre (Jenis)
Genre mendikotomikan sebuah tuturan itu dalam berbagai jenis tertentu. Sebuah
‘ceramah’ atau ‘percakapan’ memiliki jenis yang berbeda sesuai dengan tujuan.
Jenis ini dapat bertepatan dengan peristiwa tutur, namun juga memerlukan
analisa tersendiri. Sebagai contoh, tuturan yang disampaikan pendeta dalam
kebaktian di gereja termasuk dalam kategori “ceramah”.

5. Strategi Tindak Tutur
a. Strategi Tindak Tutur Langsung Literal
Tindak tutur langsung literal (direct literal speech act) merupakan
konstruksi tutur yang menampilkan koherensi langsung antara struktur, fungsi,

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 12

dan maksud pengutaraannya. Secara fomal berdasarkan modusnya, kalimat
dibedakan menjadi kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. Secara
konvensional kalimat berita digunakan untuk memberitahukan suatu infomasi,
kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk
menyatakan perintah, ajakan, pemintaan atau pemohonan.

b. Strategi Tindak Tutur Tidak Langsung Literal
Tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act) merupakan

konstruksi tutur yang menampilkan hubungan tidak langsung antara struktur,
fungsi, dan maksud pengutaraannya. Hal ini mengindikasikan adanya
ketidaksesuaian antara modus kalimat yang digunakan dengan maksud
pengutaraannya. Yule (1996:96) menjelaskan dalam strategi tindak tutur tidak
langsung literal salah satu wujud manifestasinya adalah bentuk deklaratif
digunakan untuk membuat suatu permohonan.

c. Strategi Tindak Tutur Langsung Tidak Literal
Tindak tutur tidak langsung literal (direct nonliteral speech act) merupakan

tindak tutur yang menampilkan kesesuaian hubungan antara modus tutur dengan
maksud tuturan. Akan tetapi, verba yang menyusunnya tidak memiliki makna yang
sama dengan maksud tuturan. Hal ini mengindikasikan adanya kesesuaian antara
modus kalimat yang digunakan dengan maksud pengutaraannya berdasarkan
konvensi sintaksis, tetapi leksikon yang menyusunnya tidak memiliki kesesuaian
semantis dengan maksud tuturan.

d. Strategi Tindak Tutur Tidak Langsung Tidak Literal
Tuturan tidak langsung tidak literal (indirect nonliteral speech act)

merupakan tindak tutur yang tidak terdapat kesesuaian antara modus tutur
dengan maksud tutur dan makna leksikon yang membangun juga tidak sesuai
dengan apa yang dimaksudkan penutur.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 13

Seseorang yang memiliki kompetensi bahasa adalah orang yang memiliki

kemampuan atau keterampilan bahasa. Kompetensi berbahasa menyangkut empat hal,

yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan

keterampilan menulis.

1. Keterampilan Menyimak

Tarigan (1991:4) menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan

mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan

mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Menyimak melibatkan

penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian, bahkan situasi yang menyertai bunyi

bahasa yang disimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.

2. Keterampilan Berbicara

Keterampilan berbicara adalah kemampuan untuk

mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan ide, pikiran, gagasan, atau isi

hati kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan yang dapat dipahami

oleh orang lain. Dalam melatih keterampilan berbicara, anak perlu dibiasakan

untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga anak dapat menyampaikan pikiran

dan perasaannya kepada orang lain.

3. Keterampilan Membaca

Keterampilan membaca merupakan suatu keterampilan yang berkaitan

dengan kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk

menemukan dan mengidentifikasi berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan. Hal

ini berarti membaca merupakan proses berpikir untuk memahami isi teks yang dibaca.

4. Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan,

pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Ketepatan

pengungkapan gagasan harus didukung dengan ketepatan bahasa yang digunakan,

kosakata dan gramatikal dan penggunaan ejaan.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 14

Kesantunan Berbahasa

Dalam linguistik, kesantunan berbahasa acapkali disebut dengan politeness.
Kesantunan adalah sebuah bentuk kehalusan dalam berbahasa dan bertingkah laku.
Kesantunan berkenaan dengan kesopan santunan atau etiket—tata cara, adat, atau
kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kesantunan merupakan aturan perilaku
yang ditetapkan dan disepakati bersama oleh suatu masyarakat tertentu sehingga
kesantunan sekaligus menjadi prasyarat yang disepakati oleh perilaku sosial. Oleh
karena itu, kesantunan ini biasa disebut "tatakrama". Kesantunan berbahasa merupakan
pengejawantahan sebuah tata krama dalam berbahasa. Faktor-faktor kebahasaan dan
non kebahasaan menjadi sebuah pemahaman untuk direalisasikan dalam sebuah
pertuturan.

Fraser (melalui Rahardi, 2005:38-40) menyebutkan bahwa sedikitnya
terdapat empat pandangan yang dapat digunakan untuk mengkaji masalah
kesantunan dalam bertutur.

a. Pandangan kesantunan yang berkaitan dengan norma-norma sosial (the
social-norm view). Dalam pandangan ini, kesantunan dalam bertutur ditentukan
berdasarkan norma-norma sosial dan kultural yang ada dan berlaku di dalam
masyarakat bahasa itu. Santun dalam bertutur ini disejajarkan dengan etiket
berbahasa (language etiquette).

b. Pandangan yang melihat kesantunan sebagai sebuah maksim percakapan
(conversational maxim) dan sebagai sebuah upaya penyelamatan muka (face-
saving). Pandangan kesantunan sebagai maksim percakapan menganggap prinsip
kesantunan (politeness principle) hanyalah sebagai pelengkap prinsip kerja sama
(cooperative principle).

c. Pandangan ini melihat kesantunan sebagai tindakan untuk memenuhi
persyaratan terpenuhinya sebuah kontrak percakapan (conversational contract).
Jadi, bertindak santun itu sejajar dengan bertutur yang penuh pertimbangan
etiket
berbahasa.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 15

d. Pandangan kesantunan yang keempat berkaitan dengan penelitian
sosiolinguistik. Dalam pandangan ini, kesantunan dipandang sebagai sebuah
indeks
sosial (social indexing). Indeks sosial yang demikian terdapat dalam bentuk-bentuk
referensi sosial (social reference), honorific (honorific), dan gaya bicara (style of
speaking) (Rahardi, 2005: 40).

Hal utama terjadinya sebuah kesantunan berbahasa dalam peristiwa tutur,
lazimnya antara penutur dan mitra tutur terjalin kesepahaman topik dan saling
mengimplementasikan prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun.

1. Prinsip Kerja Sama
Prinsip kerjasama dinyatakan dalam bentuk perintah yang diarahkan pada
penutur, yakni “Buatlah kontribusi percakapan Anda sesuai dengan yang
diperlukan pada tahap terjadinya kontribusi itu, berdasarkan tujuan atau arah
yang diterima dalam pertukaran percakapan yang Anda lakukan.” (Grice (1975:45)
dalam Cummings, 2007:15). Prinsip kerja sama dibagi ke dalam empat maksim
berikut (Grice (1975:45-46) dan (1983:101-102).
a. Maksim Kuantitas
Maksim kuantitas menyatakan “berikan infomasi dalam jumlah yang
tepat”. Maksim ini menghendaki setiap peserta pertuturan memberikan
kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan
bicaranya. Tuturan yang tidak mengandung infomasi yang sungguh-sungguh
diperlukan mitra tutur dapat dikatakan melanggar maksim kuantitas (Rahardi,
2008:53).
b. Maksim Kualitas
Maksim kualitas menyatakan “usahakan agar infomasi Anda benar”.
Maksim ini mengharapkan seorang peserta tutur menyampaikan infomasi
yang mengandung kebenaran yang sifatnya nyata dan sesuai fakta sebenarnya.
Jadi, ada beberapa hal yang menjadi fokus di sini, yaitu penutur tidak
diperkenankan menuturkan suatu informasi yang sifatnya tidak benar dan

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 16

penutur juga tidak diperkenankan untuk mengatakan sesuatu yang sifatnya
kurang meyakinkan.
c. Maksim Relevansi

Maksim relevansi menyatakan “usahakan agar perkataan yang Anda
lakukan ada relevansinya”. Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta
pertuturan memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah
pembicaraan.
d. Maksim Cara

Maksim cara menyatakan “usahakan agar Anda berbicara dengan
teratur, ringkas, dan jelas“. Maksim cara mengharuskan setiap peserta
pertuturan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak ambigu, dan tidak
berlebih-lebihan. Jika dalam percakapan tidak mengindahkan hal itu, maka
dianggap melanggar prinsip kerjasama.

2. Prinsip Sopan Santun
Prinsip sopan santun menjaga keseimbangan sosial dan keramahan

hubungan dalam percakapan. Leech merumuskan prinsip sopan santun ke dalam
enam butir maksim, sebagai berikut (Leech, 2011:206-207).
a. Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)

Maksim kebijaksanaan mengandung prinsip sebagai berikut: buatlah
kerugian orang lain sekecil mungkin; buatlah keuntungan pihak lain sebesar
mungkin. Menurut maksim kebijaksanaan kesantunan dalam bertutur dapat
dilakukan bila maksim kebijaksanaan dilaksanakan dengan baik.
b. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)

Maksim ini berbunyi “buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin
dan buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin”. Maksim ini menghendaki
peserta pertuturan mengurangi keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan
keuntungan lawan tutur.
c. Maksim Pujian/ Penghargaan (Approbation Maxim)

Maksim pujian berbunyi “kecamlah mitra tutur sesedikit mungkin dan
pujilah mitra tutur sebanyak mungkin”. Maksim ini menghendaki peserta

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 17

pertuturan bersikap santun dengan memberikan penghargaan kepada lawan
tutur sehingga para peserta tidak ada yang saling mengejek, mencaci, atau
merendahkan pihak lain.
d. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)

Maksim kerendahan hati berbunyi “pujilah diri sendiri sesedikit
mungkin; kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.” Maksim ini menghendaki
peserta tutur dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian
terhadap dirinya sendiri, sehingga tidak disebut sebagai orang yang sombong.
e. Maksim Kesepakatan/ Pemufakatan (Agreement Maxim)

Maksim kesepakatan berbunyi “usahakan agar ketidaksepakatan
antara diri sendiri dan orang lain terjadi sesedikit mungkin; usahakan agar
kesepakatan antara diri sendiri dan orang lain terjadi sebanyak mungkin.”
Maksim ini menghendaki peserta tutur dapat saling menunjukkan
kesepakatan tentang topik yang dibicarakan.
f. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)

Maksim ini mengandung prinsip “kurangilah rasa antipati antara diri
sendiri dan orang lain sekecil mungkin, perbesar rasa simpati antara diri sendiri
dan orang lain”. Tindak tutur yang mengungkapkan simpati misalnya ucapan
selamat, ucapan bela sungkawa, dan ucapan lain yang menunjukkan
penghargaan terhadap orang lain.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 18

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 19

WHOLE LANGUAGE

Berkembangnya kompetensi linguistiksetiap individu karena
adanya kebebasan dalam belajar bahasa

WHOLE LANGUAGE

Konsep whole language bermula pada teori perkembangan (John Dewey), teori
pemikiran Vygotsky tentang konteks sosial, teori perkembangan kognitif Piaget, dan
termasuk juga teori bahasa Kenneth Goodman. Whole language merupakan pendekatan
pembelajaran bahasa yang berbeda dari pendekatan lain, yang memiliki perhatian dan
konsistensi terhadap pemahaman bagaimana anak belajar (Weaver, 2003:3). Berikut
beberapa pemahaman tentang konsep whole language.
- Di dalam whole language anak difasilitasi untuk secara utuh—menyimak, berbicara,

membaca, menulis—dalam belajar kebahasaan.
- Whole language menyediakan fasilitas belajar yang didasarkan pada pemahaman

bahwa anak belajar secara alami dalam suasana yang menyenangkan, jauh dari
paksaan, dan tanpa terus menerus memberikan kritik pada anak.
- Whole Language adalah satu pendekatan pembelajaran, yang secara alamiah diyakini
mampu membantu perkembangan bahasa anak-anak di sekolah atau di kelas.
- whole language adalah suatu teori atau pendekatan terhadap pembelajaran bahasa
secara utuh, artinya dalam pengajaran bahasa kita mengajarkannya secara
konstektual, logis, kronologis, dan komuikatif serta menggunakan setting yang riil dan
bermakna.
- Langkah-langkah pembelajaran penerapan whole language dilakukan dengan cara
menerapkan komponen-komponen whole language yang meliputi kegiatan membaca,
menulis jurnal, membaca dalam hati, membaca bersama, membaca terbimbing,
menulis terbimbing, membaca bebas, dan menulis bebas.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 20

Komponen Whole Language

Whole language menurut Routman dan Frosse (dalam Hartati dkk., dalam Supriatna,
2012, hlm. 34-35) meliputi delapan komponen, yaitu :

1. Reading Aloud (membaca bersuara)
Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya.
Guru dapat menggunakan bacaan yang terdapat dalam buku teks atau buku cerita.
Guru membacakan cerita dengan suara nyaring dan intonasi yang baik sehingga
setiap siswa dapat mendengarkan dan menikmati ceritanya. Kegiatan ini akan
sangat bermakna terutama jika diterapkan dikelas rendah.

2. Journal Writting
Journal writing atau menulis jurnal merupakan sarana yang aman bagi siswa untuk
mengungkapkan perasaannya, menceritakan kejadian di sekitanya, mengutarakan
hasil belajarnya, dan menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan.

3. SSR (Sustained Silent Reading)
Sustained Silent Reading (SSR) adalah kegiatan membaca dalam hati yang
dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih
sendiri buku atau materi yang akan dibacanya.

4. Shared Reading
Shared reading ini adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, di
mana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. Kegiatan ini dapat
dilakukan baik di kelas rendah maupun di kelas tinggi.

5. Guided Reading
Guided reading tidak seperti pada shared reading, guru lebih berperan sebagai
model dalam membaca. Dalam guided reading atau disebut juga membaca
terbimbing guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing
penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, melainkan lebih pada
membaca pemahaman. Dalam guided reading semua siswa membaca dan
mendiskusikan buku yang sama.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 21

6. Guided writting
Guided writing atau menulis terbimbing. Seperti dalam membaca terbimbing,
dalam menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, yaitu membantu
siswa menemukan hal yang ingin ditulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik.
Guru bertindak sebagai pendorong bukan pengatur, sebagai pemberi saran bukan
pemberi petunjuk.

7. Independent Reading
Independent Reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca yang
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan sendiri materi yang
ingin dibacanya. Dalam independent reading siswa bertanggung jawab terhadap
bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa,
model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dan
pemberi respon.

8. Independent writing
IIndependent writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan
kemampuan berpikir kritis dalam menulis. Dalam menulis bebas siswa mempunyai
kesempatan untuk menulis tanpa ada interfensi dari guru. Siswa bertanggung
jawab sepenuhnya dalam proses menulis. Jenis menulis yang termasuk dalam
independent writing antara lain menulis jurnal, dan menulis respon.

Karakteristik Pembelajaran Whole Language

Selain memahami komponen whole language, hal yang harus dipahami adalah
karakteristik pembelajarannya yaitu:

1. Pencelupan (immersion)
Siswa berada dalam lingkungan yang kaya dengan kegiatan berbahasa. Untuk itu
guru dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa melaksanakan
program pencelupan dengan menggunakan : bahasa resmi, bahasa formal, bahasa
teman sebaya, bahasa yang terdapat dalam buku-buku, percakapan informal dan
formal, bahasa lagu-lagu dan bahasa cerita.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 22

2. Demonstrasi
Guru secara aktif terlibat dalam peragaan pemakaian bahasa seperti bercerita,
membacakan buku di hadapan siswa dengan lafal dan intonasi yang benar.

3. Harapan (expectation)
Guru harus mempunyai harapan yang tinggi bahwa siswa dapay melaksanakan
kegiatan-kegiatan pembelajaran selaras dengan fase perkembangan mereka.

4. Tanggung jawab (responsibility)
Dalam kelas whole language siswa tidak boleh tidak belajar. Guru juga tidak boleh
berpangku tangan, tetapi terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.

5. Pemakaian atau praktik
Di kelas whole language praktik penggunaan bahasa dalam konteks yang
bermakna lebih ditekankan. Guru melibatkann siswa dalam aktivitas-aktivitas
pemakaian bahasa.

6. Aproksimasi
Para guru dalam kelas whole language yakin bahwa kekeliruan merupakan hal
yang wajar dalam proses belajar bahasa. Kekeliruan dari siswa merupakan
pertanda bahwa mereka sedang dalam proses belajar. Terutama dalam kegiatan
menulis, menulis bukan merupakan kegiatan sekali jadi, tetapi memerlukan proses
atau tahapan.Kelemahan dan kelebihan Whole Language

7. Respon dan umpan balik
Respon yang diberikan guru dikaitkan dengan aktivitas yang bermakna. Hal ini
akan berdampak pada pemahaman siswa tentang apa yang sedang dan telah
dipelajari.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 23

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 24

TECHNOLOGICAL, PEDAGOGICAL, AND CONTENT,
KNOWLEDGE (TPACK)

Dalam domain pendidikan kita membutuhkan teknologi. Akan
tetapi, tidak menjadi yang utama. Teknologi hanya sebatas
sarana, gurulah yang utama

TPACK adalah hasil akhir dari berbagai kombinasi dan minat ini, yang diambil
darinya – dan dari tiga area dasar yang lebih besar yaitu konten, pedagogi, dan teknologi
– untuk menciptakan dasar yang efektif untuk pengajaran menggunakan teknologi
pendidikan. Agar guru dapat menggunakan kerangka TPACK secara efektif, mereka harus
terbuka terhadap ide-ide kunci tertentu, termasuk:

- Konsep dari konten yang diajarkan dapat direpresentasikan menggunakan
teknologi.

- Teknik pedagogis dapat mengkomunikasikan konten dengan cara yang berbeda
menggunakan teknologi,

- Konsep konten yang berbeda memerlukan tingkat keterampilan yang berbeda dari
siswa, dan dapat membantu mengatasi beberapa persyaratan ini,

- Siswa datang ke kelas dengan latar belakang yang berbeda – termasuk pengalaman
pendidikan sebelumnya dan paparan teknologi – dan pelajaran yang
memanfaatkan teknologi pendidikan harus memperhitungkan kemungkinan ini.

- Teknologi pendidikan dapat digunakan bersama-sama dengan pengetahuan siswa
yang ada, membantu mereka memperkuat epistemologi sebelumnya atau
mengembangkan epistemologi baru.

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 25

-
Gambar. Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) Framework

(Mishra & Koehler, 2008)

- Menurut kerangka TPACK, alat teknologi tertentu (perangkat keras, perangkat
lunak, aplikasi, praktik literasi informasi terkait, dll.) paling baik digunakan untuk
mengajar dan membimbing siswa menuju pemahaman materi pelajaran yang lebih
baik dan lebih kuat.

- Menurut Koehler &Mishra (2008:3), kerangka TPCK dikonstruksi untuk
menggambarkan bagaimana pemahaman guru tentang teknologi pendidikan dan
Pedagogi Content Knowledge berinteraksi dengan satu sama lain untuk
menghasilkan pengajaran yang efektif dengan teknologi.

Kerangka TPACK dapat teruraijelaskan ke dalam tujuh domain pengetahuan yang
digambarkan oleh Koehler & Mishra (2008:12-18).
1. Pedagogical knowledge (PK)

Pedagogical knowledge merupakan Pengetahuan tentang sifat belajar mengajar,
termasuk metode pengajaran, pengelolaan kelas, perencanaan pembelajaran,
penilaian pembelajaran siswa, dll. Koehler dalam Nurbono (2012) menjelaskan bahwa
pedagogi berhubungan dengan proses, strategi, prosedur atau langkah-langkah, dan
cara mengajar dan belajar. Sementara itu dalam jurnal What Is Technological

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 26

Pedagogical Content Knowledge, menyatakan bahwa: “PK merupakan pengetahuan
yang mendalam untuk guru tentang proses dan praktik atau metode pengajarandan
pembelajaran. Berdasarkan pernyataan ini mencakup tujuan pendidikan secara
keseluruhan, nilai-nilai pendikan dan tujuan pendidikan.
2. Content knowledge (CK)
Content knowledge (CK) adalah Pengetahuan tentang materi pelajaran yang akan
diajarkan (misalnya, ilmu bumi, matematika, seni bahasa, dll). Guru harus memahami
pelajaran yang akan diajarkan termasuk pengetahuan tentang fakta-fakta, konsep,
teori dan prosedur pada bidang tertentu, pengetahuan tentang kerangka yang bisa
mengatur dan menghubungkan ide-ide dan pengetahuan tentang aturan dan juga
bukti dari konten.
3. Technology knowledge (TK)
Technology knowledge merupakan keberlanjutan dan perkembangan basis
pengetahuan yang meliputi pengetahuan tentang teknologi untuk pengolahan
informasi, komunikasi, dan pemecahan masalah, dan berfokus pada aplikasi produktif
teknologi baik dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
4. Pedagogical content knowledge (PCK)
Pedagogical content knowledge merupakan Pengetahuan tentang pedagogi, praktik
mengajar, dan proses perencanaan yang berlaku dan tepat untuk diajarkan pada
materi pelajaran yang akan diberikan. Pengetahuan PCK ini termasuk dalam hal
pemilihan pendekatan atau metode pembelajaran apa yang hendak dipilih untuk
mengajarkan konten tertentu. Pemilihan Pendekatan atau metode dalam mengajar
matematika pasti akan berbeda dengan pendekatan atau metode mengajar bidang
lainnya seperti bahasa Indonesia, Ilmu pengetahuan alam, atau pun ilmu pengetahuan
sosial. PCK berkaitan dengan representasi dan perumusan konsep, teknik pedagogis,
pengetahuan tentang apa yang membuat suatu konsep sulit atau mudah untuk
dipelajari, dan juga pengetahuan tentang pengetahuan dari teori epistemology siswa
sebelumnya. Sehingga diperlukan representasi konseptual yang tepat untuk mengatasi
kesulitan belajar dan juga kesalahpahaman dalam rangka menciptakan pembelajaran
yang lebih bermakna. PCK juga mencakup pengetahuan tentang bagaimana
menciptakan suasana belajar yang kondusif dalam pelaksanaan proses pembelajaran

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 27

termasuk juga penyediaan fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung pada proses
pembelajaran yang optimal.
5. Technological content knowledge (TCK)
Technological content knowledge (TCK) adalah Pengetahuan tentang hubungan antara
subyek dan teknologi, termasuk pengetahuan tentang teknologi yang berpengaruh
dan digunakan dalam mengeksplorasi disiplin konten yang diberikan.
6. Technological pedagogical knowledge (TPK)
Technological pedagogical knowledge (TPK) adalah Pengetahuan tentang pengaruh
teknologi terhadap pengajaran dan pembelajaran serta kelebihan dan kendala
teknologi yang berkaitan dengan desain dan strategi pedagogis.
7. Technological pedagogical content knowledge (TPCK)
Technological pedagogical content knowledge (TPCK) merupakan Pengetahuan
tentang interaksi yang kompleks antara domain prinsip pengetahuan (konten,
pedagogi, teknologi). Pembelajaran pada masa modern menuntut pemahaman guru
untuk bisa mengkolaborasikannya dengan teknologi. Jadi tidak hanya aspek Pedagogy
saja, aspek content dan technology juga menjadi pertimbangan dalam hal pelaksanaan
pembelajaran di kelas yang modern dan inovatif. Perkembangan ketiga komponen
tersebut kemudian dikenal dengan Technology, Pedagogy, and Content Knowledge
(TPCK).

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 28

Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SD 29

DAFTAR PUSTAKA

Baser, D., Kopcha, T. J., & Ozden, M. Y. (2016). Developing a technological pedagogical
content knowledge (TPACK) assessment for preservice teachers learning to teach
English as a foreign language. Computer Assisted Language Learning, 29(4), 749–
764. https://doi.org/10.1080/09588221.20 15.1047456

Canbazoglu Bilici, S., Guzey, S. S., & Yamak, H. (2016). Assessing pre service science
teachers’ technological pedagogical content knowledge (TPACK) through
observations and lesson plans. Research in Science & Technological Education,
34(2), 237– 251. https://doi.org/10.1080/02635143.20 16.1144050

Carlo. De. J.E. 1995. Perspectives in Whole Language. ALLyn & Bacon. USA.
Darmayanti Zuchdi dan Budiasih. (1997). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di

Kelas Rendah. Jakarta: Departement Pendidikan dan Kebudayaan.
Douglas Brown. (1987). Principles of Language Learning and Teaching. New York:

Prentice Hall.
Koehler, M. J., & Mishra, P. (2005). Teachers learning technology by design. Journal of

computing in teacher education, 21(3), 94–102.
Koehler, M. J., Mishra, P., & Cain, W. (2013). What is technological pedagogical content

knowledge (TPACK)?. Journal of Education, 193(3), 13-19.
Koehler, M. J., Mishra, P., Bouck, E. C., DeSchryver, M., Kereluik, K., Shin, T. S., & Wolf, L.

G. (2011). Deep-play: Developing TPACK for 21st century teachers. International
Journal of Learning Technology, 6(2), 146–163.
Koehler, M., & Mishra, P. (2009). What is technological pedagogical content knowledge
(TPACK)?. Contemporary issues in technology and teacher education, 9(1), 60-70
Prayitno, H. J. (2010). Perwujudan prinsip kerjasama, sopan santun, dan ironi para
pejabat dalam peristiwa rapat dinas di lingkungan pemkot berbudaya jawa. Kajian
Linguistik Dan Sastra, 22(1), 30–46.
Prayitno, H. J., Kusmanto, H., Nasucha, Y., Rahmawati, L. E., Jamaluddin, N., Samsuddin,
S., & Ilma, A. A. (2019). The Politeness Comments on The Indonesian President
Jokowi Instagram Official Account Viewed From Politico Pragmatics and The
Character Education Orientation in The Disruption Era. Indonesian Journal on
Learning and Advanced Education (IJOLAE), 1(2), 52–71.
https://doi.org/10.23917/ijolae.v1i2.8785
Prayitno, J. H. (2009). Perilaku Tindak Tutur Berbahasa Pemimpin Dalam Wacana Rapat
Dinas: Kajian Pragmatik Dengan Pendekatan Jender. Kajian Linguistik Sastra, 21(2),
132–146.
Purba, A. (2011). Tindak Tutur dan Peristiwa Tutur. Pena: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan
Sastra, 1(1), 77–91. https://online-journal.unja.ac.id/pena/article/view/1426
Rafiuddin, Ahmad dan Darmiyati Zuhdi. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
di Kelas Tinggi. Universitas Negeri. Malang.
Rahim, Farida. 2007. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Bumi Aksara. Jakarta.
R. Kunjana Rahardi, Yuliana Setyaningsih, & Rishe Purnama Dewi. (2015). Manifestasi
Fenomena Ketidaksantunan Pragmatik Berbahasa dalam Basis Kultur Indonesia.
Prosiding Seminar Antarabangsa Linguistik Dan Pembudayaan Bahasa Melayu IX.
Saleh, M., & Baharman, B. (2017). Kesantunan Tindak Tutur Dalam Interaksi Akademik.
RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 8(2).

https://doi.org/10.26858/retorika.v8i2.3625
Sari, F. D. P. (2012). Tindak Tutur Dan Fungsi Tuturan Ekspresif Dalam Acara Galau Nite

Di Metro Tv: Suatu Kajian Pragmatik. Skriptorium, 1(2), 1–14.
Schmidt, D. A., Baran, E., Thompson, A. D., Mishra, P., Koehler, M. J., & Shin, T. S. (2009).

Technological pedagogical content knowledge (TPACK) the development and
validation of an assessment instrument for preservice teachers. Journal of research
on Technology in Education, 42(2), 123- 149.
Shulman, L. S. (1986). Those who understand: Knowledge growth in teaching.
Educational researcher, 15(2), 4–14.
Simarmata, M. Y., & Agustina, R. (2017). Kefektifan Bahan Ajar Berbasis Pendidikan
Karakter untuk Meningkatkan Kesantunan Tindak Tutur Imperatif. JP-BSI (Jurnal
Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia), 2(2), 41. https://doi.org/10.26737/jp-
bsi.v2i2.238
Suyitno, I. (2007). Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing
(BIPA) berdasarkan Hasil Analisis Kebutuhan Belajar. Wacana, Journal of the
Humanities of Indonesia. https://doi.org/10.17510/wjhi.v9i1.223
Syah, N. A. (2018). Kesantunan Tindak Tutur Direktif Dalam Talk Show Satu Jam Lebih
Dekat Di Tv One (Tinjauan Pragmatik). Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 1(1),
94. https://doi.org/10.14421/ajbs.2017.01105
Waljinah, S., Prayitno, H. J., Purnomo, E., Rufiah, A., & Kustanti, E. W. (2019). Tindak
Tutur Direktif Wacana Berita Online: Kajian Media Pembelajaran Berbasis Teknologi
Digital. SeBaSa, 2(2), 118. https://doi.org/10.29408/sbs.v2i2.1590
Waqori, H. (2018). Analisis Tuturan Imperatif Bahasa Jawa Guru Pada Siswa Kelas Ii
Madrasah Ibtidaiyah Al-Fattah Kota Malang. Journal Al-Mudarris.
https://doi.org/10.32478/al-mudarris.v1i1.99
Wibowo, S. E. (2020). The Practice of Adu Rasa, Angon Rasa, and Njaga Rasa in the
Speech Act of Javanese Kiai: An Ethnopragmatic Study. Humanus, 19(1), 136.
https://doi.org/10.24036/humanus.v19i1.105880
Wibowo, S., & Rosalina, S. (2019). Pragmatic View on The Inscription Heritage of
Tarumanegara Kingdom. https://doi.org/10.4108/eai.23-3-2019.2284952


Click to View FlipBook Version