Daftar isi Daftar isi...................................................................................................................I Cakkhupala Thera....................................................................................................1 Sasajataka (Legenda Kelinci Bulan) .......................................................................5 Peta Tebu................................................................................................................10 Kisah 500 Kelelawar..............................................................................................13 I
Cakkhupala Thera Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Pikiran dalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti kaki lembu yang menariknya. Suatu hari diceritakanlah tentang Cakkhupala Thera yang berkunjung ke Vihara Jetavana. Untuk melakukan pernghormatan kepada Sang Buddha. Saat itu ketika Cakkhupala Thera berjalan di hutan sambil bermeditasi, banyak sekali serangga seperti kupu-kupu, dan bermacam-macam serangga lainnya. Semuanya sangat indah sekali Tak terasa hari semakin gelap. Chakkupala Thera berjalan terus di malam hari sambil bermeditasi. Banyaknya serangga membuat Cakkhupal Thera secara tidak sengaja menginjak para serangga-serangga malang itu. Malam itu banyak serangga dan kupu-kupu yang terinjak secara tidak sengaja oleh Sang Cakkhupala Thera ketika sedang bermeditasi sambil berjalan. Namun Sang Cakkhupala Thera tidak menyadari bahwa dia telah menginjak para seranggaserangga malang itu secara tidak sengaja, dia terus berjalan saja. Pagi harinya di Vihara Jetavana, tiga orang Bhikku sedang berjalan di halaman depan Vihara untuk mengunjungi Sang Cakkhupala Thera karena mendengar tentang kedatangannya. Ketika sedang asyik membahas kedatangan Cakkhupala Thera salah satu Bhikku merasa ada yang aneh. Meraka berjalan terus sampai akhirnya, salah satu Bhikku menemukan banyak serangga mati dalam keadaan terinjak-injak. Setelah menemukan banyak serangga mati, mereka menyimpulkan bahwa kejadian itu bisa terjadi karena ulah Cakkhupala Thera yang membunuh seranggaserangga itu karena merasa jengkel dan mereka bisa menyimpulkan hal kejadian itu karena kejadian itu tak pernah terjadi sebelum kedatangan Sang Thera. Alih-alih dari mengunjungo Sang Thera, para Bhikku malah berubah haluan dan mencari Sang Buddha. Ketiga Bhikku itu pun bergegas menemui Sang Buddha 1
untuk melaporkan tentang apa yang telah mereka lihat. Sang Buddha pun mendengarkan laporan dari ketiga Bhikku tersebut mengenai temuan mereka dan kecurigaan mereka pada Sang Thera. Lalu Buddha bertanya kepada ketiga Bhikku itu apakah mereka melihat pembunuhan itu dan para Bhikku menjawab tidak. Buddha mejelaskan bahwa Cakkhupala Thera tidak melihat serangga itu, sama seperti ketiga Bhikku yang tidak melihat kejadian itu, Buddha menjalaskan kembali bahwa Cakkhupala Thera mengalami kebutaan dan juga ia telah mencapai Arahat, sehingga ia telah tidak punya kehendak untuk membunuh. Setelah itu salah satu Bhikku bertanya kepada Sang Buddha mengapa Cakkhupala Thera mengalami kebutaan padahal ia telah mmencapai Arahat. Budhha pun bercerita. Pada kehidupan lampau Cakkhupala pernah terlahir sebagai tabib handal yang sangat termahsyur, dia sangat handal mengobati penyakit yang bahkan silut disembuhkan. Setiap hari banyak sekali orang-orang yang datang kerumahnya untuk berobat bahkan tidak jarang, bahkan datang dari tempat yang jauh untuk menemuinya. Kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Itu membuat dia menjadi tabib handal yang terkenal. Racikan obatnya selalu berhasil menyembuhkan berbagai penyakit. Dia juaga sangat rendah hati dan ramah. Suatu hari datanglah seorang wanita tua yang diantarkan anaknya untuk mengobati matanya yang sakit. Mereka berjalan jauh untuk menemui sang tabib. Wanita tua itu dan anaknya meminta tolong kepada sang tabib untuk mengobati mata sang wanita tua, namun sang tabib sempat untuk menolak karena bahan untuk obanya sulit untuk ditemukan. Wanita tua itu dan anaknya memohon kepada sang tabib bahkan mau menjadi pembantu sang tabib karena tidak mampu untuk membayar. Sang tabib pun merasa iba melihat wanita itu dan akhirnya ia mau mengobati wanita tua itu 2
Setelah menyetujui untuk mengobati mata sang wanita tua itu. Sang tabib berangkat melewati gunung dan turun ke kembah untuk masuk ke hutan mencari bahan dan daun-daunan untuk obat. Butuh waktu yang cukup lama di dalam hutan untuk menemukan daun yang dicari. Setelah beberapa lama mencari akhirnya ia berhasil menemukannya. Hari semakin sore, sang tabib pun berjalan pulang. Walalu hari semakin gelap, sang tabib sangat gembira sekali. Dia berjalan pulang dgan semangat sambil memikul daun daun untuk obat itu. Lalu saat dia tiba dirumah, sang tabib langsung bergegas memanaskan air dan memasukan beberapa bahan untuk obat. Dia menumbuk dan tidak lupa memasukan daun yang didapatnya secara susah payah itu. Setelah proses pembuatan selesai, ia langsung menyuguhkan obat yang telah diracik olehnya. Sejak hari itu, setiap hari sang tabib mercaik obat untung sang wanita itu agar cepat sembuh. Sang anak pun sangat rajin menyuapi obat untuk sang ibu agar ibunya cepat sembuh. Semakin hari mata sang ibu semakin sembuh rasa sakit parah pada matanya semakin berkurang, matanya pun semakin membaik. Tapi semakin sembuh matanya dia semakin takut jika sang tang tabib tau, dia dan anaknya akan terikat dan menjadi pembantu sang tabib. Maka dia berbohong dan marah marah pada sang tabib. Sang tabib terheran-heran dan dia permisi kebelakang untuk mengambil obat. Dia pun mengintip diam-diam wanita itu. Karena dia tau wanita itu telah berbohong tentang matanya. Keyakinannya bertambah setelah menguping percakapan wanita itu dan anaknya yang rupanya telah membohonginya. Hal itu membuat sang tabib tersinggung dan marah dan besar, ia pun berniat mengganti obatnya untuk melakukan pembalasan. Dan benar sang tabib mengganti obat itu dan sang wanita itu menjadi buta total 3
setelah kejadian itu akibat pembalasan sang tabib. Karena perbuatannya sang tabib harus menderita kebutaan selama 500 kehidupan. Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu Pikiran adalah pemimipin Pikiran adalah pembentuk Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat Maka penderitaan akan mengikutinya. Bagai roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menarik nya Tiba-tiba, pada saat khotbah Dhamma itu berakhir, diantara para Bhikku yang hadir itu, ada yang terbukanya mata batinnya dan mencapai tingkat kesuciaan arahat dengan mempunyai kemampuan batin analisis ‘Pandangan Terang’ (PATISAMBHIDA). Dari contoh cerita ini kita dapat ketahui, bahkan melukai mahkluk lain satu kali saja, akan memberi dampak buruk pada diri kita dibanyak kehidupan. 4
Sasajataka (Legenda Kelinci Bulan) Dahulu kala ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatta terlahir menjadi seekor kelinci dan tinggal di dalam hutan. Pada salah satu sisi hutan itu terdapat kaki gunung, pada sisi yang lain terdapat sebuah sungai, dan pada sisi yang ketiga terdapat sebuah desa perbatasan. Kelinci itu mempunyai tiga sahabat—seekor kera, seekor serigala dan seekor berang-berang. Keempat makhluk bijak ini tinggal bersama dan mereka masingmasing mencari makan di lahan mereka sendiri, dan berkumpul pada petang hari. Kelinci, dengan kebijaksanaannya, memberi wejangan berupa pemaparan kebenaran kepada ketiga sahabatnya, mengajari mereka untuk memberi derma (berdana), menjalankan latihan moralitas (sila), dan memperingati hari-hari suci. Sahabat-sahabatnya menerima wejangannya dan masing-masing pulang kembali ke tempat tinggal mereka di sisi-sisi hutan itu. Pada suatu hari, Bodhisatta meninjau langit dan memandang bulan, mengetahui bahwa keesokan harinya adalah hari Uposatha. Kemudian ia berkata kepada para sahabatnya, “Besok adalah hari Uposatha. Marilah kita menjalankan sila dan laku Uposatha. Ia yang memberi derma disertai dengan menjalankan sila tentulah mendapatkan hasil perbuatan yang amat mulia. Oleh karena itu, berikanlah makanan kepada orang yang datang meminta kepada kalian dengan makanan dari tempat kalian sendiri. Mereka semua menyetujuinya dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Pada keesokan paginya, berang-berang berangkat untuk mencari makanannya di tepi Sungai Gangga. Kala itu, seorang nelayan telah menangkap tujuh ekor ikan merah, mengikat ikan-ikan itu dengan tali pada satu ranting, menguburnya di dalam tanah di tepi sungai. Kemudian ia kembali mengarungi sungai ke bagian hilir untuk mendapatkan lebih banyak ikan. Berang-berang yang mencium bau ikan di dalam tanah, menggali tanah dan menemukannya. Ia menarik keluar ikan-ikan itu dan berkata dengan keras, 5
sebanyak tiga kali, “Siapakah empunya ikan-ikan ini?” Karena tidak melihat siapa pun sebagai pemiliknya, berang-berang, dengan menggigit ranting tersebut, membawa ikan-ikan itu ke hutan tempat ia tinggal dengan niat untuk memakannya pada waktu yang tepat, kemudian ia berbaring dan memikirkan tentang latihan moralnya. Demikian halnya dengan serigala, ia juga berangkat untuk mencari makanan dan menemukan dua besi pemanggang, seekor kadal besar dan satu kendi dadih43 di dalam pondok seorang penjaga ladang. Setelah tiga kali berkata dengan keras, “Siapakah yang empunya benda-benda ini?” ia pun melingkarkan tali di lehernya untuk mengangkat kendi, membawa kadal dan besi pemanggang dengan cara menggigitnya. Ia membawa mereka ke sarangnya dan berpikir, “Saya akan memakan ini pada waktu yang tepat,” kemudian berbaring, memikirkan tentang latihan moralnya. Demikian halnya juga dengan kera, ia pergi ke dalam hutan belantara dan mengumpulkan buah-buah mangga, kemudian membawanya kembali ke dalam hutan tempat ia tinggal dengan niat untuk memakannya pada waktu yang tepat. Ia pun berbaring sambil memikirkan tentang latihan moralnya. Sedangkan Bodhisatta pada waktu yang sama keluar dari tempat tinggalnya, dengan tujuan untuk mendapatkan rumput kusa. Ketika ia berbaring di dalam hutan (tempat ia tinggal), pemikiran ini terlintas dalam benaknya, “Tidaklah mungkin bagiku untuk menawarkan rumput kepada orang yang datang meminta kepadaku nanti, dan saya juga tidak mempunyai minyak (wijen) atau beras, dan sebagainya. Jika ada orang yang datang meminta makanan kepadaku nanti, akan kuberikan dagingku sendiri kepadanya untuk dimakan.” Dikarenakan kekuatan kebajikannya ini, takhta marmer kuning Dewa Sakka menjadi panas. Sakka, dengan kekuatannya memindai, menemukan penyebabnya dan berniat untuk menguji si kelinci. Pertama-tama, ia pergi ke kediaman berangberang, dalam samarannya sebagai seorang brahmana (petapa). Ketika ditanya mengapa ia berdiri di sana, ia menjawab, “Tuan yang bijak, jika saya bisa mendapatkan sesuatu untuk makan, maka saya akan dapat menjalankan laku Uposatha.” Berang-berang berkata, “Baiklah, saya akan memberikanmu makanan,” dan pada saat ia berbicara dengannya, ia mengulangi bait pertama 6
berikut: Tujuh ekor ikan merah yang kubawa pulang ke daratan dari Sungai Gangga, wahai brahmana, makanlah ini sepuasnya, dan tinggallah di hutan ini. Brahmana itu berkata, “Tunggulah sampai besok, saya akan mengambilnya.” Berikutnya, ia pergi ke kediaman serigala, ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Serigala juga bersedia memberikannya makanan, dan pada saat berbicara dengannya, ia mengulangi bait kedua berikut: Seekor kadal dan satu kendi dadih, makan malam si penjaga, dua besi pemanggang untuk memanggang daging yang kudapatkan ini: Akan kuberikan kepadamu: Wahai brahmana, makanlah ini sepuasnya, dan tinggallah di hutan ini. Brahmana itu berkata, “Tunggulah sampai besok, saya akan mengambilnya.” Kemudian, ia pergi ke kediaman kera, dan ketika ditanya dengan pertanyaan yang sama, ia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Kera menawarkan makanan untuknya, dan pada saat berbicara dengannya, ia mengulangi bait ketiga berikut: Aliran sungai yang dingin, buah mangga yang ranum, tempat teduh yang menyenangkan di hutan, 7
wahai Brahmana, makanlah ini sepuasnya, dan tinggallah di hutan ini. Brahmana itu berkata, “Tunggulah sampai besok, saya akan mengambilnya.” Kemudian ia pergi ke kediaman si kelinci bijak, dan ketika ditanya mengapa ia berdiri di sana, ia pun menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Bodhisatta merasa sangat gembira mendengar apa yang ia inginkan, dan berkata, “Brahmana, Anda telah melakukan hal yang benar dengan datang meminta makanan kepadaku. Hari ini akan kuberikan kepadamu persembahan yang belum pernah kuberikan sebelumnya, tetapi Anda tidak akan melanggar sila dengan mengambil nyawa hewan. Teman, pergilah dan sesudah Anda mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, datanglah kembali ke sini dan beri tahu saya, saya akan mengorbankan diriku sendiri dengan melompat ke dalam api. Bilamana dagingku telah terpanggang (cukup matang), makanlah sesukamu dan jalankanlah kewajibanmu sebagai seorang petapa.” Demikian si kelinci berbicara kepadanya dan mengucapkan bait keempat berikut: Bukan wijen, bukan kacang-kacangan, bukan pula beras yang kumiliki sebagai makanan untuk didermakan, melainkan kukorbankan dagingku sendiri untuk dipanggang dalam api, jika Anda ingin tinggal di hutan ini bersama kami. Setelah mendengar apa yang dikatakannya, dengan kesaktiannya, Sakka memunculkan satu tumpukan bara api yang berkobar-kobar dan memberi tahu Bodhisatta. Setelah bangkit dari ranjang rumput kusanya dan datang ke tempat itu, kelinci mengibas-ngibaskan tubuhnya tiga kali agar serangga-serangga kecil atau kutu-kutu di tubuhnya tidak mati, ikut terbakar. Kemudian untuk mempersembahkan seluruh tubuhnya sebagai derma, ia melompat masuk ke 8
dalam tumpukan bara api dalam kegembiraannya, seperti seekor angsa yang terbang turun ke tumpukan terata. Tetapi kobaran api itu tidak mampu membakarnya, bahkan tak sehelai rambutnya pun terbakar, dan ia seolah-olah seperti masuk ke dalam sebuah tempat yang sangat dingin. Kemudian ia menyapa Sakka dengan kata-kata berikut: “Brahmana, api yang Anda nyalakan ini sedingin es: api ini tidak membakar tubuhku, bahkan tak sehelai rambutku pun terbakar. Apa arti semua ini?” “Tuan yang bijak,” jawabnya, “saya bukanlah seorang brahmana, saya adalah Dewa Sakka dan saya datang untuk menguji kebajikanmu.” Kemudian Bodhisatta berkata, “Sakka, bukan hanya dirimu, jika seluruh penghuni dunia ini mengujiku dalam hal berdana, mereka tidak akan menemukan keengganan dalam diriku untuk memberi,” dan setelah mengucapkan kata-kata ini, Bodhisatta mengeluarkan jeritan kebahagiaan seperti auman seekor singa. Kemudian Sakka berkata Bodhisatta, “Wahai kelinci bijak, biarlah kebajikanmu ini dikenal selama waktu yang tak terhitung lamanya.” Setelah meremas sebuah gunung dan mengambil sarinya, Sakka membuat gambar seekor kelinci di bagian tengah bulan. Kemudian setelah mengembalikan kelinci pada ranjang rumput kusa, ia pun kembali ke kediamannya di alam dewa. Keempat makhluk bijak itu tinggal bersama dengan bahagia dan harmonis, menjalankan sila dan memperingati hari-hari suci, sampai akhirnya mereka terpisah untuk menuai hasil sesuai perbuatan mereka masing-masing. 9
Peta Tebu Suatu waktu dikala itu, ditengah hutan bambu. Disiang hari ynag terik dihari itu, ketika itu Sang Buddha sedang berdiam di hutan bambu. Disaat yang sama lewatlah seorang pria. Pria itu meletakan sikat tebu dibahunya, dia berjalan sambil mengunya tebu itu dengan ketus. Pada seorang itu, seorang umat awam yang luhur dan berwatak baik berjalan dengan anak lelakinya dan bertemu pria tersebut. Sang anak melihat tebu yang dimakan dan dikunyah oleh pria tersebut. Anak itu meminta sebuah tebu, namun pria yang memanggul seikat tebu itu tak menggubris sama sekali anak itu sambil asyik mengunyah tebu di tangannya. Sang anak terus berteriak menginginkan tebu itu. Dia terus menerus menariknarik baju sang ayah. Sang ayah merasa kasihan dan tidak tega melihat sang anak yang berteriak teriak meminta tebu. Sang anak pun mulai menangis sejadi-jadinya dan terus merengek menginginkan tebu itu. Sang ayah mencoba menenangkan sang anak yang menangis tak henti-henti itu. Sang ayah dari anak itu pun mengejar sang pria yang membawa tebu tadi dan mencoba bercakap-cakap dengan pria itu. Namun pria itu hanya melirik dengan tatapan sinis. Tetapi sama sekali pria itu tidak mau bercakap-cakap dengan sang ayah. Dan dia juga tidak mau memberikan sepotong tebu pun kepada anak itu karena niat jahatnya. Tidak tahan mendengar ini, pria itu menjadi jengkel. Tanpa rasa hormat, dengan kesal dia melempar sepotong tebu ke arah belakang. Dengan persaan gusar dia pergi setelah melempar kebelakang sepotong tebu itu, sang anak langsung berlari ke arah tebu itu dan mengambilnya dengan gembira. Pada saatnya, dia mati dan muncul di antara para peta karena telah lama dia resapi keserakahan. Buah dari hal ini sungguh sesuai dengan perbuatan itu, karena muncul baginya suatu hutan besar yang penuh ditumbuhi tebuh hitam legam seukuran alat penumbuk, yang (membentang melebihi) area seluas delapan karisa. 10
Tetapi begitu mendekatinya karena ingin mengunyah tebu dengan berpikir, ‘aku akan mengambil tebu’, tebu itu akan menghantamnya sampai pingsan. Berkalikali dia mencoba. Namun hal yang sama terus berulang, batang batang tebu itu terus memukulnya dengan keras setap dia mau meraihnya. Dia pun semakin putus asa. Kemudian suatu hari, ketika Y. M. Mahamoggallana sedang pergi Rajagaha mengumpulkan dana makanan, beliau menjumpai sang peta itu. Dan Y. M. Mahamoggallana berjalan mendekatinya dan bertanya kepada sang peta “apa yang sedang engkau lakukan disisni ?”. Sang peta pun menceritakan kepada Y. M. Mahamoggallana perihal tebu yang terus menghantamnya hingga pingsan setiap kali dia mencoba mengambilnya tersebut. Y. M. Mahamoggallana pun menjelaskan bahwa itu akibat karma buruk nya di masa lalu yang memberi seorang pria sebuah tebu untuk anaknya dengan cara melempar tebu itu ke arah belakang. Y. M. Mahamoggallana menjelaskan bahwa ada satu cara agar sang peta bisa mengambil tebu, yakni dengan cara mengambil tebu dari belakang punggung. Setelah menjelaskan kepada sang peta, kemudian sang Y. M. Mahamoggallana pun berlalu melanjutkan perjalannya kembali. Sang peta pun pergi dan mengambil beberapa dari belakang. setelah mengambil beberapa, dia menguny ahnya sebanyak yang dia suka dengan cara ini dia menjadi senang, gembira, bersuka cita, dan puas. Setelah mengambil beberapa, dia mengunyahnya sebanyak yang dia saka (Gahetvana Tam Khadi Yana-D-Attham) setelah mengambil beberapa tebu dengan cara yang disarankan oleh Thera tersebut dan kemudian mengunyahnya seperti yang dia suka, dia mengambil seikat besar tebu dan mempersembahkannya kepada sang thera membantu peta itu, thera tersebut menyuruhnya membawa tebu itu dan pergi ke hutan bambu serta (Thera tersebut) memberikannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha bersama kelompok Bhikkhu kemudian memakannya dan 11
menunjukkan penghargaan mereka dengan bakti di hatinya, peta itu menghormat (Sang Buddha) dan pergi sejak saat itu dan seterusnya, dia makan tebu dengan enak pada waktunya, dia mati dan muncul di antara kelompok tiga-puluh-tiga. peristiwa yang berhubungan dengan peta ini menjadi dikenal di alam manusia. orang-orang menghampiri sang guru dan menanyakan tentang peristiwa tersebut. sang guru menjelaskan hal itu secara mendetil dan kemudian mengajarkan dhamma. ketika mereka mendengar ini, orang-orang pun mundur dari noda keegoisan. 12
Kisah 500 Kelelawar Pada zaman Buddha Kassapa, ada sebuah gua tempat 500 kelelawar kecil biasa tinggal bergantung di langit-langit. Mereka mendengarkan pembacaan Abhidhamma oleh dua bhikkhu ahli Abhidhamma tanpa memahami maknanya. Bagi mereka, suara merdu pembacaan itu adalah objek yang baik bagi kesadaran menjelang kematian (kamma nimitta), membantu mereka terlahir kembali sebagai dewa. Sebagai dewa, mereka menikmati kehidupan dari masa Buddha Kassapa hingga Buddha Gotama tanpa pernah mengalami penderitaan. Ketika melihat Keajaiban Ganda pada masa Buddha Gotama, mereka memohon penahbisan di bawah Yang Mulia Sariputta, yang kemudian mengajarkan Abhidhamma kepada mereka. Akhirnya, setelah pembelajaran yang panjang, 500 bhikkhu kelelawar tersebut mencapai tingkat kesucian Arahatta, membebaskan mereka dari siklus kelahiran kembali dan penderitaan. Meskipun mereka tidak memahami diskusi Abhidhamma, keberadaan mereka memberikan contoh nyata betapa pentingnya kesungguhan dalam Dhamma. Kisah ini menekankan pentingnya membaca dan mendengarkan Paritta-Suci, bahkan jika hanya dalam waktu singkat setiap hari. Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan kebahagiaan pada masa sekarang, tetapi juga pada masa depan, untuk diri sendiri dan makhluk lain. Dengan tekun dalam Dhamma dan memberikan manfaat pada dunia, kita dapat mencapai kebahagiaan yang besar dan memberikan manfaat yang tak terduga bagi banyak makhluk. 13