The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ensiklopedia kembaliku Ke Uma Bokolo<br>Uma Bokolo (traditional house) is not just a building. Uma bokolo is built with local materials, the birthplace of kabisu (tribe) in the extended family. The center of activities for all traditional ceremonies is held at uma bokolo. The momentum of returning to uma bokolo is an invitation for all young generations of Kodi to learn to use and understand the lexicon of meaning in Kodi and Indonesian languages, to love culture again, to study and understand customs, to learn the habits of Kodi people through uma bokolo. This book is compiled by the author so that readers are able to interpret the lexicons of the establishment of uma bokolo, as well as the function of uma bokolo as a home where the occupants of the house can return to comfort. Uma bokolo always gives off a sense of peace. Uma bokolo is full of warmth, happiness, and eternity.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by maria yovita, 2025-03-04 00:40:58

Ensiklopedia Kembaliku ke Uma Bokolo (Paulina Maria Yovita Kosat)

Ensiklopedia kembaliku Ke Uma Bokolo<br>Uma Bokolo (traditional house) is not just a building. Uma bokolo is built with local materials, the birthplace of kabisu (tribe) in the extended family. The center of activities for all traditional ceremonies is held at uma bokolo. The momentum of returning to uma bokolo is an invitation for all young generations of Kodi to learn to use and understand the lexicon of meaning in Kodi and Indonesian languages, to love culture again, to study and understand customs, to learn the habits of Kodi people through uma bokolo. This book is compiled by the author so that readers are able to interpret the lexicons of the establishment of uma bokolo, as well as the function of uma bokolo as a home where the occupants of the house can return to comfort. Uma bokolo always gives off a sense of peace. Uma bokolo is full of warmth, happiness, and eternity.

Keywords: Ensiklopedia,culture,language,locallanguage,Sumba Barat Daya Kodi Language

ENSIKLOPEDIA KEMBALIKU KE UMA BOKOLO PAULINA MARIA YOVITA KOSAT, S.Pd., M. Hum


Penulis Paulina Maria Yovita Kosat Tim Peneliti Paulina Maria Yovita Kosat & Lisky A.Th. Subu Taopan Penyunting Marselus Robot Fotografer Frengki Lollo Ilustrator & Desain Sampul Ivan Baowolo Penata Letak Felzip Pandie (XII + 109 Halaman, 20 x 25 cm) Dicetak oleh: Diterbitkan oleh: RAWC SNDCT PUBLISHING Jalan. Rancamanyar 1 No 36, Kota Bandung. Cetakan Pertama, Januari 2025 ISBN: ENSIKLOPEDIA KEMBALIKU KE UMA BOKOLO


Didukung oleh:


I KEMBALIKU KE UMA BOKOLO Paulina Maria Yovita Kosat, S.Pd.,M.Hum Penulis Uma Bokolo (rumah besar) tidak hanya bangunan semata. Uma bokolo didirikan dengan material lokal, tempat lahir kabisu (suku) dalam keluarga besar. Pusat kegiatan semua upacara adat dilaksanakan pada uma bokolo. Momentum kembali ke uma bokolo merupakan ajakan untuk semua generasi muda Kodi agar belajar menggunakan dan mengetahui leksikon arti dalam bahasa Kodi dan bahasa Indonesia, mencintai kembali kebudayaan, memperlajari dan memaknai adat-istiadat, mempelajari kebiasaan hidup orang Kodi melalui uma bokolo. Buku ini penulis susun, agar pembaca mampu memaknai leksikon-leksikon pendirian uma bokolo, sebagaimana fungsi uma bokolo sebagai rumah tempat kembali ternyaman bagi penghuni rumah. Uma bokolo selalu membersitkan rasa damai. Uma bokolo penuh kehangatan, kebahagian, dan keabadian. Karya ini dipersembahkan bagi semua pihak yang telah terlibat. Bantuan tulus baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proyek ‘Kembaliku ke Uma Bokolo’. Karena itu, penulis sampaikan ucapan terima kasih terutama kepada: 1. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 2. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 3. Museum dan Cagar Budaya, Galeri Nasional Indonesia. 4. Ketua Manajemen Pelaksana Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Tahun 2023. 5. Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) 6. Dana Indonesiana 7. Pemerintah Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian dan pembuatan film dokumenter. 8. Para narasumber Opa Agustinus Gh. Kaka, Bapak Rato Isak, Bapak Keretana, Bapak Anderias Ghadi, Adik Reihan Ghadi, Siswa/i SMAK St. Maria Homba Karipit,


II Siswa/I SD BilaCenge, Kodi. 9. Elis Setiati, S.Pd.,M.Hum, Kepala Kantor Bahasa Nusa Tenggara Timur sebagai penulis pengantar . 10. Dr. Marselus Robot, M.Si sebagai editor dan prolog. 11. Dekan FKIP Undana yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melakukan kegiatan penelitian guna menghasilkan karya buku dan film dokumenter. 12. Dr. Labu Djuli, M.Hum (Koordinator Progarm Studi PBSI) dan Dosen PBSI FKIP Undana yang juga telah meberikan izin dan mendukung penulis. 13. Maximus Kosat, S.Pd.,Gr (Ayah Kandung) dan Aznat Kaka (Ibu Kandung), terima kasih untuk cinta tulus dan kasih sayang yang tak lekang oleh waktu. 14. Bang Raf Beding, K Lisky Taopan, K Vikram Sombu, K Andre, K Malysk, K Andre Tefa, K Sammy, K Erans, K Ken Patar, K Ivon, K Frengky Lollo, K Ivan Baowolo, K Genjox (Tim Project Kembaliku ke Uma Bokolo) untuk kontribusi perhatian, tenaga, ide kreatif yang luar biasa. 15. Opa, Oma, Bapak, Mama, Om, Tante, adik, kakak dari keluarga Kodi yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian dan penyelesaian buku dan film ini. 16. Sahabat, kenalan, saudara, dan mahasiswaku dengan caranya masing-masing memberikan semangat pada penulis. Akhirnya, penulis menyadari bahwa buku ensiklopedia ‘Kembaliku ke Uma Bokolo’ ini belum sempurna. Oleh karena itu, segala bentuk saran yang membangun dari pembaca diterima dengan baik dan penuh senyuman. *Jika kamu hilang arah, Uma Bokolo tempat pulang terbaik* Paulina Maria Yovita Kosat, S.Pd.,M.Hum.


III PENGANTAR Elis Setiati, S.Pd.,M.Hum Dengan penuh kebanggaan, saya, sebagai Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur, memberikan dukungan dan apresiasi atas buku berjudul “Kembaliku ke Uma Bokolo” yang ditulis oleh Paulina Maria Yovita Kosat, S.Pd., M.Hum, atau akrab disapa Jovin Kosat. Buku ini merupakan hasil dari dedikasi dan kecintaan Jovin Kosat terhadap kekayaan budaya masyarakat Kodi di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Jovin Kosat, penerima hibah Dana Indonesiana, telah dengan cermat melakukan kajian mendalam tentang Uma Bokolo, rumah adat masyarakat Kodi. Pemilihan topik ini bukan tanpa alasan; dalam era globalisasi yang cepat, keberadaan Uma Bokolo mulai terancam dan tergerus oleh kemajuan teknologi serta perubahan zaman. Namun, seperti yang diungkapkan dalam buku ini, Uma Bokolo tidak hanya sekadar struktur fisik, tetapi juga merupakan simbol dari institusi sosial, bahasa, dan ritual yang memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Kodi. Dalam ensiklopedi ini, Jovin Kosat memberikan gambaran yang mendalam tentang berbagai aspek Uma Bokolo, mulai dari bahan-bahan yang digunakan, peralatan, jenis rumah, hingga ritual-ritual pembangunannya. Dengan cara ini, ia tidak hanya menceritakan sejarah dan budaya Uma Bokolo, tetapi juga menghidupkannya kembali melalui kata-kata dan pengetahuan yang dituangkan dalam buku ini. Buku “Kembaliku ke Uma Bokolo” adalah upaya untuk mengabadikan bahasa Kodi dan merayakan keunikan Uma Bokolo, yang merupakan bagian integral dari warisan budaya masyarakat Sumba Barat Daya. Melalui ensiklopedi ini, Jovin Kosat berharap pembaca, terutama generasi muda Kodi dan Sumba, dapat lebih mengenal, memahami, dan mencintai kebudayaan dan bahasa daerah mereka. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan yang berharga bagi siapa saja yang tertarik dengan adat-istiadat dan kehidupan masyarakat Kodi. Karya ini merupakan bentuk kontribusi penting dalam pelestarian budaya/


IV bahasa dan dokumentasi sejarah. Semoga buku yang dihasilkan dengan hati dan pemikiran akademis ini memberi manfaat, dampak, dan membuka wawasan tentang Uma Bokolo. Karya ini juga diharapkan menjadi alternatif lain berupa rujukan oleh para peneliti budaya dan pemerhati bahasa. Tentunya, saran dan masukan yang membangun dan bernilai positif dari pembaca sangat diharapkan untuk memperkaya buku ini lebih lanjut. Selamat membaca dan semoga buku ini dapat membawa Anda kembali ke Uma Bokolo, tempat yang penuh kehangatan dan kedamaian. Nusa Tenggara Timur, 10 September 2024 Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur


V PROLOG KE UMA BOKOLO, AKU KEMBALI Dr. Marselus Robot, M.Si. Dosen Bahasa dan Sastra FKIP Undana Bukan irih terhadap lirih suara burung yang berorkestra di tepi jurang menjemput pagi, atau langkah sedak petani desa yang sedang menghitung jejak senja sebelum ia kembali ke gubuk penuh rahmat. Bukan pula orang-orang merindu luka di bawah rindang kenangan yang bepergian tanpa bekal peradaban dalam dompetnya. Sekali lagi, bukan. Itu Cuma melankolia alam desa yang parokial. Hal lain di sini ialah bahwa pemerintah Indonesia mulai siuman dari pinsang panjang atas ketidakhirauan terhadap kebudayaan. Siuman itu dilegasi oleh Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang “Pemajuan Kebudayaan”. Dalam nada penyesalan UU itu mewanti: “Bahwa selama ini belum terdapat peraturan perundang-undangan yang memadai sebagai pedoman dalam Pemajuan Kebudayaan Nasional Indonesia secara menyeluruh dan terpadu.” Artinya, selama ini kita dibiarkan berangkat bareng ke dunia modern yang menjanjikan firdaus yang keparat tanpa alarm atau sirene yang memperingatkan kita bahwa kita sedang meninggalkan diri. Kita melangkah dalam ketersesatan yang membahagiakan secara artifisial tetapi menyakitkan secara esensial. Di sana, kita begitu sukar membedakan, apakah kita sedang pergi atau sedang pulang. Sebab, dunia disusutkan menjadi seluas saku baju atau saku celana. Meja makan di ruang tengah yang biasanya menyelenggaraan perjamuan kemanusiaan dalam keluarga telah lenyap. Komunikasi insani dimanipulatif sekadar mekanisme perkakas. Anak-anak tidur malam tanpa mitos dan dongeng. Mereka dibaringkan di atas karpet TikTok. Memang kekekalan kebudayaan adalah perubahan. Kita masih saja begitu bergairah melakukan prosesi kolosal dari old society menuju modern society. Entah sampai di mana? Mungkin kaki kita masih menginjak di tanah ini, tetapi kepala dan gaya hidup kita sudah tercampak di barat. Dan yang paling menarik dan menyakitkan sekaligus bahwa kita sudah bertahun-tahun tak sadarkan diri meeninggalkan diri kita, identitas, jatidiri dan hampir semua yang kita punya dihapus oleh gaya hidup mod-


VI ern. Karena itu, sejak tahun 2018 pemerintah menggencarkan agar segera memajukan kebudayaan melalui penyusun borang Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) seluruh daerah di Indonesia. Dokumen PPKD berusaha memotret kehidupan 11 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yakni tradisi lisan, manuskrip, adatistiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, olahraga tradional, permainan rakyat, dan cagar budaya. Hasil pemotretan Borang PPKD 22 kabupaten/kota di NTT memperlihat wajah kebudayaan kian keriput, mengalamai pendarahan berat, tanpa penyangga. Bahkan, beberapa ojek kebudayaan yang terancam punah seperti manuskrip, bahasa daerah, teknologi tradisional, pengetahuan tradional, permainan rakyat. Lagi-lagi UU No. 5 Tahun 2017 mewanti empat hal yang segera dilakukan yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan terhadap 11 OPK. Kita semua dipanggil untuk melakukan itu. Kementerian Pendidikan Republik Indonesia menyediakan Dana Abadi Kebuayaan(danainsonesiana) untuk membiaya siapapun baik secara perorangan, komunitas, atau lembaga memanfaatkan dana itu melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan daerah. Paulina Maria Yovita Kosat,S.Pd.,M.Hum akrab disapa Jovin Kosat salah satu yang mendapatkan hiba danaindonesiana dengan lokus kajian pembuatan ensiklopedi dan film dokumenter tentan Uma Bokolo (rumah adat) masyakat Kodi di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Ia sengaja memilih topik ini oleh karena erupsi kebudayaan di daerah begitu massif. Uma Bokolo mulai ditinggalkan. Teknologi tradional mulai raib. Padahal, kecanggihan teknologi tradional bukan pada keunikan bangunan, melainkan pada mitos di balik bahan-bahan yang diambil sebagai ramuan rumah. Dari sanalah ketahuan bahwa rumah tradional tidak hanya berfungsi sebagai home stay (tempat istirahat semata), tetapi merupakan home living (tempat untuk hidup). Rumah menjadi institusi sosial sekaligus institusi mistis tempat menjalankan praktik baik kehidupan. Ensiklopedi yang ditulis Jovin Kosat adalah jalan kembali ke Uma Bokolo. Ia sungguh terpanggil oleh hasrat kembali ke Uma Bokolo (rumah adat) untuk mencatat secara detail ba-


VII han yang digunakan, peralatan, jenis rumah dan fungsinya, hingga ritual pembanguna Uma Bokolo. Jovin Kosat pulang Kodi untuk mengotruksi Uma Bokolo dengan cara lain. Tentu, Jovin tidak membangun Uma Bokolo seperti orang Kodi membangun dari alang, bambu, rotan, johar atau kayu besi. Jovin Kosat mebangun Uma Bokolo dalam bentuk sebuah buku Ensiklopedi tentang Uma Bokolo. Dengan demikian, kala suatu waktu angin zaman menghapus semua keadaan, dan Uma Bokolo hanya dipandang melalui potret di seluler, tidak lagi dihuni secara fisik, maka Jovin Kosat telah membangun Uma Bokolo dalam bentuk ensiklopedi dihuni secara kognitif generasi Sumba Barat Daya. Sekali waktu, masyarakat Kodi atau masyarakat Sumba umumnya akan menerima buku ensiklopedi ini sebagai hutan rimba untuk mengenal jenis bahan rumah yang digunakan untuk Uma Bokolo. Kayu, bambu, rotan, dan alang-alang itu mungkin hilang. Namun, Jovin Kosat telah menanam kembali bahan-bahan itu dalam buku ensklopedi ini. Buku Ensiklopedi ini mengajak kita kembali Uma Bokolo penuh rahmat semesta. Ke Uma Bokolo, aku kembali. Dr. Marselus Robot, M.Si


VIII Leksikon Bahasa Kodi & Arti Bahasa Indonesia Ngingo Alang Wungha Tali hutan Oghol Bambu Besi Johar Lawiri Balok Kadimbel Merbau Utta Sirih Labba Pinang Kata’gha Kapur Wulu mata Uang Kahikara Tali hutan Linyo Lino Paneta Rotan Punghe Ngiyo Pohon kelapa Uma Bokolo Rumah Besar Lawa Ngiyo Balok Kelapa Punghe labba Pohon Pinang Royo Labba Daun Pinang Patenga Bokolo Balok Besar Lawa labba Batang Pinang Bhigernghagi Gergaji Besar Gernghagi Gergaji Gernghagi Motor Sensor Kataka Kapak Katopo Parang Pogha Krabawawi Tiang Belakang Patengan Bokolo Balok Besar Patenga Uma Ndalo Balok Loteng Uma Ndhalo Loteng Rumah Lawiri Weiyo Balok Menara Kadu Uma Tanduk Rumah Marapu Uma Penjaga Rumah Pogha Ripi Tiang Bantu GLOSARIUM


IX Lawiri Weiyo Balok Menara Kadu Uma Tanduk Rumah Marapu Uma Penjaga Rumah Pogha Ripi Tiang Bantu Lawiri Kopa Balok Atap Pangemba Pasang Alang Woloya Katonga Lantai Bambu Pe’dha Tempat Menyimpan Makanan Robhok Perapian/Tungku Koro Kamar Mbhinya Pintu Lawiri Kopa Balok Atap Pangemba Pasang Alang Woloya Katonga Mengayam lantai bambu Pe’dha Tempat Menyimpan Makanan Robhok Perapian/Tungku Koro Kamar Mbhinya Pintu Kambulunna Kolong Rumah Katonga tana Teras Rumah Pogha Krabawawi Tiang Belakang Patengan Bokolo Balok Besar Patenga Uma Ndalo Balok Loteng Uma Ndhalo Loteng Rumah


X Cak la Takiya Mono Mbondola Liyo ‘Pergi Beritahu dan Simpan Suara’ Frasa Bahasa Kodi & Arti Bahasa Indonesia Wonni ya Tagu na ‘berikan bagianNya’ Uma Weyo, Uma Malala ‘Rumah Air, Rumah Dingin’


XI DAFTAR ISI COVER UCAPAN TERIMA KASIH / I PENGANTAR / III PROLOG / V GLOSARIUM / VIII DAFTAR ISI / XI LEKSIKON MATERIAL ALAM PENDIRIAN UMA BOKOLO (RUMAH BESAR) Pengantar / 2 Besi (Johar) / 3 Kandimbil (Merbau) / 11 Kahikara (Tali Hutan) / 25 Linyo (Lino) / 29 Ngingo (Alang) / 36 Oghol (Bambu) / 41 Paneta (Rotan) / 47 Punghe Ngiyo (Pohon Kelapa) / 51 Punge Labba (Pohon Pinang) / 57 LEKSIKON ALAT PENDIRIAN UMA BOKOLO (RUMAH BESAR) Bhigernghagi (Gergaji Besar) / 63 Gernghagi (Gergaji) / 64 Gernghagi Motor (Sensor) / 64 Kataka (Kapak) / 65 Katopo (Parang) / 65 Li’gih/ Mbahi Mbolo (Linggis) / 66 KEBERAGAMAN LEKSIKON PENDIRIAN UMA BOKOLO (RUMAH BESAR) LATAR BELAKANG PERKAMPUNGAN MASYARAKAT KODI / 69 Uma Bokolo (Rumah Besar/Adat) / 70 Uma Ndheiyo (Rumah Tinggal) / 72 Uma Harri (Rumah Keramat / 73 Kareka/ Uma Mango (Rumah Kebun) / 74


XII UNGKAPAN DAN UPACARA PENDIRIAN UMA BOKOLO (RUMAH BESAR) / 76 Cak la Takiya Mono Mbondola Liyo (Pergi Beritahu dan Simpan Suara) / 77 Wonni ya Tagu na (Berikan BagianNya) / 78 Uma Weyo, Uma Malala (Rumah Air, Rumah Dingin) / 79 KEBERAGAMAN LEKSIKON PENDIRIAN UMA BOKOLO (RUMAH BESAR) Kalena (Lubang) / 81 Halele (Gelang Tiang) / 82 Pogha (Tiang) / 83 Pogha la Kataku (Tiang Utama) / 84 Pogha Mbhalibinya (Tiang Pintu Depan) / 84 Pogha Likit (Tiang Ruang Penyimpan) / 85 Pogha Krabawawi (Tiang Belakang) / 85 Patenga Bokolo (Balok Besar) / 86 Patenga Uma Ndalo (Balok Loteng) / 87 Uma Ndhalo (Loteng Rumah) / 88 Lawiri Weiyo (Balok Menara) / 89 Kadu Uma (Tanduk Rumah) / 90 Marapu Uma (Penjaga Rumah) / 92 Pogha Ripi (Tiang Bantu) / 94 Lawiri Kopa (Balok Atap) / 95 Pangemba (Pasang Alang) / 96 Woloya Katonga (Lantai Bambu) / 97 Pe’dha (Tempat Menyimpan Makanan) / 98 Robok (Perapian/Tungku) / 99 Koro (Kamar) / 101 Mbinya (Pintu) / 101 Kambulunna (Kolong Rumah) / 102 Katonga Tana (Teras Rumah) / 103 DAFTAR PUSTAKA BIODATA


XIII


1 LEKSIKON MATERIAL ALAM PENDIRIAN UMA BOKOLO (RUMAH BESAR)


2 Pendirian uma bokolo (rumah besar) dalam kehidupan masyarakat Kodi menggunakan bahan-bahan lokal atau material lokal yang saat ini sulit untuk didapatkan karena iklim yang telah berubah membuat tumbuhan-tumbuhan yang dipakai untuk membangun rumah besar juga sulit untuk tumbuh dan langka. Jikapun ada, harga material yang dipakai untuk membangun uma bokolo (rumah besar) menjadi sangat mahal. Dua permasalah itu menjadi polemik yang cukup besar di masyarakat Kodi. sebab satu tumbuhan tidak tumbuh akan menyumbang kepunahan beberapa leksikon dalam bahasa daerah Kodi. Kelangkaan untuk mendapatkan bahan dasar pendirian uma bokolo (rumah besar) akan mengubah material alam menjadi material modern yang dipakai untuk mendirikan uma bokolo (rumah besar). Akibatnya terjadi pergeseran makna, pergeseran budaya, dan kepunahan leksikon. Berikut ini adalah beberapa leksikon material alam pendirian uma bokolo (rumah besar). Pengantar


3 Besi n/ (johar) dalam bahasa latin Senna Siamea merupakan spesies pohon keras termasuk dalam famili Fabaceae (=Leguminosae, legum). Sering ditanam sebagai peneduh pinggir jalan, pohon ini juga dikenal denga nama serupa seperti juwar (Btw.,Jw., Sd.) atau Johor (Mly.). Dalam bahasa Jawa sering disebut Jati wesi. Di Sumatera, pohon ini disebut juga bujuk atau dulang. Dalam bahasa Inggris tanaman ini disebut dengan banyak nama, seperti black-wood cassia, Bombay black, cassod tree, Siamese Senna dan lain-lain. Nama ilmiahnya Siam mengacu pada negara asalnya yaitu Siam atau Thailand. B Pohon Besi (johar)


4 Besi (johar) berasal dari Asia Selatan dan Tenggara. Tanaman ini sudah lama dibudidayakan sehingga asal muasalnya belum diketahui secara pasti. Di Indonesia, Besi (johar) tumbuh secara alami di Pulau Sumatera. Besi (johar) dapat tumbuh dalam berbagai kondisi; Namun, tanaman ini paling cocok di dataran rendah tropis dengan iklim monsun, dengan curah hujan tahunan 500-2800 mm (optimal sekitar 1000 mm) dan suhu 20-31 °C. Besi (johar) menyukai tanah yang dalam, padat dan subur dengan pH 5,5-7,5. Tanaman ini tidak tahan terhadap dingin dan beku, tidak baik tumbuh pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut. Perbanyak tanaman besi (johar) terutama dilakukan dengan benih, yang biasanya disemai langsung di lapangan. Benih segar tidak memerlukan perlakuan awal, tetapi perendaman dalam air dingin selama 12 jam akan mempercepat perkecambahan. Pilihan lainnya adalah dengan menyemai bibit terlebih dahulu, kemudian bibit tersebut dibawa ke lapangan ketika sudah berumur 12-14 minggu (tinggi 25-30 cm). Cara kedua ini meningkatkan peluang keberhasilan pembibitan, terutama dalam menghadapi persaingan rumput.Bibit dapat ditanam dalam bentuk batang; jika batang dipotong 10 cm dan akar 30 cm, diameter batang maksimal 1 cm.


5 Tinggi punge besi (pohon johar) atau kayu ulin adalah 2-20 (-30) m;1 batang lurus, gemang kayu jarang melebihi 50 cm. Kulit kayu berwarna abu-abu kecoklatan pada cabang muda; Cabang-cabangnya menyebar, membentuk mahkota bundar yang lebat.2 Daunnya pipih, panjang 10-35 cm; dengan sarung berbentuk bulat, panjang 1,5–3,5 cm, dengan lekukan dangkal di tengahnya; tangkai daun tanpa kelenjar; bracts sempit kecil, l. 1 mm, jatuh dengan cepat. Daun 4–16 pasang, agak lonjong, lonjong atau lonjong, 3–8 cm × 1–2,5 cm, panjang 2–4 × lebar, pangkal dan puncak membulat atau tumpul, bagian atas gundul dan mengkilat, bagian bawah berbulu halus.3 1 Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 226 (sebagai Càssia siàmea Lamk.). Diunduh tanggal 10 April 2024. 2 ensen, M. 1999. Trees Commonly Cultivated in Southeast Asia: an illustrated field guide. 2nd Ed.[pranala nonaktif permanen] FAO - RAP Publication: 1999/13. Diunduh tanggal 10 April 2024. 3 E-Prosea Detail: Senna siamea (Lamk) Irwin & Barneby Diarsipkan 2016-03-04 di Wayback Machine. Diunduh tanggal 10 April 2024.


6 Bunganya berkumpul dari ujung dahan pada dahan sepanjang 15-60 cm, berjumlah 10-60 kuntum, terbagi dalam beberapa batang (cabang) menjadi cabang pipih. Kelopak 5, bulat, lonjong, 4-9 mm, tebal dan berbulu halus. Kelopaknya berwarna kuning muda, berlobus 5, gundul, bulat, telur terbalik, flagela dengan duri sepanjang 1-2 mm. benang sari 10, lingkaran terpanjang. 1cm; kira-kira sepanjang ovarium dan putik.4 4 Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk sekolah di Indonesia. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Hal. 226 (sebagai Càssia siàmea Lamk.). Diunduh tanggal 10 April 2024.


7 Polongnya pipih, berukuran 15–30 cm × 12–16 mm, berisi 20–30 biji, tepi menebal, akhirnya pecah. Biji berbentuk bulat telur pipih, 6,5–8 mm × 6 mm, berwarna coklat pucat mengkilat. 5 5 E-Prosea Detail: Senna siamea (Lamk) Irwin & Barneby Diarsipkan 2016-03-04 di Wayback Machine. Diunduh tanggal 10 April 2024. Bunga Pohon Besi (johar)


8 Pohon besi (johar) sering ditanam dalam sistem pertanian campuran (agroforestri), atau sebagai tanaman tangkapan, tanaman marjinal, atau penahan angin. Pohon ini sering ditanam untuk menaungi perkebunan teh, kopi, atau kakao. Namun, akarnya yang luas dapat bersaing dengan tanaman inangnya untuk mendapatkan nutrisi dan air, sehingga harus berhati-hati saat menanamnya.6 Kini besi (johar) banyak ditanam sebagai pohon peneduh jalan dan pohon penghias taman, bahkan untuk merehabilitasi kawasan pertambangan. Kini pohon besi (johar) juga kerap ditanam sebagai pohon pinggir jalan dan pohon hias di taman, bahkan untuk merehabilitasi kawasan pertambangan.7 6 FACT Sheet: Senna siamea - a widely used legume tree Diarsipkan 2012- 01-18 di Wayback Machine.. FACT 99-04, June 1999. Diunduh tanggal 10 April 2024. 7 E-Prosea Detail: Senna siamea (Lamk) Irwin & Barneby Diarsipkan 2016- 03-04 di Wayback Machine. Diunduh tanggal 10 April 2024. Batang Besi (johar)


9 Kayu besi (johar) termasuk golongan kayu keras dan cukup berat (B.J. 0,6-1,01 dengan kadar air 15%). Kayu gubalnya berwarna keputihan, berbeda dengan kayu terasnya yang berwarna coklat tua hingga hitam kekuningan.8 Tekstur kayu besi (johar) keras, sangat awet (kelas ketahanan I), sedangkan kayu gubal mudah dirusak oleh serangga. Kayu besi (johar) juga tergolong kuat (kelas kekuatan I atau II). Oleh karena itu, lebih disukai untuk pembuatan jembatan dan tiang bangunan. Warna dan coraknya yang indah membuat kayu ini populer untuk pembuatan furnitur dan panel dekoratif; Sayangnya kayu besi (johar) sulit untuk dikerjakan karena kekerasannya.9 Kayu besi (johar) menghasilkan kayu bakar yang bagus, meski menghasilkan banyak asap. Nilai kalornya 4500-4600 Kkal/ kg sehingga kayu ini juga cocok untuk dijadikan arang. Dahulu, Kayu besi (johar) banyak diperkenalkan dan ditanam di Afrika untuk perdagangan kayu. 8 FACT Sheet: Senna siamea - a widely used legume tree Diarsipkan 2012-01-18 di Wayback Machine.. FACT 99-04, June 1999. Diunduh tanggal 10 April 2024. 9 Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 2. Yay. Sarana Wana Jaya, Jakarta. Hal. 926-927. Diunduh tanggal 10 April 2024.


10 Tradisi pendirian uma bokolo (rumah besar) juga menggunakan kayu besi (johar) sebagai bahan material utama. Kayu besi (johar) yang telah dikupas kulit, dijemur pada sinar matahari, dan menghasilkan warna kayu kecoklatan adalah material yang sangat baik untuk dijadikan sebagai pogha ripi (tiang bantu). Tidak hanya tiang bantu, tapi kayu besi (johar) juga dijadikan sebagai material balok yang menghubungkan tiang pertama ke tiang kedua, tiang ketiga ke tiang keempat. Kemudian, kayu besi (johar) juga dipakai sebagai material yang menghubungkan keempat tiang utama yang nantinya akan menjadi loteng rumah setelah uma bokolo (rumah besar) sudah berdiri. Kayu besi (johar) yang telah dijadikan lawiri (balok) dipasang sebagai balok penyangga menara uma bokolo (rumah adat), dan dijadikan loteng rumah. Material lawiri (balok) yang digunakan berjumlah 6 batang lawiri (balok). Sehingga mampu menopang beban menara rumah yang sangat berat. Batang Kayu Besi (johar) yang belum dikupas kulit Sumber: Internet diunduh tanggal 10 April 2024 Kayu Besi (Johar) dijadikan Lawiri (Balok) Sumber: Internet diunduh tanggal 10 April 2024


11 Kandimbil n/ (Merbabu) dalam bahasa Indonesia merupakan jenis tanaman unggul di hutan Papua. Kandimbil (Merbabu) merupakan jenis kayu yang keras, masyarakat Papua menyebut tanaman ini dengan sebutan “pohon besi”. Intsia bijuga merupakan nama latin dari pohon merbau yang termasuk dalam famili Fabaceae dan tersebar dari Sumatera hingga Papua. Kayunya tidak hanya keras, tetapi juga berkualitas tinggi. Kayu merbau cukup terkenal dalam dunia perdagangan kayu karena kualitasnya. Kayu merbau memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sering digunakan sebagai bahan bangunan atau pembuatan peralatan rumah tangga. 1 Tanaman kandimbil (merbau) disebut juga ipil. Pada beberapa daerah, penyebutan tanaman ini juga berbeda-beda, seperti (1) di Jawa disebut bimerbau, merbo, taritih; (2) di Sumatera; marbon, merbau asam, merbau darat, merbau pantai. Tidak hanya itu, (3) di Kalimantan disebut alai, anglai, ipil, jumelai, dan maharau; Kemudian (4) di Sulawesi disebut bayam, gefi ipi, ipil, langgiri, ogili; (5) di Maluku disebut aisele, dowara, folau, ipi, ipil, kayu besi; ( 5) di NTT disebut doma, fimpi, ipi, ipir, kandimbil; (6) di Papua, pohon kandimbil ‘merbau’ disebut bau, kayu besi, pas, dan sekka. 1 https://lindungihutan.com/blog/pohon-merbau/.Pohon Merbau: Klasifikasi, Ciri-ciri dan Manfaat Merbau, diunduh tanggal 29 April 2024 K


12 Pohon kandimbil (merbau) dapat tumbuh dari ukuran sedang hingga besar. Tingginya mencapai 50 meter, panjang batang bebas sekitar 20 meter, dan diameter 160-250 cm. Tanaman ini mempunyai akar yang tinggi dan tebal menyangga dinding. Tinggi akar mencapai 4 meter, pepagana (kulit kayu) berwarna abu-abu muda dan coklat muda, tekstur halus, bintil lentikular kecil, sisik membulat bila dikupas. Kandimbil (Merbau) memiliki dua pasang helai daun kecuali daun apikal yang hanya memiliki satu pasang helai daun. Bentuk daun pohon kandimbil (merbau) menyerupai telur miring yang tidak simetris. Bentuknya tumpul pada bagian atas daun dan membulat pada bagian bawah. Permukaan daun gundul, licin, dan terdapat bulu-bulu panjang pada urat utama tepi bawah. Bunga kandimbil (Merbau) bergerombol di ujung karang dengan bulu-bulu halus (panjang sampai 10 cm). Mahkota bunganya berwarna putih dan berubah menjadi merah jambu atau merah jika sudah matang. Benang sari bunga kandimbil (merbau) berwarna merah dan ungu. Buahnya berbentuk bola-bola, berukuran 1-4 cm, berjumlah 1-8 buah. Warna buah kandimbil (merbau) biasanya hitam.


13 Taksonomi pohon kandimbil (merbau) secara ilmiah terdapat beberapa sebutan ilmiah, sebagai berikut.2 2 https://lindungihutan.com/blog/pohon-merbau/ .Pohon Merbau: Klasifikasi, Ciri-ciri dan Manfaat Merbau. Diunduh tanggal 29 April 2024 NO Tingkatan Kelompok 1 Kingdom Plantae 2 Subkingdom Tracheobionta 3 Superdevisi Spermatophyte 4 Devisi Magnoliophyta 5 Subkelas Mangoliopsida 6 Kelas Rosidae 7 Ordo Fabales 8 Famili Fabaceae 9 Subfamily Caesalpinioideae 10 Genus Intsia 11 Spesies Intsia bijuga (colebr) Kuntze Seorang ayah sedang menunjukkan Pohon Kandimbil (merbau) berusia 15 tahun pada anaknya Pohon Kandimbil (merbau) berusia 15 tahun


14 1. Berwarna khas Tekstur dan warna kayu kandimbil (merbau) cukup kasar dan serat kayunya lurus. Namun, kayu kandimbil (merbau) lainnya juga memiliki struktur yang tidak beraturan. Dalam memanfaatkan kayu kandimbil (merbau) secara optimal, kita harus menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Selain itu, ciri warna kayu kandimbil (merbau) adalah coklat kemerahan, kuning kecoklatan dan coklat agak kehitaman. Warna-warna ini mirip dengan warna kayu jati. Inilah sebabnya mengapa banyak orang memilih kayu merbau sebagai alternatif pengganti jati. 2. Tingkat Keras Kayu kandimbil (merbau) mempunyai kekerasan kayu yang sangat tinggi. Selain itu kayu kandimbil (merbau) juga tergolong kayu berat sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bangunan, kusen, jendela dan pintu. Beberapa orang memanfaatkan kayu kandimbil (merbau) dalam konstruksi rumah sebagai bahan pembuatan furniture rumah, seperti rak TV, meja, kursi, dan lainnya. 3. Keawetan Kayu kandimbil (merbau) bersifat keras CIRI-CIRI & MANFAAT POHON KANDIMBIL (MERBAU) dan tinggi, menjadikan kayu merbau sangat awet dan mampu menahan berbagai kondisi dan cuaca dengan sangat baik. Struktur kayu kandimbil (merbau) yang keras membuatnya tahan terhadap jamur dan rayap. Hal ini membuat kayu merbau lebih awet. Perawatan kayu kandimbil (merbau) dengan teknik pengeringan akan mengurangi kerusakan kayu dan menjadikan kayu merbau sulit dibelah dan tidak menyusut. 4. Tingkat Susut Kadar air kayu kandimbil (merbau) kurang dari 15%. Dengan demikian, kemungkinan kayu kandimbil (merbau) berkurang sehingga tidak mudah retak. Kadar air yang rendah juga mempengaruhi kekuatan kayu kandimbil (merbau). Oleh karena itu, kayu kandimbil (merbau) tidak mudah menyusut jika diolah dengan proses pengeringan. Pohon merbau hidup dan tersebar di banyak daerah. Menurut TCIS 2007, tanaman ini tersebar di Samoa (Amerika), Australia, Myanmar, Kamboja, India, Indonesia, Madagaskar Barat (Dataran Rendah), Malaysia, Myanmar, Kepulauan Pasifik, Papua Nugini, Filipina, Seychelles, Tanzania. , Thailand dan Vietnam Di Indonesia sendiri, pohon merbau


15 tersebar di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Timor, Maluku dan Papua.3 Berdasarkan pemantauan UNEP-WCMC, pohon kandimbil (merbau) tergolong rentan tidak tumbuh. Pada beberapa daerah, seperti Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan NTT pohon merbau tergolong langka di alam liar. Hingga saat ini kebutuhan kayu kandimbil (merbau) masih berasal dari penebangan hutan alam. Kondisi ini menyebabkan populasi kayu kandimbil (merbau) di hutan semakin berkurang. Oleh karena itu, pengali harus diinisialisasi. Program perbanyakan pohon kandimbil (merbau) dapat dilakukan dengan dua cara yaitu perbanyakan secara reproduktif dan vegetatif. Benih kandimbil (merbau) bersifat ortodoks sehingga memerlukan pengolahan awal untuk berkembang, dan tingkat kelangsungan hidup benih merbau di alam hanya 4,75%. Mencoba memperbanyak secara vegetatif menggunakan tunas. Stek dapat dilakukan kapan saja (apapun musimnya). Oleh karena itu, stek dapat mengatasi permasalahan perolehan benih ketika sulitnya menemukan pohon induk yang menghasilkan benih. Cara vegetatif menghasilkan bibit yang sama dengan tanaman induk, sehingga dalam memilih induk harus memilih 3 https://lindungihutan.com/blog/pohon-merbau/ .Pohon Merbau: Klasifikasi, Ciri-ciri dan Manfaat Merbau, diunduh tanggal 29 April 2024 Anakan Pohon Kandimbil (merbau) Berusia 6 bulan induk yang sehat atau berkualitas. Jika pohon kandimbil (merbau) dimanfaatkan secara terus menerus tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, maka akibatnya populasi tanaman merbau bisa berkurang atau bahkan punah.


16 Pada masyarakat Kodi, Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pohon kandimbil (merbau) dimanfaatkan sebagai bahan bagunan utama pendirian uma bokolo (rumah besar) karena pada dasarnya tingkat keras, keawetan, dan tidak mudah susut. Pohon kandimbil (merbau) yang siap untuk dipakai sebagai bahan bangunan beumur sekitar 20-25 tahun adalah batang pohon yang baik yang dapat digunakan untuk membangun rumah. Bahasa Kodi: yitta e la toyo kodi ela Sumba Barat Daya, provinsi Nusa Tenggara Timur, ghayo kadimbil biaha a wani pakede wonga uma bokolo e la parona, oro mondong, tonggoro, mono jana malewer ghubuk mono tahang. Ghayo kadimbil neba bengo wani mannga paniki 20-25 doyo tanaka neba wani pakede wani uma ela tutuka mondona mono a tonggoron. Batang pohon kandimbil (merbau)


17 Pohon kandimbil (merbau) yang telah dipotong, dikupas kulitnya, dan jemur pada sinar matahari untuk mendapatkan kualitas batang pohon kandimbil (merbau) yang baik. Semakin lama dijemur, batang pohon kandimbil (merbau) semakin keras, awet, dan tidak mudah susut. Karena tekstur kayu yang keras, untuk mengambil kayu yang telah ditebang dari dalam hutanpun tidak mudah. Menggunakan tenaga manusia yang tidak sedikit dan tenaga kendaraan bermotor. Saat ini, kandimbil (merbau) telah jarang ditemukan di Kodi, Sumba Barat Daya. Kalaupun ada pasti harganya sangat mahal. Bahasa Kodi: Ghayo kadimbil paha ponggo a taya tetu wihikoyo kalulena menge dangi e la lodo tanaka ngole wani a ghayo kadimbil ela daha. Bana kiki mandeya neba dangiya moko kiki mondo ngo, tonngoro mono e latahang jana malewer ghubuk. Mono oro ghayo mondong a taya etu neba mengeka monggoya huha wadi neba la dekeya la kadanghu mono ngandiya e la parona, toyo danga pongoka apa dadi ngandiya. Huha wadikana toboko ghayo kadimbil henene e la kodi Sumba Barat Daya. Apa ewadibongoka raka wadina a walina


18 Batang pohon kandimbil (merbau) yang telah ditebang dan dikupas kulitnya berkisar 35 juta-45 juta rupiah per batang. Sedangkan pendirian uma bokolo (rumah besar) membutuhkan empat tiang utama pohon kandimbil (merbau). Jika ditotal empat buah tiang utama uma bokolo (rumah besar) berkisar 180an juta. Jika tidak ada uang untuk membeli kayu pohon kandimbil (merbau), masyarakat Kodi dapat melakukan barter atau penukaran, satu batang pohon kandimbil (merbau) ditukar dengan satu hewan kerbau yang kira-kira tanduknya mencapai satu depa laki-laki dewasa. Bahasa Kodi: A taya ghayo kadimbil paha ponggo mono papa wihiko a kalulana a walini 35 juta-45 juta ba habunga. Eba pakedeya uma bokolo perlu pongoka poto bunge ponggo a wali kehena b i s a 180 juta keheya. Neba jangoka dingi papa kahi wonga ghayo kadimbil biaha toyo kodi tukoro waniki karboyo amalona kaduna duki laka hiyo. Tradisi orang Sumba pada umumnya dan Kodi pada khususnya, hewan kerbau merupakan hewan yang mahal, dapat digunakan dalam upacara adat seperti pendirian uma bokolo (rumah besar), perkawinan, kedukaan, dan upacara adat lainnya. Hewan kerbau merupakan alat tukar yang sah pada kebudayaan masyarakat Kodi.


19 Tidak hanya kerbau, hewan kuda dan hewan babi merupakan alat tukar yang sah pada kebudayaan masyarakat Kodi. Oleh karena itu, jika pohon kandimbil (merbau) tidak dapat dibeli dengan uang maka dapat ditukar dengan hewan seperti yang telah disebutkan. Bahasa Kodi: Patana yame toyo Kodi, eme haranga karboyo lapa wali didoyaka biaha papa wango ela patana, hengo bapa kedeya uma bokolo. Ini dimoka karboyo ewadingo wawi biaha papa tukoro wonga emi ela patana toyo kodi. A taya eto neba ini pekengoka kahiya ghayo kadimbil moka tukoro waniki haranga karboyo mono wawi.


20 Budaya orang sumba pada umumnya dan budaya orang Kodi pada khususnya ketika mengambil batang pohon kandimbil (merbau) baik yang ditanam sendiri maupun yang ditebang dari dalam hutan harus melalukan ritual adat yang dipimpin oleh Rato (tua adat) yang disebut Rato Uma (tua adat rumah). Rato (tua adat) akan memimpin jalannya upacara adat dengan melantunkan syair-syair adat yang memiliki makna ucapan syukur bahwa kayu pohon kandimbil (merbau) telah siap untuk ditebang. Rato (tua adat) memohonan untuk dilancarkan segala urusan penebangan pohon dan dijauhkan dari marabahaya seperti kecelakaan tertimpa batang pohon dan lain-lain. Tiap kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendirikan uma bokolo (rumah besar) harus didahului doa-doa dan lantunan syair adat oleh Rato (tua adat). Bahasa Kodi: E la patana toyo Kodi bana bengo la monggo ghayo kadimbil enga padaha panaka lara patana ela Roto Marapu. Roto Marapu lapa gecongo karewonga eme e la Mori Tana Ambu Nuhi Tanaka Enge Maringi Malala Wana mono pamba rowonda wali manga huru huha, ema dimbanda ghayo. Ngara kehebaka apa ghili tutu pakedeya uma bokolo lapa geco paulu pongoka roto marapu karewonga maringi malala ela ambu nuhi.


21 Rato Uma (tua adat) Kampung Ranggabaki


22 Rato (tua adat) saat upacara adat Sumber: Lere, 2024


23 Upacara adat yang dilakukan oleh Rato (tua adat) diikut dengan khimat oleh kaum laki-laki suku tertentu yang hendak mendirikan uma bokolo (rumah besar). Dalam upacara adat tersebut Rato (tua adat) memberikan persembahan berupa ndakur wawi (tikam babi), ropo ya manu (potong ayam), utta (sirih), labba (pinang), kata’gha (kapur), dan dingi (uang) tetapi uang dalam kepercayaan orang Kodi dimetaforakan sebagai wulu mata (bulu mata) bermakna sesuatu yang lebih berharga dari pada uang. Walau nilai uang kecil tetapi ketika dikatakan wulu mata (bulu mata) maka akan bermakna sangat bernilai dan mendalam bagi masyarakat Kodi. Bahasa Kodi: Lara patana ataya papa dahana roto marapu a nomot pandahaya ngarakehebaka hakabani ela parona ela pakedeya uma bokolo, a taya bapa daha lara patana dakur wawi, tunu manu, woni hamama, mono wulu mata tangguna ambu nuhi, ataya dingi wulu mata jana wali dingi walingoka ala rehi walika a walina wali dingi. Ndakur wawi (tikam babi) Sumber: Internet diunduh 27 April 2024 Utta (sirih), labba (pinang), kata’gha (kapur) Sumber: Internet diunduh 27 April 2024 Ritual adat ropo ya manu (potong ayam) Sumber: Internet diunduh 27 April 2024


24 Upacara-upacara adat, benda-benda ritual, dan syair-syair adat ini adalah beberapa hal yang tidak boleh dihilangkan dalam upacara pengambilan tiang uma bokolo (rumah besar). Semua akan berjalan dengan baik, apabila ritual-ritual dan gotong royong kaum laki-laki dilakukan dengan baik. Bahasa Kodi: Eme Lara patana, doyo hari mono lodo, pagecongo e gedika wani neba tutu patana yaka hengo neba la monggo ngoya ghayo kadimbil tanggu ponggo uma bokolo, bapa ghili mere kehe doya mono wali ba kreya doyaka ela ambu nuhi moka enga haloko dahanaka enene patana tutu pakedeya uma bokolo. Kaum Laki-laki gotong royong Tarik tiang rumah Sumber:Internet diunduh 27 April 2024


25 Kahikara n/ (Tali Hutan) dalam bahasa Indonesia mempunyai nama latin Connarus Monocarpus L. Kahikara (tali hutan) merupakan salah satu jenis tanaman liana yang tingginya bisa mencapai 40 meter dan diameter batangnya 15 cm. Jarang muncul sebagai semak atau pohon kecil tetapi tumbuh dengan cukup besar. Daunnya lebih dari 3,5-9, bentuknya lonjong-elips atau lonjong sampai lanset (lanset), ukuran 4-15 cm x 2,5-7 cm. Permukaan daunnya tidak berbulu dan halus. Kelopaknya panjangnya 6-10 mm, padat di kedua sisinya, tetapi sangat halus. Buahnya berbentuk gelendong, panjang 3-5 cm, dengan lapisan luar/ pericarp tipis. Biasanya tumbuh di hutan primer dan sekunder serta di daerah terbuka dan batu kapur, hingga ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (Wardah, 2016). 1 1 Wardah.2016.connarus monocarpus L (PROSEA). https://use.plantnet project.org/en/connarus_monocarpus_(PROSEA). Diunduh tanggl 27 April 2024 K Kahikara (tali hutan) berdiameter 15 cm Sumber: internet diunduh tanggal 27 April 2024


26 Kahikara (tali hutan) berdiameter batang 15 cm yang sudah tua dapat diambil, dikeringkan dan digunakan untuk mengikat lawiri (balok), onghol (bambu). Masyarakat Kodi saat mendirikan uma bokolo (rumah adat) tidak menggunakan paku untuk mengaitkan bagian-bagian rumah adat tetapi menggunakan Kahikara (tali hutan). Kahikara (tali hutan) mempunyai tekstur berserat, awet, tidak susut. Setelah Kahikara (tali hutan) diambil dari hutan, dijemur sampai warna coklat. Dalam pembuatan uma bokolo (rumah adat) ada dua jenis tali yang dipakai yaitu Kahikara (tali hutan) dan wungha (tali waru). Wungha (tali waru) dipakai untuk mengikat alang-alang. Kahikara (tali hutan) dipakai ikat tiang luar Kahikara (tali hutan) bambu menara rumah


27 Tumbuhan kahikara (tali hutan) sulit untuk ditemukan di Sumba, di pulau Sumba sendiri kahikara (tali hutan) hanya ada di kawasan hutan lindung Tana Ndaru di Kabupaten Sumba Tengah. Tumbuhan-tumbuhan yang ada di kawasan hutan lindung tidak dapat diambil dengan sembarangan, melalui izin pada pemerintah terkait. Kahikara (tali hutan) dipakai untuk mengikat lawiri (balok)


28 Kelangkaan kahikara (tali hutan) dalam masyarakat Kodi membuat sulit untuk mendapatkan tumbuhan tersebut. Ketika kahikara (tali hutan) langka maka harga kahikara (tali hutan) sangat mahal untuk dibeli. Tidak hanya itu saja, anak-anak muda Kodi tidak mengetahui bentuk tumbuhan kahikara (tali hutan). Bahasa Kodi: Eme kahi kara papa wengo huhaka henene a tobokihi, henene e la epongoka kahi kara sumba tengah ela kadaghu pemerintah ela tana taru apa ngole kahi kara, menge wadi neba bengo deka kahi kara wadi la kareya ghoba pongoka e la pemerintah. Henene eme ela kodi huha a ngoleya kahi kara, ghala ngole wadiya henene raka wadina walina. Ini dimoka netu henene hala keda muri japeghe wadiniki geni etu papa ngaranga kahi kara.


29 Linyo n/ (Lino) dalam bahasa Indonesia adalah tumbuhan yang bernama latin Grewia codexrsiana burret. Linyo (lino) Grewia koordersiana Burrett merupakan tanaman yang hanya tumbuh di Indonesia bagian timur. Tanaman linyo (lino) merupakan pohon berbatang tinggi dan besar yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan. Dan ciri morfologi lainnya adalah daun lonjong, akar serabut. Ekstrak kulit tanaman linyo (lino) mempunyai khasiat obat dan sering digunakan untuk mengobati penyakit liver (Ensiklopedia Indonesia, 1982).1 Tanaman Linyo (lino) Grewia koordersiana Burrett termasuk dalam famili Tiliaceae, sehingga berdasarkan taksonomi tanamannya dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Floro de Java, 1963).2 Divisio : Spermatophyto Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Malvales Familia : Tiliaceae Genus : Grewia Species : Grewia koordersiana Burrett 1 Hasan, S. (1982). Ensiklopedia Indonesia: Edisi Khusus. Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Houve 2 https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=940309 diunduh tanggal 28 April 2024 L


30


Click to View FlipBook Version