The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syafrirevoluta, 2022-04-25 05:16:21

revoluta buku 2 JJJ_compressed

revoluta buku 2 JJJ_compressed

110000

PROSES INSTA
DI RUANG

101

TALASI KARYA
G PAMER

102

103

104

105

106

107

108

Judul : Harkat
Ukuran : 4 X 20 Meter
Media : Akrilik di atas kanvas













HARKAT

Sebuah pertarungan kemanusiaan untuk
menjadi manusia yang manusia.
Nir ekspektasi ataupun pertimbangan moral sosial
ditempelkan pada kerja estetik.
Lepas dari kepentingan apapun diluar makna kerja itu sendiri,
episode Harkat saya eksekusi dengan
kesadaran penuh pergulatan rasa sebagai
perempuan untuk merajut serpihan jiwa yang tercecer dalam sepenggal perjalanan
hidup saya.

Rasa untuk menghirup syukur yang
diberikan Sang Maha Segalanya. Semua
yang ada di dalam diri ( seperti perasaan marah,
kecewa, bahagia, sedih, tangis, harapan,
ikhlas, teguh, bahkan rapuh ) menjadi komedi satire
yang menggugah keutuhan jiwa.
Ya, saya merindukan sesuatu yang hilang dari diri saya.

Suka cita mendasari kerja saya untuk
membiarkan semua yang terjadi pada bidang
kanvas ini. Saya mengijinkan diri saya
untuk diketahui semua pecinta seni,
siapa saya sesungguhnya.
Saya hanya wanita biasa yang ingin untuk menjadi biasa,
seperti yang dikehendaki oleh Sang Maha Kuasa.

Revoluta S

Saya mengenal nama Revoluta sudah cukup lama dikisaran tahun 2004.
Sebelumnya saya mengenal lukisan karya-karya ayahnya, Pak Syafri yang
merupakan orang Minangkabau. Dari perkenalan tersebut membuat saya
tertarik untuk mengikuti perkembangan karya-karya Revoluta. Sekalipun
Revoluta lahir dari keluarga seorang pelukis, ia tidak sekadar menjadi epigon.
Revoluta berhasil menemukan gaya dan karakteristik yang kuat dalam lukisannya.
Di masa pandemi saat ini, saya sangat mengapresiasi Revoluta masih terus
berkarya dan melakukan beberapa pameran tunggal. Ini menunjukkan Revoluta
adalah perupa yang produktif dan konsisten dalam berkarya. Tentu saja kehadiran
Revoluta dalam dunia seni rupa Indonesia adalah kabar menggembirakan bagi kita
semua. Seperti yang kita tahu, seni rupa Indonesia ada dan berkembang hingga
saat ini berkat kerja keras, kearifan, dan juga eksistensi para perupa. Tak dapat
dimungkiri, para perupa itu bukan hanya dari kaum adam, melainkan juga perupa
perempuan yang memiliki andil penting dalam perjalanan seni rupa Indonesia.
Revoluta menjadi salah satunya.
Saya ucapkan selamat dan terima kasih atas segala dedikasi Revoluta pada seni rupa
Indonesia.
Semoga terus berkarya. Salam kreativitas!

Fadli Zon

Budayawan
Jakarta, 31 Agustus 2021

117

Di saat-saat banyak orang mulai terkekang dengan pemikiran yang menghambat progres
dan perkembangan kreatifitas karena rasa panik dan kekhawatiran, Revoluta S
justru hadir sebagai bukti adanya jiwa-jiwa yang terlepas dari keadaan yang dapat
menghanyutkan tersebut, masih menyatakaan kemerdekaannya dan dengan segenap
kekuatan pada dirinya berenang melawan arus jaman. Pameran tunggal itupun
tidak dibuat dengan cara “ecek-ecek”, tetapi sesuai dengan kemerdekaannya, diupayakan
dengan tekad dan kegigihan yang membawanya ke Museum Nasional Indonesia.
Semangat juangnya menjadi inspirasi bagi bukan hanya kolega-koleganya di dunia seni
tetapi bagi banyak orang lain. Namun, itulah makna jiwa seniman sejati, dalam situasi dan
kondisi apapun, seniman sejati tahu makna dari seni, bahkan seni karya miliknya
pribadi. Seni bisa menyembuhkan, menginspirasi, menggerakkan, mengingatkan,
melampiaskan, merepresentasikan... terutama saat karya seni itu ia bagikan demi
kenikmatan bukan untuk dirinya sendiri saja.
Revoluta S berbagi dari dirinya dengan apa yang ia miliki, dari hatinya, bagi semua
yang ingin menikmatinya maupun tergerak olehnya. Semoga makna pameran ini
dapat terus digaungkan jauh setelah wujud fisiknya usai, bahwa Jiwa Merdeka bisa jadi
milik dan adalah kita semua yang berani merayakannya.

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo

Pecinta seni

118

Dimuat dari laman Kompas “Nawa Tunggal” (18/4/2021).

Dengan corak abstrak Revoluta S (46) membuat lukisan berjudul “Jiwa Merdeka”. Ia
melukis langsung pada kanvas 4 meter x 20 meter selama tiga hari, 9-11 April
2021, menghabiskan 30 kilogram cat, lalu dipamerkan di Museum Nasional Jakarta.

“Tidak dengan tangan dan mata, tetapi saya sudah menggunakan hati untuk melukis di
bidang yang cukup luas ini. Lukisan ini tentang diri saya, tentang jiwa merdeka,” tutur
Revoluta, Rabu (14/4/2021), di sela pameran tunggalnya yang bertajuk, “Jiwa
Merdeka” , berlangsung 12-17 April 2021 di Museum Nasional. Jiwa Merdeka
dipamerkan bersama 13 lukisan abstrak lainnya. Revoluta, perupa otodidak asal Ja-
karta, meneriakkan jiwa merdeka di tengah pandemi Covid 19.

“Melukis bukan sebagai beban, tapi kebahagiaan. Meskipun hanya tidur dua jam,
saya siap menuntaskan lukisan di kanvas lebar ini,” ujar Revoluta, yang memiliki ayah juga
sebagai pelukis di Jakarta.

Ia sangat bersemangat melukis. Revoluta mempersiapkan empat buah kuas dengan
lebar 12 sentimeter. Kuas-kuas itulah yang ia pergunakan untuk menggoreskan cat
di atas kanvas. Beberapa temannya menyarankan agar Revoluta menggunakan kuas rol,
tetapi ia menolak. Dengan kuas, emosinya “dapet”. Begitu dituturkan Revoluta. Pada hari
pertama itulah Revoluta berjuang memenuhi bidang kanvas dengan sapuan kuasnya.
Warna biru laut mendominasi kanvas itu. Ada warna kuning dan merah cukup
mencolok. Merah adalah warna favorit Revoluta. Pada hari ketiga sekitar pukul 13.00,
Revoluta menuntaskan karyanya. Ia membubuhkan tanda tangannya, lalu menyertakan
tulisan yang berbunyi, “Saya adalah saya, dengan segala kebahagiaan dan petualangan
saya.”

Merengkuh makna

Berulang Revoluta bertutur,lukisan itu adalah dirinya dengan jiwa merdeka. Pada pembuka
tulisan tentang lukisan itu. Ia menuturkan jiwa merdeka berarti bebas. Akan tetapi,
menjadi kompleks jika ditelaah lebih mendalam. Revoluta tidak merinci sekompleks
apa. Ia menekankan kerja seni sebagai bentuk paling murni tampa ekspektasi aliran positif
tangan manusia yang datang dari dasar jiwa.

Exspresi seninya berada diluar batas kata. Ia justru mengangap ketidakjelasan dan
ketidakakuratan sebagai kekuatan dan kehidupan seni. “Jiwa merdeka berbicara. Semua
yang dilakukan adalah ekspresi kemerdekaan jiwa yang jujur, Memiliki sikap untuk
tegak tampa merendahkan dan merunduk dengan kedaulatan diri yang mumpuni,”
tulis Revoluta. Sejauh itu, tulisan revoluta tidak merujuk kepada peristiwa atau benda
yang konkret, tetapi absrak dan absurd. Jiwa Merdeka bisa di pahami sebagai muara dari
rangkaian kisah dan petualangan Revoluta. Sebanyak 13 karya lukisan absrak lainnya
mengarah kesitu.

119

Lukisan berjudul “ Terbelenggu” ( 2017 ) dengan media campuran diatas kanvas memi-
liki latar kisah yang relevan dan menarik. Ini terinpirasi kisah temannya . Ibu tiga anak
yang ditinggalkan suaminya. Sementara dia tak mau meninggalkan suaminya lantaran
hidupnya bergantung kepada suaminya. “Seorang perempuan semestinya tidak boleh
hidup terbelenggu. Seandainya mau, ia bisa bekerja dan menghidupi sendiri ketiga
anaknya supaya terlepas dari belenggu suami kata Revoluta, yang merasa terdidik dari
ayahnya yang selalu menganjurkan sebagai perempuan harus memiliki sikap : jiwa
merdeka. Revoluta menghadirkan lukisan lain yang di beri judul “Realitas”, dengan media
cat akrilik di atas kanvas berukuran 140 x 180 cm. Beberapa uang koin ditempelkan di
lukisan itu.

“Dengan lukisan itu, saya ingin bicara tentang kehidupan yang membutuhkan uang.
Realitas kita sehari2 tidak akan jauh - jauh dari uang, tetapi tidak melulu dengan
uang untuk menyelesaikan segala persoalan ,” ujat Revoluta. Dicontohkan tentang
terselengaranya pameran ini. Revoluta berbekal sedikit uang. Akan tetapi, uluran
tangan sesama seniman pameran ini bisa terjadi. Beberapa seniman lainnya seperti Aidil
Usman ,William Robert, karya Indah dan Eko Banding turut membantu Revoluta
mewujudkan pameran di museum Nasional ini. Menurut William, Revoluta memiliki
modal sosial pertemanan yang cukup baik untuk melangsungkan pameran ini. “
saya sendiri di telpon Revoluta yang menginginkan supaya saya membantunya.
Dengan senang hati, saya tergerak untuk
membantu,” ujar William.

Harkat

Lukisan besar “ Jiwa Merdeka “ dimaknai Revoluta sebagai Harkat. Sebagai pertarungan
menjadi manusia yang manusia. Ia menuliskan tentang harkat itu. “Saya mengeksekusi
dengan kesadaran penuh pergulatan rasa sebagai perempuan untuk untuk merajut
serpihan jiwa yang tercecer dalam sepenggal perjalanan hidup,” begitu tulis Revoluta.
Revoluta meneriakan harkat, sekaligus pertarungan seorang perempuan. Di satu sisi
seorang perempuan harus setia menjalankan pekerjaan - pekerjaan rutinnya di rumah.
Selain itu, dia menyampaikan tulisan dari rekannya seniman Sri Warso Wahono (kurator
pameran tunggal Revoluta pada 2020 yang batal karena pandemi).

“ Ini sebuah “kegilaan “ yang sangat sublim dari individu yang berhasil
menaklukan segala kemustahilan menjadi tidak mustahil tulis Sri Warso. Sri Warso melihat
Revoluta berhasil menaklukan keterbatasan jender. Revoluta ibarat kelebat ribuan
anak panah yang menembus jantung musuh besarnya yang membayang - bayangi dirinya
selama ini.

120

Sri Warso membuat catatan kuratorialnya untuk rencana pameran tunggal Revoluta
pada 2020. Ia menyebutkan , karya Revoluta bercorak absrak impresionistik. Revoluta
berhasil memformulasikan absraksi bentuk secara tekstural mengunakan barik- barik
pigmen cat ,juga dengan aplikasi benda - benda. Karya - karya ini sekaligus rekaman
jiwa Revoluta atas peristiwa - peristiwa yang mempengaruhi jiwanya sampai sekarang.
Melalui karya Jiwa Merdeka, Revoluta menorehkan semangat jiwanya.

Kompas Minggu 18 April 2021
( Nawa Tunggal)

121

122

Jiwa Merdeka Revoluta

pameran ini wujud kebesaran “jiwa Merdeka” Revoluta dalam mengimpletasikan
obsesi artistiknya di tengah pandemi.

Penulis : Galih Agus Saputra

Lukisan kurang lebih seukuran layar bioskop itu berteger di salah satu ruang pamer
Museum Nasional lndonesia, Jalan Merdeka Barat, Jakarta. Selain ukurannya yang
gigantik, tema nirrupa (absrak) dengan dominasi warna biru, merah bersama semburat
hitam, kuning, dan jingga membuat lukisan itu tampak mencolok. Lukisan berjudul Harkat
(2021) itu merupakan karya perempuan Revoluta Syafri.

Harkat (2021) ialah lukisan Revoluta yang pada kesempatan ini di sajikan lewat
pameran tunggal bertajuk Jiwa Merdeka. Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian
Jakarta (DKJ) Aidil Usman yang memberikan ulasan untuk pameran mengatakan total
ukuran lukisan ini ialah 4x20 meter persegi. Dalam keterangan tertulisnya, ia juga
mengatakan pameran ini merupakan peristiwa yang cukup unik, sekaligus langka.

Proses penciptaan karya di kerjakan tiga hari sebelum pameran dengan durasi 36 kerja,
namun pada prakteknya karya itu di kerjakan dalam 16 jam. Oleh karena itu,
persiapan boleh dibilang menantang, dan menjadi pertaruhan artistik yang tidak
sembarangan bagi seorang perupa. ‘Tangannya yang memegang kuas ukuran besar itu tak
berhenti berkelebat mendedahkan warna biru tua di sebidang kanvas yang sangat besar
sekali. Berada di ketinggian scafolding 180cm, Revoluta menari’ tampa henti menguat dan
melemah pada bagian tertentu dan menekan pada bagian lain, begitu seterusnya’, tulis
Aidil.

Dalam pembacaannya, Aidil menjelaskan Harkat (2021) merupakan manifestasi dari
perasaan Revoluta sebagai pelukis. Ia mencoba memberi penekanan pada simbolisasi
wana saling berkejaran dan menari - nari disebidang kanvas gigantik. Ia seperti
bersuara merayakan kelantangan sikap Merdeka pada karyanya.

Lewat lukisan ini, lanjutnya, pengunjung tidak bisa melihat ketakutan, keraguan.
Ekspresinya tampak mengungkap perasaan dukacita dalam menemukan spirit kekinian di
tengah bencana yang melanda dunia lewat pandemi. Revoluta menghadapi situasi sulit ini
dengan kebesaran hati dan jiwa untuk menemukan kemerdekaan dalam berkarya. “

123

“ sebagai teman yang mengikuti intern persiapan pameran ini saya mengucapkan salut
atas energi dan kepercayaan diri menaklukan kanvas besar. Semua itu terjadi karena
kebebasan ‘Jiwa Merdeka’ Revoluta dalam mengimplementasikan obsesi artistiknya
ditengah pandemi untuk tetap bekerja dan berkarya tampa harus kalah dengan
situasi yang melanda dunia. Merdekakanlah jiwa semerdekanya untuk menempati nilai
dan estetika ,” imbuh Aidil.

Melawan kondisi

Revoluta dalam pembukaan pameran Jiwa Merdeka, Senin (12/4),juga sempat bercerita
kepada media Indonesia tentang Proses di balik karya. Pembuatan Harkat (2021),
katanya, diawali dengan penelusuran makna kata ‘merdeka’ bersama orang-orang terdekat.
Dalam penelusuran tersebut, lanjutnya, Pemahaman orang tentang kata ‘merdeka’ tak
jarang masih terdengar absurd. Beberapa sifat yang muncul bahkan masih terasa
mengglobal, disaat kemerdekaan itu sendiri sebenarnya bisa datang dari hal - hal kecil
dalam diri sendiri, barang sekadar niat untuk tidur, makan, dan minum.

Untuk ia sendiri sebagai perupa misalnya, ketika tidak ada kanvas karena mahal bukan lan-
tas tidak berkarya. Setiap perupa, menurutnya, bisa melakukan apa saja yang ia bisa
untuk melahirkan ide menjadi sebuah karya. “Menaklukan keadaan itukan juga salah satu
bentuk dari jiwa merdeka. Kita bisa memerdekakan diri dari kepungan ketakutan. Takut
kena Covid, kena ini, kena itu, lama-lama kita bisa jadi zombi,dirumah tapi tidak
memerdekakan jiwa. Makanya kita harus berani menjalani sesuatu, sekalipun harus
menjalaninya dengan protokol kesehatan,” tutur perupa yang akrab disapa Revo
tersebut. Harkat (2021) merupakan karya pertamanya dalam ukuran besar. Mulanya ia
hanya ingin membuat dalam ukuran biasa, tapi kemudian berpikir untuk membuatnya
dalam ukuran raksasa agar dapat menginpirasi teman-teman sesama perupa supaya
bangkit dari pandemi dan segera melahirkan gagasan besar.

Emansipasi

Harkat(2021) bukanlah karya satu-satunya Revoluta yang di pajang dalam pamer-
an Jiwa Merdeka. Selain itu,ada juga Manusia dan Binatang (2019) dan Terbelenggu
(2017). Sesuai judul, Manusia dan Binatang. Menurutnya, benar selama ini ada
pemahaman manusia di lahirkan sebagai mahluk mulia dengan akal dan pikiran
masing-masing. Akan tetapi, disisi lain ia juga turut mempertanyakan, mengapa dalam
beberapa kesempatan manusia bisa lebih kejam dari binatang?

124

“ kalau berbicara masalah lingkungan, memang sebagai seniman kita akan harus
melihat hidup secara luas. Apakah itu politik, sosial, dan lingkungan itu sendiri. Jadi
apa yang saya rasakan adalah apa yang saya perbuat sebagai perupa dan
kebetulan disini saya coba merasakan relasi antara manusia dan binatang,” tuturnya.
Sementara itu, Terbelenggu (2017) ialah karya Revoluta yang pada masa itu dibuat
untuk salah satu pamerannya di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia mengatakan media
lukisan ini cukup unik karena tidak hanya mengunakan cat acrilik tapi juga balok-
balok domino. Terbelenggu (2017), menurut Revoluta, sebenarnya juga mirip
dengan Harkat (2021) yang disisi lain turut menjadi manifestasi ide tentang kemerdekaan
perempuan. Bukan bermaksud mengesampingkan sosok laki-laki, tetapi disini Revoluta
mencoba menyampaikan pesan bahwa keberadaan perempuan tidak bisa di permainkan.
“Jadi sebenarnya dalam pergulatan batin saya, kenapa sih perempuan harus
mengalah? Iya mungkin,kalau coba dilihat relasinya, ada hubungannya dengan masalah
finansial dari suami.tapi sebenarnya kan tidak perlu seperti itu.
Perempuan juga punya harga diri dan berani mengerjakan sesuatu,” pungkas Revoluta.

Media Indonesia terbit tanggal 25 April 2021

125

126

PEMBUKAAN

127

PAMERAN

128

129

130

131

132

133

134

135

136

137

138

139

Melukis menurut saya tidak untuk memuaskan siapapun dan tidak untuk
menunjukkan kediriannya (melampaui) pada siapapun dan apapun.
Tanpa kecuali.

140

141

142

143

144

145

146

147

148

149


Click to View FlipBook Version