The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rhirhi201083, 2021-12-03 16:54:59

Modul Teks Anekdot

Modul Teks Anekdot

MODUL
TEKS ANEKDOT

KELAS X

Ria Iriyanti, S. Pd.

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan Bahan Ajar Berbasis Problem Based Learning dengan
mengangkat substansi utama dari materi berbasis teks yaitu Teks Anekdot.

Bahan Ajar Berbasis Problem Based Learning yang membahas tentang struktur dan unsur
kebahasaan teks anekdot, dan mengontruksi teks anekdot berdasarkan struktur dan kebahasaan yang
tepat, bertujuan untuk memberikan pemahaman yang matang kepada peserta didik agar mampu
menjelaskan dan menganalisis struktur dan kebahasaan teks anekdot. Di samping itu, diharapkan
setelah membaca bahan ajar ini peserta didik mampu menganalisis dan menciptakan teks anekdot
dengan memerhatikan struktur dan kebahasaannya.

Bahan ajar ini dikembangkan dengan mengedepankan pendekatan higher order thinking skill
(HOTS) dan mengintegrasikan kerangka berpikir technological, pedagogical, content knowledge
(TPACK).

Penyusunan bahan ajar ini masih memiliki banyak kekurangan, karena cakupan bidang
keilmuan kebahasaan yang begitu luas terutama yang terkait dengan teks anekdot, sehingga
penyajian materi dalam bahan ajar ini masih belum maksimal. Substansi isi dari penyusunan bahan
ajar ini diperoleh berbagai referensi dan sumber yang terkait dengan materi sehingga diharapkan
dapat menjawab miskonsepsi dan defisit kompetensi yang dialami terkait dengan materi yang
diangkat pada bahan ajar ini.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam
menyelesaikan bahan ajar ini. Terimakasih atas saran dan masukan berharganya dan semoga bahan
ajar ini dapat bermanfaat.

i

Daftar Isi

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
PETUNJUK PENGGUNAAN 1
1
A. Cara Belajar 2
PENDAHULUAN 2
3
A. Kompetensi Inti 3
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi 4
C. Tujuan Pembelajaran 5
PENGEMBANGAN LITERASI
MENYAMPAIKAN IDE MELALUI TEKS ANEKDOT 6
KEGIATAN 1. MENGANALISIS STRUKTUR DAN KEBAHASAAN 6
TEKS ANEKDOT 9
A. Uraian Materi 10
B. Rangkuman
C. Tes Formatif 1 12
KEGIATAN BELAJAR 2. MENCIPTAKAN KEMBALI TEKS ANEKDOT 12
DENGAN MEMERHATIKAN STRUKTUR DAN KEBAHASAAN 18
A. Uraian Materi 19
B. Rangkuman 21
C. Tes Formatif 2
DAFTAR PUSTAKA

ii

PETUNJUK PENGGUNAAN
A. Cara Belajar

1. Yakinkan diri anda bahwa anda telah siap untuk belajar.
2. Tenangkan pikiran dan pusatkan perhatian anda pada bahan belajar yang akan anda pelajari.
3. Berdoalah sejenak sesuai agama dan keyakinan anda dan sekarang anda siap untuk belajar.
4. Baca dan pahami deskripsi isi dari setiap bahan belajar, agar anda dapat mengetahui apa

yang harus dipelajari dari isi bahan belajar.
5. Baca dan pahami secara mendalam tujuan yang harus dicapai setelah melakukan

pembelajaran
6. Bacalah uraian materi secara seksama. Tandai dan catat materi yang belum/kurang anda

pahami.
7. Diskusikan materi-materi yang belum dipahami dengan teman, tutor/pendidik, dan/atau

orang yang dianggap ahli dalam bidang ini melalui chat, e-mail, forum diskusi atau bertanya
langsung.
8. Anda juga dapat mempelajari materi melalui media yang tersedia seperti video, ppt, dan
gambar. Media yang ada karena akan lebih memudahkan anda mempelajari materi/isi yang
diuraikan.
9. Carilah sumber atau bacaan lain yang relevan dengan untuk menunjang pemahaman dan
wawasan tentang materi yang sedang anda pelajari.
10. Kerjakan soal latihan /evaluasi dalam bahan ajar untuk mengukur tingkat penguasaan materi
sebagai hasil pembelajaran.
11. Kerjakan soal tes formatif pada bahan ajar sebagai syarat untuk membuka materi berikutnya.
12. Jika hasil anda belum memuaskan jangan putus asa, cobalah lebih giat lagi belajar.

1

A. Kompetensi Inti PENDAHULUAN
Kompetensi Inti 1 (Spiritual) Kompetensi Inti 2 (Sosial)

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur,
yang dianutnya disiplin, santun, peduli (gotong-royong,
kerjasama, toleran, damai), bertanggung
jawab, responsif, dan pro-aktif dalam
berinteraksi secara efektif sesuai dengan
perkembangan anak di lingkungan, keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan
kawasan internasioanal”.

Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan) Kompetensi Inti 4 (Keterampilan)

Memahami, menerapkan, menganalisis Mengolah, menalar, dan menyaji dalam
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural ranah konkret dan ranah abstrak terkait
berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu dengan pengembangan dari yang
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, mampu menggunakan metoda sesuai kaidah
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban keilmuan
terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural
pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah

2

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks 3.6.1 Menjelaskan struktur isi teks anekdot

anekdot (abstrak, orientasi, krisis, respon, dan

koda)

3.6.2 Menentukan struktur (abstrak,

orientasi, krisis, respon, dan koda)

dan ciri bahasa teks anekdot

(pertanyaan retoris, kalimat masa

lampau, kalimat perintah, kata kerja

aksi, kalimat seru, dan konjungsi

temporal, pesan/ makna tersirat).

3.6.3 Menganalisis struktur dan kebahasaan

teks anekdot.

4.6 Menciptakan kembali teks anekdot dengan 4.6.1 Memilih tema dan pola penyajian teks

memerhatikan struktur dan kebahasaan aneksdot yang akan disusun.

baik lisan maupun tulis 4.6.2 Menciptakan teks anekdot berdasarkan

tema dan pola penyajian yang dipilih,

dengan memerhatikan struktur dan

kebahasaan baik lisan maupun tulisan.

C. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah mempelajari teks anekdot dengan pendekatan Saintifik model pembelajaran Problem
Based Learning, peserta didik dapat menganalisis struktur dan kebahasaan teks aneksdot
dengan penuh kesungguhan.
2. Setelah mempelajari teks anekdot dengan pendekatan Saintifik dan model pembelajaran
Problem Based Learning, peserta didik dapat menciptakan kembali teks anekdot dengan
memerhatikan struktur dan kebahasaan baik lisan maupun tulis dengan penuh percaya diri.

3

PENGEMBANGAN LITERASI

Kegiatan literasi merupakan salah satu aktivitas penting dalam kehidupan. Sebagian besar
proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang
tertanam dengan baik akan memengaruhi keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan
pendidikan dan mencapai keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari manakah pengetahuan didapat? Dari melihat dan mendengar? Apakah cukup? Kamu
pasti bersepakat bahwa sumber pengetahuan paling banyak dan mendalam adalah buku, baik
buku cetak maupun buku elektronik. Oleh karena itu, keterampilan membaca menjadi
keterampilan yang sangat penting untuk dikembangkan menjadi budaya, bahkan kebutuhan
setiap orang.
Selain membaca, keterampilan lain yang juga tak kalah penting untuk dilatih dan
dibudayakan adalah menulis. Cobalah kamu renungkan, adakah pekerjaan di dunia ini yang
tidak membutuhkan kegiatan tulis-menulis? Ternyata, dalam kehidupan modern, menulis
sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap aktivitas manusia.
Mengingat pentingnya penguasaan kedua keterampilan tersebut, dalam pembelajaran bahasa
Indonesia kamu akan diajak membudayakan membaca dan menulis. Kegiatan yang harus
kamu lakukan adalah membaca buku dan melaporkan hasilnya pada setiap akhir semester.
Di kelas X buku yang kamu baca harus mencakup buku fiksi dan nonfiksi. Buku fiksi yang
dimaksud dapat berwujud kumpulan cerita rakyat (dongeng atau hikayat), kumpulan puisi,
dan novel; sedangkan buku nonfiksi yang kamu baca dapat berupa buku-buku motivasi,
keagamaan, teknologi, seni, sejarah, biografi, dan sebagainya.
Proyek membaca buku ini dilaporkan sebagai tugas mandiri. Agar proyek ini tidak menjadi
beban yang memberatkan, kamu dapat mulai membaca buku lebih awal. Jangan membaca
buku pada waktu-waktu menjelang pengumpulan laporan karena hal itu akan membuat
kegiatan membaca buku menjadi beban dan tidak menyenangkan.

4

Apa yang dapat kamu amati dari gambar di atas? Sekilas gambar di atas hanya terlihat
sebagai gambar dua ekor kucing yang saling berdekatan di depan ruang kelas. Tetapi
dengan dituliskan ‘mop on’ yang merupakan plesetan dari kata ‘move on’, maka kamu
dapat memahami maksud dari foto tersebut. Alih-alih menggunakan model dua anak muda,
misalnya, fotografer yang membuat foto itu malah mengambil gambar dua ekor kucing.
Sebuah kecerdasan menangkap momen. Cara menyampaikan sebuah makna secara tersirat
seperti pada gambar di atas juga berlaku dalam anekdot.
Pada pelajaran sebelumnya, kamu sudah belajar tentang cara mengkritisi dan
mengonstruksi makna tersirat pada teks anekdot . Pada pelajaran ini kamu akan belajar
menganalisis struktur dan menciptakan kembali teks anekdot berdasarkan struktur dan
kebahasaan yang tepat. Dengan menguasai materi ini, kamu akan dapat menganalisis
struktur dan unsur kebahasaan teks anekdot, sekaligus diharapkan mampu menciptakan
kembali teks anekdot sesuai dengan struktur dan kebahasaannya.

5

KB 1. Menganalisis TeKs aneKDoT BerDasarKan sTruKTur Dan
KeBahasaan

A. Uraian Materi
1. Menjelaskan struktur isi teks anekdot (abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan koda)
Anekdot memiliki struktur teks yang membedakannya dengan teks lainnya. Teks anekdot
memiliki struktur abstraksi, orientasi, krisis, reaksi dan koda.
a. Abstraksi merupakan bagian awal paragraf yang berfungsi untuk memberikan
gambaran yang jelas tentang isi teks Anekdot.
b. Orientasi merupakan bagian cerita yang mengarah pada terjadinya suatu krisis,
konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah yang menjadi penyebab timbulnya krisis.
c. Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari inti peristiwa suatu anekdot. Pada
bagian krisis itulah terdapat kekonyolan yang menggelitik dan mengundang tawa.
d. Reaksi merupakan tanggapan atau respons atas krisis yang dinyatakan sebelumnya.
Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap mencela atau menertawakan.
e. Koda merupakan penutup atau kesimpulan sebagai pertanda berakhirnya cerita. Di
dalamnya dapat berupa persetujuan, komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari
cerita yang dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-kata:
seperti itulah, akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda bisa ada ataupun tidak ada
Berikut adalah contoh analisis teks anekdot berdasarkan strukturnya
Aksi Maling Tertangkap CCTV

Isi Struktur

Seorang warga melapor kemalingan. Abstraksi

Pelapor : “Pak saya kemalingan.” Orientasi

Polisi : “Kemalingan apa?”

Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak...” Krisis
Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”

Pelapor

: “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekam
dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajah
malingnya.”

Polisi : “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”
6

Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap polisi dengan penuh Reaksi
keheranan. Koda

Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya).

Latihan 1

Analisislah struktur anekdot lainnya dengan menggunakan tabel berikut ini!

Judul Anekdot: _______________________ Isi
Struktur

Abstraksi

Orientasi

Krisis

Reaksi

Koda

2. Menentukan ciri bahasa teks anekdot (pertanyaan retoris, kalimat masa lampau,
kalimat perintah, kata kerja aksi, kalimat seru, dan konjungsi temporal, pesan/
makna tersirat).
Seperti juga teks lainnya, anekdot memiliki unsur kebahasaan yang khas yaitu:
(a) menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu,
(b) menggunakan kalimat retoris, kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban,
(c) menggunakan konjungsi (kata penghubung) yang menyatakan hubungan waktu seperti
kemudian, lalu, dan sebagainya,
(d) menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca, berjalan, dan sebagainya,
(e) menggunakan kalimat perintah (imperative sentence), dan

7

(f) menggunakan kalimat seru. Khusus untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog,
penggunaan kalimat langsung sangat dominan.
(g) mengandung pesan/ makna yang tersirat yang menjadi tujuan utama penulisan teks
anekdot, yaitu menyampaikan kritik dan saran yang dikemas secara komedi.

Contoh analisis unsur kebahasaan dalam teks anekdot “Dosen yang Menjadi
Pejabat”

Dosen yang juga Menjadi Pejabat
Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa
sedang berbincang-bincang.
Tono: "Saya heran dengan dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu
duduk, tidak pernah mau berdiri."
Udin: "Ah, begitu saja diperhatikan sih Ton."
Tono: "Ya, Udin tahu sebabnya."
Udin: "Barangkali saja, beliau capek atau kakinya tidak kuat berdiri."
Tono: "Bukan itu sebabnya, Din. Sebab dia juga seorang pejabat."
Udin: "Loh, apa hubungannya."
Tono: "Ya, kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain."
Udin: "???"

No. Unsur Kebahasaan Contoh Kalimat

A Kalimat yang menyatakan Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar
peristiwa masa lalu selalu duduk, tidak pernah mau berdiri."

B Kalimat retoris “ Barangkali saja beliau capek, atau
kakinya tidak kuat berdiri.”

C Penggunaan konjungsi yang (Tidak ada)
8

menyatakan hubungan waktu “kalau mengajar selalu duduk, tidak pernah mau
D Penggunaan kata kerja aksi berdiri."

E Penggunaan kalimat perintah "Ah, begitu saja diperhatikan sih Ton."

F Penggunaan kalimat seru "Loh, apa hubungannya."

G Makna/ Pesan yang tersirat Para pejabat yang takut dan tidak mau turun dari
jabatannya atau takut kehilangan jabatan.
Tujuan yang ingin disampaikan tentu bukan
hanya menyindir para pejabat yang tidak mau
atau takut kehilangan jabatannya, tetapi jauh
lebih dari itu yaitu agar para pejabat sadar
bahwa jabatan itu ada masanya. Ketika masa
jabatan sudah habis, hendaknya para pejabat itu
dengan legawa bersedia digantikan oleh orang
lain.

Latihan 2

1. Bacalah teks anekdot yang berjudul “Bodrex”!
2. Analisilah teks anekdot tersebut berdasarkan unsur kebahasaannya!

B. Rangkuman
1. Struktur teks anekdot adalah abstraksi, orientasi, krisis, reaksi dan koda.
2. Ciri kebahasaan teks anekdot adalah
a. menggunakan kalimat yang menyatakan masa lalu;
b. menggunakan kalimat retoris;
c. menggunakan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu dan konjungsi yang
menyatakan hubungan sebab-akibat;
d. menggunakan kata kerja aksi; dan
e. menggunakan kalimat seru.
f. mengandung makna/ pesan yang tersirat.

9

g. mengandung pesan/ makna yang tersirat yang menjadi tujuan utama penulisan teks
anekdot, yaitu menyampaikan kritik dan saran yang dikemas secara komedi.

C. TES FORMATIF 1
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memilih huruf A, B, C, atau D!
1. Berikut ini yang termasuk struktur teks anekdot adalah ......
A. tema, abstraksi, orientasi, krisis, dan koda
B. abstraksi, orientasi, reaksi, krisis, dan koda
C. tema, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.
D. tema, abstraksi, krisis, dan reaksi.
2. Salah satu ciri kebahasaan dari teks anekdot adalah sebabagi berikut, kecuali
.......
A. menggunakan kalimat berita
B. menggunakan kalimat retoris dan kalimat seru
C. menggunakan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu dan konjungsi yang
menyatakan hubungan sebab-akibat;
D. menggunakan kata kerja aksi
3. “Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam
kasus ini?” ulang pengacara.
Kalimat tersebut termasuk ke dalam salah satu ciri teks anekdot, yaitu ......
A. kalimat seru
B. kalimat perintah
C. kata kerja aksi
D. kalimat retoris
4. Anekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog maupun narasi. Khusus untuk anekdot
yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung sangat dominan.
Yang dimaksud dengan kalimat langsung adalah …....
A. kalimat yang langsung dikatakan oleh si pembicara
B. kalimat yang melaporkan atau memberitahukan perkataan orang lain dalam bentuk
kalimat berita
C. kalimat yang merupakan hasil kutipan langsung dari pembicaraan seseorang yang
sama persis seperti apa yang dikatakannya.
D. kalimat yang bertujuan menyampaikan pemberitahuan

10

5. Salah satu unsur kebahasaan dari teks anekdot adalah menggunakan kalimat seru.
Berikut ini yang merupakan kalimat retoris dari teks anekdot Kisah Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi adalah .......
A. Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang saksi.
B. “Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi dalam
kasus ini?” ulang pengacara.
C. Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”
D. “Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil berkata kepada hakim, “Saya pikir dia tadi
berbicara dengan Anda.”

11

KB 2. MENCIPTAKAN KEMBALI TEKS ANEKDOT DENGAN MEMERHATIKAN
STRUKTUR DAN KeBahasaan

A. Uraian Materi

1. Pola Penyajian Teks Anekdot

Anekdot dapat disajikan dalam bentuk dialog maupun narasi. Contoh penyajian

dalam bentuk dialog, percakapan dua orang atau lebih, dapat dilihat pada anekdot Dosen

yang juga menjadi Pejabat.

Salah satu ciri dialog adalah menggunakan kalimat langsung. Kalimat langsung

adalah sebuah kalimat yang merupakan hasil kutipan langsung dari pembicaraan

seseorang yang sama persis seperti apa yang dikatakannya.

Perhatikan kutipan berikut ini.

Tono “Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu duduk,

: tidak pernah mau berdiri.”

Udin : “Ah, begitu saja diperhatikan sih Ton.”

Dari kutipan anekdot di atas anda dapat melihat bahwa kalimat langsung memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
(a) Diawali dan dakhiri dengan tanda petik (“ ....”).
(b) Huruf awal setelah tanda petik ditulis dengan huruf kapital.
(c) Antara pembicara dan apa yang dikatakannya dipisahkan dengan tanda titik dua (:).
Selain dituliskan dalam bentuk dialog seperti pada anekdot Dosen Yang Juga Menjadi
Pejabat, ada juga anekdot yang disajikan dalam bentuk narasi.

12

Contoh anekdot Aksi Maling Tertangkap CCTV yang dirubah ke dalam bentuk narasi:

Aksi Maling Tertangkap CCTV

Dialog Narasi

Seorang warga melapor kemalingan. Seorang warga melapor kemalingan kepada

kepolisian.

Pelapor : “Pak saya kemalingan.” “Pak saya kemalingan,” lapornya.

Polisi : “Kemalingan apa?” “Kemalingan apa?” tanya Polisi.

Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak..,”

Pak...” jawab pelapor dengan tersenyum.

Polisi : “Kemalingan kok beruntung?” Polisi bingung mendengar cerita pelapor.

Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung karena “Kemalingan kok beruntung?” tanya polisi

CCTV merekam dengan jelas. “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV

Saya bisa melihat dengan jelas merekam dengan jelas. Saya bisa melihat

wajah malingnya.” dengan jelas wajah malingnya.”

Polisi : “Sudah minta izin malingnya “Sudah minta izin malingnya untuk
untuk merekam?” tanya Polisi.
“Belum ....,“ jawab pelapor sambil menatap
merekam?” polisi dengan penuh keheranan.
Pelapor : “Belum .... “ (sambil menatap polisi “Itu ilegal. Anda saya tangkap, ” kata polisi
Pelapor bengong dan hanya bisa pasrah
dengan penuh keheranan. menerima kenyataan.
Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya)

Latihan 1

Ubahlah penyajian anekdot Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berikut dari bentuk
narasi ke bentuk dialog seperti penyajian anekdot Aksi maling Tertangkap CCTV di atas!

Kisah Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

Pada puncak pengadilan korupsi politik, Jaksa penuntut umum menyerang
saksi. “Apakah benar,” teriak Jaksa, “Bahwa Anda menerima lima ribu dolar
untuk berkompromi dalam kasus ini?”

Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan.
“Bukankah benar bahwa Anda menerima lima ribu dolar untuk berkompromi
dalam kasus ini?” ulang pengacara.

13

Saksi masih tidak menanggapi.
Akhirnya, hakim berkata, “Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa.”

“Oh, maaf.” Saksi terkejut sambil berkata kepada hakim, “Saya pikir dia
tadi berbicara dengan Anda.”
(Sumber: https://radiosuaradogiyafm.blogspot.co.id)

2. Menceritakan Kembali Isi Anekdot dengan Pola Penyajian yang Berbeda
Setelah memahami batasan anekdot, isi, struktur dan ciri kebahasaannya, berikutnya

anda akan belajar menulis anekdot.
Untuk dapat membuat teks anekdot, terlebih dulu belajarlah menuliskan kembali teks

anekdot yang anda dengar atau anda baca. Salah satu cara menulis teks anekdot adalah
dengan menulis ulang teks anekdot yang kita dengar atau baca dengan pola penyajian yang
berbeda namun tetap harus memperhatikan kebahasaan dan strukturnya.

Berikut ini adalah teks anekdot Seorang Dosen yang juga Pejabat dengan pola
penyajian naratif/ monolog yang diubah dari teks aslinya yang berbentuk dialog.

Dosen Yang Juga Menjadi Pejabat
Di kantin sebuah universitas, Udin dan Tono dua orang mahasiswa
sedang berbincang-bincang.
“Saya heran dosen ilmu politik, kalau mengajar selalu duduk, tidak
pernah mau berdiri,” kata Tono kepada Udin. Udin ogah -ogahan
menjawab pertanyaan Tono. Udin beranggapan bahwa masalah yang
dibicarakan Tono itu tidak penting.
Namun, Tono tetap meminta agar Udin mau menerka teka -tekinya.
“Barangkali saja, beliau capek atau kakinya tidak kuat berdiri,” jawab
Udin merasa jengah. Ternyata jawaban Udin masih juga salah. Menurut
Tono, dosen yang juga pejabat itu tidak bersedia berdiri sebab takut
kursinya diambil orang lain.”
Mendengar pernyataan Tono, Udin menanyakan apa hubungan antara
menjadi dosen.
“Ya, kalau dia berdiri, takut kursinya diduduki orang lain,” ungkap Tono.
Udin: “???”

14

3. Menyusun Teks Anekdot Berdasarkan Kejadian yang Menyangkut Orang Banyak atau
Perilaku Tokoh Publik
Dalam menyusun anekdot, ada beberapa hal yang harus ditentukan lebih dulu. Hal
tersebut adalah
• Menentukan tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian teks anekdot.
• Mencari sumber atau bahan referensi, sehingga pembahasan tentang topik teks anekdot tidak
di luar batasan.
• Menyampaikan isi pesan dalam sebuah teks anekdot. Untuk pesannya bisa tersirat maupun
tersurat.
• Setelah itu tinggal pengembangan isi teks anekdot berdasarkan struktur teks anekdot yaitu
abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.
• Tentukan pesan/ makna yang ingin disampaikan, karena tujuan utama penulisan teks
anekdot adalah menyampaikan sindiran dan kritikan lewat pesan, yang dikemas lewat cerita
lucu.
• Perhatikan pula struktur dan unsur kebahasaan yang akan digunakan.
Langkah-langkah ini akan memudahkan anda untuk belajar menyusun anekdot. Jadi
bacalah dengan teliti contoh penyusunan anekdot agar nantinya anda bisa menyusun
anekdotmu sendiri.
Dalam contoh berikut ini, anda akan mengetahui bagaimana anekdot disusun. Langkah-
langkah penyusunan disajikan dalam bentuk tabel, dengan penyelesaian pada kolom
ketiga.

No. Aspek Isi

1 Tema Kasih sayang pada orang tua
2 Kritik
Anak yang memandang orang tua di masa tuanya
sebagai orang yang merepotkan.

3 Humor/ Orang dewasa malu karena dikritik oleh anak kecil

Kelucuan

4 Tokoh Kakek tua, ayah, anak dan menantu

15

5 Struktur Abstraksi Kakek tua yang tinggal bersama anak,
menantu dan cucu 6 tahun.

Kebiasaan makan malam di rumah

Orientasi si anak. Kakek tua makannya sering
berantakan.

Krisis Kakek tua diberi meja kecil terpisah di
pojok, dengan alat makan anti pecah.

Reaksi Cucu 6 tahun membuat replica
meja terpisah.

Cucu 6 tahun mengungkapkan kelak akan

Koda membuat meja terpisah juga
untuk ayah dan ibunya.

6. Alur Kakek tua tinggal bersama anak, menantu dan cucunya yang
berusia 6 tahun. Karena sudah tua, mata si Kakek rabun dan
7. Pola tangannya bergetar sehingga kerap menjatuhkan makanan dan
Penyajian alat makan. Agar tidak merepotkan, ia ditempatkan di meja
terpisah dengan alat makan anti pecah. Anak dan menantunya
baru sadar ketika diingatkan oleh cucu 6 tahun yang tengah
bermain membuat replika meja.

Narasi

8. Pesan/ Hendaknya seorang anak harus senantiasa patuh dan sayang
amanat kepada orang tua, sampaik kapanpun dan dalam kondisi
apapun.
9. Teks
Anekdot Seorang kakek hidup serumah bersama anak,menantu, dan
cucu berusia 6 tahun. Keluarga itu biasa makan malam
bersama. Si kakek yang sudah pikun sering mengacaukan
segalanya. Tangan bergetar dan mata rabunnya membuat
kakek susah menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap
jatuh.
Saat si kakek meraih gelas, sering susu tumpah membasahi

16

taplak. Anak dan menantunya menjadi gusar. Suami istri itu
lalu menempatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan,
tempat sang kakek makan sendirian. Mereka memberikan
mangkuk melamin yang tidak gampang pecah. Saat keluarga
sibuk dengan piring masing-masing, sering terdengar ratap
kesedihan dari sudut ruangan.Namun, suami-istri itu justru
mengomel agar kakek tak

menghamburkan makanan lagi. Sang cucu yang baru berusia 6
tahun mengamati semua kejadian itu dalam diam.
Suatu hari si ayah memerhatikan anaknya sedang membuat
replika mainan kayu.
“Sedang apa, sayang?” tanya ayah pada anaknya. “Aku sedang
membuat meja buat ayah dan ibu. Persiapan buat ayah dan ibu
bila aku besar nanti.” Ayah anak kecil itu langsung terdiam.
Ia berjanji dalam hati, mulai hari itu, kakek akan kembali
diajak makan di meja yang sama. Tak akan ada lagi omelan
saat piring jatuh, makanan tumpah, atau taplak ternoda kuah.
Sumber: J.Sumardianta, Guru Gokil Murid Unyu. Halaman
47.
(dengan penyesuaian)

Latihan 2

Sekarang cobalah menyusun anekdotmu secara diskusi kelompok. Gunakan tabel yang
sama dengan contoh di atas! Tema yang digunakan bisa kejadian sehari-hari dari
perilaku orang terkenal. Jangan lupa memerhatikan isi dan kebahasaan dari anekdot
yang kamu susun!

No. Aspek Isi

1. Menyusun tema

2. Masalah yang dikritik

3. Humor/ kelucuan

17

4. Tokoh

5. Struktur Abstraksi

Orientasi

Krisis

Rekasi

Koda

6. Alur

7. Pola Penyajian

8. Pesan/ Amanat

7. Susunan Anekdot

4. Mempresentasikan Anekdot
Setelah bekerja secara kelompok menyusun anekdot yang temanya kamu pilih

sendiri, dengan isi dan gaya bahasamu sendiri, sekarang saatnya mempresentasikan
anekdot buatanmu di depan kelas!

B. Rangkuman
1. Untuk dapat menulis anekdot, terlebih dulu belajarlah menuliskan kembali teks

anekdot yang anda dengar atau anda baca. Salah satu cara menulis teks anekdot

adalah dengan menulis ulang teks anekdot yang kita dengar atau baca dengan pola

penyajian yang berbeda, misalnya dari teks berrbentuk dialog menjadi teks berbentuk

narasi.
2. Langkah-langkah dalam menyusun teks anekdot adalah:

1. Menentukan tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian teks

anekdot.

2. Mencari sumber atau bahan referensi, sehingga pembahasan tentang topik teks

anekdot tidak di luar batasan.

3. Menyampaikan isi pesan dalam sebuah teks anekdot. Untuk pesannya bisa tersirat

maupun tersurat.

18

4. Setelah itu tinggal pengembangan isi teks anekdot berdasarkan struktur teks anekdot

yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.

5. Tentukan pesan/ makna yang ingin disampaikan, karena tujuan utama penulisan teks

anekdot adalah menyampaikan sindiran dan kritikan lewat pesan, yang dikemas lewat

cerita lucu.

6. Perhatikan pula struktur dan unsur kebahasaan yang akan digunakan.

C. TES FORMATIF 2

Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memilih huruf A, B, C, atau D!
1. Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyusun teks anekdot adalah:

A. menentukan kelucuan

B. menentukan tokoh

C. menentukan tema

D. menentukan alur
2. Kalimat yang merupakan abstraksi dari teks anekdot Kasih Sayang Pada Orang Tua

adalah ......

A. Kebiasaan kakek tua makannya sering berantakan

B. Cucu 6 tahun mengungkapkan kelak akan membuat meja terpisah juga untuk ayah

dan ibunya

C. Karena makannya sering berantakan, kakek tua diberi meja kecil terpisah di pojok

dengan alat makan anti pecah

D. Kakek tua yang tinggal bersama anak, menantu dan cucu 6 tahun

3. Perhatikan bagian dialog pada teks anekdot Aksi Maling Tertangkap CCTV berikut

ini.

Pelapor : “Pak saya kemalingan.”

Polisi : “Kemalingan apa?”

Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak....”

Bagian dialog merupakan .......

A. Abstraksi

B. Orientasi

C. Krisis

D. Rekasi

4. “Sedang apa, sayang?” tanya ayah pada anaknya. “Aku sedang membuat meja buat

ayah dan ibu. Persiapan buat ayah dan ibu bila aku besar nanti.”

Dialog yang betul untuk teks anekdot berbentuk narasi tersebut adalah .......

A. Ayah : “Sedang apa, sayang?”
19

Anak : “Aku sedang membuat meja buat Ayah dan Ibu. Persiapan buat

Ayah dan Ibu bila Aku besar nanti.”

B. Ayah bertanya kepada anaknya : “Sedang apa, sayang?”

Jawab anaknya : “Aku sedang membuat meja buat Ayah

dan Ibu. Persiapan buat Ayah dan Ibu bila Aku besar nanti.”

C. Ayah bertanya kepada anaknya : “ Apa yang sedang kamu lakukan

sayang?”

Anaknya mengatakan kepada ayahnya : “Aku sedang membuat meja buat Ayah

dan Ibu. Persiapan buat Ayah dan Ibu bila Aku besar nanti.”

D. Ayah bertanya kepada anaknya tentang apa yang sedang dikerjakan anaknya.

Anaknya menjawab bahwa ia sedang membuat meja untuk ayah dan ibunya.

5. Yang dimaksud dengan orientasi pada teks anekdot adalah .........

A. bagian penutup dari teks

B. bagian rekasi terhadap permasalahan yang dibahas pada teks

C. bagian pembuka dari teks

D. bagian inti dari dari teks

\
20

Daftar Pustaka

• Yustinah. 2017. Produktif Berbahasa Indonesia Jilid 1 untuk SMK/MAK
Kelas X.

Jakarta: Erlangga.
• Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun
2017. Jakarta: Pusat

Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
• Suherli, dkk. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017.
Jakarta: Pusat

Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
• Internet

1. ndangfaiz.blogspot.com/2019/07/struktur-teks-anekdot-
kisahpengadilan-tindak-pidana-korupsi.html

2. http://materidelari.blogspot.com/2015/04/materi-tentanglangkah-
langkah.html

3. https://www.ruangguru.com/blog/mengenal-contoh-teks-anekdot
4. https://text-id.123dok.com/document/dy42g835q-maknaungkapan-

dalam-teks-anekdot.html

Semoga Bahan Ajar Ini Bermanfaat.
Terima Kasih.

21

MEDIA AJAR TEKS ANEKDOT
KELAS X

0



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Sekolah : SMK KARYA EKOPIN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : X/ Ganjil
Materi Pokok : Teks Anekdot
Alokasi Waktu : 2 Pertemuan (4 x 30 menit)
Tahun Pelajaran 2021/2022

A. Kompetensi Inti

Kompetensi Inti 1 (Spiritual) Kompetensi Inti 2 (Sosial)

Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur,
dianutnya disiplin, santun, peduli (gotong-royong, kerjasama,
toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan
pro-aktif dalam berinteraksi secara efektif sesuai
dengan perkembangan anak di lingkungan,
keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan
kawasan internasioanal”.

Kompetensi Inti 3 (Pengetahuan) Kompetensi Inti 4 (Keterampilan)

Memahami, menerapkan, menganalisis Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural konkret dan ranah abstrak terkait dengan
berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan secara mandiri, dan mampu menggunakan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, metoda sesuai kaidah keilmuan
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta
menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah

B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

3.6 Menganalisis struktur dan kebahasaan teks 3.6.1 Menjelaskan struktur isi teks anekdot

anekdot (abstrak, orientasi, krisis, reaksi, dan

koda)

3.6.2 Menentukan ciri bahasa teks anekdot

(pertanyaan retoris, kalimat masa

lampau, kalimat perintah, kata kerja

aksi, kalimat seru, dan konjungsi

temporal, serta kalimat yang

mengandung pesan).

3.6.3 Menganalisis struktur dan kebahasaan

teks anekdot.

4.6 Menciptakan kembali teks anekdot dengan 4.6.1 Memilih tema dan pola penyajian teks

memerhatikan struktur dan kebahasaan aneksdot yang akan disusun.

baik lisan maupun tulis 4.6.2 Menciptakan teks anekdot berdasarkan

tema dan pola penyajian yang dipilih,

dengan memerhatikan struktur dan

kebahasaan baik lisan maupun tulisan.

C. Tujuan Pembelajaran

1. Setelah mempelajari teks anekdot dengan pendekatan Saintifik dan model pembelajaran

Problem Based Learning, peserta didik dapat menganalisis struktur dan kebahasaan teks

aneksdot demgan penuh kesungguhan.

2. Setelah mempelajari teks anekdot dengan pendekatan Saintifik dan model pembelajaran

Problem Based Learning, peserta didik dapat menciptakan kembali teks anekdot dengan

memperhatikan struktur dan kebahasaan baik lisan maupun tulis dengan penuh percaya diri.

D. Materi Pembelajaran

Teks anekdot. (Terlampir)

E. Metode Pembelajaran

Pendekatan : Saintifik

Model Pembelajaran : Problem Based Learning, dan TPACK

Metode Pembelajaran : Diskusi, tanya jawab, dan penugasan
F. Media dan Alat Pembelajaran Media:
1. Media/ Alat

- Laptop
- Slide PPT
- Video Anekdot
- LKPD
- Instrumen Penilaian
G. Sumber Belajar
• Yustinah. 2017. Produktif Berbahasa Indonesia Jilid 1 untuk SMK/MAK Kelas X.
Jakarta: Erlangga.
• Suherli, dkk. 2017. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta:
Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
• Suherli, dkk. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas X Revisi Tahun 2017. Jakarta: Pusat
Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
• Internet
1. ndangfaiz.blogspot.com/2019/07/struktur-teks-anekdot-kisah-pengadilan-tindak-

pidana-korupsi.html
2. http://materidelari.blogspot.com/2015/04/materi-tentang-langkah-langkah.html
3. https://www.ruangguru.com/blog/mengenal-contoh-teks-anekdot
4. https://text-id.123dok.com/document/dy42g835q-makna-ungkapan-dalam-

teksanekdot.html
5. https://www.youtube.com/watch?v=6Uwrm_wZXgU
6. https://www.youtube.com/watch?v=0cjE2-8v0Kw
H. Langkah-Langkah Pembelajaran
Pertemuan 1 KD. 3.6 (2x30 Menit)

Langkah/ Langkah-Langkah Pembelajaran Waktu
Tahap

Pendahuluan 1. Pendidik mengucapkan salam dan sama-sama berdoa 10 menit
sebelum pembelajaran dimulai.

2. Pendidik mengabsensi kehadiran peserta didik.
3. Pendidik melakukan pengkondisian peserta didik

dengan memberikan motivasi agar dapat lebih tertarik

pada materi pembelajaran dan peserta didik menyimak
dengan baik.
4. Pendidik melakukan tanya jawab mengenai materi pada
pertemuan sebelumnya.
5. Pendidik menyampaikan kompetensi dasar, indikator,
dan tujuan pembelajaran.
6. Pendidik melakukan tanya jawab terkait pengetahuan
awal tentang materi yang akan dibahas.

Kegiatan Inti Orientasi (TPACK) 40 menit
1. Pendidik menampilkan tayangan video

(https://www.youtube.com/watch?v=6Uwrm_wZXgU)
yang terkait dengan materi, dan menanyakan relevansi
video dengan materi yang akan dipelajari.
2. Pendidik menampilkan contoh teks anekdot melalui
media power point, peserta didik mencermati teks
anekdot tersebut terkait dengan struktur, serta
kebahasaan yang terdapat pada teks anekdot.
3. Pendidik memberikan waktu kepada peserta didik
untuk menganalisis teks anekdot yang ditampilkan.
4. Pendidik memberi pertanyaan yang terkait dengan teks
yang ditampilkan untuk menstimulus pesera didik.
Pengorganisasian
5. Peserta didik dengan penuh disiplin, membentuk
kelompok berdasarkan rambu-rambu yang sudah
diberikan oleh pendidik.
6. Peserta didik melakukan diskusi berdasarkan kelompok
yang sudah mereka bentuk dengan penuh tanggung
jawab untuk mengerjakan soal-soal yang ada di LKPD.
Membimbing Penyelidikan
7. Peserta didik mengumpulkan data dan informasi dari
internet, buku, atau sumber lainnya yang dapat
dijadikan referensi tambahan, terkait dengan struktur,

ungkapan dan maknanya, faktor penyebab kelucuan,
dan kebahasaan yang terdapat pada teks anekdot.
8. Pendidik memantau keaktifan semua peserta didik
dalam kegiatan pengumpulan data dan informasi. Serta
memastikan data dan informasi yang dikumpulkan
sesuai dengan materi pembelajaran.
Mengembangkan Hasil Karya
9. Peserta didik menganalisis struktur, dan kebahasaan
yang terdapat pada teks anekdot yang disajikan melalui
kegiatan diskusi.
10. Peserta didik menuliskan hasil analisis yang terkait
dengan struktur dan kebahasaan teks anekdot yang
disajikan.
Analisis Pemecahan Masalah dan Evaluasi
11. Kelompok yang ditunjuk membacakan hasil analisis
mereka (dilakukan secara bergiliran).
12. Kelompok lain secara santun memberikan tanggapan
dan masukan terhadap hasil analisis yang dibacakan
tadi.
13. Pendidik melakukan evaluasi terhadap kegiatan
pembelajaran dengan meluruskan konsep yang kurang
sesuai dari hasil analisis dan tanggapan peserta didik
terkait dengan materi yang dibahas.

Penutup 1. Peserta didik dengan bimbingan guru menyimpulkan 10 menit
tentang struktur dan kebahasaan yang terdapat pada teks
anekdot.

2. Pendidik merefleksi pembelajaran
3. Pendidik memberikan penguatan terhadap materi

pembelajaran yang baru saja berlangsung.
4. Pendidik menyampaikan perihal kegiatan pembelajaran

berikutnya.

5. Pendidik dan peserta didik dengan penuh religius
mengakhiri pembelajaran dengan mengucap syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa.

6. Kegiatan ditutup dengan doa, dan peserta didik
mengucapkan salam, kemudian pendidik memberikan
respon.

Pertemuan 2 KD. 4.6 (2X30 Menit)

Langkah/ Langkah-Langkah Pembelajaran Waktu
Tahap

Pendahuluan 1. Pendidik dan peserta didik dengan penuh religius 10 menit
melakukan doa sebelum memulai pelajaran, dan
peserta didik memberi salam.

2. Pendidik mengabsensi kehadiran peserta didik.
3. Pendidik melakukan pengkondisian peserta didik

dengan memberikan motivasi agar peserta didik
dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan
penuh disiplin.
4. Pendidik melakukan tanya jawab mengenai materi
pada pertemuan sebelumnya.
5. Pendidik menyampaikan kompetensi dasar,
indikator, dan tujuan pembelajaran.
6. Peserta didik merespon pertanyaan pendidik, yang
terkait dengan materi yang akan dibahas untuk
mengukur pengetahuan awal peserta didik.

Kegiatan Inti Orientasi (TPACK) 40 menit

1. Pendidik menampilkan tayangan video yang terkait

dengan materi melalui link:

https://www.youtube.com/watch?v=0cjE2-8v0Kw

2. Pendidik memberi pertanyaan yang terkait dengan

isi video serta menanyakan kaitannya dengan materi

pembelajaran.

Pengorganisasian
3. Peserta didik membentuk kelompok.

4. Peserta didik melakukan diskusi berdasarkan
kelompok yang sudah dibentuk demgan penuh
tanggung jawab.

Membimbing Penyelidikan Kelompok
5. Peserta didik mengumpulkan data dan informasi

terkait dari internet, buku, atau sumber lain yang
dapat dijadikan referensi tambahan dalam
mengerjakan soal-soal LKPD.
6. Pendidik memonitoring dan membimbing kegiatan
yang sedang dilakukan peserta didik.
Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
7. Melalui kegiatan diskusi dan kerja sama, peserta
didik menentukan tema teks anekdot yang akan
diangkat.
8. Melalui kegiatan diskusi peserta didik memilih
pola penyajian teks anekdot yang akan disusun.
9. Melalui kegiatan diskusi , peserta didik menyusun
teks anekdot berdasarkan pada unsur dan
kebahasaan yang tepat dengan berpedoman pada
data dan informasi yang mereka sudah kumpulkan.
Analisis Pemecahan Masalah dan Evaluasi
10. Pendidik menunjuk salah satu kelompok untuk
mempresentasikan teks anekdot yang telah disusun
dengan intonasi dan ekspresi yang tepat.
11. Kelompok lain secara santun memberikan
pertanyaan, tanggapan dan masukan terhadap hasil
presentasi kelompok penyaji
12. Pendidik melakukan evaluasi dengan memberikan
komentar dan tanggapan terhadap kegiatan
presentasi yang baru saja berlangsung.

Penutup 1. Pendidik merefleksi kegiatan pembelajaran. 10 menit
2. Peserta didik dengan bimbingan pendidik,

menyimpulkan materi pembelajaran, dan pendidik
memberikan penguatan terkait dengan kesimpulan
peserta didik.
3. Pendidik menyampaikan perihal kegiatan
pembelajaran berikutnya.
4. Pendidik dan peserta didik melakukan doa penutup
dengan penuh religius, dan peserta didik
mengucapkan salam.

I. PENILAIAN
a. Penilaian Sikap
Teknik : Observasi, penilaian diri, penilaian Antar Teman

Bentuk : Kolom Penilaian Observasi, Kolom Penilaian Diri, Kolom Penilaian
Antar Teman

b. Penilaian Pengetahuan
Teknik : Tes Tertulis

Bentuk : Instrumen Soal

c. Penilaian Keterampilan
Teknik : Performance (Tes Praktik)
Bentuk : Hasil Penyusunan Teks Anekdot

I. REMEDIAL DAN PENGAYAAN

1. Remedial

• Remedial diberikan kepada peserta didik yang nilainya belum tuntas terhadap materi

yang diajarkan, kegiatan berupa memberikan bagian soal yang belum tuntas setelah

melewati proses analisis, dan memberikan pendalaman materi pelajaran.

2. Pengayaan

• Pengayaan diberikan pada peserta didik yang nilainya sudah tuntas, untuk kegiatan

pengayaan peserta didik diberikan soal dengan tingkatan yang lebih sulit.

Mengetahui, Jakarta, Juli 2021

Kepala SMK Karya Ekopin Guru Bahasa Indonesia

M.FIRDAUS, S.E. S.Pd.I RIA IRIYANTI, S.Pd.

LAMPIRAN MATERI TEKS ANEKDOT
Struktur Teks Anekdot
• Abstraksi merupakan pendahuluan yang menyatakan latar belakang

atau gambaran umum tentang isi suatu teks.
• Orientasi merupakan bagian cerita yang mengarah pada terjadinya

suatu krisis, konflik, atau peristiwa utama. Bagian inilah yang
menjadi penyebab timbulnya krisis.
• Krisis atau komplikasi merupakan bagian dari inti peristiwa suatu
anekdot. Pada bagian krisis itulah terdapat kekonyolan yang
menggelitik dan mengundang tawa.
• Reaksi merupakan tanggapan atau respons atas krisis yang
dinyatakan sebelumnya. Reaksi yang dimaksud dapat berupa sikap
mencela atau menertawakan.
• Koda merupakan penutup atau simpulan sebagai pertanda
berakhirnya cerita. Di dalamnya dapat berupa persetujuan,
komentar, ataupun penjelasan atas maksud dari cerita yang
dipaparkan sebelumnya. Bagian ini biasanya ditandai oleh kata-
kata, seperti itulah,akhirnya, demikianlah. Keberadaan koda
bersifat opsional; bisa ada ataupun tidak ada.
Unsur Kebahasaan Teks Anekdot

Unsur kebahasaan teks anekdot terdiri dari:
Seperti juga teks lainnya, anekdot memiliki fitur kebahasaan yang khas
yaitu
(a) menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu;
(b) menggunakan kalimat retoris, kalimat pertanyaan yang tidak

memerlukan jawaban.
(c) menggunakan konjungsi (kata penghubung) yang menyatakan

hubungan waktu seperti kemudian, dan lalu;
(d) menggunakan kata kerja aksi seperti menulis, membaca, berjalan,

dan sebagainya;

(f) menggunakan (kalimat seru).
(g) mengandung pesan/ makna yang tersirat yang menjadi tujuan utama
penulisan teks anekdot, yaitu menyampaikan kritik dan saran yang dikemas
secara komedi.
Pola Penyajian Teks Anekdot
1. Penyajian dalam bebtuk dialog
2. Penyajian dalam bentuk narasi
Langkah- langkah Menyusun Teks Anekdot
• Menentukan tema, kritik, kelucuan, tokoh, struktur, alur, dan pola penyajian

teks anekdot.
• Mencari sumber atau bahan referensi, sehingga pembahasan tentang topik teks

anekdot tidak di luar batasan.
• Menyampaikan isi pesan dalam sebuah teks anekdot. Untuk pesannya bisa

tersirat maupun tersurat.
• Setelah itu tinggal pengembangan isi teks anekdot berdasarkan struktur teks

anekdot yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.
• Tentukan pesan/ makna yang ingin disampaikan, karena tujuan utama

penulisan teks anekdot adalah menyampaikan sindiran dan kritikan lewat
pesan, yang dikemas lewat cerita lucu.
• Perhatikan pula struktur dan unsur kebahasaan yang akan digunakan.


Click to View FlipBook Version