The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buletin Masif_20231107_081947_0000

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ROSIANA FEBRIYANTI, 2023-11-06 21:13:52

Buletin Masif_2023

Buletin Masif_20231107_081947_0000

V O L . 2 B M U L E T I N E A K S T R A K U S R I K U L E I R M F E N U L I S S M A I T A L K A H F I O K T O B E R 2 0 2 3 PEMUDA BERDAYA PEMUDA BERKARYA @ma s if _ a l k ahfi B E R I T A - C E R P E N - P U I S I - M O T I V A S I


Pukul 07.00, Kamis, 7 September 2023 santri dan santriwati Pesantren Terpadu Al-Kahfi telah berkumpul di aula sekolah. mereka tampak antusias untuk menyaksikan grand opening Education Festival 2023. Kali ini acara yang diselenggarakan setiap tahun itu mengusung tema “Aksi Yuwana Nusantara Meraki Alterasi Sangkala.” Setelah pemutaran video teaser dan penampilan tari saman, acara resmi dimulai. Dengan pembawa acaranya yang fasih menggunakan 8 bahasa dalam membuka acara sehingga cukup menarik perhatian. Berbagai sambutan pun disampaikan dalam acara tersebut. Diantaranya sambutan pimpinan pesantren yaitu K. H. Yayan Hendaya Bastaman, Lc. dilanjut sambutan kepala cabang dinas wilayah I yang diwakilkan oleh Dr. Adi Maulana selaku ketua seksi pelayanan, dan sambutan dari ketua pelaksana, Rasyid Faiq Harris. Dalam sambutannya, Rasyid menyampaikan makna dari tema Education Festival 2023. Harapan dari diambilnya tema “Aksi Yuwana Nusantara Meraki Alterasi Sangkala.” adalah agar Education Festival dapat mewadahi karya-karya pemuda nusantara dalam menghadapi globalisasi dengan halhal positif. Oktober, 2023 / Vol 2 Beliau juga menjelaskan makna dari logo matahari yang menjadi icon Education Festival 2023. Logo matahari bergambar ombak yang dikelilingi 8 elips itu melambangkan pemuda indonesia yang menjadi arus pergerakan dan membawa manfaat tidak hanya untuk negaranya tapi seluruh dunia. Grand opening acara itu turut dimeriahkan dengan berbagai penampilan yang bernilai budaya dan aksi positif pemuda. Mulai dari monolog, tari tradisional, hingga dance modern ditampilkan oleh para santri. Membuat hari pertama acara tersebut begitu spektakuler. Alunan musik dari tim arumba santriwati dan suara merdu para penyanyi jingle Education Festival juga menambah keseruan pada pagi hari itu. Rangkaian acara terakhir yang tak kalah menarik pada hari itu adalah special talkshow dengan Sherly Annavita Rahmi S.Sos M.SlPh sebagai pembicara. influencer kelahiran 1992 itu menyampaikan tentang peran pemuda untuk perubahan dan masa depan bangsa serta cara agar pemuda dapat menemukan potensi dirinya, beliau juga berharap agar ke depannya semakin banyak pemuda terutama pemuda Islam yang berani membaca lingkungan sekitar dan berada di tengah-tengah masyarakat dengan senantiasa berpegang teguh pada kebenaran. Halaman 1


Oktober, 2023 / Vol 2 Halaman 2 PIJIL (PIE BIJI SALAK) PARA PEMENANG LOMBA CILOK PANGGANG SAUS PADANG TIM JUARA PERTAMA TIM JUARA KE-3


PUISI Oktober, 2023 / Vol 2 KARYAKU Shaima Nafisa Rivai Halaman 3 MERAH DARAH Merah Putih berkibar gagah di sepanjang khatulistiwa Elok dipandang oleh jutaan manusia Ratusan darah sudah tumpah demi gagahnya merah putih Akan tetapi, orang-orang berdasi itu malah seenaknya melemahkan Haruskah kita beritahu mereka hakikat dari merah? Dahulu, kita berhasil mengibarkan merah putih dengan penuh air mata, dan darah Angan-angan yang menjadi nyata berkat perjuangan seluruh rakyat Rangkaian mimpi indah berkat ikatan darah yang satu; merah Akhir dari segala mimpi buruk Hai Indonesia, ingatlah! Merah adalah darah, bukan uang Maryam K.P


PUISI Oktober, 2023 / Vol 2 KARYAKU Shaima Nafisa Rivai Halaman 4 Menanti Nawasena Kami Sayup sendu ragaku diam sekali membisu ancas mencari tau kapan ini berlalu Keheningan itu memekakkan telinga katanya semua kan baik saja naas bumantara memekik lantas siapa yang licik? Mungkin masa dan mereka yang mengaku ulur adil tanpa tapi pun nyatanya kami menyisir pilu mengulum resah atas terkuburnya nawasena yang dinanti-nanti Savana M TITIK HITAM Tak pernah ada titik hitam pada jiwaku Karena Ia menyucikan selalu hatiku Tak pernah lelah Dia temaniku yang hampa Dengan raga yang terluka memohon kasih Nya. Sungguh, Dia selalu dekat tanpa jarak Memeluk ragaku yang bersimpuh pada Nya Tetes demi tetes air mata membasahi jiwa Menyadarkan akan Dia yang senantiasa ada di dekatku. Hana Dhia


CERPEN B E R S Y U K U R Oktober, 2023 / Vol 2 Safira tersenyum senang di depan cermin besar di dalam kamarnya. Ia merasa percaya diri dan siap untuk pergi pusat perbelanjaan di kotanya. senyum Safira masih mengembang hingga seseorang datang kepadanya dan merusak mood nya pagi itu. “Safira? pakai baju yang benar. kita tidak akan pergi ke mall kali ini.” Ucap seorang wanita sambil memandang heran anaknya itu. “Loh? enggak jadi, Bun? terus kita gak jadi kemana-mana dong?” “Jadi. tapi kali ini kita gak akan pergi ke mall.” “Terus kemana?” “Ada pokoknya, ganti baju yang lebih sopan, sederhana dan simpel, Mama tunggu di ruang tamu. Segera ya Safira!” Sekejap setelah sang ibu menutup pintu kamarnya, Safira merengut kesal. ia mengharapkan hal yang menyenangkan akan terjadi hari ini. tetapi sayangnya rencana yang sudah ia harap-harapkan hilang, Safira sama sekali tak punya ide tempat apa yang ibunya rencanakan untuk mereka datangi. Tak mau membuat sang ibu marah, segera Safira mengganti baju nya sesuai permintaan sang ibu. Safira menyelempangkan tas kecilnya dan bergegas turun menuruni anak tangga. sesampainya di ruang tamu, Safira melihat Ayah, Bunda, dan Adik kecilnya, Fania sudah terlihat rapi dan duduk di atas sofa. “Oke, kalau sudah siap semua, mari kita berangkat!” Sang Ayah berseru semangat dan menggandeng tangan kecil Fania. “Totebag biru nya jangan lupa, Yah.” Ucap Bunda mengingatkan. Safira melihat tote bag biru yang terisi penuh diangkat oleh Ayahnya. Karena penasaran Safira menghampiri ayahnya. “Sebenarnya kita mau kemana sih, Yah?” Tanya Safira sembari memasuki mobil. “Ada deh, pokoknya spesial, kalau sudah sekali kesana pasti kakak mau kesana lagi.” Ucap Sang Ayah sambil tersenyum menatap Safira yang lebih pendek darinya. “kenapa kita gak jadi ke Mall yah? padahal Safira udah tulis di list Safira apa aja yang mau beli.” Safira mengutarakan perasaan nya yang membuat ia kesal sepanjang berganti baju tadi. “Kan’ kita udah sering ke mall, sekarang gantian kita datang ke tempat yang lebih sederhana, asri, pokoknya enak deh, dan kita enggak membuang-buang waktu karena datang ke sana.” Safira mengernyit heran. Penjelasan panjang ayahnya tidak menjawab pernyataan keluh kesah nya tadi. Tempat yang akan keluarganya datangi seperti teka-teki baginya. Malas memperpanjang urusan, Safira memilih menikmati perjalanan menuju tempat yang tidak diketahui itu. Semakin jauh Safira dari rumah, semakin jelas lingkungan tempat yang keluarganya akan datangi itu. Pohon-pohon hijau dan lebat menjulang tinggi di sekitar jalanan setapak yang hanya bisa dilewati satu mobil itu. Kanan dan kiri mobil keluarga safira benar benar dikelilingi tanaman kebun teh sejauh mata memandang. Tiba-tiba kaca mobil di kursinya terbuka, ia melirik Ayahnya yang tersenyum dan mengisyaratkannya untuk menghirup udara di luar. Segar, satu kata yang muncul di pikirannya ketika menghirup udara di luar. Oksigen yang fresh dan dingin ketika memasuki paru paru nya itu membuat nya berpikir bahwa tempat yang akan didatanginya itu ternyata tidak buruk juga. Ditulis oleh Nazwa Hibatullah Halaman 5


CERPEN Oktober, 2023 / Vol 2 Sampai lah mobil keluarganya di depan sebuah gerbang yang lumayan kecil. Terpampang jelas tulisan “Panti Asuhan Cemara” yang di tempel di antara tiang gerbang masuk itu. Seorang kakek tua menghampiri mobil dan mengetuk jendela mobil bagian supir. “Pak Andi ya?” tanya kakek tersebut sambil tersenyum ramah. “Iya Pak, bapak Pak Teguh bukan?” balas ayah safira sambil balas tersenyum. “Benar, Pak. Bapak mau langsung masuk?” “Oh, bisa langsung masuk? tidak perlu perizinan atau pengecekan misalnya?” “Tidak perlu, Pak. Anak-anak sudah tidak sabar menyambut keluarga bapak untuk datang.” Selepas itu, Ayah Safira dan Pak Teguh sempat beberapa kali berbalas sapa hingga akhirnya mobil melaju masuk ke area Panti Asuhan dimana ketika mobil sampai di depan pintu masuk, terdengar suara riang dan sorakan senang dari dalam pintu tersebut. Ayah Safira membuka pintu mobil dan membantu Bunda menurunkan tas tas. Safira masih kaget, tak menyangka hari ini ia akan mengunjungi tempat ini. Tak terpikirkan sama sekali di benaknya bahwa keluarganya sudah merencanakan untuk mendatangi tempat ini. Safira dan keluarganya disambut dengan hangat dan meriah oleh anak anak Panti Asuhan tersebut. Ada beberapa rangkaian acara di sana, pertama dimulai dengan perkenalan anggota keluarga dan perkenalan dengan anak anak yang ada di panti asuhan tersebut. Ada 30 anak yang menghuni panti asuhan sederhana itu. Usia mereka kurang lebih 5 sampai 15 tahun. Mereka tinggal di dalam kamar kamar kecil yang dipenuhi dengan lemari-lemari kayu dan kasur tingkat yang saling berhimpitan. Mereka hidup dengan segala keterbatasan yang ada, tetapi tak pernah sekalipun satu kata mengeluh keluar dari mulut mereka. Mereka bersyukur bahwa Allah masih memberikan tempat untuk mereka tinggali. Makanan yang sederhana dengan porsi yang tak pernah lebih pun mereka syukuri, setidaknya itu cukup untuk mengisi perut kecil mereka. Jaminan pendidikan yang terjamin, setidaknya sampai jenjang Sekolah Dasar. Acara berlanjut dengan permainanpermainan sederhana yang berhadiah. Safira terheran-heran, mengapa anak-anak itu sangat bersemangat padahal hadiah nya hanya berisikan alat tulis dan bukubuku cerita anak-anak yang Safira pikir hadiah nya sama sekali tak menarik. Safira belajar banyak sekali dari mereka. Mulai dari kesederhanaan hidup mereka, senyum yang selalu mengembang selama keluarga Safira berada disana. Safira berkenalan dengan banyak anak kecil yang tinggal di sana. Salah satunya perempuan dengan kunciran dan pita berwarna merah muda yang sudah terlihat usang menghiasi kepala nya yang mungil. Ia bernama Cantika, kata kepala pengasuhan di sana ibunya sudah menaruh Cantika di sini sedari ia masih baru keluar dari kandungan ibunya. Masih belia sekali umurnya. Ibunya menitipkan pita merah muda itu kepada salah satu pengasuh disana, katanya kenangan dari ibunya. Acara berakhir dengan mengembirakan. Saatnya Safira berpamitan dengan mereka. Safira harus banyak sekali bersyukur. Ia membatin, kehidupanku jauh lebih baik dari mereka, tak sepantasnya aku banyak mengeluh. B E R S Y U K U R Ditulis oleh Nazwa Hibatullah Halaman 6


CERPEN Oktober, 2023 / Vol 2 Pagi itu aku menggeliat di atas kasur. Baru pukul 6 pagi, aku sudah merasa jengkel. Bukan apa-apa, Komeng, si gendut oranye itu menepuk-nepuk wajahku, Mau apa, sih, dia sepagi ini? “Tuan, tolong aku tuan” Si Komeng berbicara. “Meong meong meong!” Aku mendengus kesal. Pasti Komeng lapar, karena semalaman ia berkeliaran ke rumahrumah tetangga. Padahal sudah di kebiri, masih saja genit mencari betina. Ku raih sebungkus makanan kucing untung Komeng. Matanya langsung berbinar dan melahap secepat kilat. “Terima kasih, Tuan!” “Meong meng- MEONG?!” Komeng berbicara terima kasih kepadaku?! Dan, Oh?! aku mengeong?! Ada apa ini ada apa dengan dunia ini?! “Meong meong meong meong?!” (Bagaimana bisa begini?!) “Aku tidak tahu aku tidak paham, Tuan!” Komeng terlihat bingung sembari menjilati ujung mulutnya. Lalu dengan santai ia pergi ke singgasana lembutnya. Kadang aku kesal melihatnya yang menjalani hari dengan santai, bangun, mengeong minta makan, makan, buang air, bermain, lalu tidur lagi. Dia sangat pemalas, badannya gemuk tidak seperti kucing di jalanan. Sementara aku pergi bekerja sampai malam, mencari uang untuk memenuhi perut gendutnya! Jadi sebenarnya siapa tuannnya disini? Aku bergegas menuju kantor, dan sepanjang hari sangat membingungkan. Dunia sehari itu sangat kacau. Semua kucing sangat bawel hari ini, sementara manusia berkomunikasi lewat tulisan. Karena kami saling tidak mengerti, ‘Meong!’ ‘Meong?’ dan ‘Meong’ apakah tidak emosi jika hanya mengeong dan tidak paham maksud orang lain? Larut malam aku membuka pintu rumah dengan lesu. Komeng menyambut dengan riang, menggoyangkan ekornya. “Bagaimana harimu, Tuan?” “Meong..” (Aku bingung) Komeng juga mengerti raut wajahku meskipun ia tidak paham apa meonganku. “Tuan, aku minta maaf. Aku minta maaf aku merepotkanmu, Tuan. Sejak kedatanganku ke rumah ini, kamu jadi tidak bisa bersenangsenang seperti orang-orang. K O M E N G Kamu yang di akhir pekann hanya makan mi instan di rumah, tidak seperti orang lain yang makan enak dan berbelanja” “Meong!” (Hey!) “Itulah kenyataan yang membuatku bersedih, Tuan. Maaf kau jadi harus membayar biaya untuk aku mandi, makanan, vitamin, dan pasir toiletku. Pasti itu sangat mahal, apalagi gajimu yang tidak banyak seperti orang-orang di televisi. Kamu jadi hanya makan makanan instan, aku minta maaf.” Komeng menundukkan kepalanya. Aku terdiam, permintaan maaf Komeng yang terdengar tulus ini, meskipun amat polos, membuatku menangis. Lenganku meraih Komeng ke pelukanku. Aku mengelus bulu lembutnya. “Meong meong meong! Meong meong meong meong” (Komeng, aku bukan miskin! Aku merawatmu karena sayang dan uang bukanlah masalah) Komeng menjadi semakin bawel, ia terus mengasihaniku seolah karenanya uangku makin menipis. Kesal sekali, memangnya sopan kau berbicara seperti itu? Halaman 7


CERPEN Oktober, 2023 / Vol 2 Malam itu aku mengajak Komeng tidur bersamaku. Ia mengambil tempat di samping kanan ranjang. Lidahnya menjilati sekujur tubuh, membersihkan diri sebelum beranjak tidur. Hari itu sangat aneh, kucing yang berbicara sementara manusia hanya bisa mengeong. Sebelum memejamkan mata, kupanjatkan doa semoga esok hari ketika aku membuka mata keadaan menjadi normal kembali. Komeng sudah mendengkur dan saatnya aku pergi ke alam mimpi. Lagi-lagi Komeng menepuk-nepuk wajahku di pagi hari. Aku merenggangkan badan dan turun dari ranjang. Apakah semuanya sudah kembali normal? Entah mengapa aku belum berani berbicara. Seperti biasa, memberi Komeng sebungkus makanan. Ia mengeong dan menggoyangkan ekornya. “Akhirnya” ucapku lega. Dunia telah kembali normal setelah sehari kemarin keadaan sangat aneh, kucing bisa berbicara sepuaspuasnya sementara manusia hanya bisa mengeong dan tidak paham satu sama lain. Aku mengelus bulu lembut Komeng sebelum berangkat bekerja. Aku sadar, ternyata ada juga hikmahnya kejadian aneh kemarin. Komeng meminta maaf kepadaku mengenai hal yang sebenarnya bukan apa bagiku. Tentang aku kesal dengannya yang menghabiskan uangku, itu benar. Tapi aku tidak semiskin itu! aku mencari semua kebutuhan Komeng yang bagus dengan harga terjangkau. Aku juga mengatur keuanganku dengan baik agar semua keperluan dan yang untuk kesenangan sendiri terpenuhi. Lagi pula, Komeng juga sumber kebahagiaanku. Oke, mulai saat ini aku tidak perlu kesal dengannya, memang sudah itulah tugasku merawat Si Gendut oranye itu. Dan, kalau boleh berharap, semoga Komeng tidak membuatku kesal. Jangan berbuat aneh-aneh Komeng! apalagi mencari betina di malam hari, ckckck. K O M E N G Ditulis oleh Raudza Farah Halaman 8


CERPEN Oktober, 2023 / Vol 2 Burung-burung gereja berkicau saling bersahutan sembari bertengger di atas pohon oak tua milik keluarga Shabrina. Shabrina, anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, kini tengah membaca buku kesukaannya, buku pengetahuan tentang alam semesta. Ayah Shabrina adalah seorang astronot yang selalu sibuk dengan tugasnya dan kini menetap sementara selama kerja di luar negri. Ibu Shabrina adalah seorang guru matematika di sebuah sekolah di pinggiran kota tempat Shabrina menetap. Shabrina menutup buku bacaanya lalu bangkit dari basngku depan rumah menuju dapur untuk memasak makan siang yang akan ia dan ibunya makan. Saat ini hanya ada Shabrina sendiri yang di rumah, menunggu sang ibu pulang dari tempat kerjaan. Api menyala dan memanaskan air dingin yang akan Shabrina gunakan untuk memasak sayur. Tiba-tiba, tepat setelah Shabrina memotong wortel segar, muncul sebuah telur yang bergerak-gerak mendekati pisau yang Shabrina pegang. Mata Shabrina melotot kaget. Telur itu memiliki mata dan mulut layaknya seorang manusia tanpa hidung. “Hai manusia, aku adalah Tutu, si telur ajaib yang bijak!” Shabrina mencoba menenangkan dirinya setelah mendengar suara Tutu si telur sangat lancar. “Halo Tutu, aku Shabrina. Apakah kau benar-benar sebuah telur?” tanya Shabrina. “Benar. Aku adalah telur yang bertugas untuk membantu manusia yang sedang bersedih dan membutuhkan bantuan. Aku datang karena merasakan aura seperti itu dalam diri Shabrina.” ujar Tutu panjang lebar. Alis Shabrina menaik mendengar pernyataan Tutu. “Kenapa Tutu berpikir bahwa Shabrina membutuhkan bantuan?” tanya Shabrina. Tutu terlihat tersenyum lebar. “Tutu tahu kok kalau Shabrina merindukan ayah Shabrina dan ingin segera menemuinya.” SHABRINADAN TUTU Ditulis oleh Hana Dhia Mufidah Itu memang benar, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa meski sangat merindukan ayah. Tiba-tiba Tutu melompat ke pundak Shabrina dan berteriak senang. “Tidak mengapa! Karena Tutu di sini akan membantu Shabrina mengatasi masalah dan membantu Shabrina menemui sang ayah!” “Benarkah?” bisik Shabrina sumringah. “Ikuti aku!” tukas Tutu. Shabrina meninggalkan dapur setelah memastikan api kompor telah mati. Keduanya pergi meninggalkan di rumah dan berjalan ke arah taman belakang rumah Shabrina. Tutu tiba-tiba berteriak lalu muncul sebuah sinar yang menyilaukan hingga menyelimuti keduanya sampai tak terlihat lagi. Halaman 9


CERPEN Oktober, 2023 / Vol 2 Di sebuah tempat sepi dengan bangunan-bangunan tinggi yang besar, muncul sebuah cahaya yang menyilaukan dan mengeluarkan Shabrian dan Tutu. “Ayo kita masuk!” ujar Tutu. Keduanya masuk ke dalam gedung yang sepi itu dengan arahan Tutu yang sepertinya sangat hafal dengan letak-letakanya. Setelah keduanya berputar sana-sini, akhirnya Tutu menyuruh Shabrina berhenti di sebuah pintu besar berwarna biru. Shabrina memandang pitu itu. Tutu melihat Shabrina lekat. “Masuk saja, ayo. Sesuatu yang kamu cari ada di dalamnya.” Shabrina mengetuk pintu lalu membuka perlahan. “Permisi, halo?” Ruangan itu gelap dan sinar dari jendela kecil menunjukkan bahwa ada seseorang yang tengah berada dalam ruangan selain Shabrina yang baru saja masuk. “Siapa ya?” tany orang yang di dalam ruangan. Shabrina hendak membuka mulut hingga tiba-tiba lampu menyala dengan otomatis. “Shabrina?” Shabrina melotot kaget melihat orang yang di hadapannya saat ini. “Ayah?” tanya Shabrina memastikan. Laki-laki paruh baya itu tersenyum. Shabrina berlari dan memeluk ayahnya dengan erat hingga air matanya mulai menetes. “Shabrina sangat merindukan Ayah….” “Ayah juga sangat merindukan putri ayah yang cantik ini.” Siang hari itu berakhir dengan pelukan hangat antara ayah dan anak yang telah lama terpisah. Tiba-tiba Tutu menghilang sebelum sempat Shabrina berterima kasih dan Shabrina menginap beberapa hari di tempat sang ayah setelah memberi tahu kondisi sebenarnya pada sang ibu yang tiba-tiba ditinggalkan sendiri. SHABRINADAN TUTU Ditulis oleh Hana Dhia Mufidah Halaman 10


INFOGRAFIS Oktober, 2023 / Vol 2 SUMPAH PEMUDA Halaman 11


INFOGRAFIS Oktober, 2023 / Vol 2 SUMPAH PEMUDA Halaman 12


Halaman 10 POSTER Oktober, 2023 / Vol 2 SUMPAH PEMUDA SELAMAT HARI 28 OKTOBER 2023 SUMPAH PEMUDA Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia. Halaman 13


Halaman 14 Oktober, 2023 / Vol 2


Click to View FlipBook Version