Daftar isi Halaman Sejarah Gong Perdamaian di Jepara .............................. 1 Sejarah Baratan Jepara ..................................................2 Sejarah Larungan Jepara................................................2 Sejarah Pereang Obor Jepara .........................................3 Sejarah Tradisi Nyumpet Jepara.....................................3
SEJARAH GONG PERDAMAIAN DI JEPARA Gong Perdamaian Dunia “Word Peace Gong” merupakan satu-satunya sarana persaudaraan dan pemersatu Umat Manusia sedunia. Gong Perdamaian Dunia sudah berumur lebih dari 450 tahun. Awal mula Gong Perdamaian Dunia ini milik Ibu Musrini yang merupakan ahli waris pemilik gong generasi ketujuh. Menurut Bapak Arifin selaku pegawai Gong Perdamaian Dunia (GPD) dahulu merupakan sarana dakwah dalam rangka syiar Islam bagi masyarakat pedalaman di kawasan pegunungan Gunung Muria, yang pada waktu itu masih primitif, dan masih kental dalam menganut kepercayaan animisme. Pada waktu itu Gunung Muria dianggap sebagai gunung yang penuh mistis, sehingga menjadi perhatian para tokoh spiritual tingkat tinggi dunia dan menjadi bahan kajian para ilmuwan, cendekiawan, serta aktivis perdamaian dunia. Dari beberapa kajian yang dilakukan oleh para ilmuwan Gunung Muria secara tidak langsung mendapat predikat sebagai “Gunung Perdamaian” karena di Gunung Muria menjadi sumberilmu dan dipercaya dapat menjadi roh untuk mempersatukan seluruh umat manusia yang pada waktu itu menganut kepercayaan yang berbeda. Sehingga Gong Perdamaian Dunia dijadikan sebagai sarana untuk menyatukan umat manusia diseluruh muka bumi. Gong Perdamaian Dunia mulai dicanangkan pasca musibah Bom Bali 1 akhir tahun 2002 oleh Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani, bersama dengan Gde Sumarjaya Linggih (anggota DPR RI) didukung Edi Darnadi dan Heru Lelono. Gong Perdamaian Dunia ini dibunyikan pertama kali oleh Presiden dan Wakil Prem siden di Bali pada 31 Desember 2002 tepat pukul 00.00 WITA dihadapan seluruh tokoh bangsa, untuk memperingati “ 2003 sebagai tahun Perdamaian Indonesia”. Gong Perdamaian Dunia juga dibunyikan untuk membuka beberapa acara tertentu seperti “ Second Global Summit On World Peace” oleh Sekjen PBB di GenevaSwiss (Eropa) pada 5 Februari 2003 yang diikuti oleh para tokoh dunia dari 179 negara, “PATA Conference” yang dibunyikan oleh Presiden RI pada 14 April 2003 di Bali, “Borobudur International Festival” yang juga dibunyikan oleh Presiden RI pada 14 Juni 2003 di Magelang Jawa Tengah, dan selanjutnya GPD juga dibawa keliling dunia guna menggemakan pesan tentang adanya perdamaian bagi umat manusia diseluruh muka Bumi. Maka dari itu GPD juga di bangun berbagai penjuru dunia.
SEJARAH BARATAN JEPARA Baratan berasal dari bahasa Arab, barakah yang berarti keberkahan atau bara’ah berarti keselamatan, seperti dikutip dari Tribun Muria. Maknanya adalah masyarakat memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah SWT menjelang Ramadhan. Mengutip dari Tourism Information Center (TIC) Jepara, ada kisah yang melatarbelakangi kirab baratan. Kala itu, Sultan Hadirin yang merupakan suami Ratu Kalinyamat meninggal saat berperang melawan Aryo Penangsang. Kemudian, Ratu Kalinyamat membawa jenazah suaminya pulang ke Jepara dengan dikawal prajurit dan dayang-dayang. Arak-arakan tersebut yang melatarbelakangi tradisi kirab baratan sekarang. Rombongan Ratu Kalinyamat melintas pada malam hari, sehingga masyarakat yang ingin menyaksikan dan menyambut rombongan Ratu Kalinyamat harus membawa obor. SEJARAH LARUNGAN JEPARA Konon menurut cerita tutur pada saat Adipati Citrosomo VII berkuasa, pada tahun 1855 ada dua pejabat kadipaten Jepara yang akan ke Karimunjawa. Mereka naik perahu dari Teluk Jepara. Namun setelah berlayar beberapa waktu, datang badai yang sangat besar yang membuat perahu mereka terombang-ambing.Beruntung Ki Ronggo Mulyo dan Encik Lanang mengetahui peristiwa tersebut dan keduanya segera memberikan pertolongan hingga kedua pejabat tersebut berhasil diselamatkan dari amukan badai. Dari peristiwa itu, kemudian pejabat kadipaten yang hampir tenggelam dan kedua tokoh dari Teluk Jepara dan Pulau Bokor yaitu Ki Ronggo Mulyo dan Encik Lanang, mulai membuat sesaji kepala kerbau. Juga menggelar pertunjukan wayang sebagai ucapan syukur dan kegembiraan. Tentu dengan ijin Adipati Jepara Citrosomo VII.
SEJARAH PERANG OBOR JEPARA Upacara ini didasarkan atas legenda Ki Gemblong yang dipercaya oleh Kyai Babadan untuk merawat dan menggembalakan ternaknya. Namun karena terlena dengan ikan dan udang di sungai, ternak tersebut terlupakan sehingga sakit atau mati. Kyai Babadan yang tidak terima dengan kelalaian Ki Gemblong, memukul Ki Gemblong dengan obor dari pelapah kelapa. Akibatnya ia menggunakan obor serupa untuk membela diri. Tanpa diduga, benturan kedua obor menyebarkan api di tumpukan jerami di sebelah kandang. Ternak yang awalnya sakit tiba-tiba menjadi sembuh.[4] Kepercayaan terhadap api obor yang mampu mendatangkan kesehatan dan menolak bala inilah yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan upacara Perang Obor SEJARAH TRADISI “NYUMPET” DI MASYARAKAT SEKURO KAB. JEPARA bahwa saat ini, kelompok suku bangsa banyak memusatkan kajiannya pada masyarakat perkotaan dan kehidupan sosial dari dampak pembangunan yang dianggap tidak merata. Kajian mengenai masyarakat terasing, terutama dalam bidang antropologi dan etnografi, telah memberikan kontribusi di pedesaan sebagai akibat yang berharga. Keunggulan kajian tersebut terletak pada pemahaman mendalam tentang keyakinan dan pandangan hidup masyarakat. Studi lapangan mengenai budaya nyumpet juga menjadi topik yang menarik untuk diteliti meskipun membutuhkan usaha yang melelahkan untuk mendapatkan data yang akurat. Desa Sekuro, yang terletak di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, menjadi contoh studi tersebut. Kabupaten Jepara terkenal sebagai kota ukir dengan banyak pengrajin ukiran yang terkenal hingga ke mancanegara. Desa Sekuro sendiri terletak di antara kecamatan Bangsri di sebelah timur, Laut Jawa di sebelah barat, desa Srobyong kecamatan Mlonggo di sebelah utara, dan kecamatan Pakisaji di sebelah selatan yang memiliki pemandangan sawah yang indah. Kecamatan Mlonggo juga mengelola beberapa desa lainnya, seperti Jambu Barat, Jambu Timur, Karanggondang, Mororejo, Sinanggul, Srobyong, dan Suwawal. Desa Sekuro merupakan daerah yang terletak di luar wilayah persawahan yang subur, terdiri dari dataran dan terhubung dengan laut. Desa ini menjadi salah satu
pusat industri furniture dengan lebih dari 600 kepala keluarga yang sebagian besar bekerja sebagai pengrajin atau tukang kayu. Selain itu, mata pencaharian lain di desa ini meliputi petani, buruh tani, PNS, dan pedagang. Fasilitas transportasi dan jalan yang baik, seperti jalur Jepara-Pati yang beraspal halus dan angkutan desa, mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat. Di bagian selatan desa Sekuro, terdapat sungai yang mengalir dari Gunung Muria dan sistem irigasi klasik berupa selokan digunakan untuk mengairi sawah-sawah di sekitar desa. Profesi sebagai tukang kayu banyak ditekuni oleh masyarakat desa ini, dan mereka biasanya memiliki usaha furniture sendiri atau bekerja untuk pengusaha mebel. Namun, masa krisis ekonomi mengakibatkan banyak pengusaha mebel kecil gulung tikar, sementara pengusaha besar masih dapat bertahan. Masyarakat Sekuro juga memiliki kecakapan dalam pembuatan ukiran Jepara, yangdiajarkan di sekolahsekolah kejuruan setempat. Pada masa krisis ekonomi, masyarakat Sekuro memiliki mata pencaharian yang mapan karena nilai tukar rupiah yang melemah dan aktivitas perekonomian di Jepara yang menggunakan standar dolar. Banyak rumah di desa ini memiliki gudang untuk menyimpan barang hasil kerajinan yang diekspor ke luar negeri. Namun, akibat anjloknya nilai dolar dan kelangkaan bahan baku, banyak usaha mebel di desa Sekuro yang mengalami kegagalan. Di desa Sekuro, terdapat pula adat kebiasaan "menyumbang" yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Kewajibn menyumbang ini melibatkan partisipasi warga dalam memberikan sumbangan dalam acara-acara seperti pernikahan, sunatan, dan kelahiran bayi untuk saudara, teman, dan tetangga tanpa pamrih. Adat ini dianggap lebih penting daripada kebutuhan individu. Sebelum munculnya kebiasaan hutang piutang, adat menyumbang ini menjadi bagian dari acara syukuran atau perayaan di desa Sekuro. Dalam kehidupan masyarakat desa Sekuro, terdapat pemikiran yang populer bahwa "besar pasak dari pada tiang" ketika menghadapi realitas hidup yang sulit. Salah satu contohnya adalah ketika ada acara perkawinan di desa tersebut. Pada acara khitanan, tata upacara yang dilakukan sama persis dengan pola upacara pernikahan. Hal ini mengimplikasikan adanya tata cara yang harus dilakukan oleh pihak yang menyelenggarakan acara. Dalam konteks ini, menjelaskan mengenai adat istiadat yang dilakukan seminggu sebelum acara pernikahan atau khitanan yang disebut "nyumpet". Kegiatan "nyumpet" ini dilakukan untuk memberikan kelancaran dalam pelaksanaan acara, mulai dari awal hingga selesai. Tradisi "nyumpet" memiliki makna melindungi, menutupi, merapati, dan memagari. Hal ini serupa dengan tradisi Aceh yang disebut "Peusijuek", yang memiliki makna filosofis dalam memohon doa, keselamatan, kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan dalam kehidupan. Dalam kegiatan pernikahan dan khitanan, tradisi "nyumpet" ini terkait dengan agama atau kepercayaan yang dilakukan. Tujuannya adalah untuk memohon berkah dan perlindungan dari gangguan dan musibah, baik yang terlihat secara kasat mata maupun yang dapat dihindari secara fisik.Dengan demikian, tradisi "nyumpet" menjadi bagian yang penting dalam pelaksanaan acara perkawinan dan khitanan di desa Sekuro. Nyumpet" atau "selametan" dilakukan sebagai persiapan menjelang pelaksanaan prosesi pernikahan atau khitanan, yaitu sekitar 7 hari sebelumnya. Tujuan dari
nyumpet ini adalah untuk menolak segala gangguan baik yang bersifat metafisik maupun non-metafisik (seperti kepercayaan terhadap genderuwo, memedi, lelembut, demit, atau hal-hal seperti lowo kalong, sukmo nglemboro, kucing, babi ngepet, kilah agar jrangkong, wewe gombel, wujung-wujung (pocong)), yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang dan dapat mengganggu kelancaran prosesi pernikahan atau khitanan. Untuk melaksanakan prosesi nyumpet, diperlukan seseorang yang mampu menjalankan upacara tersebut, seperti orang tua yang dihormati atau orang yang memiliki pengetahuan spiritual. Salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam nyumpet adalah mbah kawak, yang dianggap sebagai roh pelindung desa Sekuro dan memiliki peran dalam pendirian desa tersebut. Prosesi nyumpet dimulai dengan doa-doa yang dikemas dalam acara slametan. Slametan merupakan bentuk permohonan ijin kepada danyang (roh pelindung) agar membantu kelancaran acara dan permohonan agar dapat dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mbah kawak adalah danyang dari desa Sekuro yang pertama kali membuka hutan untuk mendirikan desa dan membagi wilayahnya kepada pengikut, keluarga, teman-temannya, dan dirinya sendiri sebagai lurah desa. Selanjutnya, doa-doa untuk danyang dibacakan saat nyumpet dan ngrasulake. Ngrasulake adalah mengirim doa kepada para rasul, para nabi, sahabat, tabiin, dan leluhur. Nyumpet dilakukan oleh tokoh spiritual atau orang yang dihormati. Tempat khusus disiapkan untuk membacakan doa-doa dan perlengkapan ritual seperti dupa, bubur abang, bubur putih, jadah, paso kekep, dan lainnya. Ruangan tersebut tidak boleh diakses oleh orang lain kecuali sang pemilik hajat. Paso ditutup setelah diberi doa, dan kemudian dibuka lagi menjelang satu hari sebelum pesta dimulai, pada saat malam melek pasian (malam sebelum acara dilaksanakan). Pada saat membuka paso, carang dan lawe yang diikatkan pada carang diambil dari kamar dan ditancapkan di belakang rumah di tempat terbuka tanpa halangan. Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan atau menolak datangnya hujan. Selain itu, dilakukan pula kirim nduwo atau kirim doa kepada ahli kubur shohibul hajat pada malam melek pasian. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengirimkan doa kepada para ahli kubur dan memohon keberkahan dalam pelaksanaan pesta esok hari. Dengan demikian, nyumpet atau selametan merupakan serangkaian ritual yang dilakukan sebagai persiapan menjelang acara pernikahan atau khitanan. Tujuannya adalah untuk menolak gangguan-gangguan baik secara metafisik maupun nonmetafisik serta memohon kelancaran dan keberkahan dalam pelaksanaan acara tersebut. Setelah acara pesta selesai, ritual ditutup dengan "selamatan sepasar" yang dilakukan pada hari tertentu dalam kalender hitungan Jawa. Selamatan ini melibatkan perlengkapan seperti jajan pasar, bubur merah putih, ingkung, dan nasi golong. Undangan diberikan kepada tetangga terdekat dengan tujuan untuk bersyukur atas keberhasilan hajat dan sebagai selamatan penutup. Namun, saat ini tradisi ini mulai mengalami perubahan dan tidak semua rumah melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan tersebut secara lengkap, terutama bagi mereka yang ekonominya terbatas. Kadang-kadang hanya dilakukan selamatan malam sebelum acara pernikahan atau khitanan. Oleh karena itu, pada era milenial
saat ini, penting untuk memiliki pengetahuan mengenai kebiasaan-kebiasaan yang ada di setiap desa. Perkembangan tradisi masyarakat Jawa telah mengalami perubahan yang drastis. Dengan masuknya budaya Islam ke dalam budaya atau tradisi lokal yang sebelumnya menganut budaya Hindu, unsur-unsur Islam secara perlahan dimasukkan ke dalam upacara adat, terutama pada doa-doa yang menyertai upacara tersebut. Fungsi dan esensi dari upacara tradisi Jawa dalam masyarakat juga telah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan globalisasi. Dalam perkembangannya, kegiatan yang sebelumnya runtut dan padat dalam upacara tradisi mulai disederhanakan. Perlengkapan dan tata cara dilakukan secara lebih ringkas. Namun, upacara tradisi ini masih tetap memiliki peran dalam menjalin hubungan sosial kemasyarakatan dan kekeluargaan. Mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Jawa, terutama budaya Nyumpet, dapat diorientasikan pada prinsip rukun, hormat, sopan santun, sikap religius, inisiatif, dan kreativitas di tengah-tengah masyarakat modern saat ini. Hal ini dapat mewujudkan cita-cita dalam membumikan budaya dan menghadapi era revolusi ini.