The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by suwarnoarieska48, 2021-09-24 06:00:12

Belajar abdroid studio dari awal menggunakan bahasa kotlin

layout dan webview

PERANGKAT MENGAJAR

PEMROGRAMAN WEB DAN
PERANGKAT BERGERAK (XII)
ANDROID STUDIO

SMK NEGERI 1 TAPEN
TP 2021/2022

Oleh : SUWARNO ARIESKA, S.Pd

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR
DINAS PENDIDIKAN

SMK NEGERI 1 TAPEN

Jalan Raya Kawah Ijen No 99 – Jurangsapi, Tapen

BONDOWOSO

DASAR – DASAR ANDROID

A. Teori Singkat

1. Pengertian Android dan sejarah Android

Android adalah sebuah sistem operasi untuk perangkat mobile berbasis
linux yang mencakup sistem operasi, middleware dan aplikasi. (NazruddinSafaat
H, 2012:1)

Menurut Akhmad Dharma Kasman (2016:2), “Android adalah sebuah
sistem operasi telepon seluler dan komputer tablet layar sentuh (touchscreen)
yang berbasis linux.”

Namun seiring perkembangannya, android berubah menjadi platform
yang begitu cepat dalam malakukan inovasi. Hal ini tidak lepas dari pengembang
utama dibelakangnya yaitu Google. Google-lah yang mengakusisi android,
kemudian membuatkan sebuah platform.

Platform android terdiri dari sistem operasi berbasis linux, sebuah GUI
(Graphic User Interface), sebuah web browser dan aplikasi end-user yang dapat
di download dan juga para pengembang bisa dengan leluasa berkarya serta
menciptakan aplikasi yang terbaik dan terbuka untuk digunakan oleh berbagai
macam perangkat.

Pada awalnya, Android Inc. merupakan sebuah perusahaan software
kecil yang didirikan pada bulan Oktober 2003 di Palo Alto, California, USA.
Didirikan oleh beberapa senior di beberapa perusahaan yang berbasis IT &
Communication; Andy, Rubin, Rich Miner, Nick Sears dan Chris White. Menurut
Rubin, Android Inc. didirikan untuk mewujudkan mobile device yang lebih peka
terhadap lokasi dan preferensi pemilik. Dengan kata lain, Android Inc. ingin
mewujudkan mobile device yang lebih mengerti pemiliknya.

Konsep yang dimiliki Android Inc. ternyata menggugah minat Google
untuk memilikinya. Pada bulan Agustus 2005, akhirnya Android Inc. di akuisisi
oleh Google Inc. seluruh sahamnya dibeli oleh Google. Saat ini terdapat dua

jenis distributor sistem operasi bagi mobile phone di dunia. Pertama yang
mendapat dukungan penuh dari Google atau Google Mail Service (GMS) dan
yang kedua adalah yang benar-benar bebas distribusinya tanpa dukungan
langsung dari Google atau dikenal dengan Open Handset Distribution (OHD).
Sistem operasi ini membuka pintu untuk para developer untuk mengembangkan
software ini dengan Android SDK (Software Development Kit), yang
menyediakan tool dan API yang dibutuhkan untuk memulai mengembangkan
aplikasi pada platform android menggunakan pemrograman java.

Pada bulan September 2007, Google mulai mengajukan hak paten
aplikasi telepon seluler. Disusul dengan dikenalkannya perangkat seluler
android yang pertama pada tahun 2008, yaitu HTC Dream yang menggunakan
android versi 1.0.

Hadirnya HTC Dream telah mendorong perusahaan-perusahaan
perangkat keras lainnya untuk ikut menggunakan sistem operasi android.
kemudian pada tahun 2008 terdapat beberapa perusahaan yang ikut bergabung
dalam Android Arm Holdings, yaitu Atheros Communications diproduksi oleh
Asustek Computer Inc, Garmin Ltd, Softbank, Sony Ericsson, Toshiba Corp,
dan Vodafone Group Plc.

Saat ini, sistem operasi android menjadi pilihan yang menguntungkan
bagi banyak vendor smartphone, karena memiliki biaya lisensi yang lebih murah
dan sifatnya yang semi-open source. Selain itu, Android tentunya juga akan
support dengan berbagai layanan dari Google.

2. Perkembangan Versi OS Android

Keunikan dari nama sistem operasi (OS) android adalah dengan
menggunakan nama makanan hidangan penutup (dessert). Selain itu juga nama-
nama OS android memiliki huruf awal berurutan sesuai abjad.

Perkembangan versi android menurut Alfa Satyaputra dan Eva Maulina
Aritonang (2016) adalah sebagai berikut:

a. Android 1.0 Apple Pie

Telah dirilis setelah versi android beta dan menjadi versi komersial pertama
yang hadir untuk para konsumen. Diantara fitur yang menjadi Andalan saat itu
adalah:

a. Android Market. Para pengguna bisa memanfaatkan aplikasi- aplikasi
yang ada di web itu dengan men-download atau meng- upgrade. Banyak
sekali aplikasi termasuk game android yang boleh diunduh secara gratis.

b. Kamera. Tetapi belum ada fasilitas yang lengkap untuk membuat hasil
kamera itu maksimal, seperti resolusi, kualitas gambar, kejernihan, dan
lainnya.

c. Shortcut icon. Dengan itu, pengguna bisa dengan mudah masuk ke
aplikasi, pesan, telepon atau yang lain karena bisa diletakkan pada
homescreen.

b. Android 1.1 Banana Bread

Android 1.1 dirilis pada tanggal 9 Februari 2009 yang memiliki kode nama
Banana bread serta ukuran layar 320×480 HVA.

c. Android 1.5 Cupcake

Versi ini mulai memakai nama-nama makanan agar mudah diingat.

Di antara fitur yang diperbaharui adalah:

a. Dapat merekam sekaligus memutar video berekstensi MPEG-4serta
3GP.

b. Dapat meng-copy dan paste tulisan saat membuka blog atauwebsite.

c. Bisa menambahkan foto di kontak favorite.

d. Layar dilengkapi dengan animasi-animasi.

e. Layar dapat berputar secara otomatis.

d. Android 1.6 Donut
a. Terdapat history bookmark untuk kontak dan web. Ini akan mempermudah
jika pengguna ingin melihat web yang pernahpengguna buka.
b. Beberapa aplikasi dapat melafalkan teks.
c. Kamera, perekam video, serta galery sudah diperbaharui agar lebih
maksimal penggunaannya.

e. Android Éclair
a. Penambahan fitur bluetooth 2.1
b. Fitur pencarian SMS dan MMS yang disimpan dan SMS yangpaling lama
akan terhapus apabila mencapai batas yang ditentukan.
c. Keyboard virtual diperbaharui agar mudah untuk mengetik tulisan.
d. Penambahan Google Maps versi 3.1.2
e. Versi : Android 2.0 , Android 2.0.1 , dan Android 2.1

f. Android 2.2–2.2.3 Froyo
a. Pembaharuan terhadap kecepatan kinerja android.
b. Peningkatan peluncur aplikasi dengan jalan pintas ke telepon danaplikasi
penjelajah web.
c. Memperbaharui fitur USB tethering serta hotspot Wi-Fi.
d. Terdapat fitur upgrade otomatis pada Google Play.
e. Kontak dapat di-share memakai Bluetooth.
f. Penambahan aplikasi Adobe Flash.

g. Android Gingerbread
a. Akurasi terhadap keyboard virtual telah ditingkatkan. Ditambah lagi
dengan fitur input suara.
b. Fitur copy paste ditingkatkan untuk mempermudah penggunanya.

c. Download Manager, untuk mempermudah proses pengunduhan
beberapa aplikasi termasuk game android.

d. Versi : Android 2.3 – 2.3.2 , Android 2.3.3 – 2.3.7
h. Android Honeycomb

a. Penambahan system bar yang berfungsi untuk mempercepat
pemberitahuan, status, serta tombol navigasi.

b. Fitur untuk melihat aplikasi yang sedang berjalan.
c. Galery baru bisa melihat foto-foto dengan fullscreen
d. Aplikasi Google Talk. Berfungsi sebagai obrolan.
e. Versi : Android 3.0 , Android 3.1 , dan Android 3.2
i. Android Ice Cream Sandwich
a. Membuat folder lebih gampang karena cukup dengan drag dan drop.
b. Tambahan web browser bawaan dari chrome. Dapat membukalaman

sampai 16 tab.
c. Beberapa huruf baru telah ditambahkan.
d. Data internet bisa dibatasi sesuai keinginan. Internet akan matiapabila

mencapai batas tersebut.
e. Versi : Android 4.0 -4.0.2 , dan Android 4.0.3 – 4.0.4
j. Android Jelly Bean
a. Akses lebih cepat.
b. Dapat mematikan pemberitahuan pada aplikasi tertentu
c. Shortcut serta widget dapat disusun ulang atau diubah ukurannya sesuai

keinginan.
d. Aplikasi pada kamera ditambah.
e. Dapat menambahkan widget aplikasi tanpa harus root terlebih dulu.

f. Versi : Android 4.1 , Android 4.2 , dan Android 4.3
k. Android 4.4 KitKat

a. Status bar serta navigasi menjadi transparan pada homescreen.
b. Ilengkapi dengan Infrared
c. Akses API ditingkatkan.
d. Mode layar penuh diperbaharui
e. Tambahan BluetoothMessageAccessProfile.
l. Android 5.0 Lollipop
a. Sistem keamanan lollipop dijalankan diatas sistem Linux.
b. Tampilan lebih berwarna dan responsif.
c. Menawarkan fitur priority yang fungsinya tidak kalah dengan fiturApple Do

Not Disturb milik iPhone.
d. Lebih hemat baterai.
Selain itu, ada lagi kelanjutan dari versi OS android
m.Android 6.0 Marshmallow
Android versi 6.0 merupakan salah satu sistem operasi androidyang rilis pada
tahun 2015 silam, yang mana banyak membawa pembaharuan. Salah satunya
adalah support USB Type-C. Tidak hanya itu saja, android versi 6 ini serta
memberikan fasilitas autentikasi sidik jari dan daya baterai yang lebih
meningkat.
n. Android 7.0 Nougat
Android nougat versi 7.0 rilis pada bulan Agustus 2016 silam yang lebih
meningkatkan kinerja versi android sebelumnya. Selain itu, android nougat juga
mendapatkan banyak fitur-fitur baru yang diantaranya seperti dapat
multitasking, meningkatkan fitur Doze yang dulu telah rilis di android versi
sebelumnya. Fiturnya Support Multi Window, dapat langsung membalas pesan

dari jendela atau menu notifikasi, tampilan panel notifikasi dan quick settings
yang baru, mode doze yang ditingkatkan, (Doze Mode 2.0), serta menu di antara
system settings.

o. Android 8.0 Oreo
Android versi oreo rilis sebagai pada bulan Agustus 2017 lalu. Tentu saja android
versi ini adalah versi final untuk sekarang ini. Beberapa fitur juga turut
diluncurkan Google selaku pihak pengelola. Adapun fitur-fitur tersebut antara
lain adalah:
a. Android O lebih fokus pada kecepatan dan efisiensi
b. Kecepatan boot up 2X lebih cepat
c. Mode picture in picture lebih flexibel dari Android N
d. Aplikasi yang berjalan di latar belakang lebih diperketat untuk menghemat
battery
e. Battery lebih tahan lama
f. Emoji yang diperbaharui dan lebih banyak

3. Android Studio

Gambar 1. Logo Android Studio
Sumber: Trik Kolaborasi Android dengan PHP & MYSQL (Kasman, Akhmad

Darma:2016)

Android Studio adalah Integrated Development Environment (IDE) resmi untuk
pengembangan aplikasi Android, yang didasarkan pada IntelliJ IDEA . Selain sebagai
editor kode dan fitur developer IntelliJ yang andal, Android Studio menawarkan banyak
fitur yang meningkatkan produktivitas Anda dalam membuat aplikasi Android, seperti:

1. Sistem build berbasis Gradle yang fleksibel

2. Emulator yang cepat dan kaya fitur

3. Lingkungan terpadu tempat Anda bisa mengembangkan aplikasi untuk semua
perangkat Android

4. Terapkan Perubahan untuk melakukan push pada perubahan kode dan resource
ke aplikasi yang sedang berjalan tanpa memulai ulang aplikasi

5. Template kode dan integrasi GitHub untuk membantu Anda membuat fitur
aplikasi umum dan mengimpor kode sampel

6. Framework dan alat pengujian yang lengkap

7. Alat lint untuk merekam performa, kegunaan, kompatibilitas versi, dan masalah
lainnya

8. Dukungan C++ dan NDK

9. Dukungan bawaan untuk Google Cloud Platform, yang memudahkan integrasi
Google Cloud Messaging dan App Engine

Struktur proyek

Gambar 2. File project dalam tampilan Android.

Setiap project di Android Studio berisi satu atau beberapa modul dengan file kode
sumber dan file resource. Jenis modul meliputi:
1. Modul aplikasi Android

2. Modul library

3. Modul Google App Engine

Secara default, Android Studio menampilkan file project Anda dalam tampilan project
Android, seperti yang ditunjukkan pada gambar 1. Tampilan ini disusun menurut modul
untuk memberikan akses cepat ke file sumber utama project Anda.
Semua file build terlihat di tingkat teratas di bagian Gradle Script dan setiap modul
aplikasi berisi folder berikut:
1. manifes: Berisi file AndroidManifest.xml.

2. java: Berisi file kode sumber Java, termasuk kode pengujian JUnit.

3. res: Berisi semua resource non-kode, seperti tata letak XML, string UI, dan gambar
bitmap.

Struktur project Android pada disk berbeda dengan representasi tersatukan ini. Untuk
melihat struktur file project sebenarnya, pilih Project dari menu drop-
down Project (pada gambar 1, ditampilkan sebagai Android).
Anda juga dapat menyesuaikan tampilan file project untuk berfokus pada aspek spesifik
dari pengembangan aplikasi Anda. Misalnya, memilih tampilan Problems pada project
Anda akan menampilkan link ke file sumber yang berisi error coding dan sintaksis yang
dikenali, seperti tag penutup elemen XML yang tidak ada dalam file tata letak.

Gambar 3. File project dalam tampilan Problems, menunjukkan file tata letak yang
memiliki masalah.

Antarmuka Pengguna
Jendela utama Android Studio terdiri dari beberapa area logis yang diidentifikasi dalam
gambar 3.

Gambar 4. Jendela utama Android Studio.
1. Toolbar memungkinkan Anda melakukan berbagai tindakan, termasuk menjalankan

aplikasi dan meluncurkan alat Android.

2. Menu navigasi membantu Anda menjelajah project dan membuka file untuk diedit.
Menu ini memberikan tampilan struktur yang lebih ringkas yang terlihat di
jendela Project.

3. Jendela editor adalah tempat Anda membuat dan memodifikasi kode. Bergantung
pada jenis file yang ada, editor ini dapat berubah. Misalnya, saat menampilkan file
tata letak, editor akan menampilkan Layout Editor.

4. Panel jendela fitur berada di sisi luar jendela IDE dan berisi tombol-tombol yang
memungkinkan Anda memperluas atau menciutkan setiap jendela fitur.

5. Jendela fitur memberi Anda akses ke tugas tertentu seperti pengelolaan project,
penelusuran, kontrol versi, dan lainnya. Anda dapat memperluas dan menciutkan
jendela ini.

6. Status bar menampilkan status project Anda dan IDE itu sendiri, serta semua
peringatan atau pesan.

Anda dapat mengatur jendela utama untuk memperluas ruang layar dengan
menyembunyikan atau memindahkan toolbar dan jendela alat. Anda juga dapat
menggunakan pintasan keyboard untuk mengakses sebagian besar fitur IDE.
Anda dapat menelusuri kode sumber, database, tindakan, elemen antarmuka
pengguna, dan sebagainya kapan saja, dengan menekan tombol Shift dua kali, atau
mengklik kaca pembesar di sudut kanan atas jendela Android Studio. Tips ini sangat
berguna jika, misalnya, Anda mencoba menemukan tindakan IDE tertentu yang Anda
lupa cara memicunya.
Jendela alat

Sebagai ganti menggunakan perspektif preset, Android Studio mengikuti konteks Anda
dan otomatis menampilkan jendela alat yang relevan saat Anda bekerja. Secara default,
jendela alat yang paling umum digunakan disematkan ke kolom jendela fitur di tepi
jendela aplikasi.
1. Untuk memperluas atau menciutkan jendela alat, klik nama alat di kolom jendela alat.

Anda juga dapat menarik, menyematkan, melepaskan sematan, memasang, dan
melepas jendela fitur.

2. Untuk kembali ke tata letak jendela alat default saat ini, klik Window > Restore
Default Layout atau sesuaikan tata letak default dengan mengklik Window > Store
Current Layout as Default.

3. Untuk menampilkan atau menyembunyikan seluruh kolom jendela alat, klik ikon
jendela di pojok kiri bawah jendela Android Studio.

4. Untuk menemukan jendela alat tertentu, arahkan kursor ke atas ikon jendela dan
pilih jendela alat tersebut dari menu.

Anda juga bisa menggunakan pintasan keyboard untuk membuka jendela alat. Tabel 1
mencantumkan pintasan jendela paling umum.

Tabel 1. Pintasan keyboard ke beberapa jendela alat yang berguna.

Jendela alat Windows dan Linux MAC

Project Alt+1 Command +1

Control versi Alt+9 Command + 9

Run Shift+F10 Control + R

Debug Shift+F9 Control + D

Logcat Alt+6 Command + 6

Kembali ke Editor Esc Esc

Menyembunyikan semua jendela Control + Shift + F12 Command + Shift + F12

Alat

Jika Anda ingin menyembunyikan semua toolbar, jendela alat, dan tab editor, klik View
> Enter Distraction Free Mode. Langkah ini akan mengaktifkan Distraction Free Mode.
Untuk keluar dari Distraction Free Mode, klik View > Exit Distraction Free Mode.
Anda dapat menggunakan Speed Search untuk menelusuri dan memfilter di dalam
sebagian besar jendela alat di Android Studio. Untuk menggunakan Speed Search, pilih
jendela alat, lalu ketik kueri penelusuran Anda.
Pelengkapan kode

Android Studio memiliki tiga jenis pelengkapan kode, yang dapat Anda akses
menggunakan pintasan keyboard.

Tabel 2. Pintasan keyboard untuk pelengkapan kode.

Jenis Deskripsi Windows dan Mac
Linux

Basic Menampilkan saran dasar untuk variabel, jenis, Control+Spasi Control+Spasi

Completion metode, ekspresi, dan sebagainya. Jika

memanggil Basic Completion dua kali berturut-

turut, Anda akan melihat lebih banyak hasil,

termasuk anggota pribadi dan anggota statis

yang tidak diimpor.

Smart Menampilkan opsi yang relevan berdasarkan Control+Shift Control+Shift

Completion konteks. Smart Completion mengetahui jenis +Spasi + Spasi

dan alur data yang diharapkan. Jika Anda

memanggil Smart Completion dua kali

berturut-turut, Anda akan melihat lebih banyak

hasil, termasuk chain.

Statement Melengkapi pernyataan saat ini secara Control+Shift Shift+Comma

Completion otomatis, seperti menambahkan tanda kurung, +Enter nd+Enter

tanda kurung siku, tanda kurung kurawal,

pemformatan, dll. yang tidak lengkap.

Anda juga dapat melakukan perbaikan cepat dan menampilkan tindakan maksud
dengan menekan Alt+Enter.

Menemukan kode contoh
Browser Contoh Kode di Android Studio membantu Anda menemukan contoh kode
Android berkualitas tinggi yang disediakan Google berdasarkan simbol yang saat ini
ditandai dalam project Anda.

Navigasi
Berikut ini beberapa tips untuk membantu Anda menjelajah di dalam Android Studio.

1. Beralih antar file yang baru saja diakses menggunakan tindakan Recent Files.
Tekan Control+E (Command+E pada Mac) untuk memunculkan tindakan Recent Files.
Secara default, file yang terakhir diakses akan dipilih. Anda juga dapat mengakses
jendela alat mana saja melalui kolom kiri dalam tindakan ini.

2. Lihat struktur file saat ini menggunakan tindakan File Structure. Munculkan tindakan File
Structure dengan menekan Control+F12 (Command+F12 pada Mac). Dengan tindakan
ini, Anda dapat membuka bagian mana pun dari file saat ini dengan cepat.

3. Telusuri dan buka class tertentu dalam project menggunakan tindakan Navigate to
Class. Munculkan tindakan ini dengan menekan Control+N (Command+O pada Mac).

Navigate to Class mendukung ekspresi canggih, termasuk camel humps, jalur, baris
navigasi ke, pencocokan nama tengah, dan banyak lagi. Jika Anda memanggilnya dua
kali berturut-turut, hasil dari class project akan ditampilkan.

4. Buka file atau folder menggunakan tindakan Navigate to File. Munculkan tindakan
Navigate to File dengan menekan Control+Shift+N (Command+Shift+O pada Mac).
Untuk menelusuri folder, bukan file, tambahkan / (garis miring) di akhir ekspresi Anda.

5. Buka metode atau kolom menurut nama menggunakan tindakan Navigate to Symbol.
Munculkan tindakan Navigate to Symbol dengan
menekan Control+Shift+Alt+N (Command+Option+O pada Mac).

6. Temukan semua bagian kode yang merujuk ke class, metode, kolom, parameter, atau
pernyataan di posisi kursor saat ini dengan menekan Alt+F7 (Option+F7 pada Mac).

Gaya dan pemformatan

Saat Anda mengedit, Android Studio otomatis menerapkan pemformatan dan gaya

seperti yang ditentukan dalam setelan gaya kode Anda. Anda dapat menyesuaikan setelan

gaya kode menurut bahasa pemrograman, termasuk menentukan konvensi untuk tab dan

indentasi, spasi, penggabungan, tanda kurung kurawal, dan baris kosong. Untuk

menyesuaikan setelan gaya kode Anda, klik File > Settings > Editor > Code Style (Android

Studio > Preferences > Editor > Code Style pada Mac.)

Meskipun IDE otomatis menerapkan pemformatan selagi Anda bekerja, Anda juga bisa

memanggil tindakan Reformat Code secara eksplisit dengan

menekan Control+Alt+L (Opt+Command+L pada Mac), atau otomatis mengindentasi

semua baris dengan menekan Control+Alt+I (Control+Option+I pada Mac).

Gambar 5. Kode sebelum pemformatan.

Gambar 6. Kode setelah pemformatan.
Dasar-dasar kontrol versi

Android Studio mendukung berbagai sistem kontrol versi (VCS), termasuk Git, GitHub,
CVS, Mercurial, Subversion, dan Google Cloud Source Repositories.
Setelah mengimpor aplikasi Anda ke Android Studio, gunakan opsi menu VCS pada
Android Studio untuk mengaktifkan dukungan VCS bagi sistem kontrol versi yang
diinginkan, membuat repositori, mengimpor file baru ke kontrol versi, dan menjalankan
operasi kontrol versi lainnya:
1. Dari menu VCS Android Studio, klik Enable Version Control Integration.

2. Dari menu drop-down, pilih sistem kontrol versi yang ingin dikaitkan dengan root
project, lalu klik OK.

Menu VCS sekarang menampilkan sejumlah opsi kontrol versi berdasarkan sistem yang
Anda pilih.
Catatan: Anda juga dapat menggunakan opsi menu File > Settings > Version
Control untuk menyiapkan dan mengubah setelan kontrol versi.
Sistem build Gradle

Android Studio menggunakan Gradle sebagai dasar dari sistem build, dengan lebih banyak
kemampuan khusus Android yang disediakan oleh plugin Android untuk Gradle. Sistem
build ini berjalan sebagai alat terintegrasi dari menu Android Studio, dan terpisah dari
command line. Anda dapat menggunakan fitur-fitur sistem build untuk:
1. Menyesuaikan, mengonfigurasi, dan memperluas proses build.

2. Membuat banyak APK untuk aplikasi Anda, dengan berbagai fitur yang menggunakan
project dan modul yang sama.

3. Menggunakan kembali kode dan resource di seluruh set sumber.

Berkat fleksibilitas Gradle, Anda dapat mencapai semua ini tanpa mengubah file sumber
inti aplikasi Anda. File build Android Studio diberi nama build.gradle. File tersebut adalah
file teks biasa yang menggunakan sintaksis Groovy untuk mengonfigurasi build dengan
elemen yang disediakan oleh plugin Android untuk Gradle. Setiap project memiliki satu
file build tingkat atas untuk seluruh project dan file build tingkat modul terpisah untuk
setiap modul. Saat Anda mengimpor project yang ada, Android Studio akan otomatis
menghasilkan file build yang diperlukan.
Varian build

Sistem build dapat membantu Anda membuat beberapa versi berbeda untuk aplikasi yang
sama dari satu project. Hal ini berguna saat Anda menyediakan aplikasi dalam versi gratis
dan berbayar, atau jika Anda ingin mendistribusikan beberapa APK untuk berbagai
konfigurasi perangkat di Google Play.
Dukungan multi-APK

Dukungan multi-APK memungkinkan Anda membuat beberapa APK sekaligus secara
efisien berdasarkan kepadatan layar atau ABI. Misalnya, Anda dapat membuat APK
aplikasi terpisah untuk kepadatan layar hdpi dan mdpi, dengan tetap menganggapnya
sebagai varian tunggal serta mengizinkannya berbagi setelan APK pengujian, javac, dx, dan
ProGuard.
Penyingkatan resource

Penyingkatan resource di Android Studio otomatis menghapus resource yang tidak
digunakan dari aplikasi terpaket dan dependensi library Anda. Misalnya, jika aplikasi Anda
menggunakan layanan Google Play untuk mengakses fungsi Google Drive, dan saat ini
Anda tidak menggunakan Login dengan Google, penyingkatan resource dapat menghapus
beragam aset drawable untuk tombol SignInButton.
Catatan: Penyingkatan resource bekerja bersamaan dengan alat penyingkatan kode,
seperti ProGuard.
Mengelola dependensi

Dependensi untuk proyek Anda ditetapkan menurut nama dalam file build.gradle. Gradle
menangani penemuan dependensi dan menyediakannya di build Anda. Anda dapat
mendeklarasikan dependensi modul, dependensi biner jarak jauh, dan dependensi biner
lokal dalam file build.gradle Anda. Android Studio mengonfigurasi project untuk

menggunakan Maven Central Repository secara default. (Konfigurasi ini disertakan dalam
file build level atas untuk project.)
Alat profil dan debug

Android Studio membantu Anda menjalankan proses debug dan meningkatkan performa
kode, termasuk proses debug inline dan alat analisis performa.
Proses debug inline

Gunakan proses debug inline untuk menyempurnakan panduan kode Anda dalam
tampilan debugger dengan verifikasi inline untuk referensi, ekspresi, dan nilai variabel.
Inline debug information includes:
1. Nilai variabel inline

2. Objek perujuk yang merujuk ke objek terpilih

3. Nilai yang dihasilkan metode

4. Ekspresi operator dan lambda

5. Nilai tooltip

Gambar 7. Nilai variabel inline.

Untuk mengaktifkan proses debug inline, di jendela Debug, klik Settings dan centang
kotak Show Values Inline.
Profiler performa

Android Studio menyediakan profiler performa agar Anda dapat melacak penggunaan
memori dan CPU aplikasi, menemukan objek yang batal dialokasikan, menemukan
kebocoran memori, mengoptimalkan performa grafis, dan menganalisis permintaan
jaringan dengan mudah. Saat aplikasi Anda berjalan di perangkat atau emulator, buka
tab Android Profiler.

Heap dump
Saat memprofilkan penggunaan memori di Android Studio, Anda dapat sekaligus memulai
pembersihan sampah memori dan membuang heap Java ke cuplikan heap dalam file
format biner HPROF khusus Android. Penampil HPROF akan menampilkan class, instance
setiap class, dan struktur referensi untuk membantu Anda melacak penggunaan memori
serta menemukan kebocoran memori.

Memory Profiler
Anda dapat menggunakan Memory Profiler untuk melacak alokasi memori dan melihat di
mana objek dialokasikan saat Anda melakukan tindakan tertentu. Dengan mengetahui
alokasi ini, Anda dapat mengoptimalkan performa dan penggunaan memori aplikasi
dengan menyesuaikan panggilan metode yang terkait dengan tindakan tersebut.

Akses file data
Android SDK Tools, seperti Systrace dan logcat, menghasilkan data performa dan proses
debug untuk analisis aplikasi secara mendetail. Untuk menampilkan file data yang
dihasilkan, buka jendela alat Captures. Pada daftar file yang dihasilkan, klik dua kali file
untuk melihat data.

Pemeriksaan kode
Setiap kali Anda mengompilasi program, Android Studio akan otomatis
menjalankan Lint yang telah dikonfigurasi dan pemeriksaan IDE lainnya untuk
memudahkan Anda mengidentifikasi serta memperbaiki masalah kualitas struktur kode
Anda.
Alat Lint memeriksa file sumber project Android Anda untuk menemukan potensi bug dan
peluang pengoptimalan guna mencapai ketepatan, keamanan, performa, kegunaan,
aksesibilitas, serta internasionalisasi.

Gambar 8. Hasil pemeriksaan Lint di Android Studio.

Selain pemeriksaan Lint, Android Studio juga menjalankan pemeriksaan kode IntelliJ dan
memvalidasi anotasi untuk menyederhanakan alur kerja coding Anda.
Anotasi di Android Studio

Android Studio mendukung anotasi variabel, parameter, dan nilai kembalian untuk
membantu Anda merekam bug, seperti pengecualian pointer null dan konflik jenis
resource. Android SDK Manager mengemas library Support-Annotations di Android
Support Repository untuk digunakan dengan Android Studio. Android Studio memvalidasi
anotasi yang sudah dikonfigurasi selama pemeriksaan kode.
Pesan log

Saat membuat dan menjalankan aplikasi dengan Android Studio, Anda dapat melihat
output adb dan pesan log perangkat di jendela Logcat.
Profiling performa

Jika Anda ingin memprofilkan performa CPU, memori, dan jaringan aplikasi, buka Android
Profiler, dengan mengklik View > Tool Windows > Android Profiler.
Login ke akun developer Anda

Anda dapat login ke akun developer Anda di Android Studio untuk mengakses alat
tambahan yang memerlukan autentikasi, seperti Cloud Tools for Android Studio dan alat
uji Tindakan Aplikasi. Dengan login, Anda memberikan izin pada alat tersebut untuk
melihat dan mengelola data di seluruh layanan Google.
Setelah membuka project di Android Studio, Anda dapat login ke akun developer atau
beralih akun developer, sebagai berikut:
1. Klik ikon profil di ujung toolbar, seperti yang ditunjukkan pada gambar 9.

Gambar 9. Klik ikon profil di ujung toolbar untuk login.

2. Pada jendela yang muncul, lakukan salah satu langkah berikut:
a. Jika Anda belum login, klik Sign In dan izinkan Android Studio untuk mengakses
layanan yang tercantum.

b. Jika Anda sudah login, klik Add Account untuk login dengan akun Google yang lain.
Atau, Anda dapat mengklik Sign Out dan mengulangi langkah-langkah sebelumnya
untuk login ke akun yang berbeda.

4. Android SDK (Software Development KIT)

Nazruddin Safaat H (2012) mengemukakan bahwa “Android SDK adalah
tools API (Application Programming Interface) yang diperlukan untuk mulai
mengembangkan aplikasi pada platform Android menggunakan bahasa
pemrograman Java.”

Android memberi kesempatan untuk membuat aplikasi yang dibutuhkan, namun
bukan merupakan aplikasi bawaan handphone/smartphone. Android SDK terdiri
dari debugger, libraries, handset emulator, dokumentasi, contoh kode, dan tutorial.
Saat ini Android sudah mendukung arsitektur x86 pada Linux (distribusi Linux
apapun untuk desktop modern), Mac OS X 10.4.8 atau lebih, Windows XP atau Vista.
Persyaratan mencakup JDK, Apache Ant dan Python 2.2 atau yang lebih baru. IDE
yang didukung secara resmi adalah Eclipse 3.2 atau lebih dengan menggunakan
plugin Android Development Tools (ADT), dengan ini pengembang dapat
menggunakan teks editor untuk mengedit file Java dan XML serta menggunakan
peralatan command line untuk menciptakan, membangun, melakukan debug
aplikasi Android dan pengendalian perangkat Android (misalnya, reboot,
menginstal paket perangkat lunak dengan jarak jauh).

5. Bahasa Pemrograman Kotlin

Kotlin merupakan Bahasa pemrograman open source yang mudah dipelajari oleh
siapapun. Ini bisa dilakukan berkat kejeniusan para developer yang dipimpin
langsung oleh Andrey Breslev. Selain mudah dipelajari, kotlin memungkinkan kita
untuk membuat program antar platform yang tentunya ini dapat mengurangi biaya
dalam pembuatan program itu sendiri. Kotlin mendukung dengan baik dan memiliki
beberapa kelebihan dalam mengembangkan aplikasi android seperti dibawah ini :

a. Compatibility

Kotlin sepenuhnya kompatibel dengan JDK 6. Ini memastikan bahwa aplikasi
yang dibangun dengan kotlin dapat berjalan pada perangkat android yang
lebih lama tanpa ada masalah . android studio pun mendukung penuh
pengembangan dengan Bahasa kotlin.

b. Performance

Dengan struktur bytecode yang sama dengan java, aplikasi yang dibangun
dengan kotlin dapat berjalan setara dengan aplikasi yang dibangun dengan
java. Terdapat juga fitur seperti inline function pada kotlin yang membuat
kode yang dituliskan dengan lambda bisa berjalan lebih cepat dibandingkan
kode yang sama dan dituliskan dengan java.

c. Interoperability

Semua library android yang tersedia, dapat digunakan pada kotlin.

d. Compilation time

Kotlin mendukung kompilasi incremental yang efisien. Oleh karena itu, proses
build biasanya sama atau lebih cepat dibandingkan dengan java.

e. Safe

Salah satu karakteristik kotlin yang sangat berguna dimana anda bisa
meminimalisir kesalahan NullPointerException.

6. Pengenalan Variable pada kotlin

Tidak seperti java, pedeklarasian variable pada kotlin harus menambahkan
property agar dapat diakses disemua class. Pada umumnya, variable pada Bahasa
pemrograman kotlin hanya dapat dideklarasikan didalam sebuah fungsi. Untuk
melakukan deklarasi variable diluar fungsi dibutuhkan beberapa property yang
dapat digunakan. Property tersebut adalah sebagai berikut :

a. Lateinit var : property ini digunakan untuk melakukan pendeklarasian variable
diluar fungsi (function). Variable yang memiliki property lateinit var tidak

memiliki nilai awal dan tidak ijinkan untuk memiliki nilai null. Apabila padad saat
run variable ini bernilai null, maka akan terjadi NPE (Null Pointer Exceptions).

b. Var adalah salah satu bentuk lain dalam pendeklarasian variable. Pada saat
menggunakan kata kunci var maka variable tersebut sudah harus memiliki nilai
awal dan dapat bernilai null.

c. Val : property merupakan bentuk lain property final yang ada pada bahasa
pemrograman java. Setiap variable dengan property val harus telah memiliki
nilai awal sesuai dengan tipe datanya (string, float, int dan lain sebagainya) atau
dapat bernilai null. Setiap variable yang dideklarasikan dengan val, nilainya
tidak dapat diubah karena sudah bersifat final.

7. Dasar-dasar alur kerja developer
Alur kerja untuk mengembangkan aplikasi untuk Android secara konseptual sama
dengan platform aplikasi lainnya. Namun, agar dapat membuat aplikasi yang didesain
dengan baik untuk Android, Anda memerlukan beberapa fitur khusus. Daftar berikut
memberikan ringkasan proses untuk membuat aplikasi Android dan menyertakan link
ke beberapa fitur Android Studio yang perlu Anda gunakan selama setiap tahap
pengembangan.

Gambar 10. Alur kerja developer
a. Siapkan ruang kerja Anda

Anda mungkin sudah menyelesaikan tahap ini: Instal Android Studio dan buat
project.
b. Tulis aplikasi Anda

Sekarang Anda dapat mulai bekerja. Android Studio menyertakan berbagai fitur dan
kecerdasan untuk membantu Anda bekerja lebih cepat, menulis kode yang
berkualitas, mendesain UI, dan membuat resource untuk berbagai jenis perangkat.
c. Buat dan jalankan

Selama tahap ini, Anda membuat project menjadi paket APK yang dapat di-debug
yang dapat Anda instal dan jalankan pada emulator atau perangkat yang
menjalankan Android.

d. Debug, profilkan, dan uji

Ini adalah tahap iteratif di mana Anda terus menulis aplikasi dengan fokus pada
menghilangkan bug dan mengoptimalkan performa aplikasi. Oleh karena itu,
membuat pengujian akan membantu Anda dalam hal ini.
e. Publikasikan

Setelah Anda siap merilis aplikasi kepada pengguna, ada beberapa hal lagi yang perlu
dipertimbangkan, seperti membuat versi aplikasi dan menandainya dengan kunci
8. Install android studio

Dalam menginstall android studio menggunakan dua Langkah utama , yaitu
1. Install SDK Android Studio
2. Setup Android Studio
Di bawah ini kami akan menjelaskan kedua langkah utama tersebut secara lengkap.
1. Install SDK Android Studio

SDK adalah seperangkat alat dan program perangkat lunak yang digunakan oleh
pengembang untuk membuat aplikasi untuk platform tertentu.
Sebelum menginstall SDK Android Studio, pastikan perangkat Anda terhubung ke
internet. Sebab akan ada proses download untuk komponen-komponen SDK Android
Studio. Berikut ini panduan install SDK Android Studio.
a. Install SDK Android Studio

Sebelumnya, Anda telah berhasil menginstall Android Studio. Buka aplikasi
tersebut dan ikuti instruksi instalasi SDK di bawah ini:
Pertama akan muncul halaman seperti pada gambar di bawah ini. Klik Next untuk
melanjutkan ke proses instalasi.

Gambar 11. Welcome to SDK android studio
b. Pilih Tipe Instalasi

Selanjutnya, pilih tipe instalasi. Anda akan diberikan dua pilihan, yaitu:
1. Standard: Untuk pilihan standard, Anda akan mendapatkan default

pengaturan dan instalasi tambahan dari Android Studio.
2. Custom: Untuk pilihan custom, Anda bisa memilih pengaturan dan

komponen tambahan yang Anda perlukan saja.
Pada tutorial ini kami akan memilih Custom agar aplikasi tambahan yang tidak
diinginkan tidak terinstall. Klik Next untuk melanjutkan instalasi.

Gambar 12. Pilih tipe SDK android studio

c. Pilih Tampilan Android Studio
Kemudian, pilih tema untuk tampilan di dashboard Android Studio. Ada dua
pilihan pada tema Android Studio, yaitu:
1. Darcula : Bertema warna Dark (Hitam)
2. Light : Bertema warna Light (Putih)
Di tutorial ini kami memilih tema Darcula. Lalu klik Next untuk melanjutkan.

Gambar 13. Tema tampilan daskboard SDK android studio.
d. Pilih Komponen SDK Tambahan

Langkah pemilihan komponen SDK ini hanya akan muncul kalau Anda memilih
tipe instalasi Custom. Jika memilih tipe instalasi Standard, Anda tidak akan
mendapatkan pilihan komponen SDK karena semua komponen sudah
dipilihkan secara default dari Android Studio.
Sesuaikan komponen tambahan yang dipilih seperti pada gambar di bawah ini.
Kemudian klik Next untuk melanjutkan instalasi.

Gambar 14. Komponen SDK android studio
e. Tentukan RAM untuk Emulator

Selanjutnya, tentukan RAM. Sebaiknya gunakan RAM minimal 4GB agar tidak
memperlambat proses running Emulator ketika menjalankan aplikasi yang
telah Anda buat. Klik Next untuk melanjutkan instalasi.

Gambar 15. Setting kapasitas RAM emulator
f. Review Pengaturan Instalasi

Kemudian, Anda akan diberikan informasi mengenai komponen tambahan
SDK beserta ukuran filenya. Klik Finish untuk memulai proses download
komponen-komponen tersebut.

Gambar 16. Download review SDK komponen
g. Proses Download dan Install SDK Android Studio

Setelah proses download komponen SDK dimulai, Anda hanya perlu
menunggunya sampai selesai mengunduh.
Proses download dan instalasi file komponen SDK cukup lama karena ukuran
filenya yang cukup besar. Oleh karena itu, pastikan koneksi internet Anda
stabil agar tidak terjadi error saat proses instalasi berlangsung.

Gambar 17. Proses download komponen SDK android studio

Setelah proses download dan install selesai, akan muncul tampilan seperti
gambar di bawah ini.

Gambar 18. Welcome to android studio
2. Setup Android Studio

Berikut ini adalah langkah pertama cara Install Android Studio :
a. Download Android Studio
Sebelum melakukan instalasi, hal pertama yang harus dilakukan adalah
mengunduh file Android Studio terbaru melalui link dibawah ini :

https://developer.android.com/studio?hl=id

Gambar 19. Gambar desktop android studio

b. Install Android Studio
Setelah selesai download file Android Studio, buka file tersebut dan ikuti instruksi
instalasi di bawah ini:
Pertama, akan muncul halaman seperti pada gambar di bawah ini. Klik Next untuk
melanjutkan ke proses instalasi.

Gambar 20. Welcome to android Studio
c. Pilih Komponen Tambahan

Kemudian pilih komponen tambahan untuk install Android Studio. AVD (Android
Virtual Device) ini fungsinya adalah untuk mengkonfigurasi perangkat yang
dijalankan dengan emulator Android. Sesuaikan komponen tambahan yang dipilih
seperti pada gambar di bawah ini. Jika sudah klik Next untuk melanjutkan instalasi.

Gambar 21. Choose component

d. Tentukan Lokasi Instalasi
Selanjutnya, pilih lokasi untuk install Android Studio pada komputer Anda. Pada
tutorial ini kami menginstall di lokasi C:\Program Files\Android\Android Studio.
Setelah menentukan lokasi instalasi Android Studio, klik Next untuk melanjutkan.

Gambar 22. Configuration setting
e. Tentukan Nama Aplikasi Android Studio

Sebenarnya Anda bebas mengganti nama aplikasi Android Studio yang akan
ditampilkan pada Start Menu. Akan tetapi, demi kemudahan saat mencari aplikasi
ini, sebaiknya gunakan nama Android Studio saja. Klik Install untuk melanjutkan
proses.

Gambar 23. Start Menu folder options

f. Mulai Proses Instalasi
Setelah menentukan nama aplikasi Android Studio, Anda bisa memulai proses
instalasi Android Studio. Gambar di bawah ini adalah proses instalasi Android Studio,
tunggu hingga proses Selesai.

Gambar 24. Proses Instalasi
Setelah instalasi telah selesai , maka layar seperti dibawah akan muncul, klik
tombol ‘next’.

Gambar 25. Instalasi selesai
Setelah itu masuk kehalaman finish. Centang start android studio jika kalian ingin
memulai membuka android studio untuk pertama kali - klik tombol finish.

Gambar 26. Compile setup
Pertama kali android studio diluncurkan setelah diinstall, dialog akan muncul
menyediakan opsi untuk mengimpor pengaturan dari versi android studio
sebelumnya. Jika memiliki pengaturan dari versi sebelumnya dan ingin
mengimport mereka ke dalam instalasi terbaru, pilih opsi yang sesuai dan lokasi.
Atau menunjukan bahwa tidak perlu mengimpor pengaturan sebelumnya.

Gambar 27. First Run
Jika baru pertama kali menginstall android studio sebelumnya. Pilih “I do not
have a previous version of android studio or I do not want to import my setting”
dan klik tombol ok untuk melanjutkan

Gambar 28. Android studio splash screen

Selanjutnya akan diarahkan kehalaman berikutnya untuk mendownload dan
menginstall komponen android SDK Tools. Pastikan computer terhubung dengan
internet. Tunggulah proses download dan menginstall android SDK Tools hingga
selesai.
Setelah proses download dan install komponen telah selesai. Klik tombol finish.
Sampai disini proses instalasi android studio sudah selesai dan sudah dapat
membuat project baru untuk membuat atau mengembangkan aplikasi berbasis
android dengan android studio.

PRAKTEK PENGENALAN JENIS
- JENIS LAYOUT

PRAKTIK MEMBUAT APLIKASI SEDERHANA
A. Pengenalan layout

Sebelum praktek langsung membuat 1 aplikasi sebagaimana yang ada pada modul
ini, maka wajib terlebih dahulu belajar tentang jenis-jenis layout serta fungsi dan
cara penggunaannya, sebab layout berfungsi untuk menentukan struktur
antarmuka pengguna di aplikasi, seperti didalam aktivitas. Semua elemen pada
layout dibuat menggunakan hierarki objek View dan ViewGroup.
View biasanya menggambarkan sesuatu yang pengguna bisa melihat dan
berinteraksi dengannya, sedangkan ViewGroup adalah container yang tidak
terlihat yang menentukan struktur layout untuk view dan objek ViewGroup
lainnya, seperti yang ditampilkan pada gambar dibawah ini :

ViewGroup

ViewGroup View View

ViewGroup ViewGroup ViewGroup

Gambar 29. Contoh hirarki View dan ViewGroup

Layout adalah sebuah tampilan dari aplikasi android. Dimana pada layout kita bisa
menata komponen-komponen aplikasi seperti : foto, teks, video, maupun
komponen lainnya secara mudah. Layout memiliki fungsi yang mirip dengan
kertas. Saat kita akan membuat desain segitiga kiata akan membutuhkan media
menggambarnya.

 Praktek
1. Pastikan instalasi android studio telah selesai sebagaimana pada
pembahasan sebelumnya jika sudah maka buka android studio lalu klik
Create New Project.

Gambar 30. Welcome to android studio.
2. Pilih empty activity lalu klik next.

Gambar 31. Pilih Template

Disini kita memilih empty Activity agar bisa langsung praktek membuat
aplikasi sederhana dengan antar muka atau layout yang masih dalam
keadaan kosong. Perlu diketahui bahwa android studio telah menyediakan
template sebagaimana pada gambar diatas yang bisa kita gunakan sesuai
dengan selera kita.
3. Selanjutnya kita akan memberikan nama project serta jenis projectnya
sebagaimana pada gambar dibawah ini :

Gambar 32. konfigurasi project
4. Tunggu sampai proses loading gradle selesai kurang lebih 10 menit bagi

yang pertama kali dan halaman kerja android studio siap untuk digunakan.
5. Jika sudah klik activity_main.xml

Gambar 33. Layout editor activity_main.xml

6. Pilih code atau split yang ada dipojok kanan atas. Kita akan mengetikan
kode-kode xml untuk pembuatan layout pada android studio.

Gambar 34. Code editor
7. Jika sudah tampil seperti diatas, silakan ikuti script beberapa contoh jenis

layout dibawah ini lalu di build ke emulator dapat menggunakan Nox,
Genymotion atau emulator bawaan android studio
B. Jenis-jenis dan fungsi layout
1. Tag pembuka dari Linear Layout adalah < LinearLayout > dan tag akhirannya
yaitu </LinearLayout> . Untuk menentukan horizontal atau vertical tag atau
atribut yang dipakai yaitu android:orientation.
Contoh penerapan Linear Layout :

<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
android:layout_width="match_parent"

android:layout_height="match_parent"
android:paddingLeft="16dp"
android:paddingRight="16dp"
android:orientation="vertical" >
<EditText
android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="wrap_content"
android:hint="to" />
<EditText
android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="wrap_content"
android:hint="subject" />
<EditText
android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="0dp"
android:layout_weight="1"
android:gravity="top"
android:hint="message" />
<Button
android:layout_width="100dp"
android:layout_height="wrap_content"
android:layout_gravity="right"
android:text="send" />
</LinearLayout>

Perbedaan match_parent dan wrap_content adalah atribut match_parent digunakan
agar lebar atau tinggi komponen, dapat mengikuti layar atau screen pada perangkat
Android. Sedangkan untuk wrap_content digunakan agar lebar atau tinggi, dapat
mengikuti object didalam komponen tersebut.

Dan hasil dari kode-kode xml di atas yaitu seperti gambar dibawah ini :

Gambar 35. Preview dari Linear Layout
2. Relative Layout

Relative Layout merupakan layout yang bisa dipakai untuk mengatur widget atau
komponen aplikasi android secara relative (bebas), tidak sebatas vertical atau
horizontal saja.
Setiap komonen bisa ditentukan posisinya secara relative (bebas), seperti dibagian
bawah, kiri, atas, dan tengah. Tag pembuka RelativeLayout
yaitu <RelativeLayout> dan penutupnya </RelativeLayout>.
Contoh penerapan kode-kode xml Relative Layout :

<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<RelativeLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"

android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="match_parent"
android:paddingLeft="16dp"
android:paddingRight="16dp" >
<EditText

android:id="@+id/name"
android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="wrap_content"
android:hint="reminder" />
<Spinner
android:id="@+id/dates"
android:layout_width="0dp"
android:layout_height="wrap_content"
android:layout_below="@id/name"
android:layout_alignParentLeft="true"
android:layout_toLeftOf="@+id/times" />
<Spinner
android:id="@id/times"
android:layout_width="96dp"
android:layout_height="wrap_content"
android:layout_below="@id/name"
android:layout_alignParentRight="true" />
<Button
android:layout_width="96dp"
android:layout_height="wrap_content"
android:layout_below="@id/times"
android:layout_alignParentRight="true"
android:text="done" />
</RelativeLayout>

Maka hasil dari semua kode diatas yaitu :

Gambar 36. Preview dari Relative Layout
3. Table Layout

Untuk merancang layout menggunakan baris dan kolom kita bisa menggunakan
Table Layout. Tidak akan ada garis kolom, baris, atau cell yang ditampilkan
meskipun namanya adalah table layout.
Tag pembukanya yaitu <TableLayout>, sedangkan tag penutup dari layout ini
adalah </TableLayout>.
Contoh penertapannya silahkan ketikan kode-kode xml dibawah ini pada
Activity_main.xml.

<TableLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="match_parent"
android:stretchColumns="1">
<TableRow
android:background="#22ff">
<TextView
android:layout_column="1"
android:text="Open..."
android:padding="3dip" />
<TextView
android:text="Ctrl-O"
android:gravity="right"
android:padding="3dip" />
</TableRow>
<TableRow android:background="#22ff">
<TextView
android:layout_column="1"
android:text="Save..."
android:padding="3dip" />
<TextView
android:text="Ctrl-S"
android:gravity="right"
android:padding="3dip" />
</TableRow>
<TableRow android:background="#22ff">
<TextView
android:layout_column="1"
android:text="Save As..."
android:padding="3dip" />
<TextView
android:text="Ctrl-Shift-S"
android:gravity="right"
android:padding="3dip" />
</TableRow>

<View
android:layout_height="2dip"
android:background="#FF909090" />

<TableRow android:background="#ffff00">
<TextView
android:text="X"
android:padding="3dip" />
<TextView
android:text="Import..."
android:padding="3dip" />

</TableRow>
<TableRow android:background="#ffff00">

<TextView
android:text="X"
android:padding="3dip" />

<TextView
android:text="Export..."
android:padding="3dip" />

<TextView
android:text="Ctrl-E"
android:gravity="right"
android:padding="3dip" />

</TableRow>
<View

android:layout_height="2dip"
android:background="#FF909090" />
<TableRow android:background="#aaf">
<TextView

android:layout_column="1"
android:text="Quit"
android:padding="3dip" />
</TableRow>
</TableLayout>

Maka hasilnya adalah :

Gambar 37. Preview dari Table Layout
4. Frame Layout

Jika kita ingin membuat layout dengan komponen-komponen yang saling
tumpang tindih, maka kita bisa menggunakan Frame Layout. Misal kita ingin
memasukan komponen tombol ke dalam komponen gambar.
Tag pembuka dari layout ini yaitu <FrameLayout>, dan penutupnya
adalah </FrameLayout>.
Kode-kode xml dibawah ini merupakan contoh penerapan dari Frame Layout.
Silahkan diketikan pada acitivity_main.xml.

<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<FrameLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"

android:layout_width="match_parent"
android:layout_height="match_parent"
android:background="#1113">
<ImageView

android:layout_width="300dp"
android:layout_height="300dp"
android:layout_gravity="center"
android:background="@color/teal_700"
/>
<Button
android:layout_width="350px"
android:layout_height="100px"
android:layout_gravity="center"
android:text="Tombol"
android:background="#EF9ABF"
android:textColor="#fff"
android:textSize="10sp" />
</FrameLayout>

dan hasil previewnya yaitu :

Gambar 38.Preview dari Frame Layout

5. Constraint Layout

Constraint Layout adalah layout yang baru di android studio. Ia merupakan
pengembangan dari Linear Layout. Dengan menggunakan constrait layout kita
bisa membuat tampilan aplikasi android yang responsive, kompleks, dan
powerfull.
Contoh penerapan kode-kode xml untuk Constraint Layout yaitu sebagai berikut :

<androidx.constraintlayout.widget.ConstraintLayout xmlns:android="http://schemas.a
ndroid.com/apk/res/android"

xmlns:app="http://schemas.android.com/apk/res-auto"
xmlns:tools="http://schemas.android.com/tools"
android:layout_width="match_parent"
android:layout_margin="20dp"
android:layout_height="match_parent"
tools:context=".MainActivity">
<TextView

android:id="@+id/textView"
android:layout_width="wrap_content"
android:layout_height="wrap_content"
android:layout_marginStart="8dp"
android:layout_marginLeft="8dp"
android:layout_marginTop="8dp"
android:layout_marginEnd="8dp"
android:layout_marginRight="8dp"
android:layout_marginBottom="8dp"
android:text="Ini menggunakan constraint layout"
android:textSize="30sp"
app:layout_constraintBottom_toBottomOf="parent"
app:layout_constraintEnd_toEndOf="parent"
app:layout_constraintStart_toStartOf="parent"
app:layout_constraintTop_toTopOf="parent" />
<Button
android:id="@+id/button"
android:layout_width="wrap_content"
android:layout_height="wrap_content"


Click to View FlipBook Version