Tabel 18 Komposisi Transfer ke Daerah dan Dana Desa
Oktober 2018 Oktober 2019
Keterangan Nominal % APBN Nominal (triliun % APBN
Transfer Ke Daerah (triliun Rupiah) Rupiah)
697,90 98,83 741,48 97,98
Dana Perimbangan 668,64 98,82 709,61 97,93
Dana Bagi Hasil 93,70 105,02 103,97 97,77
401,48 100,00 420,95 100,74
Dana Alokasi
Umum 173,44 93,31 184,67 92,17
Dana Transfer
Khusus 21,05 100,00 22,17 100,00
Dana Otonomi Khusus 8,23 96,83 9,69 96,94
dan Penyeimbang 59,85 99,77 69,81 99,73
Dana Insentif Daerah
Dana Desa
Total 2.124,29 2.262,35
Sumber: Kementerian Keuangan
Hingga akhir Desember 2019, realisasi Gambar 26 Perkembangan Realisasi Defisit
Dana Desa mencapai Rp69,8 triliun atau APBN
99,7 persen dari pagu alokasi. Secara
nominal realisasi Dana Desa tumbuh 16,6 Desember 2018 Desember 2019
persen jika dibandingkan dengan realisasi 00
pada periode yang sama pada tahun 2018.
Meskipun demikian, Kementerian -100 -353,05 -0,5
Keuangan bersama Kementerian Desa -259,89 -1
PDTT dan Kementerian Dalam Negeri -1,5
terus mendorong daerah untuk segera -200
memenuhi persyaratan penyaluran Dana
Desa tahap III sebagaimana diatur dalam -300
PMK Nomor 193 Tahun 2018 tentang
Pengelolaan Dana Desa. -400 -1,76 -2
Berdasarkan capaian Pendapatan dan -500 -2,20 -2,5
Belanja Negara, hingga akhir Desember
2019, defisit anggaran mencapai Rp Triliun %PDB
Rp353,05 triliun atau 2,2 persen terhadap
PDB. Besaran defisit ini meningkat Sumber: Kementerian Keuangan
dibandingkan dengan periode yang sama
pada tahun 2018 yang mencapai Rp259,8 Peningkatan defisit juga berdampak pada
triliun. Meningkatnya defisit anggaran, kenaikan stok utang Pemerintah Pusat.
menyebabkan kebutuhan pembiayaan Hingga akhir Desember 2019, stok utang
mengalami peningkatan, khususnya pemerintah mencapai Rp4.779,2 triliun.
pembiayaan utang yang telah mencapai Dalam prakteknya, pemerintah selalu
121,2 persen dari target APBN 2019. mengupayakan tindakan yang prudent
dalam mengelola pembiayaan sehingga
rasio utang terus dijaga untuk tidak
melebihi batas psikologis 30 persen PDB
untuk bulan Desember 2019 walaupun
41
batas yang ditentukan dalam Undang- Tabel 19 Perkembangan Komponen
Undang Keuangan Negara adalah 60
persen terhadap PDB. Dari penurunan Pembiayaan
rasio utang tersebut terlihat bahwa
Pemerintah membuat utang selalu Agustus-2018 Agustus-2019
disesuaikan dengan kebutuhan APBN
serta sesuai dengan kondisi pasar. Jenis Nominal % Nominal %
Pembiayaan (triliun APBN (triliun APBN
Gambar 27 Perkembangan Utang Rupiah) Rupiah)
Pemerintah Pusat
Utang (neto) 366,60 91,84 435,40 121,2
Investasi -61,11 93.08 -49,40 -
Pinjaman -4,20 63,50 -17,10 57,80
Penjaminan -1,12 100,0 - 0,00
Lainnya 0,18 100,0 15,20 -
Sumber: Kementerian Keuangan
6000 27,46 28,30 29,51 29,98 29,80
30
5000
25
(triliun Rp)
(persen PDB)
4000
4.779,2
4.418,3 20
3000 3.165,1 3.515,5 4.010,3
2000 15
2015 2016 2017 2018 Desember
2019
Utang Pemerintah Pusat
Rasio Utang (%PDB)
Sumber: Kementerian Keuangan
42
Tabel 20 Realisasi APBN s.d.
Uraian APBN Re
A. Pendapatan Negara 1.894,7
I. Pendapatan Dalam Negeri 1.893,5
1. Penerimaan Perpajakan 1.618,1
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
II. Hibah 275,4
1,2
B. Belanja Negara
I. Belanja Pemerintah Pusat 2.220,7
1. Belanja K/L 1.454,5
2. Belanja Non K/L
II. Transfer Ke Daerah dan Dana Desa 847,4
1. Transfer ke Daerah 607,1
2. Dana Desa 766,2
706,2
C. Keseimbangan Primer
D. Surplus/(Defisit) Anggaran (A-B) 60
-87,33
% Surplus/(Defisit) Anggaran thd PDB -325,94
E. Pembiayaan Anggaran
-2,19
al. Pembiayaan Utang 325,94
Kelebihan/(Kekurangan) Pembiayaan Anggaran 399,22
Sumber: Kementerian Keuangan, 2019
43
31 Desember 2018 dan 2019
(triliun rupiah)
2018 % terhadap APBN 2019 % terhadap
ealisasi s.d. 31 APBN APBN
102,6 2.165,1 Realisasi s.d.31
Desember 101,8 2.164,7 Desember 90,4
1.943,7 93,6 1.786,4
1.928,1 148,6 1.957,2
1.518,8 1.300,5 378,9
409,3 99,7 0,4 1.950,4 90,1
15,6 100,1
2.213,1 99,9 2.461,1 1.545,3 86,5
1.455,3 100,3 1.634,3
846,6 98,8 405 107,1
608,8 98,8 855,4
757,8 99,8 778,9 6,8 1.560,7
697,9 13,2 826,8
59,9 756,8 2.310,2 93,9
-11,5 93,8
-269,4 93,2 70 1.498,9 91,7
-1,82 -20,1
305,7 -296 876,4 102,4
372 -1,84
622,6 79,9
36,2 296
359,25 811,3 98,1
741,5 98
69,8 99,7
-77,5 385,3
-353
-2,2
399,5 134,9
435,4 121,2
46,4
43
2.4 Moneter dan Jasa pertumbuhan ditengah berlanjutnya
Keuangan pelemahan ekonomi global.
Moneter Tabel 21 Perkembangan Suku Bunga 7DRRR
Kebijakan suku bunga acuan Tenor Persen (%)
dipertahankan pada tingkat 5,00 persen Okt Nov Des
Pada triwulan IV tahun 2019, Bank 7 hari 5,00 5,00 5,00
Indonesia (BI) mempertahankan tingkat
suku bunga kebijakan BI 7-day Reverse 2 minggu 5,03 5,02 5,02
Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,00 persen,
lebih rendah dibandingkan periode yang 1 bulan 5,05 5,04 5,04
sama tahun 2018. Langkah ini ditempuh
sebagai upaya untuk menjaga momentum Sumber: Bank Indonesia
pertumbuhan ekonomi domestik di
tengah perekonomian global yang Nilai tukar Rupiah menguat seiring
melambat, dengan mempertimbangkan penguatan fundamental perekonomian
kondisi fundamental domestik yang stabil domestik
(inflasi terkendali dalam kisaran sasaran),
serta meredanya tekanan eksternal. Pergerakan Rupiah terhadap dolar AS
(USD) cukup stabil dan cenderung
Kebijakan mempertahankan suku bunga menguat sepanjang triwulan IV tahun
juga bertujuan untuk menjaga daya tarik 2019. Sejak awal hingga pertengahan
pasar keuangan Indonesia. Upaya ini periode, Rupiah berada di kisaran
berhasil mempertahankan arus modal Rp14.000/USD, menguat mencapai level
masuk portofolio ke Indonesia. Sepanjang Rp13.866/USD pada akhir Desember
triwulan IV tahun 2019, aliran modal asing 2019.
yang masuk ke Indonesia mencapai
USD6,4 miliar. Penguatan Rupiah didukung oleh
perbaikan kondisi internal dan
Transmisi suku bunga ke pasar uang pengurangan risiko yang berasal dari
berjalan dengan baik, terlihat dari tekanan eksternal. Dari sisi internal,
penurunan suku bunga PUAB tenor 1 penguatan Rupiah didukung oleh: (i)
minggu sejak Juni 2019 sebesar 111 bps struktur pasar valas yang semakin kuat,
menjadi 5,06 persen. Selain itu juga ditunjukan oleh meningkatnya volume
terlihat dari penurunan suku bunga JIBOR transaksi dan kuotasi yang lebih efisien; (ii)
tenor 1 minggu sebesar 117 bps pada Juni berkembangnya pasar Domestic Non
2019 menjadi 5,07 persen pada akhir Deliverable Forward (DNDF) yang
Desember 2019. kemudian mendukung peningkatan
efisiensi pasar valas; dan (iii) kondisi
Bank Indonesia diperkirakan akan fundamental yang semakin baik,
menurunkan beberapa basis poin suku ditunjukan oleh mekanisme pasar dan
bunga BI 7DRR pada awal tahun 2020, meningkatnya keyakinan para pelaku
sebagai upaya menjaga momentum pasar terhadap kredibilitas kebijakan yang
ditempuh Pemerintah bersama Bank
Indonesia
Dari sisi eksternal, penguatan Rupiah
didukung oleh meredanya ketidakpastian
44
global yang tercermin dari tercapainya Gambar 29 Real Effective Exchange Rate
kesepakatan dagang tahap I antara ASEAN-5, (2010=100)
Tiongkok dan AS pada pertengahan
Desember 2019. Hal ini memberikan 120
sentimen positif terhadap mata uang di 115
negara-negara berkembang, salah 110
satunya Indonesia. 105
100
Gambar 28 Perkembangan Nilai Tukar
Rupiah terhadap USD 95
90
15.800 85
80
15.300 31 Des 2019 INDONESIA THAILAND
14.800 Rp13.866 MALAYSIA FILIPINA
14.300
Sumber: Bloomberg, diolah
13.800
13.300
12.800 Likuiditas perekonomian (M2)
mengalami peningkatan pada triwulan
IV tahun 2019.
Sumber: Bloomberg, diolah Posisi uang beredar dalam arti luas (M2)
pada akhir triwulan IV tahun 2019
Pada triwulan IV tahun 2019 REER mencapai Rp6.136,5 triliun, tumbuh
Rupiah relatif rendah dibandingkan sebesar 6,5 persen (YoY). Pertumbuhan
mata uang negara sekawasan. tersebut melambat dibandingkan bulan
sebelumnya yang mencapai 7,1 persen
Indeks nilai tukar riil Rupiah (Real Effective (YoY). Namun demikian, pertumbuhan
Exchange Rate/REER) selama periode tersebut masih lebih tinggi dibandingkan
triwulan IV tahun 2019 lebih rendah dengan periode yang sama pada 2018
dibandingkan mata uang yang berasal dari sebesar 6,3 persen (YoY).
negara-negara di kawasan ASEAN
diantaranya Thailand, Fillipina, dan Melambatnya pertumbuhan M2 selama
Singapura. Kondisi ini memberikan triwulan IV tahun 2019 dipengaruhi oleh
pengaruh positif dan meningkatkan daya penurunan komponen uang beredar
saing ekspor khususnya produk non dalam arti sempit (M1). Pertumbuhan M1
komoditas Indonesia serta menurunkan selama periode Oktober-Desember 2019
impor. Dibandingkan dengan periode yang masing-masing sebesar 6,6 persen; 10,5
sama pada tahun 2018, nilai REER persen; dan 7,4 persen. Penurunan
Indonesia meningkat tipis, walaupun pertumbuhan M1 pada Oktober 2019
masih berada dibawah nilai wajar dipicu oleh perlambatan giro Rupiah,
(undervalued). Kondisi ini mendukung sementara pada Desember 2019
upaya penurunan defisit transaksi dipengaruhi oleh penurunan komponen
berjalan. uang kartal serta giro Rupiah.
45
Pada awal triwulan IV tahun 2019 uang dengan periode yang sama pada tahun
kuasi menjadi komponen yang menahan 2018. Secara bulanan (MtM) pergerakan
laju pertumbuhan uang beredar, hal ini inflasi Oktober-Desember 2019 masing-
disebabkan melambatnya pertumbuhan masing bulan mencapai 0,02 persen; 0,14
simpanan berjangka, tabungan, dan giro persen; dan 0,34 persen. Stabil dan
valuta asing. Sementara pada akhir rendahnya inflasi tersebut dikontribusikan
triwulan IV tahun 2019, komponen uang oleh komponen inflasi inti dan inflasi
kuasi mengalami peningkatan harga diatur Pemerintah ditengah
pertumbuhan yang didorong kenaikan komponen inflasi harga
pertumbuhan giro valuta asing. Hal ini bergejolak. Meski mengalami
berhasil meredam perlambatan peningkatan, inflasi pangan menjelang
pertumbuhan uang beredar. Secara HBKN Natal dan Tahun baru tetap terjaga,
berturut-turut pada periode Oktober dipengaruhi oleh kecukupan pasokan
hingga Desember 2019 pertumbuhan komoditas pangan strategis termasuk
uang kuasi masing-masing mencapai 6,12 cabai dan beras.
persen; 5,90 persen; dan 6,14 persen. Gambar 31 Perkembangan Indeks Harga
Konsumen (IKK) dan Inflasi Inti, 2018-2019
Gambar 30 Perkembangan Uang Beredar
12,0% 10,52% 4 126,40 130,0
128,0
10,0% 3 126,0
124,0
8,0% 6,63% 7,13% 7,43% 2 122,0
6,34% 6,54% 1 124,20 120,0
6,0% 6,14% 118,0
Dec-19
6,12% 121,80 116,0
5,90% 0 114,0
Nov-19
4,0% Jan
Mar
Mei
Jul
Sep
Nov
Jan
Mar
Mei
Jul
Sep
Des
Oct-19 2018 2019
Pertumbuhan M2, %YoY
Pertumbuhan M1, %YoY Inti Indeks Keyakinan Konsumen
Pertumbuhan Uang Kuasi, %YoY Sumber: BI dan BPS, diolah
Sumber: Bank Indonesia, diolah
Inflasi terkendali pada rentang sasaran. Komponen inflasi inti stabil pada kisaran 3
persen (YoY) dan cenderung mengalami
Tabel 22 Tingkat Inflasi Domestik penurunan selama triwulan IV tahun
2019. Penurunan ini dipengaruhi oleh
Q4 2018 Q4 2019 pengurangan tekanan yang berasal dari
harga emas global. Pergerakan inflasi inti
Okt Nov Des Okt Nov Des yang stabil menunjukkan terjaganya daya
beli masyarakat ditengah pertumbuhan
YoY 3,2 3,2 3,1 3,1 3,0 2,7 ekonomi global yang melambat.
Terjaganya daya beli masyarakat juga
MtM 0,3 0,3 0,6 0,0 0,1 0,3 ditunjukkan oleh Indeks Keyakinan
Konsumen (IKK) yang selalu berada diatas
YtD 2,2 2,5 3,1 2,2 2,4 2,7 level optimis (>100) dan meningkat
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah sepanjang triwulan IV 2019.
Pada periode Oktober-Desember 2019,
inflasi tahunan (YoY) secara berturut-turut
mencapai 3,1 persen; 3,0 persen; dan 2,7
persen. Inflasi selama triwulan IV tahun
2019 lebih rendah apabila dibandingkan
46
Tabel 23 Tingkat Inflasi Domestik Tabel 24 Inflasi Kelompok Pengeluaran
berdasarkan Komponen (YoY) (MtM)
Persentase (%) Kelompok Persentase (%)
Okt Nov Des
Komponen Pengeluaran Okt Nov Des
UMUM (headline) 0,02 0,14 0,34
Inti 3,2 3,1 3,0 Bahan Makanan -0,41 0,37 0,78
4,3
Harga 4,8 5,0 0,5 Transpor, Komunikasi, -0,08 -0,07 0,58
Bergejolak 1,6 1,1 dan Jasa Keuangan
Harga diatur
pemerintah Makanan Jadi,
Minuman, Rokok, dan 0,45 0,25 0,29
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Tembakau
Kesehatan 0,3 0,23 0,29
Secara tahunan, pergerakan inflasi Perumahan, Air,
komponen volatile foods selama periode
Oktober-Desember 2019 secara berturut- Listrik, Gas, dan Bahan 0,08 0,12 0,09
turut mencapai 4,8 persen; 5,0 persen; bakar
dan 4,3 persen. Setelah sempat
memberikan tekanan terhadap inflasi Pendidikan, Rekreasi, 0,1 0,02 -0,05
pangan, komoditas cabai mulai dan Olah raga
mengalami penurunan harga seiring
dengan masa panen yang berlangsung Sandang 0,08 0,03 0,05
pada Oktober 2019. Sementara,
komoditas yang mengalami peningkatan Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
harga pada triwulan IV tahun 2019 adalah
telur dan ayam ras. Kenaikan tersebut Dilihat dari kelompok pengeluaran,
dipicu oleh kebijakan pemusnahan bibit sebagian besar kelompok mengalami
ayam untuk mengatasi rendahnya harga inflasi selama triwulan IV tahun 2019.
ayam di tingkat peternak. Selain itu, Penurunan inflasi terjadi pada kelompok
penurunan produksi akibat gangguan pengeluaran Pendidikan, rekreasi, dan
cuaca dan belum masuknya masa panen olahraga yang dipengaruhi oleh
mendorong kenaikan harga pada meredanya tekanan biaya pendidikan
sejumlah komoditas holtikultura, salah seiring dengan berakhirnya tahun ajaran
satunya bawang merah. Naiknya harga baru pada Oktober 2019.
beberapa komoditas pangan juga
dipengaruhi oleh lonjakan permintaan Gambar 32 Perkembangan Indeks Harga
menjelang Natal dan Tahun Baru. Pangan Strategis Nasional, (2018=100)
220
180 133,66
140 132,64
100
Sementara itu, komponen inflasi harga 60 Feb-19 Jun-19 101,98
diatur Pemerintah cenderung menurun Okt-18
sebagai dampak berlanjutnya kebijakan Minyak Goreng Okt-19
penerapan Tarif Batas Atas (TBA) Daging Ayam
angkutan udara yang diterapkan pada Beras Medium Daging Sapi
pertengahan tahun. Selain itu, penurunan Cabai Rawit Telur Ayam
tersebut seiring dengan kehati-hatian Bawang Merah Gula Pasir
Pemerintah dalam kebijakan subsidi Cabai Merah
energi tepat sasaran. Bawang Putih
Sumber: Pusat Informasi Harga Pangan
Strategis Nasional, diolah
Indeks harga pangan strategis nasional
meningkat sejalan dengan tingginya inflasi
bahan pangan. Secara umum, sebagian
47
besar komoditas pangan strategis Gambar 33 Kinerja Perbankan Konvensional
mengalami kenaikan indeks harga
komoditas. Tiga komoditas yang 96 25
mengalami peningkatan paling signifikan
selama triwulan IV tahun 2019 yakni 95 20
Bawang Putih, Bawang Merah, dan Telur
Ayam. 94
15
Jasa Keuangan
93
Kinerja sektor jasa keuangan pada 10
triwulan IV tahun 2019 melambat seiring
perlambatan perekonomian global yang 92
masih berlanjut.
91 5
Perbankan Konvensional. Kinerja LDR (%)
perbankan konvensional relatif terkendali CAR dan NPL (%)
dengan ditopang oleh kondisi permodalan
dan likuiditas yang terjaga. Rasio 90 0
kecukupan modal (Capital Adequacy IV
Ratio/CAR) perbankan mencapai 23,4 III IV
persen pada triwulan IV tahun 2019, 2018 2019 2019
meningkat dibandingkan dengan periode
yang sama tahun sebelumnya sebesar LDR CAR NPL
23,0 persen. Selain itu, likuiditas Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
perbankan mengalami perbaikan,
tercermin dari membaiknya rasio Loan to Pada triwulan IV tahun 2019, Dana Pihak
Deposit Ratio perbankan, yaitu dari 94,8 Ketiga (DPK) perbankan konvensional
persen pada triwulan IV tahun 2018 tumbuh sebesar 6,5 persen (YoY), sedikit
menjadi 94,4 persen pada triwulan IV lebih tinggi dibandingkan dengan periode
tahun 2019, atau semakin mendekati yang sama tahun sebelumnya yang
batas maksimal yang ditetapkan yaitu 94,0 tumbuh sebesar 6,4 persen (YoY).
persen. Selanjutnya dari segi kualitas Pertumbuhan tertinggi terjadi pada
kredit, risiko kredit pada triwulan IV tahun komponen giro, yaitu sebesar 10,3 persen
2019 masih terkelola dengan baik, (YoY) pada triwulan IV tahun 2019, lebih
tercermin dari rasio Non Performing Loan tinggi dibandingkan dengan periode yang
(NPL) yang tetap rendah yaitu 2,5 persen, sama tahun sebelumnya sebesar 6,9
atau berada di bawah batas maksimal persen (YoY). Pertumbuhan tertinggi
yang ditentukan (5 persen). Kualitas kredit kedua terjadi pada komponen tabungan
tersebut sedikit meningkat dibandingkan yang tumbuh sebesar 7,3 persen (YoY)
periode yang sama tahun sebelumnya, pada triwulan IV tahun 2019, namun
disebabkan oleh melemahnya kondisi sedikit lebih rendah dibandingkan periode
ekonomi yang berdampak pada yang sama tahun sebelumnya yaitu
terhambatnya kemampuan membayar sebesar 7,4 persen (YoY). Sementara itu,
dari para pelaku usaha. pertumbuhan terendah terjadi pada
komponen deposito yang hanya tumbuh
sebesar 5,3 persen (YoY) pada triwulan IV
tahun 2019. Pertumbuhan deposito yang
belum optimal tersebut cukup
berpengaruh terhadap pertumbuhan DPK
secara keseluruhan, mengingat deposito
menempati porsi terbesar dalam DPK,
yaitu sebesar 37,5 persen dari total DPK.
48
Gambar 34 Pertumbuhan DPK Bank Berbeda dengan KMK dan KK, jenis Kredit
Konvensional Investasi (KI) mengalami pertumbuhan
yang tinggi, yaitu sebesar 13,2 persen
6.100 14% (YoY) pada triwulan IV tahun 2019, lebih
tinggi dibandingkan periode yang sama
6.000 12% tahun sebelumnya yaitu sebesar 10,9
persen (YoY).
(Rp Triliun) 5.900 10% Pertumbuhan (%)
5.800 08%
5.700 06%
5.600 04%
5.500 02% Gambar 35 Pertumbuhan Kredit Bank
Konvensional
5.400 00%
IV III IV
2018 2019 2019 5.800 14%
5.700 12% Pertumbuhan (%)
Total DPK (Rp Triliun) (Rp Triliun) 5.600 10%
Pertumbuhan Total DPK (%)
Pertumbuhan Deposito (%) 5.500 8%
Pertumbuhan Tabungan (%)
Pertumbuhan Giro (%) 5.400 6%
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan 5.300 4%
5.200 2%
Sejalan dengan perlambatan DPK, kredit 5.100 0%
perbankan juga mengalami perlambatan
pada triwulan IV tahun 2019. Kredit IV III IV
perbankan hanya tumbuh sebesar 6,1
persen (YoY), lebih rendah dibandingkan 2018 2019 2019
dengan periode yang sama tahun
sebelumnya sebesar 12,0 persen (YoY). Total Kredit (Rp Triliun)
Dilihat dari jenis penggunaannya, Pertumbuhan Total Kredit (%)
perlambatan tersebut utamanya Pertumbuhan KI (%)
disebabkan oleh perlambatan Kredit Pertumbuhan KMK (%)
Modal Kerja (KMK) sebagai jenis kredit Pertumbuhan KK (%)
yang mendominasi total kredit perbankan.
KMK hanya tumbuh sebesar 2,5 persen Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
(YoY), jauh lebih rendah dibandingkan
dengan periode yang sama tahun Ditinjau dari lapangan usaha penerima
sebelumnya yaitu sebesar 13,0 persen kredit, terjadi perlambatan pertumbuhan
(YoY). Perlambatan KMK tersebut kredit di sebagian besar sektor pada
terutama terjadi pada Bank Buku 1 dan triwulan IV tahun 2019. Sektor
Buku 3. pertambangan dan penggalian adalah
Selain KMK, Kredit Konsumsi (KK) juga sektor yang mengalami perlambatan
mengalami perlambatan yang cukup terbesar, yaitu sebesar -2,6 persen (YoY).
besar, yaitu dari 10,4 persen (YoY) pada Hal tersebut terutama terjadi di Provinsi
triwulan IV tahun 2018 menjadi 5,8 persen yang sektor pertambangan dan
(YoY) pada triwulan IV tahun 2019, dengan penggalian menjadi pendukung
perlambatan terbesar terjadi pada bank perekonomian, yaitu Kalimantan Timur
Buku 1. dan Kalimantan Tengah, seiring dengan
menurunnya harga komoditas nonmigas
dunia.
49
Tabel 25 Perkembangan Kredit Bank Umum Konvensional di Indonesia
Sektor 2018 2019
Q4 Q3 Q4
Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 354.878 370.141 369.903
Perikanan 12.137 13.778 14.115
Pertambangan dan Penggalian 137.912 129.722 134.315
Industri Pengolahan 899.088 917.459 931.727
Listrik, gas dan air 170.190 197.443 198.255
Konstruksi 316.097 367.268 362.271
Perdagangan Besar dan Eceran 975.995 1.002.342 1.006.069
Penyediaan akomodasi dan penyediaan 99.751 106.868 109.842
makan minum
Transportasi, pergudangan dan 217.323 232.235 246.935
komunikasi
Perantara Keuangan 244.486 243.991 249.782
Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa 248.218 262.477 269.360
Perusahaan
Admistrasi Pemerintahan, Pertahanan 25.068 26.617 28.901
dan Jaminan Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 12.322 13.444 14.194
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 22.698 27.995 33.576
Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, 79.914 80.222 82.543
Hiburan dan Perorangan lainnya
Jasa Perorangan yang Melayani Rumah 2.715 3.412 3.415
Tangga
Badan Internasional dan Badan Ekstra 173 265 280
Internasional Lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya 2.257 1.756 1.976
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
Perlambatan kredit juga terjadi pada tiga pertumbuhan yang tinggi pada triwulan IV
sektor terbesar yang mendominasi tahun 2019, masing-masing sebesar 16,3
penyaluran kredit, yaitu: 1) sektor persen dan 10,1 persen (YoY), lebih tinggi
pertanian, perburuan, dan kehutanan, 2) dibandingkan dengan periode yang sama
sektor perdagangan besar dan eceran, tahun sebelumnya yaitu sebesar 7,7
dan 3) sektor industri pengolahan, yang persen (YoY) dan 1,9 persen (YoY).
masing-masing tumbuh sebesar 4,2
persen; 3,1 persen; dan 3,6 persen (YoY). Gambar 36 Capaian Penyaluran KUR
Perlambatan penyaluran kredit pada
sektor industri pengolahan terutama 60 51,6 48,4
terjadi di Provinsi Jawa Timur, sementara
perlambatan penyaluran kredit pada (Persen) 40
sektor perdagangan besar dan eceran
terjadi terutama pada provinsi DKI Jakarta 20
dan Jawa Timur.
Di sisi lain, sektor perikanan dan sektor 0 Sektor Non
Sektor Produksi Produksi
penyediaan akomodasi dan penyediaan
makan minum mencatatkan Sumber: Kemenko Perekonomian
50
Realisasi program pemerintah dalam Gambar 37 Perkembangan Industri
pemberian akses keuangan kepada Usaha Teknologi Keuangan (peer-to-peer lending)
Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi
(UMKMK) melalui program Kredit Usaha 100 20
Rakyat (KUR) selama tahun 2019 Akumulasi Jumlah Pinjaman
mencapai 99,9 persen dari target yang (Rp Triliun)
ditetapkan, yaitu mencapai Rp139,9
triliun, dari target 2019 adalah sebesar Jumlah Rekening Borrower
Rp140 triliun dengan total debitur sekitar (Juta Entitas)
4,7 juta debitur. Secara akumulasi, total 80 15
penyaluran KUR selama empat tahun
berjalan mencapai Rp473,3 triliun, dengan 60
rasio kredit bermasalah yang sangat 10
rendah, yaitu sebesar 1,1 persen. Jika
ditinjau lebih lanjut berdasarkan skema 40
KUR, penyaluran KUR sepanjang tahun
2019 masih didominasi untuk skema KUR 20 5
Mikro (pinjaman ≤Rp25 juta), yaitu
sebesar 63,2 persen, diikuti dengan skema 0 0
KUR Kecil (pinjaman Rp25 juta – IV
Rp200juta) yaitu sebesar 36,4 persen, dan III IV
KUR Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sebesar 2018 2019
0,4 persen. Kinerja ini menunjukkan
keberpihakan pemerintah terhadap Jumlah Akumulasi Rekening Borrower
pemerataan akses pembiayaan untuk Akumulasi Jumlah Pinjaman
usaha mikro. Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
Selanjutnya jika dilihat berdasarkan sektor Teknologi Keuangan (Fintech). Di
ekonomi, terjadi pergeseran penyaluran Indonesia, industri fintech berkembang
KUR dari sektor non produksi ke sektor sangat pesat, salah satunya tercermin dari
produksi, meskipun penyaluran kredit akumulasi jumlah pinjaman dan jumlah
kepada sektor produksi masih di bawah rekening peminjam. Pada triwulan IV
target yang ditetapkan yaitu 60 persen. tahun 2019, akumulasi jumlah pinjaman
Pergeseran penyaluran KUR tercermin meningkat hingga 259,6 persen (YoY),
dari meningkatnya porsi penyaluran KUR yaitu dari Rp22,6 triliun pada triwulan IV
kepada sektor produksi, yaitu mencapai tahun 2018 menjadi Rp81,5 triliun pada
sebesar 51,6 persen pada triwulan IV triwulan IV tahun 2019. Sejalan dengan
tahun 2019. Berdasarkan wilayah, hal tersebut, peningkatan akumulasi
penyaluran KUR masih terkonsentrasi di jumlah pinjaman juga diikuti dengan
wilayah Jawa dan Sumatera dengan porsi meningkatnya jumlah peminjam. Pada
masing-masing sebesar 54,3 persen dan triwulan IV tahun 2019, jumlah akumulasi
20,4 persen. rekening peminjam meningkat sebesar
325,9 persen (YoY), dari 4,4 juta entitas
pada triwulan IV tahun 2018 menjadi 18,6
juta entitas pada triwulan IV tahun 2019.
Meskipun masih terpusat di Pulai Jawa,
peningkatan jumlah akumulasi rekening
peminjam tersebut menunjukkan
perkembangan yang positif karena
mendorong inklusi keuangan di Indonesia.
Dilihat dari perkembangannya, jumlah
akumulasi rekening peminjam di luar
Pulau Jawa tumbuh sebesar 356,5 persen
(YoY), yaitu dari 694,8 ribu entitas pada
51
triwulan IV tahun 2018 menjadi 3,2 juta Dana Pensiun. Pada triwulan IV tahun
entitas pada triwulan IV tahun 2019. 2019, industri dana pensiun mengalami
peningkatan, salah satunya didorong oleh
Gambar 38 Pertumbuhan Total Aset Industri meningkatnya jumlah aset neto dan
Asuransi jumlah investasi dana pensiun. Jumlah
investasi dana pensiun pada triwulan IV
1.350 16 tahun 2019 sebesar Rp282,6 triliun atau
tumbuh sebesar 8,1 persen (YoY). Sejalan
1.320 14 dengan hal tersebut, jumlah aset neto
Total Aset (Rp Triliun) pada dana pensiun juga mengalami
Pertumbuhan (%)1.29012peningkatan, yaitu tumbuh sebesar 8,3
persen (YoY) atau menjadi Rp289,7 triliun
1.260 10 pada triwulan IV tahun 2019.
1.230 8
1.200 6
1.170 4
1.140 2
1.110 0
IV III IV
2018 2019 Pasar Modal. Jelang tutup tahun, kinerja
pasar modal pada triwulan IV tahun 2019
Total Aset Asuransi bergerak cukup positif di tengah gejolak
Pertumbuhan Aset Asuransi (YoY) geopolitik dan ekonomi global. Kinerja
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan pasar modal yang kondusif ditandai
dengan naiknya aliran modal asing yang
Asuransi. Kinerja industri asuransi pada masuk ke pasar modal domestik.
triwulan IV tahun 2019 menunjukkan Peningkatan tersebut salah satunya
perkembangan positif. Hal tersebut disebabkan oleh resiko ketidakpastian
tercermin dari pertumbuhan total aset global yang mereda pada triwulan IV
industri asuransi pada triwulan IV tahun tahun 2019 dan mendorong berlanjutnya
2019 sebesar 15,3 persen (YoY), lebih aliran masuk modal asing ke negara
tinggi jika dibandingkan dengan periode berkembang termasuk Indonesia.
yang sama tahun sebelumnya yang
tumbuh sebesar 6,8 persen (YoY).
Gambar 39 Perkembangan Jumlah Aset Gambar 40 Perkembangan IHSG dan Nilai
Bersih dan Jumlah Investasi Dana Pensiun Kapitalisasi Pasar Saham
6.350 7.300
320 6.300 7.250
280 7.200
240
(Rp Triliun)200 6.250 7.150
Indeks1606.200 7.100
120 7.050
(Rp Triliun)
80 6.150 7.000
40 6.950
0 6.100 6.900
IV
IV III IV
2018
III IV 2018 2019
2019
Nilai Kapitalisasi Pasar (Rp Triliun)
Jumlah Aset Neto Jumlah Investasi IHSG (IRnpd)eks)
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
52
Kondisi pasar saham kembali menguat Perbankan Syariah. Pada triwulan IV tahun
pada triwulan IV tahun 2019, setelah 2019, kualitas pembiayaan yang
sebelumnya sedikit melemah pada disalurkan dan tingginya rasio kecukupan
triwulan III tahun 2019. Penguatan modal perbankan Syariah mengalami
tersebut salah satunya ditunjukkan oleh perbaikan. Namun demikian, fungsi
perkembangan nilai kapitalisasi pasar dan intermediasi bank umum Syariah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan. Pada Bank Umum
yang tumbuh positif. IHSG ditutup pada Syariah (BUS), rasio pembiayaan terhadap
level 6.299,5 pada triwulan IV tahun 2019, penghimpunan dana atau Financing to
tumbuh sebesar 1,7 persen (YoY). Deposit Ratio (FDR) mengalami sedikit
penurunan, yaitu dari 78,5 persen pada
Sejalan dengan pergerakan IHSG, nilai triwulan IV tahun 2018 menjadi 77,91
kapitalisasi pasar saham juga mengalami persen pada triwulan IV 2019. Penurunan
pertumbuhan yang positif. Nilai tersebut disebabkan karena adanya
kapitalisasi pasar saham pada akhir tahun perlambatan penyaluran pembiayaan.
2019 sebesar Rp7.265,0 triliun, atau Sementara itu, pada Unit Usaha Syariah
tumbuh sebesar 3,4 persen dibandingkan (UUS), rasio FDR masih berada di atas 100
dengan triwulan IV tahun 2018 (YoY). persen. Namun, melebihi ketentuan
maksimal yang ditetapkan (92 persen),
Gambar 41 Perkembangan Outstanding fungsi intermediasi pada UUS mengalami
Obligasi Korporasi perbaikan, yang ditunjukkan oleh
menurunnya rasio FDR dari 108,7 persen
450 pada triwulan IV tahun 2018 menjadi
101,9 persen pada triwulan IV 2019.
Outstanding Korporasi (Rp Triliun)440
FDR (%)
CAR dan NPF (%)430
420 Gambar 42 Kinerja Perbankan Syariah
410 82 25
400 III IV 81 20
IV 2019 80
2018 15
79
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
10
Sementara itu, kondisi pasar obligasi 78
korporasi juga kembali mengalami 77 5
penguatan pada triwulan IV tahun 2019,
setelah sempat mengalami perlambatan 76 0
pertumbuhan pada akhir tahun 2018 yang 2018 IV 2019 III 2019 IV
disebabkan oleh kenaikkan suku bunga
acuan (BI 7-day Reverse Repo Rate). Pada FDR CAR NPF
triwulan IV tahun 2019, total nilai obligasi Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
korporasi mencapai Rp445,1 triliun, atau
meningkat sebesar 6,7 persen (YoY). Kinerja perbankan Syariah membaik,
tercermin dari kualitas pembiayaan yang
disalurkan. Rasio pembiayaan bermasalah
(Non Performing Financing/NPF) pada
53
BUS sebesar 3,2 persen pada triwulan IV Berdasarkan jenis penggunaan,
tahun 2019, lebih rendah jika pembiayaan perbankan Syariah triwulan
dibandingkan dengan periode yang sama IV tahun 2019 masih didominasi oleh
tahun sebelumnya sebesar 3,3 persen. pembiayaan konsumsi, yaitu sebesar 44,4
Sementara pada UUS, rasio pembiayaan persen dari total pembiayaan. Diikuti oleh
bermasalah juga tercatat cukup rendah, pembiayaan modal kerja dan pembiayaan
yaitu 2,9 persen pada triwulan IV tahun investasi masing-masing sebesar 31,1
2019, lebih tinggi dibandingkan dengan persen dan 24,5 persen dari total
periode yang sama tahun sebelumnya pembiayaan. Namun demikian, meskipun
yaitu sebesar 2,2 persen. Rasio kecukupan memiliki porsi terendah, pembiayaan
modal bank umum Syariah triwulan IV investasi mengalami pertumbuhan
tahun 2019 cukup tinggi, yaitu sebesar tertinggi yaitu sebesar 14,8 persen (YoY).
20,6 persen atau melebihi batas minimum
kecukupan modal yang ditetapkan Tabel 26 Perkembangan Pembiayaan
sebesar 8,0 persen.
Perbankan Syariah
Gambar 43 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga
dan Pembiayaan Perbankan Syariah Pembiayaan Triliun Rupiah
Berdasarkan
450 14 Jenis Akad 2018 2019
400 12
350 Q4 Q3 Q4
300 10
250 8 Pembiayaan 75,7 84,3 87,0
200 6 Investasi 110,6
150 4 157,6
100 Pembiayaan 105,1 107,6 355,1
Modal Kerja
50 2
00(Rp triliun) Pembiayaan 139,4 152,0
Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019 Konsumsi
DPK Total 320,2 343,9
Pembiayaan
Pembiayaan
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
Pertumbuhan DPK (YoY)
Ditinjau secara sektoral, sektor
Pertumbuhan Pembiayaan (YoY) perdagangan besar dan eceran dan sektor
konstruksi masih mendominasi
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan penyaluran pembiayaan, masing-masing
sebesar Rp36,7 triliun dan Rp31,1 triliun,
Pada triwulan IV tahun 2019, total Dana atau berkontribusi masing-masing sebesar
Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh 19,0 persen dan 16,0 persen dari total
perbankan Syariah (BUS dan UUS) tumbuh pembiayaan. Sementara itu, sektor
sebesar 12,0 persen (YoY), lebih rendah administrasi pemerintahan, pertahanan
dibandingkan dengan periode yang sama dan jaminan sosial wajib merupakan
tahun sebelumnya yaitu sebesar 11,0 sektor dengan penyaluran pembiayaan
persen (YoY). Sejalan dengan hal tersebut, terendah, hanya Rp18 miliar pada
total pembiayaan perbankan Syariah juga triwulan IV tahun 2019. Namun,
mengalami pertumbuhan, yaitu sebesar penyaluran pembiayaan perbankan
10,9 persen (YoY). Syariah untuk sektor administrasi
pemerintahan, pertahanan dan jaminan
perorangan mengalami pertumbuhan
tertinggi pada triwulan IV 2019 yaitu
54
sebesar 364,4 persen (YoY). Beberapa serta perantara keuangan yang masing-
sektor ekonomi mengalami penurunan masing mengalami penurunan sebesar
penyaluran pembiayaan, yang terbesar 15,0; 4,0; dan 1,0 persen (YoY) pada
terjadi pada sektor pertambangan dan triwulan IV 2019.
penggalian, sektor listrik, gas, dan air,
Tabel 27 Penyaluran Kredit Berdasarkan Lapangan Usaha
2018 2019
Penerima Pembiayaan Lapangan Usaha Q3 Q2 Q4
(Rp miliar) 13.717
1.307
Pertanian, Perburuan dan Kehutanan 11.497 13.818 5.086
26.488
Perikanan 1.204 1.209 14.055
31.167
Pertambangan dan Penggalian 5.410 5.676 36.752
4.988
Industri Pengolahan 24.363 27.137 9.925
19.388
Listrik, gas dan air 16.600 14.538 13.404
Konstruksi 24.648 28.246 18
Perdagangan Besar dan Eceran 33.166 34.921 6.640
7.269
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum 4.728 4.967
6.036
Transportasi, pergudangan dan komunikasi 9.374 9.410
885
Perantara Keuangan 19.569 18.693
0
Real Estate, Usaha Persewaan, dan Jasa Perusahaan 13.315 12.998
434
Admistrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan 4 25
Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 5.460 6.289
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 4.788 6.366
Jasa Kemasyarakatan, Sosial Budaya, Hiburan dan 5.353 6.186
Perorangan lainnya
Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga 369 1057
Badan Internasional dan Badan Ekstra Internasional 0 0
Lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya 938 308
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
Pasar Modal Syariah. Kinerja pasar modal Gambar 44 Perkembangan Nilai KapitalisasiTriliun Rupiah
Syariah pada triwulan IV tahun 2019 tetap Pasar Saham ISSI, JII dan JII70
positif di tengah perkembangan geopolitik
dan ekonomi global yang terus bergerak 4.000
dinamis. Index Saham Syariah bluechip
yakni Jakarta Islamic Index (JII), Indeks 3.000
Saham Syariah Indonesia (ISSI), dan
Jakarta Islamic Index 70 (JII 70) pada 2.000
triwulan IV tahun 2019 tetap mengalami
penguatan dengan pertumbuhan nilai 1.000
kapitalisasi masing-masing sebesar 3,5
persen, 2,1 persen, dan 9,2 persen (YoY). 0
Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019
Jakarta Islamic Index (JII)
Index Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Jakarta Islamic Index 70 (JII 70)
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
55
Sejalan dengan peningkatan nilai menyumbang peningkatan aset IKNBS
kapitalisasi pada pasar saham Syariah, secara keseluruhan, dengan pertumbuhan
penerbitan sukuk baik korporasi maupun aset dana pensiun syariah sebesar 17,3
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) persen (YoY).
yang dikeluarkan pemerintah juga
mengalami peningkatan. Namun Tabel 28 Aset IKNB Syariah 2018 – 2019
demikian, nilai outstanding sukuk
korporasi masih jauh tertinggal dari nilai Miliar Rupiah
outstanding SBSN. Nilai outstanding SBSN
dan korporasi pada triwulan IV tahun 2019 Uraian 2018 2019
masing-masing adalah sebesar Rp485,5
triliun dan Rp29,8 triliun, atau meningkat Q4 Q3 Q4
masing-masing sebesar 23,6 persen (YoY)
dan 35,4 persen (YoY). Asuransi Syariah 41.959 44.411 45.453
Gambar 45 Outstanding Sukuk Korporasi Lembaga
35 600 Pembiayaan 25.757 27.010 27.196
30 500 Syariah
25 400 Dana Pensiun 3388 4127 3973
20 Syariah
300 Lembaga Jasa
15
10 200 Keuangan Khusus 25.733 28.155 28.536
5 100 Syariah
00 Lembaga Keuangan 278 403 403
Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019 Mikro Syariah
Sukuk Korporasi (Rp triliun)SBSN Sukuk Korporasi Total Aset 97.115 104.107 105.561
SBSN (Rp triliun)
Sumber: Otoritas Jasa Keuangan dan DJPR Sumber: Otoritas Jasa Keuangan
(miliar USD)Kemenkeu
2.5 Neraca Pembayaran
Industri Keuangan Nonbank Syariah
(IKNBS). Pada triwulan IV tahun 2019, Gambar 46 Perkembangan Neraca
Industri Keuangan Non-Bank Syariah Pembayaran Indonesia
(IKNBS) secara keseluruhan menunjukkan
tren yang positif. Kondisi tersebut 20
tercermin dari pertumbuhan jumlah aset 15
IKNBS yaitu sebesar 8,7 persen (YoY). 10
Meningkatnya jumlah aset IKNBS tersebut
terutama didorong oleh tingginya 5
kenaikan aset pada Lembaga Keuangan 0
Mikro Syariah sebesar 44,8 persen (YoY). -5
Selain Lembaga Keuangan Mikro Syariah, -10
Industri Dana Pensiun Syariah juga -15
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
2018 2019
Transaksi Berjalan
Transaksi Modal dan Finansial
Neraca Keseluruhan
Sumber: Bank Indonesia
Neraca pembayaran kembali surplus.
Neraca pembayaran Indonesia pada
triwulan IV tahun 2019 mengalami surplus
sebesar USD4,3 miliar, turun
dibandingkan triwulan IV tahun 2018 yang
56
sebesar USD5,4 miliar. Hal ini didorong Gambar 47 Neraca Jasa Perjalanan dan
oleh meningkatnya surplus transaksi Transportasi
modal dan finansial serta membaiknya
defisit transaksi berjalan. (miliar USD) 5,0
4,0
Defisit neraca transaksi berjalan Indonesia 3,0
pada triwulan IV tahun 2019 sebesar 2,0
USD8,1 milliar, meningkat dibandingkan 1,0
defisit pada triwulan sebelumnya (USD7,5 0,0
miliar), tetapi lebih baik dibandingkan -1,0
defisit yang terjadi pada periode yang -2,0
sama tahun 2018 yang mencapai USD9,5 -3,0
miliar. Hal ini didorong oleh turunnya nilai -4,0
impor nonmigas dan diiringi dengan
kinerja ekspor nonmigas yang relatif stabil Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
meskipun turun. Di sisi lain, neraca
perdagangan migas pada triwulan IV 2018 2019
tahun 2019 menunjukkan defisit yang
lebih dalam dibandingkan triwulan IV Ekspor Transportasi Impor Transportasi
tahun 2018. Hal tersebut dipengaruhi oleh Ekspor Perjalanan Impor Perjalanan
turunnya harga komoditas minyak dan gas
di pasar internasional yang berdampak Sumber: Bank Indonesia
pada turunnya nilai ekspor produk migas
Indonesia. Defisit neraca transportasi turun, surplus
perjalanan meningkat.
Sementara itu, impor barang lainnya
meningkat sebesar 38,6 persen (YoY) yang Neraca jasa transportasi dan neraca jasa
diimbangi dengan peningkatan ekspor perjalanan menunjukkan kinerja yang
barang lainnya sebesar 63,6 persen (YoY). lebih baik dibandingkan triwulan IV tahun
Dengan kinerja tersebut, barang dagang 2018. Defisit neraca transportasi menurun
lainnya meningkat 102,6 persen (YoY) sementara surplus neraca perjalanan
yang senilai dengan USD339 juta. meningkat. Peningkatan impor jasa
perjalanan diimbangi dengan peningkatan
Kinerja perdagangan jasa kembali pada ekspor jasa perjalanan yang lebih
mengalami peningkatan defisit. Meskipun tinggi. Hal sebaliknya terjadi pada kinerja
ekspor jasa mengalami peningkatan, jasa transportasi. Turunnya ekspor jasa
namun impor jasa mengalami transportasi diimbangi dengan penurunan
peningkatan yang lebih besar. Hal ini impor jasa transportasi yang lebih dalam
terutama disebabkan oleh peningkatan dari USD3,5 miliar pada triwulan IV tahun
impor pada jasa keuangan, jasa 2018 menjadi USD3,1 miliar pada triwulan
telekomunikasi, komputer, dan informasi ini akibat menurunnya aktivitas impor jasa
serta jasa bisnis laiannya. Defisit neraca transportasi barang. Secara umum, baik
jasa meningkat dari USD1,6 miliar pada kinerja ekspor maupun impor jasa
triwulan IV tahun 2018 menjadi USD2,1 transportasi turun, kecuali transportasi
miliar pada triwulan IV tahun 2019. penumpang dimana kenaikan ekspornya
lebih tinggi daripada peningkatan
impornya. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya jumlah wisatawan
mancanegara.
57
Gambar 48 Neraca Pendapatan Primer dan diterima pemerintah. Selain itu juga
Sekunder dipengaruhi oleh realisasi pembayaran
Tenaga Kerja Asing (TKA) yang lebih
5,0 rendah. Sementara itu, penerimaan
remitansi pekerja migran Indonesia relatif
0,0 stabil sebesar USD2,9 miliar.
(miliar USD)
(miliar USD)-5,0
-10,0 Gambar 49 Neraca Transaksi Finansial
-15,0 15
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
10
2018 2019 5
Penerimaan Pendapatan Primer
Pembayaran Pendapatan Primer 0
Penerimaan Pendapatan Sekunder -5
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
Pembayaran Pendapatan Sekunder
2018 2019
Sumber: Bank Indonesia Investasi Langsung
Pada triwulan IV tahun 2019, neraca Investasi Portofolio
pendapatan primer mengalami defisit
sebesar USD8,3 miliar, lebih rendah Investasi Lainnya
dibandingkan defisit periode sebelumnya.
Penurunan ini didorong oleh Sumber: Bank Indonesia
meningkatnya penerimaan pendapatan
investasi melalui peningkatan penerimaan Transaksi modal dan finansial
pendapatan modal ekuitas dan meningkat.
pendapatan bunga investasi portofolio.
Penerimaan kompensasi tenaga kerja juga Setelah terus menurun sejak triwulan I
meningkat dari USD49 juta pada triwulan tahun 2019, transaksi modal dan finansial
III menjadi USD61 juta pada triwulan IV. Indonesia pada triwulan IV kembali
Namun, kinerja tersebut juga diiringi meningkat dengan surplus sebesar
dengan peningkatan pembayaran USD12,4 miliar atau setara 4,3 persen dari
kompensasi tenaga kerja yang lebih besar. PDB. Investasi portofolio dan investasi
Oleh karena itu, kinerja kompensasi lainnya mengalami peningkatan sesuai
tenaga kerja secara keseluruhan defisit pola musiman seiring dengan penarikan
sebesar USD388 juta, sedikit lebih tinggi simpanan bank luar negeri oleh
dibandingkan triwulan sebelumnya yang pengusaha domestik dan meningkatnya
sebesar USD383 juta. penempatan dana nonresiden. Di sisi lain,
investasi langsung mengalami penurunan
Neraca pendapatan sekunder pada dibandingkan triwulan sebelumnya
triwulan IV tahun 2019 surplus sebesar namun lebih tinggi dibandingkan periode
USD2,0 miliar, lebih tinggi dibandingkan yang sama tahun 2018. Penurunan
triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut sebagai dampak dari turunnya
tersebut terutama didorong oleh aliran masuk di sisi kewajiban yang disertai
meningkatnya realisasi hibah yang kenaikan aliran keluar di sisi aset.
Cadangan devisa Indonesia pada triwulan
IV tahun 2019 sebesar USD129,2 miliar,
58
sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan tersebut utamanya disebabkan oleh
sebelumnya. Jumlah tersebut setara ekspor migas yang turun cukup dalam,
dengan pembiayaan 7,3 bulan impor dan yakni sebesar -31,8 persen (YoY), akibat
pembayaran utang luar negeri penurunan harga gas dunia yang cukup
pemerintah. Angka tersebut juga lebih tinggi (-36,5 persen, YoY) pada triwulan IV
tinggi dari standar kecukupan tahun 2019. Ekspor nonmigas pada
internasional yaitu sebesar 3 bulan impor. triwulan IV tahun 2019 juga mengalami
sedikit penurunan sebesar -0,6 persen
Neraca Perdagangan (YoY), yang utamanya disebabkan oleh
penurunan ekspor sektor pertambangan.
Tabel 29 Neraca Perdagangan dan Tingkat
Pertumbuhan Ekspor Impor Tabel 30 Nilai dan Tingkat Pertumbuhan
Tahun Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019 Ekspor
Neraca Perdagangan (Juta USD) Kategori Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019
Total -4.883,5 -115,8 -1.248,5 Nilai Ekspor (Juta USD) 45.050,9 43.835,4 43.352,3
Migas -3.243,9 -1.659,5 -2.908,3
Non Migas -1.639,6 1.543,7 1.659,7 Migas 4.565,0 3.310,9 3.114,6
Minyak Mentah 1.030,9 418,4 440,6
Pertumbuhan YoY (%) Hasil Minyak 389,8 777,8 507,7
Total Ekspor -0,9 -6,9 -3,8 Gas 3.144,3 2.114,7 2.166,3
-10,7
Total Impor 12,3 -11,6 -31,8 Nonmigas 40.485,9 40.524,5 40.237,7
-22,9
Ekspor Migas 6,7 -20,4 -0,6 Pertanian 933.1 1,007.9 1,043.1
-8,4
Impor Migas 12,0 -37,8 Industri 32,559.2 33,608.8 32,801.4
Ekspor Nonmigas -1,7 -5,6 Pertambangan dan 6,993.6 5,907.8 6,393.2
lainnya
Impor Nonmigas 12,4 -6,6
Pertumbuhan Ekspor
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah (YoY%) -0,9 -6,9 -3,8
Neraca perdagangan Indonesia pada Migas 6,7 -20,4 -31,8
triwulan IV tahun 2019 mengalami defisit
sebesar USD1,2 miliar. Indonesia Minyak Mentah -32,5 -71,1 -57,3
mengalami surplus pada sektor nonmigas
sebesar USD1,7 miliar. Namun, pada Hasil Minyak 0,1 86,8 30,2
sektor migas mengalami defisit yang lebih
besar yakni USD2.908,3 juta. Gas 33,0 -7,9 -31,1
Defisit neraca perdagangan Indonesia Nonmigas -1,7 -5,6 -0,6
pada triwulan IV tahun 2019 masih lebih
kecil dibandingkan dengan periode yang Pertanian -0,9 9,7 11,8
sama tahun 2018. Hanya saja, kondisi
tersebut bukan didorong oleh perbaikan Industri -0,9 -2,6 0,7
kinerja ekspor melainkan akibat
penurunan impor yang lebih besar. Pertambangan dan -5,2 -21,3 -8,6
lainnya
Ekspor Indonesia turun 3,8 persen (YoY).
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Negara tujuan ekspor nonmigas utama:
Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang.
Ekspor Indonesia pada triwulan IV tahun Tiongkok merupakan negara tujuan
2019 mencapai USD43,4 miliar, turun ekspor terbesar dengan nilai ekspor
sebesar 3,8 persen (YoY). Penurunan mencapai USD7,5 miliar atau sebesar 18,6
persen dari total ekspor nonmigas
Indonesia. Kemudian Amerika Serikat dan
Jepang, masing-masing berkontribusi
sebesar 11,6 persen dan 8,8 persen
terhadap total ekspor nonmigas.
59
Tabel 31 Perkembangan Nilai Ekspor Nonmigas Berdasarkan 10 Negara Tujuan Ekspor Utama
Negara Nilai Ekspor (Juta USD) Pertumbuhan (%) Proporsi thd
Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019 QtQ YoY Total Ekspor
Nonmigas
(%)
Tiongkok 5.875,4 6.958,2 7.497,7 7,8 27,6 18,6
Amerika Serikat 4.472,4 4.665,4 4.682,3 0,4 4,7 11,6
Jepang 3.797,8 3.536,2 3.521,9 -0,4 -7,3 8,8
India 3.565,8 2.793,0 3.200,7 14,6 -10,2 8,0
Singapura 2.344,9 2.635,9 2.159,6 -18,1 -7,9 5,4
Malaysia 2.072,0 1.930,3 1.955,4 1,3 -5,6 4,9
Korea Selatan 1.941,0 1.460,1 1.435,2 -1,7 -26,1 3,6
Thailand 1.329,4 1.445,2 1.297,3 -10,2 -2,4 3,2
Filipina 1.629,1 1.859,1 1.139,6 -38,7 -30,0 2,8
Vietnam 1.382,2 1.315,6 957,2 -27,2 -30,7 2,4
10 Terbesar 28.410,0 28.599,0 27.846,9 -2,6 -2,0 69,2
Lainnya 12.075,9 11.925,5 12.390,8 3,9 2,6 30,8
Total Nonmigas 40.485,9 40.524,5 40.237,7 -0,7 -0,6 100,0
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Tabel 32 Perkembangan Nilai Ekspor Berdasarkan 10 Golongan Barang HS 2 Dijit Terbesar
Nilai Ekspor (Juta USD) Tingkat Proporsi
Pertumbuhan (%) thd Total
Golongan Barang (HS) Ekspor
Q4 2018
Q3 2019 Q4 2019 QtQ YoY Nonmigas
(%)
27: Bahan Bakar 6.184,5 5.430,0 5.415,4 -0,3 -12,4 13,5
Mineral 5.082,5 4.317,9 13,0
15: Lemak & Minyak 2.267,7 2.359,5 5.213,0 20,7 2,6
Hewan / Nabati 2.043,2 2.381,1 5,6
85: Mesin / Peralatan 1.599,6 1.986,9 2.262,1 -4,1 -0,2 5,2
Listik 5,1
87: Kendaraan dan 2.097,7 -11,9 2,7
Bagiannya 2.055,2 3,4 28,5
72: Besi dan Baja
84: Mesin-mesin / 1.549,7 1.457,2 1.422,6 -2,4 -8,2 3,5
Pesawat Mekanik
-2,3 3,5
40: Karet dan Barang 1.436,9 1.656,9 1.403,8 -15,3
dari Karet 0,3 3,4
71: Perhiasan / 1.355,1 2.066,0 1.358,6 -34,2 18,7 2,9
Permata -16,0 2,9
-1,4 58,5
26: Bijih, Kerak, dan 987,2 702,5 1.171,3 66,7 41,5
Abu Logam 0,5 100,0
1.159,3 9,8 -0,6
64: Alas Kaki 1.379,6 1.056,0 23.558,9 0,6
16.678,8 -2,5
10 Terbesar 23.886,0 23.413,9 40.237,7 -0,7
Lainnya 16.599,9 17.110,6
Total Nonmigas 40.485,9 40.524,5
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
60
Ekspor nonmigas terbesar adalah komoditas primer. Pada triwulan IV tahun
golongan Bahan Bakar Mineral serta 2019, share ekspor produk manufaktur
Lemak dan Minyak Hewan/Nabati. Indonesia hanya mencapai 48,3 persen,
sedikit lebih rendah dari triwulan
Berdasarkan golongan barang HS 2 dijit, sebelumnya yang mencapai 48,9 persen.
ekspor nonmigas pada triwulan IV tahun Ekspor manufaktur berteknologi tinggi
2019 masih didominasi oleh Bahan Bakar pun menunjukkan sedikit penurunan pada
Mineral (HS 27) serta Lemak & Minyak periode ini, dimana share ekspor produk
Hewan/Nabati (HS 15), dengan proporsi manufaktur berteknologi tinggi terhadap
terhadap total ekspor nonmigas berturut- total ekspor hanya mencapai 11,4 persen.
turut sebesar 13,5 persen dan 13,0
persen. Meski demikian, golongan Bahan Tabel 33 Kontribusi Ekspor Berdasarkan
Bakar Mineral mengalami kontraksi
sebesar 12,4 persen (YoY) akibat harga Klasifikasi Teknologi
batu bara yang turun tajam pada periode
tersebut. Ekspor barang yang tumbuh Kategori Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019
terbesar adalah Besi dan Baja (HS 72) serta
Bijih, Kerak, dan Abu Logam (HS 26), (persen) (persen) (persen)
dengan tingkat pertumbuhan sebesar
28,5 persen dan 18,7 persen (YoY). Produk 45,6 48,9 48,3
Peningkatan tersebut didorong oleh Manufaktur
kenaikan harga nikel di pasar internasional
akibat berkurangnya pasokan nikel dunia High-skill dan
pasca pembatasan ekspor nikel oleh
Indonesia, yang ditetapkan melalui berbasis 12,0 11,6 11,4
Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2019.
teknologi
Selain sepuluh golongan barang tersebut,
produk nonmigas yang tumbuh tinggi Medium-skill
pada triwulan IV tahun 2019 adalah
Lokomotif dan Peralatan Kereta Api (HS dan berbasis 10,4 10,9 10,8
86), dengan pertumbuhan sebesar
1.120,2 persen (YoY). Pada tahun 2018 PT. teknologi
INKA mendapatkan kontrak pesanan 250
gerbong kereta api dari Bangladesh senilai Low-skill dan
USD100,8 juta. Atas kontrak tersebut, PT.
INKA melakukan ekspor kereta secara berbasis 6,0 7,2 7,4
bertahap pada tahun 2019.
teknologi
Kontribusi ekspor produk manufaktur
high-skill dan berbasis teknologi terhadap Padat karya dan 16,1 16,8 16,5
total ekspor sebesar 11,4 persen. berbasis SDA
Berdasarkan klasifikasi teknologi, ekspor Tidak 1,0 2,3 2,2
Indonesia masih didominasi oleh teridentifikasi
Komoditas 54,4 51,1 51,7
Primer
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Total impor Indonesia turun 10,7 persen.
Nilai total impor Indonesia pada triwulan
IV tahun 2019 mencapai USD44.600,9
juta, turun 10,7 persen dibandingkan
periode yang sama tahun 2018.
Sementara itu, nilai impor nonmigas pada
triwulan IV tahun 2019 mencapai
USD38.578,0 juta, turun 8,4 persen (YoY).
Sementara pada sektor migas,
penurunannya jauh lebih tinggi yakni
sebesar -22,9 persen (YoY) akibat
penurunan harga minyak dan gas dunia.
61
Tabel 34 Nilai dan Tingkat Pertumbuhan masing-masing hanya sebesar USD7.397,6
juta dan USD4.749,7 juta. Dari sisi
Impor pertumbuhan, ketiga golongan tersebut
mengalami penurunan, dimana
Kategori Q4 2018 Q3 2019 Q4 2019 penurunan terbesar terjadi pada golongan
bahan baku dan penolong sebesar 13,5
Nilai Impor (USD 49.934,4 43.951,3 44.600,9 (YoY).
Juta)
Negara asal impor nonmigas utama
Barang 4,404.1 4,236.9 4,749.7 adalah Tiongkok, Jepang, Singapura,
Konsumsi Thailand, dan Amerika Serikat.
Bahan Baku 37,501.2 31,864.3 32,453.6 Berdasarkan negara asal impor, Tiongkok
merupakan negara asal impor nonmigas
Barang Modal 8,029.1 7,850.0 7,397.6 terbesar dengan nilai impor mencapai
USD12.232,2 juta dengan proporsi
Migas 7.808,9 4.970,4 6.022,9 sebesar 31,7 persen dari total impor
nonmigas pada triwulan IV tahun 2019.
Minyak Mentah 2.207,1 1.305,3 1.719,7 Negara asal impor terbesar lainnya adalah
Jepang dan Singapura, masing-masing
Hasil Minyak 4.794,6 3.124,2 3.659,6 berkontribusi sebesar 9,8 persen dan 6,7
persen terhadap total impor nonmigas.
Gas 807,2 540,9 643,6 Pada periode ini, impor nonmigas asal
Vietnam mengalami penurunan yang
Non Migas 42.125,5 38.980,8 38.578,0 paling tinggi dibandingkan dengan negara
lainnya, yakni turun sebesar 32,8 persen
Pertumbuhan 12,3 -11,6 -10,7 (QtQ) atau turun sebesar 26,8 persen
Impor (YoY%) (YoY).
Barang 11.0 -7.8 -7.8
Konsumsi
Bahan Baku 13.6 -14.4 -13.5
Barang Modal 7.3 -0.5 -7.9
Migas 12,0 -37,8 -22,9
Minyak Mentah 28,2 -45,0 -22,1
Hasil Minyak 47,8 -34,5 -23,7
Gas 32,4 -36,7 -20,3
Non Migas 12,4 -6,6 -8,4
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Berdasarkan golongan penggunaannya,
impor masih didominasi oleh golongan
bahan baku dan penolong, yakni sebesar
USD32.453,6 juta. Sementara impor
barang modal dan barang konsumsi
62
Tabel 35 Perkembangan Nilai Impor Nonmigas Berdasarkan 10 Negara Asal Impor Utama
Nilai Impor Pertumbuhan Proporsi thd
Negara (Juta USD) (%) Total Impor
Q32018 QtQ YoY Nonmigas
Q4 2018 Q4 2019
(%)
Tiongkok 12.764,1 11.715,1 12.232,3 4,4 -4,2 31,7
Jepang 4.636,8 4.176,5 3.762,0 -9,9 -18,9 9,8
Singapura 2.166,4 2.609,2 2.569,3 -1,5 18,6 6,7
Thailand 2.645,8 2.440,4 2.350,6 -3,7 -11,2 6,1
Amerika Serikat 2.257,7 2.148,2 1.980,1 -7,8 -12,3 5,1
Korea Selatan 2.037,1 1.844,6 1.830,6 -0,8 -10,1 4,7
Malaysia 1.711,3 1.530,7 1.438,2 -6,0 -16,0 3,7
Australia 1.405,0 1.194,8 1.190,3 -0,4 -15,3 3,1
Jerman 851,4 965,2 814,6 -15,6 -4,3 2,1
Vietnam 914,7 996,2 669,7 -32,8 -26,8 1,7
10 Terbesar 31.390,4 29.620,8 28.837,8 -2,6 -8,1 74,8
Lainnya 10.735,1 9.360,0 9.740,2 4,1 -9,3 25,2
Total Nonmigas 42.125,5 38.980,8 38.578,0 -1,0 -8,4 100
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
Tabel 36 Perkembangan Nilai Impor Berdasarkan 10 Golongan Barang HS 2 Dijit Terbesar
Golongan Barang (HS) Nilai Ekspor Tingkat Proporsi
(Juta USD) Pertumbuhan thd Total
(%) Ekspor
Nonmigas
Q4 2018 Q3 2018 Q4 2019 QtQ YoY (%)
84: Mesin-mesin / Pesawat 7.478,4 7.361,6 6.833,4 -7,2 -8,6 17,7
Mekanik
85: Mesin / Peralatan Listik 7.808,7 4.970,2 6.022,7 21,2 -22,9 15,6
72: Besi dan Baja 3.189,0 2.746,7 2.761,3 0,5 -13,4 7,2
39: Plastik dan Barang dari 2.515,7 2.319,6 2.150,5 -7,3 -14,5 5,6
Plastik
87: Kendaraan dan Bagiannya 1.989,4 1.862,1 1.772,0 -4,8 -10,9 4,6
29: Bahan Kimia Organik 1.769,7 1.471,0 1.375,1 -6,5 -22,3 3,6
73: Benda-benda dari Besi dan 980,5 1.003,6 950,7 -5,3 -3,0 2,5
Baja 726,2 809,1 821,8 1,6 13,2 2,1
2,0
90: Perangkat Optik
1,9
10: Serealia 936,5 694,8 768,4 10,6 -17,9 62,7
37,3
23: Ampas/Sisa Industri 823,7 654,6 714,9 9,2 -13,2 100,0
Makanan
10 Terbesar 28.217,8 23.893,1 24.170,9 1,2 -14,3
Lainnya 13.907,7 15.087,7 14.407,1 -4,5 3,6
Total Nonmigas 42.125,5 38.980,8 38.578,0 -1,0 -8,4
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah
63
Impor nonmigas terbesar adalah November 2019 untuk konsultasi
langsung dengan Kementerian/Lembaga
golongan Mesin-mesin/Pesawat (K/L) maupun pihak swasta yang akan
terlibat dalam program dibawah Economic
Mekanik dan Mesin/Peralatan Listrik. Cooperations IA-CEPA.
Berdasarkan golongan barang, impor Menyusul ratifikasi, saat ini tengah
nonmigas terbesar adalah Mesin- disiapkan agenda 100 hari kerja
mesin/Pesawat Mekanik (HS 84) dan pelaksanaan IA-CEPA. Adapun rencana
Mesin/Peralatan Listrik (HS 85), keduanya kegiatan selanjutnya adalah termasuk
berkontribusi berturut-turut sebesar 17,7 penyusunan Action Plan 2020-2024 serta
persen dan 15,6 persen terhadap total Kunjungan Bisnis Australia ke Indonesia
impor nonmigas. Hanya saja, yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan
pertumbuhan kedua golongan barang Australia dengan membawa delegasi yang
tersebut mengalami kontraksi masing- merupakan calon investor dari Australia.
masing sebesar 8,6 persen dan 22,9
persen (YoY) pada triwulan IV tahun 2019. Penyusunan NSPK Diplomasi Ekonomi
Penurunan tersebut sejalan dengan
perlambatan pertumbuhan sektor industri Seiring dengan upaya peningkatan
pengolahan pada triwulan IV tahun 2019. efektivitas PTA, FTA, dan CEPA, diplomasi
ekonomi menjadi salah satu strategi yang
Kerjasama Ekonomi Internasional diterapkan untuk arah kebijakan
peningkatan ekspor bernilai tambah tinggi
Indonesia-Australia Comprehensive dan penguatan Tingkat Kandungan Dalam
Negeri (TKDN).
Economic Partnership Agreement (IA-
Dalam arahan yang disampaikan pada
CEPA) Telah Diratifikasi Kepala Perwakilan RI dalam Rapat Kerja
Kepala Perwakilan RI, Presiden
Indonesia-Australia Comprehensive menekankan agar Indonesia
mengerahkan fokus pada diplomasi
Economic Partnership Agreement (IA- ekonomi dan pentingnya untuk
mengidentifikasi potensi dagang dan
CEPA) telah diratifikasi melalui investasi di negara mitra Indonesia.
Meskipun pesan ini disampaikan pada
pengesahan RUU IA-CEPA pada Rapat Duta Besar, namun wewenang ekspor dan
investasi ada pada Kementerian
Paripurna DPR RI yang dilaksanakan pada Perdagangan dan BKPM.
hari Kamis, 6 Februari 2020. Perjanjian IA- Penyusunan NSPK Diplomasi Ekonomi
dipandang penting karena beberapa
CEPA sendiri telah ditandatangani sejak alasan, antara lain:
Maret 2019 lalu. 1) Konsep diplomasi ekonomi saat ini
belum tersusun secara komprehensif
Bappenas berperan sebagai koordinator yang mencakup definisi, tujuan,
Economic Cooperations IA-CEPA. EC IA-
CEPA menyepakati 5 (lima) sektor prioritas
dalam kerangka kerjasama ekonomi IA-
CEPA, yaitu: (1) inovasi makanan dan
minuman, (2) pendidikan dan pelatihan
teknik dan vokasi, (3) grain partnership,
(4) advanced manufacturing, dan (5)
kesehatan hewan ternak.
Tim Expert Australia telah melakukan
kunjungan pada bulan Agustus dan
64
strategi, indikator, dan pembagian telekomunikasi (18 Pasal). Bab MNP terdiri
peran antar K/L; dari 10 Pasal yang mengatur antara lain
2) Kurang sinergisnya kebijakan proses aplikasi, transparansi, dan
diplomasi ekonomi baik dengan pihak komitmen spesifik. Bab Investasi terdiri
swasta sebagai pengguna hasil dari 23 Pasal yang mengatur peningkatan
diplomasi ekonomi; iklim investasi di negara-negara ASEAN
3) Tersebarnya kegiatan diplomasi dan Jepang melalui: Promosi, Proteksi,
ekonomi di berbagai K/L serta kurang dan Fasilitasi Investasi.
terpadunya pembagian peran antar
K/L. Secara umum, nilai ekspor dan impor
sektor jasa Indonesia diproyeksi akan
Oleh karena itu, perlu diinisiasi meningkat dengan implementasi 1st
penyusunan Norma, Standar, Prosedur Protocol to Amend AJCEP. Demikian juga
dan Kriteria penyelenggaran diplomasi nilai investasi Jepang di Indonesia
ekonomi yang melibatkan peran dari diproyeksi akan mengalami peningkatan.
berbagai kementerian/lembaga terkait,
misalnya Kementerian Luar Negeri, Gambar 50 Proyeksi Ekspor Sektor Jasa
Kementerian Perdagangan, Badan
Koordinasi Penanaman Modal, dan 1000 828,7 891,8
Kementerian Pariwisata. 900
800 629,9 677,0 729,3 771,2 831,6
Perkembangan ASEAN-Japan 700 584,4 628,8 678,1 717,6
Comprehensive Economic Partnership 600 771,9
500
ASEAN-Japan Comprehensive Economic 400
Partnership (AJCEP) telah ditandatangani 300
pada tahun 2008 dan diratifikasi oleh 200
Indonesia pada tahun 2009 melalui 100
Perpres No. 50 Tahun 2009. Sedangkan 0
amandemen terhadap Persetujuan AJCEP
mulai dirundingkan sejak tahun 2011 dan 2020 2021 2022 2023 2024 2025
ditandangani pada tahun 2019.
Sumber: Kementerian Perdagangan
1st Protocol to Amend AJCEP bertujuan
untuk menginkorporasikan 3 Bab yaitu Gambar 51 Proyeksi Impor Sektor Jasa
Perdagangan Jasa, Movement of Natural
Persons (MNP), dan Investasi yang 880 864,6
sebelumnya terdapat pada Chapter 6
(Perdagangan Jasa) dan Chapter 7 860 851,8
(Investasi) pada perjanjian tersebut. 838,6 840,3
840 823,8 827,0 857,6
Bab Perdagangan Jasa terdiri dari 26 Pasal
yang mencakup antara lain akses pasar, 820 837,7
komitmen spesifik, dan transparansi, serta
2 (dua) lampiran terkait pengaturan di 800 819,5
bidang jasa keuangan (6 Pasal) dan jasa
804,1
780
785,8
760 769,0
740
720
2020 2021 2022 2023 2024 2025
Sumber: Kementerian Perdagangan
65
Gambar 52 Proyeksi Investasi Jepang di
Indonesia
7 Amandemen Persetujuan AJCEP akan
mulai berlaku apabila Jepang dan minimal
5,95 1 negara anggota ASEAN telah
menyampaikan notifikasi ratifikasi.
6 5,4 5,47 6,25 Namun hingga saat ini amandemen
5 5 5,1 tersebut belum mulai berlaku karena
4,71 5,69 Jepang belum menyampaikan notifikasi
ratifikasinya. Saat ini, amandemen AJCEP
(Miliar USD) 4,95 5,28 di Indonesia telah dibahas pada Rapat
Kerja Menteri Perdagangan dengan
4 Komisi VI DPR RI pada Januari 2020.
3
2 2,46 2,71 2,88
1 0,71 1,52
0
Sumber: Kementerian Perdagangan
Perkembangan Perjanjian Internasional Indonesia
Tabel 37 Perjanjian Internasional Indonesia
No Perjanjian / Kerjasama Status Tahun
1 ASEAN Free Trade Area Signed and In Effect 1993
2 ASEAN-Australia and New Zealand Free Trade Agreement Signed and In Effect 2010
3 ASEAN-Canada FTA Proposed/Under consultation 2017
4 ASEAN-EU Free Trade Agreement and study 2015
Proposed/Under consultation
and study
5 ASEAN-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement Proposed/Under consultation 2016
and study
6 ASEAN-Hong Kong, China Free Trade Agreement Signed but not yet In Effect 2017
7 ASEAN-India Comprehensive Economic Cooperation Signed and In Effect 2010
Agreement 2008
8 ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Signed and In Effect
9 ASEAN-Pakistan Free Trade Agreement Proposed/Under consultation 2009
and study
10 ASEAN-People's Republic of China Comprehensive Signed and In Effect 2005
Economic Cooperation Agreement
11 ASEAN-[Republic of] Korea Comprehensive Economic Signed and In Effect 2007
Cooperation Agreement
12 Indonesia-Australia Comprehensive Economic Signed but not yet in effect 2012
Partnership Agreement
13 Comprehensive Economic Partnership for East Asia Proposed/Under consultation 2005
(CEPEA/ASEAN+6) and study
14 East Asia Free Trade Area (ASEAN+3) Proposed/Under consultation 2004
15 Eurasian Economic Union-Indonesia and study 2016
Proposed/Under consultation
and study
16 Free Trade Area of the Asia Pacific Proposed/Under consultation 2014
and study
66
No Perjanjian / Kerjasama Status Tahun
17 India-Indonesia Comprehensive Economic Cooperation Negotiations launched 2011
Arrangement Signed but not yet In Effect 2017
18 Indonesia-Chile Free Trade Agreement Signed but not yet In Effect 2018
19 Indonesia-European Free Trade Association Free Trade
Negotiations launched 2016
Agreement
20 Indonesia-European Union Comprehensive Economic Proposed/Under consultation 2018
and study
Partnership Agreement Signed and In Effect 2008
21 Indonesia-Gulf Cooperation Council Free Trade 2018
Proposed/Under consultation
Agreement and study 2019
22 Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement Negotiations launched 2018
23 Indonesia-Kenya Free Trade Agreement 2017
Negotiations launched
24 Indonesia-Morocco Preferential Trade Agreement 2013
25 Indonesia-Mozambique Free Trade Agreement Propesed/Under Consultation 2014
26 Indonesia-Nigeria Preferential Trade Agreement and study 2012
Signed and In Effect 2018
27 Indonesia-Pakistan Free Trade Agreement 2018
28 Indonesia-Peru FTA Proposed/Under consultation 2011
and study 2018
29 Indonesia-Republic of Korea Free Trade Agreement Negotiations launched 2017
30 Indonesia-South Africa Free Trade Agreement 2016
Proposed/Under consultation 1997
31 Indonesia-Sri Lanka Free Trade Agreement and study 2011
Proposed/Under consultation 2013
32 Indonesia-Taipei,China FTA and study 2014
Proposed/Under consultation
33 Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement and study
34 Indonesia-Turkey FTA Negotiations launched
35 Indonesia-Ukraine Free Trade Agreement
Negotiations launched
36 Indonesia-United States Free Trade Agreement Proposed/Under consultation
and study
37 Preferential Tariff Arrangement-Group of Eight Proposed/Under consultation
Developing Countries and study
Signed and In Effect
38 Regional Comprehensive Economic Partnership
39 Trade Preferential System of the Organization of the Negotiations launched
Islamic Conference Signed but not yet In Effect
Sumber: Kementerian Perdagangan
67
Tabel 38 Kinerja Perdagangan Indonesia dengan Negara Mitra FTA dalam (juta USD)
Kawasan / Ekspor Q4 2018 Neraca Ekspor Q4 2019 Neraca
Negara Impor Impor
KAWASAN ASIA TIMUR
Jepang 3.797,8 4.636,8 -839,0 3.521,9 3.762,0 -240,1
Korea Selatan 1.941,0 2.037,1 -96,1 1.435,2 1.830,6 -395,4
R. R. Tiongkok 5.875,4 12.764,1 -6.888,7 7.497,7 12.232,3 -4.734,6
KAWASAN ASIA TENGGARA
Thailand 1.329,4 2.645,8 -1.316,4 1.297,3 2.350,6 -1.053,3
Singapura 2.344,9 2.166,4 178,5 2.159,6 2.569,3 -409,7
Filipina 1.645,1 264,6 1.380,5 1.619,4 196,5 1.422,9
Malaysia 2.072,0 1.711,3 360,7 1.955,4 1.438,2 517,2
Myanmar 214,1 25,1 189,0 246,7 51,9 194,8
Kamboja 143,3 8,7 134,6 187,3 8,9 178,4
18,5 8,5 28,9
Brunei 4,7 13,8 37,4
Darussalam
Laos 2,6 5,2 -2,6 2,3 6,6 -4,3
Vietnam 1.393,3 915,1 478,2 1.461,5 1.024,0 437,5
KAWASAN ASIA SELATAN
India 3.565,8 1.241,4 2.324,4 3.200,7 1.033,1 2.167,6
Pakistan 692,2 174,1 518,2 621,5 77,5 544,1
Bangladesh 429,8 19,9 409,9 554,4 26,1 528,2
KAWASAN EROPA
Turki 221,4 228,6 -7,2 266,8 86,3 180,6
KAWASAN AFRIKA
Mesir 224,8 38,2 186,6 302,9 23,3 279,6
Nigeria 124,0 803,7 -679,7 111,7 449,7 -338,0
KAWASAN OCEANIA
Australia 526,1 1.405,0 -878,9 533,8 1.190,3 -656,5
Selandia Baru 144,7 202,3 -57,6 106,6 197,5 -90,9
KAWASAN TIMUR TENGAH
Iran 68,1 13,0 55,1 30,5 4,6 25,9
Sumber: Badan Pusat Statistik
68
Tabel 39 Nerac
Tahun 2014 – Triwu
(USD m
2014 2015 2016 2017
TRANSAKSI BERJALAN -27,5 -17,5 -17,0 -16,2
BARANG 7,0 14,0 15,3 18,8
Ekspor 175,3 149,1
Impor -168,3 -135,1 144,5 168,9
Barang Dagangan Umum
Ekspor 5,5 13,3 -129,2 -150,1
Impor 173,8 147,7
a. Nonmigas -168,3 -134,4 14,7 17,9
Ekspor
Impor 17,3 19,0 143,1 167,0
b. Migas 145,0 130,5
Ekspor -127,7 -111,5 -128,4 -149,1
Impor -11,8
Barang Lainnya -5,7 19,5 25,3
Ekspor 28,8 17,2
Impor -40,6 -22,9 130,2 151,4
JASA-JASA 1,5 0,7 -110,7 -126,2
Ekspor 1,5 1,4
Impor 0,0 -0,7 -4,8 -7,3
-10,0 -8,7
PENDAPATAN PRIMER 23,5 22,2 12,9 15,6
PENDAPATAN SEKUNDER -33,5 -30,9
-29,7 -28,4 -17,7 -22,9
TRANSAKSI MODAL 5,2 5,5
0,6 0,9
TRANSAKSI FINANSIAL 0,0 0,0
1,4 1,9
Aset 44,9 16,8
Kewajiban -0,8 -1,0
INVESTASI LANGSUNG -10,8 -21,5
55,7 38,3 -7,1 -7,4
Aset 14,7 10,7
Kewajiban -10,4 -9,1 23,3 25,3
INVESTASI PORTFOLIO 25,1 19,8
Aset 26,1 16,2 -30,4 -32,7
Kewajiban -1,3
2,6 17,5 -29,6 -32,1
23,5
4,5 4,5
0,0 0,0
29,3 28,7
15,9 -18,4
13,4 47,1
16,1 18,5
11,6 -2,0
4,5 20,5
19,0 21,1
2,2 -3,4
16,8 24,4
69
ca Pembayaran
ulan IV tahun 2019
miliar)
2018:1 2018:2 2018:3 2018:4 2019:1 2019:2 2019:3 2019:4
-4,9 -7,8 -8,4 -9,5 -6,6 -8,2 -7,5 -8,1
2,3 0,3 -0,4 -2,5 1,3 0,6 1,4 0,3
47,7 44,9 41,2 40,2 43,7 43,4
44,4 43,7 -48,1 -47,4 -39,9 -39,6 -42,3 -43,1
-0,1 -2,7
-42,1 -43,4 47,2 44,5 0,8 0,2 0,7 0,0
-47,3 -47,1 40,4 39,4 42,5 42,7
2,0 0,5 -39,6 -39,2 -41,8 -42,7
3,4 0,1
43,7 43,2 42,6 40,0 2,9 3,1 2,7 3,2
-39,2 -39,9 37,4 36,4 39,5 39,7
-41,7 -42,8 -3,5 -2,8 -34,5 -33,3 -36,7 -36,5
-2,1 -2,9 -2,1 -3,2
4,4 3,2 4,6 4,4
-8,1 -7,2 3,0 2,9 3,0 3,0
39,7 38,8 -0,3 0,2 -5,2 -5,8 -5,1 -6,2
0,5 0,4 0,5 0,3 0,7 0,3
-35,2 -35,6 -0,8 -0,3 0,8 0,8 1,2 0,7
-1,8 -1,6 -0,3 -0,5 -0,5 -0,4
-2,4 -2,7 8,2 8,0 -1,6 -1,9 -2,3 -2,1
-10,0 -9,7 7,4 7,4 8,4 8,4
4,1 4,4 -8,0 -7,4 -9,0 -9,2 -10,7 -10,4
1,8 2,0 -8,1 -8,9 -8,4 -8,3
-6,5 -7,2 1,8 2,0 1,8 2,0
0,0 0,0
0,3 -0,2 -1,2 -1,2 -1,4 -1,3
4,0 15,9
0,6 0,5 9,9 6,6 7,4 12,4
-7,5 -2,2
-0,3 -0,7 11,5 18,1 -6,6 -3,8 -3,9 -0,2
16,5 10,4 11,4 12,6
-1,3 -1,7 4,5 0,9
-2,3 -1,7 5,9 5,6 5,2 3,3
8,0 7,1 6,8 2,6 -0,8 -1,6 -0,6 -1,3
-0,1 10,5 6,7 7,2 5,8 4,7
-9,3 -8,7 -1,5 -1,0 5,2 4,6 4,8 7,0
1,3 11,5 0,1 0,0 0,0 0,4
-7,4 -8,0 5,1 4,6 4,9 6,6
1,4 1,6
0,1 0,0
2,1 3,1
-6,3 -3,1
8,5 6,2
4,7 2,4
-0,7 -1,7
5,4 4,1
-1,1 0,1
-1,4 -1,3
0,3 1,4
69
DERIVATIF FINANSIAL 2014 2015 2016 2017
INVESTASI LAINNYA -0,2 0,0 0,0 -0,1
TOTAL 4,3 -5,8 -10,7
NERACA KESELURUHAN 17,4 -10,1 12,5
Posisi Cadangan Devisa -0,7 12,4
Dalam Bulan Impor 15,2 11,6
Transaksi Berjalan/PDB (%) -1,1 12,1
111,9 130,2
Sumber: Bank Indonesia, diolah 6 105,9 116,4 8
-3 7,4 8 -2
-2
-2,03
70
2018:1 2018:2 2018:3 2018:4 2019:1 2019:2 2019:3 2019:4
0,1 0,0 0,1 -0,1 0,1 0,0 0,1 0,0
-1,5 0,6 -0,5 4,7 -1,3 -3,6 -2,7 2,1
-2,7 -5 -4 6 3,3 -1,6 0,0 4,3
-3,9 -4 -4 5 2,4 -2,0 0,0 4,3
126,0 119,8 114,8 120,7 124,5 123,8 124,3 129,2
7,6 6,9 6,3 6,4 6,7 6,7 6,9 7,3
-1,9 -2,9 -3,2 -3,7 -2,5 -3,0 -2,6 -2,8
70
III. PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI
3.1 Proyeksi Pertumbuhan Melemahnya permintaan luar dan
Ekonomi Global produksi industri menekan pertumbuhan
ekonomi Kawasan Eropa sejak 2018. Pada
Proyeksi pertumbuhan ekonomi global periode akhir 2019, aktivitas
masih melambat. perekonomian akan sedikit lebih baik.
Turunnya permintaan luar negeri ini
Aktivitas perdagangan internasional masih memberikan dampak pada Perancis dan
menunjukkan perlambatan hingga Jerman. Sementara itu, perekonomian
triwulan IV tahun 2019. Pertumbuhan Spanyol juga diproyeksi semakin
ekonomi global pada tahun 2019 secara melambat dari 2,2 persen pada tahun
keseluruhan diproyeksi tumbuh 2019 menjadi 1,8 persen pada tahun
melambat. Proyeksi yang dirilis setiap 2020.
triwulannya menunjukkan koreksi yang
terus menurun. Pada bulan Oktober 2019, Perekonomian Jepang pada tahun 2019
International Monetary Fund (IMF) merilis melambat disebabkan oleh turunnya
proyeksi pertumbuhan ekonomi global kinerja sektor eksternal. Perekonomian
pada tahun 2019 sebesar 3,0 persen, lebih Jepang diproyeksikan tumbuh sebesar 0,9
rendah 0,2 persen dari proyeksi bulan Juli persen dan melambat pada tahun 2020
2019. Pada tahun 2020, perekonomian menjadi 0,5 persen. Hal tersebut
global diproyeksi tumbuh lebih cepat merupakan dampak dari penurunan
sebesar 3,4 persen. Namun, negara- konsumsi swasta setelah ditingkatkannya
negara utama seperti Amerika Serikat, pajak konsumsi pada bulan Oktober 2019.
Tiongkok, dan Jepang masih akan tumbuh
melambat pada tahun 2020. Perang dagang dengan Amerika Serikat
membuat perekonomian Tiongkok
Negara-negara utama diproyeksi terpukul. Pertumbuhan ekonomi pada
melambat hingga tahun 2020. tahun 2019 diproyeksi melambat tajam
menjadi 6,1 persen secara keseluruhan.
Berdasarkan proyeksi Oktober 2019, Sementara pada tahun 2020 diproyeksi
Amerika Serikat diproyeksi tumbuh semakin melambat hingga 5,8 persen.
sebesar 2,4 persen pada tahun 2019, lebih
tinggi dibandingkan proyeksi yang Negara berkembang di Asia masih menjadi
dikeluarkan bulan Juli (2,6 persen).
Sementara itu, proyeksi pertumbuhan penggerak perekonomian dunia. Namun,
tahun 2020 sebesar 2,1 persen, lebih
tinggi dibandingkan rilis bulan Juli 2019 seiring dengan melambatnya
(1,9 persen). Melambatnya pertumbuhan
ekonomi Amerika Serikat pada tahun 2020 perekonomian Tiongkok, pertumbuhan
menggambarkan menghilangnya efek
ekspansi fiskal yang telah diterapkan dua ekonomi kawasan juga turut melambat.
tahun lalu.
Pertumbuhan ekonomi negara-negara
Perekonomian di Kawasan Eropa pada
tahun 2019 diproyeksi tumbuh 1,2 persen. berkembang di Asia diproyeksi sebesar 5,9
persen pada tahun 2019 dan 6,0 persen
pada tahun 2020.
Negara ASEAN-5 secara keseluruhan
diproyeksi tumbuh 4,8 persen pada tahun
2019 dan meningkat menjadi 4,9 persen
71
pada tahun 2020. Indonesia, Thailand, dan melambatnya aktivitas ekonomi dunia
Filipina diprediksi akan tumbuh lebih yang berdampak pada rendahnya
cepat pada tahun 2020. Sementara permintaan terhadap minyak mentah.
pertumbuhan Vietnam stagnan dan Pada tahun 2020 harga minyak mentah
Malaysia tumbuh melambat dari 4,5 diproyeksikan akan semakin turun
persen pada tahun 2019 menjadi 4,4 menjadi USD58,0 per barel disebabkan
persen pada tahun 2020. oleh suplai yang naik lebih cepat
dibandingkan permintaannya. Produksi
Pertumbuhan ekonomi India juga minyak mentah Amerika Serikat diprediksi
diproyeksi tumbuh lebih cepat pada 2020 meningkat tahun depan seiring dengan
menjadi 7,0 persen dari 6,1 persen pada mulai beroperasinya pipa baru.
tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi India Permintaan minyak mentah diproyeksi
yang diprediksi lebih tinggi pada tahun sedikit meningkat dengan kondisi global
2020 terutama didorong oleh yang membaik. Namun demikian,
pelonggaran moneter yang telah kestabilan geopolitik masih menjadi isu
dilakukan, kebijakan pemotongan pajak penting yang mempengaruhi
perusahaan, dan program pemerintah perkembangan harga minyak mentah
untuk meningkatkan konsumsi di kedepannya.
pedesaan.
Tabel 40 Proyeksi Pertumbuhan Beberapa Tabel 41 Proyeksi Harga Komoditas Global
Negara
Komoditas Unit 2019 2020
Kawasan 2019 2020 Energi USD/mt 79,0 71,0
Batubara USD/bbl 60,0 58,0
Negara Maju 2,4 2,1 Minyak
Amerika Serikat 1,2 1,4 Mentah USD/mmbtu 4,5 4,5
Kawasan Eropa 0,5 1,2 Gas Alam,
Jerman 1,2 1,4 Eropa USD/mt 575 575
Inggris 0,9 0,5 Non Energi USD/kg
Jepang Minyak USD/mt 1,65 1,71
Negara Berkembang 6,1 5,8 Kelapa Sawit USD/toz 6.010 6.150
Tiongkok 6,1 7,0 Karet 1.390 1.470
India 4,8 4,9 Tembaga
ASEAN-5 Emas
Amerika Latin dan Karibia 0,9 2,0
Brazil 3,2 3,6 Sumber: World Bank, Oktober 2019
Sub Sahara Afrika 0,7 1,1
Afrika Selatan 3,0 3,4 Seiring dengan penurunan harga minyak
mentah, harga batu bara diproyeksi
Global semakin turun dari tahun ke tahun.
Sementara itu, harga gas alam tahun 2019
Sumber: World Economic Outlook, Oktober diproyeksi turun menjadi USD4,5 per
2019 mmbtu dan akan tetap stabil hingga 2020.
Harga kedua komoditas tersebut turun
Harga komoditas internasional secara terutama dipengaruhi oleh turunnya
umum turun pada tahun 2019. permintaan sektor industri. Sementara
permintaan gas alam relatif lebih stabil
Harga komoditas energi diprediksi turun berkat peningkatan penggunaan gas alam
15 persen dibandingkan tahun 2018 dan
berlanjut hingga tahun 2020. Rata-rata
harga minyak mentah tahun 2019 hanya
sebesar USD60,0 per barel, seiring dengan
72
sebagai pembangkit listrik di negara- Sementara itu, harga nikel diproyeksi
negara maju. meningkat dari tahun ke tahun. Tahun
2019, harga nikel rata-rata diprediksi
Komoditas non energi juga menunjukkan mencapai USD14.140 per metrik ton dan
perkembangan harga yang lebih rendah meningkat menjadi USD14.780 per metrik
dari tahun sebelumnya meski kedepannya ton pada tahun 2020. Naiknya harga nikel
akan lebih stabil termasuk komoditas pada tahun 2019 didorong oleh terjadinya
utama Indonesia. Harga rata-rata minyak bencana alam di daerah pusat produksi
kelapa sawit pada tahun 2019 diproyeksi nikel di Indonesia. Hal tersebut
sebesar USD575 per metrik ton dan dikhawatirkan akan mempengaruhi
bertahan hingga tahun 2020. Sementara ketersediaan nikel kedepannya.
itu, harga karet tahun 2019 justru Sementara kenaikan harga pada tahun
meningkat dibandingkan tahun 2020 didorong oleh kebijakan pemerintah
sebelumnya yakni sebesar USD1,6 per Indonesia yang melarang ekspor nikel
kilogram. Peningkatan ini akan berlanjut mentah per Januari 2020.
hingga tahun 2020 yang diproyeksi
mencapai USD1,7 per kilogram. Kondisi Harga komoditas logam mulia terutama
tersebut didorong oleh permintaan akan emas diproyeksi meningkat pada tahun
karet sebagai bahan ban kendaraan yang ini. Rata-rata harga emas pada tahun 2019
meningkat secara konsisten pada 2019 diprediksi mencapai USD1.390 per troy
dan 2020. ons dan kembali meningkat hingga tahun
2020 (USD1.470 per troy ons).
Harga komoditas logam diproyeksi lebih Perkembangan harga emas kedepannya
stabil. masih akan dipengaruhi oleh kondisi
perekonomian global.
Komoditas jenis logam juga mengalami
penurunan harga tahun 2019, namun 3.2 Proyeksi Perekonomian
diproyeksi kembali meningkat pada tahun Indonesia
2020. Harga rata-rata tembaga pada
tahun 2019 diprediksi sebesar USD6.010 Perekonomian Indonesia pada tahun
per metrik ton. Hal tersebut disebabkan 2020 ditargetkan masih tumbuh positif
oleh lemahnya permintaan dari konsumen dan stabil.
utama yakni Tiongkok yang mengalami
perlambatan pada sektor yang berbasis Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020
pada logam. Dampak ini lebih ditargetkan mencapai 5,3 persen. Namun
berpangaruh pada harga dibandingkan pencapaian target tersebut diperkirakan
dampak atas berkurangnya penawaran tidak akan tercapai seiring dengan
yang disebabkan oleh gangguan besarnya downside risk yang dihadapi,
penambangan di Chile dan Indonesia. terutama dampak wabah Covid-19.
Sementara itu, pada tahun 2020 harga Bappenas memperkirakan wabah Covid-
tembaga diproyeksi kembali meningkat 19 berpotensi mengurangi pertumbuhan
seiring dengan efek stimulus fiskal di ekonomi Indonesia 0,3-0,8 persentase
Tiongkok yang akan meningkatkan poin. Dampak tersebut diperkirakan bisa
investasi infrastruktur. lebih besar jika wabah Covid-19 meluas
menjadi pandemi di tingkat global.
73
Tabel 42 Konsensus Proyeksi Pertumbuhan inflasi yang rendah dan alokasi anggaran
Ekonomi Indonesia sebesar Rp10 triliun untuk Kartu Pra Kerja
yang ditargetkan untuk dua juta orang
Lembaga 2020 menganggur. Lapangan kerja baru
ditargetkan sebesar 2,5 – 3 juta pada
IMF1) 5,1 tahun 2020. Pemerintah juga akan
World Bank2) 5,1 meningkatkan alokasi Jaminan Kesehatan
OECD3) 5,1 Nasional (JKN) dari Rp26,5 triliun menjadi
ADB4) 5,2 Rp48 triliun yang akan membantu
Market (Bloomberg)5) 5,0 meningkatkan konsumsi rumah tangga
Bappenas6) 5,3 untuk kesehatan.
Sumber: 1)World Economic Outlook (WEO) Belanja pegawai dan barang dalam APBN
Oktober 2019 2)Indonesia Economic Quarterly 2020 ditargetkan lebih rendah dari tahun
Reports (IEQ) Desember 2019 3)OECD sebelumnya, sehingga kontribusi
Economic Outlook November 2019 4)Asian konsumsi pemerintah diperkirakan
Development Outlook Desember 2019 terbatas dalam mendorong pertumbuhan
5)Indonesia Economic Forecast Februari 2020 ekonomi di 2020.
6)APBN 2020
Perdagangan masih berpotensi
Tabel 43 PDB Berdasarkan Pengeluaran mengalami perlambatan akibat dampak
perlambatan ekonomi Tiongkok,
Komponen 20191) 2020p2) utamanya pasca penyebaran Virus Corona
Pengeluaran (COVID-19) dan perang dagang yang
masih berkelanjutan. Larangan ekspor
Konsumsi RT &LNPRT 5,2 4,9 nikel juga akan membebani perdagangan
Konsumsi Pemerintah 3,2 4,3 pada tahun 2020, mengingat nikel
PMTB/Investasi 4,4 6,0 merupakan salah satu komoditas ekspor
Ekspor -0,9 3,7 utama Indonesia.
Impor -7,7 3,2
5,0 5,3 Meskipun demikian, masih ada ruang
PDB peningkatan ekspor pada tahun 2020
seiring peningkatan harga komoditas,
Sumber: 1)BPS, 2)APBN 2020 utamanya Crude Palm Oil (CPO) dan karet.
Ekspor CPO Indonesia ke India
Dari sisi pengeluaran, investasi dan diperkirakan naik secara signifikan seiring
konsumsi rumah tangga akan menjadi penghilangan diskriminasi tarif terhadap
pendorong utama pertumbuhan. Kinerja CPO Indonesia dan aksi boikot CPO
investasi diperkirakan mengalami Malaysia. Telah diratifikasinya Indonesia-
peningkatan dengan adanya Undang- Australia (IA-CEPA) diharapkan dapat
undang Omnibus Law Cipta Lapangan mendorong peningkatan ekspor.
Kerja yang diharapkan selesai pada
pertengahan 2020. Pengurangan Daftar Dari sisi lapangan usaha, dorongan
Negatif Investasi (DNI) menjadi enam pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020
sektor tertutup juga diharapkan mampu diharapkan berasal dari industri
mendorong investasi. Dorongan investasi pengolahan, sektor pertanian, dan jasa
dalam tiga hingga empat triwulan ke
depan juga diharapkan berasal dari
transmisi penurunan suku bunga acuan
oleh BI yang telah dilakukan sejak 2019.
Stabilitas politik pasca Pemilu Nasional
pada 2019 juga diharapkan dapat
mendorong investasi.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan
mengalami peningkatan, didorong tingkat
74
utamanya informasi dan komunikasi serta seiring perkembangan ekonomi digital
perdagangan. Industri pengolahan dan selesainya proyek Palapa Ring pada
diperkirakan akan mengalami akhir tahun 2019.
peningkatan, didorong industri makanan
dan minuman yang sejalan dengan Meski diperkirakan tumbuh menguat,
peningkatan konsumsi rumah tangga;
industri kimia sebagai dampak perekonomian Indonesia masih
pembangunan pabrik baru di Cilegon; dan
logam dasar sebagai dampak dibayangi risiko negatif yang dapat
implementasi proyek smelter. Industri
tekstil dan pakaian juga diperkirakan memicu rendahnya realisasi
mengalami peningkatan sebagai dampak
pengalihan perdagangan akibat perang pertumbuhan ekonomi dari perkiraan.
dagang antara Amerika Serikat dan
Tiongkok. Pertama, perlambatan ekonomi Tiongkok
yang tajam akibat wabah Covid-19 dan
Tabel 44 PDB Berdasarkan Lapangan Usaha perang dagang yang masih berlanjut.
Perlambatan ekonomi Tiongkok yang
Komponen Pengeluaran 20191) 20202) tajam akan secara signifikan berdampak
pada kondisi ekonomi Indonesia,
Pertanian 3,6 3,7 mengingat cukup tingginya keterkaitan
Pertambangan 1,2 1,9 ekonomi Indonesia dengan Tiongkok.
Industri Pengolahan 3,8 5,0 Keterkaitan yang tinggi antara Tiongkok
Pengadaan Listrik 4,0 4,2 dengan Indonesia dapat dilihat dari share
Pengadaan Air 6,8 4,0 Tiongkok dalam total ekspor nonmigas
Konstruksi 5,8 5,7 Indonesia mencapai 16,7 persen, Foreign
Perdagangan 4,6 5,5 Direct Investment (FDI) mencapai 4,8
Transportasi 6,4 7,0 persen, dan kedatangan wisatawan
Penyediaan Akomodasi 5,8 6,0 Tiongkok mencapai 12,9 persen pada
Informasi dan Komunikasi 9,4 7,3 tahun 2019. Wabah Covid-19 diperkirakan
Jasa Keuangan dan dapat menurunkan pertumbuhan PDB
Asuransi 6,6 6,3 Indonesia sebesar 0,3-0,8 persentase
Real Estat poin.
Jasa Perusahaan 5,7 4,9
Administrasi Pemerintah 10,3 8,3 Kedua, volatilitas kelanjutan perang
Jasa Pendidikan 4,7 4,5 dagang antara AS dan Tiongkok. Hasil
Jasa Kesehatan 6,3 5,1 pemilihan AS pada tahun 2020 akan
Jasa Lainnya 8,7 7,5 menjadi faktor penentu stance kebijakan
10,6 8,9 AS ke depan. Pemilu di AS juga akan
meningkatkan ketidakpastian politik
Sumber: 1) BPS, 2) APBN 2020 global pada semester kedua tahun 2020.
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Ketiga, ketegangan geopolitik di Timur
tidak memprediksi kemungkinan besar Tengah berpotensi mendorong
terjadi El Nino pada paruh pertama tahun peningkatan harga minyak. Kenaikan
2020, yang memberikan sinyal positif bagi harga ini menimbulkan dampak buruk
sektor pertanian untuk tumbuh lebih pada defisit transaksi berjalan dan Rupiah.
tinggi karena cuaca yang lebih baik akan Selain itu, kenaikan harga minyak juga
meningkatkan produksi pangan pada akan membebani pertumbuhan ekonomi
tahun 2020 dibandingkan 2019.
Sementara itu, sektor informasi dan
komunikasi serta perdagangan
diharapkan mengalami peningkatan
75
melalui peningkatan biaya untuk industri, terhadap perekonomian. Shortfall
pendapatan negara yang terjadi pada
meskipun akan berdampak positif bagi tahun 2019 akan berdampak pada
realisasi tahun 2020. Perlambatan
anggaran melalui peningkatan ekonomi yang diperkirakan terjadi seiring
ketidakpastian global juga akan
pendapatan. mempengaruhi pencapaian kinerja
pendapatan negara.
Keempat, shortfall pendapatan negara
yang dapat berdampak pada lebih
rendahnya kontribusi belanja pemerintah
76
SUSUNAN TIM REDAKSI
Penanggungjawab
Ir. Bambang Prijambodo, MA
Pemimpin Redaksi
Eka Chandra Buana, SE, MA
Dewan Redaksi
Dr. Ir. Boediastoeti Ontowirjo, MBA
Dr. Onny Noyorono, MIA, MA
Leonardo Adypurnama Alias Teguh Sambodo, SP, MS, Ph.D
Drs. I Dewa Gde Sugihamretha, MPM
Dr. Haryanto, SE, MA
Ir. Sidqy Lego Pangesthi Suyitno, MA
Ir. Imarita Trihanda, MS
Redaktur Pelaksana
Cut Sawalina, SE, Msi
Mochammad Firman Hidayat, SE, MA
Toni Priyanto J, S.Kom, ME
Rosy Wediawaty, SE, MSE, MSc
Tari Lestari, S.Si, SE, MS
Muhammad Fahlevy, SE, MA
P.N. Laksmi Kusumawati, SE, MSE, MSc, Ph.D
Octal Pramudito, SE, MA
Dra. Dwi Martini, ME
Yunus Gastanto, SE, PG.Dip
Istasius Angger Anindito, SE, MA
Yogi Harsudiono, SE, MPA
Ibnu Yahya, SE, M.Ec. Pol
Fajar Hadi Pratama, ST
Sukhad, S.IP
Drs. Muhammad Arif, Msi
77
Penulis
Filza Amalia, SE
Rakhmi Fadillah, SE
Mario Rosario Wisnu Aji, SE
Haqiqi Masnatin, SE
Rahma Hanii Maulida, SE
Rinda Komalasari, SE
Firdaussy Yustiningsih, STP, ME
Hillary Tanida Stephany Sitompul, S.HI
Richard Lorenz Hasiholan Silitonga, SE
Aris Saputra, SE
Aldi Turindra Rachman, SE
Deni Apriyanto, SE
Hilda Roseline, SE
Mutiara Maulidya, SE
Widyastuti Hardaningtyas, SE
Widath Chaerunissa Ayuningtyas, SE
Zakka Farisy, SE
Imroatul Amaliyah, SE
Muhammad Fikri Masteriarsa, S.Stat
Distributor/Sirkulasi
Imam Musadad
Tulus Sujadi
Administrasi
Dina Fitriani, SPd
Editor
Rahma Hanii Maulida, SE
Grafis dan Layout
Zaid Fadhlurrahman, S.Kom
78
Untuk memberikan hasil laporan terbaik, kami mengharapkan saran dan kritik membangun
dari pembaca.
Kritik dan saran harap dikirimkan ke alamat surat elektronik berikut
[email protected]
79
KEDEPUTIAN BIDANG EKONOMI
KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS
Gedung Madiun Lt. 5, Jl. Taman Suropati No. 2,
Menteng, Jakarta Pusat, 1030
Telp. (021) 31934267
80