The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rohanisraihas78, 2021-08-10 10:25:33

qdoc.tips_cerita-cerita-inspirasi

qdoc.tips_cerita-cerita-inspirasi

c) Polisi yang menilang?
d) Karena dirinya sendiri?

Jawaban-nya adalah D.

Budi tidak dapat mengendalikan tumpahnya teh itu. Namun bagaimana
reaksi-nya 5 detik kemudian itu, yang menyebabkan harinya menjadi buruk.

Ini yang mungkin terjadi jika ia bereaksi dengan cara yang berbeda.

Teh tumpah di kemejanya. Adiknya sudah siap menangis. namun ia bisa
dengan Lembut berkata : "Tidak apa-apa sayang/adik, lain kali kamu lebih
hati-hati ya".

Budi pergi mengganti kemeja dengan tenang dan melihat sang adik
sedang naik ke dalam bus sekolah. Budi dapat tiba di kampus 5 menit lebih
awal karena tidak perlu berurusan dengan polisi, dan dengan riang
Menyalami para kawan..

Lihat perbedaannya. Dua skenario yang berbeda. Keduanya dimulai dari hal
yang sama, tapi berakhir dengan hal yang berbeda.

Kenapa?
Karena REAKSI kita. Sungguh kita tidak dapat mengontrol 10% hal-hal yang
terjadi.Tapi yang 90% lagi ditentukan oleh reaksi kita.

Terima kasih telah membaca dan semoga reaksi kita bisa lebih baik dalam
menyikapi hal-hal diluar kehendak dan keinginan kita. Ingat Tuhan punya
rencana indah buat hamba-hambaNya,namun IA pun berhak menilai
seberapa jauh hambanya yang bertakwa...
SALAM MOTIVASI...

Minggu,

24
Cerita, "Raja yang menjadi tukang kebun"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 18:15 0 komentar

Alkisah adalah seorang raja yang sangat besar
kekuasaannya. Oleh karena kehidupan yang mewah dan serba cukup tidak
membuat ketenangan kepada jiwanya. Sang raja akhirnya memilih untuk
hidup sebagai rakyat biasa dengan menyamar sebagai tukang kebun.

Sang Raja akhirnya bekerja di salah seorang saudagar kaya yang
mempunyai kebun delima yang cukup luas. Ia pun menjaga kebun itu
dengan patuh dan rajin. Suatu hari datanglah tuan kebun itu dan meminta
pekerja kebun membawakan sebiji delima yang masak lagi manis
kepadanya. Pekerja itu pun segera menuju ranting-ranting delima untuk
mencari buah delima yang paling masak.

Kemudian tuannya memakan delima tersebut, air mukanya berubah.
Kemudian berkata: "Wahai pekerjaku tolong bawakan kepadaku sebiji
delima yang lebih manis dari ini."

Sekali lagi, sang raja yang menjadi tukang kebun tadi pergi mencari buah
delima yang lain tanpa mengetahui mengapa tuannya menyuruh dia
membawakan sebiji lagi. Setelah buah yang diberikan kepada tuannya itu
dimakan, dengan spontan buah itu dibuang oleh tuannya itu.

Oleh karena terlalu marah sebab buah yang dimakannya itu ternyata masih
masam, ia pun berkata dengan suara yang keras: "Wahai pekerja! Heran

sekali aku melihat engkau. Sudah begini lama engkau menjaga kebunku,
tidakkah engkau tahu yang masam dan manis?"
Lalu jawab sang raja tadi dengan suara yang lemah dan sopan : "Tuan,
bukankah saya ini diamanahkan untuk menjaga kebun supaya sentiasa
subur buah-buahan, tetapi tuan tidak memberi izin kepada saya untuk
mencicipi buahnya."

Betapa terkejutnya tuannya itu setelah mendengar jawaban tersebut. Tidak
terduga sama sekali akan besarnya sifat amanah yang ada pada tukang
kebunnya itu. Namun, alahngkah terkejutnya sang tuan tatkala mengetahui
bahwa pekerja kebunnya adalah seorang raja mahsyur yang memang
tengah mencari kehidupan sebagai rakyat biasa.

Sang tuan pun akhirnya menyadari bahwa memang pantaslah ia menjadi
seorang raja yang terkenal bijak seantero negri. Jadi rakyat kecilpun beliau
bisa betul-betul menjaga pekerjaannya walau sangat sepele. Ia pun segera
meminta maaf dan sekaligus mendoakan sang raja.

(diilhami dari kisah Ibrahim bin Adham)

****

Sahabatku, kisah tersebut diatas merupakan salah satu refleksi bagaimana
seorang manusia dengan sangat amanah dalam menjalani pekerjaannya.
Bagaimana dengan kita ?
tentu para sahabat sangat mengerti bagaimana seharusnya kita menjaga
amanah dalam setiap pekerjaan. sekecil apapun itu, namun nilainya sangat
berharga. Dari seorang pekerja bahkan pemimpin pun sangat diperlukan
sikap ini.

Kembali kepada hati nurani masing-masing, bagaimana kita bisa jujur

sekecil apapun dengan apa yang kita lakukan, Tentu Tuhan lah yang
menilai dan membalas apa yang kita lakukan.

Sahabatku, sederhana namun bermakna,,,"mulai dari diri kita sendiri dan
mulai lah saat ini" (Aa Gym mode on)..^_^

Terima kasih telah membaca dan semoga selalu semangat dalam menjalani
hidup..
SALAM MOTIVASI !!!

Minggu,
24
Cerita, "Lalat dan Semut"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 18:10 0 komentar

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah
di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak
menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekor lalat bergegas
terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan
yang penuh dengan makanan lezat.

"Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan
segar," katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang
menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup
rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya
yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung
kembali dengan mereka.

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca
itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca.
Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke

kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin
petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan.

Esok paginya, nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh
dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan
keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat
yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai
menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-
ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih
tua, "Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?" "Oh.., itu sering
terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini
telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar
dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia
frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu
makan malam kita.

" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan
bertanya lagi, "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah
berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?"

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu
menjawab, "Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah
mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara
yang sama." Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak
seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada
lebih serius, "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara
yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan
seperti lalat ini."

"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya
melakukannya dengan cara yang berbeda."

dari http://sahabatz.blogspot.co
Selasa,
19
Cerita, "Kisah Nyata Mantan Bintang Porno SHELLEY LUBBEN"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 02:34 0 komentar

Sebuah kisah dari seorang bintang film porno yang
kini sudah bertobat. Dan saat ini Shelley aktif mengkampanyekan untuk
meninggalkan dunia porno. Berikut adalah penuturannya. Jika anda
penasaran dengan kisah ini berkunjunglah ke situsnya di shelleylubben.com

Gadis cantik, tubuh sexy, dan mata yg membangkitkan gairah seakan-akan
berkata "aku menginginkanmu". Itu yg biasa kamu lihat di cover film porno,
bisa jadi itulah tipuan terbesar sepanjang masa. Percayalah, Aku tahu. Aku
dulu pernah melakukannya sepanjang waktu dan aku melakukannnya
karena "nafsuku" akan kekuasaan dan kecintaanku kepada UANG.

Aku tidak pernah menyukai sex. Bahkan Aku tidak menginginkannya dan
faktanya aku lebih banyak minum "Jack Daniels" daripada bersama para
pria yg dibayar seperti aku untuk "berpura-pura" di film. Ya Benar tidak ada
diantara kami – gadis-gadis blonde yg menyukai "being in porn movie".
Kami benci disentuh oleh orang asing yg sama sekali tidak peduli dengan
kami. Kami benci dianggap rendah oleh mereka, laki-laki dengan keringat
dan bau busuknya.

Beberapa diantara kami sering sampai muntah di kamar mandi saat break

syuting. Sedangkan yg lainnya berusaha menenangkan diri dengan
merokok Marlboro tanpa henti. Tapi industri porno ingin agar "KAMU"
selalu berpikir kalau kami artis porno sangat menyukai sex.

Mereka ingin kamu percaya bahwa kami senang dilecehkan seperti
binatang dalam berbagai jenis adegan di film. Kenyataannya, artis porno
sering tidak tahu apa saja adegan yg akan mereka lakukan saat pertama
kali datang ke lokasi syuting dan kami hanya diberi dua pilihan oleh
produser : "Lakukan atau Pulang Tanpa Bayaran. Kerja atau tidak akan bisa
kerja lagi."

ya memang benar kami punya pilihan. Beberapa diantara kami memang
sangat memerlukan uang. Tapi kami dimanipulasi, dipaksa bahkan diancam.
Beberapa diantara kami terjangkit AIDS karena profesi ini. Atau tertular
herpes dan berbagai macam penyakit kelamin lain yg sukar disembuhkan.
Salah seorang artis film porno setelah syuting dgn menahan sakit
sepanjang hari setelah sampai dirumah menembak kepalanya dengan
pistol. Mati

Kebanyakan dari artis porno mungkin berasal dari keluarga yg berantakan
dan pernah mengalami pelecehan seksual dan perkosaan dari keluarga atau
tetangganya sendiri. Saat kami kecil kami hanya ingin bermain dengan
boneka, bukan mendapatkan trauma saat seorang laki-laki dewasa berada
diatas tubuh kami. Jadi sejak kecil kami belajar bahwa sex bisa membuat
kami berharga.

Dan dengan semua pengalaman mengerikan itu kami menipu kalian di
depan kamera padahal sebenarnya kami membenci di setiap menitnya.
Karena trauma itu kebanyakan artis porno hidupnya tergantung kepada
alkohol dan narkotika. Dan hidup kami juga selalu diliputi ketakutan akan
terjangkit HIV atau penyakit kelamin lainnya. Herpes, gonorrhea, syphilis,
chlamydia, dll setiap hari menghantui kami.

Memang setiap bulan kami diperiksa tapi kamu tahu kalo hal tersebut tidak
akan bisa mencegah kami tertular penyakit-penyakit mematikan itu. Selain
penyakit, adegan syuting tdk kalah mengerikannya, banyak dari kami
mengalami luka sobek atau luka pada organ tubuh bagian dalam kami.
Diluar syuting kami sering berharap bisa menjalani hidup yg normal.

Tapi sangat sulit menjalin hubungan yg normal dengan laki-laki *biasa*,
maka dari itu kebanyakan dari kami menikah dengan sutradara film porno
atau menjalani hidup sebagai lesbian. Buat aku momen yg gk akan
terlupakan adalah ketika tanpa sengaja anak perempuanku melihat ibunya
yg telanjang sedang berciuman dengan gadis lain.

Anakku pasti akan terus mengingatnya juga. Pada hari yg lain kami bisa
berubah seperti zombie dengan botol bir di tangan kanan dan gelas wisky
di tangan kiri. Kami tdk suka bersih-bersih jadi sering kali kami harus
menyewa pembantu untuk membersihkan kotoran kami. Selain itu artis
porno benci memasak sendiri.

Biasanya kami memesan makanan yg kemudian kami muntahkan lagi
karena kebanyakan dari kami menderita *bulimia*. Bagi artis porno yg
memiliki anak, kami adalah ibu yg paling BURUK. Kami menjerit dan bahkan
memukul anak kami tanpa alasan. Seringkali saat kami begitu mabuknya
sampai-sampai anak kami yg berumur 4 tahun yg menyeret kami dari
lantai.

Dan ketika ada tamu (kebanyakan karena alasan sex) kami harus mengunci
anak kami terlebih dulu dikamar dan menyuruh mereka untuk diam. Kalau
aku biasa membekali anak gadisku dengan *pager* dan kusuruh dia
menungguku di taman sampai aku selesai dengan tamuku. Kebenarannya
ada di luar sana….

*Tidak Ada Fantasi di Porn Industry. Semua Tipuan... Kalo kamu bisa melihat
lebih dalam kehidupan artis film porno mungkin kamu akan kehilangan

minat menonton film porno. Kenyataan sebenarnya kami artis film porno
ingin mengakhiri semua rasa malu ini dan semua trauma dalam hidup kami.
Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukannya sendiri.

Kami berharap kalian kaum pria membantu kami, memperjuangkan
kebebasan dan kehormatan kami. Kami ingin kalian memeluk kami saat
kami menghapus air mata dan menyembuhkan luka di hati kami. Kami
berharap kalian mau berdoa untuk kami dan semoga Tuhan akan
mendengar dan mengampuni semua kesalahan kami di masa lalu.
Porn Movie tidak lebih dari Sex Palsu dan Tipuan Kamera. Percayalah…….!

Sabtu,
16
Cerita. “Harimau dan Serigala”
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 20:26 0 komentar

Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala
pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan
coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha
menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha
menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di
bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak
bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari
perkampungan penduduk.

Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu,
di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang.
Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan
buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti
sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu

berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan
lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang
mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk
teronggok di pojok gua.

Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang
pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang
muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan
persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian
mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan
olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang,
mereka semua mau untuk ikut.

Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan,
dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian
berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala
itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan
sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian
itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, "Pelajaran apa
yang dapat kalian lihat dari sana..?".Seorang murid tampak angkat bicara,
"Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan Tuhan. Tuhan pasti akan
memenuhi kebutuhan setiap hamba-Nya. Karena itu, lebih baik aku
berdiam saja, karena toh Tuhan akan selalu memberikan rezekinya kepada
ku lewat berbagai cara."

Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya,
"Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan
mendapat makanan." Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru.
Ia menanti jawaban darinya. "Ya, kamu tidak salah. Kamu memang
memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu
bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi
serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau."

***

Adalah benar bahwa Tuhan ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah
benar pula, Tuhan menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi
apakah Tuhan ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau,
adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk
seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita
lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa
gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para
petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.

Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang
serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak
salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang
dari Tuhan. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang
persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat
disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi
prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu
keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin
membalas budi.

Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita.
Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya Tuhan. Sebab disana,
akan terpantul bahwa kebesaran Tuhan hadir dalam tindak dan perilaku
yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi,
keindahan hati dan keagungan kalbu. Sahabat, jika kita bisa memilih,
berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru
teladan harimau.

Salam Motivasi… ! ^_^

Rabu,
13
Cerita, "Cinta Lelaki Biasa" (kisah nyata)

Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 07:28 0 komentar

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit
mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru
setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik
banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman
Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hari
Nania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania
sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.
Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis
itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar
bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg
barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.
Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya
menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil
dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.
Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan
Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang
tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab
kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda! Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging
di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga,
dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka
serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong
hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan

gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di
kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan
sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat.
Parah. Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji
yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba
membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi
menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di
mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang
dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari
Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-
kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta
begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya
dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal
sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki
yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. Nada suara Nania
tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang
lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan
bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan
dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh
beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu
bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar
untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia
yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari
puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama
kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu
dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania.
Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan
menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang
teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka
akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania
di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya
sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur.
Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat
pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit
dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi
pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada
perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam
kemudian menyemaikan harapan.

Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa
ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya
mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa
tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka
berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena
Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat
ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-
dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu
yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir,
telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,
dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak
sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter
keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah.
Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana
pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania
yang baru tiba, menangis.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari
kediamannya ke rumah sakit. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan
malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania
yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang
kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah
penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu
lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya
ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang
meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan
kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak
pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan
dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu.
Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan
menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku
Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur.
Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun
tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal
lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa
dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan
keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di
restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-
anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania.
Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya
iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke
sana kemari.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di
 jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas
hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh,
semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari
perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang
menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian
lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta.
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang
di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan
selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari
teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah
mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya.
Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-
anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan
yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna.

Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut
takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa
dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

catatan : true story
From : Bramanryo IS1, sumber:Unknown

Selasa,
12
Cerita, "Odol" dari Surga
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 01:26 0 komentar

ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
(fotografer yang hobby menulis)
Cerita menggelikan ini kudengar ketika duduk dibangku SMA dulu. Cerita
yang akhirnya tertulis begitu dalam di relung-relung hati. Cerita yang
meskipun naif, namun bermakna sangat dalam.
Kisah nyata dari seseorang yang dalam episode hidupnya sempat ia lewati
dalam penjara. Bermula dari hal yang sepele. Lelaki itu kehabisan odol
dipenjara. Malam itu adalah malam terakhir bagi odol diatas sikat giginya.

Tidak ada sedikitpun odol yang tersisa untuk esok hari. Dan ini jelas-jelas
sangat menyebalkan. Istri yang telat berkunjung, anak-anak yang
melupakannya dan diabaikan oleh para sahabat, muncul menjadi kambing
hitam yang sangat menjengkelkan. Sekonyong-konyong lelaki itu merasa
sendirian, bahkan lebih dari itu : tidak berharga ! Tertutup bayangan hitam
yang kian membesar dan menelan dirinya itu, tiba-tiba saja pikiran nakal
dan iseng muncul. Bagaimana jika ia meminta odol pada TUHAN ?

Berdoa untuk sebuah kesembuhan sudah berkali-kali kita dengar
mendapatkan jawaban dari-NYA . Meminta dibukakan jalan keluar dari
setumpuk permasalahanpun bukan suatu yang asing bagi kita. Begitu pula
dengan doa-doa kepada orang tua yang telah berpulang, terdengar sangat
gagah untuk diucapkan. Tetapi meminta odol kepada Sang Pencipta jutaan
bintang gemintang dan ribuan galaksi, tentunya harus dipikirkan berulang-
ulang kali sebelum diutarakan. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak
pada tempatnya. Tetapi apa daya, tidak punya odol untuk esok hari –entah
sampai berapa hari- menjengkelkan hatinya amat sangat. Amat tidak
penting bagi orang lain, tetapi sangat penting bagi dirinya.

Maka dengan tekad bulat dan hati yang dikuat-kuatkan dari rasa malu,
lelaki itu memutuskan untuk mengucapkan doa yang ia sendiri anggap gila
itu. Ia berdiri ragu-ragu dipojok ruangan sel penjara, dalam temaram
cahaya, sehingga tidak akan ada orang yang mengamati apa yang ia
lakukan. Kemudian dengan cepat, bibirnya berbisik : ―TUHAN, Kau
mengetahuinya aku sangat membutuhkan benda itu‖. Doa selesai. Wajah
lelaki itu tampak memerah. Terlalu malu bibirnya mengucapkan kata amin.
Dan peristiwa itu berlalu demikian cepat, hingga lebih mirip dengan
seseorang yang berludah ditempat tersembunyi. Tetapi walaupun demikian
ia tidak dapat begitu saja melupakan insiden tersebut. Sore hari diucapkan,
permintaan itu menggelisahkannya hingga malam menjelang tidur.
Akhirnya, lelaki itu –walau dengan bersusah payah- mampu melupakan doa
sekaligus odolnya itu.

Tepat tengah malam, ia terjaga oleh sebuah keributan besar dikamar
selnya.

―Saya tidak bersalah Pak !!!‖, teriak seorang lelaki gemuk dengan buntalan
tas besar dipundak, dipaksa petugas masuk kekamarnya,‖ Demi TUHAN Pak
!!! Saya tidak salah !!! Tolong Pak…Saya jangan dimasukin kesini
Paaaaaaaaak..!!!‖

Sejenak ruangan penjara itu gaduh oleh teriakan ketakutan dari ‗tamu baru‘
itu.

―Diam !!‖, bentak sang petugas,‖Semua orang yang masuk keruangan
penjara selalu meneriakkan hal yang sama !! Jangan harap kami bisa tertipu
!!!!‖

―Tapi Pak…Sssa..‖

Brrrraaaaang !!!!

Pintu kamar itu pun dikunci dengan kasar. Petugas itu meninggalkan lelaki
gemuk dan buntalan besarnya itu yang masih menangis ketakutan.

Karena iba, lelaki penghuni penjara itupun menghampiri teman barunya.
Menghibur sebisanya dan menenangkan hati lelaki gemuk itu. Akhirnya
tangisan mereda, dan karena lelah dan rasa kantuk mereka berdua pun
kembali tertidur pulas.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun karena kaget. Kali ini
karena bunyi tiang besi yang sengaja dibunyikan oleh petugas. Ia
terbangun dan menemukan dirinyanya berada sendirian dalam sel penjara.
Lho mana Si Gemuk, pikirnya. Apa tadi malam aku bemimpi ? Ah masa iya,
mimpi itu begitu nyata ?? Aku yakin ia disini tadi malam.

―Dia bilang itu buat kamu !!‖, kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas
dipojok ruangan. Lelaki itu segera menoleh dan segera menemukan benda
yang dimaksudkan oleh petugas. Serta merta ia tahu bahwa dirinya tidak
sedang bermimpi.

―Sekarang dia dimana Pak ?‖, tanyanya heran.

―Ooh..dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap !‖, jawab
petugas itu enteng, ‖saking senangnya orang itu bilang tas dan segala
isinya itu buat kamu‖.

Petugas pun ngeloyor pergi.

Lelaki itu masih ternganga beberapa saat, lalu segera berlari kepojok
ruangan sekedar ingin memeriksa tas yang ditinggalkan Si Gemuk
untuknya.

Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri.
―Ya..TUHAAANNN !!!!‖, laki-laki itu mengerang. Ia tersungkur dipojok
ruangan, dengan tangan gemetar dan wajah basah oleh air mata. Lelaki itu
bersujud disana, dalam kegelapan sambil menangis tersedu-sedu.
Disampingnya tergeletak tas yang tampak terbuka dan beberapa isinya
berhamburan keluar. Dan tampaklah lima kotak odol, sebuah sikat gigi
baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian
sehari-hari.

~~~

Sahabat, Kisah tersebut sungguh-sunguh kisah nyata. Sungguh-sungguh
pernah terjadi. Dan aku mendengarnya langsung dari orang yang
mengalami hal itu. Semoga semua ini dapat menjadi tambahan bekal ketika
kita meneruskan berjalan menempuh kehidupan kita masing-masing. Jadi
suatu ketika, saat kita merasa jalan dihadapan kita seolah terputus.

Sementara harapan seakan menguap diganti deru ketakutan, kebimbangan
dan putus asa.

Pada saat seperti itu ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh bahkan
Odol pun akan dikirimkan oleh Surga bagi siapapun yang
membutuhkannya. Apalagi jika kita meminta sesuatu yang mulia. Sesuatu
yang memuliakan harkat manusia dan DIA yang menciptakan kita.

Seperti kata seorang bijak dalam sebuah buku :
―Seandainya saja engkau mengetahui betapa dirimu dicintai-NYA, hati mu
akan berpesta pora setiap saat‖.

Salam Motivasi...!

~~~

Sudahkah anda berinfak hari ini di kotak CCM Peduli anda? Jika belum
berinfaklah... ^_^

Salam Berbagi...!

Selasa,
12
Cerita, "Arai Sang Pemimpi"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 01:18 0 komentar

Sahabat, beberapa waktu lalu saya bersama
keluarga sempat menikmati sebuah karya yang luar biasa, Film Sang

Pemimpi. Sungguh memotivasi. Mungkin anda juga sudah melihat Film
tersebut, atau membaca novelnya.

Saya berniat menuliskan salah satu adegan yang sangat menginspirasi saya
dari film tersebut. Menurut informasi yang saya terima, kisah-kisah dalam
Novel atau Film tersebut adalah kisah nyata dari si penulis, Andrea Hirata.

(sebelumnya maaf jika salah, kurang sesuai dengan novelnya ^_^)

Suatu ketika Arai sahabat Ikal memecahkan celengan uang mereka yang
hampir setahun lamanya mereka menabung. Arai seorang anak SMP yang
penuh semangat, mengajak Ikal ke toko, untuk membelikan sesuatu dari
hasil tabungan mereka.

Tiba-tiba Arai memesan tepung, gula, dan berbagai bahan-bahan kue.
Melihat kejadian itu, Ikal langsung marah.

"Apa-apaan kau Rai... Tabungan yang kita kumpulkan setahun lamanya,
cuma kau belikan tepung dan Gula... Gila kau Rai. Lagian tabunganku lebih
banyak dari kau" Protes Ikal.

"Percayalah dengan Aku"

"Percaya dari mana?"

Sampai perkelahian kecil terjadi diantara mereka. Hingga Ikalpun mengalah,
dengan mengikuti ide aneh Arai.

Arai mengajak Ikal ke rumah tetangganya, seorang janda beranak satu,
yang sering meminta beras di rumah Ikal. Janda tersebut terpaksa
mengemis dan menjual barang-barang dirumahnya tuk menyambung
hidup semenjak ditinggal suaminya.

Arai dan Ikal pun menemui Ibu janda tersebut, dan memberikan bahan-
bahan kue itu kepadanya.

"Katanya, ibu pandai buat kue ya? Cobalah Ibu menjual kue tuk dijual, pasti
laris. Ini bahan-bahan kue untuk Ibu dari tabungan kami", kata Arai.

Sang Ibu, langsung terharu dengan memeluk mereka. Ucapan terimakasih
berkali-kali terlontar dari mulut ibu tersebut. Saat itulah Ikal semakin takjub
dengan kemuliaan dan ketulusan hati Arai. Bukan Cuma ketulusan, tapi
kecerdasan Arai tuk berfikir solusi.

~~~

Sahabat, kisah tersebut bagaikan tamparan yang membuat malu kepada
diri saya sendiri. Ya, malu kepada seorang anak SMP yang peduli dan
berfikir sangat dewasa. Dia bukan sekedar membantu sementara, tapi
berusaha memberikan solusi jangka panjang kepada tetangganya tersebut.

Sejak saat itupun saya berfikir, berkali-kali kami mengadakan Training
Motivasi Spiritual, ternyata kalah dengan Arai. Arai yang berfikir efektif dan
mengena. Sedangkan kami hanya memotivasi dari lisan, sekedar koar-koar
dari mulut belum ada tindakan nyata yang efektif tuk mengurangi
permasalahan di sekitar kita.

Kemudian saya terinpirasi tuk membentuk suatu program sosial, yang saya
namai program
"KOTAK CCM PEDULI"

Sahabat, ini adalah sebuah gerakan menabung, dengan program sebagai
berikut :
1. Buatlah sebuah kotak tabungan di rumah atau kamar anda, yang anda
namai KOTAK CCM PEDULI atau nama lainnya silahkan yang memotivasi
anda untuk berinfak.

2. Isilah setiap hari, rutin, setiap anda berangkat beraktifitas atau rutin
setelah pulang dari beraktifitas.
3. Isilah minimal Rp.500,- di kotak CCM PEDULI Anda disiplin setiap hari.
4. Ajaklah keluarga dan sahabat-sahabat anda untuk mengikuti gerakan ini.
5. Enam bulan ke depan akan kita evaluasi bersama.

Sahabat, saya membayangkan, ketika tiap dari anda mengamalkan program
ini, misalkan 5000 dari 8000 lebih seluruh anggota CCM ini mengamalkan.
Setiap satu anggota CCM membantu satu fakir miskin dengan memberikan
modal usaha kecil. 5000 orang akan mendapatkan pekerjaan dari
penganggurannya.

Sebuah gerakan sangat efektif dan DAHSYAT tuk membantu perekonomian
saudara kita yang membutuhkan.... atau misalkan dana disatukan, misalkan
dengan Rp.500 x 30 hari x 12 bulan x 5000 anggota, maka akan terkumpul
dana sebesar Rp. 900.000.000,- sangat cukup untuk mendirikan Yayasan
Sosial.

Ah, saya tidak begitu mengharapkan uang infak anda terkumpul jadi satu.
Selain saya nantinya pusing, dengan amanah yang sangat besar, saya yakin
andapun belum bisa sepenuhnya percaya dengan saya.

Saya lebih mengharapkan, 1 orang anggota CCM dapat mengentaskan 1
orang pengangguran fakir miskin. Saya kira suatu cita-cita yang tidak
terlalu muluk-muluk. Seorang anak SMP Arai saja bisa, kenapa kita tidak
bisa. Malu donk... ! ;), Silahkan bisa 2 tahun atau tiga tahun dalam artian
tidak usah memasang target khusus. Mungkin suatu saat tetangga atau
saudara anda terkena musibah, bukalah kota peduli anda tersebut. Siapa
tau bisa meringankan beban mereka.

Hmm..., Apakah anda setuju konsep saya ini? Dan siap mejalankan program
KOTAK CCM PEDULI..?

Silahkan balas pesan saya ini. Jika banyak dari anda setuju, maka kami akan
serius memanajemen program ini. Jika tidak, itu hak anda...

Trimakasih dan Salam Motivasi...! ^_^

Senin,
11
Cerita, "Pohon Tua"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 17:38 0 komentar

Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah
sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya
tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah
hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon
lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka
membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-
burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam
kebesaran pohon itu.

Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-
harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon
tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon
itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah
naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka

setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar
perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-
daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini
mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya.
Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak
lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang
Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau
mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku
miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan.
"Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan
siksaan ini? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon
tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering.
Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam
hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burung
yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.
"Cittt...cericirit...cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak
burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran
burung-burung baru. Satu...dua...tiga...dan empat anak burung lahir ke
dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu.
Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang
kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau
bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam
batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak

dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung
ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah,
hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di
dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang
pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan
pengabdiannya pada alam.

~~~

Sahabat, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Tuhan
memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Tuhan, dengan
kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan
 jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu
mudah di tebak, namun, yakinlah,Tuhan Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita
karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati.
Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Tuhan memberikan
cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Tuhan, sedang MENUNDA
memberikan kemuliaan-Nya. Tuhan tidak memilih untuk
menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Tuhan,
sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Sahabat, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari
rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan
putus asa, jangan lemah hati. Tuhan, selalu bersama orang-orang yang
sabar.

Salam Motivasi...!!!

Sabtu,

02
Cerita,"Pengrajin Emas dan Kuningan"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 09:42 0 komentar

Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin
yang tinggal persebelahan. Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas,
sedang yang lainnya pengrajin kuningan. Keduanya telah lama menjalani
pekerjaan ini, sebab, ini adalah pekerjaan yang diwariskan secara turun-
temurun. Telah banyak pula barang yang dihasilkan dari pekerjaan ini.
Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai penghias, adalah beberapa dari
hasil kerajinan mereka.

Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota. Hari pasar,
demikian mereka biasa menyebut hari itu. Mereka akan berdagang barang-
barang logam itu, sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama
sebulan. Beruntunglah, pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang
mengunjungi kota, dan bermaksud memborong barang-barang yang ada
disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang. Tentu, berita ini akan
membuat semua pedagang membuat lebih banyak barang yang akan
dijajakan.

Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya,
layaknya nafas hidup bagi mereka. Tungku-tungku api, seakan tak pernah
padam. Kayu bakar yang tampak membara, seakan menjadi penyulut
semangat keduanya. Percik-percik api yang timbul tak pernah di hiraukan
mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Sudah puluhan
cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang siap dijual. Hari pasar
makin dekat. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke kota.

Hari pasar telah tiba, dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal
telah digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer
berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan.
Namun, ah sayang, ada kontras yang mencolok diantara keduanya.
Walaupun terbuat dari logam mulia, barang-barang yang dibuat oleh
pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tak berkilau. Ulir-ulirnya kasar,
dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi. Seakan, sang
pembuatnya adalah seorang yang tergesa-gesa.

―Ah, biar saja,‖ demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan
menanyakan kenapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. ―Setiap
orang akan memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari
kuningan,‖ ujar pengrajin emas lagi, ―Apalah artinya loyang buatanmu
dibanding logam mulia yang kupunya, aku akan membawa uang lebih
banyak darimu.‖ Pengrajin kuningan, hanya tersenyum. Ketekunannya
mengasah logam, membuat semuanya tampak lebih bersinar. Ulir-ulirnya
halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperli lingkaran
yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap di pandang
mata.

Ketekunan, memang sesuatu yang mahal. Hampir semua orang yang lewat,
tak menaruh perhatian kepada pengrajin emas. Mereka lebih suka
mendatangi, dan melihat-melihat cincin dan kalung kuningan. Begitupun
tetamu agung yang berkenan datang. Mereka pun lebih menyukai benda-
benda kuningan itu dibandingkan dengan logam mulia. Sebab, emas itu
tidaklah cukup mereka tertarik, dan mau membelinya. Sekali lagi,
terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Pengrajin emas yang
tertegun diam, dan pengrajin kuningan yang tersenyum senang.

Hari pasar telah usai, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua
pengrajin itu pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya,
keduanya mendapat pelajaran dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.

~~~

Sahabat, ketekunan memang sesuatu yang mahal. Tak banyak orang yang
bisa menjalani pekerjaan ini. Begitupun juga kemuliaan dan harga diri, tak
banyak orang yang menyadari, bahwa kedua hal itu, kadang tak berasal
dari apa yang kita sandang hari ini. Setidaknya, tindak-laku kedua pengrajin
itu, adalah potongan siluet kehidupan kita.

Ketekunan, adalah titian panjang yang licin berliku. Seringkali, jalan panjang
itu membuat kita terpelincir, dan jatuh. Seringkali pula, titian itu menjadi
saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kebahagiaan di
ujung simpulnya. Namun, percayalah, ada balasan bagi setiap ketekunan. Di
ujung sana, akan ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau
menekuni jalan itu.

Emas dan kuningan, bisa jadi punya nilai yang berbeda. Namun, apakah
kemuliaan dinilai hanya dari apa disandang keduanya? Apakah harga diri
hanya ditunjukkan dari simbol-simbol yang tampak di luar? Sebab, kita
sama-sama belajar dari pengrajin kuningan, bahwa loyang, kadang bernilai
lebih dibanding logam mulia. Dan juga bahwa kemuliaan, adalah buah dari
ketekunan.

Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup
sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga jika
ulir-ulir hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia jika, lekuk-lekuk kalbu
kita koyak dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu
semua punya harga, jika, pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya, tak di
penuhi dengan simpul-simpul ikhlas dan perangai yang luhur?

Sahabat, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari, kita
bentuk ulir dan lekuk-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan
cahaya-Nya. Susunlah simpul-simpul itu, dengan jalinan keluhuran budi dan
perilaku. Tempalah dengan kesungguhan diri, agar hati kita tak keras, dan

menjadi lembut, luwes serta mampu memenuhi hati orang lain.

Percayalah, akan ada imbalan untuk semua itu. Amin.

Salam Motivasi...

Sabtu,
02
Cerita, "Cinta Kakek"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 09:39 0 komentar

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan
nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan
selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu
bertanya kepada mereka berdua, "Kakek nenek, tolong beritahu kepada
kami resep akur dan cara kakek dan nenek mempertahan cinta selama ini
agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil
saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang
mendalam di antara mereka. "Aha, nenek yang akan bercerita dan
menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini
pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya
perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan
tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‗bagaimana memperkuat
tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta
mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian,

dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih
kuat dan bahagia.

Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang
tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu
membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman.
Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu
banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami
tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak
berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan.
Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara
perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga,
tetapi....kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek
merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak
ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau
menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh
pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau
sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami
bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."

Pembaca yang budiman,

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan
energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan yang
menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya
kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika
kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan

ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah
terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan,
pengharapan, dan kedamaian.

Salam sukses luar biasa!!!

(Andrie Wongso)

~~~

Sahabat,

Cinta, bukanlah apa yang bisa kau dapatkan dari orang yang kau cintai...

Akan tetapi apa yang bisa kau berikan untuk orang yang kau cintai...

Alangkah dahsyatnya ketika Suami Istri menerapkan konsep saling
memberi...

bukan saling menuntut...,

saya yakin bunga-bunga cinta anda dan pasangan anda kan semakin
merekah...

tentunya dengan seizin-Nya"

....

Di tahun baru ini, mari kita perbarui konsep Cinta kita... Instalah program-
program cinta yang baik, dan segera remove program-program error yang
mungkin masih kita pakai saat ini... dan jangan lupa, instal pula antivirus,
yang akan mengkokohkan cinta anda, dari serangan-serangan cobaan
hidup, dengan anti virus iman... yang tentunya harus kita update setiap

hari...

Sahabat sekalian yang kami cintai... Salam Motivasi...
Sabtu,
02
Cerita, "Titik Hitam"
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 09:35 0 komentar

Ustadz, Terus terang , saya merasa kehidupan
dunia ini hampa, tidak ada yang istimewa dan layak disyukuri. " Seorang
lelaki curhat pada Seorang Ustadz

".. Sampai-sampai , saat tidurlah menjadi suatu momen kebahagiaan
terindah."

" Saya tidak puas atas apa yang saya miliki, istri, pekerjaan, kehidupan,
kemampuan serta fisik yang saya miliki sepertinya tidak sesuai harapan.
Saya selalu merasa menjadi orang yang kekurangan di dunia ini. "

"Lalu ? " Ustadz dengan peci haji dikepalanya hanya tersenyum dan
mendengarkan keluhan lelaki ini

" Semakin kuat saya berusaha untuk merubah keadaan, yang saya terima
adalah semakin banyak kekecewaan. " Katanya menunduk

"Ya...aku mengerti apa yang kau alami, itu manusiawi.. " Kata Ustadz
tersenyum. " sekarang aku akan ambil satu kertas putih kosong dan aku

tunjukkan padamu ... nah, apa yang kamu lihat ? "

"Aku tidak melihat apa-apa... semuanya putih," jawab lelaki itu.

Sambil mengambil spidol hitam dan membuat satu titik ditengah kertasnya
Lelaki berpeci putih itu berkata, "Nah.. sekarang aku telah beri sebuah titik
hitam diatas kertas itu, sekarang gambar apa yang kamu lihat?".

"Saya melihat satu titik hitam, tadz "

"Pastikan lagi !", timpal Ustadz.

"titik hitam ! ", Jawabnya yakin.

"Sekarang aku tahu penyebab masalahmu. Kenapa engkau hanya melihat
satu titik hitam saja dari kertas tadi? cobalah rubah sudut pandangmu,

Menurutku yang kulihat bukan titik hitam tapi tetap sebuah kertas putih
meski ada satu noda didalamnya, aku melihat lebih banyak warna putih dari
kertas tersebut sedangkan kenapa engkau hanya melihat hitamnya saja dan
itu pun hanya setitik ?". Jawab lelaki berpeci putih.

"Sekarang mengertikah kamu ? Dalam hidup, bahagia atau tidaknya
hidupmu tergantung dari sudut pandangmu memandang hidup itu sendiri,
 jika engkau selalu melihat titik hitam tadi yang bisa diartikan kekecewaan,
kekurangan dan keburukan dalam hidup maka hal-hal itulah yang akan
selalu hinggap dan menemani dalam hidupmu ..

"Cobalah fahami, bukankah disekelilingmu penuh dengan warna putih,
yang artinya begitu banyak anugerah yang telah diberikan oleh Alloh
kepada kamu, kamu masih bisa melihat, mendengar, membaca, berjalan,
fisik yang utuh dan sehat, anak yang lucu-lucu dan begitu banyak kebaikan
dari istrimu daripada kekurangannya, berapa banyak suami-suami yang

kehilangan istrinya ?

Juga begitu banyak kebaikan dari pekerjaanmu di lain sisi banyak orang
yang antri dan menderita karena mencari pekerjaan. Begitu banyak orang
yang lebih miskin bahkan lebih kekurangan daripada kamu, kamu masih
memiliki rumah untuk berteduh, aset sebagai simpananmu di hari tua,
tabungan , asuransi dan teman-teman yang baik yang selalu
mendukungmu. Kenapa engkau selalu melihat sebuah titik hitam saja
dalam hidupmu ?"

betapa mudahnya melihat keburukan orang lain, padahal begitu banyak hal
baik yang telah diberikan orang lain kepada kita...

betapa mudahnya melihat kesalahan dan kekurangan orang lain,
sedangkan kamu lupa kelemahan dan kekurangan diri kita..

betapa mudahnya menyalahkan dan mengingkari- Nya atas kesusahan
hidupmu, padahal begitu besar anugerah dan karunia yang telah diberikan
oleh-Nya dalam hidup kita...

betapa mudahnya menyesali hidup kamu padahal banyak kebahagiaan
telah diciptakan untuk kamu dan menanti kamu..

"Mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas ini? PADAHAL
SEBAGIAN KERTAS INI BERWARNA PUTIH ?, sekarang mengetikah
engkau?", ucap ustadz

"Ya saya mengerti. Betul, ini tetap kertas putih.. hanya saja ada titik kecil
hitam ditengahnya", Ucap lelaki cerah

....

(Kiriman : Pak Budi Hidayat)


Click to View FlipBook Version