Yola adalah seekor lebah yang berteman dengan Koko Si Monyet,
Luna Si Burung Nuri, dan Loli Si Kupu-kupu. Mereka senang sekali
bermain di sebuah hamparan padang rumput yang luas di tepi pantai.
Di padang rumput itu, terdapat beraneka ragam bunga dengan warna
yang cantik. Yola biasanya akan datang ke padang rumput tersebut
bersama dengan Ayahnya dan kawanan lebah lainnya untuk mencari
madu.
Matahari pagi sangat terasa hangat. Semilir angin menambah kesegaran
cuaca pagi itu. Yola melihat Koko yang sedang bergelayutan di sebuah
pohon yang cukup rindang sambil memakan sebuah pisang.
“Hai, Koko. Apa yang sedang kau lakukan di atas sini?”Tanya Yola
sembari hinggap di ranting.
“Hai, Yola. Dari sini aku memandangi keindahan pantai di depan sana.”
“Apa teman-teman yang lain tidak datang?”
“Sepertinya sebentar lagi mereka tiba. Hari masih cukup pagi untuk
bermain, bukan?”
Yola mengangguk dan kembali terbang, “Jika yang lain sudah datang,
panggil aku, ya. Aku ada di taman bunga untuk membantu Ayahku
mengumpulkan madu”pesan Yola Si Lebah pada Koko.
“Tentu. Aku akan mendatangimu bersama teman-teman nanti”tukas
Koko.
Setelah Yola Si Lebah bergabung dengan kawanan lebah lainnya, tanpa
terasa waktu sudah cukup banyak ia habiskan untuk membantu Sang Ayah
mengumpulkan madu. Karena Koko dan kawan-kawannya tak kunjung
datang, Yola pun meminta izin kepada Sang Ayah untuk menemui teman-
temannya.
“Ayah, apakah aku boleh menemui teman-temanku di pohon
sana?”tanyanya.
“Tentu. Tapi ingat, saat waktunya pulang, kau harus kembali, Nak”
“Baik, Yah. Terima kasih”
Yola pun pergi terbang menuju pohon tempat di mana ia bertemu monyet
pagi tadi. Akan tetapi, saat ia tiba, taka da siapapun di sana. Yola Si Lebah
hinggap di dahan pohon berharap teman-temannya segera datang sperti
biasa.
“Kemana ya mereka? Tidak seperti biasanya mereka terlambat. Koko juga
tidak ada di sini. Kemana ya?”
Yola Si Lebah menunggu cukup lama. Jika ia pergi, ia takut teman-temannya
datang di saat Ayah dan kawanan lebah lainnya selesai mengumpulkan
madu dan kembali ke rumah. Tapi, akhirnya ia memutuskan untuk kembali
menemui Ayahnya.
Ayahnya penasaran melihat Yola terbang dengan wajah sedih. Begitu Yola
Si Lebah mendekat, Ayahnya pun bertanya.
“Kenapa kau sedih? Kau tidak jadi menemui teman-temanmu?”Tanya Ayah.
Yola menggeleng lesu tanpa menjawab.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu, Ayah. Tadi Koko berjanji akan datang bersama Luna dan
Loli. Tapi, saat aku ke sana, tidak ada mereka”
“Ya sudah. Kalau begitu, kita pulang saja. Besok jika bertemu dengan
teman-temanmu lagi, kau bisa tanyakan tentang hari ini”hibur Ayahnya.
Yola mengangguk. Kawanan lebah pengumpul madu itupun akhirnya kembali
ke rumah.
Keesokan harinya, hujan turun sangat lebat. Yola dan lebah lainnya tak
dapat pergi ke taman bunga karena air menggenang di mana-mana. Hujan
turun hingga 1 minggu lamanya. Selama itu pula, Yola tidak mengumpulkan
madu dan tidak bertemu Koko, Luna dan Loli.
“Ayah, mengapa kita tidak lagi pergi ke taman bunga di padang rumput itu?
Aku sudah rindu dengan teman-temanku. Koko, Luna, dan Loli. Apa hanya
karena hujan ini?”Tanya Yola pada Ayahnya.
“Yola, sayang sekali taman bunga dan padang rumput tempatmu bermain
sudah rusak. Ayah dengar dari Paman Kelinci, manusia di sekitar pantai dekat
padang rumput sana ingin membuat bangunan-bangunan yang tinggi
menjulang. Mereka membutuhkan lahan yang luas hingga menebang dan
merusak taman bunga tempat kau dan teman-temanmu bermain”Ayah
menjelaskan perlahan. Beliau tidak ingin Yola terus menunggu tanpa
kepastian.
Mendengar itu, Yola tertunduk sedih. Pupuslah harapannya untuk bermain
lagi dengan teman-temannya.
“Mengapa manusia begitu jahat, Ayah? Mengapa manusia tidak memikirkan
kita, makhluk kecil yang menghuni padang rumput? Mengapa mereka hanya
memikirkan dirinya sendiri?”Yola meratap, namun penuh amarah.
“Sebenarnya, ketika taman bunga dan padang rumput itu di rusak, manusia
pun menerima akibatnya. Ketika manusia-manusia itu sudah meratakan tanah
menjadi bangunan-bangunan tinggi, mereka akan kehilangam daerah resapan
air ketika hujan turun seperti saat ini. Hal itu dapat menyebabkan air hujan
tak dapat diserap tanah dan bisa menyebabkan banjir. Selain itu, jika tidak
ada pohon-pohon yang berdiri di pesisir pantai, akan membuat air tanah dan
air laut menjadi bercampur dan menyebabkan air menjadi asin. Manusia kan
tidak bisa minum air asin, Yola”Ayah berusaha menjelaskan panjang lebar.
Yola tidak terhibur dengan penjelasan Ayahnya. Ia berpikir biarkan
saja manusia menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Manusia
memang sering tidak bijak. Yola hanya ingin berdoa semoga suatu
saat Ia dapat bertemu dengan teman-temannya lagi. Menemukan
taman bunga dan tempat bermain yang jauh lebih baik dibanding
gedung-gedung pencakar langit yang dibuat manusia-manusia di
taman bermainnya.
Yola hanya bisa berdoa, semoga kelak manusia bisa bertindak lebih
bijaksana. Semoga!
Pesan Moral
Sebagai manusia, kita tidak boleh jika
hanya mementingkan diri sendiri. Di dunia ini
manusia, binatang, dan tumbuhan hidup
berdampingan. Sehingga mereka harus
saling menjaga.
TENTANG PENULIS
Nama : Mahalayati Kuswari Halimah
TTL : Bakauheni, 11 maret 2001
Alamat : Pacitan, Jawa Timur
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 2 Sidomulyo : 2007-2013
2. SMP Negeri 1 Kebonagung : 2013-2016
3. SMA Negeri 2 Pacitan : 2016-2019
4. Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa : 2020-sekarang