The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hartantteack, 2022-01-11 03:28:40

makalah ILMU_MUHKAM_DAN_MUTASYABIH

makalah ILMU_MUHKAM_DAN_MUTASYABIH

Keywords: makalah ILMU_MUHKAM_DAN_MUTASYABIH

MAKALAH
“ ILMU MUHKAM DAN MUTASYABIH ”

Disusun Oleh:
1. M. Chairul Amni (180212069)
2. M. Sulthan Ferrel (180212084)
3. Mirza Safrurfa (180212068)
4. M. Iqbal (180212089)

DOSEN PEMBIMBING
Didi Wahyudi, M.A.

UNIVERSITAS UIN AR-RANIRY BANDA ACEH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEJURUAN
PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI
2018

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis hantur kan kepada Allah SWT yang masih
memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah„‟
Ulumul Qur‟an„‟. Tidak lupa shalawat dan salam selalu kita curahkan kepada
Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala
keteladanannya.
Makalah ini di buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah ulumul qur‟an.
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pembahasan mengenai pengertian Ilmu
Muhkam Dan Mutasyabih, sikap para ulama terhadap ayat mutasyabih, mengenai
fawatih aswar, dan hikmah ayat muhkam dan mutasyabih.
Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan
penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang
budiman. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritikyang membangun
sangat penulis harapkan dari guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas
yang lain dan pada waktu mendatang.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Banda Aceh, Oktober 2018

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu Muhkam wal Mutasyabih di latar belakangi oleh adanya perbedaan

pendapat ulama tentang adanya hubungan suatu ayat atau surat yang lain.
Sementara yang lain mengatakan bahwa didalam Al-Qur‟an ada ayat atau surat
yang tidak berhubungan, di sebabkan pendapat ini, maka suatu ilmu yang
mempelajari ayat atau surat Al-Qur‟an cukup penting kedudukannya.

Sebagaimana telah kita maklumi, bahwa al-qur‟an diturunkan dengan
bahasa Arab. Karena itu, untuk nmemahami hokum-hukum yang di kandung
nash-nash al-qur‟an diperlukan antara lain pemahaman dalam hal segi kebahasaan
dalam hal ini adalah bahasa Arab.
Para ulama yang ahli dalam bidang ushul fiqh, telah mengadakan penelitian secara
sesama terhadap nash-nash al-Qur‟an, lalu hasil penelitian itu di tuangkan dalam
kaidah-kaidah yang menjadi pegangan umat islam guna memahami kandungan al-
Qur‟an dengan benar.
Kaidah-kaidah iu membantu umat dalam memahami nash-nash yang Nampak
samar, menafsirkan yang global, menakwil nash dan lainnya yang bertalian
dengan pengambilan hokum dari nashnya.
Dalam upaya mengenal kaidah-kaidah yang telah di rumuskan oleh para ulama
khusus yang berkaitan denagn aspek kebahasaan dalam al-qur‟an disajikan salah
satu pembahasan nya antara lain :muhkam dan mutasyabihat.

B. Rumusan Masalah
1.Apa pengartian muhkam dan mutasyabih ?
2.Bagaiman pandangan ulama terhadap muhkam dan mutasyabih ?
3.Apa itu fawatih al-suwar ?
4.Apa saja hikmah dan nilai-nilai pendidikan ayat-ayat muhkam dan mutasyabih ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mempermudah dalam

proses pembelajaran (pemahaman) mengenai Muhkam dan Mutasyabih untuk
menambah wawasan lita dalam pembelajaran (pemahaman) masalah tersebut

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Muhkam Dan Mutasyabih
A.Muhkam
Muhkam berarti sesuatu yang dikokohkan. Ihkam al- kalam berarti
mengokohkan perkataan denagn memisahkan berita yang benar dari yang
salah,dan urusan yang lurus dari yang sesat. Dengan pengertian seperti inilah
Allah mensifati al-Qur‟an bahwa seluruhnya adalah muhkam,
Al-Qur‟an itu seluruhnya muhkam, artinya seluruh kandungan al- Qur‟an adalah
kokoh, fasih dan menghadirkan perbedaan antara yang hak dan yang batil. Inilah
yang dimaksud dengan muhkam dalam pengertian umum. Ulama berbeda
pendapat dalam mengartikan muhkam. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang
disebut muhkam adalah lafal atau kalimat yang menunjukkan pengertian yang
jelas, baik petunjuknya bersifat zanni, maupun qat‟i. kalangan fuqaha berpendapat
bahwa yang disebut muhkam adalah lafal atau kalimat yang jelas, tidak menerima
pembatalan dan perubahan, serta tidak dapat menerima kemungkinan untuk
ditakwilkan.

B. Mutashabih
Mutashabih secara kebahasaan berarti “mirip, tidak jelas, atau samar-

samar”. Dalam ilmu tafsir, mutashabih berarti ayat yang mengandung makna atau
pengertian yang tidak tegas atau samar-samar karena artinya berdekatan atau
terdapat beberapa pengertian. Mutashabihat merupakan istilah popular dalam ilmu
tafsir, lawan dari muhkam yang tegas dan jelas.Para ahli tafsir mengemukakan
pengertian ayat mutashabih sebagai ayat yang mengandung makna dan
penegertian yang tidak tegas. Namun begitu, terdapat sejumlah perbedaan antar
mufassir mengenai maksud mutashabih sesungguhnya. Di antara pendapat
tersebut adalah,

(1), ayat yang pemahamannya memerlukan kajian yang mendalam atau penjelasan
dari luar. Termasuk dalam kelompok ini, ayat yang mujmal (global, lawan dari =
terperinci).
(2), Ayat yang mempunyai beberapa pengertian.
(3). Ayat yang pengertian sebenarnya berlainan dengan lafadznya.
(4). Ayat tertentu dalam al-Qur‟an : dalam hal ini ayat yang mansukh hukumnya,
ayat yang berupa huruf hijaiyah pada awal bagian surat, dan ayat tentang sifat
Tuhan1.Selain itu para mufassir juga berselisih paham mengenai kemungkinan
memahami ayat mutashabih. Perselisihan itu muncul antara lain karena perbedaan
mereka dalam memahami bentuk atau status kalimat “dan orang- orang yang
dalam ilmunya” .
Para ahli memperdebatkan apakah kalimat tersebut merupakan kalimat lanjutan
dari kalimat sebelumnya, yaitu yang menganggaap kata “wa” dan sebagai harf „at
(kata penghubung) sehingga pengertiannya “tiada yang mengtahui ta‟wilnya
kecuali Allah dan orang- orang yang mantap ilmunya”, ataukah sebagai kalimat
baru, yaitu mengangap kata “wa”tersebut li al-ibtida‟berfungsi sebagai pokok
kalimat) sehinga pengertiannya “tiada yang mengetahui ta‟wi lnya kecuali Allah.
Adapun orang-orang yang mantap ilmunya….”2 Bagi kelompok pertama,
mutashabih dapat dipahami karena menurut mereka, al-Qur‟a>n justru diturunkan
kepada manusia untuk dipahami, termasuk ayat Mutashabih. Sedang bagi
kelompok kedua, mutashabih tidak bisa dipahami, sebab sebagai alat uji keimanan
seseorang. Sedang mutashabih, secara bahasa adalah tashabuh, yakni bila salah
satu dari dua hal serupa dengan yang lain. Shubhah adalah keadaan dimana salah
satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan dari yang lain. Mutashabih disebut juga
dengan mutamathil dalam perkataan dan keindahan. Jadi tashabuh kalam adalah
kesamaan dan kesesuaian3
2. Sikap Para Ulama Terhadap Ayat Muhkam dan Mutasyabih

1 al-Suyuthi, al-Itqan, Vol II (Beirut: Muassasah Kutb al-Hadithah, 1985), 15
2 al_Zarqani, Manahi al-‘Irfa>n, Vol II, (Beirut: Dar al-Kutb, 1996), 289.
3 al-Zarqani, Manahil, 290

Para ulama juga berlainan paham mengenai kemuhkaman Al-Qur‟an dan
kemutasyabihatannya. Sebab dalam Al-Quran ada ayat-ayat yang menerangkan
bahwa semua Al-Quran itu muhkam, seperti surah Hud ayat 1, dan ada pula ayat-
ayat yang menjelaskan bahwa semuanya mutasyabih, seperti ayat 23 surah Az-
Zumar. Sebagaimana ada juga ayat-ayat yang menjelaskan ada sebagian Al-Quran
yang muhkam dan sebagian lain mutasyabih, seperti ayat 7 surah Ali Imran. Ada
tiga pendapat para ulama mengenai masalah tersebut, sebagai berikut:

 Pendapat pertama berpendirian, bahwa semua Al-Qur‟an itu muhkam,
berdasarkan ayat 1 surah Hud: ُُ‫( ِكت ُبُأُ ْح ِك َم ْتُُآيتُه‬suatu Kitab yang ayat-ayatnya
tersusun rapih).

 Pendapat kedua mengatakan, bahwa Al-Qur‟an itu seluruhnya mutasyabihat,
dalam arti yang saling bersesuaian yang sebagian dengan bagian yang lain.
Hal ini berdasarkan ayat 23 surah Az-Zumar:

‫َلَُاُُ َو َّز َلُُاَ ْح َس َهُُا ْل َح ِذ ْي ِثُُ ِك َتابا ُم َت َشا ِبها َم َثا ِو َيُُ َت ْق َش ِع ُّزُ ِم ْى ُهُُ ُجلُ ْو ُُدُالَّ ِذ ْي َهُُيَ ْخ َش ْو َُنُ َربَّ ُه ُْم‬

Artinya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-
Qur‟an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang ulang. Gemetar
karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya.”

 Pendapat ketiga mengatakan, bahwa Al-Qur‟an itu terdiri dari dua bagian,
yakni muhkam dan mutasyabih. Pendapat ini berdasarkan ayat 7 surah Ali
Imran.

Jika dilihat sepintas, seolah-olah hanya pendapat ketiga yang benar dan sesuai
dengan kenyataan yang ada dalam Al-Qur‟an. Tetapi jika diamati secara seksama,
sebenarnya semua pendapat itu benar dan sesuai dengan kenyataan yang ada
dalam Al-Qur‟an itu. Sebab ketiga itu ada dalilnya dalam Al-Qur‟an, dan
semuanya juga benar cara istidhal masing-masing. Yang berbeda hanya orientasi
pendapat masing-masing. Berdasarkan sumber lain menyebutkan, para ulama
berbeda pendapat tentang apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat diketahui oleh
manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Terdapat dua pendapat
berbeda, yang bersumber pada QS. „Ali Imran : 7.

Pendapat Pertama mengatakan bahwa ayat mutasyabih dapat diketahui oleh
orang-orang yang mendalami ilmunya. Itu artinya manusia pun dapat memahami
arti dari ayat mutasyabihat jika memang menguasai ilmunya. Hanya sedikit ulama
yang berpihak kepada pendapat pertama ini. Salah satu ulama, Imam An-Nawawi
dalam Syarah Muslim menyetujui pendapat ini dan mengatakan bahwa pendapat
inilah yang paling shahih karena tidak mungkin Allah memberikan ketentuan
kepada hamba-Nya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya.

Pendapat Kedua mengatakan bahwa ayat mutasyabih hanya diketahui oleh
Allah, sementara orang-orang yang mempelajari ilmunya hanya mengimaninya.
Sebagian besar sahabat, tabi‟in, generasi sesudahnya, terutama Ahlussunnah
berpihak kepada pendapat kedua ini, seperti sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh
Al-Bukhari, Muslim yang bersumber dari Aisyah yang mengatakan bahwa
Rasulullah SAW pernah bersabda ketika mengomentari QS. „Ali Imron ayat 7
: “Jika engkau menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih
untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, orang itulah yang
dicela Allah, maka berhati-hatilah menghadapi mereka.”

3. Fawatih as-Suwar

A. Pengertian
Istilah Fawatih adalah jama‟ dari kata Fatih yang secara bahasa berarti

pembuka, sedangkan Suwar adalah jama‟ dari kata Surah sebagai sebutan
sekumpulan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan nama tertentu. Jadi Fawatih as-Suwar
berarti pembukaan-pembukaan surah karena posisinya di awal surah-surah
AlQur‟an4

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat di pahami bahwa yang di
maksud dengan fawatih al-suwar adalah kalimat atau sekumpulan kata-kata
maupun huruf-huruf yang menempati posisi pembuka surat-surat yang ada dalam
al-quran. Apabila seorang membaca salah satu surat dalam al-quran,maka kalimat
yang pertama kali dibacanya dalam surat tersebut adalah fawatih al-Suwar
(pembuka surat).

B. Macam macam fawatih as-Suwar
Surah-surah al-Qur‟an dimulai dengan berbagai bentuk. Ia dimulai dengan bentuk
yang bervariasi, ada yang sama ada pula yang berbeda. As Suyuti, dalam al-Itqan
fi „Ulum al-Qur‟an membagi bentuk-bentuk huruf, kata, atau kalimat pembukaan
surah-surah al-Qur‟an itu kepada sepuluh macam, yaitu sebagai berikut :

a) Surah-surah yang dimulai dengan pujian (ats-tsanah). Terdapat 14 surah
yang di awali dengan pujian, yaitu tahmid, tabaraka, dan tasbih. Yang
menggunakan lafaz tahmid terdiri dari lima surah, menggunakan lafaz
tabaraka dua surah, dan yang menggunakan lafaz tasbih berjumlah tujuh
surat.

b) Surah-surah yang dimulai huruf-huruf hija‟iyah atau huruf muqaththa‟ah
(huruf potong) terdapat 29 surah yang dimulai dengan huruf potong
tersebut.

4 Acep Hermawan, Ulumul Qur’an Ilmu untuk memahami wahyu, Rosda Karya, Bandung, 2011
hlm.102

c) Surah yang dimulai dengan panggilan (an-nida) hal ini berjumlah 10
surah, 5 di antaranya panggilan kepada Nabi Muhammad dan 5 lainnya
panggilan kepada umat.

d) Surah yang mulai dengan jumlah khabariyah (kalimat berita). Hal itu
berjumlah 23 .

e) Surah yang dimulai dengan qasam (sumpah), yang berjumlah 15 surah.
f) Surah yang dimulai dengan jumlah syarthiyah, yang berjumlah 7 surat
g) Surah yang dimulai dengan kalimat perintah (al-amr), berjumlah 6 surat
h) Surah yang dimulai dengan pertanyaan (istifham), berjumlah 6 surat
i) Surah yang dimulai dengan do‟a, berjumlah 3 surat
j) Surah yang dimulai dengan ilat (ta‟lil), berjumlah 1 surat

C. Fungsi Fawatih as-Suwar dalam bentuk huruf-huruf Hijaiyah
Dari kesepuluh bentuk fawatih as-suwar, yang sering menimbulkan kontroversi di
antara para ulama adalah pembuka surat yang berbentuk huruf. Hal ini terbukti
dari berbagai pembahasan yang dilakukan oleh para ulama. Dalam persoalan ini
terdapat dua kubu ulama yang mengomentari permasalahan tersebut. Zarkasyi
dalam al-Burhan fi „Ulum al-Qur‟an menjelaskan kepada kita dua kubu pendapat
tersebut, yaitu :

a) Makna huruf-huruf pada awal surat merupakan rahasia Allah yang hanya
Allah saja yang mengetahuinya. Al-Shadiq r.a. mengatakan :
“Pada setiap al-Kitab ada rahasianya dan rahasianya pada al-Qur‟an
adalah pada pembuka surat-surat.”
Al-Sya‟bi mengatakan :
“Huruf-huruf pada pembuka surat merupakan mutasyabihaat, kita
beriman dengan dhahirnya dan kita serahkan pengetahuan tentangnya
kepada Allah Azza wa Jalla.”

b) Makna dari huruf-huruf pada awal surat dapat diketahui maksudnya. Telah
terjadi perbedaan pendapat kelompok ini dalam memaknai huruf-huruf

pada awal surat ini dalam dua puluh lebih pendapat, diantaranya ada
mendekati dan ada yang jauh, yaitu :
1. 1. Diriwayat dari Ibnu Abbas, setiap huruf itu diambil dari nama-nama
Allah. Misalnya Alif Lam Mim : Alif = Allah, Lam = Lathif, Mim =
Maajid.
2. Allah bersumpah dengan huruf-huruf pada awal surat tersebut
3. 3.Huruf-huruf tersebut berkisar antara huruf dua puluh Sembilan, maka
tidak ada huruf tersebut kecuali merupakan kunci dari nama-nama Allah,
tanda-tanda-Nya, tanda-tanda malapetaka, masa para kaum dan ajal
mereka. Maka Alif adalah satu tahun, Lam : 30 tahun, Mim : 40 tahun
4. Diriwayat dari Ibnu Abbas juga bahwa Alif Lam Mim bermakna Ana
Allah A‟lam, Alif Lam Mim Shad bermakna : Ana Allah Afshil, Alif Lam
Ra bermakna : Ana Allah Araa.
5. Huruf-huruf itu merupakan nama-nama surat
6. Huruf-huruf itu merupakan rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan
orang-orang yang rasikh ilmunya.
7. Didatangkan huruf-huruf ini untuk ta‟ajub bagi orang-orang Arab
8. Huruf-huruf ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa al-Qur‟an
tersusun dari huruf-huruf ini.
9. Huruf-huruf itu seolah-olah merupakan pembangkit semangat bagi yang
mendengarnya.
10. Memberitahu bahwa datang huruf-huruf ini dari orang yang tidak terlatih
menulis dan tidak menjalani jalan tersebut, sesuai dengan firman Allah
Q.S. al-„Ankabut : 48, berbunyi :

‫َو َما ُك ْن َت َت ْتلُو ِم ْه قَ ْبلِ ِه ِم ْه ِكتَاب َو َل َت ُخطُّهُ ِب َي ِمي ِن َك إِ ًذا َل ْرتَا َب ا ْل ُم ْب ِطلُو َن‬
Artinya : Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya sesuatu kitabpun
dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu;
andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah
orang yang mengingkari(mu). (Q.S. al-„Ankabut : 48)
11. Huruf-huruf itu terdiri dari setengah dari nama-nama huruf mu‟jam,
karena huruf tersebut terdiri dari 14 huruf, sedangkan huruf mu‟jam ada 28

huruf berdasarkan satu pendapat. Huruf-huruf itu datang pada 29 surah
sesuai dengan jumlah huruf mu‟jam, yaitu 29 huruf berdasarkan pendapat
lain mengenai jumlah huruf mu‟jam

4. Hikmah Keberadaan Ayat-ayat Mutasyabihat Dalam Al-Qur’an

Dalam pembahasan ini perlu dijelaskan faedah atau hikmah ayat-ayat
mutasyabihat, diantaranya :

a. Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Akal sedang dicoba untuk
meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi
cobaan pada badan untuk beribadah. Seandainya akal yang merupakan
anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang yang
berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan
tunduk kepada naluri kehambaannya. Ayat-ayat mutasyabih merupakan
sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadaraannya akan
ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu.

b. Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasybih.
Sebagaimana Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab
sebagai cercaan terhadap orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat
mutasyabih. Sebaliknya Allah memberikan pujian bagi orang-orang yang
mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya
untuk mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana
la tuzighqulubana. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan
mengharapkan ilmu ladunni.

c. Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apapun usaha
dan persiapan manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal
tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan
ilmu-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

d. Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan
balaghahnya, agar manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah

buatan manusia biasa, melainkan wahyu ciptaan Allah SWT dan mendorong
kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam5678

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sudah jelas, tidak samar lagi dan tidak
menimbulkan pertanyaan jika disebutkan. Sedang mutasyabih adalah ayat-ayat
yang maknanya belum jelas.
Ulama‟ berbeda pendapat dalam hal memahami ayat-ayat mutasyabih, yaitu
antara bisa tidak nya manusia memahami/memaknai ayat-ayat mutasyabihat.
Sebab munculnya ayat muhkam mutasyabih terbagi menjadi tiga tinjauan yaitu,
Adanya kesamaran dalam lafadz, kesamaran makna ayat dan kesamaran makna
dan ayat.
Terdapat tiga macam ayat mutasyabih yaitu ayat yang tidak bisa difahami oleh
manusia, yang bisa difahami semua orang dengan pemahaman yang dalam dan
ayat yang bisa difahami oleh pakarnya saja.
Terdapat hikmah adanya ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang secara garis
besar masuk pada tataran pemafaman dan penggunaan logika akal.

5 www.dadospdf.com_ulumul-quran-
6 http://syamnewblogaddres.blogspot.com/2016/06/ilmu-muhkam-dan-mutasyabih.html
7 http://meutia-s.blogspot.co.id/2012/04/muhkam-dan-mutasyabih.html?=1
8 http://ruzirahmawati.blogspot.com/2011/12/ayat-muhkam-dan-mutasyabih.html?m=1


Click to View FlipBook Version
Previous Book
E-MAJALAH
Next Book
Final GML - December 2021