The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini merupakan hasil karya delapan bibit penulis dari SDK Gloria 1 & SDK Petra 7 Surabaya

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kec.genteng.laporan, 2022-12-19 08:22:59

DOLANAN LAWAS

Buku ini merupakan hasil karya delapan bibit penulis dari SDK Gloria 1 & SDK Petra 7 Surabaya

Keywords: GUNDU

i

SURAT PERNYATAAN
KEASLIAN KARYA

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya,
bahwa:
Judul : Dolanan Lawas
Penulis : Andina Gabriella, Geralyn Undiarto,

Carolin Natalie Cahyadi, Sheryn
Kirana Putri, Shannon Eleonora
Nugroho, Sonia VL, Janice
Marcella, Jovann Daniel Wardhana
Pakpahan,

adalah benar merupakan karya asli setiap judul
cerpen dengan batas plagiasi sesuai dengan
kesepakatan para editor penulis Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. (bukti
terlampir)
Demikian surat ini dibuat dengan sebenar-benarnya
serta akan menjadi pertanggungjawaban kami jika

ii

terjadi plagiasi penulis siap menghapus dan tidak
diikutsertakan dalam antologi.

Surabaya, 19 November 2022
Yang memberi pernyataan,

Koordinator Tutor Penulis
Kecamatan Kecamatan

( Hendra Hanafi ) ( Erfiani S Wardani )

Mengetahui
Kapten Penulis

( Vegasari Yuniati )

iii

DOLANAN LAWAS

Penulis : Andina Gabriella, Geralyn

Undiarto, Janice Marcella,

Jovann Daniel W. P, dkk

Desain Sampul : Eko Bagus

Penyunting : Erfiani S Wardani, Eko Bagus,

dan Febri Aditya

Penyunting Akhir : Faradila Elifin, Ayu Dewi A.S.N,
Rici Alric K, Vegasari Yuniati,
dan Vivi Sulviana

Diterbitkan pada tahun 2022 oleh Dinas
perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.
Jalan Rungkut Asri Tengah 5-7, Surabaya
Buku ini merupakan kumpulan karya dari bibit
Gendis Sewu, sebagai penghargaan atas
partisipasi yang telah diberikan dalam melahirkan
1000 Penulis dan 1000 Pendongeng.
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang.

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji selalu kami panjatkan
kepada Allah Swt. atas rida-Nya sehingga penulis
mampu menyelesaikan buku ini sebagai bentuk
apresiasi kepada para bibit penulis SDK Gloria 1 &
SDK Petra 7 Surabaya mengikuti Gerakan
Mendongeng dan Menulis Seribu (Gendis Sewu)
dengan baik dan lancar.

Pada penyusunan buku ini, kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
terkait yang ikut andil mensukseskan, membantu,
mengarahkan, dan membimbing kami.

Kami menghaturkan terima kasih kepada:
1. Mia Santi Dewi, S.H., M.Si selaku Kepala

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota
Surabaya
2. Tien, S.E., M.M selaku Kepala SDK Gloria 1
Surabaya
3. Yuliana Wiseso, S.Pd., M.M selaku Kepala
SDK Petra 7 Surabaya

v

4. Para bibit penulis Gendis Sewu SDK Gloria 1
& SDK Petra 7 Surabaya

5. Editor Tim Penulis
a. Tutor Kelas Reguler Tingkat Kecamatan
b. Editor Area Wilayah Pusat

6. Segenap petugas Dinas Perpustakaan dan
Kearsipan Kota Surabaya

7. Siswa-siswi SDK Gloria 1 & SDK Petra 7
Surabaya
Buku ini tidak luput dari kekurangan dan

kesalahan. Jika pembaca menemukan kesalahan
apapun, penulis mohon maaf setulusnya. Selalu
ada kesempatan untuk memperbaiki setiap
kesalahan, karena itu, dukungan berupa kritik &
saran akan selalu penulis terima dengan tangan
terbuka.

vi

Kami menyadari bahwa sebuah karya

memiliki ketidaksempurnaan. Semoga buku ini

menjadi manfaat bagi perkembangan karya tulis

anak bangsa khususnya di kota Surabaya dan

seluruh Indonesia umumnya.

Surabaya, 2022

Petugas TBM se-Kecamatan Genteng

vii

KATA SAMBUTAN

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya

Kami panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Swt.
yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayat-Nya, hanya dengan kemurahan-Nya kita
selalu dapat berikhtiar untuk berkarya dalam
membangun Kota Surabaya yang kita cintai.

Kita patut bangga dan memberi apresiasi
kepada para bibit penulis Gendis Sewu (Gerakan
Melahirkan 1000 Bibit Penulis dan 1000 Bibit
Pendongeng), para editor penulis Dispusip di Kota
Surabaya yang telah bekerja keras membuat karya
tulis yang berjudul Dolanan Lawas.

Buku para bibit penulis Gendis Sewu
menghasilkan karya tulis dari anak-anak cerdas
yang telah melalui proses panjang dan berjenjang
dan merupakan karya-karya imajinatif yang
mengandung pesan moral dengan bahasa yang
mudah dipahami juga sangat baik untuk dinikmati.

viii

Semoga ke depannya akan menjadi inspirasi
untuk berkembangnya budaya literasi dari berbagai
kalangan masyarakat di Kota Surabaya. Akhir kata,
semoga buku berkarya Gendis Sewu berkarya
dengan judul Dolanan Lawas bermanfaat bagi
semua pihak dan perkembangan para bibit Gendis
Sewu.

Surabaya, 2022

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan

Kota Surabaya,

Mia Santi Dewi, S.H., M.Si

ix

SEKAPUR SIRIH

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah Swt.
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kami
sangat bersyukur atas ke hadirat-Nya, hanya
dengan kemurahan Allah Swt, kami dapat
menghimpun berbagai karya tulis para bibit penulis
Gendis Sewu dan menerbitkannya dalam sebuah
buku antologi cerpen dengan judul Dolanan
Lawas.

Buku ini merupakan antologi cerpen
kolaborasi Gendis Sewu dengan SDK Gloria 1 &
SDK Petra 7 Surabaya. Kolaborasi ini
menghasilkan delapan karya tulis cerpen
pendampingan petugas TBM se-Kecamatan
Genteng yang diselenggarakan oleh Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya.

Kegiatan Gendis Sewu memanfaatkan
platform buatan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Kota Surabaya yang bernama Taman Kalimas.

x

Taman Kalimas yang merupakan singkatan
dari Tempat Menampung Karya Literasi
Masyarakat memberikan layanan literasi yang di
dalamnya terdapat tiga layanan sekaligus, antara
lain layanan Taman Kalimas Pembelajaran, Taman
Kalimas Karya dan Taman Kalimas Publikasi.

Para bibit penulis Gendis Sewu terlebih
dahulu didaftarkan untuk mengikuti kelas
berjenjang dari mulai kelas reguler Taman Kalimas
di tingkat kecamatan, lalu untuk bibit terbaik akan
mendapat reward naik ke kelas khusus minat dan
bakat setelah itu karyanya akan dibuat dan
dipublikasikan.

Saya mengapresiasi bangga kepada para
bibit penulis Gendis Sewu yang memiliki semangat
literasi dengan tidak hanya menjadi pembaca pasif
melainkan menjadi pembaca aktif, yaitu selain
membaca juga mampu menulis.

Saya juga mengucapkan terima kasih
kepada Tim Gendis Sewu dan Tim Inti Penulis
Dispusip yang terdiri dari dari para tutor kelas
reguler di tingkat kecamatan, para editor area

xi

(Dira), dan para penyunting akhir hingga buku ini
terselesaikan secara baik.

Buku ini adalah jawaban nyata atas kinerja
para petugas TBM se-Kecamatan Genteng yang
berkolaborasi dengan SDK Gloria 1 & SDK Petra 7
Surabaya Membangun kota maka perlu disertai
‘membangun’ manusia di dalamnya. Tentu tidaklah
mudah, karena awal membangun seringkali terlihat
abstrak, dipertanyakan, atau diragukan. Walaupun
begitu, tetap terus ‘membangun’ karena
‘membangun’ manusia melalui literasi adalah
sebuah investasi jangka panjang untuk kota tercinta
kita Kota Surabaya.
Salam Literasi.

Surabaya, 2022

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya

Pudji Astuti, S.T.
xii

DAFTAR ISI
Bermain Gobak Sodor ...........................................1
Bermain Petak Umpet ............................................4
Bermain Lompat Tali..............................................9
Congkak Dapat Coklat .........................................13
Belajar Sportif ......................................................18
Bermain Sore.......................................................22
Permainan Tradisional .........................................26
Bermain Gundu....................................................29

xiii

BERMAIN GOBAK SODOR

Oleh Andina Gabriella

Eli adalah seorang siswi kelas lima di Happy
School. Dia senang sekali bersekolah di sana
karena bisa mempunyai banyak teman.

Suatu hari saat pelajaran olah raga, Pak
Guru mengajak siswa-siswi memainkan salah satu
permainan tradisional. Beliau meminta anak-anak
memilih salah satu yang diantaranya adalah gobak
sodor, engklek, lompat tali, dan bentengan.

“Wah, enaknya memilih apa, ya?” tanya Eli
kepada teman sebangkunya.

“Kalau aku sih pilih gobak sodor saja karena
lebih mudah dimengerti,” sahut teman Eli.

“Baiklah, aku ikut. Mohon bantuannya, ya,”
lanjut Eli.

“Ok,” sahut teman sebangkunya.
Akhirnya, diumumkan yang memilih gobak
sodor ada delapan anak, engklek empat anak,
lompat tali tujuh anak, dan bentengan lima anak.

1

Banyak anak yang memilih gobak sodor, maka,
anak-anak kelas lima akan bermain gobak sodor.

Pak Guru menjelaskan cara bermain gobak
sodor yang dimainkan oleh dua tim. Masing-masing
tim beranggotakan tiga hingga sepuluh orang
dengan jumlah yang seimbang.

Kemudian, kami harus menyiapkan
lapangan berbentuk persegi panjang yang dibagi
menjadi enam atau menyesuaikan jumlah anggota.
Kedua tim tersebut berperan sebagai penjaga dan
penyerang. Penjaga harus menghalangi penyerang
yang berusaha melewati garis batas. Sedangkan
penyerang akan berusaha mengirimkan pemainnya
melewati penjaga di setiap garis.

Jika salah satu anggota tim penyerang
terkena penjaga, maka mereka akan bergantian
bertugas menjadi penjaga. Pemenang ditentukan
dari berapa banyak pemain yang lolos dari penjaga
garis.

Pak Guru juga menjelaskan manfaat
bermain gobak sodor. Beberapa manfaat dari

2

bermain gobak sodor adalah untuk melatih
ketangkasan, kecerdikan, dan juga kerja sama.

Mereka pun memulai permainan tersebut.
Anak-anak sangat senang bermain gobak sodor.
Tim Eli di awal permainan mengalami kesusahan
dalam kekompakan dan hampir mengalami
kekalahan. Namun, Eli terus menyemangati timnya
untuk terus berusaha melakukan yang terbaik.
Akhirnya, tim Eli memenangkan permainan
tersebut. Berkat kerja sama, kemenangan itu tidak
mungkin diraih.

3

BERMAIN PETAK UMPET

Oleh Geralyn Undiarto

Adi, Ria, Sima, dan Boby adalah anak yang selalu
bermain bersama. Permainan yang sering mereka
mainkan adalah petak umpet.

“Oh, ya, teman-teman kalian tahu tidak petak
umpet itu apa?” tanya Bobi.

“Petak umpet adalah permainan yang sering
dimainkan. Cara bermainnya juga gampang satu
orang menghitung lalu yang lain harus
bersembunyi. Orang yang menghitung juga harus
mencari pemain yang bersembunyi,” Ria
menjelaskan dengan seksama.

“Oh, ya, untuk pesertanya berapa?” tanya
Sima.

“Lebih baik lebih dari tiga, ya. Kalau bisa
banyak akan lebih seru,” jawab Ria lagi.

Kali ini, mereka bermain petak umpet di
halaman rumah Ria, tetapi mereka ingin di bagian
menghitung. Untungnya permainan itu berjalan

4

empat ronde, jadi bisa mengatur siapa yang duluan
menghitung dan di babak akhir.

Babak pertama yang bertugas untuk
menghitung adalah Sima.

“Aku hitung sampai sepuluh, ya,” kata Sima.
Dia menghitung hingga sepuluh lalu mulai
mencari ketiga temannya yang lain. Sima
menemukan Boby pertama kali, selanjutnya dia
menemukan Adi. Jadi, pemenangnya adalah Ria.
“Yey, untuk ronde pertama aku menang,”
ujar Ria.
”Selamat ya, Ria,” sahut Adi dengan
tersenyum.
Mereka lanjut ronde kedua. Kali ini Adi
menghitung.
“Selanjutnya aku yang menghitung, ya,” kata
Adi.
Seperti Sima, Adi menghitung sampai
sepuluh lalu mencari ketiga temannya. Adi
menemukan Ria yang pertama, lalu Sima, dan
yang menang ronde kedua adalah Boby.

5

“Selamat ya, Boby,” ujar Sima dan Ria

sambil tersenyum.

Mereka lanjut ronde ketiga dengan Boby

yang akan menghitung dan mencari sahabatnya.
“Akhirnya giliranku menghitung,” kata Boby.

Seperti Adi dan Sima, Boby menghitung

hingga sepuluh. Setelah menghitung, dia mulai

mencari temannya. Boby menemukan Ria terlebih

dahulu, lalu Adi. Pemenang ronde ketiga adalah

Sima.
“Senangnya bisa menang,” kata Sima.

“Selamat, ya Sima,” sahut Adi, Ria, dan Boby.

Saat giliran Ria menghitung, ada sesuatu

yang terjadi. Boby terjatuh dan kakinya sakit.
“Aduh, kakiku! Teman-teman berhenti dulu

dong, aku tidak bisa jalan.”

Adi, Ria, dan Sima bergegas melihat Boby

yang terduduk. Mereka mengangkat Boby masuk

ke dalam rumah Ria untuk mengobatinya. Boby

terharu karena temannya mau membantu. sudah
“Terima kasih, ya, teman-teman

membantuku,” kata Boby.

6

“Jadi, kita lanjut main atau di sini bersama
Boby?” tanya Sima.

“Kalian main aja, aku bisa lihat dari jendela
kok,” kata Boby.

Adi, Ria, dan Sima kembali bermain dengan
formasi tidak berubah. Ria tetap menghitung.

“Siap atau tidak, aku datang,” kata Ria
bersemangat.

Ria mulai mencari. Dia menemukan Sima
terlebih dahulu artinya, Adi yang menang.

“Aku sangat senang bisa menang ronde
terakhir ini,” kata Adi.

“Selamat ya, Adi,” sahut Ria dan Sima.
Boby yang melihat dari kejauhan pun juga
ikut senang. Mereka benar-benar senang karena
bisa bermain. Bukan hanya bisa bermain, tetapi
mereka semua bersyukur karena mempunyai
pengalaman baru yaitu membantu teman yang
terjatuh.

7

BERMAIN LOMPAT TALI

Oleh Carolin Natalie Cahyadi

Namaku Aina, yang suka bermain lompat tali. Hari
ini, aku berencana mengajak teman–teman ke
rumahku untuk bermain di halaman belakang.

“Teman–teman, ayo kita main lompat tali!”
ujar Aina sambil terkekeh.

“Enggak mau ah. Lompat tali itu enggak seru
tau,” kata Bobby menimpali.

“Ayo, teman–teman kita pergi!” ajak Rezki,
Bobby, Rezki, dan teman–temannya pergi dari
rumah Aina.

Aina menjadi kecewa. Namun, ada satu
orang yang menepuk pundak Aina

“Ayo, main lompat tali sama aku!” suara itu
milik Sora.

Mereka bermain lompat tali bersama hingga
tak terasa semakin terik.

“Anak-anak saatnya makan siang!” teriak ibu
Aina dari kejauhan.

9

“Baik, Bu,” jawab Aina tergesa-gesa karena

bermain lompat tali.

Ibu Aina memasak ayam goreng, ikan

goreng, dan sup hangat. Tidak lupa beliau juga

membuat es teh untuk kami. Beliau paling mengerti

jika saat ini kami kehausan karena terik matahari

terasa sangat panas akhir- akhir ini.
“Makanannya enak sekali, Tante,” kata Sora

memuji makanan ibu Aina. Terima kasih atas
“Wah, benarkah? ibu Aina tersenyum

pujiannya, Sora,” jawab

sumringah.

Setelah makan, Sora pun berpamitan untuk

pulang.
“Terima kasih untuk hari ini, Aina. Tante, aku

pamit pulang dulu,” ucap Sora sambil meringis.
“Baiklah, hati-hati di jalan, ya,” jawab Aina.

Aina pun belajar hingga sore hari, selepas

itu dia mandi lalu makan malam. Aina juga

menyiapkan buku-bukunya untuk besok sebelum

tidur.

10

Keesokkan hari, Aina bangun dan
menyiapkan dirinya untuk berangkat sekolah.
Sesampai di sekolah, riuh anak-anak yang
bercerita satu sama lain mengalihkan perhatian.
Mereka tidak menyadari bahwa Ibu Guru sudah
masuk kelas.

Hari ini ada pelajaran yang paling Aina
sukai, yaitu olah raga.

“Anak-anak hari ini kita akan bermain
permainan tradisional,” kata Ibu Guru yang sudah
siap di depan papan tulis.

Terlihat teman-teman kasak-kusuk di
belakang menebak permainan apa yang akan kami
mainkan nanti di lapangan sekolah.

“Coba sebutkan salah satu permainan
tradisional?” tanya Ibu Guru memberi pertanyaan.

“Gobak sodor,” jawab Boby dan Rezky
bersamaan.

“Engklek, Bu,” jawab anak lain di bagian
depan.

“Lompat tali, Bu,” kataku girang.

11

Ibu Guru tersenyum melihat jawaban teman-
teman di kelas. Akhirnya beliau berkata bahwa
pelajaran olahraga kali ini adalah bermain lompat
tali.

Waaah seru, batinku.
Akhirnya aku kembali bermain hal yang
kusukai, tetapi kali ini di sekolah.

12

CONGKAK DAPAT COKLAT

Oleh Sheryn Kirana Putri

Seperti biasa, aku selalu bangun pagi. Namun,
sepertinya kali ini ada yang berbeda. Kegiatan
pagiku dimulai dari mengerjakan pekerjaan rumah
seperti, membersihkan kamar, menyapu, dan
mandi.

Sungguh, kali ini aku masih memikirkan apa
yang berbeda. Oh, ternyata aku libur untuk waktu
yang cukup lama yaitu satu bulan. Aku baru ingat
kalau berjanji dengan teman untuk bermain
bersama.

“Ma, nanti kalau ada Audrey datang, suruh
tunggu di ruang tamu, ya. Terima kasih, Mama,”
kataku sedikit kencang.

Rencana liburan sekolah sudah kami
sepakati bersama. Kami berjanji untuk bermain
bersama di rumahku. Aku mengajak Audrey, Rere,
dan Aryo untuk bermain permainan milik mama
yang masih disimpan di gudang. Permainan itu
memiliki biji yang banyak sekali jumlahnya.

13

Bentuknya seperti biji kopi. Apa sudah tertebakkah
hari ini aku akan bermain apa?

Iya … congkak. Kami sepakat untuk bermain
congklak pada saat Minggu pertama libur sekolah.
Audrey adalah orang yang pertama kali datang
karena rumah kami sangat dekat, hanya berjarak
beberapa meter saja dari rumahku. Kemudian
disusul oleh Aryo dan Rere.

Audrey memilih bermain congklak karena
belum bisa memainkannya.

“Rin, ajari aku cara permainan ini, ya?”
lontarnya saat duduk di teras rumahku.

“Kamu belum bisa, Audrey? Kalau Rere dan
Aryo, bagaimana?” jawabku sambil melontarkan
pertanyaan untuk ke dua teman yang lain.

“Tidak,” mereka kompak menjawab
bersamaan.

Aku mengajari mereka cara bermain
congklak. Permainan ini bisa dimainkan di mana
saja dan kapan saja.

Hampir semua anak–anak menyenangi
permainan ini. Permainan ini dimainkan oleh dua

14

orang yang saling berhadapan. Alat permainan ini
cukup sederhana, yaitu balok kayu dengan lubang–
lubang untuk menyimpan biji congkak itu sendiri.

Congkak yang kupunya terbuat dari plastik.
Jumlah lubangnya ada tujuh yang memiliki dua
deret. Di akhir deret ada lubang induk yang lebih
besar.

Bermain congkak tidak begitu sulit. Sebelum
bermain, lubang harus diisi dengan biji congkak.
Saat mulai bermain, lubang induk harus kosong.
Jumlah biji tiap lubang sama banyaknya dalam satu
deret.

Jika lubang dalam satu deret ada tujuh,
jumlah biji juga ada tujuh. Aku mengajari Audrey
permainan ini dan dia senang. Kami juga mengisi
liburan sekolah dengan kegiatan yang
menyenangkan.

Di tengah permainan yang semakin seru,
aku memiliki ide untuk berlomba. Kami
memutuskan untuk berpasangan. Siapa yang
menang akan mendapat cokelat. Mereka pun

15

menyetujuinya. Aku bergandengan dengan Aryo,
sedangkan Audrey bergandengan dengan Rere.

Ronde pertama berjalan baik karena masih
belajar. Saat ronde ketiga, Rere dari tadi diam
tanpa kata. Aku kira dia sedang memikirkan trik
untuk mengalahkan Audrey. Namun, ternyata dia
menangis.

“Aku kalah terus hiks … hiks,” lontarnya
sedikit berteriak.

Audrey yang berada di depannya
mengerutkan dahi. Kami semua mencoba
menenangkan Rere dan menyemangatinya karena
ini hanya permainan. Rere berucap jujur ingin
cokelat yang dijadikan sebagai hadiah tadi menjadi
miliknya.

Melihat hal tersebut, aku tertawa. Aku bilang
pada mereka agar tenang karena papa memiliki
banyak cokelat untuk dibagikan.

Mendengar itu, seketika teman-temanku
semringah dan tersenyum lebar .

16

“Asyik … liburan! Bermain congkak serta
bonus cokelat dari Sheryn hehe,” celetuk Aryo
kegirangan.

17

BELAJAR SPORTIF

Oleh Shannon Eleonora Nugroho

Rani dan Lala adalah sahabat dari kelas satu SD.
Mereka selalu bermain dan belajar bersama. Suatu
hari di jam istirahat, Rani mengajak Lala bermain
gobak sodor yang merupakan permainan kesukaan
mereka berdua.

“La, ayo kita main gobak sodor dengan
Retno, Susi, Alan, dan Budi!” kata Rani memecah
suasana.

“Áyo!” kata Lala dengan semangat.
Saat diundi, Rani dan Lala tidak berada di
satu tim. Rani sekelompok dengan Susi dan Alan,
sedangkan Lala sekelompok dengan Retno dan
Budi.
“Ayo, kita suten untuk menentukan siapa
yang menjadi penjaga atau penyerang,” kata Rani.
Rani melakukan suten dengan Lala.
Akhirnya yang menang adalah kelompoknya Rani.
Mereka menjadi penyerang terlebih dahulu.

18

“La, kamu jaga di tengah, Retno jaga di
depan, sedangkan aku menjaga di belakang,” kata
Budi.

“Oke, sip!” kata Lala dan Retno bersamaan.
Rani adalah orang pertama yang menerobos
benteng lawan. Dia berhasil melewati penjagaan
Retno. Saat Rani berusaha menembus penjagaan
Lala, dia bisa masuk melewati. Namun, tangan Lala
menyentuh Rani.
“Rani, kamu gugur karena aku sudah
menyentuhmu duluan!” teriak Lala.
“Aku tidak merasa kamu menyentuh bagian
tubuhku,” elak Rani.
“Aku sudah menyentuh tanganmu,” bela Lala
dan diikuti dengan anggukan dari Retno.
“Enggak kok, Susi, Alan. Apakah kalian
melihat Lala menyentuhku?”
“Aku tidak melihat Rani disentuh,” kata Susi
dan Alan.
“Benar kok, aku menyentuh Rani terlebih
dulu sebelum dia lolos,” elak Lala tidak mau kalah.

19

Rani dan Lala terus berdebat tentang kena
atau tidak. Rani tidak mau mengakui kekalahannya
dan keluar begitu saja dari permainan. Rani merasa
tidak terima sehingga mengajak Susi dan Alan
untuk berhenti main.

“Gimana sih, Rani, dia tidak sportif. Masa
sudah tersentuh tidak mau keluar?” ujar Lala
dengan rasa jengkel terhadap sikap Rani.

Akhirnya bel berbunyi. Tanda istirahat sudah
selesai. Selama jam pelajaran, Rani dan Lala tidak
berbicara. Mereka saling cuek satu sama lain. Lala
merasa dia benar karena memang tangan Rani
sudah disentuhnya.

Rani termenung dan dia merasa mendapat
teguran dalam hatinya. Dia harus bersikap sportif
saat bermain bersama teman-temannya.

Saat jam pulang sekolah, Rani menghampiri
Lala.

“La, aku mau ngomong sebentar,” ucap
Rani.

“Mau ngomong apa?” tanya Rani.

20

“La, aku minta maaf ya, karena aku tidak
sportif dan tidak menerima kekalahanku,” ujar Rani
dengan rasa menyesal.

“Iya, Ran. Mari kita belajar sportif walaupun
sulit menerima kekalahan, tetapi harus menjunjung
tinggi sportifitas saat bermain,” kata Lala.

“Oke, La. Makasih ya sudah mau
memaafkanku,” jawabnya dengan wajah sedih.

21

BERMAIN SORE

Oleh Sonia VL

Sepulang sekolah, terik sinar matahari sudah jadi
langganan bagi Rina yang selalu pulang dengan
mengayuh sepedanya. Setiba di rumah, dia
meluapkan lelahnya dengan memanggil ibu.

“Bu, Rina pulang!” kata Rina yang sedang
berdiri di depan rumah meninggalkan sepedanya.

“Lo Rin, mengapa kamu terburu-buru, sih?
Pelan-pelan aja,” kata ibu yang kebingungan.

“Iya, Bu. Soalnya Rina mau main sama
Tono, Budi, Indri, Satya, dan Felita. Jam dua siang
di taman kota,” jawab Rina sembari melepaskan
ikat tali sepatunya.

“Ya sudah sekarang kamu ganti baju,
makan, dan istirahat dulu,” jawab ibu
menganggukkan kepalanya dan masuk rumah.

Rina lalu menuruti perkataan ibunya. Saat
sore hari, Rina sampai di taman. Ternyata teman-
temannya sudah menunggu.

22

“Maaf teman-teman, aku terlambat,” kata
Rina.

“Ya sudah, yuk! Kita main gobak sodor!” ujar
Felita.

Permainan gobak sodor berasal dari
Yogyakarta. Permainan ini juga memiliki sebutan
lain, yaitu galah asin. Mereka bermain selama satu
jam setengah dan memutuskan untuk beristirahat
sejenak.

“Ahh … bosan! Kita main yang lain, yuk!”
usul Tono.

“Iya! Tapi main apa, ya?” tanya Budi.
“Bagaimana kalau bermain di rumahku? Di
rumah, ada mainan dakon. Kakakku akan
mengajari kita,” ajak Indri.
Mereka semua setuju dan pergi ke rumah
Indri.
Dakon atau congkak adalah permainan yang
berasal dari Jawa. Setelah mengerti, mereka
bermain dengan asyik. Ibu Indri datang
menyuguhkan makanan dan membawa beberapa
gelas teh dan roti manis.

23

“Ayo ... istirahat dulu mainnya! Dimakan dulu
kuenya,” seru ibu Indri

“Terima kasih, Tante!” jawab Rina.
Sembari bermain, mereka melahap
makanan. Terlalu asyik, mereka tidak sadar
ternyata sudah sore.
“Waduh! Sudah sore!” sahut Satya.
“Eh, teman-teman, aku mau pulang dulu, ya.
Terima kasih Tante, rotinya,” sahut Rina
melambaikan tangan.
Rina menaiki sepeda dan melaju cepat ke
rumahnya.
“Bu, Rina pulang!” seru Rina.
Ibu yang sedang mengambil jemuran
pakaian menyahut.
“Gimana mainnya?” tanya ibu penasaran.
“Seru, Bu. Nanti Rina ceritakan!” jawab Rina
gembira.
Rina segera masuk ke kamar mandi. Seusai
mandi, dia menceritakan bagaimana mereka
bermain hari ini.

24

“Dengan bermain permainan tradisional, kita
bisa semakin mencintai dan menghargai
keberagaman di Indonesia,” sambung ibu disela
cerita Rina.

“Benar itu!” sahut ayah sembari
mengacungkan jempol tanda setuju. Rina dan
keluarganya pun tertawa bahagia.

25

PERMAINAN TRADISIONAL

Oleh Janice Marcella

Clara, Ani dan Rina adalah tiga sahabat yang
selalu kompak dalam belajar maupun bermain,
Mereka selalu berupaya melakukan hal yang positif
dalam bermain, misalnya membatasi penggunaan
gadget dan lebih sering bermain permainan
tradisional. Hampir semua permainan tradisional
pemah mereka lakukan. Lompat tali, petak umpet,
engklek, bekel, dan masih banyak yang lain.

Suatu sore mereka selesai bermain lompat
tali, Clara menyampaikan suatu ide kepada Ani
sahabatnya.

“Bagaimana kalau kita mengajak teman-
teman di sekolah untuk bermain permainan
tradisional bersama kita?” ujar Clara dengan penuh
semangat.

"Ide yang cemerlang. Bagaimana ya,
caranya?" tanya Ani.

“Mungkin kita bisa melakukannya waktu jam
istirahat sekolah," jawab Clara.

26

Clara, yang selalu berpikir kritis di antara
mereka bertiga memang selalu mempunyai ide-ide
yang cemerlang. Ani dan Rina sangat mendukung
ide Clara yang akan membawa permainan
tradisional di sekolah. Namun, ada sedikit keraguan
di hati Clara.

"Apakah ini akan berhasil dan teman-teman
akan bermain bersama kita?” tanya Rina.

"Aku yakin ini akan berhasil. Kita harus
semangat dan semangat,” jawab Clara dengan
penuh semangat.

Sekarang Rina dan Ani tidak lagi ragu untuk
melaksanakan ide Clara. Seharusnya teman-teman
di sekolah tidak asing lagi dengan beberapa
permainan tradisional. Bapak dan ibu guru juga
sudah memperkenalkan dalam pelajaran di
sekolah.

“Memang tidak semua permainan tradisional
bisa kita lakukan di sekolah karena waktu yang
tidak memungkinkan,” ujar Clara panjang lebar.

27

"Benar kata Clara, kita bisa sering
menceritakan keasyikan bermain permainan
tradisional hingga di rumah," tambah Ani.

“Setuju, aku senang dengan permainan
tradisional. Yuk, kita ajak juga teman-teman yang
lainnya!” ajak Rina.

Kemudian mereka akan mengajak teman-
teman di sekolah, agar juga dapat bermain di
rumah dan tidak lagi kecanduan gadget. Besar
harapan mereka agar dengan permainan
tradisional dapat melestarikan budaya bangsa,
selain itu menciptakan persatuan dan kerukunan
serta membuat tubuh sehat tentunya.

28

BERMAIN GUNDU

Oleh Jovann Daniel Wardhana Pakpahan

Libur sekolah akan segera berakhir. Di hari Jumat
pagi, lima sekawan berkumpul di rumah Edo yang
terdiri dari Edo, Beni, Udin, Doni, dan Andi. Meski
berbeda agama, mereka bersahabat baik. Udin dan
Doni beragama Islam, Beni dan Edo beragama
Kristen, sedangkan Andi beragama Budha.

Ketika Beni, Udin, Doni, dan Andi tiba di
rumah Edo, mereka tampak heran melihat Edo dan
adiknya bermain bola yang sangat kecil.

“Apa yang kau mainkan Edo?” kata Beni.
Edo menjelaskan ia dan adiknya sedang
bermain gundu.
“Apa itu gundu?” tanya Andi masih
penasaran.
“Gundu disebut juga kelereng, permainan
gundu adalah jenis permainan tradisional,” jawab
Edo.
“Siapa yang mengajarimu?” tanya Doni.

29

Edo menjawab bahwa sepupunya yang
mengajari bermain gundu saat berlibur di rumah
paman Edo.

“Bagaimana cara memainkannya?” tanya
Udin ikut penasaran.

Edo menjelaskan untuk bermain gundu,
setiap anak harus memiliki sebutir gundu yang
diletakkan di dalam lingkaran. Pemain melakukan
hompimpah untuk menentukan siapa yang akan
bermain terlebih dahulu. Pemain yang berhasil
menyentil gundu hingga keluar lingkaran berhak
memiliki gundu itu. Pemenang permainan adalah
pemain yang memiliki gundu paling banyak.

“Wah, sepertinya seru ya,” sahut Udin.
“Bagaimana kalau kita coba bermain
gundu?” ajak Andi.
“Pasti seru itu,” sahut Doni yang sudah tidak
sabar ingin memainkannya.
“Oke, Karena kalian tidak memiliki gundu,
aku akan berikan gunduku masing-masing tiga
butir,” jelas Edo.

30

Andi, Beni, Udin, dan Doni kompak
berterimakasih kepada Edo sembari tersenyum.

Tidak terasa hari telah siang, waktu
menunjukkan pukul sebelas.

“Teman-teman, kita bubar dulu, ya! Aku dan
Doni akan salat Jumat,” kata Udin.

“Kok bubar sih! Ini ‘kan lagi seru-serunya!”
seru Beni dengan kecewa.

“Sekali-sekali gak usah ikut salat Jumat ‘kan
enggak papa!” sahut Andi.

“Teman-teman, kita harus menghargai
teman yang akan menjalankan ibadah sesuai
agamanya. Jadi sebaiknya permainan gundu
dilanjutkan esok,” kata Edo.

Menimbang kelalaian yang dilontarkan Andi,
lima sekawan itu setuju melanjutkan permainan
esok hari.

Mereka senang karena bisa bermain
permainan tradisional yang baru mereka mengerti.
Ternyata sangat seru pula memainkannya. Yang
terpenting adalah saat bermain tidak lupa akan

31

kewajiban masing-masing, saling menghargai satu
sama lain.

32


Click to View FlipBook Version