RINGKASAN MATERI KIMIA HIJAU
NAYSHILA MAWARDHA
X TBG 2
RINGKASAN MATERI SEPUTAR
TENTANG KIMIA HIJAU
SMKN 1 TUREN
[email protected]
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbilalamin, puji syukur penulis panjatkan kepada
Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia nya sehingga
penelitian yang berjudul “Ringkasan Materi Kimia Hijau / Green
Chemistry yang digunakan untuk siswa SMA/SMK/MA Kelas X maupun
XI semester 1”dapat terelesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu
tercurah kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa umat
manusia ke dunia yang penuh keberkahan.
Setelah rangkuman materi tersebut jadi kami seorang penulis berharap
agar ringkasan materi tersebut dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.
Untuk menghindari kesalahan penggunaan kami penulis akan berusaha
melindungi e book ini dengan sebaik mungkin.
Tujuan penulis menciptakan buku ini adalah untuk membantu peranan
sesama siswa agar mampu untuk memahami lebih dalam tentang kimia
Hijau atau green chemistry dalam hal sebagai berikut :
1. Memahami Sejarah singkat tentang kimia hijau / green chemistry
2. Mengetahui pengertian kimia hijau / green chemistry
3. Mengetahui tentang latar belakang kimia hiaju
4. Memahami manfaat dari kimia hijau tersebut
5. Mengetahui tentang prinsip prinsip kimia hijau
6. Mengetahui pengawasan penerapan kimia hijau
7. Mengetahui contoh contoh kimia hijau
8. Mengenal tokoh tokoh kimia hijau
9. Mengetahui jurnal ilmiah kimia hijau
10. Mengetahui seberapa banyak pendidikan yang mencakup kimia hijau
Malang, 14 November 2020
Penulis dan Penyusu
DAFTAR ISI
Contens
Kata Pengantar…………………………………………….1
Daftar isi…………………………………………………...2
Bab 1 Pendahuluan………………………………………...3
Sejarah……………………………………………………..4
Pengertian………………………………………………….5
Prinsip Prinsip……………………………………………..6
Legislasi…………………………………………………...7
Pendidikan………………………………………………....8
Tokoh………………………………………………………9
Jurnal Ilmiah Kimia Hijau………………………………...10
Penghargaan……………………………………………….11
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Green chemistry merupakan penelitian yang difokuskan untuk
mendesain produk dan proses kimia yang lebih ramah lingkungan dan
mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan manusia (Anastas dan
Warner, 1998). Prinsip green chemistry diusulkan oleh Anastas dan
Warner (1998) yang sebagian besar berisi konsep pencegahan polusi
lingkungan akibat proses sintesis dengan judul “The Twelve Principles of
Green Chemistry”. Prinsip green chemistry tersebut adalah mencegah
timbulnya limbah dalam proses, memaksimalkan atom ekonomi,
mengurangi sintesis menggunakan bahan berbahaya, menggunakan bahan
dan menghasilkan produk yang aman, meningkatkan efisiensi energi,
menggunakan pelarut dan kondisi reaksi yang aman, menggunakan bahan
baku yang dapat terbarukan, menghindari derivatisasi atau modifikasi
sementara dalam reaksi kimia, penggunaan katalis daripada reagen
stoikiometri mendesain penggunaan bahan kimia dan pembentukan produk
yang mudah terdegradasi, penggunaan metode analisis secara langsung
untuk mengurangi polusi serta meminimalisir potensi kecelakaan (Anastas
dan Warner, 1998). Terdapat banyak reaksi konvensional menggunakan
bahan kimia yang menyebabkan polusi lingkungan, berbahaya terhadap
kesehatan manusia dan lingkungan. Sehingga perlu diganti menggunakan
bahan ramah lingkungan sesuai dengan prinsip green chemistry.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan masalah
dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh rasio mol reagen dimetil karbonat (DMC) terhadap
pembentukan 1-metoksi naftalen?
2. Bagaimana pengaruh waktu refluks terhadap pembentukan 1-metoksi
naftalen?
3. Berapa rendemen dan kemurnian yang dihasilkan dari kondisi optimal?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh rasio mol reagen dimetil karbonat (DMC)
terhadap pembentukan 1-metoksi naftalen.
2. Mengetahui pengaruh waktu refluks terhadap pembentukan 1-metoksi
naftalen
3. Mengetahui besar rendemen dan kemurnian hasil sintesis dari kondisi
optimal
1.4. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaat sebagai berikut:
1. Dapat menambah pengetahuan di bidang sintesis kimia organik berbasis
green
chemistry.
2. Dapat mengetahui peran tetrabutilammonium bromida (TBAB) dan
dimetil
karbonat (DMC) sebagai katalis dan reagen berbasis green chemistry
dalam
pembentukan senyawa 1-metoksi naftalen.
3. Menjadikan penelitian ini sebagai bahan referensi atau pembanding
untuk
penelitian-penelitian selanjutnya.
KIMIA HIJAU / GREEN CHEMISTRY
Pengertian Kimia Hijau / Green Chemistry
Kimia hijau, juga disebut kimia berkelanjutan, adalah cabang ilmu kimia yang
menganjurkan desain produk dan proses kimia untuk mengurangi atau menghilangkan
penggunaan dan pembentukan senyawa-senyawa berbahaya.[1] Pada tahun 1990
Pollution Prevention Act (Undang-Undang Pencegahan Pencemaran 1990) telah
disahkan di Amerika Serikat. Undang-undang tersebut bertujuan membantu
mencegah terjadinya masalah pencemaran lingkungan akibat senyawa atau bahan
kimia berbahaya.
Sejarah Kimia Hijau / Green Chemistry
Ide kimia hijau pada awalnya dikembangkan sebagai tanggapan terhadap Undang-
Undang Pencegahan Polusi tahun 1990, yang menyatakan bahwa kebijakan nasional
Amerika Serikat harus membatasi atau mengurangi polusi dengan menggunakan
desain proses yang lebih baik (termasuk produksi perubahan dalam biaya produk,
proses pembuatan, penggunaan bahan mentah, dan daur ulang). Badan Lingkungan
Amerika Serikat (EPA) yang dikenal sebagai badan pengatur kesehatan manusia dan
lingkungan, berpindah dari kebijakan command and control policy dan
mengimplementasikan ide Kimia Hijau. Pada tahun 1991, EPA telah meluncurkan
program hibah penelitian yang mendorong perancangan ulang desain produk dan
proses kimia yang ada untuk mengurangi dampak buruk terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan. EPA yang kemudian bekerja sama dengan US National Science
Foundation (NSF) mendanai penelitian dasar tentang kimia hijau pada awal tahun
1990-an.
Pengenalan Penghargaan Presiden Green Chemistry Challenge tahunan pada tahun
1996 berhasil menarik perhatian akademisi dan industri kimia hijau.[3] Program
penghargaan dan teknologi tersebut sekarang menjadi landasan dalam kurikulum
pendidikan kimia hijau. Pada pertengahan hingga akhir tahun 1990-an terjadi
peningkatan jumlah pertemuan internasional kimia hijau yang diadakan, seperti
Konferensi Penelitian Gordon tentang Kimia Hijau, dan jaringan kimia hijau yang
telah berkembang di Amerika Serikat, Britania raya, Spanyol, dan Italia.
Prinsip Kimia Hijau / Green Chemistry
Pada tahun 1998, Paul Anastas bersama dengan John C. Warner
mengembangkan prinsip yang dijadikan sebagai panduan dalam praktik kimia hijau.
Kedua belas prinsip tersebut membahas berbagai cara untuk mengurangi dampak dari
produksi bahan-bahan kimia terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, serta juga
menunjukkan prioritas penelitian dalam pengembangan teknologi kimia hijau.
Dua belas prinsip kimia hijau yang dikembangkan oleh Paul Anastas dan John
Warner, yaitu:
1. Pencegahan : Lebih baik melakukan pencegahan terhadap produksi limbah,
daripada mengolah dan membersihkan limbah.
2. Ekonomi atom : Melalui metode sintetis baru yang dirancang untuk
memaksimalkan penggabungan semua bahan yang digunakan dalam proses ke
dalam produk akhir, sehingga limbah yang dihasilkan lebih sedikit.
3. Sintesis kimia yang tidak berbahaya : Metode sintetis harus menghindari
penggunaan atau menghasilkan zat-zat yang beracun bagi manusia maupun
lingkungan.
4. Merancang bahan kimia yang lebih aman : Produk kimia yang dihasilkan harus
dirancang untuk mempengaruhi fungsi yang diinginkan dan meminimalkan tingkat
toksisitasnya.
5. Pelarut dan alat bantu yang lebih aman : Sebisa mungkin menghindari atau
meminimalkan penggunaan bahan pembantu (seperti zat pelarut, zat pemisah, dan
sejenisnya), dan menggunakan zat pelarut atau bahan pembantu yang bersifat lebih
aman yang tidak berbahaya bagi lingkungan apabila harus digunakan.
6. Desain untuk efisiensi energi: Persyaratan energi dari proses kimiawi untuk
meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan ekonominya. Apabila
memungkinkan menggunakan metode sintetis dilakukan pada suhu dan tekanan
sekitar.
7. Penggunaan bahan baku terbarukan : Bahan mentah atau bahan baku yang
digunakan harus dapat diperbaharui (jika memungkinkan secara teknis dan
ekonomis).
8. Mengurangi derivatif atau turunan: Mengurangi turunan yang tidak perlu
(penggunaan kelompok pemblokiran, perlindungan, modifikasi sementara proses
fisik atau kimiawi) atau dihindari apabila memungkinkan, karena langkah-langkah
tersebut memerlukan reagen tambahan dan dapat menghasilkan limbah,
9. Katalisis: Penggunaan reagen katalitis (selektif mungkin) lebih baik daripada
reagen stoikiometri.
10.Desain untuk degradasi : Produk kimia yang dihasilkan harus dirancang
sedemikian rupa sehingga pada akhir fungsinya, produk tersebut dapat terurai
menjadi produk degradasi yang tidak berbahaya dan tidak bertahan lama di
lingkungan.
11.Analisis real-time untuk pencegahan polusi : Pengembangan metodologi analitik
yang diperlukan untuk memungkinkan analisis real-time untuk pencegahan polusi,
pemantauan dan pengendalian dalam proses sebelum pembentukan zat berbahaya.
12.Penggunaan bahan kimia yang Lebih Aman Secara Inheren untuk pencegahan
kecelakaan : Penggunaan zat dalam proses kimia apabila memungkinkan
menggunakan zat kimia yang berpotensi rendah kecelakaan, termasuk ledakan,
kebakaran, dan sejenisnya.
LEGISLASI
UNI EROPA
Pada tahun 2007 Uni Eropa menerapkan program Registration, Evaluation,
Authorisation and Restriction of Chemicals (REACH).[7] Program tersebut
mewajibakan bagi perusahaan untuk memberikan data yang menunjukkan bahwa
produk yang mereka hasilkan aman dan tidak berbahaya.[8] Peraturan tersebut (EC
No 1907/2006, tentang REACH) tidak hanya memastikan bahwa bahan kimia yang
digunakan aman, tetapi juga melarang atau membatasi izin penggunaan zat atau bahan
kimia tertentu.[9] Badan Bahan Kimia Eropa (ECHA) merupakan lembaga Uni Eropa
yang mengelola aspek teknis dan administratif pelaksanaan regulasi dari REACH
berusaha untuk menerapkan peraturan tersebut. Akan tetapi penegakannya tergantung
pada negara anggota Uni Eropa.
AMERIKA SERIKAT
Toxic Substances Control Act (TSCA) tahun 1976 merupakan undang-undang
Amerika Serikat yang mengatur sebagian besar bahan-bahan kimia industri (tidak
termasuk pestisida, makanan, dan obat-obatan).[11] Meneliti peran program regulasi
tersebut dalam membentuk pengembangan kimia hijau di Amerika Serikat, analis
telah mengungkapkan bahwa terdapat kelemahan struktural pada program TSCA.
Misalnya pada laporan tahun 2006 kepada Badan Legislatif California yang
menyimpulkan bahwa TSCA telah menghasilkan pasar bahan kimia domestik yang
melakukan pengurangan terhadap sifat bahaya bahan kimia (termasuk fungsi, harga,
dan juga kinerjanya).[12] Para ahli berpendapat bahwa kondisi pasar seperti itu
merupakan penghalang utama bagi keberhasilan ilmiah, teknis, dan komersial kimia
hijau di Amerika Serikat. Sehingga perubahan kebijakan mendasar diperlukan untuk
memperbaiki kelemahan tersebut.
Undang-Undang Pencegahan Polusi (Pollution Prevention Act) disahkan pada tahun
1990.[2] Undang-undang tersebut bertujuan untuk mengurangi terjadinya pencemaran
lingkungan akibat bahan kimia berbahaya.
Pada tahun 2008, negara bagian California menyetujui dua undang-undang yang
bertujuan untuk mendorong program kimia hijau, yaitu dengan meluncurkan
California Green Chemistry Initiative. Salah satu undang-undang ini mengharuskan
California Department of Toxic Substances Control (DTSC) untuk mengembangkan
peraturan baru agar memprioritaskan bahan kimia yang dapat menimbulkan masalah
lingkungan atau kesehatan dan mempromosikan penggantian bahan kimia berbahaya
tersebut dengan alternatif yang lebih aman. Peraturan yang dihasilkan tersebut mulai
berlaku sejak tahun 2013, mengawali DTSC's Safer Consumer Products Program.
PENDIDIKAN
Banyak institusi yang menawarkan kursus dan gelar terkait bidang Kimia Hijau,
diantaranya sebagai berikut:
Universitas Teknik Denmark dan beberapa univesitas di Amerika Serikat
seperti Universitas Massachusetts-Boston,[14] Michigan,[15] dan Oregon.[16]
Institut Teknologi Kimia yang berada di India yang menyediakan kursus untuk
tingkat magister dan doktor dalam bidang Teknologi Hijau.[17]
Universitas Universitas Leicester, dan MRes Green Chemistry, Energy and the
Environment di Imperial College London, Inggris.
Universitat Jaume I atau Universitas Navarra yang menyediakan program
magister Kimia Hijau di Spanyol.[18]
Program Magister kimia hijau yang ada di Universitas Sains Terapan Zurich /
ZHAW.
Selain itu, terdapat juga situs web yang berfokus dalam pembahasan kimia hijau,
seperti Michigan Green Chemistry Clearinghouse.
TOKOH
Paul T. Anastas dikenal sebagai "Bapak Kimia Hijau" karena penelitiannya yang
inovatif mengenai desain, manufaktur, dan penggunaan bahan kimia dengan tingkat
racun rendah dan aman bagi lingkungan.[5] Dia bersama dengan John C. Warner
mengembangkan dua belas prinsip kimia hijau pada tahun 1991, dengan tujuan
mengurangi dampak dari produksi bahan-bahan kimia terhadap lingkungan dan
kesehatan manusia.
JURNAL ILMIAH KIMIA HIJAU
Kimia Hijau (RSC)
Green Chemistry letters and Revies (open acces) (Taylor & Francis)
ChemSusChem (wiley)
Kimia & Teknik Berkelanjutan ACS (ACS)
PENGHARGAAN
Beberapa perkumpulan ilmiah telah menciptakan penghargaan untuk mendorong
penelitian dalam bidang kimia hijau, diantaranya :
Australia's Green Chemistry Challenge Awards yang diawasi oleh The Royal
Australian Chemical Institute (RACI).
Green Chemistry Challenge Awards yang disponsori oleh Badan Perlindungan
Lingkungan Amerika Serikat (EPA).
The Canadian Green Chemistry Medal yang disponsori GreenCentre Canada.
The Green & Sustainable Chemistry Network yang secara resmi diluncurkan pada
Maret tahun 2000 di Jepang.
The Green Chemical Technology Awards oleh Crystal Faraday di Britania Raya.