1 Akidah Akhlak VII
Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya,
sehingga kami bisa menyelesaikan penulisan modul pembelajaran Akidah Akhlak ini dengan baik. Shalawat serta salam tak lupa kita
kirimkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman mahiriah yang penuh dengan
ilmu pengetahuan, seperti yang kita rasakan saat ini.
Modul pembelajaran Akidah Akhlak ini selain bertujuan untuk memberikan wawasan perihal materi pembelajaran Akidah Akhlak
kepada peserta didik, juga merupakan salah satu proyek kami dari tim LMS PAI, yang kami beri nama “Mitionlogy” dalam pelaksanaan
program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Batch 3 di PT. Stechoq Robotika Indonesia. Modul pembelajaran yang
berjudul “Akidah Akhlak” ini berisikan berbagai materi yang sesuai dengan kompetensi dasar pada buku panduan peserta didik kelas
7 tingkat SMP/MTs.
Kami berharap modul pembelajaran ini bisa menjadi referensi dan memberikan banyak manfaat bagi pembaca terutama yang
berkaitan dengan materi Akidah Akhlak tersebut. Tentunya penulisan modul ini tidak terlepas dari dorongan dan bantuan berbagai
pihak, maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada semua yang telah terlibat. Dalam penulisan
modul pembelajaran ini, kami selaku penulis juga menyadari bahwa modul ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, kami sangat
mengharapkan segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk perbaikan kedepannya.
Demikian, semoga dengan adanya modul ini bisa memudahkan kita untuk terus belajar terutama perihal akidah dan akhlak,
sehingga dapat menguatkan keimanan, menambah wawasan keilmuan, serta bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bantul, 12 Oktober 2022
Mitionlogy
Akidah Akhlak VII
2
DAFTAR ISI Akidah Akhlak VII
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Pendahuluan
Semester Ganjil
3.1 Memahami Dasar dan Tujuan Akidah Islam
A. Pengertian Akidah Islam
B. Dasar-dasar Akidah Islam
C. Tujuan Akidah Islam
D. Pengertian Iman, Islam dan Ihsan
E. Hubungan Iman, Islam dan Ihsan
3.2 Sifat-sifat Allah Swt
A. Sifat Wajib, Sifat Mustahil, dan Sifat Jaiz Bagi Allah Swt
B. Bukti Kebenaran/Dalil Sifat Jaiz Bagi Allah Swt
C. Ciri-Ciri Orang yang Beriman terhadap Sifat-sifat Allah Swt
3.3 Menerapkan Akhlak Terpuji kepada Allah Swt
A Taubat
B. Taat
C. Istiqomah
D. Ikhlas
3.4 Adab Salat dan Dzikir
A. Salat
B. Dzikir
3.5 Keteladanan dari Kisah Nabi Sulaiman
Semester Genap
3.6 Asmaul Husna
3
3.7 Iman kepada Malaikat
A. Malaikat-malaikat Allah Swt
B. Makhluk Gaib selain Malaikat
C. Perilaku yang Mencerminkan Iman kepada Malaikat Allah dan makhluk Gaib
D. Hikmah Beriman kepada Malaikat Allah dan Makhluk Gaib lainnya
3.8 Akhlak Tercela kepada Allah Swt
A. Riya
B. Nifaq
3.9 Adab Membaca Al Quran dan Berdoa
A. Membaca Al Quran
B. Berdoa
3.10 Keteladanan Nabi Ibrahim
Bentuk Keteladanan Nabi Ibrahim
Akidah Akhlak VII 4
MODUL PEMBELAJARAN B. Kompetensi Inti
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya,
menunjukkan perilaku santun, jujur, disiplin, percaya diri
Materi : Kompetensi Dasar 3.1 dalam lingkungan sosial, memahami pengetahuan (faktual,
konseptual, dan prosedural) terkait fenomena alam, mencoba
sampai 3.2 mengolah dan menyaji dalam ranah konkret dan abstrak
sesuai dengan yang dipelajari di sekolah.
Kelas/Semester : 7/1
C. Kompetensi Dasar
Tahun Pelajaran : 2022/2023
3.1. Kehidupan Nabi Muhammad Saw
A. Pendahuluan
3.2. Dakwah Nabi Muhammad Saw di Madinah
1. Tujuan
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran menggunakan modul ini a. Peserta didik dapat menganalisis dan menghayati misi
diharapkan dapat memudahkan peserta didik untuk belajar Nabi Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam
secara mandiri, memahami isi materi, dan menambah semesta.
referensi pembelajaran. b. Peserta didik dapat menghayati nilai-nilai positif dari
perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam mebangun
2. Ruang Lingkup masyarakat melalui kegiatan ekonomi
c. Peserta didik dapat menjalankan sikap bijaksana dalam
Modul ini dilengkapi dengan pendahuluan, kompetensi inti, meneladani amar ma’ruf nahi munkar
kompetensi dasar, materi pembelajaran, evaluasi serta
penutup. Pendahuluan yang berisi tentang tujuan, ruang
lingkup, dan cara penggunaan modul. Materi pembelajaran
yang membahas perihal materi esensial yang telah
disesuaikan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar
sesuai aturan keputusan menteri agama serta di akhir
terdapat asesmen bagi peserta didik.
3. Cara Penggunaan Modul
Secara umum, cara penggunaan modul ini disesuaikan
dengan scenario penyajian materi. Adapun langkah
penyajian materi tersebut, ialah: pendahuluan → kegiatan
pembelajaran → materi pembelajaran→ evaluasi.
5 Akidah Akhlak VII
Mari Mengamati!
Dasar-Dasar Aqidah Islam di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 285
آََٰٰٓويهُُُّريَ ُاسهِاذَِّٖلِّل ْي َوَانلْ َي ٰاْ َوم ِنُم ْٓوااْلٰااِْٰم ُِنخ ْ ِورا ِافَِبقَهّْٰٰدلِل ََوض َرَّلُس ْ َوِضهِٰٖللاًً َلواْۢل بَِكِعٰت ْي ًِدبا اذَِّّل ْي نَ َّز َل عَىٰٰل َر ُس ْوِهِٖل َوا ْل ِك ٰت ِب اذَِّّل ْٓي اَْن َز َل ِم ْن قَ ْب ُل ۗ َو َم ْن يَّ ْك ُف ْر ِاِبهّٰٰلِل َو َم ٰلۤ ِٕى َك ِت ٖه َو ُك ُت ِب ٖه
Artinya
Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang
diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.
Perhatikan gambar berikut!
Setelah mengamati secara seksama dasar-dasar akidah islam di atas, coba perhatikan dan renungkan gambar berikut ini!
Akidah Akhlak VII 6
Setelah mengamati ayat dan gambar di atas, buatlah pertanyaan yang berkaitan dengan dasar-dasar akidah islam yang kalian
ketahui! Tulis pertanyaan kalian kemudian tanyakan, lalu tulis jawabannya pada kolom yang tersedia.
No Pertanyaan Jawaban
1. Apakah yang dimaksud ...........................................................................................................................
dengan akidah islam ...........................................................................................................................
2. Apa saja dasar-dasar ...........................................................................................................................
akidah islam ...........................................................................................................................
3. .......................................... ...........................................................................................................................
4. .......................................... ...........................................................................................................................
5. .......................................... ...........................................................................................................................
3.1 Memahami Dasar dan Tujuan Aqidah Islam
A. Pengertian Aqidah Islam
Secara bahasa aqidah berasal dari kata (aqada-ya’qidu-aqidatan) yang berarti ikatan atau perjanjian. Secara istilah,
aqidah adalah suatu pokok atau dasar keyakinan yang harus dipegang oleh orang yang mempercayainya. Sehingga, penger-
tian aqidah Islam adalah pokok-pokok kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh setiap muslim dengan bersandar
pada dalil-dalil aqli dan naqli. Berbicara tentang aqidah, yang paling utama adalah konsep ketuhanan, baru kemudian kon-
sep-konsep aqidah lainnya yang sesuai dengan keinginan Allah itu sendiri melalui al-qur’an dan hadis.
B. Dasar-Dasar Aqidah Islam
Dasar hukum akidah islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena itu, aqidah Islam bersifat tauqifi artinya tidak dapat
ditetapkan kecuali berdasarkan dengan dalil syari yaitu al-qur’an dan as-sunnah. Maka, apapun yang ditunjukkan dalam al-
quran dan as-sunnah harus diimani, diyakini dan diamalkan dalam perbuatan serta menjauhi segala larangan-Nya.
7 Akidah Akhlak VII
Allah SWT banyak menyebut dalam firman-Nya terkait pokok-pokok aqidah, seperti nama-nama dan sifat-sifat yang dimi-
liki-Nya, tentang malaikat, kitab-kitab Allah, hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain. Adapun dasar-dasar aqidah itu sendiri yang
tentunya berbeda dengan dasar-dasar aqidah dalam agama lain termaktub dalam rukun iman yang enam, yaitu:
1. iman kepada Allah SWT
2. iman kepada malaikat
3. iman kepada para nabi dan rasul
4. iman kepada kitab-kitab
5. iman kepada hari akhir/hari kiamat
6. iman kepada qada dan qadar.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Al-Baqarah ayat 285, yang berbunyi:
َو َم ٰلۤ ِٕى َك ِت ٖه
َوقَالُ ْوا ۗ ُّر ُسهِِٖل ِّم ْن اَ َح ٍد بَ ْنَْي نُ َف ِّر ُق اََل َوُر ُسهِِٖۗل َو ُك ُت ِب ٖه ِاِبهّٰٰلِل ٰا َم َن ُلُ ٌّك ِم ْن َّربِّ ٖه َوالْ ُم ْؤِمنُ ْو َۗن ِالَ ْي ِه ٰا َم َن ال َّر ُس ْو ُل ِب َمآ ُا ْن ِز َل
َوِالَ ْي َك الْ َم ِصرُْْي َربَّنَا مَ ِس ْعنَا َواَ َط ْعنَا غُ ْف َرانَ َك
Artinya
Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak
membeda-bedakan seorangpun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan
kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”
C. Tujuan Aqidah Islam
Akidah islam memiliki sejumlah tujuan, di antaranya: • Memupuk dan mengembangkan dasar ketuhanan yang ada sejak lahir.
• Meluruskan niat ibadah hanya kepada allah swt. • Memelihara manusia dari kemusyrikan
• Menenangkan hati dan pikiran. • Menghindarkan diri dari pengaruh akal pikiran yang menyesatkan.
• Bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Aqidah Islam harus menjadi pedoman bagi setiap muslim. Wahyuddin dkk mengatakan dalam buku Pendidikan Agama Islam,
hubungan antara aqidah, syariah, dan akhlak seperti hubungan antara akar, batang, dan buah di mana mereka saling membutuh-
kan dan tidak bisa dipisahkan.
Akidah Akhlak VII 8
D. Pengertian Iman , Islam dan Ihsan
1. Iman
Secara bahasa iman berarti percaya. Sedangkan menurut istilah iman itu adalah membenarkan dengan hati, mengucap-
kan dengan lisan dan dilaksanakan dengan anggota badan (perbuatan).
Iman terdiri atas tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan mengenal (seseorang baru mengenal sesuatu yang diimani)
2. Tingkat kesadaran (iman seseorang sudah lebih tinggi karena sadar sesuatu yang diimani dengan alasan tertentu.
3. Tingkat haqqul yakin (iman yang tertinggi, seseorang mengimani sesuatu tidak hanya mengetahui dengan alasan tertentu
tapi juga diikuti dengan ketaatan kepada Allah Swt).
2. Islam
Islam secara bahasa berarti tunduk, patuh, dan selamat. Sedangkan menurut istilah Islam ialah agama yang mengajarkan
agar manusia tunduk patuh dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT.Ajaran Islam harus diyakini kebenarannya, Allah
menjamin kebenaran tersebut sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali Imran (3) ayat :19, yang artinya:
“sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah agama Islam.”
Dari pengertian diatas, islam mencakup pada 5 hal yang terangkum menjadi satu dan biasa kita sebut dengan rukun Islam. Ka-
rena itu kewajiban setiap muslim adalah melaksanakan rukun Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari,yaitu:
1. Bersyahadat
2. Menegakkan shalat
3. Melaksanakan puasa di bulan Ramadhan
4. Menunaikan zakat
5. Haji, jika mampu
3. Ihsan
Ihsan yang artinya adalah berbuat baik, berbakti atau mengabdikan diri. Sedangkan menurut istilah berbakti dan
mengabdikan diri kepada Allah Swt. dengan dilandasi kesadaran dan keikhlasan.
Orang yang telah menerapkan hal ini disebut dengan muhsin. Hal ini terungkap dalam hadits Rasulullah Saw. yang artinya:
“ Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu?” Beliau menjawab: “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka
9 Akidah Akhlak VII
2. Sifat Mustahil Bagi Allah Swt.
Yang dimaksud dengan sifat mustahil bagi Allah Swt. adalah kebalikan dari sifat wajib Allah, yaitu sifat yang tidak
mungkin ada dan tidak layak disandarkan pada Dzat-Nya sebagai Pencipta alam semesta.
Diantara sifat mustahil bagi Allah tersebut adalah:
• Adam, yang artinya tiada. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-A’raf ayat: 54
• Hudus, yang artinya ada yang mendahulu. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Hadid ayat 3
• mumatsalatu lil hawaditsi yang berarti menyerupai makhluknya. Sebagaimana yang terdapat dalam
QS. Al-Ikhlas ayat: 4.
3. Sifat Jaiz Bagi Allah Swt.
Yang dimaksud dengan sifat jaiz Allah Swt. adalah sifat kebebasan Allah, yakni kebebasan yang dimiliki-Nya sebagai
Tuhan alam semesta,baik itu kebebasan untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya
yang mutlak.
Selanjutnya sifat jaiz pada Allah hanya satu yakni (fi’lu kulli mukminin au tarkuhu) artinya Allah dapat melakukan sesuatu
hal dan dapat pula tidak melakukan sesuatu hal. Tidak ada kewajiban atas-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu.
B. Bukti Kebenaran/Dalil Sifat Jaiz Bagi Allah
Berikut ini kebebasan-kebebasan mutlak yang dimiliki Allah Swt. :
• Kebebasan untuk Mencipta atau Tidak Mencipta Sesuatu
Allah SWT berfirman dalam al-quran surat Al-Qashash ayat: 68 menjelaskan bahwa apa yang hendak dicipta
tergantung pada kehendak-Nya semata. Dia memilih sesuatu sesuai kehendak-Nya dan tidak ada pihak lain yang
dapat mempengaruhi.
Akidah Akhlak VII 12
َو َربُّ َك خََْيلُ ُق َما يَ َش ۤا ُء َوخََْي َتا ُر ۗ َما اَك َن لَ ُه ُم الْ ِخرَََيُة ۗ ُس ْب ٰح َن اهّٰٰلِل َوتَٰعىٰٰل مَ َّعا يُرْْ ِشُك ْو َن
Artinya:
Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah
dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (Q.S Al-Qashash ayat: 68)
Kebebasan untuk Mengatur Semua Makhluk Sesuai yang Dia Kehendaki
Kebebasan Allah dalam mengatur semua makhluk telah ditegaskan dalam firman-Nya yang sekaligus merupakan tun-
tunan doa bagi kita. Semua perjalanan hidup yang dialami manusia ada pada kekuasaan Allah Swt. Naiknya seseorang ke
derajat yang tinggi atau turunnya dari derajat yang tinggi ke derajat rendah tidak terlepas dari kuasa dan kehendak Nya sehing-
ga manusia hendaknya menyadari sedalam-dalamnya agar tidak sombong saat mendapatkan/mengalami sesuatu yang lebih
daripada yang lain seperti ilmu, kebahagiaan, harta, dan sebagainya.
C. Ciri-Ciri Orang yang Beriman terhadap Sifat-Sifat Allah (Wajib, Mustahil, dan Jaiz)
1. Percaya dan yakin akan adanya Allah serta menjauhkan diri dari paham-paham yang
anti tuhan (meniadakan Tuhan)
2. Mempercayai bahwa Allah Maha Pencipta alam dan segala isinya adalah maha azali
yaitu sudah ada sebelum adanya sesuatu apapun selain diri Dia sendiri.
3. Meyakini bahwa segala sesuatu yang bernama makhluk pasti binasa, rusak, mati dan
musnah kecuali Dzat Allah yang kekal, tidak mengalami perubahan.
4. Percaya bahwa Allah swt sebagai maha pencipta pasti berbeda dengan semua
makhluk yang diciptakannya.
5. Senantiasa hidup bergantung pada kekuasaan dan kehendak Allah swt.
6. Tidak berbuat kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan Tuhan yang lain ).
13 Akidah Akhlak VII
MODUL PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Materi : Kompetensi Dasar 3.3 sampai 3.5
Kelas/Semester : 7/1
Tahun Pelajaran : 2022/2023
A. Kompetensi Inti
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, dan peduli sebagai implementasi dari menerapkan akhlak terpuji baik itu
kepada Allah Swt. maupun kepada sesama manusia.
B. Kompetensi Dasar
3.3. Menerapkan Akhlak Terpuji kepada Allah SWT
3.4. Adab Shalat dan Dzikir
3.5. Keteladanan dari Kisah Nabi Sulaiman
C. Tujuan Pembelajaran
a.) Peserta didik dapat Menghayati perihal akhlak terpuji kepada Allah Swt. seperti taubat, taat, istiqomah, dan ikhlas
b.) Peserta didik dapat memahami dan menerapkan akhlak terpuji kepada Allah Swt. seperti taat, istiqomah, dan ikhlasc.) Peserta
didik dapat memahami tentang adab ketika melaksanakan shalat dan berdzikir sehingga terbiasa dalam mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari
d.) Peserta didik dapat menghayati, menganalisis dan mencontoh kisah keteladanan nabi Sulaiman dan umatnya.
Akidah Akhlak VII 14
3.3 Menerapkan akhlak terpuji kepada Allah Swt
A. Taubat
Taubat secara bahasa adalah kembali. Sedangkan, secara istilah, taubat berarti kembali ke jalan yang benar dan tidak
kembali mengulangi maksiat.
Mengapa kita harus bertaubat? Karena manusia bukanlah malaikat yang tidak punya dosa. Setiap manusia memiliki sifat
ma’shum atau tidak pernah lepas dari perbuatan dosa, baik pada Allah maupun kepada sesama manusia. Jangan pernah
berputus asa dari rahmat Allah, karena sungguh Allah adalah maha penerima taubat.
ِا َّن اهَّٰٰلل حُُِي ُّب التَّ َّواِب ْنَْي َوحُُِي ُّب الْ ُمتَ َط ِّه ِرْي َن
Artinya
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”
(Q.S Al-Baqarah:222)
Tata cara taubat menurut Imam Nawawi, diantaranya ialah:
1. Meninggalkan perilaku dosa atau maksiat
2. Menyesali perbuatan maksiat yang telah dilakukan
3. Meniatkan diri untuk tidak melakukan dosa atau maksiat lagi selamanya
4. Membebaskan diri dari hak manusia yang dizalimi seperti mengembalikan harta apabila menyangkut harta/material
dan meminta maaf apabila menyangkut nonmaterial seperti fitnah, ghibah, dsb.
Taubat mempunyai banyak dampak positif baik bagi diri kita maupun untuk orang lain. Di antaranya adalah diampuniAllah
Swt. sehingga hati merasa lebih damai, dirahmati Allah Swt. dan menjauhkan dari kesulitan. Diri sendiri pun bisa membiasakan
kebiasaan orang baik, seperti tidak meremehkan perbuatan dosa sekecil apapun, berhati-hati dalam bergaul.
15 Akidah Akhlak VII
B. Taat
Secarabahasa,taatadalahtunduk,patuh,dansetia.Secaraistilah,taatadalahtundukdanpatuhterhadapsegalaperintah
dan aturan yang berlaku.
Kita harus taat kepada Allah Swt. dan Nabi Muhammad saw. Seperti Q.S An-Nisa’ ayat 80 berikut:
ۚ َم ْن يُّ ِطعِ ال َّر ُس ْو َل فَ َق ْد اَ َطا َع اهَّٰٰلل
Artinya
“Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah”
Kita juga harus taat kepada ulil amri/pemerintah. Namun, ini tidak mutlak jika pemimpin yang memerintah tersebut bertentangan
dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Taat kepada Allah, Rasulullah, dan pemimpin ini membuat kita mendapat ridha Allah, senantiasa disiplin, dan menjaga diri
untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama meskipun tidak ada yang melihat.
C. Istikomah
Secara bahasa, istiqomah adalah lurus. Secara istilah, istiqomah adalah perbuatan yang senantiasa mengikuti jalan yang
lurus dan diridhoi Allah. Istiqomah adalah hal yang perlu dibiasakan. Meskipun sulit di awal, ketika sudah terbiasa maka akan
terasa enjoy dan malah terasa ada yang hilang ketika tidak melakukan hal tersebut. Misal dalam beribadah sholat dhuha, pada
awalnya pasti akan ada rasa malas, namun ketika dipaksa untuk istiqomah maka kita akan menganggap hal tersebut adalah
kebutuhan, bukan kewajiban.
Berikut ini adalah tips untuk tetap istiqomah:
1. Meluruskan niat untuk menggapai ridho Allah
2. Memahami makna syahadat
3. Berdoa dan berdzikir
4. Meningkatkan kualitas ibadah
5. Berada dalam lingkungan orang sholeh
Akidah Akhlak VII 16
D. Ikhlas
KataIkhlasberasaldaribahasaarabberakardari kata“kha-la-sha”,yangsecaraharfiahberartibersih,murni,jernih.Secara
istilah ikhlas adalah mengharap ridha Allah semata ketika menjalankan ketaatan pada Allah Swt. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) kata ikhlas berarti bersih hati atau tulus hati. Dalam hal hubungan sesama manusia, ikhlas merupakan
memberi pertolongan dengan ketulusan hati. Dalam Islam, ikhlas merupakan satu-satunya tujuan ibadah seperti yang dikutip
dari buku Ikhlas karya Dr. Umar Sulaiman al-Asygar. Jadi, ikhlas adalah hal yang paling dasar dalam melakukan segala
kegiatan untuk mengharap ridho Allah Swt.
ُق ْل ِا َّن َصاََل ِيِْت َونُ ُسيِِ ْك َو َم ْح َيا َي َو َم َما ِيِْت ِهّٰٰلِِل َر ِّب الْ ٰعلَ ِم ْنَْۙي
Artinya
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
3.4 Adab Shalat dan Dzikir
A. Shalat
Secara bahasa, shalat berarti doa. Secara istilah, shalat adalah ibadah yang dilakukan dengan syarat dan rukun
tertentu yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan
salam.
Shalat adalah rukun Islam yang ke-2, sehingga tidak sempurna keislaman seseorang apabila tidak melakukan shalat.
Shalat adalah amal yang dihisab paling awal ketika yaumul hisab. Shalat harus dilakukan dengan memenuhi syarat dan rukun
dengan tertib dan baik karena apabila shalat seseorang rusak, maka seluruh amalan dianggap rusak. Shalat lima waktu terdiri
atas subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya.
Ada beberapa adab shalat, diantaranya:
(1) Khusyuk (menghadirkan hati dan pikiran dalam setiap lafal)
(2) hati yang ikhlas, menjaga waktu dan batasnya (bersegera untuk sholat di awal waktu)
(3) menjaga kebersihan dan kesucian solat dari najis
(4) menyingkirkan apapun yang dapat mengganggu kekhusyuan salat
(5) memakai pakaian yang terbaik.
17 Akidah Akhlak VII
Hikmah salat adalah mendidik disiplin dan menghargai waktu, menjadikan hati tenang, menjauhkan diri dari perbuatan
keji dan mungkar, menyadarkan manusia bahwa dirinya adalah hamba Allah Swt.
B. Dzikir
Secara bahasa, dzikir berasal dari kata “dzakara” yang berarti mengingat atau menyebut. Secara istilah, dzikir artinya
mengingat Allah dengan cara menyebut sifat-sifat Allah Swt.
Adab berdzikir: (1) ikhlas, (2) merendahkan suara, (3) mencoba memahami makna, (4) jika bisa memilih tempat yang agak
sunyi dengan mata terpejam supaya panca indera hati lebih mendalami makna dari dzikir.
Hikmah dzikir adalah hati menjadi tenang, sabar dan berharap bahwa Allah akan membantu kita menghadapi masalah
apapun.
3.5 Keteladanan dari kisah Nabi Sulaiman
Nabi Sulaiman bin Dawud adalah satu-satunya Nabi yang bisa memahami bahasa binatang. Hal tersebut ada dalam
Q.S An-Naml ayat 18-26 sebagai berikut:
َحىّّٰٓت ِا َذآ اَتَ ْوا عَىٰٰل َوا ِد النَّ ْم ِۙل قَالَ ْت نَْمةَ ٌل آَّّٰٓيهُُّيَا النَّ ْم ُل ا ْد ُخلُ ْوا َم ٰس ِكنَمُ ْۚك اََل حََْي ِط َمنَّمُ ْك ُسلَ ْي ٰم ُن َو ُج ُن ْو ُد ۙٗه َومُْه اََل يَ ْش ُع ُر ْو َن18
فَتَبَ َّس َم َضا ِحا ًًك ِّم ْن قَ ْوِلهَا َوقَا َل َر ِّب اَ ْو ِز ْع ِيِْٓن اَ ْن اَ ْش ُك َر ِن ْع َم َت َك الَِّيِْٓت اَنْ َع ْم َت عَيَََّل َوعَىٰٰل َواِدَِل َّي َواَ ْن اَمْ َع َل َصاِل ًحا تَ ْر ٰضى ُه19
َواَ ْد ِخلْ ِيِْن ِب َرمْ َح ِت َك ِيِْف ِع َبا ِد َك ال ّٰص ِل ِح ْنَْي
اَكِب َُنسلِْمٰطَن ٍنالْ ُّمَغ ِۤباىِْٕنِبٍْْنيَْي اََلٓ اَ َرى الْ ُه ْد ُه َۖد اَ ْم َوتَ َفقَّ َد ال َّطرَْْي فَقَا َل َما ِيَِل
ْ ِّاَََل ۟ا ْذحََ َبنَّ ٗٓه اَ ْو لَ َي ْأِتيَين اََُلعَ ِّذبَنَّ ٗه عَ َذااًب َش ِديْ ًدا اَ ْو 20
21
فَ َم َك َث غَرَْْي بَ ِع ْي ٍد فَقَا َل اَ َح ْط ُّت ِب َما لَ ْم حُُِت ْط ِب ٖه َو ِج ْئ ُت َك ِم ْن َس َب ٍا ِۢبنَبَ ٍا يَّ ِق ْنٍْي22
ِاي ِِّ ّْن َو َج ْد ُّت ا ْم َراَ ًة تَ ْم ِل ُك ُه ْم َوُا ْوِتيَ ْت ِم ْن ُلُ ِّك َيَْش ٍء َّولَهَا َع ْر ٌش َع ِظمْ ٌي23
Akidah Akhlak VII 18
هَْيتَ ُد ْو َۙن اََل فَهُ ْم ال َّس ِب ْي ِل فَ َص َّدمُْه َع ِن اَخُُمْتْ َُعفاْلَوهُ َْنم هاََٰاّٰوَُّّللَلج ْياََدَهْلُُّٓتَسِاا ٰهُجَٰلَُودقَِاْاّْوَواّلَمِههَُّٰٰالهِِلَۙيوَاْذَََّسِّرل ُُّجْبُيد ْاخلْوَُُْيَعنِْررِلُِلجشَّاشلْاْلمَْخَعِ ِْظسمبََِْيِءم ِْىنِف ُداْلو َِّسن ٰماٰهوّٰٰلِِلت َوََوزايَّْلَانَْْرلَ ُِه ُمضالَويََّ ْشع ْميَُٰلط َُمنا 24
َو َما تُ ْع ِل ُن ْون 25
26
Artinya:
18. Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-
sarang mu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
19. Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku,
anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua
orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.”
20. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, “Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?
21. Pasti akan ku hukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang
jelas.”
22. Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.
Aku datang kepadamu dari negeri Saba membawa suatu berita yang meyakinkan.
23. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki
singgasana yang besar.
24. Aku (burung Hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah
bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), maka mereka tidak
mendapat petunjuk
25. mereka (juga) tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa
yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan.
26. Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang agung.”
Selain dapat memahami bahasa binatang, Nabi Sulaiman adalah Nabi yang paling kaya di antara manusia sepanjang sejarah
peradaban, punya pasukan baik dari manusia dan jin yang menuruti perintahnya, dan dapat mengendarai angin sesuai perintahnya.
Oleh karena itu, sebagai manusia biasa, hal yang bisa kita teladani dari Nabi Sulaiman a.s.
19 Akidah Akhlak VII
1. Bersifat rendah hati
Nabi Sulaiman a.s selalu bersyukur pada Allah karena Nabi merasa bahwa kesuksesannya adalah karunia dari Allah
untuk menguji apakah kita akan mensyukurinya atau mengingkarinya. Beliau tetap memiliki rasa malu pada Allah Swt. Nabi
Sulaiman juga selalu berdoa pada Allah supaya diberi karunia pandai bersyukur atas nikmat Allah Swt. Beliau juga senang
bekerja sebagai wujud syukurnya. Dalam Q.S As-Saba (34):14, Beliau meninggal ketika sedang berdiri melaksanakan sha-
lat. Ketika ruhnya diambil oleh Allah Swt, beliau berdiri sambil bersandar pada tongkatnya. Ketika tongkatnya rapuh karena
rayap, barulah Nabi Sulaiman terjatuh dari berdirinya beliau dan barulah orang-orang menyadari bahwa Nabi Sulaiman telah
meninggal dunia.
2. Rasa kasih sayang terhadap sesama
Q.S An-Naml ayat 18 menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman memberhentikan rombongan Nabi dan tentaranya kare-
na mendengar dan memberi kesempatan untuk seekor semut berkata pada semut-semut yang lain supaya mereka
masuk ke dalam lembah semut.
3. Musyawarah Mufakat
Walau punya kekuasaan agung, Nabi Sulaiman tetap mau berdialog dengan rakyat kecil dan bermusyawarah untuk
mencapai sebuah tujuan.
Rubrik * Yuk Muhasabah*
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia tentunya tidak pernah luput dari berbuat salah serta menyadari
bahwa apa yang dilakukan itu adalah sebuah kesalahan. Namun terkadang tetap mengulangi kesalahan itu lagi.
Sekarang waktunya kita muhasabah diri, yuk ikuti langkah-langkahnya!
• Coba ingat dan tuliskan salah satu kesalahan yang pernah kamu lakukan kemudian kamu sadari bahwa itu
salah tapi tetap kamu ulangi karena merasa sangat sulit untuk meninggalkannya!
• Dalam proses meninggalkan kesalahan tersebut, langkah apa saja yang sudah kamu lakukan?
• Ketika langkah yang kamu lakukan itu mendapat tantangan, lalu apakah kamu langsung menyerah dan men
gulangi kesalahan itu lagi?
Kamu perlu tahu!
Orang yang berjuang untuk meninggalkan sesuatu yang salah itu lebih baik daripada orang yang tidak ada pergerakan sama
sekali, ibarat kata “Lebih baik mencoba tapi gagal daripada gagal mencoba” dan tanamkan dalam diri bahwa kesalahan
Akidah Akhlak VII 20
MODUL PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Materi : Kompetensi Dasar 3.6 sampai 3.10
Kelas/Semester : 7/2
Tahun Pelajaran : 2022/2023
A. Kompetensi Inti
Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan terkait
fenomena dan kejadian tampak mata sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/
teori.
B. Kompetensi Dasar
3.6. Asmaul Husna
3.7. Iman kepada Malaikat
3.8. Akhlak Tercela kepada Allah Swt.
3.9. Adab Membaca Al-Quran dan Berdoa
3.10. Keteladanan dari Nabi Ibrahim
C. Tujuan Pembelajaran
a.) Peserta didik dapat meyakini, memahami dan meneladani sifat-sifat Allah SWT melalui al-asmaul husna
b.) Peserta didik dapat Meyakini adanya malaikat-malaikat Allah dan makhluk gaib lainnya seperti jin, iblis, dan setan dalam
fenomena kehidupan.
c.) Peserta didik dapat mengamati, menalar dan memahami tentang akhlak tercela sehingga bisa menolak dan menghindari akhlak
tercela tersebut.
d.) Setelah melakukan kegiatan pembelejaran ini, peserta didik diharapkan untuk bisa menghayati dan memahami tentang adab
membaca al-quran serta menerapkannya ketika membaca al-quran.
e.) Peserta didik dapat menghayati tentang keteladanan dari nabi Ibrahim serta menerapkan sikap peduli sebagai implementasi
kisah keteladanan tersebut.
21 Akidah Akhlak VII
3.6 Asmaul Husna
Secara bahasa, asmaul husna adalah nama-nama yang baik dan indah. Secara istilah, asmaul husna berarti nama-nama
yang indah yang hanya dimiliki oleh Allah Swt.
1. Al Aziz (Maha Perkasa)
Allah Maha Perkasa terhadap apapun yang Allah ciptakan. Allah dapat menggerakan matahari di atas kita.Perilaku orang yang
mengamalkan Asmaul Husna Al-Aziz adalah rela menerima ketentuan Allah Swt. dengan hati yang tulus dan ikhlas, serta tunduk
dan patuh terhadap ketentuan Allah Swt. Karena orang yang berjiwa kuat dan perkasa adalah ketika ia mampu mengendalikan
hawa nafsu atas hal yang bersifat duniawi. Disebut kuat dan perkasa pula bila manusia bertekad memiliki cita-cita yang tinggi
dan berjuang sekuat tenaga untuk meraihnya diiringi dengan doa dan ikhtiar yang kuat serta tawakal.
2. Al-Basith (Maha Melapangkan Rezeki)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Basith adalah bersifat cukup (qonaah) terhadap rezeki yang diberikan
Allah pada dirinya karena menyadari bahwa Allah yang mengatur rezeki, dan kita harus selalu berserah diri kepada Allah dalam
keadaan lapang maupun sempit, senang maupun sulit.
3. Al-Ghaniy (Maha Kaya)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Ghaniy adalah bersyukur terhadap karunia Allah, semakin taat pada-Nya,
dan senang berbagi terhadap sesama yang membutuhkan dengan niat mencari ridho-Nya.
4. Ar-Rauf (Maha Pengasih)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Ar-Rauf adalah saling mengasihi sesama dan pandai mensyukuri nikmat Allah,
serta menjalan hubungan silaturahmi dengan keluarga.
5. Al-Barr (Maha Baik)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Barr (maha baik) adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya, berbuat kebaikan kepada kedua orang tua, keluarga, dan sesama makhluk hidup, memberikan apa yang
dapat diberikan supaya dapat berbagi rasa kepada orang lain.
6. Al-Fattah (Maha Membuka)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Fattah adalah selalu bertawakal kepada Allah, toleransi kepada sesama
manusia, dan membuka pintu kebaikan serta menutup pintu kejahatan.
7. Al-Adl (Maha Adil)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Adl (Maha Adil) adalah menerapkan peraturan dengan adil sesuai hukum
yang berlaku, berbicara dengan penuh keadilan meskipun itu menyakitkan, musyawarah untuk mufakat.
Akidah Akhlak VII 22
8. Al-Hayyu (Maha Hidup)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Hayyu (Maha Hidup) adalah berusaha menghidupkan hati dengan kebaikan,
kedekatan, dan ibadah kepada Allah
9. Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri) adalah mengakui kebesaran Allah Swt
sebagai pemilik alam semesta dengan sikap tawadhu, dan mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam memenuhi kebutuhan
hidup.
10. Al-Latif (Maha Lembut/Halus)
Perilaku orang yang mengamalkan Asmaul Husna Al-Latif (Maha Lembut) adalah memiliki hati yang peka terhadap keadaan
sosial serta memiliki sifat sabar musibah yang menimpa.
3.7 Iman kepada malaikat
A. Malaikat-Malaikat Allah Swt.
1. Pengertian Iman Kepada Malaikat Allah Swt.
Secara bahasa, kata Malaikat berasal dari kata mufrad “malak” yang berarti kekuatan. Malaikat adalah makhluk yang
diciptakan oleh Allah tidak makan dan minum dan juga tidak mempunyai nafsu seperti halnya manusia. Secara istilah malaikat
berarti hamba Allah yang diciptakan dari nur ( cahaya) dan selalu taat kepada Allah. Adapun inti beriman kepada malaikat
adalah meyakini keberadaannya sebagai mahluk ciptaan Allah SWT serta meyakini jenis-jenis tugas yang diamanahkan
kepadanya.
Adapun nama-nama malaikat dan tugasnya ialah:
a. Jibril : menyampaikan wahyu Allah SWT kepada para rasul-Nya.
b. Mikail : bertugas untuk menurunkan hujan dan membagi rezeki.
c. Israfil : bertugas meniup sangkakala.
d. Izrail : bertugas mencabut nyawa.
e. Munkar dan Nakir : bertugas menanyai manusia di alam kubur.
f. Raqib dan Atid : bertugas mencatat amal perbuatan manusia selama hidup di dunia.
g. Malik : bertugas menjaga pintu neraka.
h. Ridwan : bertugas menjaga pintu surga.
23 Akidah Akhlak VII
2. Sifat-sifat Malaikat Allah Swt.
Malaikat sebagai makhluk rohani yang bersifat gaib. Mereka diciptakan Allah dari Nur (cahaya). Karena sifatnya ghaib,
maka malaikat tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba. Al-Qur’an menjelaskan bahwa malaikat adalah hamba Allah SWT
yang mulia karena Allah memuliakannya, tidak pernah durhaka, tidak pernah maksiat, dan tidak pernah menentang perintah
Allah SWT. Malaikat disucikan Allah dari nafsu hayawaniyah, terhindar sama sekali dari keinginan-keinginan hawa nafsu, dan
jauh dari segala perbuatan dosa. Berikut sifat-sifat malaikat:
a. Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.
b. Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.
c. Selalu takut dan taat kepada Allah.
d. Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya
e. Mempunyai sifat malu.
f. Mampu mengubah wujudnya.
g. Memiliki kekuatan luar biasa dan kecepatan cahaya
B. Makhluk Gaib Selain Malaikat
1. Jin
Jin merupakan salah satu makhluk gaib yang diciptakan Allah dari nyala api. Sebagian ada yang taat kepada Allah Swt.
(seperti yang menjadi tentara Nabi Sulaiman a.s.) dan sebagian lagi ada yang kafir serta durhaka kepada Allah Swt.
2. Iblis atau setan
Iblis atau setan juga merupakan makhluk gaib yang diciptakan Allah dari api. Sifat dasar iblis adalah sombong dan durhaka
kepada Allah Swt. Setan adalah mahluk yang sifatnya menggoda manusia agar terjerumus ke lembah dosa.
C. Perilaku yang Mencerminkan Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah Swt. dan Makhluk Gaib Selain Malaikat.
Tanda kita beriman kepada malaikat dapat dibuktikan dengan meneladani sifat taat malaikat kepada Allah Swt. seperti:
1. Senantiasa berusaha untuk menaati Allah Swt. sebagaimana taatnya malaikat kepada Allah Swt.
2. Bersikap tawadhu kepada Allah Swt. dan mengagungkan-Nya.
3. Bersikap hati-hati dalam hidup ini dan tidak melanggar hukum Allah Swt.
4. Kita jadikan contoh sifat malaikat yang disiplin dan ikhlas melaksanakan perintah Allah, dalam rangka beribadah
kepa
Akidah Akhlak VII 24
5. Merupakan motivasi (pendorong) bagi kita untuk senantiasa berbuat kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat, sebab
malaikat senantiasa mencatat perbuatan kita.
6. Lebih hati-hati dan waspada dalam kehidupan ini. Sebab musuh yang nyata bagi manusia akan selalu menjerumuskan
ke jurang kesesatan.
7. Selalu berjalan di jalan Allah Swt, jangan sampai mengikuti jejak setan yang terkutuk.
3.8 Akhlak Tercela Kepada Allah Swt. (Riya dan Nifaq)
Sebagai hamba Allah Swt. sudah sepatutnya menunjukkan rasa syukurnya kepada Allah Swt. dengan memperbanyak amal
ibadah yang ikhlas, agar diterima Allah Swt. akan tetapi jika amal ibadahnya disertai dengan riya’, maka sia-sia belaka karena tidak
diterima oleh Allah Swt. maka dari itu kita perlu menjaga hati, agar terhindar dari penyakit hati seperti riya’ dan nifaq.
A. Riya
1. Pengertian Riya’
Riya’ secara bahasa artinya memperlihatkan atau memamerkan, sedangkan secara istilah riya’ adalah
memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan, dengan tujuan agar
orang lain akan melihatnya dan akhirnya memberikan pujian. Hal yang sepadan dengan riya’ yaitu sum’ah, berbuat
kebaikan agar kebaikan itu didengar orang lain dan dipujinya, walaupun kebaikan itu berupa amal ibadah kepada Allah
Swt. Dengan adanya pujian tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat. Dengan demikian
orang yang riya’ berarti juga sum’ah, yakni ingin memperoleh pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan. Allah
berfirman dalam surat An-Nisa ayat 142, yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila
mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia.
Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Q.S. 4 An Nisaa’ 142)
2. Macam-Macam Riya’ ada dua, yaitu:
a. Riya’ Jali, yaitu ibadah atau kebaikan yang sengaja dilakukan di depan orang lain dengan tujuan tidak untuk menga
gungkan Allah Swt, melainkan demi mencari pujian orang lain, untuk kebanggaan , atau tujuan selain Allah Swt.
b. Riya’ Khafi, yaitu melakukan ibadah atau kebaikan secara tidak terang-terangan, tapi dengan maksud agar ia dihormati
dan dimuliakan oleh masyarakat. Riya’ Khafi merupakan penyakit hati yang sangat halus dan samar.
25 Akidah Akhlak VII
3. Bentuk-bentuk (contoh) Perbuatan Riya’ dalam Kehidupan Sehari-Hari
a. Seseorang menyumbang masjid dihadapan banyak orang dengan maksud agar orang banyak menilai dirinya sebagai
orang yang ahli jariyah.
b. Seorang siswa senang melaksanakan shalat dhuha atau dhuhur, dengan harapan supaya dapat nilai dari gurunya.
c. Bapak Ivan membantu pesantren di kampungnya dan supaya panitianya dan mengumumkan dari hasil sumbangannya.
dengan maksud agar jama’ah menilai dirinya ahli menyumbang.
d. Sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang, seperti keelokan dirinya, pakaian dan perhiasan, atau kecakapan berbicara,
keturunannya.
g. Seseorang yang mengadakan aksi sosial, misalnya membantu korban banjir, gempa bumi, menyantuni anak yatim.
4. akibat negatif riya’, di antaranya :
a. Menghapus pahala amal baik (QS. Al-Baqarah ayat 264)
b. Mendapat dosa besar karena riya’ termasuk perbuatan syirik kecil
c. Tidak selamat dari bahaya kekafiran karena riya.
5. Perilaku Menghindari Riya’
a. Memandang semua makhluk itu tunduk di bawah kekuasaan Allah Swt .
b. Melatih diri untuk beramal secara ikhlas.
c. Berusaha menyembunyikan dan merahasiakan ibadah dari orang lain dan ridha terhadap semua amal untuk Allah Swt.
d. Mengendalikan diri agar tidak merasa bangga apabila ada orang lain memuji amal baik yang dilakukan.
e. Mengendalikan diri agar tidak emosi apabila ada orang lain yang meremehkan kebaikan yang dilakukan.
f. Tidak senang memuji kebaikan orang lain secara berlebih-lebihan karena hal itu dapat mendorong pelakunya menjadi riya’
atas kebaikannya.
B. Nifaq
1. Pengertian Nifaq
Secara bahasa nifaq berasal dari kata nafiqa yang artinya salah satu lubang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis
tikus) dari sarangnya. Nifaq juga berasal dari kata nafaqa, yaitu lubang tempat bersembunyi. Nifaq juga berarti bermuka dua,
pura-pura pada agamanya. Menurut istilah, nifaq yaitu sikap yang tidak menentu, tidak sesuai antara ucapan
Akidah Akhlak VII 26
dengan perbuatannya. Perilaku seperti ini pada hakikatnya adalah ketidaksesuaian antara keyakinan, perkataan, dan
perbuatan. Atau dengan kata lain, tindakan yang selalu dilakukan adalah kebohongan, baik terhadap hati nuraninya, terhadap
Allah Swt maupun sesama manusia. Orang yang melakukan perbuatan nifaq disebut munafik.
2. Macam-macam Nifaq
a. Nifaq i’tiqadi adalah bentuk perbuatan yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt, sedangkan dalam hatinya
tidak ada keimanan sama sekali.
b. Nifaq ‘amali adalah kemunafikan berupa pengingkaran atas kebenaran dalam bentuk perbuatan.
3. Bentuk dan Contoh Perbuatan Munafik
a. Hanya berpikir jangka pendek yaitu kekayaan duniawi semata
b. Tidak mampu untuk berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.
c. Ragu terhadap kebenaran Islam.
d. Enggan untuk melakukan shalat, dan walaupun ia shalat pasti karena paksaan orang lain.
4. Akibat Buruk Sifat Nifaq
a. Bagi Diri Sendiri
1) Tercela dalam pandangan Allah Swt. dan sesama manusia sehingga dapat menjatuhkan nama baiknya sendiri.
2) Hilangnya kepercayaan dari orang lain atas dirinya.
3) Tidak disenangi dalam pergaulan hidup sehari-hari.
4) Mempersempit jalan untuk memperoleh rezeki karena orang lain tidak mempercayai lagi.
5) Mendapat siksa yang amat pedih kelak di hari akhir.
b. Bagi orang lain
1) Menimbulkan kekecewaan hati sehingga dapat merusak hubungan persahabatan yang telah terjalin baik.
2) Membuka peluang munculnya fitnah karena ucapan atau perbuatannya yang tidak menentu.
3) Mencemarkan nama baik keluarga dan masyarakat sekitarnya.
5. Upaya Menghindari Sifat Nifaq
1. Nifaq merupakan larangan agama yang harus dijauhi dalam kehidupan sehari-hari
2. Nifaq akan merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga dibenci dalam kehidupan masyarakat
3. Nifaq tidak sesuai dengan hati nurani manusia (termasuk hati munafik sendiri)
4. Kejujuran menentramkan hati dan senantiasa disukai dalam pergaulan.
27 Akidah Akhlak VII
3.9 Adab Membaca Al-Quran dan Berdoa
A. Membaca Al- Quran
1. Pengertian Al-Qur’an dan Membaca Al-Qur’an
Secara bahasa Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab, yaitu qara’a, yaqra’u yang memiliki dua makna sebagai berikut.
a. Talaa dalam bahasa Indonesia diartikan yang dibaca/ bacaan.
b. Jam’u dalam bahasa Indonesia diartikan kumpulan dari berbagai macam kabar dan hukum.
Sedangkan secara syariat Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada rasul-Nya dan penutup para nabi, yaitu
Muhammad Saw. yang diawali surah Al-Fatihah (1) dan diakhiri surah An-Naas (114).
Membaca dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Tilawah lafdzihi, yaitu membaca Al-Quran dari segi lafal-lafalnya, tahapan harus dilalui bagi pemula (orang yang
baru mengenal Islam) atau pun anak-anak, yaitu mengenal atau mengetahui makharijul huruf (tempat keluarnya
bunyi huruf dari lisan), sifat-sifat huruf Al-Quran serta mempelajari hukum-hukum ilmu tajwid yang semuanya
berguna agar bacaan/ tilawah yang dilakukan menjadi bagus.
b. Tilawah hukmihi, yaitu membaca Al-Quran dari segi hukum-hukumnya, yaitu menelaah kandungan Al-Quran itu
sendiri dengan mempercayai kabar-kabarnya, mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah, dengan
cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan yang telah disebut di dalam Al-Qur’an.
2. Kewajiban-Kewajiban Umat Islam Terhadap Al-Qur’an
a. Beriman Terhadap Al-Qur’an
Kewajiban seorang mukmin terhadap Al-Quran adalah mempelajari, membaca sekaligus mentadaburinya untuk
mendapatkan nasehat dan pelajaran yang ada di dalamnya, karena salah satu sifat Al-Qur’an adalah mau’idzah (sebagai
nasehat, pelajaran)
b. Menjalankan Perintah Al-Qur’an
Setelah diimani dan diketahui hukum-hukumnya maka kewajiban kedua adalah menjalankan perintah yang ada di dalam
Al-Quran sekaligus menjauhi hal-hal yang dilarangnya, kemudian mendakwahkannya ke seluruh umat manusia. Hal itu
dimulai dari diri sendiri, keluarga, teman dan lainnya.
Akidah Akhlak VII 28
3.Keutamaan Membaca dan Mempelajari Al Qur’an
Berikut keutamaan bagi orang-orang yang membaca dan mempelajari Al Quran.
a. Termasuk insan terbaik
b. Mendapat syafaat pada hari kiamat
c. Memperoleh derajat yang tinggi
d. Melembutkan hati.
4. Adab-Adab Membaca Al-Quran.
a. Niat yang yang ikhlas karena mencari ridha Allah semata
b.Khusyuk, tenang, dan sopan.
c. Berada di tempat yang suci
d. Membaca doa isti’adzah.
e. Membaguskan suara.
B. Berdo’a
1. Pengertian Berdo’a
Menurut bahasa berdo’a berarti memanggil, meminta tolong, atau mohon sesuatu. Sedangkan do’a menurut syariat Islam
adalah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah Swt. dengan merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya.
2. Manfaat Do’a
a. Terhindar dari keputusasaan, karena selalu berharap Allah memberikan sesuatu yang diinginkan.
b. Terhindar dari sifat sombong dan takabur, karena sesungguhnya tiada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah.
c. Menjadikan hati menjadi tenang dan tenteram
d. Merasa dekat dengan Allah Swt..
e. Allah menyediakan tempat yang mulia disisi-Nya.
3. Lafal Do’a
Dalam berdo’a setiap orang diperbolehkan untuk memohon kepada Allah Swt., dengan bahasa sendiri, karena Allah Swt.
maha mengetahui (termasuk maha mengetahui seluruh bahasa yang ada di dunia ini). Tapi banyak juga do’a yang indah jika
diucapkan, mudah dimengerti, dan diajarkan dengan menggunakan bahasa Arab.
29 Akidah Akhlak VII
4. Tata cara berdo’a
a. Dimulai dengan pujian terhadap Allah Swt. dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
b. Dilakukan dengan serius sambil mengangkat kedua tangan.
c. Membaca do’a hendaknya khusyuk dan dengan suara pelan.
d.Mengulang-ulang do’a, dengan merasa tidak pernah putus asa meski do’a tersebut belum dikabulkan
e. Dilakukan dalam keadaan suci.
f. Memahami makna dari do’a yang dibaca.
3.10 Keteladanan Dari Nabi Ibrahim
Diantara para rasul yang dijadikan teladan salah satunya adalah nabi Ibrahim a.s, selain beliau nabi pilihan yang mendapat
gelar khalilullah (kekasih Allah) juga disebut sebagai Abul anbiya (bapak dari para nabi) karena nabi-nabi sesudah beliau adalah
dari keturunannya, seperti nabi-nabi bani Israil nabi Ishaq, Yaqub Yusuf, Syuaib, Harun, Musa sampai nabi Isa, demikian juga
dengan nabi Muhammad Saw.
Adapun bentuk-bentuk keteladanan nabi Ibrahim as, antara lain:
A. Keteladanan mencari dan meyakini Allah Swt sebagai Tuhan yang patut disembah dan menjadi tujuan ibadah
B. Keteladanan menaati perintah Allah Swt. dalam menjalankan dakwah dengan meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di
Makkah yang serba kekurangan/keterbatasan
C. Keteladanan dan keberanian ketika ingin merubah masyarakat dan penguasanya yang awalnya menyembah materi,
benda dan berhala-berhala menjadi mengesakan Allah SWT.
Kalimat tauhid/kalimatul ikhlas “laa ilaaha illallah” bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dahulu
Ibrahim As. Menyampaikannya kepada ayahnya, beliau sampaikan pemahaman sebagaimana telah dikisahkan dalam Al-Quran
surat Maryam [19]: 41-47, yang artinya:
“Dan ingatlah dalam kitab Ibrahim sesungguhnya dia adalah orang yang benar lagi seorang nabi, ingatlah ketika ia berkata
kepada ayahnya wahai ayahku kenapa engkau menyembah apa-apa yang tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat? wahai
ayahku sesungguhnya telah sampai kepadaku wahyu, apa-apa yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, aku tunjukkan
jalan yag lurus, wahai ayahku janganlah engkau menyembah setan sesungguhnya setan itu bermaksiat kepada Allah. Wahai
ayahku sesungguhnya aku takut azab Allah akan menimpamu sehingga setan menjadi temanmu.
Akidah Akhlak VII 30
Lalu ayah Ibrahim berkata kepada Ibrahim, Hai Ibrahim apakah engkau membenci tuhan- tuhanku? Sungguh jika engkau tidak
berhenti membenci tuhan-tuhanku sungguh aku akan merajam mu dan pergilah segera dariku. Ibrahim berkata semoga engkau
selamat dan aku akan mendoakan untukmu agar Allah Tuhanku mengampunimu sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS.
Maryam [19]: 41-47).
Ajakan nabi Ibrahim kepada ayahnya mendapat penentangan sehingga Ibrahim diusir ayahnya, sekalipun demikian Ibrahim
tetap baik kepada ayahnya dan tetap mendoakannya, Lalu Ibrahim as Memberitahu dan membuktikan kepada masyarakat kalau
berhala-berhala itu tidak dapat berbuat apa-apa dengan menghancurkan berhala-berhala sembahan penguasa Namrud dan
kaumnya. Lalu Ibrahim as dimasukkan ke dalam api sebagai bentuk penyiksaan terhadapnya, kemudian Allah Swt. menolongnya
dengan menjadikan api Namrud dingin dan Ibrahim selamat tanpa ada bekas luka sedikitpun.
Dijelaskan di dalam (QS. al-Anbiya’ : 69).
D. Ketaatan nabi Ibrahim ketika Ismail as beranjak dewasa lalu diuji Allah kembali agar menyembelih putranya, putra yang
sangat dicintai dan didamba-dambakan (QS. as-Shaffat ayat 103-110).
E. Keteladanan nabi Ibrahim ketika Ibrahim diperintah Allah Swt. untuk merekonstruksi kembali ka`bah.
Baitullah yang pertama dibangun dimuka bumi, lalu nabi Ibrahim bersama Ismail membangun kembali ka`bah sesuai dengan
petunjuk Allah Swt., dan sesudah selesai membangun Allah perintahkan Ibrahim as agar memanggil umat manusia untuk
berhaji. (QS. al-Hajj : 26-29)
F. Keteladanan nabi Ibrahim ketika bertawakal kepada Allah Swt. Untuk meninggalkan Siti Hajar dan Ismail.
Hajar berkata, “Wahai Ibrahim! Kemana engkau hendak pergi meninggalkan kami di lembah yang tak berpenghuni dan tak
ada apapun di sini?” Hajar mengucapkan kata-katanya berulang kali, namun nabi Ibrahim tidak juga menolehnya. Akhirnya
Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini kepadamu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Benar.” Hajar menimpali,
“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” kemudian Hajar kembali ke tempat semula. Nabi Ibrahim terus pergi,
hingga ketika sudah berada di jalan pegunungan dan tidak terlihat lagi oleh Hajar dan putranya, nabi Ibrahim menghadapkan
wajahnya ke Baitullah, lalu beliau memanjatkan doa dengan mengangkat kedua tangannya.
31 Akidah Akhlak VII
*Yuk Muhasabah*
Setelah mempelajari materi di atas, sekarang coba renungkan pertanyaan-pertanyaan
Berikut ini,lalu jawab dengan jujur sesuai hati nuranimu!
Apa yang akan aku lakukan jika ....
1. Jika aku sengaja membaca Al-Quran dengan suara keras, dan di dalam hati berharap agar mendapat pujian dari orang yang
mendengarnya?
2. Jika aku adalah orang miskin, sedangkan di depanku ada barang orang lain yang tidak mampu aku beli, dan aku sangat mengin
ginkannya, kebetulan saat itu keadaan sangat sepi dan tidak ada seorangpun yang melihatku?
3. Jika aku setelah selesai melaksanakan salat tidak mau berdoa karena merasa bahwa doa-doa ku belum terkabul?
Akidah Akhlak VII 32
DAFTAR PUSTAKA
Sembiring, M. Q. (2020). Analisis Kesesuaian Materi Ajar Dengan Standar Isi Pada Mata Pelajaran Akidah Akhlak di MTs Kelas
VII Berdasarkan Kurikulum 2013 (Studi Analisis Pada Buku Akidah Akhlak Kelas VII Terbitan Aqila) (Doctoral dissertation, Universitas
Islam Negeri Sumatera Utara Medan).
Mustofa, N. A. (2019). Upaya Peningkatan Hasil Belajar Aqidah Akhlak Materi Adab Sholat dan Dzikir Menggunakan Metode
Everyone Is A Teacher Pada Siswa Kelas VII MTs Tarqiyatul Himmah Pabelan Kab. Semarang Tahun Pelajaran 2018/2019 (Doctoral
dissertation, IAIN SALATIGA).
HUSNA, Asmaul. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Lembah Gumanti Kabupaten
Solok dengan Strategi Pembelajaran Aktif Tipe Hollywood Squares Review. PYTHAGORAS: Jurnal Program Studi Pendidikan
Matematika, 2016, 5.2.
HOLIPAH, P. (2018). PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TIME TOKEN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK (Studi di MTs Masyariqul Anwar Caringin Labuan Pandeglang) (Doctoral
dissertation, Universitas Islam Negeri” Sultan Maulana Hasanuddin” Banten).
Budiman, S. H., Setiawan, C., & Yumna, Y. (2022). Konsep terapi shalat menurut perspektif Moh. Ali Aziz. Jurnal Penelitian Ilmu
Ushuluddin, 2(3), 648-665.
Shihab, M. Q. (2005). “MENYINGKAP” TABIR ILAHI: AL-ASMA AL-HUSNA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN. Lentera Hati.
Wahyuni, R. (2017). Peningkatan prestasi belajar bidang studi akidah akhlak melalui model pakem snowball throwing siswa kelas
VII pada materi riya dan nifaq di MTs Mompang Jae Kecamatan Panyabungan Utara (Doctoral dissertation, IAIN Padangsidimpuan).
AKROM, M. (2021). AL-QURTUBI DAN QIRA’AT MUTAWATIRAH (TELAAH MANHAJ, MASADIR, DAN TAUJIH AL-QIRA’AT AYATAYAT
HUKUM DALAM TAFSIR AL-JAMI ‘LI AHKAM AL-QUR’AN) (Doctoral dissertation, IAIN Syekh Nurjati Cirebon).
33 Akidah Akhlak VII