with Sanurian Go Exploring LIVE IN SANUR KELOMPOK 7SMP S ANT A URSUL A J A K ART A
Daftar Isi tar Isi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.
MEET OUR TEAM MEET OUR TEAM BIANCA/9 BIANCA/9 SHANNON/32 SHANNON/32 THERESIA/33 THERESIA/33 EEGGAA/36 /36
SALAM REDAKSI Hai hai semua, bagaimana nih kabar kalian hari ini? Semoga masih tetap semangat yaa!!! Selamat datang di majalah digital kelompok 7 kelas 82, Penyambutan hangat kami berikan kepada para pembaca yang telah bersedia membaca majalah kami. Kalian pada hari ini akan kami ajak untuk melihat keseruan-keseruan saat LIVE-IN kami di daerah Jawa Tengah. Kami menempati desa Ngargomulyo, Magelang. Kalian sudah penasarankan bagaimana keseruan-keresuan kami selama proses LIVE-IN? Yok, kita segera menlucur eksplorasi daerah Magelang bersama kelompok 7.
Desa Ngargomulyo MENY A L A NGARGOMUL YOKU!
SANGPENJAGAKESEIMBANGAN Desa Ngargomulyo merupakan suatu desa yang terletak di kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Luas wilayah Desa Ngargomulyo adalah sekitar 946,828 Hektar. Letak astronomis dari desa ini terletak pada posisi 115. 7.20 LS 8. 7.10 BT. Desa Ngargomulyo dapat tergolong sebagai dataran tinggi, karena wilayahnya memiliki ketinggian lebih dari 200 mdpl, yakni berada pada ketinggian sekitar 250 mdpl. Desa Ngargomulyo juga terletak di sebelah barat Gunung Merapi, berjarak 6,5 kilometer dari puncak gunung.
DESANGARGOMULYO EKOSISTEM Dikarenakan terletak di dekat Gunung Merapi, Desa Ngargomulyo tentunya merupakan salah satu wilayah yang akan terkena dampak jika terjadi letusan atau erupsi Gunung Merapi. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan masyarakat di Desa Ngargomulyo dan sekitarnya. Abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Merapi dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan masalah kesehatan lainnya bagi penduduk di sekitar gunung berapi. Gas beracun seperti belerang dioksida dan karbon dioksida juga dapat membahayakan kesehatan manusia dan hewan, hingga dapat menyebabkan kematian. Salah satu dampak yang paling signifikan yakni letusan Gunung Merapi juga memberikan dampak positif dalam hal sumber daya alam, terutama material vulkanik. Abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Merapi memiliki kandungan mineral yang kaya. Kandungan mineral tersebut baik untuk pertumbuhan tanaman. Maka, abu vulkanik ini juga dapat difungsikan sebagai pupuk organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan hasil pertanian.
Maka dari itu, tidak mengherankan lagi bahwa sebagian besar penduduk Desa Ngargomulyo berprofesi sebagai petani. Dari 2.479 penduduk yang didaftarkan pada tahun 2017, 1.440 dari mereka, atau 58% dari total penduduk, adalah seorang petani. Mayoritas penduduk Desa Ngargomulyo memilih profesi sebagai petani karena kondisi alam dan lingkungan yang mendukung kegiatan pertanian. Selain itu, profesi sebagai petani juga diwariskan secara turun-temurun dalam budaya dan tradisi masyarakat Desa Ngargomulyo. Beberapa dari mereka memilih untuk menjadi petani karena mengikuti jejak orang tuanya yang juga merupakan seorang petani. SANGPENJAGAKESEIMBANGAN Selain dari faktor tersebut, kesuburan tanah di Desa Ngargomulyo juga dipengaruhi oleh letak geografisnya yang dihimpit oleh dua Sungai, yakni Sungai Lamat dan Sungai Blongkeng. Kedua sungai tersebut berfungsi sebagai sumber irigasi bagi Desa Ngargomulyo. Oleh karena itu, Desa Ngargomulyo memiliki tanah yang sangat subur. Kondisi kesuburan tanah di Desa Ngargomulyo sangat ideal untuk menanam berbagai jenis hasil pertanian. Di samping itu, curah hujan yang cukup merata sepanjang tahun juga berperan dalam menjaga kesuburan tanah di Desa Ngargomulyo. Kombinasi antara nutrisi dari abu vulkanik yang dihasilkan Gunung Merapi, aliran sungai, dan curah hujan yang mencukupi dapat menjadikan lingkungan Desa Ngargomulyo menjadi lingkungan yang mendukung untuk kegiatan pertanian. Sebagai petani, mereka memiliki peran penting dalam menjaga stok produksi serta kualitas pangan nasional dan lokal. Petani Desa Ngargomulyo menghasilkan hasil pertanian yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di dalam desa, tetapi juga dapat diimport ke kota-kota besar, seperti Jakarta. Oleh karena itu, profesi petani di Desa Ngargomulyo berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah serta memberikan lapangan pekerjaan kepada penduduk setempat. Di samping itu, petani di Desa Ngargomulyo juga berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan. Mereka menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, termasuk pupuk organik dari kotoran sapi dan abu vulkanik Gunung Merapi, sehingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak negatif pada lingkungan.
DESANGARGOMULYO EKOSISTEM Meskipun menjadi seorang petani memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan pelestarian lingkungan, profesi ini pastinya juga tidak lepas dari kendala dan tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah ketidakpastian cuaca yang dapat mempengaruhi hasil panen. Musim kemarau yang panjang atau hujan yang berlebihan dapat mengganggu jadwal tanam dan mempengaruhi kualitas hasil pertanian. Selain itu, biaya dari alat dan bahan yang diperlukan terus meningkat, termasuk harga pupuk, pestisida, maupun cangkul dan traktor. Sedangkan harga jual hasil panen yang terkadang sangat rendah, sehingga para petani tidak dapat merasakan keuntungan yang seharusnya diperoleh, melainkan mereka justru mengalami kerugian. Tetapi, justru masih banyak orang yang merendahkan pekerjaan petani karena dianggap kotor, lusuh, maupun najis. Padahal, melalui peran mereka yang tak tergantikanlah dalam memastikan ketersediaan pangan dan pelestarian lingkungan, petani menjadi pahlawan tanpa tanda jasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Para petani di Desa Ngargomulyo, maupun petani di seluruh dunia, bekerja keras setiap hari dengan kesabaran, ketekunan, dan semangat mereka, untuk memastikan bahwa kita memiliki makanan yang cukup di atas meja kita. Jadi, penting serta wajib bagi kita untuk menghormati dan mendukung para petani, salah satu caranya adalah dengan membeli ataupun mempromosikan produk lokal mereka. Persepsi negatif terhadap profesi petani harus diubah menjadi rasa penghargaan yang tinggi, karena tanpa mereka, keberlangsungan hidup kita semua akan terancam.
Kesehatan DI DESA NGARGOMULYO SELAMA PASCA PANDEMI Saat yang terdampak di desa Ngargomulyo, terdapat 2 orang yang terkena penyakit corona. Namun, 2 orang tersebut tetap pulih sembuh. Di desa Ngargomulyo, sangat sedikit orang yang terkena penyakit covid karena protokol kesehatan sangat ditegaskan. Orang-orang di area tersebut memiliki kesadaran yang tinggi sehingga mereka dapat menaati dan melaksanakan protokol kesehatan yang baik dan benar. Mereka mengerti dan mengusahakannya demi kesehatan mereka. Penduduk juga sering saling membantu satu sama yang lain. Contohnya adalah saat ada salah satu warga yang terkena covid. Biasanya dikirim parcel atau obat-obatan. Dari perilaku itu pun juga membantu proses pencegahan penyakit covid dengan cepat. Walaupun mereka wajib melaksanakan protokol kesehatan yang berarti agak sulit untuk berkomunikasi dengan warga sekitar. Mereka tetap mengusahakannya agar tetap terjaga persatuan, dan kesatuan di desa tersebut. Orang - orang disana juga sering saling membantu satu sama yang lain. Contohnya, saat ada salah satu warga yang terkena covid. Biasanya dikirim parcel atau obatobatan. Dari peristiwa itu pun juga membantu proses pencegahan penyakit covid dengan cepat. Walaupun mereka wajib melaksanakan protokol kesehatan yang berarti agak sulit untuk berkomunikasi dengan warga sekitar, mereka tetap mengusahakannya agar tetap terjaga persatuan kesatuan di desa tersebut.
WARISANBUDAYAKEBANGGAANDUSUN NGANDONG WARISANBUDAYAKEBANGGAANDUSUN NGANDONG TRADISI Kesenian Cakalele adalah kesenian tarian yang mengandung unsur pencak silat. Tari cakalele berasal dari Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Jawa Tengah. Tarian ini melambangkan penghormatan bagi para leluhur. Tari cakalele ini biasanya ditampilkan di acara festival kreasi baru khususnya di lereng Merapi dan Merbabu. Dalam tari ini, penari dibagi menjadi dua kelompok. Dimana setiap kelompok dipimpin oleh lelaki didepan. Semangat yang dibawakan oleh penari dilambangkan sebagai semangat perang. Tarian Cakalele dari Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Jawa Tengah, merupakan tarian yang kaya akan sejarah dan tradisi. Tarian ini menampilkan keindahan gerakan yang menggabungkan kekuatan dan keanggunan. Dikenal sebagai penghormatan bagi leluhur, Tarian Cakalele ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat. Setiap gerakan yang dilakukan oleh penari melambangkan penghormatan terhadap warisan budaya dan sejarah mereka. Dari setiap langkah, terdapat nilai kejujuran, keberanian, dan kepatuhan kepada tradisi. Tarian ini sering menjadi perhatian utama dalam acara Festival Kreasi Baru, tempat dimana budaya lokal di tonton oleh penduduk. Dalam Tarian Cakalele, penari dibagi menjadi dua kelompok yang dipimpin oleh lelaki di depan. Hal ini mencerminkan kekuatan dan kepemimpinan yang ada di dalam budaya lokal. Semangat penari tidak hanya mewujudkan keberanian dalam perang, tetapi juga sebagai semangat untuk menjaga dan mempertahankan nilai tradisional. Setiap gerakan dalam Tarian Cakalele memiliki makna yang dalam. Dari gerakannya, semua menggambarkan tradisi, dan budaya dusun ngandong.
NGARGOMULYOGUA SUCI MARIA Gua Maria adalah tempat yang digunakan untuk Ziarah dan devosi terhadap Maria. Gua Maria juga merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Ngandong. Nama dari Gua Maria ini adalah Gua Maria Tuk Ing. Dibalik ini, Gua Maria Tuk Ing memiliki sesuatu yang spesial dan sangat berbeda dibandingkan dengan Gua-Gua Maria lainnya. Konon katanya, air di sana dapat diminum karena airnya sangat jernih dan bersih. Terdapat penelitian juga yang sudah menganalisis air tersebut. Setelah di tes, airnya memiliki kandungan PH yang sangat tinggi, melebihi air putih biasa pada umumnya. Gua Maria sering dijadikan tempat peribadatan dan tempat berdoanya orangorang Katolik yang ingin berinteraksi dengan Bunda Maria. Gua Maria merupakan tempat berteduhnya atau bersandarnya orang-orang Katolik juga untuk meningkatkan spiritualitas atau iman kita. Saat kami pergi menjelajah alam, kami beristirahat di Gua Maria sekaligus misa disana. Di Gua Maria Tuk Ing kita dapat mencemplungkan kaki di kolam ikan disana. Itu bermanfaat untuk meredakan stres dan membuat kaki lebih bersih serta rilex. Ini adalah sesuatu hal yang harus dilakukan apabila kita berkunjung kesana. Kondisi keadaan di Gua Maria Tuk Ing masih sangat lah asri karena berada di alam terbuka yang belum tercemari oleh polusipolusi asap. Gua Maria Tuk Ing adalah tempat yang harus dikunjungi oleh orangorang yang berkunjung ke magelang. Gua Maria Tuk Ing Katreteman
TRADISI NGANDONG SANG MANIAK KUDA LUMPING
Bu Pranti memulai pekerjaannya sebagai petani sejak usia muda, mengikuti jejak pekerjaan keluarganya yang diturunkan secara turun-temurun. Keterampilan dan pengetahuannya tentang pertanian membutuhkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak, ia belajar dan beradaptasi melalui kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh keluarganya dan masyarakat-masyarakat sekitar yang bekerja sebagai petani juga. Ia merasakan langsung bagaimana rasa senangnya ketika panen berlimpah dan menghadapi kegagalan yang dapat menjatuhkan semangatnya. 90% usaha yang ia lakukan mengalami hasil yang bagus, dan 10% lainnya mengalami kegagalan yang membuatnya kecewa. Tapi dengan itu semua Bu Pranti menjadikan pelajaran untuk lebih baik lagi di masa depan. Bagi bu Pranti, kegembiraan yang ia rasakan saat panen berhasil jauh lebih berharga daripada kekecewaan sementara akibat kegagalan. Katarina Pranti, atau bisa dipanggil bu Pranti, adalah sosok yang tak asing lagi di kalangan petani di desa Ngargomulyo, dusun Ngandong. Ia lahir dan dibesarkan di tanah kelahirannya. Bu Pranti telah bekerja di bidang pertanian khususnya dalam tanaman cabe, buncis, dan padi. Dan sekarang, di usianya yang menginjak 46 tahun. Disisi lain, ia dapat menjadi sosok inspirasi untuk orang-orang sekitarnya dengan tidak mengenal lelah saat bekerja.
Menjadi petani di dusun Ngandong bukanlah pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kerja keras yang luar biasa untuk bisa bertahan dan sukses di bidang ini. Namun, bagi bu Pranti, pekerjaan ini bukan hanya sekedar untuk mencari uang dengan bekerja keras tapi juga untuk mencari kehidupan untuk manusia agar manusia dapat tetap sejahtera. Ia melihat pekerjaan ini sebagai keberkahan untuk orang lain dan sesama. Bu Pranti dapat menjadi sosok inspirasi yang bisa membangkitkan semangat kita dengan jiwa tekunnya itu. Sementara itu, bu Pranti juga ingin kita bersemangat dalam melakukan segala hal. Tapi, ia hanya bisa menyemangati kita lewat kata-katanya. “Jadilah orang baik. Tidak butuh pintar tapi dapat berguna untuk orang lain dan salinglah menghargai pekerjaan orang satu sama lain.” - By bu Pranti
Pak Yulius, Pahlawan dalam keluarga kecilnya itu. Ia mempunyai seorang istri dan anak tunggalnya yang tinggal dalam satu rumah. Dengan semangat dan kasih sayang kepada keluarganya, pak Yulius rela berjuang mati-matian demi menghidupkan keluarganya dengan nyaman. Dia dikenal sebagai seorang wiraswasta yang menjual bensin dan gas elpiji. Kisahnya dapat membuat kita memiliki semangat dalam berjuang untuk hidup yang berharga ini. Dulu, Anak dari pak Yulius mempunyai suatu masalah dimana ketika dia masih kecil, dia terdiagnosis memiliki penyakit step. Pak Yulius pun panik dan khawatir tentang kondisi anaknya. Terlebih lagi, harga obat tersebut baginya itu mahal sekali sekitar 350 ribu rupiah lebih. Tapi, dengan tabungan yang dihasilkan dari penjualannya, obat itu pun dapat ia bayar. Tapi penyakit step tersebut masih ada dan belum sembuh. Suatu saat, ada suatu momen yang membuat pak Yulius benar-benar panik adalah ketika anaknya tertabrak motor dan sempat tak sadarkan diri sebentar. Pak Yulius benar-benar panik saat itu, tidak menyangka kalau itu akan terjadi. Tapi, dari segala berkat yang Tuhan berikan, anaknya pun sadarkan diri dan pak Yulius bersyukur karena anaknya baik-baik saja. Pak Yulius pun semakin bersyukur ketika penyakit step yang diderita oleh anaknya sudah benar-benar menghilang. Pak Yulius pun tak berhenti bersyukur.
Hari-hari pun pak Yulius lalui dengan normal-normal saja. Tetapi, masalah pak Yulius tidak berhenti sampai situ saja. Suatu ketika, mulailah kemunculannya COVID-19 yang mengharuskan pak Yulius beristirahat sebentar dari pekerjaannya. Pada masa pandemi COVID19, usaha yang dilakukan oleh pak Yulius tidak kunjung membaik. Barang-barang yang ia jual semakin sepi dan hampir tidak ada pengunjungnya yang mau membeli barang-barang jualan pak Yulius. Pak Yulius pun terpaksa untuk tinggal dirumah sementara waktu dengan penghasilan apa adanya saja dari hasil penjualannya sebelumnya. Dari sini pun, Pak Yulius mencari jalan keluar untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pak Yulius pun akhirnya bekerja bersama istrinya menjadi petani. Meskipun menjadi petani, tetap saja itu sangat susah karena bahan-bahan yang digunakan untuk pertanian semakin sedikit dan semakin susah karena situasi kondisi disana. Setelah COVID-19 berlalu, pak Yulius memutuskan untuk bekerja kembali menjadi wiraswasta. Dari kisah pak Yulius ini kita dapat mengambil kalau persatuan dan kesatuan adalah segalanya. Dengan kepercayaan dan dukungan yang diberikan oleh keluarganya, dia berhasil melewati rintanganrintangan yang berat ini. Kisah ini juga dapat membuat kita semua tersadar betapa pentingnya kepercayaan keluarga itu.
Pak Novianto, seorang petani yang lahir dan besar di dusun ngandong. Sebagai petani, Ia bekerja di kebun, sawah, dan hutan. Pekerjaan yang ia jalankan sekarang adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan secara turun-temurun dalam keluarganya. Petani juga merupakan salah satu pekerjaan mayoritas di desa tersebut dan petani juga dijadikan sebagai identitas untuk wilayahnya. Dari pagi hingga petang, Pak Novianto mengolah lahan dengan tanggung jawab yang berat. Ia dapat melakukannya dengan baik karena sudah terbiasa dengan pekerjaan yang melelahkan. Sebagai petani dia terlatih menjadi petani dalam kurun waktu yang sangat lama untuk membuatnya semakin berpengalaman mengolah lahan. Dia mengetahui bahwa tanpa adanya petani seperti dirinya didunia ini, kebutuhan pokok manusia akan sangat terancam. Sejak kecil, motivasi untuk menjadi petani sudah tumbuh dalam diri Pak Novianto. Serta dorongan dari keluarganya dan keinginan untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain menjadi pendorong utamanya. Setiap hari, ia melihat keluarganya dan melihat kebutuhan sehari-hari manusia sebagai alasan untuk mengusir rasa malas dan terus berusaha memberikan yang terbaik. Lahan yang ia olah tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga kayu sengon yang ia kirim ke pabrik untuk dijadikan buku dan kertas.
Namun, tidak mudah bagi Pak Novianto untuk melakukan tugastugasnya, banyak masalah yang dihadapi selama pekerjaannya berlangsung. Beban kerja yang berat dan medan yang sulit seringkali menjadi tantangan yang harus dihadapinya setiap hari. Bawaan berat yang ia pikul bukan hanya fisik, tetapi juga harapan dan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin kompleks. Masalah tak kunjung berhenti sampai situ saja. Kebutuhannya yang datang terus menerus dan peningkatan uang membuatnya terkadang bingung mencari jalan keluar untuk masalah-masalah yang muncul. Pak Novianto sedang mencari jalan keluar untuk masalah yang dihadapinya sekarang dan sedang mencari pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Dengan segala kerja keras dan tantangan yang dihadapinya, Ia tetap setia terhadap pekerjaan yang menjadi segala kebutuhan hidup manusia. Dia mengajarkan kita semua tentang pentingnya ketekunan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Melalui kisahnya, kita diajak untuk memahami nilai dari kerja keras dan pengorbanan seorang petani untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Cerita ini dapat memotivasi kita untuk lebih menghargai kerja keras para petani yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita semua.
Rosalia Katarina, biasa dipanggil Bu Rosa, lahir pada tahun 1968. Ia tinggal di dusun Batur Duwur, Bu Rosa berprofesi sebagai petani. Selain itu dia juga bekerja dalam sebuah misa gereja setiap sebulan sekali, karena setiap lingkungan bertugas sebulan sekali. Bu Rosa sangat menyayangi pekerjaannya yang sekarang karena dengan ia menjadi koor untuk sebuah misa gereja, ia merasa menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Menyanyikan lagu untuk Tuhan membuatnya semakin semangat dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai koor gereja. Ia bekerja di kapel Tangkil (St. Paulus) dan gereja paroki sumber ( St. Maria Lourdes). Ia di antar jemput oleh pak paulus dan mas Beni. Dampak dari perbuatan bu Rosa yang siap sedia melayani Tuhan dengan penuh semangat, dia tidak mendapatkan masalah selama ia bertugas menjadi koor. Selain dia menjadi koor, dia tetap memerlukan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, maka dari situ ia bekerja sebagai petani di desa tersebut. Rasanya berat sekali untuk bekerja dari pagi hingga petang, tapi dia tidak menyerah dalam mengumpulkan uang agar kebutuhan sehari-harinya terpenuhi. Dalam menjadi petani ia memiliki masalah yang berdampak terhadap tanaman yang ditanamkannya. Masalah tersebut berupa sekumpulan monyet terkadang suka mencuri hasil panen para petani termasuk bu Rosa. Monyet-monyet yang mencuri tersebut membuat hasil panen bu Rosa semakin menurun.
Sekarang bu Rosa, mencoba terus menerus untuk menjaga hasil panennya dengan hati-hati dan dengan bantuan dari Tuhan pula Ia dapat kembali bekerja dengan tentram. Dari sini kita belajar dari perilaku bu Rosa. Dengan kita melayani Tuhan dengan sepenuh hati, kita pasti akan mendapatkan timbal balik yang baik juga. Bu Rosa mengingatkan kita untuk selalu melayani Tuhan dimana pun dan kapan pun.
Our journey into social service in Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Jawa Tengah, was a mix of excitement, planning, and teamwork. As we went on this adventure, we were eager to make a positive effect for the people. The first step for our preparation had been involving the internet, finding inspiration and ideas for our project. We gathered in our groups, and started to join discussions. Our assignment was clear. We made a plan that would not only give a positive impact for the locals but also bring us together as a group. After a lot of discussion, my group had been deciding to make our social service interesting, fun, and educational. Unity In Action My Social Service Story Unity In Action My Social Service Story We decided that our social service would be making crafts from origami, and having a feast while educating the kids about healthy food. Our idea then took shape as we imagined making paper crafts through the art of origami, as well as teaching the kids the importance of nutritions on healthy food. However, before we arrived in the village,we encountered a problem. Instead of being grouped together as planned, I found myself divided based on my absent number, which led to confusion. After facing this unexpected problem, we had gathered to find a solution. We had been passionately discussing various aspects of our plan while gathering. By the time we discussed it, we had already found a solution. Through discussions, we found a solution. The solution is to combine everyone’s projects into one. BI ANC A 8 2 / 9
By the time we made the decision to combine everyone’s projects into one, we had not only solved the problem but also strengthened our friendships. As the day of our social service came, we were filled with determination. Filled with enthusiasm, we explored into the village, sending invitations to children to join us in our activities. The day was filled with excitement, as we started teaching them basic English, tote bag painting, and friendship bracelet making. Despite the challenges we found a solution. Throughout our journey for social service, we had learned the valuable lesson of the power of unity in action. This experience had left an amazing memory, reminding us of the importance of teamwork.
My social service experience turned out unexpectedly better than I expected. We were made into groups of 4. Me and my group planned to teach the people there paper origami and teach them about 4 sehat 5 sempurna. We had already planned it before live-in started. But unfortunately we were divided into new groups with different people in it. This caused a lot of trouble for my group. This problem eventually caused major trouble for the whole class too. Sharing Joy I ended up in batur duwur with some new people. All of them aren’t in my group. Although those new people are my classmates its still a problem for us. But eventually my new group decided to share and discuss our ideas from the previous groups. We had tried combining all the ideas before we knew that the materials needed are limited. So we changed the whole idea before we teach the kids. We planned to teach the children that are currently in elementary school and junior highschool. There are 7 people in total that are teaching so we divided our tasks. SHANNON 8 2 / 3 2
Me and 3 other more people are teaching the elementary school kids, while the rest teach the junior high school kids. For the elementary school kids, we teach them how to draw their own faces and color them in. Me and 3 of my other friends were teaching the elementary school kids while the others taught junior highschool students about social science . After we teached them we decided to go back to our houses and rest. We were walking back until some of the kids gave us stickers as a thank you for teaching them. Although there were some major problems, it still ended up as we expected. Besides all of that we did have fun too in the process.
On that day, my classmates and I, totaling around 16 people, embarked on a collective activity in the Ngandong hamlet. This activity was aimed at the children in the village. And we successfully gathered a group of 10-12 participants ranging from toddlers to fifth graders. We have been planning this event since the first semester of the previous year. Children have been shown enjoyment for our social services. There are many activities that children find very enjoyable, so it makes us happy too. We had a lot of fun and laughed in the social service. Bringing Smiles to Everyone Our activities that day were engaging to the children and it also planned to made children have some fun in our activities, and give them some education about very basic English. After they finished giving them an introduction in English, we immediately held an icebreaker. It's called "Bisik-bisik Tetangga", but it seems to be an activity that can be said to be not very fun for them because it turns out they prefer hand work. We have been painting tote bags and making friendship bracelets for several hours, and the joy it brought to the children. They had participated with such excitement while we planned the next fun activity. By the end of our social service, not only children learned new skills, but also our friendship bond was getting stronger. THERES I A 8 2 / 3 3
During our social service event, we had found a couple of unexpected problems that require quick thinking and teamwork to overcome. Firstly, several of my classmates had forgotten to bring the necessary supplies for the activities we planned. And another, I had brought materials specifically for our social service project, but they weren't used in our project. To address these problems, we decided to discuss our resources and work collaboratively. Originally, only the four of us were supposed to carry out our activities that we had each planned, but because we lived in different places, we all separated and changed to other groups, so with this, we can all equip each other with the equipment needed. This not only solved the issue of missing items but also increased the cooperative spirit of our group. As for the unused materials I had brought, I chose to donate them to the children of the village. Knowing these items would otherwise be wasted, it felt right to leave them with those who could find joy and perhaps a use for them. The entire experience was very satisfying for everyone involved. Time seemed to fly by quickly because of the exciting activities we did. We had been laughing and sharing stories with the children, which made the atmosphere lively and joyful. The children have been continuously engaged in the activities, showing their creativity and improvement for their skills. The efforts we put into planning and implementing that day weren’t in vain nor failed. Although the program was just for one day, the impact felt like it would last much longer. We have been teaching them not only education but also friendship too.
Two months ago, I participated in a Live-In activity organized by Santa Ursula Junior High School Jakarta. This live-in activity took place in Bojong Hamlet, Ngargomulyo Village, Magelang, Central Java. There, we were required to do an activity in the form of social service. Social Service is an activity that shows our concern for the local environment by organizing an event or activity that has a positive impact on those who participate in the activity. I was very excited when I found out about this, I felt happy that I could do something good for the people there. I've always wanted to do something like this for a long time. When I can help others, I always feel happy about it. Colorful Life With great enthusiasm, I planned this social service activity with my group of friends. We have been planning this activity since the first semester. In our discussion, we planned to learn origami folding with the children there. We chose that program because we think it is a useful program. The origami paper that we have made together can be used by them for decoration or display. In addition, we also plan to eat healthy snacks with the children. While eating, we will explain about healthy food. However, when I got there it turned out that my group mates and I lived in different hamlets. I lived in Bojong Hamlet, Shannon lived in Batur Duwur Hamlet, while Bianca and Theresia lived in Ngandong Hamlet. Knowing this, I felt panic because I didn't plan PlanB in case something like this happened. Therefore, my friends and I searched for a solution together. From the results of our discussion, we finally found a solution, which is that we will invite the children there to mosaic. Mosaic is an activity where colorless pictures on blank paper are colored by pasting origami paper. But before doing this, we did an ice breaking first. The ice breaking we did was in the form of games like "Guess the Move", where one of the children would come forward and demonstrate the movement of an animal, and the other children had to guess it. With this social service activity, I feel very happy because I can share happiness and be useful for Bojong Hamlet, especially its children. EGA 8 2 / 3 6
In Ngandong, we had organized various activities focused at teaching the children basic English introduction, playing "Whisper Neighbor" or “Bisikbisik tetangga” , painting tote bags, and making friendship bracelets. By the time we arrived, the community had already been expecting our visit. The children have been looking forward to participating in our activities. As we engaged in these activities, we noticed how they are having lots of fun. The children had been enthusiastically participating and enjoying themselves while we carried out our social service. When we were there we really felt the positive vibes from the children, and even the adults had been impressed by the children's creativity and enthusiasm. Moving to Bojong, our social service activities had included creating mosaics (reuniting cut-out origami pieces to form objects), playing "Guess the Move", folding origami paper, and jumping games. Everything went happily because of the burning enthusiasm from the children. The social service has been running successfully with the children’s joyful laughter. Time seemed very short until remembering that it was already evening and they still hadn't eaten. Finally, it ended with the activity of lining up one by one while returning back to their home.
Moving to Batur Duwur, The social service that we did in this helmet were drawing their own faces for elementary school, and teaching the lessons they were learning for middle school. Elementary school children had been having trouble drawing their own faces. So, the locals had been suggesting next time to add painting activities but with their own ideas. These small activities can make kids happy, especially local childrens. So don't hesitate to share happiness with other people. Apart from being able to experience enthusiasm and positive vibes, this activity also calmed our hearts.
End of Our Journey End of Our Journey KELOMPOK 7 SMP S ANT A URSUL A J A K ART A Mari Kita Bertemu Dilain Waktu sambil Membawa Kebaikan Mari Kita Bertemu Dilain Waktu sambil Membawa Kebaikan