Amati Gambar di bawah ini
Lapisan Tanah Jenis Manusia
Holosen Homo Sapiens
Pleistosen Atas Homo Wajakensis
Pleistosen Tengah Homo Soloensis
Pleistosen Bawah Pithecanthropus Robustus,
Pithecanthropus
Mojokertoensis,
Meganthropus
Paleojavanicus
JENIS-JENIS MANUSIA PURBA DI
INDONESIA
Penemu Periode Penemuan
Eugene Dubois dan B.D 1889 - 1909 Pithecanthropus Erectus
van Reitschotlen di Trinil, Ngawi, Jatim
Teer Haar, Oppenoorth, 1931 - 1941 Kebudayaan Ngandong,
Ralph von Koenigswald, Meganthropus
F. weidenrich Paleojavanicus dan
Pithecanthopus
Mojokertensis
Tjokrohandoyo dan 1952 - Homo Mojokertensis
Duifjes, Teuku Jacob, seterusnya dan fosil manusia purba
Prof. Dr. Sartono, Ir. Otto
Sudarmadji dan Prof. Dr. lainnya.
R..P. Soejono
MEGANTHROPUS
Ralph van Koenigswald fosil gigi, rahang atas
dan bawah di daerah Sangiran
Cirinya:
Badan tegap, rahang besar dan kuat
Food gathering
makananumbi2an dan buah2an
Tidak memiliki dagu, kening menonjol ke
depan, memiliki tonjolan kepala belakang
yang tajam dan tulang dahi miring ke depan
PITHECANTHROPUS
Eugene Dubois Pithecanthropus Erectus
Hidupnya berkelompok, berasal dari lapisan Jetis dan
lapisan Trinil
Cirinya:
Tinginya antara 165 – 180 cm
Berat badan sekitar 104 kg
Rahang dan geraham kuat
Kening menonjol, belum punya dagu, berhidung besar dan
dari miring ke belakang
Tubuh tegap, bentuk paha sudah menyerupai manusia
Volume otak ±950 – 1100 cc
JENIS –JENIS PITHECANTHROPUS
Pithecanthropus Mojokertensis1936-1941R.v.
Koenigwald
Pithecanthropus Soloensis1931-1934Weidenreich
dan R.v. Koenigwald
Pithecanthropus Robustus1939 Weidenreich dan
R.v. Koenigwald
Perbandingan tengkorak-tengkorak
Simpanse, Pithecanthropus Erektus dan
manusia (Sumber: Sejarah Kebudayaan
Indonesia, Soekmono, halaman 26)
Volume otak homo sapiens + 110 cc
Volume otak pithecanthropus + 900 cc
Volume otak Megantropus + 600cc
HOMO
Jenis manusia purba yang memiliki
sifat-sifat manusia sekarang
Dikenal dengan Thinking Man
Hidup antara 60.000 – 25.000 tahun
yang lalu
Jenisnya:
Homo Wajakensis
Homo Soloensis
Di anggap sebagai nenek moyang kita
CIRI-CIRINYA HOMO SAPIENS
Volume otak antara 1.000 – 2.000 dengan rata-rata 1.350
– 1.450 cc
Tinggi tubuh antara 130 – 210 cm
Berat badan 30 – 150 kg
Dahi membulat
Gigi, rahang dan otot mengecil
Muka tidak begitu menonjol ke depan, letak tengkorak
diatas tulang belakang
Berjalan dan berdiri tegak sudah lebih sempurna
Sudah mengenal api
LAPISAN PLEISTOCEN
ATAS :
NOTOPURO
TENGAH :
KABUH
BAWAH :
PUCANGAN
DESKRIPSIKAN KEDUDUKAN KEPULAUAN INDONESIA
DENGAN LAHIRNYA KEANEKARAGAMAN KEBUDAYAAN
PRAAKSARA ??
PEMBAGIAN ZAMAN BERDASARKAN ARKEOLOGI
Megalitikum
Batu Neolitikum
Mesolitikum
Berdasarkan Paleolitikum
Arkeologi Besi
Logam Perunggu
Tembaga
ZAMAN PALEOLITIKUM (BATU TUA)
Ditandai dengan penggunaan perkakas yang
bentuknya sangat sederhana
manusia purba yang hidup pada masa ini adalah
manusia setengah kera yang disebut
Pithecanthropus erectus, Pithecanthropus
robustus.
ZAMAN MESOLITIKUM (BATU MADYA)
Berburu dan menangkap ikan
adanya peninggalan-peninggalan yang
disebut kyokkenmoddinger dan abris
souche roche
ZAMAN NEOLITIKUM (BATU MUDA)
Masa ini merupakan masa bercocok
tanam di Indonesia yang bersamaan
dengan berkembangnya kemahiran
mengasah (mengupam) alat-alat batu
serta mulai dikenalnya teknologi
pembuatan tembikar.
pemenuhan kebutuhan telah mengalami
perubahan pesat, dari cara food gathering
menjadi food producting, yaitu dengan
cara bercocok tanam dan memelihara
ternak
ZAMAN MEGALITIKUM (BATU BESAR)
Pada zaman ini manusia sudah
mengenal kepercayaan animisme
dan dinamisme.
Peninggalan yang bersifat rohaniah
pada era Megalitikum dalam bentuk
menhir, dolmen, sarkofagus, kubur
batu, punden berundak-undak, serta
arca.
MENHIR DOLMEN
SARKOFAGUS KUBUR
BATU
PUNDEN ARCA
BERUNDAK
ZAMAN PERUNGGU
Manusia purba Indonesia hanya
mengalami Zaman Perunggu tanpa
melalui zaman tembaga.
Disebut zaman perunggu karena
pada masa ini manusianya telah
memiliki kepandaian dalam melebur
perunggu.
NEKARA PERUNGGU MOKO
ZAMAN BESI
Pada masa ini, alat-alat kehidupan manusia
sudah meningkat lagi, disamping dibuat
dari tembaga dan perunggu banyak sudah
yang terbuat dari besi.
Manusia telah dapat melebur biji-biji besi
dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan
kebutuhannya, seperti mata kapak, mata
pisau, tombak, cangkul dan sebagainya.
KEHIDUPAN MANUSIA PURBA DI INDONESIA
Manusia purba diperkirakan
telah ada di bumi sejak 4 juta
tahun yang lalu.
Manusia purba memiliki
volume otak yang lebih kecil
daripada manusia modern
sekarang.
CIRI-CIRI SOSIAL, BUDAYA, EKONOMI
DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT
PADA MASA BERBURU DAN BERTANI
A. CORAK KEHIDUPAN MASYARAKAT
PRAAKSARA INDONESIA
1. Sistem Kepercayaan
- Mulai ada pada
zaman mesolitikum
- Bukti berupa
lukisan perahu pada
nekara
- Dikenal istilah
animisme dan
dinamisme
2. KEMASYARAKATAN
- Sistem kemasyarakatan
masih sederhana
Berkelompok dalam
jumlah kecil
- Adanya seorang pemimpin
yang dipilih atas dasar
musyawarah
- Kelompok berdasarkan
bidang keahlian
Membentuk aturan
secara musyawarah
3. MATA PENCAHARIAN
a. Pertanian
- Pada masa neolitikum
- Berpindah (mengandalkan humus)
menetap
- Adanya pembagian tugas berdasarkan
keahliannya
b. Pelayaran
- Perahu sampan
- Perahu bercadik
- Perahu pinisi
4. ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
- Zaman Neolitikum
- Memanfaatkan angin musim
- Ilmu perbintangan sebagai
petunjuk waktu dalam pertanian
- Zaman perundagian pengecoran
logam
1. Teknik dua setangkup (bivalve)
Menggunakan dua buah cetakan yang dapat saling
ditangkupkan.
Bentuk cetakan dibuat sesuai bentuk benda yang akan
dibuat.
Cairan logam dituang pada cetakan.
Kedua cetakan ditangkupkan.
Setelah logam dingin cetakan dibuka.
Keuntungannya yaitu cetakan dapat digunakan berulang-
ulang.
TEKNIK BIVALVE
2. Teknik cetak tuang (a cire perdue)
Bentuk benda yang dikehendaki dibuat
dulu dari lilin.
Lilin dilapisi tanah liat lalu dipanaskan.
Cairan logam dituangkan.
Setelah cairan dingin, cetakan dipecahkan.
TEKNIK A CIRE PERDUE
TEKNIK PEMBUATAN GERABAH
Teknologi tatap pelindas menghasilkan bentuk gerabah
yang tidak terlalu halus. Dengan meletakkan tanah liat di
atas landasan batu. Kemudian gerabah dibentuk dengan
mengandalkan keterampilan pembuat gerabah sesuai
bentuk yang diinginkan.
Teknik roda pemutar, menggunakan landasan yang dapat
diputar sehingga lebih cepat membentuk gerabah dan
lebih halus buatannya.
Teknologi tatap pelindas 1
Teknologi tatap pelindas 2
Teknik roda pemutar 1
Teknik roda pemutar 2
Hasil tingkat lanjut setelah
diberi hiasan
Hasil tingkat sederhana
5. KESENIAN
- Lukisan
dinding gua
- Batik
- Gamelan
- Wayang
B. CIRI KEHIDUPAN MASYARAKAT PRA-AKSARA
INDONESIA
1. Masa Berburu dan Meramu
- Keadaan bumi masih labil.
- Hidup bergantung pada alam dalam jumlah kecil.
- Cenderung selalu berpindah tempat.
- Pemilihan pemimpin menggunakan sistem interpares
(dianggap mempunyai pandangan lebih luas).
- Telah menggunakan komunikasi sederhana dengan
dibantu isyarat muka, tangan dan anggota tubuh lain.
- Telah memiliki naluri untuk melindungi diri.
- Sisa makanan teronggok sebagai sampah dapur disebut
kjokkenmoddinger.
BEBERAPA HAL YANG DILAKUKAN
MANUSIA PURBA UNTUK BERTAHAN
HIDUP
Menciptakan berbagai macam alat dari batu dan
tulang untuk membantu kekurangan dan
kemampuan fisik mereka.
Hidup dalam kelompok untuk dapat saling
membantu ketika ada bahaya.
Hidup berpindah tempat dekat dengan sumber air
dan binatang buruan.
Ditemukannya api sehinga bertahan dari udara
dingin.
2. MASA BERCOCOK TANAM
Membuka sebidang tanah untuk ditanami tanaman
(berhuma).
Banyak hasil ladang tergantung kesuburan dan curah
hujan.
Jika kurang menguntungkan mereka berpindah tempat
(ladang berpindah).
Kelompok bertambah banyak menjadi masyarakat
pedesaan.
3. MASA PERUNDAGIAN
Pembagian kerja telah terspesialisasi (bekerja sesuai
keterampilan masing-masing).
Kehidupan menetap (sedenter).
Hasil budaya terbuat dari perunggu, gerabah, perhiasan.
Mengenal sistem barter
Melaksanakan upacara pemujaan
Mendirikan banguan tempat pemujaan.
HIPOTESA ASAL USUL DAN PERSEBARAN
MANUSIA DI KEPULAUAN INDONESIA
1. Teori Yunan
Berdasarkan teori ini, orang-orang Nusantara datang dan berasal dari
Yunan. Teori ini didukung oleh R.H Geldern, J.H.C Kern, J.R Foster,
J.R Logen, Slametmuljana, dan Asmah Haji Omar. Alasan
pendukungnya yaitu:
Kapak Tua yang ditemukan di wilayah Nusantara memiliki
kemiripan dengan Kapak Tua yang terdapat di Asia Tengah. Hal ini
menunjukkan adanya migrasi penduduk dari Asia Tengah ke
Kepulauan Nusantara.
Bahasa Melayu yang berkembang di Nusantara serumpun dengan
bahasa yang ada di Kamboja. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk
di Kamboja mungkin berasal dari Dataran Yunan dengan menyusuri
Sungai Mekong. Arus perpindahan ini kemudian dilanjutkan ketika
sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampai ke
wilayah Nusantara. Kemiripan bahasa Melayu dengan bahasa
Kamboja sekaligus menandakan pertaliannya dengan Dataran
Yunan.
Kedatangan mereka ke Kepulauan Nusantara ini melalui tiga
gelombang utama:
Orang Negrito
Orang Negrito merupakan penduduk paling awal di Kepulauan
Nusantara. Mereka diperkirakan sudah mendiami kepulauan ini
sejak 1000 SM. Hal ini didasarkan pada hasil penemuan
arkeologi di Gua Cha, Kelantan, Malaysia.
Orang Negrito ini kemudian menurunkan orang Semang, yang
sekarang banyak terdapat di Malaysia. Orang Negrito
mempunyai ciri-ciri fisik berkulit gelap, berambut keriting,
bermata bundar, berhidung lebar, berbibir penuh, serta ukuran
badan yang pendek.
Melayu Proto
Perpindahan orang Melayu Proto ke Kepulauan Nusantara
diperkirakan terjadi pada 2.500 SM. Mereka mempunyai
peradaban yang lebih maju daripada orang Negrito. Hal ini
ditandai dengan kemahirannya dalam bercocok tanam.
Melayu Deutro
Perpindahan orang Melayu Deutro merupakan gelombang
perpindahan orang Melayu kuno kedua yang terjadi pada 1.500
SM. Mereka merupakan manusia yang hidup di pantai dan
mempunyai kemahiran dalam berlayar.
TEORI NUSANTARA
Asal mula manusia yang menghuni wilayah Nusantara ini tidak berasal dari
luar melainkan mereka sudah hidup dan berkembang di wilayah Nusantara
itu sendiri. Didukung oleh J. Crawford, K. Himly, Sutan Takdir Alisjahbana,
dan Gorys Keraf. Alasan Teori Nusantara:
Bangsa Melayu dan bangsa Jawa mempunyai tingkat peradaban yang
tinggi. Taraf ini hanya dapat dicapai setelah perkembangan budaya yang
lama. Hal ini menunjukkan bahwa orang Melayu tidak berasal dari
manamana,
tetapi berasal dan berkembang di Nusantara.
K. Himly tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa bahasa
Melayu serumpun dengan bahasa Champa (Kamboja). Baginya, persamaan
yang berlaku di kedua bahasa tersebut adalah suatu fenomena yang bersifat
“kebetulan”.
Manusia kuno Homo Soloensis dan Homo Wajakensis yang terdapat di
Pulau Jawa. Penemuan manusia kuno ini di Pulau Jawa menunjukkan
adanya kemungkinan orang Melayu itu keturunan dari manusia kuno
tersebut,
yakni berasal dari Jawa.
Bahasa yang berkembang di Nusantara yaitu rumpun bahasa Austronesia,
mempunyai perbedaan yang sangat jauh dengan bahasa yang berkembang
di Asia Tengah yaitu bahasa Indo-Eropah.
TEORI “OUT OF AFRICA
Menyatakan bahwa manusia modern yang hidup
sekarang ini berasal dari Afrika. Setelah mereka
berhasil melalui proses evolusi dan mencapai
taraf manusia modern, kemudian mereka
bermigrasi ke seluruh benua yang ada di dunia
ini. Apabila kita bersandar pada teori ini, maka
bisa dikatakan bahwa manusia yang hidup di
Indonesia sekarang ini merupakan hasil proses
migrasi manusia modern yang berasal dari Afrika
tersebut.