i
k
ii
“Kena Batunya”
Pagi yang cerah terdapat suatu hutan rimba yang rindang dan asri di pedalaman hutan.
Di hutan tersebut dihuni oleh banyak jenis hewan yang tinggal disana. Seperti kerbau, burung
kutilang, rakun, kura-kura, dan masih banyak lagi. Pada suatu hari hiduplah seekor kerbau yang
bernama Baba, ia hidup bersama kakaknya yang bernama Bibi. Baba sejak lahir sudah memiliki
kekurangan pada tanduknya yang tidak bisa tumbuh sebelah. Mereka hanya hidup berdua sejak
Baba dan Bibi masih kecil, karena ayah dan ibunya sudah meninggal akibat perburuan liar oleh
para pemburu sejak 4 tahun lalu. Semenjak ayah dan ibunya meninggal, Baba sering merenung
dan menyendiri di tepi sungai.
Pada suatu hari Baba hendak pergi untuk berjalan-jalan dan melihat keadaan sekitar di
sekelilinng hutan dan Baba menghampiri Bibi kakanya untuk meminta izin kalau akan pergi
melihat keadaan sekitar di hutan. Setelah meminta izin kepada kakaknya, Baba pun segera
bergegas pergi. Sesaat setelah berangkat di pertengahan jalan, Baba pun terdiam dengan wajah
yang sendu dan sedih. Baba teringat akan kejadian 4 tahun silam atas meninggal ayah dan
ibunya. Karena saat di tengah perjalanan tersebut Baba melewati tempat kejadian ayah dan
ibunya meninggal akibat tertembak oleh ulah pemburu. Baba menghentikan langkahnya dan
menangis teringat kejadian 4 tahun lalu.
Sedikit memori yang ia ingat bahwa saat rombongan kerbau yang merupakan sebagian
besar dari keluarga Baba dan Bibi. Melintasi sebuah daerah yang ditumbuhi semak-semak yang
lebat dan tinggi, saat itu keluarganya yang melintas awalnya baik-baik saja dan suasana saat
itu sepi dan sunyi. Tetapi ketika melewati daerah itu tiba-tiba ada peluru yang tiba-tiba
menyasar di tubuh ayah dan ibunya dan sayangnya orang tua Baba dan Bibi meninggal
langsung ditempat. Seketika semua rombongan kerbau panik dan berhamburan lari
menyelamatkan diri. Baba, Bibi, dan rombongan yang lainnya selamat tetapi mereka
kehilangan dua anggota rombongan yaitu orang tua Baba dan Bibi. Dan itulah sedikit cerita
kejadian saat diingat oleh Baba yang menyebabkan ia berhenti sejenak di perjalanan.
Tiba-tiba datang lah seekor burung kutilang yang melihat Baba sedang menangis. Lalu
burung kutilang bertanya kepada Baba
“Heey Baba kenapa kamu menangis?” tanya burung kutilang
tetapi Baba menghiraukan pertanyaan burung kutilang lalu burung kutilang pun mendekati
Baba dan mengelus tubuh Baba sambil bertanya kembali,
“Kamu kenapa Ba?, coba cerita sama aku siapa tahu aku bisa bantu kamu.”.
1
Akhirnya Baba pun menjawab pertanyaan burung kutilang
“Jadi begini, aku teringat akan menginggalnya ayah dan ibuku di tempat ini” jawab
Baba.
Burung kutilang pun menjawab sambil mengelus lagi tubuh Baba
“Aku tahu bagaimana perasaan kamu setelah ditinggal orang tua di saat kamu masih
belum dewasa, tetapi kamu jangan bersedih terus sampai kapan kamu akan seperti ini?”.
“Kamu harus mengikhlaskan kepergian ayah dan ibu kamu.” Burung kutilang terus
menasehati Baba.
Setelah itu Baba pun mulai kembali tersenyum, dan mereka akhirnya melanjutkan berjalan-
jalan bersama menelusuri hutan. Setelah mereka bercanda dan bermain menelusuri hutan,
akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing karena matahari mulai terbenam.
Keesokan harinya Baba kembali meminta izin kepada kakanya Bibi untuk mencari
makan di hutan, Baba pun bergegas pergi. Pada saat di perjalanan ia bertemu dengan seekor
kera. Lalu Baba pun menyapa kera tersebut
“Halo kera, kamu sedang apa diatas pohon itu?”
kera pun menjawab
“Aku sedang mencari makan di sekitar sini, kalau kamu mau kemana Baba?”.
Baba pun menjawab
“Aku juga sedang mencari makan di sekitar sini keraa” jawab Baba,
kera pun kembali bertanya kepada Baba
“Kakak kamu kemana Baba, kok akhir-akhir ini aku jarang melihat kakak kamu?” tanya
kera.
Baba pun Kembali menjawab
“Ada kok, di rumah dia sedang sakit karena 3 hari lalu kakinya kejatuhan batu makanya
sekarang aku yang mencari makan untuk kami berdua” jawab Baba.
Kemudian Baba membalas lagi dengan berkata
“Heey kera aku izin melanjutkan perjalanan untuk mencari makan lagi yaah”.
Setelah itu Baba melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan hewan di hutan yaitu
seekor rakun, seekor rakun ini dikenal hewan yang sombong. Baba pun mencoba sedikit
menyapanya “Haloo rakun”, tetapi rakun menghiraukan Baba dan menatapnya dengan sinis
kepada Baba. Dan si rakun pergi meninggalkan Baba, Baba juga ikut pulang setelah
mendapatkan makanan yang dibutuhkan. Setibanya di rumah Baba melihat kakaknya yang
2
sedang merintih kesakitan karena tertimpa batu 3 hari lalu. Baba pun merasa kasihan kepada
kakaknya yang masih kesakitan. Dengan rasa kasihan Baba kembali pergi ke hutan untuk
mencari daun sebagai obat penawar sembuh kaki kakaknya.
Tetapi setelah beberapa Langkah menuju hutan baba kebingungan karena ia tidak tahu
daun apa yang harus dicari sebagai obat penawar sakit kaki kakaknya itu. Tiba-tiba dari bali
semak-semak muncul seekor kura-kura dan menghampiri Baba. Karena melihat wajah Baba
yang kebingungan , kemudian kura-kura pun bertanya kepada Baba
“Baba kamu sedang apa disini? Sepertinya kamu sedang kebingungan.”
Lalu Baba pun menjawab
“Iya kura-kura aku sedang bingung, aku mau mencari daun yang bisa digunakan untuk
mengobati kaki kakakku tetapi aku tidak tahu harus mencari daun apa, apakah kamu
tahu kura-kura?”
Kura-kura pun menjawab,
“Memangnya kaki kakakmu kenapa?”
Lalu Baba menjawab
“Kaki kakakku 3 hari yang lalu tertimpa batu, apakah kamu bisa menolongku untuk
mencarikan daun obat itu?” tanya Baba
“Aku tahu di mana daun itu berada” jawab kura-kura
Lanjut kura-kura memberi tahu
“Aku boleh saja mengantarkanmu, tapi ada syaratnya”
Baba pun bertanya
“Apa itu syaratnya?, aku siap melaksanakannya”
Kura-kura menjawab
“Syaratnya apakah kamu bisa membantu mencarikan makanan untukku. Aku lapar,
apakah kamu bisa memenuhi persyaratanku ini?”
Tanpa pikir panjang, Baba menjawab
“Baiklah kura-kura, aku akan mencarikan makanan untukmu”.
Baba bergegas mencari makanan untuk kura-kura dan setelah mendapatkan makanannya
segera kembali untuk memberikan makanan tersebut ke kura-kura. Setelah kura-kura makan,
akhirnya kura-kura menghantarkan Baba ketempat daun obat itu berada. Setelah sampai sampai
di tempat tujuan daun itu berada kura-kura berkata
“Baba ini di daun obat untuk mengobati kakakmu”
3
Baba pun menjawab “Woow, terima kasih ya kura-kura engkau sudah menolong aku untuk
mencarikan daun ini.”
Kura-kura berbicara lagi “Naah karena kamu sudah mendapatkan daun yang dibutuhkan, aku
pamit pulang dulu ya”
“Okelah kura-kura sekali lagi aku berterima kasih kepadamu ya” Baba berterima kasih
ke kura-kura
Kemudian kura-kura pergi dan Baba segera pulang untuk langsung mengobati luka
yang ada di kaki kakaknya. Setelah mengobati sakit yang ada di kaki Bibi kakaknya, Baba dan
Bibi bergegas menuju tempat tidur karena sudah larut malam. Pagi pun tiba, terdengar suara
pintu yang digedor. Baba dan Bibi langsung menuju ke pintu untuk memastikan siapa yang
datang. Ternyata burung kutilang datang ke rumah Baba untuk mengajak bermain Baba,
akhirnya mereka berdua pergi bermain ke hutan. Di tengah perjalanan mereka bertemu lagi
dengan rakun yang sombong itu. Terlihat rakun tatapan wajah yang kesal karena bertemu
dengan Baba dan burung kutilang. Rakun menyeletuk
“Heey kerbau jelek kenapa engkau selalu saja menampakkan batang hidungmu
dihadapanku, aku sangat kesal melihat tandukmu itu yang jelek yang membuat hari ini
terlihat jelek mehihatmu. Lebih baik kamu pergi dari hadapanku sanaa”
Dengan wajah yang kecewa dan sedih Baba pun bergegas pulang dengan hati yang kacau
meninggalkan burung kutilang. Setibanya di rumah kakaknya Bibi melihat wajah yang murung
dan Bibi pun menghampiri Baba dan berkata
“Kamu kenapa? Kok wajah kamu terlihat sangat kecewa”,
Baba menceritakan kepada kakaknya apa yang sudah terjadi tadi ketika sedang bermain dengan
burung kutilang, Setelah menceritakan semuanya kepada kakaknya, lalu Bibi menasihati Baba
“kamu harus tahu banyak sekali binatang di hutan ini yang menyayangi dan menerima
segala kekuranganmu, jadi kamu harus tetap semangat menjalani hidup ini”
“Hanya karena sebuah perkataan seenaknya yang tak berguna bagimu, kakamu selau
ada disamping bersama hewan-hewan lain di hutan ini. Setiap kekurangan pasti ada
kelebihan, engkau selalu bersikap baik kepada siapapun, bergaul dan bercanda kepada
semua hewan tanpa memandang sebelah mata kepada siapapun. Orang baik dana selau
ada disekitar orang baik yang menyayangimu”
Baba menatap haru ke wajah Bibi, setelah itu Baba lebih semangat lagi dalam menjalani
aktivitas.
4
Keesokan harinya Baba Kembali ke hutan untuk mencari makan lagi. Saat di perjalanan
Baba mendengar suara tembakan dan ia terdiam bersembunyi di balik semak-semak. Melihat
sekeliling dari kejauhan terlihat ada pemburu yang sedang melakukan perburuan liar di hutan.
Baba ketakutan dan bergegas lari ke rumah untuk menyelamatkan diri. Setelah itu ia
menceritakan kejadian yang baru saja terjadi ke Bibi, kalau ada perburuan liar di hutan lagi
oleh pemburu dan mereka berdua ketakutan dan tidak berani keluar rumah.
Setelah keadaan mulai aman, keesokan hari Baba keluar rumah lagi untuk bertemu
burung kutilang untuk memberitahu kejadian kemarin. Di tengah perjalanan Baba banyak
bertemu dengan hewan lain yang masih ketakutan atas perburuan liar kemarin. Dan akhirnya
ia bertemu dengan burung kutilang dan bertanya,
“Haloo kutilang bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit takut. Kamu tahu Baba aku kemarin melihat
pemburu menembak rakun” jawab burung kutilang.
“Haah yang benar kamu kutilang, coba ayo kita cari dimana rakun sekarang siapa tahu
kita bisa menolongnya” tegas Baba.
Mereka berdua segera bergegas mencari rakun dan akhirnya Baba dan kutilang
menemukan rakun yang sudah terkapar di tanah dan menjerit kesakitan. Kemudian mereka
langsung menghampiri dan berkata
“Kamu kenapa rakun?”
Baba melihat tubuh si rakun yang berlumuran darah dan langsung menolong rakun yang hampir
sekarat, dibawanya rakun ke tempat yang aman untuk diobati yang ternyata tubuhnya terkena
tembakan pemburu. Setelah diobati rakun berangsur-angsur membaik keadaan tubuhnya, akan
tetapi tubuhnya masih belum bisa berdiri tegak karena masih lemas. Rakun dengan wajah sedih
dan haru berbicara kepada Baba
“Baba terima kasih yaa kamu dan kutilang sudah menolongku, kalua tidak ada kalian
mungkin aku bisa mati di tengah hutan. Aku juga ingin meminta maaf atas perkataan
dan perbuatanku selama ini kepadamu. Maukah kamu memaafkan aku dan kita tetap
jadi sahabat selamanya yaaa?”
“Rakuun tidak usah membahas lagi masalah yang lalu, aku sudah memaafkan engkau
dan kita tetap sahabat selamanya” Baba menjawab sambil tersenyum.
5
Akhirnya mereka berteman baik. Dan mereka senang bermain bersama-sama dan
tentunya bersama burung kutilang. Jadii dari kisah ini bisa diambil pelajaran bahwa jangan
suka mengejek dan merendahkan seseorang, dibalik kekurangan seseorang pasti ada kelebihan
yang dimiliki. Dan juga kita harus saling tolong-memolong antar sesame agar suatu saat jika
kita kesulitan pasti ada orang baik yang menolong kitaa.
6