MENGINJAK HANGATNYA TANAH, MELIHAT
INDAHNYA DUNIA DENGAN MELAKUKAN
ADIWIYATA. UNTUK MASA DEPAN YANG SUDAH
MENGELUARKAN SEDIKIT CAHAYANYA,
MEMANGGIL POTENSI DALAM NYAWA UNTUK
MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG CERIA.
BERUSAHA SEKUAT TENAGA, UNTUK MENJADI
PEMUDA-PEMUDI MASA DEPAN BANGSA.
LINGKUNGAN YANG BERSIH INDAH
MEMANCARKAN AURANYA, MEMIKAT KITA UNTUK
MENIKMATINYA.
MAAF SUKA MELUPAKAN
KARYA : AHDA QUROTUL HABIBAH
SMPN NEGERI 1 KREMBUNG
#SMPN1KREMBUNG
#CERPEN #CERITAPENDEK
#ADIWIYATASCHOOL
HTTPS://WWW.INSTAGRAM.COM/P/CMTUJQ_YP
4E/?IGSHID=MDJMNZVKMJY=
MAAF SUKA
MELUPAKAN
Menginjak hangatnya tanah, melihat
indahnya dunia dengan melakukan
Adiwiyata. Untuk masa depan yang
sudah mengeluarkan sedikit cahayanya,
memanggil potensi dalam nyawa untuk
menciptakan lingkungan yang ceria.
Berusaha sekuat tenaga, untuk menjadi
pemuda-pemudi masa depan bangsa.
Lingkungan yang bersih indah
memancarkan auranya, memikat kita
untuk menikmatinya.
Merasakan udara segar yang
menyelimuti badan, suara ricuh mulai
bermunculan. Memang sudah saatnya
menistirahatkan tubuh dan pikiran, yang
sudah di isi ilmu pengetahuan.
Menikmati indahnya taman yang
tersusun oleh tanaman di setiap kelas di
sepanjang jalan, menuju sang pujaan.
“Kantin maksudnya” Jea. Mengharapkan
apakah ada menu baru di sana. Tapi,
“Maaf, bisakah kamu membuangnya di
tempat sampa? Tidak jauh dari
tempatmu ada tempat sampah kan”
Tegur Jea, dengan perasaan geram.
“Gausah alay, Cuma bungkus roti kok
heboh” Jawab siswa tersebut, tanpa
memandang Jea dan langsung pergi
begiti saja.
“Jea-Jea! Udah-udah. Ini kan lagi
lomba Adiwiyata kelas, nanti pasti
langsung diambil” Cegahku,
meredamkan emosi Jea. Tapi,
masalahnya siswa tadi memang
membuang sampa di taman kelas
punya Jea, jika aku jadi Jea juga akan
berbuat sama.
“Arghh, jika aku berbuat sama dia akan
marah juga kan?” Jea menggumam
kesal, sambil mengambil bungkus roti
milik siswa tadi.
“Wahh, Jeaaaa.. Gimana kalau kita
sadarkan dia?” Bicaraku menanggapi
gumaman Jea.
“Gimana? Mukul tanganya?” Jawab Jea
santai.
“Aku setuju, tapi tidak memebenarkan.
Mending kita melakukan hal yang sama
pada siswa itu, kita taruh sampah di
tamannya. Tapim kita buat seolah-ola
dia yang melkukannya” Jelasku, agar
Jea tidak ada rasa geram pada siswa
itu.
“Oke, ayo sekarang!” Jea langsung
menarik tanganku, dan berjalan menuju
kelas siswa tadi.
“Jea! Tapi, sekarang jadwal baca kita”
Aku berharap dia bisa menunggu.
“Oh, Gabisa sekarang? Ah iya.. Oke ayo
ke perpustakaan” Jawab Jea seperti
orang kebingungan.
“Menghirup udara segar di sepanjang
perjalanan menuju perpustakaan.
Sunggu segar berjalan bersama seperti
ini di halaman sekolah yang rindang.
“Jiaa, kita ambil buku terus baca di
bawah pohon itu aja yok” Jea, ajaknya
dengan memegang tanganku dengan
tangan hangatnya. Banyak sekali pohon
tinggi bak payung untuk menemani di
setiap kegiatan dan selalu menjaga
udara yang bertebaran. Sungguh indah
di setiap sudut selalu saja ada yang
membuat hati tenang. “Jiaa, nanti kalau
kelas kamu menang. Jangan lupa
seblaknya ya” Jea. Sebaiknya bicaranya
nanti saja jika aku sudah
mennyelesaikan lamunanku.
“Hei! Ambil sampah yang kamu buang
di sini!” Teriak siswa itu, sambil
menunjuk sampah yang ada di
dekatnya.
“Lah? Bungkus permen aja kok heboh”
Bicara Jea dengan lidah lincahnya.
“Kamu kan yang buang? Di sana kan
ada sampah, kenapa ga langsung
kamu buang saja?” Jawa siswa itu, dan
langsung mendekati Jea.
“Kamu saja yang tidak sadar, jika kamu
juga melakukannya. Jika menurutmu itu
alay, kenapa ga kamu ambil sendiri?”
Jawabku langsung, sambil menarik
tangan Jea agar menjauh dari siswa
tadi
“Maaf jika perbuatan dan perkataan ku
keterlaluan, dan terimakasih sudah
menyadarkanku dengan cara kerenmu.
Maaf jika aku suka lupa atau bisa juga
di sebut tidak sadar dengan dengan
perbuatanku yang keterlaluan” Jawa
siswa tadi dengan jeda kira-kira 2menit
sesudah aku bicara. Aku berarap dia
sadar betapa pentingnya hal kecil yang
akan berdampak besar pada
lingkungan.