Daftar Isi
(Sacred Companions/ Masa Kecil Merry ............................................................. 1
Masa Kecil Tabita ............................................................. 10
Sahabat-Sahabat Kudus) Pertemuan Merry dan Tabita ........................................ 19
Pertemuan dengan Dina ................................................. 25
Ucapan terima kasih kepada Tahun Kedua Sekolah ...................................................... 32
Perpisahan dengan Leo .................................................. 36
Maria Lena Runtukahu Kegundahan Hati Dina ..................................................... 39
Grace Rosalia Leo atau Rico ? ................................................................. 46
Natal Terakhir ................................................................... 50
Eunike Kriswahyuni Selamat Tinggal Dina ........................................................ 56
R.P. Hero Wijaya
Yosua Kristanto
Deaella Megaleti
Steffani Christine
Yo Intan Purnama
Felicia Giovanni Sidharta
Leo Hanjoyo
Indayan Budi Lestari Sir
Herawati Dewiani
Lidia Setyowati
seluruh siswa SMA Kr. Kalam Kudus Malang
Masa Kecil Merry “Segera setelah mendapatkan gaji, aku akan transfer melalui wesel
dulu ya. Setelah cukup, bulan depan, kamu buka rekening di bank ya.”
“Magda, aku pergi ya.” pamit Simon. Simon mengambil tasnya dan mencium kening istrinya. “Jaga Merry baik-
“Hati-hati ya, Ko.” sahut Magda. baik. Dah! Tuhan memberkati kamu.”
“Kamu juga. Jaga baik-baik bayi kita. Maaf aku nggak bisa
menjaga kamu dan si kecil.” Simon harus berangkat di Amerika untuk bekerja bersama
“Nggak apa-apa. Yang pasti kamu bekerja kan untuk kami.” sahabatnya Andre.
“Mana ya si Andre. Kok nggak muncul. Ntar telat kejar
pesawatnya.” “Magda, jangan bengong aja.” tiba-tiba seorang ibu menyapa
“Oh ya, Ko. Koko belum memberi nama bayi kita.” Magda.
“Pinginnya sih diberi nama sesuai namamu aja. Maria Magdalena.”
“Kok harus sama dengan namaku?” tanya Magda. “Eh, bu Kartika.” sapa Magda.
“Aku harap dia bisa secantik kamu,” jawab Simon. “Eh, gimana
kalau diberi nama kecil kamu, Merry.” “Yuk, bantu ibu memasak.” ajak Bu Kartika.
“Ya aku rasa cocok. Merry.”
“Nama lengkapnya, Merry Nirmala ya.” kata Simon lagi. “Ya, bu. Mumpung Merry kecil lagi bobo.”
“Kok pake Nirmala segala? Hayo itu nama mantan pacarmu ya?”
“Ya dong. Nirmala kan peri baik hati dari negeri dongeng.” kata “Oh nama bayimu Merry? Nama yang cantik.” kata Bu Kartika.
Simon sambil tertawa. “Aku harap Merry menjadi peri keajaiban bagi
keluarga kita.” “Kamu buka warung aja, Da. Masakan kamu sangat enak. Pasti
“Tuh Andre. Koko berangkat deh. Hati-hati di Amrik.” laku deh.” kata Bu Kartika lagi. “Ntar aku beri modal deh.”
1 “Gimana caranya saya mengembalikan modal dari Ibu?” kata
Magda.
“Ah, kamu anggap aku siapa? Kan kamu sudah aku anggap anak
Ibu sendiri. Ibu tidak punya anak kandung, jadi kamu sudah Ibu anggap
anak sendiri.”
“Terima kasih Bu.” kata Magda tersenyum. “Mari kita mulai
bekerja.”
Begitulah kerja Magda sehari-hari. Simon juga tak menyangka
Tuhan memberkati dia dengan limpah. Tuhan memberi kepercayaan
langsung untuk dia mengelola sebuah sekolah di Amerika, sedang Andre
bekerja di pabrik garmen.
“Magda. Kamu bisa ke rumah Ibu sebentar?” telepon Bu Kartika.
“Bisa, Bu. Kenapa?” tanya Magda.
“Betulin selang kompor gas Ibu.” jawab Bu Kartika. “Merry kamu
bawa aja ke sini.”
“Wah dia masih tidur, saya nggak tega membangunkan dia.
Baiklah, saya ke rumah Ibu sebentar.”
Tak beberapa lama, rumah Bu Kartika digedor-gedor orang.
“Magda, Magda. Cepat kamu pulang. Rumahmu kebakaran.” kata
tetangga-tetangga.
2
“Oh Merry. Anakku.” teriak Magda. Dengan berlari Magda menuju “Bu, boleh bertanya?” tiba-tiba seorang wanita muda menghampiri
ke rumahnya. Ternyata api sudah besar. Tanpa berpikir panjang, Magda Magda.
mengambil handuk yang masih basah untuk menutupi rambut dan
wajahnya dan menerobos pintu rumahnya yang sudah mulai terbakar. Dia “Boleh kok.”
berhasil mengambil bayinya dan keluar. Tapi sayangnya, wajahnya
terkena reruntuhan atap rumahnya. “Saya Mita. Saya bekerja di panti asuhan ini. Mengapa ya Ibu mau
membantu anak-anak di sini?” tanya wanita yang bernama Mita itu.
Bu Kartika berhasil menghubungi PMK dan petugas ambulans
yang segera membawa Magda dan bayinya ke rumah sakit. “Kan harusnya memang semua manusia berbagi dengan sesamanya
yang kekurangan. Apalagi dengan anak yatim, anak cacat dan anak yang
“Magda, aku minta maaf ya membuat rumahmu terbakar dan kehilangan kasih sayang.” kata Magda. “Kami dulu juga tidak mampu,
sekarang wajahmu pun ....” kata Bu Kartika prihatin. “Kalau nggak aku tapi berkat kasih sayang orang lain, maka kehidupan ekonomi kami
panggil, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.” di-pulihkan. Sekarang waktunya aku juga berbagi dengan orang lain.”
“Sudahlah, Bu. Mungkin ada kehendak Tuhan bagi hidup saya.” “Hatimu mulia sekali Bu.”
kata Magda. “Yang penting Merry selamat.”
“Panggil aku Magda, kelihatannya usia kita nggak jauh berbeda
“Kamu luar biasa Magda, kamu mengorbankan nyawamu untuk kan.”
anakmu.”
“Maaf. Aku tidak bisa mengenali wajah Anda.”
“Kan seharusnya, orang tua wajib melindungi anaknya.” kata
Magda lagi. “Sekarang kami harus tinggal di mana?” “Oh ya, wajahku terbakar seperti ini setahun lalu.” kata Magda.
“Kena runtuhan rumahku waktu terbakar.”
“Ya di rumahku Magda. Tinggallah bersamaku.” ajak Bu Kartika.
“Semua kebutuhan hidupmu, biar kita atasi berdua ya.” “Oh maaf, saya nggak tahu hal itu.” kata Mita. “Boleh tanya
mengapa?”
“Tapi gimana sekarang?” kata Magda. “Aku takut kalo pelanggan
warungku takut melihat wajahku yang seperti ini.” “Oh karena kelalaianku lupa mematikan kompor sehingga rumahku
terbakar. Aku nekad menerobos masuk karena bayiku masih di dalam
“Biar aku yang melayani pelanggan. Kamu yang masak saja di rumah, sehingga aku harus menerobos masuk.” cerita Magda.
dapur. Ntar aku yang antar ke luar.” ajak Bu Kartika. “Gimana?”
“Wah mulia sekali hatimu.”
“Ya Bu. Mungkin itu bisa kita lakukan.” kata Magda.
“Kan seharusnya orang tua berkorban bagi anaknya.” kata Magda.
Setahun kemudian kehidupan ekonomi Magda telah lebih baik.
Simon pun makin banyak mengirimkan uang ke rekening bank mereka. “Nggak semua orang tua punya hati seperti itu.” kata Mita. “Pacarku
Warung yang dikelola Magda semakin laris karena memang masakan aja ninggalin aku begitu saja setelah ia tahu aku hamil. Sampai sekarang
Magda sangat lezat sehingga banyak pelanggan bergantian untuk makan nggak ada kabarnya lagi.”
di sana.
“Sebagai anak Tuhan, aku diajarkan untuk selalu berbagi dan saling
Magda berniat dari hasil penjualannya, ia sumbangkan ke sebuah mengasihi, apalagi berkorban bagi anak, itu keharusan seperti kasih
panti asuhan. Yesus bagi kita.” kata Magda.
“Terima kasih ya Bu. Ibu telah bersusah payah membawa makanan “Oh kamu orang Kristen toh.” sahut Mita lagi.
ke panti asuhan kami.” kata Ibu pengasuh panti asuhan.
“Ya, Yesus sudah berkorban bahkan mati bagi kita semua.” kata
“Berbagi kasih, Bu di hari Natal. Mudah-mudahan bisa membantu Magda.
anak-anak di sini.” kata Magda.
4
3
“Wah ajaib ya kasih-Nya. Oh ya, kamu punya warung ya? Apa perlu “Jangan meledek. Kan kamu isteriku. Masak bencana melanda
pegawai? Aku juga bisa masak. Mungkin aku bisa membantu. Aku juga istriku, aku tertawa?”
mempunyai anak 1 tahun yang membutuhkan tambahan uang. Gajiku di
panti asuhan tidak cukup.” cerita Mita. “Ah nggak apa-apa kok. Aku tahu ada maksud dan rencana Tuhan
bagiku. Aku tahu Tuhan tidak bermaksud jahat padaku walau sampai
“Kebetulan. Kamu boleh bantu kami. Warung ku beberapa bulan ini sekarang aku tidak tahu maksud Tuhan.” kata Magda.
cukup ramai, sehingga aku kewalahan. Aku juga mempunyai anak usia 1
tahun, wah berarti anak kita seumuran ya.” kata Magda. “Kamu boleh “Gimana kabar Merry? Sudah semakin gedhe dia dan makin cantik.”
bantu mulai besok ya. Ini alamatku.” Magda menuliskan alamatnya di kata Simon.
selembar kertas lalu menyodorkannya ke Mita.
“Dia masih di sekolah. Dia barusan selesai hadapi ujian nasional
“Terima kasih ya. Semoga kita bisa bekerja sama.” SMP. Ntar deh kamu bisa ketemu dia.” jawab Magda.
“Sama-sama. Senang mengenalmu Mita.” “Eh, kamu sudah menikah Dre?” sapa Magda.
Tak terasa, Simon sudah lima belas tahun meninggalkan “Belum. Sibuk terus di Amrik. Sekarang aku pengusaha garmen loh.
keluarganya. Simon berencana pulang kembali ke Indonesia. Ntar lagi aku resmikan pabrikku di Indonesia.”
“Dre, aku berencana kembali ke Indonesia. Sudah 15 tahun aku “Loh kok karier tok yang kamu pikirin?”
tidak kembali ke Indonesia. Aku kangen dengan anakku yang sekarang
sudah jadi remaja yang cantik.” kata Simon. “Eh, siapa itu gadis cantik di dapur itu?” tanya Andre.
“Ya, aku juga berencana buka pabrik garmen di Indonesia. Sudah “Oh, Mita toh. Kamu suka ya?”
cukup ilmu dan modal yang aku kumpulkan di Amrik.” kata Andre.
“Cantik juga. Dia kerja di sini toh?”
“Gimana kalau minggu depan kita kembali?” ajak Simon. “Aku
berencana membuka sebuah sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu “Ya, tapi dia itu janda beranak satu loh. Pacarnya pergi entah
di Indonesia, di kotaku. Perusahaan ku ini mau menjadi donatur rutin kemana 16 tahun lalu sewaktu dia hamil.”
setiap bulan untuk sekolahku nanti.”
“Kasihan dia. Boleh aku kenal dengan dia?” pinta Andre.
“Aku juga mau dukung cita-citamu.” sahut Andre. “Kita pulang
minggu depan. Yuk kita siapkan semua.” “Cie, PDKT ya?” goda Magda. “Nggak nyesel nih dengan janda?”
Tak terasa, Simon dan Andre sudah tiba di kota kelahirannya. “Dia kan belum menikah. Jadi bukan janda dan bukan gadis.” kata
Simon tak menyangka Magda isterinya telah mempunyai usaha yang Andre.
besar dan warung yang dirintisnya sudah besar layaknya restoran. Mereka
pun telah mempunyai beberapa pegawai. “Ada-ada saja omonganmu Dre.”
“Isteriku. Maaf aku tidak memberitahu kedatanganku.” sapa “Aku kenalan dulu ya.”
Simon. “Maafkan aku ya kejadian 15 tahun lalu aku tidak ada di tempat
sehingga membuat wajahmu seperti ini.” Andre meninggalkan Simon dan Magda. Beberapa lama muncul
sesosok remaja cantik menghampiri mereka berdua.
“Hai, Ko. Aku terkejut Koko datang seperti ini. Halo Andre.” sapa
Magda. “Itu Merry. Dia baru pulang sekolah tuh.” tunjuk Magda.
“Loh kok wajahmu seperti itu?” kata Andre. “Sori, ya sih Simon “Mi, besok Merry boleh ikutan rekreasi dengan teman-teman? Kan
cerita kan hal itu. Dia menangis mendengar kejadian itu.” sudah bebas dari ujian.” tanya Merry.
“Koko menangis?” potong Magda. “Tumben...” “Boleh lah, kan kamu sudah kerja keras selama ujian.” kata Magda.
“Eh, kamu nggak lihat siapa yang datang?”
5
“Hei, Mer. Kan harusnya kamu tahu aku?” sapa Simon.
6
“Papi???” “Ya Merry tahu. Cuma Merry malu aja Pi, kalau jalan berdua dengan
Mami. Pokoknya nggak enak.” kata Merry lagi. “Udah ya, Merry masuk
“Ya. Sori ya sudah lama Papi nggak pulang nemui kamu. Tapi dulu ya. Kopornya Merry bawa ya.”
sekarang, Papi akan selalu di sini. Papi sudah pindah kerja kembali ke
Indonesia.” “Ya. Pelan-pelan ya.”
“Ya Pi. Tapi kan kita masih sering hubungan walau via telepon dan Simon menemui Magda yang kembali sibuk memasak di dapur.
WA.” kata Merry. “Senang Papi sudah di Indonesia. Sekarang Papi kerja Restoran sangat ramai suasananya siang itu. Maklum jam makan siang
di mana? dan restoran merangkap rumah Magda ada di sekitar perkantoran.
“Papi mau mendirikan sekolah untuk anak-anak yang nggak mampu. “Usahamu maju juga loh.” Simon menemui Magda. “Kamu luar biasa,
Donatur banyak dari Amrik. Mereka semua dari badan misi internasional. bisa mandiri tanpa suami di sampingmu.”
Izin dari pemerintah sudah turun dan besok papi mau ninjau lokasi
sekolahnya. Papi ambil gedung sekolah yang akan tutup. Jadi tinggal “Semua karena kebaikan Tuhan bagi kita.” kata Magda. “Kan Koko
renovasi, pengecatan, pembelian alat-alat kantor dan bangku baru untuk selalu memperhatikan kami. Oh ya, semua uang yang Koko kirim aku
murid. Jadi ntar tahun ajaran baru sudah bisa beroperasi. Donatur juga masukkan Bank dengan nama Merry. Agar suatu saat nanti dapat Merry
mengirimkan guru-guru profesional dari berbagai negara untuk mengajar. pakai untuk kebutuhan sekolah dan masa depannya.”
Jadi sekolah itu nanti berbasis internasional loh.”
“Ada apa ya dengan Merry? Kok dia nggak mau pergi dengan
“Wah, Mulai jenjang apa, Pi. Yang SMA ada kah? Merry boleh nggak kamu?” tanya Simon.
pindah ke sekolah itu?”
“Dia malu dengan wajahku, Ko. Sering dia nolak kalau aku ajak
“Boleh dong. Tapi jangan berlagak seperti anak Ketua Yayasan loh? pergi untuk beli perlengkapan sekolahnya. Dia malah ajak teman-
Sekolah itu mulai rintis untuk Kindergarten, First Elementary, dan High temannya aja.”
School , tapi merintis dari jenjang terendah dulu. Tahun depan siapin
kelas jenjang berikutnya” “Kenapa kamu nggak cerita tentang keadaanmu sesungguhnya pada
Merry?”
“Merry siap-siap dulu ya. Besok mau rekreasi ke pantai dengan
teman-teman.” “Nggak ko. Belum saatnya Merry tahu. Kan dia masih kecil?”
“Eh, tunggu. Tuh ada oleh-oleh untukmu dari Amrik. Sekopor besar “Merry sudah bukan anak kecil lagi loh. Dia sudah tumbuh jadi gadis
itu. Tapi yang rapi ya ngambilnya.” kata Simon. remaja yang cantik, seperti kamu.”
“Sekopor ini Pi. Papi kok baik banget sih. Thanks ya Pi. Seneng deh “Karena kamu memberi dia nama peri baik hati itu ya.” Magda
kumpul lagi. Ntar Papi temani Merry jalan-jalan ya.” ketawa. “Ya, ntar suatu waktu aku cerita sama dia kejadian yang
menimpa wajahku ini.”
“Ya, lusa aja kita jalan dengan Mami juga.”
“Pi, boleh nggak Merry minta hadiah?” tiba-tiba Merry muncul lagi.
“Nggak mau. Merry mau jalan berdua dengan Papi aja. Mami kan
sibuk masak.” “Ada apa sayang? Nggak suka dengan hadiah papi ya?” kata Simon
sambil membelai rambut Merry.
“Kan Papi sudah lama nggak kumpul kalian berdua.”
“Pingin punya motor Pi. Selama SMP, Merry kan naik mikrolet atau
Merry menarik tangan Papinya menjauhi Maminya. dianter pegawai Mami.” Pinta Merry.
”Merry malu kalo pergi dengan Mami. Orang-orang selalu melihat “Kan umurmu belum boleh sayang.” Kata Simon.
kami berdua. Mungkin mereka ngeri lihat wajah mami.” cerita Merry.
“Ntar lagi Merry sudah 16 tahun. Bolehkan dapat SIM C?” kata
“Eh, jangan ngomong gitu. Mamimu sangat menyayangi kamu.” Merry. “Please, Pi. Merry ingin mandiri.”
7 8
“Gimana, Mi. Apa Merry sudah bisa bawa motor sendiri?” Simon Masa Kecil Tabita
bertanya ke Magda.
“Halo, boleh kenalan?” sapa Andre.
“Dia sudah pinter kok bawa motor. Bahkan sering anter pesanan “Oh, boleh. Namaku Mita.” sahut Mita.
pelanggan. Padahal dia belum punya SIM.” jawab Magda. “Andre. Aku teman baik Magda dan Simon, pemilik restoran ini.”
“Oh ya? Bu Magda sangat baik orangnya dan mau membantu banyak
“Okelah. Minggu depan kita ambil di dealer dan sekalian kamu bisa orang.”
ujian untuk dapat SIM.” kata Simon. “Dia dari dulu orangnya murah hati dan suka berteman. Simon
suaminya sekarang pulang dari Amrik.”
“Thanks, Pi. Papi baik deh.” kata Merry sambil memeluk Papinya “Oh itu suaminya Magda? Wah, pantas Merry cantik sekali. Orang
dengan manja. “Oke, Merry terusin bongkar kopor Papi.” tuanya juga ganteng dan pasti dulunya Magda cantik juga ya?”
“Sangat, dulu dia itu bintang kelas. Banyak yang naksir. Tapi ya
“Tapi lusa kita pergi bertiga loh jalan-jalan. Rekreasi ya.” Pinta pilihannya jatuh ke Simon. Simon pantas kok mendampingi dia. Orangnya
Simon. setia dan pekerja keras.”
“Kamu juga baru pulang dari Amrik ya?” tanya Mita.
Merry hanya mengangguk walau berat hati. “Ya, tapi lain pekerjaan dengan Simon. Aku di perusahaan garmen
“Mungkin harus secepatnya kamu cerita tentang kecelakaan itu atau urusan kain-kain gitu loh.”
pada Merry, supaya Merry bisa menerima kejadian sebenarnya,” kata “Aku pulang dulu ya. Aku hanya kerja paruh waktu di sini. Setelah ini
Simon. aku harus kembali ke Panti Asuhan untuk mencuci dan urus keperluan
“Ya, Ko. Ntar aku cari waktu deh,” kata Magda. “Rencana mau ke panti yang lain.”
mana lusa?” “Boleh aku antar?” Andre menawarkan diri. Rupanya Andre tertarik
“Mau jalan ke mall untuk cari beberapa barang kebutuhan sekolah dengan Mita dan berusaha untuk mengenal lebih jauh.
yang baru seperti whiteboard, LCD, TV, DVD player, kursi dan bangku “Nggak perlu deh. Kan Panti Asuhan dekat dari tempat ini. Besok aja
untuk anak TK dan SD, serta alat peraga.” kalau mau ngobrol lagi, datang aja ke sini. Aku kerja di sini mulai jam 8
“Ok deh. Aku nerusin kerjaanku ya. Koko istirahat dulu. Pasti jetlag s.d jam 2 siang.”
kan?” kata Magda. Simon mengangguk dan masuk ke kamarnya.
10
9
“Okelah. Sampai besok.” “Kan, Tabita harus sekolah. Lalu dia juga bantu aku di Panti Asuhan.
Jadi nggak mungkin aku ajak dia ke restoran.” kata Mita. “Bita sudah
Sejak itu Andre sering mengunjungi restoran Magda untuk makan banyak berubah kok. Dulu dia nakal sekali. Maklum dia anak tunggal dan
siang, tapi sebenarnya pingin ketemu Mita. teman-teman di Panti semuanya cowok, jadi dia ikutan seperti cowok
deh.”
“Dre, kamu serius toh mendekati Mita?” tanya Magda.
“Tuh, Tabita. Mau aku kenalin?”
“Ya, kelihatannya aku mulai suka dengan dia.” kata Andre.
Andre hanya mengangguk. Dia melihat seorang gadis kurus, tomboi
“Mita ibu yang baik. Hanya dulu dia keras banget dengan anaknya. dengan dandanan seperti anak lelaki.
Maklum anaknya lincah banget. Aku ingat waktu usia 5 atau 6 tahun, dia
pernah bawa anaknya ke sini dan kamu tahu berapa piring yang dia “Bit. ini kenalin teman Mama. Namanya Andre. Kamu boleh sapa
pecahkan?” cerita Magda. Lalu Magda mengangkat 10 jarinya. “Sepuluh dengan Om Andre.”
piring dalam sehari. Besok ada aja yang dipecahkannya.”
“Siang, Om.“ sapa Tabita.
“Wah kok gitu?”
“Siang, Bit. Senang bisa kenal kamu.”
“Itulah sebabnya, Mita nggak bawa anaknya lagi. Dia bersusah
payah membayar piring itu kembali.” “Ma, Bita sudah selesai ujian. Besok Bita sudah mulai libur.”
“Sekarang di mana anaknya itu?” “Ya, tapi sebentar ya. Mungkin kamu nggak bisa melanjutkan
sekolahmu di tingkat SMA dulu ya. Mama betul-betul nggak punya duit.
“Dititipin di Panti Asuhan. Setelah malam, barulah mereka berdua Sekolah sekarang biayanya mahal.”
pulang.”
“Nggak apa-apa kok Ma. Ntar tahun depan bisa kan Bita lanjut. Biar
“Anaknya sepantaran dengan Merry ya?” kita tabung dulu uang kita.”
“Ya, sama usianya. Tapi Merry belum pernah ketemu dengan dia.” “Jangan Mit. Bita biar sekolah. Ntar biayanya aku tanggung deh.”
Tiba-tiba yang mereka omongkan datang. Mita mau pamitan karena “Jangan Dre. Aku nggak mau merepotkan.”
sudah harus kembali ke Panti Asuhan.
“Oh ya, suami Magda kan buka sekolah baru? Biar Bita sekolah di
“Bu, saya pamit dulu.” sana.”
“Mit, kan sudah lama aku ngomong, panggil aku Magda. Nggak pake “Nggak ah. Aku nggak ngerepotin Magda lagi. Sudah banyak dia
ibu-ibu segala,” kata Magda. membantu aku. Biar Bita rehat dulu ya.”
“Kan Ibu atasanku? Nggak enak dengan karyawan lainnya.” “Ya Ma, nggak apa-apa, Tabita ngerti kok.”
“Aku anter ya. Aku pingin kenal dengan anakmu.” kata Andre. “Aku nggak memaksa deh. Yuk aku pamit dulu.”
“Bolehkan?”
Andre berlalu dari hadapan mereka.
“Oh mau ketemu Tabita?”
“Bita bisa kerja di restoran mama itu kan?” pinta Tabita.
“Tabita toh nama anakmu” tanya Andre lagi.”Boleh?”
“Bita sudah pandai masak juga ya? Aku senang kamu sudah
“Ya, boleh. Yuk.” kata Mita. “Aku pamit ya, Bu. eh Magda.” berusaha.” kata Mita sambil memeluk anaknya.
Andre pun mengantar Mita pulang. Sedang Magda melanjutkan “Oke besok kamu bantu mama di restoran itu. Kebetulan minggu
kesibukannya. depan ada peresmian sekolah Pak Simon dan rencananya bu Magda
diminta memasak untuk undangan dengan jumlah yang banyak, mungkin
“Kenapa kamu nggak pernah ngajak Tabita ke restoran?” tanya mengundang lebih dari 500 orang.”
Andre.
12
11
“Oke Tabita akan bantu Mama.” “Thank ya Magda. Kamu terlalu baik sama aku.”
Esoknya, Tabita pun ikut membantu Mita bekerja di restoran Magda. “Ah kan sewajarnya seorang pekerja mendapatkan upahnya. Kamu
Dia cukup cekatan juga membantu semua keperluan dapur. bekerja baik ya harus aku bayar dengan sepantasnya kan.”
“Halo, Bita. Ternyata kamu pandai masak juga.” sapa Andre yang “Oke sampai besok ya. Salam untuk suamimu. Kelihatannya dia
tiba-tiba muncul di belakang mereka. sibuk banget?”
“Om Andre. Ya dong, kan mama yang ngajari Bita.” “Oh suamiku, lagi urus semua pembelian barang-barang sekolah.
Renovasi sudah kelar. Hari Sabtu depan jadi loh peresmiannya. Kami bisa
“Mit, boleh ngomong sebentar.” ajak Andre. bantu aku kan?”
“Ada apa ya?” “Pastilah, ntar anakku Tabita aku minta bantu juga. Mumpung dia
libur sekolah.”
“Sebentar kok.”
“Bolehlah.”
“Boleh kah aku ajak Tabita potong rambutnya dan betulin
dandanannya. Nggak baik loh, cewek berpakaian dan potongan rambut Tabita dan Andre ternyata pulang malam. Mita terkejut melihat
seperti itu.” kata Andre. penampilan Tabita yang berubah 180 derajat.
“Wah, itu aku belum pernah ngomong apa-apa sama Bita.” kata “Wah, cantik sekali anakku ini.” sapa Mita.
Mita. “Coba ya aku omong dengan dia sebentar.”
“Ya toh Ma? Bita sendiri kaget waktu lihat orang salon dandani Bita.
Mita menemui Tabita dan mencoba membujuknya agar mau Ternyata lucu juga ya jadi cewek.” kata Tabita sambil tertawa.
menerima usul Andre.
“Thanks ya, Dre. Kamu kok punya selera fashion yang baik?”
“Ok deh Om. Bita mau. Tapi ntar kalo Bita punya uang, Bita ganti.”
kata Tabita selanjutnya. “Kan aku di perusahaan garmen. Dan di New York kan kota fashion,
aku biasa bergaul dengan orang yang ngurus model kayak beginian.” kata
“Yuk. kita ke salon dulu deh.” kata Andre. “Aku keluar dengan Bita Andre. “Kan Tabita cantik kan?”
dulu, ya Mit.”
“Ya, aku baru menyadari anakku ternyata cantik juga.”
Acara Tabita dan Andre memakan waktu yang lama. Andre ternyata
punya selera yang bagus juga untuk gadis remaja seusia Tabita. Mita “Tapi tetap loh Om. Ntar kalo Bita sudah punya uang, Bita pasti
yang bingung karena sudah jam 2 tapi mereka belum pulang juga. ngembaliin semua ini. Wah tapi sampai kapan ya lunasnya? Pasti tadi itu
mahal banget.”
“Ada apa Mit? Dari tadi kok kamu bingung sendiri?” sapa Magda.
“Sudahlah jangan dipikirin. Oh ya, ini baju untukmu Mit. Mungkin
“Nih sih Andre ngajak anakku dari tadi kok belum pulang.” kata cocok kamu pake waktu menghadiri acara peresmian di sekolahnya
Mita. “Padahal sudah jam 2 dan aku harus kembali ke Panti Asuhan.” Simon.”
“Oh, kamu pergi dulu aja ya. Ntar Andre biar langsung aku minta “Wah kok repot Dre. Sudah cukuplah untuk Tabita.”
terus ke Panti. Kan dia sudah tahu rumahmu?”
“Sekalian kok waktu belanja.” kata Andre.”Hari Minggu kita jalan-
“Ya. Okelah aku berangkat dulu. Mungkin bulan depan aku bisa jalan yuk, ke laut, aku sudah kangen laut.”
bantu kamu penuh di restoran ini. Panti Asuhan itu akan ditutup dan
pindah ke kota lain.” “Wah pasti senang Om. Tabita nggak pernah ke laut. Kayak apa ya
suasananya?”
“Oh ya. Kebetulan sekali. Aku kerepotan kalo ngelayani terutama jam
sore dan malam hari. Senang aku mendengarnya. Aku bisa naikin gaji “Asyik kok. Kamu bisa mandi, berjemur, main pasir, main gelombang
kamu sekalian.” air dan banyak lagi. Yang paling asyik berteriak sekuat-kuatnya. “
13 14
“Mau, Om. Tabita pingin banget. Tapi Bita nggak bisa renang.” Hari Minggu pun menjadi hari spesial bagi Tabita. Dia berlari-lari kian
kemari di pantai berpasir yang lembut.
“Ntar Om ajarin deh. Gampang kok.” Kata Andre. “Gimana Mit, mau
ikutan?” “Mit, aku lihat Tabita senang sekali di sini,” kata Andre.
“Boleh, mumpung kalo minggu kami libur.” “Ya, dia belum pernah rekreasi sebelumnya. Dunianya hanyalah
dunia panti asuhan yang sederhana, kadang-kadang kami sampai tidak
“Magda sering habisin waktu Minggu dengan jemaat di gereja makan dengan rutin, hanya satu kali sehari, karena panti itu tidak
sampai malam. Tutup karena hari Sabat dan dia rajin melayani Tuhan,” mendapat donatur yang rutin.” Cerita Mita. “Kasihan Bita, dia sudah
kata Andre. menderita sejak kecil. Karakternya keras, mudah marah, tapi dia seorang
pekerja keras.”
“Hebat loh dia. Padahal kalau mau buka, restorannya pasti lebih
ramai. Tapi dia sudah bertetapan hari Minggu untuk Tuhan,” kata Mita. “Wajar kok. Tapi sejak aku kenal dia, karakter itu sudah tidak ada.
Dia jadi gadis yang lincah, tapi sopan.”
“Itulah Magda. Imannya kuat pada Tuhan Yesus. Lihatlah Tuhan ganti
pengorbanannya dengan memberi hari ramai setiap hari di restorannya.” “Mudah-mudahan dia berubah seiring dengan pertambahan usia-
kata Andre. nya,” kata Mita. “Dulu aku juga mudah marah. Aku sampai hampir
memukulinya sepanjang hari setelah dia sering memecahkan piring di
Mita mengangguk. Tabita berjalan masuk ke dalam rumahnya. restoran Magda. Dia sampai beberapa hari tidak mau bicara dengan aku.”
“Aku pingin mengenal Magda lebih jauh. Aku kagum dengan “Tapi aku tak melihat itu sejak aku mengenalmu,” kata Andre.
kehidupannya.” Kata Mita.
“Sejak aku berteman dengan Magda, entah kenapa karakterku jadi
“Itu karena Yesus telah mengubah hidupnya. Magda selalu bersyukur berubah ya,” kata Mita. “Aku melihat seorang wanita muda yang
atas apa yang diperolehnya,” kata Andre. semangat, berjuang, tidak malu dengan keadaannya, aku jadi terobsesi
ingin seperti dia.”
“Aku pingin kenal siapa itu Tuhan Yesus.”
“Karena Magda itu orang Kristen yang bertumbuh,” kata Andre.
“Ini aku ada Alkitab di mobilku. Kamu bisa baca, mulailah dari kitab “Tidak memakai agama sebagai ritual, tapi menjadikan kekristenan
Matius, supaya kamu mengenal kehidupan Yesus lebih jauh. Kalau kamu sebagai karakter dan kehidupannya. Dia hanya mau menjadi seperti
nggak ngerti, kamu bisa nanya ke aku atau ke Magda,” kata Andre sambil Kristus.”
mengulurkan Alkitab.
“Itulah sebabnya, dia tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur,”
“Thanks ya Dre. Aku coba baca dulu. Pingin hidup diberkati seperti kata Mita. “Pernah suatu hari ada seorang tamu makan dalam jumlah
Magda. Sekarang aja aku bisa merasakan berkat itu dalam hidupku.” yang banyak dan tidak mau membayar. Magda mau mengampuni dia.
Padahal semua karyawan dia sempat hampir memukul orang itu. Tapi
“Oke, aku pamit dulu ya. Pamitkan dengan Tabita.” Kata Andre. Magda melarang mereka. Malamnya, Magda mengajarkan pengampunan
“Pasti dia asyik bercermin. Dari tadi dia senang dan mengagumi pada semua karyawannya.”
wajahnya sendiri.”
“Oh ya? Terus gimana pendapat mereka?” tanya Andre.
“Minggu besok jadi ke lautnya?” tanya Mita.
“Semua karyawan kagum padanya. Lihatlah semua karyawan setia
“Ya, tapi sepulangku dari gereja ya. Mungkin kamu mau ikutan?” pada dia. Semua hampir 10 tahun menemani dan bekerja dengan sangat
tanya Andre. baik. Ada persaudaraan yang kuat di antara kami. Mereka semua bekerja
dan memulai hari mereka dengan berdoa, menyanyi dan membaca
“Jangan dulu deh. Ntar lain waktu.” tolak Mita dengan halus. Alkitab.”
“Okelah, aku tunggu ya. Aku percaya setelah kamu baca Alkitab, 16
kamu bisa bertemu dengan Yesus secara pribadi.”
15
“Terus kamu sendiri?” tanya Andre. “Tuhan sudah menyentuh hatimu. Puji Tuhan. Aku tetap berdoa
agar kamu dan Tabita bisa menerima Yesus sebagai Tuhan. Dia datang
“Aku mau terus belajar Firman. Aku sudah mulai baca Alkitab yang untuk memberikan surga yang pasti dan nyata bagi setiap orang yang
kamu berikan itu.” kata Mita. “Aku ingin mengenal Yesus lebih dalam mengasihi Dia.” Kata Andre. “Ada kepastian di dalam Yesus, bukan
lagi.” mudah-mudahan.”
“Ikutlah aku ke gereja hari Rabu. Aku ada ibadah tengah minggu.” “Aku mau ikut kamu deh hari Rabu. Seperti ada rasa damai di
Ajak Andre. “Magda pasti izinkan kamu ikut. Tahukah kamu, dia sering hatiku.” Ujar Mita. “Yuk kita makan, tolong panggilkan Bita. Ntar dia bisa
loh berdoa untuk kamu dan Tabita. Memohon agar kamu bisa memaafkan tenggelam dengan bermain di ombak seperti itu. Aku siapin sebentar
pacarmu yang meninggalkanmu.” makannya.”
“Oh ya? Dia tak pernah cerita hal itu. Tapi dia pernah omong “Oke, Mam.” Kata Andre dengan senyum lebarnya.
tentang melepaskan pengampunan dan tidak menyimpan dendam dan Mita hanya bisa menepuk punggung Andre. Mita tersenyum karena
kepahitan.” kata Mita lagi. baru sekarang ada seorang pria yang baik dan mau bersamanya dan
menerima keadaannya.
“Ya, itu perlu supaya kita bisa hidup damai sejahtera.” kata Andre.
“Gimana maukah ke gereja denganku?” Andre malah nggak memanggil Tabita untuk makan, tapi malah
mereka berdua belajar berenang di ombak yang tidak terlalu besar.
“Andre, mengapa ya kamu mendekati aku? Aku kan bukan gadis
lagi. Kamu masih muda dan punya semuanya. Kamu bisa dapatin gadis Ternyata Tabita cepat bisa berenang. Mereka berdua tertawa lepas.
lain?” tanya Mita. Tabita berteriak sekeras-kerasnya melepaskan kepenatannya. Untungnya
pantai menjadi “milik mereka bertiga” alias sepi.
“Nggak boleh toh?” ganti Andre bertanya. “Aku suka sama kamu
waktu pertama kali kita bertemu di restoran Magda. Sejak itu aku pingin Setelah puas berenang, mereka menghampiri Mita.
mengenalmu.” “Ma, Tabita laper banget,” kata Tabita. “Seneng banget hari ini.
Thanks ya Om. Oh ya, kita belum berfoto ria bertiga.”
“Tabita juga pernah menanyakan hal itu. Mengapa Om Andre suka “Oh ya. Yuk aku ambil fotomu,” kata Andre. “Setelah kita ganti
main ke rumah dan memperhatikan aku.” pakaian kita yang basah dan makan.”
Acara siang itu di pantai berlangsung ceria. Andre berhasil
“Tabita itu perlu figur papa. Aku mau jadi papanya. Dia sebenarnya memikat hati Mita dan Tabita untuk berkumpul bersama seperti keluarga.
anak yang baik. Aku harap suatu saat pun dia bisa bertemu dengan Yesus Tapi yang penting, Andre berdoa terus untuk orang-orang yang dicintainya
sebagai Juruselamat pribadinya,” kata Andre. agar mereka bisa menerima Tuhan Yesus
sebagai Juruselamat kelak. Andre tak bisa
“Kamu serius toh dengan aku?” tanya Mita. menentukan dan memaksa mereka. Hanya Roh
Kudus yang bekerja pada kehidupan mereka.
“Bolehkan?” Amin.
“Terserah kamu sih. Aku sebenarnya trauma dengan lelaki. Takut 18
dilukai lagi.” Kata Mita.
“Ketakutan itu disebabkan karena kita masih hidup dalam dunia
lama kita. Waktu Natal, berita besarnya adalah “Jangan takut”. Jadi
Tuhan Yesus mau datang ke dunia ini untuk melenyapkan ketakutan
akibat dosa dan keraguan manusia.”
“Aku baca kemarin juga di Injil Matius di Alkitab, Allah begitu
mengasihi sehingga mau mengirimkan Yesus ke dunia di kandang yang
hina.” kata Mita.
17
Pertemuan Merry & Tabita Semua teman Merry pun menyalami Merry. Sebentar lagi mereka
berpisah untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Suasana kantor tampak sepi. Semua urusan beasiswa bagi anak-
anak sudah diberesin. Simon sudah mengemasi barang-barangnya. Tiba- Merry melangkah dan memeluk mamanya. Tangisan dia pun tak
tiba pintu terbuka dan masuklah Merry sambil menyodorkan surat ke terbendung.
papanya.
“Sudahlah, Mer. Kan dalam acara begini kamu menangis seperti
“Pokoknya Merry nggak mau kalau Mami datang ke sekolah Merry” ini?” tanya Magda.
Simon membuka amplop surat itu dan membaca isi surat itu. “Merry sangat berdosa pada Mami. Kenapa selama ini Merry sering
melawan dan menolak Mami di hadapan orang lain. Padahal Mami sudah
“Tapi undangan ini untuk Papi dan Mami, karena kamu lulusan berkorban untuk menyelamatkan nyawa Merry. Tanpa itu, Merry pasti
terbaik dan harus memberikan sambutan.” sudah mati saat ini.” isak Merry.
“Kan cukup Papi aja yang datang. Merry malu, Pa.” “Sudahlah sayang. Tuhan Yesus juga rela mati bagi kita anak-
anaknya, bahkan saat kita masih berdosa dan melawan Dia,” peluk
Simon menghampiri Merry yang lagi merajuk di sofa. Magda.
“Mer, kamu sekarang sudah tumbuh jadi remaja. Mungkin sudah “Setelah ini mungkin Mami mau operasi plastik untuk memulihkan
saatnya kamu tahu tentang cerita yang sebenarnya. Awal pernikahan wajahnya di Amrik,” kata Simon.
Papi dan Mami hidup kita sangat miskin. Itulah sebabnya Papi harus
mencari pekerjaan di luar negeri. Sedang Mami harus bekerja dari rumah “Apa? Aku nggak mau loh, Ko. Biarlah apa adanya?” tolak Merry.
ke rumah tetangga untuk mencuci, memasak, setrika. Sampai bencana
itu terjadi. Mami lupa mematikan kompor sehingga menyebabkan rumah “Ya, Mi. Merry pingin lihat wajah Mami yang cantik seperti
kita terbakar. Waktu itu kamu masih bayi dan tertidur. Api sudah besar semula.” kata Merry sambil meremas tangan Magda.
menyulut rumah kita sampai atap pun mulai terbakar. Mami mengambil
handuk basah dan menerobos masuk rumah dan membawa kamu keluar “Gimana, Mi?” tanya Simon.
dengan selamat. Tetapi, ah.... kulit wajah Mami terbakar. Mami kamu
berkorban untuk kamu, Mer.” cerita Simon. “Boleh aku pikir dulu ya. Apa beresiko? Berapa biayanya? Pasti
mahal apalagi harus di Amrik,” kata Magda lagi.
“Hah. Mengapa Papi baru cerita sekarang? Merry sungguh merasa
berdosa sama Mami. Ternyata Mami adalah pahlawan yang sudah “Sudah aku persiapin cukup lama kok. Ada tabungan khusus untuk
menyelamatkan nyawa Merry.” Merry mulai menangis tersedu. itu. Dokter bedah plastik itu pun sudah kenal bagi denganku. Dia adalah
seorang donatur di sekolah ini. Jadi dia pasti memberi yang terbaik bagi
“Ya sudahlah. Mami kamu yang minta semua ini dirahasiakan. kamu,” jawab Simon.
Ntar kamu bisa minta maaf sama Mami kan. Sekarang kamu siap-siap
deh untuk susun kata sambutan besok.” kata Simon sambil memeluk Magda hanya tersenyum. Mereka pun menikmati perjamuan kasih
anaknya satu-satunya ini. dalam perpisahan dan pelepasan siswa di sekolah Merry.
Merry mengangguk. Besoknya Merry memberikan sambutan di Acara peresmian sekolah baru pun mulai. Tabita ikut membantu
acara pelepasan siswa. mamanya berbenah dan melayani para tamu.
“Saya ada seperti sekarang ini karena peran mama. Saya bangga “Wih, enaknya sekolah ini. Apa bisa ya aku sekolah di sini?”
mempunyai mama seorang pahlawan. Dia tidak menghiraukan gumam Tabita sendiri.
keselamatan untuk menyelamatkan saya waktu saya masih bayi.
Sungguh mama adalah seorang pahlawan bagi saya.“ Tiba-tiba muncul Merry menghampiri Tabita yang asyik melihat-
lihat ruang kelas. Kebetulan semua kelas sudah sepi karena semua siswa
19 sudah pulang.
“He. Kamu anak mana?”” sapa Merry.
20
“Hai. Aku Tabita. Aku cuma mampir untuk lihat-lihat kok.” “Ya. Kan ntar lagi kamu adalah anakku juga. Mungkin sebentar lagi
“Kok kamu nggak sekolah?” kamu harus biasakan diri untuk panggil aku, Papa.” kata Om Andre.
“Aku belum bersekolah. Belum punya dana,” jawab Tabita.
“Oh, mau sekolah di sini?” tanya Merry. “Baik, Om. Oh ya, Papa.”
“Wah gimana ya ... pingin sih. Tapi sekolah ini kan sekolah Kristen?
Sedang aku bukan orang Kristen.” jawab Tabita. “Besok minggu kamu ikut kami ya. Karena hari minggu ini mama-
“Oh nggak apa-apa kok. Nggak ada diskriminasi semua sama.” mu dibaptis.”
“Tapi nggak deh.” tolak Tabita sambil berlalu dari Merry.
“Eh, jangan pergi dulu. Sekolah ini ada beasiswa kok bagi “Dibaptis? Untuk apa? Apa mama sudah jadi orang Kristen?” tanya
beberapa siswanya.” panggil Merry. Tabita heran.
“Ah nggak deh. Ntar lagi aku akan punya papa baru yang mapan
yang bisa nyekolahin aku di sekolah manapun.” tolak Tabita. “Itu keputusan yang luar biasa. Anugerah dari Tuhan. Bukankah
“Pikir dulu deh. Kan beasiswa nya bisa kamu pakai sementara aja. mamamu setelah ikut bekerja di rumah Bapak Simon telah banyak
Oh ya, namaku Merry. Kebetulan Papaku adalah pengurus Yayasan berubah?”
sekolah ini.”
“Senang ya punya teman seperti kamu, Mer.” kata Tabita. “Aku “Ya sih. Mama jadi penyabar, murah hati, dan memperhatikan
nggak punya teman di sekolahku yang lama.” Bita.”
“Aku mau kok jadi temanmu. Aku akan menemani kamu di sini.
Apalagi kamu sudah terlambat loh masuk sekolah. Pelajaran sudah lebih “Ya itu karena mamamu sudah menerima Yesus sebagai
dari 2 minggu mulai.” Juruselamatnya “
“Ya, aku takut Mer. Bisa nggak ya aku masuk sekolah ini?”
“Bisa kok.” “Kok bisa ya?”
“Ok deh. aku pingin bersekolah lagi. Besok aku ajak calon papaku
ke sini deh.” kata Tabita. “Coba kamu tanya putri Bapak Simon. Kan dia sekolah di sini.
“Besok aku tunggu deh.” kata Merry. “Ini nomor teleponku ntar Siapa ya namanya? Merry Nirmala,” kata Om Andre lagi.
kalo kamu mau ketemuan.”
“Merry? Loh itu kan temanku yang baru ku kenal kemarin. Dia
“Ya deh. Senang kenal sama kamu. Sampai besok ya!” malah nawarin bea siswa karena papanya pengurus yayasan di sekolah.”
Esok paginya, Tabita bersama Om Andre mendaftar ke sekolah.
Setelah menyelesaikan administrasi, Om Andre menemui Tabita. “Betul. Bapak Simon adalah ketua yayasan sekolah ini. Dia orang
“Bit, semua administrasi sudah selesai. Besok kamu sekolah ya?” kaya yang selalu berbagi loh dengan orang lain,“ ungkap Om Andre.
“Ya, Om. Terima kasih. Om sudah urus semua kebutuhan Bita.”
“Itu Merry. Kebetulan. Om, eh Papa pulang dulu deh. Aku masih
21 pingin menemui dan ngobrol dengan Merry.”
“Ok deh. Hati-hati ntar naik mikroletnya.”
Merry mendekati Tabita dan Om Andre.
“Om Andre toh. Tabita ini siapa Om?” sapa Merry.
“Anak Om toh.” jawab Om Andre.
“Tabita ini putri dari Bu Mita yang kerja sama mama toh?” tanya
Merry.
“Ya. Sudah deh. Kalian ngobrol aja deh, Om pamit dulu, ada
pekerjaan di pabrik.”
“Yuk Bit. Kita cari tempat untuk ngobrol. Kebetulan masih
istirahat.”
22
“Mamaku ikut bekerja di rumahmu toh?” tanya Tabita. “Senang mengenalmu Mer. Jarang sekali ada orang yang mau
“Ya dong. Mamamu itu hebat. Dia koki yang handal.” jawab Merry. memperhatikan gadis miskin seperti aku.”
“Mamaku juga ngajarin aku kok. Lain kali kamu boleh cicipi
masakanku deh.” “Aku mau jadi sahabatmu kok.”
“Boleh boleh.”
“Boleh tanya tentang keluagamu Mer?” tanya Merry. “Makasih ya Mer. Kamu juga mau ngajari aku dalam pelajaran kan?
“Boleh aja.” jawab Merry. Kan aku sudah terlambat masuk sekolah.”
“Mengapa mamaku bisa berubah ya setelah bekerja di rumah
keluargamu? “Kita sama-sama belajar ya. Setiap orang pasti punya talenta
“Wah nggak tahu ya. Setahuku mamamu dan mamaku kompak masing-masing, itu supaya kita saling melengkapi. Kita yang punya talenta
kok.” ungkap Merry. atau kemampuan banyak harus mau berbagi.”
“Mama pernah cerita tentang Bu Magda yang suka melayani anak-
anak cacat. Katanya Bu Magda juga menderita cacat di wajahnya.” “Thanks ya. Yuk aku pulang dulu. Besok aku diminta masuk sekolah
“Bu Magda itu mamaku, Bit.” walau aku belum punya seragam.”
“Kenapa wajah mamamu?”
“Terbakar waktu mama menyelamatkan aku waktu bayi. “Ya nggak apa-apa kok. Senang menjadi sahabatmu. Aku juga harus
“Wah, mamamu seorang pahlawan dong.” Tabita tersenyum sambil masuk ke kelas dulu. Aku tunggu besok ya. Jam 7 loh.” kata Merry.
meremas tangan Merry.
“Awalnya aku nggak mau akui dia sebagai mamaku, sampai waktu Tabita mengangguk dan ia pun meninggalkan ruangan itu. Sedang
hari perpisahan SMP lalu. Papaku yang menceritakan mengapa wajah Merry harus masuk kembali ke kelas. Memang pelajaran sudah dimulai.
mama sampai seperti itu. Aku mohon ampun karena selama ini tidak Merry dengan cepat bisa beradaptasi di kelasnya yang baru. Banyak guru
menghormati mamaku.” mancanegara yang mengajar di sana. Merry tersenyum melihat hasil kerja
“Begitu besar cinta mamamu padamu ya.” kata Tabita lagi. papinya. Papinya berhasil membangun sekolah itu dengan luar biasa.
“Ya. Itu sebabnya aku sangat mencintai mama. Mama meneladani Mendirikan sekolah berbasis internasional, tetapi dengan kurikulum
kasih Yesus kepada semua manusia sehingga Yesus mau mati untuk Kristen yang menyenangkan. Semua anak harus menerima Firman Tuhan
menebus dosa manusia” yang diberikan, lepas dari mengkristenkan anak-anak itu.
“Itukah sebabnya sekarang mamaku mau dibaptis?” Merry senang menghabiskan waktunya di sekolah dan di kantor
“Itu anugerah Tuhan. Mamamu mau dibaptis karena kemauannya, papinya. Apa saja dia lakukan untuk membantu papinya.
bukan desakan keluargaku,” kata Merry.
“Aku masih belum ngerti masalah itu?” tanya Tabita lagi. “Pi, aku punya sahabat baru. Namanya Tabita. Anak dari Bu Mita
“Ntar deh kamu bisa mengenal siapa Yesus dalam hidupmu.” yang kerja di restoran Mami. Tadi Om Andre yang urus administrasinya,”
cerita Merry. “Besok dia sudah bisa masuk sekolah. Om Andre ntar lagi
23 akan jadi suami Bu Mita ya?”
“Ya. Mereka pasangan yang ideal kan. Bahkan Mita sudah
dimenangkan untuk Kristus. Mudah-mudahan Tabita juga,” kata Simon.
“Bersahabatlah dengan dia, Mer.”
Merry menganggukkan kepalanya dan tersenyum, lalu mereka
kembali meneruskan kesibukan mereka.
24
Pertemuan Dengan Dina “Senangnya bisa kenalan dengan anak Gembala tersohor.” kata
Merry.
Pagi indah hari cerah di kala sang matahari menyinari bumi. Itulah
suasana hati Tabita masuk sekolah itu pertama kali. Merry senang “Biasa aja. Kalau kamu Bita?” tanya Dina.
menemui Tabita.
“Kalau mamaku sih kerja di rumah Merry. Calon Papaku dia
“Halo Mer, ini hari pertamaku di sekolah ini.” sapa Tabita. seorang pengusaha garmen.”
“Shalom Bit.” sapa Merry. “Wah, senang punya teman-teman dari keluarga mapan.” kata Di-
na.
“Apa itu Shalom?” tanya Tabita.
“Yuk masuk. Mungkin kita bisa kenalan dengan teman-teman yang
“Salam bahagia. Atau semoga Tuhan memberkati kamu.” jelas lain.” ajak Merry.
Merry. “Itu cara kami menyapa teman di sini.”
Mereka bertiga kembali bersama dengan rekan-rekan yang lain.
“Oh. Wah indah sekali. Kita bisa saling menyapa dan memberkati
sesama.” ucap Tabita. “Oh ya, Mer. Di sini kok ada siswa dari sekolah lain ya?” tanya
Tabita.
“Yuk masuk. Ntar kita bisa ketemu teman-teman lain.”
“Ya, kan papi beli sekolah ini. Siswa lama masih dipertahankan.
Lalu muncul Dina berjalan di belakang mereka. Kan sayang ada yang sudah kelas 2 yang akan naik ke kelas 3,” jawab
Merry.
“Halo, boleh kenalan?” sapa Dina.
“Tapi untuk siswa TK, SD dan SMP nya baru ya?” tanya Tabita lagi.
“Hai. Aku Merry. Kamu siswa baru ya?”
“Oh ya. Dulu sekolah ini hanya untuk SMA saja. Papi yang rintis
“Ya. Keluargaku baru pindah ke kota ini. Jadi aku ikutan pindah.” untuk dibuka mulai TK sampai SMA. Jadi yang tersisa siswa lama adalah
jawab Dina. siswa kelas 1 yang naik ke kelas 2 dan siswa kelas 2 yang naik ke kelas
3.” kata Merry. “Itu penjelasan papi ku.”
“Sekolah ini juga baru kok. Jadi kita semua anak baru di sini. Oh ya,
ini Tabita.” kata Merry. “Din, kamu lihat siapa?” tanya Tabita.
“Hai, Aku Dina. Mudah-mudahan kita bisa berteman.” sapa Dina “Ada cowok cakep yang ngelihatin aku terus.” Jawab Dina.
pada Tabita. “Kok kamu belum pakai seragam?”
“Oh dua cowok yang di kantin itu ya?” kata Tabita.
“Semoga kita bertiga bisa berteman, bahkan bersahabat ya. Kalau
seragam, sekolah ini beri dispensasi kok sampai seragamku selesai “Ya. Tapi yang satu itu kok lesu ya.” Kata Dina.
dijahit.” cerita Tabita.
“Nggak tahu. Kan kita semua anak baru di sini.”
“Mer, apa pekerjaan papamu?” tanya Dina.
“Halo, cewek-cewek cantik.” Sapa Leo, cowok macho di kantin itu.
“Papaku ketua yayasan sekolah ini. Kalau kamu Din?” jawab Merry.
“Hai, juga!” sapa Dina. “Siapa namamu?”
“Papaku Hamba Tuhan. Mungkin kamu mengenal dia. Pdt Handoko
Nyotoraharjo.” “Din, kok kamu berani banget sih?” senggol Merry. “Mereka itu kan
kakak kelas.”
“Oh dia. Wah dia pendeta yang banyak memenangkan jiwa. Pasti
jemaatnya banyak.” “Ah sudahlah. Biar aku yang kenalan.” kata Dina.
“Papa dipindahin di kota ini oleh Sinode untuk membangun jemaat “Terserahlah. Yuk, Bit. Kita masuk aja. Dina kamu nyusul ke kelas
di sini. “ ya.” Ajak Merry ke Tabita.
25 26
Tabita pun menyusul Merry menuju kelas barunya. Sedang Dina “Cantikkan dia dari kamu. Kamu itu ya mana menariknya. Hampir
ngobrol dengan Leo, cowok yang baru dikenalnya. semua cowok takut pacaran sama kamu. Galak sih kamu?” kata Leo
sambil ketawa.
“Tadi, itu temanmu kenapa?” tanya Dina. “Kok ngeluyur pergi gitu
aja.” “Awas kau ya!”
“Oh si Ricco? Dia berhenti sekolah. Sudah dicegah kepala sekolah Cinta berlalu sambil memendam amarah. Dari dulu dia suka
dan teman-teman, tapi dia tetap nekad. Dia itu sainganku untuk merebut dengan Leo, tapi ya Leo sukanya gadis-gadis lain. Sudah beberapa kali
juara kelas.” Jawab Leo. “Oh ya, namaku Leo. Kamu siapa?” Leo berganti-ganti pacar, maklum dia itu keren, kaya, dan juara kelas.
“Aku Dina. Aku murid baru di sini.” Siangnya, Leo sengaja memarkir mobil mewahnya di depan sekolah.
Dia menunggu Dina pulang.
“Ya, sekarang sekolah ini jadi rame. Banyak anak miskin yang
sekolah di sini. Aku pingin pindah aja. Risih kumpul sama anak-anak “Hai, Din. Siap untuk aku anter pulang?” sapa Leo setelah melihat
gembel.” Dina, Tabita dan Merry berjalan ke luar.
“Tapi sekolah ini sekolah bertaraf internasional loh. Guru-gurunya “Wah, mobilmu? Keren. Dimodifikasi ya?” kata Dina.
pun dari manca negara. Itulah sebabnya, aku mau sekolah di sini,” kata
Dina. “Ya dong. Selera anak muda dong.” jawab Leo.
“Ah ya. Tapi murid-murid barunya yang norak.” “Mer, Bit. Aku pulang ya.” pamit Dina.
“Cuek aja. Kan ini jadi sekolah baru. Gimana teman- “Ya, hati-hati Din.” jawab Merry.
temanmu?”tanya Dina.
Setelah Dina dan Leo berlalu dengan mobilnya, Merry mengajak
“Kalau angkatanku semua anak orang kaya. Kecuali ya itu si Ricco. Tabita pulang dengan motornya.
Tapi syukur deh, anak gembel sudah berkurang satu.”
“Bit, kita langsung ke restoran ya. Bantu mami.”
“Di sini kita semua tidak boleh membawa mobil loh. Padahal kan
enak bisa bawa mobil, nggak panas kalau pulang sekolah.” Kata Dina. “Ya, Mer. Wih pelajarannya sulit banget ya. Betul-betul berat.” Kata
Tabita.
“Aku parkir di seberang jalan kok. Ntar kalau pulang aku anter ya.”
Ajak Leo. “Ah nggak kok. Kamu susah dengan bahasa Inggris ya,” tanya
Merry. “Apa dulu di sekolah SMP mu nggak diajarin bahasa Inggris?”
“Boleh. Aku masuk kelas dulu ya. Itu belnya sudah bunyi,” kata
Dina. “Ntar kita ngobrol lagi.” “Diajari sih, tapi kan beda. Ini orang asing yang ngomong. Logatnya
beda. Susah diterima di telinga,” kata Tabita.
“Oke, nona cantik.”
“Tenang aja. Ntar kamu duduk sebelahan dengan aku aja,” kata
Setelah Dina berlalu. Seorang gadis dengan busana menyolok Merry. “Kalau sulit, kamu bisa tanya ke aku.”
menghampiri Leo.
“Dina kok bisa ya cepat akrab dengan orang asing.” tanya Tabita.
“Leo, kamu mulai mendekati anak baru ya?” sapa gadis itu.
“Kan kita semua baru saling mengenal. Aku nggak tahu karakter
“Boleh toh Cinta? Apalagi gadis itu cantik dan kelihatannya dia kalian semua. Butuh waktu kan. Juga dengan cowok itu. Ntar kita cari
anak orang kaya seperti kita?” tahu ya.” kata Merry. “Yuk pulang.”
“Cantik?? Cantikkan aku dong. Masak kamu suka sama dia?” “Mer, besok aku ikut papa dan mamaku ke gereja bareng
keluargamu. Ah pengalaman pertamaku,” kata Tabita. “Tapi terus terang
27 aku bingung.”
28
“Oh ya, seneng dong aku bisa bersamamu. Kamu bisa kenalan “Kenalan dulu lah.” Ajak Merry. Dia langsung menarik tangan
dengan teman-teman barumu. Kamu juga bisa ikutan tambourine. Aku Tabita mendekati seorang wanita muda yang sedang makan tak jauh dari
lihat kamu bisa nari,” kata Merry sambil menggenggam tangan mereka.
sahabatnya. “Papa dan mamamu mau pemberkatan nikah ya?”
“Cie Angel. Ini kenalin sahabatku Tabita.” Kata Merry sambil
Tabita hanya menganggukkan kepalanya. Dia senang juga melihat mengulurkan tangannya.
mamanya telah menemukan pendamping. Dia juga senang punya papa
yang selama ini tidak pernah bisa ia bayangkan. Om Andre adalah figur “Shalom Mer. Ini toh anak Bu Mita.” Kata Angel.
papa yang baik.
“Ya. Halo Cie Angel,” sapa Tabita.
“Seneng ya punya papa?” tanya Merry.
“Kapan latihan tamborine diadakan setiap minggu?” tanya Merry.
“Ya, Om Andre sangat baik. Dia juga sudah bawa mama ke gereja
beberapa kali. Sekarang mereka akan menikah,” kata Tabita. “Bahagia “Loh kamu mau ikutan nari toh?” tanya Angel. “Kan kamu nggak
karena sekarang punya keluarga lengkap.” pernah mau disuruh nari?”
Pernikahan Andre dan Mita berlangsung meriah tapi hikmat. “Bukan. Tapi Tabita ini pinter menari. Aku tetap di singer aja.”
Semua urusan catering sudah diurus Magda. Tabita pun senang terlibat Merry menjelaskan. “Cie Cie yang ngajarin deh supaya dia bisa terlibat
dalam upacara yang berlangsung hikmat. Matanya berkaca-kaca melihat dalam pelayanan di gereja kita.”
mamanya berbahagia. Jarang sekali dia melihat mamanya tersenyum dan
tertawa bahagia. Itu terjadi setelah kehadiran Om Andre dalam hidup “Seneng mendengarnya. Aku senang Tabita bisa gabung. Kami
mereka. latihan setiap Jumat malam. Ntar kalau ya, kita jemput deh.” Kata Angel
lagi.
“Eh, kok melamun? Pingin menikah ya?” goda Merry.
“Tapi nggak pernah tahu tarian tamborine?” kata Tabita.
“Ah kamu. Pacar aja aku belum punya. Mana mikirin menikah’”
kata Tabita. “Menikah secara kristen itu harus setia sampai akhir hidup “Perlu waktu untuk belajar. Yang penting adalah penyembahan dan
ya. Nggak boleh menikah lagi sampai kematian memisahkan. Juga nggak tarian kita tujukan untuk Tuhan, sehingga tarian akan mengalir indah.”
boleh poligami?” Angel menjelaskan.
“Ya, harus setia sampai akhir. Kan kita dipersatukan Tuhan sang “Coba dulu Bit. Mamamu kan juga sekarang terlibat dari koor kaum
Kepala suami dan suami kepala isteri. Kalau tubuh ngak punya kepala wanita bareng mamiku,” kata Merry. “Papi dan Om Andre juga melayani
mana bisa hidup. Kita harus belajar mengasihi dan menerima apa adanya. sebagai diaken. Jadi seluruh keluarga kita bisa saling melayani.”
Itu janji setia pernikahan!” Merry menjelaskan.
“Kamu ikut dong latihannya,” ajak Tabita.
“Oh anggunnya mamaku.” Kata Tabita. “Aku berdoa agar
pernikahan mereka langgeng.” “Aku latihan nyanyi. Hari untuk latihannya kebetulan sama. Ntar
waktu pelayanan kamu bisa menari dan aku yang nyanyi. Jadi kita tetap
Merry menggenggam tangan sahabatnya. satu tim yaitu tim Praise and Worship.” Kata Merry.
“Pasti. Tuhan yang mempersatukan dan tak ada seorang pun yang “Ok deh. Yuk kita mulai.” Tabita tersenyum. “Tuhan Yesus itu baik
bisa memisahkan.” Kata Merry. ya.”
“Bit. Itu ketua tamborine gereja kami. Yuk ku kenalkan!” kata Merry tersenyum. Dia sangat bahagia karena Tabita mau terlibat
Merry beberapa saat kemudian. dalam pelayanan. Tabita sangat giat dan berusaha belajar menari. Dia
tidak lagi gadis yang muram, sekarang kehidupannya telah dipulihkan.
“Ah, jangan ah. Aku malu harus menari,” tolak Tabita. “Aku aja Tabita telah menerima Yesus Kristus dalam kehidupannya setelah Tuhan
sekarang masih belajar jadi cewek.” Yesus menyentuh hati mamanya.
29 30
Tabita mulai menemukan sukacita bersama sahabat-sahabat barunya Tahun Kedua Sekolah
di gereja. Sekarang dia sudah menjadi seorang gadis yang lembut, tidak
kasar dan pemarah seperti semula. Siang hari yang panas menghiasi suasana kota. Hampir menyerupai
dapur api ... eh terlalu panas ya. Ya pokoknya pu .. anas banget. Dan
“Bit, kamu mau ngelesin anak SD?” tanya Merry. rasanya mampu membakar kulit-kulit yang mulai tambah hitam.
“Kenapa ngak kamu aja, Mer?” kata Tabita. “Kamu kan lebih mampu Ditambah satu lagi yang tak pernah ketinggalan yaitu debu-debu yang
dan juara kelas kan?” berhamburan dihempas oleh bis kota (loh itu kata Franky dan Jane)
“Untuk tambahan uang sakumu, Bit. Kan kamu nggak mau ngerepo- Wah .. bisa membuat mata pedas, membuat batuk-batuk, polusi yang tak
tin Om Andre terus kan. Enak loh punya penghasilan sendiri,” kata Merry. ketulungan.
“Ya sih. Bolehlah. Berapa anak yang mau les denganku?” tanya
Tabita lagi. “ Mer, aku nggak ingin naik bis sekolah hari ini. “ kata Dina.
“Lima anak. Tapi mereka lesnya berbeda tempat dan hari. Kamu mau
kan?” tanya Merry. “ Lalu mau naik apa ? Hondaku lagi diservis. “ jawab Merry.
“Ya nggak apa-apa. Mungkin untuk mengasah kemampuan otakku.
Pelajaran SD ku dulu nggak bagus banget sih. Karena aku dulu kan “Mikrolet yuk ... “ ajak Tabita
sekolah sambil bantu mama di Panti Asuhan, jadi semua hanya lewat
aja.” “Okelah! Tapi ngomong - ngomong kamu nggak dianter Leo ? “ tanya
“Ntar pasti kamu biasa kok. Kan sekarang aku lihat kamu jadi Merry.
penyabar dan suka dengan anak-anak kecil.” Kata Merry.
“Pingin ngajar Sekolah Minggu juga sih. Tapi ntar deh, perlu “ Entahlah, aku tak melihat dia tadi. “ kata Dina.
persiapan, terutama pelajaran Alkitab. Aku masih perlu banyak belajar,
sebelum aku bagikan ke orang lain.” Sebelum mereka beranjak dari tempat itu, sebuah Mobillio putih
“Wah senang banget ndengarnya. Kamu cepat bertumbuh dan telah menghadang mereka. Tak lama kemudian jendela mobil itu terbuka
berubah karaktermu.” Kata Merry. Tabita hanya tersenyum. Dia senang dan tampak seorang pemuda dengan sun-glassnya menegur ketiga gadis
dan itulah cinta mula-mulanya pada Tuhan Yesus. itu.
Tak terasa sudah setahun mereka semua bersekolah. Leo dan kawan-
kawan sudah menyelesaikan Ujian Nasional tingkat SMA dan sudah “ Hai mau pulang ? “ sapanya.
diumumkan mereka semua lulus. Dina sudah berpacaran dengan Leo
selama satu tahun. Merry, Tabita, dan Dina tetap bersahabat baik, meski “ Oh kamu Mas Leo, “ kata Merry.
Dina sering jalan berdua dengan Leo.
“ Mau ikut ? “ tanya pemuda itu lagi.
31
“ Boleh tapi dianter sampai rumah Dina saja. Nanti biar aku dan Bita
pulang sendiri.”
Kemudian ketiga gadis itu telah naik ke jok belakang mobil itu, lalu
mobil itu melaju dengan tenangnya melintasi kota yang ramai dengan
lalu-lintas yang simpang siur. Lagu Tones and I dengan Dance Monkey-nya
mengalun merdu, serasa mengantar ketiga gadis itu sampai ke rumah
Dina yang nampak asri dan indah itu.
“Terima kasih Mas,” ucap Dina. “ Mau mampir dulu ? “
“ Thanks, lain kali aja, “ ujar Leo. “Yuk “
Mobil putih itu pun segera berlalu dari hadapan ketiga gadis SMA
itu.
“Din, kamu kok dengan Mas-mu nampak biasa - biasa saja ? “ goda
Merry.
32
“ Memangnya harus gimana ? “ “Sudahlah Mer. Nggak usah ikut campur. Lebih baik kamu pergi deh.”
“Ya mesra sedikit dong,“ jawab Merry.“Pulang dan berangkat Merry meninggalkan Dina dan Tabita untuk pulang sendiri. Tabita
dianter?“ berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Itu sudah sering dilakukannya kok, “ jawab Dina. “ Yuk masuk ! “ “Omong-omong, lusa ada malam perpisahan anak kelas 3. Apa kamu
ikut”
Hening sejenak ketika Dina masuk ke kamarnya untuk berganti
pakaian. Merry segera menghidupkan pesawat TV. Ya siang-siang gini “ Mas Leo yang ajak. Kau ? ”
acara TV lumayan menarik untuk ditonton.
“Datang dong ! “ jawab Tabita sambil meneguk lemon juice-nya.”Aku
“Mer, Kok Dina jalan dengan Leo? Leo kan bukan saudara seiman kan ikutan nyanyi. Dan Merry malah jadi MC”.
kita?”
Dina masih marah mendengar nama Merry disebut Tabita. Cepat-
“Entahlah. Harusnya kita bicara dengan Dina.” cepat Tabita meneruskan perkataannya.
“Ya. Kita omong nanti aja. Cari kesempatan dan suasana yang baik.” “ Din, entar lagi Mas Leo akan ke Yogya ?“
“Sayang ya. Dina kan anak hamba Tuhan. Harusnya dia tahu tidak “ Ya, untuk sekolah lagi. “
boleh berpacaran dengan orang yang tidak seiman. Jadi pasangan yang
tidak seimbang.” “ Nggak kehilangan tuh ? “
Ucapan mereka terpotong setelah melihat Dina keluar lagi dan telah “ Ya semestinya demikian. Kamu nggak mau makan di sini ? “
berganti pakaian.
“Nggak usah ngerepotin, aku cuma mau pinjem catetan aja, sebab
“Ngomong-ngomong Mas Leo-mu itu hebat juga. Lulus nomor satu, lusa kita UAS. “
lalu keterima di UGM. Hebat lho ! “ komentar Tabita setelah mereka ma-
suk ke rumah. “Tapi nggak ada salahnya nemani aku makan kan ? “ ajak Dina. “
Yuk, nggak ada siapa siapa di rumah.”
“ Ya, dia sih dari dulu bintang kelas. Jadi aku nggak kaget. “
“Emangnya kalo siang gini rumahmu sepi ? “ tanya Tabita sambil
“ Tapi bangga dong ! “ Dina hanya tersenyum manis. Ya, Leo memang melengokkan kepalanya kian kemari.
anak teladan, ia baik, cerdas, kaya, dan ganteng lagi. Wah bangga tuh
diapelin, sebab Leo termasuk pemuda yang baik. “ Ya, aku dan Mbok Mia saja, “ jawab Dina.
“Sori ya Din. Aku kok merasa kamu nggak cocok dengan Leo. Leo Lalu mereka duduk untuk menyantap makan siang yang sudah
kan bukan saudara seiman kita.” kata Merry. disiapkan. Enak juga masakan itu sebab Mbok Mia pembantu keluarga
Dina terkenal pintar masak. Apa saja model masakan, ia bisa. Nggak
“Ah, kan masih pacaran. Aku belum mikir terlalu jauh kok.” salah kalau Dina dan keluarganya senang makan dirumah. Apalagi Merry
dan Tabita paling sering cicipi masakan itu. Setelah menyelesaikan
“Kamu nggak merasa berdosa berbuat itu?” makannya, Tabita beranjak pulang.
“Wah, banyak pasangan yang bahagia meski tidak seiman. Yang “ Aku pinjam dulu catatanmu, besok aku kembaliin. “ pamit Tabita.
penting rukun.”
“ Ya ! “
“Itu berarti kamu yang kompromi dong?”
Sehabis Tabita pulang, Dina masuk ke kamarnya untuk istirahat. Ya
“Jalani dulu aja. Kalau ntar banyak halangan ya putus. Dan itu bukan minggu-minggu ini dia menghadapi UAS. Tapi besok tidak ada UAS, baru
urusanmu ya Mer.” Dina mulai marah terhadap ucapan Merry. lusa ada UAS terakhir, jadi hari ini kesempatan bagi dia untuk istirahat
sejenak. Tak terasa ia tertidur sampai pukul 4 sore. Ia lalu bangun dan
“Din, kamu itu anak pendeta. Ntar kalo jemaat tahu gimana?” lanjut mandi. Mama dan Papa sudah pulang dan mereka ada di taman belakang
Merry.
34
33
untuk membersihkan rumput-rumput. Dina senang dengan taman yang Perpisahan Dengan Leo
ayahnya buat dibelakang rumah mereka.
Pesta malam perpisahan anak kelas XII telah dimulai. Merry ditunjuk
“Oh Bapak Willy. Gimana Pak? Oh beres pak. Bapak mau menjadi MC. Merry nampak manis dan acara dibawakan begitu meriah,
menyumbang berapa? 100 juta, Pak. Wah, masih jauh Pak. Pembangunan tapi hikmat sebab tak melupakan acara pengucapan syukur pada Tuhan.
gereja membutuhkan lebih dari 3 milyar. Ok..ok baik Pak. Terima kasih
Pak. Mohon teman-teman bapak bisa ikut menyumbang Pak.” “ Mas Leo kapan berangkat ke Yogya ? “ tanya Dina.
“Kamu nggak belajar Din ? “ sapa Nyonya Handoko. “Besok sore. Tapi kamu jangan kuatir, aku akan kirim email. telepon,
WA, dan tiap akhir semester aku akan menemuimu, “ hibur Leo sambil
“Libur Ma besok, “ jawab Dina. “ Pa udah beli ikan belum ? “
memeluk tubuh Dina.
“Sudah tuh di plastik, “ tunjuk Tuan Handoko.
Dina hanya terdiam. Ia memang kehilangan kekasihnya ini. Ia tidak
Dina lalu mengambil ikan-ikan, lalu membawa ke kolam. Dina
mengagumi ikan-ikan itu. Papanya memilih yang indah untuknya. Tapi bisa membayangkan hal ini. Air matanya mulai membasahi pipinya yang
keasyikan itu terganggu oleh kedatangan Mbok Mia yang mengantar Leo halus. Leo tak menyadari bagaimana sayangnya Dina padanya.
yang datang sore itu.
“Din, mana Merry tadi?”tanya Leo.
“Hai, Nak Leo.. “ sapa Nyonya Handoko.
“Aku nggak tahu,”jawab Dina
“Sore Tante. Dengar-dengar Om lagi cari uang untuk membangun
gereja ya? Gampang Tante. Ntar aku kirim cek 100 juta untuk “Tadi di pojok sana.”
pembangunan.”
“Ah... itu dia, “ tunjuk Leo. “Yuk, kita hampiri.”
“Wah kok repot aja.” Nyonya Handoko menghentikan kesibukannya
menulis pengeluaran kas gereja. “Mer, kamu kemana saja?” sapa Dina.
“Wah itu jumlah yang kecil Tante. Oh ya mana Dina, Tante? “Mentang-mentang jadi orang penting.”
“Tuh Dina di kolam, “ tunjuk Nyonya Handoko. “Ah, nggak kemana-mana kok.” Ucap Merry sambil
tersenyum. “Lagi senang mencicipi masakan ini.”
Leo lalu menghampiri Dina yang asyik dengan ikan-ikannya,
sehingga Dina tak melihat datangnya Leo. “Dasar tukang makan kau!”
“ Hai, Din. Sedang asyik nih “ tegur Leo pelan supaya Dina tak “Biarin!”
terkejut.
“Mana Tabita?”
“ Kau Mas Leo. Ini sedang memindahkan ikan-ikan ke kolam. “
“Tuh. Bit. Sini gabung.”
“ Papa yang belikan ? “
36
“ Ya “
“ Din, kamu besok libur ? “ tanya Leo.
“ Ya tapi lusa masih ada 1 UAS lagi. ”
“ Bisa ikut malam perpisahan anak kelas III dong ? “
“ Ya, aku ikut ! “ jawab Dina. “Tapi jemput ya.”
“Oke kalau gitu trims. Aku permisi saja,” pamit Leo. “ Yuk !”
35
Tabita menghampiri Dina, Merry, dan Leo. “Sebenarnya kau bisa meneruskan. Kau kan dapat beasiswa?” kata
Leo.
“Wah, sudah damai nih?” sapa Tabita. Dina masih murung
mendengar hal itu. “Ya, tapi biarlah adikku lebih perlu bersekolah daripada aku,” jawab
Rico.
“Masih marahan ya?” ucap Tabita lagi. “Nggak baik loh, kita kan
semua anak Tuhan, harus saling memaafkan.” Dina melihat gejala tak enak ini dan ia mengajak Leo dan Rico
bersantap malam bersama. Ya, setelah itu percakapan mereka sudah
“Dia dulu yang mulai.” sahut Dina dengan ketus. mulai bercerita pada hal-hal konyol yang sering mereka lakukan
dulu. Tawa berderai menaungi suasana malam itu. Ya, banyak teman-
“Ya, ya. Maaf ya Din. Aku nggak bermaksud kasar dengan kamu.” teman akan saling berpisah, termasuk Leo dan Rico. Tapi banyak
kata Merry sambil mengulurkan tangannya. “Mau memaafkan aku kan?” kenangan manis telah mereka reguk bersama dan kekompakan itu tak
akan pernah hilang dari ingatan.
“Ok deh. Aku juga minta maaf ya Mer.”
Esok sore terlihat di rumah Leo sibuk berbenah. Koper-koper telah
“Nah, gitu dong. Semua kita kompakan lagi.” kata Tabita sambil disiapkan. Papa dan mama Leo hanya bisa memeluk anaknya untuk
memeluk kedua sahabatnya. mengucapkan selamat tinggal. Dina pun tampak disana.
Leo mulai menengok ke sana kemari membiarkan ketiga gadis itu “Din, aku harus pergi. Semua ini kulakukan demi masa depan
mulai berbincang-bincang sendiri. kita. Kau mau menungguku ‘kan ?”
“Eh, sebentar, itukan Rico,” kata Leo.” Sebentar aku panggil dia.” Dina hanya mengangguk. Terasa berat hatinya melihat Leo
melangkah ke mobil. Leo mengecup kening Dina sebagai tanda berpisah
Rico yang dipanggil Leo menoleh, lalu kedua pemuda itu dan sepertinya iapun tak ingin kehilangan Dina . Tapi demi sekolahnya
bersalaman. Setelah itu Leo mengajak Rico mendekati Dina, Tabita dan dan masa depannya semua harus ditinggalkannya.
Merry.
“Jaga dirimu baik-baik ya” pinta Leo pada Dina.
“Nih, Rick, kau belum kenal dengan ketiga gadis ini?”
“Kau juga, Mas,” balas Dina sambil melambaikan tangannya.
“Hai, aku Rico!”
Alunan lagu lawas Taylor Dayne dengan Love Will Lead You Back-nya
“Merry!” mulai mengalun mengantar sang kekasih pergi. Saying Goodbye is Never
an Easy Thing. But you never said you’d stay forever. So, if you must go
“Tabita!” darling I’ll set you free. But I know in time we’ll be together. I won’t try to
stop you now from leaving. Cos in my heart I know. Love will lead you
“Dina!” back...
“Rico ini temanku dari SD sampai SMA kelas XI dan kini ia Dina menatap mobil Leo yang semakin jauh meninggalkan
kerja,”kata Leo.” Gimana kerja kau?” kotanya. Ya, Dina tahu Leo harus meneruskan sekolahnya. Sedang Dina
pun harus lulus tahun ini lalu kuliah. Dina tak tahu bagaimana masa de-
“Tambah maju Leo,” jawab Rico pannya. Tapi ia percaya Tuhan akan memimpin dia dan memberikan yang
terbaik untuknya. Untuk sementara ia harus berpisah dengan
“Kau bagaimana?” kekasihnya, tapi Leo berjanji akan berkirim sms dan telepon buatnya. Hal
itu untuk meluapkan rasa rindu saja. Leo juga akan datang bila liburan
“Aku mau kuliah di UGM, besok aku berangkat.” semester tiba untuk menengok Dina. Hati-hatilah, mas ! Aku akan kuatir
kehilangan kau. Tapi Tuhan akan selalu bersamamu selalu. Amin..........
“Wah, selamat dong !”
38
“Thanks, sebenarnya kau bisa seperti aku, Rick!” kata Leo
lagi. “Tapi sayang...ah, sorry aku nggak bermaksud menyakiti
perasaanmu.”
“Ah, nggak apa-apa, itu toh sudah kenyataan ” jawab Rico
hambar.” Aku memang orang tak mampu, Leo...”
37
Kegundahan Hati Dina “Ini rumah barumu, Bit ?” tanya Dina. Tabita diam tak menjawab
terus meninggalkan Dina sendiri di ruangan itu. Dina segera duduk di sofa
Tak terasa kepergian Leo sudah hampir 4 bulan. Selama itu pula hati yang empuk dan masih baru itu. Setumpuk majalah di depannya segera
Dina dingin. Tapi kekesalan hatinya lebih sakit sebab sudah 2 bulan Leo menjadi sasaran Dina.
tak berkirim berita. Tapi ia berusaha mengobatinya dengan rasa rindu dan
cintanya pada Leo. Ya rupanya Dina mencintainya dengan sepenuh hati. Diam-diam Dina merasa heran juga melihat ini semua. Dia sekali-
Merry dan Tabita berusaha menghibur sahabatnya ini. Rico pun mulai sekali melihat arlojinya. Hampir 10 menit dia sendiri di sana. Entah apa
akrab dengan ketiga gadis itu. Ia sering mengunjungi sekolah keduanya. yang sedang dikerjakan Tabita di dalam. Tak seorang tamu pun datang di
ruangan itu. Hal ini membuat Dina bertanya-tanya. Kemana juga si Merry,
“Bit, nanti sore kamu nganggur nggak ?” tanya Dina. katanya mau datang. A Thousand Years-nya Christina Perri mulai menga-
“Eh, tunggu, aku ingin mengundang kamu, Din,” potong Tabita. lun memenuhi ruangan itu. Kecurigaan Dina semakin memuncak. Dia
“Acara apa ?” heran mengapa Tabita begitu lama meninggalkannya.
“Pokoknya sip, deh, kebetulan aku baru terima uang les.”
“Pesta makan atau ...;” tanya Dina. Tiba-tiba ....“Tok! Tok! Tok! Terdengar pintu masuk diketuk pelan oleh
“Ya... pokoknya ramai. Mau kan. Aku jemput loh !” potong Tabita. seseorang. Cepat Dina beranjak untuk membuka pintu itu.
“Jam berapa ?”
“Jam 6 sore. Oke ?” “Wah gila nih tamu, lebih seperempat jam baru datang. ” omelnya
“Okelah ! Awas kau jemput loh,” kata Dina menegaskan. “Merry sendiri.
kamu ajak juga ya?”
“So pastilah. Kita bertiga kan sohib.....” “Eh sebentar, Din,” cegah Tabita yang tiba-tiba masuk. “Ini pasti
Malam pesta itu pun datanglah. Rupanya ruangan indah inilah yang makanan pesananku. Telat lagi.”
dijadikan tempat pesta yang dijanjikan Tabita. Ruangan yang mungil tapi
cukup romantis. Terlihat di ujung sana aquarium besar yang berisi “Bit, siapa aja yang kamu undang ”
bermacam-macam jenis ikan laut. Lampu satu-satunya di tembok
samping remang-remang menerangi ruangan itu. Stay With Me-nya Sam “Merry nggak bisa datang. Tapi ada tamu spesialku. Pokoknya ada
Smith sengaja diputar lembut oleh Tabita. deh.”
39 Benarlah bahwa yang datang adalah pelayan pengantar makanan
yang dipesan Tabita. Setelah menaruh masakan itu di dalam dan Tabita
telah membayar harga masakan itu, Tabita menghampiri Dina.
“Gini, Din,” jelasnya. “Sebenarnya aku sedih melihat kau termenung
sendiri seperti ini. Aku terkejut kalau sikap Leo seperti ini padamu. Din ...
kau tahu sikap Rico selama ini padamu?”
“Apa maksudmu ?”
“Kelihatannya dia menyenangimu, Din. Dia mencintaimu.”
Dina kembali merenung. Dia teringat waktu malam Rico
menghampirinya. Rico datang serta mesra memegang bahunya.
Membisikkan kata yang indah...
“Dina, aku sayang padamu. Aku mencintaimu. Engkau cantik.”
Terasa berat Dina rasakan di sekitar bahunya. Tapi Tabita kemudian
melanjutkan ceritanya.
“Aku sengaja mengundang kalian berdua... Kebetulan juga si Merry
nggak bisa datang”
40
“Apa ....?” “Ng..nggak ada permintaan. Oke ! Aku putar ini aja ya... Segera
diputarnya Photograph punya Ed Sheeran. Dua karyawan restoran Magda
Tok! Tok! Tok! terdengar pintu masuk kembali diketuk pelan oleh dengan cekatan meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya di
seorang. Kali ini Tabita minta Dina yang membukakan pintu, sementara atas meja yang mereka hadapi bertiga. Dari masakan ringan sampai yang
Tabita akan menyiapkan makan malam. tergolong berat telah siap di hadapan mereka.
“Och! Kau ...” Itulah yang dapat Dina keluarkan waktu itu. Tampak “Jadi ... ini bukan pesta ulang tahunmu ?” Rico buka suara lagi.
perubahan wajah yang drastis Dina alami begitu diketahui Rico-lah yang
tercengang di depannya. Bagaikan robot yang dikendalikan masuklah “Oh...hm, sorry ya. Aku ... Ah lupakan sajalah. Tapi yang jelas malam
Rico tanpa sekecap kata pun yang keluar dari mulutnya. Dina segera ini aku undang kalian berdua untuk bersantap malam bersamaku“ jawab
mengikuti dari belakang setelah menutup pintu itu kembali. Tabita.
“Mana yang lain ?” tanya Rico kemudian. Piring Dina mulai diisi dengan paha ayam panggang oleh Tabita.
Bersamaan itu Rico mulai menyendok udang goreng di depannya.
“Yang lain yang mana ?” tanya Dina pura-pura tidak tahu. Sebenar-
nya ia kesal terhadap ide Tabita yang gila-gilaan ini. Demikianlah akhirnya mereka bertiga mulai menikmati hidangan itu.
Dina diam saja ketika Rico menuangkan Sprite ke gelasnya.
Rupanya Rico tidak tahu hal ini. Rico memang bingung sendiri. Ia
mendapat undangan bahwa hari ini Tabita berulang tahun dan ia datang Mata Tabita yang genit memperhatikan apa yang dikerjakan Rico,
untuk memberi hadiah dan ucapan selamat. Tapi apa yang dihadapi sambil senyum-senyum sendiri. Entah mengapa Dina pun menuangkan
sekarang membuatnya bingung. Di hadapannya kini tampak seseorang. softdrink ke dalam gelas Rico. “Terima kasih...” Rico memandang tajam
Seorang yang manis dan yang menjadi pujaannya. Wajah Rico tampak wajah Dina yang mulai memerah. Dina membalasnya dengan senyum
tenang saja ketimbang wajah Dina yang mulai tampak gelisah. Tapi manis dan cepat-cepat menundukkan kepalanya kembali. Hampir satu
rupanya jantung ini yang tak mau diajak kompromi juga. Bagaikan suara jam mereka menyelesaikan pertarungan ‘maut’ itu.
bedug, jantung Rico berdetak menyaingi butir-butiran keringat yang
mengalir di dahinya. “Wich, makanan ini benar-benar enak,” komentar Rico. “Cukup Bit,
thanks!” tolak Rico ketika mulai menambahkan puding.
“Ng, Tabita di mana ?” Rico dengan gugup membuka pembicaraan
kedua. “Mau nonton DVD ?” tanya Tabita.
“Di dalam,” jawab Dina cepat. “Film apa ?” tanya Dina mulai angkat bicara.
“Di dalam?” keringat mulai membasahi punggung Rico. Tabita “Titanic!” jawab Tabita, lalu meninggalkan mereka berdua di sana.
kemudian datang menghampiri mereka.
Kini ruangan yang romantis itu hanya diisi mereka berdua. Dina mu-
“Wah sorry ya aku terlalu lama di dalam,” kata Tabita. “Udah lama, lai membolak-balik majalah yang ada di sampingnya. Rico membisu,
Rick ?” hanya kakinya menghentak-hentak mengikuti irama lagu yang mengalun.
Dina menyadari saat itu Rico terus memandangi wajahnya. Majalah yang
“Baru saja, Bit,” jawab Rico dengan tersenyum. “Mana yang lain ?” di depannya menjadi tempat untuk menjauhi dari tatapan itu.
“Aku hanya mengundang kalian berdua.” Tabita mulai tersenyum. “Dina,” tiba-tiba Rico memanggil. Dina menolehkan sedikit
“Gila ...” Rico menanggapi kata-kata Tabita dengan terkejut. Sedang Dina wajahnya. “Ng... kamu, kamu senang nggak lagu ini?”
masih kesal dengan sikap Tabita.
“Senang juga!” jawab Dina membuka lembaran majalah yang di-
“Tadi sebenarnya pingin ajak Merry. Tapi dia nggak bisa datang. Oke. pegangnya. Jawaban Dina membuat Rico tak angkat bicara lagi... Ah Dina
Bisa kita mulai. Kalian ng.. minta lagu apa?” Tabita mulai menawarkan mengapa kau tak mengerti akan isi hatiku. Suara hati Rico pun mulai
jasanya. turut berkata. Tapi untunglah Tuhan menciptakan Rico seperti manusia
yang lainnya, hingga dia pun tak mengetahui akan jeritan hati Dina yang
41
42
berkata tak lebih dari yang Rico alami. Rupanya Dina merasakan “Kau dingin...?” tanya Rico sembari mengoper porseneling motornya.
kelembutan cinta dari pemuda ini. Ia tak tahu mengapa secepat ini pada Dina diam saja, tapi Rico mengetahui apa yang dirasakan Dina saat itu
pemuda di depannya. lewat kaca spion. Dina menggigit bibirnya yang mungil untuk melawan
dingin yang sangat. Tepat di dekat selokan Rico menghentikan motornya.
“Hai! Ayo. Jadi nggak ?” Tiba-tiba Tabita muncul di pintu tengah. Tak satu ‘ekor’ pun manusia tampak berkeliaran lagi.
“Udah jam 8, Bit...” kata Dina. “Kan filmnya panjang.” “Kenapa ?” tanya Dina pelan.
“Ah kayak anak ingusan aja. Khan jam 8 masih sore...” “Kau dingin kan ?” Rico cepat membuka jaketnya. Lama Dina tak
menanggapi pemberian itu. Ditatapnya mata Rico yang tajam. Kedua
“Rico ! Ayo tunggu apa lagi,” kata Tabita kemudian. insan itu lama membisu, hening ... laksana suara hati mereka masing-
masing. Dia rasakan seluruh tubuhnya lemas, ketika Rico mulai
“Dina, ayo...” ajak Rico kemudian. Ya, Dina memang ingin cepat-cepat memegang tangannya yang dingin.
pulang saja. Bayangan Mamanya yang cemberut menyongsongnya jika
dia pulang terlalu malam. Tapi ah, Dina beranjak juga dari tempat Sebuah kehangatan dia rasakan ketika Rico mengecup keningnya.
duduknya. “I Still Believe” pun diputar oleh Merry. Kisah nyata pemusik “Kau marah ..” Rico melepaskan genggamannya. Dina ingin sekali
Jeremy Camp itu cukup memukau mereka. Jam 11 malam mereka baru menampar Rico, tapi wajah polos dan bening di depannya membuat niat
menyelesaikan tontonan itu. itu tak terlaksana, Dina menggelengkan kepalanya pelan.
“Wah, Bit, gimana nih.. udah malam,” Dina tampak cemas. “Maafkan aku Dina.” Hampir tak kedengaran Rico mengucapkan
kata-katanya itu. Dina menggelengkan kepalanya kembali. Jaket itu
“Kamu udah bilang sama Papa ?” segera dipakainya.
“Udah, tapi ....” “Aku mau cepat pulang.” Dina terus menundukkan wajahnya yang
memerah... Lima menit dalam kebisuan, lalu sampailah mereka di rumah
“Nggak apa-apa. Ng...kan ada Rico,” lirik Tabita ke Rico yang pura- Dina.
pura tak menyimak pembicaraan mereka.
“Mari kuantar,” Rico segera memasang standard motornya.
“Bitha ....” sikut Dina.
“Nggak usah !” Dina cepat menjawab, tapi Rico sudah mendahului
“Ssst ....!” Tabita menutupkan telunjuknya ke bibirnya. Dina memasuki pagar rumahnya.
“Mau kan ...?” katanya kemudian mendekatkan wajahnya ke arah Lampu ruangan tengah masih menyala. Rupanya Papa dan Mama
Rico yang tampak tak acuh terhadap semuanya itu. Dina masih asyik nonton TV.
“Ng...mau..mau apa?” Rico pura-pura tak mengerti. Waduh konyol “Jaketnya!” kata Dina sebelum mereka menekan bel di depan pintu.
banget.
“Biar. Pakailah!” Rico cepat menjawab.
“Tuh anterin dong !” Tabita memejamkan mata yang sebelah ke arah
Dina. “Jangan nanti kamu kedinginan. Terima kasih.” Dina menyodorkan
jaket itu.
“Bit..!” Dina tampak sedikit melotot. Rico diam sejenak. Dipan-
dangnya Dina dengan tatapan ragu. “Ma! Pa!” sapa manis Dina ketika pintu di depannya dibuka oleh
Mbok Mia.
“Ayo...” ajaknya kemudian.
“Tante...” sapa Rico pula.
“Nah gitu dong! “Ck.. ck..ck...Tabita tambah genit saja tampaknya.
Memang inilah yang dinanti-nanti Rico. Ah pucuk dicinta ulam tiba. “Dina, kok malam sekali pulangnya,” kata Mama.
Yamaha Vega hitam itupun meluncurlah di tengah-tengah jalanan “Iya Ma, di sana Dina masih nonton DVD,” jawab Dina manja.
aspal itu.
44
43
“Tante, Om, saya permisi dulu,” Rico menyelah. Leo atau Rico??
“Oh, terima kasih. Teman sekelas Dina ?” cepat Tuan Handoko Lembaran hari terakhir di bulan itu telah disobek Dina.
beranjak dari tempat duduk. “Oh Tuhan mengapa lama benar hari-hari ini berlalu.” Dina tertegun
di muka penanggalan. Dalam benaknya hanya satu bayangan. Seakan-
“Ng ya. Oh maksud saya teman se..se..se..” gugup Rico menjawab. akan Leo datang dan memberi sekuntum mawar padanya.
“Dina aku datang ... trimalah ini...” Suara Leo terdengar mesra di
“Segereja Pa!” Dina meneruskan kata-kata Rico yang macet itu. Ah, telinganya. Dina segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tiba-tiba
Dina telah berbohong pada Papanya. pintu kamarnya diketuk.
“Non, belum tidur ?” Mbok Mia mengetuk pintu kamar Dina.
“Oh gitu. Sering-seringlah kemari.” Mama Dina mulai berbasa-basi. “Ada apa, Mbok, belum kok,” sahut Dina dari dalam.
“Lain kali kalo antar Dina pake mobil dong. Jangan pake sepeda butut.” “Ini ada surat. Surat buat Non Dina. “ kata Mbok Mia lagi. Dina cepat
meloncat mendapati Mbok Mia.
“Ma kasih. Om, Tante. Selamat malam...” “Mana Mbok ? Dari siapa ?” Dina bersemangat sekali. Dia yakin
pasti Leo si pengirim surat itu.
“Malam..” bersamaan Tuan dan Nyonya Handoko menjawabnya. “Nggak tahu ya, nggak ada nama pengirimnya sih,” Mbok Mia segera
menyodorkan surat itu.
“Dina, aku pulang...” senyum penuh kejantanan menghiasi wajahnya. “Makasih Mbok,” Dina segera tampak cerah sekali, dengan cepat ia
Dina mengangguk tersenyum pula. menutup pintu kamarnya. Sekali sobek terbukalah sudah sampul biru
muda itu.
Tuan dan Nyonya Handoko hanya mengangguk. Dear : Dina Sisilia
Dina, aku yakin kau pasti tak akan menyangka kehadiran suratku ini.
“Untuk apa kamu bergaul dengan orang miskin kayak dia?” tegur Memang aku paksakan diriku untuk menulisnya. Aku hanya ingin minta
Tuan Handoko. maaf atas kelancanganku malam itu. Jikalau kau sudi, aku akan
menunggumu besok seusai kau sekolah.
“Ya. Wajahnya pun biasa aja. Keren kan Leo. Anaknya ganteng, orang Rico Tanaja
kaya, dan ia telah bantu pembangunan gereja 100 juta.”
46
“Ya Ma, Dina juga nggak suka kok sama dia. Dia hanya antar Dina.”
Ah Dina berbohong lagi. Padahal pertemuannya dengan Rico
menimbulkan kesan baginya.
“Dina, ayo tunggu apa lagi. Sudah jam 11.30. Tidurlah, nanti
kesiangan kamu bangunnya..” Belaian sayang Dina terima dari Mamanya.
Di ruangan yang sudah tak asing lagi baginya, Dina merebahkan
tubuhnya lalu lampu dipadamkannya.“Dina, kamu marah...?” suara
lembut Rico mengiang kembali. Dina pejamkan matanya, dia merasakan
hangat dan lembut bibir Rico melekat di keningnya.
“Oh Tuhan, Kau ciptakan wanita sebagai makhluk yang lemah. Ingin
aku marah.. ingin aku mendampratnya, ingin aku memakinya... tapi
mengapa semua itu tak ku lakukan... mengapa ..?? Dosakah aku
membiarkan hal itu terjadi atas diriku Tapi dosaku aku jika aku
membiarkan kemunafikan diriku ? Aku manusia Tuhan... manusia yang
butuh perlindungan dan kasih sayang. Ah, Leo aku telah berdosa padamu.
Tapi kadang-kadang aku ingin membencimu. Engkau ego dan tak mau
mengerti isi hatiku....”Dina terbawa arus alam pikirannya. Dia pun
akhirnya tertidur juga sebelum lonceng jam dindingnya berdentang 12
kali.
45
Memang surat itu tak diduga datangnya oleh Dina. Dina berkerut “Udah...” kata Dina singkat. Rico hanya menyela nafas.
sedikit alisnya sehingga alisnya yang indah itu hampir menyatu saja
tampaknya. Heran juga di zaman seperti ini, Rico masih mengirim surat. “Kau masih marah ?” Rico melirik lewat kaca spion. Dina senyum
sedikit, lalu dia gelengkan kepala. Rico tampak tersenyum juga.
“Rico... Rico kau seorang yang polos…..” sebuah senyuman tampak
tersungging di wajahnya. “Din, kau nanti sore mau jalan-jalan.” Wah nekad benar tuh Rico.
Tapi hati Dina senang juga dengan ajakan itu.
Dina merebahkan tubuhnya segera dia lipat kembali surat yang
dipegangnya. Di meja belajarnya, surat itu diletak-kannya. Kecupan itu “Kemana ...?” tanya Dina.
hangat sekali. Dina rasakan di kedinginan malam. Ah, waktu telah
berlalu .... “Kemana saja ... pokoknya ya jalan-jalan.”
Siang hari di awal bulan itu udara memang agak panas. Dina Dina tak menjawab. Dia tampak tersenyum manis sekali Dina lalu
sebentar-sebentar membasahi bibirnya yang cepat mengering. Ia mencari segera turun sebab ia telah sampai di rumahnya. Untunglah Rico segera
Rico kemana-mana. Tiba-tiba mata Dina tertuju pada seorang berkaca mengetahui gelagat senyuman gadis seperti Dina.
mata stop brill di dekat tiang listrik di seberang jalan.
“Oke ! Jam 5 nanti aku kemari, Dhag.” Rico segera menancap
“Rico !” kata Dina dalam hati. Rico dengan kaca mata sunglass itu gasnya. Dina membalas dengan lambaian tangan. Ah Dina engkau
persis dengan wajah Tom Cruise, ah Rico memang tampan... Tak terasa memang cantik, anggun lagi. Rico tersenyum sendiri penuh kemenangan.
bibir Dina mengucapkan kata itu lembut. Cepat dia tundukkan kepala dan Sehingga kalau orang di jalanan mau memperhatikan dia pasti
pura-pura tak melihat Rico yang sudah mengetahuinya. Dina segera menyangka dia gila..
mengambil catatan kimia serta cepat-cepat membaca isi buku itu.
Acara jalan-jalan pun jadi dilaksanakan. Rico memilih di sebuah
“Dina !” tiba-tiba Rico sudah tiba di depannya. taman yang cukup luas. Mereka memesan dua ice cream coklat, lalu
“Kau ....” mereka memilih duduk di sebuah bangku yang jauh dari keramaian. Ya
“Kau nunggu Papa ?” sore ini nggak banyak orang jalan-jalan di taman itu.
“Ng.. tidak... eh ya,” jawab Dina gugup.
“Kau sudah terima surat itu ?” tanya Rico lagi sambil menstarter “Rico...boleh aku bertanya ?”
motornya.
“Ya !” jawab Dina. “Tentang apa ...?”
“Kau mau pulang sekarang?” Dina hanya mengangguk.
“Ayo aku antar,” ajak Rico kemudian. Tanpa dikomando lagi Dina “Tentang dirimu ...?”
membuntuti Rico menuju Vega-nya.
Mungkin sekitar 30-40 km/ jam. Rico mulai menjalankan motornya. “Boleh ... !” Rico tertawa kecil.
“Kau sudah baca surat itu ?” Rico mulai membuka pembicaraan
kembali. “Kau pendiam Rico,” Dina memulainya lagi. “Apakah kau.. “Dina tak
dapat meneruskan kata-katanya lagi ketika Rico cepat meremas tangan
47 Dina.
“Dina ! Aku ... aku mencintaimu.” Bagaikan tak mau berkedip lagi
Rico menatap tajam gadis di depannya.
“Rico ..!” Dina tersentak, bagaikan mimpi dia tak menyangka akan
datangnya perkataan itu.
“Ya, aku tahu kau pasti marah,” kata Rico melepaskan kembali
genggaman tangannya.
“Rico, aku....”
“Aku tahu. Aku tahu Dina,” potong Rico.
48
Dina diam seribu bahasa, hatinya menjerit. Natal Terakhir
“Oh Tuhan haruskah aku munafik terhadap kenyataan diriku Awan putih indah menggumpal cuaca cerah sekali. Angin pun
sendiri ?” berhembus perlahan jauh di sana seekor burung elang dengan gagah
mengepak-ngepakkan sayapnya menantang cakrawala. Pohon-pohon
“Dina...” Rico menatap gadis itu kembali. “Engkau cantik.” lindung di tepi jalan mulai menggugurkan daun keringnya, satu-satu.
Bulan terakhir di tahun ini mulai datang. Ah, begitu cepat manusia
Dina memejamkan matanya. Keheningan sejenak di antara mereka. berkejaran dengan waktu.
“Kau mau mendengarkan cerita tentang diriku,” tanya Rico. Dina “Din... mau kemana ?” tanya Rico.
hanya mengangguk. “Ng...mau beli hiasan Natal, Rick. Mau ikut ?”
“Boleh !”
“Semua orang mengenalku sebagai seorang yang pendiam. Tapi itu “Oh, gimana keadaanmu sekarang?” tanya Dina.
bukan tipeku. Dina...aku punya tekanan batin yang sangat berat. “Baik kok !”
Mamaku ..... ah... ia wanita penghibur ...” “Kau tidak kerja ?”
“Ya, nanti sore.”
“Och !” Pekik Dina tertahan. “Sejak kita sering bertemu, kulihat kau begitu banyak waktu
bersamaku ?”
“Kau tentu tak menyangka. Papaku meninggal dunia sejak tahu “Ya, sebab aku sangat mencintaimu, Din.”
Mama melacur. Waktu itu aku masih kelas VI SD. Sedang Lisa adikku
masih di kelas I SD. Lalu kami diambil paman untuk terus disekolahkan. 50
Tapi paman pun meninggal waktu aku kelas XI SMA. Aku terpaksa ... ya
putus sekolah dan cari pekerjaan. Gajiku memang tak seberapa tapi
cukup untuk menanggung biaya kami berdua. Lisa harus tetap sekolah.
“Rick, apakah dulu profesi Mamamu sudah seperti itu?” tanya Dina
terharu.
“Maksudnya sebelum menikah dengan Papa sudah menjadi
pelacur ?”
Dina menganggukkan kepala.
“Ya, tapi waktu ia menikah dengan Papa, Papa melarangnya
melanjutkan pekerjaan yang maksiat itu.”
“Rico, sebenarnya kau tak perlu bercerita tentang itu padaku.”
“Ya.. aku cuma ingin kau tahu siapa aku sebenarnya.”
“Rico sudahlah ... jangan kau pikirkan lagi hal itu..” Suara Dina
terdengar serak. “Yuk kita pulang !”
Rico tersenyum dan Dina membalas senyuman itu serta membiarkan
tangannya diraih oleh Rico. Rico memahami maksud Dina. Wajah Dina
yang semu perlahan-lahan meninggalkan Rico. Rico tertegun sejenak,
memandang kosong pada gadis manis di depannya. Sebelum menekan
bel, Dina masih sempat berpaling kembali. Dia tersenyum dan
melambaikan tangan. Rico tetap terpaku memandangnya.....
49
“Rick, jangan ucapkan kata itu lagi ..” Esoknya Rico menerima chat dari Dina. Dia tak mengira Dina akan
mengirim chat itu.
“Tapi apakah aku harus berdusta pada diriku sendiri?”
Untuk sahabatku Rico,
“Tidak, Rick, tidak.... “
Rick, aku menghargai isi hatimu, tapi aku nggak bisa membalas
Sesaat mereka terdiam. Tak lama mereka berjalan, mereka telah semua itu. Aku minta kau paham, sebab aku sudah ada yang punya.
sampai di tempat yang dituju. Di toko ini betul-betul dijual banyak hiasan
Natal. Meriah sekali dan indah-indah. Tapi sayang tradisi ini tak dipakai Rick, maukah kau melupakan aku ? Anggaplah aku sebagai teman
sepenuhnya untuk mengenang arti Natal. Mereka hanya menjual hiasan biasa.
Natal untuk mendapat uang. Bazar dan discount untuk menarik
keuntungan dari mereka yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Rico “Din, aku sudah tahu itu semua. Aku tak menginginkan kau
kelihatannya agak sendu melihat sikap Dina padanya. Dina menyadari mengatakan ini padaku.” rintih Rico dalam hati. “Dina dengarlah ! Aku
ketidakenakan di antara mereka. sering bermimpi tentang dirimu dan diriku. Aku seakan-akan duduk
bersamamu di pelaminan. Ciuman Lisa serta pelukan kedua orang tuamu
“Rick, kau nggak beli sesuatu?” sangat memanja kurasakan. Senyum gembira teman-teman kita
menghias dimana-mana. Tapi tak jarang mimpi indah itu berakhir dengan
“Nggak deh !” kengerian. Dimana aku melihat seakan-akan ada seorang pemuda yang
datang dengan penuh kebencian serta cepat menghunuskan pisau ke
“Apa kau tidak merayakan Natal ?” lambungku. Aku menjerit ketika aku tersentak aku hanya dapat berkata..
ah itu cuma mimpi. Dina, ah... akhirnya mimpi itu pun harus aku ..”
“Kami hanya merayakan di gereja saja. Kami tak punya saudara lain,
kecuali aku dan Lisa adikku. Dan untuk apa pesta pora sedang kita belum Rico tak mampu lagi menyembuhkan kesedihannya. Dia tak mampu
menerima Yesus yang telah lahir ?” meneruskan kata-katanya. Ia pun sedih dan ingin menulis semua itu
dalam whatsapp. Akhirnya ia beranikan menulis semua pikirannya itu.
“Jawabanmu bijaksana, Rick. Aku kagum padamu.”
Sepanjang hidupku aku mencari seseorang sepertimu.
“Jangan padaku, Din. Bersyukurlah pada Yesus sebab Ia mau datang Dan aku tak yakin aku akan jatuh cinta pada pandangan pertama.
untuk menyelamatkan kita.” Namun aku sadar, aku tahu perasaanku benar.
Dan di saat kita bersama, aku ingin selamanya kaulah yang aku puja.
“Sudah yuk, kita pulang.” Tak kuragukan lagi, kaulah yang selalu aku dambakan
Aku jatuh cinta, impianku telah menjadi kenyataan.
Di luar Rico memberanikan diri untuk memberikan puisi untuk Dina. Sejak aku jumpa dirimu, kekosongan dalam jiwaku telah sirna.
Dina hanya tersenyum sambil menerima lembaran kertas yang cukup Aku tidak melihat bayang-bayang, ketika sinarmu menyala.
mahal itu. Akan ku arungi hidupku bersamamu.
Dan di saat bersamamu, bergetarlah jiwaku. Jantungku mulai berdetak.
“Itu kata hatiku Din. Kata hatiku yang terdalam. Untukmu ...” Aku merasakan suatu perasaan yang tak pernah aku rasakan.
Bersamamu aku temukan sesuatu, karena aku jatuh cinta padamu.
Dina hanya terharu membaca kejujuran hati Rico. Dia menatap
pemuda itu. Rico pun memandangnya. “Dina, aku tahu kau mencintai Leo.. aku tahu,” desah Rico akhirnya.
“Rick, sorry aku tak bisa menjadi kekasihmu, padahal .. aku pun Sementara Dina pun tak kalah sedih ketika membaca surat Rico
sayang padamu.” kata Dina, lalu ia pun berlari memasuki rumahnya yang yang memang terpotong itu. Mata Dina ikut berkaca-kaca. Baru kali ini
tak jauh dari jalan itu. dan seumur hidupnya ia merasakan kejujuran dan kepolosan hati seorang
pemuda.
“Dina..” panggil Rico tapi terlambat Dina telah masuk rumahnya dan
menutup pintu. 52
51
“Aku harap kau mengerti akan diriku, Rick, “ desah Dina. “Aku “Mbok, ada tamu. Tolong bukakan pintu.”
mencintai Leo, tapi aku tak dapat memungkiri bahwa aku ..... aku juga Mendengar perintah itu segera Mbok Mia bergegas menuju pintu
s...s...sayang padamu.” Dina menundukkan kepala menahan tangis. depan. Sebentar kemudian Mbok Mia kembali dan setengah berbisik ..
“Seorang pemuda, Non. Katanya ingin ketemu dengan Non.”
Oh Tuhan beginikah Kau ciptakan manusia ? Penuh dengan liku-liku “Suruh masuk, Mbok...”
kehidupan ... ? Terkadang manusia menunjukkan kewibawaannya, Mbok Mia kembali menuju pintu depan.
ketegasannya pandai mengatur hidup. Tak jarang manusia menunjukkan “Dina ...”
suatu kelalaian yang dapat mempengaruhi seluruhnya. Mereka tak sadar “Rico...” Dina agak terkejut.
melakukan semua itu. Manusia hanya beranggapan, ah semuanya dapat “Aku cuma mampir untuk mengucapkan selamat tinggal padamu.”
diatur, tapi nyatanya Setiap perbuatan akan menggakibatkan sesuatu. “Kau mau kemana ?”
Benarkan? Tapi mereka selalu menuduh bahwa Engkau Tuhan yang “Nggak tahu, aku ingin cari kerja di kota lain.”
menjadi asal mula dari semuanya itu. Manusia sering menuduh dan “Bagaimana dengan Lisa ?”
menuduh ... “Lisa ingin tinggal bersama di gereja.”
“Rico aku lihat kau terpaksa untuk pergi. Kenapa ?”
Pukul lima sore itu, Dina tampak menghias pohon Natal dengan “Terus terang, ya ... aku cuma ingin menuruti kemauanmu. Aku
hiasan-hiasan yang sangat indah Dina begitu tekun dan punya bakat seni nggak ingin mengganggu hubunganmu dengan Leo.”
untuk menghiasnya. Ia meletakkan pohon Natal itu di sudut ruang tamu. “Sebenarnya kau nggak bersalah. Aku yang salah...”
Sebentar-sebentar dia berdecak sendiri mengagumi karyanya. Kapas- “Tidak Dina !” Rico menundukkan kepala. “Semua ini salahku, ya aku
kapas mulai ia pasang, juga boneka-boneka lucu ia pasang. Ah, asyik terlalu mencintaimu sehingga aku tak melihat lagi bahwa kau sudah ada
sekali dia. yang punya...”
Dina hanya menarik nafas panjang. Lalu Rico mengulurkan sebuah
“Lho Dina... kok belum siap ?” tegur Mamanya. bingkisan yang cukup besar.
“Ini hadiah Natal untukmu. Dan tanda bahwa aku akan pergi dan
“Jadi nggak ikut ?” tanya Papanya. melupakan kamu ...”
Rico beranjak dari tempat itu, sedang Dina hanya termangu
“Wah, lagi tanggung nih...” jawab Dina tanpa menoleh “Dina akan menerima bingkisan itu.
ikut perayaan muda-mudi aja, Pa, Ma.” “Rico...” panggilnya pelan.
Rico hanya terhenti melangkah tanpa memalingkan kepalanya.
“Okelah, Mam. Biar dia asyik dengan kesibukannya.” Papa menarik “Terima kasih ...” lanjut Dina. “Aku doakan supaya kau bahagia.”
lengan istrinya. “Aku pasti bahagia, Din. Aku sudah punya Yesus. Ia sumber
penghiburanku,” sahut Rico. “Aku pun berdoa demikian untukmu.”
“Dina, Papa dan Mama pulang agak malam, sebab mau memberi
ucapan pada saudara-saudara yang lain,” Mama berpesan. “Kau jaga 54
rumah, ya !”
“Beres, Ma !” Dina tetap melanjutkan pekerjaannya.
Hari Natal memang sudah lama dinantikannya. Ia sebenarnya ingin
tetap tinggal di rumah sendiri. Ia ingin merenungi kelahiran Yesus
buatnya.
Sesaat kemudian Dina pun telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia
duduk di sofa tengah. Ia tak berkedip menatap pohon Natal yang telah
dipermaknya itu. Lalu ia menyalakan lampu pohon Natal itu. Tak lama
kemudian ruangan itu dihiasi oleh tarian lampu-lampu kecil yang bersinar
terang.
Tiba-tiba bel berbunyi ....
53
Rico pun beranjak keluar. Tak lama kemudian deru Vega itupun telah Selamat Tinggal Dina
menghilang di keremangan senja.
Kesedihan di hati Dina tak berakhir sampai di sini. Ternyata Tuhan
Dina hanya merenungi kepergian Rico. Dia lalu membuka bingkisan mengizinkan ujian ini datang lagi menimpa kehidupan Dina. Dina jatuh
yang diberikan Rico. Dia terpesona melihat lukisan dirinya. Oh...indah dan sakit karena kesedihannya. Leo tak kunjung datang sedang Rico telah
persis dengan orangnya. Di bawahnya Rico membumbuhkan tanda pergi dalam hidupnya. Bahkan akhirnya Dina masuk rumah sakit. Papa
tangannya dan kata Immanuel di bawahnya. Dina membawa lukisan itu dan mamanya sangat sedih melihat keadaan anaknya. Sementara itu Leo
ke kamarnya, lalu ia pasang di tembok kamarnya. ternyata mengetahui hubungan Dina dan Rico dari teman-temannya yang
masih sekota dengan Dina. Leo begitu panas mendengarnya. Tapi
“Rico, kau mencintaiku dengan tulus,” desah Dina seorang diri. “Aku sebelum ia bertindak, Rico telah muncul di hadapannya.
tak mengerti mengapa kau datang dalam hidupku....”
“Leo, aku ada perlu denganmu.”
Dina lalu mengambil bungkus lukisan itu, lalu ia menemukan sebuah “Untuk apa bicara dengan pencuri gadis orang,” jawab Leo sinis.
surat di dalamnya. “Leo kau salah paham,” Rico menenangkannya. “Aku mau
menjernihkan semuanya ini.”
Di sini kita berpisah lagi, Melukai satu dengan yang lain tanpa alasan, “Tak perlu kau jelaskan, aku tahu semua hubunganmu dengan Dina.”
Mengherankan mengapa kita menyimpan perasaan bersalah, “Leo, aku akui sejujurnya ... aku menyenanginya,” tutur Rico. “Aku
Rupanya banyak yang kita berikan, tertarik padanya sejak kau kenalkan aku padanya di pesta perpisahan itu.
Banyak yang merupakan ilusi belaka, Tapi semuanya itu bukan berarti aku ingin merampasnya dari sisimu.”
Kekasihku banyak yang pernah kita lakukan, Tapi kita begitu takut untuk “Ketahuilah Leo, dia begitu mencintaimu. Tapi engkaulah yang
memberi dan menerima, kurang memperhatikannya.” Leo terdiam sejenak.
Kenapa kita selalu melukai orang-orang yang kita cintai,
Rupanya itu berakhir dengan membuat kerusakan, 56
Mengapa kita tak dapat terbang bersama elang dan merpati,
Mengapa kita selalu melukai orang-orang yang kita cintai,
Itulah manusia ... yang berdosa,
Tapi syukur pada Tuhan yang menghendaki kita saling mengasihi ....
“Rico, aku mengerti maksudmu,” desah Dina. “Kau begitu menderita
selama ini, sebenarnya aku tak boleh bersikap demikian....”
Dina menangis sedih di kamarnya. Dia membenarkan apa yang
ditulis Rico. Bukan sebaliknya seperti yang dikatakan Rico. Tidak
Rico...hanya aku yang melukai hatimu bukan kau yang melukaiku....
Meskipun sebenarnya aku sayang padamu. Aku sangat kehilangan dirimu.
Mengapa semua ini terjadi di saat aku ingin merenungi malam Natal.
Tuhan Kau sudah mengasihi kami dan ajarlah kami untuk saling
mengasihi. Tuhan menyertaimu Rico... semoga kau pun tidak
meninggalkan Tuhan. Amin ....
55
“Lantas apa maumu dengan mendekati dan mencintai Dina..?” Leo Langkah-langkah mereka sengaja dipercepat dan beruntung mereka
sinis. segera menemukan apa yang dicari.
“Aku tak akan bicara sebelum kau menghilangkan sikap permusu- “Om Handoko...” panggil Leo.
hanmu itu.” Dengan agak kesal Rico menjawabnya. Leo tetap acuh saja.
“Nak Leo...Dina sakit parah ...” jawab Papa Dina lesu.
“Bicaralah kamu...” katanya lagi.
“Boleh saya menengoknya ?” Tanya Leo pada Papa dan Mama Dina.
“Boleh aku duduk ?” Rico melangkah maju. Leo mengiyakan. Mereka hanya menganggukkan kepala. Leo masuk diikuti Papa dan
Mama Dina.
“Sudah ku katakan tadi, aku menyenanginya. Tapi bukan berarti aku
ingin merampas Dina darimu.” Rico mengulangi kata-katanya. “Mungkin “Dina maafkan aku. Aku sudah mengabaikanmu.” kata Leo.
seumur hidupku baru kali ini aku mengenal seorang gadis yang baik,
lembut, dan setia seperti Dina.” “Mas Leo...” panggil Dina lirih.
“Aku tak suka hal yang bertele-tele,” Leo mulai marah. “Beberapa hari ini aku memikirkan banyak hal, termasuk betapa
baiknya Tuhan Yesus. Aku jadi terpesona dengan pengorbanan Yesus.”
“Malam itu mungkin untuk terakhir kalinya aku ke rumahnya...” ungkap Leo.
“Ya karena aku tak ingin merampasnya dari sisimu.” kata Rico “Syukurlah. Mungkin kamu harus menerima Dia sebagai
memperdalam suaranya. Juruselamatmu.” kata Dina sambil tersenyum.
“Hey, Rick aku mau tahu kau belum menceritakan apa maumu.” “Papa juga salah telah melanggar firman Matius 25:40 Dan Raja itu
akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala
“Ya hanya itulah yang dapat aku katakan, bahwa aku bukan sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang
perampas cinta dan orang yang senang memanfaatkan kesempatan yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Tuhan sudah
kau maksudkan.” Rico beranjak dari tempat duduknya. menegur papa. Sekarang papa sudah minta semua seksi kembali
berfungsi seperti semula. Tetap utamakan keselamatan dan
“Aku harap kau mau datang ke rumah Dina. Dina sedang menunggu- kesejahteraan sesama.” kata Tuan Handoko.
mu dan kau bisa mengetahui semuanya ini darinya.”
“Natal tahun ini kita semua diajarkan Tuhan untuk tetap mengingat
“Oke aku akan datang ke sana sekarang.” Leo segera pergi sesama. Ntar natal tahun ini kita rayain di panti asuhan atau bersama
mengangkat kopernya untuk pulang kembali ke kotanya. Sementara Rico anak-anak jalanan itu ya.” kata Nyonya Handoko.
hanya terdiam.
Tuan dan Nyonya Handoko memeluk putrinya.
Singkatnya Leo telah sampai di kotanya. Dia langsung menuju ke
rumah Dina. Tapi ia kaget sebab Dina telah masuk ke rumah sakit. Rico Merry dan Tabita pun datang menemui sahabatnya. Dina dengan
yang turut serta dengan Leo juga terkejut. Mereka berdua bergegas ke wajah yang masih pucat menyapa kedua sahabatnya.
rumah sakit yang dituju.
“Merry, Bita, aku minta maaf ya. Mungkin ini pukulan Tuhan bagiku,”
Bau obat-obatan yang menyengat mulai tercium. Lorong-lorong lurus minta Dina.
yang bersih dan lengang mulai mereka lewati.
“Aku senang kamu berubah Dina. Aku harap kamu tetap jalin
“Suster, dimana kamar pasien bernama Dina Sisilia ?” tanya Leo. hubungan intim lagi dengan Tuhan,” kata Merry.
“Ruang A, kelas I, nomor 3,” jawab suster itu. “Aku harap Tuhan segera memulihkanmu sehingga kita bisa
merayakan tahun baru sebentar lagi,” tambah Tabita.
“Terima kasih..” sahut Leo. Lalu ia bersama Rico melangkah ke
kamar itu. “Thanks ya. Aku bahagia sekali mempunyai sahabat-sahabat
terbaikku.” Kata Dina.
57
58
“Aku juga, Din.” Peluk Merry. “Individualisme menggakar kuat WHY DO WE ALWAYS HURT THE ONES WE LOVE?
sehingga spiritualisme sering tertutup dan bersifat pribadi. Tapi kita tidak
dapat melangkah sebelum menyadari isolasi menyebabkan kemandulan Here we go again,
rohani. Nyatanya jiwa kita merindukan persahabatan, keintiman dan Hurting each other for no reason
bimbingan. Banyak orang Kristen kembali mencari dan rindu hadirnya Wondering why we keep repeating the same mistakes.
sahabat-sahabat kudus.” Seems the more we give,
The more we're disillusioned
“Sahabat-sahabat kudus.” Kata Tabita. “Ya bukan sembarang Baby, what is it we're doing?
sahabat kan.” Are we so scared of give and take?
“Aku menyesal, aku hanya mencari teman-teman semu. Teman-teman Why do we always hurt the ones we love?
yang ada pada saat aku senang. Tapi mereka semua pergi saat aku Just when it seems we've fin'lly made a breakthrough
menderita. Tapi kalian semua adalah sahabat-sahabat yang tetap Why can't we fly between the eagle and the dove?
menyertaiku saat suka dan duka.” Kata Dina. Why do we always hurt the ones we love?
Sementara Rico berdiri saja di luar dengan Mbok Mia. Sometimes it seems like the silence is between us
Get deeper than the meanest words,
“Kenapa dia, Mbok ?” tanya Rico. Feel colder than the night
Everytime I feel as though
“Non Dina sejak tuan tak pernah berkunjung lagi tampak murung I'd finally gonna leave
terus. Dia tak suka ngomong lagi. Lalu ia jatuh sakit, sebab ia tak mau It seems as though I just can’t praise a girl
makan. Kata dokter, ia perlu banyak istirahat.” Without you in my life .
Rico cuma mendesah. Dia lalu melihat Dina yang terbaring pucat. Leo And when you cry, I feel as though the tears are falling from my eyes
memegang jemari tangan Dina. Sedang Papa dan mamanya berdiri di Why do we do this to each other?
samping tempat tidur. Juga Merry dan Tabita duduk di samping Dina. There so much we should be proud of
Ingin ia masuk untuk menjumpai Dina. Tapi mampukah ia melakukannya. So many dreams that we have shared
Dia tundukkan kepalanya ketika Dina menoleh ke arahnya. Perlahan dia I'd hate to think that we're arriving
ayunkan kakinya bergerak menjauh dari tempat itu. Without you standing here.
Dia masih sempat mendengar Dina memanggil namanya lirih. Tapi ia 60
sengaja tak mengacuhkannya, dia pejamkan matanya dan membiarkan
kakinya menyeret tubuhnya yang luyuh itu meninggalkan mereka. Rico
telah melupakan semua masa lalunya.
Oh Tuhan haruskah aku tersenyum ...? Haruskah aku bersedih ....?
Atau aku terpaksa menangis ...? Mestikah aku mengalah... ? Apakah aku
harus berkorban ...? Inikah cinta? Dina ... Leo ... maafkan aku...
Rico terus melangkahkan kakinya... langkah kakinya semakin jauh ...
dan jauh … Lagu Grown Up Christmas List kembali berkumandang dan
mengalun dengan agungnya. Rico ingin belajar mengasihi seperti Yesus
yang memberi tanpa berharap akan diberi. Rico ingin berusaha memberi
dan memberi .... Akhirnya dia tersenyum. Doanya semoga orang-orang
yang dicintainya bahagia......
- HA. Scheel 09.14.91
59