SITI WAROHMAH
SMPN 3 BATAM SITI WAROHMAH
DAFTAR ISI 1.DAFTAR ISI 1 2.WHILE YOU CAN 2 3.TENTANG PENULIS XVII 1
Fie, ini ayah bawakan sate padang kesukaan mu. Nak, ini ayah bawakan martabak telur pakde Ratmo. Alhamdulilah ayah lagi dapat rezeki. Sofie, Alhamdulillah ayah punya uang. Kita beli bakso ya untuk ulang tahun anak ayah yang ke 12. Tes...tes...tes..., tak terasa perlahan air mata jatuh membasahi pipi. Mengapa disaat makan malam sepi ini, aku teringat akan kenangan bersama ayah. Sudah lama sejak ayah meninggalkanku dan yang lainnya, semuanya terasa hampa. Bayang-bayang senyum diwajahnya menghilangkan nafsu makanku. Di kesunyian malam ini, tak ada ibu yang menemani. Tak ada Abang dan adik yang mewarnai. Tinggal sendirian di apartemen. Tak bersama ibu dengan yang lainnya. Memilih hidup sendiri sebab rasa ingin berjuang mencari uang. Berat memang, tetapi itulah pilihanku. ~~~ 2
Kulihat jam dinding bergaya digital menunjukkan pukul 18:12. Sebentar lagi adzan Maghrib. Bersiap-siap mengambil air wudhu dan mengenakan mukenah. Aku duduk di mushola kecil didalam kantor. Menit berlalu dan selesailah shalat Maghrib ku. Lalu ku lanjutkan kembali mengotak atik komputer diatas meja. Tak lama, orang-orang sudah mulai berkemas-kemas menandakan waktunya pulang. Aku pun bersiap-siap membawa tas kerja dan tak lupa mengisi absen pulang. Seperti biasa, melewati supermarket besar. Mampir kesana disebabkan persediaan di apartemen menipis. Berjalan membawa troli, niatku berbelanja bulanan dan membeli bahan dan bumbu soto resep dari ibu. Saat di rasa telah cukup, berjalan menuju kasir dan disampingnya, terdapat makanan kucing. Jadi teringat kucing betina yang ada di rumah. Aku berniat membelinya dengan harap dapat memberikannya pada kucing jalanan di perjalanan pulang nanti. ~~~ 3
Sesampainya di apartemen, langsung saja aku video call ibu untuk mengajari membuat soto. Deringan pertama belum dijawab, saat deringan kedua barulah. "Halo, Assalamualaikum bu." Senyumku saat melihat wajah ibu dilayar handphone. "Wa'alaikumsalam nak, gimana kabarnya?." Tanya ibu dengan senyumannya. Sama seperti dulu-dulu. "Alhamdulilah baik, ibu sehat? Adik-adik kemana?." Tanyaku pada ibu. "Alhamdulilah ibu juga sehat, adik Jasmine lagi buat pr, si Zahra lagi main hp dia nya tuh." Tunjuk ibu pada si bungsu yang sibuk dengan handphone nya. "Biarkan saja lah bu, kalau sudah larut baru diingatkan." Lalu aku pun mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Dengan ditemani ibu supaya rasa dan bentuknya hampir sama. Harum wangi nan menggoda tersaji di dalam mangkuk putih bercorak naga pemberian ibu. Terlihat asap menggumpal sehabis disiram oleh kuah. 4
"Bu, liat ini. Mirip banget sama buatan ibu kan ?" Tunjuk ku bangga. "Iya lah, kan ibu yang ngajarin." Bangga ibu tak mau kalah. Selepas memasak soto yang ternyata lumayan susah. Aku langsung menyantapnya ditemani oleh ibu sambil mengobrol layaknya anak dan ibu. ~~~ 5
02:03 ~ Dering telepon mengganggu tidurku. Dengan kesadaran yang tipis, samar-samar ku lihat nama ibu yang tertera di layar. Langsung saja kuangkat tanpa menunggu lama lagi. "Halo, Assalamualaikum kak!." Terpampang wajah Zahra penuh kekhawatiran. "Wa'alaikumsalam Zar, kenapa nelpon malam-malam begini?." Tanyaku ikut khawatir. "Kak, ibu kambuh. Sakit ibu kambuh kak." "Ya Allah, kok bisa? Sekarang ibu dimana?." Tanyaku, tak terasa butiran-butiran jatuh. "Ibu sekarang lagi dirumah sakit kak. Diantar Oom teguh. Disana ibu ditemani sama kak Jasmine." "Ini kamu lagi ngapain? Kenapa gak ikut kesana?" "Zahra lagi beres-beres keperluan ibu kak, abis ini baru mau kesana." Selepas menutup telepon dengan kabar duka. Air mata yang ditahan-tahan akhirnya meluncur bebas melepaskan kesedihan. 6
Di atas kasur, keadaan gelap, memandang kosong pada hadapan di depan. Air mata terus mengalir tak tahu kapan kan reda. Pilihan satu-satunya ialah berdoa, bersujud pada yang kuasa. Meminta pertolongan, ampunan dan keridhaan. Di kegelapan malam, tepatnya sepertiga malam. Aku bersujud, dengan linangan air mata. "Ya Allah, maafkan hambamu ini." "Ya Allah, berilah kekuatan tuk ibu hamba yang terbaring sakit." "Ya Allah, hamba mohon. Berilah kesehatan untuk ibu." "Maafkan hambamu ini yang jarang bertemu dengan keluarganya." "Maafkanlah hamba yang selalu meminta kepadamu, karena engkau adalah satu-satu tuhan yang tak akan pernah tidur. Tuhan yang maha mengetahui lagi maha mendengar." 7
"Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil-akhirati hasanah, wa qinaa adzabannaari." "Aamiin." Malam ini terasa sangat pilu. Tertidur dengan pikiran berkecamuk dan mata sembab. ~~~ 8
Sudah dua hari aku berada di apartemen. Tak ada semangat seperti biasanya. Biasa aku akan senang dengan menikmati waktu tuk tidur. Memikirkan bagaimana nasib menimpa. Hampir seluruh tabungan ku berikan tuk biaya pengobatan. Hanya tersisa untuk makan dan bayar uang apartemen tuk 6 bulan kedepan. Dengan begini pasti takkan cukup. Aku harus mencari pekerjaan sampingan. Jariku menari-nari diatas laptop. Mencari ke segala laman internet. Mencari pekerjaan yang tidak terlalu memberatkan. Tetapi mendapat gaji yang lumayan. Dan pilihanku jatuh pada cafe yang ternyata tak terlalu jauh dari apartemen. Langsung saja mendaftar dan berdoa semoga diterima. Karena inilah salah-satunya cara agar mendapatkan penghasilan lebih. Menunggu gaji dari kantor rasanya tak yakin. Apalagi saat waktu itu terdengar dari karyawan lain. Bahwa kantor sedang mengalami masalah. ~~~ 9
Senin, 02-03-2028. Seperti biasa, datang ke kantor pagi-pagi. Duduk didepan komputer langsung mengotak-atik kerjaan baru yang sudah diberi. Tapi itu tak berlangsung lama. Atensi ku saat ini terpusat pada bos perusahaan. Dia datang dengan setelan khasnya, tetapi ada yang berbeda. Tampang yang biasanya datar itu, tampak menyimpan sesuatu yang ingin disampaikan. Dan ternyata benar. Apa yang dibicarakan para karyawan pada waktu itu. Perusahaan mengalami kebangkrutan. Banyak produk-produk yang tak terjual menyebabkan menurunnya saham. Gaji yang awalnya normal, menjadi tak karuan. Sangat sedikit gaji yang diberikan. Dan bos mengatakan bahwa jika ingin bertahan silahkan. Jika tidak, maka resignlah. Mendengar pernyataan bos tadi, membuatku campur aduk. Padahal aku sudah berangan-angan untuk memberikan setengah gaji untuk pengobatan ibu disana. Tetapi, tak ada pilihan. Jika ingin resign, belum tentu langsung mendapatkan pekerjaan. Dengan itu, aku harus bertahan dengan kondisi yang diberikan tuhan. 10
Jika sehari-hari aku akan pulang dan beristirahat. Tetapi tidak untuk kali ini. Notif pesan dari cafe semalam membalas ku. Diterimanya bekerja di cafe dan disuruh untuk bekerja malam ini juga. Maka aku harus bersemangat dan bersungguh-sungguh. Tak apa banting tulang bekerja paruh waktu. Demi ibu, kan ku lakukan. Saat berjalan keluar, terdengar suara memanggil di arah belakang. Ternyata yang memanggil adalah si bos. Tak pernah ku melihat ia berlari dengan peluh dimanamana. Mungkin ia seperti itu karena mengejar ku. Mungkin saja. Berhadapan, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. "Sofie, maaf mengganggu." Sedikit berdehem menetralkan detak jantung. "Kalau boleh tau pilihanmu saat ini apa? Ingin bertahan atau resign?" Tanyanya dengan wajah datar andalannya. "Saya memilih bertahan pak." Jawabku jujur. 11
"Alhamdulilah, semoga kamu kuat ya menghadapi ini semua. Saya yakin, perusahan ini akan bangkit kembali. Jadi tetap bertahan ya meski banyak halangan." Ekspresi nya tak main-main. Membuatku jadi ikut bersemangat. "Iya pak, mari sama-sama berdoa semoga kedepannya baik-baik saja." Senyumku tulus. Dan ia pun ikut tersenyum. Saling pandang dan tertawa kikuk setelahnya. ~~~ 12
Perjalanan pulang pada malam hari ini sungguh melelahkan. Walau tak jauh dari tempat tinggal, ramainya pengunjung dan pikiranlah penyebabnya. Berjalan dengan keheningan melanda. Berdoa dalam hati supaya selalu terjaga. Melepas sepatu yang dipakai. Aku berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Tak ingin berlamalama, langsung saja dilanjutkan dengan berwudhu karena tak sempat saat di cafe tadi. Selepas melaksanakan shalat isya yang tertunda. Mengambil susu dingin yang berada di kulkas dan menuang nya ke dalam gelas. Terduduk pada kursi yang berada pada balkon. Memandang langit malam yang tak ditaburi bintang. Hanya cahaya bulan yang tampak menemani. Memandang kosong hamparan lautan luas dihadapan. Termenung memikirkan keadaan ibu disana. Sejenak ingin melihat wajah sang ibu sebagai penawar rindu. Mendial nomor yang ketiga kali, barulah ada suara yang terdengar. 13
14 “Assalamualaikum bu. Gimana kabarnya? ibu sehat?” Hawa panas menjalar, tetapi berusaha untuk tetap kuat. “Waalaikumsalam. Ibu sehat nak.” Seperti biasa dengan senyuman teduh yang diberikan. “Bu, tetap kuat lawan sakitnya ya. Sofie gak mau liat ibu kayak gini.” Lolos juga akhirnya tangisan yang tak kuasa di bendung. “Loh… Ibu mah kuat, kamu tu yang harus kuat. Maafin ibu ya nak, sudah menyusahkan kamu.” “Nggak bu, sama sekali nggak. Oh ya, mana adik-adik?” Sengaja, sengaja mengalihkan pembicaraan. Karena kalau berlanjut aku pasti takkan berhenti tuk menangis. Sama seperti dahulu, tak pernah berubah ‘cengeng’. Tak terasa malam sudah mulai larut. Segera aku naik ke atas kasur untuk menjalani rutinitas. Sebelumnya tak lupa untuk berdoa, bersyukur atas nikmat dan karunia. Berharap semoga besok lebih ceria daripada sebelumnya.
15 Jangan marah sama abangmu, paling dia cuman bercanda. Sofie tau, itu artinya abang sayang sama sofie. Sama seperti Ayah yang sama sayangnya dengan Sofie. Sofie, ingat. Mau bagaimanapun kamu harus saling akur. Jangan sampai tali persaudaraan kamu dan saudaramu putus. Ayah tak mau kalian sama nasibnya seperti ayah. Nak, jaga ibu ya. kamu anak perempuan pertama ayah dan ibu. Kamu mesti perhatian dan sayang sama adik-adikmu. Jagakan Jasmine dan Zahra untuk ayah ya. Sesak, sesak rasanya saat tidur memutar kembali memori kenangan bersama sang ayah. Lelehan air mata satu persatu turun disertai rasa panas. Pernapasan rasanya susah oleh hidung yang tersumbat. Malam ini, aku tidur dengan bayang-bayang wajah seseorang. ~~~
Kamis, 08-09-2028 Air mata berderai di atas gundukan tanah. Tak reda meski sudah lama berlangsung. Langit sudah menunjukkan warnanya. Warna jingga pertanda waktu senja. Burung terbang bersamaan dengan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan. Aku tertunduk, menatap nisan dihadapan. Tampak rapi dihiasi rumput hijau kecil. Sudah lama rasanya tak berkunjung. Rasa rindu di hati takkan bisa diungkapkan. Tak ingin berlama-lama lagi. Akhirnya ku putuskan untuk pulang. Pulang ke rumah ternyaman yang pernah ada. Memasuki gapura yang berdiri kokoh. Masih tegap walau sudah dimakan usia. Pak sopir memarkirkan mobilnya. Lantas ku bayar dengan tak lupa terima kasih sebanyak-banyaknya. Ketukan kuberikan pada pintu kayu coklat. Berharap disambut dengan gembira. Dan benar saja, pintu terbuka dan tampak semua tersenyum bahagia. 16
~~~ Abang pertama dengan sang istri beserta anak lakilaki. Abang kedua membawa sang calon. Jasmine dengan balutan gamisnya, sudah mulai berubah ternyata. Dan Zahra yang sedang bermain dengan sang ponakan. Disambut dengan gembira, itulah yang ku inginkan. Tetapi seperti ada yang kurang. Seperti tau yang aku cari. Jasmine menunjuk ke arah dapur tanpa ku tanya terlebih dahulu. Disana, di depan kamar mandi. Ibu berdiri dengan senyumannya. Perlahan diriku maju niat memeluk. Pelukan hangat yang ku kira tak akan dapat lagi tuk selamanya. 17 “Meet your mother and brothers and sisters. visit them, love them. While you can, don ’t regret it.”
TENTANG PENULIS Siti Warohmah adalah anak ketiga dari lima bersaudara, lahir pada tanggal 02- 03-2008. Sebagai seorang pelajar, ia suka akan buku-buku cerita untuk mengisi waktu luangnya. Mempunyai seorang ibu single membuatnya belajar akan banyak hal. XVII Jika ditanya cita-citanya apa? pasti Siti tak akan dapat menjawab. Banyak sekali citacita yang diingankan. Dari yang sederhana, sampai luar biasa. Dan juga mohon maaf sebesar-besarnya bila ada kata dan kalimat yang salah. Sekian terima kasih. special thanks to: Ibu Tutut, selaku guru mapel. (yang mengawasi dan mengajari dalam pembuatan buku digital). Ibu dirumah dan saudara-saudariku,(yang selalu mendukung dibalik dan depan layar). Teman-teman, (yang selalu mendukung dan setia menemani). dan untuk diri sendiri.
Fie, ini ayah bawakan sate padang kesukaan mu. Nak, ini ayah bawakan martabak telur pakde Ratmo. Alhamdulilah ayah lagi dapat rezeki. Sofie, Alhamdulillah ayah punya uang. Kita beli bakso ya untuk ulang tahun anak ayah yang ke 12. Perjalanan kehidupan sehari-hari. Perjuangan seorang Noura Sofie, seorang perempuan muda. Sang ibu yang menderita penyakit mengharuskan ia tuk tetap berjuang mencari penghasilan. Tak hanya itu, dengan adanya kabar bahwa perusahaan mengalami kebangkrutan, maka ia diberi pilihan. Tetap bertahan, atau meninggalkan. Akankah sofie dapat bertahan menjalani ini semua?