anak yang suka senja ARDHAN
anak yang suka senja ARDHAN EDITOR - ARDHAN DISTRIBUTOR - SMPN 3 BATAM
Aurora Lovania biasa dipanggil ara, adalah gadis yang saat ini tinggal di daerah pedesaan bersama dengan keluarga nya. Bulan depan Ara sudah berumur 17 tahun, ia sangat bersyukur masih diberi kehidupan sampai sekarang. Pagi ini udara di pedesaan sangat dingin, ditambah lagi Ara harus segera mandi karena pada pukul 09.00 pagi mereka harus berangkat dari desa ke kota, ayah mempunyai urusan di kota mau tidak mau Ara dan mama harus mengikutinya "Ara, ayo bangun. Kamu mau mama tinggal?" tanya mama yang berada di balik pintu "Iya ma, Ara bangun" balas Ara dengan suara lelah nya "Mama tunggu kamu di bawah, lima belas menit kamu belum siap-siap mama tinggal" ancam mama yang membuat Ara segera berlari menuju kamar mandi. sekitar sepuluh menit kemudian, Ara sudah selesai memakai pakaian nya lalu berlari menuju ruang tamu menemui mama yang sudah menunggunya. 1
"Kakek dimana?" tanya Ara kepada mama yang sedang sarapan pagi "Lagi ngobrol-ngobrol di luar sama papa" jawab mama Ara mengangguk paham lalu berjalan mendekati tempat papa berada. "Pa, beneran mau hari ini pergi nya?" tanya Ara menunjukkan raut wajah sedihnya "Mau gimana lagi? Papa ada urusan di kota, kalau kamu tinggal disini terus sekolah kamu gimana?" "Mau gimana lagi? Papa ada urusan di kota, kalau kamu tinggal disini terus sekolah kamu gimana?" "Padahal aku udah nyaman disini tinggal sama nenek" "Oh jadi mau nya tinggal sama nenek?" "Hehehe.. bukan gitu, pa" "Ara, kamu kan sudah besar, kamu harus bisa ngertiin suasana papa kamu sekarang" sarkas nenek yang sedang duduk di halaman "Kapan-kapan kamu bisa kesini lagi, nenek akan menunggu kedatangan Ara" lanjut nenek "Iya, nek. Tapi kalau Ara kangen sama nenek gimana?" "Ara kan pernah foto sama nenek" jawab papa "Iya iya, tapi papa harus janji sama Ara. Ara pingin lihat sanset di pantai" ucap Ara "Iya, setelah kita sampai di kota papa turuti kemauan Ara untuk lihat sanset" "Yes! Makasih papa!"teriak Ara bahagia 2
Sanset ataupun senja adalah sumber bahagia Ara. Sederhana saja ia bisa melihat sanset bersama keluarga nya saja membuat hati nya bahagia. Ara berlari menuju kamar nya dan mengambil sebuah kotak yang sudah ia buat tadi malam, sebenarnya kotak ini akan ia berikan kepada nenek dan kakek tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Sekarang jam menunjukkan pukul 07.30 pagi, Ara, mama dan juga papa sudah bersiap untuk pergi meninggalkan desa. "Nek, ini Ara ada hadiah untuk nenek dan kakek, semoga suka ya" ucap Ara tersenyum mendapatkan kotak nya diterima oleh nenek dan kakek "Makasih ya Ara, hati-hati dijalan" kata nenek setelah mengambil kotak pemberian Ara Tidak lama kemudian, mobil yang Ara tumpangi berjalan menjauh dari rumah kediaman nenek dan kakek. Rasanya sangat sedih sekali meninggalkan nenek dan kakek serta teman-teman yang Ara kenal di sini, kemarin ia sudah berpamitan kepada teman-teman. "Besok kamu sudah mulai sekolah ya, Ara" ucap mama yang berada di kursi depan "Iya, ma" Sepertinya saat ia sampai di rumah Ara akan segera mengistirahatkan tubuh nya yang terasa sangat lelah, ditambah lagi pikiran nya yang sedang sedih. 3
Hari mulai berlalu, tiba lah dimana hari Ara akan mulai berangkat sekolah setelah pulang dari kampung nya. Semua teman-teman nya merasa sangat bahagia melihat kehadiran Ara di sekolah. "Kamu lama banget pulang nya, aku jadi gak bisa contek tugas kamu jadinya" kata Vivi teman sebangku Ara "Makanya jangan suka contek! Jadi susah kan ngerjain tugasnya" "Yang penting sekarang kamu udah disini, yang artinya aku akan mulai contek tugas kamu" "Orang gila!" sarkas Ara merasa kesabaran nya sudah habis "Oh iya, mama sama papa kamu gimana?" tanya Vivi Vivian yovanka adalah teman dekat Ara, mama nya sudah mengenal Vivi sejak Ara berada di bangku kelas 5 SD karena Vivi dan Ara dari SD sudah satu sekolah dan juga teman sebangku. "Baik, habis pulang sekolah aku, mama sama papa mau lihat sanset, kamu mau ikut?" tawar Ara yang sudah menyadari bahwa Vivi akan menolaknya 4
"Enggak deh, aku nanti sore mau pergi sama mama" sontak Vivi menolaknya "Oh begitu, okelah" "Ara" panggil seseorang Ara menoleh ke sumber suara itu. "Ada apa?" "Lihat devano gak?" "Enggak, emangnya dia kemana sampai kalian cariin gitu?" "Dia kabur dari rumah" "Lah?! Kok bisa?!" "Bokap sama nyokap nya bertengkar" jelas Ansel teman sekelas Ara "Terus sampai sekarang vano belum ketemu?" "Belum, setelah pulang sekolah baru gue sama kara cari keberadaan nya vano" "Maaf, aku gak bisa bantuin kalian" "Gak apa-apa, lagian ini bukan salah lo jadi Lo gak perlu minta maaf" 5
Ara tersenyum gugup saat mendengar jawaban dari Ansel. Tapi ada benar nya juga, lagian ini bukan salah Ara. Jam pelajaran dimulai, Ara mengikuti setiap proses pembelajaran. Dia tidak begitu pintar dan juga tidak begitu bodoh, ia berada di tengah-tengah keduanya tapi rasa semangat belajar Ara lah yang membuat nya ingin menjadi pintar Tidak kerasa jam pulang akan tiba, Ara segara menyusun buku-buku maupun alat tulis yang sudah selesai ia gunakan. "Ara, aku pulang dulu ya" pamit Vivi sebelum berjalan keluar dari dalam kelas "Iya, hati-hati dijalan" Ara yang sudah selesai membereskan buku-buku dan berbagai perlengkapan lainnya mulai berjalan keluar dari dalam kelas. Ia sudah tidak sabar melihat sanset di pantai bersama dengan keluarga nya, pasti sangat seru! 6
Setibanya Ara di depan gerbang sekolah ia melihat mobilnya yang tengah menunggu kehadiran nya, pasti papa dan mama berada di dalam. Hal itu membuat Ara berlari mendekati mobilnya yang terparkir tanpa berlama-lama ia mulai masuk kedalam mobilnya. "Pa, hari ini jadi kan kira ke pantai?" tanya Ara bersemangat "Hari ini kita gak ke pantai, papa sibuk urusan kantor, mama kamu juga lagi sibuk" balas papa dengan pandangan lurus menghadap arah jalanan Ara yang mendengar jawaban itu membuat wajahnya murung. "Jadi kapan, pa? Selama hidup Ara, Ara gak pernah lihat senja sama mama, dan papa". sedih ara "Lain waktu" "Pa, selama Ara hidup papa gak pernah mau turuti janji papa ke Ara. Contoh nya kayak sekarang padahal waktu di rumah nenek papa udah janji ke Ara untuk pergi ke pantai sama mama, tapi buktinya apa? Papa ingkar sama janji itu" 7
"Papa sibuk Ara! Papa kerja buat kamu hidup! Kamu udah besar harusnya kamu tahu posisi kamu sebagai anak jangan nyusahin orang tua!" bentak papa yang membuat Ara tidak habis pikir "Tapi pa-" "Gak ada tapi-tapi! Kalau kamu mau pergi ke pantai pergi san sendiri!" Setelah kejadian itu tidak ada percakapan diantara Ara dan papa. Hening, saat sampai di depan rumah papa langsung pergi meninggalkan Ara yang masih setia berdiri di depan rumah tanpa berjalan masuk. Ara segera mengambil ponsel di dalam tas nya dan memesan gojek untuk mengantarkan nya ke tempat tujuan. Angin pantai terasa sejuk ditambah lagi dengan matahari yang hampir tenggelam. Ara duduk di tumpukan pasir pantai yang halus. Mata nya terfokus melihat kearah matahari yang hampir terbenam, indah, tenang, cantik, kehangatan itulah yang Ara rasakan. 8
aa"Aku cuma mau mama sama papa gak ingkar janji. Aku mau mama dan papa lihat senja yang bagus ini, itu udah buat aku bahagia" ucap nya yang masih saja terfokus melihat matahari yang hampir terbenam "Benar apa yang papa bilang, aku udah besar harus bisa ngertiin perasaan orang tua juga. Aku salah, aku minta maaf" ucap Ara menunduk kepalanya "Lo gak salah sepenuhnya, gak ada salahnya juga kan anak meminta kepada ke dua orang tua nya?" sarkas seseorang yang membuat Ara mencari sumber suaranya "Devano?!" "Gue cuma cari ketenangan, gue bosen di rumah dengerin suara bokap nyokap gue bertengkar, menurut mereka itu satu hari gak bertengkar itu rasanya kurang. Sakit telinga gue yang ada dengerin celotehan mereka" ucap nya lalu duduk disebelah Ara "Cantik ya sanset nya" lanjut devano "Iya" "Lo gak perlu sedih, kalau orang tua lo gak bisa temenin lo untuk ngelihat senja, lo bisa ajak gue, gue bakal ada" jelas devano "Makasih" "Jangan sedih, kasihan matahari nya kalau lo sedih padahal dia mau tenggelam dengan tenang" ucap devano ngasal yang membuat Ara tersenyum kecil. 9
"Lo gak perlu sedih, kalau orang tua lo gak bisa temenin lo untuk ngelihat senja, lo bisa ajak gue, gue bakal ada" jelas devano "Makasih" "Jangan sedih, kasihan matahari nya kalau lo sedih padahal dia mau tenggelam dengan tenang" ucap devano ngasal yang membuat Ara tersenyum kecil "Senja itu indah, cantik, tenang, tidak ingkar janji, senja bakal ada tepat waktu tanpa kita meminta nya, bahkan senja bisa membuat orang menatapnya dengan tatapan yang dalam, makanya aku suka sama senja". Ucap Ara tersenyum lebar melihat matahari yang sudah tenggelam TAMATTT
senja itu langit yang begitu indah malam hari yang begitu tenang dan "senyuman ibu yang bikin kita tenang" Ardhan
profil penulis nama- ardhan lahir- 26 Agustus 2008 hobi- dikit aja instragram- @lagiitdrr