The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mardiyantimrs, 2021-11-11 23:02:49

MERAJUT ASA DAN RASA MIRANDA

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kesempatan dan ide untuk dapat menyelesaikan buku yang berjudul
“Merajut Asa dan Rasa Miranda” ini dengan tepat waktu. Adapaum tujuan dari
penyusunan buku ini adalah sebagai bentuk partisipasi penulis dalam kegiatan
Lomba Hari Guru Nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota
Surabaya.

Keberhasilan penyusunan buku ini tidak lepas dari dukungan kepala SDN
Krembangan Utara II/57 Kota Surabaya yang sudah memberikan kepercayaan
kepada penulis untuk mewaliki kegiatan ini, rekan-rekan Staf dan Guru SDN
Krembangan Utara II/57 Kota Surabaya yang telah memberikan dukungan moral,
serta keluarga penulis yang senantiasa selalu mendoakan penulis untuk mejadi
pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

Penulis mengucapkan terima kasih atas moivasi dan dukungan dari Kepala
Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs. Supomo,MM, Kepala Bidang GTK Mamik
Suparmi, M.Pd, Kepala SDN Krembangan Utara II/57 Dakhelan Suwito,
S.Pd.,M.Pd, serta seluruh pihak-pihak terkait yang tidak dapat penulis sebutkan satu
per satu.

Buku yang ada di hadapan pembaca ini tentu tidak luput dari kekurangan,
serta penamaan dalam tokoh yang terkadung dalam cerita di buku ini hanya fiktif
belaka, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam alur cerita ini
terdapat hal-hal yang kurang berkenan.

Surabaya, 06 Nopember 2021
Penulis.

i

DAFTAR ISI
1. Kata Pengantar ......................................................................................... i
2. Daftar Isi................................................................................................... ii
3. PROLOG.................................................................................................. 1
4. BAB 1 : Keluarga..................................................................................... 2
5. BAB 2 : Cita-Cita Yahya ......................................................................... 6
6. BAB 3 : Kampus Impian.......................................................................... 9
7. BAB 4 : Pertemuan .................................................................................. 14
8. BAB 5 : Badai Menyapa ......................................................................... 19
9. BAB 6 : Semangat Baru........................................................................... 22
10. BAB 7 : Tawaran Tak Terduga................................................................ 24
11. BAB 8 : Menjemput Impian .................................................................... 26
12. BAB 9 : Berita Duka ................................................................................ 27
13. EPILOG .................................................................................................. 29
14. Biodata Penulis ....................................................................................... iii

ii

PROLOG
Miranda seorang gadis berusia 20 tahun yang berasal dari sebuah desa di
lereng gunung, di Pulau Jawa. Memulai karirnya sebagai karyawan di salah satu
perusahan swasta ternama di negara Indonesia, berkat kegigihannya dalam bekerja
kini dia menjadi seseorang yang di segani oleh banyak orang.
Teman-temannya menganggap Mira sebagai anak yang beruntung, karena
ayahnya seorang pegawai, kakaknya sebagai petugas penegak hukum, dan ibunya
adalah seorang ibu rumah tangga yang mencurahkan hidupnya untuk keluarga.
Inilah yang membuat karakter Mira menjadi pribadi yang manja, selalu bergantung
kepada orang tua dan tidak berani menerima tantangan.
Akankah Mira dapat menghadapi tantangan hidup ketika Mira mendapatkan
pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan yang di tempuhnya? Atau dapatkah
Mira meraih cinta dan cita-citanya ketika dia kehilangan orang yang dia sayang?
Siapakah tokoh dibalik perubahan karakter Mira yang sebenarnya?

1

BAB 1
KELUARGA

Sumber https://borobudurwriters.id/situs/pawitrapradaksinapatha-dan-parwatarajadewa/

Mira adalah seorang gadis dari desa yang terletak di kaki Gunung sebuah
kabupaten di Pulau Jawa.. Orang tuanya bekerja sebagai guru di sekolah dasar dan
ibunya seorang ibu rumah tangga. Dia memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat
menyayanginya, Yahya nama kakak laki-lakinya. Mira sangat dimanja oleh
keluarganya, berangkat sekolah ataupun pulangnya selalu diantar jemput oleh Pak
Anto ataupun Yahya. Walaupun begitu, Mira memiliki kepribadian yang ramah,
riang, rajin, ulet dan bercita-cita yang tinggi.

Ayah Mira, Pak Anto bekerja sebagai guru di sekolah dasar. Setiap pagi
beliau berangkat naik sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja. Jalanan naik
turun berliku-liku terkadang sedikit terjal,beliau lalui setiap harinya. Di kanan kiri
masih tampak hutan pinus yang tumbuh dengan subur, udaranya terasa sangat
segar, selain itu rumah pemukiman warga juga masih terlihat jarang. Jarak yang
ditempuh kurang lebih 13 km untuk sampai di sekolah tempat Pak Anto mengajar.

Pagi itu seperti biasanya Bu Rubi, ibu Mira bangun pagi-pagi untuk
menyiapkan keperluan suami dan anak-anaknya. Setiap pagi Bu Rubi sibuk di
dapur, membuat sarapan, menyiapkan air hangat untuk Pak Anto mandi dan
secangkir teh tawar kesukaannya.

2

“Kakak…Adik…ayuk bangun” Teriak Bu Rubi dari dapur untuk
membangunkan Mira dan Yahya.

Tak lama kemudian Mira bangun lalu berjalan dari kamar tidurnya menuju
dapur untuk menyapa ibunya.

“Selamat pagi ibuku sayang…Mira mandi dulu iya”. Sapa Mira ketika
menghampiri Bu Rubi. Tak lama kemudian Yahya juga bangun dan menyusul ke
dapur untuk menyapa ibunya juga.

“Selamat pagi ibu, Yahya sudah bangun” Sapa Yahya kepada Bu Rubi.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 05.30, Pak Anto, Mira,
Yahya, dan Bu Rubi sudah bersiap makan bersama di meja makan. Keluarga Pak
Anto selalu membiasakan untuk makan bersama ketika mereka berkumpul. Ini
adalah salah satu cara Pak Anto untuk menjalin keakraban antar anggota keluarga.
“Yahya hari ini apakah ada kegiatan di sekolah nak?” tanya Pak Anto.
“Yahya nanti ada kegiatan di lapangan Telkom pak, meliput kegiatan
lomba band sekolah. Jadi Yahya pulang agak sore iya pak?” ijin Yahya sekaligus
menjawab pertanyaan Pak Anto.
“Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati nak ketika meliput nanti.” Pesan Pak
Anto untuk Yahya.
“Baik pak” jawab Yahya.
“Mira nanti apakah ada kegiatan juga di sekolah nak?” Tanya Pak Anto
kepada Mira.
“Mira tidak ada kegiatan di sekolah pak, tapi nanti Mira ada les Bahasa
Inggris di tempat kursus. Bolehkah Mira pulangnya dijemput bapak?” Tanya Mira
sambil memasang wajah memelas. Begitu cara Mira merayu ke Pak Anto agar dapat
terkabul keinginannya.
“Baiklah kalau begitu, nanti bapak jemput Mira di tempat kursus pukul
berapa?” Jawab Pak Anto memenuhi keinginan anak bungsunya.
“Pukul 5 sore pak” Jawab Mira.
“Baiklah kalau begitu, nanti bapak jemput di tempat kursus. Jangan
kemana-mana kalau bapak belum datang. Tunggu di tempat kursus saja ya nak.”
Pesan Pak Anto.

3

“Baik Pak…Bapak memang yang terbaik”. Jawab Mira sambil tersenyum
lebar.

“Sudah pukul 06.00 Pak, Mira, Yahya, ayuk segera diselesaikan
sarapannya. Jangan lupa dibawa ke dapur juga piring kotornya”. Kata Bu Rubi
mengingatkan anak-anaknya untuk segera menyelesaikan sarapannya.

Mira dan Yahya berangkat ke sekolah bersama, mereka naik sepeda motor,
pemberian Pak Anto untuk Yahya. Mereka bersekolah di sekolah yang sama hanya
berbeda tingkatan saja, Mira di kelas 2 SMA dan Yahya di kelas 3. Jarak tempuh
sekolah dengan rumah sekitar 20 km. Membutuhkan waktu 30 menit jika
menggunakan sepeda motor dan membutuhkan waktu 1 jam jika naik angkutan
umum.

Angkutan umum di desa mereka tinggal, tidak melewati jalanan depan
rumah mereka setiap saat. Jika angkutan umum tersebut sudah lewat, maka akan
membutuhkan waktu kurang lebih 30-45 menit untuk angkutan umum berikutnya
lewat di jalan depan rumah Mira. Oleh sebab itu, Pak Anto membelikan sepeda
motor untuk Yahya, agar mempermudah sarana transportasi mereka ketika
berangkat dan pulang sekolah. Selain menghemat waktu, juga menghemat biaya,
Maklum gaji Pak Anto sebagai pegawai tidaklah banyak, yang pasti cukup untuk
biaya hidup dan sekolah anak-anaknya.

Keluarga Pak Anto adalah keluarga yang sederhana. Mereka tidak sombong,
mudah bergaul, ramah, ringan tangan ketika ada tetangga yang membutuhkan, serta
terkenal sebagai keluarga yang harmonis, Anak-anak mereka adalah anak-anak
yang baik, tidak banyak bertingkah, rajin, dan patuh kepada kedua orang tuanya.
Setiap orang yang melihat keluarga ini kagum dan bangga. Seakan-akan mereka
adalah panutan untuk warga di desa tempat mereka tinggal.

Profesi Pak Anto sebagai seorang pendidik yang membuat Pak Anto harus
mendidik anak-anaknya lebih disiplin, agar mereka menjadi pribadi yang santun,
sopan kepada semua orang, ramah, serta jauh dari hal-hal yang menyimpang. Tentu
saja hal ini, sangat diperhatikan penuh oleh kedua anakanya, mereka tidak ingin

4

membuat marah kedua orang tuanya, atau mencoreng nama baik keluarga. Sebagai
seorang ibu rumah tangga, Bu Rubi mendukung penuh apa yang sudah menjadi
aturan suaminya. Mereka berdua sama-sama kompak dalam mendidik kedua buah
hati mereka, agar menjadi orang yang berguna dimasa mendatang.

5

BAB 2
CITA-CITA YAHYA

Pengumuman kelulusan siswa kelas 3 Sekolah Menengah Atas Negeri 01
tempat Yahya bersekolah, hari ini telah dilaksanakan. Pak Anto datang ke sekolah
untuk mengambil undangan berupa keterangan lulus atau tidak lulus bagi siswa
kelas 3 sekolah tersebut. Pak Anto datang dengan menggunakan motor
kesayangannya. Perasaan deg-degan dan was-was dirasakan oleh Yahya, karena dia
takut hasil yang dia capai tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Puji syukur, diucapkan oleh Pak Anto atas hasil yang dicapai oleh Yahya.
Dia telah lulus dengan nilai yang memuaskan di kelasnya, dia meraih juara pertama
terbaik di sekolah. Tidak sia-sia apa yang dilakukan oleh Yahya, walupun dia sibuk
dengan segala aktifitasnya, tetapi dia tidak lupa dengan prestasi akademiknya.

Malam harinya, Pak Anto, Bu Rubi, Yahya dan Mira berkumpul bersama di
ruang keluarga sambil menonton TV. Pak Anto bertanya kepada Yahya terkait
rencana dia setelah lulus sekolah.

“Yahya, setelah ini, apa yang kamu inginkan untuk aktifitas selanjutnya?
Apakah kamu berniat untuk kuliah lagi atau bagaimana?” Tanya Pak Anto.

“Yahya ingin langsung bekerja saja pak”. Jawab Yahya.
“Kamu mau bekerja dimana nak?” Tanya Pak Anto lagi.
“Belum tahu pak, tapi bolehkan jika Yahya ingin jadi aparatur penegak
hukum, pak?” Jawab Yahya.
Beberapa waktu berlalu setelah pembicaraan terakhir Yahya dengan Pak
Anto tentang keinginan Yahya untuk menjadi seorang aparatur penegak hukum.
Pak Yahya berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan biaya masuk menjadi
seorang aparatur penegak hukum, beliau tahu bahwa biaya ini tidaklah murah.
Apalagi jika mengandalkan gaji bulanan saja tidak akan cukup.
“Ibu, Yahya ingin menjadi seorang aparatur penegak hukum, bagaimana
menurut ibu?” Tanya Pak Anto sambil duduk-duduk santai di teras rmah ketika sore
harinya.
“Menurut ibu, gak papa tapi bagaimana dengan biaya yang harus kita
siapkan Pak? “. Tanya Bu Rubi dengan nada khawatir.

6

“Bapak dengar biaya yang dibutuhkan untuk pendaftaran aparatur penegak
hukum kurang lebih 70 juta bu, itupun belum biaya yang lain-lain bu ”.

“ Kalau memang Yahya ingin meraih cita-citanya Pak. Masalah biaya nanti
kita dapat menjual tanah kita Pak. Bagaimana menurut Bapak?”

“Ya sudah Bu, kalau memang ibu berpendapat seperti itu. Bapak setuju
saja, terima kasih atas pengertiannya Bu”.

“Sama-sama, Pak“. Jawab Bu Rubi sambil tersenyum kepada suamimya.

Beberapa hari setelah percakapan antara Pak Anto dengan istrinya pada sore
hari itu, sebagai kepala keluarga tentu Pak Anto harus memikirkan rencana lain,
karena Pak Anto berpikir tidak mudah menjual tanah dalam waktu singkat Beliau
masih memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang tambahan agar cita-cita
Yahya menjadi seorang aparatur penegak hukum dapat terwujud.

Hari-hari berlalu dengan cepat, tanpa terasa tiba waktu untuk Yahya mulai
mendaftarkan diri sebagai seorang calon aparatur penegak hukum. Yahya pun
mendaftarkan diri dengan diantar oleh Pak Anto. Mereka berdua berangkat dengan
menggunakan motor kesayangan Pak Anto, mereka berangkat pagi-pagi sekali.
Segala berkas yang dibutuhkan sudah dipersiapkan oleh Yahya pada malam
harinya, akan tetapi untuk memastikan bahwa berkas yang dibawa sudah lengkap
dan tidak ada yang tertinggal satupun, maka tidak ada salahnya Yahya
memeriksanya kembali sebelum berangkat.

“Ibu…Yahya berangkat dulu iya, jangan lupa doakan Yahya selalu bu agar
urusan Yahya disana berjalan lancar tanpa ada kendala apapun”. Pamit Yahya
kepada Bu Rubi sambil mencium tangan serta pipi ibunya.

“Iya, nak. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak ibu, tapi
kamu sendiri jangan lupa berdoa kepada Tuhan sebelum dan sesudah memulai
sesuatu hal”. Nasehat Bu Rubi kepada Yahya.

“Ayo berangkat nak, keburu siang”. Ajak Pak Anto kepada Yahya
“Iya pak” Jawab Anto sambil memakai tas rangsel tempat berkas
kelengkapannya disimpan.

7

Tahap demi tahap telah dilalui Yahya, mulai dari seleksi administrasi, tes
fisik, tes akademik, tes psikologi, telah dilaluinya dengan baik. Sebab Yahya
memang sudah mempersiapkannnya sedari awal, dia tahu betul bahwa untuk
menjadi seorang aparatur penegak hukum tidak hanya dibutuhkan nilai akademik
yang cukup, tetapi juga dibutuhkan kesehatan fisik, dan ketahan mental yang kuat.
Pantukir adalah bentuk tes akhir yang harus dihadapi Yahya sebagai bentuk
penentuan apakah dia akan lolos atau tidak.

Di sisi lain lain, Pak Anto dan Bu Rubi sudah mulai memikirkan biaya yang
harus mereka siapkan jika Yahya lolos tes akhir tersebut. Sebab sampai sekarang
tanah yang mereka tawarkan untuk persiapan biaya daftar ulang Yahya belum laku
terjual.

Segala kekhawatiran yang Pak Anto rasakan ini, tidak terlihat dimata anak-
anak mereka. Karena sebagai kepala keluarga Pak Anto tidak ingin, anak-anak
mereka ikut memikirkan masalah yang terjadi di dalam keluarga mereka. Biarlah
anak-anak fokus terhadap masa depan mereka masing-masing. Tugas orang tua
mengantarkan anak-anak mereka menuju gerbang masa depannya.

Pucuk dicinta ulampun tiba, ketika Pak Anto mendapatkan kabar bahwa
Yahya lolos tes tahap akhir seleksi calon aparatur penegak hukum, Pak Anto juga
mendapatkan kabar bahwa tanah yang mereka tawarkan juga laku dibeli oleh salah
satu rekan beliau. Sehingga apa yang menjadi kekhawatirannya selama ini, dapat
terselesaikan dengan baik. Sungguh Tuhan memang baik, telah mempersiapkan apa
yang menjadi kebutuhan umatnya dengan waktu yang tepat. Ucapan syukur selalu
dipanjatkan oleh Pak Anto bersama dengan istrinya, tak lupa beliau juga mengajak
anak-anak mereka untuk berdoa bersama atas anugerah yang keluarga ini dapatkan.

Waktu demi waktu berlalu, Yahya kini telah menjalani pendidikan di pusat
pelatihan aparatur penegak hukum yang terketak di Pulau,Jawa. Pelatihan yang
sungguh menguras pikiran dan fisik, apalagi tidak ada hari libur untuk Yahya dapat
berkumpul bersama keluarga. Tetapi itu semua tidak mematahkan semangat dan
tekad Yahya dalam menggapai cita-citanya. Sesekali jika memungkinkan, Yahya
akan menelepon keluarganya untuk memberi kabar bahwa dia baik-baik saja.

8

BAB 3
KAMPUS IMPIAN

Selepas dari sekolah menengah atas, Mira berkeinginan untuk melanjutkan
kuliah di kota yang mendapatkan julukan kota dingin tersebut. Mira meminta ijin
kepada ayah dan ibunya untuk dapat melanjutkan kuliah di universitas negeri di
kota tersebut.

“Bapak…Ibu…setelah lulus nanti, bolehkan Mira melanjutkan keperguruan
tinggi negeri di kota?” Tanya Mira ketika mereka sedang duduk santai di ruang
keluarga.

“Kalau Bapak tidak keberatan, boleh-boleh saja asal kamu kuliah dengan
benar” Jawab Pak Anto

“Ibu juga mendukung apa yang menjadi keinginan kamu nak, akan tetapi
kalau boleh ibu tahu kamu ingin mengambil jurusan apa nak?” Tanya Bu Rubi

“Mira ingin menjadi dosen biologi bu” Jawab Mira bangga.
“Ya sudah, tidak apa-apa apapun keinginan kamu itu, asal kamu
bersungguh-sungguh pasti dapat terwujud nak, tapi jangan lupa untuk berdoa.
Berusaha tanpa diikuti dengan doa semuanya menjadi sia-sia. Akan tetapi kalau
boleh ibu memberikan saran, apakah kamu tidak ingin mendaftar jurusan guru
sekolah dasar saja seperti bapak nak?” Jawab Bu Rubi dengan penuh kasih sayang.
“Nanti Mira pertimbangkan bu. Masalah berdoa, Mira tidak lupa untuk itu
bu”. Jawab Mira sambil memeluk ibunya.

Masa pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur SNPTN telah dibuka, Mira
mendaftarkan diri untuk juruan biologi sebagai pilihan pertama, dan jurusan
administrasi perkantoran untuk pilihan kedua. Mira berangkat seorang diri ke
kampus yang dia tuju untuk melaksanakan tes masuk perguruan tinggi negeri,
walupun sebenarnya Pak Anto ingin mengantar Mira. Akan tetapi tugas kedinasan
yang tidak dapat ditinggalkan, sehingga beliau tidak dapat ijin di hari itu.

9

Mira berangkat dengan menggunakan angkutan umum, walaupun ini
pengalaman pertama Mira untuk bepergian seorang diri, tetapi Mira berusaha untuk
berani dan berharap sampai di tempat tujuan dengan selamat. Selama di dalam
perjalanan Mira tak henti-henti memanjatkan doa agar dia tidak bertemu dengan
orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Berbekal informasi yang
disampaikan oleh Pak Anto, Mira akhirnya sampai di kampus tujuan dengan
selamat.

Sumber : https://www.hmimipaum.web.id/2020/09/denah-kampus-um-2020.html

Ketika sampai di kampus yang Mira tuju, disana terlihat gedung-gedung
tinggi bertingkat yang terbagi menjadi beberapa blok. Universitas impian Mira
adalah Universitas Negeri Malang. Universitas Negeri Malang, disingkat UM,
merupakan perguruan tinggi negeri yang terletak di Malang dan Blitar, Jawa
Timur, Indonesia. Universitas yang didirikan pada tanggal 18 Oktober 1954 ini
sebelumnya bernama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Malang, lalu IKIP
Malang (1964–1999) yang membuatnya menjadi salah satu IKIP tertua di
Indonesia.

Cikal bakal Universitas Negeri Malang adalah Perguruan Tinggi
Pendidikan Guru (PTPG) di Malang yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan,
Pengajaran, dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Mr. Mohammad Yamin,
pada tanggal 18 Oktober 1954 berdasarkan SK Nomor 38742/Kab tanggal 1
September 1954. Bersamaan dengan itu pula, Prof. Sutan Adam
Bachtiar ditugaskan sebagai Rektor PTPG Malang.

Pada awal pendiriannya, PTPG Malang mempunyai lima jurusan perintis,
yaitu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Sejarah dan
Budaya, Ilmu Ekonomi, serta Ilmu Pasti Alam. Adapun, perkuliahan

10

diselenggarakan di gedung SMA Tugu (sekarang SMA Negeri 1, SMA Negeri 3,
dan SMA Negeri 4 Malang). Setahun kemudian, tepatnya sejak tanggal 20
Juni 1955, PTPG memiliki gedung sendiri di bekas Hotel Splendid yang terletak di
Jalan Tumapel 1, Malang.

Dari segi akademis, PTPG memulai penyelenggaraan pendidikan dari
jenjang bakaloreat (sarjana muda) dengan masa studi selama tiga tahun. Kemudian,
pada tahun 1959, mulai dibuka jenjang lanjutan, yaitu doktoral
atau acarya (sarjana) dengan masa studi selama dua tahun. Setelah beberapa tahun
melewati tahap konsolidasi, akhirnya pada tahun 1968, program post
sarjana (pascasarjana) dibuka dengan Jurusan Kependidikan sebagai jurusan
pertama. Selanjutnya, pada tahun 1982, program ini disempurnakan menjadi
Fakultas Pascasarjana yang terdiri atas Program Magister (S2) dan Program Doktor
(S3). Nama Fakultas Pascasarjana diubah menjadi Program Pascasarjana (PPs)
pada tahun 1990.

UM termasuk dalam lima puluh universitas unggulan Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi. Pada tahun 2010, universitas ini berhasil meraih peringkat 6
universitas terbaik di Indonesia versi Webometric. Pada tahun 2014, UM
mendapatkan akreditasi A dengan nilai 372, sedikit di bawah Universitas Gadjah
Mada (378) dan Institut Pertanian Bogor (375).
(https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Negeri_Malang)

Tes masuk perguruan tinggi telah selesai dilalui oleh Mira beberapa minggu
lalu. Tiba saatnya hasil pengumuman disampaikan melalui hari ini Mira menunggu
hasil pengumumannya dengan berdebar-debar. Orang tuanya memberikan
penguatan kepada Mira agar dia siap apapun hasilnya nanti.

“Nak, hari ini adalah pengumuman tes SNPTM ?” Tanya Pak Anto ke Mira.
“Iya pak, Mira kok deg-degan iya pak?”
“Yakin saja nak, apapun hasilnya nanti kamu harus terima. Tuhan pasti
kasih yang terbaik untuk kamu, nak”.
“ Iya pak, Mira siap apapun hasilnya nanti pak”.

11

Tiba-tiba ponsel Mira berbunyi, tanda notifikasi dari email tertera di layar
handphone Mira. Hal itu berarti bahwa hasil pengumuman sudah masuk di email
Mira. Mira membuka telepon genggamnya dengan hati-hati. Berdasarkan hasil
pengumuman tersebut, ternyata Mira diterima pada pilihan jurusan kedua yaitu
Pendidikan Administrasi Perkantoran.

“Bapak…Ibu…Mira di terima di Kampus Impian Mira” Kata Mira dengan
terharu lalu memeluk Ibu dan Bapaknya yang sedang berada di ruang keluarga.

“Selamat ya nak, setelah ini bapak akan mengantar kamu untuk mencari
tempat tinggal selama kuliah disana. Kira-kira kapan kamu akan mulai kuliah nak?”

“Mira belum tahu bapak, tapi nanti Mira masih harus ke kampus lagi untuk
daftar ulang pak”.

“Baiklah kalau begitu nak. Kamu sudah berani sendiri kesana atau perlu
bapak temani?”

“Tidak perlu pak, Mira sudah berani berangkat sendiri pak, kan Mira setelah
ini bukan anak kecil lagi pak”. Jawab Mira sambil tersenyum manja ke Pak Anto.

Pak Anto menanggapinya dengan tersenyum, begitu juga dengan Bu Rubi.
Tak lama kemudian mereka melanjutkan aktifitas mereka masing-masing.

Seminggu kemudian Mira berangkat ke kampusnya untuk daftar ulang,
sekalian dia mencari informasi tentang rumah indekos yang terletak tidak jauh dari
kampus tempat Mira belajar kelak. Mira tidak dapat mengendarai sepeda motor,
sehingga dia memilih tempat yang dekat agar terjangkau dengan jalan kaki.

Ketika Mira berjalan kaki meninggalkan kampus, Mira bertemu dengan
seorang gadisyang kebetulan berada di fakultas yang sama dengan Mira. Maya
nama gadis tersebut. Maya adalah seorang perempuan berasal dari daerah
Tulungagung, dia berperawakan sedang dengan tinggi 150 cm, berkulit putih, dan
berambut lurus panjang sampai ke pinggang. Maya juga memiliki kepribadian yang
riang, supel, dan ramah sehingga mudah berkomunikasi dan akrab dengan Mira
walaupun mereka baru saja bertemu.

12

“Kamu langsung pulang Mira?” tanya Maya ketika mereka sedang makan
siang di kantin fakultas.

“Iya May, maklum disini aku belum punya tempat tinggal. Jadi aku harus
pulang dulu ke rumah orang tuaku. Rencananya aku juga mau cari rumah indekos,
Mir. Tapi aku juga belum tahu dimulai dari mana”. Jelas Mira dengan wajah lelah.

“Aku disini sudah dapat tempat tinggal Mir, apakah kamu mau lihat tempat
tinggalku. Siapa tahu kamu juga cocok, jadi kita bisa tinggal bersama kan.
Harganya juga tidak mahal Mir, sebulan tiga ratus rupiah”. Kata Maya dengan
tersenyum.

“Baiklah May, ayo kita lihat bersama sebelum aku pulang nanti”. Jawab
Mira dengan tersenyum lebar.

Mira dan Maya menyelesaikan makan siang mereka, kemudian berangkat
ke rumah indekos Maya. Mereka berangkat dengan berjalan kaki karena memang
letaknya tidak jauh dari kampus mereka. Sesampainya di rumah indekos Maya,
Mira dipersilahkan masuk. Ternyata rumah indekos Maya cukup nyaman,
rumahnya bersih, asri, terdapat 10 kamar di dalam rumah tersebut dengan
dilengkapi fasilitas yaitu dapur bersama, 4 kamar mandi yang dapat dipakai
bersama-sama, ruang tamu, 2 kursi yang diletakkan di teras depan, serta garasi
tempat menyimpan kendaraan penghuni indekos. Dari 10 kamar yang tersedia, ada
6 orang yang sudah mengisi kamar indekos di rumah tersebut. Melihat kondisi
indekos Maya, Mira tertarik untuk tinggal disana juga

.

“Bapak…Ibu…tadi di kampus Mira bertemu dengan teman baru, Maya
Namanya. Dia berasal dari Tulungagung dan kebetulan kami satu fakultas juga.
Mira tadi sempat diantar Maya juga ketika mencari tempat indekos disana, Mira
melihat rumah indekos Maya cukup nyaman, bersih, dan juga dekat dengan kampus
pak. Jadi bolehkan Mira tinggal di sana juga bapak…ibu…?” Ijin Mira ketika
mereka sedang berkumpul bersama malam harinya.

“Iya tidak apa-apa nak, tapi nanti bapak dan ibu akan mengantar Mira
kesana sekalian melihat tempat indekos kamu iya nak?” Tanya Bu Rubi.

13

BAB 4
PERTEMUAN

Perkuliahan sudah dimulai, Mira dan Maya sudah mulai sibuk dengan
kegiatan perkualiahannya. Pagi itu cuaca agak mendung, tetapi gerimis belum
terlihat di langit. Mira berjalan seorang diri dengan sedikit berlari-lari kecil, pada
pagi ini Mira bangun sedikit terlambat. Ketika sedang berlari, tanpa sengaja Mira
menabrak seseorang., Mira hampir saja terjatuh, untungnya ada tangan seseorang
yang memegang tangannya.

“Maaf…maaf…saya tidak sengaja”. Kata Mira meminta maaf
“Tidak apa-apa, hati-hati. Jalanan agak licin juga sih”. Kata orang tersebut.
Mira memperhatikan wajah dari orang tersebut, tetapi karena waktu sudah
menunjukkan hampir pukul tujuh tepat, Mira menundukkan kepala dan pamit undur
diri. Tak lupa pula dia juga menyampaikan terima kasih kepada orang tersebut
karena sudah menolongnya.
Sesampainya di ruang kelas, Mira duduk sambil terengah-engah, menarik
napas panjang untuk menstabilkan pernafasannya. Pada menit berikutnya, profesor
tiba di ruang kelas, Mira dan teman-temannya duduk dengan tenang karena hari ini
ada kuis pada materi perkuliahan beliau. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan
perkuliahan ini berakhir.
“Terima kasih perkuliahan hari ini telah selesai, jangan lupa untuk tugas
berikutnya silahkan mencari referensi tentang perpajakan, saya akan buat metode
diskusi pada pertemuan berikutnya” Kata profesor ketika mengakhiri perkuliahan.
“Baik prof” Jawab Mira dan teman-temannya.
Profesor keluar dari ruang kelas, kemudian di susul oleh mahasiswa
mahasiswi yang mengikuti perkuliahan tersebut, termasuk Mira. Dia pergi ke kantin
fakultas untuk makan siang. Akan tetapi karena kantin fakultas pendidikan penuh,
maka Mira memutuskan untuk pergi ke fakultas yang lain. Fakultas ekonomi adalah
tujuan Mira, selain tempatnya lebih dekat, makanan disana juga enak. Jangan di
tanya masalah harga, kantin di fakultas ini harganya juga ramah di kantong untuk
ukuran mahasiswa.

14

“Ddrrrrt…drrrrt…drrrrrt” telepon genggam di saku Mira bergetar. Di layar
tertera nama Maya, Mira segera menjawab telepon

“Hallo…May, ada apa?”
“Hai, Mir. Kamu di mana?”
“Ini Aku lagi di kantin fakultas ekonomi, May”.
“Okey, aku susul kesana ya, Mir”
“Baiklah, aku tunggu” Jawab Mira kemudian memasukkan kembali telepon
genggamnya di saku bajunya.

Mira duduk sendiri di kantin fakultas ekonomi, sambil menunggu Maya
datang, dia menikmati es jeruk yang sudah tersedia di depan meja makannya.
Pandangan Mira tiba-tiba tertuju pada salah seorang laki-laki yang sedang duduk di
meja seberang bersama dengan teman-temannya. Dia adalah orang yang tadi
menolongnya ketika hampir terjatuh ketika berangkat ke kampus. Dari jauh Mira
hanya memperhatikan orang tersebut, ada sesuatu hal yang menarik menurutnya
tetapi dia tidak tahu itu apa.

“Mira…!!” Teriak Maya ketika sudah memasuki kantin fakultas ekonomi
sambil berjalan mendekati Mira. Tentu saja ini mengundang perhatian para
pengunjung yang sedang ada di kantin tersebut.

“Aduh May, kamu ini kenapa teriak-teriak sih…padahal kan sudah dekat.
Bikin malu tau” Jawab Mira sambil menarik Maya untuk duduk di kursi sebelahnya.

Mira sempat mencuri pandang ke laki-laki yang sudah menarik
perhatiannya, tapi tak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya lagi.

“Kamu sedang lihat apa sih Mir?” Tanya Mira menyelidik
“Gak ada apa-apa, udah sana cepatan pesan makan dulu gih” Jawab Mira
sambil meminta Maya untuk segera beranjak dari tempat duduknya.
“Iya…iya…”Jawab Maya sambil berjalan menjauh dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian makanan dan minuman pesanan Maya datang, Mereka
makan bersama sambil bercerita ringan terkait tugas-tugas serta gosip-gosip terkini.
Ketika mereka asyik berbincang, tiba-tiba ada seseorang menyapa Maya dan Mira.

15

“Hai…Maya ya, apa kabar?” Sapa orang tersebut sambil mengajak Maya
berjabat tangan.

“Baik…hmmmm…ini kak Peter kan? Nggak nyangka ketemu kakak disini.
Kakak apa kabar juga?” Sapa Maya sambil menjabat tangan Peter

“Baik, May. Sudah lama nggak ketemu, ternyata kamu kuliah disini juga?”
“Iya kak,, aku kira kakak sudah lulus”
“He…he…masih belum selesai tunggu sidang skripsi aja, May. Ngomong-
ngomong kamu ambil jurusan apa? ”
“Pendidikan psikologi, kak”
“Oh iya sampai lupa, kenalkan ini Mira teman kos ku, kak” Sambung Maya
“Hai, Mira. Kenalkan nama saya Peter, mahasiswa abadi fakultas ekonomi”
Sapa Peter sambil tertawa.
“Saya Mira kak” Jawab Mira malu-malu
“Maaf ya, Maya…Mira…saya nggak bisa lama-lama lagi ada janji sama
teman-teman BEM” Pamit Peter kemudian.
“Baik kak, hati-hati iya kak. Sampai jumpa lagi” Jawab Maya sambil
melambaikan tangannya.
Mira ikut tersenyum mengantar kepergian Peter setelah berpamitan tadi.
Jauh di lubuk hati Mira, dia bahagia karena dapat berkenalan dengan orang yang
telah membuat dirinya tertarik di pertemuan pagi hari tadi.

Sesampainya di kamar kos Mira membersihkan diri, berganti pakaian, lalu
berdoa. Tak lupa pula Mira membaca sekilas tentang tugas yang diberikan oleh
professor tadi pagi. Ketika sedang mencari referensi terkait tugasnya, tiba-tiba
kamar Mira diketuk dari luar. Mira beranjak dari tempat duduknya untuk membuka
pintu. Tampak Maya berdiri di depan pintu sambil berkata,”Lagi sibuk nggak Mir?”

“Ini lagi nyari referensi buat tugas professor tadi pagi, ada apa May?”
“Boleh masuk nggak Mir? Lagi bosen banget nih di kamar” Tanya Maya
sambil bersiap untuk melangkah masuk ke dalam kamar Mira.
“Boleh” Jawab Mira sambil membuka pintu lebar.

16

Maya pun masuk ke dalam kamar Mira, kemudian merebahkan dirinya di
tempat tidur Mira.

“Mir, kalau boleh tanya, bagaimana menurut kamu tentang kak Peter tadi
Mir?” Tanya Maya ingin tahu.

“Cakep” Jawab Mira singkat sambil melanjutkan mencari referensi di depan
laptop.

“Iya, aku tahu kak Peter itu cakep, tapi masak itu aja sich?” Tanya Maya
penasaran.

“Nah, memang kenyataannya kayak gitu, lagian aku juga baru ketemu tadi
kan May, kamu ini ada-ada saja”.

“Iya juga sich”. Jawan Maya sambil mangut-mangut.
“Mir, lapar nih. Kamu beli makan nggak malam ini?” Tanya Maya kembali
“Iya May, tapi tunggu sebentar iya, nanggung sebentar lagi selesai
ngerjakan tugasnya May”.
“Okey, siap tuan putri”. Jawab Maya sambil meledek Mira.
Mendengar jawaban Maya, Mira hanya menggeleng-gelengkan kepala
sambil tersenyum.

Setelah selesai makan malam bersama Maya beberapa waktu lalu, kini Mira
sedang merebahkan diri di tempat tidur sambil melihat langit-langit kamar. Tiba-
tiba terlintas wajah Peter di langit-langit kamarnya, tetapi tak lama kemudian, Mira
tersadar dan cepat-cepat memejamkan matanya.

Di dalam hati Mira sempat berpikir, sepertinya tidak mungkin, dalam waktu
yang sangat singkat dia mulai tertarik dengan sosok Peter yang baru di kenalnya
hari itu. Mungkin ada sesuatu hal dalam diri Peter yang membuat Mira ingin untuk
mengenal lebih dekat siapa Peter yang sebenarnya.

Tapi sebelum Mira mulai tertidur, Mira ingat belum menelepon orang
tuanya hari ini, untuk itu Mira segera mengambil telepon genggamnya dan
menghubungi orang tuanya di desa.

“Tuuut…tuuut…tuuut…”Bunyi dering telepon

17

“Halo, Mira. Ada apa nak?”Tanya Pak Anto
“Nggak ada apa-apa bapak, Mira kangen aja sama ibu bapak” Jawab Mira
sambil menahan air mata.
“Kamu sehat-sehat disana nak?” Tanya Pak Anto kembali.
“Sehat bapak, ibu sama bapak disana bagaimana?”
“Baik-baik juga”.
“Mira tadi di kampus berjalan baik-baik saja bapak, biasa ada tugas kuliah
juga dari professor pak. Tapi Mira masih bisa mengerjakan tugasnya. Ibu sedang
apa pak?”
“Ibu lagi di kamar mandi nak, tapi sepertinya sebentar lagi selesai. Kamu
sudah berdoa malam ini nak?” Tanya Pak Anto kembali
“Sudah Pak, Mira selalu ingat kok untuk berdoa” Jawab Mira sambil
tersenyum
“Bapak bersyukur kalau kamu masih ingat Tuhan dimanapun kamu berada
nak”.
“Pasti itu, Pak”.
“Halo Mira, ini ibu sayang. Kamu sedang apa nak?” Tanya ibu Mira
“Mira lagi rebahan ibu, ini tadi mau tidur ingat belum menghubungi ibu
bapak, jadi Mira telepon”
“Kamu sudah makan nak?”
“Sudah ibu, tadi Mira beli pecel lele sama Maya”
“Syukurlah kalau begitu, sudah malam nak. Besok kamu harus ke kampus
lagi kan?’
“Iya ibu, setelah ini Mira akan langsung istirahat”Jawab Mira kepada ibunya
“Baiklah kalau begitu nak, ibu matikan dulu teleponnya ya nak”
“Baik-baik kamu disana nak” Pesan Pak Anto ikut berbicara
“Baik pak, salam kangen dari Mira buat bapak, dan ibu”.
“Ibu dan bapak sehat-sehat juga iya, Mira sayang ibu bapak” Jawab Mira
lalu mematikan teleponnya.

18

BAB 5
BADAI MENYAPA

Bagai petir di siang bolong, Mira mendapatkan kabar dari sepupunya bahwa
bapaknya yang dia sayangi telah meninggalkan Mira untuk selama-lamanya. Siang
itu sepulang dari kampus, Mira merebahkan dirinya di kamar kosnya. Penat yang
dia rasakan ketika mengikuti perkuliahan hari ini, membuat dia tertidur untuk
sesaat. Bunyi dering telepon masuk tidak di dengar oleh Mira, dering telepon yang
sempat mati mulai terdengar lagi, dengan mata sedikit mengantuk Mira menjawab
telepon yang masuk.

“Halo, selamat sore”
“Mi..ra…Pak…Anto sudah nggak ada” Ucap seseorang di seberang telepon
dengan terisak.
“Maksud kamu apa? Ada apa dengan bapak?” Tanya Mira dengan
penasaran dan khawatir
“Coba kamu hubungi ibu kamu, ini tadi aku mendapatkan kabar bahwa dari
Bu Rubi bahwa Pak Anto meninggal dunia, aku juga terkejut dan tidak percaya tapi
itu yang sebenarnya”. Jelas Dian sepupu Mira.
“Jangan bercanda kamu Di, baik aku akan menghubungi ibu segera”. Jawab
Mira kemudian memutusakan sambungan teleponnya.
“Tuuut…tuuut…tuuuut….,halo Mira”Tersdengar suara Bu Rubi di
seberang.
“Ibu, apakah benar bapak sudah tidak ada ibu?”Tanya Mira ingin tahu.
“Iya nak, bapak sudah tiada nak. Ini ibu sedang di rumah sakit nak, kamu
kapan pulang? Ibu tunggu iya nak”Jawab Bu Rubi sambil terisak.
“Mira pulang sekarang ibu, Mira akan pulang dengan cepat, bagaimana
dengan Mas Yahya bu?”
“Mas Yahya sudah ibu beri kabar nak, hari ini Yahya akan mencari tiket
penerbangan tercepat”. Jelas Bu Rubi kepada Mira.
“Tunggu Mira pulang bu” Jawab Mira sambil mulai terisak.
“Baik nak, ibu akan tunggu Kamu dan Yahya pulang nak” Jawab Bu Rubi
sambil terisak isak.

19

Mira menutup telepon dengan perasaan hancur berkeping-keping. Dia
kehilangan sosok Bapak yang dia banggakan, tempat Mira jatuh cinta untuk
pertama kali, beliau adalah tempat Mira berkeluh kesah, seseorang yang selalu
memanjakan dia walaupun usianya bukan anak-anak lagi. Pak Anto adalah segala-
galanya bagi Mira.

Dengan penuh linangan air mata, Mira mulai berkemas untuk pulang
kerumahnya di desa. Sengaja dia berangkat tidak berpamitan kepada teman-teman
di tempat indekos, yang Mira pikirkan sekarang adalah pulang dengan cepat dan
sampai rumah segera untuk melihat jenazah bapaknya.

Ketika Mira berada di pinggir jalan raya tempat dia mencari kendaraan
umum, tiba-tiba ada sepeda motor yang menghampirinya. Pengendara tersebut
membuka helmet yang dia gunakan kemudian menyapa,

”Hai Mir, kamu mau kemana?” Tanya pengendara motor tersebut dengan
tanda tanya dan khawatir.

“Kak Peter, aku mau pulang kak” Jawab Mira sambil meneteskan air mata.
“Ayo aku antar” Jawab Peter menawarkan tumpangan sambil memberikan
helmet cadangan yang dia bawa. Peter tidak tega karena melihat kondisi Mira yang
memprihatinkan saat ini.
“Baiklah kak” Jawab Mira segera. Kemudian naik di boncengan sepeda
motor yang Peter kendarai.
“Rumah kamu dimana Mir?” Tanya Peter kembali sebelum berangkat.
“Nanti akan aku tunjukkan jalannya kak, tolong kakak agak cepat iya
membawa motornya. Aku ingin segera sampai rumah kak”. Jawab Mira sedih.
“Baiklah, kamu boleh berpegangan”Jawab Peter kembali.
Tak lama kemudian motor yang yang dibawa Peter melaju dengan cepat,
Mira memegang jaket Peter sambil terus menangis. Tak lupa pula di dalam hati,
Mira membaca doa-doa untuk keselamatan mereka berdua serta doa untuk
almarhum Bapaknya. Di dalam hati Mira masih tidak percaya, karena selama ini
Pak Anto baik-baik saja, beliau juga tidak mengidap penyakit serius yang dapat

20

meregang nyawa beliau. Tapi kembali lagi semua itu sudah takdir Tuhan, Mira tak
mampu berkata apa-apa hanya rapalan doa-doa yang selalu dia ucapkan untuk
kebahagiaan Bapaknya di syurga.

Sesampainya di rumah Mira, Peter terkejut karena disana terlihat ada tenda
duka, bendera putih, dan banyak orang yang sedang berkumpul di rumah Mira.

“Siapa Mira?” Tanya Peter berhati-hati
“Bapakku, Kak”Jawab Mira dengan lirih
“Maaf aku tidak tahu, kakak turut berduka cita atas kematian ayah kamu,
segeralah kamu masuk ke dalam. Aku akan bergabung dengan tamu yang
lain”.Jawab Peter dengan bijak.
“Baiklah kak, terima kasih banyak untuk tumpangannya” Jawab Mira
sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Disana Mira di sambut oleh keluarga yang lain, terlihat Bu Rubi terisak di
dekat jenazah Pak Anto, Yahya juga terlihat tak jauh dari tempat duduk ibunya.
Mira memeluk ibunya dengan berlinang air mata, dia terus menangis dengan
terisak-isak. Yahya menghampiri adiknya sambil menggosok punggung Mira untuk
memberi kekuatan.
Pemuka agama menyampaikan beberapa petuah serta memimpin doa
bersama sebelum jenazah di bawa ke liang kubur. Para pelayat pun bersama-sama
mengikuti doa-doa yang dibaca oleh pemuka agama tersebut dengan ikhlas.
Tak lama kemudian jenazah Pak Anto dibawa ke tempat peristirahatan
terakhir, Bu Rubi, Mira, Yahya, para pelayat, serta keluarga yang lain
mengantarkan jenazah Pak Anto dengan wajah berduka. Mereka semua kehilangan
sosok yang ramah, supel, ringan tangan, serta pekerja keras. Tidak ada lagi
seseorang seperti Pak Anto di desa ini, oleh karena itu mereka semua bersedih dan
merasa kehilangan.

21

BAB 6
SEMANGAT BARU

Beberapa hari dirundung duka, bagai hilang semangat hidupnya, Mira mau
tak mau harus mulai bersemangat untuk melanjutkan hidupnya. Apalagi Mira harus
bisa menguatkan ibunya juga, karena kondisi Yahya yang dinas di luar Pulau,
sehingga tidak memungkinkan untuk menghibur Bu Rubi dan juga Mira.
Untungnya ada Peter yang senantiasa menemani Mira saat dia butuh tempat untuk
bercerita atau berkeluh kesah. Peter selalu menguatkan pribadi Mira, walaupun
perkenalan mereka yang singkat saat itu, tetapi mereka merasa saling cocok satu
sama lain.

Pribadi Peter yang dewasa, ramah,tanggung jawab, pengertian, perhatian,
dan berwawasan luas, membuat Peter mudah untuk mengenal lebih dekat dengan
Mira dan keluarganya. Kedekatan mereka berlangsung semenjak Peter mengantar
Mira pulang pada saat itu. Peter yang berasal dari keluarga yang tak jauh berbeda
dengan Mira membuat dia dapat merasakan, kehilangan yang Mira rasakan pada
saat ditinggal oleh bapaknya. Tak jarang mereka berkomunikasi di waktu senggang,
sekedar menyapa atau bertukar kabar.

Sedikit demi sedikit rasa nyaman itu muncul di hati Mira, tetapi sebagai
seorang wanita Mira tidak mau mengungkapkan apa yang dia rasa. Mira cukup
menyimpannya dalam hati. Biarlah Tuhan yang mengatur apa yang terbaik untuk
Mira.

Setahun berlalu semenjak Pak Anto meninggalkan dunia ini untuk selama-
lamanya, kini Mira sudah mulai beraktifitas seperti biasa. Mira sudah kembali ke
kampus untuk menyelesaikan perkuliahannya yang tinggal sebentar lagi selesai.
Mira berangkat ke kampus untuk menemui dosen pembimbing skripsinya.

“Permisi, saya Mira mahasiswa akhir jurusan guru sekolah dasar, apakah bu
Linda sudah datang?” tanya Mira ketika memasuki ruang kajur siang hari itu.

22

“Ada di ruangannya, silahkan masuk”Jawab petugas di ruangan depan
terima tamu.

“Baik terima kasih bu”. Jawab Mira sambil berjalan memasuki ruangan Bu
Linda.

Sesampainya di ruang kerja Bu Linda, Mira duduk di depan meja beliau.
“Selamat siang Bu Linda, ini berkas skripsi saya” Kata Mira sambil
menyerahkan berkasnya di hadapan beliau.
Bu Linda membaca dengan teliti, lalu memberi masukan kepada Mira
tentang bagian-bagian mana yang harus diperbaiki, Mira memperhatikan dengan
cermat sambil menulisnya dalam buku catatan yang dia bawa. Setelah selesai
bimbingan Mira mampir ke perpustakaan kampus untuk mencari buku rujukan.

Mira menyelesaikan skripsinya dengan penuh tanggung jawab, dia tidak
ingin memperpanjang semester hanya karena skripsinya tidak selesai, apalagi dia
juga tidak mau merepotkan Yahya atau ibunya untuk biaya kuliah tambahan. Mira
juga mengajar les tambahan untuk anak-anak sekolah dasar di daerah tempat dia
tinggal sekarang. Uang hasil mengajar dia pergunakan untuk biaya tugas kuliah dan
hidupnya selama menjadi anak kos. Walaupun keluarganya tidak pernah terlambat
untuk mengirim uang, tetapi Mira tidak ingin terlalu menjadi beban keluarga.

Maya selalu mendukung apapun yang dilakukan Mira untuk menjadi pribadi
yang kuat, maklum saja mereka semua jauh dari keluarga mereka. Walapun
awalnya Mira belum terbiasa, tetapi keadaanlah yang membuat Mira harus berubah
menjadi pribadi yang dewasa, tangguh, dan bertanggung jawab atas dirinya.
Kehilangan sosok ayah, membuat Mira harus belajar banyak hal.

Bagai gayung bersambut, atas keresahan hatinya terhadap Peter selama ini,
mendapatkan jawaban. Peter menyatakan perasaannnya kepada Mira, dan tentu saja
Mira menerimanya dengan tangan terbuka. Kedekatannya dengan Peter selama ini,
menjadikan Peter sebagai sosok panutan dalam menjalani hidupnya sekarang. Peter
selalu dapat menghibur Mira, menjadi sosok penggati ayahnya yang telah tiada,
menjadi kakak yang dapat melindunginya, karena keadaan Yahya yang jauh dari
Mira. Selain itu Peter juga mengajarkan Mira banyak hal tentang kehidupan.

23

BAB 7
TAWARAN TAK TERDUGA

Mira berhasil menyelesaikan perkuliahannya dengan tepat waktu. Hari ini
Mira sedang mengikuti profesi wisuda, dia ditemani oleh ibunya dan Yahya. Mira
terlihat cantik dengan balutan kebaya berwarna salem, kulitnya putih bersih dan
rambungnya panjang di tata dengan sanggul modern. Di tengah kebahagiaan
mereka, tapi tetap saja tersirat kesedihan, karena Pak Anto tidak hadir bersama
mereka. Walapun begitu, dari atas sana Pak Anto pasti melihat keberhasilan yang
telah diraih Mira.

Prosesi demi prosesi wisuda telah usai, Mira bersama keluarganya
melakukan sesi foto bersama, ketika mereka sedang berfoto, tiba-tiba Peter datang
untuk mengucapkan selamat kepada Mira.

“Hai Mir, Selamat iya kamu sudah di wisuda hari ini” Ucap Peter kepada
Mira sambil menjabat tangannya.

“Iya kak, terima kasih”. Jawab Mira.
“Selamat siang tante, selamat siang Yahya” Sapa Peter sambil menjabat
tangan ibu dan mas Mira.
“Selamat siang Peter, bagaimana kabar kamu sekarang? Lama tidak
berjumpa iya?” Sapa Bu Rubi kepada Peter
“Baik tante, ngomong-ngomong Yahya kapan pulang?” Jawab Peter
“Kemarin, ijin sebentar saja untuk menghadiri wisuda Mira, nanti sore udah
balik ke barak untuk bertugas kembali” Jawab Yahya
“Kamu sendiri sekarang kesibukannya apa?” Tanya Yahya kembali
“Saya sekarang sudah bekerja di salah perusahaan yang bergerak di ekspor
impor di luar kota” Jawab Peter kemudian.
Mendengar penjelasan Peter, Bu Rubi dan Yahya cukup kagum. Ternyata
di sela-sela kesibukannya dalam bekerja, Peter masih menyempatkan datang di
wisuda Mira.
Setelah obrolan mereka berlangsung, tak lama kemudian Yahya mengajak
mereka semua untuk makan bersama di salah satu restauran di dekat kampus Mira

24

untuk merayaan keberhasilan Mira dalam belajar. Merekapun merayakannya
dengan penuh suka cita.

Seminggu kemudian Mira tiba-tiba mendapatkan telepon dari seseorang
yang mengabarkan tentang berita yang membahagiakan, Mira tidak menduga
bahwa dia mendapatkan penawaran untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta
ternama. Ternyata tanpa sepengetahuan Mira, Peter telah mendaftarkan Mira untuk
mengisi formulir lowongn pekerjaan disana.

Mira menyampaikan kabar gembira itu kepada Peter terlebih dahulu
sebelum dia memberitahu keluarganya. Bagaimanapun juga Peter telah ikut andil
dalam pekerjaan Mira.

“Tuuuut…tuuuut…Halo Kak Peter?” Sapa Mir ketika telepon tersambung
“Hallo Mir, ada apa?”
“Kakak masukkan Mira menjadi karyawan swasta di perusahaan iya kak?”
Tanya Mira kepada Peter untuk memastikan
“Iya Mir, ada apa? Maaf iya aku tidak tanya kamu terlebih dahulu? Apakah
sudah ada informasinya?”
“Iya kak, Senin besok aku diminta datang untuk melakukan tes wawancara
disana”
“Syukurlah kalau begitu, semangat iya Mir. Tapi kakak minta maaf nanti
tidak bisa mengantar. Kamu tidak ada masalah kan?”
“Iya kak, tidak apa-apa” Jawab Mira, setelah itu dia mematikan sambungan
teleponnya.
Setelah selesai mematikan telepon, Mira pergi ke kamar ibunya untuk
memberi kabar bahagia ini, sekalian minta ijin untuk berangkat tes wawancara hari
Senin depan.

25

BAB 8
MENJEMPUT IMPIAN

Setelah wawancara tempo hari, kini Mira sudah bekerja di perusahaan
swasta ternama sebagai karyawan biasa. Bagi Mira itu tidak masalah, Mira tetap
selalu banyak bersyukur karena diberi kesempatan untuk dapat bekerja tidak lama
setelah dia lulus kuliah. Hari-hari sebagai karyawan, Mira terkenal sebagai pribadi
yang ulet, mau menerima masukan, serta selalu belajar hal-hal baru yang belum dia
kuasai.

Melihat kinerja yang telah dia dilakukan, hal ini membuat dia dapat
meningkatkan jabatannya dalam waktu yang tidak lama. Mira tetap menjadi pribadi
yang rendah hati, selalu membantu orang-orang yang membutuhkannya. Tetapi
Mira tetap tidak berpuas diri, dia masih ingin memiliki pekerjaan yang dapat
menjaminnya di hari tua nanti. Untuk itu, Mira ingin mencoba mendaftar sebagai
karyawan tetap di kantor pemerintahan impian Mira.

Prosedur yang harus Mira jalani sebagai karyawan tetap melalui beberapa
proses, yang pertama yaitu penftaran, kedua seleksi administrasi, ketiga tes
akademik, keempat tes psikologi, dan wawancara.

Pagi harinya Peter menemani Mira menjalani tes akademik di ibukota,
cuaca hari itu cukup cerah. Jalanan yang mereka lalui juga berjalan dengan lancar,
sehingga mereka dapat sampai di tempat tujuan sebelum jam di mulai. Mira
menyampaikan kekhawatirannya kepada Peter.

“Kak, Mira takut tidak lolos tes kak”
“Yakin terhadap kemmapuan kamu Mir, bukannya kakak sudah sarankan
kamu untuk berdoa sebelumnya?”
“Iya kak, tetapi tetap saja, aku deg-degan”
“Udah tidak apa-apa Mir, dibawa dalam doa saja”
“Iya kak, Kakak bantu do’a Mira juga ya kak dan tunggu Mira sampai
selesai tes nanti”
“Iya, memangnya kakak mau kemana kalau tidak menunggu kamu selasai,
Mir?”Jawan Peter sambil mencubit hidung Mira gemas.
Mira menanggapinya dengan tersenyum.

26

BAB 9
BERITA DUKA

Setelah Mira mendapatkan pekerjaan sesuai dengan cita-citanya, yaitu
penjadi seorang tim audit sebuah kantor pemerintahan. Kini kehidupan Mira
berangsur-angsur mulai membaik, apalagi kini ada Peter disamping Mira. Apapun
yang menjadi impiannya kini mulai tercapai. Akan tetapi kebahagiaan itu ternyata
tidak berangsur lama. Mira mendapatkan kenyataan bahwa Bu Rubi, telah sakit
keras.

“Halo Mira…Bu Rubi sakit keras, ini kami sedang membawanya ke rumah
sakit daerah. Kalau kamu sudah pulang kerja segera menyusul kesini iya” Kata Dian
memberi kabar melalui telepon.

“Baik, Dian. Terima kasih sudah memberi tahu” Jawab Mira sedih
Setelah menutup telepon kini Mira mulai bersiap-siap untuk pulang, tak lupa
pula dia memberi kabar kepada Peter tunangannya.
“Halo…kak, Dian baru saja telepon memberitahu bahwa ibu sedang di
rumah sakit kak. Mira mau pulang sekarang iya kak” Kata Mira pamit ke Peter.
“Tunggu sebentar Mir, kakak antar kamu menjenguk ibu. Kakak langsung
berangkat sekarang iya” Kata Peter menjelaskan.
“Baik kak, hati-hati di jalan” Jawab Mira sambil menutup telepon kemudian
melanjutkan merapikan barang-barangnya.
Sepuluh menit kemudian, Peter datang di kantor Mira, kebetulan Mira sudah
bersiap menunggu di depan kantornya.
“Ayo kita berangkat Mir” Kata Peter setelah sampai di tempat
“Baik kak” Jawab Mira dengan wajah sedih
Mereka pun berangkat dengan mengendarai sepeda motor menuju ke rumah
sakit tempat Bu Rubi di rawat. Setelah menempuh satu jam perjalanan, merekapun
sampai di tempat. Mira berjalan ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa, di
sampingnya Peter memegang tangan Mira untuk memberi kekuatan.
Di depan ruang ICU ada Dian bersama suaminya, mereka mempersilahkan
Mira masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi Bu Rubi. Mira tak kuasa

27

menahan air matanya melihat kondisi ibunya yang tidur di bangkar dengan
berberapa selang yang terpasang.

“Ibu…ini Mira” Kata Mira sambil menangis di sisi tempat tidur ibunya.
“Kenapa ibu bisa seperti ini? Kenapa ibu nggak bilang sama Mira kalau ibu
sakit?”
“Mira harus bagaiaman ibu?” Ucap Mira sambil menangis terisak-isak
Tak henti-hentinya Mira mengucap doa-doa untuk kesembuhan ibunya.
Mira membacakan doa sambil memegang tangan Bu Rubi. Tak lama setelah itu
Yahya menghampiri Mira disana.
“Mas…ibu kita mas” Ucap Mira sambil terus menangis.
Yahya tidak dapat berkata apa-apa, dia hanya memeluk Mira sambil
mengucap-usap punggungnya. Tetapi dari wajahnya terlihat kesedihan yang
mendalam, atas apa yang terjadi dengan kondisi Bu Rubi sekarang.
Dokter sempat menyampaikan bahwa penyakit Bu Rubi tidak dapat di
sembuhkan dalam waktu yang singkat. Karena penyakit beliau sudah memasuki
stadium akhir. Semakin hancur hati dan jiwa mereka mendengar berita yang
disampaikan oleh dokter, di dalam hati mereka menyesal kenapa kondisi yang
membuat mereka harus tinggal berjauhan dengan Bu Rubi.
“Ibu…ini mas Yahya sudah disini ibu, ayo..ibu cepat bangun” Kata Mira
meratapi kondisi ibunya.
“Ibu..Ini Yahya bu” Ucap Yahya kemudian.
Terlihat air mata menetes di pelupuk mata Bu Rubi saat itu setelah
mendengar suara Yahya. Pada detik berikutnya Bu Rubi menghembuskan nafas
untuk terakhir kalinya.
“Tiiiiiiiiiiiiiitttttt…” Terdengar bunyi dari alat medis di samping bangkar
Bu Rubi saat itu, disana juga terlihat tanda garis lurus bahwa detak jantung beliau
sudah berhenti.
Mira menangis terisak-isak di dalam pelukan Yahya, dan di detik berikutnya
dia pingsan. Yahya membawa Mira keluar dari ruang ICU, Peter menggendong
Mira ditemani oleh Dian. Mereka membawa Mira ke dalam mobil Yahya,
sedangkan Yahya ditemani suami Dian untuk mengurus jenazah Bu Rubi pulang
dari rumah sakit.

28

EPILOG
Setahun setelah berpulangnya sang ibunda ke hadapan Tuhan yang Maha
Kuasa, Mira menikah dengan Peter. Hidup mereka sekarang lebih bahagia dalam
menjalani kehidupannya. Mira bekerja sebagai supervisor tim audit di kantor
pemerintahan, yang menjadi cita-cita Mira. Sedangkan Peter, suami Mira bekerja
di perusahaan asing yang bergerak di bidang ekspor impor barang.
Hubungan mereka berjalan dengan baik dan lancar. Kini mereka telah
dikarunia dua orang putra yang diberi nama Eliata dan Devilito. Anak pertama
mereka Eliata berusia tiga tahun dan Devilito berusia satu tahun.
Kakak laki-laki Mira, Yahya kini telah menikah juga dengan seorang wanita
dari tempat dia bekerja. Mereka juga dikaruniai dua orang anak yang diberi nama
Agha dan Adara.

Selesai

29

iii


Click to View FlipBook Version