The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Ahlia Surya, 2024-06-26 22:31:16

BA_Modul IPAS Teknik Mesin 2024

BA_Modul IPAS Teknik Mesin 2024

Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 47 Merencanakan Asesmen Dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen yang diterbitkan oleh BSKAP Kemdikbudristek Tahun 2022 dijelaskan bahwa: apabila pendidik menggunakan modul ajar yang disediakan, maka ia tidak perlu membuat perencanaan asesmen. Namun, bagi pendidik yang mengembangkan sendiri rencana pelaksanaan pembelajaran dan/atau modul ajar, ia perlu merencanakan asesmen formatif yang akan digunakan. Rencana asesmen dimulai dengan perumusan tujuan asesmen. Tujuan ini tentu berkaitan erat dengan tujuan pembelajaran. Setelah tujuan dirumuskan, pendidik memilih dan/atau mengembangkan instrumen asesmen sesuai tujuan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih/mengembangkan instrumen, antara lain: karakteristik peserta didik, kesesuaian asesmen dengan rencana/ tujuan pembelajaran dan tujuan asesmen, kemudahan penggunaan instrumen untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik dan pendidik. Langkah perencanaan asesmen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar 5. Langkah Perencanaan Asesmen Tujuan Pembelajaran Tujuan Asesmen Karakteristik Peserta Didik Kemudahan untuk umpan balik Instrumen Asesmen


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 48 Berikut adalah contoh instrumen penilaian atau asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik, yaitu: Instrumen Keterangan Rubrik Pedoman yang dibuat untuk menilai dan mengevaluasi kualitas capaian kinerja peserta didik sehingga pendidik dapat menyediakan bantuan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Rubrik juga dapat digunakan oleh pendidik untuk memusatkan perhatian pada kompetensi yang harus dikuasai. Capaian kinerja dituangkan dalam bentuk kriteria atau dimensi yang akan dinilai yang dibuat secara bertingkat dari kurang sampai terbaik. Ceklis Daftar informasi, data, ciri-ciri, karakteristik, atau elemen yang dituju. Catatan anekdotal Catatan singkat hasil observasi yang difokuskan pada performa dan perilaku yang menonjol, disertai latar belakang kejadian dan hasil analisis atas observasi yang dilakukan. Grafik Perkembangan (Kontinum) Grafik atau infografik yang menggambarkan tahap perkembangan belajar. Instrumen asesmen dikembangkan berdasarkan teknik penilaian yang digunakan oleh pendidik. Berikut ini diuraikan contoh teknik asesmen yang dapat digunakan dan diadaptasi, yaitu : Teknik Asesmen Keterangan Observasi Penilaian peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala. Observasi dapat difokuskan untuk semua peserta didik atau per individu. Observasi dapat dilakukan dalam tugas atau aktivitas rutin/harian. Kinerja Penilaian yang menuntut peserta didik untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja dapat berupa praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, atau membuat portofolio. Projek Kegiatan penilaian terhadap suatu tugas meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tes Tulis Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan peserta didik. Tes tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk-bentuk testertulis lainnya. Tes Lisan Pemberian soal/pertanyaan yang menuntut peserta didik menjawab secara lisan, dan dapat diberikan secara klasikal ketika pembelajaran. Penugasan Pemberian tugas kepada peserta didik untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi peserta didik memperoleh atau meningkatkan pengetahuan. Portofolio Kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya peserta didik dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan (reflektif-integratif) dalam kurun waktu tertentu.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 49 Selain formatif dan sumatif, pada jenjang SMK, terdapat bentuk penilaian atau asesmen khas yang membedakan dengan jenjang yang lain, yaitu: asesmen Praktik kerja Lapangan (PKL), Uji Kompetensi kejuruan (UKK), dan Ujian Unit Kompetensi. ❖ Praktik Ulang Hasil Sinkronisasi Capaian Pembelajaran a) Berdasarkan hasil sinkronisasi yang telah dilakukan pada mata pelatihan sebelumnya, silakan dilihat kembali kemungkinan tema projek yang dapat dikembangkan. b) Berdasarkan tema projek hasil sinkronisasi, buatlah daftar topik yang bisa diturunkan dari tema tersebut sebagai dasar topik dari modul ajar yang akan dikembangkan. Menyusun Modul Ajar Untuk praktik penyusunan modul ajar Projek IPAS secara individu, ikutilah rambu-rambu berikut ini. 1. Setiap peserta menyusun satu modul ajar sesuai dengan topik projek terpilih hasil sinkronisasi CP mata pelajraan Projek IPAS dengan mata pelajaran Dasar-dasar Program Keahlian. 2. Modul ajar dikembangkan dan disusun dengan mengikuti prinsip pembelajaran dan asesmen yang tertuang dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen yang diterbitkan oleh BSKAP Kemdikbudristek Tahun 2022. 3. Modul ajar dikembangkan dan disusun memilki kerangka komponen lengkap. 4. Selain itu, guna menghasilkan modul ajar yang berdayaguna, Ibu dan Bapak Guru diharapkan juga memperhatikan dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan refleksi berikut ini. ➢ Bagaimana agar perhatian peserta didik senantiasa fokus dan mereka terus bersemangat sepanjang kegiatan pembelajaran? ➢ Bagaimana saya sebagai pendidik akan membantu setiap individu peserta didik memahami pembelajaran? ➢ Bagaimana saya akan mendorong peserta didik untuk melakukan refleksi, mempelajari lagi, memperbaiki, dan berpikir ulang tentang konsep atau materi pelajaran yang telah mereka pelajari? ➢ Bagaimana peserta didik dapat menunjukkan pemahaman mereka dan melakukan evaluasi diri yang berarti setelah mempelajari materi ini?


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 50 ➢ Bagaimana saya akan menyesuaikan langkah dan/atau materi pelajaran berdasarkan keunikan dan kebutuhan masing-masing peserta didik? ➢ Bagaimana saya akan mengelola pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk menjadi pelajar yang aktif dan mandiri? ❖ KUIS Jawablah soal-soal berikut ini. 1. Pernyataan berikut ini yang semuanya merupakan komponen informasi umum dalam modul ajar versi lengkap adalah: A. Kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, target peserta didik dan tujuan pembelajaran. B. Kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, target peserta didik dan model pembelajaran. C. Kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, target peserta didik dan pemahaman bermakna. D. Kompetensi awal, profil pelajar Pancasila, target peserta didik dan pertanyaan pemantik. 2. Bila diibaratkan dengan sebuah perjalanan, pertanyaan yang cocok untuk langkah mengembangkan asesmen pada konsep desain mundur dalam mengembangkan rancangan pembelajaran adalah: A. Bagaimana kita tahu sudah sampai? B. Kemana kita akan pergi? C. Sejauh mana kita melangkah? D. Bagaimana kita dapat sampai di sana? 3. Dalam prinsip ini ada kesesuaian antara jumlah kompetensi yang harus dikuasai dengan jumlah materi yang dikembangkan. Jika kompetensi yang harus dikuasai peserta didik ada empat macam, maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam sesuai tuntutan kompetensi. Prinsip yang dimaksud adalah …. A. relevansi B. konsistensi C. kecukupan D. kesetaraan 4. Manakah dari pernyataan berikut yang semuanya berkaitan dengan asesmen sumatif? A. Dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam mempelajari materi ajar, menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang. B. Dilakukan selama proses pembelajaran, menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang. C. Dilakukan untuk memastikan ketercapaian keseluruhan tujuan pembelajaran, menjadi


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 51 bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang. D. Dilakukan sekaligus untuk dua atau lebih tujuan pembelajaran, untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam mempelajari materi ajar 5. Manakah dari pernyataan refleksi berikut yang tidak tepat untuk mendukung terwujudnya sebuah modul ajar yang berdayaguna? A. Bagaimana agar perhatian peserta didik senantiasa fokus dan mereka terus bersemangat sepanjang kegiatan pembelajaran? B. Bagaimana saya akan mengelola pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk menjadi pelajar yang aktif dan mandiri? C. Bagaimana saya akan menyesuaikan langkah dan/atau materi pelajaran berdasarkan keunikan dan kebutuhan masing-masing peserta didik? D. Bagaimana saya akan mengupayakan agar semua materi pembelajaran tersampaikan kepada peserta didik sesuai dengan jadwal pembelajaran? PENUTUP Mata pelatihan ini merupakan puncak dari implementasi seluruh materi seluruh mata pelatihan yang telah diikuti sebelumnya. Modul ajar mata pelajaran Projek IPAS tentunya dikembangkan dan disusun berdasarkan hasil sinkronisasi capaian pembelajaran mata pelajaran Projek IPAS yang meliputi berbagai aspek di dalamnya dan capaian pembelajaran mata pelajaran Dasar-dasar Program keahlian peserta didik yang menghasilkan tema projek tertentu. Tema projek hasil sinkronisasi dapat dikembangkan menjadi beberapa topik yang bersesuaian. Modul ajar yang dikembangkan dan disusun diharapkan tetap memperhatikan ketentuan prinsip pembelajaran dan asesmen dalam implementasi Kurikulum merdeka. Pembelajaran bermakna dan berpusat kepada pemenuhan kebutuhan belajar setiap peserta didik harus menjadi perhatian dan perlu diwujudkan dalam modul ajar sebagai bentuk rancangan dan perencanaan pembelajaran yang baik.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 52 BAB 2 KOMPETENSI PEDAGOGIK A. Penyelidikan Ilmiah dan PjBL ❖ Capaian Pelatihan Secara khusus profil kompetensi peserta pelatihan yang ingin dicapai dari materi pelatihan ini adalah, peserta pelatihan mampu: 1. Menjelaskan hakikat sains berdasarkan karakteristiknya. 2. Memberikan contoh dan menerapkan setiap komponen penyelidikan ilmiah berdasarkan tema/topik yang diberikan. 3. Membedakan jenis penyelidikan sains berdasarkan pernyataan yang diberikan. 4. Mempromosikan pemanfaatan kekayaan sumber daya alam dengan arif dan bijaksana melalui integrasi pemahaman aspek social dan natural science. 5. Menjelaskan latar belakang perlunya pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek di SMK. 6. Merencanakan Pembelajaran Berbasis Proyek dengan didasarkan pada pendekatan kontekstual, berdiferensiasi, dan konstruktif. 7. Mempromosikan sikap beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif, dalam melaksanakan peran sebagai pembelajar sepanjang hayat. ❖ Materi Pelatihan Latar Belakang Sebagaimana diamanahkan dalam Keputusan Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Nomor 33 Tahun 2022, Mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial berfungsi untuk membekali peserta didik agar mampu menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata pada abad 21 ini yang berkaitan dengan fenomena alam dan sosial di sekitarnya secara ilmiah dengan menerapkan konsep sains. Pembelajaran dalam Mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial diarahkan untuk menumbuhkembangkan literasi sains melalui penguatan keterampilan penelitian dan penyelidikan. Atau dengan kata lain, setelah mempelajari mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, peserta didik dapat memperoleh kecakapan untuk mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah agar dapat hidup lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih baik.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 53 Dalam peraturan tersebut di atasjuga disebutkan bahwa Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial meliputi integrasi antara social sciences dan natural sciences menjadi kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran. Segala aspek kehidupan bersosial dalam kebhinekaan, keberagaman agama, dan saling bergotong royong tercakup dalam social sciences. Adapun interaksi antara manusia dengan alam, serta melihat berbagai fenomena yang terjadi dengan alam, mampu dijelaskan secara logis dan ilmiah dengan natural science. Sehingga melalui integrasi keduanya (social science dan natural science), kita mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dengan arif dan bijaksana. Penyelenggaraan pembelajaran di sekolah selayaknya mempromosikan praktik yang eksploratif, transformatif, dan berorientasi pada tindakan. Sekolah harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengkoneksikan pembelajaran akademik dengan area pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan di kehidupan profesional dan pribadi dan sekaligus memampukan mereka menjadi pembelajar seumur hidup (GranadoAlcón dkk., 2020; Lopez & Rodriguez-Lopez,2020). Di dunia yang terglobalisasi saat ini, peserta didik dan pendidik menghadapi berbagai tantangan tak terduga akibat meningkatnya kompleksitas dan ketidakpastian. Solusi yang dibutuhkan untuk kondisi tersebut adalah solusi kreatif dan mandiri, daripada sekedar respon yang biasa dan aman. Sekolah sebagai ‘produsen’ pelaku utama dunia di masa depan, berfungsi menghasilkan individu dengan soft skill (adaptif, kepemimpinan teamwork, komunikasi dalam berbagai bahasa, …) yang dibutuhkan (Granado-Alcón dkk., 2020). SMK diharapkan mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang dinamis, interaktif, dan relevan konteks dunia nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek di SMK mendorong peserta didik untuk bertumbuh pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya melalui tantangan eksplorasi aktif dan solutif masalah dunia nyata (Isa & Azid, 2021). Penyelidikan Ilmiah 1. Hakikat Sains Ketika kita mendengar kata “sains”, mungkin akan muncul berbagai gambaran/pemikiran dalam benak kita. Buku teks yang tebalnya beratus halaman, jas laboratorium berwarna putih dan mikroskop, seorang astronom yang sedang mengamati angkasa menggunakan teleskop, seorang naturalis berada di hutan hujan, persamaan Einstein yang ditulis di papan tulis, peluncuran pesawat ulang-alik, gelas ukur dan gelas beker…. Semua gambaran tersebut memang mencerminkan beberapa aspek sains, tetapi tidak ada yang memberikan gambaran lengkap karena sains memiliki begitu banyak aspek. Aspek-aspek tersebut antara lain:


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 54 ⚫ Sains adalah tubuh dari pengetahuan dan proses. Di sekolah, sainsterkadang tampak seperti kumpulan fakta yang terisolasi dan statis yang tercantum dalam buku teks, tetapi hal itu hanya sebagian kecil dari cerita. Sains juga merupakan proses penemuan yang memungkinkan kita untuk menghubungkan fakta-fakta yang terisolasi ke dalam pemahaman yang koheren dan komprehensif tentang dunia alami. ⚫ Sains itu mengasyikkan. Sains adalah cara untuk menemukan apa yang ada di alam semesta dan bagaimana hal-hal itu bekerja hari ini, di masa lalu, dan di masa depan. Para ilmuwan termotivasi oleh sensasi melihat atau mencari tahu tentang sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun sebelumnya. ⚫ Sains itu bermanfaat. Pengetahuan yang dihasilkan oleh sains sangat kuat dan dapat diandalkan. Hal ini dapat digunakan untuk mengembangkan teknologi baru, mengobati penyakit, dan menangani berbagai jenis masalah lainnya. ⚫ Sains terus berlangsung. Ilmu pengetahuan terus menyempurnakan dan memperluas pengetahuan kita tentang alam semesta, dan hal tersebut mengarah pada pertanyaan baru untuk penyelidikan di masa depan. Sains tidak akan pernah "selesai". ⚫ Sains adalah usaha manusia global. Semua orang di seluruh dunia berpartisipasi dalam proses sains. Siswa dan pendidik juga bisa berpartisipasi di dalamnya. Jadi, apa sebenarnya sains itu? Sains ternyata sulit untuk didefinisikan secara tepat. Istilah "sains" berlaku untuk serangkaian upaya manusia yang sangat luas, mulai dari mengembangkan laser, hingga menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan manusia. Untuk memahami apa itu sains, kita akan melihat daftar periksa yang merangkum karakteristik utama sains. Daftar periksa ini memberikan panduan untuk jenis kegiatan apa yang dicakup oleh sains, tetapi karena batas-batassainstidak didefinisikan dengan jelas, daftar tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai semuanya atau tidak sama sekali. Gunakan daftar periksa ini sebagai pengingat fitur sains secara umum. Jika sesuatu tidak memenuhi sebagian besar karakteristik tersebut, maka hal itu tidak boleh diperlakukan sebagai sains.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 55 Sumber: https://undsci.berkeley.edu/article/0_0_0/whatisscience_03 Gambar 1. Ceklist Sains 2. Pengertian dan Komponen Dasar Penyelidikan Ilmiah Penyelidikan ilmiah adalah proses menemukan jawaban atas suatu pertanyaan dengan menggunakan berbagai metode penelitian. Penyelidikan atau investigasi biasanya dimulai ketika seseorang mengamati lingkungan di sekitarnya dan mengajukan pertanyaan yang mereka tidak tahu jawabannya. Kemudian, mereka akan melakukan lebih banyak pengamatan atau mengembangkan eksperimen untuk menguji hipotesis sebagai peneliti. Dengan mengumpulkan dan menganalisis data, peneliti dapat menyajikan temuan yang mencoba menjawab pertanyaan mereka. Peneliti juga dapat memodifikasi eksperimen mereka untuk menguji kondisi yang awalnya tidak mereka pertimbangkan. Tujuan utama dari penyelidikan ilmiah adalah untuk membangun pengetahuan. Melalui observasi dan eksperimen, peneliti dapat menemukan penjelasan atas fenomena alam dan menerapkan temuannya untuk memecahkan masalah dunia nyata. Selain itu, penyelidikan ilmiah bergantung pada pendekatan objektif yang penting untuk mengumpulkan data yang akurat. Peneliti yang menerapkan proses ini dapat mengurangi pengaruh bias mereka dan memastikan hasil mereka didasarkan pada bukti empiris. Penyelidikan ilmiah dapat diterapkan di berbagai bidang mulai dari kimia, biologi, dan fisika hingga geologi dan psikologi. Profesional di berbagai industri juga dapat menerapkan proses untuk menguji hipotesis dan melaporkan temuannya. Misalnya, seorang peneliti farmasi mungkin melakukan percobaan untuk menentukan efektivitas obat. Penyelidikan ilmiah juga lazim dilakukan di ruang kelas dalam rangka proses pembelajaran. Melalui penyelidikan ilmiah siswa akan menggunakan proses untuk mematuhi persyaratan tugas dan dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 56 Sebagai bagian dari metode ilmiah, secara umum penyelidikan ilmiah mencakup komponen-komponen berikut ini. 1. Menyatakan masalah atau pertanyaan yang akan dijawab 2. Melakukan beberapa pengamatan terkait 3. Menyusun hipotesis 4. Menguji hipotesis (mencari cara untuk mendapatkan beberapa bukti) 5. Mengumpulkan Data/Hasil 6. Membuat Kesimpulan Salah satu cara terbaik untuk memahami semua komponen di atas adalah dengan melihat contoh terkait topik “Alga: Giant Kelp” (Macrocystis pyrifera) berikut ini. 1 Menyatakan masalah atau pertanyaan yang akan dijawab Apa yang mengontrol di mana Giant Kelp (Macrocystis pyrifera) hidup di lautan? 2 Melakukan beberapa Observasi terkait. Melakukan pengamatan dengan naik perahu di sekitar garis pantai di mana terdapat Alga: Giant Kelp, dan memperhatikan bahwa rumput laut hanya tumbuh di air yang lebih dangkal pada kedalaman sekitar seratus kaki. 3 Menyusun Hipotesis Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita memperhatikan beberapa fakta yang sudah kita ketahui untuk memandu kita dalam membentuk hipotesis. Bagaimana dengan cahaya? Giant Kelp adalah makro-alga yang membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis. Sinar matahari hanya menembus beberapa ratus kaki di atas lautan, dan rumput laut tidak hidup di bawah kedalaman ini. Mungkin ada koneksi di sini. Jika kita dapat mengetahui bagaimana rumput laut merespon berbagai tingkat sinar matahari, kita dapat menentukan apakah sinar matahari merupakan kontrol penting di mana rumput laut dapat hidup. Perhatikan bahwa ini hanyalah salah satu dari beberapa hipotesis berbeda yang dapat kita ajukan tentang mengapa rumput laut hanya hidup di air dangkal. Mungkin rumput laut perlu dicuci dengan gerakan gelombang yang sering, dan karenanya perlu berada di air dangkal. Mungkin rumput laut membutuhkan unsur kimia tertentu yang hanya terjadi di air dangkal. Ini semua adalah hipotesis yang bagus, tetapi yang terbaik adalah menguji hanya satu per satu, dan pilih yang menurut Anda paling mungkin. Jadi misalnya hipotesis yang ditetapkan adalah: Giant Kelp membutuhkan sinar matahari setidaknya sama dengan yang ditemukan pada kedalaman 100 kaki untuk hidup. 4 Menguji Hipotesis. Dalam dua tangki percobaan, kita menempatkan dua kelompok rumput laut. Tanaman rumput laut dalam satu


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 57 tangki mendapatkan sinar matahari pada intensitas yang ditemukan pada 20 kaki di bawah permukaan laut. Kelompok di tangki lain hanya mendapat cahaya dengan intensitas yang ditemukan di 120 kaki. Kedua tangki harus memiliki sifat yang identik. (Ini penting. Kita harus mengatur hanya satu faktor— dalam hal ini jumlah sinar matahar - yang bervariasi di antara dua tangki. Jika kita mengubah lebih dari satu faktor pada satu waktu, kita tidak akan tahu pasti faktor apa yang menyebabkannya. perbedaan yang mungkin saya amati.) Eksperimen berlangsung selama beberapa minggu. 5 Mengumpulkan Data/Hasil Rumput laut yang mendapat "sinar matahari laut dangkal" hidup; rumput laut yang hanya mendapat "sinar matahari laut dalam" redup dan akhirnya mati. 6 Membuat Kesimpulan Intensitas sinar matahari merupakan kontrol penting di mana rumput laut hidup di laut. Kelp hanya bisa hidup di daerah dengan sinar matahari berlimpah. Setidaknya itulah salah satu alasan mengapa rumput laut hanya hidup di perairan dangkal. Perhatikan bahwa mungkin ada faktor lain yang menentukan di mana rumput laut hidup. Jika kita terus mengamati, kita akan mencatat bahwa rumput laut tidak tumbuh di manamana yang airnya kurang dari 100 kaki, jadi pasti ada hal lain yang membuat suatu daerah menjadi habitat yang baik untuk hutan rumput laut. Sains adalah proses pembentukan dan pengujian hipotesis yang berkelanjutan! 3. Tiga Jenis Penyelidikan Sains Para ilmuwan menggunakan tiga jenis penyelidikan/investigasi untuk meneliti dan mengembangkan penjelasan untuk peristiwa di alam, yaitu: investigasi deskriptif, investigasi komparatif, dan investigasi eksperimental. Berikut adalah penjelasan mengenai ciri-ciri ketiganya. a. Investigasi Deskriptif Investigasi deskriptif menggunakan pengamatan dan pengukuran yang cermat untuk mengembangkan temuan deskriptif tentang suatu organisme, zat, reaksi, atau menggambarkan dan/atau mengukur bagian dari sistem/proses alam, dapat mencakup data kuantitatif dan/atau kualitatif. Investigasi jenis ini digunakan jika hanya sedikit hal yang diketahui dari topik dan mencakup bagian-bagian berikut dari penyelidikan ilmiah: ➢ pengamatan ➢ pertanyaan penelitian ilmiah ➢ prosedur


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 58 ➢ data, grafik, analisis ➢ kesimpulan ➢ tidak termasuk hipotesis atau prediksi Investigasi deskriptif dapat diidentifikasi dengan kata kunci berikut: ➢ mengamati ➢ menggambarkan ➢ daftar ➢ mengenali Contoh: mengamati sel di bawah mikroskop dan membuat diagram apa yang terlihat; frekuensi hujan turun di bulan Agustus; Seberapa banyak serangga pada area yang ditentukan?; Berapa cm jarak tempuh siput dalam waktu 10 menit?. b. Investigasi Komparatif Ciri dari investigasi komparatif adalah melibatkan pengumpulan data tentang organisme/objek/fitur yang berbeda, atau pengumpulan data dalam kondisi yang berbeda (misalnya, waktu dalam setahun, suhu, lokasi) untuk membuat perbandingan; melibatkan pencarian pola atau tren dengan membandingkan persamaan dan perbedaan dari waktu ke waktu dan dalam berbagai keadaan. Selain itu juga mencakup bagian-bagian berikut dari penyelidikan ilmiah: ➢ pengamatan ➢ pertanyaan penelitian ilmiah ➢ hipotesis ➢ prosedur ➢ variabel (independen dan dependen) ➢ data, grafik, analisis ➢ kesimpulan ➢ tidak termasuk grup kontrol Investigasi komparatif dapat diidentifikasi dengan kata kunci berikut: ➢ bandingkan/kontraskan (lawan dari) ➢ persamaan/perbedaan ➢ mengkategorikan Contoh: membandingkan dua jenis daun yang berbeda untuk melihat mana yang memiliki tingkat transpirasi yang lebih besar; Bagaimana fase bulan berubah sepanjang bulan?;


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 59 Persamaan dan perbedaan antara prokariota dan eukariota; Besarnya perbedaan suhu di lokasi A dan B pada pukul 12.00 siang. c. Investigasi Eksperimental Investigasi jenis ini ditandai dengan pelibatan proses di mana "uji yang adil" dirancang dan variabel secara aktif dimanipulasi, dikendalikan, dan diukur dalam upaya untuk mengumpulkan bukti yang akan mendukung atau menyangkal hubungan kausal; pelibatan bagaimana menentukan variabel yang mempengaruhi kelompok kontrol dan eksperimen. Investigasi ini mencakup bagian-bagian berikut dari penyelidikan ilmiah: ➢ pengamatan ➢ pertanyaan penelitian ilmiah ➢ hipotesis ➢ prosedur ➢ variabel (independen dan dependen) ➢ kelompok kontrol dan eksperimen ➢ data, grafik, analisis ➢ kesimpulan Investigasi eksperimental dapat diidentifikasi dengan kata kunci berikut: ➢ kelompok kontrol dan eksperimen ➢ konstanta ➢ menguji efek dari …. Contoh: pengujian untuk melihat bagaimana ketinggian lereng mempengaruhi seberapa jauh kelereng/bola akan menggelinding; pengaruh gula pada ragi; Bagaimana lari mempengaruhi detak jantung?; Pengaruh temperatur terhadap pertumbuhan jamur. 4. Penilaian Kemampuan Penyelidikan Ilmiah Berbagai jenis penilaian kelas dapat memberi guru berbagai jenis informasi evaluasi. Tentu terdapat tantangan tersendiri dalam mengevaluasi pembelajaran di kelas inkuiri. Para guru tentunya ingin menilai apa yang siswa ketahui, di mana mereka membutuhkan bantuan, dan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Pada skala yang lebih besar, administrator dan pembuat kebijakan menggunakan penilaian untuk menentukan seberapa baik sekolah mereka memfasilitasi pendidikan untuk siswa. Penilaian adalah istilah yang lebih modern dan lebih inklusif daripada "pengujian" tradisional. Penilaian menyediakan hubungan antara pengajaran dan pembelajaran yang memungkinkan kita mengetahui hasil dari setiap kegiatan pendidikan. Sampai beberapa tahun terakhir, penilaian pendidikan sains tidak menjadi perhatian utama dalam pendidikan karena sangat sedikit sains yang diajarkan. Dengan meningkatnya perhatian pada sains, dan


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 60 pengakuan bahwa pengajaran sains penting dalam mempersiapkan siswa untuk dunia modern, inkuiri sains dan penilaian inkuiri sains sekarang dipandang penting di sekolah. Secara umum disepakati bahwa inkuiri sains mencakup beberapa interaksi langsung dengan alam; yaitu, "pemecahan masalah", "penyelidikan", atau "investigasi" harus melibatkan tindakan aktif serta pemikiran dan penalaran. Tapi ini masih menyisakan ruang untuk variasi yang cukup besar dalam definisi inkuirisains. Ragam kegiatan yang menggambarkan prinsipprinsip ilmiah juga menambah variasi penilaian yang memungkinkan untuk dilakukan. Namun untuk mengembangkan penilaian apa pun, masalah yang paling penting untuk diselesaikan adalah menentukan apa yang akan dinilai. Selain itu, setiap diskusi penilaian inkuiri harus dimulai dengan pernyataan yang jelas tentang bagaimana inkuiri didefinisikan. Jika kita menerima gagasan bahwa inkuiri sains melibatkan investigasi alam, maka inkuiri membutuhkan aktivitas fisik dan mental. Untuk menilai kedua aspek penyelidikan membutuhkan "penilaian kinerja". Penilaian semacam itu kemungkinan akan mencakup sejumlah komponen. Pertama, harus membahas seberapa baik siswa mampu melakukan proses fisik, seperti pengukuran, observasi, desain eksperimen, pemecahan masalah, dll. Tingkat kemampuan berpikir dan penalaran siswa juga harus diperhatikan, yaitu, apakah siswa menarik kesimpulan yang valid, memilih metode yang tepat, mengenali keteraturan di alam, dan sebagainya. Selain itu, penting juga untuk melihat pengetahuan siswa tentang konsep sains, dan konten sains. Berikut adalah contoh-contoh rubrik penilaian untuk inkuiri sains yang dapat digunakan sebagai inspirasi. a. Penilaian dengan rubrik langsung Aspek Lemah (1) Berkembang (2) Cakap (3) Mahir (4) Merumuskan pertanyaan dan pernyataan hipotesis Tidak mampu merumuskan hipotesis yang dapat diuji untuk menjawab pertanyaan Merumuskan hipotesis yang mungkin tidak menjawab pertanyaan; didukung oleh pendapat dan kesalahpahaman Merumuskan hipotesis yang dapat diuji koheren yang berpotensi menjawab pertanyaan; sebagian didukung oleh pengetahuan sebelumnya Merumuskan hipotesis yang dapat diuji koheren yang berpotensi menjawab pertanyaan; sepenuhnya didukung oleh pengetahuan sebelumnya Merancang dan melakukan Investigasi Ilmiah Merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah yang tidak terkait dengan hipotesis; langkahlangkahnya tidak logis, tidak berurutan, Merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah yang kurang jelas hubungannya dengan hipotesis; langkah-langkah tidak lengkap dan/atau sulit Merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah yang berhubungan langsung dengan hipotesis; langkah-langkah mengandung sedikit Merancang dan melakukan penyelidikan ilmiah yang berhubungan langsung dengan hipotesis; langkahlangkahnya logis dan berurutan;


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 61 dan/atau tidak jelas; variabel dan konstanta tidak ada; tidak ada percobaan berulang diikuti; variabel dan konstanta tidak diidentifikasi dengan benar dan/atau salah urus dan mengurangi hasil; percobaan tidak cukup untuk menguji hipotesis ketidakakuratan dalam logika dan/atau urutan; ketidakakuratan kecil dalam mengidentifikasi dan mengelola variabel dan konstanta tidak secara signifikan mempengaruhi hasil keseluruhan; bukti percobaan berulang variabel dan konstanta diidentifikasi dan dikelola secara objektif; percobaan berulang cukup untuk memvalidasi hasil Menggunakan alat dan teknik yang tepat untuk mengumpulkan dan merekam data Memilih peralatan dan teknik yang tidak tepat; tidak menerapkan K3 saat menggunakan peralatan kerja, penggunaan teknologi dan konsep matematika yang tidak efektif; kesalahan atau kesenjangan yang signifikan dalam data yang dikumpulkan Salah menggunakan peralatan dan teknik; beberapa praktik yang terbukti tidak aman ; penggunaan teknologi dan konsep matematika yang tidak efektif; terdapat kesalahan dalam data yang dikumpulkan Memilih dan menggunakan peralatan kerja dengan aman; umumnya memilih/ menggunakan teknologi dan konsep matematika yang sesuai; sedikit ketidakakuratan dan beberapa subjektivitas dalam hal data yang dikumpulkan; beberapa inkonsistensi dalam merekam data Memilih dan menggunakan peralatan lab dengan aman; secara efektif memilih/ menggunakan teknologi dan konsep matematika yang sesuai; data dikumpulkan dan dicatat secara sistematis, akurat, dan objektif Merumuskan dan merevisi penjelasan ilmiah dan model; Menggunakan logika dan bukti Penjelasan/model tidak didasarkan pada analisis data atau sains yang akurat; data yang menyangkal hipotesis diabaikan; tidak ada hubungan antara hasil dan hipotesis; tidak ada bukti kemungkinan revisi dan penjelasan alternatif Penjelasan/model didasarkan pada analisis data yang tidak tepat dan terdapat kesalahan konsep sains; merumuskan revisi terbatas Penjelasan/model sebagian mencerminkan bukti dari penyelidikan dan didasarkan pada konsep sains yang akurat; menggunakan hasil untuk memverifikasi atau menyangkal hipotesis; merumuskan kemungkinan revisi Penjelasan/model mencerminkan bukti dari penyelidikan dan didasarkan pada konsep sains yang akurat; menggunakan hasil untuk memverifikasi atau menyangkal hipotesis; merumuskan kemungkinan revisi dan penjelasan alternatif Berkomunikasi Metode dan Metode dan Metode dan Metode dan


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 62 dan mempertahankan argumen ilmiah prosedur tidak jelas dan tidak akurat; tidak ada argumen dan tanggapan terhadap komentar kritis serta hubungan antara penyelidikan dan pengetahuan ilmiah yang akurat prosedur tidak jelas atau terwakilisecara tidak akurat; argumen dan tanggapan terhadap komentar kritis serta hubungan antara penyelidikan dan pengetahuan ilmiah yang akurat bersifat kurang tepat prosedur umumnya akurat untuk memungkinkan replikasi penyelidikan dan mendukung kesempatan untuk penyelidikan lebih lanjut; argumen dan tanggapan terhadap komentar kritis mengandung beberapa kelemahan dalam logika tetapi umumnya menunjukkan hubungan antara penyelidikan dan sains yang akurat prosedur disajikan dengan jelas dan akurat untuk memungkinkan replikasi penyelidikan dan meningkatkan peluang untuk penyelidikan lebih lanjut; argumen dan tanggapan terhadap komentar kritis logis dan secara efektif menunjukkan pemahaman tentang hubungan antara penyelidikan dan sains yang akurat b. Penilaian dengan kriteria. Kriteria Penilaian Kurang (1) Cukup (2) Baik (3) Sangat Baik (4) Pengamatan Hipotesis Penentuan Variabel Prosedur Analisis Kesimpulan Acuan kriteria: Sangat baik Memenuhi semua persyaratan; cakupan yang lengkap; benar-benar memahami masalah dan kemampuan untuk menerapkan solusi; menunjukkan orisinalitas; sedikit kesalahan tata bahasa. Baik Memenuhi semua persyaratan; didefinisikan dengan baik dan didokumentasikan; pemahaman yang sangat baik dan kemampuan untuk menerapkan solusi; menunjukkan bukti kreativitas; beberapa kesalahan. Untuk solusi masalah baru; tunjukkan lebih banyak bukti kreativitas dan lebih banyak detail; sedikit kesalahan tata bahasa.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 63 Cukup Pekerjaan tidak merata; memenuhi beberapa persyaratan; cakupan yang buruk; sedikit pemahaman dan kemampuan untuk menerapkan data untuk pemecahan masalah; perlu meningkatkan area yang signifikan; banyak kesalahan tata bahasa/mekanik. Kurang Memenuhi beberapa persyaratan;sedikit pemahaman dan sedikit aplikasi pada solusi; kesalahan tata bahasa/mekanik secara signifikan Project Based Learning Konsep Pembelajaran berbasis Projek Sistem pendidikan yang dirancang dan diterapkan di SMK menghasilkan peserta didik yang mampu berperan sebagai warga negara yang berkualitas, berperilaku baik, bertanggung jawab dan mampu beradaptasi dengan situasi kehidupan nyata. Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek) merupakan metode pembelajaran berdasar teori konstruktivisme. Pembelajaran Berbasis Proyek dikembangkan, oleh William Heard Kilpatrick, dari prinsip-prinsip learning by doing yang diformulasikan oleh John Dewey. Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek juga terdapat Problem Based Learning (PBL) karena terdapat kemiripan antara keduanya. Penggunaan berbagai sumber daya pendidikan dan muatan integratif, membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan efektif. Pembelajaran sedemikian sangat cocok untuk mengembangkan soft skill, sehingga peserta didik mampu beradaptasi dan berkontribusi pada tuntutan lingkungan saat ini dan masa depan yang tidak pasti dan dinamis (Granado-Alcón dkk., 2020). Pembelajaran berbasis proyek adalah metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dan menuntut proses eksplorasi pengetahuan yang mendalam. Peserta didik dilatih untuk memilih dan terampil dalam memecahkan masalah/ tantangan kompleks di dunia nyata dalam proyeknya yang bermakna secara pribadi (gambar 1.). Peserta didik diberikan ruang belajar yang; menumbuhkan ketertarikan pada subjek pembelajaran, lebih fokus pada konten dan kegiatan belajar, menguatkan rasa memiliki, lebih tertib/ disiplin, menghargai waktu, dan bertanggung jawab pada apa yang mereka kerjakan. Peserta didik dibiasakan bersikap positif dalam mengeksplorasi dan menemukan pengetahuan; berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Pendekatan pendidikan ini menuntut pendidik menggunakan strategi instruksional beragam dan konstruktif (Isa & Aziz, 2021).


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 64 Gambar 2. Konsep Pembelajaran Berbasis Proyek (Nurhayati, Kusnandar, & Harianti). Pembelajaran Berbasis Proyek secara esensial mencakup hal-hal berikut: a. Peserta didik mempelajari pengetahuan untuk menyelesaikan secara realistis permasalahan di dunia nyata b. Meningkatkan kontrol oleh peserta didik dalam pembelajarannya c. Pendidik berfungsisebagai coach dan fasilitator proses inkuiri dan refleksi, dan d. Peserta didik (sebaiknya, meski tidak selalu) bekerja secara berpasangan atau kelompok (Vega, 2015). Tidak semua metode pembelajaran yang menghasilkan proyek dikategorikan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Berikut perbedaan antara pembelajaran diakhiri dengan proyek dengan Pembelajaran Berbasis Proyek (tabel 1). Tabel 1. Perbedaan antara Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Pembelajaran Diakhiri dengan Proyek. Tahap Pembelajaran Berbasis Proyek Proyek di akhir pembelajaran Proses Bimbingan/ supervisi pendidik dan kolaborasi semua anggota kelompok, diperlukan selama prosesmengerjakanproyek Proyek bisa dilakukan dirumahtanpa bimbingan pendidik dan bantuan anggota kelompok Peserta didik memiliki pilihan pada tahap perencanaan dan pengerjaan proyek Peserta didik tidak memiliki banyak peluang untuk membuat pilihan pada setiap detil proyek Proyek didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan esensial pendidik Proyek didasarkan pada instruksipendidik Proyek dikerjakan melalui proses inkuirimandiri Proyek dikerjakan tanpa prosesinkuiri


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 65 Hasil Hasil proyek adalah jawaban terhadap pertanyaan esensial Hasil proyek adalah praktikpengetahuan peserta didik Hasil proyek diuji atau disajikan ke publik (internal dan eksternal kelas) Hasil proyek dikumpulkan kepada pendidik untuk dinilai Penilaian hasil proyek didasarkan pada rubrik yang telah disiapkan pendidik ataudibuat spesifik untuk proyek Penilaian hasil proyek didasarkanpada persepsi pendidik Sumber: (Hamidah et al., 2020). Prinsip Pembelajaran Berbasis Projek Dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, peran pendidik bergeser dari pemberi konten menjadi fasilitator, pelatih atau manajer proyek. Peserta didik bekerja lebih mandiri, dengan pendidik memberikan dukungan hanya bila diperlukan. 7 prinsip utama Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Permasalahan dan pertanyaan menantang Permasalahan dan pertanyaan yang memampukan peserta didik untuk belajar tentang apa yang perlu disiapkan pada proses inkuiri, jenis-jenis aktivitas inkuiri yang dipilih, perangkat yang dipersiapkan, dan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah atau menjawab pertanyaan. b. Inkuiri berlanjut Proses inkuiri harus selalu terjadi, untuk mendukung keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kolaborasi dan pengelolaan diri pada peserta didik. c. Autentik Prinsip autentik memiliki relevansi dengan pembelajaran berkonteks kehidupan nyata. Autentik pada Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pada desain proyek, aktivitas dan peralatan pengerjaan proyek, dan dampak hasil proyek. d. Suara dan pilihan peserta didik Dewey (1956) menyatakan bahwa prinsip suara dan pilihan peserta didik merupakan salah satu strategi yang harus diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah. Penerapan prinsip ini akan membangun rasa memiliki peserta didik terhadap Pembelajaran Berbasis Proyek yang mereka lakukan. e. Refleksi Aktivitas refleksi dilakukan oleh peserta didik dan pendidik untuk mengamati efektifitasaktivitas-aktivitas proses inkuiri; menemukan masalah yang dihadapi dan bagaimana solusinya. Refleksi membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan metakognitif selama proses pembelajaran.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 66 f. Kritik dan revisi Kelompok peserta didik, pendidik, atau nara sumber memberikan kritik dan saran untuk memfasilitasi peserta didik menemukan hal-hal yang tidak selayaknya pada hasil proyek dan merevisinya. g. Produk publik Presentasi hasil proyek di depan kelas atau bahkan di lingkungan sekolah, memberikan kepuasan dan menumbuhkan motivasi belajar sepanjang hidup pada peserta didik (Hamidah et al., 2020). Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dilaksanakan apabila dipenuhi syarat-syarat berikut: a. Pendidik harus terampil mengidentifikasi kompetensi dasar yang lebih menekankan pada aspek keterampilan atau pengetahuan pada tingkat penerapan, analisis, sintesis,dan evaluasi b. Pendidik mampu memilih materi atau topik-topik yang akan dijadikan tema proyek sehingga menjadi menarik c. Pendidik harus terampil menumbuhkan motivasi peserta didik dalam mengerjakan proyek d. Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup; e. Pendidik harus melihat kesesuaian waktu proyek dengan kalender akademik sehingga kegiatan proyek memungkinkan akan dilakukan(Nurhayati, Kusnandar, & Harianti). 1. Tahapan Pembelajaran Berbasis Projek Model pembelajaran Project Based Learning awalnya dikembangkan oleh The George Lucas Education Foundation dan Dopplet, dengan langkah-langkah pembelajaran berdasarkan beberapa fase sebagai berikut (tabel 2).


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 67 Tabel 2. Tahapan Pembelajaran Berbasis Proyek dan Pengalaman Belajar. Tahapan Pembelajaran Berbasis Proyek Pengalaman Belajar Langkah 1 Penentuan pertanyaan mendasar (start with essential question). ● Menggugah ketertarikan peserta didik terhadap topik yang akan dipelajari (apersepsi) ● Mendorong peserta didik untuk berpikir kritis ● Membangun kemampuan peserta didik dalam menghubungkan kejadian yang terjadi disekitarnya dengan topik yang dibahas Langkah 2 Penyusun perencanaan proyek (design project) ● Mengorganisasikan peserta didik dalam kelompok kerja ● Membangun kerjasama sesama peserta didik ● Membangun komunikasi antar peserta didik Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan ● Menentukan dan menemukan rancangan project sendiri Langkah 3 Menyusun jadwal(create schedule) ● Mengembangkan kemampuan penyelidikan otentik ● Mengidentifikasi masalah nyata ● Mencarisumber informasi Langkah 4 Memantau peserta didik dan kemajuanproyek (monitoring the students and progress of project) ● Memiliki pengalaman untuk melakukan penyelidikan (mencoba) ● Menumbuhkan kemampuan menganalisis (menemukan sendiri hubungan antara kondisi nyata dengan permasalahan yang dihadapi) ● Membangun sikap berbagi dan bekerjasama ● Mengembangkan kemampuan berkomunikasi ● Menumbuhkan kemampuan membuat keputusan ● Memanfaatkan media dan sumber (TIK) Langkah 5 Penilaian hasil (assesstheoutcome) ● Menyusun bahan presentasi ● Menyampaikan hasil project (presentasi menggunakan media/TIK) ● Menjawab pertanyaan saat diskusi ● Mengembangkan kemampuan menampilkan hasil karya (menggunakan media/TIK) ● Mengemas produk ● Mendokumentasikan tahapan proyek (memanfaatkan TIK) ● Menampilkan produk (menggunakan media/TIK) Langkah 6 Evaluasi Pengalaman (evaluation the experience) ● Mengembangkan kemampuan menganalisis hasil proyek ● Kemampuan mengambil keputusan Sumber: (Nurhayati & Harianti, dan Rachmawati & Cahyono, 2022).


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 68 Beberapa komponen kritis untuk meningkatkan peluang keberhasilan Pembelajaran Berbasis Proyek: a. Permasalahan dan proyek realistis yang relevan dengan keterampilan dan minat peserta didik, dan memerlukan pembelajaran dengan konten dan keterampilan yang didefinisikan denganjelas (contoh: menggunakan rubrik atau contoh praktis dari praktisi atau bahkan murid sendiri). b. Kerja kelompok terstruktur yang terdiri dari tiga sampai empat peserta didik dengan: tingkat keterampilan yang beragam dan peran yang saling bergantung, penghargaan tim, dan akuntabilitas individu; berdasarkan pertumbuhan peserta didik. c. Penilaian beragam dengan banyaknya kesempatan bagi peserta didik untuk: menerima umpan balik dan merevisi hasil kerjanya (contoh: benchmarks, refleksi), outcomes pembelajaran (contoh: problem-solving, konten, kolaborasi); dan presentasi yang mendorong partisipasi dan nilai sosial (contoh: pameran, portofolio,kinerja, laporan). d. Partisipasi dalam komunitas pembelajaran, termasuk berkolaborasi dan merefleksikan pengalaman Pembelajaran Berbasis Proyek di kelas dengan rekan kerja, dan juga pelatihan metode pengajaran berbasis inkuiri (Vega, 2015). 2. Asesmen Pembelajaran Berbasis Projek Penilaian pembelajaran berbasis proyek harus dilakukan secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik selama pembelajaran. Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: a. Kemampuan pengelolaan : kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. b. Relevansi: Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 69 c. Keaslian: Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi pendidik berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik. Pelaksanaan penilaian dapat menggunakan alat/ instrumen penilaian berupa daftar cek ataupun skala penilaian. Sumber-sumber data penilaian tersebut meliputi: a. Self-assessment (penilaian diri) penting dilakukan untuk merefleksikan diri peserta didik sendiri, tidak hanya menunjukkan apa yang peserta didik rasakan dan apa yang seharusnya peserta didik berhak dapatkan. Peserta didik merefleksikan dirinya seberapa baik mereka bekerja dalam kelompok dan seberapa baik peserta didik berkontribusi, bernegosiasi, mendengar dan terbuka terhadap ide-ide teman dalam kelompoknya. Peserta didik pun mengevaluasi hasil proyeknya sendiri, usaha, motivasi, ketertarikan dan tingkat produktivitas. b. Peer Assessment (penilaian antar peserta didik) merupakan elemen penting pada penilaian Pembelajaran Berbasis Proyek: pendidik tidak akan selalu bersama semua peserta didik di setiap waktu dalam proses pengerjaan proyek, dan peer assessment akan memudahkan untuk menilai peserta didik secara individu dalam sebuah kelompok. Peserta didik menjadi kritisterhadap kerja temannya dan berupaya untuk saling memberikan umpan balik. c. Rubrik penilaian produk, Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam atau alat-alat teknologi tepat guna yang sederhana. Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: ➔ Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dan merencanakan, menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesainproduk. ➔ Tahap pembuatan produk (proses), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik. ➔ Tahap penilaian produk (appraisal), meliputi: penilaian produk yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan (Afriana, 2015).


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 70 ❖ PRAKTIK Pencermatan Tahapan Penyelidikan Ilmiah Perhatikan tayangan video pada link berikut ini: 1. Components of Scientific Investigation: https://youtu.be/2gx9mREcjv4 2. The Scientific Method_ Steps and Examples: https://youtu.be/Xxm_beTs2LU Selanjutnya secara berkelompok, silakan mengikuti langkah berikut ini. a. Berdasarkan tayangan video, buatlah rangkuman langkah penyelidikan ilmiah beserta contohnya melalui diskusi kelompok. b. Tuangkan hasil diskusi dalam bentuk bahan presentasi menggunakan perangkat metaplan yang disediakan. c. Setelah selesai pampanglah bahan presentasi pada sudut kelompok yang telah ditentukan. d. Lakukan window shopping pada kelompok lain untuk saling sharing hasil diskusi (memberi masukan dan komentar) Menyusun Rancangan Penyelidikan Ilmiah Berdasarkan pertanyaan yang diberikan, silakan secara berkelompok membuat rancangan penyelidikan ilmiah sesuai dengan format yang disediakan. 1. Pertanyaan: Deterjen manakah yang paling baik untuk membersihkan noda sambal pada kaos berwarna putih? 2. Lembar Perencanaan Metode Ilmiah Judul/Masalah: Hipotesis: Alat dan Bahan Prosedur: 1. 2. 3. 4. dan seterusnya


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 71 ❖ KUIS Jawablah soal-soal berikut ini. 1. Perhatikan tabel berikut. Tabel 1. Kelarutan butiran 1 g kopi dalam 250 mL air Seting Waktu rerata (menit) Air panas 3 Air dingin 10 Tabel di atas cocok digunakan untuk percobaan yang dirancang untuk menjawab pertanyaan…. A. Dapatkah suhu mempengaruhi kecepatan larut butiran kopi dalam air? B. Varian butiran kopi mana yang lebih cepat larut dalam air? C. Bagaimana butiran kopi dapat dilarutkan dalam air? D. Apakah energi yang ada dalam air mempengaruhi rasa kopi? 2. Berikut ini yang benar mengenai pembelajaran berbasis projek pada tahap proses adalah …. A. Proyek bisa dilakukan di rumah tanpa bimbingan pendidik dan bantuan anggota kelompok. B. Peserta didik tidak memiliki banyak peluang untuk membuat pilihan pada setiap detil proyek. C. Proyek yang dilaksanakan oleh peserta didik didasarkan pada instruksi pendidik. D. Peserta didik memiliki pilihan pada tahap perencanaan dan pengerjaan proyek. 3. Berikut ini yang tidak dapat digunakan sebagai identifikasi investigasi komparatif adalah …. A. mengkategorikan B. mendata persamaan C. menguji efek D. mengkontraskan 4. Nita ingin mengetahui kombinasi getah pohon karet dan pati singkong yang akan menghasilkan bioplastik paling tahan panas, Manakah dari berikut ini yang menjadi variabel terikat dalam percobaan? A. Persentase komposisi campuran B. Ketahanan panas dari bioplastik C. Jumlah lateks karet yang ditambahkan D. Volume bioplastik yang dihasilkan 5. Berikut ini yang menunjukkan contoh dari investigasi deskriptif adalah …. A. membandingkan dua jenis daun yang berbeda untuk melihat mana yang memiliki tingkat transpirasi yang lebih besar B. mengamati sel di bawah mikroskop dan membuat sketsa mengenai apa yang terlihat C. pengujian untuk melihat bagaimana ketinggian lereng mempengaruhi seberapa jauh kelereng/bola akan menggelinding


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 72 D. Uji pengaruh pupuk pada spesies tanaman menggunakan kelompok kontrol yang tidak menerima pupuk apapun. ❖ PENUTUP Pemahaman terhadap mata pelatihan ini merupakan dasar bagi keberhasilan dalam melaksanakan sebuah projek penyelidikan ilmiah. Setiap langkah dalam tahapan penyelidikan ilmiah perlu dicermati dan dilatihkan sesering mungkin untuk meningkatkan kompetensisecara utuh dalam mengimplementasikan projek penyelidikan ilmiah. Bagi seorang pendidik, juga sangat penting untuk mengetahui indikator yang menunjukkan penguasaan setiap langkah dalam prosedur projek penyelidikan ilmiah, sehingga akan memudahkan dalam melaksanakan kegiatan asesmen. Oleh karena itu pencermatan terhadap contoh rubrik penilaian yang disajikan dalam topik mata pelatihan ini sangat diperlukan. Guna lebih memastikan penguasaan terhadap materi dalam mata pelatihan Penyelidikan Ilmiah dan Project Based Learning ini, peserta akan mengimplementasikannya pada pelaksanaan mata pelatihan berikutnya dalam rangkaian pelatihan ini, yakni mata pelatihan Projek IPAS Terapan dan Penyusunan Modul Ajar


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 73 BAB 3 Kompetensi Profesional Projek IPAS dan Kejuruan A. Aspek/ Materi Projek IPAS sesuai Tema Projek “ Mengelas Pelat Baja dengan Proses SMAW” ❖ Capaian Pelatihan Secara khusus profil kompetensi peserta pelatihan yang ingin dicapai dari materi pelatihanini adalah, peserta pelatihan mampu: 1. memahami aspek-aspek mata pelajaran Projek IPAS sebagai lingkup materi yang akan mendukung siswa dalam menguasai keterampilan proses inkuiri. 2. memahami dan menerapkan bahwa pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dikemas dalam bentuk projek (project-based learning) yang mengintegrasikan beberapa elemen konten/materi. 3. menerapkan rancangan dan proses pembelajaran untuk mencapai elemen kompetensi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang terdiri dari tiga elemen dan dikontekskan dengan karakteristik masing- masing bidang keahlian pada setiap projek yang dilaksanakan. ❖ Materi Pelatihan Latar Belakang Secara etimologi (bahasa) kata sains memiliki arti “Pengetahuan”, dalam hal ini pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi, didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Dari sumber wikipedia.org disebutkan bahwa Ilmu, ilmu pengetahuan, atau sains adalah suatu usaha sistematis dengan metode ilmiah dalam pengembangan dan penataan pengetahuan yang dibuktikan dengan penjelasan dan prediksi yang teruji sebagai pemahaman manusia tentang alam semesta dan dunianya. Segisegi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu- ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Dalam Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008 Tahun 2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka disebutkan bahwa Mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial berfungsi untuk membekali peserta didik agar mampu menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata pada abad 21 ini yang berkaitan dengan fenomena alam dan sosial di sekitarnya secara ilmiah dengan menerapkan konsep sains. Atau dengan kata lain, setelah mempelajari mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 74 dan Sosial, peserta didik dapat memperoleh kecakapan untuk mengambil keputusanyang tepat secara ilmiah agar dapat hidup lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih baik. Dalam peraturan yang sama juga disebutkan bahwa Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial meliputi integrasi antara social sciences dan natural sciences menjadi kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran. Segala aspek kehidupan bersosial dalam kebhinekaan, keberagaman agama, dan saling bergotong royong tercakup dalam social sciences. Adapun interaksi antara manusia dengan alam, serta melihat berbagai fenomenayang terjadi dengan alam, mampu dijelaskan secara logis dan ilmiah dengan natural science. Sehingga melalui integrasi keduanya (social science dan natural science), kita mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam dengan arif dan bijaksana. Semua ketentuan yang dijelaskan pada Keputusan Kepala BSKAP Nomor 008 Tahun 2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka tentunya harus menjadiramburambu bagi setiap guru mata pelajaran Projek IPAS dalam keseluruhan proses pembelajaran yang dilaksanakannya. Rambu-rambu tersebut harus diimplementasikanmulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi serta tindak lanjut hasil evaluasipembelajaran yang menjadi tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Aspek Mata Pelajaran Projek IPAS Jenjang SMK Pembelajaran mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dikemas dalam bentuk projek (project-based learning) yang mengintegrasikan beberapa elemen konten/materi. Tiap projek dilaksanakan untuk mencapai elemen kompetensi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang terdiri dari tiga elemen dan dikontekskan dengan karakteristik masing- masing bidang keahlian. Pada elemen mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial tersebut tercakup 7(tujuh) aspek, yaitu: makhluk hidup dan lingkungannya; zat dan perubahannya; energi dan perubahannya; bumi dan antariksa; keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu; interaksi, komunikasi,sosialisasi, institusisosial dan dinamika sosial;serta perilaku ekonomi dan kesejahteraan. Pembelajaran yang dilaksanakan pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial berbasis projek. Keseluruhan aspek IPAS dan deskripsinya pada semua bidang keahlian dapat dilihat pada tabel berikut.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 75 Tabel 1. Aspek IPAS dan Deskripsinya Aspek IPAS Deskripsi Makhluk hidup dan lingkungannya Aspek ini meliputi keterkaitan antara makhluk hidup yang terdiri dari manusia, tumbuhan dan hewan yang saling bergantung kepada lingkungannya baik berupa tanah, air, energi. Hubungan makhluk hidup dan lingkungannya dapat digambarkan sebagai individu-populasi- komunitasekosistem-biosfer. Pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Zat dan Perubahannya Aspek inii meliputi jenis dan sifat zat yang dibedakan secara kimia dan fisika, ciri-ciri dari perubahan zat fisika, kimia dan biologi, serta unsur senyawa campuran. Berbagai jenis zat dapat dibedakan dari sifat dan perubahan secara fisika dan kimia. Zat dapat tersusun atas unsur, senyawa dan campuran yang dalam kehidupan sehari-hari dapat ditinjau secara perspektif ekonomi kreatif dan sosial. Energi dan Perubahannya Aspek ini meliputi dasar-dasar besaran dan pengukuran, energi dan perubahannya berkaitan dengan segala sesuatu yang mampu membuat sebuah benda untuk melakukan sebuah usaha dan bentuk. Energi dan perubahannya mencakup perubahan energi kimia, listrik, panas dan mekanik serta energi terbarukan. Bumi dan Antariksa Aspek bumi dan antariksa berkaitan dengan materi gravitasi universal. Struktur Bumi yang terdiri dari interior bumi, litosfer, lempen, tektonik, dan gempa bumi. Struktur bumi meliputi hidrosfer, atmosfer, dan medan magnet bumi. Materi ini juga mencakup iklim, cuaca, musim, perubahan iklim serta mitigasi bencana. Keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu Aspek ini berkaitan dengan pemahaman terhadap kondisi sosial dan lingkungan alam dalam konteks lokal dan regional, nasional, hingga global. Selain itu, aspek ini juga terkait dengan pembelajaran tentang kondisi geografis Indonesia dan pengaruhnya terhadap aktivitas sosial, ekonomi, dan politik. Mempelajari konektivitas dan interaksi, mengasah kemampuan berpikir kritis, memahami efek sebab dan akibat. Interaksi Komunikasi, Sosialisasi, Institusi Sosial, dan Dinamika Sosial Aspek ini berkaitan dengan pembentukan identitas diri, merefleksikan keberadaan diri di tengah keberagaman dan kelompok yang berbeda- beda, serta mempelajari dan menjalankan peran sebagai warga Indonesia dan bagian dari warga dunia. Mempelajari tentang interaksi dan institusi sosial, peluang dan tantangannya, mempelajari dinamika/problematika sosial, faktor penyebab dan solusinya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan bagi kemaslahatan manusia dan bumi.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 76 Perilaku Ekonomidan Kesejahteraan Aspek ini berkaitan tentang peran diri, masyarakat serta negara dalam memenuhi kebutuhan bersama. Menganalisis faktor-faktor penyebab kelangkaan, permintaan, penawaran, harga pasar, bentuk-bentuk pasar, serta inflasi. Mengidentifikasi peran lembaga keuangan, nilai, serta fungsi uang konvensional dan digital. Mendeskripsikan pengelolaan, sumber- sumber pendapatan dan pengeluaran keuangan keluarga, perusahaan serta negara. Mengidentifikasi hak dan kewajiban dalam jasa keuangan. Aspek ini menjadi salah satu raung berlatih bagi peserta didik untuk memberikan kontribusi ke masyarakat, memenuhi kebutuhan hidup di tingkat lokal namun dalam perspektif global. Kajian Aspek IPAS pada Tema Projek “Mengelas Pelat Baja DenganProses SMAW” Telaah Aspek Mata Pelajaran Projek IPAS Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dikemas dalam bentuk projek (project-based learning) yang mengintegrasikan beberapa elemen konten/materi. Pada saat Pendidik menyusun sebuah perencanaan pembelajaran mata pelajaran Projek IPAS, maka perlu dilakukan telaah terhadap ketujuh aspek IPAS. Aspek-aspek mana saja yang cocok untuk diintegrasikan sesuai dengan tema atau topik projek dipilih. Dari ketujuh aspek IPAS seperti tersebut di atas tentunya tidak bisa semuanya terintegrasikan dalam sebuah projek. Pada pembelajaran Projek IPAS yang dikontekskan dengan program keahlian Teknik Mesin, teridentifikasi salah satu contoh tema projek yakni Mengelas Pelat Baja Dengan Proses SMAW. Pada tema tersebut, aspek IPAS yang cocok diintegrasikan adalah: Zat dan Perubahannya; Energi dan Perubahannya; Bumi dan Antariksa; Keruangan dan Konektivitas Antar Ruang dan Waktu; dan Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan. Pada aspek Zat dan Perubahannya, materi pembelajaran yang sesuai meliputi jenis dan sifat zat; ciri-ciri dari perubahan zat; dan zat dalam kehidupan sehari-hari dapat ditinjau secara perspektif ekonomi kreatif dan sosial. Pada aspek Energi dan Perubahannya, materi pembelajaran yang sesuai antara lain perubahan energi kimia, listrik, dan panas. Untuk aspek Bumi dan Antariksa dapat difokuskan pada materi gravitasi universal. Materi terkait pemahaman terhadap kondisi sosial dan lingkungan alam dalam konteks lokal dan regional, nasional, hingga global merupakan contoh materi terkait aspek Keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu. Selain itu, materi yang sesuai pada aspek Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan adalah tentang tentang peran diri, masyarakat serta negara dalam memenuhi kebutuhan bersama. Materi Aspek IPAS terkait Tema Projek Berdasarkan hasil telaah aspek mata pelajaran Projek IPAS yang sesuai dengan tema dan topik projek yang akan dilaksanakan, selanjutnya dapat digunakan sebagai kerangka atau poin-poin materi untuk dikembangkan ketika menyusun modul ajar. Kerangka materi


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 77 yangdibuat dapat membantu khususnya pada pengembangan komponen bahan bacaan pesertadidik dan pendidik di bagian lampiran. Berikut ini disajikan paparan inspirasi materi/bahanbacaan untuk tema Mengelas Pelat Baja Dengan Proses SMAW. Penggunaan Pengelasan Logam Pengelasan logam memiliki berbagai penggunaan yang penting dalam kehidupan modern. Berikut adalah beberapa penggunaan utama dari kedua proses tersebut: 1. Konstruksi dan Infrastruktur: pembuatan dan perbaikan berbagai struktur dan infrastruktur penting seperti jembatan, gedung-gedung tinggi, gedung-gedung pabrik, tangki penyimpanan, dan fasilitas lainnya. 2. Otomotif: untuk merakit dan memperbaiki kendaraan bermotor. Sebagian besar kendaraan modern terbuat dari logam yang telah dielas dan difabrikasi untuk memberikan kekuatan dan keselamatan yang diperlukan bagi penggunanya. 3. Manufaktur dan Produksi: membuat berbagai produk, termasuk peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, alat-alat mesin, dan banyak lagi. Hal ini memungkinkan produksi massal barang-barang konsumen yang terjangkau. 4. Energi: industri energi seperti pembangkit listrik, industri minyak dan gas, serta industri terbarukan mengandalkan proses pengelasan logam untuk membangun dan memelihara peralatan yang diperlukan untuk menghasilkan dan mendistribusikan energi. 5. Aerospace dan Pertahanan: bagian kritis dalam pembuatan pesawat terbang, roket, satelit, dan peralatan militer lainnya. Kualitas dan kekuatan material sangatvital untuk keberhasilan dan keselamatan dalam industri ini. 6. Industri Kelautan: membangun kapal-kapal, kapal selam, platform lepas pantai, dan berbagai struktur kelautan lainnya. Mereka bertahan dalam kondisi lingkungan yang keras, termasuk air asin dan tekanan tinggi. 7. Peralatan Medis: membuat tempat tidur rumah sakit, instrumen bedah, alat diagnostik, dan perangkat medis. 8. Kebutuhan Sehari-hari: perabotan rumah tangga, alat dapur, pagar, dan pintu, dibuat menggunakan proses pengelasan logam. 9. Rekayasa dan Inovasi: merancang dan mewujudkan berbagai inovasi baru. Proses ini memungkinkan penggabungan berbagai bahan dan komponen yang berbeda, membuka pintu untuk kreativitas dalam desain produk. 10. Penyelamatan dan Perbaikan: perbaikan struktur dan peralatan yang rusak. Dengan demikian, pengelasan logam memiliki peran yang sangat pentingdalam kehidupan modern dan berkontribusi secara signifikan pada perkembangan dan


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 78 kenyamanan masyarakatsecara keseluruhan. Faktor-Faktor Terkait Pengelasan Logam Pengelasan logam adalah proses yang kompleks dan memerlukan perhatian terhadap berbagai faktor untuk mencapai hasil yang berkualitas dan aman. Beberapa faktor terkait Pengelasan logam meliputi: 1. Jenis logam: Setiap jenis logam memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda, seperti titik lebur, kekerasan, dan kekuatan. Pemahaman tentang jenis logam yangdigunakan adalah penting untuk menentukan teknik pengelasan yang sesuai dan memastikan kualitas hasil akhir. 2. Teknik pengelasan: Ada berbagai teknik pengelasan, termasuk pengelasan busur listrik (seperti SMAW, MIG/MAG, dan TIG), pengelasan gas (seperti oksigen dan asetilena), serta teknik pengelasan khususlainnya. Memilih teknik yang tepat untuk proyek tertentu sangat penting karena masing-masing memiliki kelebihan dan batasan tertentu. 3. Pengaturan parameter pengelasan: Faktor seperti arus, tegangan, kecepatan pengelasan, dan bahan pengisi harus diatur dengan tepat untuk mencapai kualitas pengelasan yang optimal dan menghindari masalah seperti retak atau kelemahan struktural. 4. Kualitas permukaan: Permukaan logam harus dibersihkan dari kotoran, karat, atauzat lain yang dapat mengganggu proses pengelasan. Permukaan yang bersih dan bebas kontaminasi memastikan pengelasan yang lebih baik dan kuat. 5. Suhu lingkungan: Suhu lingkungan juga dapat memengaruhi proses pengelasan. Suhu yang ekstrem dapat menyebabkan deformasi logam, mengganggu presisi fabrikasi, dan mempengaruhi sifat mekanis logam. 6. Sertifikasi dan kepatuhan: Dalam beberapa kasus, khususnya dalam industri yang mengatur standar keselamatan tinggi seperti industri penerbangan atau nuklir, Pengelasan logam harus memenuhi standar dan sertifikasi tertentu untuk memastikan kualitas, keamanan, dan kinerja yang diharapkan. 7. Perlindungan dan keselamatan: Pengelasan sering melibatkan paparan panas, percikan, dan radiasi, yang dapat berbahaya bagi pekerja. Penggunaan perlindungan dan peralatan keselamatan seperti helm pelindung, kacamata, pakaian pelindung, dan penutup penutupan adalah hal yang penting untuk mencegah cedera. 8. Inspeksi dan pengujian: Setelah proses pengelasan selesai, logam harus diinspeksi dan diuji untuk mendeteksi cacat atau kelemahan. Pengujian non-destruktifsepertiradiografi, ultrasonik, atau pengujian penetrasi dapat digunakan untuk memastikan kualitas pengelasan.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 79 9. Desain dan perencanaan: Merancang dan merencanakan proyek pengelasan dengan tepat sebelum melaksanakan pekerjaan fisik adalah kunci keberhasilan. Ini mencakup pemilihan metode pengelasan yang tepat, bahan pengisi, perlakuan panas, dan perencanaan struktur secara keseluruhan. 10. Keterampilan dan pengalaman: Keterampilan operator pengelasan dan tenaga kerja terlibat sangat penting. Pelatihan dan pengalaman dalam teknik pengelasan yang tepat akan mempengaruhi kualitas hasil akhir. Manfaat Pengelasan logam Manfaat Pengelasan logam: 1. Konstruksi dan Manufaktur: Pengelasan logam menjadi dasar pentingdalam konstruksi dan manufaktur. Proses ini memungkinkan pembuatan berbagaistruktur dan produk logam yang digunakan dalam industri, bangunan, kendaraan, dan peralatan lainnya. 2. Diversifikasi Desain: Teknik Pengelasan logam memungkinkan untuk menciptakan berbagai bentuk, ukuran, dan desain produk yang sesuai dengan kebutuhan spesifik dan tuntutan estetika. 3. Efisiensi Produksi: Dengan menggunakan teknologi pengelasan, beberapa komponen logam dapat dihubungkan menjadi satu kesatuan utuh dengan cepat dan efisien, mengurangi waktu produksi dan biaya. 4. Keandalan Struktur: Pengelasan yang dilakukan dengan benar menghasilkan sambungan yang kuat dan andal, memberikan keamanan dan kestabilan struktur logam. 5. Perbaikan dan Pemeliharaan: Pengelasan juga digunakan untuk memperbaiki dan memelihara komponen logam yang rusak, memperpanjang masa pakai dan efisiensi alat atau struktur tersebut. Dampak Praktik Pengelasan logam Dampak Pengelasan logam: 1. Kualitas Sambungan: Pengelasan yang buruk atau cacat dapat menyebabkan sambungan yang lemah atau rentan terhadap kegagalan. Ketika melakukan pengelasan, penting untuk memastikan kualitas sambungan agar struktur logam menjadi aman dan andal. 2. Pencemaran Lingkungan: Proses Pengelasan logam dapat menghasilkan asap dan gas berbahaya yang dapat mencemari lingkungan. Penggunaan peralatan ventilasi yang tepat dan teknik pengelasan yang ramah lingkungan diperlukan untuk mengurangi dampak ini. 3. Keselamatan Kerja: Pengelasan melibatkan penggunaan panas tinggi, percikan logam, dan radiasi yang dapat menyebabkan cedera atau bahkan kebakaran. Pelaksanaan


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 80 tindakan keamanan dan penggunaan peralatan pelindung diri yang tepat sangat penting untuk melindungi pekerja. 4. Biaya dan Efisiensi: Pengelasan yang kompleks atau pemilihan bahan yang tidak tepat dapat meningkatkan biaya fabrikasi dan mempengaruhi efisiensi proses produksi. 5. Penyusutan Logam: Proses pengelasan dan pemanasan logam dapat menyebabkan perubahan struktur mikrologam, yang dapat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan logam. Untuk mengoptimalkan manfaat dari Pengelasan logam serta mengurangi dampak negatifnya, penting untuk menggunakan teknik dan peralatan yang tepat, dilakukan oleh tenaga kerja terlatih, serta mematuhi standar keamanan dan lingkungan yang berlaku. Untuk mengoptimalkan manfaat dari Pengelasan logam serta mengurangi dampak negatifnya, penting untuk menggunakan teknik dan peralatan yang tepat, dilakukan oleh tenaga kerja terlatih, serta mematuhi standar keamanan dan lingkungan yang berlaku. Penyusunan Kriteria/Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP atau IKTP). Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar. Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/ didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, pendidik tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak (misalnya, 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria. Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan, maka pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70 - 85, 85 - 100,dan sebagainya). Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya: (1) menggunakan deskripsi sehingga apabila peserta didik tidak mencapai kriteria tersebut maka dianggap belum mencapai tujuan pembelajaran, (2) menggunakan rubrik yang dapat mengidentifikasi sejauh mana peserta didik mencapai tujuan pembelajaran, (3) menggunakan skala atau interval nilai, atau


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 81 pendekatan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pendidik dalam mengembangkannya. Berikut adalah contoh-contoh pendekatan yang dimaksud. Contoh salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia Fase C: “peserta didik mampu menulis laporan hasil pengamatan dan wawancara”. Pendekatan 1: Menggunakan Deskripsi Kriteria Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketuntasan: Laporan peserta didik menunjukkan kemampuannya menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan pengalaman secara jelas. Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yanglogis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca. Tabel 2. Contoh KKTP Berpendekatan Deskripsi Kriteria Kriteria Tidak Memadai Memadai Laporan menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut. √ Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas. √ Laporan menceritakan pengalaman yang jelas. √ Laporan menunjukkan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca. √ Kesimpulan: Peserta didik dianggap mencapai tujuan pembelajaran jika minimal 3 kriteria memadai. Jika ada dua kriteria masuk kategori tidak tuntas, maka perlu dilakukan intervensi agar pencapaian peserta didik ini bisa diperbaiki Pendekatan 2: Menggunakan Rubrik Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketuntasan yang terdiri atas dua bagian: Isi laporan dan penulisan. Dalam rubrik terdapat empat tahap pencapaian, dari baru berkembang, layak, cakap hingga mahir. Dalam setiap tahapan ada deskripsi yang menjelaskan performa peserta didik. Pendidik menggunakan rubrik ini untuk mengevaluasi laporan yang dihasilkan oleh peserta didik.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 82 Tabel 3. Contoh KKTP Menggunakan Rubrik Baru Berkembang Layak Cakap Mahir Isi Laporan Belum mampu Mampu menulis Mampu menulis Mampu menulis menulis teks teks eksplanasi, teks eksplanasi, teks eksplanasi, eksplanasi, hasil hasil pengamatan, hasil pengamatan, hasil pengamatan, pengamatan, dan pengalaman dan pengalaman dan pengalaman dan pengalaman secara jelas. secara jelas. secara jelas. belum jelas Laporan Laporan Laporan tertuang dalam menunjukkan menjelaskan menjelaskan tulisan. Ide hubungan yang hubungan hubungan dan informasi jelas disebagian kausalitas yang kausalitas yang dalam laporan paragraf. logis disertai logis disertai tercampur dan dengan argumen dengan argumen hubungan antara yang logis yang logis paragraf tidak berhubungan. sehingga dapat meyakinkan pembaca. sehingga dapat meyakinkan pembaca serta adanya fakta-fakta pendukung yang relevan. Penulisan (tanda Belum Sebagian tanda Sebagian besar Semua tanda baca baca dan huruf menggunakan baca dan huruf tanda baca dan dan huruf kapital kapital) tanda baca dan kapital digunakan huruf kapital digunakan secara huruf kapital atau secara tepat digunakan secara tepat. sebagian besar tepat. tidak digunakan secara tepat. Kesimpulan: Peserta didik dianggap sudah mencapai tujuan pembelajaran jika kedua kriteria di atas mencapai minimal tahap cakap Pendekatan 3: Menggunakan Interval Nilai Untuk menggunakan interval, pendidik dan/ atau satuan pendidikan dapat menggunakan rubrik maupun nilai dari tes. Pendidik menentukan terlebih dahulu intervalnya dan tindak lanjut yang akan dilakukan untuk para peserta didik. Contoh a. Untuk nilai yang berasal dari nilai tes tertulis atau ujian, pendidik menentukan interval nilai. Setelah mendapatkan hasil tes, pendidik dapat langsung menilai hasil kerja peserta didik dan menentukan tindak lanjut sesuai dengan intervalnya. 0 - 40% belum mencapai, remedial diseluruh bagian 41 - 65 % belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan 66 - 85 % sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial 86 - 100% sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 83 Bila peserta didik dapat mengerjakan 16 dari 20 soal (dengan bobot yang sama), maka ia mendapatkan nilai 80%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peserta didik tersebut sudah mencapai ketuntasan dan tidak perlu remedial. Contoh b. Pendidik dapat menggunakan interval nilai yang diolah dari rubrik. Seperti dalam tugas menulis laporan, pendidik dapat menetapkan empat kriteria ketuntasan: ➢ menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut ➢ menunjukkan hasil pengamatan yang jelas ➢ menceritakan pengalaman secara jelas ➢ menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logissehingga dapat meyakinkan pembaca Untuk setiap kriteria terdapat 4 (empat) skala pencapaian (1-4). Pendidik membandingkan hasil tulisan peserta didik dengan rubrik untuk menentukan ketercapaian peserta didik. Tabel 3. Contoh KKTP Menggunakan Interval Kriteria Ketuntasan Belum muncul Muncul sebagian kecil Sudah muncul di sebagian besar Terlihat di keseluruhan teks (1) (2) (3) (4) Menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut √ Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas. √ Laporan menceritakan pengalaman yang jelas. √ Laporan menunjukkan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logissehingga dapat meyakinkan pembaca. √ Diasumsikan untuk setiap kriteria memiliki bobot yang sama sehingga pembagi merupakan total dari jumlah kriteria (dalam hal ini 4 kriteria) dan nilai maksimum (dalam hal ini nilai maksimumnya 4). Satuan pendidikan dan/ atau guru dapat memberikan bobotsehingga penghitungan disesuaikan dengan bobot kriteria. Setelah mendapatkan nilai (baik dari rubrik ataupun nilai dari tes), pendidik dan/atau satuan pendidikan dapat menentukan interval nilai untuk menentukan ketuntasan dan tindak lanjut sesuai dengan intervalnya.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 84 0 - 40% belum mencapai, remedial diseluruh bagian 41 - 65 % belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan 66 - 85 % sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial 86 - 100% sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan atau tantangan lebih Pada contoh di atas, pendidik hanya menggunakan rubrik dan diambil kesimpulan bahwa peserta didik di atassudah menuntaskan tujuan pembelajaran, karena sebagian besar kriteria sudah tercapai. ❖ Praktik Menyusun Indikator/Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Sebagai dasar pengembangan modul ajarsesuai topik IPAS sesuai dengan konteks kejuruan, silakan mengikuti langkah berikut dalam menyusun indikator atau kriteria ketercapaian untuk masing-masing tujuan pembelajaran. a) Cermati kembali hasil tugas Pemahaman CP mapel IPAS dan CP mapel Dasar Kejuruan dan Sinkronisasi Capaian Pembelajaran IPAS dengan Mata Pelajaran Dasar-Dasar Program Keahlian. b) Berdasarkan hasil tugas tersebut, khususnya Tujuan Pembelajaran dari projek IPAS yang teridentifikasi dan terpilih, susunlah kriteria atau indikator ketercapaian untukmasingmasing tujuan pembelajaran. Catatan: Silakan memilih/menggunakan pendekatan yang lebih mudah menurut Ibudan Bapak Guru. Menyusun Kerangka Materi Aspek Projek IPAS Sebagai dasar penyusunan bahan bacaan bagi peserta didik dan pendidik yang akan Ibu dan Bapak Guru kembangkan dalam modul ajar, silakan mengikuti langkah berikut. a) Cermati kembali hasil sinkronisasi CP mata pelajaran Projek IPAS dengan mata pelajaran Dasar-dasar Program Keahlian. b) Tentukan/pilih topik projek yang akan dikembangkan sebagai modul ajar. c) Lakukan telaah terkait aspek IPAS esensial yang diperlukan untuk mendukung pengembangan modul ajar. d) Cermati hasil penyusunan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran dari tugas sebelumnya. e) Susunlah kerangka materi IPAS untuk setiap aspek esensial terkait topik projek untuk mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengankriteria atau indikator ketercapaian yang telah ditetapkan.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 85 Catatan: tidak ada format baku yang ditetapkan, namun Ibu dan Bapak Guru dapat menggunakan format berikut sebagai inspirasi. Topik Aspek IPAS Kerangka Materi Esensial ❖ Kuis Jawablah soal-soal berikut ini. 1. Aspek ini menjadi salah satu ruang berlatih bagi peserta didik untuk memberikan kontribusi ke masyarakat, memenuhi kebutuhan hidup di tingkat lokal namun dalam perspektif global. Pernyataan tersebut sesuai dengan aspek Projek IPAS …. A. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan B. Zat dan Perubahannya C. Energi dan perubahannya D. Bumi dan Antariksa 2. Pada penyusunan indikator atau kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran terdapat tiga (3) pendekatan yang bisa digunakan. Berikut ini yang bukan merupakan pendekatan yang dimaksud adalah…. A. norma B. deskripsi C. Rubrik D. interval nilai 3. Manakah dari penyataan berikut yang paling tepat menunjukkan karakter pembelajaran mata pelajaran Projek IPAS SMK? A. Tiap projek IPAS dilaksanakan untuk mencapai masing-masing elemen dari kompetensi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang terdiri dari tiga elemen secara terpisah B. Pembelajaran mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dikemas dalam bentuk projek (project-based learning) yang mengintegrasikan beberapa elemen konten/materi. C. Tiap projek IPAS dilaksanakan untuk mencapai elemen kompetensi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang terdiri dari tiga elemen tanpa memperhatikan konteks bidang kejuruannya. D. Pembelajaran mata pelajaran Projek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dikemas dalam bentuk penyampaian materi ilmu alam dan sosial secara terintegrasi.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 86 4. Pengelasan logam adalah proses yang kompleks dan memerlukan perhatian terhadap berbagai faktor untuk mencapai hasil yang berkualitas dan aman. Berikut ini termasuk dalam faktor-faktor pengaturan parameter pengelasan, kecuali … A. arus B. tegangan C. bahan pengisian D.suhu lingkungan 5. Proses pengelasan dan pemanasan logam dapat menyebabkan perubahan struktur mikrologam, yang dapat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan logam. Pernyataan tersebut merupakan dampak proses-proses Pengelasan logam sehubungan dengan …. A. biaya dan efisiensi produksi B. kualitas dan keandalan sambungan C. penyusutan logam D. kontaminasi ke lingkungan ❖ Penutup Mata pelatihan ini merupakan kelanjutan dari materi pemahaman Capaian Pembelajaran (CP) dan Sinkronisasi CP Mata pelajaran Projek IPAS dengan CP Mata pelajaran Dasar-dasar Program Keahlian untuk menentukan tema projek IPAS yang sesuai dengan konteks program keahlian peserta didik. Tema projek yang telah ditentukan dapat dipecah menjadi beberapa topik yang sesuai agar lebih fokus. Jabaran topik projek, selanjutnya akan digunakan untuk mengembangkan rancanganpembelajaran dalam bentuk Modul ajar. Untuk menyusun rancangan pembelajaran versi lengkap, diperlukan kerangka materi, baik dari aspek/elemen kejuruannya maupun dari mata pelajaran Projek IPAS seperti telah dibahas dalam mata pelatihan ini. Selain itu, penting juga untuk menetapkan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran agar materi ajar sebagai sumber bacaan bagi peserta didik maupun pendidik tetap selaras dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan efisien dari sisi pelaksanaan pembelajaran karena hanya akan berfokus kepada materi esensial saja.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 87 B. Materi Kejuruan Sesuai Tema Projek “Megelas Pelat Baja dengan proses SMAW” Teknologi Las Busur Manual (SMAW) Tujuan : Setelah kegiatan pembelajaran ini peserta dapat Memahami las busur listrik manual (SMAW) mulai dari peralatan, elektroda, dan keselamatan dan kesehatankerja sehingga mampu menyiapkan dan melakukan pengelasan pelat untuk berbagai posisi pengelasan Waktu : 5 (lima) jam ❖ Isi materi : 1. Pengertian Proses pengelasan SMAW (Shield Metal Arc Welding) yang sering juga disebut Las Busur Listrik adalah proses pengelasan yang menggunakan panas untuk mencairkan material dasar atau logam induk dan elektroda (bahan pengisi). Panas tersebut dihasilkan oleh lompatan ion listrik yang terjadi antara katoda dan anoda (ujung elektroda dan permukaanmaterial yang akan dilas). 2. Perangkat Las Busur Listrik manual (SMAW). Didalam proses pengelasan diperlukan arus listrik khusus, dimana arus listriknya dapat diatur dan tegangan bebas muatannya terbatas, serta tinggi tegangan maksimal, harus sampai dengan batas yang diijinkan.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 88 Keterangan : 1. Sumber Arus listrik 2. Sumber Arus Las (Mesin Las) 3. Kabel Arus Las (Elektroda) 4. Kabel Arus Las (kabel massa) 5. Pemegang Elektroda 6. Elektroda 7. Klem massa pada Benda Kerja 8. Benda Kerja 9. Busur Las 10. Inti Elektroda 11. Salutan/selubung Elektroda 12. Tetesan Cairan Elektroda 13.Gas Pelindung dari SalutanElektroda 14. Terak Cair 15. Terak Padat 16. Kawah Las / cairan las 17.Hasil Lasan Penghubung antara sumber arus las dan tempat kerja memakai kabel-kabel dan pada waktu mengelas benda kerja tersebut berada dalam lingkaran arus las. Sumber arus lasnya disambungkan pada jaringan aruslistrik yang ada dan semua sambungan listriknya memakai kontak stekker atau kontak stekker yang dilengkapi dengan uliran sebagai pengaman. Dari sumber arus las tersebut selalu dilengkapi dua kabel yang terpisah satu sama lain ke tempat kerja. Dan melalui dua kabel ini akan tersusun lingkaran arus lewat pemegang / penjepit elektroda dan benda kerja. Untuk mengelas diperlukan tempat kerja yang dilengkapi dengan alat-alat perkakas yang diperlukan dan perlengkapannya 3. Tempat kerja, peralatan dan pakaian kerja Dalam proses pengelasan diperlukan tempat kerja yang dilengkapi dengan alat-alat las yangdiperlukan serta kelengkapannya.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 89 Tempat kerja. Perlengkapan tempat kerjaa didalam pengelasan berupa : Meja las yang terbuat dari baja dan tempat duduk berupa kursi kerja. Tempat kerja ini dilengkapi pelindung ruang dengan memakai gordin pemisah, agar lingkungan kerja yang lain tidak terganggu oleh adanya cahaya busur listrik. Tempat kerja sebaiknya dilengkapi dengan penghisap asap untuk menghisap uap, gas-gas dan asap dari atas meja kerja. 4. Pesawat Las SMAW. Pesawat mesin las yang digunakan pada pengelasan busur listrik manual bermacammacam, tetapi bila ditinjau dari jenis arus yang keluar (output) dari mesin las dapat digolongkan sebagai berikut : 1) Pesawat Las Arus Bolak-Balik (AC). Macam-macam pesawat las dari jenis pesawat las arus bolak balik ini dapat berupa transformator las, pembangkit listrik motor diesel atau motor bensin tetapi yang paling banyak digunakan adalah berupa transformator las yang mempunyai kapasitas 200 sampai 500 Ampere, pesawat las jenis ini sangat banyak digunakan karena biaya operasinya yang rendah disamping harganya yang relatif murah dengan Voltase yang keluar dari pesawat transformator ini antara 36 sampai 70 Volt. Pesawat Las Arus Bolak-Balik (AC)


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 90 2) Pesawat Las Arus Searah (DC). Pesawat las arus searah ini dapat berupa pesawat transformator rectifier, pembangkit listrik motor disel atau motor bensin, maupun pesawat pembangkit listrik yang digerakkan oleh motor listrik. Salah satu jenis dari pesawat las arus searah yaitu pesawat pembangkit listrik yang digerakkan oleh motor listrik (motor generator). Pesawat Las Arus Searah (DC) 5. Pakaian kerja. Pada waktu mengelas, tukang las harus dapat mengamankan diri dari panas, pancaran sinar busur listrik dan dari percikan dan juga letusan api las. Dalam pekerjaan las busur listrik pengelas harus memakai pakaian kerja yang celananya tidakmempunyai lipatan. Sepatu kerja hendaknya dipakai sepatu yang terbuat dari kulit dengan sol karet. Pakaian kerja untuk tukang las sebaiknya dilengkapi dengan tutup kepala (helm), kulit pelindung badan (apron) dan pelindung kaki. Kedua tangan dilindungi dengan memakai sarung tangan dari kulit atau asbes.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 91 Untuk mellindungi muka dan terutama mata, tukang las harus memakai topeng pelindung dan kaca pelindungnya harus sesuai dengan standart. Topeng pelindung tersebut biasanya dilengkapi juga dengan kaca terang, yang dapat digunakan sebagai pelindung pada waktu membersihkan terak las. 6. Kabel las Kabel las (Lead superfleksibel) digunakan untuk menghantar arus dari mesin pengelasan ke benda kerjadan sebaliknya. Seperti terlihat pada gambar dibawah.Kabel lasterdiri dari Lead yang dilapisi dengan karet, kain, dan penguat lapisan fabric, seperti ditunjukkan dalam gambar. holder elektroda dikenal sebagai Lead elektroda. Lead dari benda kerja ke mesin dikenal sebagai Lead benda kerja. Tegangan pada Lead bervariasi antara 14 dan 80 Volt. Lead terdiri dari beberapa ukuran, Semakin kecil nomornya, semakin besar diameter Lead. Tabel dibawah ini menunjukkan daftar ukuran dan kapasitas arus untuk Lead tembaga. Lead harus fleksibel agar bisa mereduksi regangan pada tangan welder ketika sedang mengelas, dan juga memudahkan instalasi kabel. Untuk tujuan fleksibelitas ini, digunakan 800 sampai 2500 kawat pada masing-masing kabel.Kabel listrik berdiamater sama harus digunakan pada Lead elektroda maupun Lead benda kerja. Panjang Lead mempengaruhi ukuran kapasitas mesin las. Daya hantar arus Lead alumunium sebesar 61% dari Lead tembaga. Untuk kapasitas arus tertentu, diameter Lead alumunium lebih besar dibandingkan Lead tembaga. Lead


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 92 alumunium biasanya menggunakan alumunium murni, alumunium semi-annealed, dan alumunium electrolytic. Tabel Lead las busur 7. Konektor Lead Untuk menghantarkan arus secara konsisten yang digunakan dalam pengelasan, semua bagian dalamsirkuit pengelasan harus di desain dengan baiktermasuk terminalnya. Lead tembaga atau alumunium diikatkan pada mesin las dan benda kerja dengan terminal yang dilapisi atau yang tidak dilapisi. Terminalyang tidak dilapisi disebut lugs seperti ditunjukkan padagambar disamping. Lug ini disolder atau dilekatkansecara mekanis pada Lead, seperti ditunjukkan pada gambar. Lug merupakan alat tetap untuk menempelkankabel elektroda dan kabel benda kerja kepada mesin atau meja kerja. Sambungan harus tahan lama dan harus memiliki tahanan rendah agar sambungan tidak mengalami overheat selama pengelasan. Arus akan mengalir tidak stabil jika


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 93 sambungannya longgar. Juga terdapat jenis sambungan untuk menghubungkan satu Lead ke Lead lain.Metode penyambungan terminal pada Lead dengan cara sebagai berikut: 1. Mekanik 2. Penyolderan 3. Pematrian 4. Pengelasan Penjepit alumunium digunakan pada penyambungan kabel alumunium dengan pemegang elektroda dan dengan terminal lain. Namun lead juga dapat dipatri alumunium pada sambungan alumunium maupun sambungan tembaga. Sebaiknya tidak melakukan penyambungan dengan cara pembengkokan, hal ini disebabkan lead cenderung memisah dari terminalnya jika disambung dengan cara pembengkokan. Sambungan mekanik harus kuat dan bersih. Metode penyambungan kabel lastembaga dengan mengelas Lead tembaga pada terminal atau dengan bagian lain. Salah satu proses yang digunakan adalah metode pengelasan tembaga dimana tidak memerlukansumber panasluar. Oksida serbuk tembaga dan serbuk alumunium ditempatkan di mangkok grafit kecil dan dipanaskan dengan alat pemercik api. Oksidasi yang cepat pada serbuk menimbulkan panas yang cukup untuk mengelas Lead tembaga dan terminal sehingga menghasilkan hasil las yang baik. Peralatan yang diperlukan dalam penyambungan ini dan hasil Lead las ditunjukkan pada gambar disamping. Kabel dikupas lapisannya kira-kira satu inchi dari ujung yang akan disambung.


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 94 Kemudian kedua ujung kabel yang akan di sambung diletakkan pada tengah lubang penampungan, dan di kunci dengan penjepit. Bahan las dan oksidanya di bakar dengan mengunakan pemercik apiselama kirakira sepuluh menit, dan akhirnya terbentuk hasil las Penyambungan yang baik pada lead benda kerja dan lead elektroda sangat penting pada mesin AC maupun DC. Lead benda kerja biasanya diikat pada meja las memakai alat penyambung atau penjepit. Penjepit harus digunakan secara hati-hati untuk menghindari kerusakan pada permukaan logam. Juga telah tersedia terminal Lead benda kerja magnet yang mengikat dengan cepat pada bahan yang akan dilas. Hal ini memudahkan dalam mengganti posisi ground untuk memperoleh karakteristik busuryang lebih baik, dan tidak merusak atau mengganggu artikel yang dilas. Lead benda kerja baik yang disolder maupun diikat secara mekanik dengan peralatan magnet permanen ini, dan welder bisa dengan mudah memindahkan posisi pada sembarang permukaan besi. 8. Pemegang (Holder) elektroda Holder elektroda adalah bagian peralatan las busur yang dipegang oleh welder ketika mengelas. Holder inidigunakan untuk menahan elektroda logam. Lead elektroda biasanya disambung dengan holder elektrodadengan menggunakan penyambung mekanik didalam handle elektroda. Handle terbuat dari bahan pelapis yang mempunyai tahanan panas tinggi dan tahanan listrik yang rendah. Holder elektroda dibuat untuk menyeimbangkan pegangan tangan welder. Ada sejumlah metode yang digunakan untuk menjepit elektroda dalam holder. Salah satunya metode adalah konstruksi pincer dan memiliki sebuah pegas untuk menghasilkan tekanan sehinnga diperoleh sambungan yang baik antara holder dan elektroda. Daerah kontak antara elektroda dengan holder elektroda seharusya bersih. Pembersihan daerah kontak dengan menggunakan sikat kawat. Rahang holder elektroda juga harus dibersihkan dengan menggunakan ampelas atau alat lain yang sesuai. Pada waktu melakukan pengelasan yang berat, seharusnya holder elektroda dilengkapi dengan shield


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 95 (plat kecil tahan panas). Shield ini untuk mencegah panasradiasi dari las ke tangan welder. 9. Memasang dan mengatur peralatan las Sebelum melakukan pengelasan terlebih dahulu yang harus dipahami adalah pemasangankabel las pada mesin las untuk jenis pengkutuban tertentu dan pemasangan kabel las padapenjepit elektroda serta klem massa, menyalakan mesin las dan mengatur arus las yang sesuai dengan tebal bahan yang dilas dan diameter elektroda yang digunakan dalam pengelasan a. Memasang kabel pada mesin las Ada beberapa bentuk mesin las yang digunakan pada pengelasan busur manual, perbedaan bentuk mesin las tergantung dari pabrik pembuat mesin las. Dari perbedaan bentuk ini berbeda pula cara pemasangan kabel pada mesin las yaitu menggunakan socket penyambung atau ada pula yang menggunakan baut pengikat yang digunakan untuk memasangkan kabel pada mesin las. 1. Pemasangan kabel pada mesin las yang menggunakan penyambung socket. Untuk jenis mesin las seperti ini sangat mudah menyambungkan kabel pada mesin las yaitu dengan langkah sebagai berikut : a. Masukkan ujung kabel pada rumah kabel lakukan penyambungan kabel dengan menggunakan kunci pas. b. Tutup kembali sambungan kabel pada rumah kabel las dengan isolator yang telah merupakan bagian dari penyambung kabel. c. Masukkan pen penyambung kabel pada socket yang ada pada mesin las dengan memperhatikan alur pada cocket mesin las. d. Putar searah jarum jam untuk menetapkan kedudukan sambungan kabel terikat dengan kuat. 2. Pesangan kabel pada mesin las yang menggunakan baut pengikat. Untuk jenis mesin las seperti perlu disiapkan kunci pemutar baut dengan ukuran sesuai dengan baut yang digunakan untuk pengikatan terminal kabel las, pemasangan kabel pada mesin las yaitu dengan langkah sebagai berikut : a. Siapkan terminal kabel yang terbuat dari pelat tembaga untuk menjepitkan kabel las. b. Jepitkan kabel las pada terminal kabel dengan kuat. c. Pasangkan terminal kabel pada terminal kabel yang ada pada mesin las dengan menggunakan baut yang tersedia. d. Ikatkan baut pengikat dengan kuat dengan menggunakan kunci pas. e. Balut sambungan kabel dengan menggunakan isolasi khusus untuk listrik


Modul Umum – Pengelasan SMAW Dasar Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Mata Pelajaran Umum 96 tegangan tinggi. 3. Memasang kabel las pada penjepit elektroda dan klem massa Pemasangan kabel las pada penjepit elektroda (holder) dan klem massa menggunakan terminal kabel terbuat dari pelat tembaga yang diikatkan dengan menggunakan baut pengikat atau ada jenis penjepit elektroda kedalam lubang penjepit dengan menggunakan pengganjal pipa tembaga. Untuk pemasangan kabel las pada penjepit elektroda dan klem massa adalah sebagai berikut : a. Jepitkan kabel las pada terminal kabel dengan kuat. b. Ikat terminal kabel yang telah terpasang pada kabel las dengan menggunakan baut pengikat dengan kuat. c. Pasangkan pemegang bagian luar untuk penjepit elektroda serta pasangkan baut pengikat dengan memutar baut pengikat dengan kuat. d. Untuk pemasangan kabel pada klem massa sebaiknya dilakukan pembalutan dengan isolasi pada bagian sambungan kabel. b. Melayani peralatan las busur manual Untuk memudahkan memahami cara mengoperasikan mesin las di bawah ini ditunjukkan macam-macam bentuk mesin las baik untuk mesin las AC maupunmesin las DC yang menggunakan generator pembangkit las Pada bagian ini hanya akan di jelaskan cara menyetel peralatan las salah satu bentuk mesin las AC dan mesin las DC dengan menggunakan generator pembangkit 1. Menyetel mesin las AC Secara prinsip dari berbagai macam bentuk mesin las AC mempunyai kesamaan pada langkah pengoperasiannya dari mulai menghidupkan mesin las sampai pada pengaturan amper yang digunakan dalam pengelasan dan hanya berbeda pada cara mesin tersebut dihidupkan dan amper mesin diatur karena ada yang menggunakan hendel atau tombol untuk menyalakan mesin serta ada yang menggunakan piringan, hendel pemutar atau salkar untuk mengatur amper mesin las, adapun langkah- langkah yang umum adalah : • Aturlah besarnya arus mesin las dengan memutar hendel pengatur arus, dengan memutarkannya searah jarum jam untuk menambah besar dan


Click to View FlipBook Version