PERANGKAT PEMBELAJARAN
SMA NEGERI 2 LIMBOTO
MATA PELAJARAN : SEJARAH MINAT
KELAS / SEMESTER : XI / GENAP
GURU MP : RAHMAT, S.PD
DIKBUDPORA PROVINSI GORONTALO
TAHUN 2021
PERANGKAT PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Nama Sekolah : SMA Negeri 2 Limboto
Mata Pelajaran : Sejarah Minat
Kelas / Semester : Genap
Alikasi Waktu : 4 x 45 Menit
Materi : Akar-akar nasionalisme di Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini
1. Tujuan Pembelajaran
Melalui model pembelajaran dengan menggunakan Problem Based Learning, peserta didik mampu:
Menganalisis akar-akar nasionalisme di Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini. Serta mampu
membuat karya tulis tentang “Akar-akar nasionalisme di Indonesia”. Peserta didik dapat menyelesaikan
karyanya dengan penuh rasa ingin tahu, tanggung jawab, displin selama proses pembelajaran, bersikap
jujur, percaya diri dan pantang menyerah, serta memiliki sikap responsif (berpikir kritis) dan proaktif
(kreatif), serta mampu berkomukasi dan bekerjasama dengan baik.
2. Metode Pembelajaran
Daring menggunakan Whats App, Microsoft Tims & Microsoft 365
3. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran:
a. Kegiatan Pendahuluan
Guru menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran
Guru memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi
materi ajar dalam kehidupan sehari-hari
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya
dengan materi yang akan dipelajari
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
Guru menyampaikan karakter dan penilaian yang akan dilaksanakan
b. Kegiatan inti (sintaks model pembelajaran)
Sintaks Aktivitas
Orientasi Peserta Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada
didik pada masalah materi yang akan di pelajari dengan cara Mengamati lembar kerja dan materi dalam
bentuk Link yang dibagikan di grup belajar untuk dapat dikembangkan peserta
didik, dari media interaktif, dsb yang berhubungan dengan Akar-akar nasionalisme
di Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini
Mengorganisasi Guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami masalah yang disajikan yaitu
peserta didik mengidentifikasi apa yang mereka ketahui, apa yang mereka perlu ketahui, dan
apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan karya tulis terkait materi Akar-akar
nasionalisme di Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini
Membimbing Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan
penyelidikan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan Diskusi dan saling tukar informasi terkait
individu/ kelompok Akar-akar nasionalisme di Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini
Mengembangkan Memasukan hasil karya tulis dalam bentuk File tentang Akar-akar nasionalisme di
dan menyajikan hasil Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini
karya
Peserta didik menganalisa dan menyimpulkan masukan, tanggapan dan koreksi
Menganalisis dan dari guru terkait pembelajaran yang telah dilakukan tentang Akar-akar
mengevaluasi nasionalisme di Indonesia dan pengaruhnya pada masa kini
proses pemecahan
masalah
c. Kegiatan penutup
1. Peserta didik, dengan bimbingan guru, membuat kesimpulan.
2. Guru melakukan refleksi hasil proses belajar yang telah dilaksanakan.
3. Guru memberikan apresiasi kepada seluruh peserta didik yang telah bekerjasama dengan baik.
4. Guru memberikan evaluasi untuk mengukur ketuntasan PBM.
5. Guru menginformasikan kegiatan yang akan dilaksanakan pada pertemuan berikutnya
4. Teknik Penilaian Skor
a. Penilaian aspek sikap 1–3
Teknik Penilaian : Pengamatan pada proses pembelajaran 1–3
Bentk Instrumen : Lembar Organisasi sikap diskusi Jurnal, Lembar Penilaian 1–3
diri, penilaian antar teman. 1–3
b. Penilaian pengetahuan
Teknik Penilaian : - Tertulis : Essay dan pilihan ganda 15
- Tes Lisan
- Lembar Kerja Siswa
ASPEK YANG DINILAI
a. Pengumpulan informasi (tepat = 3 : kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)
b. Keakuratan data/informasi (akurat =3 : kurang = 2: tidak akurat = 1)
c. Kelengkapan data (lengkap – 3 : kurang = 2, tidak lengkap = 1)
d. Analisis data (baik = 3:cukup =2: kurang = 1)
e. Kesimpulan (tepat = 3, kurang tepat = 2: tidak tepat =1
Skor Max
Nilai = Skor Perolehan X 100
Skor Max
c. Penilaian Aspek Keterampilan
Teknik Penilaian : - Portofolio
- Praktek
Isntrumen Penilaian :
Praktek kemampuan dalam menyajikan materi diskusi
Buatlah makalah tentang Kebudayaan Islam serta pengaruhnya terhadap
kehidupan masyarakat di bidang politik pemerintahan, ekonomi, sosial budaya
di Indonesia sekarang ini.
Terlampir : Jurnal dan Obserfasi c. Pengetahuan: Tes tulis
a. Sikap : Lisan
b. Keterampilan
Bahan Ajar
Secara etimologis kata Nasionalisme berasal dari bahasa Inggris Nation, atau Natie dalam bahasa
Belanda, menurut KBBI nasionalisme berarti paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri.
Sikap mencintai bangsa atau Negara muncul karena adanya kesadaran setiap orang bersama-sama
untuk mencapai, mempertahankan dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan
bangsa. Secara tidak langsung seorang yang memegang teguh paham nasionalisme pasti membenci
penjajahan dan perbudakan, dan pasti akan menempatkan kesetiaannya terhadap bangsa dan
negaranya sendiri. Karna hal tersebut merendahkan harkat dan martabat sebuah bangsa. Nasionalisme
sendiri adalah bentuk patriotisme, yakni suatu sikap cinta terhadap tanah air dan bangsa, prinsip yang
dipegang teguh dala nasionalisme adalah kebebasan, kesearaan, penghargaan terhadap hak-hak asasi
manusia.
Terdapat dua konsep penting yang terkandung dalam pengertian dari nasionalisme yakni terbentuknya
Negara dan persatuan bangsa. Pengertian Negara dan bangsa dalam hal ini secara umum mengacu
kepada sekelompok individu.
1. Memiliki cita-cita bersama
2. Memiliki sejarah hidup yang sama sehingga terciptanya rasa senasib sepenanggungan
3. Memiliki adat budaya dan kebiasaan yang sama sebagai akibat dari adanya pengalaman hidup yang
sama
4. Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah,
5. Terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat sehingga setiap individu terkait dalam
sebuah masyarakat yang berlandasan hokum.
Kesimpulan:
Nasionalisme dalam arti luas adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan Negara
(nation) dengan mewujudkan konsep identitas bersama untuk sekelompok individu
Berikut dibawah ini uraian lengkap tentang munculnya Nasionalisme
Latar Belakang
Perasaan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia telah tumbuh sejak lama, bukan secara tiba-
tiba. Nasionalisme tersebut masih bersifat kedaerahan, belum bersifat nasional. Nasionalisme yang
bersifat menyeluruh dan meliputi semua wilayah Nusantara baru muncul sekitar awal abad XX. Lahirnya
nasionalisme bangsa Indonesia didorong oleh dua faktor, baik faktor intern maupun faktor ekstern.
a. Faktor Intern
Sejarah Masa Lampau yang Gemilang
Indonesia sebagai bangsa telah mengalami zaman nasional pada masa kebesaran Majapahit dan
Sriwijaya. Kedua kerajaan tersebut, terutama Majapahit memainkan peranan sebagai negara nasional
yang wilayahnya meliputi hampir seluruh Nusantara. Kebesaran ini membawa pikiran dan angan-angan
bangsa Indonesia untuk senantiasa dapat menikmati kebesaran itu. Hal ini dapat menggugah perasaan
nasionalisme golongan terpelajar pada dekade awal abad XX.
b. Penderitaan Rakyat Akibat Penjajahan
Bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan yang panjang dan menyakitkan sejak masa Portugis.
Politik devide et impera, monopoli perdagangan, sistem tanam paksa, dan kerja rodi merupakan bencana
bagi rakyat Indonesia. Penderitaan itu menjadikan rakyat Indonesia muncul kesadaran nasionalnya dan
mulai memahami perlunya menggalang persatuan. Atas prakarsa para kaum intelektual, persatuan itu
dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan yang bersifat modern. Perjuangan tidak lagi menggunakan
kekuatan senjata tetapi dengan menggunakan organisasi-organisasi pemuda.
c. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat di Indonesia
Perkembangan sistem pendidikan pada masa Hindia Belanda tidak dapat dipisahkan dari politik etis. Ini
berarti bahwa terjadinya perubahan di negeri jajahan (Indonesia) banyak dipengaruhi oleh keadaan yang
terjadi di negeri Belanda. Tekanan datang dari Partai Sosial Demokrat yang di dalamnya ada van
Deventer. Pada tahun 1899, Mr. Courad Theodore van Deventer melancarkan kritikan-kritikan yang tajam
terhadap pemerintah penjajahan Belanda. Kritikan itu ditulis dan dimuat dalam jurnal Belanda, de Gids
dengan judul Een eereschuld yang berarti hutang budi atau hutang kehormatan. Dalam tulisan tersebut
dijelaskan bahwa kekosongan kas negeri Belanda telah dapat diisi kembali berkat pengorbanan orang-
orang Indonesia. Oleh karena itu, Belanda telah berhutang budi kepada rakyat Indonesia. Untuk itu harus
dibayar dengan peningkatan kesejahteraan melalui gagasannya yang dikenal dengan Trilogi van
Deventer. Apakah kalian masih ingat dengan isi Trilogi van Deventer? Politik yang diperjuangkan dalam
rangka mengadakan kesejahteraan rakyat dikenal dengan nama politik etis. Untuk mendukung
pelaksanaan politik etis, pemerintah Belanda mencanangkan Politik Asosiasi dengan semboyan
unifikasi. Politik Asosiasi berkaitan dengan sikap damai dan menciptakan hubungan harmonis antara
Barat (Belanda) dan Timur (rakyat pribumi). Dalam bidang pendidikan, tujuan Belanda semula adalah
untuk mendapatkan tenaga kerja atau pegawai murahan dan mandor-mandor yang dapat membaca
dengan gaji yang murah. Untuk kepentingan tersebut Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat
pribumi. Dengan demikian, jelaslah bahwa pelaksanaan politik etis tidak terlepas dari kepentingan
pemerintah Belanda. Sistem pengajaran kolonial dibagi dalam dua jenis yaitu pengajaran pendidikan
umum dan pengajaran kejuruan. Keduanya diselenggarakan untuk tingkat menengah ke atas. Berikut ini
contoh-contoh sekolah yang didirikan pada zaman kolonial Belanda
d . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia
Perkembangan pendidikan di Indonesia juga banyak diwarnai oleh pendidikan yang dikelola umat Islam.
Ada tiga macam jenis pendidikan Islam di Indonesia yaitu pendidikan di surau atau langgar, pesantren,
dan madrasah. Walaupun dasar pendidikan dan pengajarannya berlandaskan ilmu pengetahuan agama
Islam, mata pelajaran umum lainnya juga mulai disentuh. Usaha pemerintah kolonial Belanda untuk
memecah belah dan Kristenisasi tidak mampu meruntuhkan moral dan iman para santri. Tokoh-tokoh
pergerakan nasional dan pejuang muslim pun bermunculan dari lingkungan ini. Banyak dari mereka
menjadi penggerak dan tulang punggung perjuangan kemerdekaan. Rakyat Indonesia yang mayoritas
adalah kaum muslim ternyata merupakan salah satu unsur penting untuk menumbuhkan semangat
nasionalisme Indonesia. Para pemimpin nasional yang bercorak Islam akan sangat mudah untuk
memobilisasi kekuatan Islam dalam membangun kekuatan bangsa.
e . Pengaruh Perkembangan Pendidikan Kebangsaan di Indonesia
Berkembangnya sistem pendidikan Barat melahirkan golongan terpelajar. Adanya diskriminasi dalam
pendidikan kolonial dan tidak adanya kesempatan bagi penduduk pribumi untuk mengenyam pendidikan,
mendorong kaum terpelajar untuk mendirikan sekolah untuk kaum pribumi. Sekolah ini juga dikenal
sebagai sekolah kebangsaan sebab bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di kalangan rakyat
dan mencetak generasi penerus yang terpelajar dan sadar akan nasib bangsanya. Selain itu sekolah
tersebut terbuka bagi semua masyarakat pribumi dan tidak membedakan dari kalangan mana pun.
Tokoh-tokoh pribumi yang mendirikan sekolah kebangsaan antara lain Ki Hajar Dewantara mendirikan
Taman Siswa, Douwes Dekker mendirikan Ksatrian School, dan Moh. Syafei mendirikan perguruan
Indonesische Nederlandsche School Kayu Tanam (INS Kayu Tanam).
f . Dominasi Ekonomi Kaum Cina di Indonesia
Kaum pedagang keturunan nonpribumi, khususnya kaum pedagang Cina semakin membuat kesal para
pedagang pribumi. Puncak kekesalan kaum pedagang pribumi terjadi ketika keturunan Cina mendirikan
perguruan sendiri yakni Tionghoa Hwee Kwan pada tahun 1901. Kekesalan tersebut diciptakan oleh
Belanda untuk menimbulkan rasa iri hati rakyat Indonesia kepada keturunan Cina. Cina diberi
kesempatan untuk menguasai bisnis eceran, pertokoan, dan menjadi kolektor pajak dari pemerintah
Belanda. Akibatnya kaum Cina menjadi lebih agresif. Peristiwa itu membangkitkan persatuan yang kokoh
di antara sesama pedagang pribumi untuk menghadapi secara bersama pengaruh dari pedagang Cina.
g . Peranan Bahasa Melayu
Di samping mayoritas beragama Islam, bangsa Indonesia juga memiliki bahasa pergaulan umum (Lingua
Franca) yakni bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu berubah menjadi bahasa
persatuan nasional Indonesia. Dengan posisi sebagai bahasa pergaulan, bahasa Melayu menjadi sarana
penting untuk menyosialisasikan semangat kebangsaan dan nasionalisme ke seluruh pelosok
Indonesia.
h. Istilah Indonesia sebagai Identitas Nasional
Istilah ‘Indonesia‘ berasal dari kata India (bahasa Latin untuk Hindia) dan kata nesos (bahasa Yunani
untuk kepulauan), sehingga kata Indonesia berarti Kepulauan Hindia. Istilah Indonesia, Indonesisch dan
Indonesier makin tersebar luas pemakaiannya setelah banyak dipakai oleh kalangan ilmuwan seperti
G.R. Logan, Adolf Bastian, van Vollen Hoven, Snouck Hurgronje, dan lain-lain. Dalam tabel berikut akan
diuraikan perkembangan penggunaan istilah Indonesia.
2. Faktor Ekstern
Timbulnya pergerakan nasional Indonesia di samping disebabkan oleh kondisi dalam negeri, juga ada
faktor yang berasal dari luar (ekstern). Berikut ini faktor-faktor ekstern yang memberi dorongan dan
energi terhadap lahirnya pergerakan nasional di Indonesia.
a. Kemenangan Jepang atas Rusia
Selama ini sudah menjadi suatu anggapan umum jika keperkasaan Eropa (bangsa kulit putih) menjadi
simbol superioritas atas bangsa-bangsa lain dari kelompok kulit berwarna. Hal itu ternyata bukan suatu
kenyataan sejarah. Perjalanan sejarah dunia menunjukkan bahwa ketika pada tahun 1904-1905 terjadi
peperangan antara Jepang melawan Rusia, ternyata yang keluar sebagai pemenang dalam peperangan
itu adalah Jepang. Hal ini memberikan semangat juang terhadap para pelopor pergerakan nasional di
Indonesia.
b . Partai Kongres India
Dalam melawan Inggris di India, kaum pergerakan nasional di India membentuk All India National
Congress (Partai Kongres India), atas inisiatif seorang Inggris Allan Octavian Hume pada tahun 1885. Di
bawah kepemimpinan Mahatma Gandhi, partai ini kemudian menetapkan garis perjuangan yang meliputi
Swadesi, Ahimsa, Satyagraha, dan Hartal. Keempat ajaran Ghandi ini, terutama Satyagraha
mengandung makna yang memberi banyak inspirasi terhadap perjuangan di Indonesia.
c . Filipina di bawah Jose Rizal
Filipina merupakan jajahan Spanyol yang berlangsung sejak 1571 – 1898. Dalam perjalanan sejarah
Filipina muncul sosok tokoh yang bernama Jose Rizal yang merintis pergerakan nasional dengan
mendirikan Liga Filipina. Pada tahun 1892 Jose Rizal melakukan perlawanan bawah tanah terhadap
penindasan Spanyol. Tujuan yang ingin dicapai adalah bagaimana membangkitkan nasionalisme Filipina
dalam menghadapi penjajahan Spanyol. Dalam perjuangannya Jose Rizal dihukum mati pada tanggal
30 Desember 1896, setelah gagal dalam pemberontakan Katipunan. Sikap patriotisme dan nasionalisme
yang ditunjukkan Jose Rizal membangkitkan semangat rela berkorban dan cinta tanah air bagi para
cendekiawan di Indonesia.
d . Gerakan Nasionalisme Cina
Dinasti Manchu (Dinasti Ching) memerintah di Cina sejak tahun 1644 sampai 1912. Dinasti ini dianggap
dinasti asing oleh bangsa Cina karena dinasti ini bukan keturunan bangsa Cina. Masuknya pengaruh
Barat menyebabkan munculnya gerakan rakyat yang menuduh bahwa Dinasti Manchu sudah lemah dan
bekerja sama dengan imperialis Barat. Oleh karena itu muncul gerakan rakyat Cina untuk menentang
penguasa asing yaitu para imperialis Barat dan Dinansti Manchu yang juga dianggap penguasa asing.
Munculnya gerakan nasionalisme Cina diawali dengan terjadinya pemberontakan Tai Ping (1850 – 1864)
dan kemudian disusul oleh pemberontakan Boxer. Gerakan ini ternyata berimbas semangatnya di tanah
air Indonesia.
e . Gerakan Turki Muda
Gerakan nasionalisme di Turki pada tahun 1908 dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Gerakannya
dinamakan Gerakan Turki Muda. Ia menuntut adanya pembaruan dan modernisasi di segala sektor
kehidupan masyarakatnya. Gerakan Turki Muda memberikan pengaruh politis bagi pergerakan bangsa
Indonesia sebab mengarah pada pembaruan-pembaruan dan modernisasi.
Kepala sekolah 09 Januari 2021
Guru Mata Pelajaran
Dr.Hj.Ester Yunginger,M.Pd
NIP.19710817199512 2 002 Rahmat, S.Pd
NIP. 199103182019031006